NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 4 Chapter 2

Chapter 2

Komandan Great Saint Hall


Surat dari Ulysses Ignat tiba di kediaman keluarga Clausel pada malam itu.

Yuno, pelayan yang ikut pindah ke Erendil bersama Ren dan yang lainnya, menerima beberapa pucuk surat dari utusan keluarga Ignat.

Karena salah satunya ditujukan untuk Ren, Yuno pun segera melangkah menuju kamar pemuda itu.

"Kuu?"

Melihat Yuno, Cukul yang sedang melayang santai di lorong menunjukkan ketertarikannya pada amplop tersebut.

Cukul adalah monster yang menetas dari Azure Bead milik Serakia setelah persembahan berupa pecahan tanduk Asvar diberikan pasca-insiden di Pegunungan Baldur.

Ukurannya sebesar kucing dewasa, dengan seluruh tubuh yang diselimuti bulu halus nan lembut.

Kini, ia menjadi sosok maskot yang bebas berkeliaran di kediaman keluarga Clausel.

Berdasarkan pengetahuan tentang Legenda Tujuh Pahlawan yang hanya diketahui Ren, makhluk ini menyimpan kekuatan dahsyat yang konon pernah menyulitkan Raja Iblis.

"Selamat malam, Cukul. Apa kamu sudah makan?"

"Kuu! Kuu kuu!"

"Syukurlah kalau begitu. Kalau begitu, aku pergi ke kamar Tuan Ren dulu, ya."

"Kuu~!"

Sepertinya baru saja selesai makan, Cukul pergi menjauh dengan perasaan yang sangat gembira.

Setelah melepas kepergian Cukul, Yuno mengunjungi kamar Ren dan menyerahkan surat itu saat si penghuni kamar membuka pintu.

"Ini dari Marquis Ignat."

"Terima kasih. ...Tapi, ada apa ya Tuan Ulysses mengirim surat?"

Setelah memeriksa isi surat tersebut, Ren segera melangkahkan kaki menuju ruang kerja Lezard.

◇◇◇

Di ruang kerja Lezard, ternyata ada Licia.

Ini waktu yang tepat, mengingat apa yang ingin Ren sampaikan sekarang.

"Ren, ya. Ada apa?"

"Tadi ada surat yang datang dari Tuan Ulysses, ada yang ingin kubicarakan sedikit."

Isi surat itu tertulis, 'Selama periode Festival Lion King, aku ingin meminta sedikit waktumu. Ah, tapi kalau kau berpartisipasi dalam kompetisi, kau boleh memprioritaskan hal itu.'

"Apa alasannya tidak tertulis di sana?"

"Beliau menulis akan menyampaikannya segera setelah semuanya diputuskan, tapi hanya sebatas itu."

"Begitu. Lalu, bagaimana menurutmu, Ren?"

"Aku ingin memprioritaskan undangan Tuan Ulysses. Lagipula, aku tidak punya keinginan khusus untuk ikut berkompetisi."

Meski alasannya berbeda, Licia pun merasakan hal yang sama.

"Berarti sama denganku, kamu tidak akan ikut kompetisi, ya."

"Eh, apa Nona Licia juga tidak berpartisipasi?"

"Iya. Sejak Ayah menjadi Viscount, banyak orang yang menyapa kami, kan? Karena akan banyak tamu yang datang selama Festival Lion King, aku berniat menemani Ayah menyambut mereka."

"Padahal aku sudah bilang padanya untuk tidak usah dipikirkan."

"Tidak boleh begitu. Ini adalah periode penting untuk memperkuat fondasi keluarga Clausel."

Jika situasinya begini, Ren kemungkinan besar tetap tidak akan ikut kompetisi meski tanpa undangan Ulysses. Melindungi Lezard dan Licia jauh lebih penting baginya.

"Apa tidak apa-apa? Padahal ini Festival Lion King yang berharga, Nona Licia juga sebaiknya menikmatinya..."

Licia menggelengkan kepalanya pelan.

Dari ekspresinya, tidak terlihat ambisi khusus untuk mengikuti kompetisi di Festival Lion King.

"Festival Lion King kan berlangsung selama seminggu? Jadi, asalkan aku bisa berkeliling bersama Ren saat ada waktu senggang, itu sudah cukup."

"Baiklah. Kalau begitu, izinkan aku menemani Anda."

"Tapi, bagaimana denganmu sendiri, Ren? Apa kamu tidak ingin memamerkan pedang yang sudah kamu asah selama ini?"

"Tidak juga, aku tidak mengasah pedangku hanya untuk dipamerkan."

Lagipula, Ulysses yang sering membantu Ren telah bersusah payah mengirim surat.

Akan menjadi pilihan yang salah jika ia tidak memprioritaskan persahabatan dengan sang "Lengan Perkasa" itu.

◇◇◇

Keesokan harinya, saat jam istirahat siang.

"Begitulah penjelasannya!"

Di depan Ren yang dipanggil ke ruang Kepala Sekolah, Chronoa berkata sambil membusungkan dada dan melipat tangan dengan bangga.

Licia, yang datang bersama Ren, hanya bisa tersenyum pahit melihat tingkahnya.

"Nona Chronoa, bagian mana yang 'begitulah'?"

"Aku akan menjelaskannya dengan benar! Jadi Ren-kun dan Licia-chan, ayo, ayo! Kita bicara santai di sana!"

Atas desakan Chronoa, keduanya duduk di sofa ruang Kepala Sekolah.

"Apa kalian sudah terbiasa dengan akademi ini?"

Ren memberi isyarat mata pada Licia, dan gadis itu menjawab lebih dulu.

"Kami mulai terbiasa sedikit demi sedikit."

"Aku juga."

Mendengar kejujuran mereka, Chronoa tersenyum lebar dan merasa lega.

"Kalau begitu, langsung ke topik utama. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukonsultasikan pada kalian berdua."

"...Oh."

"Uwah... Ren-kun, jangan pasang wajah malas begitu, dong..."

"Maaf. Habisnya, kalau mendengar konsultasi dari orang yang disebut sebagai salah satu penyihir terbaik di dunia, aku refleks berpikir kesulitan macam apa yang akan datang."

"Te-Tenang saja! Aku ini Kepala Sekolah, tahu! Mana mungkin aku memaksakan tugas mustahil pada murid-muridku yang manis!"

Chronoa merogoh saku dalam jubahnya dan mengeluarkan selembar kertas.

Karena ia berkata, "Licia-chan juga silakan lihat," Licia pun tanpa ragu ikut membaca tulisan di kertas itu bersama Ren.

"Ini tentang Festival Lion King, ya."

Ucap Ren.

Di sana tertulis jadwal Festival Lion King, ditambah informasi detail mengenai kompetisi mana saja yang akan diikuti oleh murid akademi ini.

Meski begitu, belum diputuskan siapa yang akan mengikuti kompetisi apa. Karena ada batasan jumlah peserta di beberapa cabang, ke depannya akan diadakan seleksi untuk menentukan perwakilan Akademi Militer Kekaisaran.

"Akademi kita ini kan termasuk sekolah ternama, jadi syukurnya murid-murid di sini biasanya bersemangat ikut kompetisi. Di sekolah lain mungkin banyak yang cuma mau menikmati festivalnya saja, tapi di sini aku tidak kekurangan peserta."

"Aku mengerti. Tapi, aku dan Nona Licia berniat untuk tidak berpartisipasi."

"Benarkah?! Kalian tidak berniat ikut?!"

Biasanya, seorang Kepala Sekolah akan lebih senang jika muridnya ikut berpartisipasi. Namun, Chronoa justru mencondongkan tubuhnya ke meja dengan wajah yang berbinar cerah.




"Tentu saja! Akademi kita memperbolehkan partisipasi sukarela sepenuhnya, lagipula memaksa orang itu tidak akan menyenangkan, kan! Aku ingin kalian berdua menikmati festival ini, jadi jangan khawatir... aku tidak akan bersikap sok berkuasa dan menyuruh kalian ikut!"

"Te-Terima kasih banyak... Omong-omong, kenapa Anda malah terlihat senang?"

Mendengar pertanyaan Licia, Chronoa mengembuskan napas panjang. Raut wajahnya berubah drastis dari sebelumnya, kini ia tampak lelah seperti sedang memikul beban berat setiap harinya.

"────Itu karena, hal ini berkaitan dengan bantuan yang ingin kuminta dari kalian."

Keduanya menunggu kelanjutan kalimatnya dengan wajah bingung. Mereka tak bisa memalingkan mata dari Chronoa yang berbicara dengan nada yang tidak biasa, terdengar suram dan berat.

"Setiap tahun, aku benar-benar kesulitan menemukan orang yang mau menjadi panitia pelaksana..."

Rupanya Chronoa ingin meminta bantuan mereka. Ia mengeluarkan lembaran kertas baru dari balik jubahnya dan menyerahkannya kepada mereka berdua.

Di sana tertulis, 'Mengenai Persiapan dan Komite Pelaksana Festival Lion King'.

"Singkatnya, panitia pelaksana, ya?"

"Iya. Tepat seperti yang dikatakan Ren-kun."

Dalam Legenda Tujuh Pahlawan, ini adalah peran yang tidak bisa dipilih. Meski namanya panitia pelaksana, tugasnya bukan mengelola seluruh operasional Festival Lion King, melainkan peran untuk mengoordinasi berbagai urusan di Akademi Militer Kekaisaran.

Tugasnya mencakup negosiasi di dalam akademi serta membantu para staf pengajar dalam mengolah informasi. Pada hari H festival pun masih ada beberapa pekerjaan, namun karena saat itu tidak akan terlalu sibuk, sepertinya tidak akan merusak jadwal Ren dan Licia.

"Untuk posisi seperti ini, apakah tidak ada sistem pendaftaran sukarela?"

"Tentu saja ada. Mulai besok aku akan meminta tolong para guru untuk membuka pendaftaran selama beberapa hari... tapi sepertinya tahun ini harapannya sangat tipis. Makanya, kalau kalian tidak keberatan, aku memanggil kalian agar kalian mau mempertimbangkannya sekali saja."

Chronoa menjawab sambil tersenyum kecut. Pada titik ini, Ren belum sepenuhnya memahami apa yang ingin disampaikan Chronoa. Begitu pula dengan Licia, yang merasa heran saat mendengarkan penjelasan itu.

