Hukuman
Akhir Terobosan ke Utara Selat Valligahi
Proyektil
meriam meledak, dan aku bisa melihat tiang layar patah seketika. Kobaran api
menerangi kegelapan yang pekat.
Mereka
adalah para bajak laut yang mengibarkan lambang ular merah. Saat kami menyadari
mereka mendekat dengan memanfaatkan kabut, semuanya sudah terlambat. Kapal
Ashikaze dihujani serangan bertubi-tubi.
"Gila,"
aku mengumpat tanpa sadar.
"Para bajak
laut ini bahkan punya meriam?"
"Xylo!
Mereka mulai menyerbu naik, dari belakang!"
Teoritta tidak
akan bisa memberikan perlawanan efektif jika lawannya adalah manusia.
Melindunginya adalah tugasku. Aku berbalik sambil melempar pisau.
Tidak ada waktu
untuk menggunakan Zatte-Finde—sasaranku adalah paha mereka. Aku membuat
mereka terjatuh, lalu menendang lawan yang tersungkur itu hingga tercebur ke
laut.
"Sialan!"
Aku memaki
keadaan sambil cepat-cepat memeriksa situasi sekitar. Jelas sekali kami kalah
telak.
Rhyno memang
sempat menembakkan meriam dan memberikan kerusakan besar pada satu kapal musuh,
tapi hanya itu batasnya.
Para bajak laut
menghujani kami dengan proyektil meriam tanpa henti, bahkan ada tembakan dari
tongkat petir.
Itu adalah
tongkat penembak jitu khusus yang dimodifikasi untuk memicu api saat mengenai
sasaran—nama pengembangannya kalau tidak salah adalah Suiren.
Berkat
itu, kapal mulai terbakar hebat dalam sekejap. Karena kondisi yang berantakan itulah, kami tidak
bisa memberikan perlawanan berarti saat mereka merapatkan kapal.
Mungkin, jika
kaki Patausche tidak terluka, keadaannya bisa sedikit lebih baik. Meski begitu,
dia tetap mengayunkan bilahnya dan menebas habis dua orang bajak laut yang
mendekat.
Aku sudah
kewalahan melindungi Teoritta, sama sekali tidak ada celah untuk membantu yang
lain. Musuh baru terus berdatangan. Aku menghindar dari kapak tangan yang
diayunkan, lalu menendang pelakunya.
Aku tidak bisa
meminjam pedang dari Teoritta. Aku sangat paham bagaimana kondisi mental
seorang Goddess. Jika dia melihat pedang yang dipanggilnya melukai
manusia, luka batinnya akan sangat serius.
Hasilnya, aku
harus bertarung hanya dengan pisau.
"Xylo! Bawa
Lady Teoritta melarikan diri!"
Patausche ikut
berteriak. Dalam situasi begini dia masih sempat mengkhawatirkan orang lain,
benar-benar luar biasa.
Tapi, sudah tidak
ada tempat untuk lari—sejak awal kapal kami berada di barisan paling depan, dan
kami terisolasi akibat dua kali pertempuran melawan Fenomena Raja Iblis.
Kabutnya pun terasa sangat tebal dan tidak wajar.
Dalam kondisi
begini, mau bagaimana lagi. Dalam artian tertentu, aku memercayai kemampuan
militer pria bernama Guio Dan Kilba.
Jika musuh yang
tak terduga muncul, dia pasti akan mengambil keputusan untuk meminimalkan
kerugian dan melindungi kapal-kapal lainnya.
Jadi, dalam
keadaan seperti ini, bantuan tidak akan datang kecuali ada keajaiban. Kalau
begitu, apakah fokus melarikan diri adalah pilihan yang efektif?
"Teoritta,
bisa berpegangan padaku?"
"……I-iya."
Teoritta menjawab
pertanyaanku dengan suara yang seolah diperas keluar.
"Ti-tidak
apa-apa. Aku pasti bisa. Aku tidak akan…… menjadi beban……!"
