Chapter 1
Nuansa Musim Gugur di Ibu Kota Kekaisaran
Agama Elfen
memiliki keadilan mereka sendiri.
Kehendak sang
Dewa Utama adalah melenyapkan semua eksistensi yang berpihak pada Raja Iblis.
Dengan kata lain, membiarkan aliran Raja Iblis bertindak bebas sama saja dengan
menentang kehendak-Nya. Bisa dikatakan, ini adalah konsensus seluruh pendeta
yang melayani Dewa Utama Elfen.
Di sisi lain,
aliran Raja Iblis memiliki sebuah ambisi besar.
Mereka
mempertaruhkan segalanya demi membangkitkan Raja Iblis—yang konon telah
dikalahkan oleh Tujuh Pahlawan—dan menuntaskan keinginan terdalam sang raja.
Ambisi abadi
Raja Iblis adalah membunuh Dewa Utama. Itulah alasan mengapa Raja Iblis
menjerumuskan dunia ke dalam teror.
Namun, tak
ada seorang pun yang mengetahui alasan di balik upayanya merenggut nyawa sang
Dewa Utama.
Kini, mereka
yang terpesona oleh kekuatan besar Raja Iblis mulai bergerak di balik bayangan,
memanjatkan doa demi kebangkitan sang raja.
Ibu Kota,
distrik megah di mana kuil-kuil berdiri berjajar.
Belakangan
ini, pertempuran antara agama Elfen dan aliran Raja Iblis menjadi topik
pembicaraan hampir setiap hari di tempat ini.
"Meski
mereka memuja Raja Iblis yang sudah kalah oleh Tujuh Pahlawan, hasilnya pasti
akan sama saja."
"Benar
sekali. Mereka memang bodoh. Mengapa mereka berani menyentuh Leomel di saat
pengaruh faksi Pahlawan sedang meningkat pesat?"
"Mereka
kalah karena kebodohan mereka sendiri di hadapan kekuatan suci kita."
"Kudengar
belakangan ini mereka mulai menghindari Leomel. Selain karena militer Leomel,
Tanah Suci juga mulai serius menangani aliran Raja Iblis, sehingga mereka sulit
bergerak di sini."
"Akhir
dari mereka sudah terlihat jelas. Katanya mereka punya pemimpin dan petinggi,
tapi mereka sama sekali tak perlu ditakuti."
Banyak opini
di antara para pendeta yang meremehkan pergerakan aliran Raja Iblis.
Baik suara
yang jernih maupun suara serak yang matang, semuanya memuji keagungan Dewa
Utama. Bahkan ada yang menganggap situasi ini sebagai kesempatan emas bagi
agama Elfen.
Selesai
melaksanakan ibadah pagi, Sang Putri Naga Putih berjalan melewati para pendeta
yang sedang berbincang di luar.
"Ah,
Yang Mulia Sword King."
Lutreace,
yang sedang berjalan dengan anggun seorang diri, terpaksa menghentikan
langkahnya karena dipanggil oleh salah satu pendeta.
"Ada
apa?"
Lutreace.
Dia adalah
sang Sword King berparas cantik yang meminjamkan kekuatannya kepada
Leomel.
Rambut perak
tanpa noda, serta mata indah yang melampaui permata mana pun.
Kecantikannya
yang misterius memancarkan aura suci dan bersahaja.
Mengenakan
pakaian serba putih, dia terlihat bagaikan seorang putri bangsawan yang luhur.
Jawabannya
tidak dingin, namun juga tidak terdengar ramah.
Sejenak, para
pendeta itu menahan napas, merasa tertekan oleh kecantikan sekaligus nada
bicara Lutreace yang kaku.
"Menurut
pandangan Yang Mulia Sword King, bagaimana kondisi situasi belakangan
ini?"
"Situasi
belakangan ini? Apakah maksud Anda pertikaian kecil antara agama Elfen dan
aliran Raja Iblis?"
"Tentu
saja."
Setiap Sword
King memiliki kekuatan di luar nalar manusia dan kepribadian yang
transenden.
Namun, Raja
Iblis adalah pengecualian. Mereka mengira jika menyangkut keberadaan yang
pernah membuat dunia kacau-balau, Lutreace pasti akan merasa tertarik, tapi...
"Kalau
itu, itu adalah pertempuran yang tidak ada hubungannya denganku."
Lutreace
menjawab dengan tegas tanpa ragu, membuat para pendeta terperangah.
Di hadapan
orang-orang yang terkejut itu, dia sama sekali tidak peduli.
"Daripada
itu, bagaimana dengan masalah Roses Caitas?"
"Itu
adalah bukti keilahian yang ditunjukkan oleh Dewi Waktu. Apa yang sebenarnya
membuat Yang Mulia khawatir?"
"Aku
bertanya apakah itu benar-benar hanya keilahian semata. Aku sudah meninjau
lokasi tersebut, dan aku merasakan sisa-sisa kekuatan sihir di sana. Sesuatu
yang jahat, kuat, dan berasal dari zaman kuno."
"Mungkin
musuh itu masih hidup sampai sesaat sebelum disucikan."
"Sepertinya
monster yang sangat kuat memang tersegel di sana."
Mendengar
penjelasan para pendeta yang penuh percaya diri dan kebanggaan, ekspresi
Lutreace tidak berubah menjadi kagum sama sekali.
