NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 5 Chapter 1

Chapter 1

Nuansa Musim Gugur di Ibu Kota Kekaisaran


Agama Elfen memiliki keadilan mereka sendiri.

Kehendak sang Dewa Utama adalah melenyapkan semua eksistensi yang berpihak pada Raja Iblis. Dengan kata lain, membiarkan aliran Raja Iblis bertindak bebas sama saja dengan menentang kehendak-Nya. Bisa dikatakan, ini adalah konsensus seluruh pendeta yang melayani Dewa Utama Elfen.

Di sisi lain, aliran Raja Iblis memiliki sebuah ambisi besar.

Mereka mempertaruhkan segalanya demi membangkitkan Raja Iblis—yang konon telah dikalahkan oleh Tujuh Pahlawan—dan menuntaskan keinginan terdalam sang raja.

Ambisi abadi Raja Iblis adalah membunuh Dewa Utama. Itulah alasan mengapa Raja Iblis menjerumuskan dunia ke dalam teror.

Namun, tak ada seorang pun yang mengetahui alasan di balik upayanya merenggut nyawa sang Dewa Utama.

Kini, mereka yang terpesona oleh kekuatan besar Raja Iblis mulai bergerak di balik bayangan, memanjatkan doa demi kebangkitan sang raja.

Ibu Kota, distrik megah di mana kuil-kuil berdiri berjajar.

Belakangan ini, pertempuran antara agama Elfen dan aliran Raja Iblis menjadi topik pembicaraan hampir setiap hari di tempat ini.

"Meski mereka memuja Raja Iblis yang sudah kalah oleh Tujuh Pahlawan, hasilnya pasti akan sama saja."

"Benar sekali. Mereka memang bodoh. Mengapa mereka berani menyentuh Leomel di saat pengaruh faksi Pahlawan sedang meningkat pesat?"

"Mereka kalah karena kebodohan mereka sendiri di hadapan kekuatan suci kita."

"Kudengar belakangan ini mereka mulai menghindari Leomel. Selain karena militer Leomel, Tanah Suci juga mulai serius menangani aliran Raja Iblis, sehingga mereka sulit bergerak di sini."

"Akhir dari mereka sudah terlihat jelas. Katanya mereka punya pemimpin dan petinggi, tapi mereka sama sekali tak perlu ditakuti."

Banyak opini di antara para pendeta yang meremehkan pergerakan aliran Raja Iblis.

Baik suara yang jernih maupun suara serak yang matang, semuanya memuji keagungan Dewa Utama. Bahkan ada yang menganggap situasi ini sebagai kesempatan emas bagi agama Elfen.

Selesai melaksanakan ibadah pagi, Sang Putri Naga Putih berjalan melewati para pendeta yang sedang berbincang di luar.

"Ah, Yang Mulia Sword King."

Lutreace, yang sedang berjalan dengan anggun seorang diri, terpaksa menghentikan langkahnya karena dipanggil oleh salah satu pendeta.

"Ada apa?"

Lutreace.

Dia adalah sang Sword King berparas cantik yang meminjamkan kekuatannya kepada Leomel.

Rambut perak tanpa noda, serta mata indah yang melampaui permata mana pun.

Kecantikannya yang misterius memancarkan aura suci dan bersahaja.

Mengenakan pakaian serba putih, dia terlihat bagaikan seorang putri bangsawan yang luhur.

Jawabannya tidak dingin, namun juga tidak terdengar ramah.

Sejenak, para pendeta itu menahan napas, merasa tertekan oleh kecantikan sekaligus nada bicara Lutreace yang kaku.

"Menurut pandangan Yang Mulia Sword King, bagaimana kondisi situasi belakangan ini?"

"Situasi belakangan ini? Apakah maksud Anda pertikaian kecil antara agama Elfen dan aliran Raja Iblis?"

"Tentu saja."

Setiap Sword King memiliki kekuatan di luar nalar manusia dan kepribadian yang transenden.

Namun, Raja Iblis adalah pengecualian. Mereka mengira jika menyangkut keberadaan yang pernah membuat dunia kacau-balau, Lutreace pasti akan merasa tertarik, tapi...

"Kalau itu, itu adalah pertempuran yang tidak ada hubungannya denganku."

Lutreace menjawab dengan tegas tanpa ragu, membuat para pendeta terperangah.

Di hadapan orang-orang yang terkejut itu, dia sama sekali tidak peduli.

"Daripada itu, bagaimana dengan masalah Roses Caitas?"

"Itu adalah bukti keilahian yang ditunjukkan oleh Dewi Waktu. Apa yang sebenarnya membuat Yang Mulia khawatir?"

"Aku bertanya apakah itu benar-benar hanya keilahian semata. Aku sudah meninjau lokasi tersebut, dan aku merasakan sisa-sisa kekuatan sihir di sana. Sesuatu yang jahat, kuat, dan berasal dari zaman kuno."

"Mungkin musuh itu masih hidup sampai sesaat sebelum disucikan."

"Sepertinya monster yang sangat kuat memang tersegel di sana."

Mendengar penjelasan para pendeta yang penuh percaya diri dan kebanggaan, ekspresi Lutreace tidak berubah menjadi kagum sama sekali.

