NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 10 Chapter 5

Chapter 5

Pertempuran Benteng Hazama: Amarah Reed


"A-apa... Mana masif apa ini!?"

Elba mengayunkan kapak perangnya dengan sekuat tenaga, dan suara dentingan logam yang berat bergema di sekitarnya.

"A-apa-apaan ini...!?"

Dia membelalak tak percaya.

Kapak perangnya tertahan oleh Magic Shield dan sama sekali tidak bisa menyentuhku.

"Serangan seperti itu tidak akan mempan, bodohhhhhh!"

"Nuoo!?"

Magic Shield itu meledak, mementalkan sihir sekaligus tubuh raksasanya.

Ini saja belum cukup. Untuk menjatuhkannya, aku butuh mana yang lebih besar dan lebih kuat lagi.

Benar, aku butuh 'kekuatan' yang mutlak. Melihat tubuh raksasa itu terpental, Capella dan Diana membelalakkan mata dan meneriakkan sesuatu.

Reed, hentikan! Jika lebih dari ini, tubuhmu tidak akan sanggup menahannya!

Suara Memory bergema di dalam benakku.

……Aku tidak peduli.

Eh!? Apa yang kau katakan, Reed?

Memory terdengar sangat terkejut mendengar jawabanku.

Jika aku tidak menghentikan si brengsek ini di sini, Baldia akan hancur. Tapi, aku juga tidak sudi tunduk padanya. Jika itu terjadi, semua orang hanya akan disiksa sampai mati. Karena ujung-ujungnya akan mati juga, lebih baik aku mempertaruhkan nyawaku untuk menjalankan kewajibanku. Seperti yang dilakukan Cross.

Sosok yang mengendalikan suku Foxman adalah Elba, bukan Gareth.

Seandainya Ayah dan Amon berhasil mengalahkan Gareth, selama Elba belum tumbang, ambisi suku Foxman tidak akan berhenti.

Bahkan Rapha yang bermuka dua pun tidak akan berpihak pada kami selama Elba masih ada.

Mengalahkan Gareth saja tidak cukup. Pertempuran ini tidak akan berakhir kecuali aku menjatuhkan bajingan itu.

……Baiklah. Aku akan membantu sebisa mungkin. Tapi, aku akan menghentikanmu jika tubuhmu benar-benar sudah mencapai batas.

Terima kasih, Memory.

Bukan masalah. Karena aku adalah kau, dan kau adalah aku.

Begitu suara Memory menghilang, aliran mana yang meluap dari kedalaman tubuhku mulai berubah.

Mana itu menjadi jauh lebih masif dan kuat, namun alirannya menjadi tenang dan mudah dikendalikan.

Rasanya seolah laut yang tadinya mengamuk hebat mendadak berubah menjadi samudera yang tenang dan sunyi.

"Akan kugunakan seluruh sihir dan kekuatan yang kuketahui... Elba. Aku akan menjatuhkanmu di sini."

Sambil menggertaknya, aku mengendalikan mana yang meluap, menggabungkan sihir-sihir dari anak-anak Beastman termasuk sihir yang dulu pernah gagal kurapal. Seluruh atribut bercampur menjadi satu. Mana yang kini berwarna hitam pekat menyelimutiku dalam bentuk bola sihir, sementara rasa sakit dan kekuatan luar biasa menjalar ke sekujur tubuh.

Tak lama kemudian, tubuhku mulai menyatu dengan aliran mana yang besar itu. Bola sihir itu pecah, dan aku kembali berdiri di medan perang.

Rasa sakit dan derit tubuh yang kurasakan tadi telah hilang, bahkan manaku yang sempat kosong kini pulih sepenuhnya.

Aku menggerakkan tangan, kaki, dan leher untuk memastikan indraku.

"Apakah... Anda benar Tuan Reed?"

Diana dan Capella bertanya dengan mata membelalak heran.

Di belakang mereka, anak-anak Beastman juga berkumpul, semuanya terpaku dengan ekspresi tercengang.

"Semuanya, maaf sudah membuat kalian cemas. Sekarang sudah baik-baik saja."

"Ta-tapi, wujud Anda itu……"

Aku menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Capella.

"Aku tahu. Tapi, bajingan itu tidak akan bisa dikalahkan jika aku tidak melakukan ini. Kalian semua mundur, jangan sampai terkena dampak seranganku."

"Ta-tapi...!?"

"Ini adalah perintah."

Aku tersenyum, lalu dalam sekejap melompat ke hadapan Elba. Dia menggerakkan alisnya sedikit, menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan penuh minat.

"Wujudmu jadi sangat imut, ya. Apa kau berniat menjadi pelayan pribadiku?"