"Kalian
mengatakan hal-hal yang aneh, ya."
Putri Naga
Putih itu terkekeh sedikit untuk pertama kalinya.
Namun, dia
segera berucap seolah telah kehilangan minat.
"Apakah
kekuatan Dewi Waktu butuh waktu selama itu hanya untuk menyucikan kekuatan
pasukan Raja Iblis? Ratusan tahun... menurutku itu bukan waktu yang
singkat."
Itu adalah
pernyataan provokatif terhadap para pendeta, sekaligus terhadap Tuhan.
Jika lawan
bicaranya adalah orang biasa, mereka pasti akan sangat marah. Namun, yang
berdiri di hadapan mereka sekarang adalah sang Sword King, Lutreace.
Insting
mereka merasakan ketakutan sehingga tak mampu mengeluarkan kata-kata
permusuhan.
"Itu..."
"Bagi
kita manusia, membahas kekuatan Tuhan yang agung adalah..."
"Fufu,
menyebut kekuatan yang tidak bisa kalian bahas sebagai 'agung'. Padahal kalian
sama sekali tidak memahaminya?"
Bagi
Lutreace, menghabisi mereka semudah menginjak serangga yang merayap di atas
batu jalanan.
Para pendeta
yang taat itu hanya bisa terdiam lesu melihat Lutreace pergi tanpa sanggup
membela diri.
Pembicaraan
tadi terus terngiang di kepala Lutreace.
Tuhan yang agung... Bagi Lutreace, itu
hanyalah kata-kata hampa yang tak menyentuh hatinya sedikit pun.
"——Aku benci sekali dengan yang
namanya Tuhan."
Di sudut distrik yang tenang ini, dia
meludahkan kata-kata itu dengan penuh kebencian.
◇◇◇
Kuil Dewa
Perang di Ibu Kota terasa sunyi.
Fajar di awal
musim gugur datang lebih lambat dibanding musim panas, namun bagian dalam kuil
tidaklah gelap. Cahaya dari alat sihir terpantul pada dinding batu yang
terpoles rapi.
Tulisan yang
muncul di lempengan batu di depan Lutreace juga memancarkan cahaya, menerangi
sekitarnya dengan redup.
Peringkat
Kelima: Putri Naga Putih Lutreace.
Daftar
Peringkat Sword King.
Melihat lima
nama terkuat di dunia—termasuk dirinya sendiri—terpampang di sana, Lutreace
dirundung berbagai perasaan.
Perasaan apa
itu, dan mengapa dia merasakannya, hanya dia yang tahu. Kekesalan yang dia
rasakan pada para pendeta tadi sudah lama dia lupakan.
Tap. Langkah kaki Lutreace menggema di
dalam kuil.
Tiba-tiba,
sebuah suara terdengar.
"Ternyata
kau di sini."
Suara itu
terdengar tepat saat Lutreace memunggungi lempengan batu dan hendak
meninggalkan kuil.
"...Pangeran
Ketiga?"
Di ujung
pandangannya, seorang pemuda berdiri menyandar pada pilar di lorong yang luas.
Lutreace
tidak bertanya mengapa Pangeran Ketiga berada di sini di waktu sepagi ini.
Radius sendiri tidak keberatan dipanggil "Pangeran Ketiga" secara
kasual, karena dia sudah terbiasa.
"Aku
butuh waktumu sebentar. Ada yang ingin kubicarakan."
"Sayang
sekali, aku tidak punya urusan denganmu."
"Meskipun
itu tentang keluarga Ashton?"
"——"
Itu adalah
gerakan yang sangat samar. Namun, Radius tidak melewatkan keraguan yang muncul
di alis Lutreace walau hanya sesaat.
Radius segera
menyambar kesempatan itu untuk melanjutkan pembicaraan.
"Kejadian
di musim panas terus terbayang di benakku. Bukan hanya musim panas tahun ini,
tapi juga tahun lalu."
"Cukup
basa-basinya. Langsung ke intinya saja."
"Baiklah
kalau begitu."
Radius tetap
bersandar pada pilar.
"Apakah
kau memikirkan sesuatu tentang keluarga Ashton?"
Kali ini,
tidak ada reaksi apa pun.
Meski Radius
memperhatikan dengan saksama, Lutreace tidak menunjukkan respon sedikit pun.
"Ksatria
yang melayani keluarga Clausel, ya."
"Ada
lagi?"
"Entahlah.
Aku tidak terlalu mengenal mereka."
Radius
tahu dia tidak bisa begitu saja percaya, namun dia juga paham bahwa dia tidak
akan mendapatkan jawaban lebih dari itu.
Dan
lagi, dia tidak bisa memberi perintah padanya.
Sword
King Lutreace
adalah sosok yang mirip seperti tentara bayaran yang membantu Leomel karena
kemurahhatiannya sendiri.
Dia
adalah salah satu individu di dunia yang memiliki kekuatan absolut di luar
nalar, yang bahkan tidak bisa diikat oleh otoritas Kerajaan Leomel.
Lutreace
kembali melangkah seolah sudah kehilangan minat, melewati Radius begitu saja
tanpa meliriknya lagi.
"Lalu,
apa alasanmu membantu di Menara Jam Besar setelah mendengar nama Ashton?"
Tanpa
menghentikan langkahnya, Lutreace menjawab.
