NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mugen no Majutsu Shi Maryoku Nashi de Heimin no Ko to Hakugai Sareta Ore ⁓ Jitsuha Mugen no Maryoku Mochi Volume 2 Chapter 1

Chapter 1

Pendaftaran Akademi


Akhirnya, hari pendaftaran ke Akademi Kerajaan pun tiba.

Rest naik ke dalam kereta kuda bersama Viola dan Primula, menuju Akademi Kerajaan. Rest duduk di salah satu sisi kursi, sementara si kembar duduk berhadapan dengannya.

Ketiganya mengenakan blazer standar akademi, memberikan kesan segar yang berbeda dari biasanya.

"Rasanya seperti mimpi, mulai hari ini aku bisa pergi ke sekolah yang sama dengan Rest-kun."

"Bukannya itu hal biasa? Lagipula, kita kan tinggal di rumah yang sama."

Rest tersenyum kecut menanggapi Viola yang berbicara dengan nada riang. Mereka tinggal di kediaman yang sama dan menghabiskan waktu bersama hampir sepanjang hari. Baginya, ini bukan hal yang perlu diributkan lagi.

"Ini masalah perasaan, Rest-sama."

Primula menimpali ucapan kakaknya. Meski tidak sejelas Viola, Primula juga tampak sangat bersemangat.

"Begitukah? Aku kurang mengerti, sih……"

"Repot juga ya, kalau laki-laki tidak peka begini."

"Kakak benar. Daripada itu, Rest-sama, apa tidak ada yang ingin Anda katakan kepada kami?"

"Iya kan, Rest-kun?"

Viola dan Primula sedikit merentangkan tangan, seolah memamerkan penampilan mereka. Keduanya mengenakan blus putih dan blazer, dengan pita yang menghiasi leher mereka.

Rest menghela napas pendek, lalu mengucapkan kata-kata yang mereka inginkan.

"Sangat cocok untuk kalian. Kalian berdua cantik sekali."

"Yap, pintar sekali."

"Aku senang mendengarnya. Rest-sama juga terlihat cocok memakainya."

"Bukankah saat mencoba seragam ini dulu, aku sudah memberikan komentarku? Mau sampai berapa kali kita mengulang percakapan ini?"

Ini bukan pertama kalinya ia melihat mereka mengenakan seragam tersebut. Mereka sudah mencobanya beberapa kali, dan setiap kali pula Rest dimintai pendapatnya.

"Ini juga masalah perasaan! Siapa pun pasti ingin dipuji berulang kali oleh orang yang disukainya, kan!"

"Kakak benar. Kami tidak akan pernah bosan mendengarnya, sesering apa pun Anda mengatakannya."

"Jadi begitu ya……"

""Begitulah!""

Si kembar menegaskan secara bersamaan. Rest tidak punya pengalaman berkencan dengan perempuan di kehidupan sebelumnya... namun sepertinya memang begitulah kenyataannya.

Bagaimanapun juga, pujiannya tadi bukanlah sekadar basa-basi. Seragam blazer itu seolah dirancang khusus untuk mereka, sangat serasi dan semakin menonjolkan keimutan mereka berdua.

(Gadis berseragam…… di kehidupan sebelumnya, itu bukan pemandangan yang langka, sih……)

Rest adalah seorang reinkarnator. Di kehidupan sebelumnya, ia adalah seorang siswa SMA di Jepang.

Seharusnya ia sudah terbiasa melihat gadis berseragam... namun mungkin karena mereka sudah lama bersama, atau karena secara resmi mereka adalah tunangannya.

Seragam mereka berdua terasa sangat segar, dan meski terdengar berlebihan, pemandangan itu terasa sangat berkesan hingga terpatri di matanya.

(Dibandingkan mereka, penampilanku sendiri……)

Rest tersenyum kecut sambil menunduk melihat seragamnya sendiri. Seragam putra. Hanya desain serupa yang mengganti pita menjadi dasi dan rok menjadi celana panjang.

Saat Rest yang memakainya, entah kenapa terlihat kaku. Ia tidak bisa menghilangkan kesan bahwa seragam itu justru yang memakai dirinya.

(Karena aku sudah terlalu lama hidup sebagai rakyat jelata…… sampai sekarang aku masih belum terbiasa memakai pakaian mahal.)

"Ada apa, Rest-kun?"

"Tidak…… bukan apa-apa."

"Hmm? Kalau dipikir-pikir…… tinggi badan Rest-kun sudah bertambah banyak, ya."

Viola berucap seolah baru teringat. Mendengar kata-kata kakaknya, Primula juga menangkupkan kedua tangannya.

"Ah, aku juga berpikir begitu! Dibandingkan saat pertama kali datang ke kediaman, tingginya sudah bertambah sekitar sepuluh sentimeter, kan?"

"Benarkah? Aku sendiri tidak menyadarinya……?"

Kalau dipikir-pikir, celananya sempat terasa kekecilan sehingga ia harus membeli beberapa potong yang baru.

Pertumbuhan pesat dalam waktu singkat ini kemungkinan besar berkat asupan gizi di kediaman Marquis Rosemary.

Di kediaman lamanya, keluarga Honorary Viscount Eberne, ia tidak diberi makanan yang cukup. Ia dipaksa merangkak seperti anjing untuk memakan sisa makanan, dan jika bukan karena bantuan pelayan, mungkin ia sudah mati kelaparan.

Dalam dua tahun terakhir, tinggi badannya bertambah, dan tubuhnya yang dulu kurus kini menjadi lebih atletis dan berotot. Perbedaan tinggi badannya dengan si kembar pun menjadi semakin lebar.

"Mungkin tinggimu masih akan bertambah lagi. Rasanya sedikit menyebalkan."

"Kakak, seorang pria memang sebaiknya sedikit lebih tinggi dari wanita yang ia dampingi. Aku sendiri tidak masalah, tapi nanti akan merepotkan saat memakai sepatu hak tinggi."

"Ah, benar juga! Kalau dipikir-pikir, jika kita memakai hak tinggi lalu menjadi lebih tinggi darinya, itu akan membuatnya malu!"

Si kembar tampak asyik mengobrol sendiri. Topik yang rasanya sulit untuk Rest ikuti. Ia pun mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

"……Lho?"

Tiba-tiba…… sebuah pemandangan aneh tertangkap matanya. Seorang gadis berambut merah pendek berlari kencang di samping kereta kuda, dikejar oleh para ksatria berbaju zirah.

"Mohon tunggu! Yuri Ojou-samaaaaaaaa!"

"Kembalilah ke kediaman…… Mohon berhentiiiiiiii!"

"Sudah kubilang aku tidak akan kembali ke rumah! Sampaikan saja itu pada ayah dan kakakku!"

"Tungguuuuuuuuuuu!"

Gadis yang tak asing itu mengenakan seragam yang sama dengan si kembar. Ia berlari dengan kecepatan luar biasa melintasi jalanan ibu kota, meninggalkan para ksatria yang menunggang kuda di belakangnya.

"……"

"Ada apa, Rest-sama?"

"Tidak…… tidak ada apa-apa."

Sepertinya, "dia" juga berhasil lulus ujian. Rest mendongak ke arah langit yang cerah dengan ekspresi bingung, seolah meramalkan bahwa kehidupan akademinya ke depan akan menjadi sangat berisik.

Kereta kuda tiba di Akademi Kerajaan, tempat yang juga mereka datangi saat ujian masuk. Rest turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Viola dan Primula turun dari kereta.

Di depan gerbang sekolah, banyak siswa laki-laki dan perempuan berseragam yang berjalan masuk. Pohon yang mirip sakura di samping gerbang menjatuhkan kelopak bunga putihnya.

"Bukankah itu…… milik keluarga Marquis Rosemary?"

"Ya, itu si kembar cantik yang sering dibicarakan."

"Siapa pria yang bersama mereka? Pelayannya?"

Melihat si kembar Rosemary turun dari kereta, suasana di antara murid-murid di gerbang sekolah menjadi gaduh. Mereka menghela napas kagum melihat kecantikan Viola dan Primula, lalu menatap Rest dengan pandangan curiga.

"Mungkin pacarnya?"

"Mana mungkin. Paling-paling pelayan atau pengawal."

(Ah—…… aku memang terlihat tidak cocok berada di sini. Ya.)

Rest setuju dalam hati dengan suara bisikan para murid itu. Ia sangat sadar bahwa dirinya tidak sebanding dengan si kembar.

Antara si kembar yang merupakan bangsawan tinggi, dengan Rest yang hanya anak dari bangsawan kehormatan (hanya nama) dan rakyat jelata, aura yang mereka pancarkan sejak lahir sudah berbeda.

"Ayo, mari kita pergi."

