Chapter 6
Demonic Beast, Sabnock
Pedalaman
Dataran Sabnock. Di sebuah titik yang agak jauh dari pusat wilayah tempat
berkuasanya sang penguasa "Wilayah Iblis", monster Sabnock,
seorang anak laki-laki tergeletak tak berdaya.
"Ugh……
aa……"
Anak itu mengeluarkan napas yang sangat lemah.
Kondisinya benar-benar mengenaskan. Seluruh tubuhnya
hancur. Tangan dan kakinya tertekuk ke arah yang salah, memperlihatkan dengan
jelas bahwa tulangnya telah patah.
Bukan hanya lengan dan kaki, beberapa tulang rusuknya
pun patah. Seluruh tubuhnya terasa sakit sampai ia tidak tahu lagi dari mana
rasa sakit yang menusuk otak itu berasal.
(Kenapa……
aku…… sebenarnya……?)
Anak
laki-laki itu…… Rodel Aiwood, berpikir dengan kesadaran yang kabur.
Ia tidak bisa mengingat rentetan kejadian hingga ia
berakhir seperti ini. Mungkinkah ia menerima hantaman yang sangat kuat?
Ingatannya samar-samar. Ia tidak tahu sedang berada di
mana, atau mengapa ia bisa terkapar di sana.
"Sakit……!"
Satu hal yang ia rasakan dengan jelas hanyalah rasa sakit
di sekujur tubuh.
Sangat sakit, sangat pedih, dan sangat menyiksa hingga
rasanya mustahil ia masih bisa mempertahankan kesadaran.
Seandainya ia pingsan, mungkin segalanya akan terasa
lebih ringan.
Namun, seolah-olah ada sosok tak kasat mata yang sedang
memberikan hukuman surgawi, Rodel tidak diizinkan untuk melepaskan
kesadarannya.
(Benar……
hari ini adalah Festival Perburuan Sihir. Aku masuk ke dataran bersama Gaura
dan Tony, dan seharusnya kami sedang berburu monster……)
"Guh……
Gaura! Tony!"
Rodel
memeras udara dari paru-parunya dan memanggil nama kedua pengikutnya.
"Kalian tidak ada!? Cepat, kemari!"
Meskipun sang tuan memanggil, kedua pengikutnya tidak
menunjukkan tanda-tanda akan muncul.
Rodel merengut karena kelalaian kedua orang itu, namun ia
tetap berteriak dengan sisa kekuatannya.
"Aku yang memanggil kalian! Cepat
keluar……!"
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa sakit
yang hebat membuatnya tak bisa bergerak bebas.
Meski begitu, ia memaksakan lehernya untuk menoleh dan
memeriksa sekeliling. Di tempat yang agak jauh, ia menemukan kepala plontos
yang tidak asing baginya.
"Gaura!"
Itu adalah punggung pengikutnya, putra sulung Baron Gaura
Dora. Punggung berotot dan bagian belakang kepala yang dicukur pendek itu tidak
mungkin salah lagi.
Gaura berdiri di balik semak-semak yang tumbuh di
dataran, membelakangi Rodel.
"Gaura, apa yang kau lakukan!? Aku di sini!"
"…………"
"Cepat bantu aku! Apa kau tidak dengar!?"
"…………"
Rodel berteriak dengan putus asa, namun Gaura tidak
bergeming sedikit pun. Jarak mereka hanya terpaut beberapa meter. Tidak mungkin
suaranya tidak terdengar.
"Gaura……
oi, kubilang hadap ke sini!"
Karena
sudah tidak tahan lagi, Rodel menjulurkan tangan dan melepaskan sihir.
Peluru
angin yang dilepaskan dalam posisi terkapar itu meleset dari sasaran dan
menghantam dasar semak-semak tempat Gaura berada.
"Hiih……!?"
Detik
berikutnya, semak-semak itu bergoyang dan Gaura jatuh terjengkang.
Tubuh
itu hanya memiliki bagian atas saja; bagian pinggang ke bawah sudah hilang.
Melihat
sosok ajudannya dengan tulang belakang yang terekspos seolah meleleh oleh asam
kuat, Rodel merasa mual yang hebat merayap di tenggorokannya.
"Gau-ra……
ini pasti bercanda, kan……?"
Tentu
saja, Gaura yang kini hanya tersisa setengah badan tidak menyahut.
Gaura
sudah mati. Tubuhnya yang hanya tinggal separuh diletakkan di atas semak-semak,
sehingga tampak seolah-olah ia sedang berdiri membelakangi Rodel.
"Benar,
aku…… ingat……"
Kematian
ajudan dekatnya mengguncang jiwanya, dan hal itu menjadi pemicu ingatan yang
kembali membanjir.
Rodel
merangsek masuk semakin dalam ke pedalaman dataran sambil menumbangkan monster,
hingga ia tiba di garis batas area terlarang.
Di
balik sana adalah wilayah kekuasaan monster Sabnock, sang penguasa
"Wilayah Iblis".
Sudah diperingatkan dengan keras saat penjelasan sebelum
festival dimulai, bahwa siapa pun dilarang keras menginjakkan kaki ke sana.
"Hmph……
konyol sekali."
Seberapa kuat pun monster Sabnock itu dikatakan……
pada akhirnya ia hanyalah seekor binatang. Ia hanyalah monster yang tidak
berarti.
Rodel yang sombong telah memutuskan bahwa monster itu
bukan tandingan bagi dirinya yang memiliki bakat pilihan Tuhan.
"Dilarang
masuk ke wilayah Sabnock…… jadi selama aku tidak masuk, tidak akan ada
keluhan, kan?"
Rodel
memerintahkan kedua pengikutnya untuk mengeluarkan sebuah item sihir.
Item
itu disiapkan oleh pendukungnya, Marquis Eiger, khusus untuk partisipasinya
dalam festival ini. Sebuah obor yang memiliki kekuatan "Penarik
Monster" yang sangat kuat.
"Penarik
Monster" adalah item sihir yang bekerja sebaliknya dari "Pengusir
Monster"; ia justru mengundang monster datang. Asap
yang keluar dari obor tersebut akan memicu insting bertarung monster dan
memancing mereka keluar.
Begitu sang ajudan, Gaura, menyulut obor tersebut,
asap merah pekat mulai menyembur keluar.
Dan……
perubahan segera terjadi. Dengan suara langkah kaki yang menggetarkan bumi
seperti gempa, seekor monster raksasa berkaki enam muncul dari kegelapan
pedalaman dataran.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
Bersamaan
dengan teriakan yang memekakkan telinga, seekor singa hitam raksasa yang
tingginya menjulang menampakkan dirinya.
Ia
memiliki enam kaki dan kepala dengan mulut besar yang robek, di mana banyak
bola mata merah menyala tersebar di sana.
Air
liur yang menetes dari mulutnya ke tanah sangatlah busuk. Setiap kali air liur
itu jatuh ke bumi, tumbuhan di sekitarnya membusuk dan menyebarkan kematian.
Sabnock,
sang Singa Jahat Korosif. Penguasa "Wilayah Iblis" yang mendiami
dataran itu telah muncul.
"Ini
adalah……!"
Melihat
kemunculan monster yang layak disebut raja segala monster itu, Rodel yang
angkuh pun sempat membeku.
Namun, ia segera teringat tujuannya dan mulai menghimpun
mana.
"Baiklah, mari kita bunuh! Aku akan membunuhnya dan
membuktikan bahwa akulah penguasa sejati!"
Monster bencana yang bahkan Raja-raja sebelumnya—termasuk
mendiang Raja—biarkan tanpa bisa dibasmi.
Dengan memusnahkannya, Rodel Aiwood yakin bisa membuat
orang-orang sadar bahwa dialah Raja masa depan sekaligus pahlawan bersejarah.
Rodel memimpin kedua ajudannya untuk menantang monster
raksasa itu dengan gagah berani…… hanya sampai di situ ingatan yang ia miliki.
Saat tersadar, Rodel sudah terbaring di tanah dengan
tulang sekujur tubuh patah.
Salah satu ajudannya tewas. Yang lainnya tidak terlihat,
entah masih hidup atau sudah mati.
"Kenapa……
kenapa, kenapa jadi begini……!"
Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya…… Rodel menyesali perbuatannya
dengan tulus.
"Aku……
seharusnya orang pilihan…… benar. Harus seperti itu…… Nenek pun juga
mengatakannya begitu, kan……!"
Neneknya, sang Ibu Suri, selalu mengatakannya.
Bahwa
Rodel adalah seorang pahlawan. Manusia pilihan Tuhan yang mampu
menggerakkan sejarah.
Ia telah hidup dengan memercayai kata-kata itu hingga
sekarang…… tapi mungkinkah ini akhir bagi manusia yang dicintai langit?
