Chapter 4
Eupeheim, Kota Air
Sekitar pukul
sepuluh pagi, pemandangan Eupeheim memenuhi seluruh jendela kereta. Ren dan
Licia akhirnya menyaksikan sendiri keindahan wilayah yang dijuluki sebagai
Mahkota Putih itu.
Deretan rumah
serba putih berjajar rapi, dihiasi kanal-kanal air yang berkelok rumit.
Perahu-perahu
kecil terapung di atas kanal, kontras dengan megahnya bangunan-bangunan raksasa
khas kota metropolitan.
Kota air yang
menghadap teluk berbentuk bulan sabit ini seolah sedang bercerita.
Menjelaskan
alasan mengapa ia disebut Mahkota Putih, dan mengapa para keluarga kekaisaran
dari generasi ke generasi tak pernah bosan mengunjunginya.
Keindahan
lanskap kota ini begitu memikat, dengan skala yang tak kalah luas dari Ibu
Kota.
Di bidang
perdagangan dan pertahanan pun, kota ini memiliki pengaruh kelas satu di
seantero Leomel.
Kereta
Guardiknight berhenti di stasiun terbesar di Eupeheim. Eksterior stasiun yang
serba putih menyerupai rumah-rumah penduduk sekitar, sebuah arsitektur raksasa
yang sanggup membuat siapa pun menahan napas.
Di
sini pun sebuah perayaan digelar. Diikuti dengan apa yang Ulysses sebut sebagai
"salam formal yang merepotkan dan disukai kaum bangsawan."
Setelah
rentetan acara selesai, para tamu undangan mulai keluar dari stasiun satu per
satu menuju pusat kota.
Tak lama
kemudian, Ren dan yang lainnya menaiki kereta kuda, dan sang kusir mulai memacu
langkah kudanya.
Mereka
menyusuri jalan raya dengan pemandangan yang sama sekali berbeda dari Ibu Kota
maupun Erendil.
Kereta itu
akhirnya berhenti di depan sebuah penginapan megah, bangunan paling menonjol di
Eupeheim tempat mereka akan menginap.
Setelah
menerima kunci bersama Lezard dan yang lain, Ren melangkah masuk ke kamarnya.
Matanya
disambut oleh desain interior yang sangat kental dengan nuansa Eupeheim.
Warna putih
mendominasi ruangan, memberikan kesan segar layaknya resor kelas atas. Saat Ren
membuka jendela dan melangkah ke balkon, embusan angin beraroma laut
menyambutnya dengan hangat.
"……Sudah
kupikirkan berkali-kali, sih."
Sekali lagi,
ia tersadar betapa indahnya kota ini. Dari balkon, ia bisa melihat jalan raya
sekaligus kanal air kebanggaan Eupeheim secara bersamaan.
Ren
menyelesaikan makan siang lebih awal dan kembali ke balkon untuk beristirahat.
Licia ikut duduk di kursi depannya, dan mereka menghabiskan waktu bersama
sambil memandangi lanskap kota.
Tiba-tiba,
seorang pelayan keluarga Clausel yang ikut dari Erendil mendatangi mereka.
"Mohon
maaf mengganggu. Tuan Ren, ada tamu yang mencari Anda."
"Mencariku?
Apakah Ulysses-sama?"
"Bukan,
dia adalah seorang ksatria. Beliau bilang ingin berbicara langsung dengan Tuan Ren."
Mendengar
itu, Licia pun menimpali.
"Seorang
ksatria? Mungkinkah soal urusan itu?"
"Sepertinya
begitu. ────Aku pergi sebentar, ya."
Ren
berdiri dan beranjak dari sisi Licia. Saat keluar ke lorong, di sana sudah
berdiri seorang pendekar pedang kuat yang sering Ren temui di Shishiseicho.
"Ternyata
benar utusan Radius."
"Saya
datang bersama Yang Mulia dari Ibu Kota menggunakan kapal magis. Saya ke sini untuk menjemput Tuan Ren
atas perintah beliau."
Radius tidak
ikut dalam perjalanan Guardiknight karena kesibukannya, namun sepertinya ia pun
sudah tiba di Eupeheim.
Ren kembali
sejenak ke kamar untuk memberitahu Licia bahwa ia akan pergi. Karena Licia
sudah menduga siapa tamunya, ia hanya bergumam pelan.
"Nanti
biar aku yang sampaikan pada Ayah, jadi pergilah dengan hati-hati."
Melihat Licia
yang tampak merasa bersalah, Ren berkata dengan nada lembut.
"Tidak
apa-apa, Licia."
"Ta-tapi……!"
"Lagipula,
penyelidikan kali ini adalah kemauanku sendiri. Jangan sampai kau hanya diam
menunggu di kamar hanya karena aku tidak ada, ya."
"Ukh……"
Tepat
sasaran. Licia yang memang berniat melakukan itu hanya bisa tersenyum kecut
menatap Ren.
"Kita
sudah jauh-jauh sampai ke Eupeheim. Aku bakal marah kalau kau hanya diam di
sini karena memikirkanku."
"I-iya,
aku mengerti! Kalau begitu…… terima kasih."
Licia
akhirnya mengangguk, kalah telak oleh desakan Ren yang tidak biasanya sekuat
ini. Ren pun mengangguk puas.
"Kalau
begitu, aku berangkat."
Ren
meninggalkan kamar setelah mengucapkan salam perpisahan itu.
Di
dalam lift menuju lantai satu, Ren berbincang dengan sang ksatria.
"Bagaimana perjalanan dengan
Guardiknight?"
"Sangat menyenangkan. Ini pertama
kalinya aku bermalam di dalam kereta, pemandangan yang tidak biasa kulihat
terasa sangat segar."
"Oh, sudah kuduga!"
Melihat antusiasme sang ksatria, Ren
pun bertanya.
"Apa kau tertarik dengan kereta
itu?"
"Tentu
saja! Suatu saat nanti di hari libur, aku berniat menaikinya! Saat itu terjadi,
aku ingin mengambil tiket kelas satu!"
Kelas satu
adalah gerbong yang disiapkan untuk Ren dan yang lainnya, namun harga tiketnya
tentu selangit. Tapi sang ksatria terus melanjutkan bicaranya seolah harga
bukan masalah.
"Karena
aku masih lajang dan bekerja sebagai ksatria, gajiku hanya menumpuk terus.
Sesekali aku harus menikmatinya……"
Proyek
Guardiknight yang dipimpin oleh Ulysses ini memang menarik perhatian besar,
bahkan dari kalangan ksatria kuat sekalipun.
◇◇◇
Di sisi lain,
saat Licia keluar dari kamarnya, suara seorang teman terdengar dari ujung
lorong.
"Licia!
Aku mencarimu!"
Itu adalah
Sarah yang muncul dari seberang lorong. Di saat Licia terkejut dengan pertemuan
tak terduga itu, Vain muncul mengekor di belakang Sarah.
"Sarah
juga menginap di sini?"
"Iya.
Kami baru saja selesai makan siang dan sedang berencana untuk pergi
keluar."
Sarah membawa
pedang di pinggangnya, begitupun Vain. Anehnya, mereka berdua mengenakan seragam akademi.
"Kenapa
memakai seragam?"
"Tadi
kan sudah kubilang, kami mau pergi keluar. Pakaian ini jauh lebih mudah untuk
bergerak, lagipula seragam kita ini kan buatan khusus."
"……Hanya
itu?"
"Iya
dong. Lagian kita ini kan murid sekolah. Sayang kalau seragamnya tidak
dimanfaatkan selagi bisa. Toh kalau sudah lulus tidak akan terpakai lagi."
"Yah,
benar juga sih……"
Sarah
membusungkan dada dengan bangga, meski menurut Licia tidak perlu sampai memakai
seragam di Eupeheim.
Walau ia
setuju kalau seragam itu memang memudahkan pergerakan.
"Kalau
Licia dan Ren sudah selesai makan, mau ikut pergi bersama kami?"
"Sayang
sekali. Kalau Ren, dia baru saja pergi keluar untuk urusan penting. Baru
beberapa menit yang lalu."
Vain dan
Sarah mengangkat bahu dengan kecewa.
"Sayang
sekali Ren tidak ada. Tapi bagaimana denganmu, Licia? Kalau ada waktu, mau
ikut?"
Lezard
sudah berpesan agar ia menikmati liburan di Eupeheim. Ren pun sudah
mewanti-wanti agar ia tidak diam saja di kamar. Licia sendiri tidak punya
rencana khusus selain ingin melihat pemandangan malam Eupeheim bersama Ren
nanti.
Dilihat
dari alur pembicaraannya, sepertinya mereka bukan hanya sekadar pergi ke luar
penginapan, tapi ke luar kota.
Ternyata
benar, Sarah dan yang lain berniat pergi ke luar kota. Licia pun segera berpamitan pada Lezard dan kembali ke
sisi Sarah.
"Soal
ajakan tadi, apa aku boleh ikut?"
"Yatta!
Kalau begitu kami tunggu di bawah ya. Segeralah bersiap!"
Butuh waktu
belasan menit bagi Licia untuk bersiap-siap sebelum akhirnya turun ke lantai
satu.
Begitu sampai
di lobi, ternyata di sana sudah ada Kaito dan Nemu selain Sarah dan Vain.
Penginapan
itu dipenuhi oleh para bangsawan, namun kehadiran anak-anak dari Tujuh Keluarga
Besar Eishaku itu tetap menjadi pusat perhatian.
Di tengah
kerumunan itu, berdiri seorang gadis yang menyandang busur di punggungnya.
Begitu menangkap sosok Licia, ia berjalan mendekat meninggalkan kelompok Vain.
"Salam
kenal, Nona Saint."
Suara dan
senyum gadis itu terasa begitu dewasa dan memikat. Tingginya sedikit di bawah
Licia, namun tetap di atas rata-rata. Bentuk tubuhnya yang berlekuk sempurna
bisa membuat sesama perempuan merasa iri.
Menghadapi
kecantikan gadis di depannya, Licia menjawab tanpa rasa minder.
"Saya Licia Clausel. Salam
kenal."
"Iya. Mohon bantuannya ya."
