NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku volume 5 Chapter 4

Chapter 4

Eupeheim, Kota Air


Sekitar pukul sepuluh pagi, pemandangan Eupeheim memenuhi seluruh jendela kereta. Ren dan Licia akhirnya menyaksikan sendiri keindahan wilayah yang dijuluki sebagai Mahkota Putih itu.

Deretan rumah serba putih berjajar rapi, dihiasi kanal-kanal air yang berkelok rumit.

Perahu-perahu kecil terapung di atas kanal, kontras dengan megahnya bangunan-bangunan raksasa khas kota metropolitan.

Kota air yang menghadap teluk berbentuk bulan sabit ini seolah sedang bercerita.

Menjelaskan alasan mengapa ia disebut Mahkota Putih, dan mengapa para keluarga kekaisaran dari generasi ke generasi tak pernah bosan mengunjunginya.

Keindahan lanskap kota ini begitu memikat, dengan skala yang tak kalah luas dari Ibu Kota.

Di bidang perdagangan dan pertahanan pun, kota ini memiliki pengaruh kelas satu di seantero Leomel.

 

Kereta Guardiknight berhenti di stasiun terbesar di Eupeheim. Eksterior stasiun yang serba putih menyerupai rumah-rumah penduduk sekitar, sebuah arsitektur raksasa yang sanggup membuat siapa pun menahan napas.

Di sini pun sebuah perayaan digelar. Diikuti dengan apa yang Ulysses sebut sebagai "salam formal yang merepotkan dan disukai kaum bangsawan."

Setelah rentetan acara selesai, para tamu undangan mulai keluar dari stasiun satu per satu menuju pusat kota.

 

Tak lama kemudian, Ren dan yang lainnya menaiki kereta kuda, dan sang kusir mulai memacu langkah kudanya.

Mereka menyusuri jalan raya dengan pemandangan yang sama sekali berbeda dari Ibu Kota maupun Erendil.

Kereta itu akhirnya berhenti di depan sebuah penginapan megah, bangunan paling menonjol di Eupeheim tempat mereka akan menginap.

Setelah menerima kunci bersama Lezard dan yang lain, Ren melangkah masuk ke kamarnya.

Matanya disambut oleh desain interior yang sangat kental dengan nuansa Eupeheim.

Warna putih mendominasi ruangan, memberikan kesan segar layaknya resor kelas atas. Saat Ren membuka jendela dan melangkah ke balkon, embusan angin beraroma laut menyambutnya dengan hangat.

"……Sudah kupikirkan berkali-kali, sih."

Sekali lagi, ia tersadar betapa indahnya kota ini. Dari balkon, ia bisa melihat jalan raya sekaligus kanal air kebanggaan Eupeheim secara bersamaan.

 

Ren menyelesaikan makan siang lebih awal dan kembali ke balkon untuk beristirahat. Licia ikut duduk di kursi depannya, dan mereka menghabiskan waktu bersama sambil memandangi lanskap kota.

Tiba-tiba, seorang pelayan keluarga Clausel yang ikut dari Erendil mendatangi mereka.

"Mohon maaf mengganggu. Tuan Ren, ada tamu yang mencari Anda."

"Mencariku? Apakah Ulysses-sama?"

"Bukan, dia adalah seorang ksatria. Beliau bilang ingin berbicara langsung dengan Tuan Ren."

Mendengar itu, Licia pun menimpali.

"Seorang ksatria? Mungkinkah soal urusan itu?"

"Sepertinya begitu. ────Aku pergi sebentar, ya."

Ren berdiri dan beranjak dari sisi Licia. Saat keluar ke lorong, di sana sudah berdiri seorang pendekar pedang kuat yang sering Ren temui di Shishiseicho.

"Ternyata benar utusan Radius."

"Saya datang bersama Yang Mulia dari Ibu Kota menggunakan kapal magis. Saya ke sini untuk menjemput Tuan Ren atas perintah beliau."

Radius tidak ikut dalam perjalanan Guardiknight karena kesibukannya, namun sepertinya ia pun sudah tiba di Eupeheim.

 

Ren kembali sejenak ke kamar untuk memberitahu Licia bahwa ia akan pergi. Karena Licia sudah menduga siapa tamunya, ia hanya bergumam pelan.

"Nanti biar aku yang sampaikan pada Ayah, jadi pergilah dengan hati-hati."

Melihat Licia yang tampak merasa bersalah, Ren berkata dengan nada lembut.

"Tidak apa-apa, Licia."

"Ta-tapi……!"

"Lagipula, penyelidikan kali ini adalah kemauanku sendiri. Jangan sampai kau hanya diam menunggu di kamar hanya karena aku tidak ada, ya."

"Ukh……"

Tepat sasaran. Licia yang memang berniat melakukan itu hanya bisa tersenyum kecut menatap Ren.

"Kita sudah jauh-jauh sampai ke Eupeheim. Aku bakal marah kalau kau hanya diam di sini karena memikirkanku."

"I-iya, aku mengerti! Kalau begitu…… terima kasih."

Licia akhirnya mengangguk, kalah telak oleh desakan Ren yang tidak biasanya sekuat ini. Ren pun mengangguk puas.

"Kalau begitu, aku berangkat."

Ren meninggalkan kamar setelah mengucapkan salam perpisahan itu.

 

Di dalam lift menuju lantai satu, Ren berbincang dengan sang ksatria.

"Bagaimana perjalanan dengan Guardiknight?"

"Sangat menyenangkan. Ini pertama kalinya aku bermalam di dalam kereta, pemandangan yang tidak biasa kulihat terasa sangat segar."

"Oh, sudah kuduga!"

Melihat antusiasme sang ksatria, Ren pun bertanya.

"Apa kau tertarik dengan kereta itu?"

"Tentu saja! Suatu saat nanti di hari libur, aku berniat menaikinya! Saat itu terjadi, aku ingin mengambil tiket kelas satu!"

Kelas satu adalah gerbong yang disiapkan untuk Ren dan yang lainnya, namun harga tiketnya tentu selangit. Tapi sang ksatria terus melanjutkan bicaranya seolah harga bukan masalah.

"Karena aku masih lajang dan bekerja sebagai ksatria, gajiku hanya menumpuk terus. Sesekali aku harus menikmatinya……"

Proyek Guardiknight yang dipimpin oleh Ulysses ini memang menarik perhatian besar, bahkan dari kalangan ksatria kuat sekalipun.

◇◇◇

Di sisi lain, saat Licia keluar dari kamarnya, suara seorang teman terdengar dari ujung lorong.

"Licia! Aku mencarimu!"

Itu adalah Sarah yang muncul dari seberang lorong. Di saat Licia terkejut dengan pertemuan tak terduga itu, Vain muncul mengekor di belakang Sarah.

"Sarah juga menginap di sini?"

"Iya. Kami baru saja selesai makan siang dan sedang berencana untuk pergi keluar."

Sarah membawa pedang di pinggangnya, begitupun Vain. Anehnya, mereka berdua mengenakan seragam akademi.

"Kenapa memakai seragam?"

"Tadi kan sudah kubilang, kami mau pergi keluar. Pakaian ini jauh lebih mudah untuk bergerak, lagipula seragam kita ini kan buatan khusus."

"……Hanya itu?"

"Iya dong. Lagian kita ini kan murid sekolah. Sayang kalau seragamnya tidak dimanfaatkan selagi bisa. Toh kalau sudah lulus tidak akan terpakai lagi."

"Yah, benar juga sih……"

Sarah membusungkan dada dengan bangga, meski menurut Licia tidak perlu sampai memakai seragam di Eupeheim.

Walau ia setuju kalau seragam itu memang memudahkan pergerakan.

"Kalau Licia dan Ren sudah selesai makan, mau ikut pergi bersama kami?"

"Sayang sekali. Kalau Ren, dia baru saja pergi keluar untuk urusan penting. Baru beberapa menit yang lalu."

Vain dan Sarah mengangkat bahu dengan kecewa.

"Sayang sekali Ren tidak ada. Tapi bagaimana denganmu, Licia? Kalau ada waktu, mau ikut?"

Lezard sudah berpesan agar ia menikmati liburan di Eupeheim. Ren pun sudah mewanti-wanti agar ia tidak diam saja di kamar. Licia sendiri tidak punya rencana khusus selain ingin melihat pemandangan malam Eupeheim bersama Ren nanti.

Dilihat dari alur pembicaraannya, sepertinya mereka bukan hanya sekadar pergi ke luar penginapan, tapi ke luar kota.

Ternyata benar, Sarah dan yang lain berniat pergi ke luar kota. Licia pun segera berpamitan pada Lezard dan kembali ke sisi Sarah.

"Soal ajakan tadi, apa aku boleh ikut?"

"Yatta! Kalau begitu kami tunggu di bawah ya. Segeralah bersiap!"

Butuh waktu belasan menit bagi Licia untuk bersiap-siap sebelum akhirnya turun ke lantai satu.

 

Begitu sampai di lobi, ternyata di sana sudah ada Kaito dan Nemu selain Sarah dan Vain.

Penginapan itu dipenuhi oleh para bangsawan, namun kehadiran anak-anak dari Tujuh Keluarga Besar Eishaku itu tetap menjadi pusat perhatian.

Di tengah kerumunan itu, berdiri seorang gadis yang menyandang busur di punggungnya. Begitu menangkap sosok Licia, ia berjalan mendekat meninggalkan kelompok Vain.

"Salam kenal, Nona Saint."

Suara dan senyum gadis itu terasa begitu dewasa dan memikat. Tingginya sedikit di bawah Licia, namun tetap di atas rata-rata. Bentuk tubuhnya yang berlekuk sempurna bisa membuat sesama perempuan merasa iri.

Menghadapi kecantikan gadis di depannya, Licia menjawab tanpa rasa minder.

"Saya Licia Clausel. Salam kenal."

