NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V3 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4

Kohinata Rin

Dengan perasaan yang agak diliputi kecemasan, namun di saat yang sama seperti ada ganjalan di dadanya yang akhirnya terlepas, Rin kembali ke posisinya sambil membawa perasaan yang sedikit rumit.


Entah mereka sedang mengulur waktu atau tidak, sang leader tetap bertugas sebagai vokalis sementara para pemain instrumen terus berjuang memainkan musik mereka. Sepertinya mereka berhasil mengatur semuanya dengan cukup rapi secara improvisasi. 


Dadanya dipenuhi rasa bersalah, namun Rin tetap melangkah menuju arah panggung. Saat kembali ke pintu belakang, ia sudah bersiap akan langsung dimarahi begitu membuka mulut───namun.


"...Syukurlah. Kohinata-san, kamu sudah kembali."


"Hei, kamu ini. Membuat kami khawatir. Kami menunggumu, tahu."


Teman-teman panitia pelaksana yang sebelumnya berada di balik layar serempak menyambut kembalinya Rin. Tak satu pun siswa yang mengeluh atau memperlihatkan ketidakpuasan.


Tersentuh oleh kehangatan itu, Rin menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"────Maaf. Aku tiba-tiba kabur begitu saja. Tapi mulai sekarang aku pasti akan berusaha sebaik mungkin."


Saat ia menyampaikannya dengan suara yang sungguh-sungguh, semua orang hanya diam mengawasinya, lalu mengangguk-angguk pelan.


『~~~~~♪』


Tak lama kemudian, ketika lagu selesai dimainkan dan suara sang leader terhenti, terdengar suara tepuk tangan dari arah depan panggung. Padahal situasinya serba mendadak, namun mereka mampu bertahan sejauh ini—hal itu membuat Rin dipenuhi rasa terima kasih. 


Panitia yang berada di balik layar sepertinya sudah memberi tahu tentang kembalinya Rin. Sayuki tersenyum lebar sambil memandang ke seluruh arah.


Panggung sudah dipenuhi hawa panas, namun Sayuki menaikkan lagi tensinya, seolah berkata bahwa pertunjukan yang sesungguhnya baru akan dimulai.


"Baik! Mulai dari sini ya~. Dari sinilah yang namanya penampilan utama, saudara-saudara sekalian. Menggantikan vokalis laki-laki yang agak kurang greget ini, akhirnya yang ditunggu-tunggu───"


Sebelum bunyi terakhir dak dak dak dak, dan! terdengar, sang leader langsung menyela Sayuki.


"Hei, bukankah itu keterlaluan? Aku juga sudah bantu, tahu."


Beberapa penonton pun tak kuasa menahan tawa.


"Ah, tak apa, tak apa. Kan dari sini yang jadi penampilan utama."


Setelah berkata demikian pada sang leader, Sayuki pun akhirnya mengarahkan suaranya ke mikrofon.


Dak dak dak dak, dan!────


Tepat di saat itu, Rin menampakkan diri di atas panggung.

Seketika, semua sorot lampu mengarah padanya.


"Semuanya, maaf sudah membuat kalian menunggu."


Dengan memegang mikrofon secara hati-hati, Rin pun melangkah maju. Para penonton yang menatap panggung, banyak yang terdiam menahan napas. Sebagian penonton bersorak riuh, dan tak seorang pun mampu mengalihkan pandangan dari Rin di atas panggung. 


Balutan kostum idol yang penuh semangat, bibirnya berkilau lembut oleh lipstik. Air mata yang sebelumnya ada di matanya kini telah menghilang; ia menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang berkilau, posturnya tegak dan memancarkan rasa percaya diri.


"Aku ingin membalas semuanya lewat lagu."


Sikapnya yang begitu serius membuat para penonton seketika terdiam. Bahkan para anggota band lainnya, termasuk Sayuki, tanpa sadar hanya terpaku menatapnya.


Sayuki menggelengkan kepala kecil-kecil, lalu melontarkan candaan.


"Aduh, serius banget sih. Rin-chan."


Komentar itu melonggarkan suasana, dan sorakan penonton pun kembali membahana. Rin mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu menegakkan punggungnya. Dari luar pun jelas terlihat betapa tegangnya Rin. Namun justru karena itu, banyak orang merasa dekat dengannya; sejumlah tamu undangan terlihat tersenyum hangat ke arahnya.


Usai salam singkat, akhirnya penutupan festival budaya—Festival Eiga—dimulai. Pertunjukan live dari panitia kelas satu pun resmi dibuka saat itu juga.


Sorot lampu bergoyang, lalu fokus sepenuhnya pada Rin. Itu menjadi isyarat dimulainya permainan musik. Melihat semuanya dari atas panggung, jumlah penonton terasa begitu mengintimidasi. Dada Rin berdegup kencang seakan akan meledak, menyadari bahwa berdiri di atas panggung sendiri sudah merupakan hal yang sangat menegangkan. Ia berusaha keras agar suaranya tidak bergetar. Agar tenggorokannya tidak tersendat. Ia mulai merangkai nada.


Tidak apa-apa. Ia sudah berlatih cukup banyak.


Bagian pembuka berjalan dengan baik. Ada bagian tarian di tengah lagu yang sedikit mengkhawatirkan, tapi sejauh ini nyanyiannya bisa dibilang cukup bagus. Reaksi penonton pun tidak buruk; banyak yang mengayunkan tangan seolah-olah memegang penlight.


Saat lagu memasuki bagian tengah, Sayuki—gitaris yang mengatur alur musik—maju ke tengah panggung. Sambil memetik gitar di bagian interlude, Sayuki berteriak,


"Kalian semangat nggak~~~~~!"


『OOOOOOOO----------!』


Sorakan penonton langsung menggema sebagai balasan. Terkejut oleh antusiasme sebesar itu, Rin mendapati sebuah mikrofon disodorkan ke depan mulutnya.


Itu dari Sayuki. Pasti maksudnya agar Rin juga menyapa penonton. Karena ini improvisasi yang tidak pernah dilatih sebelumnya, Rin sempat ragu sejenak. Namun ia menarik napas dalam-dalam, mengisi perutnya dengan udara, lalu melanjutkan.


『Semua orang, kalian semangat nggak~~~~~~!』


Bagaimana kalau suasananya malah jadi hening? Itu pasti memalukan sampai rasanya ingin mati. Rasa malu hampir menyerangnya, namun kekhawatiran itu sia-sia—sorakan penonton kembali menggema, sama seperti saat Sayuki berteriak tadi.


Begitu mulai bernyanyi, ternyata ia bisa melakukannya dengan lebih baik dari yang ia duga. Ia bahkan terkejut menyadari bahwa dirinya benar-benar menikmati live ini.


Saat melihat penonton, ada beberapa siswa yang menggelengkan kepala mereka dengan keras, dan itu terlihat cukup lucu. Mungkin itu yang disebut headbanging.