Berdirinya dua gadis cantik secara
berdampingan itu menciptakan aura yang luar biasa. Licia kemudian menggumamkan sebuah nama.
"Tak
kusangka bisa bertemu Rofelia-sama di sini."
Charlotte
Rofelia. Murid tahun kedua kelas khusus di Akademi Militer Kekaisaran. Licia
belum pernah bicara ataupun bertemu langsung dengannya di pesta mana pun.
Namun,
melihat gadis lebih tua yang bersama kelompok Sarah dan memiliki kecantikan
yang luar biasa, hanya ada satu jawaban yang mungkin.
Kesan pertama
Licia; Charlotte adalah kakak kelas yang cantik dan menggoda, persis seperti
rumor yang beredar.
Ia adalah
gadis yang sanggup memikat lawan jenis hanya dengan berjalan, dan Licia sadar
bahwa dia adalah saingan berat bagi Sarah.
Di tengah
pikiran itu, Sarah memanggilnya.
"Licia,
jangan terlalu dipikirkan soal Shalo."
"Shalo?
Maksudmu Rofelia-sama?"
"Iya,
ingat itu. Menghadapi Shalo dengan serius itu melelahkan, abaikan saja dia
semaumu."
Mendengar
itu dikatakan tepat di dekatnya, Charlotte tentu saja bereaksi.
"Berani
sekali ya bicara begitu di depan orangnya langsung."
"Tapi
tidak salah, kan?"
"Kejamnya.
Padahal itu tanda kasih sayang dariku."
Berkat
hubungan Tujuh Keluarga Besar Eishaku, Sarah memang berteman baik dengan
Charlotte. Bagi Sarah, belakangan ini ia memang merasa cemas jangan sampai Vain
direbut, namun ikatan di antara mereka yang lahir di tujuh keluarga itu tetap
tak tergoyahkan.
"Ahahaha!
Nemu juga sependapat dengan Sarah-chan!"
"Jahat
sekali. Seolah-olah aku ini kakak kelas yang cantik tapi menyebalkan
saja."
"Bukannya
'seolah-olah', tapi memang begitu! Lagipula, jangan memuji diri sendiri cantik
dong!"
Sarah
menjawab dengan nada sedikit tinggi, namun Charlotte hanya menanggapinya dengan
santai.
"Ah iya,
iya. Manisnya. Sarah-chan hari ini energik sekali ya~"
"Ah,
hei! Jangan tiba-tiba mengelus kepalaku!"
"Tidak
apa-apa kan, habisnya kau imut sekali."
"Bukan...
bukan itu maksudku! Ah, sudah! Bicara dengan Shalo
benar-benar bikin pusing! Sampai kapan kau mau mengelusku seperti waktu kecil
dulu!"
Licia tersenyum melihat para keturunan Legend
of Seven Heroes itu berbincang akrab. Ia terkejut ternyata Sarah memiliki
hubungan sedekat itu dengan kakak kelasnya.
Ia
juga merasakan perbedaan besar dalam struktur faksi mereka. Bukan merasa
dikucilkan, namun ia merasa baru saja melihat sekilas betapa kuatnya ikatan di
antara Tujuh Keluarga Besar Eishaku.
"Gaaa!
Sudah cukup! Lepaskan!"
Sarah
yang terus ditempeli Charlotte akhirnya menyentakkan lengannya. Setelah
mengatur napas yang memburu, Sarah menatap semua orang dengan serius.
"Ayo
berangkat!"
Ia
melangkah mantap di depan yang lain. Licia mengekor di belakang mereka. Tanpa perlu ditanya tujuannya, Sarah
berseru.
"Karena
kita sudah sampai di Eupeheim, kita harus pergi ke sana!"
Ini adalah
salah satu kesempatan langka bagi Saint Licia untuk bergabung dalam party
dalam garis waktu yang Ren ketahui. Sebuah adegan cerita di akhir bagian
pertama Legend of Seven Heroes, yang terjadi di lokasi yang belum pernah
ada sebelumnya.
◇◇◇
Kereta
kuda yang dinaiki Ren menuju ke distrik perkantoran di Eupeheim. Radius yang
duduk di hadapannya berkata.
"Kita
akan langsung menuju ke Department of Mysteries."
Itu
adalah salah satu lembaga publik di Leomel, sebuah lembaga penelitian nasional
yang menangani hal-hal terkait sihir.
Di
sana, pusaka suci kuno hingga kisah-kisah mitologi yang tidak realistis sering
kali menjadi objek penelitian.
Catatan
sejarah terkait Raja Singa pun ditangani di sana bekerja sama dengan
Shishiseicho.
Di sanalah
orang yang pernah mengajar Radius bekerja sebagai peneliti.
"Bagaimana
perjalanan daratnya?"
"Menyenangkan.
Aku menikmati suasana yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Mulai besok aku
berencana untuk bersantai di Eupeheim."
"Syukurlah.
Sayang sekali kali ini aku tidak ikut, tapi suatu saat nanti ayo kita naik
bersama."
"Lagipula,
kalau kau bisa sampai tepat waktu hari ini, harusnya kau bisa ikut berangkat
bersama kami saja, Radius."
Ren tidak
bermaksud meremehkan jadwal Radius, ia benar-benar berpikir akan lebih seru
jika mereka pergi bersama. Namun Radius memang sangat sibuk beberapa hari
terakhir ini.
"Maaf.
Seperti yang kukatakan, aku benar-benar tidak punya waktu."
Jadi, mungkin
lain kali.
"Aku
membawa surat pengantar yang kau berikan tempo hari, tapi kalau ada kau,
sepertinya tidak butuh ya."
"Untuk
hari ini memang tidak, tapi kalau kau ingin berkunjung lagi besok-besok, surat
itu akan memudahkanmu. Tunjukkan saja di lobi, maka kau tidak perlu melewati
prosedur yang merepotkan."
"Ah,
begitu ya."
Sambil
berbincang, dua puluh menit berlalu begitu saja. Kereta terus melaju menembus
kota hingga memasuki distrik perkantoran Eupeheim.
Sepuluh menit
kemudian, Radius meminta kusir untuk menghentikan kereta di tempat yang tidak
mencolok di belakang bangunan, karena ia tidak ingin kedatangannya memicu
keributan.
"Kita
sudah sampai."
Suara sang
ksatria terdengar dari luar kereta. Ren melangkah keluar dan mendongak menatap
gedung raksasa Department of Mysteries.
"Ooh……"
Ren berdecak
kagum. Jadi ini Department of Mysteries yang terkenal itu.
Gedung itu
berbentuk menara dengan eksterior berwarna gading, tingginya bahkan melebihi
stasiun raksasa dan taman gantung kebanggaan Erendil.
Di dalam game
Legenda Legend of Seven Heroes, ia pernah mengunjunginya, namun hanya
lantai satu yang bisa dijelajahi.
Melihatnya
langsung dengan mata kepala sendiri memberikan dampak yang jauh lebih besar.
Di lobi,
Radius tidak menuju ke meja resepsionis, melainkan langsung mengajak Ren
berjalan masuk. Lantainya terbuat dari batu perunggu yang dipoles hingga
mengilap, memantulkan suara langkah kaki mereka ke seluruh penjuru ruangan.
"Aku
sudah menyelesaikan prosedur yang diperlukan, jadi kita langsung masuk
saja."
"Iya,
aku mengerti."
Dinding dan
langit-langitnya memiliki warna yang senada dengan lantai, diterangi oleh lampu
gantung mewah. Dibandingkan interior Shishiseicho yang serba hitam pekat,
tempat ini terasa lebih hangat.
Namun,
pertahanannya tidak main-main. Perangkat magis berlapis dan para ksatria elit
berjaga di mana-mana. Meski masuk lewat pintu belakang, Ren bisa langsung
merasakan betapa ketatnya keamanan di sini.
……Tunggu────
ada laporan dari Professor────.
……Hasil
investigasi reruntuhan itu.
……Maaf,
ada pesan dari Pengadilan Kekaisaran────.
……Balas begini pada mereka. Ini adalah
wewenang Department of Mysteries────.
Di
sekeliling mereka, banyak peneliti berseragam putih berlalu-lalang, begitu juga
orang-orang bersetelan mahal.
"Apa hubungan antara Department of
Mysteries dan Pengadilan Kekaisaran itu buruk?"
"Sangat buruk. Department of
Mysteries memiliki berbagai hak istimewa dalam penelitian dan investigasi,
namun interpretasi hukum selalu menjadi hal yang merepotkan di zaman apa pun.
Mereka sering berdebat karena perbedaan pendapat."
"……Kedengarannya berat."
Karena topiknya rumit, Ren tidak ingin
menggali lebih dalam. Di tengah kerumunan orang dewasa, Ren dan Radius tampak
sedikit mencolok. Beberapa orang menatap mereka dengan heran, tapi—
"Ya-Yang Mulia Pangeran
Ketiga!?"
Begitu menyadari identitas Radius,
mereka segera menghentikan langkah dan membungkuk dalam-dalam. Radius membalas
dengan anggukan kecil sambil terus berjalan berdampingan dengan Ren menyusuri
lorong panjang.
Setelah beberapa menit berjalan
mengikuti Radius yang tampak sangat hafal dengan tempat ini, mereka sampai di
lift magis. Mereka naik menuju lantai yang sangat tinggi di gedung raksasa
tersebut.
Lantai sepuluh, dua puluh…… melewati
lantai tiga puluh, dan lift berhenti di lantai tiga puluh tiga. Pintu geser
terbuka, memperlihatkan satu lorong yang sangat panjang. Di ujung lorong itu,
hanya ada satu ruangan.
Ren menatap tajam ke arah sebuah benda
yang diletakkan di depan pintu ruangan itu. Ia tidak bisa mengabaikan keberadaan tas besar yang
sangat ia kenal.
Tas
itu kan……
Ia
hampir tidak percaya, namun Ren menahan keterkejutannya dan terus berjalan.
"Ada
apa, Ren? Kau diam saja sejak tadi."
"Mungkin
aku gugup."
"Tumben
sekali. Tapi tidak perlu gugup. Aku ada di sini untuk itu."
"Terima
kasih, itu sangat membantu."