Ibu Suri tidak pernah sekali pun mengatakan hal yang
salah.
Beliau selalu benar. Karena itulah beliau diberkati
dengan banyak pengikut setia.
"Jangan-jangan……
aku yang salah……?"
Apakah aku yang salah selama ini?
Apakah aku bukan manusia pilihan, melainkan hanya salah
satu dari kerumunan orang biasa yang tak berarti?
Jika
begitu…… lalu untuk apa hidupku selama ini?
Segala
perbuatanku yang kuanggap boleh dilakukan karena aku spesial, serta orang-orang
yang telah kuinjak-injak, apa yang akan terjadi pada mereka?
"Aku……
apa sebenarnya……?"
"Oho, ternyata Anda masih hidup, Yang Mulia
Rodel."
"…………!"
"Saya sudah mencari Anda, Tuanku."
Terdengar suara manusia yang ia kenali. Rodel menolehkan
lehernya untuk memastikan pemilik suara tersebut.
Seorang
pria paruh baya dengan wajah tenang…… Marquis Eiger, sedang menatap rendah ke
arah Rodel.
"Saya
datang untuk menjemput Anda. Mari segera tinggalkan dataran ini, hamba yang
akan membawa Anda."
Marquis
Eiger merapalkan sihir penyembuhan pada Rodel sambil berbicara dengan nada yang
tenang.
Meskipun pengobatan sempurna sulit dilakukan di tempat
ini…… setidaknya ini bisa menjadi pertolongan pertama.
Setelah selesai memberikan pengobatan, Marquis Eiger
menggendong Rodel di punggungnya dan mulai berjalan melintasi dataran.
"Tu-tunggu. Tunggu sebentar!"
Rodel berteriak dengan panik.
"Jenazah Gaura ada di sana…… dan Tony tidak ada! Aku tidak bisa melarikan diri sendiri dan
meninggalkan mereka berdua……"
"Ah……
maksud Anda putra Baron Gaura Dora?"
Marquis
Eiger melirik ke arah separuh tubuh Gaura yang tergeletak tidak jauh dari sana.
"Bisa mati karena menjalankan perintah Yang Mulia……
sungguh membuat iri. Dia pasti sangat bahagia."
"Bahagia, katamu…… dengan
cara mati seperti itu……?"
"Tentu saja. Beliau bisa menyerahkan nyawanya
demi Yang Mulia, yang telah diakui oleh Ibu Suri yang agung. Kebahagiaan apa
lagi yang lebih besar dari itu!"
Marquis Eiger menegaskan hal tersebut dengan napas
yang memburu penuh gairah.
"Putra
Viscount Tony Boyle juga sudah menjadi makanan monster di sebelah sana…… tapi
dia pasti merasa puas. Yang Mulia tidak perlu memikirkannya. Anda hanya perlu
memikirkan untuk hidup sesuka hati sebagai penguasa…… karena itulah keinginan
Ibu Suri."
"…………!"
Rodel
yang digendong di punggung tidak bisa melihat wajah Marquis Eiger.
Namun,
ia bisa membayangkan dari suaranya bahwa wajah pria itu pasti sedang diwarnai
oleh kegembiraan dan kegilaan.
(Apa
ini…… apa yang sebenarnya dikatakan pria ini……?)
Pada
saat inilah, untuk pertama kalinya Rodel menyadari keabnormalan orang-orang
yang memujanya.
Mereka
yang menyebut nama neneknya—sang Ibu Suri—jelas-jelas sudah kehilangan akal
sehat dan bertindak di luar nalar.
(Apa
aku…… boleh terus percaya dan melangkah maju seperti ini…… apakah aku boleh
memercayai pria ini, memercayai kata-kata Nenek……?)
Sambil digendong oleh Marquis Eiger, Rodel bertanya
pada dirinya sendiri.
Meski Rodel akhirnya menyadari kebodohannya sendiri……
mungkin, akan lebih membahagiakan baginya jika ia tidak pernah menyadarinya
sama sekali.
Monster Sabnock telah meninggalkan pedalaman
dataran dan kini bergerak lurus menuju pintu masuk dataran.
Karena dikejar oleh Sabnock, monster-monster
lain pun ikut mengamuk. Serangan massal monster telah terjadi.
"Apa
yang telah…… kulakukan……"
Rodel
mengerang kesakitan, merasa terhimpit oleh rasa bersalah yang belum pernah ia
rasakan sebelumnya.
◇ ◇ ◇
Waktu kembali ke saat ini.
Setelah berpisah dengan Yugroot, Rest terus membasmi
monster di dataran dengan serangan sihir jarak jauh.
"Stone Bullet."
Peluru batu yang tajam melesat dengan sangat cepat,
menembus monster yang berada ratusan meter di depannya.
Normalnya, sihir ini tidak memiliki daya rusak maupun
jarak tembak sejauh itu.
Namun, Rest menggunakan sihir Compression untuk
mengeraskan batu yang ia ciptakan, lalu mengubah bentuknya menjadi kerucut
panjang yang ramping.
Dengan menembakkannya menggunakan sihir Accelerator,
ia mampu menghasilkan daya rusak dan jarak tembak yang jauh lebih tinggi dari
aslinya.
Ditambah lagi dengan tembakan super presisi menggunakan Life
Search.
Merapalkan empat sihir secara bersamaan,
"Quartet", adalah teknik tingkat tinggi yang bahkan sulit dilakukan
oleh banyak Penyihir Istana.
(Aku tidak perlu khawatir kehabisan mana. Aku hanya perlu
berhati-hati agar tidak salah tembak mengenai siswa yang melarikan diri, lalu
terus menembak tanpa henti!)
Ia memetakan posisi manusia dan monster, lalu menembak,
menembak, menembak, dan menembak……!
Ia membidik monster sambil menghindari manusia, terus
mengurangi jumlah monster yang merangsek dari pedalaman dataran.
"Baiklah……
dengan ini gelombang pertama sepertinya sudah beres."
Setelah
membasmi monster dalam jumlah yang cukup banyak, Rest mengambil napas sejenak.
Monster-monster
berbahaya dalam jangkauan sihirnya telah ia tumbangkan. Semua orang yang bisa
ia bantu telah ia selamatkan.
Rasa
lelah datang menghampiri bersamaan dengan rasa lega karena telah berhasil
melakukannya.
Meskipun mana-nya tidak berkurang sedikit pun…… kekuatan
mentalnya terkuras karena tugas yang membutuhkan ketelitian tinggi, dan otaknya
mulai meminta istirahat.
Rest mengeluarkan permen madu yang ia bawa sebagai ransum
darurat, memasukkannya ke dalam mulut untuk memasok gula ke otaknya.
(Penyebab serangan massal ini masih belum jelas……
tapi cepat atau lambat gelombang kedua pasti akan datang. Sebenarnya, apa yang
membuat monster-monster ini keluar?)
Sangat mustahil monster yang berada di pedalaman
dataran keluar ke area luar. Pasti telah terjadi sesuatu yang luar
biasa.
(Kalau aku memperluas jangkauan pelacakan…… mungkin aku
bisa menemukan hawa keberadaan penyebabnya……?)
Rest memutuskan untuk mencobanya meskipun ia ragu.
Biasanya, Rest hanya bisa melacak keberadaan dalam radius
satu kilometer dari dirinya sendiri.
Secara teori, karena ia memiliki mana yang tak terbatas,
ia seharusnya bisa memperluas jangkauan persepsinya tanpa batas…… namun jika
jumlah informasi yang masuk terlalu banyak, otaknya tidak akan sanggup
menanggungnya dan bisa meledak.
(Jika aku memperluas jangkauan persepsi hingga batas
maksimal kemampuan pengolahan otakku, mungkin saja……)
"Apa……!?"
Namun, sebelum ia sempat memperluas jangkauan Life
Search, ia sudah dipaksa memahami penyebab keanehan tersebut.
Sederhana saja. Sesuatu yang kemungkinan besar menjadi
penyebab serangan massal ini tiba-tiba terlihat di matanya.
"Besar
sekali…… monster apa itu……!?"
Di kejauhan, sebuah bayangan raksasa terlihat di
cakrawala…… awalnya ia mengira itu adalah sebuah gunung.
Namun salah. Bayangan itu benar-benar bergerak dan
sedang mendekat ke arah sini.
Bersamaan dengan ia mengonfirmasi sosoknya, ia bisa
merasakan kehadiran dan tekanan yang sangat kuat.
"Mungkinkah
itu…… Sabnock, sang penguasa Wilayah Iblis!?"
Rest
menyadari identitas sebenarnya dari makhluk itu.
Dalam
sarang monster yang disebut "Wilayah Iblis", biasanya terdapat
seorang "Penguasa" yang telah mengumpulkan kekuatan selama
bertahun-tahun.
