Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Tanaka-san dari Keluarga Shiratama
Sepulang sekolah di gedung sekolah. Aku merapikan kembali dasiku di depan ruang OSIS.
…Di
dalam ada tanda-tanda keberadaan seseorang.
Memang
tujuanku datang untuk menyerahkan dokumen, tapi siapa yang ada di dalam itu
yang jadi masalah.
Saat
ini anggota OSIS terdiri dari tiga orang: ketua Tiara, wakil ketua Sakurai-kun,
dan sekretaris Shiratama.
Kalau
yang ada di dalam cuma Tiara sendirian, suasananya bakal jadi aneh, jadi sebisa
mungkin ingin kuhindari.
SSR
Sakurai gacha, tolong muncul dong…
"…Permisi."
Saat
membuka pintu ruang OSIS, di sana berdiri seorang siswi. Shiratama Riko.
Shiratama
menarik kembali tangannya yang tadi menjangkau rak buku, lalu tersenyum manis
kepadaku. Imut.
"Ketua
klub, ada perlu apa?"
"Eh,
aku datang buat menyerahkan laporan keuangan bulan lalu."
"Yah,
kukira datang buat menemuiku."
Shiratama
berjalan mendekat dengan langkah ringan, lalu menggenggam tanganku bersamaan
dengan menerima dokumen.
"Ayo
bilang saja kalau datang buat menemuiku."
Hei
hei, jangan menggoda senior. Masa cuma karena tanganku digenggam aku bakal
bilang begitu—
"Iya,
aku datang buat menemuimu."
?!
Kata-kata itu keluar sendiri dari mulutku…?
Saat
aku merinding menyadari kekuatan menggoda Shiratama, dia menekan genggamannya.
"Kalau
begitu, Ketua Klub. Akhir pekan nanti, mau datang bermain ke rumah pacar yang
sangat kamu sukai?"
Pacar?
Oh iya, kebohongan kalau aku sedang berpacaran dengannya ternyata masih
berlanjut ya. Kenapa orang-orang di sekitarku suka sekali pura-pura punya pacar
sih…
"Eh,
soal itu. Bukannya lebih baik kita cepat meluruskan kesalahpahaman ini?"
"Tapi,
kakakku ingin bertemu dengan pacarku."
Eh,
kakaknya Shiratama mau bertemu denganku? Atau… Tanaka ya?
"Maaf,
tapi tidak bisa. Kebohongan seperti ini tidak mungkin bertahan lama, lebih baik
kita jujur saja."
"Kalau
aku jadi jomblo, aku tidak bisa lagi manja seperti sekarang ke Onii-chan. Yang
menyuruhku mendekati Onii-chan itu Ketua Klub, kan?"
"Itu—"
Melihat
aku terdiam, Shiratama mendekat hingga jarak pita di rambutnya hampir
menyentuhku.
"—Mau
bertanggung jawab?"
◇
…Kenapa
jadi begini.
Tiga
hari kemudian, hari Minggu. Aku berada di lingkungan perumahan asing, tiga
stasiun dari SMA Tsuwabuki lewat jalur Atsumi, lalu berjalan kaki sepuluh
menit.
"Eh,
di sini ya…"
Saat
mengalihkan pandangan dari peta di ponsel, yang ada di depanku adalah rumah dua
lantai tua tapi terawat. Di papan nama tertulis "Shiratama", jadi
sepertinya tidak salah.
Aku
menghentikan jari yang hendak menekan bel tepat sebelum menyentuhnya.
—Kali
ini aku datang dengan setting sebagai pacar Shiratama.
Aku
yang bahkan hampir tidak mengenalnya, apakah bisa berperan sebagai pacar di
depan kakak kandungnya?
Kalau
di light novel atau manga, biasanya bakal dicurigai lalu disuruh membuktikan
hubungan dengan berciuman di depan mata—situasi seperti itu. Pola itu sudah
kubaca sekitar tiga kali.
