NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TS Tensei Bishoujo Netora Reiko wa Netoraretai Volume 1 Chapter 5

Chapter 5

Masa SMP Kelas 1 - Selesai


Desember telah tiba.

Ujian akhir semester sudah berakhir, dan saat ini jalanan mulai dipenuhi dengan iluminasi yang gemerlap.

Halo, saya Reiko Netora.

Memang ada lompatan waktu yang cukup jauh sejak festival budaya di bulan Oktober lalu, tapi anggap saja itu pemanis.

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, peristiwa luar biasa tidak mungkin terjadi setiap hari dalam kehidupan normal, jadi mau bagaimana lagi.

"Kalau begitu, semuanya, selamat tahun baru ya~"

Upacara penutupan berakhir tanpa hambatan, dan wali kelas menutup pertemuan terakhir tahun ini dengan salam tersebut.

"Rasanya semester dua berlalu cepat sekali ya. Padahal durasinya tidak jauh berbeda dengan semester satu."

Sepulang sekolah, di dalam kelas yang masih dipenuhi murid-murid yang menikmati kebebasan, kami berempat—anggota geng rutin—saling bertukar obrolan seolah enggan berpisah.

"Habisnya banyak acara seperti festival olahraga dan festival budaya, sih. Makanya secara psikologis terasa lebih singkat."

"Sebaliknya, semester tiga nanti tidak ada acara khusus, jadi mungkin akan terasa lama."

Mendengar percakapan Yuu-kun dan Fuyuki-kun, aku menempel pada Yuri-chan sambil melemparkan senyum jahil ke arah para lelaki.

"Mungkin bagi laki-laki begitu, tapi bagi perempuan, ada acara yang sangat besar, kan, Yuri-chan?"

"Eh? Itu... Valentine, maksudmu?"

"Iya! Ayo kita buat cokelat bersama ya, Yuri-chan!"

Aku dan Yuri-chan saling menautkan jari dengan riang.

Sejujurnya, Valentine adalah acara yang secara pribadi sangat kunantikan.

Hari di mana seseorang diizinkan membagikan cokelat secara membabi buta kepada laki-laki tanpa perlu memiliki perasaan suka.

Dengan kata lain, ini adalah bonus stage di mana aku bisa memanen Mind Break massal dan emosi negatif dalam jumlah besar.

Menghancurkan mental para karakter figuran laki-laki itu rasanya terlalu nikmat!

Aku menutupi rasa kemanusiaanku yang terlalu besar ini dengan wajah gadis cantik agar tidak disadari oleh Yuu-kun dan yang lainnya. Akhir-akhir ini, karena progres rute NTR berjalan mulus, terkadang sifat asliku yang seperti sampah sering bocor lewat ekspresi wajah. Aku harus berhati-hati.

◆◆◆

Setelah pulang sekolah dan berpisah dengan Rei-chan serta Shirase-san, aku—Tachibana Yuki—sedang berjalan-jalan santai di mall berdua dengan Fuyuki-kun.

Melihat kedekatan kami, mungkin ini terdengar mengejutkan, tapi bagaimanapun kami tetaplah remaja laki-laki dan perempuan. Berkumpul dan bermain hanya dengan sesama jenis seperti ini bukanlah hal yang langka.

"Soal Natal dan kunjungan tahun baru, kukira Rei bakal bilang sesuatu, tapi ternyata tidak ada apa-apa ya."

"Benar juga. Yah, mungkin tahun ini dia ingin menghabiskan waktu dengan tenang bersama keluarganya?"

Mengingat Rei-chan sangat menyukai acara perayaan, aku sempat berpikir dia akan mengajak kami berkumpul di akhir tahun. Jadi, situasi sekarang terasa sedikit antiklimaks.

Kalau memang berpikir begitu, harusnya aku yang mengajak Rei-chan main... tapi aku tidak punya keberanian atau kemampuan improvisasi untuk mendadak mengajak gadis yang kusukai ke sebuah acara...

Hasilnya, di sinilah aku, menghadapi siang hari yang santai namun terasa ada yang kurang.

——Sebagai catatan, alasan kenapa dua laki-laki ini tidak diajak ke acara akhir tahun adalah karena rencana sampah Reiko si berengsek yang sedang mengatur tingkat kesukaan mereka berdua, tapi tentu saja mereka tidak punya cara untuk mengetahuinya.

"……Fuyuki-kun."

"Hah? Ada apa, Yuki?"

Aku memanggil Fuyuki-kun yang sedang memainkan kentang goreng yang sudah dingin di area food court dengan ekspresi serius.

"……Menurutmu, apa memberikan hadiah Natal kepada orang yang bukan pacar itu menjijikkan?"

"Hah? Apaan sih—oh, maksudmu mau memberi hadiah untuk Rei?"

"Bukan, tentu saja bukan karena niat mesum, tapi murni ingin menunjukkan rasa terima kasih atas dukungannya sehari-hari..."

Melihatku yang bicara terbata-bata, Fuyuki-kun tertawa kecil sambil memasukkan kentang goreng ke mulutnya.

"Tidak apa-apa, kan? Kalau orang asing mungkin aneh, tapi kalau hadiah darimu, Rei pasti senang."

"Begitukah?"

"Iya. ……Baiklah, aku juga merasa sudah banyak dibantu Rei, ayo kita cari hadiah Natal bareng. Kalau aku juga memberi, kamu jadi lebih mudah menyerahkannya, kan?"

"Boleh, Fuyuki-kun?"

"Sekalian jalan saja. Ah, tapi jangan beli yang terlalu mahal ya? Nanti dia malah merasa risi."

"I-iya, aku tahu."

"Benarkah?"

Fuyuki tertawa lepas melihat Yuki yang sepertinya tidak benar-benar paham.

Adegan ini tampak seperti penggalan masa muda yang manis antara dua laki-laki, padahal tindakan Fuyuki sepenuhnya merupakan upaya untuk menjaga jarak antara Yuki dan Rei. Entah Fuyuki menyadarinya atau tidak, itu masih menjadi tanda tanya.

Dan di balik pilar, Reiko si sampah penguntit sedang mengamati emosi negatif Fuyuki yang suram itu dengan pembuluh darah di sekitar matanya yang berdenyut-denyut sembari menikmatinya dengan nikmat.

◆◆◆

"Halo, selamat tahun baru, Tante."

Pagi hari di tahun baru.

Sambil mengerutkan tubuh karena angin dingin yang sesekali berembus, aku—Kurishima Fuyuki—mengunjungi rumah keluarga Tachibana.

Kami sudah berjanji untuk pergi ke kuil berdua untuk melakukan kunjungan tahun baru.

Aku bertukar salam tahun baru dengan ibu Yuki yang menyambutku di pintu depan.

"Ah, Fuyuki-kun. Selamat tahun baru. Ada janji dengan Yuki?"

"Iya, kami berjanji pergi ke kuil bersama."

"Begitu ya? Ya ampun anak itu. Padahal sudah janji dengan Fuyuki-kun tapi sepertinya masih tidur. Masuklah dulu."

"Terima kasih. Kalau begitu, saya bangunkan dia sebentar."

Aku masuk ke rumah keluarga Tachibana dan langsung menuju kamar Yuki seolah rumah sendiri. Aku membuka pintu kamarnya dan berseru ke arah gundukan di atas tempat tidur.

"Yuki, bangun!"

"……Ngh, Fuyuki-kun……?"

Yuki terbangun dengan mata mengantuk mendengar suaraku.

"……Eh, sudah jam segini? Maaf, aku benar-benar ketiduran……"

"Tidak apa-apa, tidak buru-buru kok. Aku tunggu, sana cuci muka dulu."

"Ngh……"

Sambil tersenyum kecut melihat Yuki yang belum sadar sepenuhnya, aku mengeluarkan ponsel.

Saat membuka aplikasi pesan, ada pesan dari Rei yang muncul.

REIKO: Fuyuki-kun, selamat tahun baru! Semoga tahun ini kita bisa tetap akrab ya!