"Mohon bantuannya untuk mengawal kami ya."

"O-Oh……"

Namun, tanpa memedulikan suara-suara di sekitar, Viola dan Primula merangkul lengan kiri dan kanan Rest. Akhirnya, Rest harus berjalan dengan lengan yang digandeng oleh si kembar.

"Apa……!"

"Y-Yang benar saja……?"

Kegaduhan di sekitar semakin menjadi-jadi. Jarak sedekat ini tidak mungkin dilakukan oleh pelayan atau pengawal. Kedekatan seperti itu hanya bisa dilakukan oleh keluarga, atau jika bukan, oleh tunangan.

"Tegakkan kepalamu, Rest-kun. Kamu adalah tunangan kami, tahu!"

"Tolong jangan buat kami malu, Rest-sama."

"……!"

Dibisiki oleh si kembar, Rest langsung membelalakkan matanya. Jika ia berjalan dengan bahu merosot karena merasa rendah diri, ia justru akan membuat kedua tunangannya malu.

(Gawat…… Aku harus bersikap gagah agar tidak diremehkan orang lain dan menjaga martabat mereka……!)

Tidak boleh dibiarkan ia merasa rendah diri dan membuat tunangannya merasa sungkan. Rest menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya, dan menegakkan punggungnya dengan mantap.

Sambil menggandeng kedua lengan si kembar, ia berjalan menuju gedung sekolah dengan langkah penuh percaya diri.

‘Mereka ini gadisku, ada masalah?’

"Ugh……"

Melihat sosok berwibawa Rest yang seolah memamerkan posisinya, kerumunan siswa yang tadi memandangnya rendah kini membukakan jalan. Ketiganya berjalan dengan tenang melewati jalan yang terbuka itu menuju aula tempat upacara pendaftaran diadakan.

"Bagus sekali, Rest-kun. Teruslah seperti itu!"

"Anda terlihat sangat keren, Rest-sama."




Kedua saudari itu memujiku dengan suara pelan yang hanya bisa kudengar.

"Sejujurnya... aku merasa sangat canggung. Rasanya aku benar-benar salah tempat di sini..."

"Wibawa bangsawan itu cuma masalah penampilan. Kalau kamu merasa pantas dipandang tinggi oleh orang-orang, wibawa itu akan muncul dengan sendirinya."

"Rest-sama adalah tunangan kami, jadi kamu boleh jauh lebih percaya diri. Ayo, tetap tegakkan dadamu seperti itu."

"……Baiklah."

Rest melangkah menuju aula besar dengan menggandeng si kembar di kedua lengannya. Di dalam aula, barisan kursi sudah tertata rapi. Karena tidak ada aturan tempat duduk yang kaku, mereka bertiga memilih duduk berjajar di kursi bagian tengah yang dekat dengan pintu masuk.

"Jadi, setelah ini upacara pendaftarannya..."

"Iya. Kudengar Kepala Sekolah akan memberi sambutan, lalu perwakilan siswa baru dengan nilai tertinggi akan menyampaikan pidato."

"Perwakilan nilai tertinggi dari Departemen Sihir yang kita masuki kabarnya adalah putri dari keluarga Duke Crocus."

Rest mengenal nama keluarga Duke Crocus. Sebagai bagian dari pendidikannya untuk menjadi menantu di keluarga Marquis, ia sudah mempelajari tentang keluarga-keluarga bangsawan utama.

Duke Crocus adalah Perdana Menteri saat ini, sekaligus orang kepercayaan raja yang paling dekat. Beliau adalah bangsawan agung yang bertahta di puncak konstelasi politik.

Kedudukannya lebih tinggi daripada Marquis Rosemary yang menjabat sebagai Kepala Penyihir Istana, maupun Marquis Katreia sang Komandan Ksatria.

Ia adalah bangsawan utama yang posisinya hanya bisa disetarakan dengan keluarga kerajaan.

Tak lama kemudian, kursi-kursi di aula mulai terisi penuh, dan upacara pun dimulai.

Seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas muncul di atas panggung di ujung aula, suaranya menggema ke seluruh ruangan berkat sihir pengeras suara.

"Hadirin sekalian, harap tenang! Dengan ini, Upacara Pendaftaran Akademi Kerajaan ke-65 resmi dimulai!"

Mendengar suara pria yang tampaknya adalah seorang pengajar tersebut, kegaduhan di aula seketika lenyap. Rest dan si kembar pun berhenti bicara dan mengalihkan pandangan ke panggung.

"Selanjutnya, sambutan dari Kepala Sekolah. Semuanya, harap berdiri!"

Seluruh siswa baru berdiri serentak. Atas isyarat dari pengajar paruh baya tadi, Kepala Sekolah Verloid Hahn muncul dengan pembawaan yang agung.

"Para siswa baru sekalian. Pertama-tama, selamat atas kelulusan kalian."

Kepala Sekolah berdiri di podium dan membuka bicara dengan ekspresi lembut.

"Kalian telah resmi masuk ke Akademi Kerajaan, institusi pendidikan terbesar di Kerajaan Eyewood. Di sini, kalian akan menimba banyak pengalaman, menyerap ilmu dan kekuatan, hingga akhirnya mengepakkan sayap ke dunia luar. Menjalani kehidupan sekolah tanpa penyesalan... memang terdengar sulit, namun aku berharap kalian bisa melewatkan masa muda yang bisa kalian kenang sambil tertawa bersama teman-teman saat dewasa nanti."

(Kehidupan sekolah tanpa penyesalan... Memang sulit, ya.)

Rest tahu betul betapa sukarnya hal yang terdengar sederhana itu. Di kehidupan sebelumnya, Rest adalah seorang pelajar kurang mampu yang tidak beruntung soal orang tua.

Ia belajar mati-matian demi beasiswa, bekerja paruh waktu demi biaya sekolah... namun tanpa sempat menikmati masa SMA-nya, ia tewas ditikam oleh ayahnya sendiri setelah bertengkar soal uang sekolah. Tentu saja ia tidak punya pacar, tidak ikut klub, bahkan teman yang bisa dipanggil sahabat pun hampir tidak ada.

(Masa mudaku di kehidupan sebelumnya sama sekali tidak berkesan... tapi karena sudah terlahir kembali, aku ingin mencari banyak teman di sekolah kali ini dan tertawa bersama mereka.)

"Baiklah, sekian dariku. Semoga kalian mendapatkan kehidupan sekolah yang berkesan."

"Terima kasih, Kepala Sekolah. Selanjutnya adalah pidato dari perwakilan siswa dengan nilai tertinggi."

Sambutan Kepala Sekolah berakhir. Berikutnya adalah pidato dari siswa terbaik di angkatan mereka.

Atas arahan guru paruh baya tadi, lima orang pemuda-pemudi muncul di atas panggung. Mereka adalah perwakilan dari Departemen Sihir, Departemen Ksatria, Departemen Administrasi, Departemen Kependetaan, dan Departemen Seni.

"Pertama-tama, perwakilan dari Departemen Sihir, Celestine Crocus-san."

"Baik."

Gadis cantik dengan rambut platinum dan mata hijau melangkah maju terlebih dahulu.

(Jadi itu dia... putri dari keluarga Duke Crocus yang merupakan bangsawan utama...)

Gadis yang mahsyur karena kecantikan dan kecerdasannya itu memiliki paras yang tak kalah menawan dibanding si kembar Rosemary. Ditambah dengan bakat sihir dan kecerdasan yang luar biasa, ia sering dijuluki sebagai "Karya Seni Tuhan yang Sempurna".

"Hadirin sekalian, nama saya Celestine Crocus dari Departemen Sihir."

Di atas panggung, Celestine mengangkat sedikit ujung roknya dan membungkuk, lalu memulai pidatonya dengan nada bicara yang sangat lancar.

"Saya merasa sangat terhormat bisa masuk ke akademi yang mulia ini, dan mendapatkan penghargaan luar biasa sebagai lulusan terbaik. Meski saya merasa tidak pantas, saya akan berusaha keras dalam studi agar bisa menjadi panutan bagi rekan-rekan sekalian di akademi ini."

(Heh... luar biasa juga...)

Rest merasa kagum melihat Celestine yang berbicara dengan penuh percaya diri di bawah tatapan ribuan mata.

Bagi seorang gadis remaja, berbicara semantap itu di depan umum... setidaknya bagi Rest di kehidupan sebelumnya, hal itu mustahil dilakukan.

Dengan pembawaan dan gaya bicara yang begitu terpoles, semua orang di ruangan itu—baik laki-laki maupun perempuan—menatap Celestine seolah tersihir oleh pesonanya.