Para pemain instrumen lain juga memperhatikannya, dan seakan tak mau kalah, mereka ikut menggelengkan kepala, membuat tempo musik semakin cepat. Terhanyut dalam euforia dan atmosfer panas itu, Rin pun menaikkan gearnya.


…Mulai dari bagian berikutnya, akan ada sedikit tarian yang diselipkan. Karena waktu latihan yang singkat, gerakannya tidak terlalu sulit, tapi tetap saja ada sedikit rasa cemas.


Apa akan baik-baik saja?—pikiran itu muncul tepat di saat itu.


(……!)


Rin terdiam dalam hati.


Sebenarnya, sejak awal ia sudah tahu. Bahwa pasangan itu pasti akan muncul. Dua orang perundung itu mengacungkan jempol ke bawah sambil menampilkan senyum rendahan yang menjijikkan.


『Hakikat manusia itu tidak akan berubah』

『Cuma anak yang dibully tapi sok berani』


Suara mereka berdua mulai berisik di dalam dadanya.


Seketika, panas di tubuhnya terasa mendingin. Suara yang refleks keluar dari tenggorokannya kehilangan warna, dan hatinya hampir patah. Ia memejamkan mata erat-erat, lalu membukanya kembali—dua orang itu masih tertawa sambil memperlihatkan gigi mereka.


(Tidak boleh… aku harus berhenti melihat mereka)


Begitu melihat sosok mereka, ingatan terburuk dari masa lalu langsung bangkit kembali. Hari-hari neraka itu terpaksa teringat lagi. Bukan luka di tubuh, melainkan luka yang terukir di hati, kembali terasa perih. Namun, semakin ia berusaha untuk tidak memikirkannya, untuk tidak melihat mereka, justru semakin kuat bayangan itu menguasai pikirannya, perlahan menggerogoti mental Rin.


(A-ah, tidak… suaraku dan kakiku gemetar. Beat yang sudah kujaga bisa berhenti…!)


Tiba-tiba, semuanya terasa seperti berhenti.


Sekilas, gambaran terburuk menyebar di benaknya. Bayangan dirinya yang kembali memperlihatkan sosok lamanya, lalu berjongkok di tempat dan menghancurkan segalanya. Adegan itu melintas jelas di pikirannya.


(…Sudah, tidak bisa lagi!)


Saat ia berpikir begitu, tiba-tiba ia teringat kata-katanya.


Kata-kata yang ditinggalkan oleh Haruya….


『Kalau kamu merasa sudah tidak sanggup, lihatlah koridor penghubung di lantai dua────』


Rin menguatkan tekad, lalu mengangkat pandangannya seolah sedang berpegangan pada secercah harapan—bukan ke arah penonton di bawah, melainkan ke atas. Dan di sana, ada beberapa penonton lain yang tengah mengawasinya dengan penuh perhatian. Di antara mereka ada Sara, Yuna, dan Haruya─────.


Begitu menyadari pandangan Rin terarah ke atas, Sara dan Yuna langsung melambaikan tangan dengan penuh semangat. Haruya juga ikut mengangkat tangannya perlahan, sekadar memberi isyarat.


Selain mereka, entah penonton lain atau bukan, ada beberapa orang yang meski sedikit, tetap menyaksikan live mereka dari atas.



Waktu pun mundur sedikit ke beberapa saat sebelumnya.


"Ah, halo──── sebenarnya…"


Tak lama setelah Rin kembali ke area live, Haruya sedang menelepon seseorang.


『…Eh? Ada apa? Akasaki-kun』


Orang yang mengangkat telepon pada dering kedua adalah Takamori Yuna. Mungkin karena tak menyangka akan menerima telepon itu, suara gadis itu terdengar agak kaku.


Benar, orang yang dihubungi Haruya adalah Takamori Yuna.


"Maaf, mendadak sekali. Tapi sekarang kamu di mana?"


『Di mana… ya di dekat panggung. Aku lagi nonton live-nya Rin』


"Begitu. Kalau tidak keberatan, maukah kamu datang ke koridor penghubung lantai dua?"


Begitu Haruya berkata demikian, Yuna langsung menyela.


『Boleh sih, tapi ini ajakan buat nonton bareng? Kamu agresif juga, Akasaki-kun』


"Bukan, bukan seperti itu…"


『Eh? Kalau begitu kenapa? Bukannya dari koridor lantai dua malah susah lihatnya?』


Tak lama lagi Rin pasti akan naik ke panggung untuk bernyanyi.


"Ah—sudah, anggap saja begitu. Akan lebih membantu kalau kamu juga mengajak Himekawa-san. Maksudku, tolong ya."


『Ah, tunggu—sebentar!』


Suara Yuna yang kebingungan terdengar, namun karena maksudnya sudah tersampaikan, Haruya langsung menutup telepon. Ia teringat bahwa menonton live sambil memberi dukungan dari koridor penghubung saat menuju perpustakaan juga bukan ide yang buruk.


Sebenarnya ia juga punya tugas dan seharusnya kembali ke balik layar, tapi karena berhasil membawa Rin kembali, kali ini ia berharap bisa dimaafkan.


Begitulah yang ia pikirkan. Ia menyapu pandangan ke arah penonton yang berada di koridor lantai dua, namun dua orang yang dimaksud tidak terlihat di sana.


(…Baik. Dengan ini semua syarat sudah terpenuhi)


Sekarang tinggal memanggil Sara dan Yuna ke sini dan mendukungnya bersama-sama. Ia sudah berpesan pada Rin, kalau ia merasa benar-benar tidak sanggup, lihatlah ke koridor penghubung lantai dua.


Di tempat ini, yang ada hanyalah orang-orang yang mendukung Rin.

Tentu saja, bukan berarti hal itu pasti akan mengubah kondisi mental Rin secara drastis. Selama dua orang itu masih berada di suatu tempat dan mengawasi, tekanan di hati Rin pasti tetap ada. Ia sempat mempertimbangkan untuk mengintimidasi mereka agar pergi, namun ia merasa itu tidak akan menjadi solusi yang mendasar.


Jika begitu, besar kemungkinan mereka akan kembali di lain hari, bahkan membawa teman-teman mereka untuk terus mengganggu Rin.


Saat ini, dua orang itu pasti yakin bahwa Rin akan gagal di atas panggung. Karena mereka telah memicu trauma masa lalunya, maka meskipun ia tampil, kegagalannya sudah bisa ditebak—begitulah yang mereka pikirkan. Haruya ingin menghancurkan hati busuk itu dengan menyaksikan langsung penampilan terbaik Rin.


Yang tidak boleh dilupakan adalah, di tempat ini, orang-orang yang memandang Rin dengan niat jahat sebenarnya hanya dua orang itu saja. Tentu mungkin ada beberapa siswa yang diam-diam merasa tidak suka, tapi tak diragukan lagi, jumlah mereka yang mendukung Rin jauh lebih banyak.