"Kalian mengatakan hal-hal yang aneh, ya."

Putri Naga Putih itu terkekeh sedikit untuk pertama kalinya.

Namun, dia segera berucap seolah telah kehilangan minat.

"Apakah kekuatan Dewi Waktu butuh waktu selama itu hanya untuk menyucikan kekuatan pasukan Raja Iblis? Ratusan tahun... menurutku itu bukan waktu yang singkat."

Itu adalah pernyataan provokatif terhadap para pendeta, sekaligus terhadap Tuhan.

Jika lawan bicaranya adalah orang biasa, mereka pasti akan sangat marah. Namun, yang berdiri di hadapan mereka sekarang adalah sang Sword King, Lutreace.

Insting mereka merasakan ketakutan sehingga tak mampu mengeluarkan kata-kata permusuhan.

"Itu..."

"Bagi kita manusia, membahas kekuatan Tuhan yang agung adalah..."

"Fufu, menyebut kekuatan yang tidak bisa kalian bahas sebagai 'agung'. Padahal kalian sama sekali tidak memahaminya?"

Bagi Lutreace, menghabisi mereka semudah menginjak serangga yang merayap di atas batu jalanan.

Para pendeta yang taat itu hanya bisa terdiam lesu melihat Lutreace pergi tanpa sanggup membela diri.

Pembicaraan tadi terus terngiang di kepala Lutreace.

Tuhan yang agung... Bagi Lutreace, itu hanyalah kata-kata hampa yang tak menyentuh hatinya sedikit pun.

"——Aku benci sekali dengan yang namanya Tuhan."

Di sudut distrik yang tenang ini, dia meludahkan kata-kata itu dengan penuh kebencian.

◇◇◇

Kuil Dewa Perang di Ibu Kota terasa sunyi.

Fajar di awal musim gugur datang lebih lambat dibanding musim panas, namun bagian dalam kuil tidaklah gelap. Cahaya dari alat sihir terpantul pada dinding batu yang terpoles rapi.

Tulisan yang muncul di lempengan batu di depan Lutreace juga memancarkan cahaya, menerangi sekitarnya dengan redup.

Peringkat Kelima: Putri Naga Putih Lutreace.

Daftar Peringkat Sword King.

Melihat lima nama terkuat di dunia—termasuk dirinya sendiri—terpampang di sana, Lutreace dirundung berbagai perasaan.

Perasaan apa itu, dan mengapa dia merasakannya, hanya dia yang tahu. Kekesalan yang dia rasakan pada para pendeta tadi sudah lama dia lupakan.

Tap. Langkah kaki Lutreace menggema di dalam kuil.

Tiba-tiba, sebuah suara terdengar.

"Ternyata kau di sini."

Suara itu terdengar tepat saat Lutreace memunggungi lempengan batu dan hendak meninggalkan kuil.

"...Pangeran Ketiga?"

Di ujung pandangannya, seorang pemuda berdiri menyandar pada pilar di lorong yang luas.

Lutreace tidak bertanya mengapa Pangeran Ketiga berada di sini di waktu sepagi ini. Radius sendiri tidak keberatan dipanggil "Pangeran Ketiga" secara kasual, karena dia sudah terbiasa.

"Aku butuh waktumu sebentar. Ada yang ingin kubicarakan."

"Sayang sekali, aku tidak punya urusan denganmu."

"Meskipun itu tentang keluarga Ashton?"

"——"

Itu adalah gerakan yang sangat samar. Namun, Radius tidak melewatkan keraguan yang muncul di alis Lutreace walau hanya sesaat.

Radius segera menyambar kesempatan itu untuk melanjutkan pembicaraan.

"Kejadian di musim panas terus terbayang di benakku. Bukan hanya musim panas tahun ini, tapi juga tahun lalu."

"Cukup basa-basinya. Langsung ke intinya saja."

"Baiklah kalau begitu."

Radius tetap bersandar pada pilar.

"Apakah kau memikirkan sesuatu tentang keluarga Ashton?"

Kali ini, tidak ada reaksi apa pun.

Meski Radius memperhatikan dengan saksama, Lutreace tidak menunjukkan respon sedikit pun.

"Ksatria yang melayani keluarga Clausel, ya."

"Ada lagi?"

"Entahlah. Aku tidak terlalu mengenal mereka."

Radius tahu dia tidak bisa begitu saja percaya, namun dia juga paham bahwa dia tidak akan mendapatkan jawaban lebih dari itu.

Dan lagi, dia tidak bisa memberi perintah padanya.

Sword King Lutreace adalah sosok yang mirip seperti tentara bayaran yang membantu Leomel karena kemurahhatiannya sendiri.

Dia adalah salah satu individu di dunia yang memiliki kekuatan absolut di luar nalar, yang bahkan tidak bisa diikat oleh otoritas Kerajaan Leomel.

Lutreace kembali melangkah seolah sudah kehilangan minat, melewati Radius begitu saja tanpa meliriknya lagi.

"Lalu, apa alasanmu membantu di Menara Jam Besar setelah mendengar nama Ashton?"

Tanpa menghentikan langkahnya, Lutreace menjawab.