Bohong,
aku langsung tahu itu. Wajahnya pucat pasi, tak ada setetes darah pun yang
tampak. Mengangkat wajah saja sepertinya sulit baginya.
Selain
kelelahan setelah bertarung habis-habisan melawan para Fairy anomali,
kini dia harus menghadapi kebencian langsung dari manusia. Goddess
sangat lemah dalam situasi semacam ini.
"Sepertinya
tidak mungkin."
"Tidak
mungkin bagaimana……"
"Memang
tidak mungkin."
"Aduh."
Aku
bicara dengan nada keras dan mendorong bahu Teoritta pelan. Hanya dengan itu
saja dia hampir jatuh—tapi aku segera menangkapnya. Aku mencengkeram tubuh
mungilnya dengan kuat, memberinya isyarat agar dia diam saja.
"Dengar.
Mereka yang menyerang kita bukan Fenomena Raja Iblis—kita mungkin masih bisa
melakukan sesuatu."
"Apa…… dasarnya?"
"Karena
lawan kita adalah bajak laut."
Bajak laut punya
tujuan ala bajak laut. Pasti tujuannya adalah uang, atau semacam tuntutan
terhadap pihak militer atau Kerajaan Serikat.
Tidak ada orang
bodoh yang mau repot-repot beroperasi di wilayah laut berbahaya seperti ini
hanya demi pembunuhan belaka. Kecuali jika mereka adalah psikopat yang
benar-benar berniat mati.
(Entah target
akhir mereka adalah uang atau tuntutan lainnya—tujuan mereka di tempat ini
adalah manusia yang memiliki nilai. Menjadikan orang berpangkat tinggi sebagai
tawanan.)
Jika begitu,
seorang Goddess akan menjadi bahan negosiasi terbaik. Daripada bergerak
sembarangan dan malah dilukai, lebih baik diam saja.
Pilihan
yang harus diambil adalah menyerah. Untuk sekarang, hanya itu pilihannya.
"Diamlah.
Kita menyerah. Seharusnya ada ruang untuk negosiasi."
"Tapi,"
kata Teoritta. Ia menunjuk ke langit dengan jari yang gemetar.
"Neely
dan…… Jace."
Aku ikut
melihat ke arah sana, lalu mendecak kesal.
"Bodoh
sekali anak itu!"
Jace sepertinya
sama sekali tidak berniat menyerah. Terlebih lagi dia memang bodoh; dia malah
membiarkan naga-naga lain melarikan diri duluan, sementara dia dan Neely
berencana keluar belakangan.
Akibatnya, mereka
terjebak oleh tembakan meriam para bajak laut. Rentetan tembakan peluru
kendali.
Berondongan
tembakan sepekat itu tidak akan bisa dihindari bahkan oleh sayap Neely
sekalipun. Cepat atau lambat mereka akan tertembak jatuh.
"Teoritta."
"Kita
harus…… mem-membantu mereka……"
Teoritta
menatapku, memaksakan senyum di sudut bibirnya dengan wajah yang tampak
sekarat.
Dasar gadis keras
kepala. Dalam kondisi begini pun dia masih sok kuat. Aku merasa pernah melihat
senyuman seperti ini di suatu tempat.
"Xylo. Jika
kau ragu untuk bertarung demi aku, kau salah besar. Jika kau benar-benar
ksatriaku, kau pasti…… tahu apa yang harus dilakukan."
Aku terdiam
sesaat.
Hanya sesaat.
Jika benar-benar memikirkan keselamatan Teoritta, aku tidak seharusnya
melakukan perlawanan habis-habisan.
Apalagi, aku
sangat benci konsep mempertaruhkan nyawa sendiri untuk menyelamatkan orang
lain.
Hal seperti itu
hanya pantas dilakukan oleh kami, para Punished Hero—sekumpulan kriminal sialan
yang tidak akan mati meski dibunuh sekalipun.
