Chapter 4
Ada Alasan di Balik Harga yang Murah
Begitulah,
aku merasa ambisiku untuk "memanfaatkan budak secara efektif agar bisa
hidup santai tanpa bekerja" semakin mendekati kenyataan. Ditambah lagi
dengan ambisi baru menuju keluarga yang bahagia, aku bertekad untuk tidak
lengah dan terus melangkah mantap setapak demi setapak.
Hari ini,
aku berjalan menyusuri kota bersama dua budakku, Flame dan Marianne. Tujuan
kami ke kota tak lain dan tak bukan adalah untuk membeli budak ketiga.
Hutang pembelian Flame dan Marianne kepada Ayah sudah lunas
terbayar. Karena dana sudah terkumpul cukup banyak, aku merasa ini saat yang
tepat untuk membeli budak dengan uangku sendiri. Lagipula, aku memang ingin
menambah "kandidat" yang bisa membantuku menghasilkan uang.
Kelak, aku akan menciptakan sistem di mana para budak
bekerja secara efektif sementara pundi-pundi uang terus mengalir ke saku tanpa
aku harus menggerakkan jari. Dengan
begitu, aku bisa resmi menikmati slow life tanpa bekerja!
Yah,
meski sebenarnya uangku belum cukup untuk membeli budak berkualitas tinggi,
hari ini tujuanku hanyalah untuk survei atau sekadar melihat-lihat. Siapa tahu
ada "berlian kasar" di antara budak cacat yang bisa kubeli.
Demi
keamanan, wajah Marianne kututupi dengan kerudung renda putih tipis agar tidak
terlihat orang lain.
"Kami sudah
menanti kedatangan Anda, Tuan Muda Lawrence. Dan... Nona Marianne... syukurlah,
Anda benar-benar sudah sembuh..."
Begitu tiba di
toko budak langganan, Oaks langsung menyambut kami meski tanpa janji temu.
Melihat kondisi Marianne, matanya tampak berkaca-kaca karena terharu.
"Maaf, saya
sedikit emosional. Jadi, ada keperluan apa Anda datang hari ini?"
"Begini, aku
terpikir untuk menambah satu orang budak lagi, jadi aku datang untuk sekadar
melihat-lihat dulu."
Aku sengaja
menekankan bahwa ini hanya survei. Meski Ayah bilang aku tidak perlu
mengembalikan uangnya, sebagai keluarga aku ingin tetap profesional dalam hal
keuangan. Aku tidak ingin Oaks mengira aku membawa tumpukan emas dan mencoba
merayuku membeli sesuatu yang belum mampu kubayar.
Baik di dunia ini
maupun di kehidupanku yang dulu, sekali saja kau menunjukkan celah, pedagang
ulung akan menggiringmu dengan kata-kata manis sampai akhirnya kau membeli
sesuatu. Cara terbaik adalah menyatakan niatmu dengan jelas sebelum negosiasi
dimulai.
"Sekadar melihat-lihat, ya... Kalau boleh tahu, berapa
anggaran Anda?"
"Kira-kira
tiga koin emas. Aku
berharap bisa mendapatkan seseorang dengan harga segitu."
"Baiklah.
Saya akan tunjukkan budak yang harganya sesuai anggaran Anda. Namun, dengan
tiga koin emas, saat ini kami hanya memiliki satu budak kriminal yang
kehilangan sebelah kakinya. Apakah Anda keberatan?"
Hanya
satu orang, kriminal, dan cacat kaki pula? Rasanya kurang meyakinkan, tapi
karena melihat-lihat itu gratis, aku memutuskan untuk memeriksanya.
"Inilah
orangnya."
Oaks
membimbingku ke sudut lantai bawah tanah. Di dalam jeruji, seorang pria tampak
duduk di atas ranjang.
Pria itu
berusia sekitar dua puluh tahun, berambut pirang kecokelatan yang panjang,
bertubuh mungil dengan wajah yang agak feminin. Jika ada bekas luka silang di
pipinya, dia pasti sudah terlihat seperti karakter anime yang bisa mengeluarkan
teknik pedang rahasia secepat kilat.
"……Cih."
