Chapter 7
Registrasi Petualang dan Misteri Si Kepala
Botak
Hari ini, setelah
sekian lama, aku memutuskan untuk menjalankan kuis petualang bersama Flame
lagi.
Tujuan utamaku
sebenarnya adalah membangun organisasi menggunakan para budakku agar aku bisa
hidup santai tanpa perlu bekerja. Namun, jika aku lulus akademi sebelum itu
terwujud, setidaknya aku harus punya sedikit pengalaman kerja.
Lagipula, bekerja
sebagai pelayan toko atau semacamnya benar-benar di luar pilihan. Upah untuk
pekerjaan paruh waktu—kalau di dunia sebelumnya disebut part-time—benar-benar
menyedihkan.
Biasanya, jam
kerja dimulai dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore. Kerja sepuluh jam
sehari hanya dibayar sekitar empat ribu yen.
Meski pengeluaran
di dunia ini lebih sedikit karena kurangnya hiburan dibanding kehidupan
sebelumnya, tetap saja... membayangkan kerja sepuluh jam sehari membuatku
merasa mending mati saja.
Yang aku benci
bukan soal durasi waktunya, tapi perasaan diawasi dan dikelola oleh orang lain
selama sepuluh jam itu. Sebaliknya, pekerjaan petualang yang bisa dikerjakan
sesuai tempo sendiri jauh lebih baik. Aku tidak keberatan pergi menjalankan
misi selama tiga hari demi uang.
Karena itu, agar
bisa mencari penghasilan stabil di peringkat tinggi, aku rutin menjalankan misi
bersama Flame. Tujuannya tentu untuk menaikkan rekam jejak peringkat dan
menambah pengalaman. Masalah bayaran kecil pun tak apa, yang penting dua hal
tadi terpenuhi.
Namun, setiap
kali mengunjungi Guild untuk membangun rekam jejak, ada satu hal yang
mengganjal: jumlah petualang berkepala botak di dalam Guild meningkat drastis
secara misterius.
Karena Flame
sering ke Guild sendirian, aku bertanya padanya apakah dia tahu sesuatu tentang
fenomena pertumbuhan kepala botak yang aneh ini. Sebagai tuannya, aku khawatir
jika ini adalah semacam penyakit menular yang membuat rambut rontok. Aku harus
menjauhkan Flame dari Guild sebelum dia tertular.
Anehnya, yang
botak semuanya laki-laki. Mungkin Flame yang perempuan akan baik-baik saja,
tapi jika ini penyakit menular, rambutku, ayah, kakak, bahkan para pelayan pria
di kediaman Westgaph bisa terancam. Aku tidak bisa bersikap optimis hanya karena Flame seorang perempuan.
Saat aku
bertanya, Flame menjawab dengan santai.
"Semuanya
sudah saya bakar habis. Dan entah kenapa, meskipun sudah tumbuh lagi, sebagian
besar dari mereka memilih untuk tetap mencukurnya," jelasnya.
Jawaban itu malah
membuatku semakin tidak paham.
"Lihat, itu
dia Tuan Lawrence, putra kedua keluarga Westgaph yang menguasai wilayah ini.
Dialah yang menyelamatkan Nona Flame dari ambang kematian."
"O-oh, jadi
itu Tuan Lawrence... Dari penampilannya saja sudah terlihat kalau beliau orang
yang cerdas, mulia, dan penuh kasih sayang...."
"Aku
benar-benar bodoh karena dulu pernah menghina beliau dengan kata-kata merendah
hanya demi menarik perhatian Nona Flame.... Pantas saja rambutku dibakar habis.
Kalau bukan karena beliau, Nona Flame mungkin sudah tidak ada di dunia ini, dan
tidak akan bisa berjalan sambil tersenyum bahagia bersama tuannya seperti
itu.... Sial, aku ini benar-benar...!"
"Aku
mengerti perasaanmu. Aku juga salah satu korbannya. Malah, aku ngeri
membayangkan apa yang akan terjadi kalau Nona Flame tidak menghentikanku saat
itu. Tanpa sadar, aku hampir saja menyentuh milik putra kedua keluarga Marquess
tanpa izin. Aku mungkin sudah disiksa lalu dibunuh. Aku merasa berutang budi
seumur hidup pada Nona Flame, dan merasa penebusan dosaku masih kurang. Itulah
sebabnya sampai sekarang aku belum berani membiarkan rambutku tumbuh."
"A-aku juga
sama!"
"Aku juga,
aku juga!"
"K-kalau aku
sih mencukurnya atas kemauan sendiri, tapi memikirkan Nona Flame, aku jadi
merasa tidak tenang kalau punya rambut!"
"Aku paham
sekali perasaan itu! Makanya aku juga mencukur rambutku sendiri."