"Aku
hanya tertarik dengan rumor tentang kekuatannya. Bukankah sebelumnya aku sudah
menjawab hal yang sama?"
"...Ah,
benar juga."
Sesuai
dugaan, tak ada kata-kata lebih lanjut. Lutreace meninggalkan kuil.
Tanpa
mengejarnya, Radius tetap bersandar pada pilar sambil menyilangkan tangan,
menatap lempengan batu tempat nama-nama para Sword King terukir.
"Aku
tidak yakin seseorang yang termasuk dalam lima orang terkuat di dunia akan
tertarik pada seorang bocah hanya karena alasan itu."
Bisikannya
terlalu pelan untuk menggema di kuil yang luas itu.
◇◇◇
Roses Caitas
adalah sebuah tanah suci agama Elfen yang telah disegel selama ratusan tahun,
terletak beberapa jam perjalanan dengan kapal magis dari Ibu Kota Leomel.
Musim panas
ini, segel yang menyelimuti Roses Caitas akhirnya terlepas.
Peristiwa
yang mengejutkan umat Elfen di seluruh dunia ini terjadi tepat di tengah
perayaan akbar bagi para siswa, Festival Raja Singa.
Karena segel
itu terlepas sesaat setelah paduan suara suci mempersembahkan lagu mereka,
pihak gereja dan para penganutnya percaya bahwa doa mereka telah terkabul.
Namun,
kenyataannya tidak seperti itu.
Segalanya
berawal ketika Ren... dan Licia, terjebak dalam segel yang menyelimuti Roses
Caitas, yaitu Time Cage.
Segel itu
menghilang karena mereka berdua berhasil mengalahkan jenderal pasukan Raja
Iblis di dalamnya.
Hanya
segelintir orang yang mengetahui fakta ini. Para pendeta yang tidak tahu
apa-apa terus berdatangan tanpa henti dari seluruh penjuru Benua Elfen.
Bulan
September telah berlalu, dan hingga memasuki bulan Oktober pun, situasinya
tetap tidak berubah.
Kata-kata
"Anak Tuhan" yang diucapkan Sword Demon sesaat sebelum
kematiannya, serta obsesi makhluk itu terhadap keluarga Ashton—semuanya masih
menjadi misteri.
Di
tengah ketidakpastian itu, Ren bersiap untuk menikmati hari libur musim
gugurnya.
"Hah...
hah...!"
Ren
melompat keluar dari kereta magis yang baru saja tiba di Ibu Kota dan berlari
menuju peron lain.
Melihat
jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 10.40 pagi. Hanya tersisa sedikit waktu
sebelum pukul 11.00, waktu janji temu mereka.
"Pemberitahuan——
kereta tujuan—— akan segera berangkat——"
"A-Aku
harus cepat!"
Suara
pengumuman kereta magis yang hendak dinaiki Ren menggema di peron.
Ren
mempercepat langkahnya, menembus kerumunan stasiun yang padat di hari libur.
Akhirnya, dia bisa bernapas lega setelah berhasil naik ke atas kereta.
Sambil
menenangkan diri, Ren menyeka keringat tipis di dahinya.
"...Tepat
waktu."
Di
sekelilingnya, suasana riuh dengan percakapan para penumpang yang menikmati
hari libur.
Musim
telah berganti, begitu pula pakaian orang-orang.
Dari
jendela kereta, terlihat warna hijau pepohonan telah memudar, digantikan oleh
pemandangan musim gugur yang sedikit melankolis namun penuh nuansa estetis.
Ren
mengenakan mantel yang lebih tipis dari pakaian musim dingin, sebuah mantel
elegan khas penduduk kota.
(Mungkin...
mepet sekali, ya.)
Demi
memastikan, dia kembali melirik jam tangannya. Tentu saja, hanya berlalu
beberapa menit sejak terakhir kali dia melihatnya.
Suara
roda kereta yang melintasi rel dan guncangan tipis terasa menenangkan. Ren
menghela napas lega dan mencoba menenangkan hatinya.
◇◇◇
Sesampainya
di area teras sebuah kafe di jalan utama Ibu Kota.
"Maaf!
Aku terlambat!"
Ren tiba
dengan napas sedikit terengah-engah dan meminta maaf kepada pemuda yang sudah
duduk di kursi yang dikelilingi tanaman pagar.
Pemuda yang
sudah duduk lebih dulu itu adalah sahabatnya, Radius.
"Kau
datang tepat tiga menit sebelum waktu yang dijanjikan, jadi jangan dipikirkan.
Lagipula aku cukup menikmati waktuku meski sendirian, tidak perlu minta
maaf."
Ren mengira
itu hanya sekadar kata-kata penghibur. Namun, Radius melanjutkan bicaranya
sambil menatap Ren yang baru saja duduk.
"Melihat
kesibukan jalan utama di hari libur tidaklah buruk."
"Kenapa
begitu?"
"Aku
menikmati suasananya. Akhir-akhir ini aku punya banyak kesempatan untuk lebih
memperhatikan rakyat."
"Bukannya
dari dulu sudah begitu?"
"Memang,
tapi belakangan ini banyak hal terjadi yang membuatku lebih
memperhatikannya."
Di hari libur
biasa ini, mereka menikmati waktu sebagai remaja sebaya. Sesekali mereka
menyesap teh sambil memandang jalan utama dari celah tanaman pagar.
"...Huwaa."