………
………………Yah,
terlambat dari janji juga tidak baik. Ya.
Saat
aku berusaha menenangkan diri dan hendak menekan bel, seseorang memanggilku
dari belakang.
"Ooh,
Nukumizu. Tepat waktu ya."
"Sensei?!"
Tidak
heran aku kaget. Di sana ada Amanatsu-sensei. Amanatsu-sensei tanpa
memedulikanku langsung menekan bel.
"Ya,
tunggu sebentar."
Suara
perempuan yang terdengar sangat menggoda keluar dari interkom. Seperti suara
yang pernah kudengar. Aku punya firasat buruk…
Yang
membuka pintu adalah—guru UKS SMA Tsuwabuki, Konuki Sayo.
Konuki-sensei
mengedipkan mata lalu menarik lenganku.
"Selamat
datang. Minori dan Riko-chan sudah menunggu."
"Kenapa
sensei ada di sini?"
"Nukumizu,
sudah sampai sini jangan kabur."
Dalam
keadaan hampir pasrah, aku diseret masuk ke dalam rumah oleh dua guru itu.
Tempat
yang mereka bawa adalah ruang tamu rumah Shiratama. Di seberang meja pendek
ruang tatami itu—ada dua perempuan.
Keduanya
berdiri saat melihatku.
"Kazuhiko-san,
selamat datang!"
Satu
adalah (pacar palsuku), Shiratama Riko. Dan yang satu lagi—
"Selamat
datang, Nukumizu-kun. Terima kasih sudah selalu menjaga Riko."
Shiratama
Minori—atau sekarang Tanaka Minori. Aku dengan ragu membalas jabat tangan yang
dia ulurkan.
◇
"Silahkan,
Kazuhiko-san."
"Ah,
terima kasih…"
Sambil
menyeruput teh hijau yang disiapkan Shiratama, aku mengamati para sensei yang
duduk berjejer di depanku.
Di
tengah ada kakak Riko, Tanaka Minori, dan di kanan kirinya duduk Konuki-sensei
serta Amanatsu-sensei.
Saat
aku merasa tidak nyaman, Shiratama yang duduk di sebelahku diam-diam meletakkan
tangannya di pahaku.
"Sedikit
tegang ya?"
"Yah,
begitulah…"
Melihat
aku terbata-bata, kakak Riko tersenyum seolah merasa bersalah.
"Maaf
ya, mendadak menyuruhmu datang. Kamu pasti punya rencana kan."
Tidak
punya.
Setelah
akhirnya bisa sedikit tenang dalam situasi yang terasa familiar ini, aku
meletakkan cangkir teh yang masih kugenggam.
"Eh,
sebenarnya hari ini ada keperluan apa… kenapa aku dipanggil ke sini?"
"Karena
kamu pacar pertama Riko, aku ingin sekali berbicara denganmu."
"Kakak
sudah lama menantikan bertemu Kazuhiko-san."
Dengan
bantuan adiknya, kakak Riko menunjukkan senyum yang lebih santai.
"Riko
juga maaf ya. Padahal ini akhir pekan."
"Tidak
kok. Bisa kencan di rumah dengan Kazuhiko-san, malah terasa beruntung."
Begitu
ya, ini disebut kencan di rumah. Kalau benar-benar berpacaran dengan Shiratama,
berarti bisa punya kencan rumah seperti ini ya… begitu…
Saat
aku kembali menyeruput teh, kakak Riko tiba-tiba berkata,
"Nukumizu-kun,
bagian mana dari Riko yang membuatmu jatuh hati?"
"Eh?"
Bagian
yang kusukai dari seseorang yang bahkan bukan pacarku…?
Shiratama
menatapku dengan wajah menikmati situasi, sementara para guru Tsuwabuki
menunggu jawabanku dengan ekspresi menilai. Ini tidak boleh dijawab
sembarangan.
"Eh,
dia baik… keibuan… lalu…"
Deg.
Empat pasang mata menatapku.
