NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 4 Chapter 7

Chapter 7

Layaknya Putri dari Negeri Asing


Di atap akademi saat sepulang sekolah, tampak Sera tengah mengobati luka memar ringannya.

Cahaya putih yang menyelimuti tubuhnya adalah perwujudan dari sihir suci milik Licia.

"Bukan cuma pedang, sihir sucimu juga hebat, ya."

Ucapan Sera tidak terdengar iri, melainkan seperti sebuah tekad bahwa ia pun harus berjuang lebih keras lagi.

Licia menatap wajah Sera, mungkin karena kurang mendengar jelas apa yang dikatakannya.

"Kamu bilang sesuatu?"

"Bukan apa-apa. Cuma bicara sendiri."

Licia hanya bergumam, "Sera aneh," lalu memadamkan cahaya sihir sucinya.

Ia teringat kembali pada seleksi perwakilan turnamen bela diri yang baru saja selesai digelar tadi.

Acara yang dipadati banyak murid hari ini merupakan yang paling meriah dibandingkan seleksi perwakilan cabang olahraga lainnya.

"Syaah!"

Pertama, Kaito terpilih sebagai perwakilan.

"Bagus! Dengan ini aku jadi perwakilan!"

Selanjutnya, Vane pun berhasil menyusul.

"Kurasa cukup sampai di sini."

Terakhir, Sera mengamankan kursi perwakilan sesuai dengan reputasinya.

Selain mereka bertiga, ada satu orang lagi—nona muda dari keluarga Archduke di tahun kedua—yang juga terpilih, namun ia langsung meninggalkan akademi untuk urusan keluarga tepat setelah seleksi berakhir.

Licia mendoakan perjuangan Sera di babak utama nanti sebelum akhirnya beranjak pergi.

Ia baru bergerak setelah melihat Vane dan yang lainnya datang ke atap.

"Aku pergi dulu, ya. Jangan karena senang terpilih jadi perwakilan, kalian malah lengah dan terluka."

"Aku sudah tahu, tahu!"

Dengan rambut sewarna campuran perak dan amestise yang berkibar, Licia memunggungi Sera.

Ke arah punggung itu, Sera berseru,

"────Hei, menurutmu apa yang akan terjadi jika Licia ikut dalam seleksi perwakilan?"

Licia menghentikan langkahnya mendengar suara sahabatnya itu.

Ia menatap pemandangan senja yang mulai ditelan kegelapan malam sejenak, lalu menoleh sambil tersenyum nakal.

"Bodoh. Tidak ada gunanya membicarakan pengandaian di sini."

Sera melepas kepergian Licia tanpa sepatah kata pun lagi.

◇◇◇

Dalam perjalanan kembali ke ruang komite pelaksana, Ren berbincang dengan Radius yang berjalan di sampingnya.

"Dengan mereka berempat, aku yakin mereka pasti akan menang di babak utama nanti."

"Ya, terutama Kaito Leonard. Serangan dan pertahanannya sangat luar biasa."

Keluarga Leonard memiliki aliran yang berbeda dari teknik pedang suci; mereka adalah garis keturunan yang mewarisi cara bertarung menggunakan perisai raksasa secara turun-temurun.

Sulit untuk membandingkan kemahiran pedangnya dengan yang lain, namun daya serang dan pertahanan saat menggunakan teknik bertarung adalah sesuatu yang patut dicatat.

Meski seleksi perwakilan mulai mereda, tugas Ren dan yang lainnya belum usai.

"Pekerjaan kita juga sudah hampir mencapai tahap akhir, ayo semangat."

"Mengenai hal itu, aku dan Mirei akan membawa sisa pekerjaan dokumen ke istana. Ren, kalian beristirahatlah untuk memulihkan tenaga demi tugas besok."

"Kalau begitu, bukankah lebih baik kita kerjakan bersama saja? Tidak perlu hanya Radius dan yang lain yang bekerja keras."

"Ada hal lain yang ingin kupinta sebagai gantinya. Maaf ini mendadak."

Saat Radius tiba-tiba meminta sesuatu, biasanya itu berarti ada pembicaraan penting.

Ren merasa kali ini pun sama; Radius meletakkan tangan di pundak Ren dan mendekatkan wajahnya.

"Ayo ajak Ulysses juga, kita makan malam bersama di Arnea."

"────Makan di penginapan kebanggaan Arneverde Company?"

"Bagaimana?"