"Maaf saja, aku tidak sudi. Lagi pula, aku menjadi seperti ini bukan karena keinginanku. Untuk menahan mana yang meluap, tanpa sadar tubuhku berubah menjadi begini."

"Begitu ya. Jadi kau melakukan 'Beastification' meski kau adalah manusia. Aku tidak menyangka kau akan memaksa tubuhmu tumbuh dewasa hanya untuk berdiri di hadapanku."

Tinggi badanku sekarang mungkin hampir setara dengan Ayah, dan rambutku memanjang hingga menyentuh tanah.

Pakaianku yang dulu kecil ikut membesar mengikuti ukuran tubuh.

Sepertinya perkataan Ellen dan yang lain benar, bahwa baju zirah ini akan menyerap atau melepaskan mana penggunanya sehingga pelindung dan kainnya bisa melentur sesuai kebutuhan.

"Tapi, apa kau sadar? Tubuh manusia tidak akan kuat menahan beban 'Beastification'. Ditambah lagi, memaksa mana sebesar itu keluar akan menguras sisa umurmu setiap detiknya."

"Ya, aku sangat menyadarinya. Rasanya tubuhku seperti akan hancur berkeping-keping sekarang juga. Namun meski harus menukar nyawa, aku akan tetap menjatuhkanmu."

"Heh. Gagah juga."

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, tidak akan pernah sudi memaafkanmu meski kau memohon sekalipun!"

Elba mendengus mengejek, lalu perlahan menyiapkan kapak perangnya. Tatapan 'meremehkan' yang tadi ia tunjukkan kini telah sirna sepenuhnya.

"Hari ini cuacanya sangat cerah tanpa awan, burung-burung beterbangan, dan angin berembus sangat nyaman. Persis seperti kata Cross, hari ini adalah hari yang sangat indah."

Saat aku bergumam sambil menatap langit, dia tampak bingung.

"……Karena itulah, di hari seperti ini, kaulah yang harus jatuh ke dalam neraka."

Begitu pandanganku kembali pada Elba, getaran gempa dahsyat mengguncang.

Tanah di bawah kakinya mulai amblas dan membentuk lubang raksasa. Elba mencoba melompat untuk menghindar, namun akar-akar 'pohon' melilit kakinya dan mengunci pergerakannya.

"Masih saja menggunakan trik picik. Tapi, level seperti ini tidak akan……"

"Aku tahu. Karena itu, ini adalah hadiah dariku untukmu."

Sengaja kupotong ucapannya, lalu aku menciptakan sepuluh tombak mana raksasa dari semua atribut di langit dalam sekejap.

Kesepuluh tombak mana itu berputar di angkasa, menyatu menjadi satu tombak spiral raksasa yang jatuh menghujam Elba yang terjebak di tengah lubang.

"Jangan sombong, Reed Baldia! Kau salah besar jika berpikir nyawa sepertimu bisa menandingiku!"

Elba memutar tubuhnya untuk mengumpulkan mana, lalu mengayunkan kapaknya ke arah tombak mana raksasa yang jatuh.

Ujung kapak perang beradu dengan tombak mana raksasa, menciptakan gelombang mana dan gelombang kejut yang memicu badai hebat.

Di tengah hiruk-pikuk para prajurit Foxman dan teman-temanku, teriakan amarah Elba bergema dari dasar lubang.

Dia menggunakan kapaknya untuk mendorong balik tombak mana raksasa itu sedikit demi sedikit. Aku bisa merasakan tekanan baliknya di tangan kananku.

"Hebat juga, Elba. Kalau begitu, akan kutambahkan satu tombak lagi."

Aku mengangkat tangan kiri ke langit. Seperti sebelumnya, sepuluh tombak mana raksasa tercipta di angkasa, menyatu secara spiral menjadi satu tombak raksasa lainnya.

Tombak itu jatuh dan menyatu dengan tombak pertama, menciptakan satu tombak mana yang luar biasa masif. Elba membelalakkan mata melihat fenomena di depan matanya.

"A-apa-apaan ini!?"

Angin puyuh mengamuk di pusat lubang, tanah hancur berterbangan ke langit, memicu gelombang mana yang menghancurkan. Elba tampak berusaha keras menahan agar tidak tertindih oleh kapaknya sendiri.

"Hanya... level begini...!? Cu-cuma begini...!"

"Akan kukatakan sekali lagi. Jatuhlah ke neraka."

Aku mengerahkan tenaga di kedua tangan, seolah menekan paksa kekuatan yang mencoba melawan.

"……!?"

Sesaat setelah mata Elba terbuka lebar, tombak mana itu menelannya sepenuhnya, memicu ledakan raksasa dari dalam lubang.

