Epilog
Pahlawan Sang Pembantai Demonic
Beast
"Ugh……
aku…… ada di mana……?"
Pikiran
pertama yang dirasakan Pangeran Ketiga Rodel Aiwood saat tersadar adalah rasa
sakit yang menyiksa seluruh tubuhnya. Seluruh bagian tubuhnya terasa nyeri,
seolah-olah sedang ditusuk oleh ribuan jarum.
"Di
sini……?"
"Oh,
Anda sudah sadar, Yang Mulia Rodel!"
"Kau……
Aiger?"
Rodel membelalakkan mata melihat sosok pria yang
berada di samping tempat tidurnya.
Marquis Berlio Aiger. Bangsawan terkemuka dari
'Fraksi Ibu Suri' yang memuja nenek Rodel. Bagi Rodel, pria ini adalah sosok pelindungnya.
"Di
mana…… ini?"
Rodel
baru menyadari bahwa dia tertidur di sebuah ruangan yang asing.
Ruangannya sangat luas dengan ranjang besar. Setiap
furnitur di sana adalah barang antik bernilai tinggi.
Lukisan dan pajangan yang terlalu mencolok menghiasi
ruangan itu secara berlebihan, malah memberikan kesan selera yang buruk.
"Ini adalah kediamanku di wilayah Marquis Aiger.
Aku membawamu ke sini selagi Yang Mulia tidak sadarkan diri."
"Membawaku……
kenapa?"
"Orang-orang di Ibu Kota…… Raja bodoh itu dan
putra-putranya telah menetapkan Anda sebagai penjahat perang karena
membangunkan monster Sabnock! Benar-benar penghinaan yang luar biasa terhadap
calon raja masa depan yang diakui oleh Yang Mulia Ibu Suri!"
Marquis Aiger meradang. Melihat wajah yang
terdistorsi buruk saat mengucapkan kata-kata itu, Rodel menyadari bahwa apa
yang dialaminya bukanlah mimpi buruk.
(Benar. Aku menggunakan Monster Lure, lalu
monster itu…… dan karena itu……!)
Mati. Para ajudannya. Dua orang yang memercayainya telah
tiada. Mereka telah melayani Rodel sejak kecil, mereka adalah pelayan sekaligus
sahabat karibnya.
(Gara-gara aku besar kepala…… gara-gara aku mengusik
Sabnock, mereka……!)
Rodel mungkin manusia yang sombong dan bodoh, tapi
dia tidaklah mati rasa sampai tidak merasakan apa pun saat temannya tewas.
Penyesalan yang hebat menyerangnya, membuat dadanya
terasa sesak seolah mau hancur.
"Raja bodoh itu sepertinya sudah menyadari bahwa
kami menyembunyikan Yang Mulia Rodel. Dia menuntut agar Anda diserahkan."
Tanpa menyadari penderitaan Rodel, Aiger terus bicara
sendiri.
"Ini kesempatan bagus untuk menunjukkan kebodohan
mereka. Sekalian saja kita angkat senjata dan hancurkan mereka semua!"
"Angkat
senjata…… maksudmu, kau berniat memberontak!?"
Mendengar kata-kata yang tak terduga itu, Rodel
langsung mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk.
"Aku tidak menginginkan kudeta! Berhenti
melakukan hal bodoh!"
"Anda bilang hal bodoh…… tapi aku sudah
memanggil kawan-kawan dari 'Fraksi Ibu Suri' dan mengumpulkan tentara.
Sekarang, sudah tidak ada jalan untuk mundur lagi."
Aiger memiringkan kepala dengan heran seolah berkata,
"Apa yang Anda bicarakan……"
"Lagipula, mereka yang meremehkan Yang Mulia
Rodel—yang telah diakui oleh Ibu Suri—adalah pihak yang bersalah. Ucapan Ibu
Suri adalah mutlak. Orang yang membangkang harus dihukum. Raja bodoh itu, putra
mahkota palsu, dan bangsawan yang melawan, semuanya harus dibantai!"
