Hukuman
Akhir Pengintaian Rahasia Pesisir Valligahi
Itu terjadi
sehari sebelum pasukan yang bergerak melalui jalur laut mengamankan titik
pendaratan di tanjung.
Dotta kembali
dengan membawa informasi yang jauh lebih mendetail dari perkiraan. Meski sudah
musim semi, pesisir utara Valligahi masih terasa dingin saat malam tiba.
Sambil
menghangatkan tangan di depan api unggun, Dotta memaparkan laporannya sebagai
berikut:
Di pesisir utara
Valligahi, terdapat sebuah benteng yang dikelilingi oleh permukiman manusia.
Benteng itu
dikuasai oleh para Fenomena Raja Iblis, dengan sebagian tentara bayaran yang
juga mendekam di sana.
Sementara itu,
manusia yang tinggal di permukiman tersebut adalah budak yang dipekerjakan
untuk bertani, atau sekadar ternak untuk dimangsa.
Para budak itu
dikelola oleh sesama manusia—mereka yang memilih berpihak pada Fenomena Raja
Iblis.
"Asal tahu
saja, itu tadi benar-benar perjuangan berat..."
Begitulah klaim
Dotta.
Sejauh pengamatan
Venetim, Dotta memang tampak agak kuyu. Namun, dia merasa itu bukan sekadar
kelelahan karena melarikan diri, melainkan lebih karena intimidasi dari
Trisilla yang sedang menatap rendah ke arahnya.
"Kebetulan
aku berpapasan dengan patroli tentara manusia... Aku dikejar-kejar sampai
mengira bakal mati!"
"Bisa-bisanya
kamu bicara begitu tanpa rasa malu..."
Trisilla
mengernyitkan dahi, tampak muak dengan Dotta.
"Mereka
sebenarnya cuma mau bicara, dan tergantung caramu bersikap, kita bisa saja
memalsukan identitas. Awalnya mereka mengira kamu pedagang keliling, tapi
kekacauan ini terjadi karena kamu panik dan langsung menembak mati salah satu
dari mereka."
"Habisnya,
aku kan takut... Jadi kupikir lebih baik dibunuh duluan..."
"Apalagi
kamu menembak sambil berteriak histeris. Berhenti melakukan itu. Kamu bodoh, ya?"
"Aku
bilang kan aku takut! Puji aku sedikit, dong! Aku sudah membunuh musuh layaknya
prajurit! Tugas pengumpulan informasi juga kuselesaikan dengan sempurna,
kan!"
Tentu
saja, bagi Dotta, pengumpulan informasi hanyalah tugas sampingan.
Di antara
para pengintai yang dikirim ke daerah sekitar, Dotta mendapat bagian wilayah
yang paling berbahaya. Sebagai pelampiasan, dia mencuri barang dari permukiman
manusia dan hanya kebetulan membawa pulang informasi.
Semua anggota tim
pengintai lainnya tewas, kecuali Dotta.
Jika Trisilla
tidak menyeretnya pulang, Dotta yang tidak pernah berpikir panjang itu pasti
sudah menghilang untuk kabur—meskipun setelah itu dia kemungkinan besar akan
terbunuh juga. Dotta memang tipe orang seperti itu, Venetim sangat memahaminya.
(Namun, masalah
utamanya adalah...)
Venetim merasakan
keringat dingin membasahi punggungnya.
(Barang 'jarahan'
yang dicuri Dotta sudah telanjur diserobot oleh Yang Mulia Norgalle. Aku harus
mencari cara untuk menutupi bagian itu.)
Venetim berusaha
menjaga ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang dan berwibawa. Dengan sangat hati-hati, dia
menatap pria yang berdiri di sampingnya.
Lored
Kurder, seorang perwira muda. Penampilannya benar-benar mencerminkan
"prajurit kompeten" yang membuat siapa pun merasa segan di dekatnya.
"...Menyelesaikan
tugas pengintaian memang hal yang bagus, tapi,"
Lored
menatap Dotta dengan pandangan tajam.
"Tindakan
pencurianmu tidak bisa ditoleransi. Itu namanya penjarahan. Apa kamu mencuri
dari permukiman warga yang menjadi budak?"
"Ti-tidak. Da-dari musuh? ...Dari gudang
logistik mereka..."
"Jangan
berbohong, Si Rubah Gantung. Kamu bahkan tidak pernah masuk ke sana, kan."
"Trisilla,
diam! Jangan bicara yang tidak perlu!"
Perdebatan ini tampaknya mulai membuat Lored pening. Dia
memegang dahinya dan menggelengkan kepala pelan.
