NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 10 Chapter 10

Chapter 10

Penanganan Pasca-Perang


"Dalam Pertempuran Benteng Hazama yang terjadi sebelumnya, demi melindungi tanah air Baldia, keluarga tercinta, serta seluruh rakyat, para ksatria yang beristirahat di sini telah mempersembahkan nyawa mereka untuk menunaikan kewajiban. Kita tidak boleh melupakan keberanian dan sosok gagah mereka seumur hidup kita, dan harus terus hidup dengan menjadikan mereka sebagai kebanggaan. Itulah tanggung jawab kita yang hidup di masa kini, kita yang telah dititipkan masa depan oleh mereka."

Ayah berdiri di depan dalam upacara penghormatan bagi para pahlawan yang gugur. Beliau mengenakan pakaian formal berwarna hitam yang berbeda dari biasanya, membuat suaranya menggema jauh lebih berwibawa dari hari-hari biasa.

Di kursi acara, Farah duduk di sampingku, sementara di sisi Ayah, Ibu dan Mel duduk berdampingan.

Tepat di hadapan Ayah, di barisan paling depan, berdiri Dainas sang Komandan Ksatria, Rubens sang Wakil Komandan, serta para anggota Orde Ksatria Pertama dan Kedua Baldia.

Jauh di belakang mereka, banyak keluarga mendiang yang menyaksikan upacara tersebut dengan khidmat.

Sekitar tiga minggu telah berlalu sejak Pertempuran Benteng Hazama, saat pasukan mantan keluarga Grandoke yang dipimpin oleh Gareth dan Elba melakukan invasi.

Setelah pertempuran itu, setibanya di kediaman Baldia, aku langsung ambruk karena kelelahan dan tertidur selama tiga hari tiga malam. Aku kembali membuat khawatir banyak orang, terutama Farah dan Ibu.

Hal pertama yang kulakukan setelah terbangun adalah mengunjungi Tink dan keluarganya untuk menyampaikan saat-saat terakhir Wakil Komandan Cross.

Aku menceritakan betapa beraninya beliau dan besarnya jasa yang telah ia tinggalkan. Jika saja Cross tidak mempertahankan Benteng Hazama pada hari pertama, kami pasti sudah kalah telak.

"Aku tidak akan menangis. Papa telah menunaikan kewajibannya sebagai ksatria dengan sangat terhormat. Karena itu, sebagai putri Papa, aku harus merasa bangga."

Tiss berusaha bersikap tegar, namun matanya berkaca-kaca dan isak tangis sesekali lolos dari bibirnya.

Tink berdiri dari tempatnya, lalu menundukkan kepala dalam-dalam.

"Tuan Reed, mohon maaf. Bolehkah saya meninggalkan ruangan ini sebentar?"

"Tentu, aku tidak keberatan, tapi……"

"Terima kasih banyak."

Ia mengangkat wajahnya, lalu menatap Tiss.

"Aku akan keluar sebentar untuk mencari udara segar. Kamu, menangislah di sini."

Begitu Tink keluar dan suara pintu tertutup terdengar, tangis Tiss pecah seketika seolah bendungan di matanya telah runtuh. Jika aku menajamkan pendengaran, sayup-sayup terdengar suara isak tangis Tink juga dari luar.

Aku duduk di samping Tiss, memeluknya dengan lembut, dan terus menemaninya hingga ia merasa tenang. Dalam hati, aku berjanji secara diam-diam bahwa aku tidak akan membiarkan kesedihan seperti ini terjadi lagi.

Di sisi lain, untuk memastikan posisi Amon sebagai Kepala Suku yang baru, Ayah langsung bergerak menuju wilayah Foxman segera setelah kemenangan. Beliau dikabarkan melesat hingga ke ibu kota Forneu.

Begitu Ayah dan pasukannya mendekati ibu kota, pemandangan yang menyambut mereka adalah kepulan asap tebal yang membubung dari kediaman mewah keluarga Grandoke yang sedang hangus terbakar.

Ada kemungkinan besar seseorang sengaja membakarnya karena takut rahasia dan koneksi gelap mereka terungkap setelah kekalahan Gareth dan Elba, namun pelakunya belum ditemukan hingga sekarang.

