Chapter 9
Memimpikan Hal yang Sama
Itu
adalah hari terakhir sebelum Festival Lion King dimulai.
Hari
libur yang menjadi waktu melepas penat bagi komite pelaksana, sekaligus momen
bagi para atlet perwakilan untuk memulihkan stamina mereka—.
"Kalau
cuma sedikit, sepertinya aku sudah mulai bisa menggunakannya."
『Kuu!』
Ren
kembali mendatangi hutan untuk melatih teknik barunya.
Kukuru
yang ikut serta di dalam tas menyahut sambil melayang-layang di sekitar Ren.
Setelah
menyelesaikan latihan menggunakan Flame Magic Sword, Ren menatap gelang
di lengannya di samping tumpukan monster yang baru saja ia kalahkan.
Karena
melawan monster sembari melatih teknik baru, tingkat kemahirannya terkumpul
cukup banyak.
Iron Magic Sword miliknya pun sudah tidak jauh lagi dari kenaikan level.
Tidak seperti Great Tree Magic Sword, sejak awal Iron Magic Sword
memang membutuhkan tingkat kemahiran yang lebih tinggi untuk naik level.
Memikirkan
levelnya yang sebentar lagi akan naik, sudut bibir Ren melengkung secara alami.
...Kira-kira, sebentar lagi Iron Magic Sword ini bakal
berevolusi tidak, ya?
Akan
menjadi nama seperti apa setelah berevolusi nanti? Membayangkannya saja sudah membuat semangatnya
membara.
Namun,
untuk hari ini cukup sampai di sini.
Sudah
cukup lama sejak ia meninggalkan kota, dan akan gawat jika ia terluka tepat
sebelum Festival Lion King. Ren membawa Kukuru dan kembali ke sisi Io.
Matahari
sudah naik selama hampir dua jam.
Ren mengikat monster buruannya dengan tali, memanggulnya,
lalu menunggangi Io. Io sama sekali tidak keberatan dengan beban seberat itu dan
mulai berjalan seperti biasa.
Mereka
menembus hutan dan menyusuri jalan raya.
Saat
kembali ke Erendil dan berniat mampir ke Guild sebelum pulang ke kediaman—.
"Halo,
Ren."
Ester
memanggilnya.
Di
jalan utama yang sedang ramai oleh hiruk-pikuk pagi hari.
"Selamat
pagi. Apa Anda baru saja selesai bekerja lagi?"
Erendil
itu sangat luas, tapi entah kenapa Ren merasa mereka sering sekali berpapasan.
"Tidak,
hari ini aku sedang libur tugas, jadi aku pikir ingin menghirup udara segar.
Karena Ibu Kota sangat padat, aku datang ke Erendil yang setidaknya agak
sepi."
Padahal Erendil juga sedang sangat ramai tidak seperti
biasanya.
Meski begitu, jika dibandingkan dengan Ibu Kota, mungkin di
sini jauh lebih baik.
"Ada apa denganmu, Ren? Sepertinya kamu baru saja
mengayunkan pedang di luar kota?"
"Iya, begitulah—."
『Kuu~!』
"—Maaf. Ini peliharaanku."
Ester menatap Kukuru yang melongokkan wajahnya dari celah
tas.
"Peliharaanmu? ...Hoo,
seekor Binatang Roh Ratatoskr, ya. Jarang sekali."
"Ada banyak hal yang
terjadi, dan akhirnya dia menjadi keluarga."
Saat Ren berusaha
menyembunyikan detailnya, perhatian Ester beralih sepenuhnya pada Kukuru.
Ren
merasa lega, apalagi saat Kukuru mengendus ujung jari Ester dan mulai
mengusapkan wajahnya.
『Kuu?』
"Haha,
anak yang manis."
Ester
mulai mengelus kepala Kukuru dengan ujung jarinya. Melihat Kukuru sama sekali
tidak waspada, sepertinya dia punya insting yang bagus dalam menilai orang.
"Tadi Anda bilang sedang libur, tapi sebenarnya
pekerjaan sehari-hari Anda itu seperti apa?"
"Memeriksa tugas-tugas yang masuk ke Kantor Suci Singa
dan mengelola para ksatria. Meski jabatanku adalah Komandan, aku lebih banyak
melakukan kerja lapangan."
"Pantas
saja Anda terlihat sangat sibuk biasanya."
"Padahal
aku sudah pulang ke negara sendiri, tapi malah penuh dengan pekerjaan sampai
tidak punya waktu dengan suami," keluh Ester sambil menghela napas.
Bahkan
seorang Komandan pun butuh penyegaran. Ren bisa mengerti alasan kenapa dia
ingin jalan-jalan seperti ini.
(Apa suaminya tidak ada di Ibu Kota?)
Dari
sikapnya, bisa ditebak kalau hubungan suami-istri mereka sangat harmonis.
Meski
begitu, fakta bahwa dia jalan-jalan sendirian di hari libur membuat tebakan Ren
mungkin tidak meleset.
Atau
mungkin suami Ester juga sibuk sehingga hari libur mereka tidak cocok.
"Fuwaa."
Ester
menguap lebar.
"Walau
libur tugas, aku tetap harus ke Kantor Suci Singa siang nanti. Ngomong-ngomong
Ren, bagaimana kondisi pedangmu sejak saat itu?"
"Lumayan
baik."
"...Sepertinya,
ada perubahan dalam kondisi mentalmu, ya."
"Bagaimana
Anda bisa tahu?"
"Berbeda
dengan hari itu, ekspresimu terlihat lebih cerah. Cara menjawabmu yang tanpa
ragu juga membuktikannya."
Ren tertawa getir sambil menggaruk pipinya.
Kenyataannya, karena urusan Flame Magic Sword,
kondisinya memang lebih baik dari sebelumnya.
Seolah puas melihat keadaan Ren, Ester melirik jam tangannya
lalu mulai melangkah menuju Taman Gantung untuk kembali ke Ibu Kota.
Sambil membelakangi Ren, ia berkata—.
"Aku pergi dulu. Berusahalah, anak muda."
"Baik.
Hati-hati di jalan menuju Ibu Kota."
"Hahaha!
Kamu bicara pada siapa, hah!"
Ester menyahut dari balik punggungnya sambil mengangkat satu
tangan dan melambai ringan.
Setelah melangkah beberapa langkah tanpa menghentikan
kakinya, ia berucap kembali—.
"Inti dari Strong Sword adalah seperti yang
didengungkan Lion King di medan perang; 'Membasmi Bintang, Menengadah pada
Kegelapan'. Jika ingin menjadi Sword Saint, jangan pernah lupakan
itu."
Ren merenungkan kata-kata barunya sambil terus menatap
punggung Ester sampai menghilang.
Ester yang berlalu pergi, berjalan sendirian di jalan utama
Erendil yang ramai, bergumam dengan nada senang.
"Anak laki-laki yang aneh. Setiap kali bertemu, dia
menjadi kuat seperti orang yang berbeda."
◇◇◇
Pada awal minggu yang baru, Chronoa menatap para murid yang
berkumpul di aula besar.
『Sebagai murid akademi ini, bersenang-senanglah dengan
penuh etika! Jangan lupa berterima kasih kepada orang-orang yang telah bekerja
keras demi festival ini!』
Segera setelah pengumuman itu, ia mengayunkan tongkat
sihirnya.
Pintu-pintu menuju luar aula terbuka serentak, dan banyak
murid berdiri dengan semangat membara.
『Selamat bersenang-senang! Semuanya, berjuanglah!』
Suara yang mirip sorak-sorai menggema di seluruh aula.
Festival Lion King yang dimulai hari ini akan memeriahkan
berbagai tempat di penjuru Ibu Kota. Terutama di Arena Besar Ibu Kota tempat Turnamen Bela Diri
diadakan, stadion raksasa itu pasti akan dipenuhi penonton.
Di
kursi murid tahun kedua, ada Kaito Leonard. Di dekat Ren dan Licia, ada
Sera Riohard dan Vane.
