NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Dorei Shieki to Kaifuku no Sukiru o Motte Ita node ~ Asobi Hanbun de Dorei Dake no Himitsu Kessha o Tsukurute mita Volume 2 Chapter 4

Chapter 4

Para Budak yang Bergerak di Balik Layar


── Sisi Sicil ──

"Penguasa Bayangan", sebuah organisasi rahasia yang hanya beranggotakan kami para budak, dibentuk demi mewujudkan keinginan Guru.

Akhirnya, kami mendapatkan izin dari Guru untuk mengeksekusi para bangsawan yang melakukan tindak korupsi.

Omong-omong, nama "Penguasa Bayangan" ini adalah hasil diskusi bersama dalam rapat para budak.

Nama ini sangat bagus karena mengandung makna bahwa kamilah yang akan mewujudkan ambisi Guru untuk menguasai dunia dari balik layar (aku merasa Guru pernah mengatakannya, meski mungkin itu cuma perasaanku saja).

Kembali ke soal eksekusi para bangsawan. Guru memberikan salinan dokumen berisi daftar nama bangsawan yang kemungkinan besar melakukan kecurangan beserta rincian tindakannya.

"Saat menghancurkan mereka, pastikan kalian mengumpulkan bukti, dan tangkap kepala keluarganya hidup-hidup.

Kita harus membawa mereka ke Istana Kekaisaran nanti untuk menebus dosa-dosa mereka. Kalau mereka mati begitu saja, itu terlalu baik bagi mereka," begitu pesan Guru.

Karena itulah, saat ini aku sedang menjalankan misi pengintaian dalam bayangan untuk mengumpulkan bukti kejahatan kepala keluarga Language yang menjadi target kali ini.

Belum sampai seminggu membuntuti kepala keluarga Language, aku sudah menemukan betapa busuknya dia karena semua bukti kecurangan sudah terkumpul lengkap.

Namun, butuh waktu hampir satu bulan bagi seluruh rekan Dark Elf-ku untuk menyelamatkan para korban. Aku harus berlatih lebih keras lagi agar selanjutnya bisa bergerak lebih cepat.

Sekarang, aku akan melaporkan hasil misi ini kepada Guru.

"Begitu ya... Jadi mereka menculik kaum Beastman dan Sub-human untuk dijual sebagai budak ke negara lain.... Kalau memang memungkinkan, apa kau tahu ke mana mereka dijual? Memang tidak mungkin menyelamatkan semuanya, tapi aku ingin menolong siapa pun yang bisa ditolong."

"Mengenai hal itu, kami sudah menyelamatkan mereka semua. Dan orang-orang dari negara lain yang membeli para budak itu meski tahu itu ilegal, semuanya sudah kami eksekusi."

"C-cepat sekali.... Bukankah baru sebulan berlalu...? Tapi luar biasa ya. Kalian bukan cuma membongkar kejahatan dan mengumpulkan bukti, tapi sampai menyelamatkan para korbannya juga. Kalian hebat."

"Terima kasih banyak...!"

Secara pribadi aku merasa kemampuanku masih belum seberapa. Tapi jika hanya dengan ini saja Guru sudah memujiku bahkan sampai mengelus kepalaku, apa yang akan terjadi kalau aku berusaha lebih keras lagi...?

Pasti aku akan mendapatkan hadiah yang lebih luar biasa, setidaknya lebih dari sekadar elusan di kepala. Kalau begitu, aku harus berjuang lebih, lebih, dan lebih keras lagi...!!

Memikirkan hal itu membuatku semangat melakukan latihan tanding bersama Guru.

"Tapi, kalau kau merasa dalam bahaya, segera lari ya? Aku lebih senang kalian pulang dengan selamat daripada keberhasilan misi. Lagipula, menurutku kalian tidak perlu mengambil risiko yang terlalu besar...."

