NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mugen no Majutsu Shi Maryoku Nashi de Heimin no Ko to Hakugai Sareta Ore ⁓ Jitsuha Mugen no Maryoku Mochi Volume 2 Epilog

Epilog

Pahlawan Sang Pembantai Demonic Beast


"Ugh…… aku…… ada di mana……?"

Pikiran pertama yang dirasakan Pangeran Ketiga Rodel Aiwood saat tersadar adalah rasa sakit yang menyiksa seluruh tubuhnya. Seluruh bagian tubuhnya terasa nyeri, seolah-olah sedang ditusuk oleh ribuan jarum.

"Di sini……?"

"Oh, Anda sudah sadar, Yang Mulia Rodel!"

"Kau…… Aiger?"

Rodel membelalakkan mata melihat sosok pria yang berada di samping tempat tidurnya.

Marquis Berlio Aiger. Bangsawan terkemuka dari 'Fraksi Ibu Suri' yang memuja nenek Rodel. Bagi Rodel, pria ini adalah sosok pelindungnya.

"Di mana…… ini?"

Rodel baru menyadari bahwa dia tertidur di sebuah ruangan yang asing.

Ruangannya sangat luas dengan ranjang besar. Setiap furnitur di sana adalah barang antik bernilai tinggi.

Lukisan dan pajangan yang terlalu mencolok menghiasi ruangan itu secara berlebihan, malah memberikan kesan selera yang buruk.

"Ini adalah kediamanku di wilayah Marquis Aiger. Aku membawamu ke sini selagi Yang Mulia tidak sadarkan diri."

"Membawaku…… kenapa?"

"Orang-orang di Ibu Kota…… Raja bodoh itu dan putra-putranya telah menetapkan Anda sebagai penjahat perang karena membangunkan monster Sabnock! Benar-benar penghinaan yang luar biasa terhadap calon raja masa depan yang diakui oleh Yang Mulia Ibu Suri!"

Marquis Aiger meradang. Melihat wajah yang terdistorsi buruk saat mengucapkan kata-kata itu, Rodel menyadari bahwa apa yang dialaminya bukanlah mimpi buruk.

(Benar. Aku menggunakan Monster Lure, lalu monster itu…… dan karena itu……!)

Mati. Para ajudannya. Dua orang yang memercayainya telah tiada. Mereka telah melayani Rodel sejak kecil, mereka adalah pelayan sekaligus sahabat karibnya.

(Gara-gara aku besar kepala…… gara-gara aku mengusik Sabnock, mereka……!)

Rodel mungkin manusia yang sombong dan bodoh, tapi dia tidaklah mati rasa sampai tidak merasakan apa pun saat temannya tewas.

Penyesalan yang hebat menyerangnya, membuat dadanya terasa sesak seolah mau hancur.

"Raja bodoh itu sepertinya sudah menyadari bahwa kami menyembunyikan Yang Mulia Rodel. Dia menuntut agar Anda diserahkan."

Tanpa menyadari penderitaan Rodel, Aiger terus bicara sendiri.

"Ini kesempatan bagus untuk menunjukkan kebodohan mereka. Sekalian saja kita angkat senjata dan hancurkan mereka semua!"

"Angkat senjata…… maksudmu, kau berniat memberontak!?"

Mendengar kata-kata yang tak terduga itu, Rodel langsung mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk.

"Aku tidak menginginkan kudeta! Berhenti melakukan hal bodoh!"

"Anda bilang hal bodoh…… tapi aku sudah memanggil kawan-kawan dari 'Fraksi Ibu Suri' dan mengumpulkan tentara. Sekarang, sudah tidak ada jalan untuk mundur lagi."

Aiger memiringkan kepala dengan heran seolah berkata, "Apa yang Anda bicarakan……"

"Lagipula, mereka yang meremehkan Yang Mulia Rodel—yang telah diakui oleh Ibu Suri—adalah pihak yang bersalah. Ucapan Ibu Suri adalah mutlak. Orang yang membangkang harus dihukum. Raja bodoh itu, putra mahkota palsu, dan bangsawan yang melawan, semuanya harus dibantai!"