Jika live ini berhasil, Rin pasti akan mendapatkan kembali kepercayaan dirinya, dan yang terpenting, ia akan bisa menunjukkan dengan jelas bahwa ia telah mengalahkan dua orang itu dengan kekuatannya sendiri.


Justru itulah yang Haruya harapkan.


(Karena aku juga sudah banyak ditolong oleh Kohinata-san di kafe itu… sekarang aku ingin membalas budi)


Entah apakah ini bisa disebut sebagai balasan yang layak atau tidak, Haruya bergerak karena perasaan itu.


…Atau mungkin sebenarnya bukan hanya itu. Mungkin ia mengagumi Rin karena Rin sedang melangkah di jalan yang tak pernah bisa ia tempuh sendiri. Haruya telah meninggalkan dirinya yang dulu bersinar di masa SMP, dan memilih menjalani masa SMA dengan hidup dalam bayangan. Namun, Rin justru sebaliknya. Justru karena masa SMP-nya gelap, ia berusaha keras agar masa SMA-nya bisa dijalani dengan cerah. Itulah sebabnya, mungkin tanpa sadar, ia ingin mendukungnya.


Saat Haruya merenungkan alasan di balik tindakannya sendiri—


"Ah, ketemu."


"Akasaki-san. Terima kasih ya untuk yang tadi."


Yuna datang ke koridor penghubung lantai dua sambil mengajak Sara bersamanya.


"Jadi, sebenarnya dengan maksud apa kamu memanggil kami ke sini?"


"Yah… aku cuma ingin menonton bareng kalian berdua…"


Ia tidak bisa mengatakan bahwa semua ini demi Rin. Rasanya seperti terlalu sok penting, dan mengatakannya secara langsung justru memalukan. Lagipula, kalau mereka mulai menggali lebih dalam dan bertanya macam-macam, ia tidak akan bisa menjawab.


Ini adalah masalah Rin sendiri, dan menyampaikannya lewat mulut Haruya kepada Yuna dan Sara jelas bukan pilihan yang tepat.


"Eh… jadi memang itu alasannya?"


Yuna tampak terkejut karena tak menyangka jawaban itu benar-benar keluar darinya, dan tanpa sadar ia mundur selangkah.


Di saat itu, Sara yang berdiri setengah langkah di belakang Yuna mengembungkan pipinya dengan kesal.


"…Akasaki-san. Jadi kamu sudah bertukar kontak dengan Yuna-san, ya."


"Y-yah… begitulah."


Ia memang belum pernah memberi tahu Sara soal itu. Padahal saat mereka makan siang bersama di jam istirahat, ada kesempatan untuk membicarakannya. Namun ia memilih diam karena merasa bakal ribet kalau sampai dibahas. Dan kenyataannya, sekarang ia benar-benar sedang diusut, jadi jelas saja itu memang merepotkan.


"Ah, itu sebenarnya aku yang minta tukar kontak duluan kok, Sara."


"Eh…?"


"Yah, ada beberapa hal. Tapi tenang saja, Sara. Meski kelihatannya begitu, Akasaki-kun itu bukan orang jahat."


"A-ah, bukan berarti aku mengkhawatirkan Yuna-san, tapi───"


Berkat Yuna yang dengan sigap mengarahkan pembicaraan, situasi itu pun berhasil dibiarkan mengambang. Sara masih tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, bibirnya digembungkan, tapi sekarang mereka ingin fokus pada live.


Koridor penghubung yang menghubungkan gedung umum dan gedung khusus. Dari sana, suara nyanyian Rin terdengar jelas sampai ke telinga mereka lewat mikrofon. Nada yang indah, berpadu serasi dengan suara tiap instrumen dan vokalnya yang merdu.


Haruya memang sudah tahu Rin pandai bernyanyi sejak mereka pergi karaoke bersama, tapi ia tidak menyangka kualitasnya bisa setinggi ini. Matanya pun membelalak.


Di dekatnya, Sara dan Yuna juga melontarkan decak kagum.


"Keren banget ya, nyanyiannya Rin."


"Bikin terpana~"


Meski begitu, Yuna dan Sara tetap melanjutkan obrolan di sampingnya.


"…Tapi, syukurlah Rin bisa kembali dengan selamat."


"Iya. Soalnya dia sempat tidak muncul, jadi aku khawatir."


Tiba-tiba Yuna melirik ke arah Haruya. Seolah baru menyadari sesuatu.


"Jangan-jangan, Akasaki-kun ikut campur dalam semua ini?"


"…Eh, memangnya begitu?!"


Ia menyipitkan mata, tetap menatap ke arah panggung sambil memiringkan kepala.


Kenapa mereka bisa berpikir begitu?


Tanpa berkata apa-apa, Haruya bertanya balik lewat ekspresi. Yuna pun mengangkat satu jarinya.


"…Kan panitia sempat bilang. Yang bikin Rin bangkit lagi itu Akasaki-kun. Mereka juga kelihatan berterima kasih. Jadi aku mikir, apa yang sekarang ini juga ada hubungannya?"


Itu pasti soal kejadian di ruang rapat. Karena kedatangan Kawata Sayuki, kejadian itu pun tanpa sengaja bocor ke Sara dan Yuna.


"Ah~ kalau begitu, memang kelihatannya Akasaki-san juga terlibat di urusan ini. Soalnya kalau bukan begitu, mana mungkin tiba-tiba menelepon dan minta kami datang ke tempat tertentu secepat itu."


Sara berkata demikian sambil memalingkan wajah, jelas tampak tidak senang.


(Soalnya, kamu sama sekali nggak pernah meneleponku… Akasaki-san)


Melanjutkan kata-kata Sara, Yuna pun angkat bicara.


"…Yah, memang agak kaget sih. Akasaki-kun nggak kelihatan seperti tipe yang suka menelepon. Aku juga sama seperti Sara. Minta datang ke koridor penghubung ini dengan alasan mendesak itu juga aneh. Jadi, rasanya memang ada hubungannya sama Rin, kan?"


Sambil memiringkan kepala, Yuna bertanya. Namun Haruya tidak menjawab. Ia hanya berseru, "Ah!" sambil menunjuk ke kejauhan.


Di arah yang ia tunjuk, terlihat Rin memasuki bagian tarian.


"───Ah, jadi begitu ya. Mengelak terus, padahal kelihatan banget."


"Ini memang gaya Akasaki-san."


Yuna dan Sara sama-sama melempar candaan ringan sambil mengalihkan pandangan kembali ke arah panggung.


"Oh~ tarian sudah dimulai."


"Tapi… kelihatannya gerakannya agak kaku."


Dari kejauhan, terlihat Rin memejamkan mata erat-erat, seolah sedang berkonsentrasi keras.


…Gawat. Pasti dia tak sengaja melihat dua orang itu lagi. Bahkan dari jarak sejauh ini, perubahan sikapnya bisa terasa.


(Sadarilah! Tolong, sadari!)


Haruya melambaikan tangannya dengan gerakan besar. Melihat itu, Yuna dan Sara pun ikut melambaikan tangan, meniru Haruya. 


