Cerita Tambahan Khusus
Petualangan Meldy
"Oke, sudah
kuputuskan. Aku pasti akan pergi ke Ibukota!"
Begitu aku
menyuarakan tekadku di dalam kamar, Biscuit yang sedang duduk di atas tempat
tidur dalam wujud 'Tia' menggelengkan kepalanya pasrah.
"Mel-chan,
itu tidak mungkin. Bukankah baru saja semuanya bilang kalau rencananya
'ditunda'? Ya kan, Tuan Kucing Hitam?"
Cookie yang
dipanggil 'Tuan Kucing Hitam' dan sedang berwujud anak kucing hitam itu pun
mengangguk, "Unyaa."
"Muuu!
Pokoknya aku mau pergi!"
Saat aku
menggembungkan pipi dan meninggikan suara, mereka berdua hanya bisa mengangkat
bahu.
Saat ini
aku benar-benar sedang marah besar. Cookie dan Biscuit memang memasang wajah
jemu, tapi ini sama sekali bukan salah mereka.
Pangkal
masalahnya bermula dari kejadian beberapa hari lalu.
'Wisata ke
Ibukota' yang sudah kunantikan sejak lama bersama semua orang terpaksa ditunda
untuk sementara waktu. Gara-garanya adalah ras Foxman yang wilayahnya
berbatasan langsung dengan wilayah Baldia.
Di antara anggota
keluargaku, hanya aku yang belum pernah ke Ibukota. Padahal aku sudah mendengar
banyak cerita tentang Ibukota dari Ayah, Ibu, Kakak, juga Kakak Putri, makanya
aku benar-benar ingin pergi ke sana.
"Lagipula, bagaimana cara Mel-chan pergi ke Ibukota
sendirian? Jangankan mobil arang buatan Tuan Reed, kereta kuda pun tidak bisa
kamu gunakan. Andaikan kamu minta tolong pada Tuan Reiner atau Nona Nanali pun,
mereka pasti akan langsung menolaknya."
"Unyaa."
Cookie mengangguk berkali-kali dengan wajah jemu, menyetujui
perkataan Biscuit.
"Kalau soal itu sih tidak masalah. Soalnya, aku punya
rencana yang sempurna!"
"Rencana?"
"Nnya?"
Saat mereka berdua saling berpandangan dan memiringkan
kepala, aku menghadap ke meja tulis dengan senyuman lebar.
Aku menuliskan
judul 'Operasi Jalan-Jalan ke Ibukota' di atas selembar kertas besar. Kemudian,
aku mulai menuliskan rencana berdasarkan 'informasi' yang kukumpulkan selama
ini.
"……Sip,
selesai! Dengan rencana ini, aku pasti bisa sampai ke Ibukota."
Cara ini adalah
metode yang sering dilakukan Kakak, yang dia sebut sebagai 'Draf Proposal'. Aku
tidak terlalu paham arti draf proposal, tapi Kakak pernah bilang kalau
menuliskan rencana di atas kertas bisa membantu merapikan pikiran.
Selain itu, Kakak
juga mengajariku kalau menjelaskan ide kepada orang lain itu lebih baik
menggunakan draf rencana daripada hanya bicara lewat mulut saja.
Sebenarnya, aku
juga pernah mendengar hal itu dari Chris yang sering melakukan negosiasi bisnis
dengan Kakak.
Waktu itu dia
bilang kalau 'Draf Rencana' sangatlah penting, bukan hanya untuk bisnis saja.
Karena itulah,
aku selalu mencoba menuliskannya di kertas besar setiap kali memikirkan sebuah
rencana.
"Mel-chan. Kamu benar-benar berniat melakukan
ini?"
"Tentu saja.
Dan pastinya, kalian berdua juga harus membantuku!"
Begitu aku
menegaskan hal itu, Biscuit menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Tidak,
tidak, tidak, tidak! Aku tidak bisa membantu tindakan berbahaya seperti ini.
Lagipula, kalau Tuan Reiner atau Tuan Reed sampai tahu, mereka pasti akan
meledak marah. Mari kita jadi anak manis dan menunggu kesempatan berikutnya
saja. Ya kan, Tuan Kucing Hitam juga berpikir begitu, kan?"
"Nnya,
nnya."
Saat Cookie
mengangguk, aku kembali menggembungkan pipiku.
"Muuu. Kalau
kalian tidak mau membantu, aku akan bilang kalau kalian sedang sakit, jadi
kalian tidak akan dapat jatah makan!"
"Itu lagi?
Tapi kali ini tidak akan mempan, lho. Karena sekarang aku sudah bisa bicara
dalam wujud ini, aku tinggal menjelaskan situasinya saja kepada Tuan Reed."
Saat Biscuit
mengembuskan napas panjang, aku membalasnya dengan emosi.
"Kalau
begitu, aku akan membocorkan rahasia Biscuit dan Cookie kepada Dokter Sandra
dan yang lainnya!"
"Kepada
Sandra dan teman-temannya?"
Wajah mereka
berdua langsung pucat seketika.
Aku menyadarinya.
Kalau Dokter Sandra punya ketertarikan yang sangat kuat terhadap Biscuit dan
Cookie.
Ucapanku tadi
memang bukan sungguhan, tapi setidaknya cukup untuk menggertak mereka. Untuk
memberikan serangan pamungkas, aku mendekati mereka dengan mata yang
berkaca-kaca.
"Ayolah,
kalian berdua, kumohon. Kalau tidak…… aku…… aku……"
"A-apa?"
"Nn, nnya."
Saat Biscuit dan Cookie tampak ragu, aku langsung memasang
wajah sedih seolah inilah saat yang tepat.
"……Aku bakal nangis, lho!"
Sambil bergumam begitu, aku mulai menggetarkan bahu dan
suaraku seolah sedang terisak.
Sepertinya mereka berdua tidak menyangka kalau aku
benar-benar akan menangis, jadi mereka tampak panik dan kebingungan.
"Ka-kamu
benar-benar ingin pergi sejauh itu?"
"……Iya."
Saat aku
mengangguk menanggapi pertanyaan Biscuit, Cookie berubah ke wujud besarnya lalu
mengelus kepalaku. Telapak kakinya terasa empuk dan nyaman sekali.
"Gauuu."
"Eh, Tuan
Kucing Hitam? Kamu serius?"
Saat Cookie
mengerang, Biscuit membelalakkan matanya.
"Ya ampun,
Tuan Kucing Hitam ini terlalu memanjakannya, sih. ……Yah, tapi bagian
itulah yang membuatmu keren."
"Gua?"
"Tidak,
bukan apa-apa."
Biscuit
memalingkan wajahnya dari Cookie yang memiringkan kepala, lalu menoleh ke
arahku.
"Apa kata
Cookie?"
"Anu,
katanya begini, Mel-chan: 'Aku yang akan jadi pengawalmu, jadi jangan pernah
lepas dari sisiku. Kalau kamu bisa menjanjikan itu, aku akan membantumu'."
"Terima
kasih banyak, Cookie!"
Saat aku memeluk
lehernya, dia mendengkur seolah merasa malu.
"Guuu."
"……Heh, Tuan
Kucing Hitam. Kelihatannya kamu senang sekali, ya?"
"Nya!?"
Cookie langsung
pucat saat dipelototi oleh Biscuit dengan tatapan tajam. Aku tertawa melihat
interaksi mereka berdua, lalu kami mulai mendiskusikan 'Rencana' itu
bersama-sama. Dengan
tekad bulat di dalam hati, aku pasti akan pergi ke Ibukota.
◇
"……Berhasil,
ya."
"Nnya."
Saat aku
berbisik pelan, Cookie yang sedang berwujud anak kucing hitam itu mengangguk
kecil.
Saat ini
aku sedang bersembunyi di bagian dalam bak kargo yang ditarik oleh mobil arang
milik Persekutuan Dagang Christy.
Saat aku
menajamkan pendengaranku, dari luar bak kargo terdengar hawa kehadiran banyak
orang seperti Ellen, Alex, Chris, dan Kakak yang sedang terburu-buru menyiapkan
keberangkatan.
Hari ini
adalah hari keberangkatan Persekutuan Dagang Christy dari Baldia untuk
melakukan negosiasi bisnis di Ibukota.
Dan ini juga
merupakan hari pelaksanaan 'Operasi Jalan-Jalan ke Ibukota' dengan bantuan
Cookie dan Biscuit.