Pria
pincang yang mirip karakter anime itu melirikku sekilas, mendecih, lalu
membuang muka. Meski tatapannya redup, aku bisa merasakan tekad yang kuat di
balik matanya.
"Ngomong-ngomong,
kenapa dia jadi budak kriminal?"
"Orang
tuanya meninggal karena wabah. Saat dia memergoki adik
perempuannya—satu-satunya keluarga yang tersisa—hampir dilecehkan oleh anak
pengusaha kaya, dia menghajar anak itu. Akibatnya, sebelah kakinya dipotong dan
dia dibuang menjadi budak kriminal."
Sudah
kuduga, budak di sini pasti punya latar belakang yang rumit. Tapi setelah
mendengar ceritanya yang begitu tragis, aku jadi sedikit menyesal telah
bertanya.
"L-lalu,
bagaimana dengan adiknya...?"
Namanya
juga manusia, kalau sudah dengar setengah, pasti penasaran lanjutannya. Tanpa
sadar aku bertanya tentang nasib adik pria itu.
"Tenang
saja. Kami yang melindungi adiknya, dan sejauh ini dia baik-baik saja."
Aku
bernapas lega mendengar jawaban Oaks. Namun, dia melanjutkan kalimatnya dengan kata "tapi". Aku jadi
gemas, sebenarnya aman atau tidak?
"Alasan lain
kenapa budak kriminal ini murah adalah karena dia mengajukan syarat: dia ingin
adiknya tetap bersamanya sampai adiknya dewasa dan bisa mandiri. Tentu saja, adiknya bukan barang
dagangan, jadi kami tidak bisa membuat kontrak budak dengannya."
Pantas
saja harganya murah. Syaratnya cukup merepotkan bagi pembeli biasa.
"Tapi,
jika dia dibeli oleh orang yang berhati busuk, sang adik mungkin akan diancam
agar patuh dengan menjadikan kakaknya sebagai sandera. Sejujurnya, saya akan
jauh lebih tenang jika Tuan Muda Lawrence yang membelinya. Lagipula, budak ini
sebenarnya petualang berbakat yang mencapai Peringkat C di wilayah asalnya.
Harga aslinya seharusnya lima koin emas, tapi khusus untuk pelanggan setia yang
sudah menyembuhkan Nona Marianne, saya beri harga spesial tiga koin emas
saja."
"Aku
beli!!"
"Terima
kasih banyak!!"
Eh? Padahal aku
sudah sangat waspada, tapi entah bagaimana aku malah terjerat sihir marketing
Oaks dan langsung membelinya.
Tidak,
mungkin itu bukan sekadar taktik jualan. Mungkin dia memang tulus ingin aku menyelamatkan mereka. Aku memutuskan
untuk percaya bahwa Oaks memiliki niat baik terhadap kakak beradik ini, dan aku
sengaja "masuk" ke dalam perangkapnya demi masa depan mereka.
"Nah,
sekarang kita lakukan kontrak budak. Keluarlah dari sel. Orang di depanmu ini
adalah Tuan yang telah membelimu."
"……Cuma
bocah, ternyata."
Oaks
langsung memproses kontrak sebelum aku sempat berubah pikiran. Aku membiarkan
semuanya diurus olehnya.
Mengingat
dia adalah petualang Peringkat C, jika diberi kaki palsu, dia pasti masih bisa
beraksi setidaknya setara Peringkat D. Membeli tenaga ahli seperti itu seharga
tiga koin emas—meski dia kriminal—adalah kesepakatan yang luar biasa. Aku bisa merasakan keinginan Oaks untuk
menolongnya meski harus merugi.
Namun, pria ini
sepertinya tidak paham situasi. Sikapnya tetap angkuh tanpa ada satu pun kata
terima kasih.
Mungkin di
usianya yang dua puluh tahun, dia masih dalam fase emosional yang
meledak-ledak. Tapi melihat Oaks yang sudah berusaha keras melindunginya dan
adiknya tanpa mendapat keuntungan apa pun, aku merasa sikap pria ini tidak bisa
dibiarkan. Dia butuh dididik.
◆
"Jadi, maaf karena ini sangat tiba-tiba, tapi
Sebas-san, tolong hajar mental dan kepribadian orang ini sampai benar."
