NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 3 Epilog

Epilog


Kehidupan di Erendil berlalu dalam sekejap mata karena banyaknya hal yang harus dilakukan selain belajar untuk ujian.

Di tengah kesibukan itu, sebuah peristiwa besar terjadi bagi keluarga Clausel.

Lessard dipanggil ke istana untuk dianugerahi gelar Viscount sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya selama ini.

Bukan hanya bantuan saat insiden musim panas, tetapi kemampuan administrasinya dalam mengelola Erendil—wilayah yang sebelumnya menjadi sumber masalah—juga diakui.

Dalam upacara yang diadakan di Ruang Audiensi Istana Kekaisaran, sang Kaisar sendiri yang mendeklarasikannya.

Kaisar yang jarang memuji itu bahkan sempat berujar, "Aku menaruh harapan padamu," yang membuat peristiwa tersebut menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan bangsawan.

Selain itu, ulang tahun Licia pun dirayakan dengan sederhana hanya bersama keluarga, sama seperti ulang tahun Ren.

Ujian tahap ketiga berakhir pada musim gugur, tahap keempat selesai sebelum musim dingin, dan setelah pergantian tahun, ujian akhir pun tuntas.

Ren terus giat belajar bersama Licia dengan sesekali dibantu oleh Fiona. Di hari lain, Ren pergi ke Ibukota bersama Radius sesuai janji mereka.

Ada saat di mana Licia harus meninggalkan kediaman selama sebulan untuk mengurus pekerjaan keluarga Clausel, serta munculnya perubahan dalam hubungan antara Licia dan Fiona. Benar-benar banyak hal yang telah terjadi.

◇◇◇

Hingga tibalah suatu hari di musim semi, setelah melewati hari-hari yang panjang itu.

"Ayah!"

Licia untuk pertama kalinya memamerkan penampilannya dalam balutan seragam Institusi Militer Kekaisaran, lengkap dengan lencana Kelas Khusus.

Melihat itu, Lessard tersenyum penuh haru dan merayakan hari bersejarah ini.

Ia juga menatap Ren yang mengenakan seragam serupa dan tersenyum tulus.

"Kalian berdua sangat cocok memakainya, selamat atas kelulusan kalian."

"Terima kasih banyak. Tapi anu... rasanya bagian bahu ini agak sempit, ya."

"Namanya juga seragam baru, memang begitu rasanya. Lama-kelamaan kainnya akan melemas dan pas dengan tubuhmu."

Pada hari upacara penerimaan siswa baru ini, langit biru tanpa awan membentang luas memenuhi cakrawala.

◇◇◇

Warna perak, merah tua, dan emas mendominasi.

Aula besar yang menjadi kebanggaan Institusi Militer Kekaisaran sangatlah luas.

Jika menatap ke atas dari kursi lantai satu, mata akan dimanjakan oleh deretan lampu gantung emas yang berjajar di langit-langit yang sangat tinggi.

Dinding interior berwarna perak terlihat agung, serasi dengan karpet merah tua yang mencolok.

Kursi penonton tersusun melingkar mengikuti bentuk kipas hingga ke lantai lima.

Selain tamu undangan, seluruh siswa lama pun hadir tanpa pengecualian dalam upacara ini.

Di atas panggung terdalam, berdirilah seorang wanita cantik bak permata—Chronoa Highland.

Setelah menyelesaikan tugas panjangnya dan kembali ke Leomel, ia berdiri di sana hari ini untuk menyambut para siswa baru.

Ren Ashton terpilih sebagai perwakilan siswa laki-laki, sementara Licia Clausel menjadi perwakilan siswa perempuan.

Saat upacara mencapai puncaknya, mereka berdua bangkit dari kursi yang bersebelahan dan melangkah menuju tempat Chronoa menunggu di atas panggung.

"Ren, kau gugup?"

"Sebenarnya, sedikit."

"Syukurlah. Aku juga sama."

Keduanya bertukar senyum sambil berbisik lirih.