Pilar api raksasa membumbung tinggi. Suara teriakan terdengar dari kedua belah pihak yang ketakutan. Karena hawa keberadaan bajingan itu belum menghilang, aku tetap menatap tajam ke pusat lubang.

Tak lama kemudian pilar api menghilang dan debu membubung tinggi. Dari dalam kabut debu, sebuah bayangan melompat keluar dan mendarat di hadapanku.

"……Kau benar-benar melakukannya. Tadi itu aku benar-benar berpikir akan mati."

Elba terengah-engah. Pakaian bagian atasnya hancur, seluruh tubuhnya penuh luka dan darah mengucur dari mana-mana.

Dia pasti sempat memasang Magic Shield kekuatan penuh, namun tetap saja ia tidak bisa menghindari kerusakan separah itu.

"Begitu ya. Padahal harusnya kau langsung mati saja di sana."

"Mati? Jangan bercanda. Ini adalah pertama kalinya aku merasakan pertarungan yang membuat jantungku berdebar sebahagia ini."

Elba menyeringai senang. Dia merobek sisa pakaian di tubuh bagian atasnya, lalu menancapkan kapak perangnya ke tanah.

"Baiklah. Untuk menghargai tekadmu yang mempertaruhkan nyawa, aku juga akan menjawabnya dengan kekuatan penuh."

Dia menunjukku, dan gelombang kejut yang kuat meledak dari tubuhnya.

Tepat saat wujud Beast milik Elba mulai berubah, suara Capella terdengar.

"Tuan Reed, sekarang!"

"Lancarkan serangan pamungkas Anda selagi dia fokus pada perubahan wujudnya!"

"Benar! Anda tidak perlu melawannya saat dia dalam kondisi penuh! Jika Anda menembakkan tombak mana tadi, bajingan itu pasti akan kalah dalam kondisi tanpa pertahanan!"

Mendengar teriakan Diana, aku melirik mereka berdua. Keduanya menatapku dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Tidak bisa."

Aku menggelengkan kepala.

"Aku akan membuat bajingan ini menyadari kesalahannya, membiarkannya putus asa, lalu menjatuhkannya ke neraka. Jika tidak begitu, hatiku tidak akan tenang. Sama sekali tidak tenang!"

"Ta-tapi...!?"

"Anda tidak perlu melakukan hal seperti itu! Pertempuran ini bukan sekadar urusan pribadi antara Tuan Reed dan Elba! Yang penting adalah menjatuhkannya!"

"Aku tahu itu!"

Aku membalas teriakan mereka dengan nada tinggi.

"Cross memiliki keluarga yang menantinya pulang! Tinct, Tiss, Claude! Karena ketidakberdayaanku, aku gagal melindungi Cross dari mereka! Tidak, bukan hanya dia! Manusia yang sudah mati tidak akan bisa hidup kembali! Tidak bisa lagi mengobrol, tidak bisa lagi bertemu!"

Aku menatap Elba dengan penuh amarah dan menunjuknya.

"Jika aku menjatuhkannya begitu saja sekarang, bajingan ini tidak akan pernah menyadari dosanya! Aku harus menghancurkan kesombongan dan harga dirinya, serta membuatnya menyesal! Akan kubuat dia menyadari betapa banyaknya kesedihan, kemarahan, dan kebencian yang lahir karena dia meremehkan nyawa orang lain!"

"Tuan Reed……"

Keduanya tampak menyerah, berlutut sambil menundukkan kepala.

"Maafkan aku, semuanya. Aku tahu ini adalah keegoisanku. Tapi, amarah yang meluap ini tidak bisa berhenti. Hatiku tidak akan tenang."

Setelah menjawab begitu, aku kembali memelototi Elba.

"Nah, begitulah urusannya. Cepat keluarkan seluruh kekuatanmu, Elba. Setelah itu, aku akan menjatuhkanmu. Akan kubuat kau menyesal karena telah membuatku marah dan menyia-nyiakan nyawa orang lain!"

"Sombong juga kau. Tapi, kaulah yang jangan menyesal karena harus menghadapi kekuatan penuhku, Reed Baldia!"

Tak lama setelah Elba menjawab, pola merah dan hitam mulai memenuhi sekujur tubuhnya. Dia berubah menjadi sosok mengerikan yang diselimuti mana api hitam, dan jumlah ekornya bertambah hingga menjadi sembilan.

"Jadi, itu kekuatan penuhmu."

"Ya, maaf sudah membuatmu menunggu. Mari kita mulai babak finalnya."

Elba memberi isyarat dengan dagunya ke tempat lain, mungkin karena tempat ini sudah penuh lubang.

