NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 8 Interlude 1

Interlude 1

Saat Perpisahan Tiba


Beberapa hari lalu kami berangkat dari Dal'uane, dan kini kami tiba di sebuah kota bernama Lintes untuk menginap semalam.

Saat kami sedang menyantap makan malam di kedai minuman yang menyatu dengan penginapan,

"Wah, ini enak sekali~"

Wajah Carol tampak berbinar gembira setelah meminum minuman keras buah yang direkomendasikan Kakak.

"Benar, kan? Pemilik kedai ini adalah pencinta alkohol kelas berat. Semua minuman yang dia pilih tidak pernah meleset."

Melihat Carol senang, Kakak mengangguk dengan bangga.

Kakak tahu banyak soal kota yang jauh dari Tsutrail ini karena penguasa di sini adalah sponsor Night Sky Silver Rabbit, sehingga dia sudah beberapa kali berkunjung untuk urusan klan.

(Ah, benar juga. Minuman buah ini enak sekali.)

Rasanya manis dan sangat mudah diminum.

Kami pun asyik mengobrol sambil menikmati hidangan lezat dan minuman tersebut.

"Eh, benarkah begitu? Kalau level penjelajah sudah tinggi, aktivitas di luar Tsutrail bakal makin sering?"

Log mengeluarkan suara terkejut setelah mendengar cerita Kakak.

"Yah, begitulah. Begitu namamu makin dikenal sebagai penjelajah, banyak orang akan tahu tentangmu. Luna, waktu di Kelompok Pahlawan dulu bukankah kamu cukup sibuk?"

Kakak mengalihkan pandangannya ke Kak Lu.

"Begitulah. Namanya juga 'Kelompok Pahlawan'. Karena persaingan pengaruh antar-bangsawan dan semacamnya, kami sering dipanggil ke berbagai tempat dan hampir terseret ke dalam masalah mereka."

Kak Lu membenarkan dengan senyum pahit.

Sekarang karena sedang perang, semua orang bersatu, jadi kami tidak terseret masalah seperti itu. Namun, saat perang berakhir nanti, kemungkinan besar tingkat pencapaian labirin kami sudah makin jauh.

Apakah kami juga akan terseret ke hal-hal seperti itu? Aku tidak mau……

"Ugh, persaingan pengaruh bangsawan…… Mendengarnya saja sudah bikin malas……"

Carol sepertinya berpikiran sama denganku, dia tampak muak.

"Tapi tidak semuanya hal buruk, lho?"

"Hmm? Contohnya seperti apa?"

"Yang paling membahagiakan adalah dukungan dari semua orang. Bahkan orang yang tidak kukenal akan menyapa, 'Semangat ya, taklukkan labirinnya'. Anehnya itu benar-benar memberiku energi dan meningkatkan motivasi."

"Ah, itu benar. Aku sudah sering menyadari bahwa dukungan itu kekuatannya tidak main-main."

Kak Lu berpendapat dan Kakak mengangguk berkali-kali tanda setuju.

Meskipun kami sudah mencapai lantai bawah dan masuk kategori penjelajah tingkat atas, ternyata kami masih jauh dari itu.

Suatu hari nanti, aku ingin mengobrol seru soal hal seperti ini dengan Kakak.

◆◇◆

Tengah malam itu, tiba-tiba aku terbangun.

"……Kak Lu?"

Saat berbalik badan, aku menyadari kasur tempat Kak Lu seharusnya tidur sudah kosong.

Ketika melihat ke luar jendela, aku melihat sosoknya di sana. Aku pun keluar pelan-pelan agar tidak membangunkan yang lain.

"Sophie? Ada apa di jam selarut ini?"

Begitu aku mendekat, Kak Lu yang menyadariku tampak terkejut.

"Tadi aku terbangun, dan ternyata Kak Lu tidak ada di tempat tidur."

"Begitu ya. Aku sudah membuatmu khawatir. Maaf, ya."

"Tidak apa-apa. ……Sedang melihat bulan?"

Aku duduk di samping Kak Lu dan bertanya.

"……Begitulah. Sedikit memikirkan sesuatu."

"Memikirkan sesuatu?"

"Iya. ……Mungkin ini terdengar aneh, tapi Sophie, apakah kamu pernah merasa seperti melupakan sesuatu yang sangat penting?"

