NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 5 Epilog

Epilog


Hari itu, di ruang tamu kediaman Marquis Ignat, cahaya hangat dari sihir suci Licia membungkus tangan Ren saat pemuda itu duduk di sofa.

Gadis itu terus memastikan keadaan Ren berkali-kali dengan wajah cemas, menanyakan hal-hal seperti, "Apa lukanya sudah tidak apa-apa?" atau "Apa ada bagian lain yang sakit?" sambil menggenggam tangannya.

Akhirnya, Ren tersenyum ke arah Licia.

"Terima kasih. Aku merasa kondisiku sudah hampir pulih sepenuhnya."

"Syukurlah kalau begitu."

Alasan Licia berada di sini—padahal seharusnya dia sudah berangkat menuju Clausel—adalah karena dia menerima kontak darurat kemarin.

Informasi mengenai serangan juga telah sampai ke Ibu Kota dan Erendil, menyebabkan banyak kapal magis menghentikan operasionalnya secara mendadak.

Kapal yang seharusnya ditumpangi Licia termasuk di antaranya, sehingga rencana kepulangannya untuk bekerja terpaksa ditunda.

Sebenarnya Lezard juga ingin datang ke sini untuk berbicara, namun dia bertanggung jawab atas dua wilayah kekuasaan sekaligus.

Ada banyak hal yang harus dia urus, sehingga dia tidak bisa hadir secara langsung.

Karena alasan itulah, Licia bergegas kemari, sekaligus karena ada hal yang perlu dia bicarakan dengan Ulysses.

"Tapi benar-benar ya... kenapa hal seperti ini selalu saja terjadi justru saat aku tidak ada di sisimu?"

"Anu, itu... aku sendiri juga tidak terlalu mengerti kenapa bisa jadi begini."

"Yah... kurasa memang begitu..."

Licia tidak bermaksud mengeluh, itu hanyalah caranya menunjukkan rasa khawatir. Saat berpisah dengan Ren di Erendil, dia sama sekali tidak menyangka liburan musim dingin ini akan menjadi seperti ini.

Licia juga sudah mendengar bahwa kemarin Ren berhasil mengalahkan Utusan Dewa Raksasa yang kedua, Wadatsumi.

Kabar mengenai dua pencapaian besar itu sudah tersebar di berbagai tempat, dan tidak sedikit orang yang mulai menyadari keterlibatan Ren dalam pertempuran tersebut.

Belum diketahui bagaimana fakta-fakta itu akan ditangani ke depannya. Ren sendiri, karena masih merasa lelah setelah kejadian kemarin, belum mau memikirkan hal-hal yang terlalu rumit.

Selain itu, ada satu hal lagi yang mengganjal di pikiran Licia.

"Lalu, kau sudah menjadi seorang Sword Saint, kan?"

"Sudah, sih. Tapi karena terjadi begitu mendadak, rasanya masih kurang nyata."

"Ya ampun... kau mengatakannya dengan enteng lagi. Tapi ya, itu memang gaya khasmu, sih..."

Melihat Ren yang bersikap seperti biasanya, ketegangan di tubuh Licia perlahan memudar.

Begitu pula dengan Fiona yang duduk di samping Ren. Gadis itu mengangguk setuju dengan perkataan Licia.

"Ahaha, begitulah Ren-kun."

"Iya, benar sekali."

Suara Licia terdengar penuh kasih sayang saat dia menatap Ren.

"Selamat, ya! Aku lega bisa melihat wajahmu, dan aku juga sangat senang mendengar kau sudah menjadi seorang Sword Saint."

Bagi Licia, melihat Ren selamat saja sudah lebih dari cukup. Setelah menyalurkan sihir sucinya, Licia bangkit berdiri namun tetap meninggalkan kehangatan di tangan Ren.

"Aku akan pergi menyapa Marquis Ignat dulu, ya."

Saat Licia berbalik dan melambaikan tangan pelan, Ren segera memanggilnya, "Tunggu sebentar."

"Ada apa?"

"Itu... terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

"Sama-sama. Seperti yang kukatakan tadi, melihatmu baik-baik saja sudah cukup bagiku. Tapi, kau tetap harus istirahat dulu, lho."

