Chapter 4
Pertempuran Benteng Hazama: Serangan Balik Baldia
Pasukan
Elba sepertinya terlalu terpaku pada situasi di garis depan, sehingga mereka
sama sekali tidak menyadari keberadaan kami yang muncul dari dalam hutan.
Tak lama
kemudian, barisan musuh baru menyadari kehadiran sekelompok orang berzirah
merah yang mengibarkan panji berlambang keluarga Baldia dan gambar lipan.
Namun, semuanya sudah terlambat.
Pasukan
kami sudah berhasil mengunci posisi musuh dalam jarak tembak sihir yang
efektif.
"Bagi
yang tidak ingin mati, mundurlah!"
Aku
meninggikan suara, menciptakan bola air raksasa menggunakan sihir kompresi di
udara, lalu melemparkannya tepat ke arah markas musuh.
Detik
berikutnya, para pemimpin regu Divisi Ksatria Kedua yang bersiaga di
sisiku—Diana, Capella, Kros—beserta para ksatria pengguna sihir lainnya
melepaskan berbagai atribut sihir secara serentak ke arah lawan.
Pasukan
musuh yang terlambat merespons serangan kejutan ini sepertinya tidak mampu
menahan gempuran sihir kami.
Pilar air
raksasa dan asap ledakan membubung tinggi dari arah mereka, diikuti suara
dentuman dahsyat dan guncangan tanah yang menjalar ke seluruh medan perang.
Berdasarkan
informasi dari Aria di langit, kekuatan musuh di markas Elba berkisar seribu
orang.
Namun, mereka
kemungkinan besar adalah pasukan elit. Aku bertanya-tanya seberapa besar
kerusakan yang berhasil kami berikan.
Tepat saat itu,
dari balik asap ledakan yang masih pekat, ribuan "api" melesat
terbang ke arah kami.
Ternyata,
serangan tingkat itu saja memang tidak cukup.
"Tuan Reed,
sihir musuh datang! Mari kita bentuk formasi pertahanan untuk menahannya!"
"Tidak, itu
hanya gertakan. Seluruh pasukan, teruslah merangsek maju!"
"A-apa Anda
waras!?"
Kros dan yang
lainnya membelalak, namun jika dilihat baik-baik, sihir yang dilepaskan dari
markas musuh jelas-jelas tidak mengincar posisi kami dengan akurat.
"Daripada
berhenti dan melarikan diri, lebih baik terus maju agar tidak kena. Aku
menjaminnya. Cookie, kamu siap?"
Seolah
memahami niatku, Cookie meraung keras sambil meningkatkan kecepatan larinya.
"Bentangkan
Magic Shield ke arah depan dan teruslah berlari menembus mereka! Majulah
seolah kita akan menghabiskan seluruh Recovery Potion! Jika kita berhasil masuk ke pertempuran
jarak dekat, musuh akan sulit menggunakan sihir mereka. Ini adalah rintangan
pertama kita!"
"Oooooooh!"
Teriakan penuh
semangat membahana dari para ksatria di belakangku.
Jika kami
berhenti di sini, momentum pasukan akan hilang dan memberikan waktu bagi musuh
untuk mengatur kembali posisi mereka.
Lagipula, aku
sudah diberitahu sebelumnya tentang pentingnya menjadi "pionir" dalam
peperangan.
"Semangat
perang bergantung pada sang pionir. Jika ada seseorang yang tidak takut pada
musuh dan maju dengan berani, para prajurit akan mengikutinya secara alami.
Namun, hal yang sebaliknya juga berlaku."
Itulah
yang diajarkan Ayah dalam pendidikan penerus. Jika aku, yang memiliki posisi tinggi, menjalankan
peran itu, maka semangat para ksatria pasti akan semakin berkobar.
Demi
menyelamatkan Mel. Demi melindungi Ibu dan Farah di Baldia. Aku memang takut,
tapi aku tidak boleh gemetar dan mundur di sini. Sama sekali tidak boleh.
"Kita akan
terus maju dan menjadi yang pertama menyerbu markas musuh!"
"Tuan Reed! Tolong jangan nekat!"
Mengabaikan peringatan Kros, Cookie yang membawaku di
punggungnya berlari lincah menghindari kobaran api yang beterbangan, melesat
membelah medan perang.
"……!? Kelihatan!"
Setelah berhasil menembus hujan api, di depan sana tampak
para prajurit yang telah berubah ke wujud binatang dengan dua atau tiga ekor
sambil menggenggam tombak.
Namun, barisan mereka berantakan dan pertahanan mereka belum
siap sepenuhnya.
Serangan sihir pertama kami sepertinya efektif. Jika dilihat lebih dekat, mereka semua
basah kuyup. Mungkin mereka terkena hantaman langsung dari sihir Great Water
Ball yang kulepaskan tadi.
"A-apa
itu!? Seorang bocah yang menunggangi monster merangsek sendirian!"
"Jangan
panik! Siapa pun dia, karena sudah datang ke sini, dia adalah musuh! Hentikan
bocah pionir itu!"
Para prajurit
suku Foxman memasang tatapan tajam yang penuh hawa membunuh, lalu membentuk
formasi pagar tombak yang diarahkan ke depannya.
"Lompat,
Cookie!"
Menanggapi
seruanku, Cookie yang sedang berlari kencang melompat tinggi, menginjak gagang
tombak lawan sebagai tumpuan, lalu melonjak lebih tinggi lagi melompati pagar
tombak tersebut. Para prajurit itu membelalak, menatap kami yang berada di atas
kepala mereka.
"A-apa-apaan!?"
Sambil tetap
berada di punggung Cookie, aku mengaktifkan Lightning Spear di tangan
kanan dengan posisi menggenggam terbalik.
Aku langsung
melemparkannya ke arah tanah di sekitar para prajurit itu. Begitu tombak kilat
itu menghujam bumi, guntur dan sengatan listrik meledak di sekitarnya.
"Guaaaaaaaaah!?"
Para prajurit
yang membentuk pagar tombak tadi mengerang kesakitan, menggeliat hebat, lalu
satu per satu tumbang di tempat.
Permukaan tanah
di area ini sudah membentuk genangan air akibat sihir Great Water Ball
tadi, ditambah tubuh mereka yang basah kuyup, membuat mereka tersengat listrik
secara maksimal oleh Lightning Spear-ku.
Di sinilah aku
pertama kali menghentikan langkah Cookie. Sambil mengangkat Magic Sword ke
langit, aku menoleh ke arah pasukan di belakang.
"Celah
sudah terbuka! Pertarungan yang sebenarnya dimulai sekarang. Ayo, kita serbu
sekaligus!"
Para
ksatria meneriakkan sorak kemenangan. Dengan semangat yang berkobar, mereka
mulai merangsek masuk ke markas musuh satu per satu.
Dengan ini, aksi
pionir kami sukses. Dadaku berdegup kencang karena rasa takut akan kematian
yang bercampur dengan kegembiraan. Pendengaran dan pikiranku menjadi sangat
tajam, membuat segala pemandangan yang tertangkap mata terasa bergerak lambat.
Sambil
menarik napas dalam, aku melirik tanganku yang menggenggam pedang sihir.
Ternyata, tanganku sedikit gemetar.
"……Gemetarnya
tidak mau berhenti. Jadi ini yang namanya medan perang."
"Tuan
Reed, Anda baik-baik saja? Ini adalah pertempuran pertama Anda. Jangan
memaksakan diri."
Kros yang
bersiaga di sampingku berujar demikian, sementara Diana dan Capella menatapku
dengan penuh kecemasan.
"Terima
kasih. Tapi aku tidak boleh kalah di sini. Ayo, semuanya!"
Aku menatap lurus
ke depan. Cookie meraung kencang dan kembali berlari membelah medan
pertempuran.
◇
Perubahan situasi
di medan perang terjadi tak lama setelah kami melancarkan serangan kejutan.
Pasukan yang
dipimpin Gareth menyadari "keberadaan kami", dan mulai bergerak untuk
memberikan bantuan kepada Elba.
Namun, bantuan
itu tidak akan pernah sampai. Sebab, tepat di belakang pasukan Gareth yang
mulai bergerak, pasukan terpisah yang dipimpin Ayah segera melancarkan
serangan.
Kenapa para
ksatria yang kupimpin mengenakan zirah merah dan mengibarkan panji saat
melakukan serangan kejutan?
Alasannya ada
beberapa: agar bisa membedakan kawan dan lawan dengan cepat, membakar semangat,
serta memudahkan konfirmasi posisi. Namun, tujuan utamanya adalah agar kami
'tampil mencolok'.
Jika ada pasukan
berzirah merah menyala yang bergerak di medan perang, keberadaan mereka bisa
dipastikan dengan mata telanjang bahkan dari kejauhan.
Lagipula, mereka
tidak bisa menggunakan "sihir komunikasi" seperti kami.
Berdasarkan
kepribadian dan karakter Gareth yang sudah kupelajari sebelumnya, aku sudah
menduga bahwa jika dia menyadari adanya keanehan pada pasukan Elba dari
kejauhan, Gareth pasti akan langsung menggerakkan pasukannya.
Kenyataannya,
dari Aria yang memantau dari langit, aku menerima laporan bahwa Gareth bergerak
persis seperti dugaan kami, dan serangan kejutan dari pasukan terpisah yang
dipimpin Ayah telah berhasil.
Meski
begitu, ada hal yang di luar perkiraan.
Tak lama
setelah pergerakan Gareth dilaporkan, muncul suku Birdman misterius yang
identitasnya tidak diketahui, dan saat ini Aria sedang terlibat pertempuran
dengan mereka.
Terputusnya
informasi dari langit serta hilangnya bantuan berupa penembakan komandan musuh
dan sihir udara-ke-darat merupakan kerugian besar bagi strategi kami.
Hal tak
terduga lainnya adalah pasukan Elba berhasil mengatur kembali posisi mereka,
lalu berbalik melakukan serangan balasan yang sangat gencar.
Kemampuan
fisik ras Beastman jauh lebih tinggi daripada manusia. Apalagi jika mereka
adalah prajurit yang sudah menguasai teknik perubahan wujud dan menjalani
pelatihan keras.
Meski
kami sempat unggul dalam jumlah personel berkat kesuksesan serangan awal,
situasi berubah begitu Elba berdiri di barisan terdepan.
Akibat
serangan mereka yang membabi buta, pasukan kami yang seharusnya unggul jumlah
justru perlahan-lahan mulai terdesak.
Namun,
kami tidak boleh mundur. Kami harus menahan Elba dan pasukannya di sini sampai
pasukan Ayah berhasil mengambil kepala Gareth.
Jika kami
kalah, Ayah harus menghadapi Gareth dan Elba secara bersamaan. Jika itu terjadi, sekuat apa pun Ayah,
akan sulit baginya untuk menang.