"Aku hanya tertarik dengan rumor tentang kekuatannya. Bukankah sebelumnya aku sudah menjawab hal yang sama?"

"...Ah, benar juga."

Sesuai dugaan, tak ada kata-kata lebih lanjut. Lutreace meninggalkan kuil.

Tanpa mengejarnya, Radius tetap bersandar pada pilar sambil menyilangkan tangan, menatap lempengan batu tempat nama-nama para Sword King terukir.

"Aku tidak yakin seseorang yang termasuk dalam lima orang terkuat di dunia akan tertarik pada seorang bocah hanya karena alasan itu."

Bisikannya terlalu pelan untuk menggema di kuil yang luas itu.

◇◇◇

Roses Caitas adalah sebuah tanah suci agama Elfen yang telah disegel selama ratusan tahun, terletak beberapa jam perjalanan dengan kapal magis dari Ibu Kota Leomel.

Musim panas ini, segel yang menyelimuti Roses Caitas akhirnya terlepas.

Peristiwa yang mengejutkan umat Elfen di seluruh dunia ini terjadi tepat di tengah perayaan akbar bagi para siswa, Festival Raja Singa.

Karena segel itu terlepas sesaat setelah paduan suara suci mempersembahkan lagu mereka, pihak gereja dan para penganutnya percaya bahwa doa mereka telah terkabul.

Namun, kenyataannya tidak seperti itu.

Segalanya berawal ketika Ren... dan Licia, terjebak dalam segel yang menyelimuti Roses Caitas, yaitu Time Cage.

Segel itu menghilang karena mereka berdua berhasil mengalahkan jenderal pasukan Raja Iblis di dalamnya.

Hanya segelintir orang yang mengetahui fakta ini. Para pendeta yang tidak tahu apa-apa terus berdatangan tanpa henti dari seluruh penjuru Benua Elfen.

Bulan September telah berlalu, dan hingga memasuki bulan Oktober pun, situasinya tetap tidak berubah.

Kata-kata "Anak Tuhan" yang diucapkan Sword Demon sesaat sebelum kematiannya, serta obsesi makhluk itu terhadap keluarga Ashton—semuanya masih menjadi misteri.

Di tengah ketidakpastian itu, Ren bersiap untuk menikmati hari libur musim gugurnya.

"Hah... hah...!"

Ren melompat keluar dari kereta magis yang baru saja tiba di Ibu Kota dan berlari menuju peron lain.

Melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 10.40 pagi. Hanya tersisa sedikit waktu sebelum pukul 11.00, waktu janji temu mereka.

"Pemberitahuan—— kereta tujuan—— akan segera berangkat——"

"A-Aku harus cepat!"

Suara pengumuman kereta magis yang hendak dinaiki Ren menggema di peron.

Ren mempercepat langkahnya, menembus kerumunan stasiun yang padat di hari libur. Akhirnya, dia bisa bernapas lega setelah berhasil naik ke atas kereta.

Sambil menenangkan diri, Ren menyeka keringat tipis di dahinya.

"...Tepat waktu."

Di sekelilingnya, suasana riuh dengan percakapan para penumpang yang menikmati hari libur.

Musim telah berganti, begitu pula pakaian orang-orang.

Dari jendela kereta, terlihat warna hijau pepohonan telah memudar, digantikan oleh pemandangan musim gugur yang sedikit melankolis namun penuh nuansa estetis.

Ren mengenakan mantel yang lebih tipis dari pakaian musim dingin, sebuah mantel elegan khas penduduk kota.

(Mungkin... mepet sekali, ya.)

Demi memastikan, dia kembali melirik jam tangannya. Tentu saja, hanya berlalu beberapa menit sejak terakhir kali dia melihatnya.

Suara roda kereta yang melintasi rel dan guncangan tipis terasa menenangkan. Ren menghela napas lega dan mencoba menenangkan hatinya.

◇◇◇

Sesampainya di area teras sebuah kafe di jalan utama Ibu Kota.

"Maaf! Aku terlambat!"

Ren tiba dengan napas sedikit terengah-engah dan meminta maaf kepada pemuda yang sudah duduk di kursi yang dikelilingi tanaman pagar.

Pemuda yang sudah duduk lebih dulu itu adalah sahabatnya, Radius.

"Kau datang tepat tiga menit sebelum waktu yang dijanjikan, jadi jangan dipikirkan. Lagipula aku cukup menikmati waktuku meski sendirian, tidak perlu minta maaf."

Ren mengira itu hanya sekadar kata-kata penghibur. Namun, Radius melanjutkan bicaranya sambil menatap Ren yang baru saja duduk.

"Melihat kesibukan jalan utama di hari libur tidaklah buruk."

"Kenapa begitu?"

"Aku menikmati suasananya. Akhir-akhir ini aku punya banyak kesempatan untuk lebih memperhatikan rakyat."

"Bukannya dari dulu sudah begitu?"

"Memang, tapi belakangan ini banyak hal terjadi yang membuatku lebih memperhatikannya."

Di hari libur biasa ini, mereka menikmati waktu sebagai remaja sebaya. Sesekali mereka menyesap teh sambil memandang jalan utama dari celah tanaman pagar.