White Saintess itu melangkah pergi dengan wajah yang tampak senang dan bahagia.

"Nanti ceritakan padaku ya, bagaimana rasanya menjadi seorang Sword Saint."

Senyumannya berkilau indah di sana.

Keheningan menyelimuti dua orang yang tertinggal di ruangan itu selama belasan detik.

Ren yang sedari tadi memandang salju yang turun di luar jendela mengalihkan pandangannya kembali ke dalam ruangan, menatap kalender meja di atas meja.

"Kemarin kita baru saja membicarakan betapa 'terasa seperti liburan musim dingin' ya."

"Benar. Padahal begitu, tapi rasanya liburan ini akan berakhir dalam sekejap..."

"Beberapa hari terakhir ini memang banyak hal yang terjadi. Rasanya aliran waktu berjalan lebih cepat dari biasanya."

"Aku juga merasakannya. Begitu urusan setelah ini selesai, mungkin liburan musim dinginnya sudah benar-benar berakhir."

Ren teringat percakapan mereka saat jalan-jalan pagi di taman. Meski sebenarnya belum lama berlalu, rasanya seperti sudah berhari-hari yang lalu.

Namun, Fiona melanjutkan perkataannya.

"Karena kejadian itu, Ren-kun mungkin akan menjadi lebih sibuk lagi."

"Aku juga?"

"Loh? Apa kau belum tahu?"

"Maaf. Anu... soal apa ya?"

Meski terasa tidak ada kaitannya, namun sebenarnya ini adalah pembicaraan yang berkesinambungan. Di depan Ren yang tampak bingung, Fiona melanjutkan penjelasannya.

"Seorang pengguna Gouken (Pedang Kuat) setahuku jika sudah menjadi Sword Saint maka——"

Beberapa hal yang diucapkan Fiona membuat Ren terkejut karena dia belum pernah mendengar hal itu sebelumnya.

Jawaban yang Ren simpulkan setelah berpikir sejenak adalah dia ingin memikirkannya baik-baik dalam waktu dekat.

Rasanya akan lebih baik jika dia bertanya kepada Estelle, namun dia memutuskan untuk menunggu sampai urusan Estelle yang sedang sibuk dengan penanganan pasca-insiden mereda.

Karena itu, untuk saat ini dia lebih mempedulikan Fiona.

"Nona Fiona juga kelihatannya sangat sibuk, ya."

"Begitukah? Dibandingkan dengan apa yang Ren-kun lakukan, apa yang kulakukan ini tidak ada apa-apanya."

"Tapi, kau belum tidur setetes pun sejak kemarin, kan?"

"Tidak apa-apa, aku masih kuat! Baru tidak tidur semalam saja bukan masalah besar!"

Fiona mencoba tersenyum, meski kelelahan mulai nampak di matanya. Hal itu wajar karena dia terus dikejar pekerjaan terkait kekacauan kemarin.

Ren sempat menawarkan bantuan, namun Fiona dan Ulysses menolak dengan sopan. Meski begitu, Ren tetap berusaha melakukan apa yang dia bisa di sekitar mereka.

Setelah berbincang mengenai banyak hal, Ren melirik jam di dinding dan menyadari bahwa sudah tiga puluh menit berlalu sejak dia tinggal berdua dengan Fiona.

Fiona pun menyadari hal itu dan bangkit dari duduknya.

"Aku akan meminta seseorang menyiapkan camilan baru. Aku juga agak khawatir dengan keadaan Nona Licia, jadi aku akan pergi melihatnya sebentar."

"Kalau begitu, aku juga ikut——"

Ren tidak bisa terus-menerus membiarkan gadis yang kelelahan itu melayaninya.

Tepat setelah Ren memanggil punggung Fiona yang mulai melangkah, Fiona tiba-tiba berhenti dan berbalik mendadak. Hal itu membuat jarak di antara mereka menyempit dalam sekejap.

Karena merasa seolah Ren tiba-tiba muncul tepat di depan matanya, Fiona yang terkejut mencoba menjaga jarak dengan panik.

"Kyaa!?"