Kami berdua berpindah ke area di mana tanahnya masih utuh. Dia berdiri kokoh dengan kapak di satu tangan.

Meski aku membawa pedang sihir di pinggang, aku tidak mencabutnya. Aku memasang kuda-kuda tangan kosong dan mengarahkan telapak tangan ke arahnya sebagai tantangan.

"Ayo, Elba. Bukankah kau penantangnya? Cepat serang aku."

"Benar-benar bocah yang selalu memancing emosi."




Elba menggelengkan kepala dan memelototiku, lalu mengangkat kapak perangnya dan menerjang dengan kecepatan yang luar biasa.

Dia mengayunkan kapak itu dengan seleruh tenaganya, namun aku menghindar setipis kertas dan berhasil masuk ke dalam jangkauan tubuhnya. Tapi, dia sepertinya sudah membaca pergerakan itu dan menyeringai.

"Kau pikir bisa menghindarinya semudah itu, Reed Baldia?"

"……!?"

Sebuah tendangan lutut melesat cepat dari tubuh raksasa Elba. Aku menyilangkan kedua lenganku untuk bertahan.

"Kenapa? Ke mana perginya nyalimu yang tadi?"

Dengan suara menggelegar, Elba melancarkan serangan bertubi-tubi yang menggabungkan kapak perang dan teknik bela diri.

Aku menghindar, menangkis, dan terkadang menahan serangannya. Aku berfokus pada pertahanan demi mengamati pergerakannya.

Pergerakan Elba dalam wujud ekor sembilan jauh lebih cepat daripada wujud ekor delapan, dan kekuatan serangannya pun meningkat drastis.

Bahkan dengan kekuatanku yang sekarang, satu serangan telak saja bisa berakibat fatal.

Saat aku melakukan salto ke belakang untuk menghindari tebasan kapak, Elba memanggul kapaknya dan tertawa sombong.

"Sudah lama aku tidak menggunakan wujud ini. Yang tadi itu hanyalah pemanasan."

"……Begitu ya."

Aku menyahut singkat sembari seketika menerjang masuk ke jangkauannya lagi.

"Harus begitu, kalau tidak aku akan kecewa padamu."

Aku mengepalkan tangan kiri dan melancarkan pukulan dalam yang menghujam telak ke perutnya.

Elba membelalak. Ekspresi kesakitan muncul di wajahnya.

"Gu……!?"

Saat aku menarik kepalan tanganku dari perutnya, dia perlahan berlutut dengan satu kaki.

"Ayo, cepat berdiri, Elba. Duel kita tidak mungkin berakhir hanya sampai di sini, 'kan?"

Ucapanku yang dingin membuatnya menggertakkan gigi. Dia mengayunkan lengannya dengan sekuat tenaga seolah ingin menyapu bersih segalanya.

Lengan itu sepertinya telah dilapisi mana, hingga menciptakan gelombang energi saat diayunkan.

Namun, aku menghindar dan berpindah ke belakangnya.

"Lambat," bisikku sambil melayangkan tendangan ke belakang kepalanya, menghantamkan wajahnya ke tanah.

"Gua!?"

Bersamaan dengan erangannya, tanah retak dan guncangan hebat terjadi.

Pertukaran serangan antara aku dan Elba terjadi dalam sekejap mata. Semua orang, kawan maupun lawan, hanya bisa terpaku diam. Keheningan menyelimuti medan perang.

"……Fufu."

Elba terkekeh pelan. Dia bangkit berdiri dengan tenang lalu mulai tertawa terbahak-bahak.

"Kekuatan yang luar biasa. Tapi, apa kau sadar? Semakin kau mengerahkan kekuatan untuk melampaui kekuatanku, kau justru membuktikan sendiri bahwa dunia ini adalah tempat di mana 'yang kuat memakan yang lemah'."

"Ya, kau benar. Aku tidak menampik bahwa mekanisme 'hukum rimba' itu memang ada di dunia ini."

Aku mengangguk, lalu menatapnya tajam.

"Tapi……"

"Itu bukan alasan atau pembenaran bagi orang yang sombong karena kekuatannya sepertimu untuk menyakiti dan menindas banyak orang."

Setelah meludah kasar, aku mendekati Elba dan melancarkan serangan fisik bertubi-tubi. Dia sepertinya mulai waspada setelah serangan tadi dan memilih untuk fokus bertahan.

"Jangan bicara seolah kau tahu segalanya! Manusia lahir sendirian, bertahan hidup sendirian di dunia hukum rimba ini, dan mati sendirian dalam kesepian! Apa salahnya jika yang kuat menyingkirkan dan menindas yang lemah!?"

Elba berteriak murka dan mengayunkan kapak perangnya.

