Chapter
2
Keseharian
di Akademi
Pelajaran di Royal Academy terbagi menjadi mata
pelajaran wajib dan pilihan untuk setiap departemen.
Mata
pelajaran wajib bagi Departemen Sihir meliputi General Theory of Magic, Magic
Practical Skills, dan History of Magic.
Sedangkan
untuk mata pelajaran pilihan, tersedia Alchemy, Herbalism, Barrier
Arts, Demonology, Astronomy, Divination, Ancient
Languages, dan lain sebagainya.
Selain itu, siswa juga diperbolehkan mengambil mata
pelajaran dari departemen lain sebagai pilihan.
Bahkan tersedia kelas yang mengajarkan etiket yang
diperlukan sebagai bangsawan, seperti Dancing, Lady’s Education,
dan Etiquette.
◇ ◇ ◇
Pelajaran
pertama yang harus diikuti Rest dan kawan-kawan adalah General Theory of
Magic.
Di
ruang kelas tempat para siswa Kelas A duduk berjajar, muncul seorang wanita
tinggi mengenakan setelan jas.
"Aku
adalah Nephiry Carder, wali kelas sekaligus pengajar General Theory of Magic.
Aku akan mendidik kalian dengan disiplin keras. Camkan ini baik-baik: siswa
yang tidak kompeten bisa didepak ke Kelas B bahkan sebelum ujian akhir semester
tiba!"
Instruktur
Carder sang pengampu mata pelajaran General Theory of Magic memberikan
pernyataan yang tegas.
Pembagian
kelas pada dasarnya ditentukan oleh hasil ujian masuk dan ujian akhir, namun
kenaikan atau penurunan kelas juga bisa terjadi berdasarkan penilaian guru yang
bersangkutan. Sepertinya Carder adalah tipe pengajar yang sangat ketat.
"Sekarang
kita mulai pelajarannya... Luid Jistal, berdiri!"
"Hah?
A-Aku!?"
Carder
menunjuk seorang siswa menggunakan tongkat penunjuknya.
Seorang
siswa laki-laki yang tadinya sedang menahan kantuk terpaksa berdiri dengan
terburu-buru.
"Kita akan membahas teori sihir umum... Sebutkan apa
saja Lima Sihir Utama dalam studi sihir pada umumnya!"
"A-Anu, itu..."
Mungkin karena terkejut karena ditunjuk tiba-tiba,
meskipun pertanyaan itu adalah soal mendasar yang juga keluar saat ujian masuk,
dia hanya bisa terbata-bata tanpa mampu menjawab.
"Minus satu poin. Kamu selangkah lebih dekat menuju
Kelas B."
"Y-Yang benar saja..."
"Selanjutnya... Primula Rosemary! Jawab!"
"Baik,
saya mengerti."
Nama
berikutnya yang dipanggil adalah Primula yang duduk di samping Rest.
Primula
berdiri dengan tenang tanpa rasa panik, menarik napas ringan, lalu memberikan
jawaban.
"Elemental
Magic, Biological Magic, Object Magic, Summoning Magic, dan Faith Magic. Itulah
kelimanya."
"Bagus,
jawaban benar."
Carder
mengangguk puas melihat ketenangan Primula.
"Elemental
Magic yang menggunakan atribut seperti api dan air. Biological Magic
untuk penguatan fisik atau penyembuhan. Object Magic untuk memanipulasi
benda tak hidup seperti batu atau logam. Summoning Magic untuk
mengendalikan makhluk sihir yang dipanggil dari dunia lain. Dan Faith Magic,
di mana pengguna mempersembahkan mana kepada objek pemujaan seperti dewa,
malaikat, atau roh sebagai imbalan atas mukjizat. Inilah Lima Sihir Utama yang
menjadi dasar sihir modern."
Carder
melayangkan pandangan tajam ke seluruh kelas, lalu matanya tertuju pada siswa
lain.
"Sekarang,
Jewel Easel. Sebutkan semua sihir dari Lima Sihir Utama yang akan dipelajari di
Departemen Sihir akademi ini!"
"B-Baik...
Elemental Magic, Biological Magic, dan Object Magic. Ketiga itu..."
Seorang
siswi berkacamata yang tampak pemalu menjawab dengan nada suara yang gemetar
ketakutan.
"Umu.
Lalu, apa kamu tahu kenapa dua sihir lainnya tidak diajarkan di Departemen
Sihir?"
"Anu...
Faith Magic dipelajari di Departemen Kependetaan. Sedangkan Summoning Magic
berisiko memunculkan makhluk sihir berbahaya jika gagal, sehingga hanya orang
yang mendapat izin khusus yang boleh menggunakannya... begitu."
"Bagus,
benar. Kalau begitu, mengenai bencana sihir yang terjadi akibat kegagalan
Summoning Magic... Rest, coba jawab."
(Akhirnya
giliranku...!)
Rest
menahan napas sejenak sebelum berdiri. Ini adalah pertanyaan yang cukup sulit,
namun ia sempat mempelajarinya saat persiapan ujian.
"Seribu lima ratus tahun yang lalu, saat Dinasti
Diamond Kuno memanggil Demon dalam perang melawan negara tetangga, konon ibu
kota mereka musnah dalam semalam akibat pasukan iblis yang muncul. Baru-baru
ini, sekitar dua puluh tahun lalu, sebuah fasilitas penelitian di Kekaisaran
Geisel terbakar habis tanpa penyebab yang jelas. Seluruh peneliti tewas
terpanggang. Meskipun Kekaisaran tidak mempublikasikan detailnya, warga sekitar
mengaku melihat raksasa api, sehingga diduga kuat penyebabnya adalah kegagalan
Summoning Magic."
"Bagus sekali. Tepat seperti itu."
Sepertinya
Carder menyukai jawaban tersebut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.
"Bukan
hanya Summoning Magic, kegagalan sihir yang menyebabkan penggunanya terluka
bukanlah hal yang langka. Untuk mencegah kerugian semacam itu, sangatlah
bermanfaat untuk menanamkan pemahaman mendalam tentang akar dari sihir ke dalam
otak kalian. General Theory of Magic sering diremehkan karena banyak
berisi hal mendasar, namun jangan lupa bahwa justru karena mendasar itulah
pelajaran ini menjadi sangat penting."
Carder
mengetuk papan tulis dengan tongkatnya, lalu membuka buku pelajaran.
"Baiklah,
pembukaannya cukup sampai di sini. Kita mulai pelajarannya. Buka buku
kalian halaman lima."
Pelajaran pun dimulai secara serius, dan para siswa sibuk
menyalin isi papan tulis ke buku catatan mereka. Meskipun Carder tampak seperti
guru yang galak, cara mengajarnya mudah dimengerti dan tidak membosankan.
Di tengah ketegangan dan konsentrasi tinggi, Rest dan
kawan-kawan berhasil menyelesaikan pelajaran pertama mereka di akademi.
"Fuu... Benar-benar pelajaran yang menegangkan,
ya. Gurunya menakutkan sekali."
Begitu pelajaran General Theory of Magic
berakhir, Viola meregangkan kedua tangannya ke arah langit-langit. Pelajaran
Carder memang menuntut fokus tinggi; jika lengah sedikit saja, dia akan
langsung melontarkan pertanyaan.
"Tapi cara mengajarnya mudah dipahami. Selain
itu, beliau sangat memperhatikan murid-muridnya, kan?"
Primula menimpali dari sisi satunya. Bagi Primula yang
rajin dan menyukai teori, pelajaran Carder yang berlevel tinggi sepertinya
terasa menyenangkan.
"Aku juga berpikir begitu. Kalau tidak memperhatikan
murid dengan saksama, dia tidak mungkin bisa menunjuk orang tepat di saat
mereka sedang lengah."
Menunjuk siswa yang sedang tidak fokus berarti sang
guru mengamati kelas dengan sangat baik. Beliau juga menjawab pertanyaan murid
dengan akurat, menandakan persiapan mengajarnya sangat matang. Guru seperti itu
sebenarnya adalah guru yang baik.
"Pelajaran
berikutnya adalah Magic Practical Skills. Karena ini pindah ruangan,
sebaiknya kalian bergegas."
Yuri
yang duduk di dekat mereka berdiri dan mengajak yang lain. Pelajaran
selanjutnya juga merupakan mata pelajaran wajib yaitu Magic Practical Skills.
Sesuai namanya, isinya adalah mempraktikkan sihir secara langsung.
"Bolehkah
saya ikut bergabung dengan kalian?"
Saat mereka sedang membereskan buku, Celestine
menyapa.
"Boleh saja, kan?"
Viola memastikan kepada yang lain, dan tentu saja Rest
serta yang lainnya mengangguk.
"Kamu... kalau tidak salah, namamu Crocus?"
"Saya
Celestine Crocus... Anda adalah putri dari keluarga Marquis Katreia, benar
begitu?"
"W-Wawawawa!
Namaku Yuri Katreia, tapi aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga
Marquis Katreia, tahu!? Ayahku bukan Komandan Ksatria atau semacamnya!"
"Hah?
Benarkah begitu?"
Celestine
menatap Rest dan yang lainnya dengan ekspresi heran. Rest hanya mengedikkan
bahu dan menjawab, "Katanya sih begitu."
"Sepertinya ada situasi yang rumit, ya... Baiklah
kalau begitu, mohon bantuannya."
"Sama-sama!"
"Kyaa..."