"Dimengerti, Tuan Muda Lawrence."
"Hah!? Oi!! Aku tidak pernah setuju soal ini!!"
"Meskipun Tuan Muda belum memberikan perintah resmi
kepadamu sebagai budak, tetap saja sikapmu kepada Tuan Muda Lawrence—yang
merupakan anggota keluarga Westgaff sekaligus majikanmu—sangatlah tidak sopan.
Sepertinya kamu memang butuh bimbingan khusus. Saya akan mendidikmu dengan
sungguh-sungguh."
Sebas biasanya selalu tersenyum ramah seperti kakek yang
baik, tapi entah kenapa senyumnya saat menatap pria ini terasa... mengerikan.
Begitulah, monyet baru ini—maksudku Keith—yang baru saja
kubeli dengan uang pribadiku, langsung diseret oleh Sebas dengan menjinjing
kerah lehernya.
"Ah, satu
lagi. Kata-kata Sebas adalah hukum bagimu."
"Jangan
bercanda!! Siapa juga yang mau dengar omongan kakek-kakek ini!!"
"Sayang
sekali, itu adalah Perintah."
"Masih
banyak latihan yang bisa dilakukan meski kehilangan satu kaki. Apa kamu pikir
bisa bersantai sampai Tuan Muda Lawrence menyembuhkan kakimu?"
"Siaaaalaaaannn!!"
Yah, setidaknya
suasana rumah jadi makin ramai dengan adanya Keith.
Sementara itu,
adiknya yang bernama Mary ternyata berusia enam belas tahun. Mungkin karena
usia mental mereka dekat, dia langsung akrab dan asyik mengobrol dengan
Marianne.
Flame sendiri
tiba-tiba berseru, "Aku tidak mau kalah, aku akan ikut berlatih bersama
Keith!!" dan mengikuti Sebas.
Entah apa tujuan
hidup Flame sebenarnya, tapi jika dia ingin jadi lebih kuat, aku tidak punya
alasan untuk melarangnya. Semakin kuat dia, semakin banyak pula uang yang bisa
dia hasilkan dari Guild.
Tentu saja aku
tidak membeli Keith hanya berdasarkan dorongan emosi. Saat Oaks memberitahuku
tentang Skill miliknya, wajahnya tampak agak enggan. Skill Keith adalah Luck
Boost.
Bagi orang-orang
di dunia ini, termasuk Oaks, Luck Boost dianggap sebagai trash skill
atau sampah. Tapi bagiku yang tahu cara kerja statistik LUK alias
keberuntungan, ini adalah salah satu Skill yang paling kuinginkan.
Kenapa? Karena
efek Skill ini juga berlaku untuk rekan satu tim. Ini adalah salah satu Skill
yang paling broken atau curang.
Lihat saja
buktinya: adiknya tidak sampai dilecehkan, Keith akhirnya bisa tinggal bersama
adiknya, dan sekarang kakinya akan kusembuhkan. Itu semua pasti berkat pengaruh
Skill-nya.
Kelemahan Skill
ini hanyalah dia tidak membuatmu kebal dari kemalangan, tapi secara
keseluruhan, meningkatkan keberuntungan seluruh kelompok adalah kemampuan
tingkat dewa.
Dan yang
terpenting, untuk mewujudkan tujuanku hidup santai dari hasil keringat para
budak, Skill Luck Boost jauh lebih berharga daripada Skill tempur mana
pun.
Sambil memikirkan
hal itu, aku mulai menyusun strategi di kepalaku untuk memantapkan rencana
hidup tanpa bekerja.
◆
Satu bulan telah
berlalu sejak pembelian Keith.
Selama waktu itu,
aku menyelidiki latar belakangnya dan ternyata dugaanku benar: Keith memang
bertindak terlalu jauh.
Tentu saja, anak
pengusaha kaya yang mencoba melecehkan adiknya itu tidak bisa dimaafkan. Tapi
gara-gara hajaran Keith, semua gigi depan anak itu rontok, satu matanya buta,
kaki kanannya patah, tiga tulang rusuknya retak, dan organ dalamnya rusak
hingga kritis. Biaya pengobatannya mencapai sepuluh koin emas.