Guru menasihatiku dengan lembut sambil terus mengelus kepalaku. Karena Guru begitu baik, bukan hanya kaum Dark Elf, semua budak sangat mencintai Guru dan ingin melakukan sesuatu untuk membalas budinya.

Kami kaum Dark Elf sangat bersemangat menggunakan kekuatan yang telah diberikan Guru untuk membalas jasanya—sosok yang telah memberikan kami kekuatan hingga kami tidak perlu lagi takut atau terganggu dalam menjalani keseharian kami.

Namun, dengan kekuatan sebesar ini, mana mungkin aku berada dalam situasi bahaya? Itu artinya, Guru ingin aku terus mengeksekusi orang-orang jahat dan menguasai sisi gelap dunia ini... Ya, pasti begitu maksudnya.

Sambil berpikir demikian, aku menatap Guru seolah ingin berkata, "Aku pasti akan mewujudkan ambisi Anda, Guru!!".

── Sisi Lawrence ──

Sekitar satu bulan sebelum masuk ke Akademi Sihir Kekaisaran, aku mendapat kesempatan untuk beraudiensi dengan Kaisar atas ajakan Ayah. Awalnya aku mengira akan ada banyak bangsawan atau ajudan lain di sana.

Namun di luar dugaan, yang ada hanya Kaisar, dua pengawal minimalis, serta Komandan Ksatria Kekaisaran dan Komandan Pasukan Penyihir Istana. Ayah yang menyadari kebingunganku segera menjelaskan—

"Tujuan hari ini adalah memberitahu Kaisar soal Skill Slave Slavery milikmu, serta menunjukkan kekuatanmu dan para budakmu. Kita akan melakukan kontrak sihir kerahasiaan, tapi tetap saja, lebih sedikit orang yang melihat kemampuanmu akan lebih baik, kan?"

Begitu katanya. Benar juga, meski mereka ajudan atau bangsawan sekalipun, semakin banyak jumlahnya, maka semakin sulit untuk menjaga kesolidan mereka.

Ditambah lagi frekuensi kontrak sihir kerahasiaan akan meningkat.

Dan meski sudah terikat kontrak, tidak ada jaminan tidak ada orang yang menemukan cara untuk mengakali kontrak tersebut, atau bahkan nekat melanggarnya meski taruhannya nyawa.

Di tengah audiensi, kami sempat melakukan latih tanding. Setelah audiensi hampir berakhir tanpa kendala, Kaisar memberikan dokumen kepadaku.

Saat aku memeriksanya, ternyata itu adalah daftar nama bangsawan Kekaisaran yang diduga melakukan tindak korupsi beserta rincian kejahatannya.

Aku sempat bingung apa maksudnya, tapi Kaisar berkata, "Orang-orang di dokumen itu, jika kau menemukan bukti nyata kecurangan mereka, kau bebas melakukan apa pun pada mereka. Tentu saja, kau juga boleh tidak melakukan apa pun."

Setelah kupikir-pikir, bukankah ini bisa menjadi alasan untuk menggerakkan organisasi rahasia yang kubentuk secara iseng demi para budakku? Ini bisa menjadi alasan untuk memberi mereka "mainan".

Banyak budakku yang datang kepadaku setelah melalui penderitaan hebat.

Memberi mereka kesempatan untuk meluapkan dendam bisa menjadi pelampiasan yang baik, sekaligus membuat Kaisar berutang budi padaku. Benar-benar sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Itulah sebabnya aku menerima dokumen dari Kaisar dengan senang hati.

Ini jauh lebih baik daripada membiarkan stres mereka menumpuk di dalam, dan aku juga bisa membasmi benih-benih penderitaan agar tidak ada anak-anak lain yang bernasib sama dengan mereka.

Tentu saja, bagiku ini murni demi pelampiasan stres dan alasan menggerakkan organisasi rahasia. Masalah membasmi bangsawan korup hanyalah prioritas kedua.

Jadi, aku memberikan perintah—bukan sekadar permintaan—agar mereka segera kabur menggunakan Shadow Walk milik Dark Elf jika nyawa mereka terancam.