"Bukankah
kau memang sudah botak dari dulu!? Jangan bohong, ya!"
"T-tapi
bagian sampingnya kan sempat tumbuh!"
Aku mencoba
memusatkan Magic Power ke telinga untuk mencuri dengar percakapan
beberapa pria berkepala botak itu.
Sebenarnya... apa yang sudah dilakukan Flame di Guild ini?
Aku jadi takut mengetahui kebenarannya, jadi lebih baik aku tidak bertanya
lebih lanjut.
Ada pepatah yang bilang rambut adalah mahkota wanita, tapi
rambut pria terkadang jauh lebih berharga daripada itu.... Menurut percakapan yang kudengar, Flame
benar-benar membakar rambut mereka.
Betapa
mengerikannya perbuatan Flame! Namun, karena pihak Guild belum memberikan
keluhan resmi apa pun, kurasa aku bisa menunda pencarian kebenaran di balik
aksi pembakaran rambut ini.
"Ada
apa, Tuan Muda?"
"Tidak,
itu... begini, lakukanlah secukupnya saja ya, Flame. Ingat, secukupnya
saja."
"...?...Saya
kurang mengerti, tapi baiklah! Secukupnya saja ya!"
Melihat
ekspresinya, dia sepertinya tidak benar-benar paham maksudku. Tapi setidaknya
aku sudah memperingatkannya. Lagipula, jujur saja, selama tidak ada komplain,
aku tidak peduli dengan nasib rambut orang asing.
"Wah,
Nona Flame! Halo. Dan ini pastinya Tuan Lawrence! Quest seperti apa yang kalian
inginkan hari ini?"
Seorang
resepsionis menyapa kami begitu kami tiba di meja konter. Kebetulan meja itu
khusus untuk peringkat tinggi, jadi tidak ada antrean.
"Begitulah.
Flame, ada rekomendasi?"
Aku
bertanya padanya. Dalam hal ini, lebih baik membiarkan yang berpengalaman
memilih daripada seorang amatir sepertiku.
"Mari kita lihat... Bagaimana kalau pembasmian Yellow
Monkey ini? Mereka licik, tapi kecepatan dan kekuatannya sangat memadai. Saya
rasa Tuan Muda bisa menikmatinya dengan sangat baik!"
Tunggu sebentar. Akhir-akhir ini, bukannya memilih Quest
mudah dengan bayaran tinggi, Flame malah cenderung memilih misi sulit tanpa
mempedulikan bayarannya. Apa itu
hanya perasaanku saja?
Bukan, bukan
begitu maksudku. Aku kan ingin bersantai! Tapi jika Flame ingin aku mengambil
Quest sulit ini, ya sudahlah.
Lagipula,
sepertinya dia ingin memamerkan kemampuannya yang telah berkembang di
hadapanku.
Mengingat
hambatan fisik yang dialami Flame sebelum datang kepadaku, aku bisa memahami
perasaannya. Jadi, hari ini pun aku memilih Quest sulit pilihan Flame.
"Terima
kasih banyak! Berkat Nona Flame, Quest yang menumpuk jadi terselesaikan. Quest
pembasmian Yellow Monkey ini bahkan sudah mengendap selama sepuluh tahun,
lho."
"Sepuluh tahun ya... Kedengarannya menjanjikan. Dalam
sepuluh tahun, mereka pasti sudah semakin cerdas dan koloninya mungkin sudah
membesar. Saya jadi tidak sabar, Tuan Muda!"
Sepertinya selama aku tidak melihatnya, Flame telah berubah
menjadi pecandu tempur.
Namun, tak bisa dipungkiri bahwa melihat maid Dragonoid yang
bertarung memicu rasa kagum dalam diriku. Aku ingin segera melihat Flame
bertarung di depanku, memutar rok panjang maid-nya sambil menghajar musuh.
Sambil
memikirkan hal itu, aku mengikuti Flame masuk ke dalam hutan. Postur tubuhnya
tetap tegak dan anggun meski di tengah hutan. Bagaimana dia bisa mempertahankan keindahan
seorang maid di tempat seperti ini? Dia benar-benar luar biasa.
"Tuan Muda,
apakah Anda yakin tidak ingin saya gendong dan terbang langsung ke
tujuan?"
"Ya, kali
ini aku ingin berjalan kaki sampai ke sana."
"Ba-baiklah.
Jika Anda merasa lelah, katakan saja padaku kapan pun. Saya akan segera memeluk
Anda dan terbang seketika!"
"Tentu,
nanti tolong bantuannya ya, Flame."
"Siap!
Serahkan padaku!"
Flame menawarkan
untuk menggendongku seperti biasa, tapi aku tidak boleh tertipu.