Jelas sekali bahwa ini adalah pembicaraan yang harus dilakukan di tempat yang lebih formal.

Pertemuan yang diadakan dengan menyewa seluruh restoran di lantai teratas Arnea itu dihadiri oleh Ren, Radius, dan Ulysses.

Hidangan lezat karya koki Arnea disajikan di depan mereka.

Bahkan Ulysses yang sudah kenyang pengalaman menikmati berbagai kuliner pun memuji masakan tersebut.

Setelah perut mereka terisi, Radius berkata "Ada yang ingin kutunjukkan" dan menyerahkan beberapa lembar dokumen kepada keduanya.

"Pertama-tama, izinkan aku meminta maaf."

Misi rahasia apa yang dipercayakan kepada Komandan Estelle di Benua Martel?

Informasi apa yang ia bawa pulang? Radius meminta maaf karena butuh waktu terlalu lama baginya untuk menceritakan semua itu kepada mereka berdua.

"Seharusnya ini adalah hal yang harus kubagikan lebih awal. Namun, karena masalah ini sangat sensitif dan melibatkan misi rahasia Estelle, aku pun butuh persiapan."

"Sepertinya Anda diam-diam memberikan perintah tertentu, ya."

"Kau sudah tahu?"

"Tentu saja! Aku, Ulysses, sangat memahami Yang Mulia Radius!"

Ulysses berkata dengan nada yang dilebih-lebihkan namun tampak bersenang-senang.

Ia segera menoleh ke arah Ren dan tertawa, "Kamu juga sudah tahu, kan?"

"Aku sempat berpikir mungkin ada sesuatu, tapi hanya sebatas itu."

Setelah basa-basi selesai, keduanya mulai memeriksa dokumen tersebut.

Isinya adalah laporan Estelle kepada Radius mengenai pemimpin Kultus Raja Iblis, serta informasi tentang adanya dua eksekutif agung di bawah pria itu.

Pertama, mengenai sang pemimpin.

"Dia adalah pria keturunan murni vampir, sang Progenitor, yang dipercaya oleh Raja Iblis untuk menguasai wilayah Selakia, wilayah iblis nomor satu di Benua Iblis."

Namanya Medario. Tidak memiliki nama keluarga.

Meski ada banyak informasi dalam legenda, rupa fisiknya tidaklah pasti.

Meskipun tidak ada catatan dirinya bertarung melawan Tujuh Pahlawan, fakta bahwa ia mengamuk di seluruh dunia tercatat dalam sejarah berbagai negara.

"Ada catatan bahwa pria seperti itu adalah ajudan Raja Iblis, tapi apakah sudah pasti pria itu masih hidup?"

"Ya. Kedepannya kita harus bertindak dengan mempertimbangkan informasi ini."

"Meski kita berhadapan dan menangkap anggota Kultus Raja Iblis, apakah mereka akan berakhir seperti mantan Uskup Lenidas?"

"Kemungkinan besar mereka akan melemah dan kehilangan nyawa seperti pria itu. Namun, kita tidak bisa tinggal diam."

Mantan Uskup Lenidas yang menyerang Menara Jam tidak mampu bertahan melewati musim panas itu.

Meski setelah ditangkap ia diberikan nutrisi agar tidak mati dan dikelola dalam lingkungan yang tidak bisa dikatakan buruk, ia mengembuskan napas terakhir seperti balon bocor yang mengempis.

Segel Kultus Raja Iblis seolah-olah merenggut kekuatan Lenidas.

"Mari kembali ke topik. Nama pemimpinnya diduga adalah Medario. Jika itu salah────"

"Maksudmu si pemimpin hanya mengaku-ngaku sebagai Medario?"

"Bisa jadi, tapi aku tidak yakin pemimpin dari komplotan yang merencanakan kebangkitan Raja Iblis akan memalsukan identitas ajudan Raja Iblis."

"Benar juga... Apalagi dia adalah ajudan yang tidak memiliki catatan kematian. Memalsukan namanya adalah puncak kebodohan."

"Artinya, kita harus tetap waspada. Lebih baik kita bergerak dengan asumsi bahwa dalang musuh adalah Medario sang Progenitor Vampir, itu tidak akan merugikan kita."

Di sana, Ren mengutarakan keraguannya.

Sebagai orang yang memiliki pengetahuan dari era legenda Tujuh Pahlawan, ini pertama kalinya Ren mendengar nama Medario.

"Apakah informasi tentang Medario ada di dalam buku?"

"Ada, tapi tidak banyak."