"Kita harus
menyelamatkan Neely dan Jace. Mereka adalah rekan kita."
"Aku
tahu."
Aku
menghunus pisau dan berdiri tegak.
"Tadi itu
aku cuma mau bilang, jangan sampai kau muntah di sini."
"Tentu
saja."
Teoritta tertawa
tegar.
Lalu, aku
melemparkan pisau yang sudah kuresapi penuh dengan Segel Suci Zatte-Finde.
Aku mengambil awalan dengan langkah pendek. Sasarannya adalah para penembak
meriam di kapal bajak laut yang merapat.
"Pergilah."
Cahaya kehancuran
berkilat, menerbangkan beberapa orang yang tadi mengincar Jace dan Neely. Aku
melakukannya dua, tiga kali—dukungan kami benar-benar membuahkan hasil.
Meski sayap Neely
terkena beberapa tembakan, aku ingin percaya itu bukan luka fatal. Walau tidak
bisa menyerang balik para bajak laut, Neely terus terbang menjauh ke arah
langit utara.
Tembakan lawan
terlalu gencar untuk bisa bergabung kembali dengan armada utama. Aku juga tidak
bisa mengacaukan penembak meriam musuh lebih dari itu.
Sebab sebelum aku
bisa melakukannya, para bajak laut sudah mengepung kami. Wajar saja. Aku
beraksi terlalu mencolok.
"Di sana!
Ledakan tadi—masih ada penembak di kapal Kerajaan Serikat yang selamat!"
Sepertinya,
Zatte-Finde tadi dikira sebagai serangan meriam. Serangan pun terpusat pada kami.
Tembakan dari
tongkat petir. Aku menghindari kilatannya. Aku memeluk Teoritta, melompat, dan berguling.
Di geladak yang terbakar, tempat untuk lari memang terbatas.
Api dan
kilatan cahaya beterbangan ke mana-mana. Salah satunya sepertinya menyerempet lengan kanan atasku. Tidak, sepertinya
kena telak?
"Xylo.
Jangan melakukan hal nekat, mundur!"
Padahal
seharusnya diam saja, tapi ada yang bergerak. Patausche. Ia mengayunkan
pedangnya, bertarung agar aku dan Teoritta tidak terkepung.
Namun,
itu tidak berlangsung lama. Jumlah mereka terlalu banyak, dan pergelangan
kakinya terluka. Ia mulai terdesak hanya bisa bertahan dari satu-dua serangan.
Dalam
sekejap kami berada di posisi bawah. Saat ia hampir terjatuh karena menerima hantaman keras, aku menangkapnya.
Rasanya aku ingin sekali mengomel pada Patausche.
"Yang
melakukan hal nekat itu kau juga, kan. Lihat dirimu di cermin sana."
"Guh."
Tepat sasaran.
Wajah Patausche memerah.
Namun, dia pun
tidak bisa membalas. Tidak
ada waktu. Melihat kami berhenti bergerak, seseorang menyerang.
Pria
dengan topi hitam dan wajah penuh luka. Sepertinya dia cukup ahli. Tadi aku
melihatnya menebas habis dua orang prajurit sekaligus. Pedang milik salah satu
prajurit itu tergeletak di dekat kakiku.
"Patausche,
tolong jaga Teoritta."
Aku
menyambar pedang yang tergeletak itu. Aku beradu bilah dengan si topi hitam.
Satu dentingan. Aku menahannya di pangkal pedang.
Tinggi
dan kekuatanku lebih unggul—dengan getaran dari Segel Deteksi Roadd, aku
mengacaukan keseimbangan tangannya dan mendorong balik.
"Heh. Apa
ini?"
Pria bertopi
hitam itu tampak sedikit terkesan.
"Kau pakai
teknik yang aneh. Tapi, kau tidak terbiasa bertarung di laut, ya?"
Getaran.
Lantai kapal berguncang. Entah gelombang besar datang, atau kapal baru saja
ditembak.