Aku terpikirkan
operasi ini saat acara minum teh beberapa hari lalu, waktu aku mendengar Kakak
bilang kalau ada surat resmi dari Keluarga Adipati Lovelace yang ingin
diperkenalkan dengan Persekutuan Dagang Christy.
Menyelinap ke
dalam kereta kuda atau bak kargo biasa itu sangatlah berbahaya, aku pun tahu
soal itu.
Tapi, kalau
persekutuan dagang itu dipimpin oleh Chris yang sudah kukenal baik dan mengerti
posisiku, risiko bahaya seandainya aku ketahuan menyelinap pun akan sangat
kecil.
Demi menjaga
jadwal negosiasi, seandainya keberadaanku ketahuan di tengah jalan pun,
kemungkinan mereka untuk kembali ke Baldia pasti sangat kecil.
Tentu saja aku
bakal dimarahi habis-habisan oleh semuanya, tapi karena Ayah ada di Ibukota,
kalau aku minta Chris dan yang lainnya untuk membawaku ke tempat Ayah, mereka
pasti akan setuju meski dengan berat hati.
Sejauh ini
semuanya berjalan sesuai rencana awal. Sisanya, tinggal masalah apakah aku bisa
mengelabui mereka atau tidak.
"Tuan Reed!"
"……!?"
Suara Diana dan
Danae yang memanggil Kakak terdengar dari luar bak kargo, membuat jantungku
berdegup kencang.
"Mohon maaf.
Apakah Anda melihat Nona Meldy? Beliau bilang ingin melihat mobil arang, tapi
kami kehilangan jejak beliau saat beliau sedang berlarian ke sana kemari."
"Eh, aku
baru saja sampai di sini jadi tidak melihatnya…… apa ada yang melihatnya?"
Percakapan antara
Kakak dan Diana yang terdengar agak meredam dari balik dinding itu membuat
jantungku berdebar semakin hebat karena takut ketahuan.
Kalau suara
jantungku sekeras ini, apa tidak bakal terdengar sampai ke luar, ya? Saat aku
berkeringat dingin karena cemas, tiba-tiba terdengar suara Ellen, "Aku
melihatnya tadi."
"Beliau
bilang ingin melihat mobil arang dari atap asrama bersama Cookie dan Biscuit
seperti biasanya."
"Di atap,
ya? Terima kasih banyak. Kami akan segera ke sana!"
"Aduh, Nona
Meldy ini. Padahal kami selalu bilang kalau beliau tidak boleh pergi ke sana
kemari sendirian."
Suara keras Diana
dan Danae pun menjauh diikuti oleh suara langkah kaki yang terburu-buru.
"Syukurlah.
Sepertinya tidak ketahuan."
"Unya."
Saat aku
mengembuskan napas lega, Cookie mengangguk kecil.
Biasanya sangat
sulit untuk mengecoh Diana dan Danae, tapi karena hari ini Cookie dan Biscuit
membantuku, ternyata jadi terasa mudah.
Sisanya, tinggal
menjaga agar identitas asli Biscuit tidak ketahuan sampai aku tiba di Ibukota
dan bertemu Ayah, maka operasi ini akan sukses besar.
"Kalau
begitu, Persekutuan Dagang Christy berangkat sekarang!"
"Iya,
hati-hati di jalan, ya."
Begitu
suara Chris dan Kakak terdengar dari luar, bak kargo mulai berguncang dan
getarannya mulai terasa di tubuhku. Mobil arangnya sudah mulai bergerak.
Asyik,
dengan begini aku bisa pergi ke Ibukota! Begitu pikirku, dan di saat yang sama,
mungkin karena rasa tegangku sudah mengendur, rasa kantuk yang hebat
menyerangku hingga aku mengucek mata.
"Maaf, Cookie. Aku tidur sebentar, ya."
"Nnya."
Dia berubah dari wujud anak kucing hitam ke wujud yang
sedikit lebih besar, lalu memelukku dengan tubuh dan ekornya seolah ingin
melindungiku.
Saat didekap oleh bulu Cookie yang lembut dan hangat,
guncangan dan getaran yang terasa di tubuhku pun jadi terasa seperti ayunan
yang nyaman.
"Terima
kasih. Selamat tidur, Cookie."
◇
"……Nona,
Nona Meldy!"
"Uuh,
nngh……?"
Saat namaku
dipanggil, aku terbangun dan melihat wajah Chris serta Emma yang tampak samar.
"Ah, apa
kita sudah sampai di Ibukota?"
Saat aku bertanya
balik sambil mengucek mata, mereka berdua tertegun lalu mengembuskan napas
panjang yang berat.
"Bukannya
sudah sampai di Ibukota…… tapi, apa yang Anda pikirkan sampai berani menyelinap ke bak kargo
seperti ini?"
Chris
menatapku dengan pandangan yang penuh rasa cemas sekaligus marah, membuatku
tersentak, "Uuh……"
"Ma-maafkan
aku. Tapi, aku benar-benar ingin mencoba pergi ke Ibukota. Bisakah kalian
membawaku ke tempat Ayah yang ada di Ibukota? Lagipula lihat, kalau sekarang
kalian kembali ke Baldia, kalian tidak akan sempat mengejar jadwal negosiasi
dengan Keluarga Adipati Lovelace, kan?"
Mendengar
ucapanku, dahi Chris berkerut sejenak sebelum dia tampak tersadar akan sesuatu.
"Jangan-jangan,
Anda menyelinap setelah memperhitungkan semua itu?"
"Ah……"
Gawat, aku
keceplosan bicara sampai ke hal yang tidak perlu.
"A-ahaha.
Apa maksudnya ya?"
Aku menggaruk
pipiku untuk mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi Chris hanya menggelengkan
kepala pasrah.
"Bisa
dibilang Anda memang adik Nona Reed, ya. Penuh perhitungan dan punya daya aksi
yang luar biasa."
"Ti-tidak
sehebat itu, kok."
"Tapi,
tindakan ini tidak bisa dipuji. Mohon pahami posisi Anda dengan baik."
"Ma-maafkan
aku."
Saat aku
menundukkan kepala, Chris kembali mengembuskan napas panjang.
"Pokoknya,
mari pindah ke kursi mobil arang. Saya tidak mungkin mengantar Nona Meldy
sampai ke Ibukota di dalam bak kargo seperti ini."
"Berarti
kalian bakal membawaku ke Ibukota?"
"Sayangnya,
seperti yang Nona Meldy katakan, kita tidak punya waktu untuk kembali ke Baldia."
Dia
berkata begitu, lalu melanjutkan dengan senyuman, "Tapi……"
"Kejadian
kali ini akan saya laporkan semuanya tanpa sisa kepada Tuan Reiner, Tuan Reed,
dan semuanya. Saya rasa Anda
akan dimarahi habis-habisan, jadi mohon siapkan mental Anda, ya."
"Uuuh……
I-iya, aku mengerti."
Tatapan
mata Chris tidak sedang tersenyum, dan aura hitam pekat terpancar dari seluruh
tubuhnya. Suasananya sangat mirip dengan saat Ibu sedang marah.
"Nona
Chris, gawat!"
Aku tersentak
kaget karena suara keras itu, dan saat aku menoleh, Serbia dari ras Mouse-man
tampak sangat pucat.
"Baru saja
ada pesan dari Tuan Reed bahwa 'Surat Resmi dari Keluarga Adipati Lovelace itu
palsu'! Beliau meminta kita untuk segera kembali ke Baldia!"
"……!? Aku
mengerti. Mari segera putar balik! Emma, tolong beri instruksi pada
semuanya!"
"Baik,
laksanakan!"
Ketegangan
langsung menyelimuti wajah Chris dan Emma seketika. Namun, setelah Emma pergi
dari tempat itu, Chris tersenyum lembut.
"Nona
Meldy, mari pindah ke kursi mobil arang bersamaku."
"I-iya."
Sambil
mengangguk, kata-kata 'Surat Resmi Keluarga Adipati Lovelace itu palsu' tidak
bisa lepas dari kepalaku.
Mengirimkan
surat resmi dengan memalsukan nama bangsawan adalah kejahatan berat di
Kekaisaran.
Apalagi
jika memalsukan nama Keluarga Adipati yang kedudukannya hampir mencapai posisi
tertinggi di antara bangsawan Kekaisaran, pelakunya pasti akan dihukum mati.