Celah kecil
dalam kewibawaan Pangeran Ketiga itu menarik perhatian Ren.
"Jarang
sekali melihat Radius tampak mengantuk di luar seperti ini."
"Aku
bangun sangat pagi hari ini. Ada urusan sepele di Kuil Dewa Perang."
"Kau
pergi ke kuil itu?"
Ren
sendiri belum pernah ke sana. Namun, sebagai orang yang bercita-cita menjadi Sword
King, dia sangat paham tempat seperti apa itu.
Jarang sekali
Radius pergi ke sana. Tatapan Ren yang penasaran bertemu dengan tatapan Radius
yang mengerti apa yang dipikirkan sahabatnya itu.
Sebelum Ren
sempat bertanya lebih jauh, Radius segera memotong.
"Hanya
urusan sepele."
"A-Ah...
begitu ya."
Karena Radius
sepertinya tidak berniat bercerita lebih lanjut, Ren hanya mengangguk patuh.
Dia melahap kuenya, dan rasa manis itu membuat raut wajahnya melembut.
"Ah,
benar juga. Aku melihat lempengan batu di sana. Aku berharap suatu saat nama
Ren akan terukir di sana."
"Uhuk...
uhuk! Uhuk!"
"Tenanglah.
Tidak perlu kaget sampai tersedak begitu."
"Ma-maaf!"
Kata-kata
yang terlalu tiba-tiba itu membuat Ren tersedak. Setelah terbatuk beberapa
kali, dia menatap Radius.
"Bukankah
kau sudah bertekad untuk menjadi Sword King?"
Karena Ren
sudah menceritakan keputusannya itu sebelumnya, Radius bertanya sambil
memiringkan kepala.
"Tentu
saja, tapi aku hanya terkejut karena kau mengatakannya tiba-tiba."
"Hmm,
jadi bukan karena kau merasa gentar, ya."
"——Tentu
saja tidak."
Di mata Ren
terpancar tekad yang kuat. Radius pun sebenarnya tidak meragukan tekad itu, dia
hanya ingin menggoda sahabatnya saja.
Tekadnya
tidak tergoyahkan, dan kini dia bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
"Aku
akan mencapainya. Pasti."
"Ya. Aku
akan menantikannya."
Waktu mereka
di kafe berakhir, dan keduanya bangkit berdiri.
Radius
melakukan penyamaran sederhana, sehingga di tengah keramaian jalan utama
seperti ini, identitasnya tidak akan terbongkar.
Mengenai
pengawal, katanya dia sudah mengatur segalanya. Mendengar itu, Ren pun tidak
merasa khawatir dan berjalan di sampingnya.
Mereka
meninggalkan kafe dan mulai berjalan-jalan santai di sepanjang jalan utama
tanpa tujuan pasti.
"Tentang
hal yang kukonsultasikan sebelumnya, aku ingin kau memperkenalkanku kepada
orang itu dalam tahun ini."
"Tentang
sihir suci dan Anak Tuhan, ya."
"Iya.
Orang yang kau bilang ada di Eupeheim itu."
Kejadian
aneh yang menimpa tubuh Licia saat bertarung melawan Sword Demon... Jika diungkapkan dengan kata-kata, itu
seperti proses 'Menjadi Malaikat'.
Sayap
bercahaya yang muncul dari punggung Licia, serta berbagai kekuatan suci yang
dia lepaskan secara tidak sadar—Ren tidak bisa melupakan hal itu barang sekejap
pun.
Tentu
saja, Ren tidak menceritakan fenomena spesifik tersebut kepada Radius.
Dia
hanya berkonsultasi bahwa hal itu mungkin ada hubungannya dengan sihir suci,
dan meminta diperkenalkan kepada orang yang memiliki pengetahuan luas di bidang
tersebut.
"Tentu
saja. Aku akan mengatur jadwalnya."
"Terima
kasih. Ngomong-ngomong, orang seperti apa yang akan kau perkenalkan?"
"Dia
adalah mantan guru privatku. Sepertinya aku pernah bercerita, dialah orang yang mendirikan
Persekutuan Dagang Arnevelde bersamaku."
Ren merasa
sangat senang, membayangkan sosok yang bisa diandalkan.
Radius masih
memiliki urusan lain setelah ini. Karena Kepala Biro Saint Lion, Estelle,
datang menjemputnya secara langsung, Ren tidak perlu mengantarnya sampai ke
istana.
◇◇◇
Ren berjalan
sendirian di kala senja.
Semenjak
musim gugur tiba, matahari terbenam jauh lebih cepat.
Ren sesekali
menatap langit itu sambil menyusuri Ibu Kota. Tujuannya adalah tempat yang
sudah biasa dia datangi, gerbang depan Akademi Militer Kekaisaran.
Licia yang
berada di depan gerbang sekolah langsung berseru saat melihat sosoknya.
"Ren! Di
sini!"
Licia
Clausel. Gadis yang juga dikenal dengan julukan White
Saintess.
Rambutnya tampak seperti perak yang
dilelehkan bersama batu kecubung. Sepasang mata birunya yang secerah batu safir
memancarkan kewibawaan dan keanggunan, menyimpan kecantikan yang setara dengan
permata.
Senyum yang menghiasi wajahnya yang
manis seolah menegaskan julukannya sebagai Sang Santa.
Mendengar suara riangnya saat melihat
Ren, gadis yang berdiri di sampingnya ikut tertawa.
