NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 5 Chapter 10

Chapter 10

Alasan di Balik Sibuknya Pangeran Ketiga


Radius berada di sebuah lokasi bernama Gargazia, sebuah kota menengah yang letaknya cukup dekat dengan Ibukota Kekaisaran.

Tepat sebelum libur musim dingin dimulai, ia sempat memberi tahu Ren dan yang lainnya bahwa ia harus pergi menemui keluarganya sebelum meninggalkan akademi. Keberadaannya di sini adalah untuk keperluan tersebut.

Anggota keluarga kekaisaran yang hendak ia temui tidak menetap di Gargazia, namun kota ini dipilih sebagai titik temu yang strategis untuk mempermudah pembicaraan.

 

Radius menghela napas panjang di dalam kamar penginapannya.

"Selamat atas kerja kerasnya, nya."

"Ya. Melelahkan, tapi aku lega semua berjalan tanpa hambatan."

"Aku juga berpikir begitu, nya. Nah, kalau begitu, bagaimana kalau minum segelas untuk penyegar suasana?"

Radius mengira Mirei telah menyiapkan ramuan Potion untuk memulihkan kelelahan, namun dugaannya meleset.

Benda yang disodorkan Mirei adalah sebuah gelas berisi minuman yang menebarkan aroma manis.

"Ini minuman yang bisa membuatmu bersemangat, nya."

Meskipun penjelasan itu terasa kurang, Radius hanya berujar "Baiklah" dan mendekatkan gelas itu ke bibirnya.

Aroma madu dan semacam sari buah tercium dari minuman yang sudah sering ia nikmati sejak kecil tersebut.

Dulu, setiap kali ia merasa lelah, Mirei sering menyiapkan hal seperti ini untuknya.

Berbeda dengan Potion, minuman ini tidak langsung menyembuhkan tubuh, namun jika ditanya mana yang ingin ia minum setelah selesai bekerja, ia pasti akan memilih minuman ini.

"Mau aku pijat bahunya sebentar, nya?"

Mirei menunjukkan perhatiannya.

Tanpa menunggu jawaban, gadis itu mengulurkan tangan dan menyentuh bahu sang Pangeran Ketiga yang kelelahan.

Pangeran Ketiga mengembuskan napas panjang dan bergumam pendek, "Terima kasih," sementara di belakangnya, Mirei menunjukkan senyum yang tenang.

 

"Mulai tahun depan, interaksiku dengan Mirei mungkin akan jadi sedikit merepotkan."

"Nyah? Padahal aku selalu ada di sisimu, kenapa bisa begitu, nya?"

"Maksudku soal urusan di akademi. Kamu akan lulus musim semi depan, kan, Mirei?"

Mirei yang saat ini berada di tahun keempat akan menjalani upacara kelulusan dalam tiga bulan ke depan, lalu meninggalkan Akademi Militer Kekaisaran yang bergengsi itu.

Gadis itu mengangguk dengan ekspresi yang tampak sedikit sedih.

Sesaat kemudian, Radius perlahan menutup kelopak matanya. Mirei diam membisu agar tuannya yang lelah bisa beristirahat sejenak, namun...

"────Nya?"

Mendengar suara ketukan pintu, ia beranjak dari sisi Radius. Setelah sempat keluar ruangan sebentar, ia segera kembali ke sisi Radius yang kini telah membuka matanya.

"Sepertinya Tuan Ragna datang berkunjung, nya."

Kedatangannya selalu mendadak.

Radius menghela napas sambil berujar "Aku akan segera ke sana," lalu mulai merapikan penampilannya.

 

Sepuluh menit kemudian, di ruang tamu kamar penginapan.

"Apa kau bangun karena merasakan kehadiranku, Pak Guru?"

"Jangan bicara konyol. Itu karena Mirei yang memberitahuku."

"Sayang sekali. Omong-omong, belakangan ini kau terlihat sangat sibuk, ya?"

"……Kalau memang terlihat begitu, lain kali tolong jangan datang mendadak begini."

Radius menguap lebar.

Layanan kamar segera tiba. Karena Mirei sedang meninggalkan ruangan, mereka berdua duduk mengelilingi meja.

"Aku jadi merasa tidak enak padanya."

"Nanti biar aku yang sampaikan padanya. ……Jadi Ragna, kenapa kau ada di sini?"

"Apa kau sudah dengar soal serangan itu?"

Topik pembicaraan mendadak berubah, namun Radius menjawab tanpa ragu.

