NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V2 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4

Takamori Yuna

Beberapa hari berlalu, dan hari Sabtu pun tiba. Yuna akhirnya menyambut hari pertandingan latihan itu tanpa kendala. 


Langit yang sebelumnya tak menentu karena musim hujan kini seolah berbohong—matahari menampakkan wajahnya dengan cerah. Di dalam gedung olahraga, kapten tim memberi semangat, dan para anggota pun mengikuti, menaikkan moral mereka.


“Hari ini pertandingan latihan melawan Miyaza! Kita harus dapat hasil yang bagus!”


““““Ooo!””””


Setelah pemanasan ringan hingga tubuh berkeringat pas, para anggota klub menunggu di depan gerbang sekolah.


Waktunya sudah hampir tiba bagi klub basket SMA Miyaza untuk datang. Beberapa menit kemudian, tim basket SMA Miyaza pun tiba di SMA Eiga. Tanpa sadar, Yuna menatap sebuah wajah yang dikenalnya—wajah yang terasa begitu akrab dan juga membangkitkan kenangan lama. Tampaknya pihak sana pun sama. Ia menatap ke arah Yuna, mata terbelalak, lalu membeku.


Sementara itu, kapten dan guru pembina dari kedua sekolah saling bertukar salam. Setelah itu, para anggota dari kedua sekolah pun memasuki gedung olahraga.


—Duk, duk, duk.


Meski akhirnya bergabung dengan klub basket, Yuna masih belum tahu bagaimana harus menghadapi Onoi—orang yang selama ini ia tolak—dan kegelisahan pun menyelimutinya.


Sepertinya pihak sana pun merasakan hal yang sama.


Pada akhirnya, tanpa sempat saling menyapa, Yuna dan Onoi harus menghadapi pertandingan. Sambil sama-sama saling memperhatikan—


***


(—Gawat. Aku benar-benar kebablasan tidur!)


Padahal sudah berjanji akan menonton pertandingan ini—ini jelas masalah besar.


Saat melihat jam menunjukkan pukul 9:30 pagi, Haruya langsung meloncat dari tempat tidur, bersiap secepat mungkin, lalu mengayuh sepedanya dengan terburu-buru. Meski napasnya terengah-engah, ia tiba di SMA Eiga lebih cepat dari dugaan. Mungkin karena ia mengayuh sepeda sekuat tenaga.


Begitu melangkah ke dalam gedung olahraga, gelombang panas dan semangat langsung menyelimuti seluruh tubuhnya. Pertandingan latihan rupanya sudah dimulai.


Harus cepat, pikir Haruya.


Beberapa penonton sudah hadir, jadi ia menahan keberadaannya dan bergerak diam-diam menuju tribun. Beberapa orang sempat melirik ke arahnya, tapi segera kembali memusatkan perhatian pada pertandingan. Haruya memilih duduk di tempat yang tidak mencolok. Sorak sorai dan semangat dari kedua sekolah terasa jelas.


“Oh, mulai berikutnya giliran Yunarin! Harus kita dukung, Sarachin!”


“Sepertinya ada pergantian pemain… s-semangat ya, Yuna-san.”


“Harusnya lebih heboh dong, kayak ‘Yunarin semangaaat!’ gitu, Sarachin!”


“Se-semaangat…”


Dengan wajah memerah, Sara menyemangati dengan suara kecil.


Pemandangan itu Haruya saksikan dari sedikit kejauhan.


(…Himekawa-san juga datang ya. Yah, dia memang teman Nayu-san.)


Jangan sampai ketahuan.


Sambil tersenyum kecut, Haruya memperhatikan jalannya pertandingan. Seperti yang tadi dikatakan gadis-gadis “kelas S”, tampaknya Yuna akan segera masuk ke lapangan. Artinya, Haruya datang di waktu yang benar-benar pas.


Pertandingan sudah memasuki fase akhir. Beberapa menit lagi akan selesai. Seperti yang dikatakan guru, beberapa menit terakhir memang akan memberi kesempatan pada Yuna. Saatnya Yuna tampil.


Di tim Miyaza, Onoi sudah berada di lapangan sebagai pemain. Dari papan skor, Miyaza unggul tipis atas Eiga. Haruya menelan ludah dan mengamati jalannya pertandingan dari atas.


***


“Takamori. Gunakan serangan cepatmu untuk mematahkan semangat lawan. Karena kamu belum sepenuhnya menyatu dengan tim, anggap saja kamu kartu joker. Paham? Jangan memaksakan diri, tapi mainlah dengan penuh semangat.”


Setelah arahan dari pelatih—yang juga wali kelas—Yuna melangkah ke lapangan sebagai pemain.


Rambutnya diikat, dan dengan tatapan penuh tekad, ia menatap Onoi.

Onoi menyeka keringatnya lalu tersenyum menantang. Bunyi buzzer menandai dimulainya kembali pertandingan antara Eiga dan Miyaza.


Yuna langsung menerobos pertahanan lawan dengan dribel cepat.


(C-cepat sekali…)

(Penguasaan bolanya juga luar biasa…)

(T-tak bisa dihentikan…!)


Mereka benar-benar terkejut.


Serangan mendadak itu membuat Miyaza langsung kebobolan poin oleh Yuna seorang diri. Rentetan tembakan yang masuk itu benar-benar pantas disebut “menyendiri di puncak”. Formasi tembakannya indah. Gerakannya terlatih. Kontrol bolanya luar biasa. Lapangan seakan berada dalam genggaman Yuna seorang diri.


Dengan senyum berani, ia membakar ambisinya dalam diam. Namun sang pelatih menatap pemandangan itu dengan kecemasan. Inilah salah satu alasan mengapa Yuna tidak diturunkan sejak awal babak kedua. Entah apa yang ia takuti—Yuna cenderung enggan bermain sebagai tim.


(…Baru dua hari sejak dia bergabung. Mungkin aku terlalu khawatir, tapi ini bukan pertanda baik.)


Yuna hanya memilih antara mendominasi permainan sendirian atau memberi operan sederhana. Memang terlihat keren dan memikat, tapi sosok itu tampak begitu kesepian.


(…Dia sangat ketakutan. Sepertinya traumanya belum sepenuhnya teratasi.)


Dengan tatapan muram, sang pelatih memperhatikan Yuna. Sementara itu, menyaksikan dominasi Yuna di lapangan, para “S-Class Beauty” hanya bisa ternganga.


(Seolah… Yuna-san bukan Yuna-san yang kami kenal…)

(Bukankah Yunarin itu sebenarnya orangnya lebih pendiam?)


Tak mampu menyembunyikan keterkejutan mereka, gadis-gadis itu memandangi Yuna dengan penuh kekhawatiran. Sementara itu, Haruya hanya menggeleng pelan sambil menggigit bibir bawahnya.