FUYUKI: Selamat tahun baru juga. Mohon bantuannya lagi ya setahun ke depan.

REIKO: (Stiker makhluk mirip kucing yang tidak jelas)

FUYUKI: (Stiker makhluk mirip anjing yang tidak jelas)

Sambil memandangi log pesan yang dikirim tepat saat pergantian tanggal itu, aku mengacak-acak rambutku untuk menyembunyikan kegelisahanku.

"……Apa terlalu agresif kalau aku mengajaknya ke kuil sekarang? Biasanya Rei yang mengajak duluan, kalau sekarang aku yang mengajak malah terkesan punya niat terselubung, ya……"

Aku menggumam tidak jelas sambil mengetik dan menghapus pesan ajakan berulang kali.

Akhirnya, pesan untuk Rei tidak pernah terkirim. Karena Yuki yang sudah rapi telah kembali, kami berdua pun berangkat menuju kuil.

"——Hei, Yuki."

"Ya, ada apa Fuyuki-kun?"

"Kamu tidak mengajak Rei untuk kunjungan tahun baru?"

Aku bertanya di tengah perjalanan menuju kuil. Yuki menjawab dengan ekspresi yang sedikit pahit.

"Ah…… iya, itu, aku sempat terpikir untuk mengajaknya……"

"Tapi?"

"Bukankah sulit bagi laki-laki untuk mengajak perempuan duluan? ……Lalu, kalau Rei-chan menolak, aku bisa jatuh sakit karena syok, jadi aku tidak punya keberanian. Aku tidak mau bertaruh di awal tahun begini."

"……Aku mengerti."

Dua pemuda tampan itu saling melempar senyum kecut.

Meski penampilan mereka luar biasa, menuntut cara mengajak perempuan yang elegan kepada mereka yang belum lama ini masih anak SD adalah hal yang agak kejam.

◆◆◆

"Selamat tahun baru, Yuri-chan!"

"Se-selamat tahun baru, Rei-chan."

Di pintu masuk kuil yang dipenuhi pengunjung, aku—Shirase Yuri—bertukar salam tahun baru dengan Rei-chan.

"Anu, terima kasih sudah mengajakku, Rei-chan. Ini pertama kalinya aku pergi ke kuil saat tahun baru dengan teman."

"Ahaha, tidak masalah. Aku cuma ingin pergi dengan Yuri-chan, kok."

Rei-chan menggandeng tanganku dengan alami, membuat tubuhku mendadak kaku.

"He, hehe... baunya harum... ehem. Anu, Rei-chan? Ada sesuatu yang membuatku penasaran..."

"Hm, apa?"

"Itu, apa tidak apa-apa kalau Tachibana-kun atau Kurishima-kun tidak diajak?"

Aku bertanya untuk menutupi kegugupanku.

Sejujurnya, aku merasa heran karena Rei-chan yang biasanya sangat terobsesi agar kami berempat selalu bersama, kali ini malah ingin pergi berdua saja untuk acara seperti ini.

"……Kamu tidak suka kalau cuma berdua denganku?"

Melihat Rei-chan yang bertanya dengan tatapan sayu yang tampak sedih, aku buru-buru membantahnya.

"Eh!? Ah, tidak, bukan begitu! Ju-justru aku merasa senang……"

"Fufu, sesekali hanya sesama perempuan itu bagus, kan? Nah, ayo cepat!"

Meski merasa dia sedang mengalihkan pembicaraan, aku tetap terbawa oleh senyum Rei-chan yang ceria.

Kenyataannya, sebagai orang yang merasa sedikit menang karena dia memilihku daripada para lelaki, situasi ini sangat kusambut dengan baik tanpa perlu membantahnya.

"Yuri-chan, bagaimana hasil ramalanmu?"

Setelah selesai berdoa, Rei-chan yang juga mengambil ramalan bertanya padaku.

"Eee-to…… ah, Daikichi (Sangat Beruntung)."

"Ooh~ awal tahun yang bagus ya!"

"Iya, terima kasih. Rei-chan sendiri?"

"Fufufu…… ini dia."

DAIKYO (Sangat Sial)

Melihat Rei-chan menunjukkan kertas ramalan terburuk dengan senyum lebar, aku refleks berseru kaget.

"Eeeh!? Da-daikyo!? Aku baru pertama kali melihatnya langsung……"

"Ahaha, tulisannya juga luar biasa, lho. Katanya, 'Jika tidak bertobat, akan turun hukuman Tuhan'."

"Ja-jahat! Tidak ada satu hal pun yang harus Rei-chan ubah!"

Aku merasa marah karena temanku menerima fitnah yang tidak beralasan.

"Ufufu, terima kasih Yuri-chan. Yah, namanya juga ramalan, anggap saja ini peringatan dari Tuhan agar aku lebih berhati-hati tahun ini."

Karena orang yang mendapat sial malah bersikap sesantai itu, aku tidak bisa berkomentar lebih jauh.

"Lagipula, ada Yuri-chan di sampingku. Bisa kencan tahun baru dengan gadis seimut ini, hari ini aku bukan cuma beruntung, tapi pasti jadi gadis paling beruntung di kota ini."

"Re, Rei-chan……"

Melihat Rei-chan tertawa dengan rambut hitamnya yang berkilau terkena cahaya matahari, hatiku terasa sangat sesak.

——Ah, aku ingin bercinta dengan Rei-chan……

Gadis cantik berkacamata—Shirase Yuri—sedang memikirkan hal yang cukup bejat di tempat suci ini.

Sering dilupakan, tapi dia sebenarnya punya kepribadian yang cukup "berani" dan sangat setia pada nafsunya.

◆◆◆

Libur akhir tahun dan tahun baru berakhir, dan kota mulai memasuki musim Valentine.

Ujian periodik juga telah usai, dan para siswi di sekolah mulai sibuk berbincang menjelang acara yang penuh aroma masa muda ini.

"Yuri-chan! Akhir pekan nanti, kita buat cokelat bareng di rumahku ya!"

"I-iya. Kita sudah janji sejak sebelum ujian, kan."

Di sudut kelas, para siswa laki-laki mengobrol dengan gelisah sambil sesekali melirik para gadis yang asyik bicara di sekitar meja mereka.

"Valentine ya…… jujur saja, rasanya cuma acara buat pasangan atau acara tukar cokelat antar perempuan saja."

"Bagi laki-laki jomblo yang kesepian, ini cuma membuat suasana hati buruk."

"Haaa…… aku ingin pacar."

"Aku tidak minta banyak, cokelat tanda pertemanan saja cukup."

"Aku tidak mau menghitung cokelat pemberian Ibu sebagai perolehan."

Suasana suram menyelimuti para laki-laki. Sasaran kekesalan mereka tentu saja tertuju pada Fuyuki-kun dan aku—Tachibana Yuki—yang punya prospek mendapatkan cokelat.

"Tachibana dan Kurishima enak ya. Kalian berdua pasti memonopoli cokelat dari gadis sekelas, kan?"

"A-ahaha…… tidak juga, kalau Fuyuki-kun mungkin iya, tapi aku……"

"Hei, jangan menjadikanku tumbal begitu saja."

Mendapat tatapan dan kata-kata yang penuh dendam, aku dan Fuyuki-kun saling melempar tanggung jawab.

Tiba-tiba, dari belakang kami, dua gadis cantik yang memperebutkan peringkat satu dan dua popularitas di sekolah—Rei-chan dan Shirase-san—memanggil kami.

"Yuu-kun, Fuyuki-kun. Aku dan Yuri-chan mau pergi beli bahan cokelat, jadi kami pulang duluan ya hari ini?"

"A-aku juga akan buatkan cokelat untuk kalian. Maaf ya kalau nanti jadinya aneh?"

"Fufu, mau buat apa ya. Yuu-kun dan Fuyuki-kun, nantikan saja ya! Dadah~"

"O-oh……"

"I-iya…… sampai jumpa……"

Mendengar kata-kata itu di waktu dan tempat yang paling buruk, keringat dingin mengucur dari wajah kami.

