Chapter 4
Perayaan
Niat Jahat
Liburan musim panas telah berakhir, dan semester kedua
pun dimulai.
Halo, aku Reiko Netora.
――Namun, sejujurnya, tidak banyak yang bisa diceritakan
dari kehidupan sekolah sehari-hari.
Sebab, Yuki-kun dan yang lainnya mulai terbiasa dengan
lingkungan baru di SMP. Setelah melewati semester pertama dan liburan musim
panas, hubungan antar teman sekelas pun mulai stabil. Dalam realitasnya, tidak
akan ada kejadian luar biasa yang terjadi di tengah keseharian seperti ini.
Tentu saja, aku tidak melalaikan penyesuaian tingkat
kesukaan Yuki-kun dan yang lainnya.
Untuk Yuki-kun, aku menggunakan rute komedi romantis
cinta murni, di mana mereka menjadi pasangan suci yang bikin gemas karena tak
kunjung jadian.
Sedangkan untuk Fuyuki-kun dan Yuri-chan, aku menyiapkan
kejadian-kejadian ala komedi dewasa yang merangsang hasrat seksual guna
meningkatkan presisi bagan NTR-ku.
Sesekali, sebagai "camilan", aku menempelkan
mejaku dengan meja Yamada-kun si teman sekelas untuk main game online
bareng, atau berbagi camilan enak. Aku berakting layaknya Gyaru baik
hati yang ramah pada otaku demi menghancurkan emosi mereka.
Namun, hal-hal semacam ini bagiku hanyalah potongan
adegan keseharian yang biasa saja, layaknya komik empat panel yang santai.
Jadi, awal semester kedua ini aku jalani dengan kehidupan sekolah yang tenang
tanpa kejadian berarti.
Nah, karena aku memiliki sumber daya waktu yang berlebih,
hanya ada satu hal yang harus kulakukan.
――Benar, penyaringan kandidat selingkuhan (Ma-otoko).
Karena slot "Sahabat Karib" dan slot
"Yuri" sudah aman, targetku selanjutnya adalah... Slot Preman.
Namun, slot preman ini――seperti yang diketahui oleh para
ahli yang mendalami dunia NTR――sangatlah sulit untuk dikelola.
Karena mereka memiliki atribut outlaw, mudah
sekali diprediksi kalau mereka bisa saja terlibat masalah yang tidak ada
hubungannya dengan NTR, lalu keluar dari bagan rencana.
Padahal, biaya membesarkan seorang selingkuhan itu
mahalnya minta ampun. Tidak lucu kalau gara-gara mencuri atau berkelahi, mereka
malah kena skors atau dikeluarkan dari sekolah.
Daripada melakukan hal tidak berguna seperti itu, lebih
baik ajak teman-teman premanmu lalu (Sensor Mandiri) aku di bangunan tua yang
terbengkalai. Aku bahkan akan menyiapkan kamera videonya untuk kalian.
Meski begitu, jika aku memegang kendali terlalu kuat
hingga dia menjadi boneka penurut, maka tidak ada artinya menggunakan
selingkuhan dengan atribut preman. Takaran di bagian ini benar-benar sulit.
Di kehidupan sebelumnya, saat aku merebut pacar dari
seorang Yankee, aku juga sangat kesulitan menyesuaikan situasinya. Yah,
sekarang itu jadi kenangan manis, sih.
Mempertimbangkan segala hal tersebut, langsung mencoba
membuat selingkuhan slot preman tanpa persiapan adalah tindakan yang agak
nekat.
Yah, kalaupun ada sedikit kesalahan, tidak masalah selama
sisanya dilakukan tanpa cacat. Tapi ada pepatah yang bilang, "biar lambat
asal selamat". Aku memutuskan untuk melangkah dengan hati-hati.
Oleh karena itu, sebagai latihan, aku mencoba memproduksi
beberapa prototipe selingkuhan preman terlebih dahulu.
"Kamu selalu ada di sini ya?"
"――Hah?"
Terkadang, aku menggoda cowok nakal yang kelihatan gabut
di pusat permainan (game center) yang lingkungannya agak buruk.
"A-Anu, terima kasih banyak..."
"……Cih, aku memukul mereka cuma karena aku kesal
saja. Bukan buat nolongin kamu."
Terkadang, di gang belakang tempat pria-pria berandal
berkumpul, aku sengaja dikejar oleh cowok playboy lalu lari ke arah
targetku.
"To-Tolong. Ke-Kembalikan kartu pelajarku."
"Kukuku, jangan takut begitu, dong? Aku cuma minta
ditemani sebentar, kok?"
Terkadang, aku membiarkan kartu pelajarku (barang palsu
buatan tangan) direbut, lalu aku menempel padanya sambil menuruti permintaannya
dengan gemetar.
Yah, dengan mencoba membuat beberapa prototipe seperti
itu, aku berhasil mengumpulkan pengetahuan tentang cara "menempa"
selingkuhan tipe preman.
Ngomong-ngomong, prototipe-prototipe yang kubuat ini
memang tidak berniat kumasukkan ke dalam bagan rencana sejak awal, jadi aku
melepaskan dan membuang mereka di waktu yang tepat.
Intinya, mereka hanyalah pion percobaan atau hewan
laboratorium.
Sebagian besar dari mereka menerima ini sebagai lembaran
masa muda yang pahit, dan kami bisa berpisah dengan cukup damai. Namun, tentu
saja ada juga tipe yang menggunakan kekerasan atau ancaman untuk memaksaku
melakukan hubungan fisik.
Bagus, bagus sekali~~! Memang slot preman tuh harusnya
begini~~!
Secara pribadi, aku lebih terkesan pada mereka
dibandingkan dengan para Yankee kalem yang berpisah denganku dengan
sopan.
――Namun sayangnya, aku sudah memutuskan kalau kisah utama
NTR baru akan dimulai saat SMA nanti.
Kalau cuma diancam lalu melepas seragam dengan gemetar
sih masih bisa kutoleransi, bahkan aku sempat mencobanya sebagai kasus uji
coba. Tapi, untuk melakukan hubungan badan yang sesungguhnya adalah No Go.
"――Hah?"
Aku mencengkeram bagian belakang kepala si prototipe yang
hendak menyentuh pakaian dalamku, lalu membenturkannya ke dinding bangunan tua
itu.
Pria itu langsung pingsan dalam sekejap dan
tersungkur ke tanah. Wanita Netorare yang sempurna harus memiliki
kekuatan fisik yang cukup untuk mengendalikan situasi. Mana mungkin ciptaan
bisa menang melawan penciptanya!
Setelah itu, aku meninggalkan berbagai catatan berisi
informasi berbahaya bagi pria tersebut di posisi yang akan terlihat saat dia
sadar nanti.
Isinya menyampaikan pesan dengan halus: 'Kalau sayang
nyawa, lupakan semuanya'.
Yah, mungkin saja dia tidak patuh, tapi kalau itu
terjadi, aku tinggal mendidiknya dengan lebih keras lagi. Sedikit merepotkan,
tapi bukan berarti sebuah kegagalan.
Lagi pula, aku memilih bahan yang mudah dikendalikan
untuk dijadikan prototipe. Wanita Netorare yang sempurna tidak akan
lalai dalam urusan pasca-kejadian.
Dengan begini, pembuangan para prototipe nakal pun
selesai.
Rasanya sedikit menyenangkan diperlakukan dengan
kasar, pengalaman yang tidak bisa kudapatkan dari Fuyuki-kun atau Yuri-chan.
Namun, mereka hanyalah model percobaan awal. Karena mereka cuma "camilan" sebelum hidangan utama, aku tidak boleh memakan mereka sampai kenyang.
Sedihnya.
Aku tertunduk lesu.
Meski aku sedang menikmati keseharian yang santai dan
imut, akhirnya ajang rutin dalam kehidupan sekolah pun mulai mendekat.