Di saat yang sama, aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah bisa menang melawan Kaisar yang sudah terbiasa berurusan dengan berbagai macam intrik.

Melihat semangat para budakku yang sudah berhasil menyudutkan salah satu bangsawan hanya dalam waktu sebulan setelah kuberikan salinan dokumen itu, aku berpikir bahwa mereka pasti sangat stres selama ini. Aku merasa lega telah memberi mereka kesempatan untuk meluapkannya.

── Sisi Marquis Language ──

Apa yang sebenarnya terjadi....

Belakangan ini, aku kehilangan kontak dengan para perantara dari negara lain yang membantuku menyalurkan budak Sub-human dan Beastman ilegal. Ini terjadi secara mendadak dalam sebulan terakhir.

Sial... mungkinkah rahasia ini terbongkar?

Tapi kalau memang begitu, mustahil bagi hukum Kekaisaran untuk menghakimi para perantara di negara lain. Lagi pula, jika ketahuan, seharusnya aku yang ditangkap lebih dulu.

Namun, tidak ada alasan lain yang terpikirkan mengapa seluruh perantara di berbagai negara kehilangan kontak di waktu yang hampir bersamaan.

"Apa yang sebenarnya terjadi...!"

Seberapa sering pun aku menggumamkan itu, jawabannya tidak kunjung datang. Hanya rasa kesal dan cemas yang terus menumpuk.

Memang aku sudah menyewa pengawal untuk situasi seperti ini, tapi para perantara di luar sana pasti juga melakukan hal yang sama.

Apalagi aku mendengar bahwa belakangan ini organisasi bawah tanah dan serikat gelap dihancurkan satu per satu, bahkan organisasi lain yang menangani budak ilegal juga bernasib sama.

Menyewa pengawal tidak membuatku merasa tenang, tapi tidak menyewa pengawal bukanlah pilihan.

Terlebih lagi, putra sulungku, Damian, baru saja masuk sekolah dan langsung menantang duel putra kedua keluarga Westgaph, lalu kalah dan datang menangis padaku.

Benar-benar anak tidak berguna yang hanya menambah masalah di saat seperti ini.

Padahal lawan kita adalah keluarga Adipati. Meskipun dia hanya putra kedua, gelar keluarga mereka lebih tinggi dari kita.

Kenapa dia malah mencari gara-gara dan bukannya mencoba menjadikannya sekutu?

Yang terburuk adalah, kudengar putraku melakukan kecurangan dalam duel tersebut.

Kalau kalah duel, aku masih bisa mentoleransinya. Aku bisa beralasan karena lawannya adalah putra keluarga Adipati.

Tapi kalau dia sendiri yang menantang duel lalu kalah meskipun sudah berbuat curang, aku tidak punya cara untuk membelanya.

Gara-gara itu, fraksi musuh mendapatkan kesempatan emas untuk menjatuhkan namaku dengan dalih: "Anak bertindak sesuai apa yang dia lihat dari orang tuanya. Jika anaknya begitu, mungkinkah keluarga Language juga melakukan kecurangan? Kita harus menyelidikinya."

Kalau aku berada di posisi mereka, aku pasti akan melakukan hal yang sama.

Meski tuduhan itu tidak berdasar, selama masa penyelidikan gerak-gerikku akan terbatas, jadi ini adalah cara yang sangat efektif untuk menggangguku.

"......Kenapa jadi begini!"

Aku hanya bisa memegang kepala sambil berharap ini semua hanya perasaanku saja.

Stres yang menumpuk hari demi hari membuatku merasa seolah akan hancur, dan aku hanya bisa menjambak rambutku sendiri karena frustrasi.

── Sisi Damian ──

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Akademi Sihir Kekaisaran adalah tempat yang menjunjung tinggi meritokrasi.

Di sana, anggota OSIS dipilih hanya dari orang-orang berkemampuan terbaik, sehingga masa depan mereka sudah dijamin cerah.