(Bukan begitu… Nayu-san. Bukan permainan seperti ini yang ingin kulihat. Yang dulu membuat satu gedung bergemuruh itu… bukan ini.)


Jika hanya bersinar sendirian, hati orang tak akan tergerak.


Tak diragukan lagi, kemampuan Yuna memang luar biasa. Kontrol bolanya yang cekatan dan formasi tembakannya yang indah secara alami menarik perhatian siapa pun. Namun, bukan permainan yang membuat orang berpikir “sudah cukup dia saja” yang dulu mengguncang hati Haruya.


Karena itulah Haruya tak ingin melihat pemandangan seperti ini. Ia takut harus mengakui bahwa Yuna—yang pernah mengubah dirinya—sudah tidak ada lagi. Ia memejamkan mata, seolah menolak menerima kenyataan itu walau hanya sesaat. Namun tetap saja, Haruya memilih untuk percaya dan terus mengawasi. Dan saat itulah—


(Aku benci dirimu yang bermain seperti itu… karena itulah aku—aku memutuskan untuk meninggalkanmu! Sadarlah! Takamori!)


Onoi mematahkan dominasi Yuna. Ia merebut bola dan langsung melancarkan serangan balik, membuat Miyaza kembali mengambil alur permainan. Sejak saat itu, Miyaza mulai menambah poin demi poin dengan cepat.


“……Semuanya, tetap fokus. Aku ada di sini.”


Onoi berbicara tegas kepada seluruh tim. Semua anggota tim tersentak dan menatap Onoi, lalu kembali tenang.


“Jangan terintimidasi. Permainan egois bisa dihadapi kalau kita tetap tenang. Percayalah padaku.”


Dengan suara lembut yang menenangkan, Onoi menatap satu per satu wajah rekan setimnya dengan serius.


Para anggota Miyaza pun menarik napas dalam-dalam beberapa kali.

Semangat juang kembali menyala di mata mereka saat mereka menatap Yuna. Permainan Yuna memang ancaman besar. Namun lawan hanya satu orang. Jika bermain sebagai tim, bukan berarti mereka tak punya peluang. Basket bukan olahraga individu—melainkan olahraga tim.


“……!”


Yang sebelumnya dengan mudah ia lewati satu demi satu, kini jalurnya ditutup rapat. Dan—


“Terima kasih.”


Saat kakinya terhenti, Onoi kembali merebut bola darinya. Yuna spontan menundukkan wajah. Ia menggigit bibir bawahnya, bahunya bergetar.


(Aku tak boleh gagal… aku tak boleh gagal…)


Keringat panas yang biasanya membangkitkan semangat kini terasa dingin menusuk. 


Singkatnya—ini yang terburuk.


Tanpa perlu menatap tribun pun ia tahu. Sara, Rin… dan juga Haruya—pasti kecewa melihat permainannya sekarang.


(…Menyedihkan. Aku sudah bertekad menjadi “diriku sendiri”, tapi kalau hasilnya seperti ini, semua itu tak ada artinya.)


Yuna merasakan kelemahannya sendiri dengan begitu jelas. Sejak saat itu, ia mulai menahan diri, bermain pasif, dan hanya “mengisi” lapangan. Dari sudut matanya, Onoi mengamati sosok Yuna dengan tenang.


***


Takamori Yuna.


Sejak awal pertemuan kami, dia sudah menjadi sosok yang kukagumi. Seperti gadis keren yang keluar dari dongeng.


Onoi Michiru, yang sebelumnya belajar basket di klub olahraga lokal, masuk klub basket SMP hanya karena kebetulan. Dan di sanalah aku bertemu dengannya—Takamori Yuna. Dia adalah pemain dengan motivasi yang luar biasa tinggi. Dengan mata yang lurus dan jujur, dia berkata kepada kami—termasuk aku—


“Bukankah lebih seru kalau kita menargetkan nasional bersama?”


Kami mengira itu hanya lelucon, jadi kami hanya tertawa dan menjawab, “Iya juga, ya.”


(…Kalau cuma omongan, siapa pun bisa bilang begitu.)


Aku sudah sering melihat orang seperti itu. Namun kebanyakan dari mereka tak punya kemampuan untuk membuktikannya. Karena itu, kata-kata Yuna saat itu tak terlalu menggugah.


…Setidaknya sampai aku melihat sendiri permainannya dan ambisinya.


(Bo-bohong… ini nggak masuk akal. Apa-apaan permainan itu…)


Yuna menantang para senior dalam duel satu lawan satu—dan tak sekalipun kalah.


SMP ini bukan sekolah unggulan. Bahkan bisa dibilang sekolah lemah. Meski begitu, melihat murid baru mengalahkan senior secara telak tetaplah mengejutkan bagiku.


Kabarnya, ia menantang senior setelah menyarankan peningkatan menu latihan, lalu dianggap sok tahu dan terlibat adu mulut yang berujung pada duel 1 on 1.


(Se-sehebat ini… kenapa dia masuk sekolah kami…?)


Karena penasaran, aku pun bertanya padanya.


『Karena keren, kan… memulai dari nol lalu naik sampai puncak.』


Seolah berkata, “Memangnya perlu alasan lain?”


Dengan penuh percaya diri, dia menjawab begitu.


Aku benar-benar terkejut. Cara hidupnya—aku menganggapnya keren. Yang paling membuatku tertarik padanya adalah kemampuannya memimpin tim. Ia menghadapi setiap anggota dengan tulus, menyesuaikan metode latihan, mengajak bermain hal-hal sepele untuk menjaga mental tim—Yuna benar-benar serius menghadapi kami. Ditambah lagi, karisma dalam permainannya yang memukau.

Tanpa sadar… bukan hanya aku, tapi kami semua mulai mengagumi Yuna dan mengejar punggungnya. Dan akhirnya, kami meraih hasil yang tak terbayangkan bagi sekolah lemah seperti kami.


Tentu saja—kami sangat bahagia. Namun, hanya Yuna seorang yang terus terlihat frustrasi….


Mungkin karena itulah. Sejak para anggota tim mulai merasa puas dengan hasil yang ada, Yuna perlahan berubah menjadi semakin ekstrem. Perputaran operan yang ceroboh, menu latihan yang sangat keras. Yuna terus seperti kerasukan, berulang kali menggumamkan,

“Nasional… ke nasional…”


Dengan wajah yang tampak tirus, namun mata yang dipenuhi ambisi, ia seolah memohon padaku—seakan hanya akulah satu-satunya sandaran. Diminta seperti itu, Onoi tak sanggup menolak dan akhirnya memaksakan diri untuk mengejar punggung Yuna.


Mungkin sejak saat itu, Yuna sudah tak lagi mendengar suara di sekelilingnya. Ia tak mampu melihat sekitar, pandangannya menyempit. Latihan yang terlalu keras selalu membawa risiko. Dan suatu hari—itu terjadi tiba-tiba.