Penguasa
dari dataran ini adalah Sabnock. Seekor binatang raksasa yang telah
menghancurkan pasukan pembuka lahan berkali-kali, dan bertahta bagaikan raja di
dalam sarang yang dipenuhi monster tak terhitung jumlahnya.
(Begitu……
sekarang aku mengerti. Alasan monster-monster merangsek
keluar adalah karena makhluk itu bergerak!)
Seorang penguasa biasanya tidak akan meninggalkan
pusat wilayah iblis…… namun mungkinkah ada seseorang yang memprovokasinya dan
memancingnya keluar?
Karena dikejar oleh Sabnock yang mulai
bergerak, monster-monster yang berada di dekat pusat dataran pun melarikan diri
hingga ke area luar.
(Gawat. Ini gawat……! Jika makhluk seperti itu keluar,
aku tidak tahu berapa banyak kerusakan yang akan ditimbulkannya……!)
Dengan kecepatan seperti itu, Sabnock tampaknya
akan menerobos hingga keluar dari dataran.
Di pintu masuk dataran terdapat tenda panitia. Di sana
ada Viola, Primula, dan teman-teman lainnya.
Memang ada para guru, Komandan Ksatria, dan Kepala
Penyihir Istana di sana…… namun tetap saja, sangat diragukan apakah mereka bisa
menghentikan monster ini.
(Aku tidak akan membiarkan monster seperti itu mendekati
tempat di mana Viola dan Primula berada……!)
Meskipun ia sendiri merasa tindakannya ini nekat…… ia
tetap harus melakukannya.
Ia tidak bisa membiarkan orang-orang yang akhirnya bisa
ia panggil sebagai keluarga berada dalam bahaya.
Rasa takut itu ada. Musuh di hadapannya jelas merupakan
lawan dengan level yang sangat jauh di atasnya, sesuatu yang belum pernah Rest
hadapi sebelumnya.
Namun……
rasa takut kehilangan orang yang ia sayangi jauh lebih besar daripada rasa
takutnya terhadap musuh.
"……Mari kita lakukan."
Rest memantapkan tekadnya.
Sambil menyadari bahaya yang mengancam, ia menghentakkan
kaki ke tanah dan mulai berlari menuju pedalaman dataran untuk menyambut
monster yang disebut Sabnock tersebut.
Setelah berlari selama sepuluh menit dengan penguatan
fisik, sosok monster raksasa yang menjadi penyebab keanehan itu akhirnya
terlihat jelas oleh mata telanjangnya.
Sabnock, sang Singa Jahat Korosif.
Ukurannya sangat besar hingga bisa dibandingkan dengan
paus biru. Sesosok monster singa raksasa berkaki enam yang
memiliki banyak mata. Bulu hitamnya berdiri tegak seolah sedang terbakar. Dari
mulutnya mengalir air liur busuk, dan meskipun jaraknya masih cukup jauh, bau
busuk yang menyengat sudah menusuk hidungnya.
Sang
penguasa dataran Wilayah Iblis. Sebuah monster kelas bencana yang telah dicoba
dibasmi oleh banyak penguasa, termasuk Raja terdahulu, namun selalu berujung
kegagalan.
"Kalau
dilihat baik-baik, ada monster lain juga…… apa itu bawahannya?"
Yang
harus diwaspadai bukan hanya Sabnock. Di sekelilingnya terdapat monster
sejenis lainnya.
Entah
itu anak atau bawahannya…… monster "Binatang Korosif" seukuran gajah
mendekat sambil menyebarkan bau busuk.
Sabnock sendiri sudah sangat
merepotkan, apalagi sekarang ada monster-monster bawahannya. Jika dibiarkan,
banyak orang akan kehilangan nyawa mereka.
Dan di
antara mereka, mungkin termasuk orang-orang yang berharga bagi Rest.
"……Aku tidak akan membiarkannya. Aku akan
menghentikan mereka di sini."
Seberapa pun nekatnya, seberapa pun konyol
keberaniannya…… ada saatnya di mana seorang pria harus bertindak.
Rest yakin saat itu adalah sekarang.
(Aku tidak akan membiarkan makhluk ini sampai ke
pintu masuk dataran tempat Viola dan Primula berada. Aku akan mengalahkannya…… paling
tidak, aku akan memaksanya mundur……!)
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
“““““GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”””””
Sabnock mengaum, dan para Binatang
Korosif di sekelilingnya membalas dengan auman yang serupa.
Mereka
mengeluarkan teriakan yang membuat bulu kuduk berdiri, lalu menerjang ke arah
sini.
"Hoshihami!"
Rest
merapalkan sihir orisinalnya.
Di
tangan Rest muncul sebuah bola hitam pekat yang sama sekali tidak memantulkan
cahaya.
Bintang
Kegelapan. Sebuah "Bintang Hitam" yang mampu melahap segala yang ia
inginkan dan mengembalikannya menjadi ketiadaan.
"…………!"
Bersamaan
dengan aktivasi sihir tersebut, ia merasakan mana dalam jumlah yang sangat
besar terserap. Jika bukan Rest yang memiliki mana tak terbatas, jumlah mana
tersebut akan habis dalam satu detik.
"……Sama seperti biasanya, sihir yang buruk rupa dan
tidak memiliki nilai estetika sama sekali."
Sihir yang tidak bisa digunakan tanpa mana tak terbatas
bukanlah sesuatu yang akan dipuji orang meskipun berhasil diciptakan. Namun…… sihir ini diperlukan
untuk mengalahkan musuh ini.
"Maaf
ya…… tapi aku tidak berniat memberikan ampun sejak awal. Aku tidak punya dendam pada kalian, tapi lenyaplah!"
Monster-monster ini tidak bersalah. Mereka hanya
hidup di wilayah mereka sendiri. Mungkinkah seseorang telah mengusik sarang
mereka, sehingga mereka terkejut dan merangsek keluar.
Namun……
ia akan membunuh mereka. Ia akan memusnahkan mereka semua tanpa ampun. Demi
melindungi orang yang berharga baginya. Ia akan melenyapkan mereka demi egonya
sendiri.
"Berputarlah, Wahai Bintang. Wahai Bintang Kegelapan
yang bahkan melahap cahaya!"
Ukuran Bintang Kegelapan itu memiliki radius sekitar satu
meter.
Jarak terjauh yang bisa ia pisahkan dari tubuh Rest
hanyalah sepanjang lengan.
Jika dilepaskan lebih jauh dari itu, ia akan menghilang
karena tidak mendapatkan pasokan mana.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Melihat sosok Rest, beberapa ekor Binatang Korosif dari
kelompok tersebut melompat keluar.
Mereka memiliki bulu hitam yang sama dengan Sabnock,
berkaki enam dan bermata banyak. Air liur busuk menetes dari mulut mereka.
Ukurannya sebesar gajah. Meski mengerikan, mereka
terlihat "imut" jika dibandingkan dengan sang bos.
"Ayo kita mulai……!"
Ia mengayunkan Bintang Kegelapan ke arah Binatang
Korosif yang menerjangnya.
Binatang Korosif yang mencoba menggigitnya terhisap
ke dalam Bintang Kegelapan, fisiknya lenyap dan musnah tanpa sisa.
Binatang Korosif sebenarnya termasuk ke dalam
golongan monster yang sangat kuat.
Air liurnya yang dapat membusukkan materi mampu
meluluhkan pedang maupun baju zirah, dan jika masuk ke dalam tubuh akan
membusukkan sel-sel tubuh dari dalam hingga menyebabkan kematian.
Belum lagi bulu hitam mereka memiliki pertahanan
fisik dan sihir yang tinggi.
Mereka adalah musuh yang bahkan tidak bisa
dimenangkan dengan mudah oleh Ksatria Pengawal maupun Penyihir Istana.
"Makan ini, Bintang Kegelapan!"
Satu per satu monster kuat itu ia lenyapkan. Tak peduli
seberapa kuat kulit maupun bulu mereka, jika tersentuh oleh Bintang Kegelapan,
mereka akan lenyap dalam sekejap. Kekuatan fisik tidak ada artinya di sini.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Oops……!"
Binatang Korosif menembakkan air liur mereka seperti
tembakan meriam air.
Rest memosisikan Bintang Kegelapan seperti sebuah perisai
untuk menangkis serangan air liur korosif tersebut.
“““““GYAAAAAAAAAAAAAAAA!”””””
"O-ooooooooo?"
Binatang Korosif lainnya juga ikut menembakkan air liur
mereka.
Mereka melakukannya dari jarak tertentu, di luar
jangkauan tembak Bintang Kegelapan.
(Jangan-jangan……
mereka telah mempelajari sifat dari Hoshihami!?)