Jawabannya baru akan mereka ketahui beberapa hari kemudian, sepulang sekolah di ruang Kepala Sekolah yang sama.

 

Sesuai perkataan Chronoa, periode pendaftaran panitia pelaksana pun dibuka, namun jumlah pendaftarnya nol. Ren merasa heran karena jumlah murid di sini cukup banyak, lalu Chronoa pun menjelaskan alasannya.

Itu terjadi dua hari setelah pembicaraan pertama mengenai panitia pelaksana.

"Di sini, semuanya lebih memilih untuk ikut kompetisi. Lagipula, panitia pelaksana itu banyak pekerjaan administratifnya, jadi tidak populer..."

Posisi duduk Ren dan Licia di sofa yang berhadapan dengan Chronoa masih sama seperti kemarin.

"Tapi jika menjabat posisi seperti itu di akademi ini, bukankah akan memberikan pengaruh baik bagi masa depan setelah lulus?"

"Benar! Aku juga sempat memikirkan hal yang sama dengan Ren-kun sampai beberapa waktu lalu!"

Meski mengatakannya dengan tegas, raut wajah Chronoa tetap tidak ceria.

"Tapi dalam kasus akademi kita, lulus dari sini saja sudah merupakan keuntungan yang cukup besar. Karena itu, banyak anak yang berpikir, 'Lebih baik aku mencetak prestasi bagus di kompetisi saja!'"

"Jadi meski tidak terpilih sebagai perwakilan di kompetisi keahlian mereka, mereka tetap lebih memilih ikut kompetisi yang tidak memiliki batasan jumlah peserta, ya."

"Begitulah..." Chronoa tertunduk lesu.

Selama periode Festival Lion King, banyak kesempatan untuk berkenalan dengan petinggi ksatria maupun bangsawan. Ini adalah kesempatan penting tidak hanya bagi bangsawan, tapi juga bagi anak-anak rakyat jelata.

Hal ini sangat mencolok terutama di kelas beasiswa, sehingga hampir tidak ada alasan bagi mereka untuk repot-repot menjadi panitia pelaksana. Justru karena ada tempat di mana mereka bisa menunjukkan nilai diri lebih baik daripada menjadi panitia, para murid di akademi ini tidak melirik posisi itu sama sekali────tidak, tepatnya mereka terlalu sibuk dengan hal lain sehingga tidak punya waktu luang untuk menjadi panitia.

Mengingat karakteristik Akademi Militer Kekaisaran, lebih alami bagi para murid untuk berusaha meraih hasil memuaskan dalam kompetisi.

(Jadi karena itulah Anda meminta bantuan kami, Nona Chronoa.)

(Sepertinya begitu. Ekspresinya setelah rapat waktu itu pasti karena hal ini.)

Ren dan Licia saling bertukar pandang untuk berbagi pikiran, lalu tersenyum tipis sebelum menatap Chronoa. Licia yang sudah melihat dokumen tersebut berpikiran sama dengan Ren; urusan keluarga Clausel di sekitar waktu festival sepertinya tidak akan bermasalah, jadi ia mengangguk dan menyerahkan jawaban kepada Ren.

"Biasanya, berapa banyak orang yang dikumpulkan untuk menjadi panitia?"

Tubuh Chronoa bergerak perlahan. Jika diibaratkan mesin, gerakannya terasa kaku seolah seluruh roda gigi di tubuhnya berderit keras.

Ia bangkit dan berdiri di depan jendela tempat angin musim semi masuk. Setiap kali angin hangat menggoyangkan rambutnya, aroma bunga yang manis menyebar dari sana.

"...Sekitar sepuluh orang, mungkin."

Mendengar bisikan itu, pipi Ren dan Licia berkedut. Meski tidak melihat mereka, Chronoa yang merasakan reaksi keduanya langsung berbalik dengan panik.

"Ta-Tapi tenang saja! Tugas panitia pelaksana itu merangkum komunikasi antar murid, sedangkan untuk pembagian materi atau penyesuaian jadwal akhir, semuanya akan kami urus di sini!"

"Tapi, kalau cuma aku dan Nona Licia, berarti kurang delapan orang lagi."

Itu adalah teguran yang tajam... tidak, sebenarnya itu hanya komentar yang wajar dari Ren. Licia kemudian menyambung.

"Lagipula Nona Chronoa, tahun ini tamu yang datang dari dalam maupun luar negeri akan lebih banyak dari sebelumnya, kan?"

"Iya... karena sebelumnya kita tidak mengundang tamu, hanya mengadakan kompetisi antar murid saja."

"Eh?"

Ren merasa heran mendengar suara mereka berdua.

"Apakah Festival Lion King yang sebelumnya berbeda dari biasanya?"

Festival Lion King yang diketahui Ren seharusnya sangat meriah. Penyelenggaraan sebelumnya terjadi sesaat sebelum Ren pertama kali menginjakkan kaki di Ibukota.

Vane dan Sera yang saat itu belum berstatus murid pun seharusnya menjadikan acara itu sebagai penyemangat untuk berusaha lebih keras.

"Itu karena insiden di Pegunungan Baldur. Kekacauan itu berdampak ke akademi lain juga, jadi demi keamanan, tahun itu acaranya hanya terbatas untuk murid saja."

"Ah, pantas saja waktu itu Tuan Lezard sama sekali tidak menyinggung soal Festival Lion King."

"Begitulah. Karena itu, sepertinya banyak orang yang menganggap tahun ini adalah Festival Lion King pertama setelah empat tahun."

Empat tahun lalu, saat Festival Lion King sebelumnya lagi diadakan, Lezard baru saja dipercaya mengelola Erendil sehingga ia tidak punya waktu luang.

Erendil yang dekat dengan Ibukota sangat sibuk karena hampir seluruh penginapan penuh, sehingga terlalu kejam jika menyerahkan semuanya pada Lezard yang baru saja memimpin kota besar.

Saat itu, pejabat sipil istana dan bangsawan lain berbagi tugas untuk menangani pekerjaan yang diperlukan.

"Ini hanya prediksiku, tapi karena ini Festival Lion King yang kembali meriah setelah sekian lama, kurasa banyak anak yang ingin menikmatinya dengan kekuatan penuh."

Ditambah dengan karakteristik akademi, tahun ini jumlah pendaftarnya masih nol.

"Aku sudah bersiap kalau Festival Lion King tahun ini akan jadi begini... tapi tidak menyangka kalau pendaftarnya akan nol orang..."

Siapa pun yang masuk ke akademi ini pasti memiliki ambisi yang tinggi. Itu hal yang wajar jika mengingat tujuan mereka berjuang memenangkan ujian masuk yang berat.

...Bagi Tuan Lezard, pekerjaan Festival Lion King kali ini adalah yang pertama baginya.

Jika begitu, Ren tidak berniat pelit memberikan bantuan. Dengan dirinya menjadi panitia pelaksana, ia berharap bisa sedikit membantu meski hanya dari posisi seorang murid.

"...Tapi tidak apa-apa. Kalau keadaan mendesak, aku akan bekerja untuk porsi sepuluh orang."

Meski terdengar tidak realistis, Chronoa punya pemikiran sendiri. Chronoa dan staf pengajar lainnya tinggal membantu saja; kenyataannya jika panitia kurang, jumlah staf yang membantu akan bertambah.

Tugas panitia pelaksana terutama adalah sebagai koordinator dan perwakilan dari para murid.

Sebaiknya tidak terlalu banyak staf pengajar yang terlibat, tapi jika tidak ada pilihan lain, itu masalah beda.

Tidak ada kegagalan yang lebih buruk daripada tidak bisa mempersiapkan Festival Lion King.

(Apakah Nona Chronoa sesibuk itu selama Festival Lion King berlangsung?)

Ren mencoba mengingat Legenda Tujuh Pahlawan tentang apa yang terjadi selama periode festival. Ia merasa tidak tega jika harus membiarkan Chronoa yang sudah sibuk bekerja sendirian.

"Bagaimana menurut Anda, Nona Licia?"

"Aku sudah sering membantu pekerjaan keluarga Clausel, dan Ren juga terkadang membantuku menangani dokumen. Kurasa kita bisa menangani pekerjaan administratif lebih baik daripada anak-anak seusia kita."

Meski begitu, akan lebih baik jika jumlah personilnya ditambah. Apalagi jika harus bersikap sebagai perwakilan murid, mereka yang masih tahun pertama akan merasa kurang meyakinkan.

Ren menengadah ke langit-langit sambil berpikir, lalu menyampaikan hal yang perlu dikonsultasikan selain masalah jumlah orang.

"Aku dan Nona Licia bersedia menerimanya."

"────Benarkah!?"

"Tapi, ada yang ingin kami konsultasikan."

Ren menceritakan permintaan Ulysses dan situasi keluarga Clausel secara terbuka kepada Chronoa. Seketika itu juga, Chronoa panik sambil melambaikan kedua tangannya. "Ma-Maaf ya! Kalau begitu jangan dipaksakan!"

"Ah, bukan begitu! Asalkan pada hari H kami diberikan waktu luang, itu sudah cukup!"

"Aku dan Ren ingin membantu, asalkan Anda mengizinkan kami untuk sesekali meninggalkan pos!"

Bagi Ren dan Licia, ini bukan tawaran yang buruk.

Daripada hanya menjalankan permintaan Ulysses atau urusan keluarga Clausel, terlibat dalam pekerjaan Festival Lion King akan berdampak baik bagi masa depan mereka.

Tidak diragukan lagi ini akan membantu mereka membangun reputasi dan jaringan koneksi.

Menjadi sibuk memang tidak terelakkan, tapi selama jadwal bisa disesuaikan, itu bukan masalah besar.

"Lagipula sejujurnya, aku merasa bekerja di balik layar sepertinya menyenangkan."

"Aku juga. Karena ini festival yang berharga, aku senang jika bisa ikut terlibat seperti ini."

"Hal-hal seperti ini, masa persiapannya lah yang paling menyenangkan."

Mendengar jawaban mereka, Chronoa tersenyum lebar dan membungkuk dalam-dalam untuk berterima kasih. Namun, karena hanya berdua tentu akan berat, mereka harus mengumpulkan orang.