───Onoi mengalami cedera kaki akibat latihan yang terlalu berat.


Menyadari hal itu, anggota tim lainnya berkata serempak:


『Takamori itu monster. Dia sama sekali nggak paham perasaan kita yang cuma orang biasa. Aku nggak bisa ngikutin lagi.』


『Benar. Onoi sampai cedera, tahu? Terus soal nasional itu, dia serius? Gila. Jelas mustahil.』


『Dulu dia memang anak yang baik dan penuh semangat, tapi sejak kekalahan itu, dia berubah total. Katanya demi tim, tapi sebenarnya dia cuma pengin ke nasional sendirian. Kita ini dianggap alat atau bidak doang. Aku juga nggak sanggup lagi. Onoi sampai cedera. Wajar kalau kita semua nggak bisa ngikutin Takamori. Kalau begitu, satu-satunya jalan ya… mengusirnya.』


『……………』


『Onoi, kamu memang baik, jadi kami tahu ini berat buatmu. Tapi Takamori sekarang jelas nggak normal. Kalau dibiarkan, ini nggak baik buat tim. Demi mendinginkan kepalanya, dia harus dijauhkan dari basket untuk sementara.』


Itu pendapat seluruh tim. Bahkan dari sudut pandang Onoi pun, Yuna yang sekarang memang… terlihat berbeda dari Yuna yang dulu. Ia bukan lagi Yuna yang menghadapi tiap anggota tim satu per satu, membangkitkan semangat mereka. Yang ada sekarang adalah Yuna yang egois, melaju hanya demi dirinya sendiri. Hal itu tak bisa disangkal.


Seperti kata anggota lain, menjauhkannya dari basket agar dia menenangkan diri. Dengan meneguhkan hati, Onoi akhirnya mengatakannya.


“Aku ingin kamu menjaga jarak dari klub.”


Namun sekarang, setelah benar-benar bertanding seperti ini, aku menyadari sesuatu dengan menyakitkan.


Saat itu, aku masih belum dewasa. Aku pikir aku telah mengejar punggung Yuna. Aku merasa seolah terus berada di belakangnya. Karena itulah… aku tak bisa berbicara padanya dari sudut pandang yang sama. Tapi sebenarnya bukan begitu. Seharusnya bukan begitu. Pada saat Yuna tampak kurus, rapuh, dan nyaris dipenuhi kegilaan itu—apa yang seharusnya kulakukan adalah…


(Takamori… aku seharusnya mengingatkanmu, seperti apa sebenarnya Takamori Yuna yang dulu ku kagumi.)


Di sini dan sekarang, Onoi mereproduksi permainan yang dulu membuatnya terpikat.


(…Aku tak akan pernah lagi puas hanya merasa berada di belakangmu.)


Yuna yang kukagumi selalu berdiri di sisi seseorang. Memukau lewat permainan—namun tetap setara dengan siapa pun.


(Aku… tidak. Kami tidak pernah hanya berada di belakangmu. Takamori yang kukagumi selalu berada jauh di depan, namun tetap berjalan di samping kami. Dan itulah yang membuatku benar-benar terpikat.)


Karena itu, Onoi menatap Yuna yang sedang terpuruk dan menambahkan dalam hati:


(Tak perlu kata-kata. Tunjukkan lewat permainan. Yuna yang sekarang bukan Yuna yang dulu membuatku bergetar… Aku akan membangunkanmu.)


Senyum penuh tantangan pun terukir di wajah Onoi.


***


(Kenapa bisa jadi begini… padahal Haru-san sudah menaruh harapan padaku.)


Yuna hampir kehilangan semangat bertarung, keringat dingin mengalir di tubuhnya.


Dunia dipenuhi noise, semuanya melambat. Waktu terasa berjalan pelan, sekitar begitu sunyi. Sensasinya mirip seperti saat seseorang meninjau ulang hidupnya tepat di ambang akhir.


(Kenapa? Jawabannya jelas…)


Yuna tahu—permainan ini bukan karena ia menginginkannya. Menembus sendirian, mencetak poin sendirian. Ini bukan basket yang menurutnya menyenangkan. Basket bukan olahraga individu, melainkan olahraga tim. Dengan gaya seperti ini, mustahil bisa menang—hal itu justru paling ia pahami. Namun tetap saja ia bermain sendirian seperti menguasai panggung, karena—


(Aku takut… aku takut melihat tatapan itu lagi.)


Kenangan melintas—tentang rival-nya yang pernah cedera. Dan tatapan penuh penghinaan dari rekan-rekan yang dulu mempercayainya.…Mustahil untuk dilupakan.


Justru karena pernah ada masa menyenangkan saat mereka mengejar puncak bersama, kenangan pahit itu terasa semakin menyakitkan. 


Memalukan memang, tapi Yuna kini takut pada permainan tim. Mungkin itu dampak dari terlalu lama menjauh dari basket. Ditambah lagi harapan Haruya, dan tekanan bahwa ia tak boleh gagal lagi—semua itu mengikat gerakannya.


Sebenarnya… sejak latihan pertama setelah masuk klub, Yuna sudah menyadari sifat pengecutnya sendiri. Hanya saja, karena orang-orang berkata, “Wajar kok, kita kan belum saling kenal. Tapi kamu hebat banget, Takamori-san,” ia berusaha untuk tak memikirkannya. Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu.


“Haa… haa… haa…”


Situasi pertandingan sama sekali tak masuk ke kepalanya. Pikirannya benar-benar kosong. Untuk sementara kakinya terus bergerak, tapi hatinya tidak ikut bersemangat.


Begitu bola sampai padanya, ia langsung mengopernya ke orang lain.

Padahal sebenarnya… bukan basket seperti ini yang ingin ia mainkan.


(…Padahal aku berniat untuk benar-benar menghadapi Onoi. Maaf…)


Dengan perasaan itu, Yuna menoleh ke arah Onoi seakan ingin menyampaikan permintaan maaf—dan pada saat itulah, ia tanpa sadar membelalakkan mata dan membeku.


(…Kenapa kamu kelihatan sebahagia itu?)


Onoi yang berada di lapangan terlihat benar-benar menikmati basket, berkeringat dengan senyum tulus di wajahnya.


Bukan cuma itu.


Tim Miyaza, dengan Onoi sebagai pusatnya, bergerak jauh lebih aktif dari sebelumnya. Suara bola basket memantul membentuk ritme yang tak beraturan. Tatapan mata yang saling percaya.


Semua pemain pasti sudah kelelahan secara fisik—namun di mata Yuna, mereka benar-benar menikmati basket.


(Perasaan berdebar di dadaku ini… apa sebenarnya?)