"Eh? Sesuatu yang penting……?"

Aku mengerjapkan mata mendengar pertanyaan Kak Lu yang tidak terduga.

"Iya. Aku merasa seperti melupakan sesuatu. Aku tidak tahu itu apa, tapi setiap kali memikirkannya, hatiku terasa sesak."

"Hmm, maaf. Sepertinya aku tidak punya perasaan seperti itu."

"……Begitu ya. Mungkin aku hanya sedang sedikit melankolis saja. Tolong jangan dipikirkan."

Kak Lu mengatakan itu sambil tersenyum lembut padaku.

"Apa Kakak punya masalah?"

"Tidak, bukan hal besar yang bisa disebut masalah kok."

"Cerita saja kalau ada sesuatu. Aku kan selalu dibantu oleh Kak Lu. Mungkin aku kurang mampu, tapi aku ingin membantu meski cuma sedikit!"

"……Terima kasih. Kalau begitu, aku akan sedikit bercerita. Tapi ini benar-benar bukan masalah berat atau semacamnya. Aku hanya berpikir, sepertinya sebentar lagi waktunya Festival Syukur."

"Festival Syukur……? ……Ah……"

Mendengar kata itu, aku menyadari bahwa dia teringat kejadian setahun yang lalu.

Festival Syukur adalah festival yang diadakan di Tsutrail dari akhir Mei hingga awal Juni.

Akibat insiden di festival tahun lalu, kelompok Pahlawan Golden Dawn praktis bubar, dan Kak Lu pindah ke Night Sky Silver Rabbit.

"Di hari pertama festival, orang tua angkatku ditangkap atas tuduhan penculikan anak. Lalu setelahnya, seperti yang kamu tahu, Oliver-san dan yang lain tiba-tiba mengamuk, dan Golden Dawn pun bubar."

Aku juga sudah mendengar kronologi bagaimana Kak Lu masuk ke klan dan bergabung dengan kelompokku.

Karena Kak Lu menceritakannya dengan nada biasa saja, aku mengira dia sudah sepenuhnya merelakan kejadian itu.

Namun jika dipikir-pikir lagi, itu bukan hal yang bisa direlakan begitu saja dengan mudah.

Dulu aku menjaga jarak dengan keluargaku, tapi setelah berdamai dengan Abang, sekarang aku mulai merasa sayang pada keluarga Claudel.

Jika apa yang dialami Kak Lu terjadi padaku, itu ibarat tanpa sepengetahuanku keluarga Claudel terlibat kriminalitas hingga keluarga kami hancur, lalu Log dan Carol mengamuk secara egois kemudian ditangkap, dan tiba-tiba tempat tinggalku dirampas secara tidak adil.

"Seluruh tempat tinggalku dirampas saat Festival Syukur itu. Di saat itulah Orn-san mengulurkan tangan padaku. Dia memberiku tempat tinggal baru di Night Sky Silver Rabbit, dan mempertemukanku dengan rekan-rekan hebat seperti Sophie dan yang lain."

"Kak Lu……"

"Saat itulah aku memutuskan untuk terus mengikuti Orn-san. ……Sophie, apa kamu menyadari perubahan pada Orn-san di hari kita berangkat dari Dal'uane?"

"Eh, perubahan……?"

Pertanyaan mendadak itu membuat tanda tanya muncul di kepalaku.

Seingatku, Orn-san hari itu tampak biasa saja seperti biasanya……

"Iya. Saat itu, Orn-san memiliki ekspresi seperti seseorang yang baru saja mengambil keputusan besar. Aku tidak tahu keputusan apa itu. Tapi, jika Orn-san berencana melakukan sesuatu yang besar, aku berniat membantunya dengan segenap kekuatanku."

Aku sama sekali tidak menyadarinya.

Kenyataan bahwa Kak Lu sadar sedangkan aku tidak, rasanya agak menyesakkan.

Padahal aku merasa sudah selalu memperhatikan Orn-san.

Ternyata, Kak Lu juga menyukai Orn-san……

"……Maaf aku malah bicara yang tidak jelas. Tapi berkat ini, pikiranku jadi sedikit lebih tertata. Terima kasih sudah mendengarkan."