"Sangat disayangkan kita kehilangan informasi, namun ini juga bisa menjadi 'simbol' awal yang baru bagi keluarga Grandoke. Mari kita semua bersorak bahwa Amon Grandoke telah kembali dengan gemilang sebagai Kepala Suku yang baru!"

Begitulah kata-kata yang segera Ayah ucapkan kepada Amon dan para prajurit yang terpaku melihat kediaman yang terbakar.

Setibanya di ibu kota, para prajurit mengikuti instruksi Ayah dengan meneriakkan keras-keras bahwa Amon telah menumbangkan Gareth dan menjadi Kepala Suku baru.

Mereka menyebarkan narasi bahwa terbakarnya kediaman lama adalah simbol babak baru bagi suku Foxman.

Strategi ini ternyata memberikan efek propaganda yang besar, sehingga sisa-sisa pengikut Gareth yang tadinya masih ragu akhirnya mengakui Amon sebagai pemimpin mereka.

Tentu saja, pernyataan Rapha Grandoke, putri sulung Gareth, yang mengakui Amon sebagai Kepala Suku juga memberikan pengaruh yang masif.

Rapha adalah sosok yang dianggap sebagai orang terkuat kedua di suku Foxman setelah Elba.

Di tengah kekacauan saat kabar tewasnya Gareth dan kaburnya Elba serta Malbus menyebar di medan perang, Rapha adalah yang pertama menyatakan dukungannya secara besar-besaran kepada Amon.

Hal ini memicu para kepala klan lain di medan perang untuk ikut memberikan dukungan satu per satu.

Politik Gareth yang hanya menguntungkan klan besar.

Kepemimpinan Elba yang berdasarkan kekuatan absolut.

Kemampuan Rapha dalam mengumpulkan informasi domestik dan luar negeri.

Serta Malbus yang melakukan koordinasi dengan memanfaatkan kekuatan Gareth, Elba, dan Rapha.

Pemerintahan sebelumnya dijalankan oleh empat orang ini. Tiga di antaranya telah jatuh dalam pertempuran kali ini. Karena hanya Rapha yang tersisa dan ia mendukung pemerintahan Amon, para klan besar tidak punya pilihan lain selain ikut mendukung.

Seandainya saat itu klan-klan pendukung Gareth atau Elba memilih untuk melawan balik, mereka akan dengan mudah dihancurkan oleh tiga kekuatan: pasukan Rapha yang berjumlah sepuluh ribu lebih tanpa luka, klan pendukung Amon, dan Orde Ksatria Baldia.

Mungkin di antara para klan besar itu ada yang berpikir untuk menjinakkan Amon melalui intrik politik meskipun mereka menyatakan dukungan di medan perang.

Namun, Ayah tidak membiarkan hal itu terjadi. Sambil mendampingi Amon yang belum terbiasa dengan urusan birokrasi, Ayah bekerja sama dengan Rapha untuk segera membangun sistem politik baru.

Keahliannya dalam mengatur hal tersebut kabarnya sampai membuat para klan Foxman, Amon, bahkan Rapha terpana.

Setelah mengukuhkan sistem baru bagi Amon dalam waktu singkat, Ayah segera mengurus pemakaman suku untuk mantan Kepala Suku Gareth Grandoke. Secara resmi, Amon-lah yang dianggap memimpin acara tersebut.

Upacara pemakaman itu dihadiri oleh seluruh Kepala Suku, termasuk Beast King Zubeera saat ini, Sekhmetos Bestia.

Kehadiran para tokoh penting tersebut dalam pemakaman yang dipimpin Amon adalah pernyataan tak tertulis bahwa mereka mengakui Amon sebagai Kepala Suku Foxman secara sah, baik dalam nama maupun kenyataan.

Gareth Grandoke, pria yang menjadikan anaknya sendiri sebagai tumbal dan menyerang Baldia demi ambisinya.

Berkat pemakamannya, Amon Grandoke justru diakui secara resmi oleh negara-negara tetangga sebagai pemimpin baru. Sungguh sebuah ironi yang luar biasa.

Sementara itu, Elba dan Malbus yang melarikan diri masih belum ditemukan. Karena mereka adalah dalang utama invasi dan tirani di suku Foxman, mereka telah masuk dalam daftar pencarian orang dengan nilai buruan yang sangat besar.