Aku pun percaya sepenuhnya bahwa aku akan menjadi anggota OSIS, bahkan menjadi ketua OSIS di masa depan.

Untuk mewujudkan masa depan yang sudah dijanjikan itu secepat mungkin, Lawrence adalah target yang sempurna.

Dia berasal dari keluarga Adipati tapi dibuang karena tidak pernah diperlihatkan di pesta mana pun.

Jika aku mengalahkannya dalam duel, aku akan mendapatkan reputasi sebagai orang yang mengalahkan putra Adipati. Itu seharusnya menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan namaku.

Namun kenyataannya, duel itu berakhir dengan kekalahan telak bagiku. Bahkan alat sihir yang kupersiapkan untuk berjaga-jara pun terbongkar. Ini adalah hasil terburuk yang bisa dibayangkan.

"Sialan!! Sial, sial, sial, sial!!"

Apa yang harus kulakukan!?

Belakangan ini Ayah menghentikan tunjangan untukku karena menggunakan uangnya untuk menyewa pengawal pribadi, sehingga aku bahkan tidak bisa membeli wanita bodoh untuk meluapkan stresku.

Ayah sepertinya takut akan sesuatu. Dia khawatir bisnis penjualan budak ilegalnya terbongkar, jadi aku mengerti kenapa dia menyewa pengawal untuk berjaga-jaga. Tapi aku tidak paham kenapa uang jajanku harus dipotong juga.

Mungkin kekalahanku dalam duel juga menjadi salah satu alasannya. Tapi kalau aku membahas itu, dia pasti akan mengungkit kekalahanku lagi, dan itu hanya akan menambah stresku. Ditambah lagi, aku cemas jika Ayah mulai membuangku.

Semua ini gara-gara Lawrence. Seharusnya dengan tingkat sihir yang sama dan bantuan alat sihir, kekuatanku jauh lebih unggul.

Fakta bahwa sihirnya lebih kuat membuktikan bahwa dialah yang berbuat curang, tapi dia malah lolos dengan alasan "kemampuan Skill".

Kemampuan Skill apaan! Mustahil kekuatannya melampaui pemilik Skill Hellfire. Jika dia punya Skill sehebat itu, keluarga Westgaph pasti akan memperkenalkannya sebagai pewaris sah, bukannya Thomas.

Fakta bahwa dia tidak pernah muncul di pesta bangsawan mana pun membuktikan bahwa dia tidak punya Skill semacam itu. Jadi sudah pasti Lawrence-lah yang curang. Namun setelah diselidiki, dia tidak mendapatkan hukuman apa pun. Aku benar-benar tidak terima.

Dan yang paling tidak bisa kumaafkan adalah Shirley. Alih-alih mengkhawatirkanku, dia bahkan tidak sudi mendatangiku.

Padahal aku sudah berniat menjadikannya selir setelah lulus nanti sebagai bentuk kemurahan hatiku.

Sikapnya yang menginjak-injak perasaanku benar-benar membuat kesabaranku habis. Ini seperti digigit oleh anjing peliharaan sendiri.

Saat aku sedang berpikir bagaimana cara menyingkirkan mereka berdua sekaligus, aku teringat sesuatu.

"Kalau tidak salah, sebentar lagi akan ada pelajaran luar ruangan ke dungeon yang dikelola Kekaisaran...."

Sepertinya Tuhan belum meninggalkanku.

"Kukakakakaka!! Akan kubuat kalian menyesal karena telah meremehkanku!! Jika Shirley tidak mau menjadi milikku, lebih baik dia mati saja!! Bersyukurlah karena kau bisa mati bersama Lawrence di akhir nanti!!"

Aku tertawa terbahak-bahak karena merasa keberuntunganku masih belum habis.

── Sisi Sicil ──

"Ini mengerikan...!"