Benar,
festival budaya.
◆◆◆
"——Festival
budaya?"
"Iya! Sebentar lagi akan diadakan di sekolah.
Aku tidak sabar, lho!"
Sambil berkata begitu, sepupuku yang berlagak riang
seperti anak kecil itu terpampang di layar ponselku, Gunung Sancha Chihiro—atau
panggil saja aku Chihiro—sedang memperhatikannya.
Atas permintaan Rei yang bilang, "Sesekali aku
ingin melihat wajah Chi-chan," aku pun menggunakan fitur panggilan video
yang jarang kupakai ini untuk bertatap muka dengannya beberapa kali dalam
sebulan.
Yah, sejujurnya, bisa mengobrol sambil melihat wajah
gadis yang diam-diam kusukai ini membuatku cukup senang, tapi... seperti biasa,
perempuan ini terlalu tidak waspada.
"Terus ya, sebenarnya aku ingin mencoba buka
kafe, tapi sudah diputuskan kalau anak kelas satu dilarang membuat stan
makanan—"
Sepertinya dia baru selesai mandi. Dengan kaus tipis
dan celana pendek yang mengekspos kakinya dengan sangat jelas, sosok Rei
benar-benar racun bagi mata seorang perjaka.
Meski aku ini sepupunya, kenapa dia bisa sevulgar ini
di depan laki-laki yang hanya berbeda satu tahun darinya?
Jangan-jangan di sekolah pun dia bersikap begini di depan
laki-laki lain? Hal itu membuatku yang sedang dilanda cinta bertepuk sebelah
tangan jarak jauh ini merasa was-was.
Lama-lama, dia bisa benar-benar dimangsa oleh laki-laki
hidung belang.
"Chi-chan, aku perkenalkan ya! Ini pacarku,
Ma-kun!"
"Yoo. Gue cowoknya Rei."
——Aku membayangkan Rei dikelilingi oleh pria berandalan
yang tampak seperti sampah masyarakat, sampai-sampai suara aneh
"Oaaagh" hampir lolos dari mulutku.
"——Iih, kamu dengar tidak sih? Chi-chan?"
"Eh, ah, dengar kok, dengar."
Melihatku yang melamun, Rei mendekatkan wajahnya ke
layar ponsel dengan raut muka kesal.
Pandanganku tersedot ke bagian leher kausnya yang
longgar, memperlihatkan berbagai hal yang seharusnya tidak kulihat. Tapi
karena ini lewat kamera ponsel, arah mataku tidak akan ketahuan, jadi aku pun
menatapnya lekat-lekat tanpa ragu.
Hanya mereka yang belum pernah punya niat mesum pada
sepupu cantiknya yang boleh menertawakanku sebagai 'pria menyedihkan'.
Coba rasakan jadi aku, yang emosinya hancur karena punya
kerabat yang fisiknya seperti karakter komik dewasa begini.
...Jujur saja, aku merasa ini sebuah keberuntungan, tapi
di sisi lain aku gemetar ketakutan karena merasa seleraku akan rusak dan hanya
bisa bergairah pada tipe 'kakak perempuan yang anggun'.
"Haaah...
Seandainya rumah Chi-chan dekat, aku ingin kita kencan di festival budaya
bersama..."
Aaakh!! Benar-benar deh, kamu ini! Justru bagian itulah yang
berbahaya! Kamu!!
Meski
tahu dia hanya menggodaku, kata-katanya tetap membuat jantungku berdegup
kencang.
Sepertinya
dia ingin menambah 'kakak perempuan licik' ke dalam daftar fantasiku. Apa dia
pikir selera seksual orang itu mainan?
Setelah
berguling-guling sekitar delapan belas kali di dalam hati, aku memasang wajah
jengkel tanpa menunjukkan perasaan asliku sedikit pun.
"Naik Shinkansen jauh-jauh cuma buat menjagamu? Itu
sih namanya hukuman."
"Ja-jahat! Chi-chan, aku ini kakakmu, lho! Aku lebih
tua!"
Aku benar-benar menikmati momen bercanda dengan Rei, tapi
waktu yang menyenangkan memang berlalu dalam sekejap. Aku merasakannya dengan
perih setiap kali melakukan panggilan video dengannya.
"Ah, sudah jam segini. Kalau begitu, aku tidur dulu
ya."
"Kamu tidurnya cepat sekali. Baru juga jam
sembilan?"
"Kurang tidur itu musuh utama kecantikan kulit.
Bagaimanapun juga, aku ini kan gadis remaja."
"Terserah
deh. Ya sudah, sampai nanti."
Sambil tertawa kecil, aku hendak mematikan sambungan
telepon saat Rei bergumam pelan.
"……Seandainya Chi-chan tinggal di dekat sini,
pasti menyenangkan."
"—————!"
Suara kesepian itu terdengar samar dari pengeras suara.
Hal itu, akulah yang paling merasakannya.
Seandainya aku bisa berada lebih dekat dengan
Rei——tidak, seandainya meski jauh pun aku punya kekuatan untuk menemuinya
dengan mudah, alangkah indahnya itu.
Aku benar-benar membenci diriku yang masih anak-anak,
yang bahkan tidak bisa membeli tiket Shinkansen dengan uang sendiri.
Aku ingin cepat dewasa.
Aku ingin menjadi sosok yang dipandang Rei sebagai
seorang "pria", bukan sekadar adik sepupu.
Entah apa yang Rei pikirkan saat melihat ekspresiku
yang mengatupkan gigi rapat-rapat, tapi dia memasang senyum cerah yang tampak
dipaksakan.
"……Bercanda,
deng! Maaf ya, Chi-chan. Aku bicara yang aneh-aneh. Kalau aku membuat adik
sepupuku yang lucu ini bingung, aku gagal jadi kakak, dong."
"……!
A-aku...!"
——Setidaknya,
aku ingin menunjukkan harga diriku. Agar aku bisa mengejarnya sedikit lebih
cepat.
"Aku
tidak pernah menganggap Rei sebagai 'kakak' sekalipun, tahu!"
"Eeeh!?
Ke-kenapa tiba-tiba menghinaku begitu!?"
"Habisnya tiap hari kamu memperlakukanku seperti
anak kecil terus! ……Lihat saja, tinggi badan atau apa pun, aku akan segera
melampauimu! Tunggu saja saat itu tiba!"
"Chi, Chi-chan?"
Sambil mengabaikan Rei yang kebingungan, aku mematikan
sambungan telepon secara sepihak.
"……Aaaah, sial. Wajahku panas sekali... Mana bisa
tidur kalau begini..."
Aku membenamkan wajahku ke bantal untuk menyembunyikan
rona merah yang membara.
Padahal besok harus bangun pagi, aku khawatir tidak bisa
memejamkan mata...
Hari itu, aku bermimpi buruk yang tidak masuk akal
tentang dimangsa oleh belalang sembah betina.
Entah kenapa musik latarnya terasa seperti suara tawa
Rei, tapi seperti kebanyakan mimpi, beberapa menit setelah bangun, aku sudah
tidak bisa mengingat detail mimpi buruk itu lagi.
◆◆◆
"——Karena itulah, kegiatan kelas 1-B untuk festival
budaya nanti adalah Rumah Hantu!"
Di tengah keriuhan kelas yang mendadak ramai karena
pengumuman ketua kelas, aku—Kurishima Fuyuki—memanggil Yuki yang duduk di
belakangku.
"Rumah hantu untuk festival budaya, klise sekali
ya."
"Bukankah itu berarti rumah hantu adalah
primadonanya? Kelihatannya seru, jadi tidak apa-apa kan."
"Yah, benar juga sih. Omong-omong, apa klub sastra
tidak mengadakan sesuatu?"
"Eeeh... guru pembimbing kami itu orangnya sangat
malas——yah, bisa dibilang dia perwujudan dari sikap masa bodoh. Katanya kami
cuma perlu memajang puisi atau novel hasil kegiatan bulanan di ruang klub
saja."