Kabar ini juga telah menyebar ke negara-negara tetangga. Di Guild Petualang, para petualang yang percaya diri kabarnya sangat antusias menghadapi nilai buruan tertinggi dalam sejarah tersebut.

Meskipun Elba kehilangan lengan kirinya saat bertarung denganku, aku tidak percaya dia akan kalah begitu saja. Aku harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa suatu saat nanti kami akan berhadapan lagi.

Setelah urusan diplomatik dengan Beast King dan para Kepala Suku selesai, serta pemerintahan baru Amon mulai stabil, Ayah akhirnya menempuh perjalanan pulang ke Baldia. Beliau baru kembali beberapa hari yang lalu.

Selama Ayah menyusun sistem baru di wilayah Foxman, aku sibuk membantu menangani urusan pascaperang di ruang kerja kediaman baru dengan bantuan semua orang.

Dimulai dari verifikasi nama dan jumlah ksatria yang gugur, pemberian kompensasi kepada keluarga mendiang, pemeriksaan kerusakan dan perhitungan biaya perbaikan kediaman lama, kediaman baru, serta Benteng Hazama, hingga menghitung total ganti rugi yang akan ditagihkan kepada suku Foxman. Di tengah hari-hari yang sibuk itu, sepucuk surat tiba.

Surat itu datang dari Cross.

"Jika Anda membaca surat ini, berarti saya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Tuan Reed adalah orang yang sangat lembut. Karena itu, saya sangat khawatir jika hati Anda merasa tersakiti. Namun, Anda tidak perlu meratapi kematian saya. Sejak saya mulai melayani keluarga Baldia, saya sudah menduga hari seperti ini akan tiba, dan saya hanya menunaikan kewajiban sebagai ksatria. Lebih dari segalanya, Tuan Reed telah meluangkan waktu untuk menemui putra saya, Claude, dan memberinya hadiah yang luar biasa. Saya merasa sangat bersyukur bisa melayani keluarga Baldia dari lubuk hati terdalam. Jika di medan perang saya mati demi melindungi Tuan Reed, maka saya akan menjadikan perbuatan saya itu sebagai kebanggaan diri sendiri."

"Cross……"

Air mata meluap dan membasahi pipiku hingga menetes ke surat itu saat aku membacanya. Tulisan tangannya yang terburu-buru terlihat berantakan di beberapa bagian. Di tengah waktu yang sempit tepat sebelum perang dimulai, ia pasti sedang merenungkan berbagai macam emosi.

"Namun, saya memiliki satu penyesalan. Yaitu mengenai istri tercinta saya, Tink, putri saya Tiss, dan putra saya Claude. Agar kesedihan keluarga saya sedikit terobati, saya telah menulis banyak surat sejak dulu. Saya mohon, tolong sampaikan surat-surat ini kepada keluarga tercinta saya setiap tahun pada hari ulang tahun mereka masing-masing. Ini adalah permintaan yang egois, namun saya mohon bantuannya."

"Iya, aku mengerti. Aku berjanji."

Setelah mengembalikan surat itu dengan rapi ke dalam amplop, aku segera memberi instruksi untuk mencari 'banyak surat' yang dipesan oleh Cross.

Tak lama kemudian, Capella datang membawa sebuah kotak kayu besar berisi tumpukan surat yang sangat banyak.

"Eh, semuanya ini!?"

"Benar, Tuan Muda. Sepertinya Tuan Cross telah menulis tumpukan surat dengan asumsi bahwa istri, putri, dan putranya akan hidup hingga usia seratus tahun. Kedalaman cintanya benar-benar mengagumkan."

"Be-benar juga ya……"

Saat aku mengintip ke dalam kotak, ada banyak sekali surat yang ditujukan Cross untuk masing-masing anggota keluarganya.

Mengirimkan ini setiap tahun kepada mereka…… ya. Bayangan sosok Cross saat menyombongkan keluarganya terlintas di benakku, membuatku tanpa sadar tertawa kecil.

"Benar-benar mirip Cross yang sangat mencintai istrinya."

"Benar sekali, Tuan Muda."