Saat ini kami berada di wilayah yang dikelola keluarga Language atas perintah Guru (tepatnya, kami para budak dan muridnya yang melakukan analisis dan bergerak sebelum Guru sempat mengatakannya).

Meski penguasanya busuk, aku pikir itu tidak akan terlalu berpengaruh pada kehidupan rakyat karena kejahatannya adalah penjualan budak ilegal.

Namun, begitu memasuki wilayah ini, aku bisa merasakan suasana berat dan kurangnya vitalitas.

Desa kami dulu saat masih diserang monster pun masih terasa lebih bersemangat karena kami punya keinginan kuat untuk bertahan hidup.

Namun desa ini terasa sesak, seolah-olah penduduknya sudah kehilangan harapan dan tidak menantikan masa depan apa pun.

"Satu hal yang pasti, ayo kita ke Serikat Petualang dulu!"

"" Baik!""

"Saya mengerti!"

"Oke."

Untuk mengetahui lebih detail apa yang sebenarnya terjadi di wilayah ini, aku menyarankan untuk pergi ke Serikat Petualang, dan rekan-rekan yang ikut bersamaku menyetujuinya.

Kami memang ingin menghukum orang-orang busuk, tapi tujuan utama kami bukanlah sekadar "membasmi orang jahat", melainkan "memahami apa yang diinginkan Guru lalu bertindak untuk membuatnya senang (dan dipuji ← ini penting)". Masalah membasmi penguasa sampah bisa dilakukan kapan saja.

Lalu, apa yang harus kami lakukan?

Jawabannya akan muncul jika kami memikirkan apa yang diinginkan Guru. Ya, Guru menganggap membasmi kejahatan itu penting, tapi dia tidak akan suka jika rakyat menderita akibat hal itu.

Seperti istilah "kejahatan yang diperlukan", tidak semua organisasi atau orang jahat harus dibasmi begitu saja.

Itulah sebabnya saat memberikan salinan dokumen dari Kaisar, Guru berpesan agar kami mencari bukti yang kuat.

Itu bukan sekadar mencari bukti kejahatan, tapi juga untuk menyelidiki "apakah mereka benar-benar layak dibasmi", dan "dukungan apa yang harus diberikan setelah kejahatan itu dibasmi".

Meski sepertinya Guru bakal bilang "Bukan begitu, lho?", tapi sebagai murid nomor satu, aku yakin itulah maksudnya. Aku yang selalu memikirkan Guru setiap hari tidak mungkin salah.

Jadi, alih-alih hanya menyeret penguasa wilayah ini ke depan Guru bersama buktinya, kami mengumpulkan informasi di Serikat Petualang untuk mempertimbangkan kerugian yang mungkin muncul, agar Guru bisa membuat keputusan akhir.

Omong-omong, anggota misi hari ini terdiri dari lima orang: tiga orang Dark Elf (termasuk aku) yang mendapatkan peringkat teratas dalam latih tanding di desa, dan dua orang budak manusia.

Jika hanya berisi Dark Elf, kami akan dicurigai dan sulit mengumpulkan informasi. Jadi, membawa dua budak manusia adalah penyamaran yang bagus.

Dengan begini, meski jumlah Dark Elf lebih banyak, kami hanya akan dianggap sebagai kelompok petualang yang unik saja.

Meski aku sangat sadar bahwa dalam pengumpulan informasi seperti ini cara terbaik adalah "tidak meninggalkan kesan di ingatan lawan", namun ini jauh lebih baik daripada membiarkan para Dark Elf di desa (terutama para wanita) mengamuk karena merasa "Hanya Sicil yang boleh curang!".

Aku benar-benar ingin menghindari Guru melihat sisi memalukan dari warga desaku sendiri.

"Hei, lihat itu... Tiga wanita Dark Elf dan dua wanita manusia, semuanya cantik tingkat tinggi...!"

"Ah, benar-benar level dewi. Dan ada lima orang sekaligus, luar biasa."

"Wajah-wajah baru, sepertinya mereka baru saja sampai di kota ini... Bagaimana?"