Pada Quest-Quest
sebelumnya, polanya selalu sama: dia akan menurunkanku tepat di depan target
pembasmian, lalu meninggalkanku sendirian sementara dia menyemangatiku dari
kejauhan.
Lokasi di mana
aku diturunkan pun tergantung suasana hatinya. Jika aku menuruti tawarannya
kali ini, aku yakin 100% akan dijatuhkan tepat di tengah koloni Yellow Monkey.
Aku harus
memiliki tekad kuat agar tidak terjebak perangkap Flame. Dengan niat itu, kami
mengobrol santai selama tiga jam perjalanan, hingga akhirnya... kami tiba di
tengah koloni Yellow Monkey dengan cara terbang.
Jujur
saja, saat Flame bilang "Tapi kalau jalan kaki bisa memakan waktu
berhari-hari", tekadku langsung hancur. Hancur sehancur-hancurnya. Lebih
rapuh daripada kerupuk yang terinjak.
Aku ingin
pulang hari ini juga. Demi hal itu, aku bahkan rela menjual jiwaku pada Flame.
Berkemah memang terdengar asyik, tapi kalau sudah urusan bertahan hidup di
hutan, itu cerita lain.
Flame
yang menurunkanku di tengah koloni bergumam pelan. "Akhirnya aku bisa memeluk Tuan Muda lagi.
Keuntungan kecil karena hanya saat seperti ini aku bisa memeluk Anda
erat-erat."
Sepertinya dia
masih menganggapku seperti anak kecil. Yah, meski penampilanku dan usiaku di
dunia ini memang baru sepuluh tahun, jadi wajar saja.
"Ah, Tuan
Muda. Sepertinya pemimpin koloni ini adalah Silver Yellow Monkey, tapi ada juga
varian Blue Monkey dan Red Monkey! Ini saatnya menunjukkan kemampuan
Anda!!"
Apa-apaan, mereka
ini lampu lalu lintas? Dan
si bos itu perak atau kuning, yang jelas dong!
"Uho?"
"Uho uho
uho!"
"Uhho uho
uho!"
Dalam sekejap,
aku sudah dikepung oleh monyet warna-warni (yang fisiknya lebih mirip gorila).
Sementara itu, Flame sudah terbang ke tempat
tinggi yang tidak terjangkau serangan para gorila berwarna itu.
"Semangat,
Tuan Mudaaa!" soraknya dari atas.
Jika ada orang
ketiga yang melihat situasi ini, mereka pasti akan mengira ini adalah kasus
penganiayaan anak. Sebelum terjadi kesalahpahaman, aku benar-benar ingin Flame
turun dan membasmi monyet-monyet ini sebagai gantinya.
"Tadinya aku
hanya mengamati dari balik bayang-bayang, tapi aku tidak bisa diam saja melihat
seorang anak kecil ditinggal sendirian di tengah monyet-monyet ini! Wahai
wanita Dragonoid di atas sana! Kau harus malu pada dirimu sendiri!!"
Nah, kan.
Benar-benar terjadi kesalahpahaman. Tapi... tunggu dulu?
"Tenanglah,
karena aku sudah di sini, semuanya akan baik-baik saja, Nak. Mari kita lari dari sini
bersama-sama!"
Seorang wanita
tiba-tiba muncul entah dari mana. Dia mengelus kepalaku dengan lembut, lalu
menggenggam tanganku dan mengajakku kabur.
Wanita itu
memiliki rambut perak panjang berkilau hingga ke pinggang, telinga panjang, dan
mengenakan perlengkapan seperti bikini armor yang menonjolkan kulit
cokelatnya yang eksotis.
"Da-da-da-da..."
"Begitu
ya, kau ketakutan sampai tidak bisa bicara lancar! Kasihan sekali! Tapi sekarang kakak sudah di sini,
jadi tenanglah!!"
"Dark Elf,
kan!?"
"Maaf jika
penampilanku sebagai Dark Elf mengejutkanmu. Tapi aku bersumpah tidak akan
menyakitimu dan pasti akan menyelamatkanmu dari sini!!"
Kakak Dark Elf
itu menunjukkan wajah sedikit sedih saat berkata akan menyelamatkanku.
Sepanjang hidupku
di wilayah ini, aku belum pernah mendengar kasus diskriminasi terhadap Dark
Elf, tapi mungkin dia punya masa lalu yang pahit karena umur panjang rasnya.
Entah masa lalu
itu terjadi ratusan tahun lalu, tapi nilai-nilai manusia bisa berubah total
dalam waktu kurang dari seabad. Mungkin sulit bagi ras berumur panjang untuk
memahaminya.
Namun, daripada
memikirkan masa lalunya, aku harus melakukan sesuatu agar tidak membuatnya
sedih lagi. Jarang-jarang aku bisa bertemu—maksudku, bertemu kakak Dark Elf
yang baik hati. Aku ingin membangun hubungan yang bersahabat.