"Dotta. Sebenarnya berapa banyak yang kamu curi? Dan di mana kamu menyembunyikannya? Atau
jangan-jangan, sudah kamu berikan kepada—"
"—Kapten
Lored!"
Firasat Venetim
mengatakan ini berbahaya. Karena
itu, dia segera memotong pembicaraan. Suaranya menenggelamkan bagian akhir
kalimat Lored.
"Dotta
Luzrath adalah pengintai yang sangat sulit dikendalikan. Biasanya saya yang
mendampinginya agar dia bisa diatur, tapi dalam situasi seperti ini, seharusnya
dia dikirim di bawah pengawasan ketat, dan jika komunikasi terputus, prosedur
yang benar adalah segera mengeksekusinya."
"Hmm. Jadi,
maksudmu—"
Lored menoleh ke arah Venetim. Sebelum pertanyaan lain
keluar dari mulut perwira itu, Venetim melanjutkan bicaranya dengan lebih
cepat.
"Sudah benar
saya mengirim Trisilla untuk mendampinginya sebagai antisipasi. Sebenarnya ada
satu langkah pengamanan lagi, tapi untungnya saya tidak perlu
menggunakannya."
Tentu saja itu
bohong. Tidak ada langkah pengamanan lain, dan Trisilla ikut mendampingi Dotta
adalah usul Norgalle.
Hanya saja, Norgalle
tidak ada di sini, dan protes Trisilla tidak akan mampu mengejar kecepatan
bicara Venetim. Trisilla
bukan tipe orang yang akan berteriak memprotes dalam situasi seperti ini.
"Mengenai
barang yang dicuri Dotta, kemungkinan besar jika itu berupa makanan, sudah
habis masuk ke perutnya. Agar tidak menimbulkan kerugian lebih lanjut dan untuk
memberinya efek jera, sebaiknya kedua kakinya dibelenggu dan dia diawasi ketat
sambil dipekerjakan untuk tugas hukuman seperti menggali atau mengurus
kotoran."
"Hah!?"
Suara
Dotta melengking karena kaget.
"Aku disuruh
melakukan itu lagi!?"
Venetim tidak
memedulikan keluhan Dotta yang jelas-jelas tidak puas itu.
"Mohon maaf,
Kapten Lored. Saya pun selalu pusing memikirkannya. Mulai sekarang, jika Anda
ingin menggunakan Dotta, silakan berkonsultasi melalui saya."
"Begitu ya.
Sepertinya kamu juga cukup menderita."
Wajah kaku Lored
mulai menunjukkan rasa simpati.
"Mengurus
unit Pahlawan Hukuman yang penuh dengan orang-orang aneh pasti berat."
"Ya. Sangat
berat."
Ini
benar-benar bukan bohong. Kenyataannya memang luar biasa berat hingga rasanya
ingin mati saja.
Entah di
mana letak kesalahannya sampai dia terjerumus ke dalam kumpulan orang-orang
abnormal ini. Mungkin ini
salahnya sendiri, tapi kalaupun iya, dia ingin menimpakan tanggung jawab itu
kepada orang lain. Perasaan itu sangat jujur.
"Pokoknya,
dengan ini situasi telah berubah drastis."
Venetim berusaha
sekuat tenaga mengalihkan fokus pemikiran Lored.
Dia sendiri tidak
tahu apa yang berubah, tapi intinya "pasti berubah". Sebab, saat
mendengarkan laporan Dotta tadi, wajah Lored perlahan-lahan berubah menjadi
sangat tegang.
"Daripada
membahas kemungkinan yang sudah terjadi, sekarang kita harus fokus pada masalah
nyata di depan mata. Anda pasti tahu betul apa yang harus kita hadapi."
"...Benar.
Kamu benar."
Lored mengangguk
dalam-dalam.
"Terima
kasih sudah mengingatkanku untuk tetap tenang, Kapten Venetim. Masalah
penjarahan terhadap warga sipil yang diperbudak tadi membuatku terbawa
emosi."
"Tidak
apa-apa. Lebih penting lagi, bagaimana rencana operasi ke depannya. Saya yakin
Anda sudah memikirkannya."
"Ya—begitulah.
Kalau menurutmu, apa yang harus dilakukan?"
Ini adalah
pertanyaan yang paling sulit dijawab.
(Berani-beraninya
dia menanyakan hal itu padaku, mungkin orang ini sebenarnya tidak sekompeten
itu.)
Otak Venetim
berputar cepat dalam sekejap—jika Xylo, Jace, atau Patausche, apa yang akan
mereka katakan?
Atau jika Norgalle
dan Tsav, apa pendapat mereka?
Dia adalah orang
yang paling sering berinteraksi dengan mereka semua.
