NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no ane wa 2-shu-me no kanojo V1 Epilogue

 Penerjemah: Taksaka

Proffreader: Manahan


Epilogue


Sebuah berita muncul di situs yang menyajikan topik terbaru seputar astronomi. Penemuan komet baru oleh seorang astronom amatir. Penemunya adalah sosok terkenal di lingkungan ini, yang telah beberapa kali menemukan komet dan memiliki pengalaman menamai komet dengan namanya sendiri.


Aku menatap titik cahaya kecil yang nyaris tak terlihat di tengah foto yang diunggah ke situs tersebut, lalu berbisik dalam hati.


Syukurlah kamu berhasil ditemukan dengan benar.


Berdasarkan kalkulasi orbit, komet tersebut akan mendekati matahari akhir bulan depan, dan kecerahannya diprediksi akan mencapai titik di mana ia bisa terlihat dengan mata telanjang.


Suatu saat nanti, kami juga pasti akan...


"Maaf membuatmu menunggu, Ryuuichi-kun."


"Maaf ya, kami butuh waktu sedikit lebih lama untuk bersiap-siap."


Mendengar suara Mihare dan Sayuki, aku mengalihkan pandangan dari ponselku. Keduanya mengenakan sweter kerah V yang dipadukan dengan rok flare. Mihare mengenakan warna merah muda, sementara Sayuki mengenakan warna abu-abu. Meski warnanya berbeda, sepertinya itu dari merek yang sama. Gaya yang biasa disebut "penampilan kembar".


"Ehehe, sudah berapa tahun ya sejak terakhir kali aku memakai baju kembaran dengan Onee-chan?"


Mihare tampak senang sambil menggandeng lengan Sayuki.


"Padahal aku selalu menyambutnya dengan tangan terbuka. Tapi sejak Mihare mulai menunjukkan wajah tidak suka setiap kali Ibu membelikan baju kembar, aku jadi harus menahan diri dan memilih baju yang sekiranya tidak akan kau pakai."


"Ugh. Ha-habisnya, kalau pakai baju yang sama, perbedaan di berbagai bagian tubuh jadi terlihat jelas."


Seperti kata Mihare, saat mereka berdiri berdampingan, perbedaan bentuk tubuh mereka justru semakin menonjol. Karena memakai pakaian yang sama, perbedaannya menjadi sangat kontras.


Padahal Mihare memiliki tubuh ramping yang diidamkan banyak gadis, namun Sayuki memiliki tubuh bak model yang jauh di atas itu. Belum lagi dadanya yang cukup besar hingga terlihat jelas meski dari balik pakaian. Wajar saja jika Mihare merasa minder.


"Tapi! Aku tidak akan kalah!"


Mihare mengumumkan pernyataan perangnya, melepaskan lengan Sayuki, lalu menghambur memeluk lenganku.


"Ah, kalau begitu aku juga tidak mau kalah."


Kali ini Sayuki yang tidak mau kalah; dia memegang lenganku yang satunya dan memeluknya erat-erat.


Aku terjepit di antara dua gadis dari kedua sisi. Terbungkus oleh suhu tubuh masing-masing, rasanya sangat panas hingga aku berkeringat padahal ini sedang puncak musim dingin. Aku bisa merasakan sensasi yang berbeda di lengan kanan dan kiriku.


"Ka-Kalian berdua, ingat tempat... banyak orang yang melihat..."


Meski aku memperingatkan mereka, si kembar ini justru mulai mengobrol dengan aku terjepit di tengah-tengah.


"Hei, Onee-chan, hari ini kita mau ke mana?"


"Hmm, karena ini kencan pertama kita bertiga, bagaimana kalau kita pergi agak jauh? Lihat, taman di atas bukit ini sepertinya bisa digunakan untuk observasi bintang kalau cuacanya bagus."


Sayuki menunjukkan ponselnya yang menampilkan aplikasi peta.


"Bagus! Ayo pergi ke sana!"


Aku menyela obrolan mereka yang berlangsung tepat di atasku dengan gumaman pelan.


"Itu ide yang bagus, tapi dengan kondisi terjepit begini, aku sulit berjalan. Rasanya kita tidak akan sampai di sana hari ini."


"Tapi, menempel bertiga begini kan terasa hangat dan nyaman? Lagipula kamu pasti senang kan diapit dua gadis cantik begini. Jujur saja, akui saja kalau kamu senang."


Mihare tertawa jahil sambil menekankan jari telunjuknya ke pipiku.


"Ya-yah, memang benar, rasanya seperti menjadi planet Mars yang dikelilingi dua satelit, sedikit menyenangkan... mungkin."


