NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 9 Chapter 6

Chapter 6

Tempat untuk Pulang


Dua hari telah berlalu sejak pertempuran berakhir.

Luka-luka masih membekas di sana-sini di Hanemiya, seperti atap yang runtuh dan jalanan batu yang hangus.

Namun, lebih dari itu, suara tawa orang-orang dan terangnya lampu-lampu menyelimuti kota ini.

Suara para pedagang yang menjajakan barang dagangan dan tawa anak-anak saling bersahutan.

Aku menyingsingkan sedikit lengan yukataku sambil melihat sekeliling. Hari ini adalah hari terakhir Festival Reibu.

Seharusnya, festival ini sudah meriah sejak hari pertama, tapi tahun ini keadaannya berbeda.

Akibat ritual pemanggilan dewa oleh Filly yang dimulai tiba-tiba pada hari pertama, monster yang disebut Phantom sempat muncul di Hanemiya.

Kami memang berhasil memukul mundur Filly, Phantom, dan Yata no Hebi yang muncul setelahnya, tapi kerusakan yang dibawa oleh para Phantom tidaklah sedikit.

Setelah pertempuran usai, kami menghabiskan waktu siang dan malam untuk membantu pekerjaan restorasi kota, dengan Nagisa sebagai pusatnya.

Sebenarnya, hari ini pun kami harusnya melanjutkan pekerjaan pemulihan itu.

Namun, Nagisa memutuskan, "Hari ini, mari kita laksanakan festival sesuai rencana!"

Ada suara-suara keberatan, tapi—

"──Justru karena ada kejadian menyedihkan, kita harus melakukannya. Aku tidak ingin kalian semua terus menunduk. Tidak apa-apa jika ada hari untuk meneteskan air mata. Tapi, hari untuk tertawa dan menatap ke depan pun sama pentingnya. Setidaknya di hari terakhir, aku ingin merayakan Festival Reibu seperti biasanya. Karena aku yakin, itu akan menjadi langkah pertama bagi negara ini untuk mulai berjalan kembali."

Tampaknya dia mengatakannya dengan nada bicara yang jarang sekali terdengar kuat darinya.

Kami tidak ada di lokasi saat itu, tapi Kiryuu-san menceritakannya kepada kami dengan wajah bahagia setelahnya.

"Awalnya ada penolakan, tapi…… karena tidak ada yang menyangka Nagisa-sama akan berkata seperti itu, semua orang jadi terperangah."

Fuuka, yang mendengarkan cerita itu bersamaku, juga terlihat senang. Meskipun ekspresinya sama sekali tidak berubah seperti biasanya.

Nagisa, yang kudengar biasanya agak pemalu dan bukan tipe orang yang suka menonjol, berdiri di depan puing-reruntuhan, memandang orang-orang dengan wajah berlumur debu, dan mengatakan hal itu. Itulah sebabnya sekarang lentera-lentera menyala di kota ini.

Luka-luka memang belum sembuh sepenuhnya. Meski begitu, pekerjaan restorasi dihentikan sejenak demi menyelenggarakan festival.

Ini adalah hasil dari semua orang yang mengangkat wajah mereka karena memercayai kata-kata gadis itu.

Matahari mulai terbenam, dan kegelapan malam mulai menyelimuti langit.

Suara tawa orang-orang yang berlalu-lalang tumpang tindih, dan musik festival terdengar mengalun lembut dari kejauhan.

"……Tidak buruk juga."

Oliver yang berada di sampingku mendadak tertawa kecil. Dia juga mengenakan yukata.

Sehelai pakaian yang terlihat berwibawa dengan kain berwarna indigo kelabu tua bermotif geometris kecil.

"Setuju. Punya nuansa yang berbeda dengan Festival Syukur di Tsutrail."

Saat aku mengatakannya, Oliver mengangguk sambil mengarahkan pandangannya ke kejauhan.

"Festival Syukur, ya. Mengingatkanku pada diriku tahun lalu."

"Soalnya kau terus-terusan bertindak ceroboh, seperti mengusirku dari party," kataku.

"Jangan bahas itu. Diriku saat itu benar-benar sebuah sejarah kelam (dark history) bagi hidupku……"

Oliver menunjukkan senyum pahit dan memalingkan wajahnya. Namun, ekspresinya terlihat seolah sudah merelakan masa lalu itu.

"Meskipun begitu, aku tidak berniat melimpahkan semua kesalahan pada Filly. Meski aku terkena Cognitive Alteration, yang mengambil keputusan terakhir tetaplah diriku sendiri. Jika saja aku terus memercayai Orn sejak awal, aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu."

