Epilog
Terlihat kapal sihir Lemuria yang sedari tadi
menunggu pertempuran berakhir, mulai mendekat dari angkasa.
Ren yang duduk di atas puing-puing menangkap pemandangan itu
di sudut matanya. Kemudian, ia mengalihkan pandangan ke arah para ksatria dari Sacred
Order of the Lion yang telah tiba di alun-alun.
Lemuria mendaratkan lambung kapalnya di salah
satu sudut alun-alun, tak lama kemudian Uhrich melangkah keluar.
"Tidak
kusangka bakal jadi sekacau ini."
Setelah
melirik sekilas ke arah Vain dan yang lainnya yang sedang berbincang dengan
para ksatria, kurcaci itu berjalan menghampiri Ren.
Malam
sudah sangat larut. Biasanya, ini adalah waktu di mana Ren sedang bersiap-siap
untuk tidur di kediamannya.
"Yo,
Ren! Kamu berhasil!"
"……Begitulah."
"Ada apa
denganmu? Bukannya kamu menang? Tapi kenapa ekspresimu lesu begitu?"
"Yah…… ada banyak hal yang terjadi."
Ren masih
membiarkan salah satu lengannya terkulai lemas tanpa tenaga.
"……Tumben
sekali luka itu terlihat berat."
"Karena
lawanku kuat. Sejak awal aku memang tidak menyangka bisa keluar tanpa luka
sedikit pun."
"Itu sudah
lebih dari cukup. Selama kamu masih hidup, itu sudah segalanya."
"……Sejujurnya,
aku pun berpikir begitu."
"Tapi,
bagaimana kalau kamu setidaknya melakukan pertolongan pertama? Bukankah lebih
baik minta bantuan bocah dari keluarga Duke itu…… Meldeg, ya? Suruh dia
melakukan sesuatu dengan kekuatannya."
"Kalau itu
sudah kulakukan. Tapi…… yah, tetap saja masih begini."
Scholl juga sudah
sangat kelelahan dan dia masih dalam masa pertumbuhan.
Vain pun ada di
sana, tapi ia baru sebentar menggunakan kekuatan Pahlawan, apalagi hakikat
kekuatannya lebih condong ke tipe pertempuran.
Melihat sikap Ren
yang tidak jelas, Uhrich tampak paham dan bergumam, "Begitu rupanya."
"Aku juga
sudah menenggak potion yang dulu kudapat dari Radius, sih."
"Jadi sihir
dan potion pun tidak terlalu mempan, ya?"
"Iya.
Begitulah kondisinya."
Dari cara Ren
mengangguk sembari bungkam, Uhrich bisa membayangkan seberapa besar terkurasnya
tenaga pemuda itu.
"Jangan
memaksakan diri—inginnya aku bilang begitu, tapi setelah ini kita tinggal
pulang. ────Ngomong-ngomong, sepertinya ini operasi yang sangat besar, ya. Aku
kaget mereka sampai mengerahkan ksatria dari Sacred Order of the Lion
segala."
Saat Vain dan
yang lainnya tiba, Olfide juga sempat menyinggung hal ini.
Di Windea ini,
para ksatria tangguh memang telah disiagakan untuk berjaga-jaga terhadap
situasi terburuk. Menghadapi Olfide mungkin terlalu berat bagi mereka, namun
menghadapi para pengikut Kultus Dewa Iblis adalah hal mudah.
Semua itu
dilakukan agar jika terjadi sesuatu, mereka bisa segera bergegas sebagai bala
bantuan bagi kelompok Vain.
Urusan Olfide
yang telah tumbang kini menjadi wewenang para ksatria.
Karena sisanya
sudah bisa diserahkan kepada mereka, tugas Ren pun berakhir. Meski sampai detik
terakhir ia tidak bisa menanyakan soal gadis itu, ada beberapa hal yang ia
pahami dari reaksi Olfide.
Mungkin begini
saja sudah tidak buruk. Makna dari keikutsertaan Ren dalam pertempuran ini
pastilah ada banyak.
"Mau
pulang?"
"────"
"Ooo-i,
Ren—?"
Karena
Ren yang sedang melamun terlambat merespons, Uhrich melambaikan tangan di depan
wajahnya.
"Ah,
maaf."
"Jangan
dipikirkan. Kamu kelihatannya memang sangat lelah."
Jika itu Uhrich
yang biasanya, ia pasti sudah menyikut pinggang Ren.
Namun karena
situasi sedang tidak memungkinkan, ia tidak melakukannya karena merasa kasihan.
Melihat Ren merespons
dengan selamat, Uhrich pun menyeringai lebar.
"Bisa
jalan sendiri?"
"Tidak
apa-apa. Tapi kalau aku lengah sedikit, aku mungkin bisa langsung
tertidur."
"Kalau
begitu, tidur saja di dalam Lemuria."
"……Iya.
Aku akan begitu."
Seorang ksatria Sacred Order of the Lion menyadari
Ren yang mulai berdiri.