"…………!"

Rodel merasa ketakutan dari lubuk hatinya melihat Aiger berbicara seolah itu adalah kebenaran yang lumrah. Mata Aiger tidak menunjukkan keraguan sedikit pun; itu adalah mata seorang fanatik yang menganggap keyakinannya sebagai kebenaran dunia.

Selama ini dia tidak pernah mempermasalahkannya, tapi ternyata dia disokong oleh pria semengerikan ini sebagai pelindungnya.

"Perang akan segera dimulai. Saat itu tiba, aku ingin Yang Mulia Rodel menunjukkan kemampuan Anda sepenuhnya! Sampai saat itu, silakan istirahatkan tubuh Anda!"

"Ba-bagaimana bisa……"

Rodel merasa putus asa mendapati dirinya dijadikan simbol pemberontakan. Bahkan orang bodoh sepertinya pun paham bahwa tindakan Aiger sangat ceroboh dan nekat.

"Apa yang akan…… terjadi padaku……?"

Karena kasus memicu monster Sabnock, Rodel sudah menjadi buronan. Merasakan situasi yang tidak bisa diputar balik lagi, Rodel gemetar hebat hingga ke tulang sumsumnya.

Pembasmian monster Sabnock. Setelah menuntaskan pencapaian luar biasa yang belum pernah diraih siapa pun, Rest kembali ke pintu masuk dataran.

Di sana, pertempuran antara pengajar akademi, ksatria, dan penyihir istana melawan para monster baru saja usai.

Meski terjadi stampede dan monster menyerbu pintu masuk, jumlahnya tidak terlalu banyak karena Rest sudah sempat memangkas sebagian besar dari mereka.

"Rest-kun, syukurlah kamu selamat!"

"Rest-sama, aku sangat mengkhawatirkanmu!"

Sambutan hangat dari Viola dan Primula menyongsong kedatangan Rest.

Sepertinya mereka sangat khawatir karena Rest tak kunjung kembali, hingga keduanya memeluknya sambil menangis.

"Syukurlah, benar-benar syukurlah……!"

"Kalau terjadi sesuatu padamu, aku……!"

"Ah—maaf, aku tadi sedikit memaksakan diri."

Rest menggaruk kepalanya dengan bingung sambil menjelaskan tentang pertarungannya melawan Sabnock.

Awalnya mereka berdua terkejut hingga kehilangan kata-kata, namun setelah itu, badai omelan karena kenekatannya pun menerjang.

Ujung-ujungnya, mereka kembali menangis sambil memukul-mukul dada Rest dengan gemas.

"Ooh, Rest! Kamu sudah kembali!"

"Rest-san, syukurlah Anda juga selamat."

Yuri dan Celestina juga datang menyusul dan ikut bersyukur atas keselamatan Rest.

Baju Yuri berlumuran darah, membuat Rest terkejut. Namun, sepertinya dia juga ikut bertarung melawan monster yang menyerbu pintu masuk.

Celestina menceritakan dengan wajah pucat bahwa Yuri menendang monster-monster itu hingga mati sambil bermandikan darah musuh.

Setelah dibantu mereka berdua untuk menenangkan kakak-beradik itu, Rest melaporkan kemenangannya atas Sabnock kepada pengajar akademi.

Namun, tidak seperti si kembar, tidak ada yang memercayai perkataan Rest.

Meski begitu, berkat jaminan dari Albert—ayah Viola dan Primula—tim investigasi akhirnya dikirim untuk memastikan kebenaran klaim Rest.

Ketika tim investigasi yang terdiri dari Ksatria Pengawal dan Penyihir Istana melangkah ke pedalaman dataran, mereka menemukan bangkai Sabnock tergeletak di sana.

Seketika, posisi Rest berbalik dari "pembohong" menjadi "pahlawan" yang dipuja-puji.