"Iya. Mohon bantuannya ya."

Berdirinya dua gadis cantik secara berdampingan itu menciptakan aura yang luar biasa. Licia kemudian menggumamkan sebuah nama.

"Tak kusangka bisa bertemu Rofelia-sama di sini."

Charlotte Rofelia. Murid tahun kedua kelas khusus di Akademi Militer Kekaisaran. Licia belum pernah bicara ataupun bertemu langsung dengannya di pesta mana pun.

Namun, melihat gadis lebih tua yang bersama kelompok Sarah dan memiliki kecantikan yang luar biasa, hanya ada satu jawaban yang mungkin.

Kesan pertama Licia; Charlotte adalah kakak kelas yang cantik dan menggoda, persis seperti rumor yang beredar.

Ia adalah gadis yang sanggup memikat lawan jenis hanya dengan berjalan, dan Licia sadar bahwa dia adalah saingan berat bagi Sarah.

Di tengah pikiran itu, Sarah memanggilnya.

"Licia, jangan terlalu dipikirkan soal Shalo."

"Shalo? Maksudmu Rofelia-sama?"

"Iya, ingat itu. Menghadapi Shalo dengan serius itu melelahkan, abaikan saja dia semaumu."

Mendengar itu dikatakan tepat di dekatnya, Charlotte tentu saja bereaksi.

"Berani sekali ya bicara begitu di depan orangnya langsung."

"Tapi tidak salah, kan?"

"Kejamnya. Padahal itu tanda kasih sayang dariku."

Berkat hubungan Tujuh Keluarga Besar Eishaku, Sarah memang berteman baik dengan Charlotte. Bagi Sarah, belakangan ini ia memang merasa cemas jangan sampai Vain direbut, namun ikatan di antara mereka yang lahir di tujuh keluarga itu tetap tak tergoyahkan.

"Ahahaha! Nemu juga sependapat dengan Sarah-chan!"

"Jahat sekali. Seolah-olah aku ini kakak kelas yang cantik tapi menyebalkan saja."

"Bukannya 'seolah-olah', tapi memang begitu! Lagipula, jangan memuji diri sendiri cantik dong!"

Sarah menjawab dengan nada sedikit tinggi, namun Charlotte hanya menanggapinya dengan santai.

"Ah iya, iya. Manisnya. Sarah-chan hari ini energik sekali ya~"

"Ah, hei! Jangan tiba-tiba mengelus kepalaku!"

"Tidak apa-apa kan, habisnya kau imut sekali."

"Bukan... bukan itu maksudku! Ah, sudah! Bicara dengan Shalo benar-benar bikin pusing! Sampai kapan kau mau mengelusku seperti waktu kecil dulu!"

Licia tersenyum melihat para keturunan Legend of Seven Heroes itu berbincang akrab. Ia terkejut ternyata Sarah memiliki hubungan sedekat itu dengan kakak kelasnya.

Ia juga merasakan perbedaan besar dalam struktur faksi mereka. Bukan merasa dikucilkan, namun ia merasa baru saja melihat sekilas betapa kuatnya ikatan di antara Tujuh Keluarga Besar Eishaku.

"Gaaa! Sudah cukup! Lepaskan!"

Sarah yang terus ditempeli Charlotte akhirnya menyentakkan lengannya. Setelah mengatur napas yang memburu, Sarah menatap semua orang dengan serius.

"Ayo berangkat!"

Ia melangkah mantap di depan yang lain. Licia mengekor di belakang mereka. Tanpa perlu ditanya tujuannya, Sarah berseru.

"Karena kita sudah sampai di Eupeheim, kita harus pergi ke sana!"

Ini adalah salah satu kesempatan langka bagi Saint Licia untuk bergabung dalam party dalam garis waktu yang Ren ketahui. Sebuah adegan cerita di akhir bagian pertama Legend of Seven Heroes, yang terjadi di lokasi yang belum pernah ada sebelumnya.

◇◇◇

Kereta kuda yang dinaiki Ren menuju ke distrik perkantoran di Eupeheim. Radius yang duduk di hadapannya berkata.

"Kita akan langsung menuju ke Department of Mysteries."

Itu adalah salah satu lembaga publik di Leomel, sebuah lembaga penelitian nasional yang menangani hal-hal terkait sihir.

Di sana, pusaka suci kuno hingga kisah-kisah mitologi yang tidak realistis sering kali menjadi objek penelitian.

Catatan sejarah terkait Raja Singa pun ditangani di sana bekerja sama dengan Shishiseicho.

Di sanalah orang yang pernah mengajar Radius bekerja sebagai peneliti.

"Bagaimana perjalanan daratnya?"

"Menyenangkan. Aku menikmati suasana yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Mulai besok aku berencana untuk bersantai di Eupeheim."

"Syukurlah. Sayang sekali kali ini aku tidak ikut, tapi suatu saat nanti ayo kita naik bersama."

"Lagipula, kalau kau bisa sampai tepat waktu hari ini, harusnya kau bisa ikut berangkat bersama kami saja, Radius."

Ren tidak bermaksud meremehkan jadwal Radius, ia benar-benar berpikir akan lebih seru jika mereka pergi bersama. Namun Radius memang sangat sibuk beberapa hari terakhir ini.

"Maaf. Seperti yang kukatakan, aku benar-benar tidak punya waktu."

Jadi, mungkin lain kali.

"Aku membawa surat pengantar yang kau berikan tempo hari, tapi kalau ada kau, sepertinya tidak butuh ya."

"Untuk hari ini memang tidak, tapi kalau kau ingin berkunjung lagi besok-besok, surat itu akan memudahkanmu. Tunjukkan saja di lobi, maka kau tidak perlu melewati prosedur yang merepotkan."

"Ah, begitu ya."

Sambil berbincang, dua puluh menit berlalu begitu saja. Kereta terus melaju menembus kota hingga memasuki distrik perkantoran Eupeheim.

 

Sepuluh menit kemudian, Radius meminta kusir untuk menghentikan kereta di tempat yang tidak mencolok di belakang bangunan, karena ia tidak ingin kedatangannya memicu keributan.

"Kita sudah sampai."

Suara sang ksatria terdengar dari luar kereta. Ren melangkah keluar dan mendongak menatap gedung raksasa Department of Mysteries.

"Ooh……"

Ren berdecak kagum. Jadi ini Department of Mysteries yang terkenal itu.

Gedung itu berbentuk menara dengan eksterior berwarna gading, tingginya bahkan melebihi stasiun raksasa dan taman gantung kebanggaan Erendil.

Di dalam game Legenda Legend of Seven Heroes, ia pernah mengunjunginya, namun hanya lantai satu yang bisa dijelajahi.

Melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri memberikan dampak yang jauh lebih besar.

 

Di lobi, Radius tidak menuju ke meja resepsionis, melainkan langsung mengajak Ren berjalan masuk. Lantainya terbuat dari batu perunggu yang dipoles hingga mengilap, memantulkan suara langkah kaki mereka ke seluruh penjuru ruangan.

"Aku sudah menyelesaikan prosedur yang diperlukan, jadi kita langsung masuk saja."

"Iya, aku mengerti."

Dinding dan langit-langitnya memiliki warna yang senada dengan lantai, diterangi oleh lampu gantung mewah. Dibandingkan interior Shishiseicho yang serba hitam pekat, tempat ini terasa lebih hangat.

Namun, pertahanannya tidak main-main. Perangkat magis berlapis dan para ksatria elit berjaga di mana-mana. Meski masuk lewat pintu belakang, Ren bisa langsung merasakan betapa ketatnya keamanan di sini.

……Tunggu──── ada laporan dari Professor────.

……Hasil investigasi reruntuhan itu.

……Maaf, ada pesan dari Pengadilan Kekaisaran────.

……Balas begini pada mereka. Ini adalah wewenang Department of Mysteries────.

Di sekeliling mereka, banyak peneliti berseragam putih berlalu-lalang, begitu juga orang-orang bersetelan mahal.

"Apa hubungan antara Department of Mysteries dan Pengadilan Kekaisaran itu buruk?"

"Sangat buruk. Department of Mysteries memiliki berbagai hak istimewa dalam penelitian dan investigasi, namun interpretasi hukum selalu menjadi hal yang merepotkan di zaman apa pun. Mereka sering berdebat karena perbedaan pendapat."

"……Kedengarannya berat."

Karena topiknya rumit, Ren tidak ingin menggali lebih dalam. Di tengah kerumunan orang dewasa, Ren dan Radius tampak sedikit mencolok. Beberapa orang menatap mereka dengan heran, tapi—

"Ya-Yang Mulia Pangeran Ketiga!?"

Begitu menyadari identitas Radius, mereka segera menghentikan langkah dan membungkuk dalam-dalam. Radius membalas dengan anggukan kecil sambil terus berjalan berdampingan dengan Ren menyusuri lorong panjang.

Setelah beberapa menit berjalan mengikuti Radius yang tampak sangat hafal dengan tempat ini, mereka sampai di lift magis. Mereka naik menuju lantai yang sangat tinggi di gedung raksasa tersebut.

 

Lantai sepuluh, dua puluh…… melewati lantai tiga puluh, dan lift berhenti di lantai tiga puluh tiga. Pintu geser terbuka, memperlihatkan satu lorong yang sangat panjang. Di ujung lorong itu, hanya ada satu ruangan.

Ren menatap tajam ke arah sebuah benda yang diletakkan di depan pintu ruangan itu. Ia tidak bisa mengabaikan keberadaan tas besar yang sangat ia kenal.

Tas itu kan……

Ia hampir tidak percaya, namun Ren menahan keterkejutannya dan terus berjalan.

"Ada apa, Ren? Kau diam saja sejak tadi."

"Mungkin aku gugup."

"Tumben sekali. Tapi tidak perlu gugup. Aku ada di sini untuk itu."

"Terima kasih, itu sangat membantu."