"Tuan Ren!"
Malam ini, mereka yang dikerahkan ke tempat ini telah
menerima perintah untuk memburu para pengikut Kultus Dewa Iblis secara
menyeluruh agar Windea tidak tercemar. Di depan kuil, para keturunan Seven
Heroes bertarung, dan di tempat lain, para ksatria juga mengayunkan pedang
demi Leonel.
"Sesuai
perintah Yang Mulia, kami juga telah berhasil menyelesaikan misi dengan
selamat."
"Syukurlah.
Sepertinya kita semua bisa pulang dengan selamat, ya."
"Benar.
Namun Tuan Ren……"
Ksatria itu
kehilangan kata-kata. Ia merasa pedih melihat pemuda yang biasanya menjalani
latihan luar biasa di markas Sacred Order ini tampak begitu terkuras
tenaganya.
"……Biarkan
sisanya menjadi urusan kami."
"Maaf. Aku
titip sisanya padamu."
Melihat sosok Ren
yang tampak penuh luka namun tetap berjalan dengan ketangguhan khasnya, ksatria
itu merasa sangat tersentuh.
Setelah
mengucapkan salam perpisahan kepada Vain dan yang lainnya, Ren segera masuk ke
dalam Lemuria.
Dalam keadaan
normal, Lemuria seharusnya menghindari terbang setinggi ini. Namun
karena hari ini Olfide memengaruhi energi sihir di sekitarnya, ditambah
performa dasar Lemuria yang tinggi, kapal itu mampu mencapai ketinggian
ini jika diinginkan.
Alasan mereka
tidak sampai ke sini pada awal musim semi lalu hanyalah karena saat itu Lemuria
baru saja selesai diperbaiki.
Begitu masuk ke
dalam Lemuria, Ren tidak menuju kamar pribadinya melainkan melangkah ke
ruang kemudi.
Sambil melindungi
lengannya yang sudah diberi pertolongan pertama, ia mengganti bajunya saja,
lalu menghempaskan diri ke sofa besar.
Uhrich tertawa
kecil melihatnya dan berkata, "Oi, oi, istirahatlah di kamar."
"Aku akan
istirahat di sini, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu."
"Hentikan
itu. Justru karena kamu bilang begitu, hal buruk malah bisa terjadi."
"Aku tidak
bermaksud begitu, kok. Lagipula…… mungkin ini cuma masalah perasaan
saja."
Entah kenapa,
saat ini ia ingin beristirahat di sini.
Melihat bahwa Ren
tidak hanya sekadar sungkan, Uhrich mengangkat bahu lalu duduk di kursi kemudi.
"Terserah
kamu saja. Panggil aku kalau terjadi sesuatu."
Tak lama
kemudian, tungku pembakaran Lemuria mulai beroperasi.
Lemuria terbang menuju angkasa, perlahan-lahan
meninggalkan Windea.
"……Benar-benar,
semuanya di luar dugaan."
Kesadaran Ren
hanya bertahan sampai gumaman itu.
Uhrich yang
sedang mengemudi menoleh ke arah sofa dan melihat Ren telah tertidur.
Kepalanya
bersandar pada bantalan lengan sofa, kakinya meregang saat tertidur. Sebuah
selimut besar menutupi tubuhnya.
Uhrich memegang
kemudi dengan erat, bertekad untuk mengemudikan kapal ini dengan lebih
hati-hati daripada biasanya.
Beberapa jam kemudian, Ren terbangun di tengah malam dan
masih berada di dalam ruang kemudi.
Ren yang tadinya berbaring di sofa merasa seluruh tubuhnya
terasa jauh lebih lesu dibandingkan sebelum tidur, mungkin karena efek
pertempuran yang mulai terasa.
Tepat saat ia hendak bangun—
"Jangan. Tetaplah berbaring."
"Jangan memaksakan diri dulu."
Suara mereka terdengar dari depan sofa.
"……Eh? Kenapa
kalian berdua ada di sini?"
Di sana ada
Licia, dan juga Fiona.
Mereka masih
mengenakan seragam sekolah, dan entah kenapa seragam mereka terlihat sedikit
kotor, meski tidak separah Ren.
Lalu,
lengan Ren yang terluka sedang dipegang oleh mereka berdua. Ia tidak begitu
paham situasinya, tapi energi sihir hitam dan putih terpancar dari tangan
mereka.
"Maksudku,
kenapa situasinya jadi begini?"
"Kenapa,
katamu? Itu karena kami melihat Lemuria sudah kembali, tahu?"
Fiona menjawab
dengan nada seolah itu hal yang wajar. Ren menoleh padanya dan menyadari
seragam Fiona serta Licia kotor di beberapa bagian.
"Ngomong-ngomong,
soal seragam kalian yang kotor itu……"
"Di sini
juga sempat ada pertempuran. Benar-benar cuma sebentar, kok."
"Eh?"
Ren berseru kaget.
"Apa
ada pengikut Kultus Dewa Iblis lagi setelah itu?"