Saat aku berlari
membelah medan perang bersama yang lain, tampak seorang pria dari suku Foxman
yang ukurannya luar biasa besar di depanku. Sosok itu, mana mungkin aku
melupakannya. Dia adalah Elba.
Dia mengayunkan
kapak perang raksasa yang ukurannya melebihi tinggi tubuhnya sendiri, menebas
para ksatria yang maju lebih dulu.
"……!?
ELBAAAAAAAAA!"
Tanpa sadar, aku
meneriakkan amarahku. Sepertinya dia juga menyadarinya. Dengan wajah yang
bersimbah darah musuh, dia tersenyum licik.
"Aku sudah menunggumu datang."
Elba berteriak
keras, "Kalian semua, hentikan serangan!"
Seketika,
gelombang mana yang dahsyat meledak dari tubuhnya. Keheningan yang janggal pun
menyelimuti medan perang yang tadinya riuh.
"Reed Baldia.
Aku ingin bicara empat mata denganmu sebentar."
"Bicara?
Dalam situasi seperti ini?"
Sejujurnya, sudah
tidak ada lagi yang perlu kubicarakan dengan Elba. Namun, para ksatria yang
tadi maju lebih dulu kini tergeletak terluka di sekeliling kami.
Kurasa, aku harus
mengulur waktu di sini.
Aku melirik
sekilas ke arah para ksatria yang terluka, lalu memberi isyarat mata pada Cross
dan yang lainnya. Mereka segera menangkap niatku dan mengangguk pelan tanpa
kentara.
Begitu aku turun
dari punggung Cookie dan menyarungkan pedang, para pejuang suku Foxman membuka
jalan sesuai perintah Elba. Di bawah tatapan penuh permusuhan dan haus darah,
aku melangkah maju.
"Apa
maumu?"
"Sudah
kubilang, 'kan? Aku ingin bicara."
Elba menancapkan
ujung kapak tempurnya ke tanah, lalu duduk bersila di sana.
Postur tubuhnya
sangat menonjol di antara suku Foxman lainnya. Tidak, dia luar biasa besar
hingga saat duduk bersila pun, tatapannya masih lebih tinggi dariku.
Dia
menopang dagu sambil menatapku tajam seolah sedang menilai mangsa. Tiba-tiba,
matanya menyipit dan sudut bibirnya tertarik membentuk seringai.
"Jadilah
'tangan kanan'-ku, Reed Baldia."
"……Apa?"
Aku
mengernyitkan dahi, menunjukkan rasa tidak senangku secara terang-terangan.
Namun, dia justru tertawa kegirangan.
"Tinggalkan
negaramu dan mengabdilah padaku. Berkhianatlah, itulah yang ingin
kukatakan."
"Kau pikir
aku akan sudi menerima tawaran itu?"
Dia telah
menginjak-injak niat tulus keluarga Baldia untuk perdamaian. Dia menjadikan
adik-adikku, Amon dan Citri, sebagai umpan, bahkan membuang Rick dan
kawan-kawannya begitu saja.
Mustahil aku mau
mengabdi pada orang seperti itu. Namun, sebuah pertanyaan melintas di benakku.
"Sebenarnya,
kenapa kau merasa perlu melakukan semua ini?"
"Semua ini?
Oh, maksudmu perang ini?"
"Dengan
kekuatan dan kepemimpinanmu, kau bisa memajukan wilayahmu dan memberikan
kemakmuran bagi suku-sukumu. Kau tidak perlu repot-repot memusuhi Baldia maupun
Kekaisaran."
"Tidak
masalah. Lagipula, sejak awal aku berniat menelan semuanya."
"'Menelan
semuanya'?"
Aku memiringkan
kepala tak mengerti. Elba bangkit berdiri dan merentangkan kedua tangannya
lebar-lebar.
"Reed Baldia.
Kaum Beastman adalah 'kaum kuat yang terpilih'. Namun, para kepala suku itu
bodoh, mereka hanya menari di atas sistem 'Beast King' dan membuang-buang
kekuatan."
"Padahal,
jika kekuatan kaum Beastman bersatu, kita bisa menjadi penguasa dunia."
Seringai Elba
berubah menjadi makin mengerikan.
"Karena
itulah, aku memutuskan untuk menghancurkan semuanya. Menyerang Baldia hanyalah
permulaan."
"Setelah
memenangkan perang ini, aku akan menjadi Beast King dan mulai bergerak untuk
bertahta di puncak dunia. Karena itu, aku butuh bidak berbakat sepertimu."
Tatapan Elba
seolah menembus tubuhku, lalu dia mengulurkan tangan kanannya.
"Sekali lagi
kukatakan. Mengabdilah padaku dan jadilah tangan kananku, Reed Baldia. Jika kau
setuju, aku tidak akan menyentuh 'hal-hal' berhargamu."
Aku melirik Cross
dan yang lainnya sejenak, lalu dengan kasar menepis tangan yang diulurkannya.
"Mengabdi
padamu? Sampai mati pun aku tidak sudi."
"Menarik.
Kalau begitu, akan kuberikan 'neraka dunia' padamu sampai kau
memohon-mohon."
Seketika,
gelombang mana yang dahsyat kembali meledak dari tubuh Elba.
"Ugh……!?"
Aku
berusaha sekuat tenaga agar tidak terpental. Hawa panas berwarna cokelat
kehitaman mulai bergejolak dari sekujur tubuhnya.
"Mari
bermain sebentar."
Setelah
berkata demikian, dia menoleh ke arah para pejuang suku Foxman.
"Kalian
jangan ikut campur. Tapi……"
Elba
masih menyeringai saat melirik ke arah para ksatria di belakangku.
"Reed
Baldia. Ksatria yang melayanimu boleh diserang sesuka hati. Yah, mungkin karena
terlalu bersemangat, mereka malah akan terbunuh saat melawan balik."
Usai
berucap ketus, dia tertawa terbahak-bahak.
"Elba."
"Hm? Ada
apa?"
Saat aku
memanggil namanya, dia berhenti tertawa dan memiringkan kepala menatapku.
Aku menajamkan
tatapan dan balas memelototinya.
"Dari
tadi kau cuma mengumbar omong kosong dan teori tak berguna. Apa kau
bodoh?"
"Aku
tidak peduli dengan 'ambisi'-mu. Aku tidak berniat mengabdi, apalagi
memaafkanmu. Aku datang ke sini hanya untuk menghancurkan kalian, keluarga
Grandork, yang sudah berani menyentuh Baldia."
"Ho……"
Urat nadi
menonjol di dahi Elba, dan suasana di sekitar kami mendadak terasa berat.
Dia
mengepalkan tangan, membunyikan buku-buku jarinya untuk mengintimidasi.
"Boleh
juga. Tidak banyak orang yang berani menggertakku sampai sejauh itu. Justru ini
yang membuatmu layak untuk 'dididik'."
"Sudah
kubilang, berhenti mengoceh. Ayo, cepat kita mulai."
Aku
sengaja menyipitkan mata dan tersenyum, lalu mencabut pedang dan mengambil
kuda-kuda bawah.
"Mulutmu
lancang sekali. Pertama-tama, akan kuajari kau cara bicara yang sopan."
Elba mengayunkan
tinjunya ke bawah. Hantaman itu membelah tanah dan menimbulkan guncangan hebat.
Aku melompat
mundur untuk menghindar, lalu segera melesat masuk ke dalam jangkauannya. Aku
mengalirkan mana ke bilah pedang sihirku dan mengayunkannya dengan tajam.
Satu serangan.
Namun, tepat setelah kupikir seranganku masuk, terdengar suara dentingan
nyaring seolah aku baru saja memukul logam.
"Ugh!?"
Tanganku terasa
kebas hingga aku tak sengaja meringis. Namun, aku segera terkesiap saat
menyadari apa yang terjadi.
Elba
menangkis pedang sihirku hanya dengan lengannya. Kejadian saat Lagard dan Noir
menghadapi Elba di kediaman dulu kembali terbayang di benakku.
Itu adalah Physical Reinforcement atribut tanah yang
disebut Diamond. Sihir penguatan yang dikhususkan untuk pertahanan.
Ternyata, Physical Reinforcement biasa memang tidak
mempan.
"Apa ini?
Ternyata nyalimu cuma sebatas kata-kata?"
"……Kau pikir
aku akan selesai hanya dengan serangan tadi?"
Aku melakukan
salto ke belakang untuk menjaga jarak. Sambil memegang pedang dalam posisi rendah,
aku mulai meningkatkan manaku.
Begitu
aku memanggil nama Memory di dalam hati, gelombang mana yang kuat meledak di
sekelilingku. Benturannya bahkan membuat para pejuang musuh di dekatku
terpental.
"Begitu
ya, kau sudah bisa menguasai Physical Reinforcement: Type II lebih baik
dari sebelumnya. Tapi, cuma dengan itu—"
Tepat
saat Elba mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya, terdengar teriakan
nyaring, "Oraaaaa!"
Sesosok
gadis berbulu putih dengan zirah merah melancarkan tendangan kilat ke arahnya.
Namun,
Elba bahkan tidak menggerakkan alisnya sedikit pun saat menerima tendangan itu
tepat di lehernya.
"Ovelia!?"
"Kh……!?"
Ekspresi
gadis itu berubah muram. Dia melakukan salto ke belakang hingga mendarat di
sampingku, lalu berjongkok sambil mengelus tulang keringnya.
"Keraaaaaas
banget!? Sakitnya minta ampun!?"
"Sebenarnya
apa yang sedang kau lakukan?"
Tingkah Ovelia
membuat semua orang tercengang, hingga ketegangan yang menyelimuti kami sedikit
mengendur.
Di tengah suasana
itu, Elba menoleh dan menatapnya tajam.
"Apa-apaan
kau, bocah suku Beast-Rabbit. Ada urusan denganku?"
"Oh, urusan
besar, kau rubah sialan!"
Dia
bangkit berdiri dan membalas tatapan Elba dengan garang.
"Aku
sudah dengar. Gara-gara ulahmu, kami dijual sebagai budak ke Barst!"
"Cuma
karena itu?"
Elba
mendengus dan menggelengkan kepala seolah hal itu sangat membosankan.
"Di
masa depan yang dekat, kalian ditakdirkan mati terlantar di suatu tempat.
Daripada mati sia-sia, aku pikir lebih baik kalian berguna sedikit."
Usai
berucap ketus, dia mengalihkan pembicaraan dan menunjukku dengan dagunya.
"Hasilnya,
kalian malah bertemu majikan yang baik, 'kan? Harusnya kalian berterima kasih
pada pria budiman sepertiku yang sudah memberikan belas kasihan."
Elba
mengangkat bahu dengan gaya mengejek lalu tertawa terbahak-bahak.
Ovelia
tidak bergeming.
"……Yah,
kau ada benarnya juga," gumamnya.
