Epilog
Hari itu, di
ruang tamu kediaman Marquis Ignat, cahaya hangat dari sihir suci Licia
membungkus tangan Ren saat pemuda itu duduk di sofa.
Gadis itu
terus memastikan keadaan Ren berkali-kali dengan wajah cemas, menanyakan
hal-hal seperti, "Apa lukanya sudah tidak apa-apa?" atau "Apa
ada bagian lain yang sakit?" sambil menggenggam tangannya.
Akhirnya, Ren
tersenyum ke arah Licia.
"Terima
kasih. Aku merasa kondisiku sudah hampir pulih sepenuhnya."
"Syukurlah
kalau begitu."
Alasan Licia
berada di sini—padahal seharusnya dia sudah berangkat menuju Clausel—adalah
karena dia menerima kontak darurat kemarin.
Informasi
mengenai serangan juga telah sampai ke Ibu Kota dan Erendil, menyebabkan banyak
kapal magis menghentikan operasionalnya secara mendadak.
Kapal yang
seharusnya ditumpangi Licia termasuk di antaranya, sehingga rencana
kepulangannya untuk bekerja terpaksa ditunda.
Sebenarnya
Lezard juga ingin datang ke sini untuk berbicara, namun dia bertanggung jawab
atas dua wilayah kekuasaan sekaligus.
Ada banyak
hal yang harus dia urus, sehingga dia tidak bisa hadir secara langsung.
Karena alasan
itulah, Licia bergegas kemari, sekaligus karena ada hal yang perlu dia
bicarakan dengan Ulysses.
"Tapi
benar-benar ya... kenapa hal seperti ini selalu saja terjadi justru saat aku
tidak ada di sisimu?"
"Anu,
itu... aku sendiri juga tidak terlalu mengerti kenapa bisa jadi begini."
"Yah...
kurasa memang begitu..."
Licia tidak
bermaksud mengeluh, itu hanyalah caranya menunjukkan rasa khawatir. Saat
berpisah dengan Ren di Erendil, dia sama sekali tidak menyangka liburan musim
dingin ini akan menjadi seperti ini.
Licia juga
sudah mendengar bahwa kemarin Ren berhasil mengalahkan Utusan Dewa Raksasa yang
kedua, Wadatsumi.
Kabar
mengenai dua pencapaian besar itu sudah tersebar di berbagai tempat, dan tidak
sedikit orang yang mulai menyadari keterlibatan Ren dalam pertempuran tersebut.
Belum
diketahui bagaimana fakta-fakta itu akan ditangani ke depannya. Ren sendiri,
karena masih merasa lelah setelah kejadian kemarin, belum mau memikirkan
hal-hal yang terlalu rumit.
Selain itu,
ada satu hal lagi yang mengganjal di pikiran Licia.
"Lalu,
kau sudah menjadi seorang Sword Saint, kan?"
"Sudah,
sih. Tapi karena terjadi begitu mendadak, rasanya masih kurang nyata."
"Ya
ampun... kau mengatakannya dengan enteng lagi. Tapi ya, itu memang gaya khasmu,
sih..."
Melihat Ren
yang bersikap seperti biasanya, ketegangan di tubuh Licia perlahan memudar.
Begitu
pula dengan Fiona yang duduk di samping Ren. Gadis itu mengangguk setuju dengan
perkataan Licia.
"Ahaha,
begitulah Ren-kun."
"Iya,
benar sekali."
Suara Licia
terdengar penuh kasih sayang saat dia menatap Ren.
"Selamat,
ya! Aku lega bisa melihat wajahmu, dan aku juga sangat senang mendengar kau
sudah menjadi seorang Sword Saint."
Bagi Licia,
melihat Ren selamat saja sudah lebih dari cukup. Setelah menyalurkan sihir
sucinya, Licia bangkit berdiri namun tetap meninggalkan kehangatan di tangan
Ren.
"Aku
akan pergi menyapa Marquis Ignat dulu, ya."
Saat Licia
berbalik dan melambaikan tangan pelan, Ren segera memanggilnya, "Tunggu
sebentar."
"Ada
apa?"
"Itu...
terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
"Sama-sama.
Seperti yang kukatakan tadi, melihatmu baik-baik saja sudah cukup bagiku. Tapi,
kau tetap harus istirahat dulu, lho."
