Bonus E-book: Cerita Pendek
Tambahan
Hari Libur sang Putri Duke
Putri Duke
Celestine Crocus. Ia adalah putri dari keluarga Duke Crocus, bangsawan
terkemuka di Kerajaan Eyewood.
Mewarisi
darah bangsawan dan merupakan putri dari Perdana Menteri, ia adalah sosok top
lady generasi berikutnya. Di masa sekarang, saat keluarga kerajaan tidak
memiliki seorang putri pun, ia memegang status yang setara dengan seorang putri
raja.
Rambut
platinum yang indah, paras menawan, serta proporsi tubuh sempurna yang
menyerupai rasio emas. Terlebih lagi, ia adalah gadis jenius yang selalu
menduduki peringkat pertama di angkatannya—benar-benar definisi gadis cantik
nan berbakat.
"Hut!
Hut! Hut!"
Meskipun
dikenal sebagai putri Duke yang sempurna tanpa cela, saat ini Celestine tengah
mengayunkan tinjunya dengan penuh semangat.
Sasaran
yang dipukul oleh Celestine adalah sebuah kantung kulit seukuran manusia yang
diisi pasir... dengan kata lain, sebuah sandsack.
Celestine
mengenakan pakaian olahraga standar akademi. Setiap kali ia mengayunkan tinju
yang terbalut sarung tangan, butiran keringat terbang dari kulit putihnya dan
menari di udara.
Sudah lebih dari satu jam Celestine terus memukuli sandsack
tersebut tanpa henti.
"Hut! Hut! Hut! Yaaa!"
"……Antusias sekali, ya. Aku tidak menyangka kamu
akan sekeranjingan ini."
Rest, yang berdiri tak jauh dari sana, menggumamkan suara
yang mencerminkan rasa heran sekaligus kagum saat melihat Celestine melakukan boxing.
Mereka berdua berada di dalam gedung latihan dalam
ruangan milik akademi. Ruangan ini biasanya digunakan untuk mata pelajaran
seperti Sword Arts atau Self-Defense.
Meski normalnya tidak digunakan di luar jam
pelajaran, murid bisa menyewanya jika sudah mengajukan izin sebelumnya. Rest
dan Celestine menyewa seluruh tempat itu hanya untuk mereka berdua agar bisa
fokus berlatih boxing.
"Yaaaaaaaa!"
Teriakan yang sangat nyaring terdengar, dan Celestine
menghantamkan pukulan sekuat tenaga ke arah sandsack. Suara
hantaman yang mantap bergema, lalu Celestine menurunkan tinjunya dengan
ekspresi puas.
"Huu, huu…… Haaaaah……"
"Kerja bagus. Mau minum air?"
"Rest-san……
Terima kasih banyak."
Rest
menyodorkan botol berisi air mineral. Celestine menerimanya sembari mengucapkan
terima kasih, lalu menenggak air itu hingga tenggorokannya berbunyi.
"Tapi
tetap saja…… Pukulanmu lumayan juga. Aku sampai kaget."
"Aku memang pernah belajar bela diri dasar.
Tapi, aku tidak menyangka memukul kantung pasir bisa terasa senikmat ini."
Celestine tersenyum dengan raut wajah yang tampak
segar. Alasan mengapa mereka berdua repot-repot menyewa ruangan untuk latihan boxing
adalah demi melepas stres sang gadis.
Celestine telah bertunangan dengan seorang pangeran
bodoh. Hal itu membuatnya menumpuk beban mental yang luar biasa besar.
Sebelum ini, Rest pernah mengajaknya pergi ke pusat
latihan pemukul bisbol, dan Celestine tampaknya sangat menyukainya. Karena
Celestine bertanya apakah ada cara lain untuk melepas stres, Rest pun
mengusulkan boxing.
(Meski kupikir boxing agak kurang cocok untuk
putri Duke, ternyata dia suka. Dia terlihat anggun, tapi ternyata cukup aktif
juga.)
Rest diam-diam mengamati Celestine. Rambut yang
biasanya ia biarkan terurai, kini diikat menjadi model ponytail.
Pakaiannya pun sederhana, hanya kaus dan celana
pendek yang memudahkannya untuk bergerak. Karena sudah berlatih lebih dari satu
jam, seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat, membuatnya terlihat sangat
memikat.
(Aku pernah dengar kalau keringat mengandung zat yang
mirip dengan feromon. Apa
itu benar? Entah kenapa, dia terlihat sangat…… seksi?)
"Rest-san,
apa ada sesuatu di wajahku?"
"Huoo!?"
Pertanyaan
itu membuat suara Rest melengking. Wajah Celestine sudah berada tepat di
depannya.
Gadis
itu mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa sepuluh sentimeter, lalu menatap
Rest dengan rasa penasaran.
"A-Ah, t-tidak, bukan apa-apa…… Anu…… A-Aku juga mau mulai
bergerak, ah!?"
Rest
tidak mungkin bisa mengaku kalau ia baru saja mengamati pakaian dalam yang
terlihat samar di balik kausnya yang basah. Ia segera berdiri dan mengenakan
sarung tangan.
"Kalau
begitu, maukah Anda memberikan saya sedikit arahan?"