Mengingat tidak ada pendaftar dalam beberapa hari terakhir, mereka tidak bisa berharap ada orang lain yang mencalonkan diri secara sukarela, tapi...

◇◇◇

"Begitulah situasinya, apa kamu punya seseorang yang bisa diperkenalkan?"

"Entahlah. Kenapa kamu tidak terpikir untuk memintaku saja?"

Tempat yang didatangi Ren setelah menghubungi Radius adalah taman yang terletak di atap akademi.

"Boleh aku memintamu, Radius?"

Keduanya berbicara sambil memandang langit yang berwarna jingga kemerahan.

"Aku malah tidak mengerti kenapa kamu harus ragu."

"Habisnya, kamu kan Pangeran Ketiga. Aku merasa agak tidak enak kalau menugaskan atau meminta Pangeran menjadi panitia pelaksana."

"Itu tidak ada hubungannya."

"Begitukah? Tapi, kupikir Radius juga akan ikut kompetisi seperti debat atau semacamnya."

"Kalau bilang tidak tertarik, aku bohong. Tapi selama periode Festival Lion King, aku juga punya urusan sendiri. Aku berencana berbincang dengan tamu dari negara lain, atau bahkan memandu mereka tergantung siapa orangnya."

Karena itulah Radius tidak mendaftar sebagai panitia, dan ia juga tidak berniat mengikuti kompetisi apa pun. Namun, ajakan dari Ren adalah masalah lain.

"Kamu punya tugas keluarga kekaisaran, apa benar-benar tidak apa-apa?"

"Jangan khawatir. Aku tidak bekerja sepanjang waktu, jadi aku masih bisa menangani pekerjaan itu dengan baik."

Pemuda ini sepertinya tipe yang tetap bisa menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna sesibuk apa pun dia. Ren merasa tidak enak jika terus bertanya dengan ragu-ragu, jadi ia bicara dengan nada biasanya.

"Kalau begitu, aku minta tolong, ya."

"Serahkan padaku. Dengan ini panitia pelaksananya jadi tiga orang, kan?"

"Kudengar biasanya ada sekitar sepuluh orang, jadi sepertinya masih kurang."

"Entahlah. Aku yakin kita bisa melakukan pekerjaan yang cukup meski hanya bertiga."

(Kalau dipikir-pikir, memang benar juga.)

Jika ada Radius, sudah pasti beres. Tapi, lebih banyak tenaga tentu akan lebih baik.

Karena Ren dan Licia punya waktu-waktu di mana mereka tidak bisa membantu, ia tidak berniat melemparkan semua tanggung jawab kepada Radius secara tidak bertanggung jawab.

Meskipun Radius sepertinya bisa menyelesaikan semuanya sendirian, sebagai teman, itu rasanya tidak benar. Ren tidak suka mengajak orang lalu membiarkannya bekerja sendirian.

"Besok siang adalah batas akhir pendaftaran. Mengingat sekarang masih nol, kita tidak bisa mengharap pendaftar sukarela. Artinya, kita harus bergerak sendiri untuk mengumpulkan teman."

"Kamu juga berpikir begitu?"

"Tentu saja. Tapi, kamu akan mengajak Fiona Ignat juga, kan?"

"Rencananya begitu. Aku sempat mencarinya sebelum ke tempatmu, tapi Nona Fiona sudah pulang ke asrama."

Karena Fiona adalah nona muda yang belajar di bawah bimbingan Ulysses, dia pasti akan sangat membantu.

Namun, ia mungkin punya tugas dari keluarga Ignat, sehingga ada kemungkinan ia tidak punya waktu untuk menjadi panitia. Ren mengkhawatirkan hal itu.

"Kurasa Nona Fiona juga sibuk."

"Apa yang kamu katakan. Mana mungkin dia menolak jika kamu yang meminta."

"Tidak, tidak, kenapa kamu bisa seyakin itu?"

"────... Haa, pria ini benar-benar."

Radius mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat sengaja.

"Eh, apa itu barusan?"

"Jangan dipikirkan. Itu cuma helaan napas dan gumaman yang sengaja kubuat agar terdengar olehmu."

"Menyuruhku tidak memikirkannya itu sangat tidak mungkin!"

Radius tidak mengatakan hal-hal yang tidak perlu dan menelan kata-kata lanjutannya. Sambil diterpa angin sore, ia tersenyum tipis mendengar kata-kata Ren.

"Kuku... entah kenapa bahkan sang King of Swords pun sampai bergerak. Mungkin jika Ren yang meminta, siapa pun akan menuruti kata-katamu, bukan?"

"Kalau kamu bilang begitu, aku cuma bisa jawab kalau aku pun tidak mengerti soal King of Swords itu."

Maksud sebenarnya dari King of Swords yang meminjamkan kekuatannya saat insiden Menara Jam besar musim panas lalu masih menjadi misteri. Mau Radius yang bertanya ataupun Kaisar, dia hanya menjawab satu kalimat: 'Karena aku tertarik'. Menurut Kaisar, ditanya berapa kali pun dia tidak akan menjawab.

"Sisanya... benar juga, aku akan coba mengajak satu orang lagi."

Ren duduk di bangku terdekat dan menyandarkan punggungnya. Radius bersandar pada pagar atap dan menghadap ke arah Ren.

"Temanmu?"

"Aku tidak tahu apa istilah 'teman' itu tepat, tapi dia adalah teman masa kecil yang sudah melayaniku sejak lama. Tahun ini, dia naik ke tingkat empat."

Ren mencoba mencari ingatannya, apakah ada sosok seperti itu di dekat Radius. Sudah empat belas tahun berlalu sejak Ren lahir di dunia ini, sehingga akhir-akhir ini terasa sulit untuk menggali ingatan sebelum itu.

Setelah berusaha keras mencari ingatan yang mulai memudar, ia tidak menemukan sosok yang dimaksud Radius. Karena Radius mati di Legenda Tujuh Pahlawan I, informasi yang didapat memang terbatas.

"Dia putri dari keluarga Count Archeise. Pernah dengar?"

"Maaf. Sepertinya tidak."

"Keluarga Archeise dulunya adalah faksi Hero hingga beberapa tahun sebelum aku lahir, namun karena perbedaan pendapat di dalam faksi, mereka pindah menjadi anggota faksi Keluarga Kekaisaran."

"Hee... keluarga seperti apa itu?"

"Mereka adalah keluarga pejabat sipil ternama yang pernah melahirkan Perdana Menteri di masa lalu. Kepala keluarga saat ini menjabat sebagai asisten Baginda Kaisar. Itulah alasan mengapa putri mereka berada di sisiku."

Tampaknya mereka adalah kumpulan pejabat sipil yang sangat hebat, termasuk kepala keluarganya. Pantas saja mereka tetap menempatkan orang di sisi keluarga kekaisaran meski berpindah faksi, pikir Ren dengan penuh minat.

"Entah kenapa, aku punya kesan kalau dia orang yang sangat kompeten."

"...Kompeten, yah... memang kompeten. Dia melakukan pekerjaan yang cukup baik dalam kasus Menara Jam tahun lalu, dan saat kamu menghancurkan markas pemuja Raja Iblis pun, dia menunjukkan kekuatannya di sisiku."

"Ooh, ternyata dia orang yang lebih hebat dari dugaanku."

"Kalau soal kompetensi, tidak ada yang perlu dikeluhkan. Tahun lalu dia bahkan menjabat sebagai ketua OSIS di akademi ini, jadi dia pasti akan sangat membantu. ────Tapi, itu hanya sebatas kompetensinya saja, ya."

Sejak tadi, perkataan Radius sering kali mengandung kalimat yang aneh.

Jarang sekali dia memuji seseorang dengan begitu tinggi, namun tambahan kalimat aneh itu meninggalkan kesan misterius yang kuat bagi Ren.

Kira-kira, wanita seperti apa dia? Tapi Ren bisa membayangkan bahwa dia adalah sosok yang sangat dipercaya oleh Pangeran Ketiga ini.

"Kenapa kamu harus menekankan 'sebatas kompetensinya saja'?"

"Katakan saja dia punya kepribadian yang unik, tapi kemampuannya nyata."

"Ah... oke, paham."

Meski banyak kata-kata yang bikin penasaran, karena Radius sampai bilang begitu, kemampuannya pasti tidak perlu diragukan lagi.

"Mengingat ini praktis adalah Festival Lion King pertama dalam empat tahun, aku tidak yakin perhatian murid-murid akan tertuju pada panitia pelaksana. Nilai tambahnya pun tidak seberapa. Besok siang, kurasa panitianya akan ditetapkan dengan lima orang ini."

Ren mengangguk setuju. "Mungkin saja." Meskipun jumlahnya hanya setengah dari biasanya, Ren tidak merasa cemas.

...Itu kalau Nona Fiona dan yang lainnya setuju, sih.

Meski kekhawatiran itu pasti akan berakhir sia-sia.

"Jadi panitia pelaksana akan terdiri dari faksi Netral dan faksi Keluarga Kekaisaran, ya."

"Apa faksi Hero tidak akan protes soal itu?"

"Mana mungkin. Nilai panitia pelaksana tidak setinggi yang kamu bayangkan. Memang cukup mencolok, tapi tidak bisa dibandingkan dengan berpartisipasi dalam kompetisi."

Jika bekerja dengan baik memang akan mendapat penilaian, tapi berprestasi di kompetisi tetaplah yang utama.

Selain itu, meraih nilai bagus di ujian akademi juga jauh lebih berharga berkali-kali lipat. Untuk pekerjaan yang diambil secara sukarela, sisi pekerjaan serabutan di panitia pelaksana ini terlalu kuat.

"Selagi kita bicara begini, lihat, ada orang dari keluarga Eishaku di sana."

"Eh? Mana?"

"Itu di sana. Lihat pohon di sudut lapangan sekolah."

Radius menunjuk dengan matanya ke sudut lapangan. Ren bangkit dari bangku dan melihat ke arah tersebut.

"Teman sekelas Ren... Vane, kalau tidak salah namanya. Murid laki-laki yang bersamanya itu adalah orang dari keluarga Eishaku."