Dia telah meraih prestasi yang gagal dilakukan oleh banyak penguasa di masa lalu. Dengan hilangnya Sabnock, Kerajaan Aiwood memperoleh lahan yang luas dan subur.

Kerajaan Aiwood akan semakin makmur setelah membersihkan sisa monster dan membuka lahan tersebut. Rest pun dipanggil ke istana untuk menerima penghargaan.

"Rest, abdi keluarga Marquis Rosemary. Aku memberimu gelar 'Viscount'!"

Ini pertama kalinya Rest mengunjungi istana kerajaan, dan pertama kalinya dia bertemu Raja yang mengumumkan hal tersebut.

Rest berlutut di hadapan Raja dan menundukkan kepalanya dengan hormat.

"Hamba sangat berterima kasih atas anugerah ini…… Semoga tangan kanan hamba menjadi pedang kerajaan, dan tangan kiri hamba menjadi perisai kerajaan. Hamba berjanji akan setia seumur hidup."

"Kesetiaan itu kuterima sepenuhnya. Kuberikan pedang pusaka ini padamu."

Setelah Rest mengucapkan kalimat formal yang sudah diajarkan sebelumnya, Raja menjulurkan pedang yang berada di dalam sarungnya.

Tetap dengan kepala menunduk, Rest menerima pedang pusaka dengan desain yang rumit dan indah itu.

(Tak kusangka aku benar-benar jadi bagian dari kaum bangsawan…… Yah, karena rencananya aku akan masuk ke keluarga Marquis Rosemary, memang sudah sewajarnya sih……)

Sebagai hadiah pembasmian Sabnock, Rest diangkat menjadi 'Viscount'. Meski dia menjadi kepala keluarga bangsawan yang berbeda dari keluarga Rosemary, bukan berarti pernikahannya dengan Viola atau Primula batal.

Bagi bangsawan besar, memiliki beberapa gelar bukanlah hal yang aneh.

Itu hanya berarti posisi dan aset keluarga yang bisa diwariskan kepada anak-anaknya kelak menjadi bertambah.

Penghargaan yang diberikan bukan hanya gelar. Sebagian dari dataran yang kini bebas dari Sabnock akan menjadi wilayah kekuasaan Rest.

(Awalnya aku ingin naik ke puncak untuk membuktikan diri pada ayah yang beracun dan kakak yang menindasku…… tapi tanpa sadar, aku sudah melampaui mereka sangat jauh.)

Sambil menggenggam pedang pusaka yang merupakan simbol bangsawan dari Raja, Rest mengenang hari-hari yang telah dia lalui.

Masa-masa tenang saat tinggal bersama ibunya, lalu kehidupan seperti neraka setelah dibawa oleh ayahnya saat sang ibu wafat.

Dan kemudian…… hari-hari yang penuh makna setelah diambil oleh keluarga Marquis Rosemary. Dia bisa bersekolah di akademi, mendapatkan banyak ilmu, dan juga teman.

(Alasanku bisa mendapatkan kebahagiaan ini bukan hanya karena mana yang tak terbatas. Tapi karena pada hari itu, di hutan itu, aku bertemu dengan mereka……)

"Rest-kun, selamat ya!"

"Rest-sama, selamat atas gelarnya!"

Setelah selesai dengan urusan penobatan dan mundur dari hadapan Raja, tunangannya, Viola dan Primula, berlari menghampiri.

Saat Rest kembali setelah mengalahkan Sabnock, mereka menangis marah karena khawatir, namun kini mereka merayakan keberhasilan Rest dengan senyum yang bersinar.

"Terima kasih, kalian berdua."

Rest mengungkapkan rasa terima kasih yang tulus, mencakup semua hal yang telah terjadi selama ini.

Kakak-beradik itu tampak heran dengan ucapan terima kasih yang begitu penuh perasaan, namun mereka segera tersenyum kembali.