Ulysses menatap Ren.

"Menurutmu kenapa informasinya sedikit? Ada alasan kuat di baliknya."

"Selain karena dia tidak bertarung melawan Tujuh Pahlawan, kan?"

"Tentu saja. Ada alasan yang menentukan."

"Misalnya──── siapa pun yang melihat sosoknya pada dasarnya akan kehilangan nyawa?"

"Ya, Medario kabarnya sangat kuat. Karena pasukan Raja Iblis yang ia pimpin telah memusnahkan banyak negara, hampir tidak ada catatan yang tersisa."

"Aku membagikan informasi ini kepada kalian berdua sebelum memberitahukannya kepada bangsawan lain. Kedepannya, jangan lupakan Medario sang pemimpin Kultus Raja Iblis, serta dua eksekutif agungnya."

Ren menyimpan dokumen itu ke balik bajunya karena ia diperbolehkan membawanya pulang.

Diputuskan bahwa Ren yang akan menyampaikan hal ini kepada Lezard yang tidak bisa hadir.

"Sebenarnya aku ingin memanggilnya hari ini, tapi akhir-akhir ini Lezard tampak jauh lebih sibuk dariku. Aku tidak bisa memanggilnya semauku."

"Sejak menjadi Viscount, sepertinya beliau sering dihubungi banyak pihak."

"Mengenai hal itu, para pedagang di wilayahku, Eupeheim, sepertinya ingin menjalin hubungan dengan Viscount Clausel yang sedang jadi pembicaraan. Namanya sering disebut-sebut."

Terlepas dari itu,

"Jadi Radius, apakah pembicaraan hari ini sudah selesai?"

"Dariku sudah sekian, tapi apakah Ulysses punya sesuatu?"

"Kalau begitu, izinkan aku bicara pada Ren Ashton di sini."

Suasana di antara ketiganya sedikit melunak, kembali seperti biasa.

Ren teringat kembali pada pesan dari Ulysses di awal musim semi lalu.

"Ini mengenai periode Festival Lion King."

"Maksud Anda soal Anda yang ingin meminta waktuku, ya."

"Benar. Kamu tahu kan kalau selama periode Festival Lion King, banyak tamu kehormatan dari luar negeri yang datang?"

Kabarnya bangsawan dan keluarga kerajaan negara lain pun akan berkunjung.

"Tahun ini, tamu-tamu dari berbagai negara termasuk Benua Langit akan datang. Karena keturunan Tujuh Pahlawan akan ikut bertarung, tahun ini diperkirakan akan jauh lebih meriah dari sebelumnya."

Itulah alasan kenapa sang "Tangan Besi" menginginkan waktu Ren.

"Aku menerima konsultasi dari perusahaan dagang luar negeri mengenai apakah mereka bisa berinvestasi lebih banyak pada proyek yang juga melibatkan keluargaku. Proyek itu berpusat pada Viscount Clausel."

"Kalau begitu, bukankah lebih baik menghubungi Tuan Lezard lebih dulu daripada aku...?"

"Dalam keadaan normal itu benar, tapi ada alasan khusus. Aku ingin membicarakan detailnya pada Viscount Clausel juga. Aku akan ke Erendil nanti, bagaimana kalau saat itu?"

Pembicaraan detailnya nanti saja.

Beberapa hari kemudian, saat sepulang sekolah.

Ren berjalan menyusuri jalanan Erendil bersama Licia dan Fiona.

Hari ini Ulysses akan mengunjungi Erendil, jadi Fiona pun diminta untuk hadir.

Begitu tiba di kediaman keluarga Clausel, Yuno menyambut mereka bertiga.

Kukuru yang terbang di samping Yuno melihat Fiona setelah sekian lama dan berkicau 'Kuu!' dengan bangga.

"Selamat malam, Kukuru-chan."

Licia melihat Fiona yang sedang mengelus Kukuru di sampingnya dengan wajah senang.

"Marquis Ignart kabarnya akan segera tiba."

Setelah diberitahu oleh Yuno, mereka masuk ke dalam kediaman.

"Saya akan mengantar kedua nona ke ruangan lain."

Yuno mengantar Licia dan Fiona ke ruangan yang berbeda.

Apakah pembicaraan bersama baru akan dilakukan nanti? Ketiganya tidak merasa curiga dan berpisah di sana, hanya Ren yang menuju ruang tamu.