"...Huwaa."

Celah kecil dalam kewibawaan Pangeran Ketiga itu menarik perhatian Ren.

"Jarang sekali melihat Radius tampak mengantuk di luar seperti ini."

"Aku bangun sangat pagi hari ini. Ada urusan sepele di Kuil Dewa Perang."

"Kau pergi ke kuil itu?"

Ren sendiri belum pernah ke sana. Namun, sebagai orang yang bercita-cita menjadi Sword King, dia sangat paham tempat seperti apa itu.

Jarang sekali Radius pergi ke sana. Tatapan Ren yang penasaran bertemu dengan tatapan Radius yang mengerti apa yang dipikirkan sahabatnya itu.

Sebelum Ren sempat bertanya lebih jauh, Radius segera memotong.

"Hanya urusan sepele."

"A-Ah... begitu ya."

Karena Radius sepertinya tidak berniat bercerita lebih lanjut, Ren hanya mengangguk patuh. Dia melahap kuenya, dan rasa manis itu membuat raut wajahnya melembut.

"Ah, benar juga. Aku melihat lempengan batu di sana. Aku berharap suatu saat nama Ren akan terukir di sana."

"Uhuk... uhuk! Uhuk!"

"Tenanglah. Tidak perlu kaget sampai tersedak begitu."

"Ma-maaf!"

Kata-kata yang terlalu tiba-tiba itu membuat Ren tersedak. Setelah terbatuk beberapa kali, dia menatap Radius.

"Bukankah kau sudah bertekad untuk menjadi Sword King?"

Karena Ren sudah menceritakan keputusannya itu sebelumnya, Radius bertanya sambil memiringkan kepala.

"Tentu saja, tapi aku hanya terkejut karena kau mengatakannya tiba-tiba."

"Hmm, jadi bukan karena kau merasa gentar, ya."

"——Tentu saja tidak."

Di mata Ren terpancar tekad yang kuat. Radius pun sebenarnya tidak meragukan tekad itu, dia hanya ingin menggoda sahabatnya saja.

Tekadnya tidak tergoyahkan, dan kini dia bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

"Aku akan mencapainya. Pasti."

"Ya. Aku akan menantikannya."

Waktu mereka di kafe berakhir, dan keduanya bangkit berdiri.

Radius melakukan penyamaran sederhana, sehingga di tengah keramaian jalan utama seperti ini, identitasnya tidak akan terbongkar.

Mengenai pengawal, katanya dia sudah mengatur segalanya. Mendengar itu, Ren pun tidak merasa khawatir dan berjalan di sampingnya.

Mereka meninggalkan kafe dan mulai berjalan-jalan santai di sepanjang jalan utama tanpa tujuan pasti.

"Tentang hal yang kukonsultasikan sebelumnya, aku ingin kau memperkenalkanku kepada orang itu dalam tahun ini."

"Tentang sihir suci dan Anak Tuhan, ya."

"Iya. Orang yang kau bilang ada di Eupeheim itu."

Kejadian aneh yang menimpa tubuh Licia saat bertarung melawan Sword Demon... Jika diungkapkan dengan kata-kata, itu seperti proses 'Menjadi Malaikat'.

Sayap bercahaya yang muncul dari punggung Licia, serta berbagai kekuatan suci yang dia lepaskan secara tidak sadar—Ren tidak bisa melupakan hal itu barang sekejap pun.

Tentu saja, Ren tidak menceritakan fenomena spesifik tersebut kepada Radius.

Dia hanya berkonsultasi bahwa hal itu mungkin ada hubungannya dengan sihir suci, dan meminta diperkenalkan kepada orang yang memiliki pengetahuan luas di bidang tersebut.

"Tentu saja. Aku akan mengatur jadwalnya."

"Terima kasih. Ngomong-ngomong, orang seperti apa yang akan kau perkenalkan?"

"Dia adalah mantan guru privatku. Sepertinya aku pernah bercerita, dialah orang yang mendirikan Persekutuan Dagang Arnevelde bersamaku."

Ren merasa sangat senang, membayangkan sosok yang bisa diandalkan.

Radius masih memiliki urusan lain setelah ini. Karena Kepala Biro Saint Lion, Estelle, datang menjemputnya secara langsung, Ren tidak perlu mengantarnya sampai ke istana.

◇◇◇

Ren berjalan sendirian di kala senja.

Semenjak musim gugur tiba, matahari terbenam jauh lebih cepat.

Ren sesekali menatap langit itu sambil menyusuri Ibu Kota. Tujuannya adalah tempat yang sudah biasa dia datangi, gerbang depan Akademi Militer Kekaisaran.

Licia yang berada di depan gerbang sekolah langsung berseru saat melihat sosoknya.

"Ren! Di sini!"

Licia Clausel. Gadis yang juga dikenal dengan julukan White Saintess.

Rambutnya tampak seperti perak yang dilelehkan bersama batu kecubung. Sepasang mata birunya yang secerah batu safir memancarkan kewibawaan dan keanggunan, menyimpan kecantikan yang setara dengan permata.

Senyum yang menghiasi wajahnya yang manis seolah menegaskan julukannya sebagai Sang Santa.