Sesampainya
di depan pintu, Radius mengetuknya sebelum memutar kenop. Suara yang menyahut dari dalam pun
terdengar sangat familiar di telinga Ren.
"Masuklah."
Setelah
mendengar jawaban itu, Radius membuka pintu dan melangkah masuk bersama Ren.
Di
depan mereka, dinding kaca setinggi langit-langit memperlihatkan pemandangan
Eupeheim yang indah. Di depan jendela itu, terdapat sebuah meja raksasa.
Seorang
pria duduk dengan tidak sopan, meletakkan kedua kakinya di atas meja sambil
menyandarkan punggungnya di kursi.
"Selamat
datang, Radius. Jadi dia teman yang kau ceritakan itu?"
Ini
pertama kalinya Ren melihatnya tanpa jubah, namun dari suara dan sikapnya,
tidak salah lagi. Pria yang duduk dengan angkuh itu tak lain adalah sang
Pengelana Tas Besar. Sosok
yang pernah Ren dan Licia lihat di Ibu Kota tempo hari.
Rambutnya
berwarna pirang pucat yang mirip dengan rambut perak Radius.
Tubuhnya yang
mungil tetap sama seperti saat ia memakai jubah, namun kali ini ia mengenakan
pakaian santai. Wajahnya bisa digambarkan sebagai pemuda cantik yang agak
feminin.
Saat Ren dan
Radius berdiri di depan meja, Radius mulai bicara.
"Ren,
biarkan aku memperkenalkannya. Orang ini adalah────"
"Ah,
tidak perlu. Aku
bisa memperkenalkan diriku sendiri."
Sang
pengelana berdiri. Aroma segar, mungkin dari tanaman herbal, menyentuh hidung
Ren.
"Namaku Ragna. Jika bicara soal ras, aku termasuk dalam bangsa Shelgard."
"Salam
kenal. Nama saya Ren Ashton."
Jangan
pernah menilai Ragna hanya dari tinggi badannya. Dia menyebut dirinya sebagai
bangsa Shelgard. Dengan kata lain, dia adalah penduduk yang berasal dari
Benua Langit.
Bangsa
Shelgard memiliki rentang usia yang sangat panjang, dan masa muda mereka
bertahan jauh lebih lama daripada manusia biasa. Ragna pun tidak terkecuali
dari fenomena tersebut.
Ragna,
yang tadi sempat berdiri untuk memperkenalkan diri, kini kembali duduk di
kursinya.
"Aku
setuju menemuimu hanya karena rekomendasi dari Pangeran Ketiga yang sok tahu
ini. Kalau tidak, aku tidak akan membuang-buang waktuku. Aku lebih baik pergi
ke mana pun untuk mencari romansa dan kebijaksanaan."
"Terima
kasih atas waktu Anda. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kali
ini."
"Cara
mencari romansa?"
"────Bukan."
Meskipun
pertanyaan itu juga menarik, ada hal lain yang lebih mendesak.
Ren merasa
ragu untuk langsung bertanya, tetapi saat ia melirik Radius yang berdiri di
sampingnya, sang pangeran mengangguk seolah menyuruhnya untuk tidak sungkan.
Tidak
seperti biasanya, Ren mengajukan pertanyaan dengan lugas.
"Maaf
jika saya memulai dari hal yang di luar topik utama, tapi musim panas lalu saya
sempat berbincang dengan seorang anggota bangsa Shelgard. Saya dengar
bahwa bangsa Shelgard bisa memiliki usia yang jauh lebih tua daripada
penampilan mereka."
"Oh,
jadi kau penasaran berapa usiaku? Begitu ya, ketertarikan yang tidak buruk."
Si
kecil Shelgard itu menyunggingkan senyum tak kenal takut di wajahnya
yang rupawan.
"Usiaku
hampir tiga puluh tahun. Mohon bantuannya ya."
Ren
mengangguk, sudah menduga hal itu.
"Mohon
bantuannya juga," ucapnya mengulang.
"Tapi
jangan salah paham. Aku menjadi Shelgard murni hanya soal ras—semacam
mutasi genetik yang kembali ke sifat leluhur. Jika tidak, aku tidak akan bisa bekerja di Department
of Mysteries."
Karena
bekerja sebagai peneliti di lembaga yang penuh rahasia negara, ia haruslah
warga asli Leomel. Ragna lahir dan besar di Leomel, serta mengambil jurusan
arkeologi karena pengaruh kedua orang tuanya yang juga peneliti.
Ragna
menguap lebar lalu berkata.
"Kalian
berdua duduklah sesuka hati. Kalau mau minum teh, seduhlah sendiri."
Ren dan
Radius duduk di sofa yang diletakkan agak jauh dari meja kerja. Di atas meja di
hadapan mereka, tumpukan kertas menjulang tinggi.
Sekilas
pandang, kertas-kertas itu dipenuhi dengan tulisan rumit dan diagram yang
berantakan. Isinya benar-benar tidak dipahami oleh mereka berdua.
"Jadi,
kalian berdua."
Tatapan
dingin Ragna tertuju pada mereka.
"Maaf
saja, tapi aku tidak berminat menjawab pertanyaan yang membosankan."
Ragna
tampaknya sudah kehilangan minat pada basa-basi perkenalan barusan.
Sepertinya
dia merasa bosan menunggu Ren mulai bicara, karena dia sudah membuka buku yang
ada di mejanya sambil berbicara.
Sikapnya
seolah berkata: 'Bicaralah sesukamu'.
"Maaf,
dia memang pria seperti itu sejak dulu."
"Aku yang meminta ini, jadi aku
tidak keberatan. ……Tapi, apa dia sudah begini sejak masa dia mengajarimu dulu,
Radius?"
Radius
langsung mengangguk.
"Tapi,
dia sangat pintar."
"Yah,
aku paham itu karena dia gurumu dan orang yang mendirikan Aernevelde
Merchant Association bersamamu."
"Meski
begitu, hak pengelolaan Aernevelde Merchant Association hampir
seluruhnya sudah berada di tanganku sekarang. Ragna cepat
sekali kehilangan minat."
"Hee…… Kalau begitu, biar aku
siapkan tehnya dulu."
"Kau tidak apa-apa? Ragna itu
sangat cerewet soal teh──── ah tidak, kalau itu Ren, kurasa tidak
masalah."
"Karena
sudah dapat jaminan dari Radius, tunggu sebentar ya."
Ren
berdiri dan menghampiri perangkat magis di sudut ruangan. Ada alat untuk
mendidihkan air dan perlengkapan minum teh biasa yang sudah sering Ren lihat.
Ren
mengoperasikan alat magis itu untuk mendidihkan air, lalu menyiapkan teh dengan
gerakan tangan yang sangat terampil.
Ragna,
yang berada di mejanya, mulai mengendus aroma uap yang mulai tercium.
"Kemampuanmu
lumayan juga."
"Anda
bisa tahu padahal belum meminumnya?"
"Orang
selevelku bisa tahu. Teh itu bagus. Tidakkah kau merasa bahwa perubahan rasa
teh tergantung dari siapa yang menyeduhnya itu mirip dengan buku? Mirip dengan
perbedaan gaya penulis."
"Saya
rasa saya paham, tapi mungkin juga tidak. Silakan dinikmati."
Sepertinya
Ren berhasil menarik perhatiannya.
Ragna
menyesap cangkir tehnya dan berucap singkat.
"Enak
sekali."
Ren
mengembuskan napas lega.
Dilihat
sekilas, Ragna tampak seperti bocah nakal yang sombong... atau lebih tepatnya,
bocah brengsek rupawan yang sok dewasa. Namun, karena kenyataannya berbeda, Ren
tidak bisa memperlakukannya dengan cara biasa. Mengingat Ragna berani bersikap
sama terhadap Radius, Ren harus memikirkan cara pendekatannya.
Ren
kemudian mengantarkan teh untuk Radius, sementara ia sendiri berdiri di depan
jendela dengan cangkir teh di tangan.
"Ren,
apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
Ragna
memanggil nama Ren tanpa embel-embel sambil tetap duduk, hanya kepalanya yang
menoleh.
"Tolong ajarkan saya tentang Holy
Magic."
"……Haa."
Ragna
menghela napas panjang seolah kehilangan minat dalam sekejap.
Namun,
mungkin karena ia baru saja disuguhi teh yang nikmat, suasana hatinya tidak
memburuk. Suaranya terdengar sedikit lebih bersahabat dibanding awal tadi.
"Hal
semacam itu kan ada banyak penjelasannya di buku pelajaran akademi."
"Mungkin
benar, tapi saya ingin mendengarnya langsung dari pakarnya."
Kali
ini Ren berbalik menatap Ragna, dan mata mereka bertemu.
Di
sinilah akhirnya inti pembicaraan dimulai. Kesempatan berharga untuk berbicara
dengan ahli yang pernah disinggung Radius saat musim gugur akhirnya tiba.
"Selain
penguatan fisik dan serangan khusus terhadap Undead, apakah Holy
Magic bisa digunakan untuk kekuatan spesial lainnya?"
"Aaahn……?
Aku dengar dari Radius kalau kau pintar, tapi pertanyaanmu ini tidak jelas
intinya."
"Maaf.
Di keluarga Clausel yang merawat saya, ada seorang gadis yang seusia dengan
saya."
"Aku pernah mendengar rumornya.
Maksudmu White Saintess?"
"Iya. Saya bisa menemaninya dalam
latihan pedang, tapi dalam hal Holy Magic, kami tidak bisa melakukan
latihan yang memadai. Karena itu saya juga ingin mempelajarinya agar bisa
membantunya."
Ren menceritakan alasan bohong yang
sudah ia siapkan sejak awal dengan lancar. Ragna menatap Ren seolah sedang
melihat makhluk langka.
Berbeda dengan saat ia kehilangan minat
tadi, kali ini ia tampak bersedia bicara.
"Sungguh
niat yang mulia."
"Apa itu
aneh?"
"Tidak,
hanya saja itu adalah pemikiran yang tidak mungkin bisa kulakukan. Kalau aku,
aku akan menghabiskan waktu itu untuk menjelajahi reruntuhan…… yah, cara hidup setiap orang memang
berbeda. Tapi tidak buruk juga."