Saat sedang menunggu di ruang tamu, tak lama kemudian Lezard datang bersama Ulysses. Sepertinya Lezard baru saja menyambut kedatangan Ulysses.

"Maaf atas hubunganku yang mendadak ini, Viscount Clausel dan Ren Ashton."

Segera, Lezard membuka suara.

"Apakah ini berkaitan dengan pekerjaan keluarga kami?"

"Dan Ren Ashton juga terlibat di dalamnya."

Ulysses berkata sambil menatap Ren.

"Ketua dari sebuah perusahaan dagang ingin bertemu dan bicara denganmu. Sepertinya dia baru akan mempertimbangkan investasi lebih lanjut setelah itu."

"……Ya?"

"Mari kembali ke pembicaraan proyek yang dipimpin Viscount Clausel. Sebenarnya perusahaan dagang itu terlibat dalam proyek tersebut. Bawahan sang ketua pernah berkunjung ke Clausel."

"Aku sudah bisa menebaknya. Anda mendengar tentangku di Clausel, ya."

"Ketua bilang dia tertarik padamu setelah mendengar pencapaianmu dari bawahannya. Tapi, bukan hanya itu."

Ulysses menyinggung soal permintaan pengawalan pedagang yang diminta pada musim dingin sebelum Ren masuk akademi.

Saat Ren masih menjadi calon siswa, sebuah pekerjaan mendatanginya.

"Maksud Anda saat aku mengawal mereka menuju wilayah Clausel lewat kapal sihir?"

"Benar sekali. Orang yang kamu kawal adalah bawahan ketua... kalau tidak salah Kepala Cabang Leomel."

"Aku paham kalau sang ketua mendengar ceritaku, tapi bagian mana dariku yang membuatnya tertarik?"

"Tentu saja pelarian saat insiden Viscount Given."

Saat itu, banyak rakyat yang melihat kepulangan Licia dan Ren ke Clausel dan mengetahui situasinya.

Mendengar kisah heroik itu, sang ketua kabarnya sangat tersentuh.

"Dia itu pedagang yang langka, dulunya adalah seorang ksatria. Dia bilang sangat ingin bertemu denganmu setelah mendengar pencapaianmu."

Namun, sang ketua tidak tahu bahwa Asval telah bangkit di Pegunungan Baldur.

Karena orang yang mengetahui kebangkitan Asval sangat terbatas, kemungkinan informasi itu bocor ke luar sangatlah kecil.

Tapi, fakta bahwa Fiona ditolong oleh Ren saat turun gunung bukanlah rahasia bagi semua orang. Itu adalah fakta yang tidak bisa disembunyikan.

"Aku juga ingin Viscount Clausel ikut hadir jika ada waktu, bagaimana?"

"Dengan senang hati, aku akan hadir."

"Terima kasih. Maaf aku merahasiakannya sampai sekarang seolah sengaja menahan informasi. Ada penyesuaian yang harus dilakukan di pihak kami."

Pihak lawan adalah salah satu perusahaan dagang ternama di Benua Langit, yang bangga akan komoditasnya termasuk material monster.

Bisa menjalin hubungan dengan perusahaan dagang besar negara lain seharusnya menjadi hal yang baik bagi keluarga Clausel.

"Lalu, ada kiriman hadiah yang datang."

"Hadiah?" tanya Ren.

"Dari sang ketua, sebagai tanda perkenalan. Dia mengirimkan beberapa barang yang ditangani oleh perusahaan dagangnya."

"Padahal beliau belum memutuskan soal investasi lebih lanjut?"

"Lebih tepatnya, investasi tambahan."

Mungkin hadiah itu juga diberikan dengan mempertimbangkan hubungan antara keluarga Clausel dan Ignart.

Ada hadiah untuk Ren, Licia, dan juga Fiona.

Meski diskusi yang membutuhkan kehadiran Ren akan segera berakhir, Ulysses dan Lezard masih harus melanjutkan pembicaraan pekerjaan, jadi diputuskan untuk beristirahat sejenak sambil minum teh.

"Ngomong-ngomong, Viscount Clausel tampak sangat sibuk. Layanan tambahan transportasi itu juga sepertinya merepotkan, ya."

"Haha, kurasa sebentar lagi akan mereda."

Lezard teringat bahwa ia belum membicarakan hal ini pada Ren, lalu menyerahkan seikat kertas kepada Ren.

"Ren, lihatlah ini baik-baik nanti. Kamu boleh menceritakannya pada Licia dan yang lainnya."