"Pakai tanya lagi, sudah jelas kan apa yang harus kita lakukan?"

Begitu masuk ke Serikat Petualang, bisikan-bisikan semacam itu langsung terdengar.

Seandainya saja Guru bisa sejujur pria-pria ini soal nafsu, hidupku pasti akan lebih mudah.

Selama ini aku berpikir "Wajar saja karena dia masih muda", tapi melihat wajahnya yang memerah padam karena malu saat kami mandi bersama tempo hari, aku merasa senang karena dia sudah berada di usia yang mulai menyadari keberadaan lawan jenis.

Aku sempat benar-benar khawatir, bagaimana kalau dia punya kecenderungan menyukai sesama jenis?

Haruskah aku mulai mengembangkan sihir perubahan kelamin sekarang?

Atau kalau itu mustahil, haruskah aku mengasah teknik menyamar menjadi laki-laki?

Karena aku serius memikirkan hal itu, saat tahu dia normal, aku merasa lega sekaligus merasa semangatku berkobar seketika.

Saking bersemangatnya, malam itu aku sampai harus melakukan "pembangkitan energi mandiri" dengan sangat giat.

Terlepas dari itu, alasan mengapa orang-orang di sini begitu terpukau bukan hanya karena kecantikan alami kami, tapi juga berkat produk uji coba yang sedang dikembangkan Guru menggunakan kemampuan para budak.

Sampo dan bilasan khusus rambut, ditambah treatment tanpa bilas membuat rambut kami berkilau.

Kulit kami pun menjadi kenyal dan lembap berkat losion dan emulsi, ditambah kosmetik buatan Guru yang membuat wajah yang aslinya sudah cantik ini jadi berkali-kali lipat lebih menawan.

Aku sempat heran bagaimana Guru bisa melakukan semua ini, dan ternyata dia mendapatkan Skill Search di sebuah dungeon.

Guru merendah dengan mengatakan Skill itulah yang hebat dan bukan dirinya, tapi faktanya dia tahu "Skill bisa didapatkan secara buatan" saja sudah membuktikan betapa luar biasanya dia.

Begitu mendengar caranya adalah dengan "Menaklukkan Dungeon tingkat A atau lebih tinggi", aku baru paham mengapa dunia menganggap mustahil mendapatkan Skill secara buatan.

Di saat yang sama, aku menyadari bahwa Guru telah melakukan pencapaian luar biasa dengan menaklukkan Dungeon tingkat A ke atas.

Prestasi itu pastinya adalah yang pertama dalam sejarah.

Benar-benar Guru kebanggaanku.

"Hei, kalian para wanita. Mau menjalankan quest bersama kami?"

"Kami akan mengajari kalian dengan lembut, lho?"

"Ah! Hei!! Jangan mendahului, dong!! Kami yang menandai mereka duluan!!"

"Hah? Itu kalimatku!! Kami yang akan merekrut mereka, jadi pergilah sana!!"

"Apa...? Mau cari ribut?"

"Hah? Tidur saja sana kalau mau mengigau."

"Kalau berani melawan, kami tidak akan segan-segan, ya!"

Sesuai dugaan, sekelompok orang bodoh muncul untuk mengganggu.

Saat aku sedang menghela napas, dua kelompok lain ikut mencampur dan ketiganya mulai terlibat perkelahian fisik.

Aku mengabaikan para idiot itu dan langsung melangkah ke konter resepsionis.

"Maafkan ketidaksopanannya. Nanti pihak Serikat akan memberi pelajaran keras kepada orang-orang bodoh itu..."

Resepsionis wanita itu tampaknya melihat semuanya.

Dia menghela napas dengan urat kemarahan yang muncul di dahinya.

"Tolong urus mereka. Mengenai keperluanku, apakah ada quest dengan tingkat kesulitan rendah? Kami lelah karena perjalanan panjang... Sambil mencari penginapan, aku ingin menyelesaikan quest yang bisa dilakukan di dalam kota saja untuk hari ini."