Para murid yang ikut dalam Turnamen Bela Diri meninggalkan
aula dengan menarik banyak perhatian.
Sebagai perwakilan akademi, mereka melangkah menuju lokasi
masing-masing dengan dada membusung bangga.
Hari ini, tidak ada satu pun murid yang berniat tinggal di
aula untuk mengobrol.
Itu
adalah kejadian di pagi hari.
Tempat berganti ke area yang berdekatan dengan distrik
sekolah di Ibu Kota.
Alun-alun
di sana yang biasanya dipenuhi kedai makanan untuk pelajar, kini terlihat
berbeda selama Festival Lion King.
Markas
pusat dari setiap sekolah yang disediakan oleh panitia penyelenggara telah
didirikan di sana.
"Di
sinilah markas kita."
Radius
berkata.
Meskipun
ini bangunan darurat, konstruksinya cukup kokoh. Begitu masuk ke dalam, kedap
suaranya sangat tinggi hingga suara dari luar hampir tidak terdengar. Ada
furnitur untuk bekerja dan dapur kecil, menunjukkan tingkat kenyamanan yang
tinggi.
Sekilas,
bentuknya seperti rumah penduduk kecil.
Setelah
semua orang duduk, Radius melanjutkan.
"Meski
begitu, beban kerja kita tidak akan sebanyak saat masa persiapan. Harusnya kita
punya cukup waktu luang."
Mulai
hari ini, tugas mereka termasuk di markas ini hanyalah fokus sebagai kru di
balik layar.
"Mungkin
ada murid peserta yang datang untuk bertanya, atau ada informasi dari pihak
akademi yang harus dibagikan. Tapi, logistik yang dibutuhkan sudah disiapkan di
setiap lokasi, jadi pekerjaan kita di lapangan akan sedikit."
Namun,
bukan berarti nol, masih ada beberapa pekerjaan yang tersisa.
Karena
itulah markas ini didirikan, agar komite pelaksana bisa berjaga secara
bergilir.
"Setelah
ini aku akan pergi sebentar. Aku berniat meminta Ren untuk bekerja di lokasi
Turnamen Bela Diri. Untuk tiga orang selain aku dan Ren, aku ingin kalian
bekerja di sini."
Keamanan
di distrik markas ini dikatakan sangat terjamin.
Karena
ada Radius, para ksatria dari Kantor Suci Singa juga berjaga di sekitar sini.
Lagipula
pasti ada orang-orang dari keluarga Ignat yang bersembunyi untuk mengawal, jadi
tidak perlu khawatir.
"Apa
perlu aku mengawalmu sampai di jalan?"
"Jangan
khawatir. Kali ini aku punya rencana dan memutuskan untuk membawa Ester. Dia
pasti sudah menunggu di dekat alun-alun ini."
"Oh,
kalau begitu aman, ya."
"Ren,
kalau tidak salah kamu punya jadwal bicara dengan Ulysses dan yang lainnya,
kan? Kalau begitu akan lebih mudah bagimu jika bekerja di sana."
"Maaf,
ya. Jadi malah merepotkanmu."
"Tidak
masalah. Biasanya karena posisiku, aku sering membuat kalian repot. Jadi, Ren,
pergilah ke Arena Besar Ibu Kota. Aku sudah menyiapkan catatan tentang apa yang
harus dilakukan di sana."
Setelah
mengatakan itu, Radius segera meninggalkan markas.
Ren
mengantar kepergiannya lalu menatap Mirei. Mirei seolah langsung tahu apa yang
ingin Ren katakan.
"Serahkan
urusan di sini padaku-nya. Pekerjaan di Arena Besar Ibu Kota harusnya tidak
masalah bagi Ren-dono sendirian-nya, jadi jangan khawatir-nya."
"Oke.
Kalau begitu, markas kuserahkan pada kalian."
"Nmu.
Percayakan saja padaku-nya."
Kedua
nona bangsawan itu menatap Ren dan tersenyum.
"Selamat
bekerja. Hati-hati di jalan, ya."
"Kami
akan ada di sini, jadi kalau ada masalah, panggil saja kapan pun!"
Setelah berbincang singkat dengan mereka, Ren meletakkan
barang yang tidak perlu di rak markas.
Sekali lagi ia mengucap "Aku pergi dulu" lalu
keluar. Saat
berjalan di alun-alun, ia menyadari ada sedikit keringat yang muncul.
"Sudah
musim panas, ya—."
Padahal
rasanya baru kemarin masih musim semi, tapi sekarang sudah musim panas. Ren
tertawa kecil.
Langkah
kakinya menuju arena terasa lebih ringan dari biasanya.
Arena
Besar Ibu Kota.
Bangunan
batu raksasa dengan deretan pilar di sekelilingnya.
Karena
pertandingan pembuka yang bersejarah akan segera dimulai, para penonton pun
terlihat sangat bersemangat. Kursi penonton diselimuti gairah yang tidak kalah
dengan panasnya musim panas.
Ren
berada di lorong penghubung menuju panggung pertarungan di lantai satu Arena
Besar Ibu Kota.
Di
dekatnya ada ruang persiapan yang disediakan untuk komite pelaksana dan staf
pengajar dari setiap sekolah.
Ren
yang baru saja keluar dari sana, memperhatikan keadaan para perwakilan sekolah.
Ia
memusatkan perhatian pada seorang murid laki-laki yang duduk di bangku.
Meskipun
Vane adalah anak laki-laki yang penuh keberanian, ia tetap merasa gugup menjadi
perwakilan sekolah ternama di acara sebesar ini. Apalagi ia mendapat giliran di
pertandingan pembuka.
Sera
yang biasanya ada di sisinya pun akan segera mendapat giliran. Mungkin dia
sedang bersiap-siap karena sosoknya tidak ada di sini.
"...Aku
hanya perlu melakukan apa yang aku bisa. Aku akan menunjukkan hasil dari kerja
kerasku sejak meninggalkan desa."
Gumam
Vane terdengar.
Ren
menatap Vane sejenak, lalu kembali ke dalam ruang persiapan dan membuka kotak
kayu. Meski disebut kotak kayu, di dalamnya terdapat Magic Tool yang
menjaga minuman di dalam wadah tetap dingin.
Memberikan
ini sebenarnya bukan tugas Ren, melainkan tugas instruktur ilmu pedang. Namun,
Ren mengambil satu botol dan kembali keluar dari ruang persiapan.
Ia
mendekati Vane dan duduk di sampingnya.
"Minumlah sedikit sebelum pergi."
"Ren? Kenapa kamu ada di sini?"
"Mungkin
sebagai bagian dari tugas komite pelaksana."
Vane meminum minuman yang diterimanya sedikit.
Lalu ia membuka mulutnya lebar-lebar dan meminumnya sampai
habis sekaligus.
"Dingin sekali."
Tenggorokan Vane yang kering karena gugup sepertinya mulai
sedikit rileks.
Saat Ren bergumam "Syukurlah", Vane membuka mulut
dan bertanya pada Ren.
"...Aku
ingin tanya sesuatu."
"Hm?
Ada apa?"
"Murid-murid
dari sekolah lain, seberapa kuat mereka?"
Mata
Ren membulat sesaat, namun karena ia tahu Vane bertanya dengan serius, ia
mengubah sikapnya.
"Setiap
sekolah memilih dan mengirim perwakilan mereka, jadi tidak mungkin mereka
lemah."
Memang
benar kalau kelas khusus di Akademi Militer Kekaisaran paling menonjol, namun
setiap sekolah di Ibu Kota negara besar Leomel memberikan pendidikan tingkat
tinggi.
Banyak
sekolah yang menjunjung prinsip keselarasan antara ilmu pengetahuan dan seni
bela diri, jadi singkatnya, perwakilan sekolah mana pun pasti kuat.
Tapi,
Ren melanjutkan—.
"Kalau
kamu coba melihat ke sekeliling, mungkin rasa gugupmu akan sedikit
berkurang."
Vane melihat ke sekeliling dan mengerti apa yang ingin Ren
katakan.