"Kamu tidak jujur ya." 


Sayuki terkekeh.


Bukannya aku tidak senang, tapi mengakuinya di depan mereka berdua rasanya sangat memalukan. Ditambah lagi, fakta bahwa orang-orang yang lewat memperhatikan kami membuatku merasa tidak nyaman. Aku suka mengobservasi, tapi aku tidak terbiasa diobservasi.


"Yah, memang sulit kalau harus terus mengapit Ryuuichi-kun sampai ke taman. Mihare, mari kita lepaskan dia dulu."


"Iya juga ya, aku sudah merasa cukup hangat."


Akhirnya, mereka berdua melepaskanku secara bersamaan.


Di saat aku merasa lega, udara dingin musim dingin kembali menyerang kulitku. Aku jadi sedikit merindukan kehangatan tubuh mereka.


"Uuuu. Dingin sekali ya. Onee-chan, gandeng tanganku."


"Iya, tentu."


Sayuki menyambut tangan yang diulurkan Mihare. Keduanya bergandengan tangan erat, saling berbagi kehangatan.


"Fuhehe, tangan Onee-chan."


"Fufu. Apa ini sedikit membantumu merasa hangat? Ayo, mari jalan. Ryuuichi-kun, jangan sampai tertinggal ya?"


Sayuki menarik Mihare menuju taman sambil memeriksa rute di ponselnya. Melihat mereka berdua berjalan mendahuluiku dengan sangat akrab, rasanya hubungan kami yang rumit ini setidaknya telah mencapai titik tenang. Meski masa depan belum bisa diprediksi, untuk saat ini, kedamaian ini mungkin sudah cukup.


Saat itulah, ponsel di sakuku bergetar.


Aku mengeluarkannya dan memeriksa notifikasi. Ada gambar yang dikirim oleh Sayuki. Kupikir dia membagikan peta lokasi taman yang akan kami tuju. Dengan pemikiran itu, aku membuka gambarnya.


"──!"


Ternyata sama sekali berbeda.


Itu adalah foto selfie Sayuki. Dilihat dari pakaian dan latar belakangnya, sepertinya itu diambil di kamarnya sebelum berangkat tadi. Foto itu diambil dari sudut atas, memperlihatkan belahan dadanya dari kerah V sweternya. Di bawah wajah Sayuki yang mengedipkan mata ke arah kamera, terdapat belahan dada dalam yang menonjolkan payudaranya yang montok, bersinar terang seolah-olah sengaja dipamerkan kepadaku.


Kemudian, sebuah pesan masuk.


『Lain kali, hanya kita berdua saja ya ♡』


Sebuah kalimat yang menggoda hati.


Aku buru-buru mengangkat wajah dari ponsel dan menatap Sayuki yang berjalan di depanku. Sayuki yang sedang bergandengan tangan dengan Mihare, ternyata sedang mengoperasikan ponsel dengan tangannya yang bebas. Dia terlihat seperti sedang memeriksa peta, padahal sebenarnya dia baru saja mengirimkan foto dan pesan itu padaku.


Sadar akan tatapanku, Sayuki menutupi mulutnya dengan ponsel yang ia pegang. Di balik itu, ia pasti sedang tersenyum jahil.


Mihare yang berjalan di sampingnya sama sekali tidak menyadari tingkah kakaknya, tidak sadar juga bahwa foto selfie kakaknya baru saja dikirimkan kepadaku.


Suasana tenang ini mungkin hanyalah ketenangan sesaat, dan masa depan yang penuh gejolak mungkin sudah menunggu tepat di depan sana.


"Hei, Ryuuichi-kun! Cepatlah, nanti ditinggal lho!"


Mihare yang tidak tahu apa-apa berbalik dan tersenyum padaku sambil tetap menggandeng tangan Sayuki dengan akrab.


Hubungan kami, jika diukur dengan penggaris norma sosial, pasti dianggap menyimpang. Namun suatu saat nanti, jika kami bisa mencapai sisi lain di tak terhingga, di mana gravitasi norma maupun kekuatan restorasi waktu tidak dapat menjangkau... Meskipun aku belum tahu bagaimana caranya.


Untuk saat ini, aku akan terus mengejar kedua bintang tetap yang berjalan di depanku ini dengan kecepatan 1,41 kali lipat.


Aku merasa tidak akan pernah bisa melarikan diri dari gravitasi kedua "kekasihku" ini, baik sekarang maupun selamanya. 



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

1

1 comment

  • Agus Dedi Prasetya
    Agus Dedi Prasetya
    6/4/26 19:14
    Jejak vol 1 epilog
    Reply
close