"Jangan
khawatir. Mereka cuma kacung seperti yang ada di luar kereta itu. Karena mereka muncul di jalan raya luar Erendil,
aku dan Fiona-sama pergi memeriksa keadaannya."
"Ke-kenapa
kalian melakukan hal berbahaya seperti itu────!"
"Duh…… apa pantas Ren-kun mengatakan itu?"
"Tentu saja,
karena aku kan anak ksatria……!"
"Haa…… dia mulai lagi bicara seperti biasa. Kami juga
kan bangsawan, jadi wajar saja kalau bertarung."
Ren merasa penasaran bagaimana mereka bisa diizinkan
bertarung, tapi kalau dipikir-pikir, Chronoa sedang berada di Erendil dari
Ibukota.
Sepertinya karena ada Chronoa di samping mereka, kedua gadis
itu tidak bisa hanya diam saja dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke jalan
raya bersama-sama.
Justru, berada di dekat Chronoa mungkin lebih aman daripada
berada di dalam kota.
Ren akhirnya mengerti mengapa seragam mereka sedikit kotor.
Tiba-tiba, Ren melirik ke arah lengannya.
Lengannya yang sedari tadi disentuh oleh tangan mereka
berdua tampak berbeda dibandingkan sebelum meninggalkan Windea. Fiona pun tersenyum seolah merasa lega akan hal
itu.
"Syukurlah.
Sepertinya ada efeknya."
Kulit lengan Ren
yang tadinya menghitam akibat pengaruh kekuatan Olfide, perlahan-lahan mulai
kembali ke warna kulit aslinya.
"Lenganku…… kenapa kutukannya bisa mereda?"
"Kami mendengar ceritanya dari Uhrich-san. Lalu, kami
berpikir mungkin kekuatan Black Priestess bisa menghapus kekuatan Kultus
Dewa Iblis."
"Begitu ya…… jadi karena itu kutukannya sedikit demi
sedikit……"
Namun, kerusakan yang telah mencapai serat otot tidak
menghilang, dan sebagian besar rasa sakitnya masih tersisa.
Karena itu, kali
ini Licia berkata, "Serahkan padaku," lalu menggunakan Holy Magic.
Tak lama kemudian, luka yang telah mencapai bagian dalam lengan Ren pun
mendapatkan penyembuhan.
"Bagaimana?
Apa sudah baikan sedikit?"
"Tidak,
itu……"
Ren sendiri tidak
tahu sejak kapan, namun ia tidak lagi merasa malu untuk menunjukkan
kelemahannya di hadapan mereka. Perubahan itu pastilah terjadi secara tidak
sadar.
Sambil masih
berbaring, Ren menatap dua gadis jelita yang berlutut di lantai di depan sofa
itu.
"────Masih
sakit sekali."
Di samping Ren
yang berbicara dengan suara yang lebih lemah dari biasanya, Licia dan Fiona
segera menunjukkan senyuman lembut dan penuh perhatian kepadanya.
◇◇◇
Dua Hari Kemudian
Setelah melewati
malam yang baru, hari berikutnya.
Ibukota pulih ke
kehidupan sehari-hari lebih cepat dari perkiraan banyak orang, dan akademi juga
mulai mengadakan pelajaran normal seperti biasa mulai hari ini.
Musim hujan masih
agak lama, namun mungkin karena akhir-akhir ini cuaca sering panas, banyak
siswa yang mulai mengenakan seragam musim panas mereka.
Sama seperti Ren
yang menggulung lengan kemejanya beberapa kali, Radius pun melakukan hal yang
sama.
Pagi-pagi sekali
sebelum jam pelajaran dimulai, mereka berdua berada di atap. Karena
masing-masing sibuk dengan urusan pasca-kejadian, hari ini adalah pertama
kalinya mereka bertemu setelah insiden Windea.
"Terima
kasih untuk urusan Olfide."
"Tidak
apa-apa. Lagipula itu juga demi diriku sendiri."
"Demi Ren
sendiri?"
"……Bagaimana
ya bilangnya, maksudku bertarung untuk melindungi tempatku beralindung."
"Ah, begitu
rupanya."
Saat Ren
mengaburkan soal mimpinya dengan kata-kata yang masuk akal, Radius mengangguk
tanpa rasa curiga.
Ren berencana
untuk segera membagikan informasi seperti nama gadis yang ia lihat di mimpi
kepada Radius atau Ulysses. Sekarang ia bisa beralasan bahwa ia mendengarnya
dari Olfide. Selama itu bukan soal legenda Seven Heroes, seharusnya
tidak masalah untuk dibicarakan.
"Operasi
selesai dengan sukses. Pendeta Olfide adalah orang yang jauh lebih kuat dari
perkiraan kami, tapi seperti yang kukatakan tadi, berkat bantuan Ren, segalanya
berakhir dengan baik."
"Jadi,
situasinya sudah benar-benar tenang?"
"Begitulah.
Sekarang aku sedang pusing memikirkan di mana Kultus Dewa Iblis akan
muncul selanjutnya."