"…………!"
Rodel merasa ketakutan dari lubuk hatinya melihat
Aiger berbicara seolah itu adalah kebenaran yang lumrah. Mata Aiger tidak
menunjukkan keraguan sedikit pun; itu adalah mata seorang fanatik yang
menganggap keyakinannya sebagai kebenaran dunia.
Selama ini dia tidak pernah mempermasalahkannya, tapi
ternyata dia disokong oleh pria semengerikan ini sebagai pelindungnya.
"Perang akan segera dimulai. Saat itu tiba, aku
ingin Yang Mulia Rodel menunjukkan kemampuan Anda sepenuhnya! Sampai
saat itu, silakan istirahatkan tubuh Anda!"
"Ba-bagaimana bisa……"
Rodel merasa putus asa mendapati dirinya dijadikan simbol
pemberontakan. Bahkan orang bodoh sepertinya pun paham bahwa tindakan Aiger
sangat ceroboh dan nekat.
"Apa
yang akan…… terjadi padaku……?"
Karena
kasus memicu monster Sabnock, Rodel sudah menjadi buronan. Merasakan situasi yang tidak bisa diputar balik lagi, Rodel gemetar
hebat hingga ke tulang sumsumnya.
◇ ◇ ◇
Pembasmian monster Sabnock. Setelah menuntaskan
pencapaian luar biasa yang belum pernah diraih siapa pun, Rest kembali ke pintu
masuk dataran.
Di sana, pertempuran antara pengajar akademi, ksatria,
dan penyihir istana melawan para monster baru saja usai.
Meski terjadi stampede dan monster menyerbu pintu
masuk, jumlahnya tidak terlalu banyak karena Rest sudah sempat memangkas
sebagian besar dari mereka.
"Rest-kun, syukurlah kamu selamat!"
"Rest-sama, aku sangat mengkhawatirkanmu!"
Sambutan hangat dari Viola dan Primula menyongsong
kedatangan Rest.
Sepertinya mereka sangat khawatir karena Rest tak kunjung
kembali, hingga keduanya memeluknya sambil menangis.
"Syukurlah, benar-benar syukurlah……!"
"Kalau terjadi sesuatu padamu, aku……!"
"Ah—maaf, aku tadi sedikit memaksakan diri."
Rest menggaruk kepalanya dengan bingung sambil
menjelaskan tentang pertarungannya melawan Sabnock.
Awalnya mereka berdua terkejut hingga kehilangan
kata-kata, namun setelah itu, badai omelan karena kenekatannya pun menerjang.
Ujung-ujungnya, mereka kembali menangis sambil
memukul-mukul dada Rest dengan gemas.
"Ooh,
Rest! Kamu sudah kembali!"
"Rest-san,
syukurlah Anda juga selamat."
Yuri
dan Celestina juga datang menyusul dan ikut bersyukur atas keselamatan Rest.
Baju
Yuri berlumuran darah, membuat Rest terkejut. Namun, sepertinya dia juga ikut
bertarung melawan monster yang menyerbu pintu masuk.
Celestina
menceritakan dengan wajah pucat bahwa Yuri menendang monster-monster itu hingga
mati sambil bermandikan darah musuh.
Setelah
dibantu mereka berdua untuk menenangkan kakak-beradik itu, Rest melaporkan
kemenangannya atas Sabnock kepada pengajar akademi.
Namun,
tidak seperti si kembar, tidak ada yang memercayai perkataan Rest.
Meski
begitu, berkat jaminan dari Albert—ayah Viola dan Primula—tim investigasi
akhirnya dikirim untuk memastikan kebenaran klaim Rest.
Ketika
tim investigasi yang terdiri dari Ksatria Pengawal dan Penyihir Istana
melangkah ke pedalaman dataran, mereka menemukan bangkai Sabnock tergeletak di
sana.
Seketika,
posisi Rest berbalik dari "pembohong" menjadi "pahlawan"
yang dipuja-puji.
Dia
telah meraih prestasi yang gagal dilakukan oleh banyak penguasa di masa lalu.
