Chapter 10
Anak-Anakku yang Berbakat
──
Sisi Seorang Miliarder ──
"Heh!!
Jangan lelet begitu, Dasar Dongok!! Benar-benar nggak berguna ya, kamu!! Kamu
tahu nggak, berapa harga yang harus kubayar buat membelimu, hah?!"
Aku
berteriak kasar sambil menendang budak di depanku hingga terpental.
Budak itu
hanya meringkuk ketakutan sambil terus bergumam seperti kaset rusak,
"Mohon maaf, Tuan... Mohon maaf..."
Yah,
wajar saja dia begitu. Aku memang tidak memberikan instruksi spesifik tentang
apa yang harus dia lakukan.
Tentu
saja dia tidak paham apa yang salah, atau apa yang harus diperbaiki. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan
hanyalah meringkuk dan memohon ampun.
Aku menatap budak
itu sembari menyesap wine. Sisa isinya sengaja kutumpahkan tepat di atas
kepalanya.
Momen seperti ini
selalu berhasil membuat sekujur tubuhku bergetar karena sensasi kesenangan yang
luar biasa.
"Kalau kamu
cuma bisa meringkuk nggak jelas begini, besok mending kubuang saja kali,
ya?"
"Mohon maaf,
Tuan! Mohon maaf!"
"Cih, aku
bahkan ragu apa kamu benar-benar merasa bersalah. Kalau iya, harusnya kamu
berusaha memperbaiki diri biar nggak kena semprot begini. Tapi lihat
dirimu?"
"Sampai
sekarang pun kamu masih nggak paham maksudku dan terus-terusan kena marah...
Itu karena kamu berpikir, 'yang penting minta maaf biar masalah cepat kelar',
kan?"
Ah, aku
seolah bisa mendengarnya. Jeritan keputusasaan yang memancar dari jiwa
budak ini.
Budak ini
hasil curian dari desa di negara tetangga. Aku membelinya dengan harga selangit
lewat jalur ilegal.
Bayangkan
saja. Suatu hari tiba-tiba diculik, dibawa ke negara asing, dijadikan budak,
lalu disiksa habis-habisan.
Hanya
dengan membayangkan situasinya saja, rasa nikmat langsung menjalar ke seluruh
sarafku.
Ah, rasanya
benar-benar seperti menjadi Tuhan saat aku bisa mengendalikan hidup orang lain
sesukaku.
"Kalau
begitu, sekarang coba kamu pikirkan baik-baik. Kenapa sebentar lagi aku akan
menghajarmu? Jawab!"
"Ugh-ekh?!"
Tepat di saat
suasana hatiku sedang berada di puncak, tiba-tiba seseorang meninju pipi
kananku dari belakang.
Benturan itu
begitu keras hingga beberapa gerahamku patah dan terpental ke lantai.
"Siapa...
siapa kalian...?! Di mana para pengawal?!"
"Begitu
masuk ke ruangan ini, aku sudah memasang Barrier yang hanya mengizinkan
orang-orang pilihanku untuk lewat. Jangan berharap pada pengawalmu."
"Yah,
sebenarnya tanpa Barrier pun, pengawal sewaanmu itu bukan tandingan
kami. Tapi aku sedang berusaha meminimalisir pembunuhan yang tidak perlu.
Lagipula, ini adalah bagian dari Atonement-ku, jadi terasa aneh kalau
aku malah menambah dosa baru."
"Oh, ya.
Kalau kamu tanya siapa aku, anggap saja aku adalah orang yang datang untuk
mengeksekusimu."
Aku mencoba
mengenali siapa orang yang baru saja mematahkan gigiku. Ternyata ada seorang
pria bertopeng dan tiga orang wanita.
Mereka semua
memakai topeng dan pakaian dengan desain yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Aku mencoba
bertanya siapa mereka sebenarnya dan bagaimana mereka bisa menyelinap melewati
penjagaanku. Tapi si pria itu hanya menjawab bahwa pengawalku bukan
tandingannya.
"Masa, sih?
Bukannya kamu memasang Barrier karena takut kalah lawan pengawalku? Asal
kamu tahu, mereka semua mantan petualang Rank B. Yah, meskipun semuanya dipecat
dari Guild karena perilaku buruk."
Karena ada Barrier
misterius itu, sepertinya aku tidak bisa melarikan diri ke luar. Jadi, aku
sengaja memprovokasinya agar dia melepaskan segel tersebut.
"Kalau mau
berpikir begitu, silakan saja. Aku yang sekarang sudah tidak punya harga diri
setinggi gunung sepertimu, jadi provokasi murahan begitu sama sekali tidak
mempan..."
"Jadi, sudah
ketemu jawabannya? Kenapa kamu dipukul?"
"Hah? Mana
kutahu! Lagipula hal sepele begitu nggak perlu di—ugh?!"
Namun, dia tidak
terpancing. Dia malah mengulangi pertanyaannya. Saat aku menjawab tidak tahu,
dia menghajarku lagi.
"Sialan...
kamu pikir bakal selamat setelah ini? Akan kutangkap kamu hidup-hidup, lalu
kusiksa sampai kamu menyesal telah menyentuhku sebelum akhirnya kubunuh. Camkan
itu!"
Sejak awal aku
tidak melakukan kesalahan apa pun yang pantas membuatku dipukul, tapi orang ini
terus saja menghajarku.
Mana mungkin aku
bisa menjawab pertanyaannya.