"Begitu ya. Tapi, bisa dibilang karena Oliver melakukan itu, maka ada aku yang sekarang. Aku tidak tahu masa depan seperti apa yang menanti jika aku tidak diusir dari party, tapi aku──aku ingin bisa mengatakan bahwa jalan yang sekarang ini adalah jawaban yang benar."

Mendengar kata-kata itu, mata Oliver sedikit membelalak, lalu dia tertawa pahit.

"……Orn, sejak kau mendapatkan kembali ingatanmu, kau jadi bisa mengatakan hal-hal memalukan seperti itu dengan santainya, ya."

"……Mungkin saja."

Aku pun berpikir begitu. Jika itu aku yang dulu, aku pasti tidak akan bisa mengutarakan perasaan jujur seperti ini secara langsung.

Saat masih kecil, aku tidak bisa menceritakan impian atau kejujuranku karena takut akan reaksi orang tua dan teman-teman di desa.

Tapi sekarang, aku merasa sedikit berubah. Ada hal-hal yang tidak akan tersampaikan jika tidak diutarakan. Karena akhirnya aku menyadari hal sesederhana itu.

Tentu saja, bukan berarti aku harus mengatakan segalanya. Tapi, aku ingin bisa mengucapkan kata-kata yang memang seharusnya diucapkan dengan benar.

Saat aku sedang berpikir begitu, tiba-tiba di balik kerumunan orang, di tempat cahaya lentera bersilangan, dua sosok yang sangat mencolok muncul.

Rambut perak semi-panjang bergoyang seolah membiarkan butiran cahaya meluncur di atasnya, dan satu lagi rambut indigo panjang yang mengalir lembut ditiup angin malam.

"……Mereka datang."

Dari arah pandangan aku dan Oliver, Shion dan Luna berjalan ke arah kami.

Shion mengenakan yukata berwarna putih rembulan dengan motif bunga Nadeshiko dan Viola yang mekar, sebuah pakaian yang terlihat sejuk.

Melihatnya berjalan dengan raut wajah yang sedikit tegang, mataku secara alami tercuri. Perpaduan warna pucat itu sangat serasi dengan rambut peraknya, memancarkan kecantikan yang tenang.

Sedangkan Luna mengenakan yukata putih bermotif bunga Asagao berwarna biru muda dan indigo, dengan ikat pinggang obi berwarna emas pucat.

Rambut panjangnya diikat longgar, terlihat menawan di bawah cahaya lampu malam.

"……Maaf membuat kalian menunggu," kata Shion pelan sambil tersenyum malu-malu.

"Sama sekali tidak lama. Terlebih lagi, kalian berdua cocok sekali memakai yukata."

Saat aku mengatakannya dengan jujur, Shion tersenyum kecil untuk menutupi rasa malunya dan mengangguk.

"Begitu ya. ……Terima kasih. Tidak aneh, kan?"

"Malah aku sampai terpesona."

"……Duh, simpan kata-kata seperti itu untuk saat kita berdua saja."

Meskipun berkata begitu, senyum alami mengembang di sudut bibir Shion.

"Ehehe. Karena ini pertama kalinya aku memakai pakaian seperti ini, aku sempat cemas, tapi sekarang aku sedikit lega."

"Yukata kalian berdua juga cocok, lho. Oliver-san, Anda terlihat jauh lebih berwibawa dari yang kubayangkan," lanjut Luna sambil tertawa.

"Maksudmu aku terlihat seperti bapak-bapak?" tanya Oliver.

"Bukan begitu, tapi memang benar Oliver-san yang sebelumnya terasa agak berbahaya, dan sekarang kurasa Anda akhirnya sudah mulai tenang."

Bahu Oliver sedikit merosot.

"Bukan cuma Orn, Luna pun ikut menggali sejarah kelamku……"

"Yah, sesama orang yang pernah mengacau di masa lalu, mari kita tebus dengan kerja keras mulai sekarang," kata Shion.

"Nah, karena masih ada waktu sampai persembahan tarian Nagisa-san dan yang lainnya dimulai, mari kita berkeliling melihat kios-kios pedagang. Mau mulai dari mana?"

"Benar juga. Membeli apel karamel sudah pasti, selain itu mau ke mana lagi ya……"

"Apel karamel?" Luna memiringkan kepalanya. Shion kemudian memberi penjelasan.

"Direkomendasikan oleh Fuuka. Karena dia tidak bisa memandu kita karena persiapan tarian, dia berpesan berkali-kali kalau apel karamel sangat direkomendasikan."

"Rasanya itu lebih seperti perintah untuk membelikannya…… Mata Fuuka saat membicarakan apel karamel benar-benar sangat serius."