Yuna berbalik, kali ini menatap tim Eiga—rekan satu timnya sendiri. Tim yang terus tertinggal dan jarak skor yang makin melebar.


(…Tidak ada satu pun yang menyerah. Semua orang… terus mencari cara untuk membalikkan keadaan. Demi tim…)


Melihat kedua tim Miyaza dan Eiga bersamaan, Yuna tak mampu menahan degup di dadanya. Dan ketika ia menatap Onoi, yang kini menjadi sosok paling bersinar di lapangan, semuanya terasa masuk akal.


───Ah… begitu.


(Sejak kapan aku berhenti benar-benar menghadapi para anggota tim…?)


Titik awalnya. Sejak SD hingga pertengahan kelas dua SMP, Yuna selalu berhadapan satu per satu dengan rekan-rekannya. Namun ketika ia menyadari adanya jurang besar antara target dirinya dan target orang lain—rasa kesepian dan frustrasi yang luar biasa membuatnya terobsesi hanya pada “memperlihatkan punggungnya”, pada menjadi panutan lewat hasil.


Melihat Onoi, yang kini meniru “dirinya yang dulu”, Yuna tersadar.


(Tanpa benar-benar menghadapi orang lain, tapi menyuruh mereka ikut denganku… betapa sombongnya aku waktu itu.)


Dengan penyesalan di dadanya, Yuna kembali menatap rekan-rekan tim Eiga.


(Orang-orang ini benar-benar menghadapiku. Meski aku baru masuk klub, meski aku tak membangun kerja sama, mereka tidak menyalahkanku—mereka menerimaku sebagai rekan. Bahkan membiarkanku turun di pertandingan.)


Dan mereka semua, tanpa satu pun menyerah, masih mencari peluang untuk membalikkan keadaan. Kalau begitu, bagaimana mungkin Yuna sendiri diizinkan untuk patah? Jika ia tak menghadapi mereka dengan sungguh-sungguh, itu justru tidak sopan. Dan yang terpenting—


(…Aku mencintai basket. Kalau aku memainkannya tanpa senyum, itu justru tidak sopan pada basket itu sendiri.)


Yuna pun sepenuhnya mendapatkan kembali semangat bertarungnya.


***


Di bangku penonton, perhatian semua orang tertuju pada satu pemain.


Onoi Michiru. SMA Miyaza—otak permainan tim basket.


Meski masih tahun pertama, ia sudah menunjukkan bakat luar biasa.

Atmosfer tim berubah drastis, konsentrasi meningkat. Ia terus memberi instruksi yang tepat, meningkatkan kerja sama tim.


Karismanya mungkin belum sebesar Yuna saat dulu, namun permainan Onoi tetap cukup indah hingga membuat siapa pun terpukau. Haruya mengalihkan pandangannya ke arah Yuna.


(Nayu-san… berjuanglah. Aku percaya padamu.)


Permainan Yuna yang menarik hatinya—tentu saja termasuk kemampuan individunya, tapi sebenarnya ada hal lain yang lebih besar dari itu.


(…Lihat Onoi-san, Nayu-san. Permainan seperti itulah yang membuatku tertarik.)


Dengan perasaan frustrasi di dadanya, Haruya terus menonton pertandingan, hingga dari sedikit jauh terdengar suara para “S-rank beauty”.


“Pemain dari tim lawan itu… kayaknya lagi ‘bangkit’ ya. Padahal aku nggak berniat khusus buat lihat dia, tapi mataku malah terus ngikutin. Nggak boleh, nggak boleh… aku harusnya lihat Yunarin~”


Rin bergumam, jelas tak bisa menyembunyikan kebimbangannya.


“Aku juga sedikit mengerti perasaan Rin-san. Dribel cepat Yuna-san memang menarik perhatian, tapi itu terasa sesaat… sementara permainan orang itu, entah kenapa membuatku terus ingin melihat.”


“Oh, aku ngerti sekarang… Sarachin! Karena dia kayaknya bikin seluruh tim jadi kuat. Mungkin itu sebabnya kita tanpa sadar terus melihatnya?”


“Iya… kalau dipikir-pikir, mungkin benar.”


Memang seperti yang mereka katakan, Onoi meningkatkan kekuatan timnya. Dengan memperlihatkan permainan lewat aksinya sendiri. Namun lebih dari itu, Haruya merasakan perbedaan yang jelas antara Onoi dan Yuna.


(Senyum… Nayu-san belum bermain basket dengan gembira. Dia masih bermain dengan rasa sakit dan tertekan.)


“Yunarin kelihatannya agak lesu. Gimana kalau kita kirimkan dukungan kita sekali lagi? Sarachin!”


“Eh, a-ah… maksudnya kita teriak ‘fight!’ lagi…?”


Sara melangkah mundur setengah langkah, pandangannya berkelana.


“Iya! Kalau begitu, mungkin Yunarin bisa… lihat, bisa kembali seperti biasa!”


“E-eh… kalau begitu…”


Tidak bisa langsung menyangkal—itulah kelemahan Sara.


(T-tapi berteriak ‘fight!’ pakai tangan jadi megafon itu memalukan! Tidak ada satu pun orang lain di sini yang melakukan hal seperti itu…)


Sambil berpikir begitu, Sara menoleh mengamati bangku penonton—

dan pada saat itu juga, ia melihatnya.


Sedikit jauh dari tempat mereka duduk. Di sudut yang tidak terlalu mencolok, berdiri seorang pria tampan mengenakan seragam SMA Eiga.


“…………”

“…………”


Mereka saling berkedip beberapa kali. Haruya refleks memalingkan wajah, tapi semuanya sudah terlambat. Sara membelalakkan mata dan membeku di tempat.


(…Eh? Kenapa Akasaki-san ada di sini?)


Pikirannya tak mampu mengejar apa yang baru saja terjadi.


Saat ia tanpa sadar diliputi kegugupan, Rin memiringkan kepalanya dengan ekspresi heran.


“Ada kenalan di sana, ya? Sarachin?”


“……A-ah, t-t-tidak ada…… t-tidak ada kok!”


Dengan wajah memerah padam, Sara menghalangi pandangan Rin yang mencoba mengintip ke depan sambil menggerakkan tangan dan tubuhnya. Di sela-sela itu, Haruya segera meninggalkan bangku penonton. Ia langsung menjatuhkan rambut yang sebelumnya ditata ke depan dan membungkukkan punggungnya agar terlihat lebih kecil. Lalu ia berpindah cepat ke bangku penonton di sisi berlawanan dari tempat Sara dan yang lain duduk.


(……Himekawa-san. Karena dia tahu aku tidak ingin menonjol di sekolah, dia rela pasang badan melindungiku. Saat mata kami bertemu aku benar-benar merasa tamat, tapi syukurlah masih bisa mengelabui situasinya……)


Haruya menghela napas lega.