"Meski
cuma kebetulan, aku bersyukur bisa bertemu Tuan Reed. Tapi, aku tidak sudi
menjilat negara atau suku yang sudah menjual kami sebagai budak!"
"Masa bodoh soal 'hukum rimba' kaum Beastman. Aku punya
kebanggaan sebagai pelayan keluarga Baldia!"
"Daripada kehilangan kebanggaan itu, aku lebih baik
mati di perang ini. Itulah kesepakatan seluruh suku Beast-Rabbit yang mengabdi
pada Tuan Reed. Ingat itu, rubah
sialan!"
Tepat saat Ovelia
meneriakkan itu sambil menunjuk Elba, Sheryl, Skylla, dan Mia maju ke depan.
"Suku
Beast-Wolf siap mempertaruhkan nyawa demi membalas budi Tuan Reed yang telah
menyelamatkan kami."
"Seluruh
suku Beast-Monkey sangat menyukai Tuan Reed. Jadi, kami tidak akan
kembali."
"Suku
Beast-Cat juga sama. Kalian menjual kami sebagai budak, tapi sekarang ingin
kami kembali? Jangan harap!"
Di saat
keempatnya menentang Elba, Kalua, Truba, dan Geding ikut muncul. Para komandan
regu itu berbaris di hadapan Elba.
"Ini adalah
keputusan seluruh kaum Beastman yang melayani Tuan Reed. Berhenti bicara soal
'pembebasan' setelah membuang kami sebagai budak. Itu menggelikan."
"Benar
sekali. Budiman apanya? Yang benar itu 'semena-mena'!"
"……Aku
setuju. Tidak ada tempat bagi kami untuk kembali di Negeri Beastman. Kehilangan
martabat dan kebanggaan sama saja dengan kematian. Kami tidak berniat 'dibunuh'
untuk kedua kalinya."
Ketujuh komandan
regu itu berdiri berjejer di depanku, menyiapkan senjata masing-masing untuk
menghadapi Elba.
"Kalian……"
Mataku terasa
panas.
Haus darah dan
tekanan yang dipancarkan Elba sungguh luar biasa. Jika diperhatikan baik-baik,
tubuh mereka semua sedikit gemetar. Namun, mereka tetap menyatakan 'perpisahan
dengan Negeri Beastman' di hadapan monster itu.
"Sekumpulan
ikan kecil yang tercampur aduk. Sebutan 'sampah' memang cocok untuk kalian.
Baik, akan kutunjukkan perbedaan kekuatan yang mutlak. Aku sendiri yang akan
membereskan kalian sekaligus!"
Begitu
Elba mengumumkannya, gelombang mana meledak hebat. Dia berubah ke wujud
Beast, menjadi Seven-Tailed Golden Fox seperti sebelumnya.
Lalu, dia
dengan santai mengambil kapak tempur raksasa yang tertancap di tanah.
"Tadi
kau sudah bicara besar. Jangan
mati terlalu cepat, ya."
"……!?
Semuanya, mundur! Sudah kubilang aku yang akan menghadapinya!"
Aku berteriak
saat ujung kapak Elba diarahkan ke kami, tapi tak ada satu pun yang mundur.
"Mari kita
bertarung bersama-sama di sini."
Diana berdiri di
depanku, diikuti oleh Capella yang berdiri di sampingnya.
"Sejujurnya,
kekuatan orang ini masih belum terukur. Ini adalah pertarungan demi
kelangsungan keluarga Baldia. Jadi, kita harus menghadapinya dengan kekuatan
penuh."
"Bahkan
kalian berdua juga……"
Rencana awal kami
adalah aku menjadi 'umpan' untuk menarik perhatian Elba sementara yang lain
menghadapi pasukan Foxman di sekitar.
Namun jika
melihat situasi sekarang, para pejuang suku Foxman justru mengikuti perintah
Elba untuk diam dan hanya menonton. Tidak, mungkin lebih tepat jika dikatakan
mereka sedang menertawakan kami yang berusaha melawan Elba.
Mungkin mereka
pikir meski kami bersatu pun, kami tidak akan menang. Apapun itu, mereka
sepertinya tidak berniat ikut campur.
"Tuan Reed.
Mari kita terima perasaan semuanya dan ikuti permainan Elba."
Mendengar ucapan
Cross, aku sempat ingin membantah, "Ta-tapi……!?" Namun aku segera
terdiam.
Anak-anak yang
sangat menghormatiku ini... Tidak, sebenarnya aku tidak ingin siapa pun,
termasuk para ksatria di sini, berada dalam bahaya.
Tapi secara
posisi, aku tidak bisa mengatakannya. Karena itulah aku berniat menghadapi Elba
sendirian. Saat aku menunduk sambil menahan perasaan, Cross berbisik di
telingaku.
"Pertarungan
ini hanyalah untuk 'mengulur waktu'. Jika dalam permainan Shogi, pergerakan
'Dragon Horse' sudah dihentikan dalam pertemuan tadi."
"Sekarang,
selagi kita menahan 'Dragon King' di depan mata, 'King' kita pasti akan
menjatuhkan 'King' musuh. Itulah jalan kemenangan yang sesungguhnya. Lagipula,
jika kita maju sebanyak ini, kita bisa saling mendukung dan peluang bertahan
hidup akan meningkat."
"……Kau
benar. Aku mengerti. Mari kita manfaatkan kesombongannya."
Begitu aku
mengangguk, Cross menyipitkan mata dan terkekeh pelan.
"Tuan Reed
memang orang yang sangat lembut. Semua orang juga tahu itu. Tapi justru karena
itulah, kami bisa mengubah tekad menjadi kekuatan untuk melawan."
Cross
tiba-tiba menengadah ke langit.
Aku pun
ikut mendongak. Langit biru bersih terbentang luas. Burung-burung terbang bebas
tanpa mempedulikan pertempuran berdarah di bawahnya.
Seketika,
angin sepoi-sepoi yang sejuk berhembus melewati medan perang yang tegang. Itu hanya sesaat, tapi entah kenapa terasa
sangat lama dan jauh.
"Cross, ada
apa?"
"Tidak.
Hanya saja burung-burung beterbangan di langit cerah, dan anginnya terasa
sejuk. Aku berpikir, alangkah baiknya jika di hari seperti ini, aku bisa
bermain bersama semuanya dan keluarga."
"Begitu ya.
Kalau begitu, mari kita kalahkan dia dengan cepat dan selesaikan perang ini.
Setelah itu, ayo kita bermain sambil 'latihan' bersama."
Mendengar
jawabanku yang sedikit bercanda, dia tersenyum kecut.
"Boleh saja,
tapi apa itu bisa disebut 'bermain'?"
"Yah,
asal menyenangkan, apa pun tidak masalah, 'kan?"
"Haha,
benar juga."
Tepat
saat Cross mengangguk, Cookie perlahan melangkah maju ke depan Ovelia dan yang
lainnya. Sepertinya dia juga siap bertarung.
Aku
kembali menatap ke depan. Elba sedang meregangkan lehernya ke kiri dan kanan.
Begitu menyadari tatapanku, dia menyeringai.
"Rapat
strateginya sudah selesai? Kalau begitu ayo kita mulai. Meski aku ini budiman,
aku tidak terlalu suka dibuat menunggu."
"Ya, maaf sudah membuatmu menunggu."
Setelah membalas ucapannya, aku mengalihkan pandangan dan
berseru, "Semuanya, sekaranglah saat yang menentukan!"
"Jangan pernah memaksakan diri. Tidak ada gunanya
menang jika kalian mati. Kemenangan sesungguhnya adalah menang dan tetap
hidup!"
Semuanya tidak menjawab, tapi mereka mengangguk dengan wajah
yang tampak senang.
Aku menarik napas dalam. Tepat saat aku hendak memberi
komando "Maju!", Cookie meraung keras dan tubuhnya membesar hingga
seukuran Elba. Dia melesat lebih dulu sebagai pembuka serangan.
"Semuanya, bagi menjadi kelompok empat orang! Cookie
masuk ke kelompokku, Diana, dan Capella. Sisanya, kelompok Ovelia dan kelompok
Cross!"
"Siap!"
"Hehe,
dimengerti!"
"Baik!"
Sahutan
yang mantap terdengar. Mengikuti Cookie yang sudah maju duluan, yang lainnya
pun berubah ke wujud Beast dan mulai bergerak.
Kelompok Ovelia,
Mia, Sheryl, dan Skylla. Kelompok Cross, Kalua, Truba, dan Geding.
Kelompokku, Cookie, Capella, dan Diana.
Dengan tiga kelompok ini, kami akan menjatuhkan Elba.
Di depan sana, Elba menyeringai licik dan menancapkan kapak
tempurnya ke tanah.
"Keluarga Baldia memelihara monster yang menarik, ya. Aku jadi ingin satu untuk jadi
peliharaan."
"Gaaaaaaa!"
Cookie yang telah
membesar meraung, lalu mengayunkan cakar depannya seolah hendak meremukkan
musuh. Namun, Elba menangkisnya mentah-mentah.
"Tapi,
tingkat seperti ini bahkan tidak layak jadi 'anjing penjaga'."
"……!?"
Kedua kaki depan Cookie ditahan. Cookie pun membuka mulutnya
lebar-lebar, menciptakan bola mana hitam di dalamnya, lalu kembali meraung.
Seketika, ledakan dahsyat terjadi di tempat Elba dan Cookie
berada, menimbulkan suara dentuman dan asap pekat.
"Cookie!?"
Aku tidak tahu dia bisa menggunakan 'sihir' seperti itu.
Aku nyaris menghentikan langkah, tapi segera tersadar.
"Terus
serang! Hawa keberadaannya belum hilang!"
Tepat
saat aku berseru pada yang lain, bayangan muncul di balik asap. Aku terbelalak
melihat pemandangan di depanku.
Elba sama
sekali tidak terluka. Dia justru sedang mencengkeram wajah Cookie dengan satu
tangan dan mengangkatnya ke udara.
"Kau
kurang dididik, ya. Monster rendahan jangan berani-berani menggigit
manusia."
"Gaaaa!??"
Cookie
meronta sekuat tenaga, mencoba mencakar dengan kaki depannya, tapi Elba tidak
terluka sedikit pun. Malahan, dia tertawa geli melihat Cookie yang tak berdaya.
"Tuan
Reed! Kami yang akan menyerang duluan! Ayo, kalian semua!"
"Jangan
memerintahku, Ovelia!"
"Kalian
berdua! Jangan bertengkar di saat seperti ini!"
"Elba
sepertinya lawan yang menyenangkan, ya!"
Tanpa sempat
dicegah, Ovelia melompat, diikuti oleh Mia, Sheryl, dan Skylla.
"Kh……!? Kita
bantu Cookie yang akan terlepas karena gerakan mereka! Cross, kalian bantu
mereka dan lancarkan serangan bergelombang!"