Dari belakang Yuki yang sedang tersenyum kecut, Rei
datang bersama Shirase dan ikut dalam percakapan kami.
"Yah, bukankah itu bagus karena kamu jadi bisa fokus
ke kegiatan kelas? Fuyuki-kun sendiri, apa klub sepak bola tidak melakukan
apa-apa?"
"Ah, kami tidak ada apa-apa. Lagipula, biasanya yang
buat pertunjukan itu cuma klub dansa."
"Kalau begitu, Fuyuki-kun juga bisa konsentrasi
penuh di kelas. Aku mengandalkanmu ya, wahai anak atletis~?"
Setengah bercanda, Rei memijat bahuku seolah sedang
memberi apresiasi.
Sambil menyembunyikan degup jantung karena aroma manis
yang samar-samar tercium, aku menjawabnya dengan asal, sementara Yuki menatap
Rei dengan wajah cemberut.
"Rei-chan? Aku juga merasa sekarang sudah bisa lebih
diandalkan dibanding dulu, lho..."
"Ahaha, tentu saja aku juga mengandalkan Yuu-kun,
kok! Aku akan mendukungmu bersama Yuri-chan."
"Hei, kamu juga harus bantu."
Begitulah, persiapan kami menuju festival budaya pun
dimulai.
"Kalau begitu, Kurishima dan yang lain, tolong
belanjakan ini ya. Ini daftarnya."
"Oke."
Setelah pulang sekolah, tim belanja yang ditugaskan ketua
kelas——yaitu kami berempat, termasuk Yuki, Rei, dan Shirase—mengunjungi pusat
perbelanjaan di dekat sekolah.
"Kalau terlalu santai, tidak enak dengan yang lain.
Bagaimana kalau kita bagi dua kelompok saja supaya cepat selesai?"
Aku mengangguk setuju pada usul Rei, lalu mendekati Yuki
sambil memegang peta lantai.
"Benar juga. Kalau begitu aku dengan Yuki, lalu Rei
dengan Shirase—"
"Untuk apa sesama laki-laki berkumpul begitu.
Barangnya pasti akan cukup berat, jadi bagi saja menjadi pasangan laki-laki dan
perempuan, kan? Nah, aku sudah siapkan undiannya, ambil satu-satu ya."
"……Kamu sudah menyiapkan ini sebelumnya, ya?"
"Mumpung ada kesempatan, persiapannya juga harus
dinikmati, kan? ♪ Di ujung kertasnya ada tandanya, jadi yang punya tanda sama
akan jadi pasangan, oke?"
Biasanya Rei adalah orang yang cukup tenang dan tampak
seperti murid teladan, tapi di depanku dan Yuki, dia benar-benar menjadi
kekanak-kanakan. Merasakan dadaku menghangat karena fakta bahwa dia begitu
terbuka pada kami, aku pun mengambil undian dari tangannya.
"Kalau begitu, aku dan Shirase-san akan memutar dari
Gedung Barat, jadi Fuyuki-kun dan Rei-chan tolong bagian Gedung Timur,
ya?"
"Sip, kalau belanjaan selesai kita kumpul di lobi
depan."
"Yuri-chan, sampai nanti ya—"
Hasil undiannya, aku berpasangan dengan Rei, sedangkan
Yuki dengan Shirase.
Meski ini hasil acak, fakta bahwa aku bisa berduaan
dengan Rei memunculkan sedikit rasa superioritas yang gelap terhadap Yuki,
namun aku segera menepisnya dengan rasa bersalah.
"——Kalau begitu, ayo berangkat?"
"Iya. Ah, boleh aku lihat daftar belanjanya?"
Setelah mengantar kepergian Yuki dan yang lainnya menuju
Gedung Barat, kami mulai berjalan ke arah berlawanan.
"Eee-to, Yuu-kun dan yang lain ke arah toko
bangunan... jadi kita ke toko serba seribu dulu saja kali ya. Ayo,
Fuyuki-kun."
"——!?"
Rei yang tadinya melihat daftar belanja, tiba-tiba
menggandeng lenganku erat seolah sedang menuntunku. Merasakan sensasi daging
yang lembut di sekitar sikuku, aku refleks mengatupkan geraham.
……Seperti biasa, jarak pribadinya benar-benar kacau.
Kalau ditanya senang atau tidak, tentu saja tidak
perlu dijawab, tapi rasa malu tetap lebih mendominasi.
Aku pun melepaskan lengannya, tanpa bersikap kasar.
"……Ke-kenapa kamu tiba-tiba menempel begini
padahal kita sedang belanja."
"Eh? Habisnya tangan kita kan masih kosong... Ah,
jangan-jangan kamu malu ya?"
Melihat Rei yang menyeringai nakal, aku yang sedikit
kesal memutuskan untuk membalasnya.
"Kamu sendiri apa tidak malu? Setelah dadamu dilihat
di kolam renang waktu itu, sekarang malah menekankannya ke lenganku."
"………………"
Dalam sekejap, wajah Rei memerah padam seperti apel.
Aku sendiri sebenarnya ikut merasa malu, tapi biarlah
kita hancur bersama. Sesekali kamu harus merenungi jarak pribadimu yang kacau
itu.
"Ti-tidak aku tekankan, kok! Fu-fuyuki-kun, kamu
benar-benar tidak punya kepekaan ya soal begini!?"
"Maaf deh kalau begitu, maklum saya ini kan anak
atletis yang kasar. Omong-omong, apa dadamu makin besar lagi? Sepertinya sudah
tidak jauh lagi untuk mengejar Shirase."
"PARAAAAAH! Fuyuki-kun!! A-aku sih tidak masalah,
tapi kalau kamu bicara begitu ke perempuan lain, kamu bakal dibenci oleh orang
yang kamu sukai, tahu!!"
Sambil berkata begitu, Rei berjalan mendahuluiku dengan
bahu yang naik turun karena kesal.
Namun, fakta bahwa dia tidak meninggalkanku sendirian dan
selalu menoleh ke belakang untuk memastikan posisiku setelah berjalan beberapa
jarak, membuatku tersenyum kecut melihat kebaikannya.
"……'Aku sih tidak masalah', ya……"
Aku bergumam pelan, meresapi kata-katanya barusan.
"……Terserahlah. Mau dianggap apa pun oleh perempuan
selain Rei, aku tidak peduli."
Setelah menghela napas panjang, aku mempercepat langkah
mengejar punggung orang yang kucintai itu sambil memikirkan cara untuk
memperbaiki suasana hatinya.
"Hah... hah... ca-capek sekali..."
"Re-rei-chan... kamu tidak apa-apa...?"
"Yu-yuri-chan sendiri... ah, aku meremehkan kain,
kukira tidak akan seberat ini..."
Setelah kembali dari belanja di mall, aku tersenyum kecut
melihat Rei dan Shirase yang terkapar di sudut kelas, lalu menggunakan alas
tulis sebagai kipas untuk mereka.
"Aaah~~ segarnya~~..."
"Re-rei-chan... suaranya tolong kecilkan
sedikit..."
"Ups, ehemm... terima kasih ya, Fuyuki-kun. Padahal
sudah Oktober, tapi masih panas saja ya~"
"……Iya juga. Nah, jangan dipaksakan."
Sambil membuang muka dari Rei yang dengan tidak waspada
mengibas-ngibaskan kerah kausnya, Yuki kembali dengan membawa empat botol
minuman yang dibelinya dari mesin penjual otomatis (katanya sebagai imbalan
untuk tim belanja).
"Ini,
Rei-chan. Shirase-san dan Fuyuki-kun juga."
"Oh, makasih."
"Terima kasih, Tachibana-kun."
"Makasih
ya, Yuu-kun. ……Fuuuh, akhirnya tenang juga."