"Arahan……
Eh? Maksudmu, kita bertarung?"
"Iya. Mari kita lakukan pertandingan tiruan."
Rest membelalakkan mata karena ajakan yang tak terduga
tersebut. Ia memang sering melakukan latihan tanding dengan Deable, pelayan
keluarga Marquis Rosemary, namun ia tidak punya pengalaman beradu fisik dengan
wanita.
"Dibandingkan memukul kantung pasir yang diam,
bertarung dengan orang sungguhan akan memberikan lebih banyak pengalaman. Jika
tidak keberatan, bersediakah Anda menjadi lawan saya?"
"Yah, aku tidak keberatan, sih……"
"Kalau begitu, mohon bantuannya."
Di tengah area latihan, Rest dan Celestine kini
saling berhadapan secara langsung.
(Aku memang sudah menyetujuinya, tapi…… bagian mana
yang harus aku incar?)
Rest kembali menatap Celestine yang berada tepat di
depannya. Wajah sudah pasti di luar pilihan; sangat tidak mungkin ia memukul
wajah seorang gadis.
Kalau begitu, batang tubuh? Memukul perutnya pun
rasanya kurang sopan. Entah mengapa, ada perasaan enggan yang sulit dijelaskan
dalam dirinya.
Lalu,
bagaimana dengan dadanya…… itu malah jauh lebih sulit lagi. Menyentuh simbol
kesuburan yang tampak lembut itu bukankah termasuk pelecehan seksual?
(Gawat……
Aku merasa bagian mana pun yang aku incar, hanya hal buruk yang akan
terjadi……!)
Rest
mulai menyesali keputusannya yang terlalu mudah menyetujui ajakan latihan
tanding ini.
"Kalau
begitu…… saya mulai!"
Namun,
Celestine justru yang bergerak lebih dulu. Dengan langkah kaki yang tajam, ia
mendekat dalam sekejap dan melayangkan tangan kanannya ke arah perut Rest.
"Muu……!"
Rest
refleks melakukan tangkisan. Pukulan itu cukup tajam dan berat karena Celestine
memperkuat fisiknya dengan sihir.
Tinju
seorang wanita tidak bisa diremehkan. Jika terkena telak, ia pasti akan
mengerang kesakitan.
(Kalau
begini…… aku tidak bisa terus menahan diri!)
Rest
memantapkan hatinya dan mulai mengadu tinju dengan Celestine. Ia menangkis,
menepis, dan menghindari setiap serangan yang dilancarkan secara bertubi-tubi.
"Haah!"
"kh……!"
Terlebih
lagi, setelah Celestine mulai terbiasa melayangkan pukulan, ia bahkan
meluncurkan tendangan tinggi. Rest buru-buru menundukkan kepalanya untuk
menghindari tendangan yang melesat seperti cambuk tersebut.
"Ah, ini tadi kupikir akan kena, sayang
sekali."
"Kamu tidak kenal ampun, ya…… Benar juga, sejak awal memang tidak ada aturan khusus……!"
Ini bukanlah olahraga atau kompetisi. Ini adalah
latihan dengan asumsi pertarungan sungguhan.
Tidak ada aturan yang melarang tendangan. Celestine
tidak melakukan kecurangan apa pun.
"Kalau begitu……!"
"Kyaa……!"
Rest merendahkan posisi tubuhnya, lalu melesat maju
seperti peluru kendali. Ia melakukan tackle pada pinggang Celestine, dan
menjatuhkannya ke lantai.
"Sip……
satu angka!"
Karena tidak bisa memukulnya, ia memutuskan untuk
menjatuhkannya dengan tackle. Dengan ini, Rest yang menang.
"Saya
kalah, ya…… Ternyata saya memang tidak bisa menang melawan seorang pria."
"Tidak
juga…… Celestine itu jauh lebih kuat daripada kebanyakan laki-laki…………
Nuah!?"
Namun,
Rest kembali mengeluarkan suara yang aneh. Ia baru saja menjatuhkan lawan
dengan tackle, yang artinya sekarang ia sedang menindih Celestine.
Tepat
di bawah tubuh Rest, Celestine terbaring dengan tubuh yang basah oleh keringat.
Kausnya yang lembap menempel ketat, mencetak lekuk tubuhnya dengan jelas.
"Ah……"
Celestine tampaknya juga baru menyadari situasi mereka.
Matanya membelalak lebar, dan kedua pipinya berubah semerah mawar.
"S-Maaf!"
"Tidak……
tidak masalah."
Rest
segera melompat mundur seolah terpental. Celestine bangkit berdiri dengan wajah
yang memerah padam.
(Menindihnya
seperti tadi, bukankah itu malah lebih parah daripada pelecehan seksual……!)
"Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati.
Bagaimanapun, sayalah yang menantang Anda untuk tanding tiruan."
Celestine menyentuh pipinya yang merah, lalu
tersenyum dengan raut malu-malu yang anggun.
Senyuman yang berkelas, mulia, namun semarak layaknya
bunga sakura yang sedang mekar penuh. Senyum tersipu dari sang putri Duke itu
begitu indah, hingga terpatri kuat dalam ingatan Rest dan sulit untuk
dilupakan.
Previous Chapter | ToC | End Vol 2



2 comments