"Mendapatkan gelar bangsawan saat masih menjadi pelajar adalah pencapaian yang bahkan Ayah pun tidak bisa melakukannya."

"Aku sangat bangga. Rest-sama memang orang yang luar biasa."

"Itu karena aku beruntung. Ini bukan murni hasil usahaku sendiri."

Itu bukan sekadar rendah hati. Kemenangan Rest atas Sabnock juga berkat bantuan Lubace. Jika Lubace tidak memancing monster-monster kecil, mungkin Rest sudah kalah.

(Dia juga diangkat jadi Baron, ya…… sepertinya dia kesal karena gelarnya satu tingkat di bawahku.)

Rest tersenyum kecut saat mengingat wajah cemberut teman barunya itu.

"Rest-kun, sepertinya akan ada pesta di istana. Ayo kita ke aula."

"Ayah dan Ibu sepertinya juga sudah ada di sana."

"Ah, kalau begitu kita tidak boleh terlambat. Ayo cepat."

Rest menyarungkan pedang pusakanya ke sabuk di pinggang dan hendak menuju aula pesta di dalam istana. Namun, di sana ada seseorang yang memanggil mereka bertiga.

"Rest! Pembicaraanmu dengan Baginda sudah selesai ya. Aku sudah menunggu!"

"Rest-san, selamat atas kerja kerasnya."

Suara ceria yang polos dan suara tenang yang lembut itu masing-masing berasal dari teman akademi mereka, Yuri dan Celestina.

"Ah, kalian berdua. Ada apa?"

"Ada yang ingin kubicarakan, dengarkan ya!"

"Wah!"

Yuri tiba-tiba menerjang dan memeluk lengan Rest. Kejadian mendadak itu membuat Rest tertegun dan membelalakkan mata.

"A-ada apa sih? Tiba-tiba begini……"

"Aku baru menyadarinya…… sepertinya, aku menyukai Rest!"

"Ha……?"

"Karena itu, mulai sekarang aku akan berusaha keras untuk menjadi istri Rest. Mohon bantuannya ya!"

"""HAAAHHHH—!?"""

Pernyataan bom itu mendadak terlontar dari mulut Yuri. Tentu saja Rest terkejut, begitu pula Viola dan Primula yang berteriak dengan suara melengking.

"Tunggu dulu Yuri! Apa maksudnya ini!?"

"Benar! Ini terlalu mendadak!"

Viola dan Primula langsung mendesak Yuri sebagai ganti Rest. Namun, Yuri tersenyum lebar tanpa merasa bersalah sedikit pun saat menjelaskan.

"Sebenarnya, aku sudah sejak lama mencari calon suami yang hebat. Almarhumah ibuku pernah berpesan, 'Jadilah bahagia bersama pria yang hebat'. Aku sudah tertarik pada Rest sejak awal bertemu, dan sempat berpikir betapa bagusnya jika pria seperti ini jadi suamiku!"

"Be-begitu ya……?"

Otot wajah Rest berkedut antara merasa malu, takut, bingung, dan tidak tahu harus merespons bagaimana.

"Tapi, karena Rest sudah punya Viola dan Primula, kupikir tidak ada celah bagiku…… Tapi tadi aku bertemu ibu kalian dan beliau bilang, 'Kalau kau mau, bagaimana kalau kau ikut masuk sebagai selir?' begitu."

"I-ibu……"

"Bisa-bisanya beliau……"

"Hei…… bahaya!"

Viola dan Primula tampak lunglai seolah pusing mendadak. Rest buru-buru merangkul bahu mereka berdua untuk menyokongnya.

Karena Yuri masih memeluk lengannya, posisi mereka berempat menjadi sangat rapat dan canggung.

"Kalau Ibu sih memang mungkin saja melakukan itu…… beliau sempat bilang akan menyuruh Rest mencari gundik."

"Beliau bilang karena Rest penyihir hebat, beliau akan menyuruhnya punya banyak anak…… ternyata beliau serius."