Sambil menangkis serangan air liur dengan Bintang
Kegelapan…… Rest membelalak terkejut.
Tampaknya setelah melihat beberapa temannya terbunuh,
mereka segera menyadari bahwa mereka akan mati jika menyentuh Bintang Kegelapan
tersebut.
(Mereka memutuskan bahwa mendekat itu berbahaya, lalu
beralih ke serangan jarak jauh……! Makhluk-makhluk ini ternyata cukup cerdik!)
Kemampuan belajar monster-monster ini ternyata lebih
tinggi dari perkiraan. Padahal jika mereka menerjang membabi buta seperti
"bunuh diri massal lemming", ia bisa membereskan mereka dengan mudah.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
"Kh……!"
Teriakan mengguncang udara.
Bunyi meriam yang seolah-olah seperti dinamit yang
meledak di jarak dekat membuat gendang telinganya pecah, dan suara-suara di
sekitarnya pun menjauh.
"Kuh……!"
Tepat setelah itu, memfungsikan celah saat Rest
terhuyung, sang pelaku utama…… Sabnock, mengayunkan lidahnya yang
setebal batang pohon besar ke arahnya.
Bersamaan dengan suara ledakan yang bergaung, tanah
yang hancur berterbangan menciptakan tirai debu.
"Hampir saja……!"
Menggunakan High Accelerator, ia berhasil
menghindari serangan lidah Sabnock tepat pada waktunya.
Jika ia terlambat menghindar sedikit saja, ia pasti
sudah remuk oleh lidah raksasa tersebut.
(Itu bukan serangan yang bisa ditahan oleh tembok
sihir. Bintang Kegelapan memang bisa menghisapnya, tapi sebelum benar-benar
terhisap, ukuran dan momentumnya akan membunuhku duluan……!)
"Heal."
Ia
memulihkan gendang telinganya yang pecah akibat auman tersebut.
Suara-suara
di sekitarnya kembali terdengar normal. Rasa sakit di telinganya pun
menghilang.
"Baiklah……
ini benar-benar merepotkan ya……"
Hanya
dengan auman yang sangat keras saja gendang telinganya sudah pecah, ia sempat
mengira akan kehilangan kesadaran.
Seperti
yang diharapkan dari sang penguasa "Wilayah Iblis". Ia tidak mengira
bisa mengalahkannya dengan mudah, tapi kekuatannya ternyata berkali-kali lipat
dari bayangannya.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Beberapa
ekor Binatang Korosif menembakkan air liur korosif ke arah Rest.
Ia
menahan tembakan air liur tersebut dengan tembok tanah. Tembok itu mulai
melarut karena korosi, namun ia segera membalas dengan sihir serangan.
"Thunderbolt!"
"GYAO!"
Sihir
serangan petir meledak hebat.
Sambaran
petir yang dahsyat itu membuat Binatang Korosif tumbang…… namun mereka segera
bangkit kembali dan menggeram.
"Sial……
sihir serangan biasa bahkan tidak cukup untuk membuat mereka pingsan
ya……!"
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Cih……!"
Binatang
Korosif kembali menyerang dengan lidah dan tembakan air liur.
Menggunakan
High Accelerator, ia menghindarinya. Lalu ia langsung melompat ke arah
musuh…… menggunakan Hoshihami dari jarak nol.
Binatang
Korosif terhisap ke dalam Bintang Kegelapan, lenyap tanpa menyisakan sehelai
bulu pun.
“““““GYAAAAAAAAAAAAAAAA!”””””
Namun,
serangan musuh datang bertubi-tubi dari segala arah.
Binatang-binatang itu tidak berkumpul di satu tempat,
melainkan menyebar dan menjaga jarak sambil terus menyerang.
Jika mereka berkumpul di satu tempat, ia bisa melenyapkan
mereka sekaligus…… namun karena mereka berpencar, hal itu tidak mungkin
dilakukan.
"……Waspada terhadap pertempuran jarak dekat. Apa
kalian berniat menutup jalan lariku!"
Rest mengatupkan giginya dan wajahnya merengut gusar.
Ia menangkis tembakan air liur dengan Bintang Kegelapan,
namun serangan yang dilepaskan dari arah lain sempat menyerempet lengannya.
"SAKIIIIIITTTTT……!"
Air liur korosif itu masuk ke dalam tubuhnya. Jika
dibiarkan, racun korosif dalam air liur itu akan mengalir melalui pembuluh
darah menuju jantung dan otak, hingga melenyapkan nyawanya.
"Sialan……!"
Rest segera memotong lengannya dengan bilah angin.
Jika ia ragu bahkan untuk satu detik saja, mungkin
segalanya akan terlambat.
"~~~~~!"
Detik berikutnya, rasa sakit yang hebat menyerangnya.
Sakit. Sangat sakit.
Ia baru menyadari bahwa manusia tidak akan bisa bersuara
saat merasakan rasa sakit yang luar biasa hebat.
(Cepat
rapalkan Heal…… sembuhlah, kumohon sembuhlahhhhh!)
"GUUUUUUUUUUUUUUUUU!"
Setelah
ia mengaktifkan sihir penyembuhan, rasa sakitnya mulai mereda.
Sambil
menghindari serangan musuh yang bertubi-tubi, Rest memfokuskan dirinya sekuat
tenaga pada pengobatan.
"Aku
sempat berpikir apa yang akan terjadi jika ini tidak sembuh…… benar-benar
membuatku panik."
Secara
mengejutkan, lengan yang tadi putus kini tumbuh kembali.
Regenerasi bagian tubuh yang hilang dianggap sebagai
teknik tertinggi dalam sihir penyembuhan. Namun, Rest sudah menguasainya.
Karena menutup luka maupun menumbuhkan kembali bagian
yang hilang, keduanya sama-sama bisa dilakukan dengan Heal.
Seperti yang ia pelajari dari pelajaran di akademi……
masalah utama dalam menyembuhkan kehilangan anggota tubuh hanyalah soal jumlah
mana, dan syarat itu bisa dipenuhi cukup dengan meningkatkan jumlah mana yang
digunakan untuk sihir Heal.
(Pasti mustahil melakukannya tanpa mana yang tak
terbatas…… jika nanti aku tidak bisa menjadi Penyihir Istana, mungkin aku akan
hidup sebagai pendeta atau tabib saja?)
Sambil memikirkan candaan tersebut, lengannya yang
dipotong tadi telah tumbuh kembali sepenuhnya.
Ia menggerakkan tangannya pelan untuk memeriksa
keadaannya, dan ia tidak merasakan keanehan apa pun.
Rasa sakit yang menyiksa otaknya tadi juga sudah hilang……
namun situasinya masih tetap kritis.
Binatang-binatang korosif bawahannya sangat mengganggu
hingga ia tidak bisa fokus pada Sabnock. Jumlah mereka lebih dari dua
puluh ekor.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
"Uwaaa……!"
Terlebih lagi…… seolah-olah memanfaatkan kesempatan ini, Sabnock
kembali melepaskan aumannya.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, ia menciptakan
perisai udara dengan Wind Wall untuk menahan meriam gelombang suara
tersebut.
Kali ini ia berhasil menahannya tanpa harus mengalami
gendang telinga pecah.
"Smoke
Screen, Amplification, Wind Control!"
Peluncuran
sihir dalam mode "Trio". Ia menyebarkan kabut asap putih dalam jumlah
besar, lalu mengendalikannya dengan sihir angin agar tidak terbang terpencar.
Penglihatannya tertutup sepenuhnya…… namun ia merapalkan sihir tambahan. Ia
memetakan posisi musuh dengan Life Search.
"Accelerator!"
"GYA……"
Lalu ia
memperpendek jarak dan melancarkan Hoshihami. Ia terus
mengurangi jumlah musuh.
Tanpa membiarkan lawan mengetahui posisinya, ia berusaha
menghabisi musuh sambil benar-benar mengelabui mereka.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
"Sudah kuduga akan jadi begitu……!"
Seperti perkiraannya.
Sabnock melenyapkan kabut asap tersebut dengan
aumannya.
Meskipun ia mencoba mengendalikan kabut asap itu dengan Wind
Control, meriam gelombang suara tersebut tanpa ampun mencerai-berai asap
putih itu.
"Seberapa pun banyak trik yang kucoba, mereka terus
menemukan jalan keluarnya…… dasar monster."
Rest menggunakan berbagai sihir yang ia miliki satu per
satu, namun semuanya berhasil dipatahkan.
Tubuh
raksasa dan air liur korosifnya memang berbahaya…… namun fakta bahwa monster
itu cerdik adalah hal yang paling merepotkan.
(Manusia seharusnya bisa menang melawan binatang berkat
kecerdasan dan kerja sama kelompok…… tapi bukankah ini curang jika monster
mengungguli manusia dalam hal adu kecerdasan dan kerja sama tim?)