"Hm, oke.
Untuk sementara ini saja dulu ya."
Kisah di bab pertama Legend of the Seven Heroes II
telah mencapai titik jeda. Seperti yang sudah diduga, ini adalah kisah di mana
terdapat banyak hal yang tidak Ren ketahui.
Ia juga membicarakan beberapa hal lain dengan Radius.
Meski hanya tidak bertemu beberapa hari, rasanya seperti
sudah berbulan-bulan tidak mengobrol. Itu berarti hari-hari yang mereka lalui
memang sangat padat.
Selain itu, setelah pertempuran melawan Olfide, teknik
pemanggilan Magic Swordnya telah meningkat satu tingkat.
Level 7: Dapat memanggil [Tiga] Magic Sword secara
bersamaan.
Kapan ya ada kesempatan untuk memanggil tiga Magic Sword
sekaligus?
Kalau memang bisa, mungkin lebih baik memanggilnya terlebih
dahulu lalu membawanya di pinggang. Jika begitu, sepertinya ia bisa
berkonsultasi dengan Uhrich soal sarung pedang khusus.
"Tapi, akhirnya Ren menunjukkan kekuatannya juga
ya."
"Menunjukkan
apa, bukan begitu kok. Kebetulan saja waktunya pas."
"Begitukah?"
Radius bertanya balik dengan nada ringan.
"Bukan
hal yang perlu dibesar-besarkan, kok."
"Orang-orang
dari Sacred Order of the Lion tertawa sambil bilang padaku kalau kamu
sudah menunjukkan kekuatan dari pemuda yang bersekolah di tempat kami."
"……Siapa
sih yang bilang begitu?"
"Komandan
Estelle."
"……Orang
itu bicara aneh-aneh lagi."
Ren
tertawa sambil membayangkan apa yang dikatakan wanita itu di tempat yang tidak
ia ketahui.
"Bagaimanapun
juga, beristirahatlah sejenak."
"Rencananya
begitu. Kalau sudah tenang, paling-paling aku cuma akan pergi ke markas Sacred
Order untuk mengayunkan pedang."
"Aku
tidak tahu apakah itu bisa disebut beristirahat…… tapi jika Ren merasa oke, aku
tidak keberatan. Tapi ingatlah, mungkin Raguna akan mendadak memanggilmu."
Sambil berkata
demikian, Radius mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.
Mendengar surat
yang datang dari peneliti itu di waktu seperti ini, isinya sudah bisa ditebak.
Saat Ren
mengeluarkan surat itu di depan Radius, di sana tertulis kalimat pendek.
『Kuncinya
sudah diperbaiki. Aku akan menghubungimu lagi dalam waktu dekat.』
Mengirim surat
hanya untuk memberikan satu kalimat kabar saja benar-benar gaya Raguna. Ren
memasukkan surat itu ke kantong seragamnya.
"Pasti
isinya sangat singkat, kan?"
"Benar, tapi
bagaimana kamu tahu?"
"Aku sudah
lama kenal Raguna. Beberapa tahun lalu…… aku lupa isinya apa, tapi saat aku
mengirim surat karena ingin minta tolong pekerjaan, dia membalas hanya dengan
dua huruf: 'Ogah'. Pernah juga dia sengaja membalas dengan kertas kosong."
"……Yah,
memang mirip gaya Raguna-san."
Sambil
mengobrol, Ren mengenang kembali awal mula kejadian di musim semi ini.
Pertama, ia pergi ke Garden of Swords dan bertemu
dengan Sword Queen Lutreche.
Atas sarannya untuk memeriksa lambang pada emblem, ia pun
pergi menuju Windea bersama Raguna.
Tujuannya adalah mencari tempat persembunyian penyair
legendaris, Mudie.
Kunci yang ditemukan di Institusi Geno di kota tua Eupheim
adalah kunci yang menunjukkan tempat persembunyian Mudie. Dengan
memperbaikinya, mereka berpikir mungkin bisa mendapatkan informasi tentang
Cecil Ashton atau kepala Institusi Geno.
……Padahal seharusnya hanya sebatas itu, tapi rasanya musim
semi ini pun ia lalui dengan hari-hari yang sangat padat.
"Aku
harus segera pergi. Aku harus bicara dengan Mirei."
"Kalau
begitu, aku juga."
Begitu
keluar dari atap, Ren berpisah dengan Radius dan menuju ke salah satu sudut
koridor.
Di sana, Licia
dan Fiona sudah menunggu. Ren pun menyapa, "Maaf membuat kalian
menunggu."
"Padahal
baru saja terjadi kejadian seperti itu, tapi rasanya aneh ya kalau kelas tetap
berjalan seperti biasa."
"Begitukah?
Bukannya memang biasanya seperti ini?"
"Kejadiannya
kan sudah berakhir. Lagipula, jika akademi diliburkan, mungkin akan lebih
banyak orang yang marah. Waktu di sini sangat terbatas, lho."