(Usia mentalku memang lebih tua... tapi aku merasa harus menggunakan bahasa formal kepadanya. Keanggunan dan kharisma alaminya benar-benar gila. Hanya dengan berbicara saja dia sudah menunjukkan perbedaan kasta yang jauh, ini benar-benar tidak adil... eh?)

Saat sedang terpukau oleh kehadiran Celestine, tiba-tiba Rest mengernyitkan dahi. Di tengah kekaguman semua orang terhadap gadis di atas panggung itu, ia merasakan sebuah hawa yang tidak menyenangkan.

Berkat latihan dengan Deable, pelayan pribadinya yang juga guru sihirnya, Rest selalu mengaktifkan sihir Life Search. Radar pendeteksinya menangkap sinyal bahwa seseorang sedang mencoba merapal sihir.

(Sihir di tengah upacara!? Apa tujuannya...!?)

Sebelum sempat menyusun rencana, seseorang benar-benar meluncurkan sihirnya. Mengandalkan insting pendeteksiannya, Rest segera menggunakan sihir pertahanan.

(Wind Wall!)

Sebuah dinding angin tercipta di udara, dan di sana, terdengar suara splat saat sebuah peluru lumpur meledak menghantamnya. Lumpur dalam jumlah besar berceceran di lantai.

Seseorang telah menggunakan sihir Mud Bullet. Sesuai namanya, itu adalah sihir serangan non-letal yang bertujuan untuk mengotori target dengan peluru lumpur.

"Eh?"

"Apa itu!?"

Viola dan Primula memekik di sisi kiri dan kanannya. Siswa baru lainnya juga terkejut dengan kejadian mendadak itu, bahkan ada yang sampai berdiri dari kursi mereka.

(Sepertinya tidak ada yang menyadari kalau aku yang menggunakan sihir pertahanan tadi... tapi tetap saja, Kepala Sekolah memang hebat.)

Rest mengalihkan pandangannya ke Kepala Sekolah yang berdiri di tepi panggung.

Meski Rest telah menahan peluru lumpur itu dengan dinding anginnya, ternyata di saat yang sama Kepala Sekolah juga menggunakan sihir pertahanan.

Sebuah pelindung transparan telah terbentang di depan gadis itu; bahkan jika Rest tidak berbuat apa-apa pun, Celestine tidak akan terkena dampaknya.

"……!"

Celestine Crocus yang menjadi target serangan membelalakkan matanya di atas panggung. Dia pasti sadar bahwa dirinya baru saja diincar oleh sihir. Kalimatnya terhenti dan ia tampak terpaku di tengah pidatonya.

(Peluru lumpur... siapa yang berani melakukan keisengan macam ini kepada seorang putri Duke?)

"Semuanya, harap tenang! Upacara sedang berlangsung! Harap tenang!"

Guru yang bertugas sebagai pembawa acara berteriak kencang menenangkan para siswa yang mulai gaduh.

"……Cih."

Di tengah keramaian itu, Rest mendengar suara decakan lidah seseorang dari barisan kursi belakang.

Meskipun sempat terjadi keributan, upacara pendaftaran akhirnya selesai dan para siswa diminta menuju ruang kelas masing-masing. Akademi Kerajaan menggunakan sistem tiga tahun, dengan gedung yang terpisah untuk tiap departemen.

Dari empat kelas yang ada (A sampai D), Rest dan si kembar ditempatkan di Kelas A. Pembagian kelas ini ditentukan berdasarkan hasil ujian masuk, dan Kelas A diisi oleh mereka yang mendapatkan nilai paling memuaskan.

Posisi ini tidak permanen hingga kelulusan; setiap akhir semester akan diadakan ujian untuk menentukan pembagian kelas baru, jadi mereka harus terus berusaha keras untuk tetap bertahan di Kelas A.

(Masa depan setelah lulus akan sangat berbeda tergantung apakah kamu berada di Kelas A atau Kelas D... aku harus berjuang agar tidak mempermalukan keluarga Marquis Rosemary.)

Rest saat ini sudah diputuskan akan menjadi menantu di keluarga Rosemary. Meski belum resmi terdaftar secara hukum, secara de facto ia sudah menjadi bagian dari keluarga tersebut. Jika sampai ia turun ke Kelas D, itu akan menjadi aib bagi keluarga Marquis.

(Setelah lulus, mungkin aku akan menjadi Penyihir Istana. Meski agak kesal karena harus seprofesi dengan ayahku, keluarga Rosemary adalah keluarga penyihir ternama. Sebagai menantu, aku harus punya posisi sebagai Penyihir Istana.)

"Ah, kelasnya di sini."

Primula menarik lengan Rest. Lantai dua gedung Departemen Sihir. Ruang kelas 1-A.

"Sepertinya tempat duduknya bebas. Ayo duduk di barisan depan."

Viola menunjuk kursi yang masih kosong. Sama seperti saat upacara, Rest dan si kembar Rosemary duduk berjajar di meja yang sama.

"Fuu... tapi sebenarnya, kejadian di upacara tadi itu apa ya?"

"Sepertinya ada yang menembakkan sihir... itu, ke arah Celestine-sama."

Topik pembicaraan mereka tentu saja mengenai insiden tadi. Celestine Crocus, sang perwakilan Departemen Sihir, diserang sihir saat sedang berpidato. Meski itu sihir non-letal, tetap saja itu merupakan masalah serius.

Karena ada tamu undangan dan upacara tidak bisa dihentikan begitu saja, pencarian pelaku tidak dilakukan saat itu juga. Namun, mengincar putri seorang Duke adalah perkara besar.

"Anu... Rest-sama, apa Anda yang menahan sihir lumpur tadi?"

Primula bertanya dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh orang di sekitar.

"Ah... ternyata ketahuan, ya?"

"Ah, dugaanku benar. Sepertinya selain aku dan Primula, tidak ada yang menyadarinya."

Ternyata bukan hanya Primula, Viola pun menyadarinya.

"Hanya Rest-kun yang sanggup menggunakan sihir pertahanan secepat itu secara refleks."

"Bagi Rest-sama, itu hal yang wajar, kan? Aku dan Kakak bahkan tidak sempat bereaksi apa-apa."

"Kalian terlalu berlebihan. Tanpa aku pun, Kepala Sekolah sudah melindunginya."

Memang benar Rest yang akhirnya menahan peluru lumpur itu, tapi Kepala Sekolah juga mengaktifkan sihir pelindung di saat yang bersamaan.

"Tapi bisa melakukan hal yang sama dengan Kepala Sekolah itu sangat luar biasa tahu... Kepala Sekolah itu kan seorang Sage."

"Guru-guru sihir lain saja tidak sempat bereaksi... Rest-sama memang hebat."

"Jangan terlalu memujiku... itu, aku jadi malu, tahu."

Dipuji secara terang-terangan membuat Rest merasa canggung. Wajahnya memerah dan ia pun terdiam.

"Ah! Ketemu!"

Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu kelas.

"Rest! Ternyata kamu satu kelas denganku!"

Seorang gadis berambut merah pendek yang tampak penuh semangat berlari kecil menuju kursi Rest sambil berseru riang. Dialah gadis yang Rest temui saat ujian masuk dan yang tadi ia lihat berlari di jalanan kota.

"Ah... Katreia-jou, ya..."

"Panggil saja Yuri! Aku juga akan memanggilmu Rest!"

Yuri Katreia. Putri dari keluarga Marquis Katreia, keluarga terpandang yang setara dengan keluarga Marquis Rosemary. Putri sang Komandan Ksatria kini berdiri di hadapan Rest.

"Rest, kamu juga lulus ya! Aku senang bisa bertemu lagi!"

"Ah... iya, Katreia-jou..."

"Sudah kubilang panggil saja Yuri, kan? Kita kan sudah punya hubungan khusus, bicara saja yang akrab!"

Hubungan khusus apaan. Mereka hanyalah teman seangkatan yang kebetulan mendaki gunung bersama saat ujian masuk.

"Rest-kun, siapa dia?"

"Rest-sama, siapa gadis ini?"

Viola dan Primula langsung menimpali dari sisi kiri dan kanan. Keduanya tersenyum... tapi tatapan mata mereka sangat tajam. Mereka tampak waspada dengan kemunculan gadis asing ini.

"Ah... sudah pernah kuceritakan, kan? Ini Yuri Katreia-san yang satu kelompok denganku saat ujian."

"Apa kedua gadis ini temanmu, Rest?"

""Tunangannya.""

Viola dan Primula menegaskan status mereka secara serempak. Yuri tampak terkejut mendengar pernyataan yang seolah ingin mematok wilayah itu, namun ia segera tertawa lebar.

"Punya tunangan secantik ini, kamu hebat juga, Rest! Memang tidak salah pilihanku menilaimu!"

""Mu……""

Melihat reaksi Yuri, si kembar saling bertukar pandang.