Ragna
menyunggingkan senyum tipis.
Dari
sofa yang agak jauh, terdengar suara Radius, "Ren memang pria yang seperti
itu."
"Sahabatku
ini memang sangat jujur."
"Menyilaukan
sekali. Terutama bagi pria sepertiku yang sering mengurung diri di
reruntuhan."
Meskipun ia
berkata seperti sedang bercanda, karena ini adalah rekomendasi dari Radius, ia
tidak berhenti di situ saja.
Setelah
menghela napas panjang, Ragna meminum dua teguk teh buatan Ren.
"Spesialisasiku
adalah arkeologi dan studi sihir kuno. Aku memang cukup paham soal Holy
Magic, tapi kekuatan tunggal dari Holy Magic hanya sebatas apa yang
kau sebutkan tadi."
"Kalau
begitu────"
"Iya.
Kekuatan suci memang luar biasa, tapi tidak ada karakteristik lain. Hanya
sebatas itu."
Bukan
berarti tidak berharga atau lemah.
Kesimpulannya,
tidak ada kekuatan spesial lain di luar apa yang sudah disebutkan Ren.
……Sudah
kuduga, itu bukan pengaruh dari Holy Magic.
Mungkin
lebih baik memikirkan tentang White Saintess itu sendiri, bukan soal sihirnya.
Tapi,
aku ingin bertanya sedikit lagi.
Sambil
menatap Eupeheim dari jendela besar.
Tanpa
memperlihatkan ekspresi wajahnya pada siapa pun, Ren mengambil kesimpulan.
"Beralih
ke topik lain."
Ren menatap
Ragna.
"Saya
sudah beberapa kali bertarung melawan Demon Lord Cult."
"Aku
tahu. Radius sudah berkali-kali berkonsultasi padaku. Dia juga berkali-kali
meminta bantuanku untuk menganalisis kekuatan mereka."
Ren merasa
ini adalah kesempatan bagus, lalu ia mulai berbicara dengan sedikit bumbu
tambahan.
"Orang-orang
yang terpengaruh oleh segel Demon Lord Cult mengalami peningkatan
kemampuan fisik dan sihir. Saya merasa ada beberapa orang yang sampai
kehilangan jati diri mereka. Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?"
"Akar
masalahnya adalah kekuatan Raja Iblis yang disebarkan. Mereka yang terpengaruh
tidak kuat menahan amukan kekuatan yang diberikan sehingga berujung pada
kematian. Perubahan fisik yang terjadi di tengah prosesnya hanyalah perbedaan
individu saja."
"Lalu,
bagaimana dengan kasus di mana mereka kehilangan jati diri?"
"Entahlah?
Mungkin mirip dengan perubahan sifat pada Magic Stone."
"……Perubahan
sifat Magic Stone?"
Ren
mendengarkan setiap kata dari Ragna tanpa melewatkan satu suku kata pun.
Itu karena di dalam tubuh Licia pun
terdapat Magic Stone.
"Dalam kasus monster, Magic
Stone mereka mengalami perubahan besar saat berevolusi. Jika mereka bukan
lagi monster yang semula, maka tidak jarang jati diri mereka pun berubah.
Ingatan lama mereka tidak selalu hilang, tapi akan ada perubahan besar atau
kecil."
"Tetapi, di dalam tubuh pengikut Demon
Lord Cult kan tidak ada Magic Stone."
"Benar, itulah poin
pentingnya."
Ragna
melanjutkan penjelasannya tanpa ragu sedikit pun terhadap pertanyaan Ren.
"Menurut
pemikiranku, segel mereka itu sama dengan Magic Stone pada monster,
diukir untuk menyimpan kekuatan di dalamnya."
"Tunggu,
Ragna! Aku tidak pernah mendengar teori itu!"
"Karena
ini pertama kalinya aku mengatakannya. Ini hipotesis yang baru kupikirkan
kemarin lusa saat sedang mencari romansa. Aku pikir lebih baik mengatakannya
hari ini saja."
"……Ah,
pantas saja."
Si kecil Shelgard itu kembali ke
topik.
Radius maupun Ren terkejut mendengar
hipotesis menarik yang tak terduga itu, namun mereka kembali ke inti
pembicaraan.
"Perbedaan antara segel mereka dan
evolusi monster adalah segel tersebut menggerogoti tubuh demi memperkuat
inangnya secara paksa."
Bukannya menerima perubahan melalui
pertumbuhan diri sendiri, melainkan menerima perubahan yang datang dari faktor
luar.
Namun, Ragna menambahkan bahwa apakah
perubahan itu bisa diterima atau tidak, bergantung pada kekuatan si inang
sendiri.
"Secara
paksa────"
Kata-kata itu
memicu ketertarikan Ren.
Rasanya itu
sangat mirip dengan fenomena yang terjadi pada Licia.
"Apakah
tidak ada cara untuk mengatasinya?"
"Aku
tidak mengerti maksud pertanyaanmu. Mengatasi di tahap yang mana? Cara menolak penguatan paksa itu, atau
menghentikan proses pengikisan tubuh?"
"Secara
mendasar, cara untuk menghindari fenomena yang memengaruhi jati diri
tersebut."
"Mati
saja. Segel itu kemungkinan besar adalah parasit yang hidup dengan memakan mana
inangnya. Jika inangnya mati, segelnya akan hilang."
Jika
menganggap penghapusan segel sebagai salah satu solusi, itu bisa dimengerti,
tapi bukan jawaban itu yang diinginkan Ren.
"Apakah
tidak ada cara untuk lepas dari paksaan segel tanpa harus mati?"
"Apa
gunanya memikirkan hal itu?"
Ragna
bertanya dengan tulus, benar-benar merasa heran dari lubuk hatinya.
"Apa ada
pengikut Demon Lord Cult yang ingin kau selamatkan?"
"Tidak,
saya hanya ingin menjadikannya referensi di masa depan. Meskipun saya dan
Radius berhasil menangkap mereka, banyak dari mereka yang akhirnya tewas."
"Untuk
memeras informasi sampai batas maksimal ya? Wajahmu imut tapi kata-katamu sadis
juga."
Ren tidak
berusaha membantah Ragna yang tertawa geli.
"Konsep
paksaan yang memicu kekuatan potensial yang memengaruhi jati diri. Dengan kata
lain, itu juga fenomena yang terjadi karena pemilik kekuatan tersebut tidak
mampu menekan kekuatannya sendiri."
"Seperti kisah Princess of
Erosion?"
Radius menyela.
Entah karena pengalamannya mengajar
Pangeran Ketiga atau karena sifatnya yang penyuka romansa. Ragna mengetahui
dongeng lama tentang Princess of Erosion, namun ia langsung membantah
pertanyaan Radius tanpa ragu.
"Dia
berbeda. Dia tetap mempertahankan kesadarannya karena dia mengendalikan
kekuatannya."
"Apa
bedanya dengan kasus di mana kekuatan itu mengamuk?"
"Princess of Erosion
hanyalah dongeng lama. Jadi aku tidak berniat mendiskusikan jawabannya secara
teori di sini, tapi menurut pemikiranku, dia mengendalikan kekuatannya."
"Lalu
kenapa menurutmu dia mengikis sekelilingnya?"
"Kebanyakan
makhluk hidup menarik napas lalu mengembuskannya. Hal biasa bagi sang putri
ternyata memberikan dampak buruk bagi sekelilingnya. Dia mengikis sekitarnya
hanya dengan keberadaannya di sana, hanya itu saja. Justru baginya, yang tidak
normal adalah semua makhluk hidup selain dirinya."
Namun seperti
yang dikatakan Ragna, semuanya penuh ketidakpastian dan tidak bisa ditarik
kesimpulannya. Itu hanyalah salah satu contoh, sekadar pendapat singkat
darinya.
Lagi pula
seperti katanya, Princess of Erosion adalah dongeng. Tidak banyak nilai
yang bisa diambil dengan mencoba membangun teori serius di atas sebuah dongeng.
"Kita
kembali ke topik."
Menuju inti
pertanyaan yang diajukan Ren.
Jawaban itu
sangat penting bagi Ren, tidak terbatas hanya pada segel Demon Lord Cult.
"Cara
yang efektif adalah terus melawan paksaan itu dan mempertahankan jati diri.
Jika kalah, kau akan kehilangan jati diri dan kekuatanmu akan mengamuk sesuka
hati. Sederhana, kan?"
"Seandainya
berhasil bertahan, apakah ada jaminan hal itu tidak akan terjadi untuk kedua
kalinya?"
"Jika
kau terus melawan tanpa kalah, seluruh elemen yang membentuk individu tersebut
akan beradaptasi dan berkembang. Mungkin ini jawaban yang paling mendekati apa
yang kau cari?"
Sang
Pengelana Tas Besar itu menjawab tanpa ragu sedikit pun.
"Mungkin…… mendekati. Tapi
beradaptasi?"
"Dalam contoh yang kita bahas,
fenomena tersebut terjadi karena kekuatan yang tidak tertahankan menguasai
tubuh. Jadi jika kau berkembang hingga mampu menahannya, maka tidak ada
masalah. Amukan kedua
tidak akan terjadi dengan kekuatan yang sama. Pasalnya, kau sudah bisa
mengendalikannya."
"Be-Benarkah!?"
Suara Ren
meninggi karena terkejut.
Licia pernah
sekali melawan paksaan misterius itu dan kembali ke sisi Ren.
Ia tidak bisa
memastikan apakah fenomena saat itu bisa disamakan dengan segel Demon Lord
Cult atau evolusi monster, namun ini pastinya salah satu informasi yang
sangat ia inginkan.
"Tapi,
apakah ada cara untuk memastikan bahwa seseorang sudah dianggap berhasil
menahannya?"
"Jika
kau mampu menggunakan kekuatan yang sebelumnya tidak bisa kau kelola, maka bisa
dikatakan kau telah bertahan dari amukan kekuatan tersebut. Secara konsep
sihir, tubuhmu sudah dianggap beradaptasi dengan kekuatan itu."
Artinya,
fakta bahwa Licia menggunakan Holy Magic yang sangat kuat di akhir
pertarungan melawan Sword Demon adalah buktinya.
Ingatan masa
lalu kembali terbayang di benak Ren.
