Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan
Cita Rasa Kampung Halaman
Aroma harum
menyeruak di dalam ruangan bergaya Jepang yang diterangi cahaya senja.
Di atas nampan
kayu pernis, tersaji ikan panggang, sup miso, acar, dan nasi putih yang baru
matang dari periuk tanah, mengepulkan uap panas. Sebuah pemandangan sederhana,
namun entah mengapa menghangatkan lubuk hati.
"……Luar
biasa. Nagisa, kau menyiapkan ini semua sendirian?"
Fuuka yang duduk
di depan nampan tersebut mengembuskan napas kagum. Di sampingnya, Haruto juga
tampak terbelalak.
"Iya. Aku
sedikit berusaha keras. Kupikir, jika kalian berdua pulang, aku ingin kalian
memakan hidangan seperti ini," jawab Nagisa sambil tersenyum malu-malu.
Fuuka mengambil
sumpit, mengucap "Selamat makan," lalu perlahan mulai mencicipi ikan
panggangnya.
Kulit ikan yang
harum berbunyi renyah, memperlihatkan daging putih yang lembut di baliknya.
Begitu suapan pertama masuk ke mulut, dia perlahan menyipitkan mata.
"……Enak."
Rasa asin dan
aroma yang menyebar lembut di mulutnya membangkitkan rasa rindu dari lubuk
hatinya.
Rasa yang dulu
pernah dia makan di rumah saat masih kecil. Itu adalah sensasi yang sudah lama
ia lupakan.
Haruto menyusul
dengan meminum sup miso, lalu mengangguk puas.
"Ya, ini
menenangkan. Benar-benar rasa kampung halaman kita."
Keheningan
menyelimuti mereka bertiga sejenak. Namun itu bukan suasana canggung, melainkan
waktu untuk meresapi kehangatan masakan tersebut.
Duduk bersila
berhadapan dan memakan nasi dari periuk yang sama──hanya dengan itu, mereka
benar-benar merasa telah pulang.
"Nagisa…… terima kasih. Aku jadi benar-benar merasa
telah kembali pulang."
Fuuka tersenyum dan mengungkapkan rasa terima kasihnya.
"Ehehe.
Syukurlah kalau kalian menyukainya." Nagisa tersenyum dengan pipi yang memerah. Di
dalam dadanya, rasa lega yang hangat mulai menyebar.
Haruto
mengembuskan napas pelan sambil menyuap nasi putih.
"……Ah,
benar-benar lezat."
"Aku
memasak banyak karena terlalu bersemangat, jadi makanlah sebanyak yang kalian
mau!"
"Baiklah.
Kalau begitu, aku tidak akan sungkan."
Fuuka
menjawab dengan datar sambil menambah nasi ke mangkuknya. Dia menghirup uap panasnya dan menggerakkan sumpit
tanpa ragu.
Ikan panggang,
sup miso, acar──semua rasa nostalgia itu membuat ekspresinya melunak. Haruto
menyipitkan mata melihat perubahan pada Fuuka yang biasanya jarang menunjukkan
emosi.
──Lalu mangkuk
ketiga, mangkuk keempat.
Sebelum porsi
acar berkurang banyak, mangkuk Fuuka sudah berkali-kali kosong, dan dasar
periuk tanah mulai terlihat.
Namun, meski
dasarnya mulai terlihat, kecepatan makan Fuuka sama sekali tidak menurun.
"…………Nasinya
habis."
"E-eh!?
Sudah habis!? Padahal baru saja mulai makan tadi──"
Saat Nagisa
terkejut, Haruto di sampingnya tertawa kecil.
"Haha,
kau kaget, kan? Dia yang sekarang benar-benar punya perut tanpa dasar."
"Be-begitu
ya……"
Sementara
Nagisa terbelalak, Fuuka tetap menggerakkan sumpitnya dengan tenang.
"Ini juga
hasil dari latihan. Untuk menjadi kuat, makan dengan banyak juga
diperlukan."
"Apa itu
bisa disebut 'hasil latihan'……?"
Nagisa bergumam
kebingungan, sementara Haruto mengangkat bahu.
"Yah, memang
lebih baik daripada tidak nafsu makan, sih. Tapi Nagisa, lain kali sepertinya
kau harus memasak nasi jauh lebih banyak lagi."
Nagisa tanpa
sadar mengeluarkan suara rengekan "Uuu……" yang menyedihkan. Sambil melihat interaksi
tersebut, Fuuka menyunggingkan senyum kecil.
──Meja makan yang
diwarnai suara tawa.
Itu pun, pastilah menjadi bagian dari rasa kampung halaman.



Post a Comment