"Maaf membuatmu menunggu."
"Tidak apa-apa. Kami juga baru saja selesai, kok."
Melihat
interaksi keduanya, gadis yang tertawa di samping Licia menyahut.
"Kenapa
Ren tidak ikut kelas tambahan?"
Gadis di samping Licia itu adalah Sarah
Riohard.
Dia berasal dari salah satu dari Tujuh
Keluarga Archduke, keturunan pahlawan yang berhasil menaklukkan Raja Iblis. Dia
adalah gadis yang menarik perhatian dengan mata sewarna ambar dan rambut
cokelat halus yang memancarkan aura bangsawan.
"Rasanya
jarang sekali melihat Licia ada tapi tidak ada Ren di sampingnya."
"Aku ada
janji dengan Radius, jadi hari ini aku izin absen."
"Ah,
begitu ya."
Tidak ada
maksud lain di balik kata-katanya. Meskipun kenyataannya Ren mendapatkan nilai
sempurna pada ujian sebelumnya, tidak ada alasan untuk mengungkitnya sekarang.
◇◇◇
Sebuah gang
di luar jalan utama—bukan tempat dengan keamanan buruk, melainkan area pasar
kaki lima di mana terkadang orang bisa menemukan barang-barang unik.
Dalam
perjalanan pulang bersama Licia, mereka memutuskan untuk sedikit berkeliling
Ibu Kota.
"Ke mana
saja kau dengan Pangeran Ketiga tadi?"
"Minum
teh, jalan-jalan di kota... seperti biasa."
"Lalu
saat pulang, apa Estelle-sama yang menjemputnya?"
"Seperti
dugaan Licia, kau benar-benar tahu—ah."
Ren bergumam
sambil menggoyangkan rambut cokelat gelapnya.
Wajahnya yang
terlihat lembut mirip ibunya itu kini menunjukkan ekspresi seolah baru saja
melihat sesuatu yang langka.
"Ada
apa?"
White
Saintess melongokkan wajahnya ke arah Ren dari samping. Dia pun ikut penasaran
saat melihat ke mana arah pandangan Ren.
Di
ujung pandangan mereka, terlihat seseorang berjalan sambil memanggul tas ransel
berukuran raksasa.
Tingginya
hampir sama atau sedikit lebih tinggi dari Ren dan Licia saat mereka berusia
sepuluh tahun, namun ukuran tas itu sama sekali tidak proporsional dengan
tubuhnya.
Tas
itu benar-benar sangat besar, lebarnya mungkin mencapai dua meil.
Orang
tersebut menurunkan tasnya di pinggir jalan, lalu duduk di atasnya sambil
bertopang dagu. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup jubah kumal dan topeng.
"Apakah
dia seorang Dwarf?"
"Entahlah.
Tidak ada informasi sama sekali tentang 'Si Pengembara Tas'."
"Si
Pengembara Tas?"
"Sepertinya
dia dipanggil begitu. Ada rumor tentang orang bertubuh kecil yang memanggul tas
sangat besar."
Sosok
itu adalah legenda urban yang populer di kalangan siswa dan penduduk, baik
dalam Legend of Seven Heroes maupun di realitas Ren sekarang.
"Licia
belum pernah mendengarnya?"
"Kalau
dipikir-pikir, sepertinya aku pernah mendengar seseorang
membicarakannya..."
Dalam
Legend of Seven Heroes, Si Pengembara Tas muncul di berbagai tempat di
Leomel dalam periode waktu terbatas. Seingat Ren, sekarang adalah waktunya dia muncul di Ibu Kota.
Dilihat dari
suaranya, Si Pengembara Tas kemungkinan besar adalah seorang pria.
Dia adalah
sosok misterius yang akan menjual item spesial jika dibayar dengan uang yang
sangat banyak—saking banyaknya hingga uang saku Ren saat ini pun tidak akan
cukup.
Namun, jika
dia menguras seluruh tabungannya, mungkin saja...
Beberapa
petualang berdiri di depan orang misterius tersebut.
"Sepertinya
kalian tertarik dengan toko Si Pengembara Tas."
Ren
menyebut sebutan itu sebagai rumor, namun sebenarnya itu adalah nama yang
diberikan oleh Si Pengembara Tas sendiri.
Para
petualang yang disapa mulai menunjukkan ketertarikan.
"Apa kau
menjual sesuatu?"
"Jika
tidak keberatan, tunjukkan pada kami."
"Tentu
saja. Tas ini berisi kebijaksanaan, harapan, dan romansa. Jika kalian
menginginkan sesuatu, kalian bisa mendapatkannya dengan membayar harga yang
setimpal."
"Bagaimana?"
tanya Si Pengembara Tas.
Tiba-tiba,
sikap para petualang berubah.
"Kebijaksanaan
dan harapan?"
"Ditambah
romansa... jangan-jangan orang ini menjual obat-obatan terlarang?"
"Astaga.
Menuduh orang sembarangan itu tidak sopan, tahu."
Sepertinya
para petualang itu kehilangan minat dan pergi dengan ekspresi wajah yang aneh.
Si Pengembara
Tas sama sekali tidak ambil pusing dan hanya melambaikan tangan seolah berkata
"ya sudahlah".
"Ayo
kita juga pergi."