Keesokan harinya, aku mengunjungi Tink dan Tiss.

"Maaf aku datang mendadak."

"Sama sekali tidak masalah. Mohon angkat kepala Anda, Tuan Muda. Kedatangan Anda ke sini saja sudah merupakan kehormatan besar bagi kami."

Saat aku menundukkan kepala, Tink menggelengkan kepalanya dengan panik.

Ketika aku melirik Tiss yang duduk di sampingnya, benar saja, keceriaan yang biasanya ada padanya kini menghilang.

Aku memberi isyarat mata kepada Diana yang berdiri di sampingku, dan dia pun menyerahkan dua amplop dari tasnya kepada mereka berdua.

"……Ini?"

Tink dan Tiss menerima amplop itu, memiringkan kepala dengan bingung sejenak, lalu tersentak. Mereka pasti mengenali tulisan tangan pada nama tujuannya.

"Iya. Itu adalah surat dari Cross untuk kalian. Aku juga menyimpan surat-surat lain hingga kalian mencapai ulang tahun yang ke-seratus, termasuk untuk Claude."

"Eh!? Se-seratus tahun!?"

"……Dasar pria bodoh itu."

Mata Tiss membelalak, sementara Tink menggelengkan kepala dengan wajah pasrah. Namun, mata mereka berkaca-kaca, dan aku bisa merasakan pancaran kehidupan yang bahagia dari mereka.

"Tapi…… hari ini bukan ulang tahun kami."

"Surat yang kubawa kali ini adalah bagian yang dituliskan untuk diberikan pertama kali, tidak peduli kapan pun ulang tahunnya."

"Begitu ya. Ka-kalau begitu, bolehkah saya segera membukanya……?"

"Tentu saja."

Tiss membuka amplop itu dengan wajah bahagia dan mulai membaca isinya.

Tink tersenyum melihat tingkah putrinya, lalu melakukan hal yang sama. Tak lama kemudian, air mata mulai mengalir dari mata mereka.

"Papa, Papaaa……"

"Sayang……"

"Kalau begitu, kami pamit dulu. Jika di dalam surat itu ada bagian yang meminta kalian untuk mengandalkanku, segera beri tahu aku ya."

Kejadian ini membuatku semakin memantapkan tekad.

Hari-hari berlalu, dan verifikasi ksatria Baldia yang gugur pun selesai. Upacara penghormatan untuk memuji mereka sekaligus mengucapkan perpisahan akhirnya diadakan.

Di dalam wilayah Baldia, terdapat sebuah pemakaman umum tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang gugur dalam tugas. Di pusatnya, berdiri sebuah batu nisan besar yang megah.

Batu nisan itu konon dibangun saat keluarga Baldia mulai memerintah wilayah ini, agar jasa para ksatria yang telah mengabdi selalu dipuji dan tidak pernah dilupakan.

Banyak nama yang terukir di sana, dan karena sudah tidak muat, batu nisan baru ditambahkan untuk menuliskan nama-nama lainnya.

Akibat perang kali ini, cukup banyak batu nisan tambahan yang harus dipasang.

Setiap kali aku melihat nisan-nisan baru yang berjajar dan deretan nama yang terukir di sana, pikiran seperti "apakah ada yang bisa kulakukan?" atau "apakah ada cara lain?" terus muncul dan menghilang di benakku, membuat tanganku mengepal tanpa sadar.

"Tuan Reed, ekspresi Anda terlihat menakutkan, apa Anda baik-baik saja?"

"Ah, iya. Aku baik-baik saja."

Sepertinya pikiranku terpancar di wajah. Saat aku menjawab Farah yang terlihat khawatir dengan senyuman, ia menatap batu nisan yang menjulang tinggi itu.

"Aku merasa sangat menyesal."

"Eh, kenapa?"

"Aku selalu saja dilindungi oleh seseorang. Tak peduli seberapa banyak sihir atau seni bela diri yang kupelajari, Tuan Reed dan Ayah pasti tidak akan membiarkanku pergi ke medan perang."

"Farah……"

Meskipun matanya berkaca-kaca, ia tetap berdiri tegak dengan tatapan mata yang kuat.