Murid-murid di sekitar melirik ke arah Vane dengan pandangan
gelisah, mereka juga menunjukkan raut wajah gugup.
"...Ternyata bukan cuma aku yang gugup, ya."
Terutama
dalam kasus Vane, ada alasan kenapa ia mudah menarik perhatian perwakilan lain.
Sebagai
perwakilan Akademi Militer Kekaisaran, murid-murid dari sekolah lain di Ibu
Kota tidak punya pilihan selain memperhatikan Vane.
"Aku sedikit lebih tenang sekarang."
"Iya. Kalau begitu syukurlah."
Ren melirik jam tangannya lalu berdiri.
Tepat
saat Ren membelakangi Vane—.
"—Menurutmu,
apa ada di antara perwakilan itu yang lebih kuat dari Ren?"
Langkah Ren terhenti.
Ia tidak menoleh ke arah Vane, dan terdiam selama beberapa
detik.
Padahal kebisingan di sekitar terus terdengar, namun mereka
berdua merasa seolah-olah sedang berada di dalam keheningan yang terlepas dari
keributan itu.
"……"
Keadaan
itu sangat mirip dengan kejadian tempo hari.
Persis
seperti saat Licia berhenti melangkah dan butuh waktu untuk menjawab ketika
ditanya hal serupa oleh Sera.
Dari
balik punggungnya, Ren membuka suara—.
"Hal
seperti itu, tidak akan tahu kalau tidak bertarung."
Ren
menoleh dan menyampaikan kata-kata selanjutnya kepada Vane yang terus menatap
punggungnya.
"Tapi,
aku tidak punya niat untuk kalah dari siapa pun. Sejak aku memiliki seseorang
yang ingin kulindungi, hal itu tidak berubah."
Ucapnya sambil tersenyum.
Mendengar kata-kata itu, Vane menjadi yakin.
Ren pasti sudah memiliki kekuatan yang tidak bisa
dibandingkan dengan musim panas tahun lalu. Vane menyadari lewat instingnya
bahwa Ren memiliki kemampuan yang sebenarnya sudah pantas untuk ikut
berpartisipasi dalam Festival Lion King ini.
Ren benar-benar meninggalkan sisi Vane kali ini.
Tak lama kemudian, terdengar suara petugas yang memanggil
Vane untuk pertandingan pembuka.
Vane menepuk kedua pipinya dengan keras lalu melangkah menuju
arena, dan seketika itu juga sorak-sorai hebat bergema.
"Yo."
Kaito yang bersimbah keringat menyapa Ren yang berniat
kembali ke ruang persiapan.
Padahal pertandingan sesungguhnya belum dimulai, tapi dia
sudah berkeringat sebanyak itu.
"Terima
kasih, ya. Si Vane itu tadi kelihatan sangat gugup, kan."
Ada
hal yang ingin Ren tanyakan pada Kaito.
Tadi
Vane baru saja menuju arena untuk pertandingan pembuka turnamen bela diri ini.
Kaito yang ada di sini harusnya belum bertarung dengan siapa pun, tapi dia
sudah bersimbah keringat.
Ren
bisa menebak alasannya, jadi ia ingin memastikannya di sini.
"Anda
pasti sedang memanaskan tubuh, tapi apa itu tidak berlebihan?"
"Mau
bagaimana lagi! Seluruh tubuhku rasanya bergejolak tidak keruan!"
"Asal Anda baik-baik saja, tidak apa-apa sih..."
Beberapa belas menit setelah Ren kembali ke ruang persiapan,
suara wasit terdengar dari arah arena.
Terdengar di antara sorak-sorai adalah nama Vane yang
berhasil meraih kemenangan di pertandingan pembuka, disertai tepuk tangan
meriah yang seolah membelah udara untuk memujinya.
◇◇◇
Ren memiliki jadwal untuk bertemu dengan tamu dari Benua
Langit.
Melalui kontak dari Ulysses, Ren dijadwalkan bertemu tamu
tersebut di Arena Besar Ibu Kota ini.
Waktu
berlalu sambil ia melakukan pekerjaan ringan, dan kini sudah saatnya makan
siang.
Ren
menyelesaikan makan ringannya dan keluar dari ruang persiapan sepuluh menit
sebelum jadwal.
Setelah
menaiki banyak anak tangga, lorong menuju kursi tamu kehormatan pun terlihat.
Ulysses
bilang dia akan mengaturnya agar Ren bisa masuk dengan mudah jika sudah sampai
di lorong tersebut, namun Ren tidak mengira akan semudah itu.
Kursi
tamu kehormatan adalah tempat para bangsawan dalam dan luar negeri berkunjung,
sehingga sistem keamanannya sangat ketat.
Benar
saja, saat melihat Ren mendekat—.
"Dilarang
lewat dari sini, ini area kursi tamu kehormatan. Sepertinya kamu murid Akademi
Militer Kekaisaran, apa ada janji dengan seseorang?"
Yang
memanggilnya adalah Ksatria Resmi Leomel, yang penampilannya sama dengan
ksatria yang dulu datang ke Clausel untuk melatih ilmu pedang Licia.
"Saya
datang karena dipanggil oleh Tuan Ulysses Ignat."
"Mu...
Marquess Ignat?"
Di
antara banyak ksatria yang berdiri di lorong ini, ada beberapa ksatria yang
dikirim dari Kantor Suci Singa. Mereka mendekat sambil memanggil nama Ren,
"Ren-dono".
Ksatria
Resmi itu tampak terkejut dan mundur setengah langkah.
(Oh, jadi begini caranya.)
Ren
mengerti maksud dari perkataan Ulysses.
Ksatria
Resmi tadi bertanya pada ksatria berbaju zirah hitam.
"Apa
dia kenalan kalian?"
"Identitasnya
dijamin oleh Kantor Suci Singa," ujar ksatria yang mengenal Ren.
Mendengar jawaban itu, si Ksatria Resmi mengangguk,
"Baiklah, saya mengerti." Segera setelah itu, Ren dibawa maju oleh
ksatria Kantor Suci Singa.
"Melihat sikap Ksatria Resmi tadi, sepertinya di antara
para ksatria, kalian dari Kantor Suci Singa punya posisi yang lebih tinggi,
ya."
"Benar.
Dalam kasus kami, kami harus lulus ujian tingkat perwira juga."
Jalan
menuju kursi tamu kehormatan yang dilalui Ren adalah tempat di mana para
Ksatria Resmi dan pengawal yang dibawa oleh setiap tamu berjejer.
Meskipun
disebut kursi tamu kehormatan, pada dasarnya setiap kursi dipisahkan oleh
dinding, jadi kecuali para tamu ingin duduk bersama, mereka akan menikmati
turnamen di kursi masing-masing. Pintu menuju kursi tamu kehormatan juga
terpisah-pisah.
Edgar
berdiri di depan pintu yang mereka tuju.
Ren
berpisah dengan ksatria Kantor Suci Singa di sana.
Begitu
Ren datang, Edgar segera membuka pintu dan mempersilakannya masuk.
Di
balik pintu, terdapat perabotan yang mengingatkan pada kamar penginapan mewah,
dengan kursi-kursi empuk yang ditata rapi. Itu adalah lokasi terbaik dengan
pemandangan Arena Besar Ibu Kota yang luas tanpa penghalang apa pun di
depannya.
Di
sana, ada tiga orang pria.
Ulysses
"Si Lengan Besi" Ignat, Lezard, dan seorang pria tampan berkulit sawo
matang yang tidak Ren kenal.
"Maaf
membuat Anda menunggu."
"Sama
sekali tidak menunggu. Seperti biasa, kamu malah datang sedikit lebih
awal."
Ren
dipanggil oleh Ulysses untuk menuju meja yang dikelilingi mereka bertiga.
Meja
berbentuk setengah lingkaran itu menghadap ke arah Arena Besar Ibu Kota. Ren
melangkah ke dekat Ulysses, agar bisa berada di samping tamu dari Benua Langit
yang meminta pertemuan ini.