Yuri menyambar tangan Celestine dan menjabatnya dengan
penuh semangat hingga naik-turun. Sepertinya Celestine belum pernah
diperlakukan sekasar itu sebelumnya; ia tampak bingung, namun entah kenapa
terlihat senang juga.
"Kalau begitu, mari kita menuju laboratorium."
Rest,
Viola, Primula, Yuri, dan Celestine pindah ke ruangan lain. Ruangan tujuan
mereka adalah Laboratorium Sihir. Ruangannya agak luas, mirip seperti
laboratorium sains. Terdapat beberapa meja persegi panjang, dan mereka memilih
duduk di salah satunya. Setelah duduk di meja, kursi-kursi di sekeliling mulai
terisi oleh teman sekelas lainnya.
"Maaf, apa di sini masih kosong?"
"P-Permisi."
Sepasang siswa laki-laki dan perempuan muncul di meja
Rest dan kawan-kawan. Rest ingat nama mereka karena sempat ditunjuk di
pelajaran sebelumnya.
"Luid Jistal-kun dan Jewel Easel-san."
"Panggil Luid saja. Kita kan teman sekelas?"
"Jewel saja sudah cukup..."
Luid melambaikan tangan dengan santai, sementara Jewel
menyapa dengan sikap yang sangat sungkan.
"Begitu
ya, aku Rest."
"Aku
Viola Rosemary."
"Aku
Primula Rosemary."
"Aku
Yuri Katreia. Panggil saja Yuri."
"Saya
Celestine Crocus."
Mereka
memperkenalkan diri secara bergiliran kepada kedua teman sekelas yang baru
datang tersebut.
"Tentu
saja aku tahu. Rosemary, Katreia, ditambah Crocus... Kalau dipikir-pikir lagi,
ini kombinasi yang luar biasa. Politik, Pedang, dan Sihir... Tiga pilar utama
kerajaan berkumpul di satu meja."
Pemuda bernama Luid itu tertawa riang. Dia memiliki
rambut cokelat pendek dengan wajah yang terlihat segar. Telinganya ditindik,
dan meskipun tampak ceria, ada aura anak nakal yang terpancar darinya.
"L-Luid-kun, itu tidak sopan, tahu?"
Di sisi lain, gadis bernama Jewel memiliki rambut abu-abu
panjang bergelombang dan memakai kacamata. Dia
tampak introvert dan pendiam, dengan bintik-bintik di sekitar hidung yang
meninggalkan kesan mendalam.
"Kalian
berdua sudah saling kenal? Kelihatannya akrab sekali."
"Oi,
oi... jangan bercanda, bukan begitu."
"Anu...
dibilang akrab dengan Luid-kun itu rasanya agak menjijikkan."
Mendengar
pertanyaan Rest, keduanya serentak menunjukkan wajah jijik. Reaksi yang sangat
kompak itu meyakinkan Rest bahwa mereka memang punya hubungan khusus.
"Rumah
kami cuma bersebelahan di wilayah asal. Teman masa kecil... atau lebih
tepatnya, hubungan sial yang tak bisa lepas?"
"Luid-kun selalu menjailiku sejak kecil. Dia
benar-benar jahat."
"Apaan... aku cuma memperlihatkan serangga yang
kutangkap! Itu karena kamu selalu mengurung diri di kamar sambil baca
buku..."
"Melakukan sesuatu yang dibenci orang lain itu
namanya perundungan. Luid-kun memang tidak punya perasaan."
"Ah... sepertinya aku mulai paham hubungan
kalian."
Rest tertawa kecut melihat interaksi mereka. Meskipun
terlihat tidak akur, mereka sangat kompak—mirip hubungan kucing dan tikus dalam
kartun Amerika.
"Kamu sendiri adalah tunangan si kembar
Rosemary, kan? Gosipnya sudah menyebar, lho. Tentang saudari cantik dari
keluarga penyihir ternama yang sangat dekat dengan seorang pria."
"Iya, benar sekali. Rest-kun adalah tunangan
kami."
"Kami sangat mesra."
Viola dan Primula memeluk lengan Rest dari sisi kiri dan
kanan untuk menegaskan status mereka. Rupanya para siswa di meja sekitar juga
mendengarkan percakapan itu; terdengar desas-desus penuh kekecewaan yang
menyerupai helaan napas panjang.
"Ara, ada apa ya?"
"E-Etto... Viola-san. Semua siswa laki-laki di kelas
ini sebenarnya mengincar kalian berdua, lho."
Jewel berkata dengan nada ragu-ragu.
"Banyak siswa Departemen Sihir yang bercita-cita
menjadi Penyihir Istana. Makanya mereka sangat tertarik dengan keluarga
Rosemary yang merupakan keluarga penyihir terpandang. Begitu tahu si kembar
yang tersohor itu satu angkatan, banyak orang yang berharap bisa mendekati
kalian..."
"Ah... jadi itu alasan mereka memperhatikan hubungan
kami dengan Rest-kun."
Viola tertawa kecut. Sama seperti Cedrick dulu, banyak
siswa Departemen Sihir yang mengincar si kembar Rosemary. Melihat si kembar
muncul sambil menggandeng seorang pria di hari pertama sekolah pasti membuat
mereka sangat terkejut sekaligus putus asa.
"Rasanya tidak enak ya dianggap seperti piala
begitu..."
"Mulai sekarang kita harus terus menempel pada
Rest-sama. Kita harus menunjukkan dengan jelas kepada semua orang siapa pemilik
kami."
Keduanya semakin merapatkan diri ke arah Rest dan
memperkuat pelukan di lengannya. Aura keputusasaan dari para laki-laki di
sekitar semakin menguat, membuat atmosfer kelas terasa seperti sedang di acara
pemakaman.
"Kalian benar-benar akrab ya, aku jadi iri
melihatnya."
Yuri menatap mereka bertiga dengan pandangan yang
menyejukkan.
"Aku juga ingin segera punya suami yang hebat! Aku
iri pada kalian berdua!"
""“““…………!””””"
Mendengar pernyataan mengejutkan dari Yuri, para siswa
laki-laki di sekitar kembali gempar. Meskipun bukan dari keluarga penyihir
seperti Rosemary, keluarga Marquis Katreia tetaplah keluarga terpandang yang
disegani. Banyak siswa bangsawan yang bermimpi untuk bisa menjalin hubungan
kekeluargaan dengan mereka.
"Yuri-san... jangan mengatakan hal seperti itu
sembarangan."
Meskipun Celestine mencoba menegur, semuanya sudah
terlambat. Para siswa laki-laki di kelas mulai menunjukkan semangat yang
membara.
"Katreia-san ternyata masih lajang...!"
"Karena dia punya kakak laki-laki, aku tidak bisa
jadi menantu, tapi menjalin koneksi dengan keluarga Katreia itu peluang
besar...!"
"Hah, hah, Yuri-tan. Dia sangat imut dalam kepolosan
bodohnya... aku akan mendukungnya...!"
Kekacauan yang dipicu oleh ucapan Yuri menyebar ke seisi
kelas bagaikan riak air, dan suasana tidak kunjung tenang hingga pelajaran
dimulai.
"Baiklah,
kita mulai pelajaran Magic Practical Skills. Semuanya, harap
tenang."
Seorang
pengajar pria dengan wajah ramah muncul dan menyatakan pelajaran dimulai.
Melihat sang guru, para siswa yang tadinya gaduh karena ucapan Yuri akhirnya
terdiam.
"Nama
saya Houston Balletis, saya yang akan mengampu mata pelajaran Magic
Practical Skills. Mohon bantuannya untuk satu tahun ke depan."
Pria
paruh baya berkacamata dan berambut putih itu terlihat rapi mengenakan setelan
jas. Berbeda jauh dengan Carder yang tegas, Balletis
tampak seperti sosok yang lembut.
"E-Anu... sihir yang kita gunakan sehari-hari
sebagai penyihir, adakah yang bisa menjelaskan bagaimana proses sihir itu bisa
terwujud?"
Balletis melemparkan pertanyaan kepada seluruh kelas
tanpa menunjuk orang tertentu. Beberapa siswa mulai mengangkat tangan. Balletis
menunjuk salah satu dari mereka.
"Kamu yang di barisan depan. Sebutkan namamu lalu
berikan jawabanmu."
"Baik,
nama saya Maurice Wood. Saat menggunakan sihir, kita melewati tiga langkah:
penyusunan formula sihir di otak, pengisian mana, dan aktivasi."
Siswa
yang tampak rajin itu—Maurice—menjelaskan dengan lantang.
"Formula
sihir adalah pola geometris yang disebut 'Magic Circle'. Sihir aktif saat kita
mengalirkan mana ke dalam lingkaran yang telah disusun di otak. Terkadang
mantra atau alat sihir digunakan untuk membantu penyusunan pola tersebut."
"Ya, bagus sekali. Tepat seperti yang dikatakan
Maurice-kun."
Balletis mengangguk dengan senyum lembut.
"Menguasai sihir baru berarti mengingat
formula... yaitu Magic Circle-nya, dan mampu menggambarkannya secara instan di
dalam pikiran. Semakin tinggi tingkat sihirnya, formulanya akan semakin
rumit sehingga semakin sulit digunakan."
Saat Balletis memberikan penjelasan, seorang siswi
mengangkat tangan.
"Ya, silakan."
"Nama saya Amy. Karena rakyat jelata, saya tidak
punya nama keluarga. Berdasarkan penjelasan Guru, apakah itu berarti siapa pun
bisa menggunakan sihir apa pun asalkan mampu mengingat formulanya?"