"Baik," jawab Ren sebelum meninggalkan ruangan.

Keluar ke koridor, Ren berjalan menyusuri kediaman sambil memikirkan apa yang sedang dilakukan Licia dan Fiona, namun di tengah jalan ia disapa oleh Yuno dengan "Silakan lewat sini," dan ia pun mengikutinya tanpa tahu alasannya.

Ada ruang tamu lain di kediaman itu selain yang ditempati Ren tadi, dan Licia serta Fiona telah diantar ke sana.

Begitu Yuno mengetuk pintu dan segera mendapat jawaban, hanya Ren yang melangkahkan kaki ke dalam ruang tamu tersebut.

Suasana di dalam ruang tamu kecil itu berbeda dari biasanya.

Beberapa kotak kayu diletakkan di lantai dengan tutup terbuka, dan sebuah cermin besar telah dibawa masuk ke dekat jendela.

────Jendela teras besar yang menuju ke luar terbuka, dan di sana berdiri dua orang gadis dengan latar belakang langit senja.

Mereka tersenyum kecil melihat wajah Ren yang terkejut segera setelah masuk.

Mereka mendekat hingga tepat di hadapan Ren.

"Bagaimana? Apakah cocok?"

"Apakah terlihat pantas untukku?"

Keduanya mengenakan pakaian yang belum pernah Ren lihat sebelumnya.

Pakaian dari negara mana ini?

Yang terlintas di pikiran Ren adalah suasana negara gurun.

Gaun dengan warna yang tampak penuh gairah, dipadukan dengan perhiasan mewah tanpa kesan berlebihan, membuat mereka tampak seperti putri negeri asing yang cantik dan jelita.

Hanya di ruangan ini, rasanya seperti berada di kastil negara lain.

Melihat Ren yang terdiam, kedua gadis itu bertanya dengan panik.

"Ren?"

"Ke-kenapa kamu diam saja!?"

"Itu────!"

Karena mereka terlalu manis, hingga Ren tidak bisa menemukan kata-kata.

Namun, berdiam diri di sini rasanya tidak pantas sebagai seorang laki-laki.

Ren terbata-bata, namun kedua putri cantik itu segera menyadari apa yang sedang dipikirkan Ren dan tertawa bahagia.

"Sa-sangat cocok untuk kalian!"

Kata-kata yang sangat umum.

Namun karena mereka senang melihat Ren yang panik namun berusaha keras untuk menyampaikannya, Licia dan Fiona mengucapkan terima kasih dengan pipi sedikit merona.

Licia melangkah dengan ringan.

Fiona memutar tubuhnya dengan sedikit malu-malu.

"Katanya ini adalah pakaian etnik dari bagian selatan Benua Martel."

"Sepertinya perusahaan dagang yang mengirimkannya juga memproduksi gaun seperti ini. Mumpung ada kesempatan, kami mencoba memakainya."

Saat keduanya duduk di sofa, Ren duduk di sisi seberang.

Pakaian keduanya di depan matanya terasa segar karena merupakan hal yang belum pernah dilihat Ren, dan senyum mereka yang tampak bahagia terlihat berkilau.

"Aku dengar ada kiriman hadiah, ternyata itu, ya."

"Ya. Aku juga terkejut saat membuka kotaknya."

Ren sempat penasaran mengapa nama Benua Martel muncul dari kiriman perusahaan dagang Benua Langit, namun ia merasa puas setelah Fiona menjelaskan bahwa perusahaan tersebut juga memproduksi gaun-gaun seperti itu.

Ren mengobrol santai sejenak dengan dua gadis manis yang memancarkan pesona eksotis itu, termasuk soal pakaian mereka.

"Awalnya aku merasa gugup hanya karena berganti pakaian."

"Fufu, aku juga. Soalnya kulit kita jadi lebih terlihat daripada biasanya."

Kedua gadis itu saling bertukar kata dengan senyum bahagia.

Bukan hanya karena mengenakan pakaian yang jarang mereka pakai, namun reaksi jujur yang diperlihatkan Ren tadi juga membekas di hati mereka.

Setelah suasana mereda, Ren menceritakan apa yang ia bicarakan dengan Ulysses.

Karena saat menerima tugas komite pelaksana ia sudah memberitahu bahwa ia mungkin akan izin pada hari pelaksanaan Festival Lion King atas permintaan Ulysses, baik Licia maupun Fiona segera mengerti.

"Nanti kita harus menentukan jadwal untuk hari itu, ya."