(Kakak... gadis ini...)

(Setidaknya, sepertinya dia tidak punya niat buruk terhadap Rest-kun...)

Si kembar berbisik sejenak... lalu rasa waspada mereka luruh dan mereka pun tersenyum.

"Maafkan sikap kami tadi... namaku Viola Rosemary. Ini adikku, Primula."

"Saya Primula. Anda juga di Kelas A, kan? Karena kita sekelas, mohon bantuannya ya."

Setelah si kembar memperkenalkan diri, Yuri menjabat tangan mereka dengan ramah.

"Aku Yuri Katreia. Tapi bicara soal Rosemary... apa kalian dari keluarga Marquis Rosemary yang menjabat sebagai Kepala Penyihir Istana?"

"Iya, Marquis Rosemary adalah ayah kami."

"Lalu Katreia... apa Anda dari keluarga Marquis Katreia sang Komandan Ksatria?"

Si kembar membalas jabatan tangan Yuri sambil bertanya balik. Tiba-tiba Yuri tampak panik dan mengibaskan kedua tangannya dengan heboh.

"B-Bukan! Aku bukan putri Komandan Ksatria, aku cuma Yuri Katreia dari kalangan rakyat jelata... e-eh, aku tidak kabur dari rumah, kok!"

""…………""

(Kalau mau menyembunyikan identitas, kenapa dia malah menyebut nama 'Katreia'?)

(Jangan-jangan, dia benar-benar kabur dari rumah?)

(Mungkin saja... yah, aku sendiri tidak tahu pastinya.)

Rest dan si kembar Rosemary berbisik satu sama lain. Sepertinya Yuri adalah tipe gadis yang tidak bisa berbohong. Baginya, memperkenalkan diri dengan nama asli adalah hal yang wajar dilakukan saat bertemu orang baru.

"Tapi tetap saja... aku senang sekali! Setelah Rest, aku punya dua teman lagi! Sepertinya aku benar-benar bisa berubah di akademi ini!"

Yuri menjabat tangan mereka dengan antusias.

"Kalian bertiga, mohon bantuannya ya!"

""“…………I-Iya.”""

Melihat senyum lebar Yuri, Rest dan yang lainnya hanya bisa mengangguk dengan ekspresi yang agak sulit dijelaskan. Putri dari keluarga ksatria terpandang masuk ke Departemen Sihir, bukannya Departemen Ksatria. Ditambah lagi, ia masuk melalui jalur rakyat jelata.

Pasti ada alasan yang sangat rumit di baliknya... namun di luar itu, bertambahnya teman adalah hal yang bagus.

(Yuri memang kurang peka soal situasi, tapi dia sangat ramah dan jauh dari niat jahat. Viola dan Primula pasti bisa berteman baik dengannya.)

"Ah, maaf. Aku ingin pergi ke kamar kecil sebentar."

Setelah perkenalan selesai, Primula bangkit dari tempat duduknya.

"Ah, aku juga mau ikut."

"Ooh, biarkan aku ikut juga! Aku pernah baca di buku kalau anak perempuan itu selalu pergi ke toilet bersama-sama!"

"B-Bukan toilet, tapi 'memetik bunga'!"

Primula memprotes istilah Yuri. Ketiganya memberi salam kecil pada Rest, lalu keluar dari kelas.

Melihat jam dinding, masih ada sekitar sepuluh menit sebelum bimbingan pertama setelah upacara dimulai. Rest yang sendirian mulai mengamati ruang kelas untuk mengisi waktu. Sudah setengah dari kursi Kelas A terisi.

Beberapa siswa duduk diam menunggu waktu berlalu, ada juga yang asyik mengobrol dengan kenalan mereka.

(Rasio bangsawan dan rakyat jelata sepertinya sembilan banding satu, ya...)

Lebih dari setengah isi Kelas A adalah keturunan bangsawan. Rest hampir mengenali semua wajah dari jalur rakyat jelata karena mereka mengikuti ujian bersama, apalagi bagi mereka yang berprestasi.

(Memang benar, dalam hal sihir, para bangsawan yang memiliki garis keturunan bagus dan pendidikan sejak dini lebih diuntungkan. Di sisi lain... mereka yang lulus dari jalur rakyat jelata pasti sudah berusaha sangat keras.)

Para siswa baru dari kalangan rakyat jelata di kelas ini adalah mereka yang mendapatkan skor tinggi dalam tes 'Menembak Sasaran'. Namun, satu hal yang membuat Rest penasaran adalah tidak adanya sosok pemuda yang seharusnya meraih nilai terbaik setelah Rest dan Yuri.

(Si pemuda Peterseli... ah bukan, pemuda Seledri tidak ada ya. Apa dia masuk kelas bawah?)

Rest teringat pada pemuda yang sempat mengganggunya sesaat setelah ujian masuk. Pemuda yang mengaku bernama Cedrick itu meraih skor tertinggi ketiga dalam tes praktik setelah Rest dan Yuri. Jika hanya melihat kemampuan praktiknya, ia seharusnya layak masuk Kelas A.

(Apa dia tidak ada di sini karena nilai ujian tertulisnya buruk? Yah, kalau dia sekelas denganku, mungkin dia akan menggangguku lagi, jadi aku bersyukur saja.)

Saat ia sedang melamunkan hal itu, pintu kelas tiba-tiba terbuka dengan kasar. Tertarik oleh suara gaduh tersebut, Rest menoleh dan melihat tiga orang siswa laki-laki masuk.

"Itu kan...!"

"Eh!?"

"Wah...!"

Begitu mereka bertiga masuk, suasana di dalam kelas berubah menjadi tegang dan tidak menyenangkan. Reaksi para siswa bukanlah reaksi yang baik; lebih seperti melihat sekelompok orang yang sangat merepotkan baru saja muncul.

"Kenapa dia ada di sini...?"

"Kelasnya kan beda. Kudengar dia dimasukkan ke Kelas D..."

"Eh, Kelas D? Bukannya dia dibilang jenius sihir?"

"Kudengar lembar jawaban ujian tertulisnya hampir semuanya kosong... Katanya, 'Seorang raja hanya butuh kekuatan. Jika butuh pengetahuan, tinggal tanya pelayan saja'."

Teman sekelasnya berbisik-bisik. Siswa yang baru masuk itu sepertinya cukup terkenal. Mendengar isi bisikan mereka yang cukup gila, atmosfer di seluruh kelas semakin terasa berat.

"…………?"

Rest merasa heran dan diam-diam mengamati ketiga orang tersebut. Yang berjalan paling depan adalah seorang siswa laki-laki berambut pirang yang ditata berantakan. Wajahnya lumayan tampan tapi tatapan matanya tajam dan sinis, serta blazer-nya dibiarkan terbuka tanpa dikancingkan.

Dua pemuda lain mengikutinya seperti anak buah. Yang satu berbadan tinggi besar dengan kepala plontos, dan satunya lagi bertubuh mungil dengan wajah gugup serta memakai kacamata.

(Mereka terlihat sombong sekali... Kalau di kehidupan sebelumnya, ini adalah tipe orang yang akan aku hindari agar tidak terlibat masalah...)

Rest perlahan memalingkan wajahnya. Di kehidupannya yang sekarang pun, ia merasa lebih baik tidak berurusan dengan tipe seperti mereka.

"…………"

Namun, si pemuda pirang yang memimpin kelompok itu mengedarkan pandangan sinis ke seluruh kelas, lalu berjalan mantap menuju ke arah Rest yang duduk di barisan depan.

"Oi, kamu yang di sana."

"…………"

"Kamu! Cepat lihat ke sini!"

"…………Serius, nih."

Padahal sudah mencoba menghindar, ternyata pemuda itu memang sengaja mengajak bicara Rest. Mau tidak mau Rest mengangkat kepalanya, dan si pemuda pirang menumpukan tangannya di meja sambil menatap Rest dengan tatapan intimidatif.

"Dilihat dari wajahmu yang menyedihkan itu, kamu rakyat jelata, kan?"

"…………Benar, tapi ada apa ya?"

"Bagus... mulai sekarang kamu pindah ke Kelas D."

"…………Ya?"

"Aku yang akan masuk Kelas A, jadi kamu pergi sana ke Kelas D sebagai gantinya. Kelas A itu terlalu berat untuk rakyat jelata sepertimu, jadi akan aku gantikan posisimu."

"…………"

Mendengar ucapan yang begitu semena-mena, Rest hanya bisa terpaku kehabisan kata-kata. Mengapa ia harus menuruti permintaan dari orang asing yang baru pertama kali ia temui?

Saat Rest masih terdiam karena bingung, si pemuda plontos di sampingnya memukul meja dengan keras untuk mengintimidasi.