"Aku benar-benar cuma mendengarkan saja dan tidak bisa memberi saran yang bagus, tapi kalau Kak Lu merasa lebih lega, syukurlah!"

Perubahan pada Orn-san, ya.

Nanti saat bertemu dengannya lagi, aku akan mencoba memperhatikannya baik-baik.

◆◇◆

Beberapa hari kemudian, saat langit mulai berwarna jingga kemerahan,

"Ah! Tsutrail sudah kelihatan~!"

Carol bersorak gembira saat tembok luar yang mengelilingi Tsutrail mulai terlihat.

Aku sendiri merasakan kegembiraan yang membuncah.

Aku meninggalkan Tsutrail dalam kondisi dipaksa pergi oleh Aldo-san, tangan kanan Ayahku.

Waktu itu aku diberitahu bahwa pertunanganku sudah diputuskan, jadi kupikir aku tidak akan pernah bisa kembali lagi ke sini.

Namun, berkat bantuan Orn-san dan rekan-rekan yang lain, aku bisa kembali.

Mana mungkin aku tidak bahagia.

"Hei, Log! Kita langsung pergi menaklukkan Labirin Besar saja?"

Carol mengajak Log menyelam ke labirin seolah sudah tidak sabar lagi.

Log yang mendengarnya menunjukkan ekspresi sedikit lelah.

"Mana mungkin kita langsung menyelam hari ini."

"Benar. Kelelahan setelah perjalanan tidak boleh diremehkan. Lagipula ini sudah sore, hari ini kita istirahat saja dan baru mulai besok. Oke, Carol?"

Kak Lu menyetujui pendapat Log dan menenangkan Carol.

"Hmm, baiklah……"

Meskipun lesu, Carol menuruti mereka berdua.

Alasan dia ingin segera masuk ke labirin pasti karena ingin mencoba alat sihir yang dia terima dari kakak-kakaknya di Dal'uane dalam pertarungan sungguhan.

Anting yang dia pakai sekarang sepertinya adalah alat sihir itu.

Menurut Carol, sihir yang terpatri di dalamnya adalah untuk memperluas indra, sekaligus membantu penginderaan dan pengendalian mana.

Alat sihir, ya. Karena alat sihir butuh batu sihir sebagai sumber tenaga, aku selalu berpikir itu tidak cocok untuk penjelajahan labirin. Sebab, membawa banyak batu sihir hanya akan memancing monster.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Orn-san hanya bilang 'sebaiknya selektif membawa alat sihir ke labirin', dia tidak pernah bilang 'tidak boleh dibawa'.

Kak Lu punya Sihir Roh yang menggabungkan kekuatan khusus dan sihir—sesuatu yang hanya bisa dia lakukan. Carol dan Log juga sudah mulai memantapkan gaya bertarung unik mereka sendiri.

Sebaliknya, aku merasa masih terjebak dalam kerangka "Penyihir Biasa".

Apakah kemampuan khususku, Psychokinesis, memiliki sinergi dengan alat sihir?

"Ada apa, Sophia?"

Saat aku sedang melamun memikirkan hal itu, Kakak yang duduk di sampingku bertanya dengan cemas.

"Hei, Kak. Kalau aku ingin tahu soal alat sihir, sebaiknya belajar dari mana dulu?"

"Alat sihir? Sophia mau jadi pengrajin alat sihir?"

"Bukan, bukan begitu. Aku cuma berpikir mungkin aku bisa jadi lebih kuat kalau paham soal itu."

"Memang alat sihir itu sangat berguna. Untuk memahaminya, kamu harus punya pengetahuan dasar tentang fondasi sihir. Selain itu, ada pengrajin alat sihir di klan kita, mungkin bagus kalau kamu bertanya langsung pada mereka."

Belajar sihir, ya. Meskipun aku sudah bisa menggunakan sihir tingkat special, pengetahuanku masih dangkal. Mengembangkan sihir orisinal saja masih terasa mustahil bagiku sekarang. Baiklah! Pertama-tama, aku akan berusaha belajar sihir dengan giat!

"Iya, benar juga. Itu sangat membantu. Terima kasih, Kak!"

"Sama-sama."

Saat aku berterima kasih, Kakak tersenyum bahagia.

◆◇◆

Tak terasa kereta kuda sudah sampai di area klan Night Sky Silver Rabbit.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada kusir, kami turun dan langsung masuk ke gedung utama.