Itu
bukanlah tindakan yang bisa dimaafkan hanya dengan alasan main-main, dan jika
ada yang berani melakukannya, pasti ada 'tujuan' tertentu di baliknya.
Aku,
Cookie, dan Serbia duduk di kursi belakang mobil arang. Emma di kursi
pengemudi, dan Chris di kursi penumpang depan. Mobil itu pun langsung berputar
balik dan mulai bergerak.
"Emma,
kita harus segera kembali ke wilayah Baldia!"
"Dimengerti!"
Saat
mobil arang itu melaju semakin cepat dengan suara yang bising, tiba-tiba sebuah
dinding berwarna biru muda muncul di jalanan di depan kami. Bukan, itu adalah
dinding es!
"Nona
Meldy!"
"Eh……"
Tepat
setelah aku didekap ke dalam pelukan Serbia yang duduk di sebelahku, mobil
arang itu menabrak dinding es dan guncangan hebat menghantam kami.
Segalanya
terjadi dalam sekejap mata, dan saat aku tersadar, mobil arang itu sudah
terguling ke samping.
"Kuh…… Nona Meldy, Anda tidak apa-apa?"
"I-iya.
Terima kasih. Tapi, Serbia, ada darah di……"
Darah mengalir
dari dahi Serbia yang telah mendekapku di dadanya.
"Ah, luka
sebegini cuma luka gores saja, jadi tidak apa-apa kok."
Saat
Serbia tersenyum, pintu mobil arang terbuka.
"Syukurlah.
Kalian berdua selamat, ya."
Kami
merangkak keluar dari dalam mobil dengan bantuan Chris dan Emma. Entah sejak
kapan dia sudah berada di luar, Cookie sedang meraung dalam wujud besarnya
seolah ingin melindungi kami.
Saat aku
melihat ke arah yang dia tatap dengan tajam, sekelompok orang dari ras
Beast-man yang sepertinya sedang dalam wujud Beast Transformation
berdiri di sana.
Dan di
antara kelompok itu, seorang Beast-man yang paling cantik dan memiliki bulu
putih bersih tersenyum ke arah kami.
"Maaf ya
kalau sedikit kasar. Apa mungkin tadi aku melakukannya agak berlebihan?"
"Tidak, aku
tidak tahu apa alasannya, tapi mobil arang itu pasti berniat kembali ke Baldia.
Jika Nona Claire tidak menghentikannya di sana, mereka pasti sudah kabur."
Yang memanggil
Beast-man putih itu dengan nama Claire adalah seorang Beast-man wanita yang
tampak berwibawa.
"Seperti
kata Peony. Hebat sekali ya, Kak Claire. Benar kan, Kak Lilie?"
"Benar
juga, Rosen sesekali mengatakan hal yang bagus juga, ya."
Keempat
Beast-man itu tampak asyik mengobrol dengan akrab, namun dari hawa kehadiran
yang terpancar, aku pun bisa merasakan kalau mereka bukanlah orang sembarangan.
Saat aku melirik ke samping, ekspresi semua orang tampak sangat tegang.
"Me-mereka
adalah orang-orang yang sama dengan pelaku penyerangan yang menyerang bengkel Baldia!"
Saat Serbia
menunjuk ke arah mereka, mereka pun tertawa sinis.
Rasa merinding
menjalar di punggungku, sementara Chris membisikkan sesuatu kepada Serbia
sebelum melangkah maju.
"Sekadar
bertanya, apakah kalian melakukan kekerasan ini dengan tahu kalau kami adalah
Persekutuan Dagang Christy?"
Saat
Chris menatap tajam, Claire mengangguk sambil tersenyum manis.
"Iya,
tentu saja. Kami mengincar 'Persekutuan Dagang Christy' yang telah menculik
sesama rekan kami dan menjadikannya budak. Jika kalian menyerah dengan patuh, kami tidak akan
melukai kalian. Kami jamin keselamatan kalian. Tapi, kalau kalian melawan,
kalian akan merasakan sedikit rasa sakit."
"Kalau
begitu, jawabannya sudah jelas."
Begitu Chris
menyatakan hal itu, Mana Wave pun bergejolak di sekelilingnya.
"Kami akan
mengalahkan kalian, lalu kami akan kembali ke Baldia!"
"Begitu ya,
sayang sekali. Berarti negosiasinya gagal, ya."
Tepat setelah
Claire tersenyum, Cookie meraung keras lalu menerjang maju sambil mengeluarkan
teriakan perang. Emma pun melakukan Beast Transformation dan ikut
mengaum.
Dengan begini,
pertarungan antara Persekutuan Dagang Christy dan para penyerang itu pun
dimulai tepat di depan mataku.
◇
"Fufu, tadi
itu menyenangkan, tapi sepertinya sampai di sini saja, ya."
"Guh……"
Claire tersenyum
ke arah kami, sementara Chris dan Emma yang sudah babak belur tampak memasang
ekspresi kesakitan. Cookie, yang sekujur tubuhnya penuh luka, menggeram rendah
seolah ingin melindungiku.
Sementara itu,
Serbia telah kehilangan kesadaran akibat serangan mereka dan tergeletak di
sampingku.
Kekuatan para
penyerang ini—terutama wanita bernama Claire yang tampaknya adalah pemimpin
mereka—benar-benar di luar dugaan.
Awalnya, Cookie, Emma, dan Chris sempat mendominasi saat
melawan tiga orang lainnya selain Claire. Namun, begitu Claire ikut campur,
situasi perang berubah total.
Dalam sekejap mata, keadaan berbalik menekan kami.
'Kalau Kakak...
kalau Kakak ada di sini, apa yang akan dia lakukan?'
Saat aku memutar
otak dengan putus asa, tiba-tiba ingatan tentang surat resmi 'Keluarga Adipati
Lovelace' terlintas di benakku.
Mungkinkah para
penyerang di depanku ini mampu membuat 'Surat Resmi Adipati' yang begitu lihai
hingga bisa menipu keluarga Baldia dan Persekutuan Dagang Christy?
Tidak, bukan
hanya mereka. Surat palsu yang begitu meyakinkan bukanlah sesuatu yang bisa
disiapkan oleh sembarang orang.
Kecuali, jika
pelakunya adalah sesama bangsawan Kekaisaran.
"Ah..."
Aku tersentak.
Mungkinkah di balik mereka ada bangsawan Kekaisaran atau seseorang yang setara
dengan itu?
Jika benar,
'Surat Palsu atas nama Keluarga Adipati Lovelace' itu pasti merupakan sesuatu
yang sangat ingin mereka amankan kembali.
Dan meskipun aku
tertangkap oleh mereka, selama informasi ini tersampaikan, Kakak dan Ayah pasti
akan datang menyelamatkanku.
"Benar.
Bagaimanapun juga, aku adalah anggota keluarga Baldia."
Sambil bergumam
untuk menyemangati diri sendiri, aku menyampaikan rencanaku dengan suara pelan
yang hanya bisa didengar oleh Chris, Emma, dan Cookie.
"Apa...!?
Ti-tidak boleh! Kami tidak bisa melakukan itu!"
"Benar. Nona
Meldy-lah yang seharusnya pergi!"
Mata mereka
membelalak, namun aku menggelengkan kepala dengan tenang.
"Tidak bisa.
Kalau bukan aku, kita tidak bisa menghentikan gerakan orang-orang itu.
Lagipula, Kakak pernah bilang kalau terkadang, sebuah informasi bisa memiliki
nilai yang lebih tinggi dari apa pun. Dan saat itu adalah sekarang."
Aku menarik napas
dalam-dalam, lalu menatap mereka berdua dengan mantap.
"Ini adalah
'Perintah' dari Meldy Baldia, putri sulung keluarga Baldia. Semuanya,
patuhlah."
"Nona
Meldy..."
"Guuu..."
Cookie mengerang
frustrasi, namun akhirnya Chris mengangguk. "Saya mengerti."
"Emma.
Lakukan seperti yang dikatakan Nona Meldy."
"Mana
mungkin!? Apa Anda serius, Nona Chris?"
"Iya.
Sayangnya, kita bukan tandingan mereka. Jadi, hal berikutnya yang harus kita
pikirkan adalah menyampaikan informasi ini kepada Tuan Reed dan yang lainnya.
Kumohon."
Chris
mengeluarkan 'Surat Resmi' itu dari balik pakaiannya dan menyerahkannya kepada
Emma.
Melihat hal itu, aku beralih menatap Cookie.
"Kalau
begitu, sampaikan salamku pada Kakak, ya."