“Reaksi barusan itu bikin penasaran banget…! Pasti ada sesuatu, kan? Mukamu merah banget, Sarachin. Kamu sama sekali nggak berhasil nutupinya,” kata Rin sambil menyeringai.


“Ti-tidak ada! Sama sekali tidak ada apa-apa!”


Sara menggenggam kedua tangannya di depan dada sambil mati-matian menyangkal. Melihat Sara yang bahkan telinganya memerah sambil memejamkan mata erat-erat, Rin justru merasa ingin menyayanginya.


“……Penasaran sih, tapi sekarang kita harus fokus ke pertandingan. Semangat, Yunarin.”


“I-iya. Mari kita tonton pertandingannya. Yuna-san, f-fight.”


Sara dan Rin pun kembali memusatkan perhatian mereka ke lapangan.

Haruya juga menatap Yuna dengan ekspresi cemas. Dan tepat pada saat itu—Yuna perlahan mengangkat kepalan tangannya. Dengan ekspresi tenang, seolah telah kembali ke dirinya yang sebenarnya. Seakan-akan ia sedang berkata pada bangku penonton, ‘Aku baik-baik saja sekarang’.


Tanpa sadar, sudut bibir Haruya terangkat.


(……Sepertinya benar-benar sudah tidak apa-apa…… Tunjukkan padaku, Nayu-san. Permainan yang dulu memikatku—yang memikat seluruh arena itu—sekali lagi……)


Menahan dadanya yang terasa panas, Haruya membelalakkan mata.


“……Sarachin. Sepertinya Yunarin sudah ‘on’. Kita harus dukung dia dengan sungguh-sungguh.”


“Iya. Sepertinya mulai dari sini, ya.”


Sara dan Rin tersenyum, menatap Yuna dengan sorot mata penuh semangat.


***


Gerakan Yuna yang telah mendapatkan kembali semangat juangnya berubah drastis—terlihat jauh lebih hidup.


Sambil memberi instruksi kepada rekan-rekannya, ia melesat menyusuri lapangan secepat kilat.


(……Tch. Kalau bertarung sendirian, hasilnya bakal sama!)


Sekali lagi, beberapa pemain Miyaza mengepung Yuna. Jalur pergerakannya tertutup—dan semua orang mengira bola akan kembali direbut oleh Onoi.


“「「「……っ」」」”


Namun seketika itu, para pemain Miyaza menahan napas. Karena di saat berikutnya, dengan senyum tipis, Yuna mengirimkan umpan tajam ke rekan setimnya.


(Bukan permainan satu orang…?)

(Kalau begitu, yang tadi-tadi itu apa…?)

(Gawat. Jangan panik, jangan panik…)


Tim Miyaza tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. Pemain yang menerima umpan itu langsung menerobos dan mengeksekusi tembakan. Saat berbalik, Onoi dan Yuna saling bertatapan.


(……Akhirnya keluar dari cangkang, ya. Sepertinya kamu sudah kembali. Takamori.)


(Iya. Maaf sudah membuatmu menunggu…)


Mereka bertukar pesan lewat tatapan mata.


Para anggota tim yang mencetak angka kembali ke sisi Yuna dengan wajah penuh kegembiraan, menatapnya tanpa sedikit pun menyalahkan kesalahan yang ia buat sebelumnya. Yuna menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum penuh percaya diri.


(……Akulah yang akan memimpin mereka. Selisih poin memang besar, tapi… aku akan memenangkan ini.)


Untuk tim ini.

Untuk rekan-rekan yang percaya padanya.

Untuk orang-orang yang mendukungnya.

Keringat yang mengalir kini tak lagi terasa dingin—semuanya terasa panas.


Dengan panas ini, aku bisa terbang sejauh apa pun. Bisa terus berlari. Selisih skor masih besar, dan melihat sisa waktu, membalikkan keadaan jelas sulit. Namun Yuna tetap memilih untuk percaya dan berjuang sampai akhir. Tidak terikat pada masa lalu.


(Dengan diriku yang sekarang, aku akan menghadapi Onoi dan yang lain───)


Yuna pun mulai memperlihatkan permainan seorang pemimpin sejati. 


Pertandingan latihan pun memasuki klimaks. Para pelatih dari kedua tim, juga para penonton yang menyemangati dari tribun—tak satu pun mampu mengalihkan pandangan dari lapangan.


Tim Miyaza, berpusat pada Onoi, sepenuhnya bertahan.

Tim Eiga, berpusat pada Yuna, terus menyerang tanpa henti.


Benar-benar sengit. Pertukaran serangan dan pertahanan berlangsung cepat dan agresif, semua pemain bertarung mati-matian demi kemenangan. Gedung olahraga dipenuhi panas semangat para pemain. Bahkan para penonton ikut merasakan ketegangan yang mencekam.


Haruya, yang diam-diam menyemangati dari tribun, tak mampu menahan debar di dadanya.


(……Luar biasa. Inilah yang ingin kulihat. Permainan yang membuat dadaku bergetar, yang membuatku ingin berusaha juga. …Aku ingin terus melihat ini.)


Jantungnya berdegup kencang, telapak tangannya berkeringat, panas memenuhi tubuhnya. Semangat masa-masa klub dulu kembali membara di dalam dirinya. Mungkin karena semua pemain—terutama Yuna dan Onoi—terlihat benar-benar menikmati basket. Onoi menatap Yuna dan bergumam dalam hati.


(……Takamori! Iya, itulah kamu. Takamori yang menarik semua orang, bermain dengan penuh kegembiraan—itulah kamu yang membuatku terpikat. Dan aku ingin mengalahkanmu. Rival yang kuidolakan itu───)


Menghadapi Yuna yang bermain dengan senyum penuh semangat, Onoi mengejarnya tanpa kenal lelah. 


Keringat beterbangan, napas terengah—keduanya mencurahkan segalanya ke dalam basket. Selalu dengan kekuatan penuh.


Waktu pertandingan terus menipis. Miyaza bertahan, Eiga menyerang—alur itu terus berulang. Dan hasilnya… perlahan tapi pasti, Eiga berhasil memperkecil selisih poin dengan Miyaza.


(Hei… apakah aku berhasil menyampaikan panas semangatku?)


Yuna bergumam dalam hati saat masuk ke gerakan menembak.


Di saat yang sama, Onoi melompat dengan sekuat tenaga, berusaha menghalangi. Namun Yuna tersenyum, seolah sudah membaca itu, lalu melangkah mundur satu langkah. Kakinya pun masuk ke area tembakan tiga poin.


“………!”


Terdengar suara orang menahan napas.


Sisa waktu tinggal beberapa detik.