Meskipun durasi perjalanan ini lebih singkat daripada saat tugas ke wilayah Legriff, rasanya sangat melegakan.

Aku benar-benar sudah kembali ke Night Sky Silver Rabbit……

Kakak yang berjalan di depan berbalik menghadap kami.

"Semuanya, kerja bagus. Kalian pasti lelah setelah perjalanan, jadi—"

"—Tidak mungkin…… Benar-benar tepat sasaran……"

Saat Kakak sedang bicara, terdengar suara wanita yang terkejut dari dekat kami.

Saat menoleh, aku melihat seseorang yang sangat kukenal berdiri dengan ekspresi bengong.

"Estella? Ada apa, kamu menjemput kami?"

Kakak menyapa Estella-san dengan akrab.

"Ah—iya. Yah, bisa dibilang…… menjemput? Pokoknya, selamat datang kembali!"

Estella-san menjawab dengan agak terbata. Ada apa ya?

"Terus, maaf ya baru saja sampai, tapi bisa kalian ikut denganku sebentar?"

"……? Iya, baiklah."

Meskipun merasa aneh dengan sikapnya, kami tetap mengikutinya karena tidak ada alasan untuk menolak.

◇◇◇

Tempat yang dituju Estella-san adalah ruang kerja Sang Ketua.

Ini pertama kalinya aku masuk ke sini…… Eh, apakah anggota baru sepertiku boleh masuk ke sini?

Estella-san yang tidak tahu kegelisahanku langsung membuka pintu dan masuk.

"Ketua, Orn-occhi, aku sudah membawa mereka. Benar kata Orn-occhi, saat aku baru sampai di depan pintu masuk, Selma-cchi dan yang lain baru saja tiba. Aku sampai kaget. Orn-occhi, apa kamu ini cenayang?"

……Orn-occhi?

"Yah, bisa dibilang mirip seperti itu."

Suara pria yang menjawab pertanyaan Estella-san itu sangat akrab di telingaku. Kami pun masuk ke dalam ruangan.

Di dalam sana ada beberapa orang.

Selain Estella-san dan Sang Ketua selaku pemilik ruangan, ada Rain-san, Lucrezia-san, dan Wilks-san dari Divisi Pertama. Serta, Orn-san.

(Eh!? Kenapa Orn-san ada di sini!? Bukannya dia sedang menjalankan misi rahasia dari Putri dan bergerak terpisah!?)

"Semuanya sudah berkumpul. Maaf aku memanggil kalian mendadak. Ada hal mendesak yang harus kusampaikan."

"Jadi, ada insiden apa?"

Rain-san bertanya menanggapi ucapan Sang Ketua.

"Kalau disebut insiden, secara teknis ini memang sebuah insiden."

"Vince-san, biarkan aku saja yang bicara."

Saat Sang Ketua dengan wajah lelah hendak menjawab pertanyaan Rain-san, Orn-san yang berada di sampingnya angkat bicara.

Sang Ketua hanya menjawab "Baiklah" dan menyerahkan kelanjutannya kepada Orn-san.

(Tapi, Orn-san terasa berbeda dari biasanya. Apanya yang beda, ya?)

Sambil berpikir begitu, aku memperhatikan Orn-san dan menyadari kejanggalannya.

Pakaiannya.

Sejak bergabung dengan Night Sky Silver Rabbit, Orn-san selalu memakai seragam klan. Namun sekarang penampilannya berbeda.

Lalu, biasanya Orn-san memanggil Sang Ketua dengan sebutan 'Ketua'. Tapi tadi dia memanggilnya dengan nama aslinya.

Kenapa ya? Aku merasa punya firasat yang sangat buruk……

"Tidak perlu bertele-tele, aku akan mengatakannya dengan singkat. —Mulai hari ini, aku keluar dari Night Sky Silver Rabbit."

………………Eh?

"…………Maaf, Orn. Sepertinya aku salah dengar. Bisa tolong ulangi sekali lagi?"

Suara Wilks-san jelas-gelar bergetar.

Bukan cuma aku, semua orang di ruangan itu menunjukkan ekspresi tidak percaya.

Tentu saja begitu. Orn-san keluar dari Night Sky Silver Rabbit? Kenapa?