"Marquess Ignat, apa dia
yang dirumorkan sebagai Ren Ashton itu?"
Pria tampan berkulit sawo
matang itu membuka suara.
Benar-benar pria yang gagah.
Mengenakan pakaian berwarna
cerah, otot-otot di satu lengannya yang terbuka terlihat sangat kencang.
Seperti yang Ren dengar sebelumnya, sisa-sisa dirinya sebagai mantan ksatria
yang kini jadi pedagang masih terlihat jelas.
Pria itu juga dihiasi dengan
berbagai aksesori emas dan permata, namun anehnya tidak terlihat norak. Mungkin
karena kewibawaan yang terpancar dari dirinya.
...Orang ini, tamu dari
Benua Langit.
Jika diibaratkan, dia seperti
bangsawan dari padang pasir.
Dia adalah pria yang
memancarkan pesona, di mana tatapan matanya yang penuh gairah bisa dengan mudah
membuat banyak wanita terpikat.
Pria seperti itu sedang menatap Ren dengan mata yang
berbinar-binar.
Seolah ia sudah tidak sabar menunggu Ulysses
memperkenalkannya.
"Benar. Dialah Ren Ashton."
Mendengar itu, si pria tampan berkulit sawo matang berdiri.
Saat berdiri, dia ternyata lebih tinggi daripada Ulysses.
"Namaku Richter
Leonhard. Di negaraku, aku dipercaya memegang gelar Count."
Mungkin
karena sisa-sisa masa ksatrianya, dia menggunakan kata ganti diri yang unik.
"Sudah
sekitar dua puluh tahun sejak terakhir kali aku datang ke Leomel."
"D-dua
puluh tahun?"
"Meskipun
terlihat begini, usiaku sudah lebih dari enam puluh tahun, lho."
Richter
berkata sambil tersenyum.
Di
mata Ren, Richter sama sekali tidak terlihat seperti pria berusia di atas enam
puluh tahun. Paling tidak ia terlihat seperti akhir dua puluhan atau awal tiga
puluhan.
Melihat
Ren yang terkejut, Richter tertawa hingga memperlihatkan giginya yang putih.
"Kalau
aku terlihat muda, itu karena aku adalah orang Shelghard."
Richter
lanjut bertanya, "Apa kamu tahu tentang orang Shelghard?"
"Seingat
saya, mereka adalah orang-orang yang sudah lama tinggal di Benua Langit.
Rentang usia mereka lebih panjang dari manusia biasa di daratan, bahkan
mencapai lebih dari dua kali lipat."
Richter
tampak senang mengetahui Ren tahu tentang orang Shelghard, hingga wajahnya pun
rileks.
Ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Ren.
"Aku datang dari Kekaisaran Shelghard, satu-satunya
negara besar yang ada di Benua Langit. Tolong maklumi warna kulitku karena aku
adalah keturunan campuran."
Ren dan Richter berjabat tangan lalu duduk di kursi
masing-masing.
Ren duduk di kursi paling ujung di samping Lezard. Saat ia
duduk, Lezard berbisik, "Maaf mengganggumu di waktu sibuk."
"Aku
sangat menantikan ceritamu. Bagaimana, bisa kamu ceritakan mulai dari kejadian
di Clausel?"
Lezard dan Ulysses segera mengangguk pada Ren, menyerahkan
segalanya padanya.
Sambil menonton turnamen bela diri yang berlangsung di Arena
Besar Ibu Kota dan mendengarkan sorak-sorainya, Richter juga menyimak cerita
Ren dengan saksama.
Ren mulai bercerita dari pertarungan yang paling awal.
Tentang apa yang terjadi hingga ia berakhir dalam pelarian bersama Licia.
Setiap kali mendengar cerita itu, mata Richter
berbinar-binar.
"Tuan
Leonhard sepertinya sangat suka cerita seperti ini, ya."
"Bisa
dibilang aku sangat mencintainya. Di Benua Langit, ada banyak orang yang
menyukai kisah kepahlawanan."
Ibu
Richter yang ia sebut sebagai asal keturunan campurannya tadi lahir di bagian
selatan Benua Martel, dan menurutnya negara itu dipenuhi orang-orang yang
sangat penuh gairah. Warna kulitnya pun dipengaruhi oleh hal itu.
Namun
terlepas dari itu, pada dasarnya rakyat Kekaisaran Shelghard memang memiliki
kecenderungan menyukai kisah kepahlawanan.
"Alasannya
adalah keberadaan pahlawan yang menyelamatkan negara kami."
Karena
Richter sedang dalam suasana hati yang baik, Ren berkata untuk menyanjungnya,
"Jika Anda berkenan, tolong ceritakan pada saya." Richter pun dengan
senang hati bercerita.
"Dahulu
kala, di Benua Langit, ada keberadaan yang disebut Phoenix, semacam dewa
pelindung."
Phoenix
akan menjadi abu saat mencapai akhir usianya, lalu bangkit kembali dalam bentuk
anak burung.
Setelah
mengulangi proses itu berkali-kali, Phoenix yang dianggap akan hidup abadi itu
malah kehilangan kebijaksanaan dan akal sehatnya.
Orang-orang
yang tinggal di Benua Langit diserang oleh Phoenix, dan tak terhitung jumlah
orang yang tewas.
"Ada
seorang pahlawan yang memberikan tidur abadi pada Phoenix tersebut."
Pahlawan
itu muncul entah dari mana dan bertanya pada orang Shelghard di mana Phoenix
berada. Sang pahlawan yang menuju ke pusat Benua Langit tempat Phoenix tinggal,
terlibat dalam pertarungan yang sengit.
Daya
regenerasi Phoenix yang dianggap tidak terbatas itu melemah seiring
bertarungnya ia dengan sang pahlawan, hingga akhirnya tenggorokan Phoenix
raksasa itu ditembus oleh pedang sang pahlawan.
"Sang pahlawan mendampingi orang-orang Benua Langit. Ia
mempersembahkan doa bagi mereka yang menjadi korban, dan mencurahkan tenaga
untuk pemulihan Benua Langit. Kaisar saat itu yang sangat berterima kasih atas sikapnya
berkata ingin 'memberikan imbalan' padanya."
Sang
pahlawan berhak mendapatkan kekayaan maupun ketenaran di Benua Langit.
Namun,
kabarnya sang pahlawan tidak menginginkan keduanya, dan membuat orang-orang
Benua Langit terkejut.
"Pahlawan
itu hanya menginginkan satu hal: darah yang mengalir dari leher sang Phoenix.
Dia menjawab bahwa dia hanya butuh satu botol kecil darah itu saja."
"Darah
Phoenix...?"
"Katanya
darah itu memiliki kekuatan luar biasa. Ada yang bilang bisa memberikan
vitalitas abadi milik Phoenix, tapi entah kebenarannya bagaimana. Yang jelas,
itu pasti harta karun yang dahsyat."
Sekarang
tidak ada cara untuk memverifikasinya, dan tak ada satu pun hal yang pasti.
"Sang
pahlawan menghabiskan sedikit waktu di Benua Langit, lalu suatu hari dia pergi
begitu saja tanpa ada yang tahu. Dia pergi dalam diam tanpa pernah menyebutkan
namanya sampai akhir."
Jenazah
Phoenix dimakamkan dengan khidmat oleh Kaisar saat itu, dan sebuah ibu kota
baru dibangun di tanah tersebut.
Para
Kaisar dari generasi ke generasi dituntut untuk menjadi kuat, meneladani sang
pahlawan yang menyelamatkan Benua Langit. Kaisar saat ini pun tidak terkecuali;
beliau adalah petarung hebat yang menduduki peringkat keempat dalam hierarki Sword
King.
(Leluhurku sepertinya kuat, tapi pahlawan dari Benua Langit juga
kedengarannya hebat.)
Ren
bergumam dalam hati, lalu atas desakan Richter, ia melanjutkan ceritanya
sendiri.
Richter
tampak puas setelah selesai mendengarkan.
"Cerita
yang bagus. Aku ingin keluarga Leonhard tetap menjadi teman bagi keluarga
Clausel dan Ashton di masa depan."
