NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 6 Side Story 2

Gadis Berambut Perak


Di sebuah kota besar di wilayah bangsawan lain yang letaknya tidak jauh dari wilayah Duchy Rofelia.

Di restoran sebuah penginapan mewah, tampak seorang gadis cantik yang datang sendirian. Segera setelah menyelesaikan makannya, ia meninggalkan restoran dan beranjak menuju kamarnya.

Ia berjalan dengan anggun tanpa memedulikan tatapan para pria yang tertuju padanya.

Namun, langkahnya terhenti saat ia merasakan suatu kehadiran di tengah jalan.

Ia menaiki tangga khusus karyawan menuju area yang tidak boleh dimasuki oleh tamu biasa. Begitu sampai di atap, di sana sudah menunggu seorang pria yang mengenakan jubah hitam pekat.

Melihat kedatangan sang gadis, pria itu berlutut dan menundukkan kepalanya.

Rambut sang gadis dan jubah si pria tampak berkibar tertiup angin kencang di ketinggian tersebut.

"Mohon maaf atas kunjungan yang mendadak ini."

"Tidak apa-apa. Jadi, ada perlu apa denganku?"

"……Tuan Olfide telah berpulang ke sisi Yang Mulia."

Mendengar hal itu, sang gadis hanya menyahut singkat, "Begitu ya," lalu menatap ke arah langit.

"Berkat dicintai oleh keisengan Dewi Reborn, hidupnya benar-benar berantakan, ya."

Pendeta itu terlahir di sebuah negara di Benua Martel yang tak pernah luput dari konflik.

Terlahir dengan membawa berkah sang Dewi, Olfide memiliki kemampuan regenerasi yang tidak normal. Hal itulah yang mengubah nasibnya secara drastis.

Segera setelah lahir, ia dipisahkan paksa dari orang tua kandungnya dengan tujuan untuk dialihfungsikan sebagai teknologi persenjataan.

Namun, belum genap beberapa tahun, tanah airnya hancur akibat terseret konflik baru. Setelah berpindah-pindah antar negara kecil sebagai peliharaan penguasa, ia akhirnya jatuh ke tangan Kultus Dewa Iblis.

Tetapi, bagi Olfide, itu adalah keberuntungan pertamanya.

Di dalam Kultus Dewa Iblis, ia tidak dijadikan hewan percobaan. Malahan—

"Bukan demi dunia yang buruk ini. Tapi demi dunia yang kau yakini sendiri."

Sang Uskup menempatkan Olfide di bawah pengawasannya agar ia bisa menjadi kekuatan tempur.

Seiring berjalannya waktu, ia tumbuh menjadi seorang Pendeta dan menjadi tangan kanan Uskup untuk bergerak di balik layar di berbagai tempat.

Itulah dunianya──── dan cara hidupnya.

"────Yah, dunia memang seperti itu."

Tanpa bermaksud meratapi, ia berpikir selama beberapa detik, dan sosok Olfide pun sudah menghilang dari benak sang gadis.

"Ada lagi?"

"Hamba……"

Pengikut Kultus Dewa Iblis itu tampak ragu untuk bicara. Semakin lama waktu berlalu, perasaan itu semakin kuat, namun ia tidak punya pilihan selain mengatakannya.

Akhirnya, ia memberanikan diri melapor pada sang gadis.

"……Sebelum membuat Pemimpin Agung semakin murka, hamba rasa sebaiknya Anda segera kemba──── kh!? "

Tekanan yang terpancar dari sang gadis membuat si pengikut tersungkur.

Mungkin inilah yang disebut dengan perasaan seolah nyawa sudah di ujung tanduk.

Senyuman gadis cantik itu biasanya akan membuat pria mana pun terpana, namun saat ini, senyuman itu terasa sangat mengerikan.

Tekanan yang seolah menusuk kulit itu datang dari sang gadis yang kini berlutut di depan pria itu dan mendekatkan pandangannya.

Pria itu sama sekali tidak berani melirik kaki ramping yang mengintip dari balik roknya, melainkan terpaku pada sepasang mata yang indah bagaikan permata.

"Dengar ya."

Ujar sang gadis.

Tekanan itu tidak menghilang, justru semakin bertambah kuat.

"Makhluk bernyawa bisa tetap hidup itu karena dua alasan: kebetulan, atau karena mereka kuat. Entah itu karena kebetulan bertahan hidup tanpa bertemu ketidakadilan dunia, atau karena mereka punya kekuatan untuk menepis ketidakadilan itu."

Suatu saat nanti, "kebetulan" yang ia katakan mungkin akan berakhir.

Suatu hari nanti, tanpa ada peringatan.

"Lalu kamu──── termasuk yang mana?"

Rambut perak dengan sorot hitam, serta sepasang mata yang lebih indah dari permata.

Napas pria itu memburu saat ditatap oleh sang gadis.

Gadis itu berdiri dan mulai membicarakan hal lain. Terdengar tiba-tiba, namun jika disimak, pembicaraan itu mengandung maksud tersembunyi.

"Tidak ada kata lain yang bisa membenarkan tindakan manusia selain konsep bernama keadilan."

"……Eh?"

"Semua makhluk berintelejensi membangun peradaban dengan menjadikan keadilan sebagai umpannya. Di zaman mana pun, orang-orang seperti itulah yang bertahan hidup. Kamu bisa melihatnya sendiri pada ajaran Elfen, kan?"

Ucapnya dengan nada datar namun elegan.

"Aku benci itu. Aku sangat benci pada orang-orang picik yang yakin bahwa tindakan mereka paling benar, lalu memaksakan apa pun dan menyebutnya sebagai keadilan. Karena itulah, kepada Pemimpin Agung──── tidak."

Ini adalah apa yang diceritakan oleh gadis yang muncul dalam mimpi Ren, gadis yang memperkenalkan diri dengan gerakan curtsey.

"Sampaikan persis seperti apa yang baru saja kukatakan kepada kakakku."

Sang gadis memunggungi pria itu.

Tidak ada gunanya melanjutkan tanya jawab lebih dari ini, dan jika diteruskan, nyawa pria itu mungkin benar-benar akan terancam.

Namun hal itu tidak ada nilainya, dan tugas pria itu hanyalah menyampaikan pesan sang gadis kepada Pemimpin Agung.

"……Ba-baik. Akan hamba laksanakan."

"Anak pintar," ucap sang gadis tanpa menoleh.

Ia terkekeh…… sebuah senyuman yang cantik, elegan, sekaligus menggoda.

────Ini adalah apa yang dilihat Ren di dalam mimpinya. Apa yang ia dengar dari mulut gadis itu.

"Jangan bicara hal yang kejam begitu. Padahal aku sudah berniat melakukannya sendiri, tidak ada salahnya kan kalau kamu mendengarkanku baik-baik."

Nama gadis yang dilihat Ren di dalam mimpinya adalah—

"Namaku──── Eve. Adik dari Pemimpin Agung Medario."

Gadis vampir itu berdiri di bawah hembusan angin malam, bermandikan cahaya bulan.






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close