Setelah Rei-chan dan Shirase-san pergi, kami menoleh ke belakang dan melihat para teman sekelas laki-laki sedang mendiskusikan metode eksekusi untuk kami berdua.

"………………"

Aku dan Fuyuki-kun saling mengangguk, lalu lari sekuat tenaga dari tempat itu.

"Mereka kabur! Kejar!"

"Berengsek! Kalau sudah dapat cokelat dari Netora-san dan Shirase-san, harusnya pendaftaran ditutup saja!"

"Monopoli kekayaan! Gantung mereka!"

◆◆◆

——Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?

Aku—Shirase Yuri—sedang mandi di bawah pancuran di kamar mandi yang asing. Tentu saja dalam keadaan telanjang bulat.

"Uuu…… maafkan aku ya, Yuri-chan."

"I-i-i-iya. Tidak perlu dipikirkan……"

Dan di belakangku, ada Rei-chan yang juga telanjang bulat sedang berendam di bak mandi.

Kejadiannya bermula beberapa menit lalu.

Saat kami sedang sibuk membuat cokelat Valentine di rumah Rei-chan, tiba-tiba dia berseru "Ah!", dan saat aku menoleh, sebuah mangkuk berisi whipped cream terbang berputar ke arahku.

Untungnya celemek melindungiku sehingga baju tidak kotor, tapi bagian leher ke atas kami berdua penuh dengan krim.

"Ga-gawat!?" seru Rei-chan yang jarang sekali panik, dan akhirnya aku pun terseret masuk ke kamar mandi keluarga Netora.

Dulu aku sempat berpikir, tapi ternyata rumah Rei-chan memang cukup mewah.

Kamar mandinya sangat elegan dan luas seperti hotel. Bak mandinya pun cukup besar untuk kami berdua masuk bersama tanpa merasa sempit.

Benar. Tidak sempit meski masuk berdua.

Aku tahu itu karena sekarang aku sedang berendam bersama Rei-chan.

"……Fufu, sebenarnya aku sudah lama memimpikan ini. Mandi berdua dengan teman."

"Ah—iya. Benar juga ya."

Gaya bicaraku benar-benar hancur saat mataku dengan liar merekam setiap jengkal tubuh Rei-chan.

Maksudku, tidak apa-apa kan kalau aku sedikit menyentuhnya?

Kurasa mencuci tubuh Rei-chan dengan tanganku sendiri masih bisa dimaafkan. Aku sudah lelah bertarung dengan logikaku sendiri.

Sambil memikirkan hal itu dan menjawab obrolan Rei-chan dengan setengah hati, tiba-tiba sebuah kalimat menusuk otakku.

"——Karena itu, kalau Yuri-chan punya orang yang disukai, bilang ya? Aku akan mendukungmu sekuat tenaga!"

——Mendengar kata-kata yang begitu kejam darinya, aku merasa seolah uap panas di kamar mandi menghilang seketika.

Tidak, lebih dari itu, gairah yang mirip dengan "kemarahan" membuat suhu tubuhku terasa lebih panas daripada air di bak mandi.

"……Rei-chan."

"Hm, ada apa Yuri-cha—"

Aku mendekat sampai dada kami hampir bersentuhan.

Melihat wajahnya yang kebingungan karena jarak yang tiba-tiba menyempit, aku menatapnya tajam dan berucap.

"Yu-yuri-chan?"

"……Aku suka Rei-chan. Sangat suka. ……Cuma itu. Aku keluar duluan ya."

Tanpa menunggu jawabannya, aku berdiri dari bak mandi dan melangkah keluar pintu.

Aku mengatupkan gerahamku hingga berbunyi.

Aku tidak akan menyerahkannya pada Tachibana-kun maupun Kurishima-kun.

Rei-chan adalah——dia milikku.

◆◆◆

Yah, kira-kira begitulah.

Di kamar mandi setelah Yuri-chan keluar, aku—Reiko Netora—tenggelam dalam pikiran.

Dibandingkan para lelaki, Yuri-chan yang daya serangnya rendah dan selalu tertinggal akhirnya mulai terbakar juga, membuatku lega.

Sayang sekali kalau aset NTR lesbi yang berhasil kudapatkan ini harus memudar begitu saja.

Hal terpenting dalam cinta adalah sedikit keberanian untuk mendorong perasaan yang sedang ragu. Karena itulah, aku memberikannya kepada Yuri-chan.

Keberanian yang bernama nafsu……

 

Wah, penutupan tahun pertama SMP yang sangat intens! Yuri-chan akhirnya "meledak" dan 




"Nah, sekarang waktunya aku mandi juga dan lanjut bikin cokelat."

Sambil menyeka tubuh yang basah dengan handuk, aku—Reiko Netora—mulai menyusun rencana jahat untuk mempermainkan Yuri-chan.

◆◆◆

Tibalah hari Valentine.

"Yuri-chan, Happy Valentine! Nih, cokelat buatmu."

"Terima kasih, Rei-chan! Ini balasan dariku."

Pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai, aku dan Yuri-chan langsung saling bertukar cokelat pertemanan.

"Yeay! Terima kasih, Yuri-chan! ...Yah, walau sebenarnya kita sudah tahu isinya karena buat bareng-bareng sih."

"Ahaha... tapi membuat cokelat bersama itu seru ya. ...Anu, tahun depan mau buat bareng lagi?"

"Tentu saja! Tahun depan kita buat yang lebih imut lagi ya!"

Saat kami sedang asyik mengobrol, teman-teman sekelas perempuan lainnya mulai berkumpul mengelilingi kami.

"Netora-san, ini cokelat pertemanan untukmu~"

"Wah, terima kasih! Kalau begitu, ini balasan dariku ya."

"Reiko-chan, aku juga mau!"

"Terima kasih~ silakan diterima ya hadiah dariku ini."

Tentu saja membuat cokelat buatan tangan untuk seluruh kelas itu mustahil, jadi untuk teman-teman yang sekadar akrab, aku memberikan cokelat kemasan sebagai balasan.

"Shirase-san, aku juga beri cokelat ya."

"A-awawa, te-terima kasih. I-ini, balasan dariku."

"Yuri-cchi, tukaran cokelat yuk!"

"I-iya. Tapi ini cokelat kemasan, tidak apa-apa?"

Oh, Yuri-chan juga mulai dikerumuni teman-teman perempuan.

Padahal saat awal masuk sekolah dia selalu sendirian, tapi syukurlah sekarang dia sudah punya teman selain aku dan Yuu-kun.

Aku merasa bangga. Aku menyilangkan tangan dan berdiri dengan pose tegak penuh wibawa layaknya "pacar" yang mengawasi dari kejauhan.

"——P-pagi, Rei-chan."

"Pagi~ Rei, Shirase, kalian semangat sekali ya dari pagi."

Yuu-kun dan Fuyuki-kun menyapa dengan nada agak rendah, seolah terintimidasi oleh keriuhan para gadis yang sedang bertukar cokelat.

"Ah, Yuu-kun! Fuyuki-kun juga, selamat pagi!"

Aku mendekati mereka dengan senyum lebar, lalu menyerahkan kotak yang sudah dibungkus cantik kepada mereka berdua.

"Nih! Happy Valentine!"

"Te-terima kasih, Rei-chan. Anu, aku senang sekali."

"Thanks, Rei. Maaf ya selalu merepotkanmu."

Yuu-kun memerah dengan jelas. Fuyuki-kun menerima cokelat itu dengan senyum tenang yang keren.

Yah, mau bagaimanapun tampak luarnya, aku tahu betul kalau di dalam hati mereka sedang panik karena mendapat cokelat dari gadis yang mereka sukai. Lezat sekali.

"Ah, kalian berdua jangan membukanya sampai tiba di rumah ya? Kalau cuma memberi sih guru mungkin maklum, tapi kalau makan di sekolah pasti dilarang. Aku bakal marah kalau cokelatnya sampai disita guru, lho."