Ia berjuang sendirian. Seandainya ia setidaknya membentuk
tim dengan rekan yang bisa dipercaya, mungkin segalanya akan lebih mudah.
Namun di sekitar Rest, tidak ada satu pun orang yang bisa
memberinya dukungan.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Uwah…… tanpa bercanda, aku mungkin
benar-benar bisa mati……"
Sambil menyadari bahwa situasi pertempuran
perlahan-lahan memburuk, Rest berusaha memutar otaknya.
Ia mencoba memikirkan cara untuk membalikkan keadaan……
tentu saja, musuh tidak akan menunggunya berpikir.
Serangan
bertubi-tubi tanpa ampun terus dilancarkan ke arah Rest.
"Ilmu
Pedang Almakain…… 'Pecahan Bab'"
"…………!"
Namun, sebuah kejadian tak terduga terjadi di sana.
Sesosok bayangan yang melesat seolah-olah menebas udara
tiba-tiba membelah salah satu Binatang Korosif menjadi dua.
"Ternyata di sini berkumpul mangsa-mangsa yang cukup
layak untuk ditebas ya."
Wajahnya rupawan, namun terlihat suram. Matanya tertutupi
oleh rambut, memperlihatkan ekspresi yang sulit dibaca. Pedang yang ia genggam
di tangan kanan memancarkan cahaya yang redup namun misterius.
"Wilhelm Lubace……?"
Putra mahkota kelas satu Departemen Ksatria. Pria yang di
dalam otak Rest dijuluki "Pendekar Pedang Pembenci Wanita" sedang
berdiri di sana.
Melihat bantuan yang sama sekali tidak ia duga, Rest
terpaku tak percaya.
"Lubace. Kenapa kau bisa ada di sini……!?"
"GYAO!"
Memanfaatkan celah tersebut, seekor Binatang Korosif melompat menerjang.
“──!”
Rest berusaha membalas serangan Binatang Korosif yang
menerjangnya dengan sihir.
Namun,
Wilhelm Lubace bergerak lebih cepat darinya.
"Ilmu
Pedang Almakain…… Sange."
Dalam
sekejap, rentetan tebasan dilepaskan bertubi-tubi.
Binatang
Korosif itu terpotong-potong di udara dan jatuh ke tanah dalam kondisi
terfragmentasi.
"Cepat sekali……!"
Gerakan Lubace sangat luar biasa cepat. Bahkan setara
dengan Rest saat menggunakan High Accelerator.
Terlebih lagi, dia memotong tubuh Binatang Korosif yang
memiliki bulu sangat keras itu dengan begitu mudah.
(Dan
pedang itu…… mirip dengan katana Jepang. Apa itu senjata yang dikhususkan untuk
menebas?)
"Kamu……
kalau tidak salah namamu Rest. Teman si wanita itu, kan?"
Wanita
yang dimaksud kemungkinan besar adalah Yuri Catleya, teman yang selalu menempel
pada Lubace setiap kali pelajaran Ilmu Pedang.
"Yah,
begitulah…… Yuri temanku."
"Kenapa kamu ada di sini? Ini
bukan medan perang yang pantas didatangi murid kelas satu, kan?"
"Kata-kata itu kuberikan balik sepenuhnya
padamu……"
Lubace juga murid kelas satu. Kenapa dia bisa berada di
garis depan seperti ini?
"Kalau cuma mau berdiri melamun, lebih baik kamu
pulang saja. Biar tempat ini aku yang tangani."
"Mana mungkin aku menyerahkan pertempuran penting
pada orang yang baru pertama kali kuajak bicara. Aku berterima kasih sudah dibantu, tapi…… bukankah sebaiknya
kamu sendiri yang pulang?"
Rest
membalas perkataan Lubace.
Meski
secara teknis dia baru saja dibantu, Rest sebenarnya bisa menahan serangan tadi
dengan sihirnya sendiri.
Lubace
adalah seorang pendekar pedang. Rest memperingatkannya tanpa maksud mengejek
bahwa ia tidak cocok melawan Binatang Korosif yang bisa melelehkan senjata, dan
lebih bijak baginya untuk kabur.
"GYAAAAAAAAAAAA!"
"GYAAAAAAAAAAAA!"
Selagi
mereka bicara, beberapa Binatang Korosif menembakkan air liur korosif.
"Hoshihami."
"Zanten."
Rest
melenyapkan air liur yang mengarah padanya dengan menghisapnya ke dalam Bintang
Kegelapan.
Di saat
bersamaan, Lubace membelah tembakan air liur itu dengan pedangnya. Air liur
yang terbelah menjadi dua itu melesat ke arah lain yang tidak berbahaya.
"Dia
membelah cairan……?"
Pedang
Lubace tidak terlihat patah atau meleleh meskipun baru saja menebas air liur
korosif yang bisa meluluhkan logam.
Tampaknya dia meningkatkan kekuatan senjatanya dengan
menyelimuti permukaan senjata menggunakan mana densitas tinggi.
Itu adalah teknik yang sering digunakan para ksatria atau
prajurit…… tapi milik Lubace jauh lebih halus dibandingkan siswa Departemen
Ksatria lainnya, bahkan dibandingkan Danilla sekalipun.
"Melunakkan serangan musuh……? Kamu menggunakan sihir
yang aneh ya."
Di sisi lain, Lubace juga mengernyitkan dahi. Dia tampak heran melihat sihir asing yang digunakan Rest.
"Situasinya bukan saat yang tepat untuk
mengobrol dengan tenang ya……"
Rest memutuskan untuk melepaskan sihir area luas demi
membungkam musuh untuk sementara.
"Thunderstorm!"
Petir menyambar-nyambar turun seperti hujan menyerang
musuh.
Ini adalah sihir tingkat tinggi dengan jangkauan
luas. Area
serangannya lebar, namun daya rusaknya rendah.
Bagi
Binatang Korosif yang memiliki ketahanan sihir kuat, ini hanya berfungsi
sebagai pengalih perhatian.
"Bagus sekali."
Lubace menghentakkan kaki ke tanah.
Memanfaatkan celah yang diciptakan oleh sihir petir, dia
merangsek maju dan menebas Binatang-binatang Korosif tersebut.
"Sihir memang praktis. Dukungan yang
bagus."
"Aku tidak berniat memberimu dukungan
sih……"
"GYAAAAAAAAAAAA!"
Seekor Binatang Korosif mencoba menyerang Lubace.
Rest menembakkan sihir dari jarak jauh, menghancurkannya sebelum serangan itu
sempat dilepaskan.
"Ilmu
Pedang Almakain…… Dansho."
Lubace
menebas Binatang Korosif lainnya lagi. Pedang Lubace benar-benar cepat dan
sangat kuat.
Itu
adalah salah satu bentuk kesempurnaan seorang pendekar pedang. Teknik pedang
ideal yang mustahil dicapai oleh orang biasa ada di sana.
(Benar-benar pendekar pedang genius…… apa
kau karakter utama atau bagaimana?)
Rest menembakkan sihir, dan Lubace mengayunkan
pedang. Meski ini
situasi yang tak terduga…… pertempuran menjadi jauh lebih mudah dibandingkan
sebelumnya.
Ia
tidak menyangka bahwa memiliki dukungan orang lain bisa membuat pertarungan
terasa begitu ringan.
(Ternyata kerja sama dengan rekan sepenting ini ya…… mungkin aku perlu meninjau ulang banyak hal.)
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
Saat Rest dan Lubace sedang sibuk bertarung dengan
Binatang Korosif, Sabnock mulai berjalan melintasi dataran dengan langkah berat
seolah kehilangan minat.
Monster itu mengabaikan mereka berdua dan terus melaju
lurus menuju pintu masuk dataran. Jika ia kembali ke pedalaman sih tidak
masalah, tapi Sabnock justru berjalan ke arah sebaliknya.
"Gawat……
jangan sampai kabur!"
"Oi, kamu……!"
"Sini kuserahkan padamu! Tolong urusi mereka!"
Jumlah Binatang Korosif sudah berkurang hingga kurang
dari setengah. Lubace sendirian saja sudah cukup untuk menghadapi sisanya.
"Aku titip ya, aku pergi menghentikan makhluk
itu!"
Mengaktifkan High Accelerator, Rest menghentakkan
kaki dan melesat dengan kecepatan tinggi.
Ia merasa tidak enak pada Lubace…… tapi tidak ada pilihan
lain. Ia menyerahkan musuh kecil pada pria yang bukan rekan maupun temannya
itu, lalu mengejar Sabnock.
◇ ◇ ◇
Sang
penguasa Wilayah Iblis…… Singa Jahat Korosif Sabnock berjalan dengan angkuh.