"Aku bilang, aku keluar dari Night Sky Silver Rabbit."

"Kenapa…… Kenapa mendadak sekali……!?"

Kakak tampak panik dan langsung menghujani Orn-san dengan pertanyaan.

"Ada banyak alasan, tapi alasan utamanya adalah karena ingatanku telah kembali."

"Ingatanmu... kembali? Apa selama ini Orn-kun amnesia? Aku baru pertama kali mendengarnya."

"Ya. Tapi aku sendiri tidak menyadarinya, karena ingatan yang hilang adalah ingatan masa kecil. Jadi ini bukan kejadian baru-baru ini."

"Bagaimana mungkin kembalinya ingatan masa kecil bisa berujung pada pengunduran diri dari klan?"

"Itu karena aku harus kembali ke organisasi tempatku seharusnya berada."

"Organisasi tempat Orn seharusnya berada...?"

"Amunzerath."

"—!"

Semua orang di ruangan itu—kecuali Orn-san—tersentak tertahan.

Pikiranku sudah tidak mampu lagi mengejar kenyataan ini. Orn-san bagian dari Amunzerath?

Organisasi kriminal pembunuh penjelajah itu?

Sama dengan orang-orang yang menyerang kami saat penaklukan lantai tiga puluh Labirin Besar Selatan dulu?

"I-itu tidak mungkin!" teriak Log dengan suara keras.

"Sebab, orang-orang Amunzerath itu mencoba membunuh Guru! Waktu itu kita semua memang selamat, tapi Guru sendiri yang bilang, 'Ada kemungkinan kita semua bisa mati'!"

"Itu hanyalah kesalahpahaman akibat manipulasi musuh. Saat itu, kami benar-benar dijebak."

"Bohong... Itu bohong! Aku tidak percaya! Karena kalau apa yang Guru katakan itu benar, berarti kita ini musuh, kan! Aku tidak mau!"

Carol berseru sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Memang benar Amunzerath adalah musuh para penjelajah. Apa yang telah dilakukan organisasi itu selama ini benar-benar tidak bisa dimaafkan. Tapi itu juga salahku. Karena sepuluh tahun lalu aku kalah dari musuh dan ingatanku dirampas."

"Sepuluh tahun lalu... kalah...? Jangan-jangan, Orn-kun... Tidak mungkin... Tapi... kalau begitu..."

Rain-san menggumam dengan tubuh yang gemetar hebat.

"Aku rasa aku mengerti apa yang Rain-san pikirkan sekarang. Karena itu, izinkan aku mengatakannya. —Ini bukan salahmu. Membunuh semua orang di desa adalah dosa mereka. Rain-san tidak perlu menyalahkan diri sendiri."

Orn-san berbicara dengan nada suara yang sangat lembut kepadanya.

Namun, Rain-san terus menangis, matanya terbuka lebar. Dia tampak sangat ketakutan, seperti baru saja melihat sesuatu yang mustahil, atau seperti rahasia yang paling dalam telah terbongkar.

"Ternyata benar... Kalau begitu, aku telah membunuh orang tua dan teman-teman Orn-kun...? ...Ma-maaf. Maafkan aku, maafkan aku—"

Rain-san jatuh terduduk dan terus membisikkan kata maaf berulang kali.

Orn-san mendekati Rain-san, berjongkok, dan meletakkan tangannya dengan lembut di bahu wanita itu.

"Tidak apa-apa. Aku benar-benar tidak keberatan. Yang bersalah adalah mereka yang memaksamu terlibat. Aku tahu Rain-san tidak punya niat buruk."

"Jangan memaafkan orang sepertiku semudah itu... Ini salahku... Meskipun Orn-kun memaafkanku, tetap saja aku... aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri...!"

"……Kalau begitu, mari kita sepakati ini. Di masa depan, mungkin akan ada saatnya aku membutuhkan kekuatan Rain-san. Jadi saat itu tiba, tolong pinjamkan kekuatanmu. Terus menyalahkan diri sendiri tidak akan membawa mereka kembali. Aku tidak ingin melihat Rain-san hanya menyakiti diri sendiri tanpa tujuan."

"Orn-kun... Terima kasih... Maafkan aku... Jika saatnya tiba, aku akan melakukan apa pun... Jadi jangan ragu untuk menggunakanku..."