……Melawan,
mungkin istilahnya agak berbeda.
Dua
orang yang muncul di Pegunungan Baldur pasti mampu mengelola segel mereka.
Ada seorang
pria bernama Kai, salah satu dari pasangan itu yang memiliki ciri khas gaya
bicara kasar.
Pria itu
tumbang karena tidak mampu mengelola kekuatannya setelah kekuatan Raja Iblisnya
diamplifikasi oleh kekuatan Sang Black Priestess milik Fiona.
Kemungkinan
besar, itu adalah konsep yang sama dengan sesuatu yang memberikan pengaruh pada
paksaan tersebut.
Ren
terus berpikir, lalu—
Benar.
Roses Kaitas pun
sama.
Roses Kaitas.
Dan Prison of Time.
Di dalam
ruang yang dipenuhi kekuatan Dewi Waktu itu, bisa dikatakan kekuatan Licia
mengamuk di luar kehendaknya sendiri.
Jika
menyamakan hal itu dengan insiden di Pegunungan Baldur……
Kekuatan
yang penuh dengan kesucian telah membawa semacam perubahan pada Licia────
mungkin begitu.
Dan Licia
melawan, lalu kembali seolah menjawab panggilan Ren. Karena itulah dia ada di
sisi Ren sekarang.
Setelah
merapikan informasi ini, Ren berpikir bahwa untuk saat ini ia bisa merasa lega.
Mengingat
kembali saat pertarungan melawan Sword Demon mencapai puncaknya, tingkat
kemahiran Holy Magic yang digunakan Licia meningkat drastis dibandingkan
sebelumnya.
Belakangan
ini dia tidak menggunakannya karena merasa muak, tapi apa yang dikatakan Ragna
menjadi semakin meyakinkan.
Licia yang
berhasil melawan kekuatan misterius itu, saat ini fisiknya pun pasti sudah
berkembang.
"……Syukurlah."
Saat Ren
mengembuskan napas lega,
"Khusus
untuk pengikut Demon Lord Cult, ceritanya akan berbeda jika Raja Iblis
bangkit kembali dalam bentuk apa pun."
Ragna
mengatakannya tanpa menyadari perasaan Ren.
"Dengan
kekuatan Raja Iblis yang tersisa dalam legenda, para pengikut Demon Lord
Cult mungkin akan kehilangan akal sehat mereka tanpa pengecualian."
"Tapi
Ragna, para pengikut Demon Lord Cult yang kuat bisa melawan kekuatan
Raja Iblis—maksudku, mereka bisa bergerak atas kehendak sendiri."
"Entahlah.
Jika kekuatan Raja Iblis itu sangat luar biasa, mungkin berikutnya tidak akan
seperti itu lagi. Paling buruk, mereka akan menjadi prajurit mati tanpa
kehendak. Termasuk para petinggi dan pemimpin yang pernah kudengar itu."
"Kesimpulannya,
kita tidak akan tahu sampai tahap itu benar-benar terjadi ya."
"Iya.
Kisah tentang Raja Iblis memang penuh dengan romansa, tapi informasinya sangat
kurang."
"……Zaman
yang merepotkan telah tiba."
"Mau
bagaimana lagi. Kekuatan Raja Iblis itu dahsyat. Dia adalah satu-satunya
keberadaan yang memegang pedang yang mampu menandingi Holy Sword."
Di sini Ragna
mengumpat dan mencemooh ajaran Elfen seolah hal itu membosankan.
"Kalau
para pendeta Elfen itu bisa menjaga pusaka suci tersebut, segalanya pasti akan
selesai dengan lebih mudah."
"Maksudmu,
pusaka suci yang mana?"
"Yang
dicuri dari kuil entah di mana itu. ……Itu lho, Elfen's
Tears. Leomel punya banyak pusaka suci. Tidak hanya di kuil, tapi tidak
jarang juga berada di tangan para bangsawan di berbagai daerah. Aku tidak tahu
apa yang dipikirkan Demon Lord Cult sampai terus mengincar Leomel, tapi
ini pasti ada hubungannya."
Cairan yang menyimpan kekuatan spesial
untuk menyucikan apa pun, itulah Elfen's Tears. Pusaka suci yang dicuri
langsung oleh pemimpin Demon Lord Cult saat menyerang kuil ajaran Elfen.
"Jika memiliki kesucian dari
cairan itu, harusnya mereka bisa menyucikan para pengikut Demon Lord Cult
beserta segelnya."
Ucap Ragna.
"Meskipun begitu, apa yang sudah
dicuri tidak bisa diapa-apakan. ……Tapi, aku sempat berpikir bahwa bagi Demon
Lord Cult, itu adalah racun yang sangat kuat. Apakah mereka mencurinya demi
perlindungan diri?"
"Yah, aku sendiri tidak tahu
apakah Elfen's Tears benar-benar memiliki kekuatan seperti yang
dirumorkan."
"Ada
apa, Ragna? Apa kau mulai suka mencela pusaka suci juga?"
"Berisik.
Ini dari sudut pandang akademis sebagai peneliti. Elfen's Tears memang
benar-benar sebuah pusaka suci. Katanya kekuatan Tuhan tidak memiliki cacat,
tapi makhluk hidup punya cacat. Aku hanya meragukan seberapa besar pengaruh
kekuatan penyucian itu bekerja."
"Kuharap
kau sadar kalau kata-katamu itu kontradiktif. Jika kekuatan Tuhan tidak
memiliki cacat, bukankah pengaruhnya pun seharusnya melampaui cacat
manusia?"
"Tentu
saja, dunia tidak akan berjalan tanpa adanya kontradiksi. Itulah kenapa aku
menggunakan kata 'katanya'."
Ragna
menunjukkan keberanian yang bahkan tidak takut pada Tuhan.
Keberanian
itu tidak berhenti meskipun Ren terkejut dan Radius tersenyum kecut.
"Karena
Tuhan itu sendiri kontradiktif. Maka bangsa Shelgard pun harus memiliki
satu atau dua kontradiksi. Tidak ada yang salah dengan perkataanku. Karena
Tuhan pun bisa melakukan kesalahan."
Ragna
melontarkan sindiran tanpa rasa takut. Bukannya dia membenci Dewa Utama Elfen,
dia hanya bersikap realistis.
Suka atau
tidak, dia tidak menyukai hal-hal yang tidak realistis.
"Tuhan
tidak memiliki cacat──── Tuhan membuat kita berpikir demikian. Tapi jika Beliau
benar-benar mahakuasa tanpa cacat, buat apa Dewa Utama repot-repot menciptakan Hero?
Harusnya Beliau sudah melakukan sesuatu sebelum Raja Iblis lahir, kan?"
"Sepertinya
kau membenci kata-kata praktis seperti 'ujian bagi manusia'."
"Ya, aku
membencinya."
Jawaban tanpa
ragu itu mengalir deras.
"Semua
itu hanyalah romansa dari cerita yang dibuat-buat. Sama sekali tidak menarik.
Kesimpulan yang ada hanyalah ada Tuhan yang sifatnya buruk sedang menyeringai
melihat kita. Aku suka menonton pertunjukan, tapi aku tidak berniat menjadi
aktornya."
"Misalnya
Tuhan benar-benar menciptakan manusia, apa tidak apa-apa bicara begitu?"
"Jika
aku salah, Tuhan yang mahakuasa itu mungkin akan membenarkanku. Aku tidak tahu
kapan itu akan terjadi, tapi sepertinya bukan saat ini."
Tidak
berhenti di situ, dia melanjutkan.
"Ah
tidak, tidak dibenarkan pun tidak apa-apa. Jika tidak bisa dibenarkan, itu
membuktikan bahwa Tuhan tidak mahakuasa. Satu rasa haus ilmuku akan terpuaskan.
Mungkin itu juga kehendak Tuhan."
Dia
menyelesaikan kalimatnya yang jika didengar oleh penganut ajaran Elfen pasti
akan membuatnya dipukuli.
Pangeran
Ketiga tidak terlalu memikirkannya, dan si pendekar pedang sihir hanya bisa
tersenyum kecut mendengarkannya.
"Ren,
kau mulai paham kan pria ini orang yang seperti apa?"
"Ahaha……
Saya rasa saya ingin menahan diri untuk tidak menjawabnya……"
"Jangan
gunakan jawaban itu. Itu adalah kata-kata yang sering diucapkan bangsawan
merepotkan di parlemen."
Wajah Radius
tampak lelah saat dia menghela napas.
"Beralih
ke topik lain, Radius, sepertinya belakangan ini kau sangat sibuk ya."
"Memangnya
kenapa?"
Seolah
meyakini sesuatu, Ragna tersenyum licik sekali.
"Tidak
ada apa-apa. Kalau boleh kukatakan, aku hanya merasakan firasat kuat bahwa akan
ada perubahan besar dalam sejarah."
Radius tidak
menjawab kata-kata penuh makna itu.
Kalimat
berikutnya yang ia ucapkan adalah,
"Justru
Ragna sendiri belakangan ini sepertinya menghabiskan banyak waktu di Eupeheim.
Padahal kau jarang berada di laboratorium, tumben sekali."
"Tentu
saja, karena ada sesuatu yang sangat menarik berhasil diekskavasi."
"Sesuatu
yang menarik bagi Ragna ya, sepertinya barang yang sangat bagus telah
ditemukan."
"Kalau
penasaran, mau lihat?"
Saat Radius
menjawab "Tentu saja", Ragna berjalan mengitari ruangan.
Ketika ia
meletakkan tangannya pada sebuah lemari besar di ruangan itu, pola cahaya
muncul di pintu lemari tersebut. Sepertinya ia juga menggumamkan semacam
mantra.
Dari balik
pintu yang terbuka ke samping, sebuah kotak kaca pameran terdorong ke depan. Di
dalam kotak tersebut, diletakkan sebuah mahkota lingkaran (circlet).
"Kemari."
Dipanggil
oleh Ragna, Ren dan Radius berdiri di depan kotak kaca tersebut.
"Sebelum
aku menjelaskan apa yang baru saja diekskavasi, lihat ini dulu. Ini ditemukan
di kota tua beberapa puluh tahun yang lalu."