Fiona kehilangan keseimbangan. Mungkin karena dia belum tidur sejak semalam, tubuhnya tidak bisa merespons dengan baik.

Melihat itu, Ren segera mengulurkan tangan. Meski tubuhnya ikut terbawa jatuh, tangannya berhasil menangkap Fiona.

Mereka berdua terjatuh ke atas sofa, dengan punggung Ren tertahan bantal di posisi bawah.

Fiona, yang ditopang oleh Ren, berada dalam posisi menindih pemuda itu——

"Ma-maafkan aku! Ren-ku——"

"Nona Fiona! Apa kau ti——"

Satu detik setelah suara mereka keluar bersamaan, tiba-tiba sesuatu menyentuh pipi Ren.

Itu terjadi hanya sekejap, dan karena rambut hitam legam Fiona yang terurai menghalangi pandangan, Ren tidak bisa melihat dengan jelas. Namun, dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh pipinya.

"~~!?"

Fiona dengan panik segera menegakkan tubuhnya dan duduk kembali di sofa lain yang ada di sampingnya. Saking terkejutnya dengan kejadian barusan, dia hanya bisa menunduk sambil meremas-remas paha sendiri.

Di sisi lain, mata Ren hanya sempat menangkap leher Fiona yang memerah padam.

"A-Apa kau baik-baik saja?"

"~~ I-i-i-iya, aku baik-baik saja!"

"Syukurlah kalau begitu... tapi kenapa kau panik sekali?"

"Bukan apa-apa! Lihat! Aku bersikap biasa saja, kan! A-aku sama sekali tidak panik, kok!"

Saat dia akhirnya mengangkat wajah, Ren melihat ekspresi yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Sang Black Priestess itu tampak seolah hampir menangis dengan mata yang berkaca-kaca, namun dia berusaha sekuat tenaga tetap tenang meski pipinya memerah padam. Sosoknya saat itu benar-benar terlihat sangat manis dan cantik.

Akan tetapi, Ren tetap tidak mengerti apa penyebab sebenarnya yang membuat Fiona menjadi seperti itu.

"Tidak, tidak, tidak! Kau sama sekali tidak seperti biasanya!"

"Tidak! Aku benar-benar baik-baik saja!"

"B-Baik-baik saja apanya!?"

"...Pokoknya, aku baik-baik saja!"

Fiona bangkit berdiri dan merenungkan kembali kata-kata Ren. Meski dia belum bisa tenang sepenuhnya, perkataan pemuda itu terus terngiang di kepalanya.

Suara terkejut Ren yang bertanya "apa maksudmu" terus berulang-ulang di benaknya. Ekspresi khawatir yang Ren tujukan padanya juga terus terbayang-bayang.

"Tunggu sebentar! Aku akan segera kembali...!"

"Anu! Nona Fiona!?"

Meninggalkan perkataan itu, Fiona pergi meninggalkan tempat tersebut seolah melarikan diri dari suara Ren yang memanggil punggungnya.

Meski dia merasa bersyukur Ren telah menangkapnya, dia merasa butuh waktu untuk menenangkan diri.

Fiona melangkah dengan cepat. Sambil terus memikirkan Ren yang sama sekali tidak peka, dia merasakan debaran jantungnya yang berdegup kencang terasa begitu menyenangkan.

Setelah keluar dari ruangan, dia menutup pintu dengan pelan. Fiona memejamkan mata sambil menyandarkan punggungnya pada pintu, membiarkan dirinya larut dalam ketegangan ini.

"B-Baik-baik saja apanya!?"

Perkataan yang diucapkan Ren tadi kembali terngiang. Hanya ada satu jawaban yang terlintas dalam hati Fiona.

"...Ren-kun, dengar ya."

Satu-satunya perasaan jujur yang tidak bisa dia dustai adalah buktinya. Ada alasan mengapa dia bisa mengatakan bahwa dia baik-baik saja meskipun kejadian tadi terjadi.

Sambil terbelenggu oleh rasa gugup dan malu, kulitnya masih terasa panas dan memerah padam.

"——Habisnya, memang... begitulah kenyataannya."

Sudah sejak bertahun-tahun yang lalu.

Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah merasakannya.






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close