Setelah
meminum seteguk teh tanpa gula, wajah Rei akhirnya terlihat lebih baik. Aku pun meneguk minuman bersoda sambil iseng melihat daftar belanjaan.
Kain. Cat. Kayu. Kardus. Dan lain-lain...
……Ya, ini bukan jumlah barang yang seharusnya dibeli oleh
empat orang. Yah, sebenarnya ada tim belanja lain, tapi tetap saja porsinya
sebanyak ini.
Mungkin kecerobohan dalam perhitungan seperti ini juga
bagian dari keseruan festival budaya, pikirku mencoba bersikap dewasa.
"Benar kata Shirase, untung kita pinjam troli.
Lagipula, harusnya kau dan Shirase serahkan saja urusan angkat-angkat barang
padaku dan Yuki."
"Jangan bicara hal yang membosankan begitu.
Berjuang bersama-sama itu kan inti dari festival budaya, iya kan?"
"Masa sih?"
Setelah menghabiskan tehnya, Rei yang keringatnya
sudah mengering pun berdiri dengan penuh semangat.
"——Oke, aku sudah pulih! Semuanya, ada yang bisa
kubantu!?"
"Oh, kalau begitu Netora-san, tolong bantu
Yamada di sana buat membongkar kardus jadi lembaran rata ya—"
"Siap! Yamada-kuuun!"
Aku melihat Rei yang tingkat semangatnya naik dua
puluh persen dari biasanya itu menempel pada teman sekelas kami, Yamada.
Rei memang sangat menyukai acara-acara seperti ini.
Karena dia sangat suka merencanakan maupun berpartisipasi, aku dan Yuki sudah
sering diseret ke sana-kemari olehnya sejak zaman SD.
……Kalau dipikir-pikir, sejak dulu kami bertiga selalu
bersama dalam melakukan apa pun.
Padahal mungkin ada saat-saat di mana Rei ingin berduaan
saja dengan Yuki. Tapi dia seolah bersikeras untuk tetap bertiga. Sekarang
ditambah Shirase jadi berempat.
Seolah-olah, dia lebih mementingkan persahabatan daripada
perasaan cintanya sendiri.
Setiap kali melihat sosok Rei yang seperti itu... aku mau
tidak mau menyadari betapa buruknya diriku yang mencoba memprioritaskan
perasaan cinta pada Rei daripada persahabatan dengan Yuki dan yang lainnya.
Meskipun begitu, aku tetap tidak bisa menyerah pada Rei.
……Jika saatnya tiba, meski harus merebutnya dari Yuki
sekalipun——
"Fuyuki-kun?"
"——Hm, ah, maaf. Tadi aku melamun sebentar. Kita
tadi bicara apa?"
……Apa yang sedang kupikirkan tadi?
Tepat saat pikiran gelap hampir memenuhi otakku, suara
Yuki menyadarkanku kembali.
"Kami baru saja bicara dengan Shirase-san kalau kita
juga harus mulai membantu sesuatu. Ayo, Fuyuki-kun."
"Oh, oke. Shirase juga tidak apa-apa?"
"Iya. Setelah minum, aku merasa jauh lebih baik,
jadi jangan khawatir."
"Sip. Ketua, kasih kami tugas dong—"
……Yuki adalah temanku. Sahabat yang sangat cocok
denganku.
Tapi, bukankah itu hanya karena ada Rei di antara kami?
Bukankah aku tetap berteman dengan Yuki hanya karena ada
dia?
Hanya karena niat tersembunyi ingin mendapatkan Rei——
……Bukan. Aku ingin percaya kalau itu salah.
Dan hari ini pun, aku kembali tersenyum sambil
menyembunyikan isi hatiku yang kotor dan buruk.
——Sambil berharap agar Rei maupun Yuki tidak
menyadari jati diriku yang menjijikkan ini.
◆◆◆
——Pasti dia berpikir begitu, ya.
Sambil memotong kardus dalam jarak yang membuat
bahuku bersentuhan dengan Yamada-kun, aku——Reiko Netora——sedang menikmati
kegalauan Fuyuki-kun yang terjepit di antara persahabatan dan cinta.
Berkat kemampuan observasi khas wanita perebut pacar
orang, aku bisa menikmati emosi negatif para pria selingkuhan ini tanpa harus
turun tangan langsung. Aaah, lezat sekali.
"Netora-san, kamu kenapa?"
Aku memang agak aneh, tapi itu keterlaluan lho,
Yamada-kun.
Yamada-kun menatapku curiga karena aku baru saja
menahan otot wajahku yang hampir menyeringai licik.
Gawat, gawat. Belakangan ini karena semuanya berjalan
terlalu lancar, kendali diriku jadi mengendur.
Aksi tikung-menikungku ini kan baru akan terjadi tiga
tahun lagi. Kalau sampai sifat asliku terbongkar di sini, bisa-bisa namaku
sebagai pelari jalur NTR tercoreng.
"……Hm? Apa ada yang aneh denganku?"
Pokoknya gunakan wajah cantik ini untuk mengalihkan
perhatian. Aku menatap Yamada-kun sambil sedikit memiringkan kepala
dengan ekspresi polos.
"Ah... ti-tidak. Mungkin cuma perasaanku saja.
Jangan dipikirkan."
"Eeh, apa sih, jadi penasaran lho. Pasti ada
sesuatu, kan?"
"Hei, Netora-san. Aku
sedang pegang cutter, jadi jangan terlalu menempel begitu...!"
Hanya dengan ditempel oleh gadis yang disukainya,
kecurigaan Yamada-kun langsung buyar begitu saja. Gampang sekali.
Memang kalau modal fisiknya sudah tinggi, lebih baik
menggunakan kekuatan kasar daripada memutar otak. Mereka yang sok pintar dan
mencoba membuat rencana sempurna biasanya malah hancur dan tersandung di tengah
jalan. Bukankah perkembangan cerita seperti itu sudah terlalu sering dipakai di
komik?
Aku berbeda dari penjahat kelas tiga yang menjilat
bibir di depan mangsanya. Aku akan mengambil setiap kemenangan yang sudah ada
di depan mata. Gemetarlah kalian dalam tidur...!
Nah, persiapan festival budaya memang penting, tapi
aku juga harus mulai memikirkan jadwal dan persiapan untuk hari-H. Ada banyak
sekali yang harus dikerjakan.
Aku menatap Yuu-kun dan Fuyuki-kun yang sedang
mengayunkan kuas cat bersama-sama di ujung kelas, lalu menjilat bibirku melihat
mangsa kualitas super yang ada di hadapanku.
◆◆◆
"——Hup. Ketua, apa ini semua kayu lapisnya?"
"Makasih Kurishima. Karena tempatnya masih
disiapkan, taruh saja dulu di pojok sana~"
"Sip."
Setelah membawa kayu lapis yang akan digunakan sebagai
lorong rumah hantu ke sudut kelas, aku—Kurishima Fuyuki—menyeka keringat di
dahiku.
Meski sudah Oktober, mengangkat barang besar begini
tetap saja membuat gerah. Saat aku sedang mengipas-ngipas wajah dengan tangan,
Yuki datang membawa kotak kardus.
"Fuyuki-kun, kamu tahu tidak perkakas ini asalnya
dari mana?"
"Hm?
……Maaf, aku tidak tahu. Coba tanya ketua—"
"Baaaa~~"
""Waaaaaa!?""
Tiba-tiba,
dari titik buta di balik kotak kardus, sesosok wanita berpakaian putih dengan
ikat kepala segitiga——Rei yang berdandan menjadi hantu klise——menyelinap di
antara kami.
"Kaget,
ya?"
"Re,
Rei-chan... jangan menakut-nakuti orang yang sedang bawa barang, dong."
"Wah, karena rambutmu panjang, kamu cocok sekali
jadi hantu."