Aku menahannya dari depan dengan Magic Shield, menciptakan suara benturan logam yang memekakkan telinga.

"Salah! Manusia lahir karena kasih sayang, bertahan hidup di dunia yang keras dengan saling membantu, dan mati dilepas oleh orang-orang yang mencintai mereka! Kau bisa hidup sampai sekarang pun pasti karena bantuan seseorang, 'kan? Kau melupakan itu dan merasa bisa hidup sendiri? Itu bukan lagi kesombongan. Itu namanya bodoh."

Aku meningkatkan output Magic Shield secara drastis dan mementalkan kapak perangnya.

"Apa……!?"

Elba membelalak.

Aku merangsek masuk ke pertahanannya yang terbuka lebar dan melancarkan rentetan serangan fisik.

"Orang sepertimu yang meremehkan dan menyia-nyiakan nyawa tidak akan pernah mengerti. Bagaimana rasanya saat suatu hari tiba-tiba mengetahui 'takdir kematian' tanpa peringatan, lalu berjuang mati-matian untuk melindunginya. Kau tidak akan tahu kesedihan karena gagal melindungi orang berharga, atau rasa sakit karena kehilangan."

Aku membentuk tangan seperti pisau dan menghujam ulu hatinya, lalu mengompres mana dalam sekejap dan melepaskannya. Detik berikutnya, ledakan besar terjadi dan Elba terpental jauh.

Sambil terengah-engah, aku menatap ke arahnya. Mana yang mengerikan kembali terpancar dari tubuhnya.

"Jangan menyia-nyiakan nyawa, katamu? Jangan paksakan nilai-nilaimu padaku! Memangnya ada nyawa yang berat atau ringan!?"

Elba memegang perutnya dan bangkit berdiri menggunakan kapaknya sebagai tongkat. Matanya berkilat tajam.

"Nyawa adalah eksistensi langka yang dimiliki semua makhluk hidup secara 'setara' di dunia ini. Jika dipikir begitu, nilai nyawa manusia maupun serangga adalah sama. Intinya, nyawa itu tidak punya 'bobot'! Yang memberi nilai pada nyawa itu bukan aku, tapi kau sendiri, Reed Baldia!"

"Memang benar. Apa yang kukatakan hanyalah sebuah 'nilai pribadi' dan mungkin sebuah paksaan. Tapi, seperti yang kau katakan, nilai nyawa itu setara. Karena itulah, bukan hanya manusia, nyawa apa pun tidak boleh diperlakukan dengan semena-mena. Ini adalah harga diri dan keyakinanku!"

Tepat saat aku mengatur napas dan kembali memasang kuda-kuda, suara Salvia bergema di benakku.

"Tuan Reed. Maaf mengganggu. Ada pesan darurat dari Tuan Rainer. Mohon segera dijawab."

Hampir bersamaan, dari arah para prajurit suku Foxman di belakang Elba, terdengar suara, "Tuan Elba! Ada kabar mendesak dari pasukan Tuan Gareth!"

Sambil terus mengawasi Elba, aku bertanya pada Salvia dalam hati.

"Ada apa?"

"Ah, syukurlah. Tuan Reed, baru saja masuk laporan dari rekan yang mendampingi pasukan Tuan Rainer. Tuan Rainer, Tuan Amon, Noir, dan Lagard... keempatnya bekerja sama dan berhasil menumbangkan Kepala Suku Foxman, Gareth Grandoke!"

Salvia menceritakannya dengan nada penuh semangat.

Begitu ya, Ayah dan yang lain berhasil melakukannya.

"Dimengerti. Terima kasih atas kabarnya."

"Kalau begitu, saya harus menyampaikan ini pada Tuan Curtis dan Tuan Dainas di Benteng Hazama. Saya putus komunikasinya sampai di sini."

Sihir komunikasi berakhir. Tepat saat aku merasa lega karena keberhasilan Ayah, Elba mengernyitkan dahi dan menatap prajurit suku Foxman yang wajahnya pucat pasi.

"Apa kabar mendesaknya? Katakan sekarang, tidak masalah jika didengar musuh."

"I-iya! Sebenarnya, ada kabar dari pasukan Tuan Gareth... Tuan Gareth kalah dalam pertarungan melawan Rainer Baldia dan dua anggota suku Foxman lainnya. Beliau... telah gugur."

Setelah melapor, prajurit itu jatuh berlutut dan menundukkan kepala.

Kegaduhan terjadi di antara prajurit suku Foxman, sementara sorak-sorai terdengar dari pihak Diana dan yang lain.

Elba tidak bergeming. Dia menatap tajam prajurit yang tertunduk itu.