"Gauuu."
Aku tersenyum
pada Cookie yang mendengkur pelan, lalu mengambil belati milik Serbia dan
melangkah maju ke depan semua orang.
"Oh,
kamu..."
Tepat saat Claire
menatapku seolah sedang menilai, aku menarik napas panjang dan berteriak sekuat
tenaga.
"Aku... namaku adalah Meldy Baldia! Putri sulung dari
Reiner Baldia, Margrave yang memerintah wilayah Baldia!"
Mendengar suaraku, gerakan para penyerang itu terhenti.
"Heh, menarik juga. Sama sekali tidak terbayangkan
kalau Persekutuan Dagang Christy ternyata menculik putri sulung keluarga Baldia."
"Itu salah.
Aku sendiri yang menyelinap karena sangat ingin pergi ke Ibukota. Sayangnya,
gara-gara kalian, sepertinya aku tidak jadi sampai ke sana."
Aku melotot ke
arah Claire, namun wanita itu sama sekali tidak tampak merasa bersalah.
"Ahaha!
Begitu ya, kalau begitu maafkan aku. Tapi, apa yang akan kamu lakukan dengan belati sekecil itu? Jangan
bilang kamu berniat melawanku dengan itu?"
"Tidak.
Dengan belati seperti ini, aku tahu aku tidak mungkin bisa menang melawan
kalian. Tapi, bagaimana kalau begini?"
Tindakan
yang kulakukan membuat Claire mengerutkan dahi.
"Aduh, aduh.
Apa maksudnya ini?"
"Sudah
jelas. Jika kalian tidak melakukan apa yang kukatakan, aku akan menggorok
leherku dan bunuh diri di sini sekarang juga!"
Ya, aku telah
menempelkan mata belati di tanganku tepat ke urat leherku sendiri.
"Emma,
Cookie! Cepat pergi dari sini sekarang juga!"
"Mohon
maafkan kami, Nona Meldy!"
Cookie yang telah
berubah menjadi besar berlari pergi dengan Emma di punggungnya. Seketika itu
juga, para pengikut Claire mencoba mengejar mereka.
"Jangan
mengejar! Jika kalian mengejar mereka, aku akan bunuh diri di sini!"
"...!? Dasar
gadis kecil ini!"
Melihat darah
mulai mengalir dari leherku yang ditempeli belati, gerakan para pengikut itu
terhenti.
"Sepertinya
ini bukan sekadar gertakan, ya. Baiklah. Aku akan menuruti perkataanmu."
"Nona Claire, apakah Anda yakin?"
Di saat para pengikutnya tertegun, Claire berjalan
mendekatiku.
"Iya. Seorang gadis kecil telah menunjukkan tekad yang
mempertaruhkan nyawa. Aku juga harus
menunjukkan kemurahhatianku untuk menanggapinya. Tapi setelah ini, kamu harus
mengikuti perintahku."
"Baiklah.
Aku akan menyerah kepada kalian. Tapi, jaminlah keselamatan aku dan semua orang
yang ada di sini."
"Fufu,
baiklah. Atas nama Rapha Grandork, aku menjamin keselamatan kalian. Sebagai
gantinya, serahkan belati itu padaku."
"Aku
mengerti. Silakan."
Wanita yang
mengaku bernama Rapha itu menerima belatiku dengan hati-hati, lalu tiba-tiba
dia menjilat luka di leherku dengan lembut.
"A-apa yang
Anda lakukan?"
"Akan gawat
kalau kulitmu yang cantik ini sampai meninggalkan bekas luka. Sekarang, sudah
tidak apa-apa."
"Eh..."
Saat aku
menyentuhnya, luka di leherku telah menghilang.
Di tengah
perasaan bingung yang luar biasa, dalam hati aku memanggil Kakak, Ayah, dan
Ibu. Aku ingin bertemu mereka, dan di saat yang sama, aku membisikkan kata
maaf.
Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan
Kemarahan Elba
"Kakak, Kakak Perempuan sudah merebut mobil arang
sesuai rencana. Sepertinya beliau berhasil mengamankan orang-orang di sana,
termasuk perwakilan dari Persekutuan Dagang Christy."
"Hou, seperti yang kuduga dari Rapha. Kerjanya
cepat."
Di kediaman pemimpin suku di Forneus, ibu kota ras Foxman,
Elba mendengarkan laporan dari adiknya, Marbas, yang mengunjungi kamarnya.
Sambil duduk santai di sofa, Elba tampak sangat puas.
"Namun, ada hal yang di luar rencana."
"Kenapa?
Wajahmu tampak tidak senang."
"Entah
bagaimana ceritanya, putri sulung keluarga Baldia, Meldy Baldia, ternyata ikut
naik di bak kargo mobil arang tersebut."
Alis Elba
berkerut, dan dia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Apa katamu?
Bagaimana bisa itu terjadi?"
"Menurut
cerita yang Kakak dengar dari Nona Meldy, dia menyelinap ke bak kargo karena
sangat ingin pergi ke Ibukota."
"Ha, ada-ada
saja cerita konyol seperti itu."
Dengan wajah
jemu, Elba mengangkat bahunya seolah merasa pasrah.
"Kakak, apa
yang harus kita lakukan? Rencana awal kita adalah membuat Persekutuan Dagang Christy
tidak bisa beroperasi, meruntuhkan kepercayaan pada keluarga Baldia, dan
membuat mereka semakin terisolasi di dalam Kekaisaran. Selain itu, kita juga
berencana memberikan tekanan ekonomi."
"……Benar
juga."
Saat Elba
menyahut, Marbas menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kaku.
"Namun, jika
putri sulung keluarga Baldia ada di tangan kita, mereka pasti akan mengeraskan
sikap. Jika sudah begitu, saya rasa kita perlu memajukan jadwal rencana
kita."
Mendengar tentang
memajukan jadwal rencana, ekspresi Elba sedikit mendung.
Tujuan utama dari
rencana awal—seperti yang dikatakan Marbas—adalah menangkap perwakilan
Persekutuan Dagang Christy untuk menghentikan atau mengacaukan jalur distribusi
milik keluarga Baldia.
Tujuan keduanya
adalah mengulur waktu dengan mengajukan syarat-syarat yang mustahil untuk
pembebasan sang perwakilan, Christy Saffron.
Setelah itu,
setelah jeda waktu beberapa saat, mereka berniat memancing lawan agar lengah
melalui negosiasi perdamaian.
Meski keluarga Baldia
memiliki hubungan yang sangat akrab, persekutuan dagang itu tetaplah berasal
dari negara lain dan dipimpin oleh seorang Elf.
Jika keadaan
mendesak, keluarga Baldia bisa saja membuang persekutuan dagang tersebut.
Oleh karena itu,
meskipun keluarga Grandork mengajukan syarat yang mustahil dan penyelesaiannya
berlarut-larut, kemungkinan keluarga Baldia untuk mengangkat senjata masih
tergolong rendah.
Namun, ceritanya
berbeda jika putri sulung keluarga Baldia sudah jatuh ke tangan mereka.
Meskipun mereka
berdalih bahwa ini adalah perbuatan kelompok radikal, pembenaran moral untuk
'menyelamatkan putri yang diculik' sudah lebih dari cukup bagi keluarga Baldia
untuk menyerang keluarga Grandork.
Setelah sempat
memasang wajah berpikir, Elba akhirnya tampak telah merangkum pikirannya dan
ekspresinya sedikit melunak.
"Yah,
baiklah. Segera siapkan persiapan untuk mengirim 'Amon' sebagai utusan
perdamaian."
"Dimengerti.
Kalau begitu, saya akan mengurus hal itu sesuai rencana."
"Umu. Lalu,
satu hal lagi. Hubungi
'Rob' mengenai mobil arang yang kita rampas. Dia sepertinya sangat
menginginkannya sampai-sampai menggebu-gebu. Jangan jual murah, jual dengan
harga setinggi mungkin. Kau mengerti, kan?"
"Tentu
saja."
Marbas
menyeringai tipis, namun segera kembali ke ekspresi seriusnya.
"Kakak.
Bagaimana dengan Meldy Baldia? Apakah kita akan memberitahu Rob?"
"Ya,
beritahu saja. Lagipula meski
kita diam, kabar itu pasti akan segera sampai ke telinganya. Menyembunyikannya
justru akan membuat urusan jadi rumit nantinya. Tapi katakan padanya, aku tidak
berniat menyerahkan Meldy sampai urusan dengan keluarga Baldia selesai."