Sebagai sekolah
ternama yang namanya menggema hingga ke luar negeri, mungkin perkataan Fiona
benar adanya.
"Benar
juga ya," Ren mengangguk setuju.
Masih ada waktu
sebelum pelajaran pertama dimulai.
Saat mereka
bertiga berjalan di koridor berniat menghabiskan waktu sambil minum teh di
kantin, beberapa kali ada yang menyapa mereka.
"Krauzel-san!
Kemarin itu hebat sekali, ya!"
"Iya, terima
kasih."
Kata seorang
murid yang baru saja sampai di sekolah.
"Ignat-kun,
aku dengar lho. Katanya kamu mengusir para pengikut Kultus Dewa Iblis
dengan sihir yang luar biasa."
"Terima
kasih, Profesor."
Ucap
seorang profesor yang berpapasan dengan mereka.
Banyak
orang di akademi yang tahu soal pertempuran mereka saat turun dari kereta sihir
tempo hari, maupun pertempuran di luar Erendil.
Di sisi lain,
tidak ada yang menyapa Ren. Karena Ren tidak bertarung saat itu, bahkan sedikit
sekali orang yang tahu kalau Ren ikut bersama mereka.
Masalah
Olfide memang belum dipublikasikan. Karena skala masalah dan identitas
lawannya, informasi tersebut dikelola dengan sangat hati-hati.
Pasti
dalam waktu dekat, orang-orang yang mengetahui tentang Ren juga akan muncul di
akademi.
Kedua
gadis yang berjalan di samping Ren itu terus mencemaskan lukanya sejak malam
itu.
"Tanganmu
sudah tidak apa-apa?"
"Sampai
kemarin kamu kelihatannya masih kesakitan, apa benar sudah baikan?"
Fiona yang
tinggal di asrama putri merasa khawatir dan sudah datang ke Erendil sejak pagi
kemarin.
Berkat
itu, lengan Ren akhirnya bisa digerakkan dengan normal pagi ini. Dengan bantuan
Licia dan Fiona, ia akhirnya bisa pulih dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"Berkat
kalian berdua, sudah jauh lebih baik."
Mendengar
jawabannya, kedua gadis itu pun menunjukkan ekspresi lega.
Saat
sedang menuruni tangga, mereka bertiga berhenti sejenak karena merasakan
hembusan angin yang sejuk dari jendela di bordes tangga.
Di sana,
Licia menyinggung sebuah informasi yang masih meninggalkan tanda tanya.
"……Ngomong-ngomong, apa yang sebenarnya terjadi di
Great Forest, ya?"
Estelle yang pergi ke Great Forest seharusnya menyelidiki
sarang Behemoth bertanduk Kaisar Hitam. Itu adalah monster kuat yang
mengharuskan pengerahan kekuatan tempur selevel dirinya.
Karena energi sihir Kultus Dewa Iblis terdeteksi di
sana, dilakukanlah penyelidikan untuk berjaga-jaga.
"Estelle-sama sudah bilang, kan? Behemoth bertanduk
Kaisar Hitam itu bersembunyi di bagian dalam sarangnya dan tidak mau
keluar."
"Beliau
bilang monster itu tampak seperti sedang ketakutan akan sesuatu."
Ren juga
memikirkan hal itu, namun sekarang ia tidak punya cara untuk memastikannya.
Apa yang
sebenarnya terjadi di pedalaman Great Forest? Apa yang ditakuti oleh Behemoth
tersebut? Penyelidikan di sekitar lokasi masih terus berlanjut, namun belum
banyak informasi yang didapat.
『Penyelidikan
akan terus dilanjutkan untuk berjaga-jaga, tapi dalam situasi seperti ini,
sepertinya kita tidak bisa mengharapkan informasi yang kuat.』
Estelle sempat
kembali ke Ibukota untuk melapor kepada Radius serta berbicara kepada Ren dan
yang lainnya, lalu segera kembali lagi ke Great Forest.
Saat mendengar
cerita dari Estelle, Ren terpikir akan sebuah eksistensi.
Yaitu gadis
misterius yang muncul dalam mimpinya dan petunjuk yang didapat dari reaksi
Olfide. Jika Behemoth bertanduk Kaisar Hitam itu ketakutan akan sesuatu……
(Jangan-jangan,
dia ada hubungannya……)
Sosok gadis
misterius yang tampaknya tahu banyak hal itu terlintas di kepala Ren dan tidak
mau pergi.
Sambil terus
memikirkan gadis itu, Ren menuruni tangga dan berjalan di koridor. Dari arah
depan, muncul Vain dan para keturunan Seven Heroes lainnya.
Begitu mereka
berhadapan, Vain meninggalkan keenam temannya dan berlari kecil menghampiri
Ren. Melihat itu,
kedua gadis di samping Ren dengan peka segera mengambil jarak.
"Ren! Apa
lenganmu sudah tidak apa-apa?"
"Belum pulih
total, tapi berkat mereka berdua, sudah jauh lebih baik."