Sesampainya di depan pintu, Radius mengetuknya sebelum memutar kenop. Suara yang menyahut dari dalam pun terdengar sangat familiar di telinga Ren.

"Masuklah."

Setelah mendengar jawaban itu, Radius membuka pintu dan melangkah masuk bersama Ren.

Di depan mereka, dinding kaca setinggi langit-langit memperlihatkan pemandangan Eupeheim yang indah. Di depan jendela itu, terdapat sebuah meja raksasa.

Seorang pria duduk dengan tidak sopan, meletakkan kedua kakinya di atas meja sambil menyandarkan punggungnya di kursi.

"Selamat datang, Radius. Jadi dia teman yang kau ceritakan itu?"

Ini pertama kalinya Ren melihatnya tanpa jubah, namun dari suara dan sikapnya, tidak salah lagi. Pria yang duduk dengan angkuh itu tak lain adalah sang Pengelana Tas Besar. Sosok yang pernah Ren dan Licia lihat di Ibu Kota tempo hari.

Rambutnya berwarna pirang pucat yang mirip dengan rambut perak Radius.

Tubuhnya yang mungil tetap sama seperti saat ia memakai jubah, namun kali ini ia mengenakan pakaian santai. Wajahnya bisa digambarkan sebagai pemuda cantik yang agak feminin.

Saat Ren dan Radius berdiri di depan meja, Radius mulai bicara.

"Ren, biarkan aku memperkenalkannya. Orang ini adalah────"

"Ah, tidak perlu. Aku bisa memperkenalkan diriku sendiri."

Sang pengelana berdiri. Aroma segar, mungkin dari tanaman herbal, menyentuh hidung Ren.

"Namaku Ragna. Jika bicara soal ras, aku termasuk dalam bangsa Shelgard."




"Salam kenal. Nama saya Ren Ashton."

Jangan pernah menilai Ragna hanya dari tinggi badannya. Dia menyebut dirinya sebagai bangsa Shelgard. Dengan kata lain, dia adalah penduduk yang berasal dari Benua Langit.

Bangsa Shelgard memiliki rentang usia yang sangat panjang, dan masa muda mereka bertahan jauh lebih lama daripada manusia biasa. Ragna pun tidak terkecuali dari fenomena tersebut.

Ragna, yang tadi sempat berdiri untuk memperkenalkan diri, kini kembali duduk di kursinya.

"Aku setuju menemuimu hanya karena rekomendasi dari Pangeran Ketiga yang sok tahu ini. Kalau tidak, aku tidak akan membuang-buang waktuku. Aku lebih baik pergi ke mana pun untuk mencari romansa dan kebijaksanaan."

"Terima kasih atas waktu Anda. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kali ini."

"Cara mencari romansa?"

"────Bukan."

Meskipun pertanyaan itu juga menarik, ada hal lain yang lebih mendesak.

Ren merasa ragu untuk langsung bertanya, tetapi saat ia melirik Radius yang berdiri di sampingnya, sang pangeran mengangguk seolah menyuruhnya untuk tidak sungkan.

Tidak seperti biasanya, Ren mengajukan pertanyaan dengan lugas.

"Maaf jika saya memulai dari hal yang di luar topik utama, tapi musim panas lalu saya sempat berbincang dengan seorang anggota bangsa Shelgard. Saya dengar bahwa bangsa Shelgard bisa memiliki usia yang jauh lebih tua daripada penampilan mereka."

"Oh, jadi kau penasaran berapa usiaku? Begitu ya, ketertarikan yang tidak buruk."

Si kecil Shelgard itu menyunggingkan senyum tak kenal takut di wajahnya yang rupawan.

"Usiaku hampir tiga puluh tahun. Mohon bantuannya ya."

Ren mengangguk, sudah menduga hal itu.

"Mohon bantuannya juga," ucapnya mengulang.

"Tapi jangan salah paham. Aku menjadi Shelgard murni hanya soal ras—semacam mutasi genetik yang kembali ke sifat leluhur. Jika tidak, aku tidak akan bisa bekerja di Department of Mysteries."

Karena bekerja sebagai peneliti di lembaga yang penuh rahasia negara, ia haruslah warga asli Leomel. Ragna lahir dan besar di Leomel, serta mengambil jurusan arkeologi karena pengaruh kedua orang tuanya yang juga peneliti.

Ragna menguap lebar lalu berkata.

"Kalian berdua duduklah sesuka hati. Kalau mau minum teh, seduhlah sendiri."

Ren dan Radius duduk di sofa yang diletakkan agak jauh dari meja kerja. Di atas meja di hadapan mereka, tumpukan kertas menjulang tinggi.

Sekilas pandang, kertas-kertas itu dipenuhi dengan tulisan rumit dan diagram yang berantakan. Isinya benar-benar tidak dipahami oleh mereka berdua.

"Jadi, kalian berdua."

Tatapan dingin Ragna tertuju pada mereka.

"Maaf saja, tapi aku tidak berminat menjawab pertanyaan yang membosankan."

Ragna tampaknya sudah kehilangan minat pada basa-basi perkenalan barusan.

Sepertinya dia merasa bosan menunggu Ren mulai bicara, karena dia sudah membuka buku yang ada di mejanya sambil berbicara.

Sikapnya seolah berkata: 'Bicaralah sesukamu'.

"Maaf, dia memang pria seperti itu sejak dulu."

"Aku yang meminta ini, jadi aku tidak keberatan. ……Tapi, apa dia sudah begini sejak masa dia mengajarimu dulu, Radius?"

Radius langsung mengangguk.

"Tapi, dia sangat pintar."

"Yah, aku paham itu karena dia gurumu dan orang yang mendirikan Aernevelde Merchant Association bersamamu."

"Meski begitu, hak pengelolaan Aernevelde Merchant Association hampir seluruhnya sudah berada di tanganku sekarang. Ragna cepat sekali kehilangan minat."

"Hee…… Kalau begitu, biar aku siapkan tehnya dulu."

"Kau tidak apa-apa? Ragna itu sangat cerewet soal teh──── ah tidak, kalau itu Ren, kurasa tidak masalah."

"Karena sudah dapat jaminan dari Radius, tunggu sebentar ya."

Ren berdiri dan menghampiri perangkat magis di sudut ruangan. Ada alat untuk mendidihkan air dan perlengkapan minum teh biasa yang sudah sering Ren lihat.

Ren mengoperasikan alat magis itu untuk mendidihkan air, lalu menyiapkan teh dengan gerakan tangan yang sangat terampil.

Ragna, yang berada di mejanya, mulai mengendus aroma uap yang mulai tercium.

"Kemampuanmu lumayan juga."

"Anda bisa tahu padahal belum meminumnya?"

"Orang selevelku bisa tahu. Teh itu bagus. Tidakkah kau merasa bahwa perubahan rasa teh tergantung dari siapa yang menyeduhnya itu mirip dengan buku? Mirip dengan perbedaan gaya penulis."

"Saya rasa saya paham, tapi mungkin juga tidak. Silakan dinikmati."

Sepertinya Ren berhasil menarik perhatiannya.

Ragna menyesap cangkir tehnya dan berucap singkat.

"Enak sekali."

Ren mengembuskan napas lega.

Dilihat sekilas, Ragna tampak seperti bocah nakal yang sombong... atau lebih tepatnya, bocah brengsek rupawan yang sok dewasa. Namun, karena kenyataannya berbeda, Ren tidak bisa memperlakukannya dengan cara biasa. Mengingat Ragna berani bersikap sama terhadap Radius, Ren harus memikirkan cara pendekatannya.

Ren kemudian mengantarkan teh untuk Radius, sementara ia sendiri berdiri di depan jendela dengan cangkir teh di tangan.

"Ren, apa yang ingin kau tanyakan padaku?"

Ragna memanggil nama Ren tanpa embel-embel sambil tetap duduk, hanya kepalanya yang menoleh.

"Tolong ajarkan saya tentang Holy Magic."

"……Haa."

Ragna menghela napas panjang seolah kehilangan minat dalam sekejap.

Namun, mungkin karena ia baru saja disuguhi teh yang nikmat, suasana hatinya tidak memburuk. Suaranya terdengar sedikit lebih bersahabat dibanding awal tadi.

"Hal semacam itu kan ada banyak penjelasannya di buku pelajaran akademi."

"Mungkin benar, tapi saya ingin mendengarnya langsung dari pakarnya."

Kali ini Ren berbalik menatap Ragna, dan mata mereka bertemu.

Di sinilah akhirnya inti pembicaraan dimulai. Kesempatan berharga untuk berbicara dengan ahli yang pernah disinggung Radius saat musim gugur akhirnya tiba.

"Selain penguatan fisik dan serangan khusus terhadap Undead, apakah Holy Magic bisa digunakan untuk kekuatan spesial lainnya?"

"Aaahn……? Aku dengar dari Radius kalau kau pintar, tapi pertanyaanmu ini tidak jelas intinya."

"Maaf. Di keluarga Clausel yang merawat saya, ada seorang gadis yang seusia dengan saya."

"Aku pernah mendengar rumornya. Maksudmu White Saintess?"

"Iya. Saya bisa menemaninya dalam latihan pedang, tapi dalam hal Holy Magic, kami tidak bisa melakukan latihan yang memadai. Karena itu saya juga ingin mempelajarinya agar bisa membantunya."

Ren menceritakan alasan bohong yang sudah ia siapkan sejak awal dengan lancar. Ragna menatap Ren seolah sedang melihat makhluk langka.

Berbeda dengan saat ia kehilangan minat tadi, kali ini ia tampak bersedia bicara.

"Sungguh niat yang mulia."

"Apa itu aneh?"

"Tidak, hanya saja itu adalah pemikiran yang tidak mungkin bisa kulakukan. Kalau aku, aku akan menghabiskan waktu itu untuk menjelajahi reruntuhan…… yah, cara hidup setiap orang memang berbeda. Tapi tidak buruk juga."