"Dia
mau memungutkan penghapus… dan tipe yang membuatku khawatir sampai tidak bisa
mengalihkan pandangan, mungkin itu."
Setelah
entah bagaimana berhasil menyelesaikan jawabanku, aku diam-diam melirik kakak
Riko.
…Hari
ini pertama kali aku benar-benar melihat wajahnya dengan jelas, dan dia sangat
mirip Shiratama.
Rambutnya
sedikit lebih panjang dari adiknya, kecantikannya memadukan kesan dewasa dan
polos, pasti sangat mencolok saat berdiri di podium guru. Kalau tidak ada
hubungan apa-apa, aku mungkin ingin menukar wali kelas.
Kakak
Riko memandang adiknya dengan tatapan geli.
"Fufu,
begitu ya. Riko, bagaimana pendapatmu?"
"Hmm,
masih kurang sedikit. Masih bisa lanjut kan, Kazuhiko-san?"
Eh,
dia menyuruhku menambah kebohongan lagi?
Amanatsu-sensei
menatapku dengan mata setengah menyipit, Konuki-sensei malah mengedipkan mata,
membuatku makin tidak nyaman. Sangat tidak nyaman.
—Pada
akhirnya, sampai dibebaskan aku dipaksa menyebutkan sepuluh hal lagi yang
kusukai, lalu ketika kakak beradik itu berdiri untuk menyiapkan kopi, aku
langsung ambruk menelungkup di meja.
"…Hei,
Nukumizu."
"Iya,
ada apa?"
Saat
mengangkat wajah, Amanatsu-sensei yang bertopang siku melambaikan tangannya.
"Kamu
dengan Basori dari kelas F itu sebenarnya hubungan apa?"
"Tidak…
cuma teman."
"Hoh,
cuma teman tapi bisa masuk rumahnya? Lawannya perempuan, lho?"
Kalau
mau bilang begitu, tolong atasi dulu kamarku yang sudah jadi ruang bebas.
Mereka bahkan menambahkan bookmark di browser komputerkku seenaknya.
Saat
aku menghindari jawaban, Konuki-sensei menyela.
"Ah,
meskipun tidak pacaran, bukan berarti tidak boleh masuk kamar. Justru rasa
bersalahnya terasa menggairahkan, bukan?"
Aku
berterima kasih atas upaya kalian menjaga situasi, tapi sebisa mungkin tolong
hindari ungkapan yang bisa menimbulkan kesalahpahaman.
Amanatsu-sensei
melotot ke arah Konuki-sensei, lalu kembali menghadapku.
"Lalu,
hubunganmu dengan Yakishio bagaimana? Kamu masih ingat kejadian gudang olahraga
tahun lalu, kan."
Tentu
saja, sensasi itu──bukan, maksudku situasi yang mengancam nyawa itu, mana
mungkin kulupakan.
"Eh,
itu benar-benar salah paham. Dari awal pun aku dan Yakishio tidak punya
hubungan seperti itu."
"Bukankah
itu justru bagus. Karena bukan hubungan seperti itu, jadi bisa makin
membara."
Konuki-sensei,
tolong diam sebentar.
Ekspresi
Amanatsu-sensei makin lama makin tegang. Padahal aku tidak bersalah.
"Dengar,
Nukumizu. Kalau pacaran, bisa saja putus, lalu mungkin pacaran lagi dengan
orang lain. Tapi kalau sampai gonta-ganti perempuan di sekitarmu, menurutku itu
tidak baik."
"Aku
tidak melakukan hal seperti itu."
…Kenapa
aku mendapat kesalahpahaman seperti itu?
Memang
musim panas tahun lalu aku terlihat memeluk Yakishio yang setengah telanjang di
gudang olahraga, lalu tersebar juga kalau aku pernah pergi ke rumah Tiara, dan
aku juga pernah berbohong kalau sedang pacaran dengan Shiratama.