Selagi aku
memberi instruksi, Elba mengalihkan pandangannya ke arah kami.
"Apa? Kalau
kau mau dia kembali, akan kukembalikan!"
Dia melemparkan
Cookie yang berukuran raksasa itu ke arah gadis-gadis yang sedang menyerang.
Mereka terpaksa menghindar secara mendadak, membuat formasi mereka berantakan.
Elba tidak
menyia-nyiakan kesempatan itu. Dalam sekejap, dia sudah berada tepat di depan
Ovelia.
"Ka-kau—!"
"Ini
balasan untuk yang tadi. Akan kuajari cara 'menendang' yang benar."
Seolah
sedang menendang batu kerikil yang mengganggu, Elba mengayunkan kakinya. Ovelia
segera menyilangkan tangan untuk bertahan, namun dia tetap terpental jauh.
"Guaaaaaa!?"
Sheryl
dan Skylla segera menangkapnya sambil berseru cemas, "Ovelia, kau tidak
apa-apa!?"
Di saat
yang sama, sesosok bayangan hitam muncul di belakang Elba. Itu Mia.
Dia
mengerahkan seluruh tenaganya sambil berteriak, "Rasakan ini!" dan
melancarkan serangan cakar dengan kedua tangannya.
Namun,
matanya membelalak. Elba tetap tenang, bahkan punggungnya yang baru saja
dicakar tidak luka sedikit pun.
"Apa
itu tadi? Padahal aku sudah bersikap budiman dengan memberikan punggungku. Kau
sungguh mengecewakan."
"Kh……!?"
Mia
mengatupkan bibirnya dengan kesal. Elba mengayunkan tinjunya dengan kuat. Mia
segera menyilangkan tangan untuk bertahan, namun tinju itu berhenti tepat di
depan wajahnya.
"……Eh?"
Sesaat setelah
Mia mengendurkan pertahanannya, suara benturan tumpul terdengar. Tahu-tahu,
dahi Mia sudah berdarah dan dia terpental ke arah Ovelia dan yang lainnya.
"Mia!?"
Sheryl dan Skylla
segera memeluknya dengan cemas. Namun, sepertinya Mia pingsan karena matanya
memutih dan tidak menyahut.
Elba
tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk mereka.
"Tenang
saja. Itu cuma 'sentilan'. Tingkat segini saja sudah berani bicara soal
'kebanggaan' dan 'siap mati'. Kalian lucu sekali."
"Daripada
jadi ksatria, lebih baik kalian jadi pelawak saja. Fufufu, fuhahahahaha!"
Gelak tawa Elba
menular pada para pejuang suku Foxman di sekeliling kami, hingga suasana
dipenuhi dengan ejekan.
Namun saat itu
juga, terdengar seruan kompak, "Earth Shattering Fist!"
Dua bola mana
besar meluncur di permukaan tanah dan menghantam Elba secara langsung. Ledakan keras dan debu pekat pun
membubung tinggi.
"Sheryl,
Skylla! Bawa Ovelia dan Mia
mundur! Atur kembali formasi kalian!"
"……Kami yang
akan mengambil alih di sini."
"Maaf ya,
Kalua, Geding."
"Sial, baru
mau maju malah disuruh mundur."
Sesaat setelah
mereka berdua mundur, Elba muncul dari balik debu.
"Serangan
kejutan yang bagus. Tapi kalau cuma segitu kekuatannya... Sekarang, biar
kutunjukkan sihirku."
Tepat saat Elba
mengangkat tangan kanannya untuk menciptakan Black Flame, bayangan hitam
kecil muncul di sekelilingnya dan terus membesar.
"……Apa
ini?"
Elba
mengernyitkan dahi dan menengadah. Di atas sana, terlihat Truba yang sedang
mengangkat batu raksasa.
Karena dia bisa
menggunakan Earth Element Magic, dia pasti menciptakan batu itu di tanah
lalu melompat tinggi sambil membawanya.
"Terima
iniiiiiii!"
Truba menjatuhkan
batu raksasa itu seolah hendak menimbun Elba dari langit.
Batu itu ternyata
jauh lebih besar dari ukuran tubuh Elba. Karena terlambat menyadari
keberadaan mereka, Elba hanya bisa bergumam "Kh……!?" sebelum
terhimpit batu raksasa itu. Suara dentuman dahsyat kembali terdengar disertai
debu yang beterbangan.
"Fuuuh, berkat kalian berdua, rencananya
berhasil."
Truba
melompat kembali ke samping Kalua dan Geding.
"Bukan,
strategimu yang memang bagus."
"……Yah.
Sekarang tinggal lihat apa itu cukup untuk melukainya."
Saat ketiganya
menatap waspada ke arah tempat Elba tertimbun, batu raksasa itu tiba-tiba
meledak dan menimbulkan gelombang kejut. Elba muncul dari balik asap sambil
membunyikan lehernya.
"Tadi itu
lumayan. Memang tidak luka, tapi hantamannya terasa. Nah, apa lagi yang akan
kalian lakukan?"
"Kira-kira
apa, ya?"
Saat Truba
mengangkat bahunya, Elba sepertinya merasakan sesuatu dan menoleh ke belakang
dengan terkejut.
Di sana, Cross
yang telah mengaktifkan Physical Reinforcement: Blazing Fire mendekat
dengan sangat cepat. Aura mana seperti api bergejolak dari tubuhnya, dan
wajahnya tampak garang seperti iblis.
"Kau terlalu
mabuk oleh kekuatanmu sendiri!"
"Nuuuh……!?"
Melihat aura
Cross yang begitu mengerikan, Elba tampak merasa terancam untuk pertama kalinya
dan mencoba menghindar. Namun, ujung pedang Cross tetap berhasil
menggores pipinya hingga darah menetes.
Di tengah suara kekaguman dari para Foxman, Cross terus
melancarkan teknik pedang yang tajam secara bertubi-tubi. Elba terpaksa menahan semua serangan itu dengan
kapak tempurnya.
"Menarik.
Sudah lama tidak ada yang bisa melukaiku. Kalau tidak salah namamu
'Cross', ya? Akan kuingat."
"Tidak
perlu. Toh, kau akan berakhir di sini."
"Apa?"
Tepat saat Elba
kebingungan, gerakannya mendadak melambat.
Bukan, lebih
tepatnya 'terkekang'. Di tempat yang agak jauh, Truba dan Kalua mengaktifkan Wood
Element Magic. Akar-akar seperti tanaman merambat telah melilit kaki Elba.
"Sekarang,
Wakil Komandan!"
"Kerja
bagus, kalian berdua!"
Cross mengayunkan
pedangnya dengan tajam, namun Elba justru menyeringai tanpa rasa takut.
"Mabuk
kekuatan? Kau salah. Aku tadi cuma sedang bermain-main."
Pedang Cross
ternyata berhasil ditangkap oleh tangan Elba tanpa menimbulkan luka sedikit
pun.
"A-apa……!?"
Dia membelalak
tak percaya, namun Elba hanya menggelengkan kepala.
"Tak perlu
terkejut. Aku hanya sedikit menaikkan output mana yang kugunakan untuk Diamond.
Kau juga belum mengeluarkan semua kemampuanmu, 'kan? Ayo, buat aku lebih
bersenang-senang lagi."
"Baiklah.
Tapi, yang akan membuatmu bersenang-senang berikutnya bukanlah aku."
Cross menyipitkan
mata dan tersenyum, lalu dengan cepat menarik pedangnya dari cengkeraman tangan
Elba dan melompat mundur.
Dengan
ini, tidak ada kawan di garis tembak. Selama teman-temanku menghadapi si
brengsek ini, aku terus mengumpulkan mana dan mengompres sihirku. Demi
menjatuhkannya.
"Kalau ini bagaimana? Spiral Spear: Blazing Fire!"
Begitu aku mengangkat telapak tangan kanan ke langit, sebuah
tombak spiral raksasa yang diselimuti api berkobar-kobar tercipta di angkasa
luas. Jika dilakukan di darat, ada batasan ukuran untuk mencegah ledakan
mengenai diri sendiri atau kawan.
Kalau begitu, aku tinggal menciptakannya di langit yang
tanpa batas. Selama aku punya jumlah mana dan waktu kompresi yang cukup,
kekuatannya tidak akan memiliki batas.
"Tembuslahhhhh!"
Tombak spiral raksasa yang tercipta di langit dilepaskan,
memicu gelombang mana dan badai yang mengamuk di daratan.
"Menarik.
Jika ini adalah 'kartu as' kalian, akan kuterima tantangan ini dari
depan!"
Elba
tertawa sinis dan memanggul kapak perangnya. Dia memutar tubuh bagian atasnya
untuk mengumpulkan tenaga sebanyak mungkin. Mana hitam yang mengerikan meluap
dan bergejolak dari sekujur tubuhnya.
"Mana,
kekuatan fisik, dan wujud Beast. Tidak ada yang tidak bisa dihancurkan oleh
kekuatan yang menggabungkan ketiganya hingga batas maksimal!"
Saat dia
menantang Spiral Spear yang jatuh dari langit, udara di sekitar terasa
membeku.
Detik berikutnya,
tepat saat rasa ngeri menjalar di punggungku, dia melepaskan tenaga yang
terkumpul dan mengayunkan kapaknya ke bawah.
"A-apa……!?"
Aku tidak percaya
pada penglihatanku sendiri. Spiral Spear: Blazing Fire berhasil ditahan oleh kapak perang yang
diayunkan Elba.
Kemudian,
energi masif yang saling berbenturan itu berbalik menekanku. Rasanya persis
seperti adu dorong sumo di mana kedua pihak saling menggenggam tangan.
"Luar
biasa. Dia menahan sihir sebesar itu hanya dengan Mana Imbue?"
"Bisa merapal sihir sekuat ini di usiamu... Menarik,
benar-benar menarik, Reed Baldia! Tapi, jangan mimpi bisa mengalahkanku hanya
dengan level seperti ini!"
Terjadi perubahan pada wujud Beast milik Elba. Pola hitam
yang mengerikan muncul di sekujur tubuh emasnya, petir mulai menyelimutinya,
dan 'ekor' baru mulai tumbuh.
"Ekor delapan...?"
"Terlalu dini untuk terkejut!"
Tepat setelah dia menyeringai, tekanan baliknya menjadi jauh
lebih kuat.
Aku menjejakkan
kaki dan mengerahkan seluruh tenaga di tubuhku. Namun, aku merasakan sensasi
kalah dorong dan terpaksa menggertakkan gigi.
"A-aku tidak
boleh kalah!"
Jika aku kalah
tenaga di sini, kesempatan yang sudah susah payah dibuat akan sia-sia. Mau ekor
delapan atau apa pun itu, aku... aku tidak boleh kalah!