Detailnya
akan dibicarakan lain waktu, namun pembicaraan mereka berjalan lancar.
"Aku
ingin merapikan beberapa kesepakatan sebelum pulang ke negaraku. Maaf jika aku
terkesan terburu-buru, tapi dari pengalaman masa lalu, aku selalu berusaha
membuat keputusan tanpa penyesalan."
Richter
memberikan senyum getir yang penuh arti, lalu tatapannya bertemu dengan
Ulysses.
"Apa
Marquess Ignat masih ingat?"
"Tentu,
perebutan takhta di keluarga Archduke yang meletus di Kekaisaran Shelghard yang
menguasai Benua Langit itu sangat terkenal."
"……Cerita
yang menyakitkan untuk didengar. Keluarga Leonhard kami juga terlibat dalam
kekacauan itu. Aku sudah memperingatkan keluarga Archduke agar menyelesaikannya
secara damai, tapi hasilnya malah sekacau itu."
"Oh?
Jangan-jangan, karena pengaruh itulah Anda berhenti menjadi ksatria?"
Richter
mulai membocorkan kata-katanya satu demi satu.
Dalam
hati, hal ini ia lakukan sebagai rasa terima kasih karena Ren telah bercerita
banyak, juga sebagai bentuk apresiasi kepada Ulysses yang telah mengatur
pertemuan ini.
"Meski
aku melayani negara sebagai ksatria, aku gagal menjalankan kewajiban itu dan
malah membiarkan negaraku kacau. Sejak saat itu, aku tidak bisa memaafkan
diriku sendiri jika tetap menjadi ksatria."
Richter
yang tampak dirundung rasa bersalah menatap ke arah Ren.
"……Tuan
Leonhard────"
Karena
alur pembicaraan yang tiba-tiba, Ren bingung harus menjawab apa.
Namun, Richter langsung berucap, "Maafkan aku."
"Itu
kejadian lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Di keluarga Archduke negara kami,
meletus perebutan takhta yang melibatkan banyak bangsawan."
Keluarga Archduke memiliki
dua putra bersaudara.
Si adik selalu memperingatkan
bahwa pemikiran si kakak sangat berbahaya.
Si kakak adalah seorang
penganut imperialisme yang berpendapat bahwa Shelghard harus secara aktif
mengintervensi zona konflik dan mengamankan hak-hak istimewa mereka di berbagai
tempat.
Si adik menentang si kakak dan menganggap pemikiran itu sudah
tidak sesuai dengan zaman sekarang.
"Bagaimana
perebutan takhta itu berakhir?"
"Tidak
ada yang namanya penyelesaian. Pada akhirnya, keduanya meninggal. Meskipun ada
diskusi tentang kerabat jauh yang akan meneruskan takhta, keluarga Archduke
tersebut akhirnya dibubarkan sepenuhnya."
Awalnya
si adik tewas karena diincar oleh bangsawan kelas rendah yang mengikuti si
kakak. Setelah itu, istri dan putri tunggalnya diam-diam menghilang entah ke
mana. Mengetahui hal itu, pihak ketiga termasuk Richter berusaha mencari untuk
melindungi mereka, namun tidak berhasil ditemukan.
Di sisi lain, si kakak dibunuh oleh bangsawan yang memuja si
adik yang bertindak gegabah.
Karena perebutan takhta ini terjadi di keluarga yang sangat
berkuasa dan berpengaruh, tak perlu dikatakan lagi bahwa seluruh Benua Langit
menjadi gempar saat itu.
Kekacauan yang saling membasuh darah dengan darah itu
berakhir dengan akhir di mana tidak ada satu pun orang yang bahagia.
"……Setelah itu, saat aku menghabiskan hari-hari dengan
menyadari ketidakberdayaanku, ayah mertuaku datang mengunjungiku. Beliau adalah
seorang pedagang di Benua Martel."
Dalam hadiah tempo hari, terdapat pakaian etnik.
Ren sempat bertanya-tanya mengapa serikat dagang dari Benua
Langit memilikinya, dan sekarang pertanyaan itu terjawab.
"Beliau memberiku usul, bagaimana jika aku mengabdi pada
tanah air dari posisi lain selain ksatria."
Karena ia memiliki kebanggaan sebagai ksatria, awalnya ia
sempat ragu untuk berhenti menjadi ksatria dan menjadi pedagang.
Namun, dirinya yang tidak melakukan apa yang seharusnya
dilakukan sebagai ksatria, sudah bukan lagi seorang ksatria.
Ia sempat terpikir untuk menjadi pejabat sipil, namun
dukungan dari ayah mertuanya sangatlah kuat.
Beruntung, Richter memiliki bakat sebagai pedagang.
Dengan memanfaatkan jaringan pertemanan yang ia bangun saat
menjadi ksatria, ia berhasil membangun serikat dagang yang namanya tersohor
tidak hanya di Benua Langit, tetapi juga di berbagai negara.
"Saat itu, mendiang
Marquess Ignat sebelumnya juga banyak membantuku."
"Benar juga…… karena
wanita yang menghilang itu dulunya adalah pelayan di istana kekaisaran negara
kami. Akan
sangat merepotkan—maaf, maksudku akan sangat gawat jika terjadi ketegangan
kecil sekalipun di antara kedua negara kita."
Merasa
pembicaraan ini terlalu berat, Ulysses berdehem sekali.
Mumpung
sedang Festival Lion King, ia mengalihkan perhatian semua orang untuk menikmati
suasana Turnamen Bela Diri.
"Lihat
ke sana. Anak laki-laki dari keluarga Leonard akan bertarung."
Mendengar
itu, Ren juga mengalihkan perhatiannya ke arena.
Pertarungan
antara Kaito dan murid dari sekolah lain yang baru saja dimulai dengan aba-aba
wasit itu didominasi sepenuhnya oleh Kaito yang mengaum penuh semangat.
Kaito
menunjukkan perbedaan kekuatan yang sangat jauh, sampai-sampai lawannya bisa
dikatakan tidak bisa melakukan apa-apa.
Kepada
para penonton yang sedang asyik menonton, anggota dari keluarga bangsawan
tinggi itu memamerkan kekuatannya secara berturut-turut.
Berikutnya
yang muncul adalah Sera Riohard.
Ia
menggunakan teknik pedang elegan yang telah ia asah sejak kecil untuk
mempermainkan lawannya. Sama seperti Kaito, ia meraih kemenangan dengan gaya
bertarung yang sangat meyakinkan.
Di
antara para penonton, tak sedikit yang merasa terpukau dan jatuh hati melihat
kekuatan muda yang ditunjukkan oleh para keturunan bangsawan tinggi tersebut.
Tak
lama kemudian, tibalah waktunya Ren harus kembali bertugas sebagai komite
pelaksana. Ia memberikan salam terakhir kalinya sebelum meninggalkan tempat
tersebut.
Sambil
melirik jam tangan, ia mengingat kembali jadwal kerjanya setelah ini.
"────Kalau
tidak salah, setelah ini adalah……"
Festival Lion King baru saja
dimulai.
◇◇◇
Setelah menghabiskan waktu
dengan sibuk sebagai komite pelaksana, Ren berjalan menyusuri Ibu Kota di sore
hari bersama Fiona.
Licia
tidak ikut karena ada pekerjaan lain, sehingga saat ini Ren sedang dalam
perjalanan mengantar Fiona ke asrama putri.
"Maaf,
ya. Jadi merepotkanmu sampai harus mengantarku segala."
Ren
berjalan bersama Fiona di jalan utama menuju stasiun dan tersenyum sambil
berkata, "Tolong jangan dipikirkan."
Sambil
wajahnya tersinari oleh warna merah dari matahari terbenam yang tersisa di
cakrawala, Fiona bergumam—.
"Fufu."
Fiona
tampak senang.
Waktu
yang bisa ia habiskan dengan berjalan bersama Ren adalah momen yang membuatnya
jauh lebih bahagia dari yang ia duga.