Kami hanya bisa terdiam melihat interaksi antara Orn-san dan Rain-san.

Aku tahu ada sesuatu yang hanya dipahami oleh mereka berdua, tapi aku sama sekali tidak punya gambaran apa itu sebenarnya.

...Tapi, saat melihat mereka berdua dari dekat seperti ini, entah kenapa mereka terasa mirip. Mengapa aku berpikir begitu? Apakah karena mereka berdua berambut hitam dan memiliki warna mata biru yang serupa?

Aku pernah dengar kalau warna rambut dan mata itu mudah diwariskan secara genetik. Itu cuma kebetulan, kan?

"Jadi, Orn. Apa kau serius soal keluar dari klan?"

Setelah Rain-san sedikit lebih tenang, Wilks-san kembali bertanya pada Orn-san.

"……Ya. Aku tidak akan bercanda soal hal seperti ini."

"Artinya, kau akan menjadi musuh kami?"

Suasana di ruangan itu seketika menjadi tegang mendengar pertanyaan Wilks-san. Di tengah ketegangan itu, Orn-san perlahan menggelengkan kepalanya.

"Mungkin terdengar egois setelah aku bilang akan keluar dari klan, tapi aku ingin kita tetap berteman meski aku sudah tidak di sini lagi. Namun, aku memang akan bermusuhan dengan Night Sky Silver Rabbit."

"Apa maksudnya? Tetap berteman, tapi bermusuhan dengan klan?"

Kakak memiringkan kepalanya. Lebih tepatnya, aku rasa kami semua tidak paham apa yang dimaksud Orn-san.

"Mulai sekarang, aku akan bergerak secara mencolok untuk menghancurkan Ordo Cyclamen. Jika aku tetap berada di Night Sky Silver Rabbit, itu hanya akan menyusahkan anggota klan yang lain. Karena itu, aku ingin membuat Ordo percaya bahwa aku dan Night Sky Silver Rabbit telah memutuskan hubungan."

"Guru akan bertarung melawan Ordo?"

"Ya. Aku punya dendam pribadi dengan mereka. Aku ingin menyelesaikannya dengan tanganku sendiri. Aku tidak bisa melibatkan kalian semua dalam keegoisanku."

"Kalau begitu aku juga akan ikut bertarung! Aku juga punya dendam dengan Ordo!"

"Aku juga akan bertarung!"

"A-aku juga!"

"Jangan sungkan begitu, Orn. Kalau kau bilang, kami pasti akan meminjamkan kekuatan kami!"

"Benar! Aku sudah tidak mau lagi kehilangan teman. Biarkan kami bertarung bersamamu!"

"Orn adalah temanku—teman berharga kami. Jika teman kami bertarung, kami juga akan ikut bertarung!"

Semua orang mengikuti pernyataan Carol. Ya, benar. Mungkin ini akan menjadi pertarungan yang berat, tapi kalau kita semua bersama, pasti bisa!

Orn-san tampak terkejut, seolah reaksi kami di luar dugaannya. Perlahan, ekspresi itu berubah menjadi senyuman.

"Semuanya, terima kasih."

Semua orang merasa lega mendengar kata-kata Orn-san. Syukurlah. Dengan begini, kita tidak perlu berpisah dengan Orn-san.

Namun, saat aku berpikir begitu, senyum Orn-san seketika menghilang.

"—Tapi, tidak bisa."

Dia melontarkan kata-kata penolakan.

"……Kenapa?"

"Aku sangat menghargai tawaran bantuan kalian. Tapi, jika kalian ingin membantuku, aku ingin kalian bertarung di tempat yang berbeda dari pertempuranku melawan Ordo."

"Tempat yang berbeda?"

"Ya. Tempat itu adalah Labirin Besar. Yang ingin aku minta dari kalian adalah menaklukkan Labirin Besar Selatan."

"Menaklukkan Labirin Besar... Apa itu artinya bertarung bersamamu?"

"Ya. ……Mulai sekarang, dunia akan dilanda kekacauan besar. Akan ada saat-saat di mana akal sehat tidak lagi berlaku. Kunci untuk meredam semua itu adalah penaklukan Labirin Besar."

"Orn, apa sebenarnya yang kau lihat...?" tanya Kakak pada Orn-san.