"Ah, kalau begitu, bagaimana dengan pencarian kucing peliharaan yang hilang ini?"

"Oh, itu pas sekali. Aku ambil yang itu. Ini Kartu Serikatku."

Mencari kucing hilang adalah cara paling cocok untuk mengumpulkan informasi di kota ini.

Tanpa alasan untuk menolak, aku mengeluarkan Kartu Serikatku, namun saat itu juga si resepsionis mematung.

"Baik, saya mengerti............ Eh, Rank A!?"

"Ma-maafkan saya. Ini pertama kalinya saya melihat petualang Rank A secara langsung..."

"Tidak apa-apa, asal selanjutnya kau lebih berhati-hati. Jadi, apakah Rank A tidak boleh mengambil permintaan ini?"

"Bukan begitu, saya akan segera memprosesnya... Kalau begitu, semoga beruntung dengan permintaannya."

Sepertinya dia hanya terkejut dengan peringkatku. Setelah itu prosesnya lancar dan kami keluar dari Serikat menuju rumah pemohon.

Ngomong-ngomong, pria-pria bodoh tadi sepertinya mendengar kalau aku Rank A.

Mereka langsung menjauh dengan terburu-buru dan bahkan tidak berani menatap mataku. Yah, setidaknya mereka masih punya insting bertahan hidup sebagai petualang.

Padahal kalau mereka bersikeras menggoda, aku mungkin tidak akan membunuh mereka, tapi setidaknya aku akan meremukkan "telur emas" mereka. Kemampuan deteksi bahaya mereka patut dipuji.

Setelah itu, teriakan kemarahan sang resepsionis terdengar sampai ke luar Serikat. Syukurlah mereka diberi pelajaran yang sangat mendalam.

"Sicil-san, bukankah ini sudah saatnya kita segera melakukan eksekusi?"

Setelah mencari kucing hilang sambil mengumpulkan informasi dari warga melalui obrolan santai, rekan budak manusiaku memberikan usul.

Rekan-rekan lain juga menatapku, menunggu jawaban dengan pandangan setuju.

Omong-omong, kucing yang hilang sudah berhasil kutemukan dan kukembalikan ke pemiliknya.

"Ya, aku juga setuju dengan itu!!"

Target kali ini, kepala keluarga Language, Brett Language, benar-benar tidak bisa dimaafkan. Dia secara rutin menggunakan bandit untuk menyerang desa Sub-human dan Beastman untuk dijadikan budak.

Selain itu, dia menaikkan pajak sesuka hati, memberikan keringanan pajak hanya pada orang yang memihaknya, dan menangkap siapa pun yang mengkritik keluarga Language untuk disiksa lalu dieksekusi di alun-alun sebagai peringatan.

Anaknya, Damian, mengumpulkan gadis-gadis yang terpaksa menjual diri karena kemiskinan dengan kata-kata manis, lalu mempermainkan mereka dan melakukan kekerasan sesuka hati.

Bukan itu saja, dia menyita barang milik orang yang tidak disukainya dengan alasan yang dibuat-buat, lalu memberikan tanah tersebut kepada orang pilihannya dan mengusir pemilik aslinya tanpa ampun.

Makhluk yang lebih rendah dari sampah ini sebenarnya tidak punya alasan untuk hidup. Namun, kenyataannya dia adalah penguasa wilayah.

Jika dia tiba-tiba menghilang, tidak akan ada yang mengontrol kota ini dan keadaan bisa menjadi lebih buruk dari sekarang.

Aku teringat ajaran Guru bahwa "Keyakinan bahwa membunuh orang jahat akan membuat segalanya menjadi baik hanyalah fantasi dan teori idealis belaka".

Kemungkinan besar, jika Brett Language dieksekusi sekarang, situasi terburuk yang akan terjadi adalah para bandit yang selama ini dikendalikan keluarga Language dan orang-orang yang selama ini diuntungkan oleh mereka akan lepas kendali.