Saat melihat ke arah yang ditunjuk Radius, memang benar mereka ada di sana. Yang satu adalah Vane yang berhasil masuk ke kelas beasiswa bersama Ren, dan yang satu lagi adalah kakak kelas yang baru saja naik ke tingkat dua tahun ini.

Namanya Kaito Leonard. Dia tinggi dengan perawakan tubuh yang atletis dan berotot.

Seragam akademi ini diperbolehkan untuk dipakai dengan gaya yang cukup bebas, dan Kaito berada di sana dengan penampilan santai; hanya mengenakan kaos di atas celana panjang kainnya.

(Oh, ini event pertemuan pertama Kaito dan Vane, ya.)

Vane akan mulai berkenalan dengan orang-orang dari keluarga Eishaku di akademi ini, dan yang pertama ia temui adalah Kaito yang setahun lebih tua.

Dia pria yang sangat menyenangkan dengan kepribadian segar yang seolah bisa menertawakan apa pun.

Di final turnamen bela diri Festival Lion King, Vane akan menghadapi Kaito dalam sebuah 'kekalahan terencana' (lose event) sebelum akhirnya Kaito bergabung ke dalam party protagonis.

Alasan Kaito menjadi seorang tanker berkaitan erat dengan leluhur keluarga Leonard. Itu karena leluhurnya, salah satu dari Tujuh Pahlawan, melindungi pahlawan lainnya dengan sebuah perisai besar.

"Serahkan saja kehormatan akademi pada mereka. Orang-orang dari keluarga Eishaku pasti akan memberikan hasil yang memuaskan dalam kompetisi praktis."

Radius mengatakannya dengan tenang seolah tidak peduli.

"Kupikir ini akan berpengaruh pada persaingan antar faksi, tapi ternyata tidak apa-apa ya."

"Aku tidak bilang tidak berpengaruh, tapi bukan berarti faksi Keluarga Kekaisaran akan tertinggal. Kami unggul dalam bidang seperti debat, jadi tidak perlu sampai naik pitam."

"Jadi perbedaan bidang keahlian, ya."

"Iya. Orang yang tadi kubilang akan kuajak juga memenangkan kompetisi debat di Festival Lion King sebelumnya."

Pangeran Ketiga melanjutkan.

"Lagipula, orang-orang yang membawa urusan bangsawan ke tempat murid memamerkan kemampuan itu sebenarnya sudah tidak waras. ────Meskipun aku tahu itu hanyalah sebuah idealisme."

Radius yang menyebut kata idealisme itu tertawa mengejek dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, Ren menyadari bahwa waktu telah berlalu lebih lama dari dugaannya.

"Aku pergi dulu, ya."

Saat Ren memberi isyarat untuk pulang, Radius menghentikannya. "Tunggu."

"Soal kasus Synclines tempo hari, aku sudah memeriksa berbagai hal menggunakan kekuatanku dan alat sihir. Sepertinya tidak ada hubungannya dengan pemuja Raja Iblis."

"Berarti itu cuma kebetulan, ya?"

"Sepertinya begitu. Hal biasa jika monster yang kalah dalam perebutan wilayah menyeberangi lautan. Mungkin saja seperti itu."

Ren mengangguk dan merasa lega karena kasus tempo hari sepertinya tidak akan membesar.

"Beri tahu aku lagi kalau ada perkembangan."

"Ya."

Kali ini Ren benar-benar berpisah dengan Radius, meninggalkan atap, dan menuju lorong yang mengarah ke pintu keluar akademi. Di sana, Licia yang sudah menunggu tersenyum saat melihat Ren.

"Sudah selesai bicaranya?"

"Hasilnya, Radius bersedia membantu kita."

"Apa tidak apa-apa? Meminta bantuan kepada Yang Mulia Pangeran Ketiga."

"Karena dia sendiri yang bilang jangan khawatir, kurasa tidak apa-apa."

Mendengar bahwa Radius terlihat antusias, Licia pun tidak merasa perlu menghentikannya.

◇◇◇

Di waktu yang hampir bersamaan,

"Ka-rena itu! Aku bilang dia benar-benar kuat!"

Vane dan Kaito Leonard masih berada di lapangan sekolah. Sera yang datang menjemput Vane pun ikut bergabung, dan mereka sedang asyik membicarakan sesuatu.

"Tidak salah lagi! Kaito juga lihat di upacara penerimaan kan? Itu lho, Ren Ashton! Dia mengalahkan para pemuja Raja Iblis itu dalam sekejap!"

"Nwa-ha-ha-ha-ha! Sera, apa kamu sudah gila?"

Putra mahkota keluarga Leonard, Kaito, menyahut dengan tawa keras.

"Dia seumuran denganku, bahkan masih tingkat satu, tapi pengguna pedang yang hebat? Mana mungkin! Apa karena aku selalu dapat nilai merah di ujian tulis, jadi kamu mengejekku?"

"Makanya aku serius────tunggu Kaito, kamu selalu dapat nilai merah? Kok bisa naik ke tingkat dua?"

"Aku menambalnya dengan mata pelajaran lain. Tapi Ayah dan yang lainnya selalu marah setiap kali ujian."

"...Pantas saja."

Sera dan Kaito memang sudah saling kenal. Itu karena para ahli waris dari Tujuh Keluarga Eishaku memiliki hubungan yang cukup dekat sehingga bisa saling memanggil nama. Ditambah perbedaan usia yang hanya satu tahun, mereka bisa bicara tanpa sungkan.

"Kembali ke topik. Pertama-tama, alasan Sera itu tidak masuk akal. Apalagi dibilang teknik pedang hebat. Mana mungkin anak seumuran kita bisa pakai teknik dari aliran khusus yang gila seperti itu?"

"Aku akan mengatakannya berulang kali. Dia benar-benar sekuat itu."

"Yah, kalau Saintess dari keluarga Clausel sih mungkin saja aku percaya. Tapi dia bukan, kan? Tetap saja aku tidak tahu cerita itu benar atau tidak."

"Haa... sudahlah. Ayo pergi, Vane."

Sera berbalik membelakangi Kaito sambil mengembuskan napas panjang.

"Se-Sera! Kaito-senpai ditinggal begitu saja!?"

"Biarkan saja si otot itu. Kurasa dia tidak akan percaya sampai melihatnya dengan mata kepala sendiri."

Karena bosan ceritanya tidak didengar, Sera memalingkan wajah dan mulai berjalan. Kaito menjawab ke arah punggung mereka berdua. Suaranya masih santai seperti tadi.

"Entahlah ya. Biarpun melihat pun mungkin tidak akan berubah."

"Terserah. Memang dasar orang Leonard, yang selalu membanggakan tamengnya bisa menahan segalanya."

Langkah Sera tiba-tiba terhenti. Vane yang berjalan di sampingnya pun ikut berhenti.

"Belum pernah ada orang yang sanggup menghancurkan perisai besar milik keluarga Leonard."

Sera berbicara pada Kaito dengan nada suara yang berbeda dari tadi, terdengar seperti sebuah peringatan.

"Itu adalah kebanggaan kalian. Keluarga Liohard maupun aku menaruh hormat pada hal itu."

Ia berbalik menatap Kaito dan berkata sambil menghela napas.

"Tidak. Perisai itu pernah hancur oleh pedang Raja Iblis, kan? Kalau tidak salah itu kemudian diperbaiki."

"Ugh, kamu menusuk tepat di bagian yang sakit..."

"Aku bukan mengejekmu. Kekuatan Leonard-lah yang melindungi sang Pahlawan, dan berkat itu Pahlawan bisa menebas Raja Iblis. Aku hanya bilang, tidak menutup kemungkinan hal yang sama bisa terjadi lagi."

"Hah? Ren Ashton itu Raja Iblis, maksudmu?"

Mendengar reaksi yang begitu di luar nalar, Vane hampir saja menyemburkan tawa.

Sera juga sempat terpaku heran, mana mungkin hal seperti itu benar. Bagaimana bisa Raja Iblis ternyata adalah keturunan ksatria yang melayani keluarga Clausel dan sekarang berada di sisi Licia?

"Bukan itu maksudku! Maksudku, kalau kamu meremehkan Ren Ashton, perisai besarmu itu bisa-bisa hancur juga."

"Tuh kan, berarti dia memang Raja Iblis!"

Sera mengembuskan napas pendek.

"……Kenapa sih kamu tidak bisa membayangkan kalau dia itu punya kekuatan setingkat Lion King?"

"Ya habisnya... leluhurku kan tidak pernah bertarung melawan Lion King, dan kami juga tidak pernah hancur perisainya oleh pengguna pedang hebat mana pun."

"Makanya, aku sedang bilang 'bagaimana kalau sampai hancur'!"

"Sera, tenanglah sedikit... ayo, tarik napas dalam-dalam."

Ditegur oleh Vane, Sera menengadah ke langit dan mengikuti instruksinya untuk menarik napas berkali-kali.

"Syuuu... haaa... terima kasih, aku sudah agak tenang."

Bahu Sera yang tadi gemetar karena emosi kini mulai rileks kembali.

"Mungkin Ren Ashton akan menjadi pengguna pedang hebat pertama yang sanggup menghancurkan perisai besar keluarga Leonard."

Sera hanya ingin menyampaikan dengan jelas sekuat apa sosok Ren yang telah ia saksikan sendiri.

"Maaf, ya. Tadi aku cuma ingin bercanda sedikit kok."

"Sudah kuduga. Kamu kan bukan tipe orang yang suka meremehkan lawan seperti orang bodoh."

"Hanya saja, aku memang terkejut. Kamu bilang Ren Ashton jauh lebih kuat daripada si Saintess yang mengalahkanmu telak itu? Jelas saja itu terdengar seperti omong kosong."

Kini ganti Kaito yang mulai melangkah. Ia menguap lebar-lebar sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.

 

Beberapa waktu lalu, setiap melihat embun beku di pagi hari, sisa-sisa musim dingin masih terasa sangat kental.

Namun kini, hawa dingin di pagi hari hanya terasa tipis-tipis, pertanda hari untuk berganti ke seragam musim panas sudah semakin dekat.

Ren yang berangkat sekolah lebih awal dari biasanya berpisah dengan Licia di kelas, lalu pergi meminjam buku di perpustakaan.