"Tentu saja, aktivasi sihir membutuhkan mana yang
sepadan. Jika mana yang dialirkan ke formula di pikiran tidak mencukupi, sihir
akan gagal atau aktif dalam kondisi tidak sempurna. Selain itu, diperlukan
bakat yang luar biasa untuk bisa mengingat Magic Circle sihir tingkat tinggi
yang rumit secara akurat tanpa melenceng sedikit pun, serta menggambarkannya
secara instan di kepala."
Balletis menjawab pertanyaan tersebut dengan nada
bicara yang tenang.
"Selain
itu, setiap orang memiliki apa yang disebut sebagai 'Magic Output' dan 'Magic
Attribute'. Output adalah jumlah mana yang bisa dilepaskan keluar tubuh dalam
satu waktu, sedangkan atribut adalah kecocokan atau bakat terhadap jenis sihir
tertentu."
Ia
menggerakkan kapur di papan tulis di belakangnya, menggambar beberapa angka dan
pola.
"Misalnya,
ada sihir yang membutuhkan seratus mana untuk diaktifkan, sementara output
orang tersebut hanya delapan puluh. Dalam kasus itu, sihir akan aktif dengan
kekuatan yang lebih lemah dari aslinya. Selain itu, jika atribut mana pengguna
cenderung ke arah 'Air', maka saat menggunakan sihir atribut 'Api' yang
berlawanan, kekuatannya juga akan berkurang setengah."
Di atas
tanda silang yang digambar di papan tulis tertulis 'Api', dan di bawahnya
'Air'.
Di sisi kiri dan kanan tertulis 'Angin' dan 'Tanah'.
Selain itu, di sebelah tanda silang ada garis horizontal dengan tulisan
'Cahaya' dan 'Kegelapan'.
"Tanah, Air, Api, Angin, Cahaya, dan Kegelapan. Keenam atribut ini adalah
atribut dasar dalam sihir elemen. Namun, tergantung individunya, ada juga yang
memiliki mana yang cocok untuk atribut di luar ini... misalnya 'Petir' atau
'Racun'. Jika menggunakan sihir dengan atribut yang dikuasai, kekuatannya akan
lebih besar dari biasanya."
Balletis
melayangkan pandangan ke seluruh kelas... lalu tersenyum ramah.
"Kalau
begitu, mari kita periksa atribut apa yang cocok untuk kalian masing-masing.
Caranya mudah. Gunakan sihir Ball, yang merupakan dasar dari sihir
elemen."
Balletis membagikan tumpukan kertas berukuran sepuluh
sentimeter persegi ke setiap meja.
"Kertas uji ini adalah versi sederhana dari alat
pengukur kekuatan sihir yang digunakan saat ujian masuk. Kertas ini bisa
mengukur kekuatan sihir yang menyentuhnya."
Balletis mengangkat jari telunjuknya dan mengaktifkan
sihir. Sebuah bola api seukuran kepalan tangan muncul di atas jarinya. Saat ia
menempelkan kertas ke bola api tersebut, muncul angka '10' di sana.
"Kekuatan dasar sihir Ball adalah '10'.
Artinya, jika angka yang muncul di kertas lebih tinggi dari angka ini, itu
adalah atribut keahlian kalian, dan jika angkanya lebih rendah, itu berarti
atribut yang kurang dikuasai."
Dengan kata lain, dengan menempelkan kertas ini ke enam
jenis atribut Ball, mereka bisa mengetahui atribut mana yang paling
cocok bagi mereka.
Karena diukur dengan angka dan bukan sekadar perasaan,
hasilnya jadi sangat jelas.
"Silakan dicoba. Bagi yang mampu, kalian boleh
mencoba sihir di luar enam atribut dasar tersebut. Berhati-hatilah agar tidak
melukai teman di sekitar kalian."
Izin penggunaan sihir diberikan, dan para siswa mulai
merapalkan sihir masing-masing. Mereka mendekatkan kertas ke bola elemen yang
mereka buat untuk mengukur kekuatannya.
"Sepertinya
atribut keahlianku adalah 'Api'. Dan yang paling kurang kukuasai
adalah 'Air'."
Viola menciptakan bola api dan petir lalu menempelkan
kertasnya; keduanya menunjukkan angka di atas 20.
Sebaliknya, bola air hanya menunjukkan angka sekitar
setengah dari kekuatan dasar.
"Aku
mahir di atribut 'Air'. Tapi kurang di atribut 'Api'."
Primula yang mencoba hal yang sama memberikan
laporan. Secara mengejutkan, meskipun kembar, atribut keahlian dan kelemahan
mereka justru berkebalikan.
"Rest... luar biasa. Semuanya tepat angka '10',
ya."
Saat Rest mencobanya, keempat atribut utama
menunjukkan angka yang sama persis seperti sudah diukur.
"Sepertinya untuk empat atribut dasar memang
begitu... tapi yang ini agak berbeda."
Saat Rest menggunakan sihir Thunder Ball dan
memeriksanya, angka yang muncul adalah '25'. Sepertinya atribut keahlian Rest adalah 'Petir'.
(Si
Cedrick itu juga sering menggunakan sihir petir...)
Mengingat
wajah kakak laki-lakinya yang sudah tewas... ah, yang sudah ia bunuh, wajah
Rest berubah masam. Meskipun ia merasa tidak punya kemiripan apa pun dengan
saudara tiri itu, sepertinya atribut sihir mereka sama.
(Andai dia mendapatkan pendidikan yang benar...
sepertinya hubungan kami bisa berbeda jika dia tidak dirasuki iblis...?)
"Menjijikkan..."
Membayangkan dirinya merangkul pundak sang kakak membuat
Rest bergumam pelan agar tidak terdengar orang lain. Sepertinya hubungan dengan
Cedrick memang tidak akan pernah bisa menjadi apa pun selain musuh bebuyutan.
"Wah, aku tidak punya satu pun atribut
keahlian!"
"Baru terpikir sekarang... tapi bagaimana caranya
kamu bisa lulus ke Departemen Sihir, ya?"
Di hadapan Rest yang sedang tenggelam dalam perasaan
melankolis, Celestine tampak kebingungan melihat Yuri yang entah kenapa justru
membusungkan dada dengan bangga.
◇ ◇ ◇
Pelajaran akademi tidak hanya dilakukan di ruang kelas
atau laboratorium. Pelajaran berikutnya adalah mata pelajaran pilihan. Rest
berada di lapangan untuk mengikuti kelas Swordsmanship.
Dia tidak bersama si kembar Rosemary kali ini, karena
mereka berdua memilih kelas Lady’s Education. Swordsmanship
sebenarnya adalah mata pelajaran Departemen Ksatria, namun banyak siswa
laki-laki Departemen Sihir yang mengambilnya, sehingga terlihat beberapa teman
sekelas Rest di lapangan.
"Aneh juga... meskipun ingin menjadi penyihir,
ternyata banyak yang mengambil kelas Swordsmanship, ya."
"Itu karena ini dianggap sebagai etiket
bangsawan, bukan?"
Luid—teman
baru Rest—menjawab pertanyaannya. Sebagai pria bangsawan, mereka harus mampu
mengayunkan pedang untuk melindungi wilayah dan rakyat dalam keadaan darurat.
Pemikiran
kolot seperti itu masih berlaku di masyarakat bangsawan, sehingga banyak siswa
di luar Departemen Ksatria yang memilih pelajaran ini.
Ada
sekitar seratus siswa yang berkumpul di lapangan; setengahnya adalah siswa
Departemen Ksatria, dan setengahnya lagi dari departemen lain.
Rincian dari departemen lain adalah lima puluh persen
Departemen Sihir, tiga puluh persen Departemen Administrasi, dan dua puluh
persen Departemen Kependetaan.
Hampir tidak ada siswa Departemen Seni di sini, mungkin
karena luka pada jari bisa menghambat aktivitas mereka.
Meskipun sebagian besar luka bisa disembuhkan dengan
sihir... luka pada jari tetap bisa memengaruhi aktivitas yang membutuhkan
gerakan halus seperti melukis atau bermain alat musik.
"...Padahal tidak perlu belajar pedang, cukup
tembakkan sihir dari belakang dan semuanya selesai."
Seorang siswa lain di belakang Luid bergumam dengan
nada kesal.
"Kamu...
Wood-kun, ya?"
"Panggil Maurice saja. Rest-kun, sang kandidat
menantu keluarga Rosemary."
Siswa berkacamata yang menekan jembatan kacamata di
hidungnya itu adalah Maurice Wood.
Maurice memiliki wajah yang terlihat sangat cerdas, namun
tubuhnya kurus dan kurang otot. Jelas sekali dia tidak mahir berolahraga.
"Ilmu pedang itu kan cuma permainan untuk orang yang
tidak bisa sihir? Menyedihkan sekali hal semacam itu jadi etiket bangsawan.
Kalau bukan demi harga diri keluarga, aku tidak sudi menyentuh pedang."
"Oi, oi... bicaramu keterlaluan. Lihat
sekitarmu."
Rest segera menegur Maurice. Pola pikir Maurice bukanlah
hal yang langka.
Banyak penyihir yang meremehkan senjata seperti pedang
atau tombak, menganggapnya sebagai alat rendah yang digunakan orang biasa yang
tidak bisa sihir.
Namun... pemikiran itu sulit diterima oleh mereka yang
bercita-cita menjadi ksatria atau prajurit. Buktinya, beberapa siswa Departemen
Ksatria yang berdiri tak jauh dari sana mulai melotot ke arah Maurice.