Ini bukan karena
niat mesum, ya. Serius.
Memang sih,
mataku sekarang terpaku pada bagian dada yang seperti buah melon itu, tapi itu
salah kakak Dark Elf yang memakai baju minim seperti bikini armor, bukan
salahku.
Meski masih kalah
dari dada Flame yang juga berfungsi sebagai kantung api, tapi kekencangan kulit
di celah zirah itu benar-benar menguji iman pria manapun. Aku harus segera
mengatasi situasi ini sebelum dianggap sebagai bocah mesum.
"Ah, hei!?
Apa yang kau lakukan!? Ke sana bahaya, jangan pergi!!"
Aku berjalan
santai menuju arah monyet pemimpin untuk segera membereskan mereka. Kakak Dark
Elf itu berteriak panik dan mencoba menangkap lenganku, tapi aku menghindarinya
dengan luwes.
"Uho uho uho
uho!!"
"Uho-uho
melulu dari tadi, berisik tahu! Kalian mengganggu pemandangan indahku
saja!!"
"Uhooo!!"
"Hmm, pakai
apa ya... jumlahnya banyak, jadi... Sihir Angin Tingkat 4: Kamaitachi."
Aku menggunakan Kamaitachi
untuk memenggal kepala Silver Yellow Monkey dan monyet-monyet di sekitarnya.
Seketika, suasana yang tadinya bising menjadi sunyi senyap.
Kelebihan sihir
angin adalah ia tidak terlihat secara visual kecuali jika lawan bisa melihat
aliran Magic Power.
Gorila-gorila
warna-warni ini tentu saja tidak mengerti apa yang terjadi. Bagi mereka,
pemimpin mereka tiba-tiba saja kehilangan kepalanya setelah aku menggumamkan
sesuatu.
Mereka langsung
didominasi oleh rasa takut yang luar biasa. Tak ada yang berani bersuara atau
bergerak, mereka hanya bisa menatap setiap gerak-gerikku dengan gemetar.
Karena mereka
sudah mulai memangsa manusia, aku tidak bisa membiarkan mereka terus bertambah.
Memberi mereka pelajaran lewat kekuatan hanya akan menjadi solusi sementara.
Mereka harus
dimusnahkan agar tidak ada lagi korban manusia yang hilang setiap tahun di
wilayah Westgaph.
Meskipun aku
masih memiliki sedikit empati dari duniaku sebelumnya soal membunuh makhluk
hidup, aku paham bahwa dalam dunia ini, kita hidup dengan mengambil nyawa
makhluk lain. Rasa 'kasihan' tanpa tindakan nyata hanyalah kemunafikan.
Karena aku sudah
mengambil nyawa mereka, aku akan menyerahkan jasad mereka ke Guild agar setiap
bagian tubuhnya, bahkan sampai tulangnya, bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Sambil
mengalihkan rasa bersalah, aku meminta Flame memasukkan semua jasad monyet itu
ke dalam Storage Bag yang kuberikan sebagai hadiah ulang tahunnya dua
tahun lalu.
"Luar biasa,
Tuan Muda!! Serangan yang memukau! Bahkan sihir angin yang katanya tidak
memiliki daya bunuh tinggi bisa menjadi sedahsyat itu di tangan Anda!! Saya
benar-benar kagum! Pemikiran Anda soal sihir kemarin juga akan saya jadikan
referensi—"
"Iya,
iya. Tapi monyet level ini kan harusnya bisa kau kalahkan dengan mudah, Flame.
Kenapa kau malah menjatuhkanku tepat di tengah mereka?"
"Tentu
saja agar aku bisa melihat kegagahan Tuan Muda dengan mata kepalaku
sendiri!"
Saat aku
dan Flame sibuk memberesi jasad monyet, kakak Dark Elf yang tadi melihat dari
kejauhan mendekat dengan ekspresi penuh tekad.
Entah kenapa...
perasaanku tidak enak. Sepertinya sesuatu yang merepotkan akan terjadi.
"Guru!!"
"Eh?
Bukan, aku bukan gurumu."
"Tidak! Mulai detik ini, Anda adalah guruku!!"
"Eh?
Bukan, aku bilang bukan itu, lho!?"
"Jadi,
Guru!! Maaf kalau ini mendadak, tapi maukah Anda mendengarkan
permintaanku!?"
"Kenapa jadi
begini!? Lagipula sudah berulang kali kukatakan, aku ini bukan gurumu!!"
"Waduh,
maafkan aku."
"Yah,
syukurlah kalau kamu akhirnya mengerti. Astaga."