White
Saintess itu melangkah pergi dengan wajah yang tampak senang dan bahagia.
"Nanti
ceritakan padaku ya, bagaimana rasanya menjadi seorang Sword Saint."
Senyumannya
berkilau indah di sana.
Keheningan
menyelimuti dua orang yang tertinggal di ruangan itu selama belasan detik.
Ren yang
sedari tadi memandang salju yang turun di luar jendela mengalihkan pandangannya
kembali ke dalam ruangan, menatap kalender meja di atas meja.
"Kemarin
kita baru saja membicarakan betapa 'terasa seperti liburan musim dingin'
ya."
"Benar.
Padahal begitu, tapi rasanya liburan ini akan berakhir dalam sekejap..."
"Beberapa
hari terakhir ini memang banyak hal yang terjadi. Rasanya aliran waktu berjalan
lebih cepat dari biasanya."
"Aku
juga merasakannya. Begitu urusan setelah ini selesai, mungkin liburan musim
dinginnya sudah benar-benar berakhir."
Ren teringat
percakapan mereka saat jalan-jalan pagi di taman. Meski sebenarnya belum lama
berlalu, rasanya seperti sudah berhari-hari yang lalu.
Namun, Fiona
melanjutkan perkataannya.
"Karena
kejadian itu, Ren-kun mungkin akan menjadi lebih sibuk lagi."
"Aku
juga?"
"Loh?
Apa kau belum tahu?"
"Maaf. Anu... soal apa ya?"
Meski terasa tidak ada kaitannya, namun
sebenarnya ini adalah pembicaraan yang berkesinambungan. Di depan Ren yang
tampak bingung, Fiona melanjutkan penjelasannya.
"Seorang pengguna Gouken
(Pedang Kuat) setahuku jika sudah menjadi Sword Saint maka——"
Beberapa hal yang diucapkan Fiona
membuat Ren terkejut karena dia belum pernah mendengar hal itu sebelumnya.
Jawaban yang Ren simpulkan setelah
berpikir sejenak adalah dia ingin memikirkannya baik-baik dalam waktu dekat.
Rasanya akan lebih baik jika dia
bertanya kepada Estelle, namun dia memutuskan untuk menunggu sampai urusan
Estelle yang sedang sibuk dengan penanganan pasca-insiden mereda.
Karena itu,
untuk saat ini dia lebih mempedulikan Fiona.
"Nona
Fiona juga kelihatannya sangat sibuk, ya."
"Begitukah?
Dibandingkan dengan apa yang Ren-kun lakukan, apa yang kulakukan ini tidak ada
apa-apanya."
"Tapi,
kau belum tidur setetes pun sejak kemarin, kan?"
"Tidak
apa-apa, aku masih kuat! Baru tidak tidur semalam saja bukan masalah
besar!"
Fiona mencoba
tersenyum, meski kelelahan mulai nampak di matanya. Hal itu wajar karena dia
terus dikejar pekerjaan terkait kekacauan kemarin.
Ren sempat
menawarkan bantuan, namun Fiona dan Ulysses menolak dengan sopan. Meski begitu,
Ren tetap berusaha melakukan apa yang dia bisa di sekitar mereka.
Setelah
berbincang mengenai banyak hal, Ren melirik jam di dinding dan menyadari bahwa
sudah tiga puluh menit berlalu sejak dia tinggal berdua dengan Fiona.
Fiona pun
menyadari hal itu dan bangkit dari duduknya.
"Aku
akan meminta seseorang menyiapkan camilan baru. Aku juga agak khawatir dengan
keadaan Nona Licia, jadi aku akan pergi melihatnya sebentar."
"Kalau
begitu, aku juga ikut——"
Ren tidak
bisa terus-menerus membiarkan gadis yang kelelahan itu melayaninya.
Tepat setelah
Ren memanggil punggung Fiona yang mulai melangkah, Fiona tiba-tiba berhenti dan
berbalik mendadak. Hal itu membuat jarak di antara mereka menyempit dalam
sekejap.
Karena merasa
seolah Ren tiba-tiba muncul tepat di depan matanya, Fiona yang terkejut mencoba
menjaga jarak dengan panik.
"Kyaa!?"
Fiona
kehilangan keseimbangan. Mungkin karena dia belum tidur sejak semalam, tubuhnya
tidak bisa merespons dengan baik.