"Bahkan penyihir pun bisa terpaksa bertarung
langsung jika terjebak dalam pertempuran jarak dekat. Tidak ada ruginya bersiap
untuk pertarungan jarak dekat, kan?"
"Pemikiran yang tidak mencerminkan kandidat
menantu keluarga Rosemary, ya. Apa menurutmu pedang lebih hebat dari
sihir?"
"Itu cuma masalah situasi. Lebih baik bisa
keduanya daripada cuma satu."
Lagipula, Aeryish Rosemary yang merupakan darah murni
keluarga Rosemary sangat mahir bertarung dengan tangan kosong.
Deable yang mantan Penyihir Istana juga seorang ahli
bela diri; penyihir hebat justru biasanya mempersiapkan diri untuk pertarungan
jarak dekat.
"Hmm... begitu ya. Yah, ada juga sih pola pikir
seperti itu."
Maurice mendengus tidak tertarik. Sepertinya Maurice
adalah penganut prinsip supremasi sihir—keyakinan bahwa penyihir lebih unggul
dari manusia lainnya. Hal yang lumrah ditemui pada siswa Departemen Sihir.
"Oya, ada apa ini? Atmosfernya
terasa sangat tegang."
"Yuri."
Yuri muncul agak terlambat di lapangan yang atmosfernya
mulai terasa berat. Yuri tersenyum sangat lebar di bawah sinar matahari.
"K-Katreia-san..."
Begitu Yuri muncul, wajah Maurice seketika memerah padam. Luid membelalakkan matanya, sementara Rest hanya bisa tertawa pahit sambil bergumam, "Ah...".
Yuri juga sudah berganti pakaian olahraga, namun
sepertinya ukurannya kekecilan satu nomor.
Gara-gara dadanya yang besar, pakaian itu tersingkap ke
atas dan memperlihatkan pusarnya. Ternyata setelah memakai pakaian tipis seperti ini baru
kelihatan... Yuri adalah tipe orang yang terlihat lebih kurus saat memakai baju
lengkap.
(Kalau
dipikir-pikir, waktu dia basah kuyup dulu tubuhnya juga memang... ah, bukan itu
fokusnya.)
"……Ada apa, Yuri? Kamu kelihatan senang
sekali."
"Tentu saja aku senang! Ini adalah pelajaran pedang
yang sudah sangat kunantikan!"
Yuri menjawab sambil mengepalkan kedua tangannya dengan
semangat.
"Aku sudah ingin belajar pedang sejak dulu, tapi
Ayah melarangku karena kebijakan beliau! Makanya, aku benar-benar menantikan hari ini!"
"Begitu
ya…… syukurlah kalau begitu."
Keluarga
Marquis Katreia adalah keluarga ksatria ternama. Aku jadi penasaran kenapa
Yuri, yang merupakan putri dari keluarga tersebut, justru dilarang belajar
pedang.
"Maurice-kun juga, ayo semangat! Tidak peduli Departemen Sihir atau Departemen Ksatria. Begitu kita melakukannya, kita
harus berjuang sekuat tenaga!"
"U……
ggh…… i-iya, benar juga……"
Maurice
memalingkan wajahnya dari sosok Yuri yang mengenakan baju olahraga ketat, lalu
menyetujui dengan nada enggan.
"Pelajaran dimulai! Semuanya kumpul di sini!"
Sesaat kemudian, seorang pengajar memanggil kami.
Sepertinya waktu pelajaran sudah dimulai. Rest dan yang lainnya berlari kecil
menuju ke tengah lapangan.
"Aku Baick Oddman, pengajar Departemen Ksatria yang
mengampu mata pelajaran Swordsmanship."
Berdiri di depan para siswa yang berbaris adalah
seorang pria paruh baya berbadan besar dan berambut pendek.
Seluruh tubuhnya dipenuhi otot-otot keras, sangat
mencerminkan sosok pengajar Departemen Ksatria.
"Nah……
seperti yang kalian lihat, di sini tercampur antara mereka yang sudah
berpengalaman dari Departemen Ksatria dan orang awam dari departemen lain……
tanpa membuang waktu, kita akan langsung mengadakan simulasi duel."
"…………!"
Suasana
menjadi riuh di kalangan siswa luar Departemen Ksatria. Mengingat banyak di
antara mereka yang bahkan belum pernah memegang pedang, apa maksudnya dengan
langsung mengadakan duel?
"Pelajaran
Swordsmanship ini dibagi menjadi beberapa kelompok, tapi kelompok ini
saja sudah berisi seratus orang. Aku tidak bisa membimbing semuanya. Jadi, aku
akan memilah mana orang yang berhak dibimbing dan mana yang tidak."
Oddman
menyeringai jahat, menatap siswa dari departemen lain dengan pandangan
meremehkan.
"Mereka
yang kalah dalam simulasi duel ini hanya akan aku suruh lari keliling lapangan
sampai akhir semester. Jangankan pedang sungguhan, memegang pedang kayu pun
tidak akan kuizinkan. Camkan itu!"
Begitu
Oddman mengatakannya dengan nada riang, tawa pecah dari barisan siswa
Departemen Ksatria.
(Ah……
begitu ya. Jadi ini semacam itu……)
Singkatnya,
ini adalah semacam 'ospek' atau ujian mental. Bagi siswa Departemen Ksatria,
mungkin mereka merasa tidak senang jika wilayah mereka dimasuki oleh siswa dari
departemen lain. Mereka berniat menendang siswa luar dari pelajaran dengan cara
membuat mereka kalah telak dalam duel.
(Banyak
siswa Departemen Sihir, seperti Maurice, yang meremehkan ksatria karena tidak
bisa sihir. Pasti ada gesekan semacam ini antara kedua departemen……)
Diskriminasi
dan perlakuan dingin terhadap sebagian siswa. Jika ini di Jepang modern, ini
pasti akan menjadi masalah besar.
Namun,
ini adalah dunia lain yang keras di mana otoritas dan kemampuan adalah
segalanya.
Dengan
alasan 'tidak punya kemampuan untuk ikut pelajaran', pengajar boleh saja
melarang siswa yang tidak ia sukai untuk berpartisipasi.
"Kalau
begitu, yang namanya dipanggil maju ke depan…… pertama, Edualt dari Departemen
Ksatria, dan Maurice Wood dari Departemen Sihir."
"Siap!"
"Eeh!?
Aku!?"
Siswa
ksatria maju dengan langkah mantap, sementara Maurice berteriak panik.
"Ayo cepat maju! Ambil pedang kayu itu dan
berdiri di arena!"
Atas desakan Oddman, Maurice maju dengan enggan dan
mengambil pedang kayu.
"Karena ini pelajaran pedang, tentu saja dilarang
menggunakan sihir. Tapi, kalian boleh menggunakan sihir tipe penguatan fisik.
Anak-anak ksatria juga menggunakannya."
Meski disebut ksatria, bukan berarti mereka tidak
menggunakan sihir sama sekali.
Mereka hanya menjadikan pedang atau tombak sebagai
senjata utama, namun seringkali menggunakan sihir sebagai pendukung.
"Baik, pertandingan dimulai. Cepat berbaris dan
pasang kuda-kuda."
"Hehe."
"Uu……"
Berbeda dengan siswa ksatria yang memasang kuda-kuda
dengan wajah jumawa, ujung pedang kayu di tangan Maurice tampak bergetar hebat.
Kalau
diperhatikan baik-baik…… siswa ksatria yang menjadi lawan Maurice adalah salah
satu orang yang tadi memasang wajah kesal saat mendengar ucapan 'ilmu pedang
cuma permainan untuk orang yang tidak bisa sihir'.
"Kalau
begitu…… Mulai!"
"Oraaa!"
Begitu
pertandingan dimulai, siswa ksatria itu melesat maju dan mengayunkan pedangnya.
Pedang kayu itu menghantam perut Maurice dengan keras.
"Argh……!?"
Maurice
baru saja hendak meringkuk menahan sakit, namun siswa ksatria itu langsung
menendang wajahnya hingga terpental.
"Ghuakh……"
"Hah, kenapa diam saja! Apa kau cuma boneka kayu
buat latihan!?"
"H-Hentikan……"
"Siapa yang mau berhenti! Jangan belagu kau kecambah
yang cuma punya bakat sihir!"
"Gakh……
ggh……"
Pedang
kayu itu berkali-kali menghantam perut dan wajah Maurice. Wajah Maurice
membengkak, ia tersungkur di tanah sambil mengeluarkan suara napas yang aneh.
"Ya,
pertandingan selesai. Cepat bawa keluar orang yang tumbang itu."
Setelah
Maurice tidak lagi bergerak, Oddman yang terkekeh jahat segera memerintahkan
agar Maurice disingkirkan.
"Oi, Maurice! Kau tidak apa-apa!?"
"Aku bantu juga! Dia harus segera diobati!"
Rest dan Luid membopong Maurice berdua dan membawanya ke
tepi lapangan.
Meski itu pedang kayu tanpa mata pisau, dipukul dengan
kekuatan penuh tentu saja sangat menyakitkan dan bisa menimbulkan cedera. Wajah
Maurice bengkak kemerahan, dan tubuhnya dipenuhi memar biru.
"Sialan…… anak-anak ksatria itu benar-benar
keterlaluan!"
"Heal!"
Luid berteriak marah sambil mengepalkan tinjunya.