Mereka melangkah di atas karpet merah yang tebal, lalu berdiri di hadapan mimbar yang megah.

(Tak kusangka, aku akan berdiri di sini bersama Nona Licia.)

Cahaya dari lampu gantung yang menyorot panggung terasa menyilaukan.

Di tengah kilauan itu, Ren teringat kembali memori yang terpatri di balik kelopak matanya.

"Bisa kau lihat, kan? Akulah yang telah membunuhnya."

Ingatan tentang Ren Ashton yang membunuh Saintess Licia dan berujar demikian sambil mendekap jasadnya.

Pemandangan di mana darah yang menetes dari tubuh sang Saintess yang telah membeku itu membasahi lantai panggung.

Meski didera perasaan yang rumit, kakinya tidak berhenti.

Tap, tap, suara sol sepatu kulitnya yang mengetuk lantai panggung bergema saat ia berjalan perlahan.

Lalu, sosok yang menunggu mereka, Chronoa, juga merupakan tokoh yang nyawanya direnggut oleh Ren Ashton dalam legenda Seven Heroes. Sang penyihir terhebat di dunia.

Dengan rambut pirang keemasannya yang bergoyang, ia tampak senang menyambut kedatangan Ren dan Licia.

Ia mengenakan topi penyihir bertepi lebar dan jubah yang terlihat sangat pas di tubuhnya.

Kepada dua orang yang berdiri di hadapannya, ia memberikan senyuman yang lebih indah dari permata mana pun.

"Salam kenal, Nona Saintess. Dan lama tidak berjumpa, Tuan Pahlawan."

Licia merasa tegang saat disapa seperti itu oleh Chronoa.

Namun, ia segera terheran ketika Chronoa memanggil Ren dengan sebutan "Tuan Pahlawan". Terlebih lagi, Chronoa jelas-jelas bilang "lama tidak berjumpa".

Licia menoleh ke arah Ren dengan bingung, hanya untuk melihat Ren yang juga tampak terperangah.

(Lama tidak berjumpa...?)

Ren mencoba berpikir tenang di tengah situasi ini, mencari tahu kapan dan di mana mereka pernah bertemu.

Chronoa tidak mungkin berbohong. Ia memutar otaknya untuk mengingat kembali di mana ia pernah bertemu dengannya di masa lalu.

Dalam versi gim, Chronoa adalah sosok yang istimewa bagi Ren, sama seperti Licia. Jika ia pernah bertemu dengan orang sepenting itu, tidak mungkin ia lupa, tapi...

Dua perwakilan yang sudah sampai di panggung itu terdiam di hadapan Chronoa. Namun, para hadirin tidak merasa aneh dengan hal itu.

Siswa baru, siswa lama, hingga tamu undangan salah paham dan mengira bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting.

"Apakah kita pernah bertemu di suatu tempat?"

"Ya. Mungkin sekitar dua tahun yang lalu. Aku dan kamu bahkan pernah mengobrol, lho."

Hanya itu yang ia butuhkan.

Itu terjadi pada hari ketika ia memburu Iron-Eater Gargoyle.

Serta saat ia berkeliling desa di wilayah kekuasaan bersama Licia.

(Ternyata benar, orang itu adalah dia.)

Dugaannya tepat sasaran.

Kala itu, Ren diajak oleh Chronoa untuk datang ke Ibukota.

"Ada banyak hal yang terjadi, tapi Kepala Sekolah────"

"Panggil saja Chronoa. Aku tidak suka embel-embel 'Nyonya' atau semacamnya."

Chronoa memotong kalimat Ren dengan nada jenaka.

Di sisi lain, Ren menyinggung kembali kata-kata yang pernah ia ucapkan kepada Chronoa di Serikat Petualang Clausel.

"────Sesuai harapan Anda, Chronoa-san, akhirnya saya datang ke Ibukota."

"Ehehe! Aku senang kau mengingatnya."

"R-Ren!? D-Di mana kalian pernah bertemu...?"