Seolah jeritan hati Haruya sampai padanya, Rin tiba-tiba mengarahkan pandangannya ke koridor penghubung lantai dua. Senyum tipis terukir di wajahnya, dan perlahan Rin kembali menemukan ritmenya.


Sepertinya ia sudah menyadari keberadaan mereka.


"Jadi begitu rupanya, Akasaki-kun. Kamu baik juga ya."


Yuna tersenyum lembut di sampingnya.


"…Rin-san sedang melihat ke sini! Ayo kita lambaikan tangan, Yuna-san!"


Sara menarik lengan baju Yuna. Haruya yang tadi masih memikirkan cara beralasan atau mengelak, merasa sangat terbantu.


Dalam hati, ia berterima kasih pada Sara. Meski kemungkinan besar, Sara sendiri tidak benar-benar menyadari apa yang sedang ia bantu.


"Baik, baik. Aku tahu."


Yuna berkata dengan nada pasrah sambil ikut mendukung Rin.


"Tidak, ayo lambaikan lebih besar lagi! Waktu kita nonton pertandingan latihan kemarin juga segitunya kan semangatnya!"


"Iya, iya. Aku senang dan berterima kasih sih… tapi, orang-orang di sekitar juga melihat, jadi secukupnya saja ya, Sara…"


Sambil bertukar kata-kata seperti itu, ketiganya mengawasi Rin dengan saksama. Setelah Rin memastikan siapa saja yang berada di koridor penghubung ini, gerakannya menjadi lebih lincah, dan seolah-olah suaranya pun terdengar lebih baik.


『~~~~♪』


Melihat Rin memegang mikrofon dengan sekuat tenaga dan menyanyikan suaranya, sorak sorai penonton pun semakin membesar.


『Oooooooooh!』


Suara tangan bergerak naik-turun, sorak-sorai yang memuncak. Suara nyanyian Rin yang berusaha menandingi itu, berpadu dengan harmoni alat musik, mengangkat kemeriahan Festival Eiga ke puncaknya. Sekali lagi, Rin menatap ke atas, menatap ke arah mereka. Haruya mengangkat satu tangan sebagai tanda menyambut. 



Sementara itu, di koridor penghubung, interaksi itu terjadi, sementara di arah panggung—


(…Sungguh. Gelap sekali, jadi dari sini sulit terlihat, ya Akasaki-kun)


Pasti ini yang dimaksudnya dengan strategi rahasia.


Sekarang Haruya mengerti, maksudnya “lihat ke koridor penghubung saat kau kesulitan” adalah seperti ini. Jika diperhatikan lebih seksama, Sara dan Yuna juga ikut melambaikan tangan. Mereka dibawa ke sini setelah Haruya mengatur semuanya. Pasti Akasaki-kun…


Fufu… imut sekali…


Karena malu-malu, ia hanya melambaikan tangan sedikit, tanpa reaksi lebih. Setelah bersemangat menjelaskan semuanya kepadaku, lalu berkata “lihat ke koridor penghubung, semuanya akan baik-baik saja,” dari panggung, sulit membedakannya karena gelap. Kelembutan dan ketidaksempurnaan kecil itu membuatku tersenyum hangat.


Jantungku berdetak kencang. Mungkin karena itu juga.


Perasaan gelap dan kaki yang gemetar pun lenyap begitu saja. Rin bisa fokus pada penampilannya, menampilkan ekspresi lebih cerah daripada saat latihan.


Dua orang yang dulu menampilkan senyum jahat di bawah panggung pun tidak lagi terlihat, dan bahkan tidak mengganggu pikirannya.


(…Iya. Sarachin, Yunarin… dan Akasaki-kun juga sedang melihat)


Aku ingin menyanyikan lagu yang bisa memenuhi harapan mereka.

Aku ingin membalas teman-teman yang memainkan alat musik mengikuti nyanyianku.


Tiba-tiba, kenangan hari-hari latihan demi live muncul di benakku. Terutama, orang yang paling sering mengoreksiku adalah Sayucchi, pikir Rin dengan rasa nostalgia.


───Misalnya, suatu hari.


『Lebih lantang lagi dong. Kan kamu wakil ketua? Kok grogi banget, terus mau jadi vokalis? Bikin kesal, deh』


『Maaf…』


Sedikit berlebihan, kata beberapa anggota alat musik lain mencoba menengahi, tapi memang benar apa yang dia katakan. Hanya saja, karena wajahnya mirip orang yang dulu membully, Rin tetap saja tegang.Aku harus berusaha…


Penilaian pertama Kawata Sayuki terhadap Kohinata Rin pasti sangat keras. Aku harus berusaha agar suatu hari diakui, begitu Rin memotivasi dirinya sendiri. Misalnya, di hari lain────


『Kohinata-san. Semangatmu terasa dari nyanyianmu. Kenapa kamu ingin jadi vokalis? Maaf kalau sebelumnya aku terdengar terlalu menekan』


『Ah, tidak, aku juga minta maaf karena sebelumnya grogi… sedikit…』


『Apa kamu takut padaku, ya?』


『………』


『Haha, ternyata begitu ya』


『I-ih, bukan berarti takut…』


『Tidak perlu disembunyikan. Sering dikatakan orang lain juga』


『…M-maaf』


『Aku juga awalnya merasa aneh karena kamu grogi tapi melakukan hal yang nggak sesuai, jadi aku mikir “wakil ketua dan vokalis? Bukan gayamu”. Tapi setelah melihat usahamu yang sungguh-sungguh, aku berubah pikiran. Mulai sekarang, kerja sama baik ya… Rin-chan』


『Eh?』


…Rin-chan?


Cara dia mendekat membuatku kaget, sampai-sampai aku hanya bisa ternganga.


『Apa!? Kamu tidak suka dipanggil begitu!?』


『I-ih, bukan begitu… tapi kenapa?』


Orang di sekitar bilang, dia mendekat karena ingin mengatasi rasa takutku.


Ah, begitu ya… aku mengerti. Melihat wajah Sayuki yang memerah dan malu-malu sambil menahan rasa malu, aku merasa dia lucu dan menggemaskan.


…Kawata Sayuki. Entah kenapa mirip Yunarin juga. Pikiran itu membuat rasa takut padanya hilang sedikit demi sedikit───


『Oke. Mulai sekarang kerja sama baik ya, Sayucchi』


『S-Sayucchi!?』


『Iya. Sayucchi』


Dengan begitu, jarak emosional pun semakin dekat. Latihan live terus dilakukan, hingga hubungan mereka seperti sekarang.


Di sekitarku, ada teman-teman yang selalu mendukung. Dari atas, Sara dan Yuna mengawasi dengan hangat… yah, Akasaki-kun juga bisa masuk ke dalam daftar itu. Secara istimewa… iya, secara istimewa. Pokoknya, ada banyak teman yang bisa mendukungku.


Sekarang, tidak ada yang perlu ditakuti Rin.