"Aku ini
memang payah dalam hal bahasa formal, jadi caraku bicara agak kasar. Sudah dua
ratus tahun lebih aku hidup dengan gaya bicara begini. Jadi kalau disuruh pakai
bahasa formal sekarang, lidahku malah jadi kelu. Maafkan aku. Tapi, percayalah
kalau rasa hormatku pada Guru itu tulus tanpa kebohongan!!"
Gawat,
orang ini benar-benar tidak bisa diajak bicara!
Karena merasa
percakapan satu lawan satu mustahil dilakukan, aku mengalihkan pandangan ke
Flame untuk meminta bantuan.
"Benar
sekali, benar sekali. Tuan Muda memang luar biasa! Aku sangat paham perasaanmu
yang ingin menjadi murid setelah melihat serangan Tuan Muda tadi!"
Ternyata Flame
malah bicara begitu dengan wajah bangga. Oke, Flame juga tidak bisa diandalkan.
"Tepat
sekali! Wahai wanita Dragonoid!! Dan sebelumnya, aku minta maaf karena telah
mencacimu! Sepertinya aku yang salah! Maafkan aku!"
"Soal itu
aku tidak ambil pusing, kok. Lagipula, siapa pun yang melihat Tuan Muda yang
masih sepuluh tahun dilemparkan ke tengah gerombolan monyet pasti akan
berpikiran sama."
"Tapi
memikirkan kalau aku bisa bertemu takdir seperti ini gara-gara tertipu, rasanya
benar-benar mengharukan!"
Lalu, entah
kenapa frekuensi mereka berdua cocok dan mereka mulai asyik mengobrol.
Yah, memang
bertemu dengan Dark Elf berdada bes—maksudku, bertemu Dark Elf untuk pertama
kalinya di dunia ini memang terasa mengharukan. Tapi, menjadikannya murid itu
masalah lain.
Jika kubiarkan
masalah ini menggantung, sepertinya bakal jadi urusan panjang. Aku harus tegas
mengatakan tidak.
"Anu, Kakak
Dark Elf...?"
"Oh, maafkan
aku! Obrolan dengan
Nona Flame terlalu seru sampai aku lupa diri. Dan juga, aku belum
memperkenalkan diri. Izinkan aku menyebutkan namaku. Nama asliku adalah
'Sicilca Lulu Si Ryu', dan nama samaranku adalah Sicil Silka."
"Begitu,
jadi nama aslimu Sicilca Lulu Si Ryu-san, ya."
Namanya
mirip aktris dari negara tertentu. Nama aslinya agak panjang, tapi sepertinya
mudah diingat.
"Benar. Nama
asliku Sicilca Lulu Si Ryu."
"Lalu nama
samaranmu Sicil Silka. Berarti kalau ada orang lain, aku cukup memanggilmu
Sicil-san?"
"Ya, aku
akan sangat berterima kasih jika kau melakukan itu. Karena jika nama asli kami
diucapkan dan kami menyahutnya, kami para Dark Elf akan terikat kontrak jiwa
dan menjadi budak bagi si pemanggil. Itulah sebabnya kami punya nama samaran
selain nama asli."
Oho,
kedengarannya agak merepotkan tapi terasa sangat fantasy. Tunggu, eh?
Waduh...
"……Hah?"
"……Eh?"
"Tunggu,
bukannya barusan aku memanggil nama aslimu, dan Sicil-san menyahutnya...
kan?"
"Hmm? Tentu
saja, kan? Anda adalah orang yang akan menjadi Guruku. Masakan aku hanya
memberitahu nama samaran atau tidak menyahut saat Anda memanggil nama asliku?
Itu namanya tidak sopan pada Guru. Biarpun caraku bicara agak kasar, aku ini
masih punya tata krama."
……Tata krama itu
apa ya? Apa ini yang dinamakan perbedaan budaya...?
"Eh? Kalau
begitu, berarti..."
"Benar.
Dengan ini, aku dan Guru sudah terhubung secara jiwa. Jika ada perintah apa pun, katakan saja tanpa
ragu. Oh ya, aku sangat ahli dalam pergerakan senyap. Serahkan padaku urusan
pembunuhan sampai pengumpulan informasi sebagai mata-mata!!"
"Wah, selamat ya, Sicil-san!! Dengan ini, Sicil-san
juga menjadi rekan kami!!"
"Ya, ini berarti Nona Flame adalah kakak
seperguuruanku! Mohon bantuannya,
Kakak Flame!!"
Eh? Apa-apaan
ini? Aku tidak punya hak menolak?
Aku hanya bisa
menatap mereka berdua yang asyik mengobrol dengan mata yang sudah kehilangan
cahayanya. Tiba-tiba, Sicil teringat sesuatu dan menghampiriku.