Saat melangkah keluar, ia mendadak menghentikan kakinya dan menoleh ke satu arah. Di sana seharusnya terdapat area latihan khusus sihir.

...Hawa ini.

Ren merasakan sebuah keberadaan di sana. Karena tidak bisa mengabaikannya, ia pun melangkahkan kaki menuju area latihan sihir tersebut.

Butuh waktu beberapa menit untuk sampai, karena area latihan sihir terletak di sudut area akademi. Bangunannya berbentuk silinder raksasa dengan warna putih porselen yang memancarkan kesan agung.

Begitu Ren membuka pintu besar dan masuk ke dalam, hawa dingin yang menusuk langsung berhembus dari dalam aula yang luas.

Ren berjalan membelah kabut putih dingin yang mengalir di bawah kakinya. Di hadapannya, terhampar pemandangan luar biasa berupa tumpukan es yang memenuhi interior aula.

Sihir Es. Terlebih lagi, ini adalah sihir dengan tingkat kemahiran yang sangat tinggi.

Pilar-pilar es berwarna biru kobalt yang mengingatkan pada laut dalam menciptakan pemandangan seolah-olah hutan belantara telah membeku seketika.

Dunia es────di tengah ruang fantastis itu, Fiona berdiri sendirian. Ia tampak kelelahan.

"────Aku harus... berusaha lebih keras lagi."

Ia menyemangati dirinya sendiri, memancarkan hawa dingin untuk mencoba merapal sihir es yang baru.

Kekuatan 'Black Priestess' yang dimiliki Fiona sejak lahir memberinya bakat sihir yang luar biasa, namun di masa lalu, mana yang meluap-luap itu sempat menggerogoti tubuh mungilnya. Belum lagi keterlibatannya dalam kebangkitan Asvar.

Namun, keberhasilannya menguasai sihir sekuat ini murni merupakan hasil dari kerja kerasnya sendiri. Fiona tersentak saat menyadari ada kehadiran orang lain di aula yang seharusnya kosong itu.

"Eh?"

Saat melihat Ren, ia terkejut sejenak namun langsung berubah menjadi gembira. Sihir yang dirapal Fiona perlahan menghilang, mengubah kembali dunia es itu menjadi aula latihan berlantai batu.

Fiona berlari kecil mendekati Ren.

"Selamat pagi! Kapan Anda datang?"

"Baru saja. Aku merasa sepertinya ini sihir Nona Fiona."

Suara Fiona terdengar agak lelah, tidak seperti biasanya, namun nada bicaranya tetap riang karena senang bisa bertemu Ren di pagi hari.

"Sedang latihan, ya?"

"Iya, begitulah," jawab Fiona seraya menjelaskan bahwa ia sebisa mungkin datang ke aula latihan untuk mengasah sihirnya.

"Aku tidak ingin hanya sekadar dilindungi seperti waktu itu."

Yang ia maksud adalah saat bertarung melawan Asvar di Pegunungan Baldur. Kejadian saat itu selalu terbayang dengan jelas di benaknya. Di balik suaranya yang lembut, terpancar keteguhan hati dan ketabahan Fiona.

Ren tersenyum tipis. "Anda tidak hanya dilindungi kok."

Kenyataannya, Ren bisa menggunakan kekuatan spesial saat melawan Asvar justru karena bantuan dari Fiona.

"Ngomong-ngomong..."

Fiona bertanya, masih memikirkan perkataan Ren tadi.

"Tadi Anda bilang sudah tahu kalau ini sihirku, ya?"

"Iya. Aku tidak terlalu paham sihir orang lain, tapi kalau sihir Nona Fiona, aku bisa langsung tahu."

"? Kenapa begitu?"

"...Mungkin karena kualitas mana-nya. Rasanya jernih dan indah seperti Nona Fiona, atau bagaimana ya bilangnya..."

Sebagai seorang pengguna pedang yang semakin mahir mengendalikan mana, Ren menjadi lebih peka merasakannya. Meski begitu, ia sulit mengungkapkannya dengan kata-kata. Baginya, kalimat tadi sudah mewakili segalanya.

Fiona tertegun dengan wajah polos. Secara tidak langsung ia dipuji indah────bukan, ia memang baru saja dipuji begitu.

Begitu menyadari hal itu, Fiona sangat terkejut. Ia membelakangi Ren dan menekan kedua tangannya ke dada.

"Nona Fiona?"

"Ti... Tidak ada apa-apa! Tolong jangan dipikirkan!"

Ren yang mengetahui masa lalu Fiona sempat panik, namun Fiona segera menoleh sedikit untuk meyakinkan Ren bahwa ia baik-baik saja.

"……Tapi, yang tadi itu benar-benar serangan mendadak."

Ia tidak menjelaskan apa yang mendadak dan efek apa yang ia rasakan.

 

Sambil meninggalkan aula latihan sihir menuju gedung sekolah, mereka membicarakan soal panitia pelaksana. Meski jumlah murid yang berangkat sekolah mulai meningkat, mereka berjalan di area yang sepi sehingga bisa berbicara dengan leluasa.

"Begitulah situasinya, jadi aku ingin Nona Fiona juga ikut bergabung."

"Dengan senang hati!"

Fiona menyetujui dengan senyum manis yang menyilaukan.

"Padahal aku yang mengajak, tapi apa benar tidak apa-apa? Kalau Nona Fiona punya rencana ikut kompetisi tertentu, prioritaskan itu saja tidak apa-apa, lho!"

"Kalau itu, tidak masalah. Guru wali kelasku memang menyuruhku ikut... tapi aku sendiri tidak terlalu tertarik."

"Berarti Anda punya urusan dengan keluarga Ignat?"

"Tidak juga. Urusan itu pun tidak seberapa kok."

Ren terkejut dengan jawaban yang begitu santai, namun di saat yang sama ia merasa senang karena mendapatkan bantuan.

"Terima kasih banyak," ucap Ren sambil tersenyum.

"Jarang sekali ya. Kudengar hampir semua murid di sini ikut kompetisi."

"Ahaha... mungkin saja, tapi aku ingin menikmati festival bersama Ren-kun────"

Fiona berkali-kali melirik profil wajah Ren yang berjalan di sampingnya. Ia berniat melakukannya secara sembunyi-sembunyi, namun mendadak mata mereka bertemu. Pipinya sedikit memerah dan ia langsung membuang muka dengan panik.

"Ti-ti-tidak ada apa-apa! Sepertinya tahun ini aku sedang tidak ingin berkompetisi saja!"

"Sedang tidak ingin, ya... Anda bilang seolah-olah itu urusan orang lain saja. Tapi kalau Nona Fiona bersedia membantu, aku jadi merasa tenang."

"Aku akan berusaha keras memenuhi harapanmu. Jadi... selain aku, Ren-kun, Nona Licia, dan Yang Mulia Pangeran Ketiga, apa hanya ada kita berempat?"

"Tidak, Radius akan mengajak satu orang lagi. Kalau tidak salah nona muda dari keluarga Archeise."

"Aku tahu dia! Anda mengajak orang yang luar biasa ya!"

Fiona mulai membagikan informasi yang tidak diketahui Ren. Semakin didengar, sosok itu ternyata sama hebatnya dengan Radius.

"Saat ujian masuk saja, dia ikut dari ujian tahap pertama hanya untuk tes kemampuan, dan lulus dengan nilai sempurna di semua tahap. Sejak masuk pun, kudengar dia tidak pernah mendapat nilai selain sempurna di setiap ujian. Bahkan setelah berhenti jadi ketua OSIS, kabarnya banyak guru yang memohon padanya untuk menjabat lagi."

Namun, dia sudah tidak menjadi ketua OSIS lagi. Tahun lalu saat Radius baru masuk, ia menyelesaikan segala tugas dengan sempurna. Tapi jika ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sisi Radius, jabatan ketua OSIS justru akan menjadi penghalang. Itulah sebabnya ia mengundurkan diri tahun lalu.

"...Ternyata dia lebih hebat dari dugaanku."

"Benar kan. Oh iya, kudengar dia juga sering bekerja di istana."

Sepertinya Fiona beberapa kali pernah berpapasan dengannya di akademi. Di sisi lain, mereka belum pernah mengobrol. Konon saat nona dari keluarga Archeise itu berada di samping Radius, ia selalu fokus menjaga martabat tuannya dan tidak pernah membuka mulut sendiri.

(Mungkin dia sengaja menjaga jarak saat aku sedang bersama Radius?)

Menurut Radius, saat insiden Menara Jam ia bergerak dengan sigap. Sepertinya ia memang sengaja tidak menampakkan diri karena tidak ingin mengganggu waktu bermain dua anak laki-laki itu.

Ren menguap pelan karena merasa rileks. Fiona memang sudah latihan sejak subuh, tapi Ren juga sudah mengayunkan pedangnya di Great Saint Hall sejak pagi buta. Begitu merasa santai, rasa kantuk pun menyerang.

"Ups, maaf."

"Tidak apa-apa. Itu bukti kalau Ren-kun sudah bekerja keras."

Menunjukkan celah di depan orang lain adalah bukti bahwa Ren sudah mulai terbuka padanya. Fiona merasa senang di dalam hati.

"Haha... karena Nona Licia menggunakan sihir suci padaku, setidaknya staminaku sudah agak pulih."

Kalau tidak, mungkin ia akan terlihat jauh lebih lelah. Dan mungkin karena pembicaraan soal kondisi fisik ini, Ren menatap Fiona dan bertanya.

"Bicara soal kondisi tubuh, kesehatan Nona Fiona tidak ada masalah kan sejak 'saat itu'?"

"'Saat itu'... maksudmu sejak kejadian Asvar?"

"Iya. Aku sudah dengar dari Tuan Ulysses kalau Anda baik-baik saja, tapi aku penasaran bagaimana kondisi Anda akhir-akhir ini."

"Aku baik-baik saja kok. Sejak saat itu, mana yang biasanya bergejolak karena kekuatan 'Black Priestess' juga sudah menghilang."

Fiona menatap profil wajah Ren yang tampak lega mendengar jawabannya. Hatinya menghangat dan pipinya merona tipis karena tahu pemuda itu mengkhawatirkannya.

"Anda mengkhawatirkanku ya."

