Memori Entah di Mana yang Dilihat Licia
Setelah
pertemuan seluruh murid tahun kedua berakhir, hanya mereka berdua yang masih
berada di dalam Aula Besar untuk melanjutkan obrolan santai.
"Ren,
ke sini."
Suara
gadis itu menggema di dalam Aula Besar yang luas dan megah.
Mendengar
panggilan itu, Ren melangkah perlahan di atas karpet merah tua yang menyelimuti
lantai. Ia mendongak menatap panggung di depannya, merekam sosok White Saint
yang bermandikan cahaya ke dalam ingatannya.
Pemuda
pengguna Magic Sword itu bertanya kepada sang gadis jelita yang berdiri
di atas panggung.
"Kenapa
tiba-tiba berdiri di sana?"
"Melihat
tempat ini membuatku teringat sedikit tentang masa-masa upacara penerimaan
siswa baru dulu."
Saat ini, hanya
ada mereka berdua di ruang yang luas ini.
Meski tidak
sedang melakukan hal buruk, jantung Ren sedikit berdebar, merasa seolah dunia
ini hanya milik mereka berdua saja.
Sepertinya Licia
pun merasakan hal yang sama, ia tersenyum lebih nakal dari biasanya.
"Apa Ren
masih ingat kejadian saat itu?"
"Maksudmu
saat kita berdiri di sini sebagai perwakilan siswa, kan?"
"Iya. Aneh
ya, padahal baru satu tahun berlalu. Rasanya ada begitu banyak hal yang terjadi
meskipun baru sebentar."
"Bukan
sekadar rasanya, tapi────"
"Fufu,
memang benar-benar terjadi banyak hal, ya."
Sambil berkata
demikian, Licia mengulurkan tangannya kepada Ren.
"Mumpung ada
kesempatan, mau mencoba berdiri bersama lagi seperti saat upacara dulu?"
Sosok White Saintess
yang berdiri di bawah cahaya terang yang menyilaukan, dengan rambut peraknya
yang bergoyang lembut saat ia sedikit membungkukkan badannya.
Tanpa berlebihan,
ia benar-benar terlihat seperti malaikat. Begitu cantik, suci, bahkan
memancarkan aura keilahian.
"Ayo, Ren
juga ke sini."
"Etto... apa
boleh kita berdiri di sana sembarangan?"
"……Begitu
kamu bilang begitu, aku jadi agak khawatir, tapi kalau cuma sebentar pasti
tidak apa-apa…… kurasa!"
Begitu Ren
menyambut tangan yang terulur itu, kehangatan Licia tersalurkan melalui ujung
jarinya.
Licia
menyembunyikan rasa sayangnya bahkan dalam gerakan jemarinya, mencoba menumpuk
tangan mereka seolah ingin saling mengaitkan jari. Saat menyadari tindakannya
sedikit terlalu berani, ia menutupinya dengan senyuman riang.
Tiba-tiba, Licia
kehilangan kekuatan di kakinya dan kehilangan keseimbangan.
Saat tubuhnya
terjatuh ke arah Ren yang bergegas mengulurkan tangan untuk menopangnya, ia
merasa segala sesuatu yang tertangkap matanya bergerak jauh lebih lambat dari
biasanya.
Pada saat itulah,
ia merasa penglihatannya seolah tumpang tindih dengan sesuatu yang lain.
『……Karena
itulah, ya.』
Tepat saat ia
merasa mendengar suaranya sendiri dari suatu tempat, pemandangan di sekitarnya
diselimuti cahaya yang semakin terang benderang.
『Ren, sudah────』
Ren menangkap
Licia dengan seluruh tubuhnya saat gadis itu masih terbuai dalam sensasi
tersebut.
Mereka berdua
terjatuh di atas karpet yang tebal. Jemari mereka saling bertautan, dan karena
Ren mendekapnya erat, jarak di antara keduanya nyaris menjadi nol.
Hembusan napas
terasa lebih dekat dari sebelumnya, dan detak jantung masing-masing terdengar
jelas dari dada yang saling bersentuhan.
Dalam keheningan
itu, untuk sekali ini Ren terlihat sangat panik.
"A-apa kamu baik-baik saja!?"
"I-iya! Tidak apa-apa!"