"Saya
mengerti. Namun, apakah Rob dan mereka akan menyetujui hal itu?"
"Tidak
masalah mereka setuju atau tidak."
Elba mendengus
dan menertawakan kekhawatiran Marbas.
"Meldy
adalah kartu as dalam negosiasi dengan keluarga Baldia. Tidak ada alasan untuk
menyerahkannya begitu saja sekarang. Selain itu, bukankah kau merasa
penasaran?"
"Penasaran?"
Saat Marbas
memiringkan kepala, Elba menyandarkan tubuhnya dalam-dalam ke sandaran sofa.
"Mengapa Rob
dan mereka begitu terobsesi pada keluarga Baldia? Dan alasan mengapa mereka
sangat menginginkan Nanali serta Meldy."
"Ah, benar
juga. Saya sempat berpikir bahwa itu diperlukan agar mereka bisa mengambil alih
keluarga Baldia setelah kematian Reiner dan Rid."
"Tentu saja
itu salah satu alasannya. Tapi, dari pihak mereka termasuk Rob, tidak ada
jawaban mendalam mengenai hal itu. Mungkinkah Meldy dan Nanali memiliki rahasia
istimewa?"
Marbas meletakkan
tangan di dagunya, bergumam seolah sedang memikirkan hal itu.
"Namun,
dari hasil penyelidikan awal, tidak ada informasi yang mengarah ke sana.
Paling-paling hanya fakta bahwa keluarga Count Ronamis, asal-usul Nanali Baldia,
jatuh bangkrut karena kematian mendadak kepala keluarganya. Tapi hal semacam
itu sudah biasa terjadi di Kekaisaran yang punya sejarah panjang, jadi bukan
hal yang aneh."
"Entahlah."
Elba
mengangkat bahu sambil tertawa.
"Apa
yang penting dan apa yang tidak itu bergantung pada nilai-nilai masing-masing
orang. Pasti ada sesuatu pada
Nanali dan Meldy yang tidak kita pahami. Jika kita tidak mencoba memahaminya
dan menyerahkan mereka begitu saja mengikuti perkataan mereka, kemungkinan
besar kita yang akan rugi besar."
"Begitu
ya. Seperti yang diharapkan dari Kakak."
"Kita memang
menjalin hubungan kerja sama dengan mereka, tapi tidak harus selalu berjalan
seirama. Karena ada kemungkinan kita akan menjadi musuh di masa depan. Kartu as
mereka bisa menjadi kartu as bagi kita juga, begitulah kira-kira."
"Dimengerti.
Kalau begitu, saya akan mengaturnya sesuai perintah Anda."
Melihat Marbas
membungkuk dalam dengan penuh rasa kagum, Elba tertawa puas.
"Jadi,
apakah Meldy dan Christy yang jadi masalah itu sudah sampai di kediaman
ini?"
"Sudah. Atas
instruksi Kakak Perempuan, mereka diperlakukan sebagai tamu terhormat."
"Tamu
terhormat?"
Saat Elba
memiringkan kepala, Marbas memasang wajah jemu.
"Sepertinya
Kakak Perempuan sangat menyukai Meldy. Saat mengamankan mereka, Kakak Perempuan
berjanji atas namanya sendiri untuk menjamin keselamatan Meldy serta seluruh
personel Persekutuan Dagang Christy."
"Hou, itu
menarik."
Setelah berkata
demikian, Elba bangkit berdiri perlahan.
"Kalau
begitu, aku juga akan pergi menyapa. Panggil Ayahanda dan Rapha juga, lalu bawa
Christy dan Meldy ke Ruang Audiensi."
"Kakak,
bagaimana dengan Amon?"
"Ah, benar juga. Bawa dia juga. Dalam waktu dekat, aku akan meminta Amon untuk
pergi melakukan negosiasi perdamaian."
"Dimengerti."
Setelah Marbas
membungkuk hormat, Elba mulai melangkah menuju ruangan lain dengan senyum yang
sulit ditebak.
◇
Ruang Audiensi di
dalam kediaman pemimpin suku ras Foxman lebih tepat disebut aula besar.
Di ujung ruangan,
terdapat kursi besar dan mewah yang diletakkan di posisi tertinggi sebagai
tempat duduk pemimpin suku, sebuah rancangan yang secara terang-terangan
menunjukkan kewibawaan di hadapan tamu.
Dinding ruangan
itu dihiasi dengan berbagai senjata hebat dan dekorasi berkilauan yang
kemungkinan besar dibuat dengan segenap jiwa oleh para pengrajin suku,
memberikan kesan yang mengintimidasi bagi siapa pun yang melihatnya.
Dengan
berkumpulnya Gareth, Elba, Rapha, Marbas, dan Amon di Ruang Audiensi saat ini,
para tamu merasakan sensasi seolah ruangan itu menjadi sempit karena tekanan
yang ada.
Namun, dua tamu
yang berdiri di hadapan mereka juga bukan orang sembarangan; mereka tidak
tunduk pada tekanan itu dan tetap mempertahankan sikap tegas mereka.
Setelah sempat
saling menatap tajam selama beberapa saat, Gareth yang merupakan pemimpin suku
berdehem dan mulai bicara.
"Selamat
datang di wilayahku. Nona Meldy Baldia, putri sulung keluarga Baldia. Serta
pimpinan Persekutuan Dagang Christy yang menjadi akar segala masalah karena
menjadikan sesama bangsaku sebagai budak, Christy Saffron. Akulah pemimpin suku
Foxman, Gareth Grandork."
Gareth sengaja
mengeluarkan mana-nya, berbicara dengan nada mengintimidasi.
Namun, Meldy dan Christy
tidak menundukkan kepala sedikit pun. Sikap tegas mereka tidak goyah. Sebaliknya,
sorot mata mereka justru menjadi semakin tajam.
Melihat
mereka berdua yang sama sekali tidak gentar, Elba bergumam "Hou"
dengan nada kagum, sementara Rapha tersenyum seolah merasa terhibur. Marbas
tetap memasang wajah datar, dan Amon tampak terkesan. Namun, Gareth sepertinya
tidak menyukai sikap mereka; dia mengerutkan wajah dan mendengus kesal.
"Aku pikir
bangsawan Kekaisaran itu sopan, tapi sepertinya tidak begitu. Maaf saja, tapi
sepertinya keluarga Baldia tidak mengajarkan sopan santun terhadap atasan. Benar-benar pendidikan Tuan Reiner
sangat tidak becus. Tidak, dalam hal ini mungkin masalah didikan ibunya. Yah, apa pun itu, ini menunjukkan seperti
apa asal-usul keluarga Baldia."
Setelah berkata
demikian, Gareth mulai tertawa terbahak-bahak. Namun tak lama kemudian, Meldy yang tadinya
hanya diam mendengarkan langsung menyela dengan lantang.
"Kalau
begitu, izinkan saya menyampaikan pendapat saya."
"Memahami
etika berarti memiliki sikap dan perilaku yang pantas serta sopan sesuai dengan
lawan bicara dan situasi. Apakah Anda mengetahui hal tersebut?"
"Hal seperti
itu aku sudah tahu tanpa diberitahu. Jangan terlalu meremehkan kami meskipun
kau hanya seorang anak kecil, Nona Meldy. Jaga bicaramu."
Gareth menjawab
dengan nada meremehkan dan tertawa mengejek, namun Meldy bukannya takut, dia
justru mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kalau
begitu, biarkan saya mengatakannya. Saya tidak tahu apa tujuan Anda, tapi
kalian telah menyeberangi perbatasan tanpa izin, memasuki wilayah Baldia secara
ilegal, menyerang Persekutuan Dagang Christy, dan puncaknya, menculik kami.
Tentu saja saya tidak pernah diajarkan untuk menghormati orang-orang yang tidak
tahu aturan seperti itu. Sungguh menggelikan melihat seseorang dengan posisi
pemimpin suku mengabaikan ketidaksopanannya sendiri namun menuntut rasa hormat.
Kata-kata soal asal-usul itu, saya kembalikan sepenuhnya kepada Anda, Tuan
Gareth."
Suara lantang
Meldy bergema, dan ruangan itu pun seketika diselimuti keheningan yang sunyi.
Gareth dan Marbas terperangah, sementara Amon bergumam
"Hebat……" dengan penuh kekaguman. Akhirnya, keheningan itu pecah oleh
suara tawa seorang wanita. Itu adalah Rapha.