Ah, kalau tidak
salah tadi dia bilang punya permintaan.
Cukup! Poin
kesehatan mental dan lambungku sudah nol!
Namun, hanya
karena terikat kontrak budak, bukan berarti aku harus menjadikannya murid.
Paling parah, aku abaikan saja.
Atau bisa juga
aku lemparkan semua urusannya pada Flame yang dia hormati sebagai kakak
seperguruan. Ada banyak jalan keluar. Tidak perlu terlalu pesimis.
Memikirkan itu,
rasanya bebanku sedikit terangkat.
Lagipula,
meskipun mereka budak, selama ini aku hampir tidak pernah memberi perintah
kecuali dalam keadaan mendesak. Aku membiarkan mereka bertindak sesuai kemauan
sendiri. Aku tidak berniat mengubah kebijakan itu meski Sicil bergabung.
Berarti
tidak ada yang berubah dari sebelumnya, kan?
Begitulah
pikirku saat itu. Padahal aku baru saja kena batunya karena perbedaan norma
dengan Dark Elf, tapi aku sama sekali tidak belajar. Aku akan segera menyadari
betapa salahnya aku seminggu kemudian.
◆
Seminggu
telah berlalu sejak pertemuanku dengan Sicil.
Prediksiku,
karena Sicil itu tipe yang sangat serius dan kaku, dia akan datang menemuiku
dalam beberapa hari. Namun nyatanya, tidak ada tanda-tanda dia kembali, dan
hari-hariku berjalan damai.
Sampai
akhirnya, sebuah pesan suara masuk ke kepalaku.
『Guru!!
Orang-orang desa ingin memberi salam kepada Guru. Bolehkah kami pergi ke sana sekarang melalui
bayangan Guru?』
Jujur saja, ini
pertama kalinya aku mengalami komunikasi telepati, jadi aku cukup terkejut.
Namun, aku berusaha tetap tenang dan membalasnya lewat pikiran.
『Hah? Eh, orang desa? Terus, datang
lewat bayanganku?』
Sesaat
aku bertanya-tanya berapa banyak yang akan datang. Mungkin saja kerabat dekat Sicil. Tapi aku tidak
paham bagian "datang lewat bayangan".
Apakah karena
kontrak jiwa itu, bayanganku jadi semacam pintu masuk?
『Benar, orang
desa. Sebenarnya aku ingin seluruh penduduk desa datang, tapi orang tua yang
sudah renta dan anak-anak yang masih suka main mungkin hanya akan mengganggu
Tuan Muda. Jadi, aku minta maaf karena hari ini hanya orang dewasa saja yang
datang. Oh ya, kami akan berangkat sekarang, bisakah Anda pindah ke tempat
terbuka seperti halaman yang luas?』
Sicil
bilang mereka akan segera datang.
Aku tidak paham
kenapa harus pindah tempat, tapi aku menuruti permintaannya dan pergi ke
halaman tengah.
Ada apa ya? Apa
mereka bawa banyak oleh-oleh? Haruskah aku menyiapkan balasan? Aku bersiap
untuk langsung melakukan dogeza (sujud meminta maaf) jika kerabat Sicil
marah karena aku tanpa sengaja menjadikannya budak.
Setelah aku
memberi tahu Sicil bahwa aku sudah di halaman, tiba-tiba dari bayanganku
bermunculan Dark Elf satu per satu seperti ninja. Jumlahnya... sekitar seratus
orang! Mereka semua berlutut dan menundukkan kepala di hadapanku.
Eh, ini situasi
macam apa, ya?
Karena jumlahnya
yang luar biasa banyak dan aksi berlutut massal ini membingungkan, aku
menghampiri Sicil yang berada di barisan paling depan.
"Sicil, ini
sebenarnya ada apa?"
"Ya, para
Dark Elf dari desa ingin bernaung di bawah kepemimpinan Guru. Hutan tempat kami
tinggal tidak hanya dihuni oleh monster belalang sembah itu, tapi banyak
monster berbahaya lainnya. Termasuk monyet yang Guru bantai kemarin. Kami sudah
mengerahkan segalanya hanya untuk mengusir mereka, tapi kami tidak pernah bisa
hidup tenang karena rasa takut akan serangan susulan."
"Jadi kalian
ingin menjadi bawahanku?"
"Benar.
Aku tahu ini mendadak, tapi memikirkan nasib orang desa..."
Sicil
menunduk semakin dalam.
Mungkin
karena orang tuanya tewas oleh monster, ekspresinya sangat serius. Dan Dark Elf lainnya pun pasti merasakan
ketakutan yang sama.
Namun, aku punya
satu pertanyaan untuknya.
"Aku
mengerti situasinya, tapi bukankah Dark Elf punya sihir kegelapan, sihir tanah,
dan kemampuan memanah yang diperkuat sihir? Masa kalian tidak bisa mengalahkan
monster-monster itu?"