Tepat saat aku
berusaha mendorong balik dengan segenap tenaga, ledakan besar terjadi di titik
benturan antara Elba dan Spiral Spear. Gelombang kejutnya menyapu
seluruh medan perang.
Karena terlalu
fokus pada adu dorong tadi, kakiku goyah dan tidak bisa menumpu.
Di saat aku
hampir terpental, Cookie yang entah kapan sudah berada di belakangku,
menopangku bersama Diana dan yang lainnya.
"Terima
kasih."
"Gau."
Dia mengangguk
kecil, lalu menatap tajam ke arah posisi Elba dengan wajah penuh amarah seolah
sedang mengintimidasi.
Cookie pasti juga
merasakan hawa keberadaan Elba yang mengerikan di balik asap ledakan. Aku
menatap tanganku sendiri yang baru saja merapal sihir.
Seharusnya aku
sudah menjadi lebih kuat. Dibandingkan saat menghadapi para penyerang atau Elba
di kediaman Baldia dulu, aku sudah lebih mahir menggunakan Physical
Reinforcement, bahkan sudah bisa menggunakan Type II dan Blazing
Fire.
Namun, apakah
perbedaan kekuatan kami masih sejauh ini?
"Tapi,
aku tidak akan menyerah."
Saat aku
bergumam demikian, Diana mengeluarkan 'obat' dan Capella menyiapkan botol air.
"Tuan Reed.
Silakan minum ini selagi sempat."
"Ya."
Aku menerima obat
dan air itu lalu meminumnya sekaligus. Obat ini adalah versi modifikasi dari Mana
Potion, yang kami gunakan saat 'Latihan Penguatan Khusus' bersama Cross dan
yang lain.
"Fuuuh,
terima kasih. Berkat ini aku merasa sedikit lebih baik."
Aku mengedarkan
pandangan. Ovelia dan Mia sepertinya sudah sadar kembali; mereka merapikan
formasi dan kembali ke garis depan. Kelompok Kalua yang dipimpin Cross juga
tampak tidak ada masalah.
Tepat saat aku
mengembuskan napas lega melihat semuanya selamat, sebuah bayangan bergerak di
balik asap pekat.
"Tadi itu
kemenanganku. Tapi, kemampuanmu tidak mungkin cuma segitu, 'kan? Ayo, apa lagi
yang akan kau lakukan untuk menghiburku, Reed Baldia?"
"Aku
tidak bertarung untuk menghiburmu."
Elba
masih mempertahankan wujud ekor delapannya, dan sejauh yang kulihat, tidak ada
luka sedikit pun.
Kapak
perang di tangannya pun tampak mulus tanpa goresan meski baru saja berbenturan
dengan Spiral Spear: Blazing Fire. Padahal itu serangan kekuatan penuhku, rasanya
agak menyakitkan hati.
"……Perubahan
rencana. Awalnya aku berniat menjatuhkan Elba jika memungkinkan, tapi sekarang
kita harus bertahan sampai Ayah dan Amon yang telah mengalahkan Gareth
bergabung dengan kita. Fokus pada pertarungan ketahanan."
Begitu aku
memberi instruksi dengan suara pelan, Capella dan Diana mengangguk kecil, lalu
memberi isyarat mata kepada tim Cross dan Ovelia. Mereka tampaknya menangkap
niatku dan membalas isyarat tersebut.
Sengaja, aku
mengeraskan suaraku.
"Semuanya,
Elba memang kuat! Tapi, karena penggunaan mana untuk wujud Beast dan Physical
Reinforcement sangat besar, serangan bergelombang kita pasti akan membuat
celah pada ketenangannya! Lalu, Cross!"
Aku meliriknya
dari sudut mata.
"Hanya kau
yang berhasil melukainya dalam serangan tadi. Karena itu, kau akan menjadi
poros serangan kita. Kami semua, termasuk aku, akan menyerang untuk mendukung
pergerakan Cross!"
"Tugas
berat, ya. Akan kulaksanakan!"
Jawaban mantap
dan senyumnya membuat ekspresi semua orang menjadi cerah dan moral pasukan
meningkat.
Cross bukan tanpa
alasan ditunjuk menjadi Wakil Komandan Ksatria Baldia. Di saat genting
sekalipun, dia bertindak seolah semuanya terkendali agar tidak terbaca oleh
musuh maupun kawan.
Dalam hal ini,
Rubens mungkin masih kurang pengalaman dan akan merasa kesulitan. Itulah
sebabnya Ayah menempatkan Cross yang berpengalaman di sisiku.
"Celah pada
ketenanganku? Pemikiran yang menarik. Baiklah! Akan kulayani kalian sampai aku
puas atau merasa bosan. Ayo, lebih banyak lagi! Tunjukkan kekuatan kalian
padaku!"
Elba meludah,
lalu melepaskan gelombang mana ke sekeliling untuk memamerkan kekuatannya.
Intensitasnya jauh melampaui yang pertama.
"Jangan
gentar!"
Cross langsung
menyahut tanpa jeda.
"Sekuat apa
pun kekuatannya, seperti yang dikatakan Tuan Reed, pasti ada batasnya.
Maju!"
Dia berteriak
sambil memimpin Kalua dan yang lainnya menyerbu lebih dulu.
"Kita juga ikuti Cross!"
Mendengar seruanku, Diana dan Capella mengaktifkan Physical
Reinforcement.
Cookie meraung keras, dan kami mulai berlari menyusul
kelompok Cross. Kelompok
Ovelia juga bergerak serentak, melancarkan serangan kombinasi yang berbeda dari
sebelumnya.
◇
Pertempuran
baru saja dimulai, namun rasanya sudah seperti berjam-jam kami saling
berhadapan.
Mungkin karena
kami terus berada dalam kondisi ekstrem di mana kesalahan sekecil apa pun
berarti kematian instan.
Dan, dalam
pertarungan melawan Elba ini, ada satu hal yang mulai kupahami.
Saat dia menahan Spiral
Spear: Blazing Fire dengan kapaknya, dia bilang dia telah 'mencapai puncak
kekuatan fisik, mana, dan wujud Beast'. Ucapan itu sama sekali bukan bualan.
Elba tidak hanya
melancarkan serangan penghancur menggunakan tubuh raksasanya.
Gerakannya sangat
cepat dan efisien, tekniknya dalam memainkan kapak perang yang sulit ditangani
sungguh luar biasa, dan dia mampu mempertahankan wujud Beast serta Physical
Reinforcement secara bersamaan—yang seharusnya memakan banyak mana—tanpa
terlihat kehabisan napas sedikit pun saat menghadapi kami semua sendirian.
Fisik
yang diberkati, bakat, dan jumlah mana yang masif. Semua hal yang diperlukan
untuk bertarung terkumpul padanya... seolah-olah dia adalah makhluk yang
dilahirkan hanya untuk berperang. Itulah kesan yang kudapatkan dari Elba.
Kelompok
kami yang terdiri dari aku, Diana, Capella, dan Cookie menyerang secara
terpadu, namun kami gagal menahan serangannya. Capella, Diana, dan
Cookie terpental oleh gelombang mana yang dilepaskan Elba.
"Semuanya,
kalian tidak apa-apa!?"
"Ke mana kau
melihat? Mana nyalimu yang tadi, Reed Baldia!"
Aku menahan
tebasan kapak perang Elba dengan pedang sihirku, namun guncangannya terlalu
kuat hingga kakiku terangkat dari tanah.
"Cuma
segini? Jangan pasang pertahanan remeh begitu di depanku!"
"Guaaaaaaaa!?"
Elba mengayunkan
kapaknya hingga tuntas, membuatku terpental dan berguling-guling keras di
tanah.
Aku
berusaha bangkit dengan merangkak. Saat aku menyeka mulut, lenganku kotor oleh darah dan lumpur. Rasa besi karat menyebar di dalam
mulutku.
"Wakil
Komandan, tolong jaga Tuan Reed! Berikutnya, kami yang jadi lawanmu! Dasar
rubah sialan!"
Demi
mengulur waktu agar aku bisa mengatur posisi, Ovelia dengan berani menerjang
Elba. Aku bisa melihat samar-samar punggung Mia, Sheryl, dan Skylla yang
menyusul di belakangnya.
"Tuan
Reed. Anda baik-baik saja?"
"Ya.
Terima kasih, Cross."
Berkat
bantuan Cross, aku bisa berdiri kembali. Diana dan yang lainnya juga segera
berlari mendekat.
Kami
semua terbagi menjadi tiga tim beranggotakan empat orang. Meski kami terus
melancarkan serangan bergelombang, kekuatan Elba masih belum terlihat batasnya.
Awalnya,
saat Elba masih dalam wujud ekor tujuh, pedang Cross terlihat efektif dan
menjadi jalan kemenangan kami.
Namun
sekarang, setelah dia menjadi ekor delapan, pedang Cross hanya bisa memberikan
luka gores ringan.
Selama kami tidak
bisa memberikan serangan yang menentukan, kami hanya akan perlahan-lahan
kehabisan tenaga. Tapi, masih ada peluang menang.
Selama
pertarungan besar antara kami dan Elba berlangsung, para ksatria dan prajurit
dari kedua pasukan hanya saling mengawasi, jadi konsumsi tenaga mereka masih
sedikit.
Jika kami terus
bertahan seperti ini, Ayah dan Amon pasti akan mengalahkan Gareth dan datang
memberikan bantuan.
Jika kami
berhasil membawanya ke pertempuran total, dia pasti bisa dikalahkan. Sejak
awal, tujuan pasukanku memang hanya untuk menahan Elba.
Memang lebih baik
jika kami bisa membunuhnya, tapi perbedaan kekuatan ini benar-benar di luar
dugaan.
'Orang itu
pasti tidak akan mudah dihadapi.'
Ucapan Amon
melintas di benakku tepat saat teriakan Skylla bergema dari depan. Aku
melihatnya terpental ke arah kami akibat serangan Elba.
Aku
segera maju dan menangkapnya dengan kedua tangan.
"Te-terima
kasih, Tuan Reed."
"Tidak,
syukurlah kau selamat. Semuanya, mundur sebentar ke sini dan atur kembali
posisi kalian!"
Setelah membantu
Skylla berdiri, aku memanggil kelompok Ovelia yang sedang menghadapi Elba.
Mereka mengambil celah untuk mundur ke posisiku.
Kelompok Ovelia,
Cross, dan Diana kini berkumpul di sisiku. Semuanya, tanpa terkecuali, dalam
kondisi babak belur.
"Tuan Reed. Boleh bicara sebentar?"
"Ya. Ada
apa?"
Aku mengangguk
pada bisikan Capella. Wajahnya tampak sangat serius.
"Persediaan Mana
Potion yang kita siapkan hampir habis. Tinggal tersisa sedikit."
"……Aku
mengerti. Berikan sisanya
pada Cross."
