NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 4 Chapter 12

Chapter 12

Apakah Hal Luar Biasa Sudah Menjadi Keseharian?


Setelah seminggu berlalu, kemeriahan Festival Lion King akhirnya benar-benar mereda.

Kaum bangsawan dalam maupun luar negeri, para wisatawan, hingga kedai-kedai pinggir jalan yang tadinya meramaikan ibu kota kekaisaran kini telah menghilang. Suasana kota telah kembali seperti sedia kala, seolah masa persiapan festival tidak pernah terjadi.

Hal yang sama juga terlihat di berbagai sekolah di ibu kota.

Percakapan yang memuji para peserta kompetisi mulai berkurang. Kini, pemandangan yang tersisa hanyalah para murid yang membicarakan tugas sekolah atau rencana liburan musim panas mereka.

 

Di pertengahan musim panas, di atap sekolah saat jam istirahat makan siang.

"……Sepi, ya."

"……Iya, sepi sekali."

Ren duduk di bangku panjang, sementara Licia menyandarkan punggungnya ke dinding pembatas atap.

Entah kehidupan sekolah yang tenang ini yang merupakan keseharian mereka, atau justru kejadian luar biasa tempo hari itulah yang merupakan realitas sebenarnya.

"Sampai kemarin kamu masih bilang merasa lelah, tapi bagaimana hari ini?"

"Aku sudah bugar kembali. Kalau Nona Licia sendiri bagaimana?"

"Aku juga. Kurasa akhirnya aku sudah se-energik saat sebelum Festival Lion King dimulai."

Alih-alih luka akibat pertempuran, yang mereka rasakan lebih kepada terkurasnya tenaga sihir dan mental.

Begitu banyak hal terjadi sejak saat itu, sehingga waktu untuk benar-benar mengistirahatkan pikiran baru kembali beberapa hari yang lalu. Akhirnya, mereka bisa menikmati waktu yang tenang seperti ini.

"Hari ini, apa kamu mau mencoba pergi ke Kantor Pusat Suci Singa lagi setelah sekian lama?"

"Aku juga sudah ingin mengayunkan pedang, jadi mari kita pergi."

Meskipun kejadiannya hanya memakan waktu beberapa jam, waktu yang mereka habiskan di Roses Caitas terasa sangat padat.

Semuanya berawal setelah pertarungan melawan Kenma berakhir. Tepatnya, saat mereka berdua terjatuh ke dasar lubang yang tak berujung.

◇◇◇

Karena area di sekitar lubang tempat mereka terjatuh juga mulai runtuh, sulit bagi mereka untuk menggunakan sihir alam guna merambatkan akar di ruang yang hancur itu demi melarikan diri ke atas.

Entah sampai kapan mereka akan terus terjatuh sambil menebas batu dan reruntuhan yang tak terhitung jumlahnya.

Waktu yang terasa abadi itu berakhir beberapa detik kemudian. Mereka berdua menceburkan diri ke sebuah danau bawah tanah yang terlihat di dasar, yang terhubung dengan aliran air bawah tanah.

Licia melindungi mereka dari benda-benda yang jatuh menggunakan Sacred Magic, lalu membiarkan tubuh mereka terbawa arus selama beberapa menit.

Sesekali mereka memunculkan kepala ke permukaan air, lalu menenggelamkan tubuh kembali, berulang kali hingga—.

"Phaaa!?"

"Uhuk! Uhuk!"

Saat suasana mulai terang, Ren memunculkan kepalanya terlebih dahulu ke permukaan air, disusul Licia yang langsung terengah-engah menghirup udara.

"Ren! Kamu bisa berenang!?"

"Aku tidak apa-apa!"

Mendengar jawaban itu, Licia tampak lega. Saat Ren menarik tangannya dan mendekapnya—.

"A-Aku bukannya tidak bisa berenang, cuma tidak punya pengalaman saja, tahu!"

"U-Untuk sekarang, tolong berpegangan padaku saja!"

Ren sendiri sebenarnya hampir tidak punya pengalaman berenang, tapi itu bukan masalah.

Tempat mereka muncul adalah di luar Roses Caitas, di suatu titik aliran sungai yang mengalir di bawah jurang tempat jembatan terbentang. Arus airnya tidak terlalu deras dan sangat jernih.

Sepertinya mereka terbawa arus air yang memang mengarah ke luar.

"Licia, tanganmu."

"Iya…… terima kasih."

Ren yang berjalan di perairan dangkal mengulurkan tangan membantu Licia, lalu mereka melangkah menuju tepian sungai.