Dengan kekuatan
tempur seperti itu, kudikir mereka bisa mengusir monster tanpa harus bergabung
denganku. Tapi Sicil menggelengkan kepalanya.
"Masalahnya,
sejak sekitar dua ratus tahun lalu, monster-monster di sana mulai memiliki
ketahanan tinggi terhadap sihir kegelapan dan sihir tanah. Karena mereka hidup
di hutan yang gelap dan selalu bersentuhan dengan tanah, sepertinya mereka
berevolusi dan sekarang sihir kami hanya cukup untuk mengusir, bukan
membunuh."
Begitu ya...
analisaku, monster yang berhasil kabur dari serangan sihir Dark Elf melahirkan
keturunan yang lebih kuat. Proses ini berulang selama ratusan atau ribuan tahun
hingga akhirnya mempengaruhi fisik mereka secara permanen. Mungkin. Entahlah.
"Kumohon!!
Bantulah kami para Dark Elf!!"
Melihatku yang
sedang melamun (padahal aku cuma mikirin teori evolusi monster), Sicil mungkin
mengira aku sedang menimbang-nimbang. Dia berteriak minta tolong sampai
melakukan dogeza hingga keningnya menyentuh tanah.
"…………Guh,
ba-baiklah."
"Te-terima
kasih! Guru!!"
Sejujurnya, aku
tidak punya keberanian untuk menolak permintaan dari orang sebanyak ini.
Lagipula, aku tidak suka membiarkan orang lain dalam bahaya jika aku bisa
membantu. Keputusanku sudah bulat, sisanya tinggal masalah tekad.
Dan pada hari
itu, aku menandatangani kontrak budak berkedok kontrak guru-murid dengan
ratusan orang sekaligus.
◆
Waduh, bagaimana
ini.
Kemarin aku
terbawa suasana dan melakukan kontrak budak dengan ratusan Dark Elf. Sekarang
aku harus memikirkan bagaimana cara memberi mereka makan dan dari mana sumber
dananya.
"Guru,
apakah Anda kurang sehat? Jika Anda merasa sakit, biarkan aku merawat
Anda."
"Ah, tidak.
Aku cuma sedang memikirkan masa depan kalian para Dark Elf. Soalnya jumlah
kalian cukup banyak."
"Begitu rupanya... Anda sampai memikirkan masa depan
kami. Rasa terima kasihku tidak akan
pernah cukup."
Karena aku sudah
jadi majikan mereka, aku harus bertanggung jawab. Saat sedang pusing memikirkan
cara memberdayakan mereka, sebuah ide muncul.
"Ah, benar
juga. Bagaimana kalau para Dark Elf menanam palawija?"
"Tanaman...?
Kalau untuk kebutuhan sendiri kami sudah menanamnya, apakah maksud Anda kami
harus memperluas skalanya?"
"Bukan
tanaman yang biasa kalian tanam. Aku ingin kalian menanam benih yang aku
siapkan di lahan subur hasil olahan sihir tanah kalian. Untuk saat ini, fokus
utamanya adalah menanam kedelai. Dan karena jumlah kalian terlalu banyak, aku
akan membentuk organisasi agar pengerjaannya lebih teratur."
Ya, ini adalah
langkah maju untuk rencana Slow Life-ku. Membangun fondasi organisasi budak (pohon
uang).
Alasan
kenapa hanya organisasi budak adalah agar pengetahuan dan teknologi (pohon
uang) ini tidak mudah bocor ke luar.
"Kita coba
dulu selama setahun. Kalau ada kendala, kita perbaiki. Aku akan memberikan bibit kedelai
ke desa Sicil, jadi tolong tanam dengan baik."
"Baik!
Serahkan padaku!! Bahkan dengan taruhan nyawa, akan kupastikan tanaman ini
tumbuh!!"
"Jangan!
Kalau layu aku tidak akan marah, kok. Nyawa kalian lebih berharga daripada
kedelai, tahu."
Meski masih
merasa cemas, jika ini berhasil, aku bisa memproduksi kecap, miso, dan tahu
dengan harga murah tanpa tergantung pada pengepul. Harganya belakangan ini
mulai naik karena mereka mulai mempermainkan harga, jadi ini adalah waktu yang
tepat untuk mempekerjakan ratusan karyawan "budak" ini.
"Serahkan
urusan menanam kedelai pada kami. Tapi, semakin luas ladangnya, ancaman monster
juga akan meningkat... Oh, aku mengerti! Itu artinya kami harus bertarung
dengan mereka agar jadi lebih kuat, kan!"