Rest juga mengernyitkan dahi dengan perasaan tidak senang, lalu merapalkan
sihir penyembuh pada Maurice yang pingsan. Untungnya tidak ada tulang yang
patah, tapi memar dan pendarahan dalamnya cukup banyak.
"……Sepertinya mereka memang sangat membenci
murid Departemen Sihir. Sampai tega melakukan ini pada orang awam yang tidak
melawan."
Penyihir dan Ksatria. Keduanya adalah kekuatan yang
menyokong negara, namun justru karena itulah masing-masing merasa bahwa
'merekalah yang paling berjasa melindungi negara'. Aku pernah dengar ada
persaingan sengit antara kedua departemen ini…… dan sekarang aku menyaksikannya sendiri.
"Ya
ampun…… cuma bisa jadi sansak begitu, penyihir benar-benar lembek ya! Daripada
belajar trik sulap murahan, lebih baik latih otot kalian, OTOT!"
Oddman mengatakannya dengan nada prihatin yang
dibuat-buat, namun senyum terus menghiasi bibirnya.
Sama seperti ada penyihir yang meremehkan ksatria, ada
juga ksatria yang meremehkan penyihir. Pengajar bernama Oddman ini sepertinya
adalah contoh utamanya.
"Berikutnya, Tralgar dari Departemen Ksatria. Tom
Shout dari Departemen Sihir."
Satu per satu siswa Departemen Sihir ditumbangkan oleh
siswa ksatria. Setiap kali ada yang terluka, Rest segera mengobati mereka.
"Oi, Rest. Apa mana-mu baik-baik saja?"
"Tidak masalah. Aku percaya diri dengan jumlah
mana-ku, jadi jangan khawatir."
Meskipun sudah mengobati lebih dari sepuluh orang, jumlah
mana Rest yang tak terbatas seolah tidak berkurang sedikit pun. Justru kesabarannya yang mulai
menipis.
"Tapi
tetap saja…… anak ksatria itu benar-benar bertindak sesuka hati. Dendam apa sih yang mereka punya pada Departemen Sihir?"
"Ya…… aku pernah dengar anak ksatria punya rasa
persaingan aneh pada Departemen Sihir, tapi aku tidak menyangka sampai separah
ini."
Luid menyetujui dengan ekspresi penuh amarah.
"Baiklah, selanjutnya Bedrie Lahn dari
Departemen Ksatria, dan Luid Jistal dari Departemen Sihir. Maju ke depan!"
"Giliranku……
lihat saja, aku akan membalaskan dendam ini."
Luid
membakar semangat tempurnya dan melangkah menuju arena. Ia mengambil pedang
kayu dan berhadapan dengan siswa ksatria.
Dari
pengamatan Rest…… tubuh Luid tidaklah sekurus 'kecambah', namun pembentukan
otot di lengan dan kakinya jelas kalah jauh dibanding siswa Departemen Ksatria.
(Kalau dilarang pakai sihir serangan, dia benar-benar
dirugikan…… nah, apa yang akan dia lakukan?)
"Pertandingan dimulai!"
"Uryaaa!"
Begitu pertandingan dimulai, Luid langsung bergerak. Tak disangka-sangka…… ia justru
melemparkan pedang kayu di tangannya.
"Apa……!?"
Siswa
ksatria itu sepertinya tidak menduga hal ini. Ia terburu-buru menangkis pedang
kayu yang melayang ke arah wajahnya.
"Physical
Up!"
Di saat
yang sama, Luid melesat kencang. Memanfaatkan pandangan lawan yang tertutup
karena menangkis, Luid memutar ke belakang siswa ksatria itu dan langsung
mengunci lehernya.
"Ggh……
sialan…… lepaskan……!"
"Mana mau kulepaskan! Jangan manja!"
Luid memperkuat tubuhnya dengan sihir, lalu dalam posisi
mengunci leher, ia melilitkan kedua kakinya ke pinggang lawan. Teknik ini mirip dengan apa yang
disebut 'Rear Naked Choke' dalam judo.
Siswa ksatria itu berusaha keras untuk melepaskan diri……
namun posisinya sangat buruk.
Meski ada perbedaan perawakan dan kekuatan otot, sangat
sulit melepaskan diri dari Luid yang sudah memperkuat tubuhnya.
Tak lama kemudian, siswa ksatria itu pingsan dengan mata
mendelik putih.
"…………Pertandingan selesai."
Oddman mengumumkan akhir pertandingan dengan wajah
tidak puas. Luid melepaskan diri dari tubuh lawannya sambil mengembuskan napas
panjang.
"Fuih, bahaya juga. Hampir saja aku kalah."
"Eh, bukannya kamu tadi menang dengan cukup
teliti?"
"Tidak
juga…… ksatria memang beda. Tenaganya gila, aku sampai harus
mati-matian menahannya agar tidak lepas."
Terlihat lengan Luid mengalami lecet dan sedikit
berdarah. Begitu Rest merapalkan sihir penyembuh, luka itu lenyap tanpa bekas.
"Terima kasih, terbantu sekali."
"Sama-sama…… kemenangan pertama untuk Departemen
Sihir ya."
Mengingat sudah lebih dari sepuluh teman sekelas mereka
tumbang, Luid adalah orang pertama yang berhasil menang.
"Benar. Berikutnya adalah……"
"Giliranku!"
Sosok yang tiba-tiba maju adalah Yuri Katreia, yang tadi
membantu merawat orang yang terluka.
"Kalau dipanggil sesuai urutan absen, berarti
berikutnya aku, kan?"
"Etto……
apa kamu baik-baik saja, Yuri?"
"Tenang
saja, tidak masalah!"
Yuri
mengayun-ayunkan pedang kayunya dengan asal-asalan.
"Kalau aku kuat, aku menang. Kalau lemah, aku kalah!
Cuma itu, kan? Ini bukan pertarungan hidup dan mati, jadi jangan
khawatir!"
Yuri menyatakannya dengan nada bicara yang datar dan
tegas. Meski terlihat memiliki kepribadian ceria dan lugu, ternyata
pemikirannya cukup realistis.
(Putri Komandan Ksatria memang bukan cuma pajangan. Di
balik sifat polosnya, sepertinya dia punya pandangan yang cukup keras soal
pertarungan……)
"Ayo, siapa pun lawannya, majulah!"
Yuri
berdiri di arena…… namun lawan duelnya tidak kunjung maju.
"Oi,
Lyubece…… kemari sebentar."
Oddman
memanggil salah satu siswa ksatria dan membisikkan sesuatu kepadanya.
Apa yang sedang mereka bicarakan…… Rest mengaktifkan
sihir Wind Control dan menggunakan angin untuk menangkap suara mereka.
'Pertandingan berikutnya, kau harus menang.'
'Komandan Ksatria berpesan agar putrinya jangan
dibiarkan memegang pedang……'
'Tapi, jangan serang sampai dia terluka parah. Paham?
Jangan sampai dia cedera!'
"…………?"
Sepertinya Oddman sudah menerima instruksi sebelumnya
dari ayah Yuri.
(Kalau
tidak salah…… banyak pengajar Departemen Ksatria adalah veteran dari Pasukan
Ksatria. Mungkin mereka masih sangat terpengaruh meski sudah jadi pengajar di
akademi……?)
Entah
mengapa ayahnya tidak ingin Yuri memegang pedang, namun sekali lagi, kerumitan
hubungan keluarga Katreia sedikit terungkap di sini.
"Pertandingan
berikutnya…… Lyubece dari Departemen Ksatria melawan Yuri Katreia dari
Departemen Sihir! Maju!"
Dengan nada yang entah mengapa terdengar tegang,
Oddman mengumumkan pertandingan berikutnya. Yuri sudah berada di arena.
Yang muncul kemudian adalah anak laki-laki yang tadi
diberi instruksi oleh Oddman.
Rambutnya abu-abu kusam dan diikat di belakang,
sebuah pemandangan langka di Departemen Ksatria yang rata-rata berambut pendek.
Poninya yang panjang tampak menutupi area matanya.
"Lyubece……
jangan-jangan dia Wilhelm Lyubece!?"
"Kamu
mengenalnya, Luid?"
Rest
bertanya kepada Luid yang tiba-tiba bersuara keras. Luid menatap siswa ksatria
yang menjadi lawan Yuri itu dengan mata terbelalak.
"Iya……
dia adalah lulusan terbaik Departemen Ksatria tahun ini. Dia juga
yang memberi pidato saat upacara pendaftaran, kan?"
"Oh
iya…… memang ada orang seperti itu. Benar juga."
Berkat
insiden lemparan lumpur, ingatanku soal itu sempat melayang, tapi kalau dipikir
lagi memang dia salah satu siswa yang berdiri di atas panggung saat upacara.
"Rumornya,
saat ujian praktik masuk, Lyubece berhasil mengalahkan ksatria aktif yang
menjadi penguji hanya dengan pedang. Rambutnya memang panjang dan
kelihatan berantakan, tapi dia pasti orang terkuat di angkatan Departemen
Ksatria saat ini."
"Orang sehebat itu jadi lawan Yuri…… mereka
benar-benar ingin menyingkirkannya di sini ya."
Saat Rest berdoa dalam hati untuk kemenangan temannya,
Yuri yang berhadapan dengan musuh justru membuka mulut dengan senyum ceria.
"Wah, aku senang sekali! Tak kusangka bisa bertukar
jurus dengan lulusan terbaik Departemen Ksatria!"
"…………"
"Selama ini aku tidak bisa belajar pedang dengan
benar karena kebijakan pendidikan Ayah. Mohon bantuannya dalam pertarungan
ini!"