"Mungkin, masa depan yang sedikit lebih jauh. Aku memprediksi bahwa ke depannya, dunia akan sangat membutuhkan penaklukan Labirin Besar. Lagipula, menaklukkan Labirin Besar adalah tujuan awal klan ini, kan?"

"Memang benar, tapi..."

"Aku percaya klan ini bisa mengubah badai besar menjadi angin pendorong. Karena itu aku memohon pada kalian. Atas nama kekuatan Night Sky Silver Rabbit, tolong selesaikan penaklukan Labirin Besar Selatan."

"……Itukah yang kau inginkan dari kami?" Kakak bertanya sambil menatap lurus ke arah Orn-san.

"Ya. Cepat atau lambat, seseorang harus menaklukkan Labirin Besar itu. Jika begitu, aku ingin teman-temanku dari Night Sky Silver Rabbit yang melakukannya."

Kakak sempat menundukkan matanya dengan sedih sejenak, namun segera menatap Orn-san dengan pandangan yang kuat.

"Begitu ya. Baiklah. Sebenarnya aku ingin menaklukkan Labirin Besar bersamamu. Tapi tekadmu sudah bulat, kan?"

Orn-san mengangguk mantap menanggapi pertanyaan Kakak.

"Kalau begitu, serahkan penaklukan Labirin Besar pada kami! Kami pasti akan menyelesaikannya! Jadi kau juga, tuntaskanlah apa yang harus kau kerjakan."

"……Terima kasih, Selma-san. Aku juga tidak akan pernah menyerah. Aku berjanji akan memberikan seluruh jiwa dan ragaku sampai akhir."

Setelah itu, Orn-san menceritakan apa yang kemungkinan akan terjadi dan apa yang sedang dia coba lakukan. Itu adalah masa depan yang bahkan tidak pernah terlintas dalam mimpi.

"……Satu tahun sejak bergabung dengan Night Sky Silver Rabbit benar-benar menyenangkan. Terima kasih telah menerimaku sebagai teman. —Selma-san."

"……Ada apa?"

"Terima kasih telah mengajakku yang diusir dari kelompok Pahlawan untuk melakukan eksplorasi bimbingan. Tanpa itu, hari-hari menyenangkan seperti ini tidak akan pernah datang. Aku tidak bisa cukup berterima kasih padamu."

"Akulah yang harus berterima kasih. Kami bisa menghancurkan tembok yang menghalangi kami selama ini pastinya berkat bantuan Orn. Rasanya sepi karena tidak bisa bersamamu lagi, tapi mari kita sama-sama berjuang ke depannya."

Setelah Kakak dan Orn-san saling mengangguk, Orn-san mengalihkan wajahnya ke arah Rain-san.

"—Rain-san."

"……Apa?" Rain-san menunggu kata-kata Orn-san sambil sesenggukan.

"Sebenarnya, aku merasa sangat terselamatkan oleh kata-katamu saat kita mengalahkan Naga Hitam di Divisi Pertama dulu. 'Jangan takut, aku akan menerimamu apa adanya'. Terima kasih telah mengulurkan tangan padaku saat aku sedang takut untuk menjalin pertemanan."

"Itu sudah sewajarnya. Aku kan 'Kakak'-mu. Beritahu aku kalau kau butuh kekuatanku, ya. Aku akan membantu dalam hal apa pun."

"Itu sangat membesarkan hati. —Lucre."

"Apa ya yang bakal dibilang buatku~?" Ketika Orn-san memanggil Lucrezia-san, dia tampak sangat bersemangat.

"Aku selalu terbantu oleh keceriaan Lucre. Suasana nyaman di Divisi Pertama pastinya tercipta berkat bantuan Lucre. Eksplorasi labirin bersamamu selalu menyenangkan. Terima kasih."

"Duh, dipuji setinggi langit begitu bikin aku malu~. Aku juga sangat senang eksplorasi labirin bareng Orn-kun! Kalau semuanya sudah beres, mari kita eksplorasi labirin bareng lagi, ya!"

"Ya. —Will."

"……Yo."

"Kita sering melakukan hal-hal konyol berdua, ya. Sejak menjadi penjelajah, aku hampir selalu menghabiskan waktu di dalam labirin, jadi tempat-tempat yang kau kunjungi bersamaku semuanya terasa segar. Terima kasih telah mengajarkan banyak hal padaku."