Sayangnya… meski tembakan tiga poin ini masuk, kemenangan tetap tak bisa diraih. Namun semua pemain dari kedua tim menatap Yuna tanpa berkedip. Dalam persepsi Yuna, waktu terasa melambat. Meski mencetak angka, kekalahan takkan terhindarkan.


……Meski begitu.


(Apa panas ini sudah tersampaikan ke semua orang…?)


Kepada Onoi.

Kepada para anggota tim Eiga.

Kepada pelatih.

Kepada tim lawan.

Kepada Sara. 

Kepada Rin.

…Dan kepada Haru-san.


Saat itu, matanya menangkap gelang tangan biru Haruya di bangku penonton.


Gelang biru—jimat yang mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian.


Yuna tersenyum lembut. Lalu, ia melepaskan tembakan ke arah ring. Bola melengkung indah, menembus jaring dengan sempurna. Dan tepat pada saat itu—buzzer berbunyi.


Tanda pertandingan berakhir.


Skor akhir terpaut lima poin. Meski berhasil mendesak hingga selisih tipis, tim Eiga tetap tak mampu meraih kemenangan atas Miyaza.


Namun—


Haruya, yang menyaksikan permainan Yuna dari bangku penonton, hampir menitikkan air mata.


Tanpa sadar, ia benar-benar tersentuh oleh permainan Yuna. Dilihat dari kondisi fisiknya, Yuna pasti sudah berada di batas kemampuan. Sudah lama ia tidak benar-benar bermain dalam sebuah pertandingan. Namun meski begitu, Yuna tetap bermain sampai akhir dengan ekspresi penuh kesenangan, tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa lelah. Dan tembakan tiga poin terakhir itu—busur yang indah, dilepaskan dengan keyakinan penuh seolah ia sudah tahu pasti bola itu akan masuk—meninggalkan kesan yang sangat kuat di mata Haruya. Dan bukan hanya Haruya. Sara dan Rin yang menatap dari bangku penonton dengan pandangan hangat pun turut terpikat oleh permainan Yuna.


“……Yunarin keren banget. Serius, itu tembakan apa sih? Indah banget!”


“Lawan memang luar biasa, tapi…… Yuna-san juga luar biasa.”


“Kan! Aku nggak nyangka dia sehebat itu. Dia jago basket banget. Jago basket banget!”


Sara dan Rin tak bisa menyembunyikan antusiasme mereka. Sementara itu, Yuna sama sekali tidak memperhatikan reaksi penonton. Ia menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi frustrasi, lalu menghadap para anggota timnya dan menundukkan kepala dengan dalam.


“Maafkan aku. ……Tadi aku sempat kehilangan fokus.”


Tak perlu dijelaskan lagi—itu merujuk pada saat ia diliputi rasa takut. Ia meminta maaf dengan tulus, namun para anggota tim menjawab sambil menyeka keringat mereka.


“Ah, Takamori-san. Waktu itu kami manggil juga kelihatannya pikiranmu nggak di sini sih. Tapi mulai pertengahan, kamu luar biasa banget, tahu?”


“Iya, iya. Aku sampai mikir, ‘eh, aku bisa main basket sejauh ini ya?’”


“Kita bisa main sepanas ini juga karena Takamori ada di lapangan.”


“Benar. Dan kita juga bisa bertanding ketat sampai sejauh ini melawan Miyaza. Jadi, jangan murung.”


Tak seorang pun menyalahkan Yuna. Semua berbicara dengan suara lembut. Mungkin karena pada akhirnya, semua orang benar-benar menikmati basket sepenuh hati.


Dari bangku cadangan, sang pelatih sengaja berdeham keras. Itu menjadi isyarat—para pemain baru sadar bahwa mereka lupa memberi salam penutup kepada tim Miyaza.


“Ah, gawat. Semua kumpul, kita salam!”


Mengikuti kapten, Yuna dan yang lainnya berbaris rapi. Para pemain saling berhadapan dan berjabat tangan. Dan yang berdiri di hadapan Yuna adalah Onoi.


“……………”

“……………”


Pemain lain saling bertukar kata, tetapi Yuna dan Onoi tetap terdiam. Mereka hanya saling menatap—lalu Onoi yang lebih dulu membuka suara.


“……Itu luar biasa.”


“…………Menyebalkan. Tapi…… aku juga merasa itu luar biasa.”


Yuna bergumam pelan, namun sepertinya Onoi mendengarnya dengan jelas. Tepuk tangan pun bergema, menghormati perjuangan kedua tim.


Di bangku penonton, Rin bertepuk tangan dengan penuh semangat, sementara Sara bertepuk tangan lebih pelan dan sopan. Haruya pun memberikan tepuk tangan sekuat tenaga, sama seperti Rin.


Menerima sorakan itu, barulah pertandingan benar-benar berakhir.



Usai pertandingan, sudah menjadi kebiasaan dalam laga latihan untuk menerima evaluasi dari pelatih terlebih dahulu.


Saat kapten meneriakkan, “Kumpul!”, dan semua hendak menuju pelatih—mereka melihat kedua pelatih dari masing-masing tim sedang berbincang di tempat yang agak jauh dari lapangan.


“……Kelihatannya bakal lama. Gimana kalau kita ngobrol santai dulu sebentar?”


Kapten Miyaza mengusulkan.


“Boleh juga. Sampai pelatih kembali…… sepertinya memang bakal lama,” kapten Eiga mengangguk menyetujui.


Akhirnya, para pemain dari kedua tim mulai berinteraksi, wajah-wajah lelah mereka dipenuhi senyum dan tawa. Di saat itulah Onoi berkata kepada Yuna.


“Soal dulu…… izinkan aku bilang satu hal. Maaf.”


“……Aku juga minta maaf. Dan terima kasih.”


“………Eh?”


Melihat Onoi memiringkan kepala, Yuna melanjutkan dengan sedikit malu.


“Karena permainanmu, aku sadar kembali.”


“………Iya.”


“Iya.”


“……………”


“……………”


Suasana kembali canggung. Namun saat mata mereka bertemu lagi, entah siapa yang lebih dulu, keduanya sama-sama tertawa kecil.


“Udahlah, kita bersihin semua yang lalu. Gimana kalau mulai ngomongin ke depan?”


“……Iya. Aku setuju.”


Yuna mengangguk, bahunya tampak lebih rileks.


“Ngomong-ngomong…… Takamori, mau 1-on-1 nggak?”


“Hah? Kita udah gerak sebanyak ini dan kamu masih mau? Ya… aku sih nggak masalah.”


“Iya. Lagian, Haru-san itu luar biasa ya. Sampai-sampai dia ngatur semuanya ke pelatih demi kamu.”


“Eh……?”


“Kamu belum dengar? Makin disembunyiin gini malah makin keren kan, Haru-san.”


“Onoi?…… Tunggu, aku pengin dengar lebih jelas. Maksudmu apa itu?”