Mendengar suara riangnya saat melihat Ren, gadis yang berdiri di sampingnya ikut tertawa.

"Maaf membuatmu menunggu."

"Tidak apa-apa. Kami juga baru saja selesai, kok."

Melihat interaksi keduanya, gadis yang tertawa di samping Licia menyahut.

"Kenapa Ren tidak ikut kelas tambahan?"

Gadis di samping Licia itu adalah Sarah Riohard.

Dia berasal dari salah satu dari Tujuh Keluarga Archduke, keturunan pahlawan yang berhasil menaklukkan Raja Iblis. Dia adalah gadis yang menarik perhatian dengan mata sewarna ambar dan rambut cokelat halus yang memancarkan aura bangsawan.

"Rasanya jarang sekali melihat Licia ada tapi tidak ada Ren di sampingnya."

"Aku ada janji dengan Radius, jadi hari ini aku izin absen."

"Ah, begitu ya."

Tidak ada maksud lain di balik kata-katanya. Meskipun kenyataannya Ren mendapatkan nilai sempurna pada ujian sebelumnya, tidak ada alasan untuk mengungkitnya sekarang.

◇◇◇

Sebuah gang di luar jalan utama—bukan tempat dengan keamanan buruk, melainkan area pasar kaki lima di mana terkadang orang bisa menemukan barang-barang unik.

Dalam perjalanan pulang bersama Licia, mereka memutuskan untuk sedikit berkeliling Ibu Kota.

"Ke mana saja kau dengan Pangeran Ketiga tadi?"

"Minum teh, jalan-jalan di kota... seperti biasa."

"Lalu saat pulang, apa Estelle-sama yang menjemputnya?"

"Seperti dugaan Licia, kau benar-benar tahu—ah."

Ren bergumam sambil menggoyangkan rambut cokelat gelapnya.

Wajahnya yang terlihat lembut mirip ibunya itu kini menunjukkan ekspresi seolah baru saja melihat sesuatu yang langka.

"Ada apa?"

White Saintess melongokkan wajahnya ke arah Ren dari samping. Dia pun ikut penasaran saat melihat ke mana arah pandangan Ren.

Di ujung pandangan mereka, terlihat seseorang berjalan sambil memanggul tas ransel berukuran raksasa.

Tingginya hampir sama atau sedikit lebih tinggi dari Ren dan Licia saat mereka berusia sepuluh tahun, namun ukuran tas itu sama sekali tidak proporsional dengan tubuhnya.

Tas itu benar-benar sangat besar, lebarnya mungkin mencapai dua meil.

Orang tersebut menurunkan tasnya di pinggir jalan, lalu duduk di atasnya sambil bertopang dagu. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup jubah kumal dan topeng.

"Apakah dia seorang Dwarf?"

"Entahlah. Tidak ada informasi sama sekali tentang 'Si Pengembara Tas'."

"Si Pengembara Tas?"

"Sepertinya dia dipanggil begitu. Ada rumor tentang orang bertubuh kecil yang memanggul tas sangat besar."

Sosok itu adalah legenda urban yang populer di kalangan siswa dan penduduk, baik dalam Legend of Seven Heroes maupun di realitas Ren sekarang.

"Licia belum pernah mendengarnya?"

"Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku pernah mendengar seseorang membicarakannya..."

Dalam Legend of Seven Heroes, Si Pengembara Tas muncul di berbagai tempat di Leomel dalam periode waktu terbatas. Seingat Ren, sekarang adalah waktunya dia muncul di Ibu Kota.

Dilihat dari suaranya, Si Pengembara Tas kemungkinan besar adalah seorang pria.

Dia adalah sosok misterius yang akan menjual item spesial jika dibayar dengan uang yang sangat banyak—saking banyaknya hingga uang saku Ren saat ini pun tidak akan cukup.

Namun, jika dia menguras seluruh tabungannya, mungkin saja...

Beberapa petualang berdiri di depan orang misterius tersebut.

"Sepertinya kalian tertarik dengan toko Si Pengembara Tas."

Ren menyebut sebutan itu sebagai rumor, namun sebenarnya itu adalah nama yang diberikan oleh Si Pengembara Tas sendiri.

Para petualang yang disapa mulai menunjukkan ketertarikan.

"Apa kau menjual sesuatu?"

"Jika tidak keberatan, tunjukkan pada kami."

"Tentu saja. Tas ini berisi kebijaksanaan, harapan, dan romansa. Jika kalian menginginkan sesuatu, kalian bisa mendapatkannya dengan membayar harga yang setimpal."

"Bagaimana?" tanya Si Pengembara Tas.

Tiba-tiba, sikap para petualang berubah.

"Kebijaksanaan dan harapan?"

"Ditambah romansa... jangan-jangan orang ini menjual obat-obatan terlarang?"

"Astaga. Menuduh orang sembarangan itu tidak sopan, tahu."

Sepertinya para petualang itu kehilangan minat dan pergi dengan ekspresi wajah yang aneh.

Si Pengembara Tas sama sekali tidak ambil pusing dan hanya melambaikan tangan seolah berkata "ya sudahlah".

"Ayo kita juga pergi."