Begitu Ren menjawab lugas "Tentu saja," Fiona tertawa pelan sambil berujar "Fufu, terima kasih banyak."

Lalu segera setelah itu,

"Beri tahu aku ya kalau ada perkembangan soal panitia pelaksana. Aku ada di asrama putri, jadi Anda boleh datang kapan saja!"

Begitu masuk ke gedung sekolah, keduanya berpisah di depan tangga.

 

Dari arah depan Ren, muncul Licia dan Sera. Melihat Licia yang berlari kecil mendekati dan menyapa Ren, Sera yang datang menyusul berujar sambil mengangkat bahu.

"Kalian berdua masih saja akrab ya."

"Aduh... tiba-tiba bilang apa sih."

Licia tampak agak tersipu malu, tapi dari raut wajahnya terlihat jelas ia senang dibilang akrab.

"Lalu Ren, apa kamu lihat Vane?"

"Kalau Vane, tadi aku melihatnya menuju lantai dua."

"Terima kasih. Kalau begitu aku pergi dulu, kalian berdua jangan sampai terlambat masuk kelas ya."

Sera yang berjalan melewati mereka mendadak berhenti dan berbalik.

"Bulan Mei nanti akan ada seleksi atlet untuk berbagai cabang di Festival Lion King, kan?"

"Iya, kenapa memangnya?"

"Apa kalian berdua akan ikut seleksi juga?"

"Tidak. Aku dan Ren tidak ikut."

"Kenapa!? Padahal aku sangat menantikan bisa bertarung melawan kalian berdua di sana!"

Namun setelah dijelaskan alasannya, Sera pun mengangguk paham. Mendengar ada yang bersedia menjadi panitia pelaksana di Akademi Militer Kekaisaran, orang-orang yang berpartisipasi dalam kompetisi seperti Sera tentu akan sangat berterima kasih.

Sera membungkuk sopan untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, lalu berkata:

"Tapi, sebentar lagi kelas ilmu pedang akan dimulai, aku sudah tidak sabar."

Di akademi ini, terutama kelas beasiswa memiliki kebebasan tinggi dalam memilih mata pelajaran.

Selain pilihan mata pelajaran yang lebih banyak dari kelas reguler, mereka juga punya wewenang luas untuk menentukan kelas mana yang ingin mereka ambil.

Selama nilai kredit wajib tidak bermasalah, mereka bisa fokus pada bidang yang ingin mereka kembangkan.

Salah satunya adalah kelas ilmu pedang, kelas yang paling dinantikan oleh Sera.

Saat siang tiba, pendaftaran panitia pelaksana pun ditutup. Sesuai dugaan, lima orang termasuk Ren resmi ditetapkan sebagai panitia pelaksana.

 

Setelah kelas berakhir, Licia bilang ingin berbelanja dulu bersama Sera sebelum pulang. Akademi Militer Kekaisaran tidak melarang muridnya mampir ke toko atau jajan di luar.

Selama tidak melakukan hal yang merusak martabat akademi, tidak akan ada masalah.

Dan untuk mereka berdua, kekhawatiran semacam itu tidak perlu ada.

Sore harinya, Ren berkunjung sendirian ke bengkel milik Werlich di distrik pandai besi.

"Selanjutnya, aku harus membuatkan pelindung tubuh yang menyesuaikan pertumbuhan badanmu, Ren."

Werlich. Seorang Dwarf langka yang berprofesi sebagai pandai besi sekaligus teknisi kapal sihir. Ren mengenalnya di Ibukota. Sejak saat itu, melalui perantara Ulysses, ia dipercaya untuk menangani perbaikan kapal sihir keluarga Clausel.

Pelindung tubuh pertama yang dibuat dari tanduk Asvar adalah Flame King's Gauntlet yang sudah selesai lebih dulu.

"Maaf ya kalau pelindung tubuhmu jadi agak lama pengerjaannya."

"Aku tidak keberatan kok. Kan aku sendiri yang minta untuk memprioritaskan perbaikan kapal sihir Lemuria. Lagipula Paman Werlich juga sudah bilang, kan?"

"Oh? Bilang apa?"

"Paman sedang mencari material monster untuk pelindung tubuhku yang berikutnya, kan?"

"Yah, begitulah. Tapi setelah bicara dengan si bocah tengik Ulysses itu, akhirnya materialnya akan segera sampai."

"Artinya, begitu materialnya sampai, Paman bisa langsung mulai?"

"Tentu saja! Aku akan bekerja keras untuk menebus waktu menunggumu. Nantikan saja pelindung tubuh buatanku. Nah, kalau begitu hari ini kita ke taman gantung lagi untuk memperbaiki Lemuria!"

Werlich menepuk otot lengannya yang sebesar kepala anak kecil dengan tangan satunya, lalu tertawa lebar.

"Ini sudah hampir petang, lho?"

"Material untuk suku cadang baru akan sampai. Sudah jadi sifat pria untuk ingin segera melihat barang baru!"

Ren keluar dari bengkel bersama Werlich. Werlich mengunci bengkelnya, lalu mulai melangkah lebar-lebar sambil menguap santai. Ren mengikuti dari belakang.

"Bagaimana sekolahmu?"

"Biasa saja. Rasanya seperti mengikuti pelajaran seperti biasa setiap hari."

"Apa-apaan itu, masa tidak ada cerita yang lebih... berjiwa muda?"

"Memangnya cerita seperti apa yang Paman harapkan?"

"Misalnya, bagaimana dengan kelas ilmu pedangmu?"

"Kalau itu, sepertinya akan segera dimulai."

Tepat setelah masuk sekolah memang ada beberapa kelas yang belum dimulai, dan kelas ilmu pedang adalah salah satunya. Itu karena murid baru ternyata punya banyak hal yang harus dilakukan.

"Hooo... tapi ya, mungkin Ren tidak perlu ikut juga tidak apa-apa. Di kelas beasiswa akademi itu, selama nilai ujianmu bagus, sisanya tidak terlalu dipermasalahkan. Lebih baik bolos dan belajar mandiri untuk mata pelajaran lain."

Secara tersirat ia mengatakan bahwa bagi Ren yang setiap hari mengasah pedang di Great Saint Hall, kelas ilmu pedang di akademi tidak akan memberikan pelajaran baru apa pun. Begitu juga bagi Licia.

"Malah lebih baik kalau kamu yang jadi pengajarnya."

"Jangan bercanda, mengajar itu punya tingkat kesulitan tersendiri. Seandainya Paman diminta negara untuk mengajarkan teknik Paman kepada anak muda, apa yang akan Paman lakukan?"

"Gwahahaha! Tidak mungkin dan sia-sia! Mana mungkin aku bisa mengajar orang!"

"Aku juga tidak tahu akan jadi seperti apa, tapi aku merasakan hal yang sama."

"Ooh, begitu ya..."

Werlich yang sedari tadi menatap langit mengganti topik pembicaraan.

"Omong-omong Ren, apa kamu sudah dengar kalau pasukan militer akan pulang dari Benua Martel?"

"Tidak, sama sekali tidak tahu. Ini pertama kalinya aku dengar kalau militer Leomel melakukan ekspedisi ke Benua Martel."

Benua Martel terletak di sebelah timur Benua Elfen. Skalanya lebih kecil dari Benua Elfen.

Negara-negara di sana pun kebanyakan negara kecil yang tidak sebanding dengan negara di Benua Elfen, dan konflik di sana tidak pernah berhenti.

Di zaman game dulu, Ren tidak pernah punya kesempatan ke sana, jadi ia hanya tahu informasi tersebut.

Namun sejak Ren hidup di dunia ini, ia mendapatkan informasi tambahan dari belajar untuk ujian dan kesempatan lainnya.

Mulai dari persentase bahasa yang digunakan, hingga komposisi ras penduduknya.

"Kenapa militer Leomel dikirim ke sana?"

"Kabarnya tim bantuan kemanusiaan yang dikirim oleh Holy Land ke Benua Martel terjebak konflik beserta markas operasional mereka. Karena Holy Land meminta bantuan pasukan pada Leomel, maka Leomel mengirim pasukan demi mendapatkan rasa hutang budi dari Holy Land dan markas pusat mereka, Silver Holy Palace."

"Kalau begitu masa tugasnya pasti lama ya."

"Kira-kira hampir dua tahun sejak sebelum kamu pindah ke sini? Kekuatan tempur yang dikirim sekitar puluhan orang, harusnya sekitar satu peleton."

"Eh, sepertinya jumlahnya sedikit sekali ya."

Ren sempat berpikir apa yang bisa dilakukan oleh jumlah segitu di wilayah konflik. Namun, setelah mendengar kalimat berikutnya, Ren pun mengangguk paham sebagai hal yang wajar.

"Soalnya tidak ada satu pun dari mereka yang bukan elit dari Great Saint Hall. Sekalian saja buat ajang pamer kekuatan, kan."

"────Ternyata lebih dari cukup."

"Apalagi yang memimpin adalah Komandan Great Saint Hall sendiri. Kalau si 'Kakak Besar' itu ada, konflik antar negara kecil saja mungkin bisa dia bereskan sendirian."

Mendengar kata 'Komandan', mata Ren bergetar sesaat.

"Meskipun ada alasan mendesak, orang sehebat itu sampai meninggalkan negara selama hampir dua tahun ya."

"Ngh? Dipikir-pikir benar juga ya."

Seandainya itu perang yang sangat krusial mungkin masuk akal, tapi sepertinya bukan itu masalahnya.

Mungkin ada sesuatu yang disembunyikan sehingga berujung pada pengiriman jangka panjang, namun Ren yang baru saja mendengar ceritanya tidak bisa membayangkan apa pun. Apapun itu, ini adalah informasi yang menarik.

"Omong-omong, Ren sepertinya cukup tahu tentang si Kakak Besar itu ya."

"E-etoo... aku sering mendengar nama dan rumor tentang kekuatannya."

Tentu saja itu pengetahuan dari zaman game, dan ia harus berusaha keras mengingat memori yang mulai memudar. Yang jelas, komandan tersebut adalah sosok yang sangat kuat. Ren mencoba mengingat kembali sambil berjalan bersama Werlich.

Komandan Great Saint Hall, Estelle Osroes Drake. Ksatria nomor satu di Leomel yang memiliki julukan 'Death Eater'. Karena King of Swords tidak berada dalam posisi ksatria resmi, secara teknis Estelle-lah yang berada di puncak.