"Bantuan……?"
"Iya. Kau adalah lawan yang sangat layak. Mohon
kerja samanya."
"…………"
Yuri berbicara dengan nada santai seperti biasanya……
namun lawannya, Lyubece, hampir tidak mengeluarkan suara. Ia hanya diam membisu
dengan wajah yang sulit dibaca.
"Kalau begitu…… Mulai!"
"Yaaaa!"
Begitu pertandingan dimulai, Yuri melesat maju. Ia
mengangkat pedang tinggi-tinggi di atas kepala dan mencoba menghantam lawannya
dengan ayunan besar.
"Gawat……!"
Tanpa sadar Rest mengerang. Melancarkan serangan
besar yang terbuka terhadap lawan yang lebih kuat, itu benar-benar gaya
bertarung orang awam.
Dalam pertarungan jarak dekat, standarnya adalah
menyerang dengan gerakan kecil sambil mengamati lawan, lalu mengeluarkan jurus
besar saat melihat celah.
"…………"
Sesuai dugaan. Lyubece menghindari serangan Yuri
hanya dengan sedikit menggeser tubuhnya. Ia berada dalam posisi yang sempurna
untuk memberikan serangan balasan pada Yuri yang tidak berdaya setelah
menyerang……
"…………"
Tapi ia tidak melakukannya. Lyubece tidak menyerang
Yuri, ia justru melompat mundur dalam diam.
"Jangan lari!"
Yuri mengejar Lyubece yang mundur. Tubuhnya yang
lentur bergerak lincah seperti ikan ayu yang melompat di sungai, terus mengejar
lawannya sambil mengayunkan pedang.
"Yat!
Fut! Toat!"
"…………"
"Ini,
ini…… kena kau!"
"…………"
"Hap
hap! Ada celah!"
Ada
celah…… teriak Yuri sambil mengayunkan pedang, padahal Lyubece sama sekali
tidak punya celah. Lyubece menghindar dengan langkah-langkah ringan seolah bisa
melihat masa depan.
"…………?"
"O-Oi!
Ini sebenarnya siapa yang unggul!? Apa Yuri yang memegang
kendali!?"
Luid yang menyipitkan mata keheranan meminta penjelasan
pada Rest.
"Etto……
seperti yang terlihat, yang menyerang memang Yuri. Tapi Yuri
sama sekali tidak diuntungkan. Malah, dia bisa tumbang kapan saja."
"Maksudnya?"
"……Aku tidak tahu. Kenapa laki-laki bernama Lyubece
itu tidak menyerang balik?"
Itulah yang membuatku bingung. Setidaknya ada sepuluh
kali kesempatan bagi Lyubece untuk melakukan serangan balasan pada Yuri.
Namun……
ia terus-menerus mengabaikan kesempatan itu. Sesekali ia menatap tajam Yuri
dari balik poninya, lalu tiba-tiba memalingkan wajah, kemudian menatapnya
lagi…… Meskipun ia bisa menghindar dengan sangat mudah, ia tidak sekalipun
mengayunkan pedang.
"Oi, apa yang kau lakukan! Lyubece!"
Oddman yang bertindak sebagai wasit akhirnya berteriak
karena tidak sabar.
"Cepat
menangkan pertandingannya! Jangan main-main……!"
Mungkin
karena ada alasan kuat kenapa ia harus membuat Yuri kalah, Oddman sampai lupa
pada perannya sebagai wasit netral dan berteriak lantang.
"Cih……"
Menerima
instruksi Oddman…… Lyubece mencoba mengayunkan pedang di tangan kanannya.
"Datang
juga!?"
Yuri
yang panik segera memegang pedang dengan kedua tangan di atas kepala untuk
bertahan. Itu adalah langkah yang salah.
Dengan feint
yang seolah menyerang atas, tubuh Yuri menjadi terbuka lebar.
"…………"
……Tapi ternyata, lagi-lagi Lyubece tidak menyerang.
Ia menghentikan pedangnya di detik terakhir dan melompat mundur.
"Hm? Tidak jadi menyerang?"
Yuri juga ikut bingung. Sepertinya ia pun menyadari
ada yang aneh dengan sikap Lyubece.
"Ada apa? Apa perutmu sakit?"
"…………Aku kalah. Aku menyerah."
Tiba-tiba saja Lyubece menyatakan kekalahannya. Ia
membuang pedang kayunya dan berjalan meninggalkan arena dengan langkah seribu.
"Eh……
menang?"
"Katreia-san
menang? Melawan Wilhelm Lyubece itu?"
"B-Bohong kan!? Kenapa Lyubece bisa kalah!"
Hasil yang sangat tidak terduga ini membuat para siswa
Departemen Sihir kebingungan. Para siswa Departemen Ksatria pun berteriak dalam
kekacauan.
"Oi, Lyubece! Apa-apaan ini!?"
Dan yang paling terguncang di sini tentu saja Oddman.
"Aku sudah bilang kau harus menang melawan Nona
Katreia! Aku tidak menerima penyerahan diri ini!?"
"……Pemenangnya sudah diputuskan. Aku kalah."
"Kau bahkan belum terkena satu serangan pun!? Aku
tidak mengizinkanmu menyerah. Apa kau juga mau lari keliling lapangan sampai
akhir semester!?"
Oddman mencoba mengintimidasi, namun Lyubece tampak tidak
peduli dan menjawab asal-asalan, "Terserah, aku tidak peduli," lalu
bersiap pergi.
"Tunggu! Aku juga tidak bisa menerima ini!"
Bahkan Yuri yang seharusnya menang pun mengejar Lyubece.
"Kalau aku kalah setelah bertarung, aku akan
menerimanya dengan senang hati. Tapi tidak ada alasan bagiku untuk
menerima kemenangan cuma-cuma! Mari
kita tanding ulang!"
"Bodo
amat…… aku tidak mau bertarung denganmu lagi."
"Tunggu
dulu!"
Yuri
mencengkeram tangan Lyubece yang mencoba mengabaikannya. Seketika, Lyubece
menyentakkan tangannya dan melompat kaget.
"Hah……?"
"J-J-J-J-Jangan
sentuh aku!"
"Hah? Apa maksudmu?"
"Sudah kubilang jangan sentuh aku…… Ah, sudah
lah!"
Lyubece menggosok-gosok tangannya yang tadi dicengkeram
ke celananya. Itu adalah reaksi berlebihan seolah ia baru saja menyentuh
kotoran.
"Hm? Maaf, apa karena tanganku berkeringat?"
"Bukan itu masalahnya! D-Dasar perempuan
cabul!"
"C-Cabul?"
"Gara-gara kau sepanjang pertandingan terus
menggoyang-goyangkan dada…… lemak tak berguna itu, aku jadi tidak
bisa konsentrasi sama sekali! Ah, sudahlah…… makanya aku benci sekali sama
perempuan!"
Anak laki-laki yang seharusnya menjadi yang terkuat di
angkatan pertama Departemen Ksatria itu berteriak dengan suara yang hampir
menangis. Semua orang di tempat itu tertegun, bingung melihat
situasi tersebut.
(Jangan-jangan,
dia itu…… sangat lemah terhadap perempuan?)
Entah
dia benar-benar benci atau cuma tidak punya imun dan pemalu…… yang jelas dia
sepertinya sangat tidak tahan menghadapi lawan jenis.
Saat
bertanding tadi, ia melihat dada Yuri yang mengenakan baju olahraga berguncang,
dan itu membuatnya kehilangan fokus hingga hanya bisa bertahan tanpa bisa
menyerang balik.
(Kemampuannya sebagai pendekar pedang pasti kelas satu…… tapi sepertinya dia 'Pendekar
Pedang Pembenci Wanita', ya?)
"Aku
kalah! Itu sudah keputusan final! Aku tidak akan bertarung denganmu lagi!"
Sambil berteriak seperti anak kecil, Lyubece lari
tunggang-langgang. Yuri pun terpaku, menatap lawan duelnya yang melarikan diri
dengan mata membelalak.
"……Pemenangnya, Nona Yuri Katreia."
Setelah keheningan sesaat, Oddman dengan nada
terpaksa dan kesal mengumumkan kemenangan Yuri.
"Muu……"
Dengan wajah tidak puas, Yuri kembali ke tempat Rest
dan yang lainnya.
"Kerja bagus. Bagaimana tadi?"
"Sejujurnya, itu pertarungan yang tidak ada
pelajarannya sama sekali. Padahal aku pikir akhirnya hari di mana aku bisa
bertarung dengan pendekar pedang sungguhan telah tiba……"
"Begitu ya, sayang sekali."
"Sangat disayangkan…… tapi kalau
terus ikut pelajaran, mungkin akan ada kesempatan tanding ulang
dengannya."
"……Entahlah soal itu."
Melihat reaksi Lyubece tadi, rasanya hari di mana ia mau
bertarung dengan Yuri tidak akan pernah datang.
"……Selanjutnya, Danila dari Departemen Ksatria.
Rest dari Departemen Sihir."
"Ah, giliranku."
Oddman memanggil nama Rest dengan nada tidak senang.
Rest yang sedari tadi mengobati orang yang terluka pun berdiri, mengambil
pedang kayu, dan menuju arena.
"Lakukan sesukamu, Danila!"
"Tanpa disuruh pun aku akan melakukannya. Aku sudah
tidak sabar ingin menghajar wajah sok pintar anak Departemen Sihir ini!"