Keduanya mengangguk mendengar peringatanku.

Tentu saja alasan sebenarnya bukan itu.

Di dalam cokelat yang kuberikan pada mereka, aku menyelipkan kartu pesan tulisan tangan dengan kata-kata yang penuh godaan.

Yah, kemungkinannya kecil sih, tapi seandainya trik ini terbongkar, pesan yang kutulis itu hanya bersifat "menggoda" tanpa ada pernyataan langsung yang eksplisit.

Risikonya hampir nol, dan jika ini bisa menaikkan nilai libido dua laki-laki ini, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.

NTR tidak dibangun dalam semalam.

Aku adalah wanita dengan perencanaan jangka panjang. Aku tidak keberatan melakukan usaha kecil yang menumpuk setiap harinya.

Ups, aku tidak boleh santai-santai saja.

Mumpung Valentine, aku juga harus menikmatinya sepuas mungkin.

Sambil membawa tas berisi cokelat, aku berkeliaran di dalam kelas. Tujuanku adalah meja para laki-laki yang sejak tadi mencuri pandang ke arah sini.

"Nih, Sato-kun."

"Eh, Netora mau kasih cokelat buatku?"

"Cuma cokelat tanda pertemanan, kok. Tidak perlu balasan ya."

"Wooo! Makasih banyak!"

"Kondo-kun juga, silakan."

"Ooo! Serius aku senang banget, makasih ya Netora!"

"Cuma cokelat paketan begini saja senang banget sih. Jangan dimakan di sekolah, ya."

Aaah, Yuu-kun dan Fuyuki-kun menatapku dengan tatapan yang tajam sekali. Nikmatnya luar biasa!!

Merasakan tatapan mereka menusuk punggungku, sensasi nikmat seperti sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuhku. Persis seperti di komik dewasa.

'Jika tidak bertobat, akan turun hukuman Tuhan'

Tiba-tiba, kalimat ramalan saat tahun baru melintas di benakku.

Aku sering lupa, tapi dunia tempatku berada sekarang adalah dunia paralel yang "sangat mirip" dengan kehidupanku sebelumnya.

Aku harus mempertimbangkan kemungkinan adanya entitas yang benar-benar bisa menurunkan hukuman ilahi kepada penjahat yang bertindak semena-mena.

Artinya, aku harus sebisa mungkin menghindari hal-hal yang membuat nilai karma menjadi minus. Tapi kalau soal itu, harusnya aku tidak punya masalah.

Aku adalah wanita berhati lembut yang mencintai manusia lebih dari siapa pun di dunia ini.

Ya, aku mencintai manusia seperti halnya manusia menyukai anjing.

Tadinya aku ingin menjelaskan kalau aku adalah entitas cahaya yang baik hati, tapi kenapa malah terdengar seperti psikopat yang tidak bisa membedakan manusia dan anjing, ya?

Semakin aku memikirkannya, rasanya aku semakin menggali lubang kubur sendiri, jadi aku berhenti berpikir.

Oke, aku mengakuinya. Mungkin aku memang sedikit lebih jahat dari orang biasa.

Tapi nilai karmaku harusnya masih dalam jangkauan yang bisa diperbaiki. Mungkin aku adalah entitas murni yang berada di titik nol, yang bisa menjadi baik atau jahat kapan saja. Rute neutral yang hakiki.

Nilainya minus besar? Itu pasti alat pengukurnya yang rusak.

Masa lalu tidak bisa diubah, tapi masa depan bisa.

Mulai hari ini, aku akan terlahir kembali sebagai entitas cahaya sejati...!

Ah, Yamada-kun baru masuk kelas. Terlahir kembalinya mulai besok saja deh.

"Yamada-kun, pagi!"

"Ah, Netora-san. Pa—"

"Nih! Cokelat Valentine!"

Aku memberikan kotak kecil berisi cokelat buatan tangan pada Yamada-kun, bukan cokelat kemasan.

"Eh... a-anu, ini, jangan-jangan... buatan tangan Netora-san sendiri——"

"Fufu, karena Yamada-kun selalu baik padaku, ini spesial buatmu."

Begitu aku mengedipkan mata, wajah Yamada-kun memerah sampai ke telinga. Lucu sekali.

"A-anu, serius terima kasih. Itu, gimana ya... aku senang banget."

"Ahaha, beda dengan yang dijual di toko, ini tidak tahan lama, jadi tolong dimakan hari ini ya."

Setelah melambaikan tangan kecil, aku menjauh dari Yamada-kun.

Lalu sebagai serangan balik, aku menunjukkan kemesraan dengan Yuu-kun di depannya untuk menghancurkan mental Yamada-kun. Lezat, lezat sekali.

"Netora~ aku tidak dapat cokelat?"

"Buat Tanaka-kun tidak ada~ ...Tapi, mungkin kamu bakal dapat sesuatu yang lebih baik dari sekadar cokelat pertemananku?"

"Hah?"

Aku tersenyum penuh arti sambil melirik ke salah satu siswi di kelompok perempuan.

"……Yah, lebih baik kamu siapkan hati sedikit ya? Rapikan penampilanmu, oke?"

"Eh, ah, oi!"

Hanya itu yang kukatakan, lalu aku pergi meninggalkannya dan bergabung dengan kelompok perempuan untuk memulai rapat rahasia.

"Re-Reiko. Tanaka-kun bagaimana?"

"Ada harapan. Kalau kamu tembak sekarang, pasti diterima."

"Waaah! Te-terima kasih! Aku akan kumpulkan keberanian!"

Gadis yang kudorong punggungnya itu tampak bersemangat dan berjalan menuju meja Tanaka-kun.

Yah, mereka berdua pasti akan jadi pasangan.

Aku sudah sering mengacak-acak hubungan pasangan di kehidupan sebelumnya, jadi aku punya kepercayaan diri mutlak dalam menilai orang. Tahu cara menghancurkan pasangan berarti tahu cara membentuknya juga.

Karena itulah, hari ini aku adalah Cupid cinta. Bisa dibilang aku adalah malaikat "Netrael".

"Anu, Netora-chan! Bagaimana menurutmu aku dengan Yasuda-kun?"

"Sebenarnya aku merasa tertarik pada Koyama-kun..."

"Ada kakak kelas kelas dua yang aku suka——"

Melihat pasangan pertama tadi hampir terbentuk, satu per satu siswi datang padaku untuk konsultasi asmara.

Jika berdasarkan riset awal kombinasinya tidak masalah, aku tinggal mendorong punggung mereka. Jika peluangnya agak buruk, aku akan berjanji untuk menjinakkan si laki-laki melalui sugesti mental dan cuci otak, lalu menyiapkan waktu untuk mereka bertemu nanti.

Para gadis senang karena dapat pacar.

Aku senang karena bisa menyingkirkan gadis-gadis yang berpotensi mendekati Yuu-kun.

Benar-benar sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Berbuat baik itu memang rasanya menyenangkan.

Sambil merasakan nilai karmaku bergeser ke arah positif, aku mulai menyusun rencana pembentukan pasangan yang sepenuhnya mengabaikan keinginan para laki-laki tersebut.

◆◆◆

Aku—Yamada Minoru—sedang jatuh cinta pada orang yang mustahil kuraih.

"Ah, itu Yamada-kun."

"……Hah? A-eh, Netora-san?"

"Iya, ini Netora-san~ Pagi, Yamada-kun."

Di jalan menuju sekolah pada pagi hari.

Gadis yang berlari mendekatiku sambil tertawa riang itu bernama Reiko Netora.

Dia adalah salah satu dari lima gadis tercantik di sekolah, dan sekaligus target cinta bertepuk sebelah tanganku yang tidak tahu diri ini.

"Masih dingin ya. Kuharap segera hangat."

"……Ehm, iya ya."

...Kenapa aku tidak bisa memberikan jawaban yang lebih keren sedikit?

Aku meratapi diriku yang sangat payah dalam berkomunikasi, tapi Netora-san tidak keberatan dan tetap menyambung obrolan dengan ceria.