Sorak sorai dari bawah panggung maupun koridor penghubung mulai memanas. Saat memasuki puncak part terakhir, antusiasme semakin gila, memompa energi hingga maksimum.


『~~~~~♪』


Karena itu, Rin menampilkan performa dengan senyum dan ekspresi terbaiknya sebagai jawaban. Roknya bergoyang lembut, keringat beterbangan, senyum yang mekar penuh pesona.


Saat sorot lampu menyorot Rin dengan terang────, ia mengulurkan jarinya dan melemparkan sebuah kedipan.


(Aku tidak akan kalah lagi────)


Dengan tekad itu terpancar di matanya, Rin menatap ke arah dua orang itu───.


Di mata Rin, tergambar wajah kedua orang itu dengan ekspresi bodoh. Awalnya, mereka sempat tersenyum puas sesuai rencana, tapi sekarang mata mereka melebar, kaku dan terdiam penuh tak percaya.


((Seharusnya tidak seperti ini. Tidak seharusnya…))


Kualitas performa Rin membuat mereka benar-benar kehilangan kata-kata. Saat Rin menujukkan jarinya, beberapa penonton yang ada di sekitar mulai menatap dua orang itu.


“Eh, a-ah, t-tidak…”


“………!”


Mungkin karena merasa malu di hadapan siswa-siswa yang mendukung Rin, kedua orang itu pun tergopoh-gopoh meninggalkan tempat itu. Melihat senyum terbaik Rin, mereka menyadari tidak mungkin menang, sehingga tampak kehabisan semangat.


Dengan itu, panggung terakhir Festival Eiga, yang terasa panjang namun singkat, resmi ditutup.


“……haah, haah, haah…”


Setelah live selesai, Rin tak bisa menahan diri dan berulang kali mengatur napas dengan bahu terangkat. Tubuhnya terasa penuh kelelahan.


Ia ingin sekali terjatuh di tempat itu, tapi seketika panggung diselimuti tepuk tangan yang meriah.


Di koridor penghubung lantai dua, tepuk tangan juga terdengar.


(…Akasaki-kun. Aku berhasil, lho)


Rin berusaha menunjukkan tanda V pada Haruya, tapi sosoknya sudah tidak terlihat di koridor penghubung. Namun, Sara dan Yuna masih bisa dilihat.


(Hah, mungkin saat penting dia pergi ke toilet ya? Aduh, kalau gitu, aku nggak bisa bilang dia penggemarku───)


Saat itu, Rin teringat sebuah kemungkinan.


Kata-kata yang diucapkan Haruya saat mencoba meyakinkannya muncul di benaknya:


『Ancaman dari dua orang itu pasti akan kupastikan hilang────』


Jika memang maksudnya seperti itu, pasti ia akan mencoba menghadapi kedua orang itu.


Pikiran itu seketika memenuhi benaknya. Tanpa sadar, Rin pun menuruni panggung dan mulai berlari.


“Eh, t-tunggu, Rin-chan!”


“Maaf, Sayucchi. Sedang ambil bunga~”


“……! Ini darurat, ya. Mengerti”


Sebenarnya bukan itu maksudnya, tapi Rin benar-benar ingin memastikan, sehingga ia memutuskan mengejar kedua orang itu.


(…Aneh. Biasanya aku nggak akan bisa mengejar mereka karena kaki terasa lumpuh, tapi karena aku tahu Akasaki-kun yang menuju ke sana, aku bisa melakukannya dengan alami. Sungguh aneh.)


Detak jantungnya yang cepat mungkin karena adrenalin yang dilepaskan setelah live baru saja usai. Pasti begitu.


Sambil meyakinkan dirinya sendiri, Rin mulai mencari kedua orang itu.


***


Kini, ketika acara yang dipersiapkan oleh panitia kelas satu telah selesai dan penonton masih berada dalam puncak euforia di penutup acara, Haruya mengatakan pada Sara dan Yuna, “Aku mau ke toilet sebentar,” lalu meninggalkan area itu dengan melewati koridor penghubung. Namun, arah yang sebenarnya ia tuju──bukanlah ke toilet. Ia berjalan menuju sepasang orang yang tadi, dengan wajah kosong seperti cangkang tak berjiwa, hendak meninggalkan tempat itu. Ia tak bisa membiarkan mereka pergi begitu saja. Melihat orang yang ingin ia jatuhkan justru bersinar lebih terang darinya, lalu membiarkannya pulang dalam keadaan patah hati adalah sesuatu yang tak bisa ia terima. Kalau dibiarkan, seiring waktu bukan tak mungkin mereka akan menyimpan dendam dan bertindak nekat. 


Agar dua orang itu tak pernah lagi berani menyentuh Rin, hati mereka harus dipatahkan. Karena itulah, ia tak boleh membiarkan mereka lolos begitu saja. Namun, dengan postur tubuh yang membungkuk dan poni yang menutupi mata di balik kacamata, penampilan seorang siswa laki-laki seperti itu pasti akan diremehkan daripada “wajah luar”-nya di sekolah. Itu jelas tak akan memberi efek yang diinginkan.


Haruya menyibakkan rambutnya ke belakang, lalu melepas kacamatanya. Setelah itu, ia berlari kecil mendekati dua orang yang dimaksud.


“...Kenapa sih Kohinata bisa nyanyi sekilau itu? Semua rencana jadi berantakan.”


“Jadinya kita pulang dengan perasaan sebal banget ya.”


“Belum selesai. Berani-beraninya dia. Masa lalunya bakal ku───”


“Yang berani-berani main gila itu kalian, tahu────!”


Dengan suara berat penuh tekanan, Haruya menyela dengan tegas. Ia lega karena berhasil menangkap mereka sebelum benar-benar kabur ke luar. 


Karena tiba-tiba disapa dengan suara sarat amarah, kedua orang itu tersentak dan bergetar, lalu menoleh ke belakang.


“A-apa maumu!”


“Oh? Aku? Aku cuma orang yang tadi nonton live dan benar-benar terharu. Tapi kalian berdua, kan, yang mengacungkan jempol ke bawah sambil meremehkan penampilan luar biasa itu.”


“I-itu bukan—”


Mereka terdiam, kehabisan kata.


Sejak melihat Rin berubah saat penampilan berlangsung, Haruya diam-diam mengamati area sekitar dan mencari keberadaan mereka. Dan yang ia lihat adalah pose jempol mengarah ke tanah.


“Bahkan sampai bikin ekspresi merendahkan... kalian benar-benar keterlaluan.”


Ia memang tak bisa memastikan ekspresi wajah mereka secara jelas,

namun ia yakin mereka pasti sedang menyeringai dengan senyum merendahkan.


“......”


“Hiih......”


Dengan mata menyipit penuh amarah, ia menatap mereka dengan tekanan yang menindas.