Licia memegang ujung roknya dan memeras airnya. Sementara itu, Ren memanggil Flame Magic Sword untuk memotong beberapa kayu di dekat sana.

Meski kayu itu masih basah, Flame Magic Sword tetap bisa menyalakan api tanpa kesulitan.

Melihat roknya yang masih menempel ketat di kulit meski sudah diperas, Licia merasa tidak nyaman sekaligus malu di depan Ren, hingga ia menggosok-gosokkan paha karena canggung.

"Padahal ini musim panas, tapi aku tidak menyangka akan merasa sangat bersyukur ada api unggun."

Akhirnya mereka bisa tertawa. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum pulang.

"Lihat ke sana."

Ucap Licia sambil menengadah. Di ujung pandangannya, terlihat jembatan yang menuju ke gunung tempat Roses Caitas berada.

Jembatan itu berada di ketinggian yang membuat pusing, tapi yang mereka perhatikan bukan itu, melainkan lebih ke atas lagi—tempat Roses Caitas tadinya berada.

Dari sini, karena sudut pandang yang sulit, mereka tidak bisa melihat kondisi gunung dengan jelas, tapi yang pasti Time Cage sudah menghilang. Sayup-sayup terdengar suara teriakan terkejut dari orang-orang di sekitar sana.

"Bukan hanya Time Cage, sepertinya gunungnya juga hancur secara keseluruhan."

"Yang jadi pertanyaanku adalah sudah berapa lama waktu berlalu sejak saat itu."

"Sejak saat itu... maksudmu sejak kita terjebak di dalam Time Cage?"

"Iya. Aku ingin memeriksa jam tangan, tapi kondisinya begini."

Kaca jam tangannya pecah, dan jarum jamnya entah hilang ke mana. Rasanya aneh jika jam itu tetap utuh setelah pertempuran dahsyat tersebut.

"Aku ingin melayangkan protes pada Gereja Elfen, tapi rasanya itu malah akan membuat urusannya jadi dibesar-besarkan."

"Benar juga…… akan merepotkan kalau mereka mencurigai hubungan kita dengan pemuja Raja Iblis hanya karena 'kenapa cuma kita yang terlibat'. Mungkin lebih baik kita berkonsultasi dengan Nyonya Ulysses atau Radius."

"Kamu benar──── tapi, jika seandainya urusannya jadi merepotkan, mungkin tidak apa-apa kalau kita berdua kabur saja bersama."

"Walah…… itu namanya jadi buronan dong."

Sambil melontarkan lelucon, mereka berdua tertawa. Mereka tidak menyangka situasi akan menjadi berbahaya. Lagipula, seharusnya tidak ada yang tahu fakta bahwa mereka berada di dalam Roses Caitas.

Keduanya duduk bersama di atas tanah berkerikil dan mulai menatap api unggun.

"Tubuhku benar-benar hampir tidak bisa digerakkan."

"Iya…… aku juga rasanya ingin segera tidur."

Mungkin karena rasa tegangnya sudah hilang, rasa lelah di sekujur tubuh mereka benar-benar luar biasa.

Memang bisa saja memulihkan tubuh dengan Sacred Magic Licia, tapi rasanya tidak pantas membebankan hal itu padanya sekarang.

Ren tidak terpikir sedikit pun untuk bergantung pada kekuatan Licia saat ini.

"Kira-kira bagaimana cara kita pulang, ya?"

"Eeto……… apa tidak ada tangga di suatu tempat?"

"Di dasar jurang seperti ini?"

"……Setelah aku mengucapkannya sendiri, rasanya memang tidak mungkin ada."

"Kalau begitu, berarti kita harus mendaki gunung."

"La-Lagi, ya……"

Pikiran tentang apa yang menanti di depan membuat mereka lemas. Namun, tidak ada kegembiraan yang lebih besar daripada fakta bahwa mereka berhasil bertahan hidup.

 

Bagi Sarah dan teman-temannya yang tadi bersama mereka sebelum kekacauan terjadi, Ren dan Licia seolah menghilang secara tiba-tiba.

Karena perbedaan aliran waktu antara pihak yang terjebak di Time Cage dengan dunia luar, bagi Sarah dan yang lain, hilangnya Ren dan Licia terjadi sesaat sebelum Roses Caitas mengalami anomali.

Yang pertama kali mendatangi Ren dan Licia adalah Fiona dan Chronoa.

Fiona sebenarnya berencana menonton turnamen bela diri bersama mereka di sore hari, jadi dia sedang menunggu di taman gantung.

Namun, setelah menerima laporan tentang anomali di Roses Caitas, dia segera datang bersama Chronoa.