Katanya,
bahannya adalah Mithril.
Logam spesial
yang memiliki ketahanan karat melebihi emas, dan jika diproses oleh pengrajin
ahli, akan melampaui logam campuran mahal mana pun. Kebanyakan Mithril yang ada
di dunia ini ditambang di Benua Iblis tempat Kastil Raja Iblis berdiri.
Namun,
mahkota ini tampak berbeda. Seluruh bagiannya telah tererosi oleh warna hitam.
"Ragna-san,
ini apa?"
"Ini
barang aneh di mana Mithril yang digunakan sudah mati. Bukan karena berkarat
atau dicat."
"Logam
bisa mati?"
"Benar.
Mithril adalah logam yang mengandung mana, tapi karakteristik itu telah hilang
dari benda ini."
Ren
sejak awal memang tidak terlalu paham soal bijih mineral. Meskipun ia cukup
tahu tentang sifat dan lokasi penambangan beberapa material yang digunakan
untuk memproses senjata atau pelindung, hal itu berbeda jika menyangkut
pemrosesan khusus.
"Apa ada
teknik pemrosesan seperti itu?"
"Tidak
ada. Karakteristik utama Mithril adalah sifatnya tidak akan hilang meskipun
dihancurkan menjadi bubuk."
"……Kalau
begitu, ini aneh ya."
"Iya
kan? Tapi, baru-baru ini ditemukan Mithril yang berada dalam kondisi serupa.
Baru saja kemarin lusa, juga di kota tua."
Dalam
survei rutin yang dilakukan oleh Department of Mysteries, ditemukan
sebuah pena mahal yang juga menggunakan Mithril.
Jika
dilihat baik-baik, pena itu berjejer di dalam kotak kaca. Menurut hasil
penyelidikan Ragna dan timnya, pena itu berada dalam kondisi yang sama dengan
mahkota tadi.
"Aku
penasaran setengah mati dengan metode apa yang digunakan untuk membunuh Mithril
ini."
Berbohong
jika Ren bilang ia tidak tertarik, tapi ia tidak setertarik Ragna.
Bagi
seorang peneliti, ini mungkin fenomena yang luar biasa, namun bagi Ren yang
buta akan pengetahuan ahli tersebut, memahaminya saja sudah sulit. Ia
kekurangan pengetahuan dasar untuk menggali lebih dalam pembicaraan ini.
"Apakah
kegiatan Anda sebagai Pengelana Tas Besar juga bertujuan untuk melakukan
ekskavasi seperti ini?"
"────Ho-o."
Ragna menatap
Ren dengan penuh minat.
"Dari
mana kau tahu? Apa Radius yang memberitahumu?"
"Tidak,
aku tidak bilang apa-apa padanya."
"Lalu
Ren, bagaimana kau bisa tahu?"
"Jika
ada tas sebesar itu diletakkan dengan mencolok, wajar saja kalau aku berpikir
ada seorang Pengelana Tas Besar di sini."
"Hum.
Lalu di mana kau melihatku?"
"Saya
melihat Anda di sebuah gang di Ibu Kota tempo hari."
Ragna
bertepuk tangan sambil berseru, "Ah!". Sepertinya penglihatan Ren
tidak salah.
Berbeda
dengan Ragna yang tampak puas, Radius bergumam "Ha?" sebelum menatap
Ragna.
"Hari
itu aku punya sedikit waktu luang, jadi aku mampir ke Ibu Kota."
"Tunggu,
Ragna! Kalau begitu, kenapa kau tidak menemuiku!?"
"Aku
sudah tahu kau pasti akan datang selagi ada kesempatan ini. Lagipula, apa kau
begitu rindu ingin mengobrol dengan gurumu ini? Manis sekali kau, Radius. Sini,
biar kupus-pus kepalamu?"
"Guh……!"
Radius
mengerang pelan lalu terbungkam. Tentu saja, dia diam bukan karena ingin dielus, melainkan karena enggan
menanggapi dan hanya bisa memalingkan muka sambil menghela napas panjang.
"Ngomong-ngomong,
seleramu oke juga sampai tahu soal Pengelana Tas Besar."
"Se-selera?"
"Jangan-jangan,
setelah lulus nanti kau bercita-cita jadi peneliti? Kau pasti berdebar-debar saat mendengar rumor tentang
pengelana hebat ini, kan? Aku tahu segalanya."
"Tidak,
tidak sampai sejauh itu."
Begitu
Ren menjelaskan bahwa banyak orang yang membicarakan sosok Pengelana Tas Besar,
Ragna sedikit merendahkan suaranya.
"Tapi
sepertinya Ren tidak terlalu tergoda meski melihat benda ini."
"Saya
pikir ini luar biasa, tapi ya... saya tidak bisa memikirkan hal lain selain
kata 'luar biasa' itu sendiri. Lagipula, bukankah kita bisa mengetahui sesuatu
jika diperiksa dengan kekuatan Radius?"
Jika
menggunakan kekuatan analisis bawaan yang dimiliki Radius, mungkin ada petunjuk
yang bisa didapat. Ren merasa itu ide cemerlang, namun mustahil bagi kedua
orang di hadapannya untuk belum mencobanya.
"Sebenarnya,
ini bukan pertama kalinya aku melihat circlet ini. Aku baru dengar soal
penemuan penanya tadi, tapi aku sudah memeriksa circlet ini
sebelumnya."
Hasilnya:
nihil. Tidak ada jawaban atau informasi relevan yang muncul.
Bahkan Radius
hanya tahu bahwa benda ini menjadi seperti itu karena kekuatan misterius. Saat
ia mencoba menggunakan kekuatan analisisnya pada pena tadi, sensasi yang
dirasakannya tetap sama.
Satu hal yang
pasti hanyalah circlet dan pena tersebut menjadi "mati" karena
kekuatan yang sama.
"Aku
sudah menduga hasilnya akan begini meski menggunakan kekuatan Radius. Tapi
justru karena benda kuno punya rahasia seperti inilah yang membuatnya
menarik."
Tuan rumah
ruangan itu menjentikkan jarinya, membuat kotak pajangan itu kembali masuk dan
pintu lemari tertutup tanpa suara. Setelah itu, Ragna pamit sebentar untuk ke
toilet.
"Soal
Mithril tadi, bagaimana menurutmu, Radius?"
"Aku
tidak tahu apa-apa. Itu
benar-benar di luar bidangku."
"Bagaimana
kalau benda itu berhubungan dengan Princess of Erosion yang tadi sempat
dibahas?"
"……Princess
of Erosion itu kan dongeng kuno yang bahkan tidak jelas berasal dari negara
mana."
"Iya,
aku tahu sih, tapi……"
"Aku
mengerti perasaanmu. Karena katanya kekuatan Princess of Erosion bisa
mengikis apa saja, kan?"
"Benar,
kan?"
"Jadi
kalau perkataan Ren benar, barang-barang tadi adalah milik Princess of
Erosion, begitu?"
Radius
dan Ren tertawa bersama.
Setelah
Ragna kembali, Ren mencoba bertanya secara halus tentang istilah 'Anak Tuhan',
namun jawabannya singkat: "Tidak pernah dengar."
Karena hari
itu Ragna tampak akan mulai sibuk, mereka pun membubarkan diri. Ren membuat
janji untuk mengobrol lagi dengan Ragna selama ia masih berada di Eupeheim.
◇◇◇
Satu jam
perjalanan kaki dari Eupeheim, terdapat sebuah tempat di mana bebatuan terjal
berjajar bak labirin, ditumbuhi pepohonan yang tak goyah oleh angin laut.
Ini adalah
tempat di mana petualang tingkat menengah ke atas terkadang menikmati
pemandangan sambil berburu.
Di sekitarnya
terdapat monster peringkat E yang kekuatannya mendekati peringkat D.
Mereka sering
muncul di dekat jalan raya dan merupakan jenis monster berbahaya yang
direkomendasikan untuk dibasmi.
Normalnya,
orang tanpa kemampuan mumpuni tidak akan berani menginjakkan kaki di sini, tapi
itu tidak berlaku bagi para remaja ini.
Dengan
anggota Tujuh Keluarga Besar Eishaku ditambah Vain dan Licia Clausel, monster
di area ini bukan lagi ancaman.
Pertempuran
melawan monster yang menyerang berjalan sangat lancar, bahkan Licia belum perlu
menunjukkan kemampuannya.
"Vain!
Giliranmu!"
Seru Sarah
sambil menghalau musuh dengan teknik pedang yang mengalir indah.
"Ooh!
Cuma segini────!"
Vain
merespons dengan cepat dan dalam sekejap membuat monster itu terkapar. Monster
baru yang muncul pun tidak jauh berbeda nasibnya.
"Oraaaaaaaaa!"
Kaito memukul mundur lawan dengan
perisai besarnya yang membanggakan.
"Kalian tidak akan bisa lari dari
busurku."
Anak panah yang dilepaskan dari busur
Charlotte menembus dahi monster dengan akurat.
Monster-monster yang tiba-tiba muncul
dari balik bayangan pohon itu pun tersapu bersih tanpa perlawanan berarti.
Dua
orang yang tidak mendapat giliran bertarung pun mengobrol.
"Hei, hei, Licia-chan. Nemu dan
kau tidak kebagian jatah ya."
"Sudah
ketahuan, kan?"
"Ahaha,
mungkin saja."
Nemu tidak
terlalu ambil pusing, ia hanya tampak sedikit bosan. Di sisi lain, Licia
mengagumi teknik yang ditunjukkan Charlotte dalam diam.
……Luar
biasa, busur itu.
Leluhur
Charlotte adalah salah satu dari Tujuh Pahlawan yang dikenal sebagai ahli
memanah. Ia sudah memegang busur sejak kecil.
Kemampuannya
membidik titik lemah musuh sangat mengagumkan. Bahkan Kaito, yang tidak bisa
dikalahkan Vain, akan terdesak jika Charlotte menjaga jarak.
Dengan
tiga orang kuat di barisan depan dan Charlotte di barisan belakang,
monster-monster biasa bukan tandingan mereka.
Tentu saja,
Nemu pun bisa bertarung jika dibutuhkan. Meski ia lebih sering berperan sebagai
pendukung di kelompok ini, ia sama sekali tidak lemah.