"Aku juga harus bertanya pada Ayah."

Penyihir Hitam dan White Saintess itu mengangkat cangkir teh di atas meja ke bibir mereka.

Bahkan setiap gerak-gerik mereka, ditambah dengan pakaian saat ini, benar-benar mencerminkan putri kerajaan dari negara gurun.

Lalu, bagaimana dengan Ren?

Karena hadiah untuknya bukan pakaian, ia tetap mengenakan seragam, namun ia tetaplah ksatria bagi mereka berdua?

Perasaan mereka belum tersampaikan sepenuhnya.

Mungkin suatu saat akan terjadi perubahan, namun untuk saat ini, kehangatan yang terasa cukup sampai di sini.

Ketertarikan kedua gadis yang mengenakan pakaian manis itu beralih ke kertas yang dibawa Ren.

"Dari Ayah?"

Saat Licia bersuara, Fiona pun tampak penasaran, jadi Ren menawarkan, "Mau melihatnya bersama?"

Sambil mencondongkan tubuh dari seberang meja, Ren memosisikan kertas itu secara horizontal agar mudah dilihat dan membaca tulisan di sana dengan suara keras.

"Selama periode Festival Lion King, banyak tamu dari dalam dan luar negeri akan berdatangan. Di antaranya terdapat banyak sekali penganut Elfen yang taat, dan tamu dari luar negeri akan memanfaatkan kesempatan ini untuk berziarah ke kuil-kuil Elfen, oleh karena itu────"

Kuil Besar Ibukota akan meriah, dan Erendil pun akan dipenuhi orang.

Di kota tempat Lion King selalu mampir untuk berdoa sebelum pergi ke medan perang ini juga terdapat beberapa kuil kuno. Selama periode Festival Lion King, tempat ini pasti akan ramai oleh peziarah.

"Sepertinya akan ada layanan tambahan transportasi kapal sihir, ya."

"Tuan Lezard juga mengatakannya, tapi tujuannya ke mana, ya..."

Ren yang berbicara seperti sedang bergumam melanjutkan membaca.

Mengenai layanan tambahan itu tertulis di lembar kedua, dan pada peta yang terlampir, rute penerbangan kapal sihir ditandai dengan garis merah.

Data detail seperti jarak dan waktu tempuh juga tertulis di sana.

"Anu... sekitar tiga puluh menit dari Erendil..."

"Dekat tempat suci kuno... Ah, jangan-jangan ini...!"

Mendengar Licia dan Fiona bersuara, Ren pun mengerti.

Titik merah pada peta, tujuan dari layanan tambahan tersebut.

……Kalau tidak salah, tempat ini.

Namanya, Roses Kaitas.

Sebuah tempat yang sudah ada sejak masa lampau yang tidak diketahui siapa penciptanya.

Medannya tampak seperti sebagian besar gunung yang dikeruk, dan di lapangan luasnya berjejer patung dewa raksasa.

Di era kuno, banyak penganut Elfen yang berkunjung setiap hari.

Kabarnya pintu masuknya sekarang disegel akibat serangan Raja Iblis.

(Bukankah ini tempat yang tidak bisa dikunjungi bahkan dalam legenda Tujuh Pahlawan?)

Ikon yang menyerupai tempat itu memang ada di dalam peta.

Namun, pemain tidak bisa pergi ke sana, dan informasi tentang Roses Kaitas hanya bisa didengar di Kuil Besar Ibukota atau tempat lainnya.

◇◇◇

Jika melewati jalan besar menuju pusat kota benteng, akan ditemukan Perpustakaan Kekaisaran yang menjadi kebanggaan Ibukota.

Setiap lantai yang memiliki langit-langit terbuka hingga ke lantai teratas memiliki rak buku tak terhitung jumlahnya yang berjejer di sepanjang dinding.

Interior megah dengan lantai berlapis-lapis.

Perpustakaan Kekaisaran adalah salah satu bangunan tertua di Ibukota yang bersejarah, dan selalu dikunjungi wisatawan dari dalam dan luar negeri sepanjang waktu.

Di dalam gedung terdapat koleksi buku penting, dan area yang bisa dimasuki masyarakat umum sangat terbatas.

Terutama Ruang Arsip Terlarang yang berada di bawah tanah, tempat itu istimewa.

Dengan sistem keamanan tingkat tinggi yang langka bahkan di Ibukota, tempat yang dijaga oleh berbagai Magic Tool dan ksatria pengguna Great Sword itu adalah wilayah suci yang tidak pernah membiarkan penyusup masuk.