Chronoa menggunakan sihir untuk mencari keberadaan mereka, dan beruntung hawa keberadaan mereka terdeteksi di dasar jurang.

Tuan dan Nona, mari kita pergi ke tempat yang aman terlebih dahulu.

Meskipun belum paham situasinya, Fiona langsung tahu dalam sekejap bahwa mereka berdua yang berada di pinggir sungai itu memiliki kaitan dengan kekacauan yang terjadi.

Dalam perjalanan pulang, Ren dan Licia mendengar spekulasi dari Chronoa.

Semakin aku mendengarnya, semakin aneh saja……. Mungkin bagi orang-orang di luar, segel itu terlihat seolah tiba-tiba menghilang. Aku tidak tahu kenapa hanya kalian berdua yang terjebak di dalam segel, tapi……

Jadi benar-benar cuma kami?

Iya. Hanya kalian berdua yang terperangkap di ruang di mana waktu tidak berjalan itu.

Ren dan Licia tertegun mendengar waktu saat ini dari Chronoa.

Ternyata bahkan belum lewat dua jam sejak mereka mendengar nyanyian paduan suara.

Dengan kata lain, orang-orang di luar menyadari runtuhnya Time Cage tepat setelah pertempuran di dalamnya berakhir.

Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya dilakukan Ren dan Licia selama "waktu yang berhenti" itu.

Mereka hanya memberitahukan apa yang terjadi kepada orang-orang terdekat saja.

Yang mengetahui kebenaran tentang Roses Caitas hanyalah anggota keluarga Clausel, keluarga Ignat, ditambah Chronoa dan Radius.

Yang tahu bahwa Licia melepaskan cahaya kuat di luar kehendaknya bahkan lebih sedikit lagi; hanya Ren, Fiona, Chronoa, dan Lezard.

Mungkin suatu saat Yuno dan yang lain akan diberi tahu, tapi untuk saat ini, demi ketenangan, semuanya dirahasiakan.

Perintah pembungkaman pun dikeluarkan oleh Radius terkait rangkaian kekacauan ini.

◇◇◇

Suara lonceng terdengar di telinga Ren dan Licia yang sedang menghabiskan waktu tenang di atap.

Biasanya itu adalah lonceng tanda dimulainya pelajaran pertama di sore hari, tapi hari ini sekolah diliburkan karena kepentingan internal. Dari atap, terlihat para murid yang mulai melangkah pulang.

"Mari kita pergi."

Ajakan Licia membuat mereka berdua meninggalkan atap.

Koridor sekolah ramai oleh para murid yang sibuk bersiap pulang atau sekadar mengobrol dengan teman.

Saat Licia mampir ke ruang guru karena ada urusan, Ren menunggu di luar. Kait yang lewat melihat Ren berdiri sendirian dan langsung menyapanya.

"Yo! Mau makan dulu sebelum pulang?"

"Maaf. Aku berencana untuk langsung pulang saja."

"Begitu ya. Kalau begitu, lain kali aku ajak lagi!"

Kait hendak berbalik pergi, namun ia buru-buru menoleh kembali ke arah Ren.

"Aku belum sempat mengatakannya karena belakangan jarang bertemu, tapi terima kasih ya untuk Festival Lion King kemarin! Berkat kalian, aku bisa bersenang-senang sampai akhir!"

"Sama-sama. Tapi, babak semifinal dan finalnya kan tidak jadi dilaksanakan."

"Yah, cuma itu sih yang disayangkan. Tapi mau bagaimana lagi. Berita tentang lepasnya segel Roses Caitas itu bikin geger, jadi tidak ada waktu buat kompetisi. Gara-gara itu, hari keenam dan ketujuh rasanya seperti tidak ada."

Ren menggaruk pipinya sambil tertawa kecut, mengiyakan perkataan Kait.

"Katanya kondisinya luar biasa lho, keadaan di dalam Roses Caitas itu."

Kait bercerita dengan nada antusias.

"Kabarnya ada bekas pertempuran yang gila-gilaan. Lapangan patung dewa sudah tidak berbentuk, dan ada lubang raksasa yang tembus sampai ke bawah tanah. Dulu pasti pernah terjadi pertempuran yang dahsyat di sana."

"……Mungkin saja begitu."

"Sekarang Gereja Elfen sedang melakukan penyelidikan. Katanya belum ada yang tahu kenapa segelnya tiba-tiba lepas."

Semua yang diceritakan Kait adalah tentang Roses Caitas setelah kejadian itu.

Karena cerita tentang dua orang yang terjebak hanya diketahui oleh kalangan terbatas, maka hanya sejauh inilah informasi yang beredar di masyarakat.

