NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 9 Short Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Cita Rasa Kampung Halaman


Aroma harum menyeruak di dalam ruangan bergaya Jepang yang diterangi cahaya senja.

Di atas nampan kayu pernis, tersaji ikan panggang, sup miso, acar, dan nasi putih yang baru matang dari periuk tanah, mengepulkan uap panas. Sebuah pemandangan sederhana, namun entah mengapa menghangatkan lubuk hati.

"……Luar biasa. Nagisa, kau menyiapkan ini semua sendirian?"

Fuuka yang duduk di depan nampan tersebut mengembuskan napas kagum. Di sampingnya, Haruto juga tampak terbelalak.

"Iya. Aku sedikit berusaha keras. Kupikir, jika kalian berdua pulang, aku ingin kalian memakan hidangan seperti ini," jawab Nagisa sambil tersenyum malu-malu.

Fuuka mengambil sumpit, mengucap "Selamat makan," lalu perlahan mulai mencicipi ikan panggangnya.

Kulit ikan yang harum berbunyi renyah, memperlihatkan daging putih yang lembut di baliknya. Begitu suapan pertama masuk ke mulut, dia perlahan menyipitkan mata.

"……Enak."

Rasa asin dan aroma yang menyebar lembut di mulutnya membangkitkan rasa rindu dari lubuk hatinya.

Rasa yang dulu pernah dia makan di rumah saat masih kecil. Itu adalah sensasi yang sudah lama ia lupakan.

Haruto menyusul dengan meminum sup miso, lalu mengangguk puas.

"Ya, ini menenangkan. Benar-benar rasa kampung halaman kita."

Keheningan menyelimuti mereka bertiga sejenak. Namun itu bukan suasana canggung, melainkan waktu untuk meresapi kehangatan masakan tersebut.

Duduk bersila berhadapan dan memakan nasi dari periuk yang sama──hanya dengan itu, mereka benar-benar merasa telah pulang.

"Nagisa…… terima kasih. Aku jadi benar-benar merasa telah kembali pulang."

Fuuka tersenyum dan mengungkapkan rasa terima kasihnya.

"Ehehe. Syukurlah kalau kalian menyukainya." Nagisa tersenyum dengan pipi yang memerah. Di dalam dadanya, rasa lega yang hangat mulai menyebar.

Haruto mengembuskan napas pelan sambil menyuap nasi putih.

"……Ah, benar-benar lezat."

"Aku memasak banyak karena terlalu bersemangat, jadi makanlah sebanyak yang kalian mau!"

"Baiklah. Kalau begitu, aku tidak akan sungkan."

Fuuka menjawab dengan datar sambil menambah nasi ke mangkuknya. Dia menghirup uap panasnya dan menggerakkan sumpit tanpa ragu.

Ikan panggang, sup miso, acar──semua rasa nostalgia itu membuat ekspresinya melunak. Haruto menyipitkan mata melihat perubahan pada Fuuka yang biasanya jarang menunjukkan emosi.

──Lalu mangkuk ketiga, mangkuk keempat.

Sebelum porsi acar berkurang banyak, mangkuk Fuuka sudah berkali-kali kosong, dan dasar periuk tanah mulai terlihat.

Namun, meski dasarnya mulai terlihat, kecepatan makan Fuuka sama sekali tidak menurun.

"…………Nasinya habis."

"E-eh!? Sudah habis!? Padahal baru saja mulai makan tadi──"

Saat Nagisa terkejut, Haruto di sampingnya tertawa kecil.

"Haha, kau kaget, kan? Dia yang sekarang benar-benar punya perut tanpa dasar."

"Be-begitu ya……"

Sementara Nagisa terbelalak, Fuuka tetap menggerakkan sumpitnya dengan tenang.

"Ini juga hasil dari latihan. Untuk menjadi kuat, makan dengan banyak juga diperlukan."

"Apa itu bisa disebut 'hasil latihan'……?"

Nagisa bergumam kebingungan, sementara Haruto mengangkat bahu.

"Yah, memang lebih baik daripada tidak nafsu makan, sih. Tapi Nagisa, lain kali sepertinya kau harus memasak nasi jauh lebih banyak lagi."

Nagisa tanpa sadar mengeluarkan suara rengekan "Uuu……" yang menyedihkan. Sambil melihat interaksi tersebut, Fuuka menyunggingkan senyum kecil.

──Meja makan yang diwarnai suara tawa.

Itu pun, pastilah menjadi bagian dari rasa kampung halaman.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close