Dilihat dari
hasilnya, Keith pasti benar-benar hilang kendali dan berniat membunuh saat itu.
Secara teknis, dia sangat beruntung tidak dihukum mati dan malah
"dipungut" olehku.
Sekarang, si
Keith yang beruntung itu sedang menatapku tajam di lapangan latihan.
"Oi, aku
tidak peduli kau ini majikanku atau bukan, aku tidak akan menahan diri."
"Ah, tidak
apa-apa. Justru aku yang harus menahan diri agar tidak menyakitimu."
"Guh, sombong sekali... Lihat saja, akan kubuat kau
menangis."
Keith hari ini terlihat jauh lebih agresif, mungkin karena
kakinya yang sempat dipotong kini sudah tumbuh kembali.
Sama seperti kasus Magic Organ milik Flame,
menumbuhkan sesuatu yang sudah hilang dari nol tetap membutuhkan waktu lama
meski level Skill-ku sudah naik. Butuh waktu satu bulan penuh untuk
menumbuhkannya kembali.
Melihat kaki baru yang tumbuh sempurna itu, aku kembali
merenung betapa curangnya Skill Healing ini. Jika aku menguasainya lebih
dalam, mungkin kepalaku tetap bisa menumbuhkan badan baru meski terpenggal.
...Aku
mendadak mual membayangkan pemandangan mengerikan itu.
Segera
setelah kakinya pulih, Keith langsung menantangku duel. Mary, adiknya, sampai
marah besar dan tidak mau bicara pada kakaknya sejak kemarin. Rasain.
Tapi aku
paham kenapa Keith bersikap membangkang. Intinya, dia tidak akan mengakui
seseorang yang lebih lemah darinya. Benar-benar pola pikir anak kecil.
Apa dia
tidak terpikir kalau aku bisa saja marah lalu menghukumnya beserta adiknya?
Sepertinya tidak. Itulah sebabnya aku harus memberinya pelajaran di sini.
Sambil
memikirkan itu, aku juga berniat menjadikan duel ini sebagai ujian untuk
melihat sejauh mana kemampuanku sekarang. Aku sangat penasaran, apakah aku yang
sekarang bisa mengimbangi petualang Peringkat C.
Menyadari
diriku merasa bersemangat untuk menguji kekuatan, aku tersenyum sendiri. Ternyata
aku masih punya jiwa laki-laki, ya.
──Sisi Keith──
Orang tuaku meninggal secara mendadak karena wabah.
Adikku juga sempat terjangkit, tapi syukurlah hanya dia yang
berhasil bertahan hidup. Saat itu aku sudah terdaftar sebagai petualang, tapi
pekerjaanku hanya seputar urusan remeh seperti memotong rumput, membersihkan
kota, atau mengumpulkan tanaman obat yang aman. Sejak orang tuaku tiada, aku
tidak bisa lagi bersantai.
Demi menghidupi adikku, aku harus mengambil pekerjaan dengan
imbalan tinggi meski nyawa taruhannya. Tapi aku tidak boleh mati. Aku harus tetap hidup demi dia.
Aku
bergerak sendirian agar tidak tertipu, dan setiap kali merasa bahaya, aku akan
menurunkan peringkat permintaan satu tingkat. Begitulah cara aku bertahan hidup
sebagai petualang.
Di
awal-awal, keuangan kami sangat sulit dan adikku sering kelaparan. Aku terus
meyakinkan diriku bahwa ini lebih baik daripada aku mati. Tanpa sadar, aku
sudah mencapai Peringkat C dan kondisi finansial kami mulai membaik.
Hal
terpenting yang kupelajari sebagai petualang adalah: "Jangan percaya orang
lain. Anggap semua orang adalah musuh."
Aku sudah
sering melihat petualang pemula ditipu oleh orang-orang berwajah ramah. Aku
juga melihat banyak yang dipecat dari Guild karena melanggar kontrak, tapi
orang-orang macam itu tidak pernah habis.
Mungkin saat
mencapai Peringkat C, aku menjadi sedikit jemawa.