Ia pertama kali muncul setelah cerita utama Seven Heroes Legend I berakhir.

Secara kronologi, itu adalah cerita saat musim dingin tahun pertama para protagonis.

Jika diletakkan dalam situasi Ren saat ini, itu berarti musim dingin mendatang.

Keturunan dari Tujuh Pahlawan memang sudah muncul semua di tahap I, namun angkatan di bawah mereka tidak bergabung dalam party. Itu adalah masa di mana protagonis membentuk party dengan rekan seangkatan dan kakak kelas.

Syarat memicu event-nya adalah menyelesaikan seluruh sub-story Seven Heroes Legend I setelah cerita utama tamat. Saat pergi ke depan ruang Kepala Sekolah sepulang sekolah, suara Estelle akan terdengar dari dalam.

'Aku akan pergi sekarang. Baginda sudah memanggilku.'

'Ya. Sampai jumpa lagi, Estelle.'

Sosok yang muncul dari ruang Kepala Sekolah itulah Estelle. Estelle hanya melirik sekilas ke arah para protagonis dan langsung pergi tanpa ada percakapan khusus.

Di akhir event, pemain akan mendapatkan achievement Descendant of the Hero, yang menandakan Seven Heroes Legend I telah tamat dalam arti yang sesungguhnya.

Kemunculannya berikutnya ada di Seven Heroes Legend II.

Setelah insiden Ren Ashton pecah, ia mulai mengejar Kultus Raja Iblis dan Ren Ashton secara terpisah dari kelompok protagonis, dan ada beberapa event di mana mereka bertemu dan berbincang.

Ia adalah sosok yang tidak menjadi kawan maupun lawan, dan kekuatannya yang sebenarnya tetap menjadi rahasia di tahap II, selain dari apa yang tertulis di profil karakternya.

"Ren, kenapa tiba-tiba melamun?"

"Maaf. Aku sedang membayangkan seperti apa sosok beliau."

"Ooh, begitu ya. Hmm... Ren, apa kamu ingin bertemu dengannya?"

"Itu pilihan yang sulit, tapi sepertinya beliau bukan orang yang bisa ditemui dengan mudah────tunggu, Paman Werlich, dari tadi Paman memanggilnya 'Kakak Besar' terus, ya?"

"Estelle itu salah satu pelangganku. Begitu pulang pasti dia akan langsung datang ke tempatku, atau kalau tidak, bukankah kamu bisa bertemu dengannya di Great Saint Hall?"

Mendengar hal itu, Ren tertegun sejenak sebelum akhirnya mengangguk mengerti. Kemampuan Werlich memang tidak perlu diragukan lagi. Ren tidak menyangka bahwa selain King of Swords, Komandan Great Saint Hall pun adalah pelanggannya. Tapi dipikir-pikir, memang masuk akal.

"Kalau ketemu, beri salam yang sopan ya."

"...Akan kulakukan."

Setelah topik itu berakhir, keheningan menyelimuti mereka selama belasan detik sebelum Werlich kembali menguap. Ia melihat ke arah distrik pandai besi seolah sedang mengamati situasi.

"Distrik pandai besi akan mulai ramai lagi. Selalu begitu kalau sudah mendekati Festival Lion King."

"Bukankah senjata dan pelindung yang dipakai murid sudah disiapkan oleh panitia Festival Lion King?"

"Kalau untuk itu memang iya, tapi ini untuk para pengunjung. Di Ibukota kan banyak pandai besi terkenal."

Werlich menunjuk ke arah deretan bengkel pandai besi ternama di distrik itu.

Di sana tidak hanya terlihat para murid, tapi juga banyak bangsawan dan orang kaya. Bahkan sudah terlihat beberapa orang yang tampaknya adalah turis dari luar negeri.

"Kudengar bengkel yang sedang ramai itu menambah stok barang untuk para tamu yang datang saat Festival Lion King nanti."

"Memang waktunya mencari untung ya. Tapi, Paman Werlich sendiri sepertinya tidak bekerja?"

"Gwahahaha! Ren, kamu sudah mulai memahamiku ya! Baiklah! Nanti akan kuberikan pisau masak yang kubuat kemarin! Dipikir-pikir, aku kan tidak memasak sendiri!"

Pasti koki di rumah akan senang menerimanya.

 

Kapal sihir yang menuju Leomel sedang membelah langit malam. Di tengah perjalanan, beberapa kapal sihir berhenti di udara, menghubungkan jembatan khusus agar orang-orang bisa saling menyeberang.

"Jenderal! Dari sini ke depan kita akan memasuki wilayah udara Leomel!"

Beberapa pengguna pedang hebat menyapa seorang wanita jangkung. Rambutnya sangat panjang hingga hampir mencapai pinggang.

Rambut berwarna merah scarlet yang lebat itu memancarkan kesan elegan. Dengan wajah yang rupawan, ia memiliki kekuatan yang tak terlukiskan serta aura intimidasi khas pengguna pedang hebat.

Dialah Komandan Great Saint Hall, Estelle Osroes Drake.

Para ksatria Great Saint Hall yang baru pertama kali melihat sosoknya lagi setelah sekian lama, hanya bisa menahan napas menghadapi wibawa yang terpancar darinya.

Si wanita tangguh itu berkata.

"Kalian semua adalah orang-orang yang akan berangkat ke Benua Martel setelah ini, ya."

Estelle mengenakan seragam militer hitam pekat yang menjuntai hampir menyentuh lantai dengan sangat sempurna. Terpaan angin malam di ketinggian itu membuat seragamnya berkibar layaknya sepasang sayap.

Ksatria Great Saint Hall menyahut suara Estelle.

"Siap! Kami diperintahkan untuk menuju ke sana sebagai pasukan bantuan!"

Itulah alasan mengapa mereka sengaja melakukan pertemuan di udara. Orang-orang di sekitar yang berlalu-lalang di atas kapal sihir sedang sibuk berbagi berbagai informasi.

"Bagaimana keadaan Great Saint Hall selama aku tidak ada? Apakah kalian semua tetap tekun mengasah diri tanpa bermalas-malasan?"

Dari barisan ksatria yang ditanya, seorang pria maju mewakili untuk angkat bicara. Ia adalah ksatria bertubuh raksasa yang membanggakan kekuatannya, sosok yang juga sering beradu pedang dengan Ren saat pemuda itu berlatih di Great Saint Hall.

Bahkan pria segarang dia pun merasa tubuhnya kaku karena ketegangan yang sudah lama tidak ia rasakan saat berdiri di depan Estelle.

"Tentu saja. Akhir-akhir ini, ada alasan yang membuat kami harus berlatih lebih keras dari sebelumnya."

"Jangan-jangan────kalian telah melakukan kelalaian di hadapan Keluarga Kekaisaran?"

Hawa keberadaan yang menyelimuti Estelle berubah. Para ksatria Great Saint Hall memang memiliki kesetiaan yang luar biasa kepada Keluarga Kekaisaran, namun kesetiaan Estelle jauh melampaui mereka semua.

Oleh karena itu, ia mengkhawatirkan kemungkinan bawahannya melakukan kesalahan, sehingga suaranya kini mengandung tekanan intimidasi.

Menghadapi tekanan tersebut, sang ksatria menelan ludah, namun ia segera menyampaikan maksud aslinya.

"Kami hanya menyadari kekurangan kekuatan kami saat berhadapan dengan bakat baru."

"Bakat baru, katamu?"

Ksatria itu menceritakan tentang Ren Ashton yang mulai datang ke Great Saint Hall atas rekomendasi Ulysses Ignat, serta tentang Licia Clausel.

Mendengar cerita itu, Estelle tampaknya menaruh minat tidak hanya pada Licia, tetapi juga pada Ren.

"Saya yakin Yang Mulia Komandan akan langsung paham jika melihatnya sendiri."

Lalu, ksatria lainnya ikut bicara.

"Tuan Ren sudah berada di level Ksatria Pedang, dan musim panas lalu ia mengangkat pedang di sisi Yang Mulia Pangeran Ketiga, menunjukkan pencapaian luar biasa dalam insiden Menara Jam. Mungkin hari di mana ia menjadi Master Pedang tidak akan lama lagi."

"Anak laki-laki yang menjadi teman Yang Mulia Radius, ya. Aku memang pernah mendengar rumornya."

Sambil memikirkan Ren Ashton, Estelle mengarahkan wajahnya ke arah tanah airnya, Leomel.

Namun, ia mengembuskan napas sambil berpikir bahwa segalanya hanya bisa dinilai setelah melihatnya secara langsung. Ia meletakkan tangan di bahu bawahannya yang akan berangkat ke Benua Martel menggantikannya.

"Aku mendengar cerita yang menarik. Aku serahkan sisanya pada kalian."

"Siap!"

Setelah memberikan kobaran semangat, Estelle pun melanjutkan perjalanan pulangnya menuju tanah air yang ia cintai.

 

Keesokan harinya. Ada banyak hal yang berkecamuk di pikirannya setelah sekian lama meninggalkan rumah. Perasaan hangat bergejolak saat ia menatap pemandangan sore tanah airnya dari jendela kapal sihir.

Pesawat militer yang ia tumpangi mendarat di pangkalan kapal sihir milik militer di pinggiran Ibukota. Dari sana, ia menaiki kereta sihir yang berjalan di atas rel khusus menuju stasiun dekat Great Saint Hall. Begitu turun dari kereta sihir, ia langsung menuju Istana Kekaisaran.

Saat langit mulai berada di ambang antara sore dan malam, Estelle tiba di istana dan melakukan audiensi dengan Kaisar. Setelah menerima kata-kata penghargaan dari Kaisar, ia bertanya tentang insiden di Erendil musim panas lalu.

Namun, Kaisar menyuruhnya untuk bertanya langsung kepada Radius. Kaisar menambahkan bahwa hal itu akan lebih praktis, mengingat ada alasan sebenarnya di balik misi ekspedisi jangka panjang tersebut.

Begitu Estelle keluar dari ruang audiensi, ia melihat Radius yang sedang menyandarkan punggungnya di dinding koridor.

"Yang Mulia Radius! Sudah lama sekali!"