Licia tidak bisa berbuat ricuh di atas panggung.

Meskipun ia berusaha tampak tenang dari belakang, ekspresi terkejut di wajahnya jelas terlihat oleh Chronoa yang berdiri di depan dan Ren yang ada di sampingnya.

Ren melirik Chronoa, memberi isyarat apakah ia boleh menceritakannya.

Chronoa mengangguk kecil.

"Saat kita berkeliling desa di Clausel dulu, ada saat di mana Anda tiba-tiba harus pulang, kan?"

"Maksudmu saat orang yang kau temui di kota entah kenapa berada di dalam hutan, lalu kau bertemu lagi dengannya?"

"Benar. Sepertinya orang itu adalah Chronoa-san."

"Ahaha…… saat itu aku sedang mencari lokasi yang cocok untuk ujian masuk. Bertemu Ren-kun dua kali di Clausel itu murni kebetulan, lho."

Licia yang terkejut, berbanding terbalik dengan Ren yang justru tidak terlalu kaget.

Bagi Ren, semua kepingan teka-teki kini telah menyatu, dan ia malah merasa lega.

"Aku sudah mendengar tentang Ren-kun dari Marquis Ignat. Sebenarnya aku ingin mampir ke kediaman Clausel untuk menyapa, tapi..."

Karena ujian masuk akademi ini sangat istimewa, hal itu tidak terlaksana. Chronoa berniat meminta maaf atas insiden di Pegunungan Balder, namun ia memutuskan untuk mencari waktu lain karena upacara ini akan memakan waktu lama jika dibahas sekarang.

"Nanti kita bicara santai lagi, ya. Sekarang, biarkan aku bekerja sedikit sebagai kepala sekolah."

Ujar Chronoa.

Kepada dua perwakilan di depannya, dan kepada seluruh siswa baru yang duduk di kursi di belakang mereka.

Pada hari ini, ia mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka masuk ke Institusi Militer Kekaisaran dengan tulus, dan berdoa agar hari-hari mereka di akademi ini menjadi masa yang produktif.

◇◇◇

Ia merentangkan kedua tangannya seperti sayap────

"Nah, semuanya."

Saat ia menjentikkan jari tangan kanannya, embusan angin bertiup di dalam aula besar.

Langit-langit, dinding, bahkan lantai. Segalanya—kecuali perabotan dan kursi—menjadi transparan dan berubah menjadi cakrawala biru yang membentang tanpa batas.

Pemandangan awan yang berarak di langit dan burung-burung putih yang beterbangan silih berganti.

Bersamaan dengan cahaya matahari yang berkilau dari puncak langit, pemandangan mistis itu hadir mengiringi kata-kata Chronoa.

"Selamat datang di Institusi Militer Kekaisaran! Selamat datang di tempat belajar terbaik di dunia!"

Jika dunia para dewa itu ada, mungkin tempatnya akan seperti ini.

Seluruh hadirin tanpa pengecualian berseru takjub, yang perlahan berubah menjadi sorak-sorai.

Di tengah ruang penuh sukacita yang bercampur dengan tepuk tangan dan teriakan kegembiraan itu, Ren dan Licia yang berada di atas panggung juga ikut memandang sekeliling.

"Kalian berdua, selamat untuk hari ini!"

Di sana, Chronoa menyapa mereka di tengah keriuhan itu.

Saat Ren dan Licia menoleh, Chronoa menunjukkan senyuman yang sangat manis.

"Lain kali, mari kita mengobrol di ruang kepala sekolah—di ruanganku, ya!"

Ren dan Licia sempat ragu apakah mereka boleh diajak ke tempat sepenting itu dengan begitu santai, namun yang mengajak adalah Chronoa, sosok yang memiliki pengaruh lebih besar daripada bangsawan kelas atas mana pun.

Menolak adalah hal yang mustahil, dan Ren pun ingin menanyakan dengan jelas tentang kejadian di Clausel dulu.