Mereka pasti akan menyerang warga sipil demi memuaskan nafsu mereka sendiri. Dan jika mereka sampai menguasai kota, habislah sudah.

Warga sipil pasti akan jatuh ke dalam situasi yang jauh lebih mengerikan dari sekarang.

Di sini aku kembali menyadari betapa hebatnya Guru yang telah menyadarkanku akan hal itu. Jika bukan karena ajarannya, aku pasti sudah membantai semua orang jahat tanpa pandu bulu.

Jika tidak ada cara untuk mengubah situasi buruk tersebut, maka keluarga Language bisa disebut sebagai "kejahatan yang diperlukan" (necessary evil).

Karena setidaknya, warga tetap bisa hidup selama mereka berpura-pura tidak melihat para korban dan membayar pajak yang tinggi.

Mungkin keluarga Language sengaja menekan warga sampai batas di mana mereka tidak mati kelaparan tapi juga tidak punya tenaga untuk bersatu melakukan pemberontakan.

Itulah alasan mengapa pihak Kekaisaran tidak bisa bertindak tegas selama ini.

Namun, fakta bahwa Kaisar memberikan dokumen korupsi keluarga Language kepada Guru berarti, dengan kata lain, Kaisar percaya bahwa "Guru mampu melakukan sesuatu terhadap situasi ini".

Benar! Sebelum penguasa baru tiba, kami para budak Guru bisa membentuk korps penjaga keamanan untuk menjaga ketertiban.

Begitu ya, jadi itu maksud Anda, Guru!!

Sekarang aku paham mengapa Guru mengatakan hal itu kepada kami.

Itu artinya Guru sedang mengincar situasi ini sebagai batu loncatan untuk menguasai dunia bawah.

Maksudnya begini: jika keamanan kota ini dijaga oleh korps bentukan para budak Guru, maka warga wilayah ini pasti akan sangat berharap Guru menjadi penguasa mereka selanjutnya.

Tentu saja hal itu akan sampai ke telinga Kaisar yang memberikan tugas ini. Maka wajar jika Guru akan ditunjuk sebagai penguasa baru wilayah ini.

Guru adalah putra kedua, dan karena keluarga Westgaph akan diwarisi oleh kakaknya, Guru pasti menginginkan wilayah sendiri sebagai markas barunya.

Luar biasa, Guru.

Siapa sangka dia tidak hanya ingin mengeksekusi penguasa sampah, tapi sudah melihat jauh ke depan untuk menjadikan wilayah ini miliknya sendiri...!

Aku pun menjelaskan hal tersebut kepada rekan-rekanku dan mulai bergerak demi tujuan Guru.

Eksekusi memang lebih cepat lebih baik, tapi pertama-tama kami harus menghancurkan semua bandit yang bekerja untuk keluarga Language satu per satu.

Dengan begitu, saat Brett Language dieksekusi, tidak akan terjadi situasi terburuk di mana para bandit mengamuk dan menimbulkan korban.

Tentu saja aku bisa meminjam budak tambahan dari Guru untuk mengawasi kota agar bandit tidak mengamuk, tapi jika Guru mengirim kami dan menganggap "jumlah ini sudah cukup", maka sebagai murid nomor satu, aku harus memenuhi ekspektasi tersebut.

Lagipula, apakah menghancurkan bandit dulu atau mengeksekusi penguasa dulu, perbedaannya hanya di urutan saja. Aku tidak boleh merepotkan Guru dengan hal yang tidak perlu.

"……Begitu ya, benar-benar luar biasa, Guru!!"

"Siapa sangka dia sudah memikirkan sejauh itu……"

"Tapi, Sicil-san juga hebat karena bisa menyadarinya!!"

Setelah menyampaikan pemikiran Guru dan rencana ke depan kepada rekan-rekan, kami pun segera berangkat untuk menghancurkan para bandit yang bekerja di bawah keluarga Language.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close