"——Terus ya, akhir-akhir ini aku lagi suka minum jus kotak."

"Oh, Netora-san memang belakangan sering minum jus aneh yang tidak jelas arah rasanya ke mana, ya."

"Habisnya lebih banyak produk yang berani bereksperimen daripada jus botol, jadi seru. Kalau dapat yang rasanya aneh, membaginya ke teman-teman untuk jadi korban itu juga seru."

Beberapa menit setelah mulai berjalan bersamanya.

Tanpa kusadari, aku terbawa oleh suasana yang ia ciptakan hingga bicaraku menjadi lancar.

Inilah yang disebut dengan kemampuan komunikasi tingkat tinggi.

Dia tidak mengejek atau mempermainkan orang di kasta bawah sekolah sepertiku, melainkan melemparkan topik yang mudah kutanggapi agar aku juga bisa menikmati percakapan. Aku benar-benar kagum padanya di dalam hati.

"Ngomong-ngomong, aku sudah menonton film dari Light Novel yang Yamada-kun baca waktu itu, lho. Itu, yang tentang kehidupan sekolah."

"Wuaah. N-Netora-san menonton itu?"

"Apa sih reaksi itu? Filmnya bagus, kok! ……Yah, walau ceritanya agak vulgar sedikit sih……"

"A-aku bilang dulu ya, aku tidak cuma baca buku yang seperti itu saja kok."

"Aku tahu, kok."

Meskipun memasang ekspresi agak rumit, Netora-san akhirnya tersenyum malu-malu.

Dia adalah orang yang sangat bebas dari prasangka.

Bahkan untuk karya hobi otaku atau konten yang mungkin membuat gadis seumurannya mengernyitkan dahi, jika itu direkomendasikan atau ia merasa tertarik, ia akan mencoba menikmatinya tanpa pandangan sebelah mata.

Bahkan padaku, seorang otaku introvert yang jarang berinteraksi dengan perempuan, dia sering menyapa tanpa ragu. Kudengar dia juga sering menjadi tempat curhat masalah pribadi atau asmara teman sekelasnya.

Menurut rumor, jumlah pasangan yang terbentuk setelah Valentine berkat bantuannya cukup banyak.

'Itu cuma kebiasaan burukku yang suka ikut campur urusan orang lain,' katanya sambil tertawa malu-malu. Dia adalah sosok yang sangat mementingkan orang lain.

Bagaimana bisa gadis yang seperti kumpulan niat baik ini lahir ke dunia?

Jika dunia ini adalah sebuah game, Netora-san pasti menjadi karakter berelemen cahaya. Meskipun itu perumpamaan otaku yang klise, begitulah terangnya sosok dia di mataku.

……Karena itu, aku tidak boleh salah paham.

Dia bersikap baik padaku sebagai teman sekelas, dan itu sama sekali bukan perasaan cinta.

"……Ngomong-ngomong, hari ini kamu tidak bersama Tachibana-kun ya?"

"Hm, Yuu-kun?"

"Iya. Netora-san dan Tachibana-kun biasanya hampir selalu berangkat sekolah bareng, tapi kenapa hari ini sendirian?"

Tachibana Yuki.

Dia teman sekelasku, seorang laki-laki tampan yang tidak sombong dan bersikap sopan serta baik kepada siapa pun.

……Dan kemungkinan besar, dialah orang yang dicintai Netora-san.

"Iya…… soal Yuu-kun, sepertinya dia sedang flu. Katanya hari ini dia izin tidak masuk sekolah."

"Eh, benarkah?"

"Iya. Makanya, sepulang sekolah nanti aku mau menjenguknya."

Meski memasang ekspresi khawatir, suara dan perasaannya jelas menunjukkan emosi yang lebih dari sekadar persahabatan.

……Hanya dengan melihatnya seperti itu, dadaku rasanya seperti diikat erat dengan tali tambang.

Memang benar, dia menyukai Tachibana-kun——

"Aah, padahal hari ini adalah White Day…… Yuu-kun harus memberiku balasan dengan bunga bank kalau sudah sembuh nanti!"

Mendengar kata-kata Netora-san, aku tersadar dan memantapkan hati untuk memasukkan tangan ke dalam tas.

"A-anu! Netora-san!"

"Hm, ada apa?"

"I-ini! Balasan Valentine untukmu!"

Aku menyerahkan sebungkus kue kering yang sudah dibungkus kado padanya.

Melihat kue panggang di dalam plastik transparan itu, Netora-san membelalakkan matanya.

"Eh, ini jangan-jangan…… buatan tangan!?"

"A, u-uhm, iya. Karena Netora-san memberiku cokelat buatan tangan, rasanya tidak enak kalau aku cuma memberi produk jadi……"

……Setelah memberikannya, aku baru berpikir: bagaimana perasaan seorang gadis jika diberi kue buatan tangan oleh laki-laki yang bahkan bukan pacarnya? Bukankah itu menjijikkan?

Seolah mengabaikan rasa takut yang mulai menyerangku, gadis di depanku berseru senang dan melompat kecil.

"Waaa! Aku senang banget! Terima kasih, Yamada-kun!"

"Eh, ah—itu... Kalau kamu merasa risi, dibuang saja tidak apa-apa, serius."

"Eeeh!? Apa yang kamu katakan! Mana mungkin aku membuangnya!"

"Tidak, beneran tidak usah dipikirkan. Setelah kupikir lagi, dapat kue buatan tangan dari teman sekelas itu pasti menjijikkan……"

"——Yamada-kun."

Kedua tangan Netora-san menggenggam erat tanganku yang sedang berusaha membuat pembelaan diri yang memalukan.

"A-eh…… O-Netora-san?"

"Maaf kalau aku salah menebak…… tapi Yamada-kun sulit bicara dengan perempuan, ya?"

"Eh, ah—yah... begitulah, aku memang tidak pandai... sejujurnya."

Ditatap lurus oleh matanya, aku hanya bisa mengeluarkan kata-kata yang menyedihkan itu.

Jika aku pandai bicara dengan perempuan, aku tidak akan menjadi otaku introvert separah ini.

Lalu, dia tersenyum lembut dan sedikit mempererat genggamannya pada tanganku.

"……Tapi, meski tidak pandai bicara dengan perempuan, kamu sudah berusaha keras membuatkan kue ini untukku, kan? Biasanya tidak ada orang yang tidak merasa senang jika diperlakukan seperti itu, tahu?"

"Netora-san……"

Ah, hentikan.

Jika kamu mengakuiku seperti itu, aku yang sudah menyerah ini jadi bermimpi lagi.

Kumohon, biarkan aku membuang perasaan cinta yang hanya akan menyakitkan ini tanpa penyesalan.

Tanpa mengetahui perasaanku, dia mendekap kue buatanku yang kurang sempurna itu dengan hati-hati, lalu tersenyum penuh kasih sayang.

"……Terima kasih, Yamada-kun. Aku sangat senang. Benar-benar, benar-benar…… Aku sangat me nyu kai perasaan (keputusasaan) itu."

……Mendengar kata-katanya, aku berusaha membalas dengan senyuman.

Aku mengerahkan tenaga di perutku agar suaraku tidak bergetar.

"……Sama-sama. Aku juga senang dengan perasaan Netora-san. Jadi, tidak perlu dipikirkan."

Rasa cinta pertama ternyata berkali-kali lipat lebih pahit dan lebih berat dari yang kubayangkan.

◆◆◆

"Iya, sebentar…… Oh, Reiko-chan."

"Halo, Tante."

Di sudut kawasan perumahan yang tenang.

Mendengar suara interkom, ibu Tachibana Yuki membuka pintu depan dan mendapati Reiko Netora, teman masa kecil putranya, berdiri di sana.

"Apakah kamu ingin menjenguk Yuki?"

Ketika ibu Yuki bertanya apakah dia datang untuk menjenguk putranya yang absen sekolah karena flu, Reiko sedikit mengangkat tas sekolahnya sebagai jawaban setuju.