"Luar biasa. Kau luar biasa, Meldy-chan."
Dia memegangi perutnya dengan kedua tangan sambil bahunya
bergetar, tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Tak lama kemudian, suara tawa seorang pria juga
menggema di ruangan itu. Itu adalah Elba.
"Benar
sekali. Ayahanda benar-benar dipojokkan kali ini."
Di tengah suara
tawa Rapha dan Elba yang memenuhi ruangan, Gareth tetap duduk di kursinya
sambil gemetar menahan amarah. Merasa telah berhasil menguasai keadaan, Meldy
kembali angkat bicara.
"Lagipula,
mengirimkan surat semacam itu kepada keluarga Baldia, lalu memancing
Persekutuan Dagang Christy keluar untuk diserang benar-benar tindakan pengecut.
Aku dengar ras Beast-man menganut hukum rimba di mana yang kuat memangsa yang
lemah, tapi ternyata kalian hanyalah sekumpulan orang picik."
"Jangan
sombong kau, Nona muda yang tidak tahu taktik. Dalam urusan politik
antarnegara, tidak ada istilah picik atau pengecut. Terlepas dari prosesnya, yang kalah akan mati
dan yang menang akan bertahan hidup. Itulah dunia hukum rimba. Masalah surat
dari keluarga Adipati yang sampai ke keluarga Baldia itu pun merupakan
kelalaian keluarga kalian karena membocorkan informasi ke luar. Padahal……"
"Mengapa
Anda bisa mengetahuinya?"
Meldy
bertanya seolah menyela perkataan Gareth.
"Apa?"
Saat
Gareth memiringkan kepala, Meldy menyipitkan matanya sambil tersenyum penuh
kemenangan.
"Mengapa
Anda bisa tahu kalau surat yang sampai ke keluarga kami berasal dari keluarga
Adipati? Saya hanya menyebutnya 'surat semacam itu'."
"……Sudah
kubilang, kan? Itu kelalaian keluarga kalian yang membocorkan informasi."
"Itu
tidak mungkin."
Meldy
langsung menjawab Gareth.
"Sejak
insiden penyerangan bengkel, keluarga Baldia telah memperketat penjagaan dengan
tindakan pencegahan terhadap sihir penyamaran serta melakukan pengawasan
informasi secara menyeluruh. Tentu saja, rencana kunjungan keluarga Adipati
kali ini pun seharusnya hanya diberitahukan kepada sejumlah kecil orang yang
dapat dipercaya, sehingga kemungkinan kebocoran informasi dari pihak kami
sangatlah rendah. Benar kan, Chris?"
"Eh!?
I-iya. Benar seperti yang dikatakan Nona Meldy. Di Persekutuan Dagang Christy,
termasuk aku dan Emma, hanya segelintir orang yang tahu soal rencana negosiasi
ini sebelumnya. Hampir semua orang yang ikut dalam rombongan dagang kali ini
baru mengetahui tujuannya pada hari keberangkatan."
Chris
sempat mengerjapkan mata karena tiba-tiba dilibatkan dalam pembicaraan, namun
dia segera menjawab dengan logis.
"Seperti
yang Anda dengar. Dengan kata lain, keluarga Anda telah memalsukan surat resmi
dari seorang bangsawan Kekaisaran, bahkan dari keluarga Adipati yang
berkedudukan tinggi. Hal ini tidak lagi hanya menjadi masalah antara keluarga Baldia
dan keluarga Grandork. Apakah Anda sangat menyadari poin tersebut?"
Sambil
mengerutkan dahi, Gareth tampak geram, lalu Meldy berdehem.
"Katakanlah.
Katakanlah jika pihak kami atau pihak keluarga Adipati memang membocorkan
informasi, bagaimana keluarga Anda bisa mengetahuinya? Jangan-jangan, Tuan Gareth secara sepihak mengirim
mata-mata ke dalam Kekaisaran? Jika benar, hal itu juga akan menjadi masalah
serius bagi Zveira dan Magnolia. Benar, bukan?"
"B-bocah
kurang ajar ini! Beraninya kau bicara seenaknya!"
Urat nadi
menonjol di dahi Gareth, dia bangkit berdiri di tempat dan mengeluarkan Mana
Wave yang sangat dahsyat.
Namun, Elba
meletakkan tangan di bahu ayahnya yang sedang menunjukkan amarah itu untuk
menghentikannya.
"Hentikan,
Ayahanda. Itu hanya permainan kata-kata dan mencari-cari kesalahan dari seorang
anak kecil yang tidak punya bukti. Jangan terlalu terpancing."
"T-tapi……!?"
"Apa kau
tidak mau mendengarkan perkataanku?"
Saat Elba
menggertak, Gareth pun tertegun dan langsung duduk kembali di kursinya dengan
lunglai.
"M-maaf.
Sepertinya aku terlalu terbawa emosi."
"Ya, begitu
lebih baik."
Elba mengendurkan
senyumnya dengan puas, lalu mendekati Meldy. Kemudian, dia mengamati keadaan
Meldy dengan saksama.
"Matamu
tidak tenang karena cemas, dan tanganmu berkeringat. Jika diperhatikan, tubuhmu
juga bergetar kecil. Ternyata kau takut, ya?"
"Te-tentu
saja. Tidak ada orang yang tidak merasa takut setelah tiba-tiba diculik dan
dipaksa berdiri di tempat seperti ini. Namun, aku tidak dididik untuk merasa
gentar dan menyerah."
"Begitu
ya, begitu ya. Ketegasan itu, benar-benar seperti yang diharapkan dari adik Rid
Baldia. Menarik."
Elba
tertawa mendengar jawaban Meldy, lalu mengalihkan pandangannya.
"Jadi,
kau adalah Christy Saffron?"
"Ya,
benar."
Saat dia
mengangguk, Elba menatapnya dengan tajam seolah sedang menilai.
"Hou.
Aku sudah mendengar rumornya, tapi selain kemampuan mengelola persekutuan
dagang, kecantikanmu juga luar biasa. Aku menyukainya."
Elba
berkata demikian sambil menatap mata Chris yang tampak curiga.
"Christy Saffron…… Jadilah wanitaku."
"……Aku menolak."
Meski dikatakan secara langsung di depannya, Chris
menolaknya dengan tegas tanpa keraguan sedikit pun. Rapha yang melihat jawaban
itu pun tak tahan untuk tertawa kecil sambil bahunya bergetar dan menundukkan
kepala.
"Atau apa? Setelah dengan lantang memintaku jadi
wanitamu, apa kau berniat menjadikan Nona Meldy dan yang lainnya sebagai
sandera untuk memaksaku menyerahkan diri? Jika itu rencana Anda, maka
kerendahan martabat dari orang yang disebut sebagai calon pemimpin suku dan
calon Beast King pun sudah terlihat jelas."
Mendengar
tantangan Chris yang berani dan tegas, Elba bergumam "Apa katamu……?"
sambil mengerutkan dahi.
Namun,
Chris tidak mau kalah dan balas menatap dengan tajam. Keheningan menyelimuti
ruangan akibat adu tatap antara keduanya, hingga tak lama kemudian, Elba
sedikit melonggarkan senyumnya.
"Wanita
yang bersemangat. Tapi memang harus begitu agar menarik. Baiklah, aku akan
menuruti kemauanmu. Aku tidak akan menyentuh kalian, termasuk Meldy Baldia,
sampai aku menghancurkan keluarga Baldia. Berjuanglah sekuat tenaga selama
kalian masih bisa."
Elba
tertawa terbahak-bahak, lalu mengalihkan pandangan kepada Rapha yang tampak
menahan tawa.
"Aku
serahkan pengawasan Meldy, Chris, dan yang lainnya padamu."
"Fufu,
baiklah. Kalau begitu, besok aku akan mengantar mereka ke vila pribadiku. Karena kalau di sini, pasti akan tidak
nyaman bagi kedua belah pihak."
Dia menatap Chris
dan Meldy, lalu tersenyum penuh misteri.
Demikianlah
audiensi antara pihak Elba dan pihak Meldy berakhir. Namun, di mata
Gareth, terpancar cahaya kebencian yang mendalam terhadap Meldy dan Chris.
◇
Malam hari setelah audiensi dengan Elba dilakukan, Meldy dan
Chris akhirnya bermalam di kediaman pemimpin suku tersebut.