Sosok Radius terlihat sangat serasi di koridor marmer hitam yang interiornya mirip dengan Great Saint Hall.

Mendengar suara Estelle, Radius menjauhkan punggungnya dari dinding dan melangkah mendekati Estelle yang sedang berjalan ke arahnya.

Melihat itu, Estelle bergegas hendak berlutut, namun karena Radius berkata "Santai saja," ia pun mengurungkan niatnya dan merapikan postur berdirinya.

"Padahal aku bilang santai saja."

"Bagi saya, ini adalah posisi yang paling santai. Mohon maklumi."

"Ya ampun... kamu tidak berubah ya."

Radius menepuk bahu Estelle pelan.

"Bagi orang yang sangat mencintai Leomel sepertimu, ekspedisi jangka panjang ini pasti terasa berat di hati."

"Sama sekali tidak. Tidak ada kehormatan yang lebih tinggi daripada menerima misi rahasia dari Baginda Kaisar dan Yang Mulia Radius."

"Maafkan aku. Tapi kudengar misi itu membuahkan hasil."

"Benar. Saya sudah melapor kepada Baginda. Saya juga sangat ingin menyampaikannya kepada Yang Mulia Radius."

Keduanya mulai berjalan beriringan seolah sudah direncanakan. Cahaya jingga yang masuk dari jendela mulai memudar di tengah percakapan mereka.

"Yang Mulia Radius meminta bantuan saya pada musim semi dua tahun lalu, bukan?"

"Benar. Beberapa bulan sebelum itu, aku banyak merenung tentang insiden yang pecah di Pegunungan Baldur. Fokus utamanya adalah apakah keberadaan Kultus Raja Iblis hanya mengincar negara kita saja atau tidak."

"Dan pada saat itu, permintaan bantuan dari Holy Land datang di waktu yang sangat tepat."

Radius mengangguk, lalu berkata sambil mengenang masa itu.

"Bagi kita, itu bisa membuat mereka berhutang budi. Ditambah lagi, kita bisa melakukan sedikit pamer kekuatan."

"Namun, tujuan sebenarnya berbeda."

Kalimat tegas Estelle itulah alasan mengapa sosok sehebat dirinya sampai meninggalkan tanah air selama hampir dua tahun.

"Baginda dan Yang Mulia Radius memiliki tujuan tertentu dan memberikan misi rahasia kepada saya. Selama meninggalkan tanah air, saya mengikuti perintah itu dan telah menyelidiki banyak hal."

Isi misi rahasia itu adalah penyelidikan. Secara formal, ia memimpin pasukan bantuan ksatria Great Saint Hall, dan memang benar ia bekerja sama dalam bantuan kemanusiaan di wilayah konflik.

Namun, ia tidak meninggalkan tanah air hanya untuk hal itu saja. Estelle memiliki misi, sebuah misi rahasia untuk menyelidiki apakah Kultus Raja Iblis terlibat dalam konflik di wilayah tersebut, serta mencari informasi sekecil apa pun mengenai Kultus Raja Iblis.

Estelle bahkan sempat menjelajahi Benua Martel sendirian. Itulah alasan utama mengapa orang dengan kedudukan setinggi dirinya absen selama hampir dua tahun.

Memang lebih baik memiliki banyak kekuatan tempur untuk melindungi Keluarga Kekaisaran dan Ibukota.

Estelle sempat merasa bimbang dengan misi jangka panjang ini karena alasan tersebut, namun Leomel memiliki King of Swords.

Jika situasi sudah tidak bisa ditangani oleh King of Swords, maka keberadaan Estelle pun tidak akan mengubah keadaan.

Kaisar dan Radius pun sempat mengalami pergolakan batin. Meskipun ini adalah penyelidikan yang sangat penting, mereka sempat ragu untuk mengirim orang sehebat Estelle ke luar negeri selama dua tahun.

Namun, justru karena ini adalah tugas yang sangat penting, maka Estelle-lah yang harus melakukannya.

"Saya telah melanjutkan aktivitas penyelidikan di Benua Martel dan berhasil mendapatkan informasi mengenai orang-orang yang diduga sebagai petinggi Kultus Raja Iblis."

Jika demikian, maka pengirimannya bisa dikatakan membuahkan hasil yang berarti. Ini adalah bukti bahwa Leomel tidak meremehkan keberadaan Kultus Raja Iblis, dan jika ia bisa menunjukkan nilai dari misi rahasia ini, seharusnya tidak ada yang akan memprotes.

"Meskipun laporan rutin selalu sampai, aku sudah sangat tidak sabar untuk mendengarnya secara langsung."

Ada juga informasi yang didapat dari Lenidas, orang yang menyerang Menara Jam Erendil musim panas lalu. Dari hasil interogasi, diketahui bahwa Kultus Raja Iblis telah menyerang sebuah kuil dan mencuri artefak suci bernama Elfen's Tear yang disimpan di sana.

Saat itu, Lenidas dan para pemuja Raja Iblis kabarnya dipimpin oleh seseorang yang disebut Pemimpin Kultus. Informasi-informasi ini juga telah dibagikan kepada Estelle yang berada di Benua Martel yang jauh dari Leomel.

Estelle mengeluarkan selembar kertas dari balik seragam militernya. Radius menerimanya dan mulai membaca, sementara Estelle melanjutkan.

"────Bagaimana Anda bisa sampai pada nama pria ini?"

"Semuanya adalah kesimpulan berdasarkan informasi yang didapat dari Kultus Raja Iblis."

"Kamu bertarung dengan mereka?"

"Benar. Tampaknya mereka juga beraksi di balik layar di wilayah konflik, dan saya sempat beberapa kali bertemu dengan Kultus Raja Iblis saat melakukan penyelidikan di sana. Namun, saya tidak bertarung dengan pria yang tertulis di sana."

Estelle telah beradu pedang berkali-kali dengan para pemuja Raja Iblis, namun ia menyelesaikan semua pertempuran itu tanpa luka sedikit pun.

Dengan menginterogasi lawan dan mengumpulkan informasi-informasi kecil dari barang bawaan mereka selama kurang lebih dua tahun, ia akhirnya sampai pada satu sosok.

"Pria itu diduga adalah sang Pemimpin Kultus."

"...Menurut legenda, dia adalah salah satu orang yang menjabat sebagai ajudan Raja Iblis, bukan?"

"Tidak ada catatan pasti yang menyatakan pria itu sudah mati. Yang ada hanyalah catatan bahwa ia menghilang tepat saat Raja Iblis tewas."

Radius menggumam "Memang benar begitu" sambil berjalan, matanya menatap tajam ke arah kertas perkamen tersebut. Estelle yang berjalan setengah langkah di belakangnya berkata sambil tetap memperhatikan sang pangeran.

"Apakah Yang Mulia masih ingat tentang kuil yang dulu diserang oleh mereka?"

"Maksudmu tempat di mana Elfen's Tear dicuri? Aku ingat, memangnya kenapa?"

"Saya berhasil bertemu dengan petualang yang sempat berkunjung ke kuil tersebut. Menurutnya, pada saat itu, ada dua orang ajudan yang mendampingi sosok yang diduga Pemimpin Kultus tersebut."

"Informasi itu bahkan tidak bisa didapat dari Lenidas. Apa ada informasi mengenai penampilan mereka berdua?"

"Tidak ada. Baik orang-orang di Holy Land maupun para petualang yang ada di sana mengatakan bahwa sosok yang diduga Pemimpin Kultus dan kedua ajudannya itu mengenakan jubah dan menyembunyikan wajah mereka dengan topeng."

Dulu, Ren pernah bergerak untuk membagikan informasi tentang Kultus Raja Iblis berdasarkan pemikirannya sendiri.

Informasi yang ia miliki tentang Kultus Raja Iblis────meskipun lokasi kemunculan mereka sudah tidak bisa dijadikan patokan lagi, informasi yang bisa dibagikan sangatlah sedikit. Informasi yang ia bagikan kepada Ulysses saat insiden Pegunungan Baldur adalah hampir seluruh informasi yang Ren ketahui.

"Begitu informasi ini dirangkum, aku harus menyampaikannya kepada Ren dan Ulysses."

Ren juga sudah tahu tentang keberadaan sosok yang disebut Pemimpin Kultus, dan informasi itu telah dibagikan.

Ren sebenarnya sudah mengetahui keberadaan Pemimpin Kultus karena sosok tersebut menampakkan diri di akhir cerita Seven Heroes Legend II. Itulah sebabnya ia mengernyitkan dahi saat mendengar kata "Pemimpin Kultus" pada insiden musim panas lalu.

 Namun, karena Pemimpin Kultus yang dilihat Ren pun menyembunyikan sosoknya seperti dalam laporan Estelle, maka ini akan menjadi pertama kalinya Ren mengetahui nama, ras, serta keberadaan dua petinggi utama mereka.

"Aku ingin mendengar lebih banyak lagi. Apa boleh?"

"Tentu saja. Tidak mungkin saya pulang ke kediaman tanpa memberikan laporan lengkap."

"Maaf ya. Aku sudah memesan hasil bumi dari kampung halamanmu, Drake, dan Gunung Osroes. Mari kita dengarkan perlahan sambil makan."

Setelah mengatakan itu, Radius bergumam.

"...Kita akan menjadi sangat sibuk."

 

Setelah pembicaraan dengan Estelle berakhir, Radius menuju kamarnya untuk membaca laporan. Sementara itu, Estelle yang sedang berjalan di dalam istana mendadak dipanggil oleh ksatria pengawal untuk kembali ke ruang audiensi.

Di sana, ia menerima perintah baru dari Kaisar, dan sebelum meninggalkan ruangan, ia diberikan satu perintah tegas.

Isi dari tugas baru ini tidak boleh diketahui oleh siapa pun. Bahkan oleh Radius ataupun Permaisuri sekalipun. Meskipun Estelle merasa heran dengan isi tugas tersebut, ia tetap menjawab "Serahkan pada saya" kepada Kaisar.

"Beliau memberikan tugas yang tidak biasa lagi."

Malam semakin larut. Setelah keluar dari istana, Estelle menatap langit yang penuh bintang, lalu memulai perjalanan pulangnya menuju kediamannya sendiri setelah sekian lama.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close