“Hehe, kalau kamu bisa menang lawan aku di 1-on-1, aku ceritain.”


“Begitu…… kalau begitu 1-on-1. Kalau kita dapat izin…… mau main ringan?”


“Iya. Kayak dulu, pakai taruhan nggak?”


“Ah—yang kalah traktir makan itu kan? Jujur aja dulu itu nggak adil buat aku…… eh?”


Waktu SMP dulu, Yuna dan Onoi pernah melewati masa di mana mereka melakukan 1-on-1 berkali-kali tanpa bosan.


Meski sebenarnya, sebagian besar terjadi karena Onoi menantang dengan gaya “ayo tanding!”, dan Yuna hanya menanggapi tantangannya.

Dalam setiap 1-on-1 itu, selalu ada taruhan sederhana: yang kalah harus mentraktir makan.……meskipun begitu, sebenarnya taruhan itu sama sekali tidak adil.


Onoi itu pelahap, sementara Yuna justru cenderung makan sedikit. Namun karena Yuna sama sekali tidak merasa akan kalah, ia tetap menerima syarat tersebut.


Hasilnya, Yuna tidak pernah sekalipun kalah dari Onoi.


Onoi mengangguk lalu menjawab.


Setelah itu, mereka berdua pergi meminta izin 1-on-1 kepada kapten masing-masing, namun baik Yuna maupun Onoi justru mendapat reaksi yang sama dari para kapten mereka.


““Kalian ini berenergi banget, ya…””


Keduanya hanya bisa tertawa getir mendengarnya.



Sementara para anggota klub masing-masing mulai saling berbaur, kedua pelatih dari masing-masing sekolah terlihat berbincang serius tentang dua pemain itu.


“Wah~ Eiga dapat pemain bagus ya. Yang rambutnya dikuncir itu. Jujur saja, rasanya ingin menarik dia ke tim kami.”


“Sebetulnya Takamori baru saja bergabung beberapa hari lalu. Awalnya koordinasinya masih belum pas, jadi kami cukup deg-degan. Tapi sepertinya dari pertandingan hari ini dia berhasil menangkap sesuatu. Syukurlah, sungguh.”


“Begitu ya. Kalau bicara soal murid baru, Onoi di tim kami juga luar biasa. Dan sepertinya dia juga mendapatkan sesuatu hari ini… permainannya jauh lebih bagus dari biasanya.”


“Kalau soal permainan bagus, semua pemain tampil luar biasa. Semua terlihat bersinar dan benar-benar menikmati basket.”


“Benar sekali. Mari kita bertanding lagi lain waktu.”


“Dengan senang hati.”


Setelah saling memberi salam, kedua pelatih memandang ke arah lapangan. Di sana—terlihat Yuna dan Onoi sedang berlatih 1-on-1.


“……Sepertinya mereka akan menjadi rival yang bagus.”


“Iya. Benar-benar.”


Dengan senyum hangat, para pelatih kembali ke posisi masing-masing.



Sementara itu, di bangku penonton. Sara dan Rin yang sebelumnya memuji permainan Yuna, kini justru Rin yang mendekati Sara dengan ekspresi menyelidik.


“Sarachin, aku nggak gampang dibohongi, lho. Tadi itu kenalanmu, kan? Kamu panik banget.”


“……e, eeh…”


Sara mengalihkan pandangan sambil bicara, lalu melirik-lirik ke arah Haruya.


Haruya duduk di bangku seberang lapangan, tapi ia tampak bersiap pergi dengan cepat. Sebenarnya, bukan cuma Rin—Sara sendiri juga ingin menanyakan sesuatu pada Haruya. Di benaknya terlintas sebuah kemungkinan kecil… sangat kecil.


(……kalau saja Akasaki-san benar-benar datang untuk menonton pertandingan Yuna-san…)


Hanya dengan membayangkannya saja, rasa cemburu di dadanya langsung mengembang.


Tanpa sadar, pipi Sara menggelembung saat menatap ke arah Haruya—dan Rin menyipitkan matanya dengan senyum licik.


(……anak berponi panjang itu. Pasti ada sesuatu!)


Tidak ada bukti. Hanya firasat semata. Namun bagi Rin, Haruya sudah menjadi objek ketertarikan.


“……Maaf ya, Sarachin. Kayaknya memang bukan apa-apa.”


“E, eeh? O-oh… kalau begitu syukurlah.”


Meski merasa aneh dengan sikap Rin yang tiba-tiba begitu mudah menyerah, Sara kembali mengalihkan pandangannya ke arah Yuna di lapangan. Rin pun mengikuti arah pandang itu.


Yuna, meski pertandingan telah berakhir, masih bermain 1-on-1 dengan pemain dari tim lawan. Padahal jelas-jelas dia pasti kelelahan—namun melihat itu, Rin justru tersenyum kecil.


“Dia benar-benar cinta basket, ya…”


Dan di saat yang sama, ada sedikit rasa sepi yang menyelusup ke dalam hatinya.


(Sarachin sepenuh hati dengan cintanya. Yunarin sepenuh hati dengan basket. ……kalau aku? Ah, nggak ada apa-apa)


Memang, Rin punya pekerjaan paruh waktu. Namun ia tidak sampai sedalam dan sekuat dua orang itu dalam mengerahkan seluruh dirinya. Dan jujur saja—ia juga tidak berniat melakukannya.


(Yah, sudahlah. Setidaknya aku jadi sedikit tertarik sama anak berponi panjang itu)


Rin menutup matanya perlahan, seolah meyakinkan dirinya sendiri.


***


1-on-1 antara Yuna dan Onoi.


Di mata Haruya, itu tampak seperti semacam bonus setelah pertandingan. Namun, ia tak bisa terus berada di sana. Lagipula—Sara sudah menyadari keberadaannya. Kalau ia tidak segera pergi, bisa jadi masalah.


Dengan perasaan itu, Haruya meninggalkan gedung olahraga lebih cepat dari siapa pun, menahan napas dan menghapus keberadaannya.


(Tapi tetap saja… pertandingan hari ini luar biasa. Sampai bikin aku ingin ikut klub lagi. Terima kasih untuk permainan yang membuat dadaku berdebar)


Sambil memikirkan itu, Haruya mengayuh sepedanya. Meski masih musim hujan, sinar matahari terasa terik, membakar tubuhnya perlahan. Namun mungkin karena ia telah menerima panas yang jauh lebih besar dari pertandingan tadi, panas matahari justru terasa menyenangkan.


Satu hal yang disesalinya—datang naik sepeda.


Seandainya saja ia datang dengan berlari. Permainan yang mengingatkannya pada masa-masa dulu, saat ia masih aktif di klub. Perasaan itu terus mendorongnya untuk ingin berlari.