"Tentu saja aku sadar akan posisiku. Namun, posisi yang hanya dilindungi dan hanya bisa mengantar kepergian semua orang itu terasa sangat menyesakkan dan menyakitkan. Karena itulah, setidaknya aku ingin menjadi kekuatan bagi Tuan Reed."

Farah memegang tanganku, lalu menatap mataku dalam-dalam. Tangannya terasa lembut dan hangat, namun juga terasa kuat.

"Mohon jangan memikul semuanya sendirian. Rasa sakit, penyesalan, dan kesedihan di dalam hati Tuan Reed…… aku tidak meminta Anda membagi semuanya. Namun, tolong curahkanlah sedikit saja padaku."

"Terima kasih. Tapi, aku selalu merasa terselamatkan berkat dirimu."

Melihatnya yang sangat mengkhawatirkanku dari lubuk hati terdalam membuatku merasa sangat sayang padanya, lalu aku memeluknya dengan lembut. Namun saat itu, sebuah ingatan terlintas di benakku dan membuatku tertawa kecil.

"Tuan Reed?"

"Eh, ah, maaf, maaf. Sebenarnya ini tentang saat aku sedang berlatih bersama Cross."

"……?"

Ia memiringkan kepala dengan bingung.

"Cross itu orang yang sangat sayang istri dan anak secara berlebihan. Di sela-sela latihan, ia pasti selalu menyombongkan Tink dan Tiss. Karena ceritanya terlalu panjang, aku pun pernah sekali menyombongkan tentang Farah padanya."

"E-eh!?"

Farah mengerjapkan mata, sementara telinganya yang memerah bergerak-gerak naik turun.

Benar-benar tingkah yang sangat manis. Farah hanya menunjukkan ekspresi menggemaskan seperti ini di depanku atau di depan anggota keluarga yang sudah akrab.

Biasanya, ia terlihat anggun seperti Ibu Eltia, dan karena Asuna selalu ada di dekatnya, dari jauh ia terlihat seperti bunga di puncak gunung yang sulit digapai.

Ngomong-ngomong, yang kusombongkan kepada Cross adalah tingkah laku dan ucapan manisnya ini. Lagipula, ini adalah keimutan yang hanya bisa dilihat oleh segelintir orang termasuk aku.

"Ja-jadi, apa yang Anda bicarakan saat itu……?"

"Sayang sekali, itu rahasia."

Saat aku menjawab sambil menyipitkan mata, aku melihat Ayah berjalan mendekat ke arah kami.

"Reed, selanjutnya adalah giliranmu yang memimpin Orde Ksatria Kedua."

"Baik, Ayah."

Dilepas oleh Farah dan Ayah, aku berdiri di depan nisan lalu membungkuk hormat sebelum berbalik menghadap ke depan.

Saat aku melihat sekeliling sekali lagi, ada begitu banyak ksatria dan keluarga mendiang yang berkumpul di sini.

Ketika aku melirik ke arah Orde Ksatria Kedua, mereka semua tampak mati-matian menahan air mata agar tidak jatuh. Saat anak-anak suku Beast-man pertama kali datang ke Baldia, orang yang paling ramah dan telaten mengurus mereka adalah Cross.

"Karena aku juga punya putri yang usianya sebaya dengan mereka, aku jadi tidak tega membiarkannya," begitu katanya dulu.

Ia selalu menemani latihan mereka hingga larut malam, dan selalu menerima konsultasi dari anak-anak yang telah menjadi pemimpin regu tanpa ragu sedikit pun.

Bukan hanya anak-anak suku Beast-man yang menahan tangis. Dainas, Rubens, Diana, Nels, Tink, Tiss, Chris, Danae…… banyak orang yang matanya berkaca-kaca dan isak tangis tertahan, menunjukkan wajah duka mendalam saat mengucapkan perpisahan.

Di tengah situasi itu, aku menyadari tatapan seorang gadis yang menatap nisan dengan sangat serius…… itu Mel.

Setelah dibebaskan dari penyanderaan, Mel yang mengetahui seluruh detail Pertempuran Benteng Hazama dan kematian Cross sempat terpuruk karena menganggap semua itu adalah akibat dari tindakannya yang ceroboh.

"Meldy Baldia. Katupkan gigimu kuat-kuat."