Begitu mereka berdua menjawab "Baik" dengan agak sungkan, Chronoa tersenyum malu-malu dengan gembira.

◇◇◇

Setelah upacara penerimaan berakhir, seluruh penjuru sekolah menjadi ramai.

Pemandangan orang-orang yang berkumpul dan bercengkerama di aula besar, taman, hingga dekat gerbang utama adalah pemandangan yang rutin terlihat setiap tahun.

Para bangsawan mempererat hubungan dan membicarakan rencana masa depan.

Warga biasa juga saling menyapa sesama siswa baru untuk mencari teman, sementara mereka yang berbakat didekati oleh siswa senior atau keluarga mereka agar bisa direkrut sebagai pengikut atau pejabat sipil sejak dini.

Hal ini sangat mencolok di sekitar mereka yang mengenakan lencana Kelas Khusus; kerumunan orang selalu terlihat di sekitar para elit yang menonjol ini.

Karena menyadari hal itu, Licia berdiri di dekat gerbang utama. Dengan memberi kesan bahwa ia akan segera pulang, ia berusaha menghindari terbentuknya kerumunan massa di sekitarnya.

"Licia!"

Suara itu berasal dari Saila Riohard.

Ia datang menemui Licia bersama Vain, merasa senang karena mulai sekarang mereka akan belajar di kelas yang sama.

Vain berdiri memperhatikan mereka dengan senyuman cerah di wajahnya.

"Sampai saat terakhir lokasi ujian kita selalu berbeda…… tapi mulai sekarang, kita berada di kelas yang sama!"

"Iya. Mohon bantuannya mulai sekarang. ────Anu, kalau tidak salah namamu Vain-kun, kan?"

"I-iya! Salam kenal! Saya Vain! Saya tidak punya nama keluarga, tapi sekarang saya berada di bawah asuhan keluarga Riohard……!"

Vain merasa tegang di hadapan kecantikan Licia dan bicaranya agak kaku.

Saila tampak memanyunkan bibirnya seolah tidak puas dengan sikap Vain, tapi reaksi Vain itu wajar saja. Licia dalam balutan seragam terlihat sangat mempesona bagi siapa pun, bahkan hanya berdiri di sampingnya saja sudah membuat gugup.

Saila sendiri adalah gadis yang cantik, namun dalam kasus Licia, mungkin bisa disebut sebagai wibawa sang Saintess.

"Mohon bantuannya juga untukmu, ya."

Setelah berkata demikian, Licia melirik jam tangannya.

Itu adalah jam tangan pemberian Ren sebagai hadiah ulang tahun di musim panas lalu.

Jam tangan dengan warna pink gold yang manis itu sangat cocok untuk Licia yang tampak anggun dengan dial jam berwarna putih bersih.

"Aku ingin mengobrol lebih lama, tapi aku harus segera pergi."

Telah diputuskan sejak lama bahwa hari ini Ulysses akan mengadakan perjamuan perayaan.

Radius juga akan hadir secara rahasia, menjadikannya sebuah perjamuan yang cukup formal.

Karena itu, Licia memanggil Ren yang sedang disapa oleh siswa baru lainnya di dekatnya.

"Ren, ayo berangkat. Ayah sudah menunggu."

Ren menoleh, memperlihatkan wajahnya kepada Vain dan Saila.

Keduanya mengerjap berkali-kali, lalu ingatan tentang malam musim panas itu kembali muncul di benak mereka.

"Eh────?"

"Lho────?"

Kepada dua orang yang akhirnya mencapai puncak keterkejutan itu, Ren berujar santai, "Lama tidak berjumpa."

Licia yang sudah mendengar seluruh ceritanya tertawa kecil dengan pasrah dan kembali berkata, "Ayo jalan." Ia juga berpamitan kepada Saila dan Vain, lalu melangkah pergi bersama Ren.

Tepat saat Ren dan yang lainnya berbalik dan mulai berjalan...

"A-A-Anu, jangan-jangan kamu adalah...!"

"K-Kamu tidak mungkin────!?"