Aku harus
berusaha keras untuk menjaga posisi, tapi pria bertopi hitam itu berbeda. Dia
justru memanfaatkan guncangan itu untuk memutar tubuhnya.
Aku terdorong
balik. Aku terhuyung mundur, dan di celah itulah pria bertopi hitam melancarkan
serangan berikutnya.
Sebuah serangan
ganas dengan kuda-kuda ujung pedang mengarah lurus ke langit, sangat khas ilmu
pedang Timur.
Aku berusaha
menahannya. Suara benturan bilah tajam berdering nyaring.
"Oh. Kau
masih bisa menahan yang tadi? Tapi, sampai kapan kau bisa bertahan?"
Dua kali, tiga
kali. Setiap kali menahan bilahnya, posisiku semakin goyah. Tentu saja aku
mencoba membalas dengan tusukan-tusukan kecil, tapi itu hanya berhasil
menggores pipinya dan menambah luka di wajahnya.
Akhirnya, aku
terpental karena hantaman bahunya. Sebuah terjangan yang memanfaatkan guncangan
kapal. Aku pun jatuh tersungkur.
(Orang ini
benar-benar jago. Dalam ilmu pedang di atas kapal, aku tidak akan menang jika
bertarung jujur.)
Pergerakanku
sudah mencapai batas. Para bajak laut yang hampir menguasai seluruh kapal kini
mengepung kami.
Patausche juga
tidak bisa bergerak karena melindungi Teoritta di belakang punggungnya.
Jika sudah
begini, pilihannya hanya tinggal berlutut.
"Aku
mengerti. Kami sudah tidak kuat lagi, kami menyerah di sini."
Aku berkata
sambil menimbang-nimbang apakah harus melompat ke laut.
"Hei,
menurutmu siapa orang ini?"
Aku menunjuk pipi
kiri Teoritta dengan jari. Tato yang menjadi bukti seorang Goddess. Aku ragu bajak laut ini
paham, tapi setidaknya aku harus memberitahunya.
"Dia
adalah seorang Goddess. Lihat wajah bangsawan ini. Dia adalah Teoritta, Goddess
Pedang ketiga belas—jika tujuan kalian adalah uang tebusan, tidak ada alasan
untuk tidak membiarkannya hidup."
"Oho.
Kau cukup berani ya dalam situasi begini."
Si topi
hitam tertawa mengejek. Wajah penuh lukanya menyeringai.
"Aku
melihatmu tadi. Kau penembak meriam? Atau semacam senjata Segel Suci baru milik
Kerajaan Serikat? Kau menghantamkan sesuatu ke kapal kami tadi."
"Maaf
ya, aku juga sedang terdesak. Ada seseorang yang harus kulindungi apa pun yang
terjadi."
Aku
melirik wajah Teoritta. Napasnya memburu. Bagi seorang Goddess, menerima
kebencian dari manusia adalah hal yang sangat tidak menyenangkan.
"Kami
menyerah. Aku tidak tahu apa tujuan kalian, tapi kalian tidak berniat membantai
kami semua, kan?"
"Yah—begitulah.
Seperti katamu, gadis pirang itu sepertinya bukan anak biasa. Tapi…… tapi, ya.
Untuk menjadikan tawanan sebagai uang tebusan, asal dia masih hidup saja sudah
cukup."
Si topi hitam
mengarahkan tongkat petir yang agak panjang dan tipis ke arah Teoritta.
"Apa yang
kau lakukan. Tidak sopan sekali."
Patausche
merentangkan kedua tangannya. Sepertinya dia berniat menjadi tameng jika
terjadi sesuatu. Dia menatap si topi hitam dengan tatapan tajam seolah ingin
mengeluarkan api.
"Mengarahkan
senjata pada Goddess adalah tindakan yang sangat lancang."
"Hmph. Masa
bodoh dengan Goddess. Kami tidak pernah menerima berkah dari
mereka."
Begitu si
topi hitam mendengus, Teoritta sedikit menegang.