"Aku cuma mengajakmu ke tempat-tempat yang ingin kukunjungi secara sepihak saja, sih. Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke lebih banyak tempat lagi. Seperti kata Lucre, setelah semuanya berakhir, bersiaplah untuk aku ajak berkeliling ke berbagai tempat lagi."

"Tentu. —Sophie."

"Ya, baik!"

"Sophie adalah orang yang sangat pekerja keras, sampai-sampai ada banyak hal yang aku rasa harus kupelajari darimu. Kau pernah menceritakan mimpimu di Dal'uane, kan? Meskipun jalannya akan sangat berat, aku yakin Sophie bisa menjadi 'Seseorang yang bisa menyinari semua orang, seperti rembulan yang menyinari malam'."

"……Te-terima kasih banyak. Alasan aku berada di sini sekarang, dan alasan aku bisa menemukan tujuanku, adalah berkat Orn-san. Aku berutang budi yang tidak akan pernah bisa kubalas. Suatu saat nanti aku pasti akan membalasnya, jadi tolong jangan lupakan aku—lupakan kami, ya!"

"Tentu saja. Aku tidak akan pernah lupa. —Carol."

"Hmm~?"

"Carol sudah berkembang sangat pesat secara mental dalam setahun ini. Setahun lalu kau terasa rapuh, tapi sekarang kau sudah menjadi orang yang hebat. Teruslah buat semua orang bahagia dengan senyum manismu itu. Tentu saja, dirimu sendiri termasuk dalam 'semua orang' itu, ya? Jangan lupakan itu."

"Aku tahu kok~! Sekarang aku akan terus tersenyum bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk diriku sendiri! Aku bisa berpikir begini juga berkat Guru! Terima kasih ya, Guru!"

"Sama-sama. —Log."

"……Ya."

"Kau memiliki bakat terbesar di antara semua penjelajah yang pernah kutemui. Tidak perlu dikatakan lagi, tapi jangan sampai kau menjadi tinggi hati karena bakat itu. Jika kau terus berkembang seperti ini, kau akan menjadi penjelajah terbaik. Aku, sebagai gurumu, menjamin hal itu."

"Terima kasih banyak... Guru, aku bersumpah! Aku akan menjadi jauh lebih kuat, mengejar dan melampaui anggota Divisi Pertama, dan aku akan menjadi penerus Guru sebagai jagoan utama Night Sky Silver Rabbit! Aku tidak akan memberikan posisi itu pada siapa pun!"

"Ya, berjuanglah. —Luna."

Ketika Orn-san memanggil Kak Lu, Kak Lu perlahan menggelengkan kepalanya.

"Orn-san tidak perlu mengatakan apa-apa kepadaku. Aku sudah mengatakannya di Dal'uane, kan? 'Aku akan menghormati pilihan Orn-san'. Silakan Orn-san maju di jalan yang kau yakini."

"……Terima kasih. Sangat membesarkan hati mendengar Luna berkata begitu."

Setelah itu, Orn-san bertukar kata dengan Estella-san dan Sang Ketua. Dia kembali menatap kami semua sekali lagi.

"Semuanya, sekali lagi terima kasih untuk semuanya. Satu tahun ini adalah harta karun bagiku. Aku serahkan penaklukan Labirin Besar pada kalian."

Kami semua menjawab perkataan Orn-san dengan perasaan masing-masing.

"Kalau begitu──── semuanya, jaga diri baik-baik."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Orn-san keluar dari ruangan.

Keheningan menyelimuti ruangan. Padahal aku sudah tidak bisa lagi bersama Orn-san, tapi rasanya masih belum nyata.

Aku merasa jika keluar dari ruangan ini, atau besok tiba, aku masih bisa mengobrol lagi dengan Orn-san. Padahal itu tidak mungkin.

Selama satu tahun ini, kehadiran Orn-san di dekat kami adalah hal yang wajar. Berpikir bahwa hal yang wajar itu tidak akan datang lagi, membuat hatiku terasa seperti berlubang besar.

"Orn-san..."

Suara yang tak sengaja keluar dari mulutku itu tidak sampai ke siapa pun, hanya lenyap begitu saja ke dalam kehampaan—.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close