Padahal itu hanya kostum putih murah yang sepertinya
dibeli di toko diskon (memang murah sih, cuma seribu yen), tapi karena wajah
Rei pada dasarnya cantik, auranya jadi terasa cukup kuat. Meski begitu, si
pemakai kostum sepertinya agak tidak terima.
"Muu, dibilang cocok jadi hantu itu rasanya rumit.
Ah, Yuu-kun. Kotak itu tadi dibawa dari ruang laboratorium, kok."
"Ah, begitu ya. Terima kasih Rei-chan, aku antar
dulu ya."
"Hati-hati ya~"
Setelah mengantar kepergian Yuki yang membawa kotak
kardus, Rei berbalik ke arahku.
"Fuyuki-kun juga, terima kasih atas kerja kerasnya.
Tapi, ketua bilang kamu bekerja terlalu keras, jadi 'suruh dia istirahat
sebentar'."
"Hm, benarkah? Kalau dibanding klub sepak bola,
tenagaku masih sisa banyak, sih... tapi ya sudah, aku terima sarannya, mau
istirahat sebentar."
Melihatku yang melakukan peregangan ringan, Rei
mengangkat tangan dengan gaya teatrikal.
"Iya, iya! Untuk Fuyuki-kun, ada kabar gembira.
Katanya sekarang anak-anak yang buka stan makanan sedang membagikan sampel
percobaan di ruang tata boga. Ayo kita intip sedikit."
"Ah, pantas saja di koridor tercium bau manis.
……Tapi, apa tidak apa-apa kamu bolos?"
"Ini bukan bolos. Aku juga sudah bekerja keras, kok.
Lagipula aku dapat perintah untuk keliling dengan kostum ini sekalian
promosi."
Rei berkata begitu sambil mendorong punggungku dengan
kuat.
Aku tersenyum kecut melihat tingkahnya, lalu
membiarkan diriku didorong oleh lengan kurusnya menuju ruang tata boga.
"Ngomong-ngomong, mana Shirase? Biasanya kamu
selalu mengajaknya kalau ada acara begini."
"Ah... itu, Yuri-chan juga kan dapat peran hantu.
Aku sudah mengajaknya keliling sekolah pakai baju putih begini buat promosi...
tapi katanya dia malu kalau harus berkeliaran pakai kostum..."
"Ah,
memang bukan gaya Shirase sih."
"Ya
kan. Padahal Yuri-chan itu cantik, harusnya lebih percaya diri sedikit. Yuu-kun
juga kelihatannya sibuk, jadi maaf ya buat mereka berdua, sekarang waktunya
camilan untuk kita berdua saja."
——Benar.
Sekarang, aku dan Rei hanya berdua.
Begitu memikirkan hal itu, meski merasa bersalah pada
Yuki, aku melontarkan kata-kata untuk melangkah lebih dekat pada Rei.
"……Anu, Rei."
"Hm? Ada apa, Fuyuki-kun?"
"……Fa-festival budayanya. Mau berkeliling berdua
denganku?"
Mendengar pertanyaanku, Rei memasang wajah terkejut.
"I-itu! Begini! Jadwal piket Shirase dan Yuki
kan beda dengan kita, kan? Di waktu kita tidak bisa berkumpul berempat, kurasa
tidak buruk juga kalau kita keliling berdua!"
……Diriku yang payah ini malah langsung memasang
berbagai benteng pertahanan.
Seandainya aku punya kepribadian yang bisa berkata
jujur 'Aku ingin bersamamu', alangkah indahnya itu.
"……A-atau, kamu sudah ada janji dengan orang
lain...?"
"Eee-to... aku belum bilang sih, tapi sebenarnya
aku memang berniat keliling bersamamu, Fuyuki-kun..."
"——Heh?"
Mendengar jawabannya, suara aneh keluar dari mulutku.
Rei sendiri tampak goyah karena kata-kataku, dan mulai
memilin ujung rambut hitam panjangnya dengan jari.
"Ah……
be-begitu ya. Maaf ya, Fuyuki-kun…… Aku pikir karena kita sahabat baik, kamu
bakal mau menemaniku main meski aku tidak bilang apa-apa…… Ja-jadi begitu ya.
Ternyata di matamu, posisiku cuma sebatas itu ya……"
Rei
tersenyum pahit dengan raut wajah melas, seolah dia baru saja menyadari kalau
hubungan kami tidak sedekat yang dia kira.
Melihatnya seperti itu, aku pun panik dan berusaha
meralat ucapanku.
"Ti-tidak!
Bukan begitu…… ma-maksudku bukan——"
"……Bercanda,
deng! Apa aku agak keterlaluan menggodamu tadi?"
"Hah!? Ka-kamu ini ya……"
Melihat ekspresi Rei yang berubah drastis kembali ceria,
aku merasa antara lega dan kesal sampai wajahku memerah.
Sejak dulu aku tahu dia memang ahli mempermainkan
perasaan orang, tapi kali ini dia benar-benar agak jahat. Aku menatapnya tajam
sebagai bentuk protes, tapi dia hanya tertawa cekikikan.
"Maaf, maaf. Tapi soal aku berniat keliling
bersamamu itu benar, kok! ……Dan soal aku sedikit terkejut tadi juga bukan
bohong."
"Maksudmu..."
"Ah, maaf. Cara bicaraku jadi menyebalkan lagi ya.
……Payah ya aku ini. Mentang-mentang Fuyuki-kun baik, aku jadi manja terus. Aku
sampai berpikir kamu akan selalu ada di sisiku meski aku tidak bilang
apa-apa……"
Melihat Rei tersenyum kesepian seperti itu, hatiku
rasanya seperti diremas-remas.
……Bukan begitu.
Yang selalu ingin bersama——yang berharap bisa selalu
berada di sisinya itu bukan dia. Tapi aku.
Aku ingin mengatakannya. Ingin menunjukkannya lewat
tindakan.
Didorong oleh dorongan hati, aku mengulurkan tangan,
hendak memeluk tubuhnya yang ramping itu.
Namun, sebelum tanganku sempat menyentuhnya, tubuhnya
bergeser menjauh dengan luwes layaknya hantu sungguhan.
"Aaaah, tidak boleh, tidak boleh! Festival
budaya kan harusnya menyenangkan, tidak boleh pasang muka suram begitu! Ayo
makan yang manis-manis biar semangat lagi!"
——Tanpa kusadari, kami ternyata sudah sampai di depan
ruang tata boga.
Dengan langkah ringan, Rei mendekati murid yang
sedang membagikan sampel percobaan. Dia menerima dua cup kertas berisi kue
dan kembali ke sampingku.
"Nih, bagian buat Fuyuki-kun. Hati-hati ya, mungkin
masih panas."
Di dalam cup kertas yang kuterima, ada kue bulat seukuran
bola pingpong——baby castella.
Dengan linglung, aku memasukkan satu kue itu ke mulut
menggunakan tusuk gigi.
Rasa manis yang sederhana itu seolah menyamarkan rasa
pahit di dalam hatiku. Aku pun hanya bisa tersenyum kecut.
"Uuuhm, enak banget!"
Aku mendengar suara Rei dari sampingku.
"Enak ya, Fuyuki-kun!"
"……Haha, iya benar."
Rei menatap wajahku sambil tersenyum riang.
——Apa aku baik-baik saja? Apa senyumku terlihat
natural?
Senyum kesepian Rei tadi masih terbayang di benakku.
Aku tidak ingin membuatnya khawatir.
Aku adalah sahabat baik Rei, sosok tempatnya bisa
bersandar……
Untuk saat ini, biarlah begini saja. Demi menjaga
hubungan yang nyaman baginya……
Entah dia menyadari perasaanku atau tidak, senyuman Rei
justru semakin lebar.
"Iya, iya. Benar-benar sangat…… Sa ngat Le
zat, lho. Fuyuki-kun."
Sambil menatap lekat wajahku, Rei mengomentari rasa baby
castella itu.