Melihat itu,
Ren segera mengulurkan tangan. Meski tubuhnya ikut terbawa jatuh, tangannya
berhasil menangkap Fiona.
Mereka berdua
terjatuh ke atas sofa, dengan punggung Ren tertahan bantal di posisi bawah.
Fiona, yang
ditopang oleh Ren, berada dalam posisi menindih pemuda itu——
"Ma-maafkan
aku! Ren-ku——"
"Nona
Fiona! Apa kau ti——"
Satu detik
setelah suara mereka keluar bersamaan, tiba-tiba sesuatu menyentuh pipi Ren.
Itu terjadi
hanya sekejap, dan karena rambut hitam legam Fiona yang terurai menghalangi
pandangan, Ren tidak bisa melihat dengan jelas. Namun, dia merasakan sesuatu
yang lembut menyentuh pipinya.
"~~!?"
Fiona dengan
panik segera menegakkan tubuhnya dan duduk kembali di sofa lain yang ada di
sampingnya. Saking terkejutnya dengan kejadian barusan, dia hanya bisa menunduk
sambil meremas-remas paha sendiri.
Di sisi lain,
mata Ren hanya sempat menangkap leher Fiona yang memerah padam.
"A-Apa kau baik-baik saja?"
"~~
I-i-i-iya, aku baik-baik saja!"
"Syukurlah
kalau begitu... tapi kenapa kau panik sekali?"
"Bukan
apa-apa! Lihat! Aku bersikap biasa saja, kan! A-aku sama sekali tidak panik,
kok!"
Saat dia
akhirnya mengangkat wajah, Ren melihat ekspresi yang belum pernah dia lihat
sebelumnya.
Sang Black
Priestess itu tampak seolah hampir menangis dengan mata yang berkaca-kaca,
namun dia berusaha sekuat tenaga tetap tenang meski pipinya memerah padam.
Sosoknya saat itu benar-benar terlihat sangat manis dan cantik.
Akan tetapi,
Ren tetap tidak mengerti apa penyebab sebenarnya yang membuat Fiona menjadi
seperti itu.
"Tidak,
tidak, tidak! Kau sama sekali tidak seperti biasanya!"
"Tidak!
Aku benar-benar baik-baik saja!"
"B-Baik-baik saja apanya!?"
"...Pokoknya, aku baik-baik
saja!"
Fiona bangkit
berdiri dan merenungkan kembali kata-kata Ren. Meski dia belum bisa tenang
sepenuhnya, perkataan pemuda itu terus terngiang di kepalanya.
Suara
terkejut Ren yang bertanya "apa maksudmu" terus berulang-ulang di
benaknya. Ekspresi khawatir yang Ren tujukan padanya juga terus
terbayang-bayang.
"Tunggu
sebentar! Aku akan segera kembali...!"
"Anu!
Nona Fiona!?"
Meninggalkan
perkataan itu, Fiona pergi meninggalkan tempat tersebut seolah melarikan diri
dari suara Ren yang memanggil punggungnya.
Meski
dia merasa bersyukur Ren telah menangkapnya, dia merasa butuh waktu untuk
menenangkan diri.
Fiona
melangkah dengan cepat. Sambil terus memikirkan Ren yang sama sekali tidak
peka, dia merasakan debaran jantungnya yang berdegup kencang terasa begitu
menyenangkan.
Setelah
keluar dari ruangan, dia menutup pintu dengan pelan. Fiona memejamkan mata
sambil menyandarkan punggungnya pada pintu, membiarkan dirinya larut dalam
ketegangan ini.
"B-Baik-baik saja apanya!?"
Perkataan yang diucapkan Ren tadi
kembali terngiang. Hanya ada satu jawaban yang terlintas dalam hati Fiona.
"...Ren-kun,
dengar ya."
Satu-satunya
perasaan jujur yang tidak bisa dia dustai adalah buktinya. Ada alasan mengapa
dia bisa mengatakan bahwa dia baik-baik saja meskipun kejadian tadi terjadi.
Sambil
terbelenggu oleh rasa gugup dan malu, kulitnya masih terasa panas dan memerah
padam.
"——Habisnya,
memang... begitulah kenyataannya."
Sudah sejak
bertahun-tahun yang lalu.
Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah merasakannya.



Post a Comment