Ditambah
lagi musim dingin tahun lalu, aku sampai dicurigai terlibat hubungan segitiga
dengan Shikiya dan Tiara di gymnasium. Tapi tetap saja, aku tidak pantas
mendapat kesalahpahaman seperti ini.
Saat
aku bingung bagaimana meluruskannya, Konuki-sensei membuka suara.
"Kami
khawatir karena sudah mengenal Riko sejak lama. Setelah masa skorsingnya
berakhir, dia belum bisa berbaur di kelas, lalu langsung mulai pacaran
denganmu."
Dengan
nada menenangkan, dia meletakkan tangan di bahu Amanatsu-sensei.
"Menurut
sensei sih, walaupun sudah punya pacar tapi masih belum benar-benar putus
dengan mantan, lalu bersenang-senang cosplay dengan Basori-san, itu juga tidak
masalah lho."
"Tentu
saja bermasalah?!"
Amanatsu-sensei
langsung menimpali. Aku sepenuhnya setuju, dan itu juga sepenuhnya salah paham.
Konuki-sensei
menatapku dengan mata yang sedikit lebih serius.
"Tapi,
aku ingin kamu tetap menjadikan Riko sebagai yang paling penting. Anak itu jauh
lebih mudah terluka daripada yang kamu bayangkan."
"Sensei…"
Aku
benar-benar paham kalau Konuki-sensei dan yang lain sangat menyayangi
Shiratama. Masalahnya cuma satu, semua ini berdasar pada kesalahpahaman.
Tapi
suasananya terasa bagus, jadi mungkin lebih baik aku diam saja…
Mungkin
karena mengira aku mengerti, Konuki-sensei melunak lalu mengangkat jari
telunjuknya.
"Kalau
suatu saat diperlukan, bolehkah aku memberi satu saran?"
"Tidak,
tidak perlu."
Walau
aku menolak tegas, Konuki-sensei tetap melanjutkan.
"Kalau
tertusuk, yang paling penting adalah mencegah putaran."
Saran
yang benar-benar melenceng jauh datang.
"…Eh,
maksudnya?"
"Kalau
ujung pisau yang sudah masuk ke tubuh diputar, kerusakan pada pembuluh darah
dan saraf bisa jadi sangat besar. Usahakan menahan bilahnya agar tidak
bergerak, sambil mencegah lawan mengambil posisi di atas."
"Begitu
ya."
Ternyata
pengetahuan yang berguna. Dan sepertinya dalam waktu dekat aku akan tertusuk.
"Selain
itu, kalau tidak ada saksi, bentuk luka pertahanan juga penting untuk
membuktikan niat membunuh. Tidak perlu memaksakan diri menghindari luka di
tangan, pegang saja pisaunya dengan kuat."
"Saran
itu terdengar seperti dengan asumsi aku sudah mati? Aku bakal dibunuh ya?"
Konuki-sensei
hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Aku tidak ingin mati.
Saat
mengirim tatapan minta tolong, Amanatsu-sensei memberi senyum paling lembut
hari ini.
"…Mau
kukenalkan asuransi yang bagus?"
◇
Setelah
meletakkan bantal lucu berwarna pink, Shiratama menepuk-nepuknya.
Kencan
di rumah sudah memasuki paruh akhir, dan aku diajak ke kamar Shiratama Riko.
"Silakan
duduk, Kazuhiko-san."
"A-ah,
iya. Permisi…"
"Maaf
ya kakakku banyak bicara. Capek, kan?"
"Iya,
capek."
Aku
menjawab jujur sambil duduk di bantal.
Masuk
ke kamar pribadi perempuan, ini kedua kalinya bagiku (kalau tidak menghitung
rumah Komari), setelah kamar Tiara.
Kamar
Shiratama berlantai kayu dengan dominasi warna putih, dan di sisi dinding ada
meja rias.
Aroma
parfum yang lembut memenuhi ruangan, dan setiap kali Shiratama bergerak, udara
di kamar terasa bergoyang dengan nyaman.