 

Setelah selesai bicara, Kait berpamitan dan pergi. Tak lama kemudian, Licia keluar dari ruang guru dan kembali ke sisi Ren dengan langkah kaki yang ringan.

Ketika Ren menceritakan apa yang baru saja ia bicarakan dengan Kait, Licia tertawa kecil sambil menggumam.

"Kira-kira bagaimana reaksinya kalau kita bilang kitalah yang melakukannya?"

"Kalau Senior Leonard, dia pasti akan tertawa senang dan bilang 'jangan bicara bodoh'."

"Fufu, mungkin saja."

Penanganan pasca-kejadian itu diserahkan kepada Radius dan Ulysses.

Sudah beberapa hari berlalu sejak Radius bilang dia akan datang bicara jika ada perkembangan.

(Ternyata, mungkin memang tidak ada hal penting yang perlu diberitahukan pada kami.)

Radius belum menampakkan batang hidungnya di depan Ren sejak hari keenam Festival Lion King—hari di mana Ren dan Licia masuk ke dalam Time Cage.

Mirei hanya sempat mengatakan saat datang ke sekolah bahwa Radius sangat sibuk mengurus masalah Roses Caitas.

 

Mereka berencana meninggalkan gedung sekolah dan menuju stasiun seperti biasa untuk pulang ke Erendil.

Namun, di luar gerbang sekolah, setelah mereka berjalan sedikit, Radius sudah menunggu di sana.

"Maaf, apa aku bisa minta waktumu sebentar?"

Meski ajakan itu mendadak, Ren merasa pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Ia bertukar pandang dengan Licia, lalu menjawab—.

"Tidak apa-apa. Di mana kita bicara?"

"Bagaimana kalau di ruangan yang dulu digunakan oleh komite pelaksana?"

"Hmm, baiklah."

Saat mendengar itu, Licia melihat Fiona di dekat sana. Fiona menyadari keberadaan Licia dan mendekat, seolah paham situasi karena melihat Radius ada di sana.

"Nona Licia, jika berkenan, maukah Anda minum teh bersama saya? Ada rumor kalau kue baru di kantin sangat enak."

"Tentu saja! Aku juga penasaran dengan kue itu!"

Keduanya berujar demikian lalu meninggalkan Ren dan Radius.

Mungkin itu adalah bentuk perhatian mereka agar pembicaraan pria bisa berlangsung lancar, atau agar mereka bisa mendengar ceritanya nanti.

Sebelum pergi, Licia menatap Ren dan memberikan senyum lembut sembari menggumamkan kata "sampai nanti" tanpa suara.

 

Ren merasa berterima kasih atas perhatian itu, lalu ia menuju ruangan komite pelaksana bersama Radius.

Di dalam ruangan, suasananya masih sama seperti sebelumnya; dokumen-dokumen yang dulu digunakan masih tertinggal di atas meja.

"Hanya sedikit orang yang tahu kebenaran tentang kejadian di Roses Caitas kemarin."

Karena insiden Roses Caitas adalah masalah besar, pihak yang berbagi informasi sangatlah terbatas.

Terutama soal terjebaknya Ren dan Licia di dalam Time Cage serta pertarungan melawan Kenma.

"Mengenai Time Cage, untuk saat ini orang-orang mengira segelnya lepas karena tugasnya sudah berakhir. Bagian besar gunung yang tiba-tiba runtuh dianggap sebagai akibat dari waktu yang mulai bergerak kembali."

"……Jadi kesimpulannya seperti itu, ya."

"Sudah jelas bahwa Time Cage menahan kekuatan dahsyat milik Tentara Raja Iblis. Keberadaan sosok seperti Kenma juga sudah diprediksi, jadi kita tidak perlu mengungkap fakta bahwa kalian berdualah yang bertarung dan mengalahkannya. Dari sisi pertahanan negara pun, hal ini tidak akan dipermasalahkan. Kami sudah mengaturnya."

Misalnya, Kaisar atau Estelle juga sudah mendengar tentang Roses Caitas.

Namun, yang tahu bahwa Ren dan Licia terlibat tetaplah terbatas.

"Penyelidikan terus berjalan dengan mengerahkan ksatria Leomel, tapi kesimpulannya tetap sama: Time Cage menghilang karena tugas kunonya sudah selesai. Persis seperti legenda yang diceritakan turun-temurun."

"Kalau begitu, tidak ada ketegangan antara Leomel dan Gereja Elfen?"

"Untungnya begitu. Sejujurnya, secara pribadi aku ingin melayangkan protes sebanyak mungkin pada mereka."