Hal ini karena
Rapha meminta waktu satu hari untuk menyiapkan penyambutan kedua orang itu di
vilanya. Menurut Rapha, "Chris sepertinya tidak masalah, tapi di vila itu
ada banyak hal yang terlalu merangsang bagi Meldy-chan."
Saat malam
semakin larut, seorang pejuang ras Foxman mengunjungi Ruang Tamu tempat Chris
dan Meldy berada.
"Nona Meldy,
Nona Chris. Kamar tidur sudah disiapkan, mari saya antar."
"Dimengerti.
Nona Meldy, ayo pergi."
"Iya."
Meskipun tetap
waspada, keduanya mengikuti pejuang tersebut sesuai perintah. Mereka menyusuri
lorong menuju bagian dalam kediaman hingga terlihat sebuah pintu besar yang
mewah.
"Di sini
tempatnya. Silakan masuk."
"I-iya."
Setelah pintu
dibuka oleh pejuang tersebut, Chris dan Meldy melangkah masuk seolah didesak.
"Kalau
begitu, selamat beristirahat."
Pintu pun ditutup
bersamaan dengan ucapan pejuang tersebut, namun Chris merasakan keanehan saat
melihat kondisi ruangan.
Di dalam hanya
ada satu tempat tidur besar di tengah ruangan, dengan sebuah sofa besar dan
meja kecil di dekatnya. Serta
di bagian dalam, ada pintu yang sepertinya terhubung ke ruangan lain.
"Hei, Chris. Itu apa ya?"
"Itu?"
Melihat berbagai alat yang tergantung di dinding yang
ditunjuk oleh Meldy, Chris menyadari maksud dari ruangan tempat mereka diantar
dan seketika wajahnya menjadi pucat pasi.
Aku segera
meletakkan tangan di pintu untuk keluar dari ruangan, tapi tidak bisa dibuka.
Mungkin prajurit yang mengantar kami telah mengunci atau menahannya dari luar.
"Buka
pintunya! Biarkan kami keluar dari sini!"
Chris berteriak
sambil memukul pintu dengan sekuat tenaga, namun pintu itu tidak bergeming
sedikit pun. Menyadari suasana yang tidak wajar ini, gurat ketakutan mulai
membayang di wajah Meldy.
"Seperti
yang diharapkan dari pengelola persekutuan dagang. Instingmu cukup tajam."
Saat kami
berbalik ke arah suara yang terdengar dari sudut ruangan, di sana sudah ada
Gareth yang sedang berdiri didampingi dua prajurit Foxman bertopeng.
"……Anda
sudah berjanji tidak akan menyentuh kami sampai urusan dengan keluarga Baldia
selesai. Bukankah itu janji kalian?"
Meski
Chris berusaha menggertak dengan putus asa, Gareth hanya mengangkat bahu.
"Sayangnya,
itu adalah janji yang dibuat oleh Elba, bukan janjiku. Lagipula, aku ini tipe
orang yang tidak akan pernah lupa mendendam jika telah dipermalukan. Bahkan
jika lawanku hanyalah seorang gadis kecil."
Mendengar
kata-kata dan tatapan menjijikkan itu, rasa ngeri menjalar di punggung Chris
dan Meldy.
Chris
yang merasakan bahaya segera mencoba mengaktifkan sihirnya, namun dalam sekejap
Gareth memangkas jarak, mencengkeram leher Chris, dan menyudutkannya ke pintu.
"Guh,
kha……!?"
"Chris!?"
Saat
Meldy mengeluarkan suara tangisan, Gareth menyunggingkan senyum mesum yang
merendahkan.
"Haha.
Bagus, Gadis Kecil. Wajah itulah yang ingin kulihat. Tapi ini belum cukup. Aku
akan memberimu keputusasaan yang lebih dalam lagi, sekaligus mengajarimu
tentang perbedaan posisi kita. Kalian, dudukkan gadis kecil ini di sana."
"Dimengerti."
Kedua
prajurit bertopeng itu mengikuti instruksi dan memaksa Meldy yang meronta untuk
duduk di sofa yang menghadap langsung ke arah tempat tidur.
"A-apa yang
akan Anda lakukan?"
"Fufu, kau
pasti sudah paham, kan? Ini waktunya 'hiburan orang dewasa'."
Gareth menjawab
Chris sambil melemparkannya ke atas tempat tidur.
"Auw!?"
"Chris, kamu
tidak apa-apa!?"
"Hei, Gadis
Kecil."
Gareth-lah yang
menanggapi suara Meldy.
"Jika kau
memalingkan mata barang sekejap pun dari apa yang akan terjadi di depanmu,
anggap saja nyawa wanita ini melayang. Tapi, jika kau tidak memalingkan
pandangan sampai akhir, aku akan menjamin nyawa kalian."
"Be-benar,
ya?"
"Ya,
aku tidak akan berbohong di situasi seperti ini."
"……Baiklah."
Melihat
Meldy mengangguk, Gareth menyeringai puas. Dia kemudian mendekati Chris yang
sedang terbatuk-batuk di atas tempat tidur.
"Memanfaatkan
kepolosan Nona Meldy yang masih kecil... ini bukan perbuatan manusia. Anda
lebih menjijikkan daripada binatang."
"Masih
bisa bicara begitu di saat seperti ini, ya? Kau benar-benar wanita yang pantas
untuk dihancurkan. Tapi, aku juga akan memberimu janji."
Gareth
membisikkan sesuatu di telinga Chris.
"Jika kau
menerima apa yang akan kulakukan tanpa melawan, aku akan menjamin nyawa kalian
berdua. Termasuk orang-orang persekutuan dagang yang mengikutimu. Keamanan
mereka semua akan kujamin. Bagaimana, tawaran yang bagus, bukan?"
"A-Anda
ini... benar-benar orang yang tidak punya nurani."
Meski Chris
menatapnya dengan pandangan jijik, Gareth justru tampak senang.
"Bagus
sekali. Sorot mata itu dan wajah yang terdistorsi karena dendam. Benar-benar
menggairahkan. Asal kau tahu saja, aku sama sekali tidak keberatan untuk
menyiksa gadis kecil itu sampai hampir mati."
"Apa……!?"
Mata Gareth yang
penuh dengan kebencian dan niat jahat menunjukkan bahwa kata-katanya bukanlah
main-main. Chris menggigit bibir bawahnya, menatap penuh dendam.
"Tapi, aku
tidak bisa memercayai kata-kata Anda, berbeda dengan Tuan Elba atau Nona Rapha.
Setidaknya, sebagai bukti yang bisa dipercaya, biarkan Nona Meldy keluar dari
ruangan ini."
"Sayangnya,
permintaan itu tidak bisa kukabulkan. Lagipula, kau tidak berada dalam posisi
untuk bernegosiasi denganku. Percaya atau tidak, kau tidak punya pilihan selain
memercayaiku. Jika kau menolak usulanku, aku akan langsung menyiksa gadis kecil
itu sekarang juga. Aku menjamin hal itu."
"Kuh……"
Tanpa sadar, mata
Chris mulai berkaca-kaca, dan air mata mengalir di pipinya.
"……Baiklah.
Aku akan menuruti Anda."
"Luar biasa,
kau sangat pengertian. Tapi ini sungguh menyedihkan. Apakah kalian sadar bahwa
niat kalian untuk saling membantu justru membuat situasi ini menuju ke arah
yang paling buruk? Jika kau meninggalkan gadis kecil itu, mungkin kau akan
selamat. Dan jika gadis kecil itu tidak mencoba menyelamatkanmu, dia tidak
perlu menyaksikan ini."
"……!?
Anda... sejak awal sudah merencanakan ini semua saat menawarkan pilihan
itu!?"
"Terlambat
menyadarinya. Aku akan mengukir luka yang tidak akan pernah hilang seumur hidup
di hati kalian berdua."
Melihat wajah Chris yang tersentak, Gareth tertawa penuh
kemenangan.
Saat tangannya
menyentuh tubuh Chris, tubuh wanita itu menegang. Menanggapi reaksi itu, Gareth
menyadari sesuatu dan menyeringai mesum.
"Hou, reaksi
yang masih polos ini. Kau... ternyata masih perawan, ya."
Chris tidak
menjawab dan hanya memejamkan matanya.
"Menarik.
Aku sudah meniduri banyak wanita, tapi baru kali ini aku mendapatkan perawan
Elf. Menambahkan garis keturunan Elf ke dalam sukuku sepertinya ide yang bagus
juga."