Kalau dia sesenang itu, si pembuatnya pasti akan merasa
sangat bangga.
"Kalau memang seenak itu, bilang saja pada orang
yang membuatnya. Mereka pasti senang."
"Iya, kamu benar. Aku harus berterima kasih pada
orang yang sudah memberiku hidangan lezat—pada Fuyuki-kun—kan?"
"……? Ah, iya juga."
Aku merasa ada sedikit kejanggalan dalam kata-katanya,
tapi melihat Rei yang tertawa imut di depanku, keraguan kecil itu segera sirna
begitu saja.
Setelah menghabiskan kue tersebut, aku dan Rei
mengucapkan terima kasih dan memberikan testimoni pada murid yang bertugas,
lalu kembali melanjutkan persiapan festival budaya kami.
◆◆◆
——Hari festival budaya tiba. Di Rumah Hantu kelas 1-B.
"——AAAAAAGHHH!"
""Kyaaaaaa!?""
Sepasang kekasih berteriak histeris dan lari
terbirit-birit saat seorang wanita berambut hitam panjang muncul dari dalam
sumur dengan teriakan aneh.
Sambil memperhatikan pemandangan itu, aku——Reiko Netora
yang menyamar menjadi hantu wanita——tersenyum licik.
"Hmm, tidak sangka pengalaman kerja paruh waktu di
rumah hantu demi merebut pacar orang saat mereka kencan di taman bermain di
kehidupan sebelumnya, bisa berguna di saat seperti ini."
Sambil merenungi sejarah hidupku yang sampah di kehidupan
lalu—benar-benar seperti pepatah 'kemalangan bisa membawa berkah'—tiba-tiba
Yuri-chan, pemeran hantu penggantiku, memanggil dari belakang.
"Rei-chan, terima kasih atas kerja kerasnya. Sudah waktunya gantian
shift."
"Iya,
terima kasih ya, Yuri-chan. Sisanya aku titip padamu."
Setelah
menyerahkan pos jaga pada Yuri-chan, aku masuk ke area belakang khusus staf.
Aku
menanggalkan kostum serba putihku dan berganti pakaian dengan gaya festival
budaya: rok lipat dan kaus kelas. Kemudian aku memanggil Fuyuki-kun yang sudah
menunggu di koridor dengan wajah gelisah dan tidak tenang.
"Fuyuki-kun, maaf membuatmu menunggu!"
"O-oh. Aku juga baru selesai beres-beres di
belakang, jadi tidak menunggu lama, kok."
Pergi ke festival budaya berdua dengan perempuan——apalagi
dengan orang yang disukainya——adalah situasi yang terlalu merangsang bagi
remaja laki-laki. Fuyuki-kun tampak berusaha keras menekan perasaannya yang
meluap-luap agar terlihat tenang. Lezat sekali emosinya ini.
Aku menggandeng tangannya dan mulai berjalan menelusuri
koridor yang ramai sebagai pemandu.
"Ayo kita kelilingi semuanya, Fuyuki-kun!"
"A-ah, iya."
Digandeng oleh tangan yang terasa lembut dan halus, lalu
diberi senyuman manis tanpa pertahanan, sepertinya Fuyuki-kun belum cukup
dewasa untuk bisa memberikan balasan yang keren.
Dia tampak menyesali jawabannya yang terdengar ketus,
tapi aku tidak peduli dan tetap tersenyum padanya.
Senyuman itu justru membuat detak jantung Fuyuki-kun
semakin kencang. Dia benar-benar terlihat seperti anak laki-laki lugu yang
sedang girang di kencan pertamanya.
Yah, sayangnya, masalah terbesar sekaligus satu-satunya
adalah wanita di sampingnya ini sama sekali jauh dari kata lugu.
Aku adalah manusia sampah yang kepribadiannya sudah rusak
total, ibarat pemakan buah sampah-sampah (Tipe Mythical Zoan: Model
"Ampas").
Tapi memberitahunya sekarang akan terasa terlalu kejam.
Ini adalah contoh nyata bahwa terkadang tidak tahu apa-apa itu jauh lebih
membahagiakan.
◆◆◆
"Ah, itu baby castella yang kita coba
sampelnya kemarin! Enak lho, ayo kita beli!"
"Takoyaki milik Fuyuki-kun kelihatannya enak ya. Boleh minta satu? ……Ah, maaf.
Tanganku penuh, bisa tolong suapi aku?"
"Cuacanya
cerah begini jadi haus ya kalau jalan terus. Nih, karena tadi sudah diberi
takoyaki, aku bagi minumanku (bekas minumku) buatmu."
Setelah
dihujani berbagai adegan komedi romantis klise yang bahkan sudah jarang ada di
komik zaman sekarang, aku——Kurishima Fuyuki——merasa seolah gula akan keluar
dari setiap pori-pori tubuhku. Rasanya jantungku juga hampir mengalami serangan
aritmia.
"Uuuh,
sepertinya aku makan terlalu banyak ya—"
Tanpa
memedulikan bar staminaku yang sudah merah, Rei mengelus perutnya dengan puas.
"Makan-makan memang enak, tapi ada banyak stan lain
juga, ayo kita lihat-lihat yang lain."
"Benar juga. Apa ada yang menarik di sekitar
sini?"
"Ah…… kalau itu bagaimana?"
Sesuai rencana kencan yang sudah kupersiapkan sebelumnya,
aku mengarahkan Rei ke salah satu stan.
"Hee, mereka melayani jasa foto cosplay
ya."
"Ini stan gabungan klub teater dan klub
fotografi. Katanya mereka menyiapkan berbagai macam latar belakang juga."
"Kedengarannya seru! Ayo, Fuyuki-kun!"
Melihat Rei tertarik sesuai dugaanku, aku melakukan fist
pump dalam hati sembari melangkah masuk ke area pemotretan.
"Silakan pilih latar belakang dan kostum yang kalian
sukai~"
Setelah dipandu oleh bagian penerima tamu, aku dan Rei
melihat-lihat deretan kostum sewaan.
Karena kostumnya berasal dari klub teater, kualitasnya
ternyata tidak buruk.
"Ah, ini kelihatannya menarik."
Rei memilih set jubah hitam dan gaun sederhana. Jika
melihat deskripsinya, itu adalah kostum bertema vampir.
"Heh, bagus juga."
"Kan? Kalau begitu, Fuyuki-kun pakai yang ini
ya—"
Tanpa memberi pilihan, Rei menyerahkan set vampir pria
yang terdiri dari tuksedo hitam dan jubah. Aku hanya bisa memasang wajah
pasrah.
"……Aku tidak punya hak pilih?"
"Mumpung kita foto berdua, konsepnya harus serasi,
dong. Ayo cepat ganti bajunya!"
"Iya,
iya. Jangan didorong-dorong."
Setelah berganti pakaian di ruang ganti yang
tersedia, aku dan Rei berpose dengan latar belakang kastil kuno.
"……Tapi, gaun dan tuksedo itu kan……"
"Hm? Ada apa, Fuyuki-kun?"
Tentu saja aku tidak bisa bilang 'ini seperti baju
pengantin', jadi aku memilih bungkam. Tiba-tiba, Rei menepuk tangannya seolah
mendapat ide cemerlang.
"Mumpung jadi vampir, aku ingin pose yang lebih
terasa tema vampirnya!"
"Tema vampir ya. Apa ada properti yang bisa
dipakai……"
Saat aku sedang memutar otak mencari ide, Rei sedikit
memiringkan kepalanya dan menunjukkan leher putihnya padaku.
"Rei? Apa yang……"
"Fuyuki-kun. Di sini, coba deh pose seolah-olah mau
menggigitku, 'Gabuuh' begitu?"
"……Haaah!?"
Melihat Rei menunjuk lehernya yang terekspos karena kerah
gaun yang longgar, aku refleks mengeluarkan suara konyol.