"Mungkin lebih baik tidak dilakukan demi kebaikan kami juga."

"Benar. Jika kita mengkhawatirkan kemungkinan adanya penyelidikan aneh terhadap kalian berdua, lebih baik tidak mengungkitnya."

Jika masalahnya selesai sampai di sini, maka ini sangat menguntungkan bagi Ren dan Licia.

Meskipun seperti kata Radius, ada ganjalan di hati, tapi biarlah begitu. Lebih baik tutup mulut karena ada hal lain yang jauh lebih penting.

"Karena itu juga, beberapa hari terakhir ini sangat melelahkan."

"Penyelidikannya?"

"Bukan, tapi karena menenangkan Ulysses."

Ulysses merasa sangat murka karena Ren dan yang lain ikut terlibat, dan Radius harus mengawasinya karena khawatir.

……Meskipun Ulysses juga tahu bahwa diam adalah yang terbaik bagi Ren dan yang lain, jadi kemungkinan besar dia tidak melakukan tindakan yang berlebihan.

"Ada hal lain yang aku selidiki. Singkatnya, tidak ada tanda-tanda Gereja Elfen menyembunyikan sesuatu di dalam Roses Caitas. Misalnya, menyembunyikan Kenma dengan sengaja."

"Berarti tidak ada kemungkinan aku dan Licia dijebak?"

"Begitulah."

Tanpa menyinggung keberadaan Kenma, pihak Leomel menanyakan banyak hal kepada Gereja Elfen untuk mencari tahu apakah ada hal yang mencurigakan... dan memastikan apakah jawaban mereka jujur atau tidak.

Seandainya mereka sengaja menyembunyikannya, itu berarti mereka menantang Leomel, jadi kemungkinannya memang kecil sejak awal.

Setelah melakukan berbagai penyelidikan, itulah kesimpulan Radius.

"Aku juga sudah mengonfirmasi kepada para ksatria yang berjaga di sekitar Roses Caitas. Tampaknya hari itu tidak ada penggunaan sihir apa pun untuk menyesatkan para tamu. Sangat sulit untuk menggunakan sihir yang hanya menargetkan kalian berdua dalam situasi seperti itu."

Kemungkinan Gereja Elfen menargetkan mereka berdua untuk tujuan tertentu sangatlah kecil.

Alasan mengapa mereka terjebak di dalam Time Cage pasti ada di tempat lain.

Gemini said

Masalah utamanya adalah ketidaktahuan itu sendiri.

"Ren, apa kamu punya kecurigaan tentang alasan kenapa kalian terlibat?"

Semenjak kejadian itu, Ren telah memikirkan dua kemungkinan. Dia tidak benar-benar buta arah; ada petunjuk yang bisa ia gunakan untuk menelusuri insiden tersebut.

Kemungkinan pertama: Karena Time Cage tidak mampu menyucikan Kenma sepenuhnya, segel itu mencari kekuatan dari White Saintess.

Mengingat Ren pernah menerima kekuatan dari Magic Stone milik Licia, dia pun ikut terseret dalam kekacauan itu.

Kemungkinan kedua: Karena Ren pernah terpengaruh oleh kekuatan Black Priestess milik Fiona di Pegunungan Baldur.

Kekuatan itu konon berkaitan dengan Raja Iblis.

Jika sisa-sisa kekuatan itu masih ada di dalam dirinya, ada kemungkinan Ren dianggap sebagai objek yang harus disucikan dan akhirnya ikut terjebak.

Meski kedua alasan ini masuk akal, belum tentu kekuatan segel itu bekerja seperti itu. Selain itu, hipotesis kedua tidak bisa menjelaskan mengapa Licia juga ikut terlibat.

Tentu ada kemungkinan lain, namun—

(...Atau, mungkinkah gabungan dari keduanya?)

Saat pertama kali Ren dan Licia mendekati Roses Caitas, Time Cage mungkin mendeteksi mereka dan memberikan mimpi aneh itu.

Jika dipikir begitu, Ren merasa semuanya terasa lebih pas. Mengingat Time Cage adalah segel yang sangat istimewa, hal seperti itu tidaklah mustahil.

"Sepertinya kamu memikirkan sesuatu."

"Yah, sedikit."

"Kalau begitu, ceritakan padaku dalam waktu dekat. Ini hanya instingku, tapi kurasa kamu berpikir ini bukan hanya soal kekuatanmu, tapi juga berkaitan dengan White Saintess, bukan? Bicaralah padaku setelah kamu merasa siap."

Ren tersenyum kecut. "Terima kasih," ucapnya, menghargai pengertian Radius.