Kuku Gareth
memanjang dan menajam, bersiap untuk merobek pakaian Chris dari bagian leher.
Namun tepat saat
itu, tekanan mana dan aura intimidasi yang luar biasa terpancar dari balik
pintu yang terhubung ke lorong, menyelimuti seluruh ruangan.
"Ha-hawa
keberadaan ini……!?"
"Tunggu
dulu! Tunggu—Gwaaaaaaaa!?"
Saat Gareth
tertegun, prajurit penjaga di luar pintu terpental bersama pintu yang hancur
berkeping-keping, menghantam dinding ruangan.
Di tengah kepulan
asap yang membubung, sebuah bayangan hitam besar muncul dengan tenang.
"Ayahanda.
Sepertinya Anda sedang bersenang-senang, ya."
"E-Elba……"
Saat
Gareth terperangah, Rapha dengan rambut putihnya yang berkibar muncul dari
balik punggung Elba.
"Ayah,
kebiasaan burukmu pada wanita benar-benar tidak berubah, ya."
"Ah, tapi
Nona Rapha. Seperti dugaan, Meldy-chan juga ada di sini."
"Benar
juga. Ah, jadi begitu. Tuan Gareth, seleramu bagus juga."
Mengikuti
Rapha, muncul seorang pemuda Foxman bernama Rosen dan seorang gadis bernama
Lilie. Terakhir, dari belakang mereka datang Peony, prajurit wanita Foxman
dengan rambut hitam panjang yang berkibar.
"Rosen,
Lilie. Mencampuri urusan
orang lain secara berlebihan itu tidak sopan. Berhenti bicara yang tidak
perlu."
"Ba-ik."
"Dimengerti."
Di saat keduanya
mengangguk menanggapi teguran Peony, Rapha menatap Meldy dan Chris.
"Padahal aku
sudah berjanji menjamin keselamatan kalian, tapi aku malah membuat Meldy-chan
dan Chris ketakutan. Benar-benar merusak reputasiku saja."
Rapha menatap
tajam ke arah dua prajurit yang menahan Meldy.
"Kalian,
pergi sekarang juga."
"Ta-tapi……"
Prajurit itu
menoleh ke arah Gareth, namun Rapha memanjangkan kukunya dan menempelkannya ke
leher mereka.
"Tidak akan
ada peringatan ketiga."
"Di-dimengerti.
Kami mohon diri!"
Setelah
para prajurit itu keluar, Rapha memeluk Meldy yang ketakutan dengan lembut.
Seketika itu juga, Meldy mulai terisak sambil tubuhnya bergetar kecil.
"Minta maaf
pun tidak akan mengubah apa pun, tapi aku benar-benar minta maaf. Sekarang
tenanglah, karena kami akan ada di sisimu."
"I-iya.
Terima kasih banyak. Tapi, kumohon tolong bantu Chris dulu daripada aku."
"Aduh, Meldy-chan baik sekali, ya. Peony, bagaimana
kondisi Christy?"
Sementara Rapha dan Meldy bercakap-cakap, Peony sudah berada
di samping Chris.
"Ada sedikit luka di lehernya, tapi tidak mengancam
nyawa dan tubuhnya baik-baik saja."
"Soal tubuh itu tidak perlu dibahas."
Chris menekan lehernya sambil terbatuk, lalu segera turun
dari tempat tidur dan berlari ke sisi Meldy.
"Nona Meldy,
syukurlah Anda selamat."
"Iya, iya.
Syukurlah Chris juga tidak diapa-apakan. Syukurlah……"
Meldy
memeluk Chris erat-erat sambil terus menangis.
"Kalau
begitu, Kakak. Aku akan membawa Meldy-chan dan yang lainnya ke vilaku, sisanya
kuserahkan padamu."
"Ya,
aku mengerti."
"Ah,
satu lagi. Aku akan membawa Sitri juga. Kurasa Meldy-chan butuh teman yang
seumuran dengannya."
"Terserah
kau saja."
Mendengar
jawaban datar Elba, Rapha segera membawa Meldy dan yang lainnya pergi dari
tempat itu. Tak lama kemudian, suara langkah kaki mereka menghilang,
meninggalkan keheningan di mana hanya ada Elba dan Gareth.
"Ma-maafkan
aku. Tapi jika kau memikirkan apa yang terjadi di Ruang Audiensi tadi, kau
pasti paham. Ya, ini adalah tindakan yang benar……"
Sesaat setelah
Gareth mulai membela diri, dia merasa seperti ada sesuatu yang hancur di
pangkal pahanya, disertai suara seperti kacang kenari yang pecah.
Dalam sekejap,
keringat dingin mengucur dari seluruh tubuh Gareth, dan rasa sakit yang luar
biasa menjalar dari selangkangannya ke seluruh tubuh.
Elba baru saja
menendang bagian vital Gareth tanpa ampun sedikit pun.
"Gaaa……
aaaaa……"
Dia bahkan tidak
sanggup berteriak karena rasa sakit yang teramat sangat, hanya bisa berlutut
sambil memegangi bagian vitalnya.
"Ayahanda.
Garis keturunanmu sudah ada empat orang termasuk aku. Jadi meskipun kau tidak
bisa punya anak lagi, tidak akan jadi masalah."
"Guh…… hah…… hah……"
Meski Gareth menatapnya dengan penuh dendam, Elba sama
sekali tidak mengubah ekspresinya. Sebaliknya, Elba mencengkeram bagian
belakang kepala Gareth dengan satu tangan dan menghantamkannya dengan keras ke
lantai.
"Sepertinya
kau lupa berkat siapa kau bisa duduk di kursi pemimpin suku sekarang."
Sambil berkata
demikian, Elba membenamkan wajah Gareth ke lantai. Tentu saja Gareth memasang
ekspresi penuh penderitaan dan mengeluarkan suara kesakitan, namun Elba tidak
mengendurkan kekuatannya.
"Ayahanda.
Paman Greas yang menyatukan orang-orang yang tidak puas dengan
kepemimpinanmu... siapa yang membereskan orang yang merepotkan itu? Coba
katakan."
"Ka-kau.
Elba Grandork."
"Benar,
aku."
Elba mengangkat
kepala Gareth sambil tetap mencengkeramnya.
"Alasanku
tidak merebut posisi pemimpin suku darimu adalah karena aku menilai itu lebih
menguntungkan untuk mencapai tujuan kita. Tapi, jika keberadaanmu sebagai
pemimpin suku menjadi penghambat, aku bisa menggantikanmu kapan saja. Kau juga
seharusnya paham akan hal itu, kan?"
"I-iya.
Tentu saja."
"Kalau
begitu, tidak peduli apa posisi kita di hadapan publik, aku adalah atasan dan
kau adalah bawahan."
Dengan ekspresi
datar, Elba kembali menghantamkan wajah Gareth ke lantai.
"Hari
ini di Ruang Audiensi, aku sudah bilang tidak akan menyentuh Chris dan Meldy.
Secara logika, kau yang posisinya lebih rendah harus mengikuti instruksi dariku
yang lebih tinggi. Benar begitu, hah?"
"I-itu...
aku hanya sedang khilaf."
"Dengarkan
baik-baik. Tujuan kita adalah
menyatukan ras Beast-man melalui kekuatan militer, dan menggunakan kekuatan itu
untuk menguasai benua. Untuk itu, kita butuh sumber daya manusia yang hebat dan
berbagai kartu as. Chris adalah sumber daya yang hebat, dan Meldy adalah kartu
as penting untuk negosiasi dengan para bangsawan Kekaisaran. Aku tidak akan
membiarkanmu membuang mereka begitu saja hanya demi memuaskan nafsu dan dendam
pribadimu."
Elba menarik
napas dalam-dalam, lalu berteriak tepat di telinga Gareth.
"Jika kau
memang seorang pemimpin suku, kendalikan emosimu! Dasar kau beban
keluarga!"
"Uuh...
ma-maafkan aku. Aku yang salah. Jadi... jadi kumohon ampuni aku."
Melihat sosok
Gareth yang memohon dengan tidak berdaya, Elba mengembuskan napas panjang. Dia
kemudian melepaskan cengkeramannya dari kepala ayahnya.
"Anak memang
tidak bisa memilih orang tua. Benar-benar nasib yang menyebalkan."
Setelah
meludah kasar, Elba meninggalkan Gareth yang sudah babak belur itu di sana.



Post a Comment