Ragna menyunggingkan senyum tipis.

Dari sofa yang agak jauh, terdengar suara Radius, "Ren memang pria yang seperti itu."

"Sahabatku ini memang sangat jujur."

"Menyilaukan sekali. Terutama bagi pria sepertiku yang sering mengurung diri di reruntuhan."

Meskipun ia berkata seperti sedang bercanda, karena ini adalah rekomendasi dari Radius, ia tidak berhenti di situ saja.

Setelah menghela napas panjang, Ragna meminum dua teguk teh buatan Ren.

"Spesialisasiku adalah arkeologi dan studi sihir kuno. Aku memang cukup paham soal Holy Magic, tapi kekuatan tunggal dari Holy Magic hanya sebatas apa yang kau sebutkan tadi."

"Kalau begitu────"

"Iya. Kekuatan suci memang luar biasa, tapi tidak ada karakteristik lain. Hanya sebatas itu."

Bukan berarti tidak berharga atau lemah.

Kesimpulannya, tidak ada kekuatan spesial lain di luar apa yang sudah disebutkan Ren.

……Sudah kuduga, itu bukan pengaruh dari Holy Magic.

Mungkin lebih baik memikirkan tentang White Saintess itu sendiri, bukan soal sihirnya.

Tapi, aku ingin bertanya sedikit lagi.

Sambil menatap Eupeheim dari jendela besar.

Tanpa memperlihatkan ekspresi wajahnya pada siapa pun, Ren mengambil kesimpulan.

"Beralih ke topik lain."

Ren menatap Ragna.

"Saya sudah beberapa kali bertarung melawan Demon Lord Cult."

"Aku tahu. Radius sudah berkali-kali berkonsultasi padaku. Dia juga berkali-kali meminta bantuanku untuk menganalisis kekuatan mereka."

Ren merasa ini adalah kesempatan bagus, lalu ia mulai berbicara dengan sedikit bumbu tambahan.

"Orang-orang yang terpengaruh oleh segel Demon Lord Cult mengalami peningkatan kemampuan fisik dan sihir. Saya merasa ada beberapa orang yang sampai kehilangan jati diri mereka. Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?"

"Akar masalahnya adalah kekuatan Raja Iblis yang disebarkan. Mereka yang terpengaruh tidak kuat menahan amukan kekuatan yang diberikan sehingga berujung pada kematian. Perubahan fisik yang terjadi di tengah prosesnya hanyalah perbedaan individu saja."

"Lalu, bagaimana dengan kasus di mana mereka kehilangan jati diri?"

"Entahlah? Mungkin mirip dengan perubahan sifat pada Magic Stone."

"……Perubahan sifat Magic Stone?"

Ren mendengarkan setiap kata dari Ragna tanpa melewatkan satu suku kata pun.

Itu karena di dalam tubuh Licia pun terdapat Magic Stone.

"Dalam kasus monster, Magic Stone mereka mengalami perubahan besar saat berevolusi. Jika mereka bukan lagi monster yang semula, maka tidak jarang jati diri mereka pun berubah. Ingatan lama mereka tidak selalu hilang, tapi akan ada perubahan besar atau kecil."

"Tetapi, di dalam tubuh pengikut Demon Lord Cult kan tidak ada Magic Stone."

"Benar, itulah poin pentingnya."

Ragna melanjutkan penjelasannya tanpa ragu sedikit pun terhadap pertanyaan Ren.

"Menurut pemikiranku, segel mereka itu sama dengan Magic Stone pada monster, diukir untuk menyimpan kekuatan di dalamnya."

"Tunggu, Ragna! Aku tidak pernah mendengar teori itu!"

"Karena ini pertama kalinya aku mengatakannya. Ini hipotesis yang baru kupikirkan kemarin lusa saat sedang mencari romansa. Aku pikir lebih baik mengatakannya hari ini saja."

"……Ah, pantas saja."

Si kecil Shelgard itu kembali ke topik.

Radius maupun Ren terkejut mendengar hipotesis menarik yang tak terduga itu, namun mereka kembali ke inti pembicaraan.

"Perbedaan antara segel mereka dan evolusi monster adalah segel tersebut menggerogoti tubuh demi memperkuat inangnya secara paksa."

Bukannya menerima perubahan melalui pertumbuhan diri sendiri, melainkan menerima perubahan yang datang dari faktor luar.

Namun, Ragna menambahkan bahwa apakah perubahan itu bisa diterima atau tidak, bergantung pada kekuatan si inang sendiri.

"Secara paksa────"

Kata-kata itu memicu ketertarikan Ren.

Rasanya itu sangat mirip dengan fenomena yang terjadi pada Licia.

"Apakah tidak ada cara untuk mengatasinya?"

"Aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu. Mengatasi di tahap yang mana? Cara menolak penguatan paksa itu, atau menghentikan proses pengikisan tubuh?"

"Secara mendasar, cara untuk menghindari fenomena yang memengaruhi jati diri tersebut."

"Mati saja. Segel itu kemungkinan besar adalah parasit yang hidup dengan memakan mana inangnya. Jika inangnya mati, segelnya akan hilang."

Jika menganggap penghapusan segel sebagai salah satu solusi, itu bisa dimengerti, tapi bukan jawaban itu yang diinginkan Ren.

"Apakah tidak ada cara untuk lepas dari paksaan segel tanpa harus mati?"

"Apa gunanya memikirkan hal itu?"

Ragna bertanya dengan tulus, benar-benar merasa heran dari lubuk hatinya.

"Apa ada pengikut Demon Lord Cult yang ingin kau selamatkan?"

"Tidak, saya hanya ingin menjadikannya referensi di masa depan. Meskipun saya dan Radius berhasil menangkap mereka, banyak dari mereka yang akhirnya tewas."

"Untuk memeras informasi sampai batas maksimal ya? Wajahmu imut tapi kata-katamu sadis juga."

Ren tidak berusaha membantah Ragna yang tertawa geli.

"Konsep paksaan yang memicu kekuatan potensial yang memengaruhi jati diri. Dengan kata lain, itu juga fenomena yang terjadi karena pemilik kekuatan tersebut tidak mampu menekan kekuatannya sendiri."

"Seperti kisah Princess of Erosion?"

Radius menyela.

Entah karena pengalamannya mengajar Pangeran Ketiga atau karena sifatnya yang penyuka romansa. Ragna mengetahui dongeng lama tentang Princess of Erosion, namun ia langsung membantah pertanyaan Radius tanpa ragu.

"Dia berbeda. Dia tetap mempertahankan kesadarannya karena dia mengendalikan kekuatannya."

"Apa bedanya dengan kasus di mana kekuatan itu mengamuk?"

"Princess of Erosion hanyalah dongeng lama. Jadi aku tidak berniat mendiskusikan jawabannya secara teori di sini, tapi menurut pemikiranku, dia mengendalikan kekuatannya."

"Lalu kenapa menurutmu dia mengikis sekelilingnya?"

"Kebanyakan makhluk hidup menarik napas lalu mengembuskannya. Hal biasa bagi sang putri ternyata memberikan dampak buruk bagi sekelilingnya. Dia mengikis sekitarnya hanya dengan keberadaannya di sana, hanya itu saja. Justru baginya, yang tidak normal adalah semua makhluk hidup selain dirinya."

Namun seperti yang dikatakan Ragna, semuanya penuh ketidakpastian dan tidak bisa ditarik kesimpulannya. Itu hanyalah salah satu contoh, sekadar pendapat singkat darinya.

Lagi pula seperti katanya, Princess of Erosion adalah dongeng. Tidak banyak nilai yang bisa diambil dengan mencoba membangun teori serius di atas sebuah dongeng.

"Kita kembali ke topik."

Menuju inti pertanyaan yang diajukan Ren.

Jawaban itu sangat penting bagi Ren, tidak terbatas hanya pada segel Demon Lord Cult.

"Cara yang efektif adalah terus melawan paksaan itu dan mempertahankan jati diri. Jika kalah, kau akan kehilangan jati diri dan kekuatanmu akan mengamuk sesuka hati. Sederhana, kan?"

"Seandainya berhasil bertahan, apakah ada jaminan hal itu tidak akan terjadi untuk kedua kalinya?"

"Jika kau terus melawan tanpa kalah, seluruh elemen yang membentuk individu tersebut akan beradaptasi dan berkembang. Mungkin ini jawaban yang paling mendekati apa yang kau cari?"

Sang Pengelana Tas Besar itu menjawab tanpa ragu sedikit pun.

"Mungkin…… mendekati. Tapi beradaptasi?"

"Dalam contoh yang kita bahas, fenomena tersebut terjadi karena kekuatan yang tidak tertahankan menguasai tubuh. Jadi jika kau berkembang hingga mampu menahannya, maka tidak ada masalah. Amukan kedua tidak akan terjadi dengan kekuatan yang sama. Pasalnya, kau sudah bisa mengendalikannya."

"Be-Benarkah!?"

Suara Ren meninggi karena terkejut.

Licia pernah sekali melawan paksaan misterius itu dan kembali ke sisi Ren.

Ia tidak bisa memastikan apakah fenomena saat itu bisa disamakan dengan segel Demon Lord Cult atau evolusi monster, namun ini pastinya salah satu informasi yang sangat ia inginkan.

"Tapi, apakah ada cara untuk memastikan bahwa seseorang sudah dianggap berhasil menahannya?"

"Jika kau mampu menggunakan kekuatan yang sebelumnya tidak bisa kau kelola, maka bisa dikatakan kau telah bertahan dari amukan kekuatan tersebut. Secara konsep sihir, tubuhmu sudah dianggap beradaptasi dengan kekuatan itu."

Artinya, fakta bahwa Licia menggunakan Holy Magic yang sangat kuat di akhir pertarungan melawan Sword Demon adalah buktinya.