Menerima suntikan semangat dari Oddman, seorang laki-laki
berambut cokelat kusam yang dipotong pendek maju ke depan. Perawakannya tidak
terlihat terlalu kekar, namun dia cukup tinggi.
"Sebenarnya aku ingin bertarung dengan perempuan
tadi…… aku suka sekali menghajar perempuan."
"……Orang yang berbahaya ya. Apa Departemen Ksatria
mulai memelihara binatang buas?"
"Haha! Gaya bicaramu benar-benar sok seperti
anak Departemen Sihir pada umumnya!"
Berhadapan dengan Rest, laki-laki beringas bernama
Danila itu mengangkat pedang kayunya.
"Lyubece itu memalukan ya! Masa orang yang bisa
dikibuli perempuan jadi lulusan terbaik angkatan pertama, tidak masuk akal!
Yah, sebentar lagi posisinya akan kurebut dalam Pertarungan Peringkat!"
"Pertarungan Peringkat…… jadi tradisi Departemen
Ksatria itu benar-benar ada ya?"
Ternyata para siswa Departemen Ksatria diberi
peringkat masing-masing, dan ada tradisi untuk merebut posisi tersebut melalui
tes atau duel satu lawan satu.
"Kalau masuk lima besar, katanya akan langsung
direkrut oleh Pasukan Ksatria Pengawal Kerajaan…… kedengarannya menarik."
"Menghajar anak Departemen Sihir memang tidak
akan menaikkan peringkatku…… tapi, cih! Mari bersenang-senang!"
"Mulai!"
Tanda dimulainya pertarungan diumumkan. Danila
langsung melesat masuk, mengincar kaki Rest dengan tebasan pedangnya.
"Mengincar
kaki…… seleramu buruk ya."
Rest
melompat ringan untuk menghindari serangan itu.
"Hya-haaa!
Kau berhasil menghindar ya. Kuberi pujian buat yang satu itu!"
"…………"
"Sekarang kanan, lalu kiri! Bagaimana dengan
perutmu!?"
Rest menangkis serangan dari kanan dengan pedang kayunya,
lalu mundur untuk menghindari serangan dari kiri. Tusukan mengarah ke perutnya,
namun ia menghindar dengan memutar tubuhnya. Danila terus menyerang
bertubi-tubi dengan pedang kayunya. Laki-laki ini sepertinya termasuk siswa
papan atas di Departemen Ksatria…… meskipun gerakannya kasar, tebasannya tajam
dan cepat.
(Kalau aku tidak berguru pada Pak Deable, aku pasti sudah
tamat dalam sekejap…… orang ini lumayan kuat.)
Ucapannya bukan sekadar bualan. Aku bisa merasakan
kemampuan yang cukup mumpuni darinya.
"Belum
selesai…… Accelerator!"
Danila
semakin meningkatkan kecepatannya.
Meskipun
keduanya sudah menggunakan Physical Augmentation, pertarungan beralih ke
kecepatan yang jauh lebih tinggi.
"Aku
juga pakai Accelerator…… Benar-benar pertarungan yang merepotkan,
ya……"
"Hebat
juga untuk ukuran seorang penyihir! Ayo, buat aku lebih bersenang-senang
lagi!"
"Aku sih tidak merasa senang sama sekali…… Tapi
harus kuakui, teknik pedangmu memang lebih unggul."
Jika ini adalah baku hantam biasa, Rest yakin dia bisa
menang.
Namun, dalam duel menggunakan pedang, lawan jelas
memiliki keuntungan lebih. Meski kecepatan mereka seimbang, perlahan-lahan
posisi Rest mulai terdesak.
"Sihir tipe penguatan fisik tidak melanggar
aturan. Kalau begitu……"
"Hya-haaa! Ada apa? Apa kau
bakal mati begitu saja!?"
"Aku tidak akan kalah."
"Hah?"
Rest menghindari serangan Danila dan seketika
berputar ke belakangnya. Kecepatannya yang seperti teleportasi membuat Danila
tidak sempat bereaksi. Sebelum lawannya sempat berbalik, Rest menghantamkan
satu serangan telak ke punggungnya.
"Ghuakh……!"
Terhantam pedang kayu di punggung, Danila jatuh
tersungkur ke depan, namun ia segera memperbaiki posisinya.
"Pemulihan
yang cepat. Kau memang kuat."
"Sialan……
Barusan itu, apa yang kau……!"
"Kita
sedang bertarung. Cukup sekian obrolannya."
"Cih……!?"
Rest
kembali menghentakkan kaki ke tanah dan berpindah ke belakang lawan lagi.
Begitu Danila berbalik, sebuah tebasan pedang kayu menghantam telak wajahnya.
"Sial……
Keparat, kecepatan apa ini……!?"
Rest tidak merasa perlu menjelaskan. Ia melesat bebas
ke segala arah di dalam arena, menghujani tubuh Danila dengan pedang kayunya.
Menghantam bahu, kaki, perut—serangan bertubi-tubi mendarat tanpa henti.
"High Accelerator!"
Itu adalah sihir tingkat lanjut, versi yang lebih
kuat dari Accelerator. Sebuah sihir kelas atas yang diajarkan oleh
gurunya, Deable.
(Mungkin ini sudah melenceng dari pelajaran teknik
pedang…… tapi secara aturan, aku tidak melanggar apa pun. Jangan salahkan aku,
ya.)
"Uooooooooh……!?"
Menerima serangan berkali-kali, Danila berteriak.
Alasan dia tidak kunjung tumbang mungkin karena dia mengaktifkan sihir tipe
pertahanan. Namun, setelah menerima puluhan hantaman, batas
kemampuannya pun tiba.
"Kh……"
Danila berhenti bergerak. Ia tidak jatuh, melainkan tetap
berdiri mematung dengan mata mendelik putih.
"Tidak
mungkin…… D-Dia mati sambil berdiri……!"
Salah satu siswa yang menonton bergumam dengan ngeri.
"Hei……
aku tidak membunuhnya, tahu? Jangan bicara sembarangan."
Dia
hanya pingsan. Rest tidak ingin dicap sebagai pembunuh begitu saja.
"P-Pertandingan
selesai……"
Oddman
mengumumkan akhir duel dengan nada bicara yang pahit. Belakangan Rest baru tahu
bahwa laki-laki bernama Danila itu adalah siswa peringkat kedua di angkatan
pertama Departemen Ksatria.
Peringkat
pertama Lyubece dan peringkat kedua Danila—dua siswa terbaik Departemen
Ksatria—telah dikalahkan oleh siswa Departemen Sihir di bidang spesialisasi
mereka sendiri: teknik pedang. Rumor tersebut pun menyebar ke seluruh akademi
dalam sekejap.
◇ ◇ ◇
Begitulah
cara Rest menjalani kehidupan akademinya yang (sepertinya) berjalan mulus. Bagi
Rest yang merupakan seorang reinkarnator, ini adalah kehidupan sekolah
keduanya.
Mengikuti
pelajaran, mempererat pertemanan dengan teman sekelas, lalu setelah pulang
sekolah, ia pergi makan atau bersantai di kafe bersama Viola, Primula, dan
teman-temannya.
Di
kehidupan pertamanya, waktunya habis hanya untuk bekerja paruh waktu.
Ia kini
menikmati masa muda yang dulu tak pernah ia rasakan karena harus berurusan
dengan orang tua beracun.
Namun……
sekitar dua minggu setelah masuk akademi, ia kembali terseret dalam keributan
yang melibatkan 'laki-laki itu'.
Suatu
jam istirahat siang. Hari itu, si kembar Rosemary mengadakan pesta teh bersama
teman-teman perempuan mereka, sehingga Rest jarang-jarang bertindak sendirian.
Di
akademi yang merupakan institusi bagi kaum bangsawan ini, terdapat beberapa
salon di dalam sekolah di mana para siswa bisa mengadakan pertemuan mandiri
jika sudah mengajukan izin sebelumnya.
(Bagi
bangsawan, pesta teh adalah tempat mengumpulkan informasi. Jadi itu memang
etiket para nona muda, ya.)
Biasanya ia makan bekal dari rumah bersama si kembar,
namun karena ada kesempatan, hari ini ia memutuskan untuk makan di kantin
sekolah. Rest berjalan santai menyusuri koridor menuju kantin.
"Uwah……!?"
Tiba-tiba, suara ledakan "DUAR!" terdengar
sangat keras. Lantai di bawah kakinya bergetar kecil karena guncangan. Bau hangus mulai memenuhi udara
di sekitar.
"Apa……
L-Ledakan!?"
Rest
langsung memasang kuda-kuda mendengar suara gemuruh yang tiba-tiba itu. Tidak
salah lagi…… itu adalah ledakan akibat sihir atribut api.
Saat ia
melihat sekeliling koridor untuk mencari sumber suara, asap terlihat mengepul
dari sebuah ruang kelas di ujung.
"Itu……
kelas D!?"
Itu adalah ruang kelas tingkat satu Kelas D.
Para siswa terlihat berlarian keluar sambil menjerit
ketakutan, sementara di sisi lain, kerumunan orang yang penasaran mulai
berkumpul di depan kelas.
"…………!"
Rest mendekat ke kelas bermasalah tersebut dengan waspada
dan ikut mengintip ke dalam di antara kerumunan. Di
sana, di tengah ruangan, seorang siswa laki-laki tergeletak tak berdaya.
"Ugh……
aakh……"
"Tidak!
Franz! Franz!"