Ini bukan sifat aslinya, namun kali ini berbeda. Karena suasana sekitar yang mulai gelap, rasa takut yang mereka rasakan mungkin semakin kuat. Ia bisa mendengar suara mereka menahan napas. Ia memang tak bisa menyentuh mereka, tapi untuk mengintimidasi—itu bisa ia lakukan sebanyak apa pun. 


Seperti yang mereka lakukan pada Rin. Ini adalah balasan yang setimpal. Lagipula, cara untuk mengancam sudah mereka sediakan sendiri.


“Hampir semua orang yang ada di sana menganggap live itu luar biasa.”


Tepuk tangan meriah dan antusiasme penonton sudah menjadi bukti yang cukup. Tanpa harus dikatakan pun, mereka pasti memahaminya. Namun, Haruya sengaja mengucapkannya dan melanjutkan,


“Seragam kalian sudah cukup buat mengidentifikasi sekolah asal kalian. Kalau mau, aku bisa melaporkan bahwa ada pihak yang merendahkan live itu. Bisa sampai ke sekolah kalian juga.”


“Apa… apa yang kamu mau...?”


Sambil gemetar, dua orang itu mundur, sementara Haruya melangkah mendekat. Dengan tatapan tajam sekali lagi, menanamkan rasa takut secara mendalam, ia berkata dengan suara rendah,


“Jangan pernah lagi menyentuh Kohinata-san──bahkan jangan perlihatkan wajahmu. Jangan pernah muncul di hadapannya.”


Ia tahu persis siapa yang menjadi sasaran serangan mereka. Bahwa tindakan itu ditujukan pada satu orang tertentu—hal itu juga disadari oleh mereka yang berdiri di hadapannya.


Kesadaran itu membuat dua siswi tersebut semakin terpojok. Mungkinkah apa yang mereka lakukan pada Rin di tempat tersembunyi sudah ketahuan? Direkam? Direkam video? Berbagai kemungkinan berputar di kepala mereka hingga tubuh mereka kaku.


Haruya pun menambahkan,


“Mengerti?”


“……(angguk-angguk)”

“(angguk-angguk)”


Tak mampu mengeluarkan suara, mereka mengangguk keras, lalu segera pergi dari tempat itu. Haruya menghela napas panjang dalam hati. Seketika, rasa lelah menyerangnya.


(Dengan ini, masalah yang mengelilingi Kohinata-san seharusnya sudah benar-benar selesai...)


Sebelum kembali ke posnya, ia mengenakan kembali kacamatanya dan mengibaskan rambutnya ke depan dengan kuat. Lalu, ketika ia berlari kembali menuju area panggung, sosok Rin tiba-tiba terlihat di depan gerbang sekolah.


(Gawat… jangan-jangan dia melihatnya?)


Kecemasan itu sempat terlintas di benaknya, namun Haruya berpura-pura tenang dan menyapanya.


“Live-nya luar biasa. Terima kasih, Kohinata-san. Sudah mau tampil.”


“………!”


Entah kenapa, Rin justru mengalihkan pandangan. Kemudian, dengan bibir yang sedikit digembungkan, ia berkata pelan,


“……kamu yang mengusir mereka, kan…… supaya mereka nggak bisa macam-macam lagi sama aku.”


“…………yah, cuma memberi pelajaran sedikit.”


“Melihat mereka ketakutan sampai segitunya, kurasa mereka sudah nggak akan berani lagi……”


“O-oh, begitu.”


Lalu Haruya melanjutkan,


“Ngomong-ngomong, kenapa dari tadi memalingkan wajah?”


Sejak tadi, Rin sama sekali tidak menunjukkan sikap mengejek khasnya maupun semangat biasanya. Dalam kondisi normal, dia pasti akan berkata, ‘Live-ku bikin kamu deg-degan, ya~?’ sambil bercanda. Namun sekarang, pipinya tampak agak memerah dan sikapnya terlihat canggung. Mungkin karena baru selesai live, kepanasan dan kelelahan, pikir Haruya.


“……b-bukan begitu. Bukan!”


“Ah—maaf.”


“……aku bukan marah kok…… cuma… terima kasih.”


Rin mengatakannya tanpa menatap mata Haruya sampai akhir.


(……kenapa sikapnya berubah sejauh itu?)


Sejak membawa Rin kembali dan sejak live berakhir, entah kenapa Haruya merasa ada perbedaan besar dibandingkan sebelumnya.


Karena sudah diucapkan terima kasih, ia memutuskan untuk menganggapnya selesai untuk sementara. Namun rasa penasaran itu sepertinya tidak akan mudah terjawab.


───Bahkan setelah Festival Eiga benar-benar berakhir, pertanyaan Haruya tak juga habis.


***


Panas.


Hanya dengan melihat wajahnya saja, dadaku terasa tercekik, perih, dan sesak. Panas menjalar ke wajahku, sampai tanpa sadar aku bersikap dingin.


…Aku nggak dibenci, kan? Mungkin nggak… harusnya aman… pasti.


Kekhawatiran yang tak perlu berputar-putar di kepalaku tanpa henti. Dia marah demi aku, mencoba melindungiku, menopangku.


Sekilas dia terlihat sempurna, tapi ada sisi ceroboh yang justru membuatnya terasa menggemaskan.


Keren, dan juga imut.


…Eh, tunggu. Itu kombinasi paling kuat, kan?


Kalau jujur, wajahnya bukan tipeku. Poni yang terlalu panjang, kacamata—itu masih oke sih, tapi posturnya, itu poin minus. Tapi kalau bahan dasarnya bagus, mungkin saja dia bisa berubah total.


Saat itulah Rin terhenti dan tersadar, menarik napas pendek.


(Tunggu… kenapa tanpa sadar aku melihat Akasaki-kun sebagai pacar…)


Hanya memikirkannya saja sudah membuat wajahku serasa terbakar.


Kurasa aku mulai paham betapa hebatnya dia. Entah Sara dan Yuna memandangnya sebagai objek romantis atau tidak, tapi kalau soal menghormatinya—itu sangat bisa kupahami.


Kalau saja dia tidak ada, festival ini mungkin sudah lama membuatku patah. Karena dia, aku bisa mendapatkan kekuatan untuk bertahan. Dan justru karena itulah, mungkin aku akhirnya punya tekad untuk memperlihatkan diriku yang sebenarnya pada Sarachin dan Yunarin. Melalui kejadian kali ini, aku menyadari bahwa memaksakan diri terlalu jauh ternyata bukan hal yang baik.


Beberapa hari kemudian. Saat kami bertiga berkumpul sendirian, aku memutuskan untuk jujur pada Sarachin dan Yunarin. Tentang masa laluku yang pernah dibully dan alasan mendekati mereka memang kusamarkan sedikit, namun aku mengaku bahwa selama ini aku berusaha keras agar terlihat lebih baik dari diriku yang sebenarnya. Lalu……jawaban tak terduga datang dari mereka berdua.


『……pfft. Rin, kupikir kamu mau bilang apa dengan wajah serius begitu. Ternyata itu? Hal begituan sudah kami tahu dari dulu.』


『Benar. Dan kami sama sekali tidak kecewa, kok.』


Eh…?