"Oi, kau. Di mana lokasi ayahku tewas? Di mana posisi Rainer sekarang?"

"Eh……? Tepat di belakang posisi kita sekarang……"

Begitu prajurit itu menjawab, Elba tersenyum sinis.

"Begitu ya, pas sekali kalau begitu."

Dia memegang kapak di tangan kiri dan mengangkat telapak tangan kanannya ke langit.

"Elba, apa yang kau rencanakan di saat seperti ini!?"

"Waktunya bermain sudah habis. Akan kulenyapkan Rainer dan yang lainnya menjadi abu!"

Seketika, sebuah bola api hitam kecil tercipta dari telapak tangannya. Bola itu menyedot udara di sekitarnya dan membesar dengan kecepatan yang mengerikan.

"Apa……!?"

Aku membelalak, sementara Elba menyeringai lebar.

"Reed Baldia. Sekuat apa pun dirimu, kau tidak akan bisa menang melawanku jika kita beradu jumlah mana murni secara frontal. Nah, larilah jika kau bisa lari. Tapi jika kau melakukannya, api hitam ini akan menghanguskan Rainer dan yang lainnya!"

"K-kau……!?"

Aku melirik ke belakang. Para prajurit suku Foxman gemetar ketakutan melihat api hitam raksasa itu. Beberapa bahkan putus asa dan terduduk lemas di tanah.

Aku kembali menatap Elba dan berteriak, "Hentikan!"

"Ada prajurit yang mengagumimu di sini! Di tempat Ayah pun pasti masih banyak prajurit suku Foxman!"

"Aku tidak peduli dengan nyawa serangga-serangga ini. Tanpa ayah yang tidak berguna atau prajurit rendahan sekalipun, suku Foxman akan menang selama aku masih ada!"

Sampai di mana... sampai di mana bajingan ini mau meremehkan nyawa orang?

Tepat saat Elba mendengus, banyak bayangan muncul di belakangnya.

Itu adalah Diana, Capella, anak-anak Beastman, dan para ksatria.

"Kami tidak akan membiarkan Anda melakukannya!"

"Dasar sampah. Jangan berani-berani berdiri di belakangku!"

Sambil tetap menjaga bola api hitam di udara dengan tangan kanannya, dia mengayunkan kapak di tangan kirinya dan mengempaskan Diana serta yang lainnya dalam sekejap.

"……!? Semuanya!"

Aku berniat menghampiri mereka, namun Elba menatapku dengan mata penuh kebencian.

"Reed Baldia, aku mengakuinya. Kau benar-benar penghalang dalam jalan kekuasaanku. Karena itu, aku sendiri yang akan menghabisimu."

Dia mengarahkan tangan kanannya ke arahku.

"Nah, lenyaplah tanpa sisa!"

Bola api hitam raksasa itu mulai bergerak dari langit menuju ke arahku. Bagian bawahnya yang menyentuh tanah menelan daratan hingga lenyap tak berbekas.

"Tu-Tuan Elba……"

"Tidak mungkin... kalau tertelan api hitam itu, bahkan tulang pun tidak akan tersisa."

Melihat bola api hitam yang mendekat sambil menelan bumi, suara keputusasaan terdengar dari para prajurit suku Foxman di belakangku.

Aku memejamkan mata dan mengambil napas dalam. Wajah Ayah, Ibu, dan Mel melintas di benakku. Wajah semua orang yang melayani keluarga Baldia. Dan senyuman Farah yang menanti kepulanganku.

'Kakak. Pokoknya tidak boleh kalah, ya. Janji!'

Benar, Mel. Aku pasti akan menepati janji itu.

'Tuan Reed. Saya mendoakan keberuntungan Anda dalam pertempuran.'

Farah, terima kasih karena selalu mengkhawatirkanku.

'Reed. Jangan pernah menyia-nyiakan nyawamu, ya.'

'Reed. Jangan bertindak gegabah.'

Maafkan aku, Ibu, Ayah. Aku akan melanggar perintah kalian.

Bahkan jika nyawaku harus berakhir di sini, demi melindungi semua orang di Baldia, aku harus menjatuhkan Elba.

Aku sungguh bersyukur lahir sebagai anak kalian. Berkat itu, aku tidak takut pada apa pun. Aku akan menjalankan kewajibanku.

Aku membuka mata dan menatap lurus ke arah bola api hitam yang mendekat.

"Aku tidak akan membiarkanmu lewat. Tidak akan pernah!"

Aku menjulurkan kedua tangan ke depan dan merapal Spiral Spear dengan kekuatan penuh.

Sepuluh atribut tombak sihir yang tercipta menyatu secara spiral menjadi satu tombak raksasa, lalu berbenturan hebat dengan bola api hitam tersebut. Badai dahsyat serta gelombang mana dan kejut yang kuat mengamuk di medan perang.