"Iya. Sekalian mengantarkan lembar tugas sekolah juga…… Ah, tapi kalau kondisi Yuu-kun sedang buruk, saya akan pamit sekarang juga……"

"Ah, kalau itu tidak apa-apa kok. Bukan flu burung, dan panasnya sudah hampir turun sejak tengah hari tadi."

"Benarkah? Syukurlah……"

Melihat Reiko tersenyum dengan raat wajah yang lega dari dasar hati, ibu Yuki merasa hangat seolah sedang melihat sesuatu yang manis.

Meskipun belum pernah mengonfirmasi langsung pada mereka berdua, perasaan Yuki terhadap Reiko terlihat sangat jelas dari sikapnya, dan Reiko pun jelas-jelas menyayangi Yuki—hal yang bisa dilihat siapa pun yang memperhatikan.

Meski perasaan mereka sudah sangat jelas, fakta bahwa mereka belum juga berpacaran dalam hubungan cinta yang murni dan manis ini membuat ibu Yuki—meski ia sadar ini sedikit jahat—jadi suka mengamati mereka.

……Tentu saja, ibu Yuki bukan lagi anak-anak yang percaya tanpa dasar bahwa cinta pertama akan selalu berakhir bahagia.

Namun, jika putranya bisa membangun rumah tangga dengan gadis ini, ia membayangkan betapa ia akan sangat memanjakan menantunya itu—begitulah besarnya rasa suka ibu Yuki pada Reiko yang polos dan ceria.

"Jika Reiko-chan tidak keberatan, bolehkah kamu menemui Yuki sebentar?"

"Eh, e-eto…… kalau begitu, saya permisi masuk sebentar."

"Fufu, dikunjungi gadis secantik ini saat sakit, putraku ternyata hebat juga ya."

"Ta-tante! Jangan menggoda saya begitu!"

Wajah Reiko memerah padam mendengar ucapan ibu Yuki.

Melihat putranya yang masih belum bisa melangkah maju padahal gadis itu sudah menunjukkan ketertarikan sejelas ini, ibu Yuki hampir saja menghela napas.

Memang putranya adalah tipe yang pemalu sejak kecil, tapi jika ia berpikir gadis secantik Reiko akan selamanya jomblo, itu namanya kurang rasa waspada.

Sebelum disalip oleh orang lain—seperti Fuyuki-kun yang merupakan teman putranya—ibu Yuki ingin putranya segera bertindak tanpa penyesalan.

Sambil melepas kepergian Reiko yang menuju lantai dua tempat kamar pribadi putranya berada, ibu Yuki memantapkan tekad untuk sedikit ikut campur agar cinta pertama putranya bisa terwujud.

◆◆◆

"——Haaah, bosannya."

Sambil berbaring di tempat tidur, aku—Tachibana Yuki—menatap langit-langit dengan hampa.

Rasa menggigil dan sakit kepala yang kurasakan sejak pagi sudah hilang, tapi rasa lesu yang masih tersisa membuatku tidak bersemangat untuk memegang ponsel, jadi aku hanya berbaring saja layaknya orang sakit.

"……Padahal aku sudah menyiapkan persiapan untuk White Day."

Aku menghela napas panjang sambil memandangi bungkusan permen di atas meja.

Tujuan permen itu tentu saja untuk dia, teman masa kecilku.

"Aku ingin bertemu Rei-chan……"

"Te-terima kasih, jadi malu nih."

"…………Hah?"

Gumaman pelan yang keluar dari mulutku mendadak ditanggapi.

Saat menolehkan kepala ke samping, Rei-chan sedang berdiri di sana dengan pipi yang sedikit merona.

"Ah, eh!? Re-Rei-chan!? Ke-kenapa bisa……"

"He-hei, jangan mendadak bangun begitu. Aku dengar dari Tante kondisimu sudah hampir sembuh, tapi jangan memaksakan diri."

Aku refleks bangun karena kedatangan Rei-chan yang tiba-tiba, tapi ia menegurku dan menyuruhku berbaring kembali di tempat tidur.

"E-eto…… ada apa hari ini, Rei-chan?"

"Menjengukmu. Sebenarnya Fuyuki-kun dan Yuri-chan juga mau ikut, tapi…… kupikir bakal merepotkan kalau terlalu banyak orang yang datang, jadi aku datang sebagai perwakilan."

"Be-begitu ya……"

Antara merasa bersalah karena membuat semua orang khawatir dan merasa bersyukur karena dipedulikan, aku hanya bisa memasang senyum yang canggung.

————Eh, tunggu sebentar.

Sejak pagi aku berkeringat karena tidur dan belum mandi sama sekali.

Aku tidak bisa mencium baunya sendiri, tapi jangan-jangan aku bau keringat!?

"Ada apa, Yuu-kun?"

"Eh, a…… tidak, itu……"

Rei-chan menatapku dengan wajah heran.

……Gawat. Begitu mulai terpikirkan, aku merasa diriku sangat bau. Rambutku juga pasti berantakan karena bangun tidur.

Berada dalam kondisi tidak siap di depan gadis yang kusukai membuat wajahku terasa panas karena malu dan gengsi.

Saat aku bertingkah aneh seperti itu, Rei-chan tiba-tiba mendekatkan wajahnya.

"Yuu-kun? Wajahmu merah, apa kamu baik-baik saja?"

Jangan! Jangan menatapku dari jarak sedekat ini saat aku belum merapikan diri!

Sebelum kata-kata itu keluar, ia menempelkan keningnya ke keningku.

"Hmm…… sepertinya panasnya tidak terlalu tinggi, tapi kalau merasa sakit bilang ya? Mau aku lap badannya? Atau mau minum air?"

"Khuk!"

Melihat wajahnya yang cantik dari jarak sedekat itu dan mencium aroma harum yang luar biasa darinya, aku merasa hampir kehilangan kesadaran.

"Ma-maaf! Aku mau cuci muka sebentar!"

"Eh, Yuu-kun?"

Karena sudah melewati batas kapasitas mentalku, aku berlari keluar kamar menuju wastafel seolah-olah sedang melarikan diri.

"――Haaah, haaah……"

Aku membasuh wajahku dengan air dingin, berusaha keras untuk kembali tenang.

Sebenarnya aku ingin mandi sekalian, tapi tentu saja tidak sopan membiarkan Rei-chan menunggu terlalu lama, jadi aku berkompromi dengan hanya merapikan rambut sedikit.

"……Sudah berapa lama ya sejak Rei-chan terakhir kali datang ke kamarku? Sepertinya sejak sesi belajar bersama di semester satu," gumamku pelan sambil menatap cermin.

"A-aku belum mandi, jadi, jangan lihat……"

Sosok Rei-chan yang berbaring di tempat tidur dengan pipi merona malu saat itu mendadak bangkit kembali dengan jelas di ingatanku.

"Apa yang aku pikirkan, sih!?"

Begitu merasakan sensasi tekstur dada Rei-chan seolah kembali ke telapak tanganku, aku langsung mengguyur kepalaku lagi dengan air dingin.

"…………Uwaa, aku payah. Aku benar-benar……"

Aku jatuh ke dalam rasa benci diri yang mendalam karena menyadari aliran darahku mulai terpusat ke bagian bawah tubuh hanya karena imajinasi.

Padahal Rei-chan datang menjenguk dengan niat baik yang murni dan tanpa cela…… tapi aku malah menatapnya dengan pikiran mesum……

"……Tapi, aku pernah baca di internet kalau perempuan mau main ke kamar laki-laki itu artinya 'OK'……"

Aku kembali membasuh sisa-sisa nafsu duniawi yang menempel itu dengan air dingin.

"……Yuu-kun? Kamu lama sekali tidak kembali, aku jadi khawatir—astaga, apa yang kamu lakukan!?"

Rei-chan yang khawatir karena aku tidak kunjung kembali membuka pintu wastafel, dan di sana ia menemukan aku yang bodoh ini sedang menempelkan kepala ke keran sambil diguyur air dingin.