Di belakang Ren
yang tersenyum malu-malu, Licia dan Fiona ikut tersenyum.
"Ah…… syukurlah kalau begitu."
"Vain dan
yang lainnya juga pasti kesulitan, bagaimana dengan luka kalian?"
"Kami
lumayan oke. Berkat bantuan Ren, kurasa kami sudah hampir pulih
sepenuhnya."
Mungkin karena
pertempuran malam itu benar-benar sebuah pertarungan hidup dan mati. Mereka
juga menggunakan potion dan sihir penyembuh untuk mempercepat pemulihan, namun
rasa lelahnya belum benar-benar hilang.
Tiga orang yang
bertugas di barisan depan yaitu Vain, Sarah, dan Kaito masih merasakan nyeri
otot sampai sekarang.
Topik pembicaraan
pun berubah.
"Selamat
juga untuk Rofelia-senpai, sepertinya busur milik leluhur sudah
ditemukan."
"Terima
kasih. Seperti yang kukatakan malam itu, ini berkat bantuan Ashton-kun."
"Tidak,
tidak. Aku cuma merasa penasaran lalu meminta penyelidikan di tangga
saja."
Dengan ini,
pusaka leluhur yang disebut sebagai Hero Equipment telah ditemukan untuk
kedua kalinya. Sepertinya faksi Hero akan kembali bersemangat, namun seperti
yang dikatakan Radius, jika itu demi rakyat, maka itu tidak buruk.
"Apa kami
juga nanti akan menemukan senjata milik leluhur kami, ya?"
Gumam
Vain sambil memandang ke kejauhan di luar jendela.
Saat Ren
menjawab, "Pasti," Vain mengalihkan pandangannya dari jendela dan
menatap Ren dengan senyum yang tulus.
"Aneh
ya. Kalau Ren yang mengatakannya, rasanya aku bisa percaya hal itu benar-benar
akan terjadi."
Percakapan
berakhir, kelompok bertiga dan kelompok bertujuh itu pun berjalan ke arah yang
berbeda.
Vain
menoleh ke arah kelompok Ren yang mulai menjauh, lalu berseru, "Anu!"
Mendengar
suara itu, ketiganya menghentikan langkah dan menoleh.
"Terima
kasih banyak untuk tempo hari!"
"Sudahlah.
Kamu kan sudah bilang begitu saat di Windea."
Setelah berkata
demikian, Ren tertawa ceria dan berjalan menjauh ke ujung koridor bersama kedua
gadis itu.
◇◇◇
Setelah mengantar
kepergian ketiganya, sebuah kalimat terlintas di kepala Kaito. Itu adalah
peringatan yang diberikan Sarah kepadanya sekitar waktu yang sama tahun lalu.
『Maksudku
bukan begitu. Kalau kamu meremehkan Ren Ashton, perisai besar milik Kaito pun
bisa hancur berkeping-keping.』
Entah kenapa ia
teringat percakapan saat Ren baru saja masuk sekolah.
Kala itu, Kaito
menepisnya dan menganggapnya konyol. Namun sekarang, setelah melihat
pertarungan Ren di Windea, ia memiliki pemikiran yang berbeda.
Seandainya…… jika kekuatan Ren saat itu ditujukan padanya.
Namun, tidak ada
satu pun alasan baginya untuk bertarung melawan Ren. Setidaknya saat ini, ia
tidak bisa membayangkan situasi seperti itu terjadi, dan tidak ada ruang untuk
membayangkan masa depan di mana mereka menjadi musuh.
"…………"
"Kaito-senpai?
Ada apa?"
Vain bertanya
kepada Kaito yang sedang menatap punggung Ren dan kedua gadis itu.
Tanpa jeda yang
lama, Kaito tertawa seperti biasa.
"Tidak!
Bukan apa-apa, kok!"
Ia sendiri tidak begitu paham kenapa ia memikirkan hal
seperti tadi…… tapi pastinya, itu karena guncangan yang ia rasakan memang
sebesar itu.
◇◇◇
Ada ujian sebelum musim panas tiba.
Berbeda dengan ujian yang diambil Fiona si murid tingkat
akhir tempo hari, ini adalah Midterm Exam yang dilaksanakan secara
serentak untuk semua tingkatan kelas.
Meskipun baru
saja terjadi keributan, tugas utama seorang pelajar adalah belajar.
Belakangan ini ia
sangat sibuk sehingga tidak bisa terlalu fokus pada studi, namun ia tidak ingin
nilainya turun hanya karena hal itu.
Ketiga remaja itu
tidak langsung pulang meski jam pelajaran telah berakhir. Mereka menyusuri
beberapa toko buku di Ibu Kota, hingga kantong kertas yang mereka bawa penuh
dengan buku-buku referensi yang baru dibeli.
Ibu Kota hari itu
sangat ramai. Masyarakat yang sebelumnya menahan diri untuk keluar rumah akibat
kerusuhan tempo hari, kini mendadak memadati jalanan.