Ingatan masa lalu kembali terbayang di benak Ren.

……Melawan, mungkin istilahnya agak berbeda.

Dua orang yang muncul di Pegunungan Baldur pasti mampu mengelola segel mereka.

Ada seorang pria bernama Kai, salah satu dari pasangan itu yang memiliki ciri khas gaya bicara kasar.

Pria itu tumbang karena tidak mampu mengelola kekuatannya setelah kekuatan Raja Iblisnya diamplifikasi oleh kekuatan Sang Black Priestess milik Fiona.

Kemungkinan besar, itu adalah konsep yang sama dengan sesuatu yang memberikan pengaruh pada paksaan tersebut.

Ren terus berpikir, lalu—

Benar. Roses Kaitas pun sama.

Roses Kaitas. Dan Prison of Time.

Di dalam ruang yang dipenuhi kekuatan Dewi Waktu itu, bisa dikatakan kekuatan Licia mengamuk di luar kehendaknya sendiri.

Jika menyamakan hal itu dengan insiden di Pegunungan Baldur……

Kekuatan yang penuh dengan kesucian telah membawa semacam perubahan pada Licia──── mungkin begitu.

Dan Licia melawan, lalu kembali seolah menjawab panggilan Ren. Karena itulah dia ada di sisi Ren sekarang.

Setelah merapikan informasi ini, Ren berpikir bahwa untuk saat ini ia bisa merasa lega.

Mengingat kembali saat pertarungan melawan Sword Demon mencapai puncaknya, tingkat kemahiran Holy Magic yang digunakan Licia meningkat drastis dibandingkan sebelumnya.

Belakangan ini dia tidak menggunakannya karena merasa muak, tapi apa yang dikatakan Ragna menjadi semakin meyakinkan.

Licia yang berhasil melawan kekuatan misterius itu, saat ini fisiknya pun pasti sudah berkembang.

"……Syukurlah."

Saat Ren mengembuskan napas lega,

"Khusus untuk pengikut Demon Lord Cult, ceritanya akan berbeda jika Raja Iblis bangkit kembali dalam bentuk apa pun."

Ragna mengatakannya tanpa menyadari perasaan Ren.

"Dengan kekuatan Raja Iblis yang tersisa dalam legenda, para pengikut Demon Lord Cult mungkin akan kehilangan akal sehat mereka tanpa pengecualian."

"Tapi Ragna, para pengikut Demon Lord Cult yang kuat bisa melawan kekuatan Raja Iblis—maksudku, mereka bisa bergerak atas kehendak sendiri."

"Entahlah. Jika kekuatan Raja Iblis itu sangat luar biasa, mungkin berikutnya tidak akan seperti itu lagi. Paling buruk, mereka akan menjadi prajurit mati tanpa kehendak. Termasuk para petinggi dan pemimpin yang pernah kudengar itu."

"Kesimpulannya, kita tidak akan tahu sampai tahap itu benar-benar terjadi ya."

"Iya. Kisah tentang Raja Iblis memang penuh dengan romansa, tapi informasinya sangat kurang."

"……Zaman yang merepotkan telah tiba."

"Mau bagaimana lagi. Kekuatan Raja Iblis itu dahsyat. Dia adalah satu-satunya keberadaan yang memegang pedang yang mampu menandingi Holy Sword."

Di sini Ragna mengumpat dan mencemooh ajaran Elfen seolah hal itu membosankan.

"Kalau para pendeta Elfen itu bisa menjaga pusaka suci tersebut, segalanya pasti akan selesai dengan lebih mudah."

"Maksudmu, pusaka suci yang mana?"

"Yang dicuri dari kuil entah di mana itu. ……Itu lho, Elfen's Tears. Leomel punya banyak pusaka suci. Tidak hanya di kuil, tapi tidak jarang juga berada di tangan para bangsawan di berbagai daerah. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Demon Lord Cult sampai terus mengincar Leomel, tapi ini pasti ada hubungannya."

Cairan yang menyimpan kekuatan spesial untuk menyucikan apa pun, itulah Elfen's Tears. Pusaka suci yang dicuri langsung oleh pemimpin Demon Lord Cult saat menyerang kuil ajaran Elfen.

"Jika memiliki kesucian dari cairan itu, harusnya mereka bisa menyucikan para pengikut Demon Lord Cult beserta segelnya."

Ucap Ragna.

"Meskipun begitu, apa yang sudah dicuri tidak bisa diapa-apakan. ……Tapi, aku sempat berpikir bahwa bagi Demon Lord Cult, itu adalah racun yang sangat kuat. Apakah mereka mencurinya demi perlindungan diri?"

"Yah, aku sendiri tidak tahu apakah Elfen's Tears benar-benar memiliki kekuatan seperti yang dirumorkan."

"Ada apa, Ragna? Apa kau mulai suka mencela pusaka suci juga?"

"Berisik. Ini dari sudut pandang akademis sebagai peneliti. Elfen's Tears memang benar-benar sebuah pusaka suci. Katanya kekuatan Tuhan tidak memiliki cacat, tapi makhluk hidup punya cacat. Aku hanya meragukan seberapa besar pengaruh kekuatan penyucian itu bekerja."

"Kuharap kau sadar kalau kata-katamu itu kontradiktif. Jika kekuatan Tuhan tidak memiliki cacat, bukankah pengaruhnya pun seharusnya melampaui cacat manusia?"

"Tentu saja, dunia tidak akan berjalan tanpa adanya kontradiksi. Itulah kenapa aku menggunakan kata 'katanya'."

Ragna menunjukkan keberanian yang bahkan tidak takut pada Tuhan.

Keberanian itu tidak berhenti meskipun Ren terkejut dan Radius tersenyum kecut.

"Karena Tuhan itu sendiri kontradiktif. Maka bangsa Shelgard pun harus memiliki satu atau dua kontradiksi. Tidak ada yang salah dengan perkataanku. Karena Tuhan pun bisa melakukan kesalahan."

Ragna melontarkan sindiran tanpa rasa takut. Bukannya dia membenci Dewa Utama Elfen, dia hanya bersikap realistis.

Suka atau tidak, dia tidak menyukai hal-hal yang tidak realistis.

"Tuhan tidak memiliki cacat──── Tuhan membuat kita berpikir demikian. Tapi jika Beliau benar-benar mahakuasa tanpa cacat, buat apa Dewa Utama repot-repot menciptakan Hero? Harusnya Beliau sudah melakukan sesuatu sebelum Raja Iblis lahir, kan?"

"Sepertinya kau membenci kata-kata praktis seperti 'ujian bagi manusia'."

"Ya, aku membencinya."

Jawaban tanpa ragu itu mengalir deras.

"Semua itu hanyalah romansa dari cerita yang dibuat-buat. Sama sekali tidak menarik. Kesimpulan yang ada hanyalah ada Tuhan yang sifatnya buruk sedang menyeringai melihat kita. Aku suka menonton pertunjukan, tapi aku tidak berniat menjadi aktornya."

"Misalnya Tuhan benar-benar menciptakan manusia, apa tidak apa-apa bicara begitu?"

"Jika aku salah, Tuhan yang mahakuasa itu mungkin akan membenarkanku. Aku tidak tahu kapan itu akan terjadi, tapi sepertinya bukan saat ini."

Tidak berhenti di situ, dia melanjutkan.

"Ah tidak, tidak dibenarkan pun tidak apa-apa. Jika tidak bisa dibenarkan, itu membuktikan bahwa Tuhan tidak mahakuasa. Satu rasa haus ilmuku akan terpuaskan. Mungkin itu juga kehendak Tuhan."

Dia menyelesaikan kalimatnya yang jika didengar oleh penganut ajaran Elfen pasti akan membuatnya dipukuli.

Pangeran Ketiga tidak terlalu memikirkannya, dan si pendekar pedang sihir hanya bisa tersenyum kecut mendengarkannya.

"Ren, kau mulai paham kan pria ini orang yang seperti apa?"

"Ahaha…… Saya rasa saya ingin menahan diri untuk tidak menjawabnya……"

"Jangan gunakan jawaban itu. Itu adalah kata-kata yang sering diucapkan bangsawan merepotkan di parlemen."

Wajah Radius tampak lelah saat dia menghela napas.

"Beralih ke topik lain, Radius, sepertinya belakangan ini kau sangat sibuk ya."

"Memangnya kenapa?"

Seolah meyakini sesuatu, Ragna tersenyum licik sekali.

"Tidak ada apa-apa. Kalau boleh kukatakan, aku hanya merasakan firasat kuat bahwa akan ada perubahan besar dalam sejarah."

Radius tidak menjawab kata-kata penuh makna itu.

Kalimat berikutnya yang ia ucapkan adalah,

"Justru Ragna sendiri belakangan ini sepertinya menghabiskan banyak waktu di Eupeheim. Padahal kau jarang berada di laboratorium, tumben sekali."

"Tentu saja, karena ada sesuatu yang sangat menarik berhasil diekskavasi."

"Sesuatu yang menarik bagi Ragna ya, sepertinya barang yang sangat bagus telah ditemukan."

"Kalau penasaran, mau lihat?"

Saat Radius menjawab "Tentu saja", Ragna berjalan mengitari ruangan.

Ketika ia meletakkan tangannya pada sebuah lemari besar di ruangan itu, pola cahaya muncul di pintu lemari tersebut. Sepertinya ia juga menggumamkan semacam mantra.

Dari balik pintu yang terbuka ke samping, sebuah kotak kaca pameran terdorong ke depan. Di dalam kotak tersebut, diletakkan sebuah mahkota lingkaran (circlet).

"Kemari."

Dipanggil oleh Ragna, Ren dan Radius berdiri di depan kotak kaca tersebut.

"Sebelum aku menjelaskan apa yang baru saja diekskavasi, lihat ini dulu. Ini ditemukan di kota tua beberapa puluh tahun yang lalu."