Dengan hilangnya Sabnock, Kerajaan Aiwood memperoleh lahan yang luas dan subur.
Kerajaan Aiwood akan semakin makmur setelah membersihkan
sisa monster dan membuka lahan tersebut. Rest pun dipanggil ke istana untuk
menerima penghargaan.
"Rest, abdi keluarga Marquis Rosemary. Aku memberimu
gelar 'Viscount'!"
Ini pertama kalinya Rest mengunjungi istana kerajaan, dan
pertama kalinya dia bertemu Raja yang mengumumkan hal tersebut.
Rest berlutut di hadapan Raja dan menundukkan kepalanya
dengan hormat.
"Hamba
sangat berterima kasih atas anugerah ini…… Semoga tangan kanan hamba menjadi
pedang kerajaan, dan tangan kiri hamba menjadi perisai kerajaan. Hamba
berjanji akan setia seumur hidup."
"Kesetiaan itu kuterima sepenuhnya. Kuberikan pedang
pusaka ini padamu."
Setelah Rest mengucapkan kalimat formal yang sudah
diajarkan sebelumnya, Raja menjulurkan pedang yang berada di dalam sarungnya.
Tetap dengan kepala menunduk, Rest menerima pedang pusaka
dengan desain yang rumit dan indah itu.
(Tak kusangka aku benar-benar jadi bagian dari kaum
bangsawan…… Yah, karena rencananya aku akan masuk ke keluarga Marquis Rosemary,
memang sudah sewajarnya sih……)
Sebagai
hadiah pembasmian Sabnock, Rest diangkat menjadi 'Viscount'. Meski dia menjadi
kepala keluarga bangsawan yang berbeda dari keluarga Rosemary, bukan berarti
pernikahannya dengan Viola atau Primula batal.
Bagi
bangsawan besar, memiliki beberapa gelar bukanlah hal yang aneh.
Itu
hanya berarti posisi dan aset keluarga yang bisa diwariskan kepada anak-anaknya
kelak menjadi bertambah.
Penghargaan yang diberikan bukan hanya gelar.
Sebagian dari dataran yang kini bebas dari Sabnock akan menjadi wilayah
kekuasaan Rest.
(Awalnya aku ingin naik ke puncak untuk membuktikan
diri pada ayah yang beracun dan kakak yang menindasku…… tapi tanpa sadar, aku
sudah melampaui mereka sangat jauh.)
Sambil menggenggam pedang pusaka yang merupakan
simbol bangsawan dari Raja, Rest mengenang hari-hari yang telah dia lalui.
Masa-masa tenang saat tinggal bersama ibunya, lalu
kehidupan seperti neraka setelah dibawa oleh ayahnya saat sang ibu wafat.
Dan
kemudian…… hari-hari yang penuh makna setelah diambil oleh keluarga Marquis
Rosemary. Dia bisa bersekolah di akademi, mendapatkan banyak ilmu, dan juga
teman.
(Alasanku bisa mendapatkan kebahagiaan ini bukan hanya
karena mana yang tak terbatas. Tapi karena pada hari itu, di hutan itu, aku
bertemu dengan mereka……)
"Rest-kun, selamat ya!"
"Rest-sama, selamat atas gelarnya!"
Setelah selesai dengan urusan penobatan dan mundur dari
hadapan Raja, tunangannya, Viola dan Primula, berlari menghampiri.
Saat Rest kembali setelah mengalahkan Sabnock, mereka
menangis marah karena khawatir, namun kini mereka merayakan keberhasilan Rest
dengan senyum yang bersinar.
"Terima kasih, kalian berdua."
Rest mengungkapkan rasa terima kasih yang tulus, mencakup
semua hal yang telah terjadi selama ini.
Kakak-beradik itu tampak heran dengan ucapan terima kasih
yang begitu penuh perasaan, namun mereka segera tersenyum kembali.
"Mendapatkan gelar bangsawan saat masih menjadi
pelajar adalah pencapaian yang bahkan Ayah pun tidak bisa melakukannya."