Itulah saat aku
melihat adikku hampir dilecehkan oleh anak pengusaha kaya. Jika itu aku yang
dulu, aku mungkin hanya akan menjauhkan orang itu dari adikku dan
menyerahkannya ke petugas keamanan.
Tapi saat itu,
melihat pemandangan tersebut, aku malah berpikir, "Kebetulan sekali,
aku menemukan pelampiasan yang bagus untuk emosiku yang sedang kacau ini."
Hasilnya, aku
malah ditangkap petugas keamanan. Orang tua si anak kaya itu membalas dendam dengan memotong kakiku dan
membuangku ke pasar budak kriminal.
Kupikir
keberuntunganku sudah habis. Semua perjuanganku untuk tetap hidup demi adikku
hancur hanya karena satu kesalahan bodoh. Membayangkan masa depan suram yang
menanti adikku tanpa kehadiranku membuatku hampir gila karena penyesalan.
Saat
itulah, pedagang budak yang menampungku bukan hanya bersedia menjaga adikku,
tapi juga berjanji untuk menegosiasikan pembeli yang mau menampung kami berdua
agar tidak terpisah.
Meski
dalam hati aku sangat berterima kasih, aku tidak bisa menunjukkannya. Sifat
petualangku yang kasar, angkuh, dan penuh curiga sudah mendarah daging. Aku
terus bertingkah seperti anak nakal yang menjengkelkan, lalu berakhir dengan
membenci diriku sendiri.
Hanya
tiga hari setelah aku ditampung, muncul seorang pembeli aneh.
Jika dia
hanya mengincar adikku, aku sudah bersumpah akan memberontak habis-habisan.
Tapi ternyata pembelinya adalah seorang anak kecil yang usianya bahkan tidak
sampai setengah dari usiaku.
Kewaspadaanku
langsung berubah menjadi kemarahan. Dari penampilannya, dia jelas anak
bangsawan yang tidak tahu kerasnya dunia. Itu membuatku semakin muak.
Bahkan
setelah dibeli oleh bocah ini, aku tetap bersikap kasar. Aku pikir dia akan
menyiksaku sebagai hukuman, tapi dia bahkan tidak memberikan perintah untuk
mengikat tindak-tandukku.
Satu-satunya
perintah yang dia berikan adalah agar aku dilatih oleh Sebas-san, kepala
pelayan di kediaman keluarga Westgaff ini. Aku tidak mengerti kenapa dia
repot-repot melatihku, padahal dia bisa saja memberikan perintah seperti
"Jangan bicara" untuk membungkamku.
Kehidupan
itu berlanjut selama sebulan, sampai akhirnya kakiku pulih sempurna berkat
Skill si bocah ini—maksudku, Tuan Muda.
Itu benar-benar
keajaiban yang melampaui kemampuan manusia. Selama sebulan ini, aku dipaksa
menyadari bahwa meski lebih muda dariku, pola pikirnya jauh lebih dewasa dan
bijaksana. Aku pun tersadar betapa kekanak-kanakannya diriku sendiri.
Meski sudah
sadar, aku tetap merasa kesal karena masih saja bersikap tidak sopan padanya.
Saat aku mengonsultasikan hal ini pada Sebas-san—yang sudah kuanggap seperti
sosok ayah kedua—beliau malah menyarankanku untuk menantang Tuan Muda berduel.
Dan pada hari
duel itu, aku akhirnya mengerti apa yang sering dibicarakan para petualang pria
tentang "seorang pria yang jatuh hati pada pria lain".
Mana dengan
konsentrasi tinggi biasanya bisa terlihat secara visual. Saat ini, Mana yang
terpancar di sekitar Tuan Muda bersinar dengan tujuh warna pelangi, dan entah
kenapa terasa sangat hangat.
Tuanku adalah
orang yang tidak membuang budak kriminal kasar sepertiku, dia merawatku,
bersikap baik pada adikku, dan sosoknya saat menggunakan sihir terlihat begitu
indah.
"Haha...
aku benar-benar tidak ada tandingannya, ya..."
Tadinya
aku tidak paham maksud Sebas-san menyuruhku menantang duel, tapi sekarang aku
mengerti sepenuhnya. Beliau benar.