"Menarik. Sesuai dugaan dari seorang Reed Baldia. Tapi, sampai kapan manamu itu akan bertahan?"

Melihat Spiral Spear berhasil menahan api hitamnya, Elba tertawa sinis.

Seperti katanya, jika beradu jumlah mana secara frontal, aku yang memaksakan kekuatan ini berada di posisi sulit.

Aku menahan sekuat tenaga agar tubuhku tidak terpental oleh tekanan baliknya. Saat aku menjejakkan kaki, tanah retak dan mulai amblas.

Sambil terus menahan tekanan di depanku, aku berteriak keras agar didengar oleh para prajurit suku Foxman.

"Kawan atau lawan sudah tidak penting lagi! Kalian juga pasti punya orang yang menanti kepulangan kalian! Aku akan menahan ini di sini! Cepat lari!"

"Ta-tapi……"

Para prajurit itu tampak bimbang dan bingung, mereka tidak segera bergerak.

"Apa kalian tidak dengar!? Dia sama sekali tidak peduli pada kalian! Jika kalian mati di sini, kalian hanya akan mati konyol! Hiduplah!"

Mendengar teriakan kerasku, para prajurit mulai membuang senjata mereka dan bergerak pergi satu per satu. Hal itu menular dengan cepat, dan para prajurit mulai lari berhamburan keluar dari jalur tembak.

"Rajin sekali kau ini. Masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan prajurit tidak berguna, sepertinya kau masih punya banyak tenaga."

"……!?"

Begitu Elba berujar ketus, bola api hitam itu mulai menelan Spiral Spear-ku dan terus mendekat.

"Reed Baldia. Kau memang kuat. Lagipula, bahkan saat melawan Sekhmetos pun aku tidak perlu sampai menjadi ekor sembilan. Tekad dan kekuatanmu untuk mempertaruhkan nyawa memang patut dikagumi. Tapi, ini hanyalah kekuatan pinjaman. Sejak awal kau tidak punya peluang untuk menang melawanku."

Tanganku terasa panas membara, sekujur tubuhku berderit, kakiku yang menumpu mengikis tanah dan perlahan-lahan terseret mundur karena tidak kuat menahan beban.

"Aku tidak akan kalah! Aku tidak akan menyerah sampai detik terakhirrrrrrr!"

Tepat saat emosiku meledak, aku merasakan mana mengalir ke dalam tubuhku, bukan dari kedalaman sukmaku, melainkan dari luar.

Tanpa sadar, mana cahaya yang hangat berkumpul dan berpusar di sekelilingku. Mana yang awalnya masuk dengan ragu-ragu itu perlahan-lahan bertambah banyak.

"A-apa!? Mana menjijikkan apa ini!? Apa lagi yang kau lakukan, Reed Baldia!?"

Elba gemetar ketakutan melihat mana yang berkumpul di sekelilingku.

Mana yang masuk ke dalam tubuhku terasa sangat tenang dan hangat. Mungkin di mata bajingan itu, cahaya mana ini terlihat menjijikkan.

"Cross? Bukan, bukan cuma dia. Aku juga merasakan hawa keberadaan ksatria lain dan juga Rick..."

Hawa mana yang berkumpul di sekitarku adalah milik orang-orang yang kukenal. Tanpa sadar rasa sakit di tanganku hilang dan tubuhku terasa ringan.

Begitu ya, semuanya meminjamkan kekuatan padaku. Air mata mengalir deras di pipiku. Aku menatap tajam api hitam yang mendekat, lalu melangkah maju dan meningkatkan output Spiral Spear.

Saat aku mulai mendorongnya balik, wajah Elba tampak tegang dan gemetar.

"Ke-kekuatan aneh apa ini!? Apa ini sihir yang tidak kuketahui? Ti-tidak, bukan itu! Kenapa... kenapa aku bisa merasakan mana dari para ksatria dan Rick yang seharusnya sudah mati dari dalam tubuhmu!?"

"Bukan cuma mereka berdua. Semuanya meminjamkan kekuatan padaku! Orang sepertimu yang menyia-nyiakan nyawa tidak akan pernah mengerti. Kau tidak akan paham arti dari mereka yang membantuku, atau alasanku mempertaruhkan nyawa!"

Merespons ucapanku, kekuatan Spiral Spear meningkat pesat dan mendorong bola api hitam hingga kembali ke hadapan Elba.

"Jangan bicara omong kosong! Itu semua hanyalah tipuan! Sampah tetaplah sampah!"