Meski tidak
seramai saat Festival Raja Singa, kerumunan ini tetap lebih padat dari
biasanya—siapa pun bisa terpisah jika tidak waspada.
Ren berusaha
menjaga agar hal itu tidak terjadi, namun saking padatnya orang-orang, punggung
tangan Licia dan Fiona tanpa sengaja saling bersentuhan, hingga akhirnya tangan
mereka bertaut.
Keduanya saling pandang, lalu tersenyum kecut.
"Untuk
sekarang, anggap saja ini kerja sama tim, ya?"
"Iya.
Sepertinya begitu lebih baik."
Terpisah dan
merepotkan Ren adalah hal terakhir yang mereka inginkan.
Namun di sisi
lain, muncul perasaan aneh di hati mereka... apa yang sebenarnya sedang kami
lakukan bersama rival cinta seperti ini?
"……Haa."
Helaan napas
mereka terdengar bersamaan saat menatap punggung Ren yang berjalan di depan.
Ketika Ren
menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan, ia terkejut melihat tangan kedua
gadis itu sedang bergandengan.
"Maaf. Kalau
saja aku perempuan, aku mungkin bisa melakukannya tanpa ragu."
Kedua gadis itu
hanya bisa menyimpan balasan mereka di dalam hati; sebenarnya mereka ingin
bilang bahwa justru saat seperti inilah ia tidak perlu ragu.
"……Jangan
dipikirkan."
"……Iya. Kami
tidak apa-apa, kok."
Di saat para
rival cinta itu sedang berpura-pura tegar meski hati terasa sesak, sebuah
kereta kuda dari Kuil Agung Ibu Kota melintas di dekat mereka.
Licia hampir saja
menegang karena itu adalah kereta milik ajaran Elfen.
Namun, mungkin
karena ia sedang menggandeng tangan sang Black Priestess, perhatiannya
lebih terpusat pada tautan tangan mereka.
Seiring langkah
mereka, kerumunan perlahan mulai berkurang.
Tangan Licia dan
Fiona terlepas dengan sendirinya tanpa ada yang memulai. Sambil berjalan
mendahului Ren, mereka mulai mengobrolkan banyak hal.
Mulai dari
masalah Great Forest hingga hal-hal kecil seputar kehidupan akademi. Bahkan,
pembicaraan mereka sampai pada rencana untuk menyewa lapangan latihan dan
berduel.
"Lain kali
aku tidak akan kalah."
"Tidak,
kali ini akulah yang akan menang."
Hari di
mana Licia menjadi seorang Sword Saint mungkin sudah tidak lama lagi.
Memikirkan hal itu, Ren yang sudah lebih dulu mencapai tingkatan itu mulai
tenggelam dalam lamunan.
(Kira-kira
apa ya yang akan menjadi pemicu Licia untuk jadi Sword Saint?)
Mengingat
pengalamannya sendiri yang sempat sangat menderita, Ren berpikir ada
kemungkinan Licia juga akan mengalami kesulitan yang sama.
Sudah cukup lama gadis itu berada di level Swordmaster.
Namun, menaikkan satu peringkat saja
bisa memakan waktu bertahun-tahun... atau bagi sebagian orang, belasan tahun.
Tidak semua Swordmaster bisa menjadi Sword Saint.
Kecepatan
pertumbuhan Licia memang sangat luar biasa, sama seperti Ren.
Begitu pula
dengan Fiona yang tempo hari menunjukkan sihir kuat di luar kereta sihir; dia
pun tidak pernah lelah berusaha.
Ren kembali
membulatkan tekad untuk tidak kalah dari mereka yang selalu bekerja keras untuk
saling melampaui.
Dan satu hal
lagi.
Hal yang tidak
boleh dilupakan selain menjadi lebih kuat adalah tentang tragedi tersebut. Juga
tentang alasan mengapa ia memutuskan untuk pergi bertarung melawan Olfide.
"Bisa lihat
sendiri, kan? Aku baru saja membunuhnya."
Mengapa White
Saintess, Licia Krauzel, dan Ren Ashton bisa berakhir seperti itu? Jawabannya
pasti akan terungkap dalam waktu dekat.
"Tapi,
'dalang' bagi siapa ya? Kamu yang berada di pusat kericuhan itu, mungkin bagi
Kekaisaran Leomel dianggap sebagai dalang insiden tersebut. Begitu juga bagi
ajaran Elfen. Lalu bagi Kultus Dewa Iblis, kamu adalah musuh yang
melindungi keturunan Seven Heroes. Bagi para pengikut yang kamu tebas
seolah-olah dipandu ke sana, kamu pasti dianggap sebagai dalang di balik semua
rencana itu."
Bagi siapakah Ren
Ashton menjadi musuh? Kultus Dewa Iblis? Leomel? Atau ajaran Elfen? Atau
mungkin musuh dunia──── mungkinkah itu terlalu berlebihan?
Bagaimanapun
caranya, ia harus mencari gadis itu.