Setelah
menikmati suasana pasar kaki lima selama satu jam lagi, mereka akhirnya
memutuskan untuk pulang ke kediaman mereka.
Licia
berjalan sambil menggoyangkan ujung mantelnya, sesekali menatap Ren yang
berjalan di sampingnya.
◇◇◇
Akademi di
pagi hari.
Ren dan Licia
yang datang lebih awal dari biasanya melangkah menuju ruang kepala sekolah.
"Selamat
pagi, kalian berdua! Silakan duduk di mana saja!"
Kepala
Sekolah, Chronoa Highland.
Dia adalah
wanita cantik sekaligus imut dengan rambut emas panjang yang indah seperti
benang emas.
Alasan mereka
menemui salah satu penyihir terhebat di dunia ini adalah untuk melanjutkan
diskusi yang telah mereka lakukan sebelumnya. Topi penyihir runcing yang
dikenakan Chronoa sedikit bergoyang saat dia memberi isyarat agar mereka
mendekat.
Begitu mereka
duduk di sofa, Chronoa mengambil posisi duduk di hadapan mereka.
"Tentang
hal tempo hari... karena pengguna sihir suci sangatlah sedikit, penelitiannya
tidak terlalu berkembang..."
Kekuatan
sayap yang dikeluarkan Licia belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan Chronoa
yang bijaksana pun tidak tahu alasannya.
Licia tidak
bisa terus menjalani hari-harinya tanpa menceritakan fakta bahwa dia melepaskan
kekuatan sebesar itu secara tidak sadar. Setelah kejadian tersebut, dia
menceritakannya kepada ayahnya, Lezard.
Orang lain
yang mengetahui detail kejadian itu hanyalah Chronoa dan Fiona yang menjemput
mereka hari itu.
Mereka
memutuskan untuk menceritakannya kepada Ulysses dan Radius setelah situasi
sedikit lebih tenang.
"...Maaf
ya. Aku sudah mencoba mencari-cari di buku koleksiku, tapi tidak ada informasi
yang berarti di sana..."
Kediaman
Chronoa memiliki perpustakaan dengan koleksi buku yang tak terhitung jumlahnya.
Dia sudah
mencarinya seolah hendak membongkar seluruh rak buku, namun suaranya terdengar
lesu karena gagal menemukan apa pun.
Licia
buru-buru menyahut.
"Tolong
jangan dipikirkan! Lagipula ini berawal dariku yang sembarangan menggunakan
kekuatan yang tidak kumengerti!"
"Ta-tapi!
Itu kan bukan atas kemauan Licia-chan!"
"Kalian
berdua, jika ditarik akarnya, penyebab utamanya adalah Time Cage dan Sword
Demon, jadi premisnya saja sudah salah."
Mata mereka
berdua tertuju pada Ren.
"Entah
aku penyebabnya atau Licia, yang jelas kita berdua adalah pihak yang terjebak
di dalamnya. Licia tidak salah apa-apa."
Ren sering
memikirkan mengapa insiden itu terjadi dan apa alasannya.
Mungkin
karena sisa kekuatan Sang Black Priestess yang membantu Ren di Pegunungan
Baldor masih tertinggal di dalam tubuhnya, sehingga Roses Caitas menganggap Ren
sebagai musuh dan menjebaknya bersama Licia untuk disucikan.
Atau mungkin
segel tersebut memanggil Licia sebagai White Saintess beserta kekuatannya untuk
membantu mengalahkan Sword Demon.
(Jika yang
terakhir benar, lalu kenapa aku ikut terjebak?)
Dulu, saat
desa kelahiran Ren diserang oleh elf bernama Yelkuku, Ren bertarung bersama
Licia dengan mempertaruhkan nyawa.
Di akhir
pertarungan, sebuah pedang sihir cahaya tiba-tiba muncul, dan keberadaan cahaya
kuat yang dibawanya mungkin telah menarik Ren ikut masuk ke dalam segel
tersebut...
Berapa kali
pun dia memikirkannya, itu tetaplah sekadar hipotesis tanpa kesimpulan pasti.
"Lalu
Licia, seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, sebaiknya jangan mendekati
orang-orang dari agama Elfen."
"...Iya.
Aku mengerti."
Jika sejak
awal agama Elfen berniat mencelakai mereka, mereka pasti akan melakukannya
dengan lebih licin.
Keterlibatan
agama Elfen sebenarnya sangatlah tipis, namun pengalaman di musim panas lalu
membuat Ren merasa sangat muak.
"Jika
ada kontak dari agama Elfen terkait posisimu sebagai White Saintess, beri tahu
aku ya. Jika mereka meminta sesuatu, aku yang akan mencarikan alasan untuk
menolaknya."
"Chronoa-sama,
apakah tidak apa-apa?"
"Tentu saja. Bagiku, Licia-chan
adalah yang paling utama."
Ucapnya lembut sambil menggoyangkan
rambut emasnya yang berkilau.
◇◇◇
Belum genap dua bulan sejak sebutan
"Licia-sama" berubah menjadi sekadar "Licia".
Di tengah Festival Raja Singa, para
siswa tahu ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Meski beberapa
orang mencoba bertanya kepada Licia, dia tidak menceritakan apa-apa.
Perubahan cara memanggil itu mulai
diketahui publik sesaat setelah Time Cage yang menyelimuti Roses Caitas
menghilang.
Saat itu, Ren
menyapa Licia di kelas seperti biasanya.