Tanpa sadar, reaksiku keluar begitu saja. Meski masih ada hal yang kusembunyikan, bahkan setelah kubilang bahwa aku selama ini ‘memerankan diriku sendiri’, reaksi Sarachin dan Yunarin tetap tidak berubah.


Saat air mata hampir memenuhi kedua mataku, Sarachin tiba-tiba mendekapku erat.


『Rin-san… kamu sudah menahan semuanya sendirian selama ini, ya. Di depan kami saja, kamu boleh kok memperlihatkan kelemahanmu.』


『T-tapi aku… selama ini aku terus berbohong pada kalian berdua. Aku selalu berpikir harus nggak kalah dari kalian, memikirkan macam-macam… Lihat kan? Aku sudah melakukan hal yang kejam, kan? Tapi… kenapa kalian nggak marah? Kenapa bisa memaafkanku…?』


『『Karena’. 』』


Suara Sarachin dan Yunarin bertumpuk. Seolah itu adalah hal yang sudah jelas tanpa perlu dipertanyakan, mereka pun melanjutkan.


『『Karena kita teman────』』


Seketika bagian belakang mataku terasa panas. Hidungku terasa perih dan menusuk.


Yunarin mengelus kepalaku sambil berkata “tenang, tenang”,

sementara Sarachin memelukku dengan penuh kehangatan.


─────Hari itu, untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar menjadi teman mereka berdua.


***


Bahkan setelah Festival Eiga—festival budaya—berakhir, beberapa hari berikutnya tetap terasa sibuk.


Sebenarnya aku tidak berniat ikut acara makan-makan penutup,

tapi karena statusku sebagai panitia, aku dipaksa ikut acara kelas. Dengan alasan yang sama, di hari lain aku juga dipaksa ikut acara penutup khusus panitia.


(Buat orang yang tinggal sendiri, ini cukup berat secara finansial. Harus lebih berhemat… serius.)


Di acara kelas, pembicaraan ramai soal Sara dan Yuna yang menjadi pemeran utama drama. 


Setelah itu, topik pun beralih ke live terakhir Rin.


Haruya sepanjang waktu memilih jadi “orang yang menyatu dengan udara”, tapi entah kenapa… ia merasa ada tatapan dari Rin.


Saat ia melirik balik, pandangan itu langsung dialihkan. Hal yang sama terjadi di acara penutup panitia. Ketika mereka tak sengaja berpapasan di dekat mesin minuman───


『……kenapa kamu terus melihat ke sini? Kalau ada yang mau kamu katakan, aku dengarkan.』


『……!』


Rin memerah wajahnya, lalu berbicara.


Saat itu, ia berusaha keras untuk tidak menatap Haruya.


『Aku… bukan sedang melihatmu………』


Jelas-jelas terasa seperti sedang diperhatikan, tapi kalau cuma salah paham, rasanya malah jadi memalukan……


『E-eh, begitu ya……?』


『Ah, tapi jangan membenciku. Aku nggak membencimu kok.』


『Eh, begitu?』


『Iya…… maaf.』


Padahal beberapa hari yang lalu mereka masih bisa berbicara dengan normal, tapi sekarang terasa ada kecanggungan. Mungkinkah ini…… sosok asli Kohinata-san sebenarnya? 


Haruya hanya bisa meyakinkan dirinya sendiri seperti itu. Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa rasa janggal ini bahkan akan berlanjut sampai ke ruang kelas saat pelajaran dimulai kembali. Dan tibalah hari masuk sekolah.


Seperti biasa, Haruya berpura-pura tidur, namun tiba-tiba bahunya ditepuk oleh Kazamiya yang duduk di belakangnya, membuatnya menoleh.


“……sekarang kenapa lagi?”


“Hei Akasaki, yang ini sih udah kelewatan, kan? Sebenarnya ada apa?”


Mengikuti arah pandangan Kazamiya, ia melihat Rin yang diam-diam melirik ke arahnya berulang kali.


“Apa maksudnya ada apa…”


Begitu mata mereka bertemu, Rin langsung mengalihkan pandangan

dan kembali sibuk mengobrol dengan Sara dan Yuna.


“Menurutku sih nggak ada yang aneh.”


“……nggak aneh apanya. Kohinata-san dari tadi terus lihat ke sini.”


“Ah—iya juga sih…… tapi sejak Festival Eiga selesai, memang dia terus begitu.”


“Baiklah, dimengerti. Aku nggak akan nanya lagi.”


“Eh?”


Kazamiya sudah yakin pada titik ini bahwa Rin memang memperhatikan Haruya, jadi tak ada lagi yang ingin ia tanyakan.


Sementara itu, para S-Class Beauty tetap seperti biasa, santai saling membicarakan Festival Eiga. Tentang bagian tersulit dalam drama kelas, dibahas oleh Sara dan Yuna. Tentang kesibukan sebagai panitia, dibahas oleh Rin. Mereka saling berbagi detail masing-masing, namun di tengah itu semua, Yuna mulai merasa ada yang aneh tentang Haruya.


(Akhir-akhir ini… rasanya Rin benar-benar memperhatikan Akasaki-kun.)


Ketika topik itu ia lemparkan langsung ke Rin, sikap ceria biasanya langsung menghilang dan ia menjawab pelan, “…nggak kok.” Reaksi itu hampir sama saja dengan pengakuan. Bukan berarti Yuna jadi tertarik pada Haruya hanya karena Rin memperhatikannya. Selama Festival Eiga, Haruya pernah mengatakan────


『Bagaimanapun keadaan Kohinata-san, mau seperti apa pun dia nantinya, aku ingin kalian tetap berteman dengannya.』


Dengan kata lain, ia sudah memperkirakan bahwa Rin akan mengungkapkan jati dirinya pada mereka. Mungkin saja Rin lebih dulu menceritakan semuanya pada Akasaki-kun, namun kemungkinan itu sangat kecil.


Karena wajah Rin saat melakukan pengakuan terlihat begitu terdesak, seolah ia memendam semuanya sendirian selama ini.


Insiden di ruang rapat, cara Haruya membawa kembali Rin saat live, dan pemanggilan di koridor penghubung.


(Mungkin Akasaki-kun adalah orang yang jauh lebih hebat dari yang kukira……)


Dalam hati, Yuna menaikkan penilaiannya terhadap Haruya. Dan ada satu hal lagi yang ingin ia tanyakan pada pria itu. Soalnya, beberapa hari lalu───ia sempat mengirim pesan pada Haru.


『Nayu: Haru-san. Anu… kamu sempat nonton drama Festival Eiga nggak?』


Haruya hampir saja menjawab bahwa ia tidak menontonnya, namun ia langsung membayangkan akan dimarahi di acara offline berikutnya, jadi ia menjawab jujur.