"Apa
sih reaksimu itu…… ja-jangan bilang kamu pikir leherku kotor? Te-tenang saja, hari ini aku tidak terlalu berkeringat jadi tidak
kotor, kok!"
"Ka-kamu ini benar-benar ya……!"
Menghadapi Rei yang bicaranya melantur ke mana-mana,
aku memegang dahi seolah sedang menahan sakit kepala.
Leher
putih Rei yang tercium aroma manis yang samar…… sambil sekuat tenaga menekan
hasrat ingin menempelkan bibir di sana, aku mengerahkan seluruh rasionalku
untuk menolak ide konyol Rei tersebut.
◆◆◆
Terus, manipulasi darah itu apa sebenarnya?
Aku, Reiko Netora, baru sekarang—ya, benar-benar baru
sekarang—merasa heran dengan kemampuan aneh yang kumiliki.
Entah kenapa sejak awal aku sudah bisa menggunakannya
secara insting, jadi biasanya kupakai untuk memanipulasi aliran darah ke wajah
demi akting merona saat ada kejadian lucky sukebe atau momen komedi
romantis lainnya. Tapi sebenarnya ini kemampuan apa?
Kalau aku memusatkan aliran darah ke otot, aku bisa
memperkuat kemampuan fisikku.
Aku sudah mencobanya, dan aku bisa berubah jadi gorila
yang mampu meremukkan buah apel dengan satu tangan tanpa kesulitan.
Yah, bayangkan saja seperti buff dengan batas
waktu yang sering ada di cerita pertarungan.
Dulu, saat aku menghajar para prototipe pria selingkuhan
yang tidak tahu aturan, aku juga memanfaatkan kemampuan ini.
Jangan-jangan, ini adalah cheat reinkarnasiku?
Enggak butuh, woooy!
Kalau aku bereinkarnasi ke dunia komedi aksi atau
pertempuran sih mungkin berguna, tapi yang ingin kujalani itu drama komedi
romantis NTR. Benar-benar kemampuan yang tidak dibutuhkan dari dasar hati yang
terdalam.
Daripada dikasih beginian, aku lebih memilih punya bola
mata sahabat di game simulasi cinta yang bisa melihat tingkat kesukaan
target.
Tuhan yang mereinkarnasikanku dan sengaja memilih
kemampuan tidak berguna ini sebagai bonus pasti punya kepribadian yang bengkok.
Tidak bisa dimaafkan. Aku benar-benar murka pada
ketidakadilan dunia ini.
Ah, tapi kalau aku memusatkan aliran darah ke sekitar
bola mata, fungsi penglihatanku meningkat drastis, dan itu cukup membantu.
Terutama saat sedang menguntit Yuu-kun.
Kalau aku serius, aku bahkan bisa melihat menembus
struktur tulang dan gerakan otot orang lain.
Kekurangannya cuma satu: pembuluh darah di sekitar mata
akan menonjol keluar dan membuat wajahku terlihat menyeramkan.
Yah, aku jarang-jarang sih memakai penguatan visual
maksimal.
Karena tidak sepenuhnya tidak berguna, aku memutuskan
untuk memaafkan Tuhan kali ini.
Jangan ada lain kali, ya? Bersyukurlah.
"Yuri-chan, mau ke ruang UKS?"
"—Eh?"
Begitulah, setelah tugas piket Rumah Hantu Yuu-kun dan
Yuri-chan selesai, kami berempat sedang berkeliling festival budaya bersama.
Aku memperkuat penglihatanku (tanpa membuat pembuluh
darah mataku menonjol) untuk mengobservasi Yuri-chan.
Dia mungkin berniat menyembunyikannya, tapi mataku tidak
bisa dikelabui.
Wajahnya sedikit pucat, dan dia tampak jauh lebih lelah
dari biasanya. Secara lahiriah dia memasang wajah tegar, tapi berjalan saja
pasti terasa sangat berat baginya sekarang.
Ini bukan jadwal "tamu bulanan"-nya, jadi
sepertinya dia mabuk karena keramaian. Dasarnya Yuri-chan memang punya atribut
anak rumahan (introvert), jadi wajar saja.
Fakta bahwa aku memahami siklus bulanan Yuri-chan si
calon selingkuhan menunjukkan betapa aku adalah teladan bagi para wanita
perebut pacar.
Karena tidak ada yang memujiku, aku memuji diri sendiri
saja. Pintar sekali aku.
"Tidak, itu, aku..."
"Maaf ya aku terlambat menyadarinya. Tapi, aku tidak
ingin Yuri-chan memaksakan diri."
"……Ehm."
Menyadari kalau dia tidak bisa lagi mengelak, Yuri-chan
pun segera menyerah.
Benar-benar anak yang jujur dan baik. Aku jadi tidak
sabar ingin segera menghancurkan otaknya ♣.
"E-eto,
Rei-chan. Apa Shirase-san sakit?"
Yuu-kun
yang tampak khawatir memanggilku, saat aku hampir saja meneteskan air liur
melihat betapa manisnya Yuri-chan.
Aku
langsung menyedot kembali air liurku dan memberikan senyum yang agak prihatin
pada Yuu-kun.
"Sedikit.
Sepertinya dia cuma kelelahan, jadi aku akan mengantarnya ke UKS, ya? Yuu-kun
dan Fuyuki-kun sebaiknya——"
"……Rei-chan.
Anu, apa sakitnya Shirase-san itu jenis yang tidak apa-apa kalau ditunggui
laki-laki?"
Yuu-kun
bertanya padaku dengan suara berbisik yang sangat pelan.
Sepertinya
dia khawatir jika ikut menemani justru akan membuat Yuri-chan merasa tidak
enak. Itu adalah bentuk perhatiannya yang tulus.
Yah,
menanyakan hal sensitif begitu padaku memang agak kurang peka sih, tapi
kecerobohannya itu juga sangat menggemaskan jadi aku maafkan. Imut
sekali ya, Yuu-kun-ku (senyum licik).
Aku memberikan kontak mata pada Yuu-kun sebagai tanda
mengiyakan pertanyaannya.
"Kalau begitu, aku dan Fuyuki-kun akan membelikan
minuman. Kalian berdua pergilah ke UKS duluan."
"Eeh, ja-jangan, aku merasa tidak enak. Kalian
nikmati saja festivalnya..."
"Shirase itu tim teh hijau, kan? Rei teh hitam tanpa
gula. Oke deh, sampai nanti!"
Fuyuki-kun memotong pembicaraan dengan paksa, lalu
melambaikan tangannya sambil pergi bersama Yuu-kun. Di saat seperti ini, punya
teman laki-laki yang agak keras kepala memang sangat membantu.
"Nah, ayo kita pergi juga. Pelan-pelan saja, jangan
dipaksakan ya?"
"Uugh……
maaf ya, Rei-chan."
Sambil
memapah Yuri-chan, kami tiba di UKS dengan selamat.
Setelah
mendapat obat anti-mabuk dari guru, aku merebahkan Yuri-chan di ranjang yang
kosong.
"……Terima
kasih, Rei-chan. Aku sudah merasa agak tenang."
"Syukurlah~
……Iih, Yuri-chan? Kalau merasa tidak enak badan, kamu harus bilang, tahu!"
"Uuuh,
maaf…… Habisnya ini kan festival budaya yang kita tunggu-tunggu, aku tidak mau
merepotkan kalian semua..."
"Yuri-chan."
Aku
memeluk kepala Yuri-chan yang sedang tertunduk lesu ke dadaku.
"Re,
Rei-chan?"
"Festival
budaya itu memang menyenangkan. Tapi itu bukan karena acaranya, melainkan
karena semua orang——karena Yuri-chan——merasa senang."
"……"
Aku
menepuk-nepuk punggung Yuri-chan dengan lembut seperti sedang menenangkan anak
kecil.