"Licia,
ayo pulang."
Panggilan
yang berbeda dari biasanya itu mengejutkan para siswa di kelas khusus. Kelas
menjadi riuh, dan beberapa teman sekelas mulai berbisik-bisik karena terkejut.
Namun, karena
Ren tetap tenang dan Licia menyahut seolah itu hal yang wajar, orang-orang di
sekitar mereka menjadi bingung.
Di antara
mereka, Sarah adalah yang paling terkejut. Namun dia segera tersenyum,
menyadari bahwa ini adalah hasil dari perjuangan Licia. Di tengah para siswa
yang kaget, hanya dialah yang tampak senang melihat perkembangan tersebut.
Di luar kelas
khusus tahun pertama pun, perubahan cara memanggil nama ini menjadi bahan
pembicaraan.
Namun,
manusia adalah makhluk yang mudah terbiasa. Lama-kelamaan, reaksi orang-orang
saat mendengar Ren memanggil Licia tanpa gelar mulai memudar.
Kini, ketika
siswa lain mendengar percakapan mereka, hampir tidak ada lagi yang menoleh
sengaja. Suasana sebelum Festival Raja Singa telah kembali.
...Meski
terkadang Fiona, yang merasa tertinggal dari Licia, diam-diam menyemangati
dirinya sendiri. Perjuangannya masih akan terus berlanjut.
Saat jam
istirahat siang, seorang gadis menarik perhatian teman-temannya dengan suara
ceria.
"Perhatian,
perhatian semuanya!"
Dia adalah
putri dari salah satu keluarga Archduke, Nem Althea dari keluarga Althea.
Mendengar
suaranya, Ren, Licia, Sarah, dan Vain yang sedang menikmati makan siang di
kursi masing-masing segera mendekat.
"Ada
apa, Althea-sama?"
"Aah,
lihat! Ashton-kun memanggil begitu lagi!"
Nem yang
bertubuh mungil menyeringai nakal sambil menyilangkan jari membentuk tanda
silang.
"Sudah
kubilang kan, panggil aku dan Sarah-chan dengan sebutan 'san' saja!"
Ren biasanya
sangat berhati-hati dalam memanggil teman sebaya jika mereka adalah bangsawan.
Namun sejak
dia mulai memanggil Licia tanpa gelar, sikapnya pun perlahan menjadi lebih
santai dibandingkan saat musim semi atau panas lalu.
Nem dan yang
lainnya sebenarnya lebih suka dipanggil tanpa gelar, tapi Ren belum bisa
melangkah sejauh itu.
"Maaf,
sudah jadi kebiasaan."
"Nmu
nmu. Baiklah, kali ini kumaafkan!"
"Jadi,
ada apa tiba-tiba? Lagipula ini kan mejaku," sahut Sarah kepada Nem.
Ada alasan
mengapa Nem sengaja mengumpulkan semua orang di meja Sarah.
"Aku
ingin kalian melihat ini! Ini adalah informasi eksklusif yang baru kudapatkan
pagi ini!"
Ucap
Nem dengan penuh semangat sambil bertolak pinggang. Tanpa meminta izin kepada
Sarah sang pemilik meja, Nem membentangkan kertas besar yang sedari tadi dia
kempit di ketiaknya.
Sepertinya itu adalah sebuah poster.
"Bagaimana? Hebat, kan!"
Sarah yang melihatnya langsung menepuk
tangan, seolah baru saja teringat sesuatu.
"Aku
pernah dengar soal ini. Kereta jarak jauh yang baru itu, kan?"
"Betul,
betul! Musim dingin ini, akhirnya bakal resmi beroperasi!"
Poster
besar yang dibentangkan Nem menampilkan ilustrasi kereta magis mutakhir yang
tampak begitu gagah dan indah. Nama kereta itu adalah Guardiknight.
Dalam
bahasa kuno Leomel, nama itu berarti "Ksatria Tanpa Noda".
"Ini
proyek kereta paling viral saat ini, yang dipimpin langsung oleh Marquis
Ignat!"
Selama
ini, perjalanan udara dengan kapal magis dianggap sebagai moda transportasi
terbaik.
Namun, kali
ini adalah perjalanan darat melalui jalur kereta api. Kereta ini akan berangkat
dari Ibu Kota, melewati beberapa kota yang tidak memiliki dermaga kapal magis,
dan menuju pemberhentian terakhir di Eupeheim.
Jalur
rel baru ini juga merupakan jaringan transportasi yang sangat strategis bagi
pertahanan negara.
Dalam
Legend of Seven Heroes, ini adalah proyek yang gagal diselesaikan oleh
Ulysses, karena dia kehilangan nyawanya di musim dingin ini.
Setelah
kehilangan Fiona, dia kemungkinan besar kehilangan minat pada segalanya.
"Kalau
tidak salah, Guardiknight juga melewati Erendil, ya?"
Ren bertanya,
meski tidak ditujukan kepada siapa pun secara spesifik.
"Iya!
Apa Ashton-kun jangan-jangan belum tahu?"
"Aku
cuma pernah dengar selentingan saja."
"Begitu
ya. Kalau begitu, penjelasannya jadi lebih mudah!"
Dulu,
Ren memang pernah mendengarnya dari Ulysses dalam obrolan santai.