Teriakannya menggelegar di medan perang. Mana hitam pekat yang penuh kebencian meluap dari sekujur tubuh Elba, dan kekuatan api hitamnya mendadak menguat drastis.

"Kh……!?"

Aku menggertakkan gigi dan bertahan sekuat tenaga, namun api hitam itu perlahan kembali menekanku.

"Reed Baldia! Jangan pikir hanya kau yang bisa meningkatkan mana dengan mempertaruhkan nyawa! Tidak ada alasan bagiku untuk tidak bisa melakukan apa yang bisa kau lakukan! Lenyaplah sekarang juga!"

"Belum... aku belum menyerah! Semuanya... semuanya meminjamkan kekuatan padaku! Aku tidak akan pernah menyerah!"

Aku menjejakkan kaki dan memeras seluruh mana di tubuhku, namun aku tidak bisa lagi meningkatkan output Spiral Spear.

"Sepertinya pemenang duel ini sudah terlihat. Reed Baldia, namamu akan aku ingat……"

Tepat saat Elba menyeringai, sebuah ledakan terjadi di belakang punggungnya.

"Apa!?"

Elba mengernyitkan dahi dan menoleh ke belakang. Di sana berdiri Diana, Capella, dan anak-anak Beastman yang tidak melarikan diri, mereka berpose seolah baru saja menembakkan tombak sihir.

Di saat yang sama, itu menciptakan sedikit celah pada Elba, dan aku langsung mengerahkan output mana ke tingkat maksimal.

"Sekaranggggggg!"

Spiral Spear yang menguat itu menembus dan menelan bola api hitam, lalu melesat menghujam Elba.

"A-apa-apaan!?"

Elba membelalak. Dia mencoba mendorongnya balik namun tidak sempat. Spiral Spear menelannya dengan kekuatan penuh.

"Guoooooooooo!?"

"Belum berakhir!"

Aku mengubah bentuk Spiral Spear, mengurung Elba yang tertelan di dalam bola mana. Lalu aku mengangkatnya tinggi-tinggi ke angkasa dan menghentikan pergerakannya. Dia mencoba melepaskan diri namun tidak bisa menggerakkan satu jari pun, wajahnya meringis kesakitan.

"A-apa... kekuatan dahsyat apa ini……!?"

"Hah... hah... Berikutnya... adalah akhir bagimu."

Aku menggenggam gagang pedang sihir yang masih di dalam sarungnya, mengambil kuda-kuda Iai sembari mengalirkan mana. Api merah besar yang bergejolak membumbung dari sekujur tubuhku.

"Elba Grandoke. Dengan Slash ini, ambisimu akan berakhir!"

Aku melompat ke arahnya dalam posisi kuda-kuda Iai.

"Mengakhiri ambisiku? Jangan bercanda, Reed Baldia! Kau pikir aku ini siapa!? Aku adalah pria yang akan menjadi Beast King dan penguasa dunia!"

Elba berteriak murka, mana hitam pekat yang penuh kebencian terpancar dari tubuhnya. Dia memaksa tubuhnya bergerak di dalam bola mana dan menyiapkan kapaknya.

"Akan kupatahkan Slash milikmu itu!"

"……!? Rasakan iniiiiii!"

Di saat sudah sangat dekat, mataku menangkap sesuatu. Aku melepaskan Slash of Magic Sword tepat ke titik itu. Suara dentingan logam yang nyaring jatuh dari langit menyelimuti medan perang, dan wajah Elba seketika pucat pasi.

"K-kau... kau mengincar titik yang sama persis dengan ksatria itu!?"

"Inilah jalan kemenangan yang ditunjukkan oleh Cross! Dengan ini, kau kalah!"

Sekali lagi, suara dentingan logam yang nyaring bergema.

Slash of Magic Sword berhasil memotong kapak perang Elba. Namun, Elba sempat menggerakkan tubuhnya untuk menghindari luka fatal. Meski begitu, lengan kirinya telah putus mulai dari bahu.

"Guoooooo!?"




Erangan kesakitan Elba membahana di medan perang, namun ini belum berakhir.

Aku mendarat kembali di permukaan tanah, lalu berbalik menatap Elba yang masih terkurung dalam bola mana di angkasa, dan mengarahkan telapak tangan kiriku padanya.

"Hancur dan meledaklah."

Detik berikutnya, muncul retakan pada bola yang mengurung Elba. Bola itu tampak menyusut ke dalam sejenak sebelum akhirnya memicu ledakan raksasa.

Aku tetap berdiri tegak sembari menahan embusan angin kencang yang turun dari langit.

Di balik kepulan asap ledakan, aku melihat tubuh raksasa yang wujud Beastification-nya telah sirna itu jatuh terhempas ke bumi.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close