Aku baru
tahu kalau Kak Flame dan Kak Marianne juga disembuhkan dari luka mengerikan
oleh Tuan Muda.
"Ternyata
Sebas-san tahu kalau aku tidak akan bisa berbuat apa-apa di depan
beliau..."
Memang
benar, jika hanya dinasihati lewat kata-kata, aku pasti tidak akan dengar. Cara
ini adalah yang tercepat dan paling efektif.
Bersamaan
dengan itu, aku menyadari bahwa sebagai manusia pun aku kalah telak dari Tuan
Muda. Beliau yang memiliki kekuatan sihir sehebat ini tidak pernah
menyombongkan diri dan justru menggunakannya untuk menolong orang. Sedangkan
aku? Begitu punya sedikit kekuatan aku malah menjadi angkuh dan berakhir
menggunakan kekerasan, meski alasannya benar.
Aku kalah telak,
baik dalam kekuatan maupun kepribadian.
Dan setelah itu,
kesadaranku pun menghilang.
◆
"Selamat
pagi, Tuan Muda!!"
Entah perubahan
psikologis macam apa yang terjadi padanya. Sejak duel itu, kepatuhan Keith
benar-benar berada di level yang menakutkan. Keangkuhannya lenyap total, bahkan
cara bicaranya berubah drastis pagi ini.
"...Kenapa
tiba-tiba begini?"
"Saya telah
jatuh hati pada Anda, Tuan Muda!! Karena itu, saya akan melakukan apa pun
perintah Anda! Tidak, tolong izinkan saya melakukan apa saja!!"
Kenapa ya?
Tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak... rasanya seperti ada hawa aneh yang
membuatku merinding.
Karena bertanya
pada Keith tidak akan memberikan jawaban waras, aku menoleh pada Sebas dengan
tatapan "Ini maksudnya apa?".
"Sepertinya
ini yang disebut kekaguman antar pria, Tuan Muda. Dia bilang ingin menjadi
pelayan pribadi Anda, jadi saya akan mendidiknya agar dia bisa dibanggakan di
mana pun. Untungnya, dia punya dasar kemampuan petualang Peringkat C dan
potensinya masih besar, jadi saya berencana memasukkan teknik bela diri tipe
rahasia (stealth) ke dalam pelatihannya."
"Ah... ya,
secukupnya saja ya, Sebas. Dan untuk Keith, semangat ya?"
"Dimengerti."
"Siap!
Saya akan berjuang sekuat tenaga!!"
Aku
merasa mendengar kata-kata yang agak berbahaya dan membuat merinding, tapi
kuputuskan untuk mengabaikannya dan menyerahkan urusan Keith sepenuhnya kepada
Sebas.
Selingan──Flame Berpikir──
Tuan Muda membeli budak baru bernama Keith, si bocah nakal.
Bocah itu
benar-benar menyebalkan. Padahal Tuan Muda sudah repot-repot membelinya, tapi
dia malah bersikap kurang ajar. Aku sempat berpikir sebutan "bocah
nakal" sudah cukup pantas untuknya.
Tapi Tuan
Muda memang luar biasa. Beliau bukan hanya menumbuhkan kembali bagian tubuh
Keith yang hilang, tapi entah bagaimana caranya, beliau berhasil mengubah sikap
angkuh Keith 180 derajat. Sekarang bocah itu malah terlihat sangat memuja Tuan
Muda.
Benar-benar
luar biasa, Tuanku ini.
Dan
seperti kami, Keith juga mulai berlatih bela diri (bakat sihirnya rendah, jadi
dia fokus pada fisik). Awalnya dia hanya menjadi samsak tinju Sebas-san setiap
hari—Sebas-san menyebutnya "bahasa tubuh"—tapi belakangan ini dia
sudah mulai bisa mengimbangi. Kecepatan pertumbuhannya cukup mengesankan.
"Jadi,
bagaimana menurutmu, Keith?"
"Benar
juga... Kalau soal bela diri yang sedang kupelajari sekarang, aku harus bilang
kalau kecepatan peningkatan kekuatan tempur Kak Marianne dan Kak Flame sejak
dipungut Tuan Muda itu benar-benar tidak wajar.