Katanya, bahannya adalah Mithril.

Logam spesial yang memiliki ketahanan karat melebihi emas, dan jika diproses oleh pengrajin ahli, akan melampaui logam campuran mahal mana pun. Kebanyakan Mithril yang ada di dunia ini ditambang di Benua Iblis tempat Kastil Raja Iblis berdiri.

Namun, mahkota ini tampak berbeda. Seluruh bagiannya telah tererosi oleh warna hitam.

"Ragna-san, ini apa?"

"Ini barang aneh di mana Mithril yang digunakan sudah mati. Bukan karena berkarat atau dicat."

"Logam bisa mati?"

"Benar. Mithril adalah logam yang mengandung mana, tapi karakteristik itu telah hilang dari benda ini."

Ren sejak awal memang tidak terlalu paham soal bijih mineral. Meskipun ia cukup tahu tentang sifat dan lokasi penambangan beberapa material yang digunakan untuk memproses senjata atau pelindung, hal itu berbeda jika menyangkut pemrosesan khusus.

"Apa ada teknik pemrosesan seperti itu?"

"Tidak ada. Karakteristik utama Mithril adalah sifatnya tidak akan hilang meskipun dihancurkan menjadi bubuk."

"……Kalau begitu, ini aneh ya."

"Iya kan? Tapi, baru-baru ini ditemukan Mithril yang berada dalam kondisi serupa. Baru saja kemarin lusa, juga di kota tua."

Dalam survei rutin yang dilakukan oleh Department of Mysteries, ditemukan sebuah pena mahal yang juga menggunakan Mithril.

Jika dilihat baik-baik, pena itu berjejer di dalam kotak kaca. Menurut hasil penyelidikan Ragna dan timnya, pena itu berada dalam kondisi yang sama dengan mahkota tadi.

"Aku penasaran setengah mati dengan metode apa yang digunakan untuk membunuh Mithril ini."

Berbohong jika Ren bilang ia tidak tertarik, tapi ia tidak setertarik Ragna.

Bagi seorang peneliti, ini mungkin fenomena yang luar biasa, namun bagi Ren yang buta akan pengetahuan ahli tersebut, memahaminya saja sudah sulit. Ia kekurangan pengetahuan dasar untuk menggali lebih dalam pembicaraan ini.

"Apakah kegiatan Anda sebagai Pengelana Tas Besar juga bertujuan untuk melakukan ekskavasi seperti ini?"

"────Ho-o."

Ragna menatap Ren dengan penuh minat.

"Dari mana kau tahu? Apa Radius yang memberitahumu?"

"Tidak, aku tidak bilang apa-apa padanya."

"Lalu Ren, bagaimana kau bisa tahu?"

"Jika ada tas sebesar itu diletakkan dengan mencolok, wajar saja kalau aku berpikir ada seorang Pengelana Tas Besar di sini."

"Hum. Lalu di mana kau melihatku?"

"Saya melihat Anda di sebuah gang di Ibu Kota tempo hari."

Ragna bertepuk tangan sambil berseru, "Ah!". Sepertinya penglihatan Ren tidak salah.

Berbeda dengan Ragna yang tampak puas, Radius bergumam "Ha?" sebelum menatap Ragna.

"Hari itu aku punya sedikit waktu luang, jadi aku mampir ke Ibu Kota."

"Tunggu, Ragna! Kalau begitu, kenapa kau tidak menemuiku!?"

"Aku sudah tahu kau pasti akan datang selagi ada kesempatan ini. Lagipula, apa kau begitu rindu ingin mengobrol dengan gurumu ini? Manis sekali kau, Radius. Sini, biar kupus-pus kepalamu?"

"Guh……!"

Radius mengerang pelan lalu terbungkam. Tentu saja, dia diam bukan karena ingin dielus, melainkan karena enggan menanggapi dan hanya bisa memalingkan muka sambil menghela napas panjang.

"Ngomong-ngomong, seleramu oke juga sampai tahu soal Pengelana Tas Besar."

"Se-selera?"

"Jangan-jangan, setelah lulus nanti kau bercita-cita jadi peneliti? Kau pasti berdebar-debar saat mendengar rumor tentang pengelana hebat ini, kan? Aku tahu segalanya."

"Tidak, tidak sampai sejauh itu."

Begitu Ren menjelaskan bahwa banyak orang yang membicarakan sosok Pengelana Tas Besar, Ragna sedikit merendahkan suaranya.

"Tapi sepertinya Ren tidak terlalu tergoda meski melihat benda ini."

"Saya pikir ini luar biasa, tapi ya... saya tidak bisa memikirkan hal lain selain kata 'luar biasa' itu sendiri. Lagipula, bukankah kita bisa mengetahui sesuatu jika diperiksa dengan kekuatan Radius?"

Jika menggunakan kekuatan analisis bawaan yang dimiliki Radius, mungkin ada petunjuk yang bisa didapat. Ren merasa itu ide cemerlang, namun mustahil bagi kedua orang di hadapannya untuk belum mencobanya.

"Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya aku melihat circlet ini. Aku baru dengar soal penemuan penanya tadi, tapi aku sudah memeriksa circlet ini sebelumnya."

Hasilnya: nihil. Tidak ada jawaban atau informasi relevan yang muncul.

Bahkan Radius hanya tahu bahwa benda ini menjadi seperti itu karena kekuatan misterius. Saat ia mencoba menggunakan kekuatan analisisnya pada pena tadi, sensasi yang dirasakannya tetap sama.

Satu hal yang pasti hanyalah circlet dan pena tersebut menjadi "mati" karena kekuatan yang sama.

"Aku sudah menduga hasilnya akan begini meski menggunakan kekuatan Radius. Tapi justru karena benda kuno punya rahasia seperti inilah yang membuatnya menarik."

Tuan rumah ruangan itu menjentikkan jarinya, membuat kotak pajangan itu kembali masuk dan pintu lemari tertutup tanpa suara. Setelah itu, Ragna pamit sebentar untuk ke toilet.

"Soal Mithril tadi, bagaimana menurutmu, Radius?"

"Aku tidak tahu apa-apa. Itu benar-benar di luar bidangku."

"Bagaimana kalau benda itu berhubungan dengan Princess of Erosion yang tadi sempat dibahas?"

"……Princess of Erosion itu kan dongeng kuno yang bahkan tidak jelas berasal dari negara mana."

"Iya, aku tahu sih, tapi……"

"Aku mengerti perasaanmu. Karena katanya kekuatan Princess of Erosion bisa mengikis apa saja, kan?"

"Benar, kan?"

"Jadi kalau perkataan Ren benar, barang-barang tadi adalah milik Princess of Erosion, begitu?"

Radius dan Ren tertawa bersama.

Setelah Ragna kembali, Ren mencoba bertanya secara halus tentang istilah 'Anak Tuhan', namun jawabannya singkat: "Tidak pernah dengar."

Karena hari itu Ragna tampak akan mulai sibuk, mereka pun membubarkan diri. Ren membuat janji untuk mengobrol lagi dengan Ragna selama ia masih berada di Eupeheim.

◇◇◇

Satu jam perjalanan kaki dari Eupeheim, terdapat sebuah tempat di mana bebatuan terjal berjajar bak labirin, ditumbuhi pepohonan yang tak goyah oleh angin laut.

Ini adalah tempat di mana petualang tingkat menengah ke atas terkadang menikmati pemandangan sambil berburu.

Di sekitarnya terdapat monster peringkat E yang kekuatannya mendekati peringkat D.

Mereka sering muncul di dekat jalan raya dan merupakan jenis monster berbahaya yang direkomendasikan untuk dibasmi.

Normalnya, orang tanpa kemampuan mumpuni tidak akan berani menginjakkan kaki di sini, tapi itu tidak berlaku bagi para remaja ini.

Dengan anggota Tujuh Keluarga Besar Eishaku ditambah Vain dan Licia Clausel, monster di area ini bukan lagi ancaman.

Pertempuran melawan monster yang menyerang berjalan sangat lancar, bahkan Licia belum perlu menunjukkan kemampuannya.

"Vain! Giliranmu!"

Seru Sarah sambil menghalau musuh dengan teknik pedang yang mengalir indah.

"Ooh! Cuma segini────!"

Vain merespons dengan cepat dan dalam sekejap membuat monster itu terkapar. Monster baru yang muncul pun tidak jauh berbeda nasibnya.

"Oraaaaaaaaa!"

Kaito memukul mundur lawan dengan perisai besarnya yang membanggakan.

"Kalian tidak akan bisa lari dari busurku."

Anak panah yang dilepaskan dari busur Charlotte menembus dahi monster dengan akurat.

Monster-monster yang tiba-tiba muncul dari balik bayangan pohon itu pun tersapu bersih tanpa perlawanan berarti.

Dua orang yang tidak mendapat giliran bertarung pun mengobrol.

"Hei, hei, Licia-chan. Nemu dan kau tidak kebagian jatah ya."

"Sudah ketahuan, kan?"

"Ahaha, mungkin saja."

Nemu tidak terlalu ambil pusing, ia hanya tampak sedikit bosan. Di sisi lain, Licia mengagumi teknik yang ditunjukkan Charlotte dalam diam.

……Luar biasa, busur itu.

Leluhur Charlotte adalah salah satu dari Tujuh Pahlawan yang dikenal sebagai ahli memanah. Ia sudah memegang busur sejak kecil.

Kemampuannya membidik titik lemah musuh sangat mengagumkan. Bahkan Kaito, yang tidak bisa dikalahkan Vain, akan terdesak jika Charlotte menjaga jarak.

Dengan tiga orang kuat di barisan depan dan Charlotte di barisan belakang, monster-monster biasa bukan tandingan mereka.

Tentu saja, Nemu pun bisa bertarung jika dibutuhkan. Meski ia lebih sering berperan sebagai pendukung di kelompok ini, ia sama sekali tidak lemah.