"Aku sangat bangga. Rest-sama memang orang yang
luar biasa."
"Itu karena aku beruntung. Ini bukan murni hasil
usahaku sendiri."
Itu bukan sekadar rendah hati. Kemenangan Rest atas Sabnock
juga berkat bantuan Lubace. Jika Lubace tidak memancing monster-monster kecil,
mungkin Rest sudah kalah.
(Dia juga diangkat jadi Baron, ya…… sepertinya dia kesal
karena gelarnya satu tingkat di bawahku.)
Rest tersenyum kecut saat mengingat wajah cemberut teman
barunya itu.
"Rest-kun, sepertinya akan ada pesta di istana. Ayo
kita ke aula."
"Ayah dan Ibu sepertinya juga sudah ada di
sana."
"Ah, kalau begitu kita tidak boleh terlambat. Ayo
cepat."
Rest menyarungkan pedang pusakanya ke sabuk di pinggang
dan hendak menuju aula pesta di dalam istana. Namun, di sana ada seseorang yang
memanggil mereka bertiga.
"Rest! Pembicaraanmu dengan Baginda sudah selesai
ya. Aku sudah menunggu!"
"Rest-san, selamat atas kerja kerasnya."
Suara ceria yang polos dan suara tenang yang lembut itu
masing-masing berasal dari teman akademi mereka, Yuri dan Celestina.
"Ah, kalian berdua. Ada apa?"
"Ada yang ingin kubicarakan, dengarkan ya!"
"Wah!"
Yuri tiba-tiba menerjang dan memeluk lengan Rest.
Kejadian mendadak itu membuat Rest tertegun dan membelalakkan mata.
"A-ada apa sih? Tiba-tiba begini……"
"Aku
baru menyadarinya…… sepertinya, aku menyukai Rest!"
"Ha……?"
"Karena itu, mulai sekarang aku akan berusaha keras
untuk menjadi istri Rest. Mohon bantuannya ya!"
"""HAAAHHHH—!?"""
Pernyataan bom itu mendadak terlontar dari mulut Yuri.
Tentu saja Rest terkejut, begitu pula Viola dan Primula yang berteriak dengan
suara melengking.
"Tunggu dulu Yuri! Apa maksudnya ini!?"
"Benar! Ini terlalu mendadak!"
Viola dan Primula langsung mendesak Yuri sebagai
ganti Rest. Namun, Yuri tersenyum lebar tanpa merasa bersalah sedikit
pun saat menjelaskan.
"Sebenarnya, aku sudah sejak lama mencari calon
suami yang hebat. Almarhumah ibuku pernah berpesan, 'Jadilah bahagia bersama
pria yang hebat'. Aku sudah tertarik pada Rest sejak awal bertemu, dan sempat
berpikir betapa bagusnya jika pria seperti ini jadi suamiku!"
"Be-begitu ya……?"
Otot wajah Rest berkedut antara merasa malu, takut,
bingung, dan tidak tahu harus merespons bagaimana.
"Tapi,
karena Rest sudah punya Viola dan Primula, kupikir tidak ada celah bagiku……
Tapi tadi aku bertemu ibu kalian dan beliau bilang, 'Kalau kau mau, bagaimana
kalau kau ikut masuk sebagai selir?' begitu."
"I-ibu……"
"Bisa-bisanya
beliau……"
"Hei……
bahaya!"
Viola
dan Primula tampak lunglai seolah pusing mendadak. Rest buru-buru merangkul
bahu mereka berdua untuk menyokongnya.
Karena
Yuri masih memeluk lengannya, posisi mereka berempat menjadi sangat rapat dan
canggung.
"Kalau Ibu sih memang mungkin saja melakukan itu……
beliau sempat bilang akan menyuruh Rest mencari gundik."
"Beliau bilang karena Rest penyihir hebat, beliau
akan menyuruhnya punya banyak anak…… ternyata beliau serius."
"Eh……
benarkah?"