Sosok yang membangkitkan Mel adalah Ibu.

Ibu mengunjunginya di kamar bersama denganku, lalu memberinya tamparan.

"Eh……?"

Kepada Mel yang terpaku karena terkejut, Ibu memberikan tatapan tajam yang penuh ketegasan.

"Demi melindungi wilayah Baldia. Terlebih lagi, demi menyelamatkanmu. Cross dan para ksatria lainnya telah bertempur dengan gigih demi menunaikan kewajiban mereka. Apakah kau akan menunjukkan sosok yang menyedihkan seperti itu di hadapan mereka? Memang benar apa yang kau lakukan sangat ceroboh dan harus sangat kau sesali. Namun, tidak ada seorang pun yang bisa mengubah perbuatan di masa lalu. Hal yang harus kau lakukan bukanlah memalingkan mata dari kenyataan dan melarikan diri dari kegagalan seperti ini. Sebagai putri sulung keluarga Baldia, kau harus memuji dan berterima kasih kepada para ksatria yang telah bertaruh nyawa, serta menjalankan tanggung jawabmu sebagai orang yang lahir di kalangan bangsawan. Tak peduli seberapa pedihnya, kita manusia harus tetap melangkah maju."

"……!? Baik, Ibu."

Mel tersentak dan mengangguk sambil memegangi pipinya, lalu Ibu memeluknya dengan lembut sambil meneteskan air mata.

"Maafkan aku, Mel."

Sejak hari itu, Mel mulai bersikap ceria seperti sedia kala, namun atmosfer di sekitarnya berubah dan sedikit kesan kekanak-kanakannya menghilang. Pandangannya terhadap pelajaran dan seni bela diri juga berubah, ia menjadi jauh lebih serius dari sebelumnya.

Aku yakin Mel pun menghadiri upacara ini dengan berbagai perasaan di dalam hatinya.

Aku memberi isyarat mata kepada Mel, lalu mengambil napas dalam-dalam.

"Kematian manusia dikatakan datang dua kali. Pertama, saat raga mereka menjemput ajal. Kedua, saat orang-orang yang hidup di masa kini melupakan para ksatria yang telah mempersembahkan nyawa mereka. Seperti yang Ayah katakan, kita harus menjadikan perbuatan mereka sebagai kebanggaan dan terus menceritakannya secara turun-temurun. Dengan begitu, kematian kedua tidak akan pernah mendatangi para ksatria kita. Itulah hal yang harus kita lakukan sebagai mereka yang masih hidup."

Setelah menyampaikan pidato dan kembali ke kursi, suara Capella yang mengumumkan penutupan upacara terdengar menggema.

Dengan ini, penanganan pascaperang untuk Pertempuran Benteng Hazama telah mencapai satu titik penyelesaian.

Namun, tidak ada waktu untuk beristirahat. Aku dan Ayah harus segera menuju ibu kota untuk melaporkan rincian Pertempuran Benteng Hazama kepada Kaisar, Permaisuri, serta para bangsawan.

Jujur saja, ada banyak hal yang mengganjal di hatiku mengenai Kekaisaran dan para bangsawan.

Jika saja mereka lebih mendengarkan pendapat Baldia dan tidak membawa-bawa kepentingan pribadi atau perebutan kekuasaan yang konyol, kemungkinan besar konflik dengan suku Foxman ini tidak akan pernah terjadi.

Tapi, itu hanya membuktikan betapa lemahnya pengaruh Baldia…… tidak, bukan itu. Pada akhirnya, ini semua karena kekuatanku yang masih sangat kurang.

Sekarang setelah Pertempuran Benteng Hazama berakhir, apa pun yang kukatakan hanya akan terdengar seperti alasan, tapi satu hal ini bisa kupastikan.

Mulai sekarang, aku akan melewati segala rintangan yang mungkin terjadi di masa depan apa pun yang terjadi, dan aku pasti akan melindungi orang-orang berharga dari hukuman mati, serta menjaga Baldia hingga akhir.

Beberapa hari setelah upacara penghormatan bagi para pahlawan yang gugur, aku dan Ayah berangkat meninggalkan Baldia menuju ibu kota di tengah lambaian tangan perpisahan dari semua orang.






Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close