"Aku
tidak akan membunuhnya kok. Memotong satu telinga atau jari lalu mengirimkannya
sebagai peringatan juga bisa dilakukan. Itu akan membuat kami tampak sangat kejam, dan kami tidak rugi apa-apa. Kau
tidak setuju?"
"Hentikan."
Teoritta
memberikan tatapan yang sekeras baja. Hebat juga dia bisa memasang wajah
seperti itu dalam situasi begini. Aku akan pura-pura tidak sadar kalau kepalan
tangannya yang erat itu gemetar.
"Saat ini
bukan waktunya sesama manusia saling bertikai. Apa yang kalian lakukan pada
akhirnya hanya akan menyudutkan diri kalian sendiri."
"Omonganmu
mirip sekali dengan orang-orang kuil. Memang benar-benar seorang Goddess,
ya?"
Si topi
hitam tertawa lagi. Dia tipe
yang suka tertawa.
Namun, sepertinya
dia juga bisa menghentikan tawa itu seketika. Detik berikutnya wajahnya menjadi
serius, dan ujung tongkat petirnya diarahkan ke dahi Teoritta. Berhenti dengan stabil.
"Aku
benci orang tipe sepertimu."
Teoritta
tidak gentar. Patausche mencengkeram erat pedangnya dan melirikku. Aku tahu apa
yang ingin dia katakan.
Salah satu dari
kami akan menjadi tameng, lalu menerbangkan pria ini. Setelah itu, tidak ada
pilihan selain terjun ke laut.
Namun, sebelum
situasi memburuk secara fatal, ada seseorang yang mencengkeram lengan pria
bertopi hitam itu.
Tangan putih yang
ramping. Seorang wanita.
"——Cukup
sampai di situ. Hentikan, Thugo."
Wanita bertangan
putih itu berkata. Ia menatap Thugo dengan ekspresi dingin yang tanpa emosi.
"Kita sudah
berjanji untuk memperlakukan tawanan dengan sopan, kan. Kau tidak lupa?"
Aku merasa baru
saja melihat seseorang yang sangat tidak serasi di tempat ini.
Rambut merah yang
dikepang tiga, dengan anting hijau cerah. Mengenakan pakaian putih penuh hiasan
seperti yang dipakai pendeta tinggi di kuil.
Dia
sepertinya bukan sekadar gadis bajak laut biasa. Itu terlihat dari kulitnya
yang kurang terbakar matahari dan sikap pria bertopi hitam padanya.
"Jangan
pernah melanggar janji padaku. Bukankah kalian semua sudah bersumpah?"
Gadis
berkepang tiga itu menatap sekeliling. Mungkin lebih tepat jika disebut
memandang rendah.
"Pertempuran
sudah berakhir. Aku tidak mengizinkan kalian melukai tawanan. Karena kita bukan sekadar perampok,
melainkan pembawa panji Kio yang sah."
Ia
merentangkan tangan dan bersuara lantang. Aku merasa dia seperti aktor dalam
sebuah sandiwara.
"Kita adalah
anak-anak Zehai Dae! Mengemban berkah gelombang dan matahari, memikul takdir
untuk menang dalam pertempuran agung! Sebagai mereka yang terhormat, jangan
hilangkan harga diri kalian."
"Ooh!"
Suara yang
terdengar seperti persetujuan sekaligus kekaguman bergema di sana-sini. Para
bajak laut itu dengan patuh menurunkan senjata mereka.
Semangat mereka
cukup tinggi untuk bisa diatur sedemikian rupa, dan gadis berkepang tiga ini
tampaknya memiliki pengaruh tertentu.
(Akting
yang luar biasa payah.)
Bisa
dibilang, gadis berkepang tiga ini semacam pendeta mereka. Cara bicara yang
seperti sandiwara ini mungkin diperlukan untuk menjaga martabat kelompok
mereka.
"Thugo, kau
juga. Berikan tongkat petir itu."
"Aku
mengerti. Tentu saja."