"Padahal Nemu ingin melihat Licia-chan bertarung~"

"Benar, Licia! Apa kau sungkan pada kami?"

Sarah menyusul kata-kata Nemu setelah menyelesaikan pertarungannya.

"Bukan begitu. Hanya saja kalian berempat terlalu kuat sampai aku tidak kebagian giliran."

Angin laut menyapu rumput di bawah kaki mereka, membuat rok Licia sedikit berkibar.

Di suatu tempat yang bukan di sini, dalam situasi yang serupa, pilihan seperti ini mungkin muncul:

Bagaimana kalau berikutnya Clausel-san ikut juga? Rasanya tenang jika ada Kensei yang mengawasi.

Tapi sekarang hal itu tidak relevan. Terlebih lagi, Licia yang kini mempelajari teknik Gouken (Pedang Kokoh) dan bukan Seiken (Pedang Suci), belum menjadi seorang Kensei.

"Berikutnya kau harus bertarung bersamaku! Mengerti?"

"……Baiklah. Aku menantikannya."

Mendengar jawaban pasrah Licia, Sarah melakukan tarian kecil kegirangan. Suara para anggota kelompok yang menyusuri jalan raya itu menggema di bawah langit biru yang cerah.

 

Sambil menikmati jalan-jalan, mereka akhirnya melihat sebuah jalan raya dengan suasana berbeda. Itu adalah jalan tua yang sebagian besar terendam air dan mengarah langsung ke kota yang tenggelam.

Setelah keluar dari jalur utama dan menyusuri jalan tua itu beberapa saat, Sarah membuka suara.

"Pasti itu tempatnya. Licia juga baru pertama kali melihatnya, kan? Aku juga sama, sih."

Begitu melewati perbukitan, pemandangan di sekitar berubah drastis. Kota reruntuhan kini terlihat di hadapan mereka.

────Kota Tua.

Sisa-sisa dari Eupeheim yang menderita kerusakan parah saat pasukan Raja Iblis mendekati Ibu Kota. Dahulu, Kota Tua adalah distrik baru yang masih segar saat pasukan Raja Iblis mulai mengamuk.

Namun, serangan mendadak menghantam dari luar pusat kota. Serangan bertubi-tubi dari monster kuat seperti Sword Demon membawa perubahan besar pada topografi wilayah tersebut.

Sungai dan laut di sekitarnya menyatu, menenggelamkan seluruh distrik tersebut ke bawah air.

Mereka menyusuri jalan tua hingga ke ujungnya, lalu menatap Kota Tua yang terendam air dari ketinggian.

Banyak rumah batu yang bentuknya masih utuh, menciptakan pemandangan seperti reruntuhan bawah air.

Ikan-ikan berwarna-warni berenang dengan anggun di antara bangunan-bangunan yang tenggelam itu.

"Kita tidak bisa pergi lebih jauh tanpa izin," ucap Sarah di dekat permukaan air.

Karena nilai sejarahnya, Department of Mysteries melakukan investigasi berkala di Kota Tua ini. Meski jarang, patroli ksatria juga dilakukan. Perangkat magis khusus pun dipasang untuk keamanan.

Wisatawan atau petualang boleh datang ke area sekitar, tapi butuh izin dari penguasa wilayah untuk benar-benar menginjakkan kaki ke dalam Kota Tua.

Mereka datang ke sini karena Kota Tua bisa terlihat dalam perjalanan menuju tujuan utama mereka.

"Sarah-chan, ayo berangkat sekarang."

"Benar juga. Nanti saat pulang kita mampir lagi."

Mereka kembali ke jalur yang melewati bebatuan dan pepohonan. Saat menyusuri jalan yang kembali dipenuhi monster, sosok baru muncul menghalangi jalan.

Namun, monster kali ini berbeda dari sebelumnya.

"Kalau Licia ikut bertarung, kurasa monster ini pas," ucap Sarah dengan percaya diri, namun posisinya lebih waspada dari tadi.

Sesosok kuda besar yang seluruh tubuhnya ditutupi sisik menyerupai sisik naga muncul.

Monster peringkat D yang kekuatannya setara peringkat C. Karena ia menggunakan sihir petir, ia bukan lawan yang bisa diremehkan.

────!

Tanpa peringatan, sihir itu akan segera dilepaskan. Percikan listrik mulai menyambar di kaki si monster.

Sambil memperhatikan itu, Licia mencabut Byaku-en yang tergantung di pinggangnya.

Ia mengayunkannya ringan seolah sedang membersihkan debu.

Di hadapan teman-temannya yang sudah mengambil posisi tempur, ia melangkah maju────

Jangan khawatir.

Seandainya Licia mempelajari teknik Seiken dan menjadi seorang Kensei, saat ini ia pasti sudah menggunakan teknik sihir suci dan pedang suci untuk melindungi semua orang dan menebas monster itu sendirian.

"Licia!"

Namun, sekarang berbeda. Dengan suara Sarah dan Vain di punggungnya, Licia tidak menoleh.

"Jangan khawatir."

Ia mengucapkan kalimat yang sama dengan adegan di game Legend of Seven Heroes.

Sebelum petir itu menyentuh tubuhnya, ia menyabetkan Byaku-en secara horizontal sekali lagi. Sambaran listrik yang menerjang berubah menjadi butiran cahaya dan menghilang seperti kabut.

Sihirnya menghilang──── tidak, sihirnya "dibunuh".

Apakah ini tantangan bagi diriku yang baru saja berkembang lagi? Entahlah, aku mungkin saja segera menyalip Ren, tahu.

Itu adalah kata-kata yang pernah ia ucapkan pada Ren saat pulang dari Shishiseicho dulu.

Licia mengingat kembali kata-katanya saat itu dan merasakan kepuasan yang nyata.

Dirinya yang kini berada di tingkat Kengo (Pendekar Pedang Hebat), apakah sudah sedikit lebih dekat dengan Ren?

Meski secara peringkat ia sudah berdiri di ketinggian yang sama dengan Ren, jawabannya tetap saja: "Mana mungkin".

Sarah, tak perlu dikatakan lagi, Vain dan yang lainnya pun tercengang. Mereka tahu apa artinya "membunuh sihir", dan mereka tahu apa artinya seorang pengguna Gouken mampu melakukannya.

Seorang Kengo dalam aliran Gouken. Mengingat peringkat Gouken sering dianggap setingkat lebih tinggi dari aliran lain, mungkinkah kekuatannya setara dengan tingkat Kensei di antara pengguna pedang suci?

Meski ada keraguan apakah nilainya benar-benar setara, perasaan mereka secara garis besar benar.

"Sarah? Kenapa kau melamun?"

"Eh, i-iya…… tidak apa-apa……"

Licia kemudian memberikan giliran pada yang lain, dan pertarungan diakhiri oleh anak panah Charlotte yang menembus antara kedua mata si monster. Monster itu tumbang dengan dentuman yang berat.

 

Begitu mereka melanjutkan perjalanan, sebuah pemandangan indah terbentang di depan mata.

"Apa ini tempat yang ingin Sarah kunjungi?"

"Iya," jawab Sarah singkat dengan wajah bahagia.

Nemu yang mendengar percakapan mereka menyahut dengan senyum polos.

"Cantiik sekali~! Nemu kaget karena ini melebihi bayanganku!"

Di balik tanjung yang jauh dari Eupeheim, setelah melewati jalan yang berkelok-kelok, akhirnya mereka bisa melihat pemandangan tersembunyi yang indah.

Gua di Garis Pantai. Warisan yang Agung

Itulah nama quest dalam Legend of Seven Heroes. Laut berwarna biru kobalt, pantai pasir putih, dan suara ombak yang tenang.

Mulut gua itu seolah mengundang para keturunan Tujuh Pahlawan menuju petualangan baru.

◇◇◇

Meski saat musim panas matahari mungkin masih bersinar, di waktu yang sudah mendekati musim dingin ini langit sudah gelap gulita.

Ren yang sedang dalam perjalanan pulang ke penginapan dan Licia yang baru kembali dari luar kota bertemu di pusat kota Eupeheim.

"Ah! Ren!"

Licia berlari menghampirinya dengan senyum yang tampak bercahaya—senyum yang bahkan tidak ia tunjukkan pada Sarah dan yang lainnya tadi. Sarah memperhatikan mereka dengan senyum lembut.

"Ren juga baru mau pulang?"

"Iya. Setelah urusan di Department of Mysteries selesai, aku mampir ke kafe bersama Radius."

Meskipun senang bertemu Ren secara tidak sengaja, Licia merasa sedikit bersalah karena ia tahu Ren pergi ke Department of Mysteries demi dirinya. Namun Ren menyadari hal itu dan memberikan senyum seperti biasanya.

"Jadi aku baru saja bertemu Licia. Ngomong-ngomong, Licia──── eh?"

Ren menyadari keberadaan Sarah dan yang lainnya. Mereka pun mendekat ke arah Ren dan Licia.

"Jarang sekali ya, Ren dan Licia tidak sedang bersama."

"Tidak juga, kok. Maksudku, kalau di akademi kita kan cukup sering berpisah. Benar kan, Vain?"

"Iya sih. Tapi ini kan bukan di akademi."

"Itu kan cuma perumpamaan. Hari ini aku juga ada urusan."

Kemudian Kaito tertawa keras. Ren melirik sekilas perisai besar yang disandangnya.

"Gahhahahaha! Benar, Ashton juga pasti punya banyak urusan!"

"Begitulah. Ngomong-ngomong Leonhard-senpai dan yang lainnya dari mana dengan perlengkapan seperti itu? Kalian semua memakai seragam juga."

"Yah, kami kan murid sekolah."

Alasan lainnya adalah karena seragam Akademi Militer Kekaisaran memiliki kualitas yang sangat baik dan tidak kalah dari pelindung mahal.