Hanya dia yang
bisa melukai Elba. Kalau begitu, kita harus memastikan Cross bisa terus
bertarung. Tepat saat Capella menyerahkan obat itu sambil berujar
"Baiklah," Elba mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya.
"Aku bosan.
Cukup sampai di sini."
"……Apa
maksudmu?"
Aku bertanya
dengan nada curiga dan mengancam, namun dia hanya menyeringai.
"Aku
tidak berniat menemani kalian 'mengulur waktu' lagi. Itulah maksudku, Reed Baldia."
Elba
menjawab demikian, lalu melirik ke arah posisi pasukan Gareth. Dengan tubuhku
yang pendek, aku tidak bisa melihat pasukan itu, tapi kepulan debu terlihat
dari kejauhan.
"Jika
kau ada di sini tapi Rainer tidak muncul, artinya dia pasti sedang berada di
tempat Gareth sekarang."
"Anggaplah
begitu, lalu kenapa? Apa kau pikir aku akan membiarkanmu pergi membantu Gareth
begitu saja?"
Dia
menatapku dengan sorot mata yang mengerikan hingga rasa merinding menjalar di
punggungku. Tapi, aku tidak boleh mundur. Aku memasang kuda-kuda pedang lurus
ke depan dan melangkah maju, menatap langsung ke arah Elba.
"Akan
kuberitahu beberapa hal menarik padamu."
Dia mulai bicara
sambil mengarahkan ujung kapaknya ke arahku.
"Soal
Gareth... bagiku dia hanyalah salah satu 'bidak' yang kujadikan tameng. Cepat
atau lambat, aku berniat menyingkirkannya dari kursi kepala suku. Malahan, jika
dia tewas di tangan Rainer, itu akan menguntungkanku karena aku punya alasan
kuat untuk menyerang balik dengan dalih 'kepala suku kami dibunuh'."
"……Dia itu
ayahmu sendiri. Kau berniat memperlakukan anggota keluargamu sebagai 'bidak
buangan' sama seperti Rick dan yang lain?"
"Ikatan
darah tidak ada artinya bagiku. Yang penting adalah berguna atau tidak."
Elba mendengus,
lalu mengalihkan pembicaraan.
"Lalu……"
"Kau pikir
kau sudah menarik Rapha ke pihakmu, 'kan? Ada sesuatu yang sudah kusampaikan
padanya sebelumnya."
Melihat
seringainya yang tampak sangat menikmati situasi ini membuatku merasa muak dan
kesal, tapi aku tidak perlu terpancing provokasi yang sudah jelas ini. Aku
tetap memelototinya dengan wajah datar tanpa menunjukkan emosi.
"Apa
maksudmu?"
"Kau pasti
mengerti. Dalam perang dengan perbedaan jumlah pasukan yang sangat besar ini,
satu-satunya cara bagi kalian untuk menang adalah dengan taktik aneh. Dengan
pemikiran itu, kemungkinan kalian mendekati 'Rapha' yang dekat dengan Amon
cukup besar. Karena itu, aku sudah memberitahunya: 'Jika mereka menawarkan
sesuatu padamu, terimalah dengan baik'."
'Terimalah dengan
baik', ya? Meski begitu, bukan berarti aku tidak memikirkan kemungkinan itu.
Malah, ini sesuai
dengan dugaanku. Mengingat kepribadian Rapha, saat ini dia pasti sedang
memantau dari suatu tempat, menimbang-nimbang antara aku dan Elba sambil
menikmati tontonan dari tempat tinggi.
"Lalu, apa
yang ingin kau katakan?"
Aku sengaja
memiringkan kepala saat bertanya, dan Elba mengangkat bahunya dengan gaya
mengejek.
"Maksudku
adalah... kalian pikir kalian sedang melakukan serangan kejutan padaku dan
Gareth, padahal kenyataannya tidak. Kalian hanya sedang dipancing keluar."
"Yah, memang
tidak ada laporan dari Rapha soal gerakan kalian, tapi saat dia bilang Marbas
harus memimpin garis depan, aku sudah tahu kalau kalian telah melakukan kontak
dengannya."
Dia mulai tertawa
terbahak-bahak, lalu setelah puas, dia menatap kami semua seolah kami ini
makhluk remeh.
"Pada
akhirnya, kalian semua hanyalah menari di atas telapak tanganku."
"Terus
kenapa?"
Aku balas
menggertak sambil tetap menyiapkan pedang sihirku. Dia mengernyitkan dahi dan
memiringkan kepala.
"Elba,
sudah kubilang di awal, 'kan? Berhenti mengoceh. Anggaplah kami menari di atas
telapak tanganmu, tapi faktanya kami sekarang sedang menodongkan pedang untuk
menjatuhkanmu. Membiarkan tentara musuh berada tepat di depan jenderal sendiri
adalah kegagalan besar dalam strategi. Bukankah ada pepatah yang bilang 'si
ahli taktik tenggelam dalam taktiknya sendiri'?"
Mendengar
ucapanku, Cross terkekeh pelan.
"Fufu……"
"Tuan
Reed benar. Meski membawa pasukan besar, membiarkan tentara musuh berada di
depan mata komandan adalah kesalahan fatal."
Capella
mengangguk setuju dengan ucapan Cross, sementara Diana menggelengkan kepala
dengan ekspresi heran.
"Ya, benar
sekali. Jika ini adalah prajurit biasa, hukuman tidak akan bisa
dihindari."
"Saking
asyiknya membuat orang menari di telapak tangan, si pemilik tangan sendiri
malah ikut menari kegirangan. Benar-benar tidak tertolong."
Terpengaruh oleh
kata-kata itu, Ovelia, Kalua, bahkan Cookie pun tampak bahunya bergetar karena
menahan tawa.
"Elba. Apa
pun yang kau katakan, kami datang ke sini untuk mengalahkanmu. Dan sekarang, yang terpenting
adalah kenyataan bahwa kami berdiri tepat di depanmu."
"……Berani
sekali kau bersilat lidah. Dasar bocah bermulut besar."
Urat nadi
menonjol di dahi Elba. Dia
perlahan memanggul kapaknya dan memutar tubuhnya.
"Bicara
mau mengalahkanku tapi kerjanya cuma mengulur waktu dan mundur, benar-benar
melucu. Dan satu lagi, apa kau pikir aku tidak menyadari hal-hal licik yang
kalian lakukan sedari tadi?"
"……!?"
Seketika,
hawa mana yang sangat luar biasa terpancar darinya, membuatku merinding.
"Sampah
yang cuma bisa mengandalkan sihir jangan berani-berani menggunakan alat picik
di depanku!"
"Semuanya!
Pasang Magic Shield kekuatan penuh tepat di depan!"
Teriakan
Elba menggelegar. Tepat setelah aku berteriak memperingatkan yang lain, aku
melihat mana hitam pekat miliknya bergejolak dan terkumpul di ujung kapak
perangnya.
"Lenyaplah
tanpa sisa, atau pertaruhkan nyawa kalian demi melindungi sampah-sampah ini.
Pilih salah satu, Reed Baldia!"
Elba melepaskan
tenaga yang terkumpul dan mengayunkan kapaknya. Api hitam yang melesat dari
ujung kapak itu berubah menjadi bola mana raksasa yang diselimuti petir,
mengeruk tanah saat melesat ke arah kami.
Serangan itu
tidak mungkin bisa ditahan hanya dengan Magic Shield milik semuanya.
Aku harus
melakukan sesuatu untuk memperlemah kekuatannya. Aku langsung melompat ke depan dan
mengumpulkan mana dalam sekejap.
"Spiral
Spear!"
Tombak
sihir yang meluncur membentuk spiral itu berbenturan dengan bola api hitam
milik Elba. Gelombang mana dan gelombang kejut mengamuk di sekitar, angin
menderu kencang, dan debu berputar-putar memenuhi angkasa.
"Semuanya,
mundur ke belakangku! Mundur!"
Suara
cemas dan teriakan seperti jeritan terdengar dari belakangku.
Tapi aku
tidak punya waktu untuk membalas.
Tekanan
yang menghantam sekujur tubuhku jauh lebih kuat daripada saat adu dorong Spiral
Spear: Blazing Fire tadi. Jika aku lengah sedikit saja, aku akan hancur
berkeping-keping.
Aku
berusaha bertahan sekuat tenaga, namun tanah di bawah kakiku terkikis dan aku
perlahan-lahan terdorong mundur. Jika aku kalah di sini, semua orang di
belakangku akan menanggung dampak yang sangat mengerikan.
"Heh,
kau bertahan lebih baik dari dugaanku. Kalau begitu, akan kuberikan hadiah."
Begitu
suaranya terdengar, tekanan dorongannya meningkat drastis secara mendadak.
Aku
menggertakkan gigi, mengerahkan seluruh tenaga dan memeras manaku, namun bola
mana itu terus mendekat ke arahku.
"Gu,
aaaaaaaah!?"
Saat bola
mana itu tinggal beberapa jengkal dari mataku, aku mengerahkan sisa tenaga
terakhir untuk memaksa menaikkan output Physical Reinforcement:
Blazing Fire.
Rasa
sakit seperti tersengat listrik menyapu sekujur tubuhku, tulang-tulangku
berderit, dan suara-suara aneh terdengar dari dalam tubuhku. Namun, aku
berhasil mendorongnya kembali sedikit, dan bola mana itu meledak di antara aku
dan dia.
"Tuan
Reed!"
Di tengah
suara ledakan dan angin kencang, aku mendengar namaku dipanggil. Aku melihat
punggung Cross dan Capella yang sedang memasang Magic Shield.
Aku ingin
menyahut, tapi tenagaku sudah habis. Saat aku jatuh tersungkur ke depan,
sepasang lengan yang lembut menangkapku.
"Tuan Reed.
Anda baik-baik saja?"
"Diana,
terima kasih."
"Sama sekali
bukan apa-apa. Terima kasih telah melindungi kami semua."
Air mata yang
mengalir dari matanya membasahi pipiku.
Syukurlah.
Setidaknya aku berhasil melindungi semuanya. Namun saat itu, aku merasakan hawa
keberadaan yang mengerikan di balik asap ledakan yang membumbung tinggi. Merinding menjalar di tulang
belakangku.
"Dia...
dia ada di sana."
"Eh……?"
"A-apa……!?"
"Kalian
mengganggu saja."
Bayangan
besar muncul dari balik asap dan langsung mengempaskan Capella serta Cross.
"Oi,
oi. Setelah bicara besar seperti tadi, penampilanmu sekarang sungguh
menyedihkan, Reed Baldia."
"Kh……!?"
Aku
memelototi Elba yang sedang mengejekku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun, namun tubuhku hanya bisa merintih
kesakitan. Tenagaku
benar-benar kosong, bahkan untuk berdiri saja tidak bisa.
"Lawanmu
adalah aku!"