Sambil merasa malu dan panik, keduanya bersusah payah untuk
menenangkan suara dan ekspresi wajah mereka.
Awalnya mereka berpikir perasaan ini akan tenang dengan
sendirinya, tapi jarak yang sedekat ini membuat segalanya sulit.
Ditambah lagi, karena tubuh mereka masih lemas, mereka hanya
bisa bergerak sedikit tanpa bisa menjauh.
Sedikit demi sedikit…… setelah kekakuan di ujung jari mulai
pulih, akhirnya ketegangan di seluruh tubuh mereka mereda.
Namun, jarak di
antara mereka tetap sama, masih sedekat sebelumnya.
Setelah merasa
lebih tenang, Ren mencoba melepaskan tangannya yang masih bertautan dengan
Licia untuk memberi jarak.
……Padahal,
harusnya tangan itu masih terasa sakit.
Licia
mendekap tangan Ren yang hendak terlepas itu dengan kedua tangannya.
Sambil
menyalurkan cahaya Holy Magic ke tangan pemuda itu, ia mendekatkan
wajahnya yang cantik sambil tetap menggenggam tangan Ren.
Hal itu
ia lakukan bukan sekadar atas dasar belas kasih sebagai seorang Saint Putih,
melainkan karena didorong oleh perasaan cinta.
"Licia?"
"……Maaf.
Tunggu sebentar."
Ia seolah
ingin menyalurkan seluruh kehangatannya kepada pemuda itu.
Tanpa
sadar mereka telah melepaskan tangan satu sama lain, lalu keduanya duduk tegak
di atas karpet sambil saling menatap.
Seketika itu
juga, Licia merasakan kepedihan yang tajam di hatinya.
Saat potongan
penglihatan tadi melintas kembali di kepalanya, hanya dengan menatap Ren di
depannya saja, air mata Licia seolah hendak tumpah.
Entah kenapa, ia
tidak mengerti apa pun.
Saat air mata itu
akhirnya mengalir di pipinya, Ren yang sesaat membelalakkan mata segera
mengulurkan tangan.
Licia pun
menyambutnya, sehingga kedua tangan mereka bertumpuk di atas pipi sang gadis.
"Kamu
baik-baik saja?"
Mendengar suara
lembut itu, rasa sesak yang sempat muncul di hatinya seolah sirna tak berbekas.
Belum pernah ia
merasa begitu ingin disentuh oleh pemuda ini, dan begitu tidak ingin melepaskan
tangannya.
Seolah ingin
menjepit tangan Ren yang ada di pipinya, ia menekankan pipinya ke sana…… lalu
mempererat genggaman pada tangan yang bertumpuk itu.
"Padahal
tanganmu masih sakit, maaf ya."
"Aku tidak
apa-apa. Tapi, kenapa Licia tiba-tiba……"
"Aku juga
tidak apa-apa. Air mata ini…… aku tidak mengerti, tapi mungkin aku
sedang merasa sedikit ingin bermanja-manja."
"Ma-manja……?"
"Memangnya
tidak boleh? Aku pun punya saat-saat seperti itu, tahu!"
Setelah berkata
demikian, Licia Krauzel menunjukkan senyuman yang seperti biasanya.
Ia berdiri meski
seluruh indranya masih terasa sedikit tumpul, lalu menarik tangan Ren Ashton.
Ia tidak mampu
merangkai satu kata pun untuk mengungkapkan perasaannya saat berdiri berhadapan
dengan Ren dan berbicara seperti ini.
Padahal setiap
pagi, bahkan setiap malam pun mereka bertukar kata…… namun sensasi ini
benar-benar terasa ajaib.
Keheningan di
antara mereka pecah oleh bunyi lonceng peringatan yang menandakan dimulainya
pelajaran siang.
Suara yang
tiba-tiba itu seketika mengubah suasana hati mereka berdua.
Setelah terbebas
dari sensasi yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mereka pun saling
melempar tawa kecut.
"Sebaiknya
kita segera pergi."
"Iya! Kita
bisa terlambat masuk kelas siang!"
Sang pemuda
pengguna Magic Sword, dan sang Saint Putih.
Cahaya yang jatuh
di atas panggung itu hanya akan terus menyinari mereka berdua selamanya.



Post a Comment