Si topi hitam
menyerahkan tongkat petirnya pada si gadis berkepang tiga. Sudut mulutnya
melengkung. Wajahnya tampak seperti orang yang tertawa sekaligus merasa repot.
"Cuma
bercanda kok. Aku tidak berniat menyakiti lawan yang sudah menyerah. Tapi——apa Anda dengar? Gadis
pirang kecil ini katanya seorang Goddess."
"Eh. ……Go-……"
Gadis
berkepang tiga itu membelalak, dan mulutnya sedikit menganga. Seolah-olah
ekspresi dinginnya retak sesaat, tapi ia segera kembali normal.
"Go-Goddess?"
"Sepertinya
begitu. Kalau perkataan orang-orang ini benar. Memang dia terasa bukan orang
biasa. Aku melihatnya saat menyerang Fenomena Raja Iblis tadi, sepertinya dia
memanggil pedang."
"……Begitu
ya."
Setelah
kembali ke ekspresi dinginnya, gadis berkepang tiga itu memalingkan wajah dari Teoritta.
Seolah-olah itu bukan hal yang menarik perhatiannya.
"Kalau
begitu, perlakukan dia dengan lebih sopan lagi. Sambut dia sebagai tamu kehormatan."
"Dimengerti.
Kalau begitu, sisanya kami jarah lalu kita tarik mundur, boleh kan?"
"Bukan
penjarahan."
Suara gadis itu
mengandung nada celaan yang sangat halus.
"Tapi
penyitaan. Karena kita bukan perampok."
"Dimengerti——paham
kan kalian semua! Sita sesuka
hati kalian!"
"Oow!"
Begitu si
topi hitam berteriak, terdengar jawaban yang kasar namun serempak. Benar-benar sangat terorganisir untuk
ukuran bajak laut.
(Sebenarnya
mereka ini siapa?)
Pikirku. Gadis
berkepang tiga yang tidak tampak seperti bajak laut itu sepertinya adalah
pemimpin kelompok ini.
Tampak
ada latar belakang di baliknya. Jenis latar belakang yang sebenarnya tidak
ingin kuhadapi.
(Bagaimanapun,
cukup sampai di sini.)
Aku menoleh pada Patausche.
Aku mengedikkan bahu dan menepuk leherku dengan dua jari.
Isyarat dalam
latihan militer untuk menyatakan "aku menyerah". Patausche sepertinya mengerti, dan
dia mengangguk kecil. Senjata
dilemparkan ke lantai, lalu kami mengangkat tangan.
Masalahnya, masih
ada orang yang mencoba melawan.
"……Sialan!"
Itu adalah pria
yang merupakan kapten kapal ini. Di belakang si gadis berkepang tiga, secara
diam-diam—seolah mencari titik buta—dia meraih tongkat petir. Itu gawat. Dia
ketahuan.
"Hentikan!"
Aku berteriak,
tapi terlambat. Kapten itu sudah mengaktifkan tongkat petirnya.
"Kukushira.
Lindungi aku."
Gadis berkepang
tiga itu memberi perintah singkat. Sebuah bayangan besar bergerak dengan lincah. Itu adalah sosok yang
ukurannya jauh lebih besar dariku.
Sosok itu
menjadikan dirinya tameng dan menahan kilatan petir. Bach, terdengar
suara sesuatu meletup kecil, tapi hanya itu saja.
Sosok
raksasa itu menunduk melihat bagian tubuhnya yang terkena petir. Tapi, dia tidak bicara apa-apa. Dari sana
jatuh serpihan kecil. Sangat mirip dengan serpihan kayu.
Melihat
pemandangan ini, mata Teoritta membelalak.
"Xylo,
itu……"
Aku mengerti
perasaannya. Sosok itu jelas sangat jauh dari manusia.
Garis tubuhnya
mirip manusia, atau lebih tepatnya menyerupai beruang. Cara jalannya unik
dengan kedua lengan menjuntai. Tubuhnya tertutup jubah tebal berwarna merah
gelap, tapi dari lubang bekas tembakan tongkat petir tadi, bagian dalamnya
terlihat.