"Jangan,
Diana! Biarkan aku, kau mundurlah!"
"Aku tidak
benci wanita yang berani. Tapi orang sepertimu tidak akan bisa menang melawanku."
"Belum
tahu kalau belum dicoba!"
Diana
melancarkan teknik pedang secara bertubi-tubi, namun Elba menghindarinya dengan
santai dan mementalkan pedangnya.
"Belum,
belum berakhir!"
Diana
menggertakkan gigi, mengeluarkan senjata rahasia, dan menyerang lagi. Tapi kali
ini Elba tidak menghindar; dia sengaja menerima serangan itu. Suara logam yang
nyaring terdengar, wajah Diana meringis saat tangannya yang memegang senjata
rahasia itu bergetar hebat.
"Sudah
kubilang, 'kan? Orang sepertimu tidak akan bisa menang."
Tempat di mana
Elba menerima serangan senjata rahasia tadi bahkan tidak tergores sedikit pun.
Malahan, mata pisau senjata rahasia milik Diana telah patah.
"Monster……"
"Heh, kau
melukai perasaanku saja. Padahal aku ini pria budiman yang menepati
janji."
"Bajingan
sepertimu tidak mungkin seorang pria budiman!"
Diana kembali
menyerang dengan berani, namun Elba menangkap lehernya dengan tangan kiri dan
mengangkatnya.
"Le-lepaskan!"
"Pada
akhirnya, manusia cuma sebatas ini ya."
Elba bergumam
bosan, lalu mengalihkan pandangannya padaku.
"Reed Baldia,
pelayanmu sedang menderita, lho. Sampai kapan kau mau tiduran di sana?"
"Kh……!?"
Aku berusaha
bangun sekuat tenaga, namun hanya erangan yang keluar dari mulutku. Tubuhku
benar-benar tidak mau menuruti perintah. Tiba-tiba, dari balik asap yang masih
tersisa, bayangan-bayangan kecil menyerbu Elba satu per satu.
"Lepaskan
Kak Diana!"
"Ovelia,
semuanya!"
Dipimpin oleh
Ovelia, Cookie dan seluruh anggota Divisi Ksatria Kedua menyerbu Elba demi
menyelamatkan Diana. Tapi, dia membalas serangan mereka semua hanya dengan satu
tangan. Aku ingin membantu, tapi tubuhku tidak bisa digerakkan.
Seolah sengaja
pamer, Elba menyiksa Ovelia dan yang lainnya beserta Cookie tepat di depan
mataku sambil tertawa. Akhirnya,
mereka semua pun tumbang dan tidak bisa bergerak lagi.
"Se-semuanya……"
"Membosankan."
Elba mendengus.
Tangan kirinya masih mencengkeram leher Diana, sementara kaki kanannya
menginjak Ovelia.
"Lepaskan...
mereka berdua."
Aku menggertak
sekuat tenaga, namun Elba justru menyeringai senang.
"Bagus,
ekspresi itu yang kumau. Kalau begitu akan kutanya, Reed Baldia. Jika kau
sayang pada nyawa mereka, jadilah bawahanku."
"Lagi-lagi
soal itu, ya."
"Ya,
benar. Tapi, situasinya sekarang sedikit berbeda dari yang tadi."
Saat aku
menunjukkan rasa muak, Elba sedikit mencekik leher Diana dan menambah tekanan
pada kakinya yang menginjak Ovelia. Erangan tertahan dari keduanya terdengar
menyayat hati.
"Jika
kau mau mengabdi padaku, nyawa wanita ini dan gadis kecil di bawah kakiku akan
kuselamatkan. Begitu juga dengan bocah-bocah yang terkapar di sana-sini dan
para ksatria di belakangmu. Akan kupertimbangkan sebaik mungkin. Lagipula aku
ini sangat baik pada bawahan."
"Ja-jangan,
Tuan Reed!"
Yang
menjawab tanpa jeda adalah Diana, yang meski kesakitan, sorot matanya tetap
tajam.
"Jangan
dengarkan bualannya! Jika Anda menyerah, habislah sudah keluarga Baldia!"
"Benar
sekali! Orang macam ini cuma memanfaatkan orang, dan kalau sudah tidak berguna
akan dibuang begitu saja! Tidak ada gunanya bertahan hidup kalau cuma jadi
pelayan orang seperti ini!"
Begitu
Ovelia mengangkat wajahnya dan menggertak, Elba menyeringai.
"Masih
punya tenaga untuk bicara lancang, ya. Mungkin aku terlalu lembut tadi."
"Kh……!?"
"Gaaa……!?"
Elba memperkuat
cengkeramannya pada leher Diana dan injakannya pada Ovelia. Diana mengerang
kesakitan, dan Ovelia tampak sangat menderita.
Aku berusaha
bangun dengan putus asa tapi sekujur tubuhku menjerit sakit, aku mencoba
merapal sihir tapi manaku kosong. Malah, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh
tersungkur lagi.
"Henti...
hentikan!"
Aku mendongak dan
memelototinya, tapi Elba justru menunduk dan tertawa mengejek dengan keras.
"Hentikan?
Pikirkan baik-baik, apa kau punya posisi untuk memerintahku? Bukan cuma dua
orang ini saja. Aku juga punya Christi di tanganku."
"Lagipula,
sekarang 'pasukan terpisah' yang kukirim pasti sudah bergerak untuk menangkap
Nanally yang ada di Baldia, dan juga putri Dark Elf itu, siapa namanya? Farah?
Ya, mereka sedang bergerak untuk mengamankan keduanya."
"……!?"
Aku terbelalak.
Ternyata dugaanku benar.
Melihat
kepribadian Elba, aku sudah menduga kalau pasukan terpisah suku Foxman mungkin
akan mengincar Ibu dan Farah. Karena itulah aku sudah menyuruh Ibu dan Farah
untuk mengungsi ke Kerajaan Lenalute, dan meminta bantuan pada Raja Elias.
Selama tidak ada
kabar, seharusnya mereka aman. Namun, melihat Elba yang begitu tenang
menceritakan cara-cara liciknya, aku merasakan kemarahan dan kebencian yang
mendalam dari lubuk hatiku.
"Melihat
reaksimu, sepertinya kau sudah mengantisipasi soal pasukan terpisah itu. Tapi,
sudah sewajarnya kami menyerang kelemahan kalian. Pokoknya, jika kau tidak mau
jadi bawahanku, aku akan mulai dengan menginjak-injak gadis kelinci lancang ini
sampai mati."
"Kalau kau
melakukan itu, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Aku
menggertak dengan penuh kemarahan dan haus darah, tapi dia hanya tertawa
senang.
"Sayang
sekali ya. Jika kau lahir sepuluh tahun lebih cepat, mungkin kau bisa
memberikan perlawanan yang seimbang denganku. Tapi, takdir berpihak padaku.
Jangan benci aku, bencilah tuhanmu yang mengatur takdir ini!"
Aku
merangkak di atas tanah, mencoba menggapai Ovelia untuk menyelamatkannya, tapi
tubuhku sama sekali tidak mau bergerak.
Kenapa...
kenapa aku begitu tidak berdaya?
Bukankah
ingatan kehidupan masa laluku bangkit agar aku memiliki kekuatan untuk
melindungi Ibu, Ayah, Mel, Farah, dan semua orang di Baldia?
Saat air
mata penyesalan mengalir di pipiku, Ovelia menoleh dan tersenyum hingga
memperlihatkan giginya yang putih.
"Tuan
Reed... jangan pernah... menyerah pada bajingan ini."
Setelah
berkata begitu, dia mendongak menatap Elba dengan tatapan garang laksana iblis.
"Aku
tidak akan pernah memohon nyawa. Aku akan melawan sampai titik darah
penghabisan!"
Begitu kalimat
itu selesai, Ovelia secepat kilat menggigit kaki si brengsek itu sekuat tenaga.
"Tekad yang
bagus. Kalau begitu, aku harus membalas tekadmu itu dengan setimpal."
Elba menyeringai
kejam. Detik berikutnya, tanah retak dan jeritan pilu Ovelia bergema di seluruh
medan perang.
"O-Ovelia...!"
Diana
memanggilnya dengan putus asa, tapi Ovelia tidak bisa menjawab dan hanya terus
mengerang kesakitan.
"Ayo,
menangislah! Berteriaklah! Biarkan suara sakratulmautmu membahana!"
"Hentikaaaaaan!"
Tepat setelah aku
berteriak, sebuah cahaya merah menyambar Elba dengan kecepatan yang tak
tertangkap mata, melancarkan tebasan yang sangat tajam.
"Nuuuh!?"
Elba yang
terkejut limbung. Luka pedang memanjang dari bahu kiri hingga pinggang
kanannya, menyemburkan darah segar. Memanfaatkan celah itu, sebuah bayangan
hitam menyambar Diana, Ovelia, dan aku, lalu membawa kami menjauh dari Elba.
"Tuan
Reed. Maafkan saya karena terlambat menolong Anda."
Sosok
yang menundukkan kepala itu adalah Capella, dengan mana hitam yang bergejolak
dari sekujur tubuhnya.
Diana
terbatuk-batuk, tapi tampaknya dia tidak terluka parah. Ovelia pingsan, namun
ia masih bernapas. Aku mengembuskan napas lega melihat keadaan mereka berdua,
lalu menoleh ke arah penyelamat kami.
"Terima
kasih, Capella. Tapi, cahaya merah tadi itu..."
Aku mendongak ke
depan. Berdiri di hadapan Elba adalah Cross, yang kini diselimuti oleh kobaran
api yang membara.
"Luar...
luar biasa..."
Aku menahan napas
melihat sosoknya.
Saat mengaktifkan
Physical Reinforcement: Blazing Fire, mana yang menyerupai api memang
akan menyelimuti tubuh.
Namun, mana yang
menyelimuti tubuh Cross saat ini berada di level yang jauh berbeda dibandingkan
saat aku atau Ayah mengaktifkannya. Entah sebanyak apa mana yang ia peras
sekarang.
"Tuan Reed.
Silakan minum ini bersama Nona Diana dan Ovelia. Ini adalah Mana Potion
terakhir."
Capella
mengeluarkan ramuan pemulih mana.
"I-iya.
Terima kasih. Tapi, bagaimana dengan bagian kalian berdua?"
"Tidak
apa-apa. Kami sudah meminumnya."
Capella
menyipitkan mata sambil tersenyum, lalu meminumkan obat itu pada Diana dan
Ovelia, dan memberikan butiran terakhir kepadaku.
"Saya
yang akan melindungi Anda sekalian. Beristirahatlah sejenak."
Capella tetap
mempertahankan mana hitamnya dan menyiapkan senjata ke arah Elba. Aku berusaha
bangkit berdiri, menatap Cross dan Capella yang kini berhadapan dengan Elba.
"Wujud
itu... dan serangan tadi. Aku jadi ingat sekarang."