"Kegiatan
klub, belajar untuk ujian, kolam renang, festival musim panas, sampai festival
budaya ini pun... aku bukan sekadar ingin main, tapi aku hanya ingin bersama
Yuri-chan——dan semuanya——selama mungkin. Acara-acara ini cuma alasannya
saja."
"Rei-chan……"
"Makanya,
sekarang mengurus Yuri-chan lebih penting daripada festival budaya.
Lagipula——"
Aku
melirik ke belakang sebentar, dan tepat pada saat yang telah kuperhitungkan,
Yuu-kun dan yang lainnya muncul sambil membawa botol minuman.
"Tidak
ada orang di sini yang menganggap merawat Yuri-chan sebagai sebuah
'gangguan'."
"Benar
sekali. Kita kan sudah berteman cukup lama, setidaknya percayalah pada kami
sedikit."
Aku
memberikan senyum jahil pada Fuyuki-kun yang menyodorkan botol minuman padaku
dan Yuri-chan.
"Yah,
tapi sepertinya ada dua laki-laki dengan selera buruk yang menguping
pembicaraan serius gadis-gadis demi mencari waktu yang tepat untuk muncul,
ya?"
"Jangan bicara yang tidak-tidak. Kami cuma tidak
enak mau masuk karena kalian sedang bicara hal yang sangat serius."
Iya, aku tahu kok.
Justru aku sengaja melakukan talk show
persahabatan ini agar didengar Yuu-kun dan Fuyuki-kun.
Berkat manuver yuri dengan menenggelamkan
wajah Yuri-chan ke dadaku agar dia tidak menyadari kehadiran dua cowok itu,
rencanaku berjalan mulus.
Setelah aku menunjukkan betapa aku sangat menjunjung
tinggi persahabatan grup ini, mana mungkin ada yang berani lancang menyatakan
cinta duluan?
TIDAK AKAN ADA, KAN!?
Begitulah, karena belakangan ini aku merasa sudah
terlalu banyak mendapatkan poin dari Fuyuki-kun, aku perlu memberinya
peringatan sedikit. Mengatur flag para pria selingkuhan adalah kewajiban
seorang wanita perebut pacar.
Nah, untuk pemulihan stamina Yuri-chan... kalau
dilihat-lihat, istirahat satu jam saja sudah cukup. Dari segi jadwal, festival
budaya ini pun sudah hampir mencapai puncaknya.
◆◆◆
"Wah, apinya berkobar sekali ya—"
Di tengah lapangan sekolah yang mulai gelap,
aku—Tachibana Yuki—menatap goyangan api unggun yang menyala terang di samping
Rei-chan yang tampak sangat menikmatinya.
"Zaman sekarang, sekolah yang masih mau
mengadakan api unggun itu langka, ya."
"Yah, kalau memikirkan faktor keamanan sih benar.
Tapi, api unggun itu memang wajib ada di pesta penutupan. ……Aaaah, seandainya
Fuyuki-kun dan Yuri-chan ada di sini juga~"
——Benar, di samping kami yang sedang menatap api unggun
ini, tidak ada sosok Fuyuki-kun maupun Shirase-san.
Kondisi Shirase-san memang membaik, tapi karena rasa
lelahnya belum hilang sepenuhnya, dia hanya sempat menari folk dance
sebentar dengan Rei-chan lalu pulang lebih awal.
Sedangkan Fuyuki-kun, sebagai perwakilan klub olahraga,
dia dipaksa membantu pemasangan api unggun dan langsung diculik oleh gerombolan
anak atletis untuk acara makan-makan.
"Mau bagaimana lagi. Semuanya punya urusan
masing-masing."
"Iya sih, tapi tetap saja…… Ah, sudahlah! Yuu-kun,
ayo kita menari sekali lagi!"
Sambil berkata begitu, Rei-chan menarik tanganku dan
mengajakku masuk ke dalam lingkaran folk dance.
"Tangguh sekali ya, Rei-chan."
"Habisnya aku sudah menghafal langkahnya demi
berdansa sampai gila dengan kalian semua. Malam ini, Yuu-kun harus menemaniku
untuk porsi tiga orang, jadi bersiaplah, ya?"
Aku tersenyum kecut, berusaha menenangkan jantungku yang
rasanya ingin meledak karena bahagia, lalu menggenggam tangannya.
——♪
——♪
——♪
Kami melangkah mengikuti irama musik yang sudah tidak
asing lagi.
Sambil memutar rambut hitamnya yang berkilau, Rei-chan
melakukan gerakan berputar dan manik matanya menatapku lurus.
"……Yuu-kun."
"Iya."
"Apa kamu ingat kejadian saat festival musim panas?
Saat kamu bilang ingin kita berubah bersama."
"Tentu saja."
"Aku benar-benar senang, lho. Kata-katamu itu
rasanya seperti mengurai benang yang kusut di hatiku. Aku merasa akhirnya bisa
menghadapi perasaan asliku yang sebenarnya."
Tiba-tiba, dengan kekuatan yang tidak seperti
perempuan biasa, lengan Rei-chan menarikku mendekat.
Aku kehilangan keseimbangan dan refleks memeluk
pinggangnya dengan erat. Aku sempat panik, tapi Rei-chan hanya tersenyum
lembut.
"Selama festival budaya ini... bukan cuma hari H
saja, tapi saat persiapan pun aku sangat bahagia. Membantu dekorasi. Menyamar
jadi hantu. Berkeliling festival dengan kalian semua... semuanya, semuanya...
saking menyenangkannya, rasanya aku sampai mau menangis."
"……Begitu
ya. Syukurlah, Rei-chan."
"Ehm……
terima kasih ya, Yuu-kun. Karena sudah menahanku malam itu.
Karena sudah bilang ingin berubah. Perhatikan aku ya. Aku pasti akan berubah
sampai membuat Yuu-kun terkejut."
——Cup, tiba-tiba bibirnya menyentuh pipiku dengan
lembut.
"!? Re, Rei-chan!?"
Sentuhan mendadak itu membuatku memegang pipi dan
melangkah mundur.
Wajahnya tampak merona merah, tidak kalah terang dari
kobaran api unggun.
"……E-eto, tapi, soal ciuman ini... tolong tunggu
sebentar lagi untuk lanjut ke tahap berikutnya, ya? Itu, sampai kita berdua
sedikit lebih dewasa..."
"I-iya……"
Mendengar jawabanku yang keluar seperti desahan tertahan,
Rei-chan tersenyum malu-malu.
Sosoknya yang diterangi cahaya api itu terlihat sangat
fantastis, kecantikannya benar-benar membuatku terpana.
"Perhatikan aku ya, Yuu-kun. Aku akan menjadi jauh,
jauh lebih cantik lagi. Di sampingmu."
Musik berhenti. Pesta penutupan telah berakhir.
Suara pengumuman penutupan yang agak pecah terdengar dari
pengeras suara.
Dia melepaskan tanganku, lalu berlari kecil sedikit
menjauh sebelum berbalik dengan senyuman lebar ke arahku.
"——Teruslah perhatikan diriku yang akan berubah
ini... dari tempat yang paling dekat, O ke ?"
——Sesaat, senyuman itu terlihat sangat bengkok dan
mengerikan.
"……!?"
Apa kegelapan malam dan goyangan api unggun yang
tidak beraturan telah menciptakan ilusi padaku?
Saat aku mengusap mata, di sana hanya ada Rei-chan
dengan senyumannya yang seperti biasa... tidak, dia tersenyum jauh lebih manis
dari biasanya.
"……Kalau begitu, ayo kita jemput Fuyuki-kun. Tadi
kita tidak sempat mengobrol banyak saat pesta penutupan, setidaknya pulangnya
harus barengan, kan."
"……I-iya. Benar juga……"
Begitulah, festival budayaku berakhir dengan meninggalkan rasa bahagia yang besar, sekaligus secercah perasaan janggal di dalam hati.



Post a Comment