Pasti ada
petunjuk di dalam ingatannya tentang mereka.
(...Tidak,
mustahil.)
Dalam
waktu kurang dari satu detik, Venetim menyerah.
(Mana mungkin aku
bisa terpikir ide bagus secepat itu. Xylo-kun dan yang lainnya itu yang aneh.
Mereka itu abnormal.)
Pada akhirnya,
karena tidak menemukan ide apa pun, dia terpaksa mengatakan kejujuran yang
terlintas di benaknya. Namun, Venetim tahu dari pengalaman bahwa kejujuran
terkadang adalah senjata paling efektif.
Selama dia
berhasil membuat orang lain salah paham dan menganggapnya sebagai 'orang
hebat', selalu ada jalan keluar.
"—Jika saya,
saya tidak akan melawan musuh."
Venetim
mengatakannya dengan jujur tanpa ragu. Dengan penuh percaya diri, seolah-olah dia adalah seorang teknisi militer
yang sangat cerdas.
"Saya akan
mundur dari sini. Karena saya tidak mau mati."
"Hahaha!
Jawaban yang luar biasa! Tidak ada ruang untuk membantah. Untuk meminimalkan
kerugian, itu memang jalan terbaik."
Sesuai dugaan, Lored tertawa lebar.
Venetim menghela napas lega. Trik ini bekerja semakin baik
jika lawannya adalah orang yang hebat.
Karena orang hebat biasanya sudah memiliki jawaban pasti di
kepalanya, pendapat orang lain hanyalah bahan pelengkap untuk memperkuat
pemikiran mereka sendiri.
Faktanya,
saat itu Lored tertawa sambil mengangguk. Dia menyetujui pemikirannya sendiri.
"Tapi, kita
adalah prajurit. Kita diharapkan untuk menyukseskan operasi, dan ada hal yang
harus dilakukan."
Nah, kan, pikir Venetim.
Ternyata dia
memang sudah punya jawabannya sendiri. Semakin jauh pendapat Venetim dari
jawabannya, entah kenapa lawan bicaranya justru merasa semakin tenang.
"Mari kita
coba menjatuhkan benteng itu. Sementara Yang Mulia Bieux sedang menangani musuh
dari arah Nofan di utara, kitalah yang harus bekerja," ujar Lored.
"Benteng
yang berada di pesisir utara Valligahi, di wilayah yang didatangi tim pengintai
tadi—Benteng Block Noumea. Benteng ini terkenal sulit ditembus. Lima menara
pengawas, selekoh, dinding pembeku dengan segel suci, pertahanan belakang
berupa medan pesisir..."
Tangannya
membentangkan selembar kertas yang menyerupai peta. Venetim hampir tidak bisa
memahami topografi dan tUlissan yang mirip kode di sana.
"Untuk
menjatuhkannya, aku ingin menyusupkan prajurit ke dalam. —Mengenai Dotta,
biarlah dia mengerjakan tugas hukuman seperti yang Kapten Venetim katakan
tadi—"
Jari Lored
menelusuri jalan dari perkemahan ini menuju benteng.
"Kita akan
gunakan Tsav. Venetim, aku ingin kamu memimpinnya dan menyusup ke Benteng Block
Noumea."
"...Hmm."
Venetim hampir
saja kelepasan berseru "Hah!?", tapi dia berhasil menahannya. Dia
mengelus dagunya, berlagak seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Saya, dan Tsav?"
"Benar.
Bagaimanapun, hanya kamu yang bisa mengendalikan Pahlawan Hukuman. Awalnya aku
ragu, tapi sekarang aku yakin—kudengar Tsav itu dulunya pembunuh berantai, kan?
Tapi kemampuannya hebat."
Lored
menatap Venetim dengan mata biru yang berbinar. Saat melihat itu, Venetim sadar sepenuhnya bahwa
dia tidak menyukai pria ini.
"Aku
mengandalkanmu, Kapten Venetim. Kendalikan Tsav, susupilah benteng itu, dan
bimbinglah pertempuran kita menuju kemenangan. Kamu boleh menggunakan 'Unit
Pendukung' kalian."
"Begitu
ya—"
Begitu
ya gundulmu, maki
Venetim dalam hati.
"Jadi Anda
menyerahkannya pada saya. Apa saya boleh menggunakan cara apa pun?"
"Kecuali
cara yang memberikan dampak kerugian pada permukiman warga sipil."
Lored kemudian
mengedipkan satu matanya.
"Wajahmu
terlihat seperti sudah punya rencana. Aku menantikannya, Kapten Venetim."
Apa sih yang
dibicarakan orang ini,
pikir Venetim.



Post a Comment