Setelah menikmati suasana pasar kaki lima selama satu jam lagi, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke kediaman mereka.

Licia berjalan sambil menggoyangkan ujung mantelnya, sesekali menatap Ren yang berjalan di sampingnya.

◇◇◇

Akademi di pagi hari.

Ren dan Licia yang datang lebih awal dari biasanya melangkah menuju ruang kepala sekolah.

"Selamat pagi, kalian berdua! Silakan duduk di mana saja!"

Kepala Sekolah, Chronoa Highland.

Dia adalah wanita cantik sekaligus imut dengan rambut emas panjang yang indah seperti benang emas.

Alasan mereka menemui salah satu penyihir terhebat di dunia ini adalah untuk melanjutkan diskusi yang telah mereka lakukan sebelumnya. Topi penyihir runcing yang dikenakan Chronoa sedikit bergoyang saat dia memberi isyarat agar mereka mendekat.

Begitu mereka duduk di sofa, Chronoa mengambil posisi duduk di hadapan mereka.

"Tentang hal tempo hari... karena pengguna sihir suci sangatlah sedikit, penelitiannya tidak terlalu berkembang..."

Kekuatan sayap yang dikeluarkan Licia belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan Chronoa yang bijaksana pun tidak tahu alasannya.

Licia tidak bisa terus menjalani hari-harinya tanpa menceritakan fakta bahwa dia melepaskan kekuatan sebesar itu secara tidak sadar. Setelah kejadian tersebut, dia menceritakannya kepada ayahnya, Lezard.

Orang lain yang mengetahui detail kejadian itu hanyalah Chronoa dan Fiona yang menjemput mereka hari itu.

Mereka memutuskan untuk menceritakannya kepada Ulysses dan Radius setelah situasi sedikit lebih tenang.

"...Maaf ya. Aku sudah mencoba mencari-cari di buku koleksiku, tapi tidak ada informasi yang berarti di sana..."

Kediaman Chronoa memiliki perpustakaan dengan koleksi buku yang tak terhitung jumlahnya.

Dia sudah mencarinya seolah hendak membongkar seluruh rak buku, namun suaranya terdengar lesu karena gagal menemukan apa pun.

Licia buru-buru menyahut.

"Tolong jangan dipikirkan! Lagipula ini berawal dariku yang sembarangan menggunakan kekuatan yang tidak kumengerti!"

"Ta-tapi! Itu kan bukan atas kemauan Licia-chan!"

"Kalian berdua, jika ditarik akarnya, penyebab utamanya adalah Time Cage dan Sword Demon, jadi premisnya saja sudah salah."

Mata mereka berdua tertuju pada Ren.

"Entah aku penyebabnya atau Licia, yang jelas kita berdua adalah pihak yang terjebak di dalamnya. Licia tidak salah apa-apa."

Ren sering memikirkan mengapa insiden itu terjadi dan apa alasannya.

Mungkin karena sisa kekuatan Sang Black Priestess yang membantu Ren di Pegunungan Baldor masih tertinggal di dalam tubuhnya, sehingga Roses Caitas menganggap Ren sebagai musuh dan menjebaknya bersama Licia untuk disucikan.

Atau mungkin segel tersebut memanggil Licia sebagai White Saintess beserta kekuatannya untuk membantu mengalahkan Sword Demon.

(Jika yang terakhir benar, lalu kenapa aku ikut terjebak?)

Dulu, saat desa kelahiran Ren diserang oleh elf bernama Yelkuku, Ren bertarung bersama Licia dengan mempertaruhkan nyawa.

Di akhir pertarungan, sebuah pedang sihir cahaya tiba-tiba muncul, dan keberadaan cahaya kuat yang dibawanya mungkin telah menarik Ren ikut masuk ke dalam segel tersebut...

Berapa kali pun dia memikirkannya, itu tetaplah sekadar hipotesis tanpa kesimpulan pasti.

"Lalu Licia, seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, sebaiknya jangan mendekati orang-orang dari agama Elfen."

"...Iya. Aku mengerti."

Jika sejak awal agama Elfen berniat mencelakai mereka, mereka pasti akan melakukannya dengan lebih licin.

Keterlibatan agama Elfen sebenarnya sangatlah tipis, namun pengalaman di musim panas lalu membuat Ren merasa sangat muak.

"Jika ada kontak dari agama Elfen terkait posisimu sebagai White Saintess, beri tahu aku ya. Jika mereka meminta sesuatu, aku yang akan mencarikan alasan untuk menolaknya."

"Chronoa-sama, apakah tidak apa-apa?"

"Tentu saja. Bagiku, Licia-chan adalah yang paling utama."

Ucapnya lembut sambil menggoyangkan rambut emasnya yang berkilau.

◇◇◇

Belum genap dua bulan sejak sebutan "Licia-sama" berubah menjadi sekadar "Licia".

Di tengah Festival Raja Singa, para siswa tahu ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Meski beberapa orang mencoba bertanya kepada Licia, dia tidak menceritakan apa-apa.

Perubahan cara memanggil itu mulai diketahui publik sesaat setelah Time Cage yang menyelimuti Roses Caitas menghilang.

Saat itu, Ren menyapa Licia di kelas seperti biasanya.