『Haru: Iya. Aku nonton drama Nayu-san. Aku kaget, hasilnya bagus banget.』


Namun di sinilah Yuna mulai merasa janggal. Selama pertunjukan, Yuna benar-benar memperhatikan seluruh bangku penonton. Tapi di sana───tidak ada sosok Haru.


(……berarti dia menyamar? Atau nontonnya dari tempat tersembunyi?)


Dengan mempertimbangkan semua itu, Yuna ingin menanyakannya langsung pada Haruya, yang bertugas di bagian penerimaan sebagai panitia. Ia berharap, Haruya yang terlihat cerdas itu bisa memberi semacam bantuan atau petunjuk. Namun tetap saja, Yuna tak bisa menahan pikirannya. Ia melihat tatapan mata Sara juga beberapa kali tertuju ke bangku Haruya……


(Sara juga nggak mungkin kan memperhatikan Akasaki-kun…?)


***


Klanng, bunyi es di dalam gelas bergema.


Chirin, suara lonceng angin yang bergoyang ditiup angin sepoi-sepoi pun terdengar, sementara kipas angin berputar pelan, mengayun ke kiri dan ke kanan seolah tak tahu harus mengarah ke mana.


(Memang, kopi di sini selalu enak.)


Untuk menyembuhkan lelah yang menumpuk, Haruya mengunjungi kafe langganannya setelah sekian lama. Dan pelayan yang datang menyambutnya adalah───


“Sudah lama tak berjumpa, Onii-san.”


Kohinata-san, mengenakan seragam maid bernuansa monokrom, berdiri di hadapannya.


Sudah hampir sebulan sejak pertemuan terakhir mereka. Kini Haruya mengerti, panjangnya waktu libur yang ia ambil adalah demi Festival Eiga. Meski Haruya mengetahui jati diri asli Kohinata-san, saat ini yang dihadapinya adalah “wajah belakang”-nya.


Karena itulah, ia menanggapi sapaan Rin dengan wajar.


“Lama nggak ketemu, Kohinata-san.”


“Iya. Lama tidak bertemu.”


“……………”


Haruya tanpa sadar membeku.


Biasanya ia akan digoda dengan kalimat seperti, “Kangen ya~?” atau “Sebenarnya kamu pengin ketemu aku, kan~?” Namun kali ini───Rin menundukkan kepala dengan sopan, lalu berkata dengan sungguh-sungguh,


“Maaf, Onii-san… bolehkah aku minta nasihat soal cinta? Sepertinya aku punya orang yang kusukai.”


“Eh?”


Suara Haruya terdengar kosong. Itu benar-benar di luar dugaan. Ternyata Kohinata-san sudah punya orang yang menarik perhatiannya.


“Karena itu… aku berpikir untuk tidak lagi menggoda sembarangan… atau lebih tepatnya, aku ingin melakukan hal-hal seperti itu hanya pada orang tersebut.”


“Ah~ begitu…”


Sekarang ia mengerti kenapa sikapnya terasa hambar hari ini.


Kalau memang sudah menyukai seseorang, itu wajar. Meski ada sedikit rasa sepi, Haruya sadar ia tak punya hak untuk ikut campur. Ia mengangguk pelan dan mempersilakan lanjut.


“Kalau memang aku bisa membantu, silakan cerita.”


“U-um…… sebenarnya…… itu……”


Wajah Kohinata-san memerah sekali—jauh dari biasanya. Kepribadian iblis kecilnya entah ke mana. Hanya melihat ekspresinya saja membuat wajah Haruya ikut terasa panas.


“Kalau begitu… mungkin sebaiknya kita bicarakan saat perasaanmu sudah lebih tenang.”


“Iya… maaf.”


Ia menjatuhkan bahunya, terlihat kecewa.


“Tapi aku pasti akan minta nasihat lagi dalam waktu dekat. Tolong ya.”


“Ya. Kalau aku bisa membantu.”


Saat itu Haruya sama sekali tak menyangka bahwa percakapan ini akan membawanya pada neraka di kemudian hari.


Tak pernah terlintas di pikirannya bahwa orang yang Rin perhatikan adalah dirinya sendiri—dirinya yang ‘biasa’ di sekolah.


***


Aku mulai menyadari perasaanku padanya.


Aku merasa, pada Akasaki-kun, aku boleh memperlihatkan diriku yang sebenarnya. Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini, dan tanpa sadar bibirku melengkung membentuk senyum kecil. Cara dia mengusir dua orang itu tanpa sedikit pun gentar—kontrasnya terlalu kuat.


Biasanya dia terlihat malas dan lesu, tapi setelah mengenalnya sebagai panitia, pandanganku tentang dia berubah sepenuhnya.


…Keren.


Kesan yang klise itu berputar-putar di kepalaku. Namun aku segera menggelengkan kepala, menyingkirkan pikiran itu.…ya, mungkin memang keren sih…tapi sampai berpikir aku boleh memperlihatkan jati diriku yang sebenarnya, bukankah itu terlalu berlebihan?


Aku biasanya bersikap menggoda, berpura-pura jadi iblis kecil yang manja…padahal diriku yang sebenarnya jutek dan pasti tidak imut sama sekali……


Rin memejamkan mata, membayangkan masa depan yang mungkin saja terjadi.


『……Kohinata-san. Kamu imut banget. Live-mu luar biasa.』


Akasaki-kun berkata begitu setelah live berakhir. Kalau aku menunjukkan diriku yang sebenarnya, mungkin aku akan menjawab seperti ini:


『Hmm…… gitu doang?』


『Eh, cuma itu?』


『Kamu fans-ku ya, Akasaki-kun. Yah… terima kasih.』


Di tempat itu, aku akan menunjukkan sikap jutek—atau lebih tepatnya, sikap percaya diri────


Lalu, di depan Sarachin dan Yunarin:


『Nee nee, dengar deh! Akasaki-kun tadi muji aku habis-habisan! Ceritanya ke kalian ya, Sarachin, Yunarin. Dia itu keren banget lho───!』


Begitulah, di tempat yang tak ada dirinya, aku malah membicarakan Akasaki-kun terus.


…Astaga, aku ini kenapa sih.


Bagi Rin, itu adalah gambaran ideal. Kenyataannya, aku terus saja memikirkan Haruya, dan tanpa sadar mataku selalu mencarinya.


Begitu mata kami bertemu, rasa malu langsung meledak di kepalaku.


…Mouu, benar-benar. Kamu bikin aku pusing begini. 


Rin menatap foto Haruya di layar ponselnya. Itu adalah foto bersama yang diambil saat acara makan-makan. Ia memperbesar wajah Haruya dan menjentiknya dengan jari. Tanpa tahu perasaanku…menyebalkan……suatu hari nanti, aku akan membuat Akasaki-kun yang duluan minta tukar kontak. Pasti.


Yah, mungkin aku bisa memikirkan hal-hal begini karena suasana festival masih tersisa.


Pasti itu.


Saat sadar suhu tubuhnya naik, ia meneguk soda dingin. Rasanya entah kenapa terasa jauh lebih manis dari biasanya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close