Aku sudah curiga
sejak awal, tapi Sicil, kamu ini pasti tipe muscle-head (otot kawat
tulang besi), ya? Tapi aku tidak mengatakannya.
"Itu namanya
cari mati. Aku tidak mau ada korban jiwa. Aku akan ajarkan sihir yang efektif melawan
monster-monster itu. Sebagai
permulaan, aku akan ajarkan sihir angin padamu. Kalau sudah bisa, ajarkan pada
Dark Elf lainnya di desa."
"Baik!!"
Saat aku sedang
menjelaskan teori terjadinya angin kepada Sicil, Ayah dan Kakak masuk dan
mendengarkan penjelasanku dengan serius. Kakak bahkan mengeluarkan buku catatan
untuk menyalin kata-kataku.
"A-Ayah...
jika ini benar, ini adalah penemuan besar yang akan meningkatkan kegunaan sihir
angin..."
"Benar. Ayah
sendiri pun terkejut. Seperti biasa, rahasiakan hal ini dari siapa pun."
"Tentu.
Rahasia ini akan menjadi senjata bagi keluarga Westgaph di saat
mendesak..."
Aku mengabaikan
mereka berdua yang sedang asyik berdiskusi dan kembali fokus pada operasional
para Dark Elf.
Karena seratus
orang terlalu banyak jika hanya untuk menanam kedelai, sebagian akan
menggunakan kemampuan pengintaian mereka untuk menjadi pengawalku dan
memperkuat keamanan wilayah.
Tentu saja aku
akan mengatur upah dan sistem shift kerja, aku tidak mau mempekerjakan
mereka tanpa henti.
Aku bertanya pada
Sicil apakah ini tidak akan mengganggu urusan desa, tapi dia bilang mereka
malah punya kelebihan tenaga kerja karena sekarang tidak perlu lagi menjaga
desa mati-matian setelah aku mengajari mereka cara membasmi monster dengan
efisien.
Aku menenangkan
Sicil yang ingin segera memulai jadwal pengawalan besok.
Aku ingin mereka
benar-benar menguasai sihir angin dulu agar monster bukan lagi ancaman bagi
mereka. Aku tidak mau desa mereka diserang saat mereka sedang bertugas
menjagaku.
"Baiklah.
Akan kusuruh orang-orang desa belajar sihir angin sampai mati."
"Jangan
dipaksakan! Kalau terburu-buru malah bisa cedera atau salah teknik. Biar aku
yang atur jadwal latihannya."
Aku menenangkan
Sicil yang sepertinya akan bertindak nekat lagi.
Entah kenapa,
kesetiaan budak-budakku ini rasanya agak berlebihan. Sepertinya lain kali aku
harus duduk bersama mereka untuk menyelaraskan nilai dan pandangan hidup.
Begitulah, satu
hariku kembali berakhir.
◆
Selingan ──
Rumor yang Tersebar di Organisasi Bawah Tanah ──
Sebuah
rumor mulai menyebar di kalangan organisasi bawah tanah yang berbasis di
Kekaisaran. Rumor itu menyebutkan adanya 'Organisasi bawah tanah yang memburu
organisasi bawah tanah'.
"Kemarin,
akhirnya 【Snake's Head】 dihancurkan."
"……Ini sudah
organisasi keempat. Tak kusangka 【Snake's Head】 bisa
tumbang."
"Paling-paling
mereka hanya gertak sambal agar tidak diremehkan oleh kita, seperti kata Bos
Dominic."
Bawahanku membawa laporan tentang hancurnya 【Snake's
Head】.
Padahal ketuanya adalah kenalan lamaku, dan aku tahu dia
bukan tipe orang yang akan melakukan kesalahan fatal hingga organisasinya
hancur. Ini benar-benar mengejutkan.
Tapi karena semuanya sudah berakhir, dia pasti sudah tidak
bernyawa lagi.
"Katanya
organisasi misterius itu terlibat lagi."
"Cerita itu
lagi. Aku sudah dengar rumornya sejak lama, tapi itu mustahil."
"Maksud
Bos?"
"Rumornya
bilang organisasi itu punya Dark Elf. Dark Elf itu kan ras yang tinggal di
pelosok hutan raksasa. Untuk apa ras seperti itu datang jauh-jauh ke Ibukota
hanya untuk menghancurkan organisasi kriminal? Tidak ada untungnya bagi mereka.
Paling-paling itu cuma bualan orang atau taktik si pelaku asli untuk
menyembunyikan identitas mereka."
"Begitu
ya, memang hebat Bos kita ini. Kalau bukan Dark Elf, lalu siapa yang
melakukannya..."
Aku pun
mulai bersiap untuk kegiatan malam ini sambil mendiskusikan 'Organisasi yang
memburu organisasi' tersebut dengan bawahanku.



Post a Comment