"Tuan yang ada di depanmu ini adalah Pangeran Ketiga, Roderick Eyewood-sama! Beliau memerintahkanmu untuk bertukar kelas! Rakyat jelata kotor sepertimu cepatlah pergi dari sini!"

(Roderick Eyewood... jangan-jangan...?)

Nama itu tidak asing di telinga Rest... orang yang terkenal dalam konotasi negatif.

(Roderick Eyewood... Pangeran Ketiga Kerajaan Eyewood yang dibilang jenius sihir langka, sekaligus pangeran bodoh yang dijuluki 'Beban Keluarga Kerajaan'...!?)

Sebelum masuk sekolah, Rest sudah diajari tentang para bangsawan dan orang-orang berpengaruh sebagai bagian dari pendidikannya. Nama 'Roderick Eyewood' ada dalam daftar itu. Sebagai orang yang sangat merepotkan dan sebisa mungkin harus dihindari.

Katanya... Roderick adalah orang yang angkuh dan sombong, sifat yang sama sekali tidak mencerminkan anak dari sang raja yang dikenal bijaksana. Ia meremehkan orang di sekitarnya, bersikap sok berkuasa, dan merasa bahwa apa pun yang ia lakukan akan dimaafkan karena statusnya sebagai pangeran.

Parahnya lagi, ia sangat suka bermain wanita. Ia pernah secara paksa mempermainkan pelayan istana, bahkan mencoba mendekati putri diplomat negara lain yang datang berkunjung... masalah yang ia timbulkan sudah tidak terhitung lagi.

Meski begitu, ia memang punya bakat sihir yang luar biasa, yang justru semakin memupuk kesombongan dan harga dirinya sebagai 'jenius pilihan'.

‘Dengar ya, Rest-kun! Kalau pangeran bodoh itu berani menyentuh putri-putriku, hentikan dia meski harus memakai kekerasan! Kalau pun dia sampai mati, aku yang akan bertanggung jawab!’

‘Tidak... bagaimanapun juga, kalau dibunuh itu gawat, kan... dia kan keluarga kerajaan?’

Rest sempat tersenyum kecut saat mendengar ucapan Marquis Rosemary, ayah si kembar. Namun setelah bertemu langsung dengan pangeran bodoh ini, ia jadi sangat paham mengapa ayahnya sampai berkata begitu.

(Gaya bicaranya beda, tapi auranya mirip sedikit dengan kakak bodohku dulu... ini tipe orang yang rasanya tidak akan apa-apa kalau dipukul sekali...)

"Kenapa diam saja, rakyat jelata. Cepat keluar dari kelas ini. Tidakkah kau dengar aku bilang aku sendiri yang akan menggantikan posisimu di Kelas A?"

Roderick mengernyitkan dahi dengan tidak senang. Di sampingnya, si pemuda berkacamata terus membetulkan letak kacamatanya, sementara si pemuda plontos bahkan sudah memegang pedang yang tergantung di ikat pinggangnya.

Jangan-jangan... jika ia tidak mematuhi perintahnya, orang ini akan mencabut pedang di sini?

(Gawat... apa yang harus kulakukan dalam situasi seperti ini?)

Menghadapi tiga pemuda yang berdiri mengintimidasi di depannya, Rest menghela napas dalam kecemasan. Benar-benar merepotkan. Jika lawannya adalah Cedrick, ia pasti sudah memukulnya... tapi sebajingan apa pun dia, dia tetaplah seorang pangeran. Rest tidak bisa begitu saja menggunakan kekerasan untuk mengusirnya.

"Apa yang kamu ragukan? Aku bilang cepat berdiri!"

"Apa kamu berniat melawan perintah Pangeran!? Cepat keluar!"

"Jika kamu tidak mematuhi perintah Yang Mulia……!"

(Berisik sekali... sebenarnya dua anak buah ini siapa, sih?)

Merasa jengah dengan dua pengikutnya yang terus berteriak, Rest memutuskan untuk berdiri terlebih dahulu. Ia melirik sekitarnya, dan para teman sekelasnya justru memalingkan wajah seolah tidak mau terlibat.

Rest mengerti perasaan mereka. Jika ia berada di posisi mereka, ia pun akan melakukan hal yang sama.

(Ya sudah... untuk saat ini, coba aku puji saja dia sedikit?)

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pangeran Ketiga Roderick-sama... Saya tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan Anda di tempat seperti ini, sehingga reaksi saya menjadi terlambat."

Rest berdiri dan membungkuk dengan sangat hormat. Itu adalah gerakan membungkuk sempurna yang diajarkan oleh Deable. Sebuah tata krama yang tidak akan membuat malu bahkan jika dilakukan di perjamuan kelas atas.

"Hoo……?"

Menerima penghormatan ala bangsawan tersebut, Roderick membelalakkan matanya karena terkejut.

"……Kau, bukannya kau rakyat jelata?"

"Benar. Saya memang rakyat jelata."

"Kalau begitu, cepat patuhi perintahku. Kamu masuk ke Kelas D. Cepatlah pindah."

"Dengan segala hormat, bolehkah saya bertanya? Anda meminta saya bertukar kelas... tapi apakah Anda sudah mendapatkan izin dari pihak pengajar?"

"Hmph... jika aku yang memerintahkannya, maka izin dari guru tidak diperlukan."

"Kalau begitu, mohon dapatkan izinnya terlebih dahulu. Segala sesuatu ada urutannya. Jika prosedur yang semestinya sudah selesai, saya akan segera pindah ke Kelas D."

"Kau……! Beraninya kau membantah perintah Roderick-sama!?"

Si pemuda plontos mencengkeram kerah baju Rest. Rest langsung terangkat hingga ujung kakinya tidak menyentuh lantai.

(Langsung main tangan, ya... Dasar orang yang tidak punya kesabaran!)

Orang ini tidak terlihat seperti penyihir, apa dia dari Departemen Ksatria?

"Benar sekali! Mengapa Pangeran Ketiga Roderick-sama harus meminta izin pada guru!?"

Si pemuda berkacamata juga ikut mengoceh dari bawah. Sesuai perawakan tubuhnya, dia benar-benar terlihat seperti pengikut rendahan yang menyedihkan.

(Ternyata benar seperti rumornya, logika tidak berlaku untuk tipe orang seperti ini... Bagaimana sekarang, ya? Kalau terus begini, Viola dan Primula bisa keburu kembali dari toilet.)

Jika kedua gadis itu—dan juga Yuri—melihat kejadian ini, mereka pasti akan langsung melabrak dan memprotes Roderick tanpa ragu.

(Tentu saja yang bersalah adalah pangeran itu dan pengikutnya... tapi meski begitu, aku tidak ingin memperkeruh suasana. Aku tidak mau membiarkan kedua tunanganku berurusan dengan pangeran ini.)

Untuk saat ini, sebaiknya aku berpura-pura menuruti permintaannya dan keluar dari kelas.

Setelah itu, aku akan memberitahu Viola dan yang lainnya agar tidak masuk ke kelas dulu, lalu melaporkan masalah ini kepada guru dan membiarkan mereka yang menanganinya.

"Baiklah. Kalau begitu, saya akan—"

"Kalian semua! Apa yang sedang kalian lakukan!"

Rest baru saja hendak menyerah tanpa syarat, namun sebuah suara tajam menggema di seluruh ruang kelas.

Suara itu milik seorang siswi yang baru saja melangkah masuk dari pintu kelas. Jantung Rest sempat mencelat sesaat, namun sosok yang muncul bukanlah Viola, Primula, maupun Yuri.

"Celestine……!"

Roderick mendecakkan lidahnya dengan raut wajah kesal.

Gadis yang masuk adalah Celestine Crocus. Sang putri Duke yang baru saja menyampaikan pidato sebagai perwakilan siswa baru.

"Apa yang kalian lakukan adalah tindakan kekerasan. Baru saja masuk sekolah, apa kalian sudah berniat untuk menerima sanksi!?"

Celestine berjalan mendekat, suara tumit sepatunya mengetuk lantai dengan tegas.

Meski ia muncul lebih lambat dibanding siswa lainnya... kemungkinan besar ia baru saja selesai berbicara dengan pihak pengajar mengenai insiden yang terjadi saat upacara pendaftaran tadi.

"Putra Baron Dora! Tidakkah kau dengar aku menyuruhmu melepaskannya!?"

"…………Cih."

Begitu Celestine memberi perintah dengan tegas, pemuda plontos yang merupakan pengikut pangeran itu segera melepaskan cengkeramannya.

Rest mendarat kembali di lantai sambil mengamati situasi.

(Kalau dipikir-pikir... Celestine-jou adalah tunangan dari pangeran bodoh ini.)