Kakak-beradik itu mengatakan hal yang mengerikan
dengan wajah pasrah. Ini pertama kalinya Rest mendengar hal itu.
Tak disangka pembicaraan semacam itu sudah muncul di
bawah permukaan tanpa sepengetahuannya.
Ibu dari kakak-beradik itu, Eilish Rosemary, adalah
seorang wanita perkasa yang hanya mengandalkan otot.
Dia adalah salah satu orang terkuat di kerajaan
sekaligus seorang patriot sayap kanan dengan pemikiran yang sangat ekstrem.
Dia juga yang mengambil keputusan akhir untuk
menikahkan kedua putrinya dengan Rest.
(Kalau orang itu yang menyuruh…… hal
itu benar-benar bisa jadi kenyataan……?)
"Kalau aku jadi istri Rest, kita bisa terus bersama bahkan setelah lulus, kan? Bersama Viola dan Primula juga. Bukankah itu sangat menyenangkan?"
Yuri masih
menunjukkan senyum polos yang terpancar dari wajahnya yang tanpa dosa.
Sama sekali tidak
ada niat buruk untuk merebut tunangan temannya atau melakukan perselingkuhan.
Motivasinya murni
hanya karena "ingin terus bersama teman-teman yang baik," dan itulah
alasan ia begitu saja setuju dengan usulan Eilish.
"Bisa-bisanya Ibu membujuk Yuri untuk jadi selir……
aku merasa seperti ditusuk dari belakang," keluh Viola.
"Maaf karena harus mengatakannya saat kalian sedang
syok, tapi bolehkah aku juga bicara?" potong Celestina sambil mengangkat
tangan.
"Celestina……?"
Meskipun sisa guncangan dari pernyataan Yuri belum
hilang, Celestina tetap melanjutkan dengan tenang.
"Sepertinya aku juga akan masuk sebagai selir
Rest-san. Mohon bantuannya ya."
"""HAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH—!?"""
Teriakan Rest dan kakak-beradik Rosemary kali ini jauh
lebih kencang dari sebelumnya.
Viola dan Primula tampak seperti hampir pingsan di
tempat. Sambil memegangi mereka, Rest bertanya dengan gemetar.
"Ke-kenapa
jadi begini…… Nona Celestina bukankah sudah punya tunangan……?"
"Sejujurnya……
sepertinya pertunanganku dengan Yang Mulia Rodel akan dibatalkan."
"Dibatalkan……?"
"Nanti Baginda Raja akan mengumumkannya secara
resmi, tapi…… dalang di balik kejadian ini, yang memicu kemarahan Sabnock
hingga menyebabkan stampede, adalah Yang Mulia Rodel."
"Kh……!"
Rest membelalakkan matanya mendengar bisikan
informasi tersebut.
"Yang
Mulia Rodel…… kenapa beliau melakukan hal itu……?"
"Entahlah……
aku tidak tahu alasannya, tapi Yang Mulia telah melarikan diri ke kediaman
Marquis Aiger dan mulai mengumpulkan tentara. Itu adalah tanda-tanda
pemberontakan yang nyata."
"Pemberontakan……"
Rest
tahu pangeran itu bodoh, tapi ia tidak menyangka kebodohannya sampai ke level
itu. Membangunkan monster, lalu mengibarkan bendera pemberontakan melawan
kerajaan sendiri.
"Tidak
ada artinya lagi menjalin pernikahan dengan beliau. Pembatalan
pertunangan sudah menjadi keputusan mutlak. Namun…… jika itu terjadi, aku akan kehilangan calon
suami."
"La-lalu……?"
"Bangsawan
tinggi yang usianya cocok denganku semuanya sudah menikah. Tidak ada yang
tersisa. Namun, bagi seorang putri Duke, menikah dengan bangsawan kelas bawah
juga akan menjadi masalah…… Karena itulah, pilihan jatuh padamu,
Rest-san."
Celestina menyipitkan matanya dengan jenaka, seolah
menikmati reaksi kebingungan Rest.