"Eh…… benarkah?"

Kakak-beradik itu mengatakan hal yang mengerikan dengan wajah pasrah. Ini pertama kalinya Rest mendengar hal itu.

Tak disangka pembicaraan semacam itu sudah muncul di bawah permukaan tanpa sepengetahuannya.

Ibu dari kakak-beradik itu, Eilish Rosemary, adalah seorang wanita perkasa yang hanya mengandalkan otot.

Dia adalah salah satu orang terkuat di kerajaan sekaligus seorang patriot sayap kanan dengan pemikiran yang sangat ekstrem.

Dia juga yang mengambil keputusan akhir untuk menikahkan kedua putrinya dengan Rest.

(Kalau orang itu yang menyuruh…… hal itu benar-benar bisa jadi kenyataan……?)

"Kalau aku jadi istri Rest, kita bisa terus bersama bahkan setelah lulus, kan? Bersama Viola dan Primula juga. Bukankah itu sangat menyenangkan?"




Yuri masih menunjukkan senyum polos yang terpancar dari wajahnya yang tanpa dosa.

Sama sekali tidak ada niat buruk untuk merebut tunangan temannya atau melakukan perselingkuhan.

Motivasinya murni hanya karena "ingin terus bersama teman-teman yang baik," dan itulah alasan ia begitu saja setuju dengan usulan Eilish.

"Bisa-bisanya Ibu membujuk Yuri untuk jadi selir…… aku merasa seperti ditusuk dari belakang," keluh Viola.

"Maaf karena harus mengatakannya saat kalian sedang syok, tapi bolehkah aku juga bicara?" potong Celestina sambil mengangkat tangan.

"Celestina……?"

Meskipun sisa guncangan dari pernyataan Yuri belum hilang, Celestina tetap melanjutkan dengan tenang.

"Sepertinya aku juga akan masuk sebagai selir Rest-san. Mohon bantuannya ya."

"""HAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH—!?"""

Teriakan Rest dan kakak-beradik Rosemary kali ini jauh lebih kencang dari sebelumnya.

Viola dan Primula tampak seperti hampir pingsan di tempat. Sambil memegangi mereka, Rest bertanya dengan gemetar.

"Ke-kenapa jadi begini…… Nona Celestina bukankah sudah punya tunangan……?"

"Sejujurnya…… sepertinya pertunanganku dengan Yang Mulia Rodel akan dibatalkan."

"Dibatalkan……?"

"Nanti Baginda Raja akan mengumumkannya secara resmi, tapi…… dalang di balik kejadian ini, yang memicu kemarahan Sabnock hingga menyebabkan stampede, adalah Yang Mulia Rodel."

"Kh……!"

Rest membelalakkan matanya mendengar bisikan informasi tersebut.

"Yang Mulia Rodel…… kenapa beliau melakukan hal itu……?"

"Entahlah…… aku tidak tahu alasannya, tapi Yang Mulia telah melarikan diri ke kediaman Marquis Aiger dan mulai mengumpulkan tentara. Itu adalah tanda-tanda pemberontakan yang nyata."

"Pemberontakan……"

Rest tahu pangeran itu bodoh, tapi ia tidak menyangka kebodohannya sampai ke level itu. Membangunkan monster, lalu mengibarkan bendera pemberontakan melawan kerajaan sendiri.

"Tidak ada artinya lagi menjalin pernikahan dengan beliau. Pembatalan pertunangan sudah menjadi keputusan mutlak. Namun…… jika itu terjadi, aku akan kehilangan calon suami."

"La-lalu……?"

"Bangsawan tinggi yang usianya cocok denganku semuanya sudah menikah. Tidak ada yang tersisa. Namun, bagi seorang putri Duke, menikah dengan bangsawan kelas bawah juga akan menjadi masalah…… Karena itulah, pilihan jatuh padamu, Rest-san."

Celestina menyipitkan matanya dengan jenaka, seolah menikmati reaksi kebingungan Rest.