Pakaian
siswa yang tergeletak itu hangus menghitam, dan seluruh tubuhnya dipenuhi luka
bakar.
Napasnya
tersengal-sengal, ia masih hidup…… namun jika tidak segera diobati, nyawanya
bisa terancam. Seorang siswi memeluknya dengan erat sambil
meneriakkan namanya dengan histeris.
"Cih……
dasar bodoh. Berani-beraninya menyentuh tubuh bangsawan agung ini, tidak tahu
sopan santun."
Dan……
sosok yang menatap rendah mereka berdua adalah laki-laki yang Rest kenal.
Pangeran Ketiga, Roderick Heywood—orang yang pernah membuat keributan di kelas
A tepat setelah upacara masuk.
"Hei, apa yang terjadi?"
"Eh…… kau ini siapa……?"
"Sudah, ceritakan saja!"
Rest menarik salah satu siswa kelas D dan bertanya. Siswa
itu pun menjelaskan situasinya.
"Pangeran Roderick mengajak salah satu siswi pergi
makan bersamanya. Lalu, pacar siswi itu datang untuk menghentikannya. Mereka beradu argumen, dan laki-laki itu tidak sengaja memegang lengan
Pangeran……"
"Jangan-jangan……
dia menembakkan sihir? Di dalam kelas seperti ini?"
Siswa
itu mengangguk mendengar pertanyaan Rest yang terkejut. Hanya
karena ajakannya diganggu, ia tega menembakkan sihir serangan dan membuat orang
lain sekarat…… Seberapa
bodoh sebenarnya pangeran ini?
(Benar-benar
sistem feodal…… ah tidak, sepertinya pangeran ini saja yang memang idiot……)
"Gara-gara kau, pakaianku jadi kotor. Perempuan, kau
harus tanggung jawab."
"Dengar
itu, Pangeran sudah bicara! Cepat berdiri!"
"Tidak
mau!"
Salah
satu pengikut Roderick mencengkeram lengan siswi itu dan memaksanya berdiri.
"Tolong, biarkan saya mengobati Franz! Kalau
dibiarkan, Franz bisa mati……!"
"Aku tidak peduli pada sampah jelata. Jangan
membuatku menunggu lebih lama lagi."
Roderick
menjawab permohonan siswi itu dengan dingin.
Nada
bicaranya memang ketus, namun pandangan matanya justru tertuju pada bagian dada
dan paha yang terlihat dari balik rok siswi itu.
Rest
baru saja menyaksikan sendiri bukti bahwa Roderick memang seorang hidung
belang.
"Dasar
sampah……!"
Rest
melangkah masuk ke dalam kelas. Sebenarnya ia tidak perlu melakukan apa
pun.
Keributan sebesar ini pasti akan segera mendatangkan
guru. Jika ia menyerahkan semuanya pada mereka, masalah selesai.
(Tapi……
kalau yang ada di sana adalah Viola atau Primula, aku tidak mungkin bisa
mendiamkannya!)
Laki-laki
yang meninggalkan perempuan yang terancam dan melarikan diri tidak pantas
menjadi tunangan mereka berdua. Ia tidak ingin mengecewakan mereka.
Rest
sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal yang memalukan di
depan si kembar Rosemary yang telah memilihnya. Ia tidak
bisa hanya diam dan memalingkan mata dari kejahatan di depan matanya.
"Hm……
siapa kau……?"
Di saat
semua orang melarikan diri dari kelas, Roderick dan pengikutnya menatap heran
ke arah Rest yang justru melangkah masuk sendirian.
"Smoke
Screen!"
Namun……
Rest langsung merapalkan sihirnya. Sebelum mereka bisa mengenali sosok Rest
dengan jelas, asap putih yang berbeda dari ledakan tadi menyembur keluar dan
menyelimuti ruang kelas D.
"Apa
yang terjadi……!"
"T-Tiba-tiba
ada asap……!?"
"Pangeran,
harap mundur!"
Pandangan
mereka terhalang oleh asap, membuat Roderick dan pengikutnya berteriak kaget.
( Life
Search, Material Search!)
Rest mengaktifkan dua sihir lagi. Yang pertama untuk
mendeteksi mana dari makhluk hidup, yang kedua untuk mendeteksi benda mati yang
tidak memiliki mana.
Berkat kedua sihir ini, struktur ruangan di balik
tirai asap putih itu tergambar jelas dalam otak Rest, persis seperti kelelawar
yang memahami posisi benda menggunakan gelombang ultrasonik.
(Bagaimanapun juga, memukul pangeran di depan banyak
orang akan sangat merepotkan. Jadi, biarkan aku melakukan serangan diam-diam di
balik asap ini!)
Rest menghentakkan kaki ke lantai, melompati meja
sebagai pijakan, dan menerjang ke arah Roderick serta pengikutnya.
"Hap!"
"Ggh……!?"
Rest melepaskan tendangan terbang tepat ke arah
kepala pengikut berkepala plontos yang sedang mencengkeram tangan siswi tadi.
Tendangan yang seperti cambuk itu menghantam telak pelipis lawan tanpa ampun,
membuatnya terpental seketika.
"Ah……?"
Genggaman pada tangan siswi itu terlepas. Siswi itu
tampak bingung karena dikelilingi asap, ia menoleh ke sana kemari dengan panik.
"Meringkuklah di lantai dan lindungi kepalamu.
Tetaplah di samping laki-laki itu."
"Siapa kau……"
"Sudah, cepat lakukan!"
Rest berbisik di telinganya, dan siswi itu segera
meringkuk di samping kekasihnya yang tergeletak.
Sambil menutupi kepalanya dengan satu tangan, ia
merapalkan sihir penyembuh pada laki-laki yang ia peluk erat itu.
"Aku tidak tahu siapa kau…… tapi penghinaan terhadap
diriku ini benar-benar tidak bisa dimaafkan!"
Roderick berteriak marah dan mengarahkan tangan
kanannya ke depan. Api mulai berkobar di tangannya. Ia mencoba menembakkan
sihir ke arah Rest dengan hanya mengandalkan sumber suara.
"Earth
Bind."
"Hieee!?"
Rest
merapalkan sihir lagi. Tali yang terbuat dari tanah menjalar seperti ular,
melilit pengikut lainnya—seorang bocah kecil—dan menariknya mendekat.
"Maaf, tapi kau harus jadi perisai."
"Fire Bolt!"
"GYAAAAAAAAGHHHHHH!?"
Roderick melepaskan tembakan api yang dahsyat. Tubuh
pengikut yang dijadikan perisai itu terbakar api hingga jeritannya menggema.
"Panas, panas, PANAAAAAAAS!"
"Suara itu, jangan-jangan…… Tony!?"
Roderick berteriak kaget setelah menyadari bahwa ia baru
saja menyerang kawannya sendiri.
"……Guh, ekh……"
Bocah berkacamata bernama Tony itu jatuh tersungkur di
lantai kelas dengan tubuh yang masih mengepulkan asap. Karena tidak boleh ada
korban jiwa di dalam akademi, Rest memberikan sedikit sihir penyembuh sebagai
pertolongan pertama.
"Sialan……
siapa kau sebenarnya! Beraninya kau melakukan ini padaku setelah tahu bahwa aku
adalah Roderick Heywood!?"
Roderick
berteriak ke arah tirai asap yang tebal. Jujur saja, Rest tidak peduli siapa
dia sebenarnya.
(Aku
tidak berniat menghormati orang yang menggunakan kekuasaan dan bakat sihirnya
hanya untuk menindas orang lemah……!)
Dari
balik asap, Rest melayangkan tinjunya ke arah Roderick.
"Ghuakh……!"
Tinjunya
menghantam tepat di wajah Roderick. Dua kali, tiga kali, empat kali tinju
mendarat telak.
Saat Roderick terhuyung, Rest menjegal kakinya hingga ia
terjatuh, lalu langsung menguncinya dalam posisi telungkup di lantai.
"Kurang a—"
"Thunder Stan."
"GUAAGHHHHHHH!?"
Dalam posisi mengunci tersebut, Rest menyengatkan
listrik. Suara percikan listrik terdengar seperti alat kejut listrik (stun
gun), tubuh Roderick tersentak beberapa kali sebelum akhirnya tak sadarkan
diri.
(Jujur saja, rasanya dunia akan lebih baik jika aku
membunuhnya sekarang……)
Rest menghela napas pendek sambil menatap rendah
Roderick.
Bagaimanapun juga, ia tidak bisa memutuskan hidup dan
mati anggota keluarga kerajaan hanya berdasarkan keinginannya sendiri.
Lagipula……
Rest tidaklah sedingin itu sampai bisa membunuh manusia tanpa ragu.
Bayangan
pahit saat ia terpaksa membunuh kakak tirinya yang telah berubah menjadi iblis
kembali terlintas dalam benaknya.
Mungkin rasa getir itu tidak akan pernah bisa ia lupakan
seumur hidupnya.
"Tolonglah, jangan terlalu banyak berbuat jahat. Kalau sampai kau melukai
orang-orang berhargaku…… saat itulah aku tidak tahu apa yang akan terjadi
padamu."
Setelah meninggalkan pesan itu, ia membuka jendela kelas
perlahan dan melompat keluar. Angin berembus masuk ke dalam kelas, meniup habis
tirai asap sihir tadi.
Membiarkan sisanya diurus oleh para guru, Rest segera
meninggalkan tempat itu sambil berhati-hati agar wajahnya tidak terlihat oleh
siapa pun.



Post a Comment