──Inilah
kamar perempuan yang sesungguhnya.
Diajak
masuk kamar memang bagus, tapi apakah pacar palsu sepertiku pantas berada di
sini… Saat aku gugup karena rasa bersalah, Shiratama meletakkan satu bantal
lagi di sampingku lalu duduk.
"Eh,
kenapa duduk di sebelahku?"
"Aku
kan pacarnya Kazuhiko-san, jadi wajar, kan?"
Oh
iya. Shiratama itu pacarku, jadi duduk di sebelah tidak masalah──
"Tidak,
kita cuma pura-pura pacaran, kan? Lagi pula kita berdua saja di kamar, tidak
perlu memanggil dengan nama depan."
"Hmm,
tapi bisa saja ada yang mendengar. Lagi pula mumpung kita berdua saja──"
Shiratama
menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Boleh
kita berpura-pura jadi pacar sedikit lebih lama?"
"Heh?!"
Berdua
saja di kamar pacar. Kalau begitu, tindakan yang biasanya dilakukan pacar
adalah────
Tunggu,
itu bahaya. Aku juga laki-laki. Kalau sampai tanpa sadar menyentuh bagian
belakang lutut atau semacamnya, bisa jadi masalah besar.
"Shiratama,
lelucon seperti itu tidak baik."
"Kalau
pura-pura sebagai lelucon… tidak boleh?"
"Ya
bukan tidak boleh sih…"
"…Karena
cuma pura-pura, kamu boleh melupakannya besok."
Berat
kepalanya di bahuku terasa sedikit bertambah.
Ini
mungkin cuma leluconnya. Karena lelucon, aku tidak akan menganggapnya serius,
tapi aromanya manis dan harum, jadi mungkin tidak apa-apa kalau tetap seperti
ini sedikit lebih lama──
Saat
aku membeku dalam kegugupan, terdengar suara langkah mendekat ke kamar dari
lorong.
Langkah
yang agak besar itu berhenti di depan pintu, lalu terdengar ketukan pelan.
"Kalian
berdua, boleh bicara sebentar?"
"!!"
Suara
itu milik Tanaka-sensei. Shiratama buru-buru berdiri lalu membuka pintu.
"Onii-chan,
ada apa?"
"Aku
dengar Nukumizu-kun datang, jadi kupikir sekalian menyapa──"
Ucapan
Tanaka-sensei terhenti saat pandangannya jatuh pada dua bantal yang berjajar.
Dia segera mengalihkan pandangan, lalu tersenyum tenang.
"Selain
itu, aku membeli kue, mau turun makan bersama?"
Shiratama
berdiri menutupi pandangan Tanaka-sensei sambil menepuk tangan dengan senang.
"Wah,
terima kasih. Kazuhiko-san, ayo kita turun."
"I-iya."
Aku
mengangguk canggung lalu keluar kamar bersama Shiratama.
Tanaka-sensei
terlihat sedikit canggung… tapi aku juga canggung.
◇
──Kencan
di rumah yang terasa seperti membuat perut bolong akhirnya berakhir.
Aku
menolak dengan tegas untuk diantar pulang, lalu menundukkan kepala kepada para
sensei di depan pintu masuk rumah keluarga Shiratama.
"Hari
ini terima kasih sudah mengundangku."
"Aku
senang bisa banyak mengobrol. Sampai jumpa lagi di sekolah."
Saat
aku berjabat tangan dengan Tanaka-sensei, Amanatsu-sensei menepuk-nepuk bahuku.
"Oi,
Nukumizu, yang tegas ya. Kalau sudah situasi serius, konsultasi saja ke
Konuki-chan."
"Ya,
dengan senang hati. Tempat tidur di UKS selalu siap kok."
Aku
mengangguk sambil tersenyum, sembari berjanji dalam hati untuk tidak mendekati
UKS untuk sementara waktu.
Saat
hendak pulang, kakaknya Riko mendekat secara santai lalu berbisik di telingaku.