"Padahal Nemu ingin melihat
Licia-chan bertarung~"
"Benar,
Licia! Apa kau sungkan pada kami?"
Sarah
menyusul kata-kata Nemu setelah menyelesaikan pertarungannya.
"Bukan
begitu. Hanya saja kalian berempat terlalu kuat sampai aku tidak kebagian
giliran."
Angin laut
menyapu rumput di bawah kaki mereka, membuat rok Licia sedikit berkibar.
Di suatu
tempat yang bukan di sini, dalam situasi yang serupa, pilihan seperti ini
mungkin muncul:
【Bagaimana kalau berikutnya Clausel-san
ikut juga?】 【Rasanya tenang jika ada Kensei yang
mengawasi.】
Tapi sekarang
hal itu tidak relevan. Terlebih lagi, Licia yang kini mempelajari teknik Gouken
(Pedang Kokoh) dan bukan Seiken (Pedang Suci), belum menjadi seorang Kensei.
"Berikutnya
kau harus bertarung bersamaku! Mengerti?"
"……Baiklah.
Aku menantikannya."
Mendengar
jawaban pasrah Licia, Sarah melakukan tarian kecil kegirangan. Suara para
anggota kelompok yang menyusuri jalan raya itu menggema di bawah langit biru
yang cerah.
Sambil
menikmati jalan-jalan, mereka akhirnya melihat sebuah jalan raya dengan suasana
berbeda. Itu adalah jalan tua yang sebagian besar terendam air dan mengarah
langsung ke kota yang tenggelam.
Setelah
keluar dari jalur utama dan menyusuri jalan tua itu beberapa saat, Sarah
membuka suara.
"Pasti
itu tempatnya. Licia juga baru pertama kali melihatnya, kan? Aku juga sama,
sih."
Begitu
melewati perbukitan, pemandangan di sekitar berubah drastis. Kota reruntuhan
kini terlihat di hadapan mereka.
────Kota Tua.
Sisa-sisa
dari Eupeheim yang menderita kerusakan parah saat pasukan Raja Iblis mendekati
Ibu Kota. Dahulu, Kota Tua adalah distrik baru yang masih segar saat pasukan
Raja Iblis mulai mengamuk.
Namun,
serangan mendadak menghantam dari luar pusat kota. Serangan bertubi-tubi dari
monster kuat seperti Sword Demon membawa perubahan besar pada topografi
wilayah tersebut.
Sungai
dan laut di sekitarnya menyatu, menenggelamkan seluruh distrik tersebut ke
bawah air.
Mereka
menyusuri jalan tua hingga ke ujungnya, lalu menatap Kota Tua yang terendam air
dari ketinggian.
Banyak
rumah batu yang bentuknya masih utuh, menciptakan pemandangan seperti
reruntuhan bawah air.
Ikan-ikan
berwarna-warni berenang dengan anggun di antara bangunan-bangunan yang
tenggelam itu.
"Kita
tidak bisa pergi lebih jauh tanpa izin," ucap Sarah di dekat permukaan
air.
Karena nilai
sejarahnya, Department of Mysteries melakukan investigasi berkala di
Kota Tua ini. Meski jarang, patroli ksatria juga dilakukan. Perangkat magis
khusus pun dipasang untuk keamanan.
Wisatawan
atau petualang boleh datang ke area sekitar, tapi butuh izin dari penguasa
wilayah untuk benar-benar menginjakkan kaki ke dalam Kota Tua.
Mereka datang
ke sini karena Kota Tua bisa terlihat dalam perjalanan menuju tujuan utama
mereka.
"Sarah-chan,
ayo berangkat sekarang."
"Benar
juga. Nanti saat pulang
kita mampir lagi."
Mereka
kembali ke jalur yang melewati bebatuan dan pepohonan. Saat menyusuri jalan
yang kembali dipenuhi monster, sosok baru muncul menghalangi jalan.
Namun,
monster kali ini berbeda dari sebelumnya.
"Kalau
Licia ikut bertarung, kurasa monster ini pas," ucap Sarah dengan percaya
diri, namun posisinya lebih waspada dari tadi.
Sesosok
kuda besar yang seluruh tubuhnya ditutupi sisik menyerupai sisik naga muncul.
Monster
peringkat D yang kekuatannya setara peringkat C. Karena ia menggunakan sihir
petir, ia bukan lawan yang bisa diremehkan.
────!
Tanpa
peringatan, sihir itu akan segera dilepaskan. Percikan listrik mulai menyambar di kaki si monster.
Sambil
memperhatikan itu, Licia mencabut Byaku-en yang tergantung di
pinggangnya.
Ia
mengayunkannya ringan seolah sedang membersihkan debu.
Di
hadapan teman-temannya yang sudah mengambil posisi tempur, ia melangkah
maju────
『Jangan khawatir.』
Seandainya
Licia mempelajari teknik Seiken dan menjadi seorang Kensei, saat
ini ia pasti sudah menggunakan teknik sihir suci dan pedang suci untuk
melindungi semua orang dan menebas monster itu sendirian.
"Licia!"
Namun,
sekarang berbeda. Dengan suara Sarah dan Vain di punggungnya, Licia tidak
menoleh.
"Jangan khawatir."
Ia mengucapkan kalimat yang sama dengan
adegan di game Legend of Seven Heroes.
Sebelum petir itu menyentuh tubuhnya,
ia menyabetkan Byaku-en secara horizontal sekali lagi. Sambaran listrik
yang menerjang berubah menjadi butiran cahaya dan menghilang seperti kabut.
Sihirnya menghilang──── tidak, sihirnya
"dibunuh".
『Apakah ini tantangan bagi diriku
yang baru saja berkembang lagi? Entahlah, aku mungkin saja segera menyalip Ren,
tahu.』
Itu
adalah kata-kata yang pernah ia ucapkan pada Ren saat pulang dari Shishiseicho
dulu.
Licia
mengingat kembali kata-katanya saat itu dan merasakan kepuasan yang nyata.
Dirinya yang
kini berada di tingkat Kengo (Pendekar Pedang Hebat), apakah sudah
sedikit lebih dekat dengan Ren?
Meski secara
peringkat ia sudah berdiri di ketinggian yang sama dengan Ren, jawabannya tetap
saja: "Mana mungkin".
Sarah, tak
perlu dikatakan lagi, Vain dan yang lainnya pun tercengang. Mereka tahu apa
artinya "membunuh sihir", dan mereka tahu apa artinya seorang
pengguna Gouken mampu melakukannya.
Seorang
Kengo dalam aliran Gouken. Mengingat peringkat Gouken
sering dianggap setingkat lebih tinggi dari aliran lain, mungkinkah kekuatannya
setara dengan tingkat Kensei di antara pengguna pedang suci?
Meski ada
keraguan apakah nilainya benar-benar setara, perasaan mereka secara garis besar
benar.
"Sarah?
Kenapa kau melamun?"
"Eh,
i-iya…… tidak apa-apa……"
Licia
kemudian memberikan giliran pada yang lain, dan pertarungan diakhiri oleh anak
panah Charlotte yang menembus antara kedua mata si monster. Monster itu tumbang
dengan dentuman yang berat.
Begitu mereka
melanjutkan perjalanan, sebuah pemandangan indah terbentang di depan mata.
"Apa ini
tempat yang ingin Sarah kunjungi?"
"Iya,"
jawab Sarah singkat dengan wajah bahagia.
Nemu
yang mendengar percakapan mereka menyahut dengan senyum polos.
"Cantiik
sekali~! Nemu kaget karena ini melebihi bayanganku!"
Di
balik tanjung yang jauh dari Eupeheim, setelah melewati jalan yang
berkelok-kelok, akhirnya mereka bisa melihat pemandangan tersembunyi yang
indah.
【Gua di Garis Pantai. Warisan
yang Agung】
Itulah nama quest dalam Legend
of Seven Heroes. Laut berwarna biru kobalt, pantai pasir putih, dan suara
ombak yang tenang.
Mulut gua itu seolah mengundang para
keturunan Tujuh Pahlawan menuju petualangan baru.
◇◇◇
Meski saat musim panas matahari mungkin
masih bersinar, di waktu yang sudah mendekati musim dingin ini langit sudah
gelap gulita.
Ren yang sedang dalam perjalanan pulang
ke penginapan dan Licia yang baru kembali dari luar kota bertemu di pusat kota
Eupeheim.
"Ah! Ren!"
Licia berlari menghampirinya dengan
senyum yang tampak bercahaya—senyum yang bahkan tidak ia tunjukkan pada Sarah
dan yang lainnya tadi. Sarah memperhatikan mereka dengan senyum lembut.
"Ren juga baru mau pulang?"
"Iya. Setelah urusan di Department
of Mysteries selesai, aku mampir ke kafe bersama Radius."
Meskipun senang bertemu Ren secara
tidak sengaja, Licia merasa sedikit bersalah karena ia tahu Ren pergi ke Department
of Mysteries demi dirinya. Namun Ren menyadari hal itu dan memberikan senyum seperti biasanya.
"Jadi
aku baru saja bertemu Licia. Ngomong-ngomong, Licia──── eh?"
Ren menyadari
keberadaan Sarah dan yang lainnya. Mereka pun mendekat ke arah Ren dan Licia.
"Jarang
sekali ya, Ren dan Licia tidak sedang bersama."
"Tidak
juga, kok. Maksudku, kalau di akademi kita kan cukup sering berpisah. Benar
kan, Vain?"
"Iya
sih. Tapi ini kan bukan di akademi."
"Itu kan
cuma perumpamaan. Hari ini aku juga ada urusan."
Kemudian
Kaito tertawa keras. Ren melirik sekilas perisai besar yang disandangnya.
"Gahhahahaha!
Benar, Ashton juga pasti punya banyak urusan!"
"Begitulah.
Ngomong-ngomong Leonhard-senpai dan yang lainnya dari mana dengan perlengkapan
seperti itu? Kalian semua memakai seragam juga."
"Yah,
kami kan murid sekolah."
Alasan
lainnya adalah karena seragam Akademi Militer Kekaisaran memiliki kualitas yang
sangat baik dan tidak kalah dari pelindung mahal.