Ia pernah mendengarnya. Karena keluarga Duke Crocus tidak memiliki ahli waris laki-laki, Roderick yang merupakan anggota keluarga kerajaan direncanakan akan masuk ke keluarga tersebut sebagai menantu untuk meneruskan takhta Duke.

(Dunia ini benar-benar tamat kalau orang ini jadi Duke berikutnya... tapi sebagai tunangan, apa dia bisa menghentikan amukan si bodoh ini?)

"Yang Mulia Roderick, kelas Anda seharusnya adalah Kelas D. Apa urusan Anda di Kelas A?"

"……Kelas D tidak pantas untukku."

Roderick mendengus gusar menanggapi pertanyaan Celestine.

"Salah besar jika menempatkanku di Kelas D. Ketidakadilan ini harus diluruskan. Jika kau berniat menghalangi, aku tidak akan tinggal diam, paham?"

"Ini adalah hasil dari ujian yang sangat ketat. Sebenarnya, apa yang Anda keluhkan?"

"Skor tes menembakku mencapai 200 poin! Aku bilang aku sudah jauh melampaui batas kelulusan!"

"Memang benar, saya dengar nilai tes praktik Yang Mulia sangat luar biasa. Namun, Anda mengumpulkan lembar jawaban ujian tertulis hampir dalam keadaan kosong, bukan? Anda memang selalu lemah dalam pelajaran teori sejak dulu. Anda membuang waktu belajar dengan alasan seorang raja tidak butuh pengetahuan. Tidakkah seharusnya Anda bersyukur masih bisa diterima masuk meski di kelas paling bawah?"

"Kau……!"

Wajah Roderick berkerut menahan amarah.

Di saat yang bersamaan, terdengar suara tawa tertahan "Pfft……" dari suatu tempat di dalam kelas.

"─!"

Begitu Roderick melotot ke arah asal suara, para siswa di Kelas A serentak memalingkan wajah mereka.

"Sebenarnya, nilai Yang Mulia Roderick bahkan tidak mencapai ambang batas kelulusan. Anda bisa diterima di sini hanya karena pertimbangan terhadap mendiang Ibu Suri. Jika Anda keberatan dengan pembagian kelas ini, bagaimana kalau Anda belajar giat agar bisa naik ke kelas atas pada ujian akhir semester nanti?"

"Kau ingin aku bersabar di kelas terendah selama empat bulan!? Kau... apa kau benar-benar tunanganku!?"

"Justru karena saya tunangan Anda, saya menuntun Anda ke jalan yang benar. Ataukah…… Anda merasa tidak percaya diri bisa mendapatkan nilai bagus di ujian akhir nanti?"

"Dasar…… perempuan kurang ajar!"

Wajah Roderick memerah padam, lalu ia mengacungkan tangan kanannya ke arah Celestine.

Mana mulai terkonsentrasi di telapak tangannya. Rest merasakan pertanda bahwa sebuah sihir akan segera dirapalkan.

"Eh……!?"

Celestine membelalakkan mata dan terpaku di tempatnya.

Mungkin ia tidak menyangka Roderick akan nekat menggunakan sihir di tengah ruang kelas... ia tampak tidak akan sempat untuk menghindar maupun bertahan.

"Terimalah ini!"

"Ice Ball."

Rest secara refleks merapalkan sihirnya.

Ia menciptakan sebongkah es kecil tepat di bawah kaki kanan Roderick yang melangkah maju untuk menembakkan sihirnya.

"Nuoo!?"

"Kyaa……"

Sesuai rencana, Roderick menginjak es tersebut, terpeleset, dan kehilangan keseimbangan.

Tangan kanannya yang semula mengincar Celestine terlempar ke arah atas, menyebabkan bola api menghantam langit-langit dan memicu ledakan kecil.

"Kyaa……!"

"Bahaya!"

Sebagian langit-langit kelas runtuh.

Rest mengulurkan tangannya, menyambar lengan Celestine dan menariknya mendekat untuk melindunginya.

"Guoo…… Akh……!?"

Di sisi lain, nasib malang menimpa Roderick yang terjungkal karena es tadi.

Ia jatuh telentang dan bagian belakang kepalanya menghantam lantai dengan keras. Tak hanya itu, bongkahan reruntuhan langit-langit yang hancur karena sihirnya sendiri jatuh menimpa wajahnya dengan bunyi brak yang mantap.

"Ooh…… benar-benar komedi tamparan yang sempurna……"

"P-Pangeran! Anda tidak apa-apa!?"

"Hiii! Yang Mulia!"

Rest merasa kagum melihat reruntuhan kayu yang jatuh tepat mengenai sasaran itu.

Kedua pengikutnya terburu-buru menghampiri Roderick dan membantunya berdiri; hidung sang pangeran tampak mengucurkan darah segar.

"U…… ggh…… a……"

"Yang Mulia! Yang Mulia! Sadarlah!"

"Bwahaha!"

"Pffft, hahaha!"

Seketika, tawa yang tertahan mulai pecah dari berbagai sudut kelas.

Kunci dari komedi adalah ketegangan yang tiba-tiba mengendur. Melihat pangeran yang sombong itu terpeleset di saat kritis dan mukanya tertimpa reruntuhan yang ia buat sendiri, para siswa tidak bisa lagi menahan tawa mereka.

"K-Kalian…… jangan tertawa……"

Roderick entah bagaimana berhasil sadar kembali, namun dengan wajah yang bengkak dan hidung yang terus berdarah, ancamannya sama sekali tidak terasa menakutkan.

Para pengikutnya merangkul kedua lengan Roderick dan mencoba membawanya keluar dari kelas.

"P-Pangeran! Mari segera ke ruang kesehatan!"

"K-Kurang ajar, dasar rakyat jelata rendahan…… Celestine, ingat pembalasanku nanti!"

Sambil meninggalkan gertakan khas karakter pecundang, Roderick dan kedua pengikutnya keluar dari ruang Kelas A.

"Ya ampun…… ada-ada saja. Benar-benar."

"Anu…… bisakah Anda melepaskan saya sekarang?"

Rest yang masih merasa jengah mendengar suara lirih dari dalam pelukannya.

Saat menunduk, ia melihat paras secantik bunga mekar yang menatapnya dengan raut sedikit sungkan.

"Terima kasih telah menolong saya di saat genting. Saya sudah tidak apa-apa."

"Waduh…… Maafkan saya!"

Rest segera melepaskan diri dari Celestine dengan panik.

Ia baru saja memeluk seorang wanita yang baru ditemuinya... terlebih lagi, dia adalah putri dari keluarga Duke yang kedudukannya tepat di bawah keluarga kerajaan.

Rest mendadak pucat, takut jika ia akan didakwa dengan pasal penghinaan terhadap bangsawan.

"M-Mohon maaf…… saya sudah bersikap sangat tidak sopan……"

"Tidak, saya tidak keberatan. Daripada itu, apa sihir tadi adalah perbuatan Anda?"

Celestine menatap ke arah lantai.

Di lantai yang berserakan debu dan reruntuhan langit-langit, terdapat bongkahan es seukuran kepalan tangan yang menggelinding.

"Sepertinya Yang Mulia Roderick tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Itu adalah kecepatan tangan yang luar biasa. Anda benar-benar telah menolong saya."

"Entahlah…… saya tidak mengerti maksud Anda?"

Meski Celestine mengucapkan terima kasih, Rest memilih untuk berpura-pura tidak tahu.

Memang benar Rest menggunakan sihir untuk melindungi Celestine dan membuat Roderick terjatuh, namun orang-orang di sekitar sepertinya tidak menyadari hal itu.

Jika begitu, tidak ada gunanya ia mengumbar apa yang telah ia lakukan. Jika sampai berita itu sampai ke telinga Roderick dalam bentuk apa pun, itu hanya akan menanam benih permusuhan yang merepotkan.

"Mari kita anggap begitu kalau memang Anda maunya demikian…… Bolehkah saya mengetahui nama Anda?"

"Ah…… panggil saja Rest. Saya tidak punya nama keluarga."

"Rest-sama…… Begitu ya, Anda adalah calon menantu keluarga Marquis Rosemary. Saya sudah mendengar rumor tentang Anda."

Celestine menatap wajah Rest dengan penuh minat sejenak, lalu ia mengangkat sedikit kedua sisi roknya dan melakukan gerakan curtsey yang sangat indah.

"Saya akan menyampaikan terima kasih secara resmi di lain kesempatan. Karena saya harus memberikan penjelasan kepada pihak pengajar, saya permisi dulu untuk hari ini……"

Celestine membungkuk pelan lalu keluar dari kelas.