"Licia, ayo pulang."

Panggilan yang berbeda dari biasanya itu mengejutkan para siswa di kelas khusus. Kelas menjadi riuh, dan beberapa teman sekelas mulai berbisik-bisik karena terkejut.

Namun, karena Ren tetap tenang dan Licia menyahut seolah itu hal yang wajar, orang-orang di sekitar mereka menjadi bingung.

Di antara mereka, Sarah adalah yang paling terkejut. Namun dia segera tersenyum, menyadari bahwa ini adalah hasil dari perjuangan Licia. Di tengah para siswa yang kaget, hanya dialah yang tampak senang melihat perkembangan tersebut.

Di luar kelas khusus tahun pertama pun, perubahan cara memanggil nama ini menjadi bahan pembicaraan.

Namun, manusia adalah makhluk yang mudah terbiasa. Lama-kelamaan, reaksi orang-orang saat mendengar Ren memanggil Licia tanpa gelar mulai memudar.

Kini, ketika siswa lain mendengar percakapan mereka, hampir tidak ada lagi yang menoleh sengaja. Suasana sebelum Festival Raja Singa telah kembali.

...Meski terkadang Fiona, yang merasa tertinggal dari Licia, diam-diam menyemangati dirinya sendiri. Perjuangannya masih akan terus berlanjut.

Saat jam istirahat siang, seorang gadis menarik perhatian teman-temannya dengan suara ceria.

"Perhatian, perhatian semuanya!"

Dia adalah putri dari salah satu keluarga Archduke, Nem Althea dari keluarga Althea.

Mendengar suaranya, Ren, Licia, Sarah, dan Vain yang sedang menikmati makan siang di kursi masing-masing segera mendekat.

"Ada apa, Althea-sama?"

"Aah, lihat! Ashton-kun memanggil begitu lagi!"

Nem yang bertubuh mungil menyeringai nakal sambil menyilangkan jari membentuk tanda silang.

"Sudah kubilang kan, panggil aku dan Sarah-chan dengan sebutan 'san' saja!"

Ren biasanya sangat berhati-hati dalam memanggil teman sebaya jika mereka adalah bangsawan.

Namun sejak dia mulai memanggil Licia tanpa gelar, sikapnya pun perlahan menjadi lebih santai dibandingkan saat musim semi atau panas lalu.

Nem dan yang lainnya sebenarnya lebih suka dipanggil tanpa gelar, tapi Ren belum bisa melangkah sejauh itu.

"Maaf, sudah jadi kebiasaan."

"Nmu nmu. Baiklah, kali ini kumaafkan!"

"Jadi, ada apa tiba-tiba? Lagipula ini kan mejaku," sahut Sarah kepada Nem.

Ada alasan mengapa Nem sengaja mengumpulkan semua orang di meja Sarah.

"Aku ingin kalian melihat ini! Ini adalah informasi eksklusif yang baru kudapatkan pagi ini!"

Ucap Nem dengan penuh semangat sambil bertolak pinggang. Tanpa meminta izin kepada Sarah sang pemilik meja, Nem membentangkan kertas besar yang sedari tadi dia kempit di ketiaknya.

Sepertinya itu adalah sebuah poster.

"Bagaimana? Hebat, kan!"




Sarah yang melihatnya langsung menepuk tangan, seolah baru saja teringat sesuatu.

"Aku pernah dengar soal ini. Kereta jarak jauh yang baru itu, kan?"

"Betul, betul! Musim dingin ini, akhirnya bakal resmi beroperasi!"

Poster besar yang dibentangkan Nem menampilkan ilustrasi kereta magis mutakhir yang tampak begitu gagah dan indah. Nama kereta itu adalah Guardiknight.

Dalam bahasa kuno Leomel, nama itu berarti "Ksatria Tanpa Noda".

"Ini proyek kereta paling viral saat ini, yang dipimpin langsung oleh Marquis Ignat!"

Selama ini, perjalanan udara dengan kapal magis dianggap sebagai moda transportasi terbaik.

Namun, kali ini adalah perjalanan darat melalui jalur kereta api. Kereta ini akan berangkat dari Ibu Kota, melewati beberapa kota yang tidak memiliki dermaga kapal magis, dan menuju pemberhentian terakhir di Eupeheim.

Jalur rel baru ini juga merupakan jaringan transportasi yang sangat strategis bagi pertahanan negara.

Dalam Legend of Seven Heroes, ini adalah proyek yang gagal diselesaikan oleh Ulysses, karena dia kehilangan nyawanya di musim dingin ini.

Setelah kehilangan Fiona, dia kemungkinan besar kehilangan minat pada segalanya.

"Kalau tidak salah, Guardiknight juga melewati Erendil, ya?"

Ren bertanya, meski tidak ditujukan kepada siapa pun secara spesifik.

"Iya! Apa Ashton-kun jangan-jangan belum tahu?"

"Aku cuma pernah dengar selentingan saja."

"Begitu ya. Kalau begitu, penjelasannya jadi lebih mudah!"

Dulu, Ren memang pernah mendengarnya dari Ulysses dalam obrolan santai.