Ia tidak pernah menyangka bisa pulang sambil melihat festival
berdua saja dengan Ren selama periode Festival Lion King ini. Apalagi setelah
ini, ia bisa menikmati festival sampai tiba di asrama.
……Andai saja waktu ini bisa terus berlanjut selamanya.
Dalam perjalanan pulang, ia berpikir keras sambil sesekali
melirik kedai-kedai pinggir jalan mumpung sedang bersama Ren.
Di
tengah perjalanan, ada jalan yang sangat padat oleh orang-orang. Tanpa sadar Fiona
meremas ujung baju Ren, dan ia langsung tersentak kaget.
"M-maafkan
aku!"
"Tidak
apa-apa. Akan gawat kalau kita terpisah."
Fiona
segera meminta maaf, lalu ia teringat kejadian di Pegunungan Baldur.
Tepat
sebelum melewati jembatan gantung, saat itu ia juga meremas ujung mantel Ren.
Mengingat hal itu membuatnya merasa entah kenapa jadi senang.
Namun,
hubungannya dengan orang yang ia sukai ini belum terlalu banyak kemajuan jika
dibandingkan dengan saat itu.
Fakta
bahwa mereka bisa tinggal berdekatan memang menggembirakan, tapi di sisi lain,
kemajuannya baru sebatas itu saja.
Tepat
saat mereka sampai di distrik di mana sekolah-sekolah berjejer—.
"Hai,
Kakak cantik di sana!"
Seorang pemilik kedai melihat Fiona dan memanggilnya.
Fiona tidak menyangka itu ditujukan padanya karena ia sedang
asyik mengobrol dengan Ren, tapi—.
"Hei,
Kakak yang jalan sama pacarnya yang murid Akademi Militer itu!"
Di
sekitar Fiona tidak ada murid akademi lain selain Ren.
Tapi,
apa maksudnya dengan 'pacar'?
Berpikir
bahwa mungkin pemilik kedai itu salah paham, Fiona menoleh ke arah pemilik
kedai yang sedari tadi berteriak.
Seketika, matanya bertemu dengan si pemilik kedai.
"Aku────?"
"Tentu
saja! Bagaimana? Mau mencoba camilan manis buatan kami?"
Ternyata
itu adalah kedai milik seorang wanita yang tampak energetik.
Di
depan kedai, dijual camilan seperti adonan krep yang dipanggang di atas besi
datar lalu diberi sirup dan krim. Aromanya sangat menggugah selera, namun Ren
dan Fiona sudah merasa kenyang.
"Kami
sudah kenyang. Lalu, saya bukan pacarnya, kok."
"Hooo,
padahal kalian kelihatan akrab sekali, ternyata bukan ya."
Pemilik kedai itu tersenyum menyesal dan berkata dengan
lantang, "Datanglah lagi nanti!"
Melihat Fiona yang diam-diam merasa syok di samping Ren,
wanita pemilik kedai itu berbisik—.
"……Berjuanglah, ya."
Hanya dengan gerakan bibir saja.
Dalam perjalanan pulang, Fiona merenungkan kata-kata pemilik
kedai tadi.
"Padahal kamu boleh saja sedikit merasa bingung
tadi……"
"Eh?
Anda mengatakan sesuatu?"
"T-tidak!
Bukan apa-apa, kok!"
Pacar…… Ren disangka sebagai
lawan jenis yang menjalin hubungan dengan Fiona. Fiona tidak bisa membayangkan
betapa bahagianya jika kesalahpahaman itu adalah kenyataan.
Terlepas dari itu, ia merasa
terganggu karena Ren langsung membantah kata 'pacar' tersebut. Terganggu bukan
berarti ia tidak puas, dan ia pun tahu kalau Ren memang tipe orang yang akan
melakukan itu.
Ini
murni hanyalah masalah perasaan gadis remaja Fiona saja.
Demi
memperpendek jarak dengan Ren walau sedikit, Fiona memberanikan diri
melontarkan pertanyaan yang belum pernah ia ajukan sebelumnya.
"Ren-kun,
tipe wanita seperti apa yang kamu sukai?"
"────Hah?"
Ren
yang terpana tanpa sadar menghentikan langkahnya dan menatap Fiona dengan mata
bulat. Reaksi Ren yang seperti itu terasa sangat manis, hingga Fiona tertawa
kecil.
"Eeto,
itu pertanyaan yang tidak aku duga."
Berpikir
bahwa pertanyaan itu muncul gara-gara pemilik kedai tadi salah sangka, Ren
mulai memutar otak karena ia pun belum pernah memikirkannya.
Keduanya
kembali mulai berjalan.
Fiona
menatap Ren yang tampak berpikir keras di sampingnya dengan penuh rasa ingin
tahu.
"Orang yang baik……
mungkin……"
Itu adalah jawaban yang
terlalu umum.
Fiona yang sempat terbengong sejenak pun tersenyum dan
berkata, "Itu memang penting, ya."
Namun saat ia berharap jawaban yang lebih spesifik, Ren
menyahut—.
"Yang terpikir lainnya adalah──── ah."
"……Apa kamu memikirkannya?"
"Iya. Aku sendiri merasa aneh mengatakannya, dan mungkin
ini sedikit berbeda dengan 'tipe favorit'."
Ren yang biasanya terlihat dewasa, kini menggaruk pipinya
sambil tertawa getir selayaknya remaja seusianya.
Kata-kata yang muncul di kepalanya mungkin berbeda dengan
arti 'tipe favorit' yang umum, tapi—.
"Karena aku sering sekali mengayunkan pedang, jadi...
orang yang mau memaklumi hal itu, mungkin."
Pikiran Fiona sempat terhenti sejenak sambil menatap wajah
Ren, namun beberapa detik kemudian, sudut bibirnya kembali melengkung lembut.
Sesampainya di asrama pelajar, keduanya berbincang sebelum
berpisah.
"Ren-kun setelah ini harus naik kapal sihir untuk
menghadiri pertemuan, kan?"
"Iya. Sepertinya akan banyak orang-orang dari relasi
bisnis Tuan Lezard yang datang."
Ulysses juga diajak, namun ia terlalu sibuk sehingga tidak
bisa hadir.
Setelah
ini, Ren harus segera kembali ke Erendil untuk merapikan penampilannya.
Seperti
yang dikatakan Fiona, akan ada pertemuan di atas kapal sihir.
Licia
yang sedang melakukan pekerjaan lain harusnya sudah menuju Erendil bersama
Lezard.
"Kalau
begitu, aku pergi dulu, ya."
Tepat
sebelum Ren melangkah pergi, Fiona mengerahkan keberanian yang tidak ia sadari.
"Tunggu,"
kata Fiona pada Ren.
Fiona
berdiri tepat di depan Ren yang menoleh, lalu menatapnya.
"Ren-kun,
dasimu miring, lho."
Fiona
yang menyadari dasi Ren—yang masih mengenakan seragam—sedikit miring,
mengulurkan tangan dan merapikannya dengan ringan.
Ia
segera menyadari bahwa dirinya baru saja melakukan hal yang sangat berani,
namun ia berpura-pura tidak menyadari detak jantungnya yang berdebar kencang
sambil tersenyum.
Di
saat yang singkat itu.
Tampak wajah Ren yang terkejut karena Fiona tiba-tiba mendekatinya.
"Apa
begini sudah benar? Itu, soalnya ini pertama kalinya aku merapikan dasi orang
lain..."
"Su-sudah
benar, kok! Terima kasih banyak!"
Interaksi
canggung itu membuat rona merah padam menjalar di kulit Fiona.
Akhirnya, Fiona berujar dengan terburu-buru.
"K-kalau
begitu—Ren-kun, terima kasih sudah mengantarku! Ha-hati-hati di jalan,
ya!"
Fiona pun pergi meninggalkan Ren seolah-olah sedang melarikan
diri, lalu membuka pintu asrama dan melompat masuk ke dalam.