"Kami pergi ke tanjung yang dirumorkan itu. Kau tahu?"

"Kaito! Biar Ren tahu banyak hal, informasi segitu saja tidak akan────" suara Sarah yang terdengar kesal bergema.

Namun,

"Tempat indah yang lokasinya lebih jauh dari Kota Tua, kan?"

"Lihat kan? Ashton memang tahu segalanya!"

"……Iya, iya. Terserah kau saja."

Vain tersenyum menatap Sarah yang menghela napas panjang. Di sisi lain, di dekat Ren...

"Kau anak laki-laki yang dirumorkan itu ya."

Charlotte mencoba menyapa untuk pertama kalinya. Mereka berdua melakukan perkenalan singkat lalu mengobrol tentang kejadian hari ini.

"Hari ini aku meminjam waktu Nona Saint sebentar."

"Kalau bersama Licia, berarti kalian benar-benar pergi ke luar kota ya."

"Begitulah. Dia luar biasa ya. Dia sangat kuat sampai aku tidak percaya dia lebih muda dariku."

Meski Ren merasa hal itu sudah sewajarnya, ia tetap merasa senang mendengarnya. Ia mengangguk sambil diam-diam merasa bangga.

Dengan ini, keturunan Tujuh Pahlawan yang sudah ditemui Ren berjumlah lima orang.

Dua orang sisanya setahun lebih muda dari Ren, jadi ia belum sempat bertemu.

Vain dan yang lainnya mungkin sudah bertemu, tapi bagi Ren mereka adalah orang asing dari faksi berbeda.

Namun tahun depan, ia pasti akan bertemu mereka di akademi.

"Apa Altea-san tidak bersama kalian?"

"Kalau Nemu, dia sudah bilang 'Aku mengantuk~!' dan langsung pulang ke penginapan."

Saat Licia bilang bahwa Ren muncul tepat saat mereka akan membubarkan diri, gadis itu sedikit menarik ujung lengan baju Ren.

"Setelah ini, mau main sebentar sebelum pulang? Maksudku…… makan bareng atau semacamnya."

"Ide bagus. ────Tapi, kalau pulang telat, mungkin Lezard-sama akan khawatir."

"Be-benar juga ya……! Kalau begitu, lain kali saja……"

Licia baru saja akan berucap dengan nada kecewa, namun Ren langsung memotongnya.

"Tidak, tidak. Lebih baik kita pulang dulu sekali, baru pergi lagi."

"Benarkah!? Ka-kalau begitu aku mau!"

Melihat perjuangan temannya itu, Sarah tidak ingin mengganggu.

"Kami mau pergi ke penginapan tempat Shalo menginap, jadi sampai jumpa ya."

Beberapa detik setelah mereka berpisah, Charlotte bertanya pada Vain.

"Jadi anak laki-laki itu yang selalu dekat dengan Nona Saint ya."

Sambil berkata begitu, Charlotte tiba-tiba memeluk lengan Vain. Tindakan yang cukup provokatif di depan Sarah.

"Tu-tunggu! Shalo-senpai!?"

"Aku lelah sekali~ Pinjam lengan Vain-kun sebentar ya~"

Tentu saja, Sarah langsung menengahi.

"LE-PAS-KAN!"

"Kyaa! Sarah kasar sekali~"

Entah sudah ke berapa kalinya Sarah menghela napas lelah hari ini. Jelas bukan karena kelelahan setelah bertarung di luar kota tadi.

Charlotte yang ditarik oleh Sarah menoleh, menatap pasangan yang berjalan menjauh itu.

Charlotte memiliki kepercayaan diri untuk menjadi nomor satu atau dua jika bertarung melawan seluruh murid Akademi Militer Kekaisaran.

Saingan nomor satunya adalah Kaito, namun pertarungan hari ini memberinya perubahan suasana hati setelah melihat pedang Licia.

Lantas, seberapa hebatkah anak laki-laki yang dikatakan lebih kuat dari gadis kelas satu itu? Saat ia menatap Licia dan Ren dengan penuh rasa ingin tahu, tiba-tiba...

"……Eh?"

Ren menoleh ke arah Charlotte sesaat, lalu kembali menatap ke depan.

Mungkinkah itu kebetulan? Karena waktunya terlalu tepat, Charlotte tidak bisa menahan senyum kecutnya.

"Memang pantas disebut orang-orang yang mempelajari pedang Raja Singa."

"Apa!? Shalo, kau bilang sesuatu tadi!?"

"Bukan apa-apa. Aku cuma berpikir Sarah hari ini juga imut, dan kita harus berjuang supaya tidak kalah."

"Aku tidak paham apa hubungannya antara bilang aku imut dan harus berjuang."

"Kalau kau tidak paham, berarti Sarah kalah."

"Haaa!?"

"Iya, iya. Jangan marah begitu────"

Charlotte dengan lincah melepaskan diri dari dekapan Sarah. Ia kembali menggoda Vain, membuat Sarah panik sekali lagi.

◇◇◇

Eupeheim di malam hari memancarkan keindahan yang berbeda dari siang hari.

Ren dan Licia berjalan berdampingan sambil menikmati pemandangan malam.

Langkah mereka santai tanpa tujuan yang jelas, seolah hanya ingin menikmati suasana. Licia bercerita tentang kegiatannya selama mereka terpisah, dan Ren mendengarkannya.

"Bagaimana rasanya pergi sejauh itu?"

"Suasananya berbeda dari biasanya, dan melihat teknik keluarga Eishaku langsung di depan mata bisa jadi referensi. Sarah dan yang lainnya akan pergi lagi besok. Katanya ada gua di bawah tanjung dan mereka mau pergi ke bagian yang lebih dalam."

"Eh? Kalian tidak masuk ke gua itu hari ini?"

"Kami masuk sebentar, tapi hanya sebentar saja. Karena banyak mampir di jalan, kami memutuskan hanya sebentar demi mengejar waktu pulang."

Ren sedikit teringat akan event seperti itu. Namun karena ingatannya sudah mulai memudar, ia tidak bisa mengingat detailnya secara mendalam.

Secara kronologis, kejadian itu seharusnya terjadi setelah Radius diculik dalam Legend of Seven Heroes I.

Itu adalah alur di mana Ulysses Ignart yang kuat ternyata adalah dalang di balik insiden tersebut, dan saat itulah Vain dan yang lainnya mengunjungi Eupeheim.

Pergi ke gua di tepi pantai adalah salah satu event sampingan. Dengan pergi ke sana, pemain bisa mempermudah jalannya pertempuran di Pegunungan Baldur yang menjadi puncak cerita. Ren berhasil mengingat sekitar separuh dari informasi tersebut.

"Aku dan Ren juga diajak…… tapi besok kita harus ke kediaman Marquis Ignart, kan? Jadi aku menolaknya. Lalu, bagaimana dengan Ren? Siapa yang kau temui di Department of Mysteries?"

"Di sini…… bagaimana ya mengatakannya──── Ragna-san adalah orang yang luar biasa."

"Maksudmu orang yang dulu jadi guru Pangeran Ketiga?"

"Iya. Karena dia gurunya Radius, aku hanya bisa menggambarkannya sebagai orang hebat."

Mendengar itu, Licia menyahut.

"Kira-kira kapan aku bisa bertemu dengannya juga ya?"

"Pasti bisa. Lagipula────"

Ada cara mudah untuk menjelaskan sosok seperti apa Ragna itu.

"Apa yang akan kau pikirkan kalau kukatakan Ragna-san itu adalah Pengelana Tas Besar?"

Mata Licia membelalak dan ia menghentikan langkahnya. Licia kemudian menutup mulutnya dan tertawa kecil dengan anggun dan manis.

"Luar biasa. Kebetulan macam apa itu?"

Senyumnya begitu menawan hingga membuat lawan jenis di sekitarnya terpaku.

 

Setelah berjalan beberapa saat lagi.

"Lalu, begini."

Mungkin ini bukan hal yang seharusnya dibicarakan sambil berjalan. Namun ada hal yang ingin segera Ren sampaikan pada Licia.

"────Jadi, aku merasa fenomena serupa juga terjadi pada tubuh Licia."

Ren membagikan semua informasi yang ia dapat dari Ragna.

"Berarti alasan kenapa aku bisa menggunakan sihir suci yang lebih kuat dari sebelumnya saat melawan Sword Demon adalah karena itu ya."

"Sepertinya begitu. Tapi karena tidak baik jika tiba-tiba menggunakan sihir suci berlebihan, mari kita pantau situasinya perlahan. Aku juga harus berkonsultasi dengan Chronoa-san."

"Ehm. Aku mengerti."

Senyum tenang tersungging di wajah Licia. Tiba-tiba ia berhenti melangkah. Ren yang menyadari hal itu segera berhenti dan berbalik.

"Licia? Ada apa?"

"……Anu," Licia menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ia ingin menyampaikan perasaan jujurnya atas kebaikan Ren.

"Selama ini aku selalu dibantu oleh Ren, lalu……"

Meski malu untuk berterima kasih secara formal, ia merasa harus mengatakannya.

"Aku selalu merasa berterima kasih padamu, tahu……?"

Bukannya Licia tidak pernah berterima kasih jika tidak bersikap formal. Sejak dulu, bahkan saat Ren masih tinggal di wilayah Clausel, ia adalah gadis yang selalu mengucapkan terima kasih dengan baik.

Tadi ia hanya ingin menyampaikannya secara lebih sungguh-sungguh. Dan Ren memahami segalanya.

Malam di Eupeheim yang mereka habiskan berdua. Meskipun Licia berharap waktu ini terus berlanjut selamanya, jam menunjukkan bahwa malam semakin larut dengan begitu cepat.

Menyadari bahwa perasaan cintanya turut memengaruhi keinginannya itu, Licia pun menyunggingkan senyum yang sangat manis.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close