Bulu
hitamnya bergoyang, banyak matanya menatap tajam ke depan…… mengabaikan Rest
dan Lubace yang seharusnya menghalangi jalannya, ia terus maju lurus.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
Sabnock
sejak lahir sudah ditakdirkan untuk menjadi "Raja". Ia lahir di pusat
wilayah yang disebut Wilayah Iblis.
Orang
tuanya, sepasang Binatang Korosif, memenangkan persaingan bertahan hidup
melawan sesama jenis maupun monster lain, lalu mendapatkan tempat itu sebagai
sarang kelahiran.
Ada lima anak singa yang lahir menerima kekuatan mana
yang melimpah dari dalam tanah. Segera
setelah lahir, mereka saling memangsa…… dan hanya Sabnock, yang nantinya
menjadi raja, yang berhasil bertahan hidup.
"Akulah satu-satunya penguasa di bawah langit
ini."
Jika Sabnock bisa menggunakan bahasa manusia, ia pasti
akan mengucapkan kalimat seperti itu.
Setelah lahir dengan mandi mana yang melimpah dan memakan
saudara-saudaranya untuk meningkatkan kekuatan, anak singa itu segera tumbuh
besar, lalu membunuh dan memakan orang tuanya untuk mandiri.
Sejak saat itu, hari-harinya diisi dengan pertempuran. Setiap hari ia terus bertarung,
membunuh, dan memakan monster yang mengincar mana di Wilayah Iblis.
Tanpa
disadari…… anak singa itu telah tumbuh sangat raksasa dibandingkan monster
sejenisnya, dan sekelilingnya kini dipenuhi oleh bawahan yang memujanya sebagai
raja.
Meskipun
telah membangun posisi kokoh sebagai penguasa Wilayah Iblis, Sabnock kemudian
harus berhadapan dengan makhluk yang disebut "Manusia".
Wilayah
Iblis adalah tanah di mana tanaman tumbuh subur, tempat yang sangat diinginkan
oleh manusia. Banyak pemimpin mengirim pasukan untuk mencoba membuka lahan dan
membunuh sang "Raja".
Sabnock
memimpin bawahannya untuk menghancurkan manusia-manusia yang tidak tahu diri
itu.
"Akulah raja. Mengusik tanah raja adalah
penghinaan."
Sabnock menyerang manusia bukan untuk dimakan, melainkan
demi harga dirinya sebagai penguasa.
Jika ia membiarkan manusia yang mengusik wilayahnya tetap
hidup, maka martabatnya sebagai raja akan ternoda.
Karena ia adalah raja, ia harus membunuh manusia yang
merusak wilayahnya.
Ia perlu menghancurkan mereka sepenuhnya,
menginjak-injak, dan melumat mereka untuk memberi tahu si bodoh tentang batasan
diri mereka.
Tindakan Sabnock itu benar. Setidaknya, itulah yang ia
pikirkan.
Karena ia telah membantai habis pasukan pembuka lahan,
tidak ada lagi yang berani menginjakkan kaki ke pedalaman Wilayah Iblis, dan
masa kedamaian pun datang.
"Baiklah, ayo jalan. Beruang seperti ini tidak
cukup. Aku akan memburu mangsa yang lebih besar!"
Namun……
manusia adalah makhluk yang cepat melupakan rasa takut.
Hari itu, setelah sekian lama, manusia kembali mendekati
wilayah Binatang Korosif. Ini pertama kalinya dalam dua puluh tahun manusia
masuk ke wilayah mereka. Bukan tentara, yang masuk hanyalah beberapa anak
kecil.
Boleh saja diabaikan. Sabnock tidak seluang itu untuk
mengejar setiap serangga yang tersesat.
Namun……
lancang sekali, serangga kecil itu membakar sesuatu yang mengeluarkan aroma
yang sangat tidak menyenangkan.
Aroma khusus yang merangsang insting bertarung
monster…… bau dupa
yang manusia sebut sebagai "Penarik Monster".
Apa
mereka berniat memancingnya lalu menjebaknya? Ini
benar-benar tidak menyenangkan.
Hanya monster rendahan tanpa kecerdasan yang akan
kehilangan akal karena penarik monster.
Menyamakan dirinya yang seorang raja dengan makhluk
rendahan seperti itu adalah penghinaan yang luar biasa.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
Sabnock menyingkirkan manusia-manusia bodoh itu dalam
sekali serang. Ia tidak memeriksa apakah mereka hidup atau mati. Ada hal yang
lebih penting untuk dilakukan.
Manusia rupanya sudah lupa betapa mengerikannya sang
"Raja". Seperti dua puluh tahun lalu, ia akan membunuh,
menghancurkan, menginjak-injak…… memberitahu mereka bahwa keberadaannya berada
di luar jangkauan kekuatan manusia.
Sang raja memimpin bawahan mudanya keluar dari wilayah
kekuasaannya dan bergerak lurus menuju arah berkumpulnya manusia. Ia memutuskan
untuk menghancurkan "sarang" tempat manusia berkerumun demi memberi
mereka pelajaran.
Di hadapan raja yang keluar dari wilayahnya, muncul dua
serangga kecil yang melancarkan serangan.
Karena mereka serangga yang cukup mampu membunuh
bawahannya, ia sempat meladeni mereka sebentar, namun ia segera menyadari itu
membuang waktu dan memutuskan untuk mengabaikan mereka.
"Seberapa kuat pun mereka, serangga tetaplah
serangga. Mana mungkin bisa membunuh singa."
Ia adalah seorang "Raja". Meskipun ada serangga
yang menempel di kaki atau bawahan yang lemah terbunuh…… ia tidak boleh
berhenti.
Ia bukan raja karena berjalan di jalan yang benar. Ia
adalah raja karena jalan yang ia lalui akan menjadi "Jalan Raja".
Sabnock terus merangsek maju. Demi menunjukkan jalannya
sendiri dan demi harga dirinya, ia berniat membasmi manusia.
"Hoshihami!"
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!?!?"
Namun……
Sabnock terpaksa menghentikan langkahnya. Untuk
pertama kalinya sejak ia dilahirkan, ia berteriak karena rasa sakit.
Ia segera menyadari penyebab rasa sakit itu…… serangga
yang seharusnya sudah ia kibaskan ternyata melompat dan naik ke punggungnya
tanpa ia sadari.
"Hoshihami."
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!?"
Sekali lagi, rasa sakit yang hebat menjalar bersamaan
dengan kata-kata yang mengerikan itu. Daging di punggung Sabnock, sang penguasa
Wilayah Iblis, tercungkil habis oleh bola hitam yang ada di tangan serangga
kecil itu.
◇ ◇ ◇
Setelah melancarkan serangan ke punggung Sabnock, Rest
mendarat di tanah seolah terpental oleh bulunya yang keras.
"Terlalu dangkal ya……!"
Rest yang berhasil mengejar Sabnock dengan High
Accelerator melompat ke punggungnya dan menghantamkan Hoshihami.
Meskipun itu adalah Bintang Kegelapan yang bisa menelan
dan melenyapkan segalanya…… sayangnya bagi tubuh raksasa Sabnock, itu bukan
serangan fatal.
Meski darah mengalir dari punggungnya, Sabnock tetap
berdiri tanpa tumbang.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!?"
Tetap saja, sepertinya itu menyakitkan baginya. Sabnock berhenti melangkah dan berbalik menghadap Rest.
Banyak matanya yang terdistorsi aneh menatap rendah
ke arah Rest, memancarkan amarah dan haus darah.
"Akhirnya kau mau melihat ke arahku ya……!"
Rest menelan ludah karena tegang…… tapi ia berusaha
menggertak sekuat tenaga dan balas menatap Sabnock. Saat bertatapan langsung
seperti ini, ia kembali menyadari betapa mengerikannya monster ini.
Bukan hanya ukurannya, tapi jumlah mana yang
terkandung di dalamnya sangat luar biasa.
Bahkan Rest yang memiliki sumber mana tak terbatas
pun mustahil bisa menyimpan mana sebanyak itu di dalam tubuhnya sekaligus.
(Karena itulah dia disebut 'Penguasa'…… pantas saja
dia tidak pernah bisa dibasmi sejak negara ini didirikan.)
Sambil merasakan keringat mengalir di punggungnya,
Rest memikirkan cara untuk menumbangkan musuh di hadapannya. Kartu terkuat yang
ia miliki adalah Bintang Kegelapan yang melahap segalanya…… Hoshihami.
Namun, serangan tadi membuktikan bahwa seberapa hebat
pun Hoshihami, satu atau dua hantaman tidak akan cukup untuk mencabut
nyawa Sabnock.
(Tentu saja ceritanya akan beda jika aku menghantam
otak atau jantungnya…… tapi itu sulit.)