Alasan ia sulit bicara adalah karena ini melibatkan kondisi khusus Licia dan Fiona.

Ia tidak bisa bersikap tidak sopan dengan menceritakannya tanpa izin mereka atau bertanya terlebih dahulu kepada ayah mereka.

Radius pun tidak menginginkan hal itu. Selama dia bisa mendengarnya di masa depan, itu sudah cukup.

"Sebagai orang yang terlibat langsung dalam Time Cage, katakan padaku jika ada sesuatu yang ingin kamu selidiki. Aku akan membantu penyelidikannya."

"Kamu sudah sangat membantuku, tapi..."

Jika ditanya apa yang perlu diselidiki, jumlahnya segunung. Namun, Ren sudah bisa menentukan prioritasnya.

"Aku ingin menyelidiki tentang Sacred Magic."

"Soal kejadian tadi, ya? Lalu apa rencanamu? Jujur saja, aku tidak berniat menyarankanmu pergi ke Katedral Agung Ibu Kota setelah kamu terjebak dalam segel itu."

"Yah, aku pun ingin menghindarinya kalau bisa."

Radius mengira Ren ingin menyelidiki Sacred Magic karena kemungkinan kekuatan White Saintess-lah yang menarik mereka ke Roses Caitas. Namun, niat asli Ren berbeda.

Alasan Ren ingin menyelidiki hal itu adalah karena dia terus memikirkan sayap yang muncul di punggung Licia. Itu adalah prioritas utama dalam daftar penyelidikannya.

"Begitu ya... Baiklah, aku akan memikirkan tempat mana yang bisa memberikan informasi bagus untukmu."

"Terima kasih. Lalu, anu..."

Ren bicara dengan nada sedikit sungkan karena merasa memotong pembicaraan.

"Radius, apa kamu pernah mendengar istilah 'Miko' (Anak Suci)?"

"Miko... maaf, aku tidak ingat pernah mendengarnya. Ada apa dengan Anak Suci itu?"

Ren tidak tahu apakah istilah yang diucapkan Kenma itu merujuk pada keluarga Ashton atau Licia, tapi dia memutuskan untuk menjelaskannya.

Karena sebelumnya dia pernah bicara soal leluhur Ashton dengan Radius, topik ini jadi lebih mudah dibicarakan.

"Sebelum Kenma mati, dia menyebut soal 'Keturunan Anak Suci'."

"Melihat istilahnya, mungkin lebih baik bertanya pada mereka yang ahli dalam Sacred Magic. Kepala Sekolah juga bisa, tapi mungkin lebih baik bertanya pada ahli lain."

"Kalau begitu, bisakah kamu mengenalkanku pada seseorang yang bisa menjaga rahasia... dan tutup mulut? Apa itu permintaan yang terlalu mewah?"

Radius menjawab lebih cepat dari dugaan. "Kurasa bisa."

"Kamu harus meninggalkan ibu kota untuk menemuinya, tapi itu akan memenuhi keinginanmu."

"Benarkah?! Lalu, ke mana aku harus pergi?!"

"Kamu pasti tahu jika mendengar namanya: Mahkota Putih."

Ren tertegun, bibirnya bergerak tanpa suara saat membayangkan kota besar tersebut.

"Kota Air──── Eupeheim."

Wilayah kekuasaan si Lengan Kuat, Ulysses Ignat, sekaligus kota terbesar kedua setelah ibu kota.

Di dalam laci meja di kamar Ren, undangan hitam yang dulu ditinggalkan Edgar di Clausel masih tersimpan di sana.

Ren mencoba menenangkan diri dan kembali ke topik utama.

"Untuk sekarang, soal perkenalan ahli itu, biarkan aku berkonsultasi lagi nanti."

"Baiklah, kita cukupkan sampai di sini untuk hari ini. Tidak baik membuat kedua gadis itu menunggu terlalu lama."

Maksudnya adalah Licia dan Fiona. Ren berdiri, diikuti oleh Radius, lalu mereka membuka pintu untuk keluar.

Sambil memperhatikan murid-murid yang berjalan pulang, Radius berujar.

"Tapi soal Time Cage itu sangat membantu. Dari sudut pandang pihak ketiga, ada banyak faktor yang membuktikan keberadaan monster kuat di dalam segel. Itu memudahkan pergerakanku."

"Jika tidak begitu, aku dan Licia pasti harus dipanggil untuk dimintai keterangan, kan?"