Ini salahnya sendiri karena bangun kesiangan, tapi saat pulang nanti, ia bertekad akan berlari lagi. Dengan pikiran itu, Haruya menyalurkan perasaannya ke dalam kayuhan pedal. Kakinya mengayuh lebih kuat secara alami.


***


Pukul 12:30 siang. Matahari semakin terik.


Setelah pulang ke rumah, Haruya langsung berlari sendirian. Ia tak bisa menahan dorongan untuk berlari setelah terpikat oleh pertandingan tadi. Di bawah terik matahari, ia mengucurkan keringat yang entah kenapa terasa menyenangkan.


Usai berlari, ia langsung pulang, mandi, lalu keluar dari kamar mandi.

Saat itulah Haruya menyadari ada satu pesan masuk.


Nayu: Nee… kamu sudah makan siang belum? Kalau belum, mau makan bareng?


Sepertinya—itu ajakan makan siang.


Kebetulan sekali, Haruya memang belum makan siang. Lagipula, Haruya sendiri punya banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Yuna—tentang pertandingan hari ini dan juga soal manga shoujo.


Awalnya ia berpikir akan membicarakannya saat ada kesempatan off-kai berikutnya, tapi sekarang rasanya tidak masalah. Toh setelah ini ia juga tidak punya rencana apa pun, jadi waktunya pas.


Dengan semangat, Haruya membalas pesan itu.


Haru: Belum kok, aku belum makan. Kalau begitu, ayo makan bareng.

Nayu: Syukurlah. Nanti aku kabari lagi tempat dan jam ketemuannya.


Begitu Haruya mengirim balasan, pesan itu langsung dibaca dan balasan dari Yuna pun segera masuk. Haruya lalu mengirim stiker seadanya dan memutuskan menunggu instruksi selanjutnya dari Yuna. Dan begitulah, acara makan bersama Yuna pun ditetapkan.


***


Tempat pertemuan yang ditentukan adalah lokasi yang sudah sangat akrab bagi Haruya.


Saat off-kai dengan Yuna sebelumnya pun, mereka sering menggunakan tempat ini sebagai titik temu.


Waktu sudah lewat 13:00. 


Mungkin karena akhir pekan—ditambah cuaca yang cerah—restoran keluarga ini cukup ramai oleh pengunjung. Namun, meski di tengah keramaian itu, Haruya langsung bisa menemukan sosok Yuna.


Entah karena pertandingan basket hari ini atau hal lainnya, sepertinya ia sudah terbebas dari belenggu masa lalunya. Ekspresinya tampak tenang, seolah beban yang menempel padanya telah benar-benar terlepas.


Hanya saja—ia mengenakan kacamata hitam. Kenapa ya…? Padahal wajahnya sudah terungkap sebelumnya.


Hal itu sempat mengganggu pikirannya, tapi Haruya tidak menanyakannya dan hanya mengangkat tangan.


“Maaf menunggu, Nayu-san.”


“Mm, hai… Haru-san.”


Setelah saling menyapa, Haruya duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


……Akhirnya. Sudah lama sekali rasanya. Ia ingin menyampaikan kesan tentang pertandingan, dan juga sudah tidak sabar untuk kembali berdiskusi panas soal manga shoujo.


Pertama manga yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya— lalu tentang pertandingan hari ini—


Saat ia sedang merapikan topik pembicaraan di kepalanya, justru Yuna yang lebih dulu membuka percakapan.


“Ano sa… Haru-san. Aku dengar banyak hal dari Onoi, jadi… mau bilang terima kasih sekali lagi.”


Sambil memutar-mutar rambutnya dengan jari, Yuna berucap pelan.


“Eh—O, Onoi-san!?”


Topik yang sama sekali tak terduga itu membuat Haruya bersuara aneh.


“……Sebenarnya, setelah itu aku sempat bicara dengan Onoi. Tentang banyak hal—termasuk soal kamu, Haru-san. Tentang bagaimana kamu diam-diam bergerak demi aku, tanpa aku tahu sama sekali……”


Itu terjadi setelah pertandingan berakhir.


Dalam sesi 1-on-1 setelahnya, Yuna mengalahkan Onoi—dan dari situlah ia menyadari kontribusi tersembunyi Haruya. Yuna kembali mengingat hari ketika ia disambut masuk ke klub basket oleh gurunya. Betapa cepatnya sang guru memahami situasi dan betapa rapi semuanya berjalan.


Saat itu ia tak memikirkannya sama sekali. Atau mungkin, ia sempat memikirkannya—lalu sengaja berhenti berpikir. Fakta bahwa gurunya mengundangnya ke klub basket dan bahkan menjanjikan akan menurunkannya di pertandingan, seharusnya bukan hal yang begitu mengejutkan. Karena semua itu—memang sudah seharusnya terjadi.


“E, eeto… Nayu-san. Ini sebenarnya sedang bicara soal apa…?”


“……Enggak, bukan apa-apa.”


Melihat Haruya yang berpura-pura tidak tahu apa-apa terasa begitu menggelikan, hingga Yuna tak bisa menahan senyumnya.


Pikiran Haruya benar-benar kacau.


Diskusi manga shoujo?

Pembahasan pertandingan?

Ke mana semua itu?


“Aku, ya… sudah memutuskan sesuatu.”


Sambil berkata begitu, Yuna melepas kacamata hitamnya dengan gaya keren.


“A-apa yang kamu putuskan…?”


“Aku akan berusaha mengenal Haru-san lebih dalam.”


“……………”


(What’s? Maksudnya apa ini…?)


Melihat Haruya yang kebingungan, Yuna melanjutkan.


“Namaku Takamori Yuna. Aku sekolah di SMA Eiga. Soalnya, nggak adil kan kalau cuma aku yang dataku dipegang Haru-san…?”


“Eh—tunggu dulu!? Tadi itu kamu sendiri yang nyebutin semuanya, kan!?”


Saat Haruya menyela, Yuna menyeringai dan melanjutkan.


“Yah, hari ini aku memang sengaja manggil Haru-san cuma buat menyampaikan itu. Jadi… makasih ya sudah datang.”


Tatapan matanya yang jernih dan tegas terlihat menyimpan panas yang tenang—seolah berkata ‘aku nggak akan membiarkanmu kabur’ di mata Haruya.


(Eh… jadi aku dipanggil hari ini bukan buat ngomongin pertandingan? Atau manga shoujo…?)


Aroma parfum yang dikenakan Yuna menusuk lembut rongga hidungnya.


“Jadi… siap-siap saja ya, Haru-san.”


Ia akan membongkar jati diri Haruya. Itulah deklarasi perang yang diterimanya. Dan Haruya, di dalam hati, hanya bisa berteriak—

“KENAPA JADINYA KAYAK GINI SIIIIIH—!!”


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close