"Kalau soal keributan Wadatsumi, Sang Utusan Dewa Agung, aku tahu segalanya. Satu ekor yang kabur kabarnya sudah dibasmi oleh Ren dan Estelle. Lalu menurut laporan Estelle, Ren sudah menjadi Sword Saint. Meski detail informasinya masih dirahasiakan."

"Kuku. Menjadi tingkat Sword Saint dalam ilmu Great Sword di usia semuda itu, bukankah dia yang tercepat dalam sejarah?"

"Sepertinya dia memegang rekor tercepat yang setara dengan orang lain."

"Hm? Siapa satunya? Apa si Kepala Kantor itu?"

"Estelle berhasil masuk jajaran Sword Saint di usia delapan belas tahun. Satu orang lagi sama seperti Ren, di usia empat belas tahun."

"……Si Raja Pedang?"

"Ya," jawab sang Pangeran Ketiga pendek.

"Berarti Ren adalah calon Raja Pedang di masa depan, ya?"

"Kau terlalu cepat menyimpulkan."

"Berharap itu bebas, kan? Benar tidak?"

Memang tidak salah, tapi sudah pasti itu terlalu cepat.

 

"Bicara soal Ren, aku juga dengar dari Ulysses. Ren berhasil membuka pintu yang tidak bisa dibuka itu, kan? Rasanya aneh melihatmu keluyuran dan mengabaikan hal itu demi menyelidiki sesuatu yang tidak biasa."

"Kau penasaran?"

"Bohong kalau kubilang tidak, tapi aku juga tidak berharap kau akan memberitahuku dengan jujur."

Melihat Ragna tertawa, Radius melanjutkan bicaranya tanpa berharap mendapat jawaban.

"Tapi biarlah kutanya sekali lagi. Apa yang sedang kau selidiki?"

"Soal Ashton sang Penjelajah, memangnya kenapa?"

Karena jawaban yang diberikan begitu tenang, Radius sampai terpana.

Hal itu membuatnya seketika melupakan rasa lelah yang ia rasakan tadi.

"Jangan curiga yang aneh-aneh. Tadi itu aku mendengarnya langsung dari Ren."

"……Kalau begitu, apa hasil penyelidikannya sudah keluar?"

"Aku tidak membuang-buang waktu. Biar kukatakan saja kalau situasinya tidak buruk."

Ragna tidak berniat menjawab, ia hanya menghela napas dalam diam.

Ia tampak hendak mengatakan sesuatu, namun ia ragu—hal yang jarang terjadi padanya—dan membuka mulut untuk mengalihkan topik pembicaraan dengan cara yang kentara.

 

"Kau tidak suka?"

"Biasa saja. Jauh lebih baik daripada kau tidak menampakkan wajahmu sama sekali."

"Humu, padahal kau tinggal bilang kalau kau senang bertemu Pak Guru dengan jujur."

Ragna segera merogoh bagian dalam jubahnya.

Benda yang ia keluarkan adalah sepucuk amplop. Amplop itu telah disegel dengan segel lilin yang menggunakan alat sihir.

"Apa ini?"

"Jawaban dari apa yang kita bicarakan tadi. Ini rangkuman mengenai Ashton sang Penjelajah."

"──── Kau berhasil menemukan sesuatu!?"

"Hanya sedikit dari jangkauan yang bisa kuselidiki."

Berbanding terbalik dengan Ragna yang bicara dengan tenang, Radius menatap amplop itu lekat-lekat dengan ekspresi penasaran.

"Baca nanti saja. Kau pasti sibuk, jadi memprioritaskan bicara denganku akan lebih menguntungkan bagimu."

"Kau bicara seolah tahu segalanya lagi, Ragna."

Mendengar itu, Ragna bangkit dari tempat duduknya.

Ia berdiri di depan jendela sambil menatap ke luar.

"Akan kukatakan sekali lagi, belakangan ini kau tampak jauh lebih sibuk dari sebelumnya."

Ia sengaja menekankan hal yang sama kepada Radius.

"Kalau iya, memangnya kenapa?"

"Jangan merajuk begitu, mantan muridku yang manis."

Seolah ingin mengakhiri candaannya, Ragna mengendurkan wajahnya.

Sambil tetap berdiri di depan jendela, ia berbalik menghadap Radius dan tersenyum tipis.

"Aku sudah jauh-jauh datang ke sini. Apa kau pikir ini hanya untuk surat atau basa-basi saja?"

"Berhenti bicara berbelit-belit. Katakan dengan jelas."