"Aku ingin menghindarinya sebisa mungkin. Jika kalian bicara, orang-orang yang ingin menjadikan kalian alat politik akan muncul, dan kita kemungkinan besar harus melakukan intrik politik yang merepotkan melawan Gereja Elfen. Jika masalah bisa diselesaikan dengan damai, itu yang terbaik."

"Jadi, begini sudah benar, ya."

"Tentu saja. Kalian telah mencapai prestasi luar biasa, tapi di sisi lain, akan ada orang yang mempermasalahkan insiden Time Cage ini. Kepala Sekolah juga bekerja sama; dia berjanji akan membantu jika terjadi sesuatu."

Jadi, urusan Roses Caitas selesai sampai di sini.

"Sisanya mungkin soal garis keturunanku."

"Ada apa dengan keluarga Ashton?"

"Di akhir pertarungan, Kenma menyebut nama 'Ashton'."

"……Dengar ya."

Mendengar cerita Ren yang diiringi helaan napas, Radius menyikut pinggangnya. Wajah pangeran ketiga itu tampak tidak puas.

"Katakan itu sekalian saat bicara soal Anak Suci tadi."

"Maaf. Aku terlalu banyak berpikir sampai lupa."

"……Aduh, aduh. Jadi, kenapa Kenma menyebut nama Ashton?"

"Aku sendiri sama sekali tidak tahu."

"Tentu saja. Makanya kamu mengatakannya sambil menghela napas. Jika Kenma dan Ashton punya hubungan akrab, itu akan jadi masalah, tapi kalian bertarung, kan?"

"Dia menyebut nama Ashton sambil benar-benar berusaha membunuhku, sih."

"Kalau begitu tidak masalah. Maksudku, tentu saja tidak baik kalau kamu diserang... tapi ini aneh. Kenapa jenderal Tentara Raja Iblis menyebut nama Ashton?"

"Itu dia yang aku tidak tahu. Makanya dulu aku minta tolong carikan silsilah keluarga jika memungkinkan."

"Hm, benar juga kalau dipikir-pikir."

"Lalu, sepertinya leluhurku sangat kuat. Sebelum rumah asliku terbakar, ada dokumen yang menyebutkan kalau dia pernah bertarung melawan Asvar di masa kejayaannya."

Mendengar itu, Radius menyikut pinggang Ren sekali lagi. Kali ini lebih keras dan penuh tenaga.

"Katakan itu lebih cepat!"

"Maaf! Aku hanya pernah menceritakan ini pada Tuan Lezard dan yang lain."

"Mungkin begitu... tapi baiklah. Sekarang aku mengerti. Pantas saja kamu ingin masuk ke Perpustakaan Terlarang."

Ren sebenarnya ingin menyampaikannya secepat mungkin, tapi kontennya terlalu sulit untuk dibicarakan.

"Tapi leluhurmu luar biasa. Bertarung melawan Asvar dan sangat dibenci oleh jenderal Raja Iblis? Apa yang sebenarnya dilakukan leluhur Ren?"

Radius berjalan sambil bersedekap dan menatap langit, lalu bergumam pelan, "Mungkinkah..."

Dia membayangkan sosok Sword King Lutreche, dan memikirkan alasan mengapa wanita itu membantu saat insiden Menara Jam Besar.

"Apakah dia tahu sesuatu────?"

"Hm? Kamu bilang sesuatu?"

"……Tidak, bukan apa-apa. Aku akan memberitahumu jika aku menemukan sesuatu."

"Terima kasih. Aku mengandalkanmu."

Setelah selesai bicara soal keluarga Ashton, gerbang sekolah sudah dekat.

Sosok Licia dan Fiona belum terlihat, namun Radius berkata dia akan kembali ke kereta kuda, jadi Ren mengantarnya.

"Omong-omong."

Radius seolah baru teringat sesuatu.

"Sejak kapan?"

"Eh? Apa?"

"Kamu sudah tidak memakai panggilan kehormatan 'Sama' pada Licia Clausel. Kamu bukan tipe orang yang bisa lupa soal itu, kan?"

"……Yah, banyak hal terjadi di dalam Roses Caitas."

Terutama janji mereka sebelum bertemu Kenma. Meski hanya waktu singkat, waktu di sana terasa sangat padat.

"Syukurlah kalau kalian makin akrab."

Radius tertawa tertahan sambil menatap profil wajah Ren.

 

Sesampainya di kereta kuda, Estelle sedang berdiri di luar.

Radius yang langsung masuk ke dalam kereta meninggalkan kata-kata terakhir, "Sepertinya Estelle ingin bicara sesuatu."

Setelah keheningan selama belasan detik, Estelle membuka suara.

"Ada sesuatu yang harus aku minta maaf padamu, Ren."