Itu adalah pohon.
Bongkahan pepohonan dengan daun dan dahan kecil yang masih menempel berdiri
sendiri, diam melindungi si gadis berkepang tiga. Bagian yang seharusnya
menjadi bola mata hanyalah lubang pohon yang gelap dan hampa.
"Bukan
manusia?"
"Ya. Itu Tree
Demon. Begitu sebutannya."
Makhluk yang
sekarang hanya hidup di Kepulauan Timur. Bersama dengan Naga dari Kerajaan
Zeff-Zeial, Cockatrice dari Wong Daoran, dan para Undine di Utara, mereka
disebut sebagai Lima Paleobiota Benua.
Makhluk kuno yang
konon dipanggil oleh Goddess Binatang pada masa yang sangat lampau.
Karena mereka
berkembang biak dengan biji, mereka tetap bertahan di tanah ini meski masa
pemanggilan mereka sudah berakhir.
Detail otoritas Goddess
Binatang memang misteri, tapi sepertinya hal seperti itu mungkin dilakukan.
Kudengar ada suku
di Kepulauan Timur yang memelihara Tree Demon militer dan menggunakannya
dalam pertempuran. Tapi, itu pun sangat terbatas. Tree Demon pada
dasarnya sangat sensitif, memiliki kesadaran wilayah yang kuat, dan tercatat
sangat sedikit yang bisa jinak pada manusia.
Tapi melihat
makhluk itu menuruti perintah manusia dengan begitu patuh—benar-benar sulit
dipercaya.
"——Akan
kuulangi sekali lagi. Bagi yang menyerah, angkat kedua tangan di atas kepala
dan tiaraplah! Jika kalian tidak mencelakaiku, atas nama Zehai Dae sang Ular
Badai Merah, aku tidak akan mengambil nyawa kalian di sini. Ini adalah
perjanjian penyerahan diri."
Setelah
menyatakan itu, ia menepuk tangan dua kali.
Seolah menunggu
suara itu, beberapa bayangan sebesar kuda menyerbu naik ke kapal kami. Mereka
adalah para Tree Demon.
Semuanya
berukuran lebih kecil daripada individu yang dipanggil Kukushira tadi. Mereka
menangkap orang-orang yang sudah menyerah, lalu membopong mereka satu per satu.
Benar-benar
pemandangan yang aneh. Aku belum pernah mendengar contoh penggunaan Tree
Demon sebanyak ini sebagai pelayan. Apalagi hanya dengan tepukan tangan.
Aku merasa sedang melihat sesuatu yang mustahil.
Dengan
begini, tidak ada lagi celah untuk membalikkan keadaan. Untuk sekarang, kami
harus diam menurut. Aku dan Patausche tiarap bersama di tempat. Tentu saja
dengan kedua tangan di atas kepala seperti yang diperintahkan.
"……Maafkan
aku, Xylo."
Aku tahu Teoritta
sedang menggigit bibirnya dengan keras.
"Andai
aku lebih kuat."
"Jangan
sebut tekad untuk membunuh orang sebagai kekuatan. Kau tidak
membutuhkannya."
"Tapi.
Setidaknya, jika aku bisa mengalahkan Fenomena Raja Iblis dengan lebih
cepat——"
"Itu
juga berlaku untukku."
Aku ragu
menggunakan "Pedang Suci" Teoritta. Apakah hasilnya menjadi buruk karena itu?
Tidak. Harusnya
ada cara lain yang bisa dilakukan. Padahal ada Jace dan Rhyno, bahkan Patausche,
tapi kami hanya bisa memberikan respons yang terlambat.
Kegagalan
untuk menang berarti ada sesuatu yang kurang.
Sesuatu yang
kurang padaku. Apa itu? "Terlalu meremehkan diri sendiri"—kata-kata
Beux tiba-tiba terlintas di benakku, tapi itu konyol. Kata-kata seperti itu
lebih baik dilupakan.