"Aku datang karena merasa saatnya sudah dekat. Bukankah Radius juga punya sesuatu yang ingin kau minta dariku?"

Radius menghindari kontak mata dan mengangguk pelan.

"Ya, mungkin begitu."

"Kalau kau bisa mengatakannya dengan lebih jujur, aku tidak keberatan untuk memihakmu."

"Hanya untuk memastikan. Dari mana kau tahu?"

"Aku tidak mendengarnya dari mana pun. Tapi aku bisa tahu hanya dengan melihatmu. Ah, Radius pasti sedang sibuk karena urusan itu──── begitu."

"Maksudmu, semua ini berdasarkan dugaanmu saja, ya."

Ragna berdiri di depan Radius, mencengkeram kerah kemeja Radius yang sedang menunduk, dan memaksa wajah mereka saling berdekatan.

Meski bertubuh mungil, kenyataannya orang Shelgrad yang memiliki aura dewasa ini menunjukkan senyum yang licik.

"Katakanlah. Ayo, coba minta tolong pada Pak Guru."

Menanggapi sikap provokatif itu, Radius mengembuskan napas panjang.

"Kalau begitu, aku akan minta tolong dengan jujur. Ragna, maukah kau memihakku?"

"Kenapa? Kalau tidak bicara dengan jelas, aku tidak akan paham, kan?"

"Itu adalah────"

Karena suatu alasan, ia masih sulit mengatakannya.

Ragna yang juga menyadari hal itu merasa keheningan ini sangat menyenangkan.

Pada akhirnya, dari mulut Ragna keluarlah sebuah bantuan, seolah ia terpaksa mengucapkannya.

"Kau akan jadi Putra Mahkota, kan?"

 

Ini adalah kejadian yang tidak pernah terjadi dalam Legend of Seven Heroes.

Radius memang diharapkan menjadi Putra Mahkota sejak lama, namun karena ia kehilangan nyawanya, saat itu tidak pernah tiba.

"Sepertinya kau sedang berkeliling ke berbagai tempat untuk berdiskusi dengan anggota keluarga kekaisaran yang tidak ada di Ibukota. Sebentar lagi kau juga akan pergi bicara dengan Marquis Ignat dan yang lainnya, kan?"

"……Kau benar-benar tahu segalanya, ya."

"Tentu saja. Jadi, bagaimana hasilnya? Interaksi dengan para anggota keluarga kekaisaran yang jarang bicara itu?"

"Semuanya adalah keluarga yang merepotkan. Aku tidak sudi lagi melakukan lobi-lobi seperti ini seumur hidupku."

"Sudah kuduga. Jadi, kapan?"

"Kalau yang kau maksud adalah hari pengangkatan menjadi Putra Mahkota, itu belum diputuskan. Paling cepat musim panas... atau musim gugur."

Mungkin karena sudah setengah menduga jawabannya, Ragna hanya berujar "Sudah kuduga" dengan singkat lalu berjalan menuju pintu kamar.

Sepertinya urusannya sudah selesai, ia hendak segera pergi.

"Membuatku memohon lalu pergi begitu saja, sifatmu masih tidak menyenangkan seperti biasanya."

"Kau benci?"

"Tidak juga. Hanya saja, rasanya aku ingin memukul wajah yang kau dekatkan tadi."

"Jangan malu-malu begitu. Mengingat kau tidak bilang benci, kau masih belum jujur seperti biasanya."

Orang Shelgrad bertubuh mungil itu berkata sambil berjalan.

"Biar kukatakan saja untuk jaga-jaga. Aku akan tetap memihak Radius meski tanpa interaksi tadi, sama seperti dulu."

"Kalau begitu, apa arti dari interaksi tadi?"

"Hobi. Sepertinya kau tidak butuh penjelasan lain, kan?"

"……Ya, setidaknya aku jadi bisa memastikan kembali sifat Ragna."

"Baguslah kalau begitu. Kau jadi bisa memastikan kembali kebaikan Pak Guru."

Sambil memegang gagang pintu sebelum pergi, Ragna berpesan.

"Rahasiakan apa yang tertulis di surat itu. Aku tidak terlalu paham, tapi masalahnya jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Mengingat nama-nama mereka tidak muncul ke permukaan dunia, ini benar-benar serius."

Bakar saja kalau sudah selesai baca.

Setelah meninggalkan pesan itu, ia pergi secara mendadak seperti saat ia datang.

 

Mirei yang tadi menunggu di luar masuk ke ruang tamu tempat Radius berada.