"Aku sama sekali tidak paham situasinya."

"Aku mengawasimu secara rahasia. Atas perintah Kaisar."

Pipi Ren menegang. Mendengar bahwa Kaisar memerintahkan pengawasan, sosok Ren Ashton dalam legenda Seven Heroes terlintas di benaknya.

Namun, dia tidak perlu khawatir. Fakta bahwa Estelle berani mengatakannya adalah buktinya.

"Dua kali pertemuan kita di Erendil bukanlah kebetulan; aku sedang menjalankan tugas itu. Baginda Kaisar tidak bisa menentukan penilaian terhadapmu. Tentang siapa dirimu sebenarnya──── segalanya."

"Mungkinkah, termasuk soal aku akrab dengan Radius?"

Mengingat Radius adalah calon kuat kaisar berikutnya, wajar jika kaisar saat ini merasa peduli.

Sebelumnya, Radius tidak memiliki teman dekat dan memiliki sisi sebagai sosok yang menyendiri.

Tidak heran jika kaisar ingin menyelidiki hubungan Ren yang bisa bersikap akrab dan memanggil pangeran tanpa gelar kehormatan.

Namun, karena ini adalah perintah rahasia, pasti ada alasan lain.

"Itu salah satunya, tapi alasan lainnya adalah Sword King."

"Sword King?"

"Ya. Musim panas lalu saat aku berada di Benua Martel, kudengar dia memberikan bantuannya saat insiden Menara Jam Besar dengan syarat Ren harus ikut bertarung, kan?"

Ren ingat hal itu. Itu adalah sesuatu yang masih dia pertanyakan sampai sekarang.

"Sekali Sword King bergerak, itu akan membawa pengaruh besar pada apa pun. Bukan hanya keseimbangan kekuatan faksi, bahkan ada kemungkinan Leomel harus bergerak sebagai sebuah negara."

"Aku tahu soal itu... tapi, apa Baginda tidak bertanya pada Sword King kenapa dia membantu?"

"Baginda sudah bertanya beberapa kali, tapi dia hanya menjawab bahwa dia tertarik pada 'pengguna pedang kaku yang dirumorkan' itu."

Memang benar Ren sering beraksi dan terus meningkatkan kemampuannya di Kantor Pusat Suci Singa, jadi alasan itu masuk akal. Selain itu, ada juga faktor keberadaan Ren di sisi Radius.

"Karena itu, Baginda memerintahkanku: 'Tentukan penilaianmu terhadap Ren Ashton'."

Menentukan penilaian tentu melibatkan subjektivitas.

Estelle sempat ragu harus bagaimana, namun setelah melihat Ren dari dekat, dia memahami kepribadiannya.

Menganggapnya sebagai masalah adalah hal yang mustahil. Dia yakin Ren adalah teman yang dibutuhkan Radius.

"Sebenarnya, sejak pertama kali kita bicara, aku sudah merasa tidak ada masalah."

"Itu sebuah kehormatan... tapi, apa Radius tidak menyadari kalau Anda mengawasiku?"

"Oh! Benar sekali! Dia sudah menyadarinya sejak awal! Lagipula, menyelidiki di tempat yang mudah diawasi oleh Pangeran Radius seperti Ibu Kota atau Erendil adalah hal yang mustahil!"

"……Sudah kuduga."

"Tentu saja Baginda sudah menduga hal itu. Sebaliknya, Baginda justru penasaran bagaimana Pangeran Radius akan bergerak, dan sepertinya Baginda menyelidiki hal itu sendiri."

Radius memahami pemikiran kaisar, namun ada sisi dari dirinya yang tidak bisa menerimanya sepenuhnya.

Meski biasanya dia tenang saat bicara dengan kaisar, ada saat-saat di mana dia menunjukkan emosi yang membuat para ksatria pengawal terkejut jika dia tidak setuju dengan kata-kata kaisar.

"Meski ini perintah, aku yakin ini membuatmu merasa tidak nyaman. Aku minta maaf."

Setelah selesai bicara, Estelle menundukkan kepalanya. Karena mereka berada di balik bayangan kereta kuda, tidak ada orang yang melihat mereka.

"Ti-Tidak apa-apa! Maksudku, itu penyelidikan yang wajar!"

Jika dia tidak berada di sisi Radius, ceritanya pasti berbeda. Ini adalah konsekuensi logis saat berurusan dengan anggota keluarga kekaisaran Leomel, negara militer terbesar di dunia.

Justru akan terasa aneh jika Kaisar tidak mencoba menyelidiki apa pun tentang Ren.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close