Saat ini perpustakaan sudah ditutup, hanya ada staf dan ksatria di dalamnya.

Kepala perpustakaan, seorang pria muda yang berada di ruangannya jauh di dalam perpustakaan yang gelap, juga mulai bersiap-siap untuk pulang.

Namun, sebuah situasi datang yang memaksanya menunda persiapan tersebut.

"Kepala!"

Orang yang membuka pintu ruang kepala perpustakaan tanpa mengetuk adalah ksatria penjaga perpustakaan.

Kepala perpustakaan mengerutkan dahi dan bertanya pada ksatria itu, merasa heran mengapa ksatria berpengalaman dan ahli itu datang dengan sangat terburu-buru.

"Tenanglah. Ada apa?"

"Haa... haa! Baru saja, ada tamu yang datang...!"

"Tamu? Tidak ada janji di jam seperti ini."

"Saya tahu itu! Tapi orang itu berkata bahwa beliau baru bisa memeriksanya dengan santai setelah jam operasional normal berakhir────!"

Kepala perpustakaan tidak mengerti maksud ksatria itu, ia hanya memiringkan kepala sambil menghela napas.

"Sekali lagi, tenanglah."

Ia kembali mencoba menenangkan ksatria itu, namun sang ksatria tetap tidak bisa tenang, napasnya tersengal dan keringat bercucuran di dahi.

Matanya terbelalak karena tegang.

Memang tidak biasa. Kepala perpustakaan menatap ksatria itu dengan wajah kaku.

Kemudian, sang ksatria yang mulai tenang akhirnya menelan ludah.

Tenggorokannya terasa kering kerontang hingga ia sulit berucap.

"Jelaskan dengan benar siapa yang datang."

Sebelum ksatria menjawab, suara langkah kaki yang menuju ke arah ruang kepala perpustakaan terdengar di telinga.

Sepertinya sang tamu sedang menuju ke sini.

Dari sikap ksatria tadi, mudah ditebak bahwa sang tamu memiliki kedudukan tinggi, namun sebenarnya seberapa hebatkah orang tersebut?

Kepala perpustakaan menyipitkan mata ke arah bayangan yang terlihat di kegelapan remang.

"Pe-pedang Raja (Sword King)────!?"

Yang terpantul di kedua mata sang kepala perpustakaan adalah sosok seorang wanita cantik.

Sword King Peringkat Kelima, White Dragon Princess - Lutreche.

Keberadaan terkuat di Leomel.

Rambut perak yang mengingatkan pada perak murni tanpa noda. Mata indah yang mengalahkan permata mana pun. Dan wajah cantik yang anggun, suci, serta memancarkan keindahan mistis.

Melihat Lutreche yang mengenakan pakaian serba putih, ia tampak seperti seorang putri bangsawan yang mulia.

Ia datang sambil mengibaskan rambutnya yang berkilau seperti sutra.

"Mohon maaf atas kunjungan yang mendadak ini."

Suaranya tidak kalah dengan penampilannya, seperti nada yang dimainkan oleh instrumen berkualitas tinggi.

"Saya ingin mencari sebuah buku."

Tenggorokan kepala perpustakaan kering kerontang sama seperti ksatria tadi, namun ia tidak boleh bersikap tidak sopan di hadapan Lutreche.

Seolah mengikuti insting bertahan hidup, ia membuka mulut,

"……Buku seperti apa yang Anda cari?"

"Mohon maaf. Karena saya sendiri belum mengetahuinya, saya hanya minta Anda membuka area pencariannya saja."

"Eh?"

Seharusnya itu bukan sebuah teka-teki.

Lutreche jelas memiliki tujuan tertentu, dan ia berkunjung karena yakin bahwa buku untuk mencapai tujuannya ada di Perpustakaan Kekaisaran ini.

Kepala perpustakaan yang kebingungan bertanya sekali lagi dengan tegang.

"Apakah tempat yang dimaksud adalah... tempat koleksi buku berharga?"

"Benar. Saya sudah mendapat izin dari Yang Mulia Kaisar, jadi silakan lihat ini."

Wajah Lutreche yang datang ke ruang kepala perpustakaan diterangi oleh lampu ruangan.

Pada lembaran perkamen yang ia keluarkan, tertulis instruksi langsung dari Kaisar agar ia diizinkan mencari buku sesuai keinginannya, kecuali di Ruang Arsip Terlarang.

