Epilog
Nama itu,
Lupakanlah—
Festival Reibu telah usai, dan kota akhirnya kembali
mendapatkan ketenangannya.
Suara tabuhan drum dan seruling yang tadinya begitu meriah,
kini lenyap seperti ingatan yang jauh.
Hanya cahaya lampu jalan yang mengambang di kegelapan,
menerangi sisa-sisa perayaan dengan lembut.
Di beranda penginapan yang disiapkan oleh Nagisa, aku sedang
menikmati angin malam setelah selesai mandi, ketika tiba-tiba aku merasakan
sebuah kehadiran mendekat.
"Apa
yang sedang Anda lakukan?"
Luna
duduk di sampingku sambil menyeka rambutnya yang basah dengan handuk.
"Hanya
mencari angin. Aku ingin sedikit menenangkan pikiran."
"Begitu ya.
Memang belakangan ini banyak kejadian yang mengejutkan."
Luna mengembuskan
napas pelan setelah mengatakan itu.
Meskipun
perkembangannya sangat berbeda dari rencana awal, tujuan untuk merebut kembali
Kyokuto telah tercapai.
Namun, sisa-sisa
Kultus pasti masih bersembunyi di dalam negeri. Kami perlu memancing mereka
keluar.
Dan bersamaan
dengan itu, akhirnya mulai besok kami bisa memulai penyelidikan di Kuil
Fudoushou──penyelidikan tentang Prinsip Sihir.
Kalau diingat
kembali, aku bisa sampai di titik ini benar-benar berkat bantuan semua orang.
Aku tidak akan pernah bisa melangkah sejauh ini sendirian.
"Perjalanan
sampai ke sini terasa panjang, tapi ternyata berlalu dalam sekejap, ya."
"Benar.
Padahal baru beberapa bulan yang lalu kita masih menjadi penjelajah di Tsutrail,
tapi kita sudah melangkah sejauh ini."
"Terutama
satu tahun terakhir ini sangat padat. Benar-benar banyak hal yang terjadi. Banyak
kesulitan yang dialami, tapi lebih dari itu, aku bisa merasakan kebaikan dari
banyak orang."
"Saya juga.
Karena saya diselamatkan oleh Orn-san, saya bisa berada di sini sekarang.
Sekali lagi, terima kasih banyak."
"……Tiba-tiba
sekali. Kalau kau bicara begitu, aku pun sangat terbantu karena ada Luna di
sini. Aku rasa alasan Titania mau bekerja sama pada 'hari itu' adalah karena
Luna telah membangun hubungan yang baik dengannya──"
Tepat saat aku
mengatakan itu, tangan Luna terhenti. Jari-jarinya yang mencengkeram handuk
tampak sedikit kaku, terlihat jelas bahkan di bawah sinar rembulan.
"……Luna?"
Saat aku
menoleh dengan heran, dia sedang menatapku dengan ekspresi bingung. Seolah-olah
dia tidak mengerti arti dari kata-kataku.
Atau
seolah-olah dia baru saja mendengar nama yang tidak dia kenal.
"Anu, Orn-san……"
"……Ada, apa?"
Tanpa kusadari, suaraku bergetar. Bagian dalam dadaku terasa
bergejolak. Namun, aku belum bisa mengerti
apa sebenarnya perasaan itu.
Luna perlahan
memiringkan kepalanya.
"──Titania itu, siapa?"
Begitu kata-kata
itu terdengar, aku merasa seolah ada sesuatu di dalam kepalaku yang runtuh
perlahan-lahan.
Bukannya dia
tidak memahami perkataanku. Justru karena itulah, hal ini terasa mustahil.
Luna sendiri yang
pernah bilang bahwa Titania adalah sosok yang sangat berharga baginya, layaknya
keluarga. Namun, barusan Luna menyebutkan nama itu dengan raut wajah yang
benar-benar tampak heran dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Kenyataan yang
tak ingin kupercayai kini tersaji di depan mata dengan sunyi, namun pasti.
Angin musim panas
ini, mendadak terasa sangat dingin──.



Post a Comment