Setiap gerakannya, bahkan hanya saat membungkuk, terlihat sangat terpoles dan menunjukkan perbedaan kelas dalam pola asuhnya. Rest sampai berpikir konyol bahwa kata 'anggun' memang diciptakan hanya untuk gadis itu.

"Eh…… ini ada keributan apa?"

"Rest-sama, apa terjadi sesuatu?"

Tak lama kemudian, Viola dan Primula kembali ke kelas. Mereka memiringkan kepala melihat kondisi kelas yang berantakan.

Di belakang mereka, Yuri juga tampak mengerjapkan matanya dengan bingung.

"Tadi terdengar sangat berisik, apa baru saja ada gempa lokal di sini? Langit-langitnya sampai hancur berantakan begitu."

"Ah—…… ceritanya panjang, nanti akan kujelaskan. Daripada itu……"

Jarum jam di dinding bergerak dengan bunyi klik, dan bel tanda masuk pun berbunyi.

"Waktunya bimbingan dimulai. Sebaiknya kita duduk dulu, kan?"

Rest tersenyum kecut dan mempersilakan mereka untuk duduk.

Mungkin karena Roderick telah menghancurkan kelas, pengajar baru muncul di Kelas A sepuluh menit kemudian.

Bimbingan untuk siswa baru selesai tanpa hambatan berarti.

Langit-langit yang hancur telah diperbaiki oleh pengajar yang datang. Benar-benar standar pengajar Departemen Sihir; pengajar wanita itu hanya merapalkan sihir dua atau tiga kali, dan langit-langit yang rusak kembali seperti semula.

Tidak ada insiden tambahan seperti kemunculan kembali Pangeran Ketiga Roderick. Mereka menerima penjelasan mengenai aturan kehidupan sekolah serta panduan pemilihan mata pelajaran.

Sambil mendengarkan penjelasan tentang cara mengambil mata pelajaran wajib dan pilihan... Rest kembali teringat akan kebodohan Roderick tadi.

(Untung saja tadi Viola dan Primula sedang tidak ada di tempat... aku harus menghindari situasi di mana mereka berurusan dengan pangeran itu.)

Rest berjanji dalam hati untuk sebisa mungkin selalu mendampingi si kembar. Viola maupun Primula pasti tidak akan keberatan, dan ia ingin mencegah situasi di mana mereka diganggu oleh Roderick saat ia tidak ada di samping mereka.

"Sepertinya hari ini kita sudah boleh pulang. Ayo pergi, Rest-kun, Primula."

"Ah, ayo pulang."

"Iya, mari kita pergi."

Setelah bimbingan berakhir, Rest dan si kembar Rosemary bangkit dari kursi mereka. Hari masih menjelang siang, namun jadwal hari ini memang sudah selesai.

"Mumpung masih pagi, bagaimana kalau kita makan di suatu tempat sebelum pulang?"

"Iya. Aku dan Kakak juga berniat begitu."

"Aku sudah memberitahu koki di rumah bahwa kita akan makan siang di luar. Ayo kita cari kafe yang bagus."

Viola tersenyum manis, lalu mengalihkan pembicaraan kepada teman baru mereka.

"Yuri, mau ikut bersama kami? Bagaimana kalau kita mengadakan pesta penyambutan kecil?"

"Terima kasih atas ajakannya. Tapi…… maaf ya, aku sudah ada janji lain."

Yuri menjawab dengan raut wajah yang tampak menyesal.

"Aku sudah berjanji untuk makan siang bersama bibiku setelah ini. Lain kali ajak aku lagi ya, aku pasti akan senang sekali."

"Kalau begitu, apa boleh buat. Sampai jumpa lagi, ya."

"Ya. Sampai jumpa lagi, Rest, Primula."

"Iya, sampai jumpa."

"Sampai jumpa lagi."

Yuri keluar dari kelas lebih dulu. Rest dan si kembar Rosemary menyusul tak lama kemudian.

Mereka bertiga berjalan bersama untuk meninggalkan akademi. Namun, tepat saat keluar dari gedung sekolah, seorang siswa lain memanggil mereka.

"Hadirin sekalian, boleh saya meminta waktunya sebentar?"

Mendengar suara itu, mereka menoleh. Di sana berdiri siswi yang baru saja menjadi teman sekelas mereka... Celestine Crocus.

"Celestine-san?"

"Ada yang bisa kami bantu?"

Si kembar Rosemary sedikit membelalakkan mata. Meski mereka saling mengenal, sepertinya hubungan mereka tidak terlalu dekat, sehingga mereka tampak terkejut saat disapa tiba-tiba.

"Saya ingin berterima kasih kepada Rest-san atas bantuan tadi…… jika tidak keberatan, bolehkah saya meminta waktu Anda sekarang?"

"Ah—…… tidak usah, tidak perlu sampai berterima kasih begitu. Justru aku yang merasa tertolong karena kamu membantuku saat aku sedang diganggu tadi."

"Kalau begitu, anggap saja ini permintaan maaf. Karena tunangan saya telah menyebabkan masalah bagi Anda."

Celestine menatap ke arah gedung sekolah lalu menghela napas panjang.

"Yang Mulia Roderick saat ini sedang menerima pembinaan karena menggunakan sihir dan merusak fasilitas akademi. Beliau tetap bersikeras tidak terima ditempatkan di Kelas D, dan menuduh pihak akademi telah melakukan kesalahan. Masalah ini sepertinya akan segera sampai ke telinga pihak istana."

"Apa ya…… semangat ya untuk Anda."

Dalam hati, Rest lebih ingin mengatakan "turut berduka cita". Viola dan Primula yang sudah mendengar ceritanya juga menunjukkan wajah penuh simpati.

"Akan menjadi aib bagi keluarga Duke jika saya tidak bisa membalas budi kepada penyelamat saya…… jika diperkenankan, bolehkah saya menjamu kalian makan siang?"

"Anu…… aku sih tidak keberatan, tapi……"

"Aku juga tidak keberatan. Bagaimana menurutmu, Primula?"

"Iya. Kami juga boleh ikut bergabung, kan?"

"Tentu saja…… Kalau begitu, mari kita berangkat. Kereta kuda keluarga saya akan memandu di depan, jadi mohon ikuti kami."

Keempatnya naik ke kereta kuda masing-masing—milik keluarga Duke Crocus dan keluarga Marquis Rosemary—lalu melintasi jalanan kota. Mereka tiba di tujuan dalam waktu sepuluh menit. Sebuah kafe-restoran yang cukup besar dan terlihat sangat mewah berdiri di sana.

"Ini adalah salah satu restoran yang dikelola oleh keluarga Duke Crocus. Di sini tersedia ruang privat, jadi kita bisa mengobrol dengan tenang."

Atas panduan Celestine, Rest dan yang lainnya masuk ke dalam restoran. Mereka dipandu oleh staf paruh baya bersetelan tuksedo yang sangat rapi menuju ruang privat di lantai dua.

"Silakan, silakan duduk."

"Permisi."

Di sana terdapat meja untuk enam orang. Rest duduk di salah satu kursi, dengan si kembar Rosemary duduk di sisi kiri dan kanannya.

Celestine duduk tepat di hadapan mereka, tersenyum lembut sembari menyodorkan menu.

"Minuman apa yang Anda inginkan? Karena ada hidangan yang sangat saya rekomendasikan untuk Anda cicipi, bolehkah saya yang mengatur pilihan makanannya?"

"Tentu, silakan. Untuk minuman, teh es saja sudah cukup."

"Aku juga sama."

"Samakan saja dengan mereka berdua."

"Baiklah, kalau begitu pesanan saya samakan."

Celestine memberikan instruksi kepada pelayan yang bersiaga. Pelayan itu membungkuk hormat tanpa suara, lalu pergi meninggalkan ruangan tanpa menimbulkan bunyi langkah kaki sedikit pun.

Tak lama menunggu, minuman dan hidangan pembuka pun disajikan.

"Nah…… sebelum kita mulai makan, izinkan saya memperkenalkan diri secara resmi sekali lagi. Nama saya Celestine Crocus, dari keluarga Duke Crocus. Viola-san dan Primula-san, kita sudah beberapa kali bertemu sebelumnya, ya?"

"Benar, sudah lama tidak bertemu."

"Anu…… senang melihat Anda tampak sehat……"

"Dan juga…… Rest-sama. Sekali lagi, saya memohon maaf atas ketidaksopanan Yang Mulia Roderick, tunangan saya. Selain itu, saya ingin berterima kasih setulus hati karena Anda telah melindungi saya dari sihir sebanyak 'dua kali'."

"I-Iya, tidak masalah………… 'Dua kali'?"

Rest yang semula merasa sungkan karena Celestine berdiri dan membungkuk hormat kepadanya, tiba-tiba mengerjapkan mata karena menyadari sesuatu.