Beberapa siswi tampak terkejut melihat tingkahnya. Namun, ia
tidak punya ruang untuk memedulikan hal itu; Fiona hanya menyandarkan
punggungnya pada pintu yang baru saja tertutup sambil meletakkan tangan di
dada.
Segera, ia melangkah cepat menuju kamarnya di asrama putri
dan menerobos masuk ke sana juga.
Berdiri di depan cermin besar yang ada di wastafel, ia
bergumam.
"...Me-merah sekali."
Sejak menyadari bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang
sangat berani, Fiona sudah berusaha keras menyembunyikan detak jantung yang
berpacu kencang serta suhu tubuhnya yang naik drastis.
Kini setelah kembali ke kamarnya, ia tidak perlu lagi
berpura-pura. Ia tidak peduli lagi akan jadi seperti apa.
Cermin itu memantulkan pipinya yang merah merona dan sepasang
matanya yang sedikit berkaca-kaca.
Fiona
menyatukan kedua tangannya untuk menutupi mulut dan hidungnya, lalu berseru.
"Apa
yang sebenarnya aku lakukan tadi...!?"
Bayangan
kejadian tadi terputar kembali dengan lebih jelas di kepalanya. Sesi meratapi
rasa malu di depan cermin itu terus berlanjut untuk beberapa saat.
◇◇◇
Malam
harinya, pertemuan dengan para bangsawan yang telah dijadwalkan sejak awal
diadakan di dalam kapal sihir dengan format standing party.
Setelah
sesi sapa-menyapa yang panjang berakhir, Ren sedang beristirahat bersama Licia
sambil memegang minuman di tangan mereka.
"Lihat,
lihat!"
Licia
menunjuk ke arah pemandangan malam yang membentang di luar jendela besar.
Meskipun
disebut pemandangan malam, dari ketinggian ini, cakrawala masih menyisakan rona
merah jingga. Cahaya dari dermaga kapal sihir darurat di daratan juga membantu
mereka mengenali keadaan di bawah sana jika mereka berusaha melihat dengan
saksama.
Ren
berdiri di samping Licia dan menatap pegunungan yang berada di arah
tunjukannya.
"Apakah
itu Roses Caitas?"
"Iya!
Aku rasa kabut itu adalah 'Penjara Waktu' yang dikatakan oleh Tuan
Chronoa!"
Meski
malam hari, kabut yang diyakini sebagai Penjara Waktu itu masih bisa terlihat
dengan cukup jelas.
"Kabutnya
terlihat seperti memancarkan cahaya, ya."
"Mungkin
karena memiliki sifat yang mirip dengan sihir suci? Sihir suciku juga
berkilauan, jadi mungkin terlihat sedikit bercahaya dengan cara yang
sama."
Ren mengangguk setuju. "Benar juga."
Karena itu adalah segel yang mengandung kekuatan Dewi Waktu,
hal semacam itu bukanlah sesuatu yang aneh.
(Benar-benar besar ya, segel itu.)
Pada zaman dahulu, sebelum disegel, Roses Caitas adalah
tempat suci yang ramai dikunjungi banyak peziarah.
Para peziarah akan menaiki tangga batu di gunung yang terjal,
lalu berdoa di depan patung dewa yang terletak di area terbuka di puncaknya.
Kabarnya, penganut agama Elfen kala itu mempersembahkan doa kepada Tuhan dengan
cara seperti itu.
Meskipun sekarang Roses Caitas adalah tempat yang terlarang
untuk dimasuki—.
"Dulu pasti banyak orang yang berjalan di tangga batu
itu, ya."
"Iya. Katanya banyak obor yang dinyalakan, dan suara
lonceng yang dibunyikan oleh para orang suci akan bergema di sana."
Sebagai
tempat yang dijuluki tempat suci, suasananya pasti sangat agung.
Ren
yang bisa dengan mudah membayangkan pemandangan itu terus menatap Roses Caitas
dengan saksama. Sementara itu, kapal sihir terus meluncur pelan membelah langit
malam.
Seorang pria berniat menyapa mereka berdua yang sedang
menatap ke luar jendela.
"Kalian berdua."
Saat mereka menoleh ke arah aula, di sana berdiri Richter
yang masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang dilihat Ren siang tadi. Ia
diundang oleh Lezard untuk menaiki kapal sihir ini—keputusan yang kabarnya baru
diambil setelah Ren meninggalkan ruangan siang itu.
"Apakah
Anda menikmati jamuan di kediaman kami?" tanya Licia.
Richter menjawab dengan nada
riang.
"Tentu saja. Aku sedang
menikmati malam yang sangat indah. Ngomong-ngomong, kalian berdua sedang...
hmmm, melihat tempat suci itu, ya?"
Richter mendekat ke sisi mereka, berdiri di samping Ren
sambil menatap ke luar jendela dengan gelas di tangannya.
"Sesuai namanya, Penjara Waktu, tempat itu benar-benar
kristalisasi kekuatan yang melampaui nalar manusia. Kemungkinan sisa-sisa pasukan
Raja Iblis masih bertahan di dalam sana adalah nol besar. Itulah sebabnya
tempat itu dibiarkan tetap ada di sana."
Richter
meneguk isinya, menelan anggur yang disediakan Lezard seteguk demi seteguk.
"Benar-benar
luar biasa. Mengingat mereka bisa menciptakan segel sehebat itu, misteri yang
dimiliki agama Elfen pun sulit kupahami."
"Ini
pertama kalinya kami melihat segel itu, tapi bagaimana dengan Tuan
Leonhard?"
"Ini
kedua kalinya bagiku... ah tidak, mungkin ketiga kalinya."
Pertama
kali adalah saat ia baru datang ke Leomel, kedua kalinya adalah saat ia dalam
perjalanan menuju Leomel kali ini, dan yang ketiga adalah sekarang.
"Lain
kali jika aku datang ke Leomel lagi, aku ingin sekali pergi ke dekat sana
bersama kalian."
Setelah
mengatakan itu, ia pun beranjak pergi. Sepertinya ia hanya menyapa di sela-sela
kegiatannya memberi salam kepada bangsawan lain.
Karena
Ren dan Licia sudah menyelesaikan sesi sapaan mereka, kini mereka bisa cukup
bebas. Mereka bisa saja membantu pekerjaan Lezard, namun Lezard sendiri yang
mengatakan tidak perlu, sehingga mereka berakhir santai seperti ini.
Satu-satunya
tugas yang tersisa adalah mengantar para tamu saat kapal sihir kembali ke
Erendil nanti.
"Kira-kira,
seperti apa ya isi di dalam segel itu?"
"Kamu
ingin melihatnya?"
"Apa
kamu tidak penasaran jika mendengar ada ruang di mana waktu berhenti dan
dipenuhi oleh kekuatan suci?"
"Kalau bilang tidak penasaran, aku pasti berbohong. Tapi kalau sampai masuk
ke dalam, itu akan gawat. Kita mungkin akan ikut dimurnikan juga."
"...Memang
nyawa jauh lebih penting daripada rasa penasaran, jadi sebaiknya kita lupakan
saja ide itu."
"Fufu,
itu pilihan yang bagus."
Keduanya
terus berbincang di dekat jendela untuk beberapa saat lagi, mengamati segel
Roses Caitas yang jarang bisa dilihat, serta membicarakan kejadian di hari
pertama Festival Lion King.
Tak
lama kemudian, diumumkan bahwa kapal sihir yang membawa semua orang mulai
menempuh perjalanan pulang menuju Erendil.
Beberapa
menit berlalu, kapal sihir mulai turun dan berlabuh di Taman Gantung. Para
bangsawan turun satu per satu dari kapal sihir.
Setelah
mengantar mereka semua, barulah Lezard bisa mengembuskan napas lega.
"Dengan
ini, pekerjaan hari ini selesai."
Lezard
menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Ren dan Licia karena telah
membantunya. Kemudian, pembicaraan beralih ke bagaimana mereka menghabiskan
waktu selama pesta tadi.
"Ayah,
kami sedari tadi terus membicarakan tentang Roses Caitas."