"Rest-san saat ini memang masih Viscount, tapi kelak
kau akan mewarisi keluarga Marquis Rosemary. Status sosial kita sudah sepadan.
Dengan mendapatkan sebagian Dataran Sabnock sebagai wilayah kekuasaan, posisimu
akan semakin meroket. Pihak kerajaan pun tidak bisa lagi mengabaikan
keberadaanmu."
Berhasil mengalahkan monster yang tak tersentuh siapa pun
sejak Kerajaan Aiwood didirikan—itu berarti seorang individu bernama Rest
memiliki nilai yang setara atau bahkan lebih besar dari seluruh pasukan
militer.
"Kerajaan
ingin mengikat Rest-san dengan cara apa pun. Cara
tercepat adalah melalui pernikahan, namun saat ini tidak ada putri raja yang
tersedia. Akulah yang memiliki hubungan darah paling dekat dengan keluarga
kerajaan dan usianya paling pas. Seorang putri yang tepat di waktu yang tepat
kehilangan tunangannya…… bukankah ini seperti takdir?"
"…………"
Rest benar-benar kehilangan kata-kata. Wajahnya memucat
lalu memerah, membeku dalam kebisuan yang panjang.
"Aku sendiri sebenarnya sudah lama merasa iri pada
Viola-san dan Primula-san. Jadi, secara politik maupun perasaan pribadi, ini
adalah kesempatan yang sangat disambut baik. Tentu saja, aku tidak akan
mengabaikan kalian berdua. Aku tidak keberatan hanya menjadi selir, jadi jangan
terlalu dipikirkan."
"Pu-putri Duke jadi selir…… ti-tidak, maksudku…… ueeh?"
Rentetan
kejadian yang terlalu luar biasa ini membuat Rest diserang rasa mual yang aneh.
Memiliki
tunangan secantik Viola dan Primula saja sudah merupakan kebahagiaan yang
berlebih, sekarang ditambah lagi dengan Yuri dan Celestina.
(Ti-tidak……
masih ada kesempatan. Ini belum keputusan final. Jika aku menolak dengan sopan
dan bilang ini terlalu berlebihan bagiku agar mereka tidak malu……)
"Sebagai
catatan…… masalah ini tidak hanya disetujui oleh Ibu Eilish, tapi juga ayahku Duke
Crocus, Marquis Rosemary, dan Baginda Raja sendiri. Marquis Catleya, ayah
Yuri-san, memang menolak…… tapi jika ini sudah menjadi titah raja, beliau tidak
akan bisa menggelengkan kepala."
"Guhak……"
Ternyata ia sudah dikepung. Parit pertahanannya telah
ditimbun habis dengan sempurna.
Jika Marquis Rosemary (calon ayah mertuanya), Perdana
Menteri Duke Crocus, bahkan Baginda Raja sudah memberi izin, maka itu sudah
menjadi keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.
"Rest-kun……
apa maksudnya ini!?"
"Rest-sama……
jelaskan pada kami!"
"Bukan……
ini bukan salahku, kan……?"
Viola dan Primula menatapnya dengan mata menyipit penuh
kecurigaan. Tapi Rest harus bagaimana? Dia benar-benar tidak punya kuasa untuk
melawan.
"Setelah ini, akan jadi seperti apa hidupku……?"
Rest mendongak ke arah langit, bergumam dengan perasaan
pasrah.
Entah diangkat menjadi Viscount atau mendapatkan tambahan
tunangan…… hidup harus tetap berjalan.
Terlahir dengan mana yang tak terbatas dan menjadi
pahlawan pembasmi monster, Rest sepertinya akan terus terjebak dalam berbagai
kekacauan di masa depan.
(Apakah ini yang namanya kebahagiaan, atau justru
kesialan…… yang mana ya, Ibu?)
Rest mencoba bertanya kepada mendiang ibunya di dalam hati, namun bayangan sang ibu dalam benaknya hanya tersenyum simpul dengan wajah yang seolah ikut bingung. Tidak ada jawaban yang diberikan.



Post a Comment