Rei-chan buru-buru memelukku dari belakang, mencoba menarikku menjauh dari wastafel.

……Lewat baju piyama, dada Rei-chan terasa 'menekan' punggungku.

Nafsu duniawi yang harusnya sudah terhanyut ke saluran pembuangan mendadak mengalir deras kembali ke tubuh tuannya melewati ruang dan waktu.

"Ah."

Pandangan Rei-chan tertuju pada bagian bawah tubuhku yang sudah dalam kondisi 'gawat'. Tamat sudah riwayatku.

"……I-iiih! Dasar! Yuu-kun mesum! Ada Tante di bawah, jangan melakukan hal seperti itu!!"

Wajah Rei-chan memerah padam, dan seolah ingin menutupi rasa malunya, ia menggosok kepalaku yang basah kuyup dengan handuk secara kasar.

……Jujur, aku ingin dia berhenti mengatakan hal yang seolah-olah kalau Ibu tidak ada maka itu 'OK'. Godaannya terlalu kuat untuk seorang perjaka.

Dan tolong, biarkan aku sendiri. Biarkan aku menyembunyikan 'tenda' yang sudah berdiri di celana ini.

Akhirnya, aku hanya bisa pasrah diperlakukan sesuka hati olehnya sampai rambutku benar-benar kering dengan pengering rambut. Bunuh saja aku……

◆◆◆

"Ma-maaf ya Yuu-kun. Aku jadi berisik tadi……"

"Ah—iya. Itu…… jangan dipikirkan. Lagipula, akan sangat membantu kalau kamu melupakan banyak hal tadi……"

"Baik……"

Setelah keributan di wastafel tadi, kami kembali ke kamar. Aku yang merasa lelah secara mental kembali masuk ke dalam selimut.

Aku merasa kasihan pada Rei-chan yang tampak merasa bersalah, tapi menurutku dia juga punya sedikit masalah. Secara logika, mengurusi tatanan rambut laki-laki yang sedang ereksi itu agak keterlaluan.

Yah, aku tahu dia pasti sedang panik juga, tapi sejujurnya aku ingin dia punya sedikit rasa waspada terhadap laki-laki.

Sifatnya yang terlalu baik itu memang daya tariknya, tapi tidak semua laki-laki di dunia ini seperti aku atau Fuyuki-kun.

Hanya dengan membayangkan dia dimanfaatkan karena kebaikannya dan ditangkap oleh "lelaki nakal" saja sudah membuatku merinding ketakutan, jauh lebih parah daripada rasa menggigil karena flu.

Saat aku sedang melamunkan hal yang tidak berguna itu, Rei-chan melihat jam lalu berdiri.

"Kalau begitu, aku pulang dulu ya. Sampai jumpa di sekolah."

"Iya. ……Ah, Rei-chan."

"Hm, ada apa?"

Saat aku menahannya yang hendak pergi, aku menunjuk ke arah kotak kado di atas meja.

"Kotak itu adalah balasan untuk Valentine kemarin. Kalau kamu tidak keberatan, silakan diambil."

"Wah, terima kasih Yuu-kun! Aku senang sekali!"

Rei-chan tersenyum lebar seperti bunga yang bermekaran.

Hanya dengan melihat senyuman itu, aku merasa seluruh tubuhku kembali dipenuhi energi.

"………………"

"Rei-chan?"

Tiba-tiba dia mendekat ke arahku yang sedang berbaring, lalu mengecup pipiku dengan lembut.

"E-eh……!?"

"Fufu, mungkin flunya sudah menular padaku sekarang. Cepat sembuh ya, Yuu-kun."

Setelah mengatakan itu, dia melangkah keluar dari kamarku dengan langkah kaki yang ringan seperti bulu.

"Eeeeh~~…… serius, apa-apaan itu…… apa dengan begini kami masih dianggap tidak pacaran? Yang benar saja……"

Rasanya demamku mau naik lagi……

Sebenarnya aku ini dianggap apa olehnya?

Jangan-jangan, Rei-chan salah paham dan mengira aku ini hewan peliharaan atau semacamnya?

Aku hanya bisa mengerang di atas tempat tidur dengan pikiran yang berkecamuk.

◆◆◆

Upacara kelulusan.

Melepas kepergian kakak kelas kelas tiga dengan rasa sedih…… atau begitulah seharusnya, tapi karena klub sastra hanya berisi kakak kelas "hantu" (yang jarang muncul) dan aku tidak punya banyak interaksi dengan mereka, jujur saja acara ini terasa kurang berkesan bagiku. Halo, saya Reiko Netora.

Yah, mungkin karena momen pengakuan dosa atau apa, beberapa kakak kelas yang baru kukenal sekilas sempat menyatakan cinta padaku.

Tentu saja semuanya kutolak.

"Yah, ternyata tetap tidak bisa ya—"

"Tolong posisikan diri Anda sebagai orang yang ditembak dengan nada seringan itu. Karena sikap seperti itulah Anda selalu cepat putus meskipun punya pacar, tahu?"

"Ahaha, Netora galak sekali ya—"

Orang yang tertawa tanpa terlihat terluka meski baru saja ditolak itu adalah kakak kelas playboy dari klub musik ringan (nama samaran) yang beberapa kali kutemui di rapat kegiatan klub budaya.

Wajahnya yang manis memang berbakat menggaet banyak gadis, tapi waktu pertemuan kami sangat buruk.

Seandainya kami bertemu di masa SMA, aku pasti ingin memasukkannya ke dalam jajaran "All-Star Pria Selingkuhan"-ku. Namun, untuk menjaga hubungan jarak jauh selama hampir dua tahun itu terlalu sulit dari sisi manajemen. Sayang sekali, kali ini aku lewatkan.

"Yah, kalau berubah pikiran hubungi aku ya. Ini akun pesan singkatku."

Aku menghela napas panjang melihat memo yang disodorkan secara paksa itu.

"Haaa…… saya terima dulu untuk formalitas, tapi jangan berharap apa-apa ya?"

"Iya, tidak masalah. Sekecil apa pun peluangnya, hubungan dengan gadis cantik harus dijaga baik-baik."

"Anda benar-benar tidak mau kalah bicara ya…… Selamat atas kelulusannya. Tolong jangan terlalu sering mempermainkan perempuan, ya? Nanti punggung Anda bisa ditusuk orang suatu saat nanti."

Yah, sebenarnya nasihat itu seperti bumerang yang menusuk diriku sendiri sih.

Aku adalah wanita dengan pandangan objektif. Saat fajar kehancuran mental Yuu-kun tiba nanti, aku sudah siap jika punggungku harus ditusuk oleh seseorang.

……Tapi, itu tidak masalah.

Asalkan aku bisa menghancurkan mental Yuu-kun, masa depan setelahnya tidaklah penting bagiku.

Aku tidak butuh tempat untuk berlabuh. Aku hanya perlu terus melangkah menuju jalan NTR. Selama aku tidak berhenti, jalan itu akan terus berlanjut.

Karena aku tidak akan berhenti! Selama Yuu-kun dan yang lainnya tidak berhenti, aku akan selalu ada di depan sana!

Jadi……

Jangan sampai berhenti ya……

Saat aku sedang merenungkan sosok "Komandan" yang tampaknya tidak punya tanda-tanda untuk berhenti dalam meme internet, si kakak kelas playboy tertawa riang.

"Ahaha, terima kasih atas sarannya yang berharga. Semoga hubunganmu dengan Tachibana-kun berjalan lancar ya, Netora?"

"E-eh……!? Ke-kenapa…… bagaimana Anda tahu……!?"

"Fufu, akhirnya aku bisa melihat pemandangan yang bagus di saat terakhir. Sampai jumpa, Netora."

"Ka-kakak kelas! ……Iiiih!"

Sepertinya dia puas melihat wajahku yang memerah, kakak kelas itu pergi dengan wajah penuh kemenangan.