"Ah,
itu memang segel yang sangat dahsyat. Aku sudah beberapa kali melihatnya, tapi
apakah ini pertama kalinya bagi Licia dan Ren?"
Karena Lezard sering meninggalkan Erendil menggunakan kapal
sihir, ia mengaku sering melihat segel tersebut dari udara.
Meski tidak terlalu jauh jika menggunakan kapal sihir, lokasi
Roses Caitas sendiri berada di tempat yang terpencil. Ada jalan raya tua di sana, namun
kenyataannya jalan itu jarang digunakan selain untuk menuju ke dekat Roses
Caitas.
Tempat
itu berada di area yang kaya akan alam, dikelilingi oleh lembah, gunung, dan
danau yang tersebar di sekitarnya. Bahkan untuk rute kapal sihir pun, itu
adalah area yang jarang dilewati.
"Hari
keenam festival pasti akan lebih ramai lagi."
"Apakah
itu di sekitar Roses Caitas?" tanya Licia sambil mengerjapkan matanya
mendengar kata-kata Lezard.
"Iya.
Karena akan ada jadwal tambahan, kabarnya paduan suara agama Elfen yang dikirim
dari tanah suci akan pergi ke sana. Untuk berdoa agar keselamatan Dewa Utama
Elfen menyertai seluruh jiwa yang gugur di medan perang."
"Nyanyian
paduan suara... aku jadi sedikit penasaran."
"Mumpung
ada kesempatan, sebaiknya kalian berdua pergi mendengarnya."
Licia
dan Ren saling bertukar pandang.
Paduan
suara itu akan pergi ke dekat Roses Caitas pada pagi hari di hari keenam
Festival Lion King. Pada saat itu, tugas komite pelaksana harusnya sudah lebih
tenang dibanding hari ini. Jika ada waktu luang dan kesempatan, sepertinya
tidak buruk juga untuk mencoba pergi ke sana.
Setelah
bergabung dengan Weiss yang berjaga di luar kapal sihir, mereka berniat menuju
lantai dasar Taman Gantung.
Ren
mendongak menatap pintu dok yang biasanya tertutup, yang berada di lapisan atas
tempat kapal sihir yang baru saja ia tumpangi bersandar.
"Tuan
Werrich ternyata masih melakukan perbaikan jam segini, ya."
Di
dok itu terdapat kapal sihir Lemuria yang dibangun Werrich jauh di masa
lalu.
Rencananya,
kapal yang sempat rusak parah akibat perlakuan buruk keluarga kerajaan
terdahulu itu akan diperbaiki menggunakan tanduk Asvar yang diolah, guna
menjadikannya mahakarya yang lebih hebat dari sebelumnya.
Saat
Ren mendongak menatap pintu dok, Werrich menampakkan wajahnya dari sana.
Sepertinya ia menyadari keberadaan Ren. Werrich menatap ke bawah ke arah Ren
tanpa rasa takut akan ketinggian.
"Oii
oii! Pekerjaan di sini lancar jaya!"
"Terima
kasih banyak! Tapi, tolong jangan terlalu condong ke depan, itu
berbahaya!"
"Hah?
Segini sih bukan apa-apa bagi gue... tapi ya sudahlah, oke!"
Setelah
berkata demikian, Werrich tertawa sekali lagi lalu kembali masuk ke dalam dok.
"Tuan
Werrich sepertinya masih energik seperti biasa, ya."
Kini,
mereka benar-benar menempuh jalan pulang menuju kediaman.
Keempat
orang itu, termasuk Weiss, melangkah masuk ke dalam Taman Gantung menuju lantai
dasar. Sambil berpikir bahwa ini adalah hari yang sangat menyenangkan, Ren
meregangkan punggungnya lebar-lebar. Malam ini ia pasti bisa langsung tertidur
pulas begitu menyentuh kasur.
Ia
hanya khawatir apakah staminanya akan bertahan sampai ia sempat mandi.
"Ren, jangan sampai tertidur di kamar mandi, ya?"
"...Bagaimana
Anda bisa tahu apa yang sedang saya pikirkan?"
"Sudah sering kubilang, kan? Karena ini soal Ren, aku
pasti tahu."
Suara Licia yang indah dan jernih terdengar. Dengan nada yang
manis, ia berujar, "Jangan sampai tertidur, ya."
◇◇◇
Sebuah ruang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, gelap
gulita dan sunyi.
Di
suatu tempat—.
Rin, rin—
Selain suara gemerincing
lonceng, ia tidak tahu apa-apa lagi. Ren bahkan tidak tahu apakah ia sedang
berdiri atau duduk. Ia tidak bisa bergerak, hanya sekadar 'ada' di ruang
tersebut.
Tiba-tiba, dua titik cahaya merah tua muncul di depannya. Di
ujung ruang yang gelap dan sunyi itu, cahaya merah tua tersebut semakin
benderang.
...Eh?
Seolah tersedot, ia semakin mendekat ke arah cahaya merah tua
tersebut.
Namun, mendadak ia tidak bisa melangkah lebih jauh lagi, dan
cahaya merah tua itu mulai berkedip-kedip dengan aura yang menyeramkan. Dunia yang gelap dan
sunyi itu pun mulai ditelan oleh cahaya yang menyilaukan.
Cahaya
itu berasal dari matahari pagi yang menyusup masuk melalui jendela.
Ren yang terbangun mengernyitkan dahi. Di satu sisi ia merasa sudah
tidur nyenyak karena kelelahan kemarin, namun—.
"Nghhh..."
Hanya
suara erangan tidak jelas yang keluar dari mulutnya.
Ia
merasa sepertinya baru saja bermimpi sesuatu, namun ia tidak bisa mengingat
mimpi itu. Melupakan isi mimpi sebenarnya adalah hal yang lumrah, namun entah
mengapa hari ini ia merasa seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Apa
ya kira-kira?"
Sambil
masih merasa bingung, ia melirik jam dan menyadari waktu masih sedikit lebih
awal dari jam bangun biasanya.
Setelah
bersiap-siap dan keluar kamar, ia bertemu dengan Licia setelah berjalan
beberapa saat. Licia juga tampak seperti ada sesuatu yang tidak pas...
seolah-olah ia sedang memikirkan sesuatu.
Sambil memberi salam pagi, Ren mendekat dan menyapanya.
"Nona
Licia, apakah ada sesuatu?"
"Tidak, bukan apa-apa. Bukan hal yang penting,
kok."
Mendengar nada bicaranya yang membuat penasaran, Ren
melontarkan lelucon sambil tertawa. Benar-benar hanya sebagai bahan obrolan
santai tanpa maksud serius.
"Jangan-jangan Anda juga merasa baru saja memimpikan
sesuatu yang aneh seperti saya?"
"Eh? Ren juga?"
Niatnya hanya bercanda, namun situasinya sedikit berubah.
Ren yang tanpa sadar membulatkan matanya dan Licia yang
terkejut pun saling mendekat. Tanpa sadar, mereka saling menatap wajah satu
sama lain dengan jarak setengah langkah lebih dekat dari biasanya.
"Apakah
Anda bisa mengingat mimpi seperti apa itu?"
"Tidak."
Licia langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku
tidak tahu. Tapi karena rasanya mengganjal di pikiran, aku jadi merasa aneh
sendiri..."
"Saya
juga merasa memimpikan sesuatu, tapi sama sekali tidak bisa mengingatnya.
Padahal mimpi itu terus mengganggu pikiran saya... begitulah."
"...Kita
sebenarnya tidak sedang tidur di tempat tidur yang sama, kan?"
"Tentu
saja mustahil, dan kalaupun kita tidur bersama, saya rasa kita tidak akan
memimpikan hal yang sama."
"...Benar
juga, ya."
Itulah
sebabnya mereka hanya bisa merasa bahwa ini adalah kejadian yang aneh.
Lagipula,
mimpi memang biasanya seperti itu, dan jika dipikir secara normal, akan terasa
aneh jika mereka menggali hal ini lebih dalam lagi.
Ren dan Licia pun saling bertukar tawa getir.



Post a Comment