"Sekarang
aku sedang mengerjakan proyek seperti ini juga," ucapnya kala itu, seolah
hanya membicarakan urusan sepele.
Kalau
dipikir-pikir lagi, membicarakan bisnis skala besar seperti itu dengan santai
sebenarnya agak berlebihan, tapi itu memang gaya khas pria yang dijuluki
"Si Tangan Besi" tersebut.
Ren
menoleh ke arah Licia di sampingnya.
"Licia
juga baru dengar sedikit saja, kan?"
"Iya.
Sepertinya pengetahuanku soal ini sama denganmu, Ren."
"Kalau
begitu, saat pulang nanti, bagaimana kalau kita tanya lebih detail kepada
Lezard-sama?"
Jarak
antara keduanya kini semakin dekat secara fisik, seiring dengan perubahan cara
mereka memanggil nama masing-masing. Saat Licia menjawab "Ide bagus"
kepada Ren, punggung tangan mereka bahkan hampir bersentuhan.
"Terus,
Nem, kenapa tiba-tiba kau bawa poster Guardiknight segala?"
"Eeh,
Sarah-chan masa tidak paham juga?"
"Ya...
aku tidak paham."
Melihat Sarah
yang memiringkan kepala kebingungan, Nem sempat tertegun sejenak, lalu menjawab
dengan santai tanpa beban.
"Habisnya,
kelihatannya seru, sih."
"...Sudah
kuduga kau bakal bilang begitu."
Bel sekolah
yang menandakan berakhirnya jam istirahat siang berbunyi tepat saat itu.
◇◇◇
Setelah
kejadian di siang hari itu, jam pelajaran sore pun berakhir dan masuk ke waktu
sepulang sekolah.
Ren, yang
memiliki beberapa ganjalan terkait pelajaran, memutuskan untuk berkonsultasi
dengan Fiona tentang buku referensi yang direkomendasikan.
Dalam
perjalanan pulang dari perpustakaan, Ren dan Fiona berbincang sambil berjalan
menyusuri lorong sekolah. Di luar jendela yang membentang di sisi mereka,
terlihat taman sekolah yang telah berganti rupa seiring datangnya musim gugur.
"Rasanya
buku referensi yang dibutuhkan jadi dua kali lipat lebih banyak dibanding saat
musim semi."
Ren berucap
sambil tertawa kecut di lorong yang diselimuti keheningan tersebut.
Mendengar
itu, gadis berambut hitam di sampingnya menyahut.
"Terkadang
memilih satu buku saja bisa sangat sulit, bukan?"
"Ah...
benar juga. Terkadang aku malah berakhir membeli beberapa buku yang isinya
mirip-mirip."
"Fufu,
aku juga pernah mengalami hal yang sama. Tapi, aku senang jika rekomendasiku
tadi bisa membantu."
Fiona
tersenyum, profil wajahnya tersinari cahaya matahari senja.
Dia merasa
belakangan ini dia jadi lebih sering mendongak untuk menatap Ren dibandingkan
saat musim panas lalu, dan hal itu membuat jantungnya berdebar kencang. Angin
yang masuk dari jendela menggoyang rambut panjangnya.
Di bawah bulu
mata yang lentik, sepasang mata sewarna batu kecubung itu menatap ke arah Ren.
"Kalau
ada hal lain yang mengganjal, jangan ragu untuk bercerita lagi padaku,
ya."
Fiona Ignat,
sang Black Priestess.
Cahaya lembut
jatuh menimpa rambutnya yang hitam legam seperti batu obsesian.
Dia adalah
gadis dengan paras yang begitu cantik dan menawan, hingga sering disebut
sebagai kecantikan yang mampu meruntuhkan kota.
Di balik rok
seragamnya, terlihat sepasang kaki jenjang yang putih mulus.
Proporsi
tubuhnya yang tetap terlihat sempurna meski mengenakan jaket seragam telah
memikat hati banyak lawan jenis yang tak terhitung jumlahnya.
Sambil
melangkah menuju luar gedung sekolah, Ren teringat pembicaraan Nem siang tadi.
"Ngomong-ngomong soal tadi
siang..."
Ren
mulai mengangkat topik tentang kereta Guardiknight yang ada di poster
tadi.
Fiona
pun menanggapi dengan senyuman lembut.
"Informasinya
memang baru dipublikasikan ke seluruh kekaisaran mulai pagi ini, jadi mungkin
karena itu."
"Begitu
ya... pantas saja Althea-san membawa poster itu."
"Iya.
Mungkin dia mendapatkannya di suatu tempat dan langsung ingin memamerkannya
kepada Ren-kun dan yang lainnya."
Ren
mengangguk, akhirnya paham kenapa poster itu tiba-tiba muncul.
"Karena
informasinya sudah dipublikasikan hari ini, apa itu berarti upacara
peresmiannya juga sudah dekat?"
"Benar!
Terkait hal itu, Ayah sepertinya akan berangkat ke Erendil dalam waktu dekat.
Sebelum resmi dibuka untuk umum, rencananya akan ada agenda menyapa semua pihak
yang telah membantu proyek ini—"
Fiona
mengangguk mantap, sementara warna jingga dari sinar matahari senja yang masuk
lewat jendela terpantul pada senyumannya.
Ren bisa merasakan bahwa topik mengenai Guardiknight ini akan menjadi pembicaraan hangat untuk beberapa waktu ke depan.



Post a Comment