Suara terkejut kedua orang itu mencapai punggung Ren dan Licia.

"Bohong!? Jadi anak laki-laki yang dibilang Licia lebih kuat darinya itu──── be-benar juga! Dia adalah orang yang menjadi perwakilan siswa bersama Licia……!"

"A-Ah benar! Kalau begitu, dia memang benar-benar si 'Rumor' itu……!"

Mendengar suara yang masih terdengar itu, Licia bertanya kepada Ren dengan nada riang.

"Tadi aku yang mengajakmu pergi, tapi apa menurutmu sebaiknya kita bicara dulu dengan mereka berdua?"

"Tidak perlu, toh kita akan berada di kelas yang sama, jadi akan ada banyak kesempatan untuk bicara. Untuk hari ini, mari kita prioritaskan apa yang harus diprioritaskan."

"Fufu──── iya. Mari kita lakukan itu."

Di samping Licia yang berjalan dengan langkah ringan...

(Benar-benar banyak yang berubah, ya.)

Seharusnya, perwakilan siswa dijabat oleh murid lain. Kehadiran Ren telah mengubah hal itu, dan segalanya—mulai dari pertemuan dengan Chronoa hingga reuni dengannya—adalah perkembangan yang baru.

Ren tidak lagi merasakan ketakutan terhadap Institusi Militer Kekaisaran seperti yang ia rasakan dulu.

Sekarang, keinginan untuk tumbuh yang sudah lama bersemayam di hatinya serta kesiapan untuk menghadapi ujian yang menanti justru semakin menguat.

"Ren, kau kelihatan senang sekali."

"Aku memang senang. Rasanya sangat antusias."

Karena, ini baru dimulai.

Kisah hingga Ren masuk ke akademi berakhir sampai di sini.

Bisa dibilang, ini adalah bab pembuka baginya.

Karena cerita utama dimulai dari saat ia masuk sekolah setelah event awal di gim Seven Heroes Legend I berakhir, maka kejadian sejauh ini pastilah bab pembuka.

Meskipun ini bukan di dalam gim, setidaknya itulah yang ia rasakan di dalam hatinya.

"Ren-kun! Selamat atas penerimaanmu!"

Para siswa lama terkejut melihat Fiona yang tampak senang menyapa seorang lawan jenis.

"Aku melihat pidato perwakilanmu tadi, lho."

"Kalau dibilang begitu secara resmi, rasanya agak malu. Apa tadi kakiku tidak gemetar?"

"Aduh, mana mungkin begitu."

Kehadiran Fiona pun sama. Dia yang seharusnya kehilangan nyawa, kini masih hidup.

Sama seperti sebelumnya, pasti akan ada cerita baru yang menanti di masa depan.

(……Tapi, bab pembukanya panjang sekali, ya.)

Ia telah bertarung berkali-kali, melewati pertempuran hidup dan mati.

Hal-hal yang tidak akan dialami oleh orang yang hidup normal pun sudah ia rasakan berkali-kali.

◇◇◇

Jadi, bagaimana kalau awal dari cerita utama ini dimulai seperti ini?

Sebuah awal yang jauh lebih penuh gejolak dibandingkan orang lain, namun diiringi dengan kebahagiaan yang sepadan.

Angin musim semi yang nyaman membelai rambut Ren.

Seolah menyatu dengan keriuhan di sekitarnya, Ren bergumam dengan suara lirih.

Itu pastilah kata-kata untuk menegaskan kembali perasaannya. Untuk membenarkan cara hidupnya selama ini, dan agar kehidupannya ke depan dipenuhi dengan cahaya.

Terhadap segala hal yang telah ia lakukan, Ren menuangkan seluruh perasaannya ke dalam kata-kata.

"Baiklah──── Mari kita mulai cerita utamanya."

Terlahir kembali sebagai karakter antagonis di balik layar, inilah takdir aneh yang ia hadapi.

Awal yang sesungguhnya pasti dimulai pada hari ini.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close