Meski terasa
kontradiktif dan mustahil untuk berpikir bahwa gadis itu sudah tahu alasannya
bahkan sebelum tragedi di dunia ini terjadi, namun jika ia adalah sosok yang
hebat, mungkin saja ia tahu sesuatu yang menjadi pemicunya.
Termasuk
fakta bahwa Kultus Dewa Iblis berulang kali mengincar Leomel.
Ia sangat ingin
memastikan tujuan mereka, dan Ren mulai menyadari bahwa beberapa hal ini
mungkin memiliki semacam keterkaitan.
Dan ada satu hal
lagi yang tidak boleh Ren lupakan.
……Ren Ashton
sedang dipermainkan oleh garis keturunannya, begitu kata gadis itu.
……Apa itu
berarti kedua tragedi itu ada hubungannya dengan darah keluarga Ashton?
Saat ini ia masih
belum mengerti apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu, tapi ia merasa sudah
semakin dekat.
Kejadian apa yang
sebenarnya terjadi di garis waktu itu... sedikit demi sedikit, ia merasa akan
segera menemukan alasannya.
"……Haa."
Ren menghela
napas panjang sembari terus berjalan.
"Sebenarnya
dia ada di mana, ya?" gumamnya hampir tanpa sadar.
Seketika itu
juga, kedua gadis yang berjalan di depannya mendadak berhenti.
Mereka tidak bisa
mengabaikan kata-kata itu begitu saja. Meski mereka tidak berpikir kata
"dia" (perempuan) itu merujuk pada hubungan asmara, mereka tetap
penasaran dengan identitas "dia" yang dimaksud Ren. Keduanya pun
menoleh perlahan ke arahnya.
"Eh? Kalian
berdua kenapa?"
Dengan raut wajah cemas, mereka bertanya.
"S-siapa yang sedang kamu cari……?"
"S-siapa yang sedang Anda cari……?"
Tanya mereka dengan nada sungkan. Ren merasa membicarakan hal ini sekarang terasa
terlalu santai, sepertinya lebih baik dibicarakan di lain kesempatan.
"Karena ini
ada hubungannya dengan Kultus Dewa Iblis, nanti akan kujelaskan
baik-baik ya."
Mendengar
jawaban Ren, kedua gadis itu pun mengangguk paham dengan ekspresi serius.
Karena
merasa enggan untuk langsung pulang begitu saja, mereka bertiga melangkah masuk
ke sebuah taman terdekat.
Licia dan
Fiona duduk di bangku taman, sementara Ren berdiri di samping mereka. Di tengah
jalan tadi mereka sempat membeli minuman dingin dari kedai pinggir jalan, dan
kini mereka menatap langit sambil memegang minuman tersebut.
Fiona
memandang langit malam.
"Bintang-bintang
hari ini sangat indah, ya."
Langit
berbintang di Ibu Kota memang tidak seindah yang Ren lihat di Windea, namun
cukup mirip. Butiran cahaya besar yang seolah bisa digapai hanya dengan
merentangkan tangan itu menghiasi langit hitam pekat dalam jumlah yang tak
terhitung.
Inilah
saat-saat tenang yang mereka lalui bertiga. Setelah melewati kerusuhan baru,
akhirnya mereka bisa merasakan ketenangan hati.
Setelah beberapa
menit menatap bintang, Licia memberikan usul.
"Hei Ren,
bagaimana kalau lain kali kita latihan bersama?"
"Maksudmu di markas Sacred Order of the Lion?"
"Bukan.
Maksudku seperti yang kami lakukan di lapangan latihan akademi kemarin."
Ren berpikir itu
ide yang bagus. Sebagai orang yang mengincar gelar Sword King, ini
adalah kesempatan bagus dan memang itu yang ia inginkan, tapi...
"……Tapi
sebelum itu, ada ujian tengah semester, kan?"
Begitu
Ren mengatakannya, kedua gadis itu tersentak teringat.
"Ah!"
Benar
juga. Latihan memang penting, tapi mereka harus melakukan sesuatu untuk
menghadapi ujian tengah semester yang sudah di depan mata.
Meskipun
ketiganya biasanya memiliki nilai yang bagus, banyaknya kejadian yang tumpang
tindih belakangan ini membuat mereka tidak bisa belajar sesuka hati, dan rasa
cemas pun mulai muncul.
"……Kalau
begitu sebelum latihan, mau belajar di ruangan yang biasa?"
"Iya,
boleh……"
Saat
Licia bertanya dengan nada akrab kepada Fiona, gadis itu menyetujuinya, dan Ren
pun memutuskan untuk ikut bergabung dengan mereka.
Belajar
untuk ujian, latihan, tempat persembunyian Mudie, hingga gadis yang muncul
dalam mimpi Ren... Sambil memikirkan banyak hal, Ren saling bertukar senyum
dengan keduanya, membayangkan hal yang sama dengan mereka.
Di sini,
di bawah naungan kilauan debu bintang────
Kira-kira, musim mendatang akan membawa "kisah" seperti apa lagi?



Post a Comment