Sebenarnya serangan tadi pun ia berniat menghantamkan
Bintang Kegelapan ke kepalanya.
Namun, pergerakan Sabnock yang berlari melintasi
dataran sangat cepat, dan ia tidak bisa mempertahankan pijakannya setelah
melompat ke punggung monster itu.
Ia hanya berhasil menghantam punggungnya, sedangkan
membidik bagian kepala adalah hal yang sangat sulit.
(Hoshihami adalah sihir yang kuat. Karena
itulah, ia tidak bisa digunakan bersamaan dengan sihir lain……)
Itulah kelemahan Hoshihami. Karena sifatnya
yang membutuhkan mana dalam jumlah sangat besar, ia tidak bisa digunakan
tumpang tindih dengan sihir lain.
Saat mengeluarkan Bintang Kegelapan, sihir tipe
penguatan fisik pun akan terlepas, sehingga ia kembali ke kondisi tubuh manusia
biasa.
(Mungkin sepuluh atau dua puluh tembakan baru bisa
membuatnya tumbang…… tapi apa itu mungkin?)
Sampai saat itu tiba, apakah Rest sanggup mengendalikan
binatang raksasa ini?
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO"
"Kh……!"
Dari rahang yang terbuka lebar, teriakan yang lebih keras
dari sebelumnya dilepaskan. Rudal suara.
Jika tidak ditahan dengan sihir, mungkin bukan hanya
gendang telinganya yang pecah, tapi ia bisa terlempar hingga puluhan meter
jauhnya.
"GYAO!"
"…………!"
Segera setelah teriakan itu, Sabnock menghantamkan kaki
depannya.
Rest sempat berpikir untuk menggunakan Hoshihami
sebagai serangan balik instan dan melenyapkan kaki depan itu…… tapi ia segera
membuang ide nekat itu.
Ia tidak bisa menghisap kaki raksasa Sabnock dalam
sekejap. Meskipun ia bisa mencungkil sebagian dagingnya, tubuh Rest pasti akan
remuk terinjak lebih dulu.
"High Accelerator!"
Ia meningkatkan kecepatannya secara drastis untuk
menghindari kaki depan Sabnock.
Segera setelah itu, suara ledakan menggelegar dan kabut
debu tebal membubung tinggi.
Kawah kecil tercipta di tempat kaki itu mendarat,
meninggalkan bekas cakar yang mengerikan di tanah.
"Fireball,
Amplification, Compression, Accelerator!"
Setelah
menghindari serangan kaki depan…… peluncuran sihir dalam mode
"Quartet". Ia memadatkan bola api raksasa, mempercepatnya, lalu
menembakkannya.
Bola
api yang melesat itu menghantam wajah Sabnock, menciptakan ledakan api merah
menyala.
"GYAO!"
"Mm……!"
Namun, ternyata dampaknya sangat kecil. Bulu di wajahnya
hanya sedikit hangus terbakar. Meskipun itu sihir mode "Quartet",
sihir biasa ternyata tidak bisa memberikan kerusakan besar.
Sabnock
menembakkan air liur korosif seperti meriam air. Serangan
yang juga dilakukan oleh Binatang Korosif lainnya…… tapi milik Sabnock memiliki
kekuatan yang jauh berbeda.
Air liur dalam jumlah besar disemburkan seolah-olah
sebuah bendungan sedang melepas air.
"Wind
Wall, Water Wall, Earth Wall, Fire Wall!"
Ia
membangun empat lapis dinding atribut untuk mencegah air liur itu mengenainya.
Air liur Sabnock tersebar di sekelilingnya, tapi Rest berhasil selamat.
"GISHAAAAAAAA……"
Secara
kebetulan, ada monster lain di dekat sana yang terkena air liur itu. Tubuh
monster yang terkena air liur korosif itu meleleh seketika, lalu membusuk
hingga hanya menyisakan tulang.
"……Mengerikan sekali. Dasar monster."
Ia tidak boleh membiarkan monster seperti ini lepas
dari dataran. Jika
ia sampai menuju Ibukota…… Rest bergidik membayangkan kota yang meleleh dan
penduduk yang menjadi tulang akibat air liur itu.
"……Aku
akan menghentikannya dengan pasti. Pertarungan maut yang sesungguhnya dimulai
dari sini."
Rest
memantapkan tekad hidup-mati, lalu memikirkan segala cara untuk memburu monster
di depannya.
(Bulu makhluk ini memiliki ketahanan sihir yang sangat
tinggi. Api, air,
angin, tanah, es, petir…… semuanya tidak akan mempan. Racun…… aku belum
mencobanya, tapi dengan tubuh sebesar ini, racun pasti butuh waktu lama untuk
menyebar.)
Namun,
menggunakan Hoshihami dalam pertarungan jarak dekat sangatlah sulit.
Apalagi dalam situasi di mana musuh sudah sangat waspada.
"Kalau
begitu…… terpaksa dilakukan. Ini ide yang nekat, tapi aku harus
menjalankannya."
Sebuah metode terlintas di pikirannya. Cara yang
sepertinya sangat merepotkan, dan hanya mungkin dilakukan jika memiliki mana
yang tak terbatas.
"Seberapa nekat pun itu, jika tidak ada cara lain,
aku harus melakukannya."
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
Sambil menerima auman Sabnock, Rest bergerak. Sekali
lagi, air liur korosif disemburkan seperti laser air…… tapi ia menghindarinya
dengan High Accelerator. Ia menghentakkan kaki ke tanah dan melompat
tinggi ke langit.
"Hiding,
Floating, Wind Control!"
Peluncuran
sihir mode "Trio". Rest menggunakan sihir ilusi untuk menyembunyikan
keberadaannya, lalu melesat di udara.
(Apa aku tidak akan dibiarkan mendekat dan menyerang
begitu saja ya……)
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
Sabnock yang kehilangan jejak Rest mulai menyerang
sekelilingnya secara membabi buta. Sepertinya ia sadar bahwa Rest
menyembunyikan diri dengan sihir. Jika Rest mendekat dengan ceroboh, ia bisa
terkena serangan keberuntungan dari monster itu.
(Kalau
begitu…… memang hanya cara ini pilihannya.)
"Wind
Control."
Rest
terbang melewati atas kepala Sabnock dan membubung tinggi ke langit. Ia terus
menambah ketinggian. Melewati tinggi menara, tinggi gunung, hingga setinggi
awan.
Tekanan
udara menurun membuat napasnya sesak. Suhu juga menurun, hingga udara dingin
terasa menusuk kulit.
Butuh waktu sekitar seratus delapan puluh detik untuk
mencapai ketinggian empat ribu meter dari permukaan tanah.
Lebih rendah dari ketinggian pesawat terbang, namun cukup
tinggi untuk melihat Gunung Fuji dari atas. Saat ia menunduk, ia baru bisa
memastikan sosok raksasa Sabnock.
"……Segini saja cukup."
Rest berhenti naik dan melayang diam. Di bawah sana
Sabnock masih mengamuk mencari Rest, namun di posisi ini serangan monster itu
tidak akan sampai.
Rest menatap ke bawah, sengaja mengonfirmasi langkah yang
harus ia ambil dengan mengucapkannya.
"……Sabnock punya bulu keras dan tidak mempan
terhadap sihir tingkat tinggi maupun mode 'Quartet'. Hoshihami bisa
mengoyak tubuhnya tapi jarak tembaknya pendek. Bagi aku yang sekarang, mustahil
untuk mendekati monster raksasa yang mengamuk itu dan menghantamkan serangan
tepat di titik vitalnya."
Lalu……
apa yang harus dilakukan? Kesimpulannya, ia harus melancarkan serangan dengan
daya rusak setara atau lebih kuat dari Hoshihami dari jarak jauh.
(Aku
beruntung ya…… kebetulan aku punya sihir baru yang baru saja selesai kubuat……!)
"Hoshihami."
Ia
memunculkan bola hitam di ujung tangan kanannya. Sihir yang ia gunakan untuk
terbang terlepas, dan tubuhnya mulai terjatuh bebas menuju tanah. Terjun
payung tanpa parasut. Baru sekarang ia merasa takut akan ketinggian.
"Ini ternyata cukup berat juga……!"
Tanpa sihir. Tanpa peralatan khusus. Jatuh bebas dari
ketinggian empat ribu meter. Rasa
takut dan dinginnya bukan main…… tapi ia tidak dalam kondisi untuk mengeluh.
Sambil
mengatupkan gigi untuk menahannya, ia bertekad menjalankan apa yang harus
dilakukan dengan setenang mungkin.
"Hisaplah
cahayanya…… Wahai Bintang Kegelapan yang melahap segalanya!"
Seluruh
area dataran menjadi gelap. Cahaya matahari meredup. Seolah-olah sedang terjadi
gerhana matahari total.