Rasanya
lebih masuk akal jika kita menganggap beliau sedang melatih kita untuk
menghancurkan organisasi besar di suatu tempat."
Begitu
aku memaparkan teoriku tentang 'mengapa Tuan Muda menuntut kekuatan yang bisa
dibilang berlebihan dari kita para budak', Keith tampaknya juga merasakan
keanehan yang sama. Dia pun setuju dengan pemikiranku.
Selain
itu, seperti dugaanku, Keith yang secara resmi dididik sebagai pelayan pribadi
ternyata juga menerima gaji seperti karyawan lain yang bukan budak. Hal ini
juga menjadi tanda tanya besar baginya, sama seperti aku dan Marianne.
Memberikan
uang kepada budak berarti menambah kapasitas hal yang bisa mereka lakukan.
Dengan kata lain, itu juga menambah sarana bagi budak untuk melawan majikannya
sendiri.
Pada
dasarnya, budak dibeli untuk melakukan pekerjaan yang tidak mau dilakukan
majikan atau untuk memenuhi hasrat mereka. Singkatnya, majikan biasanya
melakukan hal-hal yang memicu dendam dari orang yang mereka beli.
Karena
itulah, tindakan Tuan Muda yang 'memberi uang'—tindakan yang justru memperkuat
posisi tawar budak—terlihat sangat ganjil di mata kami.
Yah, meskipun
begitu, tidak mungkin kami akan berkhianat kepada Tuan Muda. Justru karena
itulah kami bingung harus menggunakan uang itu untuk apa.
Beliau sudah
menyelamatkan nyawa kami, bahkan menjamin sandang, pangan, dan papan. Apa lagi
yang bisa kami minta?
"Mungkinkah
dana ini sebenarnya adalah 'modal operasional organisasi bagi kita untuk
menumpas kejahatan yang merajalela di dunia'?"
"Aku pernah
memikirkan hal itu, tapi kalau memang tujuannya ke sana, memberikan uangnya
kepada kita itu terkesan berputar-putar. Akan lebih cepat jika Tuan Muda
sendiri yang mengelolanya..."
"Justru di
situ poinnya. Jika Tuan Muda menggunakan uangnya sendiri untuk membangun
organisasi bawah tanah berisi budak, kemungkinan besar Tuan Besar (Ayah
Lawrence) akan curiga, bukan?
Intinya, beliau ingin sumber dananya sesamar mungkin. Beliau
tidak mengatakannya secara langsung agar kita sendiri yang sampai pada jawaban
itu. Beliau ingin organisasi ini seolah-olah terbentuk atas kemauan para budak,
terpisah dari kehendak Tuan Muda.
Dengan begitu, jika terjadi masalah, beliau bisa berdalih
bahwa itu adalah tindakan gegabah para budak tanpa melibatkan nama beliau.
Bukankah itu akan meringankan beban hukum bagi beliau?"
Inilah yang disebut dengan pencerahan luar biasa. Aku
merasakan guncangan hebat seolah-olah baru saja melihat kebenaran yang
sesungguhnya.
Inilah momen di mana semua titik—'alasan beliau mengumpulkan
budak secara berkala', 'alasan melatih kita', dan 'alasan memberikan uang dalam
jumlah besar yang tidak pantas bagi budak'—akhirnya terhubung menjadi satu
garis lurus.
Hal yang sama
tampaknya dirasakan oleh Marianne di sampingku. Gadis lincah itu mulai
memancarkan binar di matanya, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan
mainan baru.
"...Keith,
prediksimu itu pasti benar. Kita tidak bisa berdiam diri saja. Kita harus
segera membentuk organisasi bawah tanah khusus para budak!!"
"Benar
sekali!! Kedengarannya sangat menyenangkan!!"
"Astaga,
Tuan Muda kita ini... Padahal beliau bisa menyampaikannya dengan cara lain.
Tapi, aku tidak merasa keberatan karena aku bisa merasakan kepercayaan beliau
yang seolah berkata 'kalian pasti bisa menemukan jawaban ini'."
Demikianlah, organisasi bawah tanah khusus para budak resmi dibentuk.



Post a Comment