"Sekarang aku sedang mengerjakan proyek seperti ini juga," ucapnya kala itu, seolah hanya membicarakan urusan sepele.

Kalau dipikir-pikir lagi, membicarakan bisnis skala besar seperti itu dengan santai sebenarnya agak berlebihan, tapi itu memang gaya khas pria yang dijuluki "Si Tangan Besi" tersebut.

Ren menoleh ke arah Licia di sampingnya.

"Licia juga baru dengar sedikit saja, kan?"

"Iya. Sepertinya pengetahuanku soal ini sama denganmu, Ren."

"Kalau begitu, saat pulang nanti, bagaimana kalau kita tanya lebih detail kepada Lezard-sama?"

Jarak antara keduanya kini semakin dekat secara fisik, seiring dengan perubahan cara mereka memanggil nama masing-masing. Saat Licia menjawab "Ide bagus" kepada Ren, punggung tangan mereka bahkan hampir bersentuhan.

"Terus, Nem, kenapa tiba-tiba kau bawa poster Guardiknight segala?"

"Eeh, Sarah-chan masa tidak paham juga?"

"Ya... aku tidak paham."

Melihat Sarah yang memiringkan kepala kebingungan, Nem sempat tertegun sejenak, lalu menjawab dengan santai tanpa beban.

"Habisnya, kelihatannya seru, sih."

"...Sudah kuduga kau bakal bilang begitu."

Bel sekolah yang menandakan berakhirnya jam istirahat siang berbunyi tepat saat itu.

◇◇◇

Setelah kejadian di siang hari itu, jam pelajaran sore pun berakhir dan masuk ke waktu sepulang sekolah.

Ren, yang memiliki beberapa ganjalan terkait pelajaran, memutuskan untuk berkonsultasi dengan Fiona tentang buku referensi yang direkomendasikan.

Dalam perjalanan pulang dari perpustakaan, Ren dan Fiona berbincang sambil berjalan menyusuri lorong sekolah. Di luar jendela yang membentang di sisi mereka, terlihat taman sekolah yang telah berganti rupa seiring datangnya musim gugur.

"Rasanya buku referensi yang dibutuhkan jadi dua kali lipat lebih banyak dibanding saat musim semi."

Ren berucap sambil tertawa kecut di lorong yang diselimuti keheningan tersebut.

Mendengar itu, gadis berambut hitam di sampingnya menyahut.

"Terkadang memilih satu buku saja bisa sangat sulit, bukan?"

"Ah... benar juga. Terkadang aku malah berakhir membeli beberapa buku yang isinya mirip-mirip."

"Fufu, aku juga pernah mengalami hal yang sama. Tapi, aku senang jika rekomendasiku tadi bisa membantu."

Fiona tersenyum, profil wajahnya tersinari cahaya matahari senja.

Dia merasa belakangan ini dia jadi lebih sering mendongak untuk menatap Ren dibandingkan saat musim panas lalu, dan hal itu membuat jantungnya berdebar kencang. Angin yang masuk dari jendela menggoyang rambut panjangnya.

Di bawah bulu mata yang lentik, sepasang mata sewarna batu kecubung itu menatap ke arah Ren.

"Kalau ada hal lain yang mengganjal, jangan ragu untuk bercerita lagi padaku, ya."

Fiona Ignat, sang Black Priestess.

Cahaya lembut jatuh menimpa rambutnya yang hitam legam seperti batu obsesian.

Dia adalah gadis dengan paras yang begitu cantik dan menawan, hingga sering disebut sebagai kecantikan yang mampu meruntuhkan kota.

Di balik rok seragamnya, terlihat sepasang kaki jenjang yang putih mulus.

Proporsi tubuhnya yang tetap terlihat sempurna meski mengenakan jaket seragam telah memikat hati banyak lawan jenis yang tak terhitung jumlahnya.

Sambil melangkah menuju luar gedung sekolah, Ren teringat pembicaraan Nem siang tadi.

"Ngomong-ngomong soal tadi siang..."

Ren mulai mengangkat topik tentang kereta Guardiknight yang ada di poster tadi.

Fiona pun menanggapi dengan senyuman lembut.

"Informasinya memang baru dipublikasikan ke seluruh kekaisaran mulai pagi ini, jadi mungkin karena itu."

"Begitu ya... pantas saja Althea-san membawa poster itu."

"Iya. Mungkin dia mendapatkannya di suatu tempat dan langsung ingin memamerkannya kepada Ren-kun dan yang lainnya."

Ren mengangguk, akhirnya paham kenapa poster itu tiba-tiba muncul.

"Karena informasinya sudah dipublikasikan hari ini, apa itu berarti upacara peresmiannya juga sudah dekat?"

"Benar! Terkait hal itu, Ayah sepertinya akan berangkat ke Erendil dalam waktu dekat. Sebelum resmi dibuka untuk umum, rencananya akan ada agenda menyapa semua pihak yang telah membantu proyek ini—"

Fiona mengangguk mantap, sementara warna jingga dari sinar matahari senja yang masuk lewat jendela terpantul pada senyumannya.

Ren bisa merasakan bahwa topik mengenai Guardiknight ini akan menjadi pembicaraan hangat untuk beberapa waktu ke depan.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close