Nah, sekarang bagaimana kondisi Yuu-kun dan kawan-kawan yang sejak tadi mengamati kami dari balik bayangan?

Aku memutar bola mataku dengan tajam ke arah sudut gedung sekolah.

Di sana, selain Yuu-kun, ada juga Fuyuki-kun dan Yuri-chan yang sedang mengintip dari balik tembok.

Bola mataku yang sudah diperkuat dengan Blood Manipulation memiliki sudut pandang yang sangat luas.

Bahkan pemandangan di sudut penglihatan yang tidak bisa dikenali orang normal pun bisa kupastikan dengan tingkat akurasi yang sama seperti menatap langsung dari depan.

Ooh, melihatku memerah di depan kakak kelas playboy tadi, kira-kira kesalahpahaman macam apa yang sedang berkecamuk di kepala mereka? Wajah Yuu-kun dan yang lainnya tampak pucat.

Mungkin mereka salah paham dan mengira aku sudah direbut oleh laki-laki yang baru muncul saat mereka sedang ragu-ragu. Sebuah bonus yang tak terduga. Lezat sekali.

Ups, aku tidak boleh terlalu asyik menikmati ini. Aku harus segera meluruskan kesalahpahaman ini, kalau tidak, orang seperti Fuyuki-kun bisa-bisa nekat datang untuk "merebutku" lebih awal. Aku harus memberikan follow-up yang tepat.

"Aah! Yu-Yuu-kun!? Fuyuki-kun dan Yuri-chan juga! Ke-kenapa kalian ada di sini!?"

"Gawat, ketahuan Rei!"

"Ah, tidak, ini, itu……"

Aku memasang wajah terkejut seolah-olah baru saja menyadari keberadaan mereka secara tidak sengaja.

Melihat mereka bertiga yang panik karena ketahuan mengintip, meski di dalam hati aku tersenyum puas, aku mendekati mereka dengan ekspresi seolah sedang berkata 'Aku marah!'.

◆◆◆

"……Ehem. Upacara penutupan telah berakhir dengan sukses, dan mulai besok kita masuk libur musim semi. Aku sangat senang kita semua di kelas 1-B bisa menjadi begitu akrab sampai bisa mengadakan pesta makan-makan seperti ini."

Di sebuah restoran buffet murah yang menyajikan sushi dan yakiniku sepuasnya, aku berdiri dengan segelas minuman di tangan, memberikan pidato singkat.

Ini adalah acara perpisahan akhir tahun yang diadakan oleh ketua kelas. Di depanku, berkumpul teman-teman sekelas yang telah berbagi suka dan duka selama satu tahun.

"Ini mungkin terakhir kalinya kita berkumpul sebagai teman sekelas. Tapi, meskipun nanti sudah naik ke kelas dua, tolong tetap saling menyapa jika bertemu di jalan, atau berbagi informasi soal ujian mendadak. ……Lalu, aku tidak akan memaafkan kalian karena menyuruhku pidato mendadak padahal aku bukan pengurus kelas. Ketua kelas, nanti kamu harus datang menuangkan minuman untukku."

"Habisnya, Netora lebih terlihat seperti pemimpin kelas daripada aku, sih."

Mendengar interaksi jenaka antara aku dan ketua kelas, suasana menjadi cair dan gelak tawa pun pecah.

"Ketua kelas memang kurang menonjol sih, ya—"

"Bahkan guru terkadang secara refleks menganggap Rei-chan sebagai ketua kelas……"

"Fuyuki-kun dan Yuri-chan jangan ikut-ikutan setuju dong! ……Ehem. Kalau begitu, Cheers!"

"CHEEEERS!"

Setelah suasana menghangat, aku kembali ke tempat dudukku. Yuu-kun menyambutku dengan kata-kata pujian.

"Rei-chan, kerja bagus."

"Terima kasih, Yuu-kun."

Kami berdua saling membenturkan gelas berisi teh oolong dengan pelan.

"Satu tahun ini, banyak hal yang terjadi ya~"

"Ahaha, aku benar-benar banyak merepotkan Rei-chan. Terima kasih banyak ya."

"Aku tidak melakukan hal besar kok. Justru berkat Yuu-kun, satu tahun ini terasa sangat menyenangkan bagiku!"

Aku memiringkan gelas sedikit, mengambil napas sejenak, lalu menggaruk pipi dengan wajah agak malu.

"A-anu…… kalau kelas dua nanti bisa sekelas lagi dengan Yuu-kun, aku pasti senang……"

"I-iya. Be-benar juga ya……"

"Aku sudah ambil makanan nih. Yuki, tolong bantu tata di meja ya?"

"Rei-chan, aku bawakan piring kecil. Nih, buat Tachibana-kun juga."

"I-iya. Terima kasih ya kalian berdua……"

Saat aku dan Yuu-kun sedang menciptakan suasana manis, Fuyuki-kun dan Yuri-chan yang membawa makanan mendadak memotong pembicaraan.

Hmm, mereka secara terang-terangan mengganggu momenku dengan Yuu-kun, ya?

Sepertinya rasa suka dan rasa cemburu mereka sudah berkembang dengan baik, syukurlah.

Sambil tersenyum licik di dalam hati, aku mulai memanggang daging yang dibawa Fuyuki-kun.

◆◆◆

"Uuuuuu~~. Tidakk mauuu~~, aku tidak mau pisah kelas dengan Yuri-chan~~"

"Re-Rei-chan? Kenapa suasanamu jadi seperti orang mabuk begitu?"

Aku setengah menangis sambil membenamkan wajahku di dada Yuri-chan yang empuk.

Melihat tingkahku, Fuyuki-kun memasang ekspresi heran.

"Ah, jangan dipedulikan, Shirase. Rei itu memang tipe yang sangat benci pembagian kelas baru sejak zaman SD."

"Dulu dia selalu menangis sambil memelukku atau Fuyuki-kun. Yah, itu tandanya dia punya perasaan yang dalam…… biarkan saja dia begitu untuk sementara?"

"A-aku sih tidak masalah…… hehehe."

Merasakan gerakan tangan Yuri-chan yang mengusap punggungku dengan cara yang sedikit nakal, aku mulai menghitung kapan waktu yang tepat untuk melepaskan pelukan ini.

Bagi orang yang sangat memahami hati manusia sepertiku, mengendalikan kelenjar air mata di waktu yang efektif adalah kemampuan dasar yang sangat mudah. Bahkan tidak bisa disebut teknik.

Tepat saat tangan Yuri-chan mulai bergeser dari punggung menuju samping dadaku, aku langsung "menarik kembali" air mataku secara instan dan menjauh darinya.

"Hiks, maaf ya Yuri-chan. Aku sudah tenang sekarang."

"Ah…… i-iya. Syukurlah kalau begitu……"

Agar Yuri-chan yang tampak masih ingin memegangiku itu tidak "meledak", aku berhati-hati dalam menanggapinya, seolah sedang menangani nitrogliserin yang sensitif.

……Aku tahu bahwa dengan tingkat kesukaan saat ini, membangun rute NTR Yuri-chan sangatlah mudah tanpa perlu melakukan manuver berbahaya seperti ini. Jika ingin hasil yang sempurna, pasti ada rencana yang lebih aman.

Tapi, itu bertentangan dengan prinsipku.

Persetan dengan rencana stabil yang hanya fokus pada menghindari risiko.

Jika ingin melakukannya, lakukanlah dengan kekuatan penuh.

Dewa NTR hanya akan tersenyum pada mereka yang berlari kencang di ladang ranjau penuh risiko, dan terbang melampaui tebing keputusasaan.

Berikan aku lebih banyak kesulitan dan keputusasaan. Berikan aku gairah yang menggetarkan jiwa. Aku pasti akan melampauinya. Aku memantapkan tekadku sekali lagi.

Sambil merasakan kilauan jiwaku yang panas bahkan melampaui matahari, seolah-olah sedang memutihkan masa depan Yuu-kun dan yang lainnya, masa kelas satu SMP-ku pun berakhir.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close