Elba
mengusap luka tebas di tubuh bagian atasnya sambil menatap Cross tajam.
"Kau
adalah petualang yang sempat jadi bahan pembicaraan beberapa tahun lalu.
'Crimson Cross', 'kan?"
"Ya.
Pernah ada masa di mana aku dipanggil begitu."
Begitu
Cross membenarkan, Elba mendengus bosan.
"Dan
sekarang, kau malah berendam di air hangat Baldia hingga pedangmu tumpul?
Serangan level ini bahkan tidak layak disebut luka bagiku."
Si
brengsek itu menciptakan api dari tangannya sendiri dan membakar lukanya.
Sepertinya
untuk menghentikan pendarahan. Begitu Elba selesai membakar lukanya dan
melepaskan tangan, bekas tebasan Cross telah hilang tanpa bekas.
"Apa...!?"
Aku terbelalak,
sementara Cross hanya menggerakkan alisnya sedikit.
"Mana
tercipta dari kekuatan hidup. Bagi orang sepertiku, menutup luka sendiri dengan
mana adalah perkara sepele. Semua tergantung bagaimana cara
menggunakannya."
"Begitu ya.
Kalau begitu, berikutnya adalah sampai kepalamu terbang."
Cross menjawab
dengan tenang, lalu kembali memasang kuda-kuda dan melancarkan teknik pedang ke
arah Elba. Kecepatan dan kekuatan pedangnya kini berkali-kali lipat lebih
dahsyat dari sebelumnya.
Entah dari mana
dia mendapatkan kekuatan seperti itu. Elba sendiri tidak berani menerima teknik
pedang itu secara langsung dan mulai menangkisnya dengan kapak.
Untuk pertama
kalinya dalam pertarungan ini, Elba dipaksa bermain bertahan.
"Aku tahu
Cross itu kuat, tapi aku tidak menyangka dia sehebat ini..."
"...Benar.
Tuan Cross adalah orang yang sangat kuat."
Capella
mengangguk, namun entah kenapa dia tampak merasa bersalah.
Saat aku
memiringkan kepala bingung, tebasan Cross kembali melukai Elba.
"Nuuuh!?"
Elba pun berlutut
dengan satu kaki. Tapi jika diperhatikan baik-baik, kobaran api yang
menyelimuti Cross mulai meredup.
"Hah...
hah..."
Melihat Cross
yang terengah-engah, Elba perlahan bangkit berdiri lalu tertawa terbahak-bahak.
"Begitu
rupanya. Kau berniat melindungi tuanmu bahkan sampai harus membakar nyawamu
sendiri?"
"Membakar
nyawanya sendiri?"
Aku teringat
ekspresi bersalah Capella tadi dan seketika tersadar.
"Capella,
apa maksudnya!?"
"Persis
seperti perkataannya. Tuan Cross tidak meminum Mana Potion. Dia merasa ini satu-satunya cara untuk
mengulur waktu dan melindungi Anda sekalian."
"Aku
tidak menginginkan hal itu! Siapa yang memberi izin!?"
Aku
mencengkeram baju Capella dan mendesaknya, namun dia hanya menggeleng lemah.
"...Ini
bukan soal izin. Sebagai Wakil Komandan Ksatria Baldia yang dititipkan Tuan Reed
dan para ksatria oleh Tuan Rainer, Tuan Cross berniat menjalankan tugasnya
sampai akhir."
"Ti-tidak
mungkin...!"
Saat aku
jatuh berlutut dengan lemas, tawa mengejek Elba kembali membahana di medan
perang.
"Lucu
sekali. Dasar kumpulan pengorbanan diri dan kepuasan diri. Mempertaruhkan nyawa
demi yang lemah, apa gunanya? Benar-benar membuatku muak."
"Cross..."
Sadar
akan tatapanku, Cross melirik ke arahku sejenak dan tersenyum. Kemudian, dia
mengalihkan pandangan kembali ke Elba dengan wajah penuh haus darah.
"Jangan
bercanda, Elba."
"Aku
adalah ksatria yang bersumpah setia pada keluarga Baldia. Mempertaruhkan nyawa
demi melindungi wilayah dan keluarga adalah kewajibanku!"
Cross
menyarungkan pedangnya dan mengambil kuda-kuda rendah. Pada saat itu, aku merasakan mana yang sangat
masif terkumpul dan meluap darinya.
"Pengorbanan
diri dan kepuasan diri, katamu? Jangan bicara seolah kau paham dengan kata-kata
murahanmu itu!"
"Menarik.
Kalau begitu, buktikan kalau kata-katamu itu bukan sekadar bualan!"
Tepat saat Elba
menyiapkan kapaknya, Cross berubah menjadi gumpalan api merah raksasa dan
melompat dengan kecepatan dahsyat.
Masuk ke dalam
jangkauan lawan dalam sekejap, Cross mencabut pedangnya dan melancarkan tebasan
tajam.
Suara dentingan
logam yang beradu memenuhi udara, dan benturan keduanya menciptakan awan debu
yang tebal.
"Ba-bagaimana
hasilnya!?"
Aku menatap tajam
ke arah debu yang mulai menipis. Saat sosok di dalamnya terlihat, aku
terpaku diam. Elba sama sekali tidak terluka. Tangan kanannya memegang kapak,
sementara tangan kirinya mencengkeram wajah Cross dan mengangkatnya ke udara.
"Hebat juga, Crimson Cross. Bisa menggores kapak
perangku bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kalau serangan tadi kena telak,
mungkin akan sedikit berbahaya."
Elba mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Bagaimana, Reed Baldia? Sekarang kau sudah berniat
untuk mengabdi padaku?"
"Kh...!"
Apa yang harus
kulakukan? Bagaimana cara menyelamatkan Cross dan melewati situasi ini? Aku
memutar otak dengan putus asa, tapi tidak menemukan jawaban.
"Keras
kepala sekali. Baiklah. Biar kubuktikan dulu bahwa aku adalah pria yang
menepati janji."
"...!?
He-hentikan!"
"Hanya
dengan kata-kata, kau tidak akan bisa melindungi apa pun!"
Tepat setelah si
brengsek itu meludah, tubuh Cross tiba-tiba diselimuti oleh api hitam.
"ELBAAAAAAAAAAAAAA!"
"Ayo, Cross! Menangislah! Berteriaklah! Biarkan suara matamu menyadarkan Reed Baldia!"
"...!?"
Di dalam balutan
api hitam itu, Cross sama sekali tidak bersuara. Dia justru mencengkeram lengan
Elba dengan kedua tangannya.
"...Ho, luar
biasa. Kau adalah orang pertama yang tidak berteriak saat tubuhnya dibakar oleh
api hitamku. Benar-benar menyebalkan sampai akhir."
Begitu Elba
meninggikan suaranya, Cross yang terbungkus api hitam meledak hancur tanpa
sisa.
"A... ah... Cro... Cross... Cross..."
"Nah, sekarang bersumpahlah setia padaku, Reed Baldia. Jika tidak, kau akan kehilangan semua hal
berhargamu 'tanpa sisa' seperti dia."
Suara tawa Elba
terdengar sayup-sayup di telingaku.
Kenapa? Kenapa
dia bisa melakukan hal sekejam ini?
Dia pikir nyawa
manusia itu apa?
Aku tidak akan
memaafkannya. Tidak akan pernah! Bajingan ini... hanya bajingan ini yang tidak
akan pernah kumaafkan!
Di saat kepalaku
dipenuhi amarah dan kepedihan, sebuah benda bulat yang menghitam namun masih
memantulkan cahaya matahari jatuh dari langit dan berguling di depanku.
"Ini...
jam saku..."
Tidak
salah lagi. Meski sudah hangus, ini adalah jam saku yang kuberikan pada Cross.
Seketika, kenangan hari-hari bersamanya melintas di benakku seperti film
pendek.
Hari
pertama kami bertemu, hari-hari latihan bersama, sosoknya yang tertawa bersama
anggota Divisi Kedua lainnya.
Saat aku
memberikan jam saku ini, di bawah tatapan Tinct dan Tiss, dia menggendong
putranya, Claude, dengan wajah yang sangat bahagia.
'Sebenarnya,
di hari seperti ini, aku terpikir betapa menyenangkannya jika bisa bermain
bersama keluarga dan kalian semua di sini.'
Dia memiliki
keluarga tercinta yang menantinya pulang. Tapi aku... kenapa aku hanya bisa
melihat tanpa melakukan apa-apa?
'Aku adalah
ksatria yang bersumpah setia pada keluarga Baldia. Mempertaruhkan nyawa demi
melindungi wilayah dan keluarga adalah kewajibanku!'
Atas kesetiaan
yang ia tunjukkan dengan mempertaruhkan nyawa sebagai kewajiban, apa yang sudah
kulakukan? Bagaimana aku membalasnya? Aku tidak melakukan apa-apa!
'Pengorbanan
diri dan kepuasan diri, katamu? Jangan bicara seolah kau paham dengan kata-kata
murahanmu itu!'
Kata-kata
terakhirnya, sosok terakhirnya, tawa mengejek Elba... semuanya terputar
berulang-ulang di kepalaku.
Tanpa sadar air
mata mengalir deras, dan kedua tanganku mencengkeram tanah dengan sekuat
tenaga.
Aku adalah putra
sulung keluarga Baldia, Reed Baldia, 'kan?
Melindungi semua
orang apanya?
Itu hanya bualan,
aku tidak menjalankan kewajibanku sedikit pun!
Kenapa... kenapa
Cross dibunuh?
Kenapa dia harus
mati!? Tidak... salah. Aku lemah. Karena aku lemah dan tidak bisa melindungi,
dia terbunuh!
Kekuatan... aku
butuh kekuatan! Tidak peduli apa yang terjadi pada tubuhku, untuk saat ini saja
tidak apa-apa. Kekuatan... aku butuh kekuatan untuk menghentikan bajingan ini
dan melindungi semuanya!
"Tuan Reed,
silakan lari!"
"Eh..."
Aku tersadar oleh
suara Capella dan mendongak. Elba sudah berada sangat dekat.
Dia memukul
Capella hingga terpental, lalu berdiri di depanku dan menginjak jam saku itu
hingga hancur. Pada saat itu, aku mendengar sesuatu di dalam diriku putus.
"Apa yang
kau lamunkan, Reed Baldia?"
"...Ka..."
"Apa? Aku
tidak dengar."
"Kau... sama
sekali tidak akan kumaafkan!"
Merespons amarah
yang membara, mana meluap dari kedalaman jurang sukmaku dan terus meningkat.
Gelombang
mana meledak di sekelilingku. Angin yang berubah hitam pekat karena mana
mengamuk liar, tanah retak dan terkikis habis, sementara guncangan gempa
mengguncang dunia dengan dahsyat.



Post a Comment