Saat kepala perpustakaan memastikannya dengan Magic Tool berbentuk kacamata, ia melihat tinta yang digunakan adalah tinta khusus. Itu pasti barang asli.

"Ba-baik, saya mengerti! Kalau begitu, dari koleksi buku yang mana Anda ingin mulai mencarinya?"

"Ada beberapa titik yang membuatku penasaran, tolong antarkan saya."

Lutreche keluar dari ruang kepala perpustakaan dan mulai berjalan.

Kepala perpustakaan yang melihat punggungnya menatap ksatria yang masih berdiri terpaku di sampingnya.

Ia menyuruh ksatria itu menunggu di sini, lalu ia sendiri yang akan mengantar Lutreche.

Kepala perpustakaan yang berlari terburu-buru mengikuti di belakang Lutreche tanpa berkata apa-apa.

Beberapa tingkat ke bawah, mereka menyusuri lorong panjang.

Keduanya semakin mendekati bagian terdalam dari Perpustakaan Kekaisaran ini.

Sesampainya di sini, berjejer ruangan tempat buku-buku berharga disimpan. Lebih dalam lagi dari sini hanyalah Ruang Arsip Terlarang yang ada di bawah tanah.

Di sini pun diperlukan izin khusus untuk masuk, namun Lutreche memiliki izin khusus tersebut.

"Jika aku membawa ini yang berisi izin Yang Mulia, aku bisa masuk sendirian saja, kan?"

"Benar! Karena cetakan itu menggunakan tinta khusus, kekuatannya sebagai kunci akan bertahan selama beberapa hari!"

"Kalau begitu, aku akan mencarinya untuk beberapa waktu. Terima kasih sudah melayaniku meskipun aku datang mendadak."

Ia membungkuk dengan sangat sopan.

Kepala perpustakaan yang tidak menyangka akan diberi hormat oleh seorang Sword King pun hampir jatuh pingsan, ia menahannya dan buru-buru memohon, "Tolong angkat kepala Anda!"

Mendengar suara kepala perpustakaan, Lutreche mengangkat kepalanya, lalu berkata "Kalau begitu," dan membuka kunci pintu lalu masuk ke dalam ruangan.

"A... apa yang sebenarnya terjadi...?"

Kepala perpustakaan terpaku untuk beberapa saat.

Lutreche melangkahkan kaki ke dalam ruangan yang dipenuhi buku berharga.

Ia mulai mencari buku yang ia tuju dengan sedikit cahaya bulan yang masuk dari jendela, dan selama beberapa jam berikutnya ia berkeliling ke beberapa ruangan.

Tanpa disadari fajar telah menyingsing.

Lutreche yang sedang membaca buku sambil menyandarkan punggung di bingkai jendela menutup bukunya sambil menghela napas panjang.

Sinar matahari pagi yang masuk dari jendela akhirnya membuatnya sadar akan berlalunya waktu.

"Sepertinya informasinya telah dihapus secara menyeluruh, ya," gumamnya dengan matahari pagi di punggungnya.

"Pria bernama Given itu menjabat sebagai asisten menteri kehakiman. Jika pria itu menaruh minat pada Ashton, aku pikir dia mengetahui sesuatu di perpustakaan kekaisaran ini, tapi..."

Ia menempelkan ujung jari di bibirnya sambil berpikir keras.

Sosoknya yang sedang melamun di tepi jendela benar-benar tampak seperti seorang nona muda dari keluarga terpandang yang sedang merenung.




"Sepertinya memang harus ke Perpustakaan Terlarang, ya."

Kaisar hanya mengizinkan gadis itu untuk mengakses ruangan tempat buku-buku berharga ini disimpan, sementara Perpustakaan Terlarang adalah urusan yang berbeda.

Meski informasi yang dicarinya tidak kunjung ditemukan hingga akhir, Lutreche merasa yakin bahwa buku dan informasi yang ia incar tertidur di dalam Perpustakaan Terlarang.

Masih belum jelas apa sebenarnya tujuan utama di balik tindakannya ini.

Lutreche menyentuhkan ujung jarinya ke kaca jendela.

".... Ibu. Apa yang harus kulakukan?"

Ia menggumamkan kalimat itu dengan nada kesepian, lalu terdiam seribu bahasa sembari terus menatap lurus ke luar jendela.

Cahaya matahari pagi perlahan-lahan mulai benderang, menambah kilau yang menyilaukan mata.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close