"──Tolong
jaga Riko ya, Ketua Klub."
Ia
tersenyum lembut pada diriku yang membeku, lalu menepuk punggungku pelan
sebelum menjauh.
...Seperti
dugaanku, orang ini memang kakaknya Shiratama Riko.
Sambil
mengkhawatirkan masa depan Tanaka-sensei, aku pun bergegas meninggalkan rumah
keluarga Shiratama.
◇
Aku
berjalan menuju stasiun terdekat di jalan satu lajur tanpa trotoar.
Saat
mobil melintas, aku menepi di pinggir jalan sambil menatap langit yang mulai
tenggelam oleh matahari.
...Kali
ini aku berhasil melewatinya, tapi kalau begini terus bakal merepotkan.
Memang
sebaiknya dibicarakan dengan serius dan mengatakan yang sebenarnya.
Memang
benar Shiratama-san itu lembut dan harum, tapi aku bukan tipe yang mudah
terpengaruh hal seperti itu.
...
............
..................Ya,
aku bukan tipe yang mudah terpengaruh.
"Kazuhiko-saaan,
tunggu dong!"
Saat
aku menoleh karena suara itu, Shiratama-san berlari dari belakang. Begitu
menyusulku, ia menempelkan tangan di dadanya sambil mengatur napas.
"Ada
apa? Apa ada barang yang tertinggal?"
"Aku
berpikir, sebagai pacar, aku harus mengantar Kazuhiko-san sampai stasiun."
Shiratama-san
menunjukkan senyum sempurna, tapi kali ini aku tidak akan terpengaruh lagi.
"Kali
ini para sensei sudah tidak ada, jadi tidak perlu berpura-pura lagi kok."
"Selama
belum sampai rumah, aku tetap pacarmu, tahu?"
Mengatakannya
dengan nada usil, ia mencoba berjalan mendahuluiku.
...Yah,
karena aku tidak terpengaruh, mungkin tidak apa-apa menemaninya sedikit lagi.
"Tunggu,
bukan lewat situ."
"Bukannya
kita mau ke stasiun?"
"Jalan
itu berbahaya karena banyak mobil, jadi kita lewat jalan lain saja."
Kalau
cuma aku sendiri sih tidak masalah, tapi kalau berjalan bersama Shiratama-san
tentu beda cerita.
Saat
kami kembali melalui jalan yang tadi dilewati, Shiratama-san tiba-tiba
menundukkan kepala.
"Kazuhiko-san,
terima kasih banyak untuk hari ini. Aku benar-benar terbantu."
"Ah,
ya, semacam sudah terlanjur ikut campur saja sih. Hal seperti ini cukup sering
terjadi."
"Fufu,
sering terjadi ya. Pacarku ternyata populer."
Nada
bercanda Shiratama-san membuat sudut bibirku tanpa sadar ikut terangkat.
Yah,
bertemu keluarga teman bukan kebohongan juga. Aku pernah membuat kue dengan ibu
Yakishio, disembur susu oleh Yakimo-chan, bermain dengan Chibisuke, bahkan
pernah ketahuan adik Basori saat melakukan play telinga kucing.
"Kalau
begitu, izinkan aku membalas kebaikanmu kali ini. Kamu ingin apa?"
"Kalau
kamu mengantarku sampai stasiun saja, itu sudah cukup kok."
Sejujurnya,
aku ingin menghindari hutang budi lebih dari ini.
Aku
mengatakannya setengah bercanda, tapi Shiratama-san tiba-tiba terdiam
menatapku.
Eh,
apa ucapanku tadi terdengar menjijikkan ya? Entah kenapa rasanya begitu.
"Eh,
maksudku tadi tidak punya arti khusus──"
"Sejujurnya,
aku kabur karena kalau di rumah pasti dihujani pertanyaan."
Setelah
mengatakan itu, Shiratama-san kembali terdiam.
...Yah,
memang begitu jadinya.
Kami
pun terus berjalan berdampingan tanpa bicara.
