NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 17


Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Mari Berteman


Gedung barat SMA Tsuwabuki.

 

Di sudut gudang yang sempit, seorang siswi sedang menghadap laptop.

 

Siswi itu adalah murid kelas dua klub jurnalistik, Koikawa Tsukushi.

 

Ruangan gelap tanpa jendela. Cahaya layar samar-samar menerangi wajahnya.

 

Setelah menyelesaikan pembaruan koran sekolah, ia mengangkat wajah dari laptop dan meregangkan tubuh.

 

Ia masih memiliki satu wawancara lagi yang harus dilakukan.

 

"…Baiklah, waktunya cari penghasilan tambahan lagi."

 

Sambil bergumam seolah menyemangati diri sendiri, Koikawa berdiri sambil mengambil kamera DSLR.

 

Target uangnya tinggal sedikit lagi. Jika sudah tercapai, ia akan membeli perlengkapan yang dibutuhkan dan memulai kembali dari awal.

 

Ia berjalan mendekati papan gantungan papan nama di dinding lalu menatapnya.

 

Di sana tergantung papan nama berbentuk pita dengan cakram kecil yang menunjukkan status kehadiran di atasnya.

 

Beberapa papan nama berjajar, tetapi hanya satu yang menunjukkan status "Hadir".

 

Koikawa mengubah status papan namanya menjadi "Keluar", lalu meninggalkan ruangan.

 

Suara kunci pintu ditutup menjadi bunyi terakhir, dan gudang yang kosong kembali sunyi. Sesekali ada murid yang lewat di depan ruangan, tetapi tidak ada yang berhenti.

 

──Di sudut ruangan, ada papan kayu tergeletak bertuliskan, "Klub Pengamat Burung".

 

 

Di ruang siaran setelah jam sekolah, seorang siswi duduk sendirian.

 

Hari ini tampaknya klub penyiaran tidak ada kegiatan, dan tidak terlihat murid lain. Cahaya redup dari peralatan di sekitarnya memantul samar di dahinya.

 

──Asagumo Chihaya.

 

Ia menatap lurus ke depan dengan tenang. Seolah-olah ia tahu apa yang akan terjadi.

 

Beberapa menit berlalu.

 

Pintu ruang siaran terbuka, dan seorang siswi dengan kamera tergantung di lehernya menampakkan wajah.

 

"Halo, terima kasih sudah mau meluangkan waktu hari ini!"

 

Siswi yang masuk dengan sapaan ringan itu adalah Koikawa Tsukushi dari kelas 2-A. Rok pendeknya berkibar ringan, dengan senyum profesional terpampang di wajahnya.

 

"Wah, aku senang sekali. Murid peringkat satu seperti Asagumo-san mau membantu wawancara."

 

"Semoga aku bisa membantu. Silakan duduk."

 

Setelah memastikan Koikawa duduk di depannya, Asagumo tersenyum tipis.

 

"Belakangan ini, koran sekolah tampaknya cukup populer."

 

"Yah, di saat seperti ini harus meningkatkan popularitas dan mengumpulkan prestasi. Baiklah, mari mulai."

 

Koikawa mengeluarkan buku catatan dan bolpoin, lalu condong ke depan dengan antusias.

 

"Tapi metode belajarku apa benar bisa berguna? Katanya sih tidak terlalu disukai orang."

 

"Itu tergantung cara menulisnya. Kalau populer nanti aku juga bayar honor, dan kalau artikelnya terkumpul banyak, kita bisa buat edisi khusus."

 

"Oh, jadi kalian menarik uang dari pembaca?"

 

Asagumo bertanya polos, membuat Koikawa tersenyum kecut.

 

"Soalnya klub jurnalistik cuma perkumpulan, jadi tidak ada dana klub. Kami harus mencari biaya kegiatan sendiri."

 

"Memang ya, klub jurnalistik itu sebenarnya cuma satu orang."

 

Mendengar kata-kata itu, senyum Koikawa menegang.

 

"…Iya, begitulah. Tapi kalau sudah naik status jadi klub resmi, semua orang pasti kembali."

 

Pendahulu klub jurnalistik adalah Klub Pengamat Burung.

 

Karena menimbulkan masalah, klub itu dibekukan sementara tanpa batas waktu, lalu diizinkan bertahan sebagai perkumpulan klub jurnalistik.

 

"Guru tidak mengatakan apa-apa? Katanya ada banyak artikel yang cukup berani."

 

"Makanya sebelum dimarahi guru, kami lepas artikelnya, lalu pembaca bisa membaca versi berbayarnya. Berkat pemilihan OSIS, lumayan laris."

 

Koikawa membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.

 

"Artikel itu memang luar biasa ya. Analisis pemilihannya juga hebat."

 

"Aku melakukan riset dengan benar. Yah, soal hubungan antar orang, aku sedikit menambahkan spekulasi, tapi masih dalam batas dramatisasi."

 

Koikawa tersenyum penuh makna, membuat Asagumo memiringkan kepala.

 

"Orang yang melaporkan berita, boleh melakukan hal seperti itu?"