Ini artinya dia
'menghajarku hanya karena ingin'. Dan apa pun yang kujawab, dia pasti akan
bilang salah lalu memukulku lagi.
Aku bersumpah
dalam hati akan memberinya siksaan neraka sebelum nyawanya kucabut.
"Ho...
siksaan yang membuatku menyesal, ya? Dangkal sekali. Siksaan macam apa pun itu,
selama diciptakan manusia, pada akhirnya hanya bisa menyakiti raga. Apalagi ada
'kematian' sebagai garis finis. Benar-benar dangkal."
"……Hah?"
"Hei, apa
kamu pernah merasakan neraka yang sesungguhnya? Di mana raga, jiwa, dan
mentalmu dibakar habis?"
"Apa sih
yang kamu bicarakan—ugeakh?!"
Dia mulai bicara
melantur seolah pernah pergi ke neraka. Saat aku ingin menyanggahnya, pipi
kananku dipukul lagi.
Karena sejak tadi
hanya pipi kanan yang dihajar, wajahku mulai membengkak parah dan hampir
seluruh gigi di sisi kanan sudah rontok.
"Yah, mana
mungkin kamu pernah. Jadi, sudah paham kenapa kamu dipukul?"
"…………Mana
ku—"
"Ngomong-ngomong,
aku akan terus memukul sampai kamu paham."
"──Hah?!
Jangan bercanda!! Mana mungkin aku paham hal nggak jelas begitu!! Lagian kenapa
kamu melakukan ini?!"
"Memangnya
apa salahku?!"
"Hah?
Bukannya itu tindakan yang baru saja kamu lakukan pada budak itu? Kamu sendiri
yang harusnya paling paham kenapa ini terjadi, kan?"
"Yah,
meskipun aku tidak punya hobi menjijikkan sepertimu, jadi aku tidak benar-benar
mengerti rasanya."
"Abeagh?!"
"Tapi, benar
juga... sepertinya terus-terusan menghajar sampah nggak tertolong sepertimu
rasanya lumayan juga."
"Hiiih...! Kenapa... kenapa... Aku kan cuma memukul
budakku, barang milikku sendiri...! Mau diapakan pun itu kan terserah aku!!"
"Itu kalau
kamu membelinya lewat transaksi resmi. Yah, kalau lewat jalur resmi, budak
tetap punya hak asasi manusia, jadi kalau kamu memukulnya tanpa alasan,
kepalamu bisa melayang. Makanya kamu nggak bisa melakukan itu."
"Tapi, apa
bedanya membeli budak ilegal lalu melakukan kekerasan, dengan aku yang
melakukan kekerasan padamu sekarang? Tiba-tiba dipukuli oleh orang asing tanpa
alasan jelas. Apa bedanya?"
"Sakit... berhenti... ugh... Ma-maaf! Aku minta maaf! Agh! Jadi tolong berhenti
memukulku!"
"Lihat! Aku
bahkan sampai bersujud begini!! Kamu sudah puas, kan?! Ogh?! Sakit...
maaf... Maafkan aku! Maafkan aku! Aku nggak bakal mengulanginya lagi! Jadi
tolong jangan pukul lagi!"
"………Waktu budak itu memohon maaf padamu, apa kamu
berhenti menyiksanya? Tidak, kan? Bagaimana rasanya berada di posisi yang
sama?"
"Ngomong-ngomong, aku bukan orang baik, jadi aku akan
terus memukulmu sampai mati."
Sudah berapa kali
aku dipukul?
Tulang rahangku sudah hancur berkeping-keping. Jangankan mengunyah, bicara pun sudah
tidak bisa. Gendang telinga kananku sepertinya pecah karena guncangan tinjunya
hingga aku tidak bisa mendengar apa pun.
Mata kananku juga
sudah hancur akibat retaknya tulang rongga mata. Penglihatanku hilang. Aku
bahkan tidak bisa berpikir jernih lagi, entah karena rasa sakit atau apa.
Mungkin guncangan
di otakku sudah terlalu parah...
Tepat di saat aku
memikirkan itu, sebuah benturan yang jauh lebih keras menghantamku dan
pandanganku menjadi gelap────────
◆
── Sisi Brett
──
Akhirnya selesai
juga. Ternyata lebih cepat dari dugaanku.
Sambil membatin
begitu, aku menatap rendah pria yang sudah tak bernyawa itu.
"Sudah
selesai?"
"Ya.
Sudah."
"Astaga,
kamu repot-repot sekali melakukan hal seperti itu. 'Menghabisi lawan dengan
cara yang sama seperti yang dia lakukan'... Tapi yah, rasanya lumayan
melegakan. Ayo cepat, kita selamatkan anak berikutnya."
"……Ah, benar
juga."
Meskipun aku
menyiksa dan membunuh mereka dengan cara yang sama seperti yang mereka lakukan,
orang-orang seperti ini tidak akan pernah benar-benar paham betapa
menjijikkannya perbuatan mereka.
Mungkin ini
hanyalah bentuk kepuasan pribadiku saja.
Meski begitu, aku
merasa ini adalah salah satu cara untuk menebus dosaku.
Rasanya terlalu
mewah jika orang-orang seperti ini mati dengan cepat tanpa merasakan sakit atau
penderitaan sedikit pun.
Sambil memikirkan
hal itu, aku pun beranjak menuju lokasi target berikutnya.



Post a Comment