"Kami
pergi ke tanjung yang dirumorkan itu. Kau tahu?"
"Kaito!
Biar Ren tahu banyak hal, informasi segitu saja tidak akan────" suara
Sarah yang terdengar kesal bergema.
Namun,
"Tempat
indah yang lokasinya lebih jauh dari Kota Tua, kan?"
"Lihat
kan? Ashton memang tahu segalanya!"
"……Iya,
iya. Terserah kau saja."
Vain
tersenyum menatap Sarah yang menghela napas panjang. Di sisi lain, di dekat
Ren...
"Kau
anak laki-laki yang dirumorkan itu ya."
Charlotte
mencoba menyapa untuk pertama kalinya. Mereka berdua melakukan perkenalan
singkat lalu mengobrol tentang kejadian hari ini.
"Hari
ini aku meminjam waktu Nona Saint sebentar."
"Kalau
bersama Licia, berarti kalian benar-benar pergi ke luar kota ya."
"Begitulah.
Dia luar biasa ya. Dia sangat kuat sampai aku tidak percaya dia lebih muda
dariku."
Meski Ren
merasa hal itu sudah sewajarnya, ia tetap merasa senang mendengarnya. Ia
mengangguk sambil diam-diam merasa bangga.
Dengan ini,
keturunan Tujuh Pahlawan yang sudah ditemui Ren berjumlah lima orang.
Dua orang
sisanya setahun lebih muda dari Ren, jadi ia belum sempat bertemu.
Vain dan yang
lainnya mungkin sudah bertemu, tapi bagi Ren mereka adalah orang asing dari
faksi berbeda.
Namun tahun
depan, ia pasti akan bertemu mereka di akademi.
"Apa
Altea-san tidak bersama kalian?"
"Kalau
Nemu, dia sudah bilang 'Aku mengantuk~!' dan langsung pulang ke
penginapan."
Saat
Licia bilang bahwa Ren muncul tepat saat mereka akan membubarkan diri, gadis
itu sedikit menarik ujung lengan baju Ren.
"Setelah ini, mau main sebentar
sebelum pulang? Maksudku…… makan bareng atau semacamnya."
"Ide bagus. ────Tapi, kalau pulang
telat, mungkin Lezard-sama akan khawatir."
"Be-benar
juga ya……! Kalau begitu, lain kali saja……"
Licia baru
saja akan berucap dengan nada kecewa, namun Ren langsung memotongnya.
"Tidak,
tidak. Lebih baik kita pulang dulu sekali, baru pergi lagi."
"Benarkah!?
Ka-kalau begitu aku mau!"
Melihat
perjuangan temannya itu, Sarah tidak ingin mengganggu.
"Kami
mau pergi ke penginapan tempat Shalo menginap, jadi sampai jumpa ya."
Beberapa
detik setelah mereka berpisah, Charlotte bertanya pada Vain.
"Jadi
anak laki-laki itu yang selalu dekat dengan Nona Saint ya."
Sambil
berkata begitu, Charlotte tiba-tiba memeluk lengan Vain. Tindakan yang cukup
provokatif di depan Sarah.
"Tu-tunggu!
Shalo-senpai!?"
"Aku
lelah sekali~ Pinjam lengan Vain-kun sebentar ya~"
Tentu saja,
Sarah langsung menengahi.
"LE-PAS-KAN!"
"Kyaa!
Sarah kasar sekali~"
Entah sudah
ke berapa kalinya Sarah menghela napas lelah hari ini. Jelas bukan karena
kelelahan setelah bertarung di luar kota tadi.
Charlotte
yang ditarik oleh Sarah menoleh, menatap pasangan yang berjalan menjauh itu.
Charlotte
memiliki kepercayaan diri untuk menjadi nomor satu atau dua jika bertarung
melawan seluruh murid Akademi Militer Kekaisaran.
Saingan nomor
satunya adalah Kaito, namun pertarungan hari ini memberinya perubahan suasana
hati setelah melihat pedang Licia.
Lantas,
seberapa hebatkah anak laki-laki yang dikatakan lebih kuat dari gadis kelas
satu itu? Saat ia menatap Licia dan Ren dengan penuh rasa ingin tahu,
tiba-tiba...
"……Eh?"
Ren menoleh
ke arah Charlotte sesaat, lalu kembali menatap ke depan.
Mungkinkah
itu kebetulan? Karena waktunya terlalu tepat, Charlotte tidak bisa menahan
senyum kecutnya.
"Memang
pantas disebut orang-orang yang mempelajari pedang Raja Singa."
"Apa!?
Shalo, kau bilang sesuatu tadi!?"
"Bukan
apa-apa. Aku cuma berpikir Sarah hari ini juga imut, dan kita harus berjuang
supaya tidak kalah."
"Aku
tidak paham apa hubungannya antara bilang aku imut dan harus berjuang."
"Kalau
kau tidak paham, berarti Sarah kalah."
"Haaa!?"
"Iya,
iya. Jangan marah begitu────"
Charlotte
dengan lincah melepaskan diri dari dekapan Sarah. Ia kembali menggoda Vain, membuat Sarah panik sekali
lagi.
◇◇◇
Eupeheim di
malam hari memancarkan keindahan yang berbeda dari siang hari.
Ren
dan Licia berjalan berdampingan sambil menikmati pemandangan malam.
Langkah
mereka santai tanpa tujuan yang jelas, seolah hanya ingin menikmati suasana.
Licia bercerita tentang kegiatannya selama mereka terpisah, dan Ren
mendengarkannya.
"Bagaimana
rasanya pergi sejauh itu?"
"Suasananya
berbeda dari biasanya, dan melihat teknik keluarga Eishaku langsung di depan
mata bisa jadi referensi. Sarah dan yang lainnya akan pergi lagi besok. Katanya
ada gua di bawah tanjung dan mereka mau pergi ke bagian yang lebih dalam."
"Eh?
Kalian tidak masuk ke gua itu hari ini?"
"Kami
masuk sebentar, tapi hanya sebentar saja. Karena banyak mampir di jalan, kami
memutuskan hanya sebentar demi mengejar waktu pulang."
Ren sedikit
teringat akan event seperti itu. Namun karena ingatannya sudah mulai
memudar, ia tidak bisa mengingat detailnya secara mendalam.
Secara
kronologis, kejadian itu seharusnya terjadi setelah Radius diculik dalam Legend
of Seven Heroes I.
Itu adalah
alur di mana Ulysses Ignart yang kuat ternyata adalah dalang di balik insiden
tersebut, dan saat itulah Vain dan yang lainnya mengunjungi Eupeheim.
Pergi ke gua
di tepi pantai adalah salah satu event sampingan. Dengan pergi ke sana,
pemain bisa mempermudah jalannya pertempuran di Pegunungan Baldur yang menjadi
puncak cerita. Ren
berhasil mengingat sekitar separuh dari informasi tersebut.
"Aku
dan Ren juga diajak…… tapi besok kita harus ke kediaman Marquis Ignart, kan?
Jadi aku menolaknya. Lalu, bagaimana dengan Ren? Siapa
yang kau temui di Department of Mysteries?"
"Di sini…… bagaimana ya
mengatakannya──── Ragna-san adalah orang yang luar biasa."
"Maksudmu orang yang dulu jadi
guru Pangeran Ketiga?"
"Iya. Karena dia gurunya Radius,
aku hanya bisa menggambarkannya sebagai orang hebat."
Mendengar itu, Licia menyahut.
"Kira-kira kapan aku bisa bertemu
dengannya juga ya?"
"Pasti bisa. Lagipula────"
Ada cara mudah untuk menjelaskan sosok
seperti apa Ragna itu.
"Apa
yang akan kau pikirkan kalau kukatakan Ragna-san itu adalah Pengelana Tas
Besar?"
Mata Licia
membelalak dan ia menghentikan langkahnya. Licia kemudian menutup mulutnya dan
tertawa kecil dengan anggun dan manis.
"Luar
biasa. Kebetulan macam apa itu?"
Senyumnya
begitu menawan hingga membuat lawan jenis di sekitarnya terpaku.
Setelah
berjalan beberapa saat lagi.
"Lalu,
begini."
Mungkin ini
bukan hal yang seharusnya dibicarakan sambil berjalan. Namun ada hal yang ingin
segera Ren sampaikan pada Licia.
"────Jadi,
aku merasa fenomena serupa juga terjadi pada tubuh Licia."
Ren
membagikan semua informasi yang ia dapat dari Ragna.
"Berarti
alasan kenapa aku bisa menggunakan sihir suci yang lebih kuat dari sebelumnya
saat melawan Sword Demon adalah karena itu ya."
"Sepertinya
begitu. Tapi karena tidak baik jika tiba-tiba menggunakan sihir suci
berlebihan, mari kita pantau situasinya perlahan. Aku juga harus berkonsultasi
dengan Chronoa-san."
"Ehm.
Aku mengerti."
Senyum tenang tersungging di wajah
Licia. Tiba-tiba
ia berhenti melangkah. Ren yang menyadari hal itu segera berhenti dan berbalik.
"Licia?
Ada apa?"
"……Anu,"
Licia menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ia ingin menyampaikan
perasaan jujurnya atas kebaikan Ren.
"Selama
ini aku selalu dibantu oleh Ren, lalu……"
Meski malu
untuk berterima kasih secara formal, ia merasa harus mengatakannya.
"Aku
selalu merasa berterima kasih padamu, tahu……?"
Bukannya
Licia tidak pernah berterima kasih jika tidak bersikap formal. Sejak dulu,
bahkan saat Ren masih tinggal di wilayah Clausel, ia adalah gadis yang selalu
mengucapkan terima kasih dengan baik.
Tadi ia hanya
ingin menyampaikannya secara lebih sungguh-sungguh. Dan Ren memahami segalanya.
Malam di
Eupeheim yang mereka habiskan berdua. Meskipun Licia berharap waktu ini terus
berlanjut selamanya, jam menunjukkan bahwa malam semakin larut dengan begitu
cepat.
Menyadari
bahwa perasaan cintanya turut memengaruhi keinginannya itu, Licia pun
menyunggingkan senyum yang sangat manis.



Post a Comment