 

"Itu namanya kebebasan pers. Wajar saja kalau sudut pandang penulis masuk dalam artikel."

 

"Ada juga istilah kebebasan untuk tidak melaporkan. Aku pribadi kurang menyukai istilah itu."

 

Mungkin mulai mencium suasana mencurigakan, Koikawa menunjukkan wajah gelisah.

 

"Hei, boleh kita mulai wawancaranya?"

 

"Tidakkah kau berpikir begitu──Kaju-san?"

 

Kemunculan mendadak orang ketiga.

 

Koikawa terkejut dan menoleh, melihat seorang gadis berambut panjang mengenakan seragam sekolah lain berdiri di sana.

 

"Benar, Asagumo-senpai. Di dunia ini ada hal-hal yang tidak boleh disentuh."

 

Koikawa menelan ludah.

 

…Ia sama sekali tidak merasakan kehadirannya.

 

Bahkan sekarang pun, jika lengah, sosok gadis itu seakan bisa menghilang dalam kegelapan ruang siaran. Di dalam bayangan gelap, rambut panjangnya bergoyang pelan.

 

Saat Koikawa masih terjebak dalam sensasi seperti mimpi, Kaju perlahan mengangkat satu tangan.

 

"Ngomong-ngomong, senpai, aku menemukan benda ini jatuh."

 

Di ujung jari Kaju terdapat sebuah SD card. Koikawa terkejut lalu melihat kameranya. Penutup slot kartu terbuka.

 

"Itu punyaku!"

 

Ia buru-buru merebut SD card itu lalu memasukkannya ke slot kamera. Menyadari dirinya sedang ditatap, Koikawa memaksakan senyum.

 

"Wah, terima kasih. Soalnya berisi foto-foto yang baru aku ambil."

 

Asagumo menepukkan kedua tangan dengan gembira.

 

"Oh, syukurlah. Jadi SD card itu milik Koikawa-san."

 

"Iya, benar! Tapi kenapa bisa jatuh dari kamera──"

 

Kata-katanya menghilang begitu saja di ujung lidah.

 

Monitor yang mengelilingi ruang siaran tiba-tiba menampilkan gambar secara bersamaan.

 

Yang muncul adalah foto-foto siswi SMA Tsuwabuki.

 

Foto-foto dengan sudut pengambilan berbahaya, disusun sedemikian rupa hingga keluar dari pandangan objek.

 

Artinya, dari sudut pandang para siswi itu──mereka tidak melihat lensa kamera.

 

Gambar berganti satu per satu seperti slideshow.

 

Saat foto Yakishio muncul, dahi Asagumo berkilat tajam.

 

"…Kaju-san, apa ini?"

 

"Iya, gambar yang sedang ditampilkan sekarang berasal dari SD card itu."

 

Di belakang Koikawa yang membeku, Kaju tersenyum lembut. Rambut hitamnya memantulkan cahaya monitor, berkilau samar dan bergoyang mencurigakan.

 

"Begitu ya. Ngomong-ngomong, SD card itu milik Koikawa-san, kan?"

 

Sambil berkata begitu, Asagumo memainkan sebuah remote kecil di tangannya.

 

"E-eh… iya… mungkin…"

 

"Kau tahu? Rekaman ruang siaran bisa ditampilkan di monitor ruang guru. Lihat, kalau tombol ini ditekan──"

 

"Tunggu!"

 

Koikawa berdiri setengah bangkit, tetapi Asagumo menatapnya tanpa ekspresi.

 

"Klub jurnalistik──atau lebih tepatnya, Klub Pengamat Burung, apakah semua anggotanya tahu tentang ini?"

 

"Itu… aku…"

 

Keringat mengalir di pipi Koikawa.

 

Asagumo menyentuhkan jari telunjuk ke dagunya sambil melihat monitor dengan heran.

 

"Ketua Klub Pengamat Burung… atau sekarang mantan ketua ya. Tidak kusangka dia punya hobi seperti ini. Di kelas, dia terlihat sangat serius."

 

Saat pembicaraan tentang ketua muncul, wajah Koikawa berubah pucat.

 

"Dia tidak ada hubungannya! Semua ini aku lakukan sendiri!"

 

Melihat Asagumo menatapnya dalam diam, Koikawa kehilangan tenaga dan jatuh terduduk di kursi.

 

"…Apa tujuan kalian? Kalau uang, aku bisa memberikan sedikit…"

 

"Aku tidak butuh uang."

 

Asagumo tertawa tanpa suara, lalu berdiri perlahan.

 

"──Kami hanya ingin berteman dengan Koikawa-san."

 

Setelah mengatakan itu, Asagumo perlahan mengulurkan tangan kanannya.

 

…Hening sejenak.

 

Dahi Asagumo berkilau samar, dan rambut hitam Kaju bergoyang pelan dalam kegelapan…

 

Koikawa Tsukushi menelan ludah──lalu dengan tangan gemetar, membalas genggaman tangan Asagumo.



Previous Chapter | Next Chapter

0

Post a Comment

close