"Semuanya,
itu keputusan yang bijak."
Gadis berkepang
tiga itu tidak lagi menatap kami yang sudah berhenti melawan. Ia berbalik dan
mulai berjalan. Aku merasa mendengar suara hela napas. Apakah itu desahan lega
darinya?
"Thugo.
Sisanya kuserahkan padamu. Jika semua sudah selesai, datanglah ke menara."
"Dimengerti,
Tuan Putri," jawab si topi hitam. Ditambah dengan bungkukan hormat yang
berlebihan.
(Begitu ya. Tuan
putri.)
Aku merasa muak.
Sudah kuduga pasti akan begitu. Mereka benar-benar orang-orang yang membawa
masalah merepotkan. Aku bersumpah tidak akan mau terlibat terlalu dalam.
"Bangun.
Putar tanganmu ke belakang."
Salah satu bajak
laut menempelkan senjata tajam ke leherku. Pedang yang melengkung lembut. Dirawat dengan
sangat baik.
"Yang
bertubuh besar di sana, kau juga. Cepat."
Suara itu
juga ditujukan ke belakang punggungku.
Karena
firasat buruk, aku menoleh, dan benar saja, di sana ada seorang pria yang
memasang senyum segar yang aneh. Rhyno.
Dengan
cepat ia memutar kedua tangannya ke belakang seolah sedang menerima hadiah yang
menyenangkan.
"Ya, halo.
Maaf merepotkan ya. Mohon bantuannya."
Sambil
mengucapkan kalimat itu, ia membiarkan dirinya diikat.
"Kau."
Aku sudah
melewati tahap tercengang dan mulai merasa hampa.
"Kenapa kau
kelihatan senang sekali, sih?"
"Karena ini
pengalaman yang baru. Dibawa bersama Rekan Xylo dan Goddess Teoritta,
rasanya menyenangkan. Kita dianggap sebagai teman, kan?"
Orang ini,
sarafnya terbuat dari apa sih. Karena aku merasa akan kalah jika membalas apa
pun, aku justru memutuskan untuk berbicara pada para bajak laut itu.
"Aku kasih
peringatan. Tidak, mungkin ini saran. Pokoknya—kalian sedang mencoba melakukan
sesuatu yang tidak akan menguntungkan bagi kalian sendiri."
"Apaa, kau
mau menceramahi kami? Semacam
ramalan suci?"
Si topi
hitam mendengus dan menoleh.
"Kau, dari
tampangmu sama sekali tidak terlihat seperti pendeta, tapi jangan-jangan memang
iya?"
"Bukan.
Bukan begitu. Cuma……"
Aku ragu harus
bilang apa, tapi akhirnya aku memutuskan untuk bicara jujur.
"Kalian
menyentuh orang yang tidak seharusnya disentuh—tapi sekarang sudah
terlambat."
"Ah? Apa
maksudmu? Cara baru untuk memohon nyawa?"
"Tidak,
ini beneran sudah terlambat. Sayang sekali. Kalian menembak Neely, naga biru
itu, kan. Bahkan kena beberapa kali."
Aku
mengedikkan bahu. Dengan tangan terikat di belakang sekarang, itulah ekspresi
simpati maksimal yang bisa kulakukan. Biasanya aku akan membuat tanda Segel
Suci Besar dengan jari.
"Berbeda
denganku yang lembut hati ini, Jace Partiract sepertinya tidak akan memaafkan
kalian. Ini satu-satunya hal yang bisa kuramalkan dengan pasti…… kalian
akan mengalami hal yang sangat mengerikan."
Dia pasti tidak
paham apa yang kukatakan.
Buktinya, si topi
hitam hanya tertawa terbahak-bahak, lalu dengan wajah serius dia memukulku.
——Tapi, itu adalah kebenaran yang sesungguhnya.



Post a Comment