Gerhana matahari buatan. Situasi abnormal ini pasti
membuat manusia maupun monster kebingungan, tapi pelakunya adalah Rest.
Yang diperintahkan Rest pada Bintang Kegelapan untuk
dihisap adalah cahaya matahari di seluruh area sekitarnya.
Hoshihami awalnya adalah sihir orisinal yang
diciptakan dengan bayangan sebuah lubang hitam.
Jika lubang hitam bisa menangkap cahaya dan tidak
membiarkannya lepas, maka tentu saja sihir ini juga bisa melahap cahaya.
"Benda yang ditarik ke dalam Bintang Kegelapan
biasanya akan dilenyapkan tanpa pandang bulu…… tapi kali ini sengaja tidak
kulenyapkan. Aku menghentikan cahaya yang diserap tepat selangkah sebelum
lenyap, lalu memusatkannya."
Permukaan tanah semakin mendekat. Tiga ribu meter, dua
ribu lima ratus meter, dua ribu meter, seribu lima ratus meter……. Semakin dekat
ke permukaan, sosok Sabnock perlahan menjadi besar dan jelas.
"GYAO……?"
Sabnock yang mengamuk mencari Rest…… tampaknya merasa
curiga dengan kegelapan yang tiba-tiba jatuh di sekitarnya, lalu ia menatap ke
langit.
Langit yang kehilangan sebagian besar cahaya matahari
tertutup kegelapan, tapi sepertinya ia punya penglihatan malam yang tajam.
Dengan jarak lebih dari seribu meter di antara mereka,
tatapan Rest dan Sabnock bertemu.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
"Sepertinya kau sudah menemukanku…… tapi sudah
terlambat."
Di tangan Rest sudah ada bola cahaya yang mengandung
energi cahaya yang sangat besar.
Dari ketinggian empat ribu meter hingga seribu meter,
jatuh dengan kecepatan dua ratus kilometer per jam selama sekitar satu menit.
Hanya satu menit, tapi ia telah mengumpulkan sebagian
besar cahaya yang seharusnya menyinari dataran ke dalam genggamannya. Jujur saja, Rest sendiri tidak tahu seberapa besar jumlah energi ini.
(Saat aku menembakkannya pada penyusup di akademi,
sihir ini punya kekuatan luar biasa meski belum sempurna. Sekarang bentuknya
sudah sempurna. Terlebih lagi, aku mengumpulkan jauh lebih banyak cahaya
daripada saat itu……!)
Jika serangan ini tidak mempan pada Sabnock, maka ia
tidak punya cara lain lagi untuk mengalahkannya. Rest hanya
bisa mati tanpa bisa melakukan apa pun.
(Tapi…… itu tidak akan terjadi. Karena akulah yang akan
menang!)
"Amaterasu……!"
Rest menyebutkan nama sihir yang telah sempurna itu.
Lalu, ia melepaskan cahaya yang terkurung dalam Bintang Kegelapan dengan
memberikan sebuah arah.
Berkas cahaya yang sangat menyilaukan meluncur menuju
bumi…… membidik monster raksasa yang ada di sana. Cahaya
agung dari kegelapan.
Sebuah serangan yang mengonsentrasikan kekuatan
matahari, seolah-olah Dewa Matahari yang bersembunyi di Gua Surgawi menampakkan
wajahnya.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOO!"
Sabnock menembakkan meriam air liur ke arah Rest yang
jatuh dari langit. Namun, itu adalah tindakan sia-sia yang nekat, seperti
meludahi langit. Hal itu tidak akan bisa menahan hukuman langit dari Dewa
Matahari.
"GYA……!"
Cahaya itu menguapkan air liur yang ditembakkan dalam
sekejap, lalu menembus tubuh Sabnock. Berkas cahaya itu melubangi bagian tengah
tubuhnya secara lurus dan menguapkannya tanpa belas kasihan.
Monster yang menyombongkan dirinya sebagai
"Raja" itu tewas seketika oleh palu dewa yang dijatuhkan dari langit.
◇ ◇ ◇
"Bahkan aku sendiri pun merasa ngeri melihat
kekuatannya. Mana-ku tidak berkurang tapi aku sangat lelah……"
Satu tembakan hukuman langit yang menembus si bodoh.
Berkas cahaya yang dilepaskan Rest menembus tubuh raksasa Sabnock. Sebuah
lubang besar menganga di bagian tengah tubuh Sabnock, hingga tubuhnya terbelah
menjadi atas dan bawah.
Bagian yang hangus terpanggang telah menguap hingga
tidak menyisakan tulang.
Berkas cahaya yang menembus itu juga melubangi tanah
dengan sangat dalam. Dasar lubang itu tidak terlihat, hingga Rest sendiri
bergidik ngeri memikirkan seberapa kuat serangan tadi.
"Aku
menang…… tapi anehnya perasaanku biasa saja ya……"
Ia
berhasil mengalahkan monster yang tidak pernah bisa ditumbangkan oleh siapa pun
sejak negara ini berdiri.
Itu
adalah pencapaian luar biasa yang akan tercatat dalam sejarah…… namun karena ia
mungkin belum sepenuhnya tersadar, permukaan hatinya terasa sangat tenang.
Jika ia
melaporkan pencapaian ini pada negara, entah seberapa besar hadiah yang akan ia
terima.
Meskipun mungkin kerepotan karena menjadi pusat perhatian
akan jauh lebih besar.
"……Mengejutkan ya. Tidak kusangka kau benar-benar
mengalahkan penguasa Wilayah Iblis sendirian."
"Eh?"
Mendengar suara dari belakang, ia menoleh dan menemukan
Wilhelm Lubace di sana. Lubace tidak terlihat memiliki luka yang berarti.
Sepertinya ia sudah menghabisi gerombolan Binatang
Korosif lainnya.
"Ternyata sihir yang diasah hingga puncaknya
memiliki kekuatan sehebat ini ya…… Sebuah ketinggian yang tidak bisa dicapai
oleh pedang."
Meskipun memuji, ekspresi Lubace terlihat agak kesal.
Rasa persaingan yang terpancar darinya kemungkinan adalah
rasa iri karena Rest berhasil melakukan pencapaian yang tidak bisa ia lakukan.
"Kau
terlalu memuji…… kalau bertarung jarak dekat, kau pasti menang kok."
"Hmph……"
Lubace
menatap rendah ke arah Rest dengan wajah merengut, sebelum akhirnya membuka
mulut dengan nada gusar.
"Wilhelm
Lubace. Putra ketiga dari keluarga Baron Lubace, pemegang gelar 'Pedang Iblis'
sekaligus pewaris sah Ilmu Pedang Almakain. Karena kita akan berhubungan untuk
waktu yang lama, pastikan kau mengukir nama itu baik-baik di otakmu."
"…………?"
Rest
menatap balik Lubace dengan raut heran. Kenapa pria ini mendadak memperkenalkan
diri di saat seperti ini?
"Suatu saat nanti, aku akan berdiri di puncak
ksatria negeri ini sebagai Komandan Ksatria. Dan kau, kau pasti akan menjadi
Kepala Penyihir Istana, jadi hubungan kita akan panjang."
"Ah……
jadi begitu maksudmu."
Rest
akhirnya paham. Singkatnya, Lubace baru saja mengakui Rest sebagai belahan
sayap lainnya yang kelak akan menjadi "Dua Sayap" penyokong Kerajaan
Aiwood.
"Kau
terlalu terburu-buru…… padahal masih banyak orang kuat di antara senior maupun
ksatria aktif, kan?"
"Aku
tidak tertarik pada kerumunan orang tak berguna yang kebetulan lahir lebih dulu
dariku. Aku pasti akan meraih puncak dengan pedang ini…… hanya itu saja."
Tampaknya,
Lubace adalah tipe orang yang sangat percaya diri. Jika para ksatria senior
mendengar ucapannya tadi, mereka pasti akan sangat tersinggung.
(Dia memang pria yang harga dirinya setinggi langit,
tapi sepertinya itu bukan sekadar omong kosong belaka…… Yah, jauh lebih baik
daripada Cedric atau Pangeran Rodel.)
"Aku Rest. Karena belum resmi masuk ke keluarga
istriku, aku belum punya nama marga."
"…………"
Sambil tetap duduk di tanah, Rest menjulurkan tangan
kanannya. Lubace pun menyambut dan menjabat tangan itu.
Dalam catatan sejarah di masa depan, mereka dikenal
sebagai "Dua Sayap" yang berlari bersama melewati peperangan yang
melanda Kerajaan Aiwood.
Pertarungan bersama yang pertama bagi dua orang yang kelak akan disebut pahlawan ini pun, berakhir di sini.



Post a Comment