NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 5 Prolog

Prolog


Dahulu kala, di masa yang sangat lampau.

Seorang gadis menatap wajah pria yang tengah berlari sambil mendekapnya.

Dia merasa bimbang, bagaimana jika pria itu sadar sedang diperhatikan? Namun, dia tidak bisa berhenti memikirkan sosok yang telah membawanya keluar ke dunia luar ini.

Tiba-tiba saja, pria itu bersuara.

"Mari kita istirahat sejenak."

"Iya. Aku mengerti."

Begitu ujung gaunnya menyentuh tanah dengan lembut, sang gadis pun berdiri di atas kakinya sendiri.

"Terima kasih. Anu... apa aku berat?"

"Sama sekali tidak, kok."

Kehangatan tubuh pria yang sedari tadi mendekapnya perlahan menjauh.

Entah mengapa, kini dia merasa kesepian.

...Aneh sekali.

Gadis yang dijuluki Mushibami Hime—Sang Putri Korosi—itu tertawa kecil pada dirinya sendiri karena merasa kehilangan hanya karena hal sepele seperti itu.

Angin sejuk membelai kulit mereka berdua yang sedang beristirahat.

Sejauh mata memandang hanya ada hutan. Pria itu bilang, ini adalah sisa-sisa dari pegunungan.

Meski dia merentangkan kedua tangannya, tidak ada dinding yang menghalangi. Alam raya ini seolah memberi tahu betapa kecilnya keberadaan dirinya.

Bagi gadis itu, tumbuhan adalah sesuatu yang tidak bisa dia lihat dari dekat.

Jika ada tumbuhan di dekatnya, kekuatan gadis itu akan segera menggerogotinya hingga layu dalam sekejap. Karena itulah, dia belum pernah melihat pepohonan sebanyak ini.

Sejak kecil dia dikurung, sehingga paling-paling dia hanya pernah melihat hijaunya rumput sesekali saja.

Menyaksikan pemandangan hijau yang indah membentang di depan mata, dia merasa seolah-olah telah datang ke dunia yang baru.

"Apa ini yang disebut hutan?"

Mushibami Hime bertanya pada pria yang berdiri beberapa langkah darinya.

Pria itu segera mengangguk dan menatapnya.

"Benar."

"Daerah ini disebut Lautan Hutan. Jika kita melewatinya dan terus maju sedikit lagi, kita akan melihat Samudra Elfen."

"Laut... aku pernah membacanya di buku. Itu genangan air yang sangat besar sampai-sampai tidak akan cukup meski kita menyambungkan banyak bak mandi, kan?"

"...Yah, kurang lebih mirip seperti itu."

Pria yang membawa Mushibami Hime sampai ke sini tersenyum mendengar perumpamaan manis sang gadis.

Dia menatap jauh ke dalam Lautan Hutan, lalu berkata kepada sang gadis yang tengah membayangkan keberadaan laut.

"Sudah saatnya kita memikirkan apa yang akan dilakukan setelah ini."

"Setelah ini? Aku akan tetap berada di sisimu, tapi selain itu apa lagi?"

"Misalnya... bagaimana kita akan menjalani hidup ke depannya. Apa kau punya keinginan tertentu? Sejujurnya, aku membawamu pergi tanpa memikirkan apa pun."

"Be... begitu rupanya."

Mendengar jawaban tanpa rasa bersalah itu, Mushibami Hime menyahut dengan suara yang sedikit lemas.

Dia tersenyum kecut, menyadari bahwa dirinya ternyata tidak membenci percakapan semacam ini.

"Lalu, saat kau bilang akan melarikan diri dari orang-orang yang mengejarku, apa sebenarnya yang kau pikirkan?"

"Makanya, aku tidak memikirkan apa-apa. Kalau boleh jujur, aku hanya berpikir untuk membawamu keluar."

"——Hanya tentangku?"

"Iya. Sampai beberapa hari yang lalu, aku hanya berpikir tentang mengumpulkan tiga harta karun dan meminta Milim Althea untuk membuatkan alat sihir dan obat."

Merasa tanpa sengaja telah menyentuh perasaan pria itu, Mushibami Hime membuang muka agar pipinya yang sedikit merona tidak terlihat.

Berpura-pura memandang hutan di kejauhan, dia mencoba bersikap tenang.

Ujung gaunnya bergoyang tertiup angin yang nyaman.

"Ke depannya, tempat seperti apa yang ingin kau tinggali?" tanya sang pria kembali ke topik utama.

"Mungkin... tempat yang terang dan tenang. Aku sudah muak dengan tempat yang gelap."

Dia masih sedikit takut dengan kegelapan, dan keinginannya akan tempat yang tenang berasal dari seleranya sendiri.

Pria itu mengangguk mantap setuju, lalu melangkah maju ke samping Mushibami Hime.

Sang gadis kembali memalingkan wajah agar profil samping wajahnya tidak terlihat. Namun, dia segera menyadari bahwa itu adalah perlawanan yang sia-sia.

"Sepertinya kau mencoba menyembunyikannya, tapi ketahuan lho kalau wajahmu memerah."

"~~!?"

Mushibami Hime buru-buru menoleh ke arah pria itu.

Dengan wajah yang masih memerah, dia menunjuk pria itu dengan ekspresi malu yang manis, tampak panik dan tidak puas.

"Meski kau tahu, sopannya itu jangan dikatakan, tahu!?"

"Maaf. Habisnya, aku merasa senang, jadi tidak sengaja terucap."

Pria itu tertawa lalu mengangkat Mushibami Hime ke dalam gendongannya.

"Kyaa!" Gadis itu memekik karena kejadian yang tiba-tiba, lalu menatap pria itu.

"Ada apa tiba-tiba?"

Sambil terus menutupi rasa malunya, dia sedikit mengerucutkan bibir. Namun kali ini dia pasrah dan tidak mencoba memalingkan wajah lagi.

"Berkemah di hutan sudah cukup menyenangkan, jadi mari kita berangkat."

"Kalau begitu, apa kita akan tinggal di tempat yang akan kita tuju sekarang?"

"Tidak, hanya untuk belanja kebutuhan saja. Tempat yang akan kita tuju adalah kota yang cukup besar, jadi tidak akan terlalu tenang."

Akan merepotkan jika pengejar datang.

Dia berniat untuk menetap di sana paling lama hanya beberapa hari.

Pria itu menjejakkan kakinya pada batu besar dan melesat maju dengan kencang. Mushibami Hime tidak takut dengan akselerasi ini dan menyerahkan seluruh tubuhnya pada sang pria.

Karena suara angin membuat pendengaran sulit, mereka berdua berbicara dengan suara keras.

"Aku tidak punya uang, lho!?"

Pertama-tama, sang gadis menyuarakan kekhawatiran kecilnya.

"Tenang saja, aku yang bawa!"

"...Boleh?"

"Tentu saja, kan aku yang membawamu pergi! Oh iya, mumpung ingat, aku berencana menemui temanku di sana nanti!"

"Iya, aku mengerti! Jadi, ke mana kita akan pergi?"

Pria itu menjawab sambil terus berlari membelah angin.

"——Ke sebuah kota pelabuhan yang sangat besar dan indah!"

Ini adalah kisah di dunia pada masa itu, saat sang Raja Iblis masih hidup——.

Zaman di mana Tujuh Pahlawan masih berkelana menjelajahi dunia.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close