"Sudah selesai, nya?"

"Ya. Lagipula, rencana persiapanku untuk menjadi Putra Mahkota sudah terbongkar."

"Nyahaha, kan dia orangnya memang begitu, nyaa."

Radius segera membuka segel lilin pada surat tersebut.

Selembar perkamen di dalamnya juga sengaja ditulis menggunakan pena alat sihir.

Seandainya Radius lupa membuangnya, tulisan itu dibuat agar menghilang dengan sendirinya.

Radius mulai membaca surat itu perlahan di dalam hati.

Pemilik surat yang ada di panti asuhan menginginkan material Phoenix.

Lanjutnya.

Kenapa, ya? Apa dia ingin membuat perlengkapan, atau menjadikannya harta karun? Tidak jelas apakah ada kegunaan lain, tapi────

Ragna merasa ragu dengan keterkaitan berbagai informasi tersebut.

Aku penasaran dengan sosok "dia" (perempuan) yang tertulis di surat itu. Berdasarkan isi suratnya, sang pemilik surat pergi menuju Benua Langit demi perempuan itu untuk mendapatkan material Phoenix.

Tanpa sadar Radius menjangkau cangkir berisi teh yang telah disiapkan Mirei.

Jarang baginya sampai lupa berterima kasih karena terlalu fokus membaca surat.

Material dari monster sekelas Phoenix adalah harta karun langka di dunia. Aku belum pernah mendengar contoh penggunaan material itu sebagai perlengkapan atau pajangan harta karun. Banyak dokumen dari era keberadaan Raja Iblis yang terbakar akibat serangan. Mungkin karena itulah tidak ada catatan yang tersisa, tapi, bagaimana jika kita berpikir seperti ini?

Radius merasa jantungnya berdegup kencang.

Putri Erosi (Princess of Erosion) yang diceritakan dalam dongeng kuno. Bukankah dia menuntut harta karun yang luar biasa? Jika kita menganggap salah satunya adalah material Phoenix, ini akan menjadi hal yang sangat menarik.

Dulu Radius akan langsung menampiknya sebagai hal konyol, namun kali ini ia tidak bisa.

Ia merasakan semacam kekuatan persuasif dari kata-kata yang disiapkan Ragna selanjutnya.

Apa sebenarnya koin Mithril mati yang ada di panti asuhan itu? Begitu juga dengan pena yang ditemukan dari kota tua. Jika benda-benda itu adalah barang yang dipengaruhi oleh Putri Erosi, aku merasa titik-titik ini mulai terhubung.

"────Tapi, Ragna."

Setelah membaca sampai sini, Radius pasti berpikir "mana mungkin".

"……Tentu saja begitu. Dasar bodoh."

Aku bahkan bisa membayangkan ekspresi wajahmu sekarang. Tapi, kau tidak akan bisa lagi menertawakan pemikiranku sebagai omong kosong.

Lalu, lanjutannya.

Radius menggumamkan baris berikutnya.

Aku berpendapat bahwa adik perempuan kepala panti yang bernama Geno adalah Putri Erosi itu sendiri. Dan tidak perlu berbelit-belit lagi. Pemilik surat itu adalah sosok yang disebut Ashton sang Penjelajah. Jika merujuk pada beberapa anekdot, aku tidak bisa memikirkan jawaban lain selain ini.

"……Aku mengerti."

Pahlawan misterius yang keberadaannya dihapus dari sejarah Leomel. Aku akan terus menyelidikinya sejauh mungkin, tapi jika Radius juga penasaran, kau bisa memikirkannya setelah situasi tenang. Jika kau bisa menyelidiki tentang pria bernama Geno yang mengelola panti asuhan, otomatis kau akan memahami tentang Putri Erosi juga. ────Ah, omong-omong, dalam buku seseorang yang meneliti daerah pinggiran suatu negara, tertulis hal yang menarik.

Cecil Ashton.

Sebuah legenda tentang seseorang yang menyelamatkan suatu desa dengan nama tersebut. Itu adalah nama dari Ashton sang Penjelajah yang berhasil ditemukan Ragna dalam waktu singkat.

Setelah selesai membaca, Radius berdiri membawa perkamen itu dan melemparkannya ke dalam perapian.

"……Haruskah aku menceritakannya langsung pada Ren?"

Perkamen itu hangus terbakar di dalam perapian.

Di mata sang Pangeran Ketiga, api di perapian tampak bergoyang dengan tenang.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close