"Benar, di upacara pendaftaran dan di dalam kelas, jadi dua kali, kan?"

"Celestine-san, Anda menyadarinya?"

Primula bertanya dengan nada terkejut.

Rest memang menolongnya saat ia hampir terkena lemparan lumpur di upacara pendaftaran, tapi ia tidak menyangka Celestine menyadari hal itu.

"Kepala Sekolah yang memberitahu saya. Beliau bilang, 'Ada murid bernama Rest dari keluarga Marquis Rosemary yang melindungimu dengan sihir pertahanan'."

"Ah…… kalau Kepala Sekolah, tidak aneh jika beliau tahu."

Kepala Sekolah adalah penyihir yang dijuluki Sage. Bukan hal mustahil baginya untuk mendeteksi bahwa Rest-lah yang menahan Mud Bullet tadi.

"Saya tidak menyangka akan ditolong sampai dua kali dalam satu hari. Berkat Anda, saya terhindar dari rasa malu dan juga luka."

"Sama-sama…… Ngomong-ngomong, sebenarnya siapa ya yang menembakkan lumpur saat upacara tadi?"

"Mengenai hal itu……"

Wajah Celestine berubah menjadi getir. Melihat reaksi itu, Rest mulai menyadari siapa sebenarnya pelaku yang berniat mempermalukan Celestine.

"Jangan-jangan……"

"Apa itu Yang Mulia Roderick?"

Si kembar Rosemary sepertinya sampai pada kesimpulan yang sama. Keduanya saling bertukar pandang.

"Ini sungguh memalukan…… Benar-benar, saya merasa sangat malu dari lubuk hati yang terdalam."

"Yang benar saja…… Apa untungnya bagi Yang Mulia jika beliau mempermalukan tunangannya sendiri dengan melemparkan lumpur?"

Primula bertanya dengan nada ragu. Celestine menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sedih.

"Beliau sepertinya tidak terima karena saya yang terpilih menjadi perwakilan siswa baru. Beliau benar-benar berpikir bahwa 'Seharusnya, akulah yang paling pantas menduduki posisi itu'."

"Tapi…… nilai ujian masuk Yang Mulia Roderick bukannya tidak sebagus itu ya? Kudengar beliau mengumpulkan lembar jawaban ujian tertulis dalam keadaan hampir kosong……?"

"Benar sekali. Jika bukan karena statusnya sebagai keluarga kerajaan, beliau pasti sudah tidak lulus."

Celestine menyesap cangkirnya, lalu menghela napas panjang dengan ekspresi penuh kegundahan.

"Begitulah sifat beliau…… membenci kerja keras, dan dengan santainya menyatakan tidak mau melakukan apa pun selain hal yang ia sukai. Meskipun tidak menjalankan kewajibannya sebagai keluarga kerajaan, kesadarannya sebagai kelas istimewa jauh lebih kuat dibanding siapa pun. Ditambah lagi, beliau hanya tertarik pada orang yang menjilatnya dan wanita-wanita berparas cantik…… itulah sosok Yang Mulia Roderick."

"…………Brengsek sekali."

"…………Benar-benar ya."

Wajah Viola dan Primula menampakkan penghinaan yang mendalam. Ini adalah pertama kalinya mereka menunjukkan kebencian sebesar itu kepada seseorang selain Cedrick, kakak tiri Rest yang tidak berguna itu.

(Hanya punya bakat sihir, angkuh, dan egois. Ditambah lagi gila wanita…… Pangeran ini benar-benar versi 'upgrade' dari Cedrick. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, dia jadi jauh lebih merepotkan……)

"Sebenarnya, kenapa keluarga kerajaan membiarkan pangeran seperti itu? Apa tidak ada upaya pendidikan ulang atau semacamnya?"

"Upaya itu sudah dilakukan berkali-kali…… tapi sepertinya sia-sia. Sepertinya ajaran dari mendiang Ibu Suri sudah tertanam terlalu kuat dalam dirinya."

"Ibu Suri…… apa hubungannya dengan permaisuri dari raja sebelumnya?"

"Yang Mulia Roderick dibesarkan oleh mendiang Ibu Suri…… ibunda dari Baginda Raja yang sekarang. Entah mengapa, Ibu Suri sangat menyukai Yang Mulia Roderick, memanjakannya secara berlebihan, dan membesarkannya menjadi sosok yang sangat egois."

Celestine kembali menghela napas.

Rest juga pernah mendengar tentang sosok Ibu Suri tersebut. Beliau adalah sosok yang menyingkirkan raja sebelumnya yang dijuluki 'Tiran' dan menobatkan Raja yang sekarang. Beliau mendapatkan kepercayaan dari banyak bangsawan, dan bahkan sampai hari kematiannya, beliau masih dijuluki sebagai 'Raja dari Balik Layar'.




"Meskipun Ibu Suri sudah mangkat beberapa tahun lalu…… masih banyak orang yang memuja beliau. Mereka menamakan diri sebagai 'Fraksi Ibu Suri', dan bersikeras mengklaim bahwa Yang Mulia Roderick adalah sosok yang paling pantas menjadi raja berikutnya……"

"Itu…… Baginda Raja pasti sangat terpukul mendengarnya, ya."

Wajah Viola tampak menegang.

Meski mereka adalah putri Marquis, sepertinya baik Viola maupun Primula baru pertama kali mendengar hal ini.

Marquis Rosemary yang merupakan orang kepercayaan raja sekaligus Kepala Penyihir Istana pasti tahu, namun beliau mungkin enggan membocorkan hal yang bisa membebani pikiran putri-putrinya.

"Alasan saya menjadi tunangan Yang Mulia juga berkaitan dengan situasi itu. Dengan menjadikan keluarga Duke Crocus sebagai pendukung resminya, saya diharapkan bisa berperan untuk menekan agar Yang Mulia dan orang-orang dari 'Fraksi Ibu Suri' tidak bertindak gegabah."

"Bagaimana ya mengatakannya…… benar-benar berat, ya."

Rest menaruh simpati yang mendalam terhadap putri bangsawan di hadapannya ini.

Seorang putri Duke. Padahal kedudukannya lebih tinggi dari si kembar Rosemary, namun tugas yang dipikulkan kepadanya hanyalah mengawasi dan menjinakkan anjing gila. Rest bahkan berpikir bahwa hidup tanpa kekuasaan mungkin akan terasa jauh lebih ringan.

"Saya mengerti penjelasannya…… tapi, apa tidak apa-apa menceritakan hal ini kepada kami?"

Rest merasa baru saja mendengar seluk-beluk situasi politik dalam negeri yang cukup rumit.

Kalau untuk Viola dan Primula mungkin masih wajar, tapi apakah boleh memberitahu Rest juga?

"Rest-san sudah menolong saya di saat genting. Karena saya telah menyebabkan masalah bagi Anda, menceritakan kebenarannya adalah bentuk ketulusan saya."

Celestine menatap mata Rest, lalu Viola dan Primula secara bergantian.

"Yang Mulia Roderick tidak pernah menaruh perhatian pada pria. Kemungkinan besar, beliau bahkan tidak akan mengingat wajah Rest-san. Beliau tidak akan mengganggu Anda lagi. Namun…… jika suatu saat nanti beliau menyebabkan masalah lagi, jangan ragu untuk menggunakan nama saya."

"Kami mengerti, tapi…… apa Anda akan baik-baik saja, Celestine-san?"

Viola menatap wajah Celestine dengan penuh kekhawatiran.

"Kalau kami menggunakan namamu, bukankah kamu yang akan kena balas dendamnya? Bisa saja kamu akan ditembak dengan sihir lagi, kan?"

"Saya adalah tunangannya. Meski ini bukan kedudukan yang saya inginkan, sebagai orang yang lahir di keluarga Duke Crocus, saya harus menjalankan kewajiban saya."

Celestine mengatakannya dengan tatapan mata yang teguh.

Sosoknya terlihat seperti pemuka agama yang siap menjadi martir. Terpancar aura seolah ia sudah memahami misinya dan rela berkorban demi misi tersebut.

"Sebagai gantinya…… jika kalian tidak keberatan, saya berharap bisa menjadi teman kalian semua. Gara-gara Yang Mulia Roderick, banyak orang yang menjauhiku, sehingga aku tidak punya banyak teman yang bisa dipercaya. Aku akan sangat senang jika kita bisa akrab."

""“…………”""

Melihat Celestine yang tersenyum, Rest dan si kembar Rosemary saling bertukar pandang.

"Jika Anda tidak keberatan dengan kami, maka dengan senang hati."

"Tentu saja!"

"Mohon bantuannya……"

Setelah masuk ke akademi, ketiganya pun mendapatkan teman kedua setelah Yuri.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close