Saat
berhenti di lampu merah persimpangan, Shiratama-san menatap kendaraan yang
lalu-lalang dengan pandangan jauh.
"Menjadi
diriku yang anak baik di depan kakak perempuan dan kakak laki-lakiku──sedikit
melelahkan."
"................Begitu
ya."
Ekspresi
yang sesekali ditunjukkan Shiratama-san ini adalah ekspresi seorang gadis yang
rapuh dan sensitif sesuai usianya.
Aku
tidak bisa mengatakan apa pun, hanya bisa berdiri di sampingnya.
Lampu
lalu lintas berubah hijau, dan kami kembali berjalan dalam diam. Saat berjalan
di trotoar sepanjang sawah, aku mengutarakan hal yang sempat kupikirkan tadi.
"Mungkin
kakakmu menyadari kalau kita sebenarnya tidak berpacaran."
"...Kenapa
kamu berpikir begitu?"
Nada
serius Shiratama-san membuatku sedikit gugup.
"Saat
perpisahan tadi, dia memanggilku Ketua Klub."
"Ketua
Klub──"
Setelah
mendengarnya, Shiratama-san berpikir sejenak lalu membuka mulutnya.
"──Apa
kamu tidak membocorkan sesuatu?"
"Hah?"
Melihat
jawabanku yang bodoh, Shiratama-san menunjukkan senyum penuh percaya diri.
"Dia
sedang memancing. Kakakku menunggu Kazuhiko-san membuat kesalahan."
"Berarti
dia sudah tahu?"
Shiratama-san
tetap menatap ke depan sambil menggeleng.
"Kalau
kakakku sudah yakin, dia tidak akan menggertak seperti itu. Menyimpan rahasia
justru membuatnya memegang kendali."
"B-begitu
ya."
...Kakak
beradik ini hidup di dimensi yang berbeda dariku.
Baiklah,
ini akan menjadi kunjungan pertama dan terakhirku ke rumah keluarga Shiratama.
Aku
akan menghabiskan waktuku di rumah keluarga Nukumizu sambil menyentuh gumpalan
bulu lembut bersama Kaju.
Tanpa
sadar langkahku menjadi lebih cepat, tapi Shiratama-san tiba-tiba menarik
lenganku.
"Kazuhiko-san,
tolong jalan sedikit lebih pelan."
"Ah,
maaf."
Saat
aku berhenti, Shiratama-san justru memaksakan diri menyilangkan lengannya
dengan lenganku.
"Fufu,
sekarang kamu tidak bisa kabur ya."
"Hei,
meskipun cuma pura-pura, tidak perlu sampai segitunya."
Tanpa
menghiraukan kebingunganku, Shiratama-san tetap berjalan sambil menggandeng
lenganku.
Aku
pun melangkah seolah ditarik olehnya.
"Itu,
Shiratama-san. Kalau ada orang sekolah yang melihat kita..."
"Kalau
sudah dicurigai──mungkin sekalian jadi sungguhan juga tidak masalah."
"Hah?
Maksudnya apa?"
Menanggapi
pertanyaanku yang bodoh, Shiratama-san menatapku dengan senyum paling manisnya.
"──Kalau
Ketua Klub benar-benar jadi pacarku, kira-kira kakakku akan terkejut tidak
ya?"
Haa,
pacar sungguhan ya.
Eh,
maksudnya itu berarti aku dan Shiratama-san benar-benar berpacaran, bukan
pura-pura lagi. Kalau begitu memang kecurigaan kakaknya akan hilang, dan kita
tidak perlu berbohong lagi──
"Hah?!
Tidak, tidak, lebih baik kamu lebih menghargai dirimu sendiri ya?!"
"Ini
cuma bercanda kok, Kazuhiko-san."
Melihat
reaksiku yang gagap, Shiratama-san tertawa kecil sambil melepaskan lenganku.
"──Untuk
saat ini, sih."



Post a Comment