"Rest-san saat ini memang masih Viscount, tapi kelak kau akan mewarisi keluarga Marquis Rosemary. Status sosial kita sudah sepadan. Dengan mendapatkan sebagian Dataran Sabnock sebagai wilayah kekuasaan, posisimu akan semakin meroket. Pihak kerajaan pun tidak bisa lagi mengabaikan keberadaanmu."

Berhasil mengalahkan monster yang tak tersentuh siapa pun sejak Kerajaan Aiwood didirikan—itu berarti seorang individu bernama Rest memiliki nilai yang setara atau bahkan lebih besar dari seluruh pasukan militer.

"Kerajaan ingin mengikat Rest-san dengan cara apa pun. Cara tercepat adalah melalui pernikahan, namun saat ini tidak ada putri raja yang tersedia. Akulah yang memiliki hubungan darah paling dekat dengan keluarga kerajaan dan usianya paling pas. Seorang putri yang tepat di waktu yang tepat kehilangan tunangannya…… bukankah ini seperti takdir?"

"…………"

Rest benar-benar kehilangan kata-kata. Wajahnya memucat lalu memerah, membeku dalam kebisuan yang panjang.

"Aku sendiri sebenarnya sudah lama merasa iri pada Viola-san dan Primula-san. Jadi, secara politik maupun perasaan pribadi, ini adalah kesempatan yang sangat disambut baik. Tentu saja, aku tidak akan mengabaikan kalian berdua. Aku tidak keberatan hanya menjadi selir, jadi jangan terlalu dipikirkan."

"Pu-putri Duke jadi selir…… ti-tidak, maksudku…… ueeh?"

Rentetan kejadian yang terlalu luar biasa ini membuat Rest diserang rasa mual yang aneh.

Memiliki tunangan secantik Viola dan Primula saja sudah merupakan kebahagiaan yang berlebih, sekarang ditambah lagi dengan Yuri dan Celestina.

(Ti-tidak…… masih ada kesempatan. Ini belum keputusan final. Jika aku menolak dengan sopan dan bilang ini terlalu berlebihan bagiku agar mereka tidak malu……)

"Sebagai catatan…… masalah ini tidak hanya disetujui oleh Ibu Eilish, tapi juga ayahku Duke Crocus, Marquis Rosemary, dan Baginda Raja sendiri. Marquis Catleya, ayah Yuri-san, memang menolak…… tapi jika ini sudah menjadi titah raja, beliau tidak akan bisa menggelengkan kepala."

"Guhak……"

Ternyata ia sudah dikepung. Parit pertahanannya telah ditimbun habis dengan sempurna.

Jika Marquis Rosemary (calon ayah mertuanya), Perdana Menteri Duke Crocus, bahkan Baginda Raja sudah memberi izin, maka itu sudah menjadi keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.

"Rest-kun…… apa maksudnya ini!?"

"Rest-sama…… jelaskan pada kami!"

"Bukan…… ini bukan salahku, kan……?"

Viola dan Primula menatapnya dengan mata menyipit penuh kecurigaan. Tapi Rest harus bagaimana? Dia benar-benar tidak punya kuasa untuk melawan.

"Setelah ini, akan jadi seperti apa hidupku……?"

Rest mendongak ke arah langit, bergumam dengan perasaan pasrah.

Entah diangkat menjadi Viscount atau mendapatkan tambahan tunangan…… hidup harus tetap berjalan.

Terlahir dengan mana yang tak terbatas dan menjadi pahlawan pembasmi monster, Rest sepertinya akan terus terjebak dalam berbagai kekacauan di masa depan.

(Apakah ini yang namanya kebahagiaan, atau justru kesialan…… yang mana ya, Ibu?)

Rest mencoba bertanya kepada mendiang ibunya di dalam hati, namun bayangan sang ibu dalam benaknya hanya tersenyum simpul dengan wajah yang seolah ikut bingung. Tidak ada jawaban yang diberikan.





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close