"Suasananya seperti dia bakal menebas kita kalau kita bilang 'lupa beli', ya."

Aku dan Shion yang mengingat Fuuka saat itu saling berpandangan dan tertawa.

"……Fuuka-san memang punya kesan selalu memakan sesuatu, ya. Memang sepertinya menyeramkan jika membuatnya marah soal makanan."

"Yah, itu berarti dia seserius itu. Dalam satu sisi, mungkin dia yang paling menantikan festival ini."

"Karena tidak bisa bergerak bebas karena tarian, setidaknya dia ingin menikmati makanannya."

"Kalau begitu, diputuskan apel karamel dulu. Berarti sembilan buah untuk kita semua?"

Saat Oliver menyebutkan jumlahnya, Shion tersenyum pahit.

"Kau pikir Fuuka akan puas dengan satu buah? Anak itu setidaknya butuh tiga buah."

"Memesan sebanyak itu sekaligus akan merepotkan penjualnya. Mari kita beritahu pemilik kios sebelumnya agar dia bisa menyiapkannya. Bagaimana kalau kita membelinya tepat sebelum menuju Kuil Tenrei?" Luna merangkum saran tersebut, dan tidak ada yang keberatan.

◆◇◆

Begitu keluar ke jalan besar, kami segera menemukan kios yang dituju. Setelah meminta paman penjaga kios untuk menyiapkan apel karamel sebelum tarian persembahan dimulai, dia menerimanya dengan senang hati.

"Nah, sekarang mari kita nikmati festivalnya juga."

Sejak kata-kata itu terucap, langkah kaki kami terasa lebih ringan. Tempat pertama yang kami datangi adalah kios undian.

Di dalam kotak kayu besar, terdapat bola warna-warni yang penuh, dan hadiahnya mulai dari boneka, aksesori, hingga alat sihir yang entah kenapa terlihat sangat mewah.

Mata Oliver tertuju pada salah satunya.

"Cincin emas berkilau begitu, pasti tidak ada yang mau, kan?" sela Shion sambil terkekeh.

"Kelihatannya memang begitu…… tapi aku merasa sepertinya itu bisa berguna."

"Kau ini dari dulu memang suka memungut alat sihir aneh, ya," aku teringat saat Oliver masih berada dalam party yang sama, dia sering membeli alat sihir yang membuatku ingin bertanya 'apa kegunaannya?'.

"Kalau begitu, mari kita bertaruh siapa yang bisa mendapatkan hadiah terbaik?"

"Kedengarannya menarik."

"Urutannya bagaimana?"

"Mau tarik bersamaan setelah aba-aba?"

Atas usul Shion, semua orang mengangguk dan berbaris di depan kotak kayu. Setelah membayar, masing-masing memasukkan tangan ke dalam kotak dan memejamkan mata.

"Satu, dua!"

Bersamaan dengan aba-aba itu, kami berempat menarik keluar bola.

"……Putih."

"Putih……"

"Aku juga putih."

"……Aku dapat merah."

Memecah keheningan sesaat, pandangan semua orang tertuju pada warna bola yang ditarik Luna.

"Benar-benar ditarik, ya……"

Saat aku bergumam, pemilik kios juga mengangguk dengan senyum lebar.

"Nona, hebat sekali! Hadiah utamanya adalah…… ini!"

Dengan penuh semangat, dia menyodorkan cincin emas berkilau "itu" yang sedari tadi mencuri perhatian.

"……Aku tidak menyangka benar-benar akan menang."

Luna tersenyum agak canggung sambil meletakkan cincin yang desainnya sangat mencolok itu di telapak tangannya.

"Bagaimana ya…… ini agak terlalu mencolok untukku."

Sambil berkata begitu, dia melirik Oliver. Menyadari tatapan itu, Oliver sedikit mengangkat alisnya.

"……Ada apa?"

"Tidak, karena aku tidak akan memakainya. Yang tertarik dengan tampilannya tadi Oliver-san, kan?"

Saat Luna mengatakannya dengan nada sedikit menggoda, Oliver sempat membuka mulut hendak bicara, lalu menutupnya kembali. Dia memalingkan wajahnya sedikit.

"……Memang aku sedikit penasaran. Tapi kalau diberikan seperti ini, rasanya aku seperti kalah."

"Sudahlah, tidak apa-apa. Terimalah dengan jujur."

Luna terkekeh dan meletakkan cincin di tangannya ke tangan Oliver dengan lembut. Gerakannya terlihat santai, tapi entah kenapa terlihat sangat manis.

"Terima kasih…… akan kuterima." Oliver bergumam pelan.

Selanjutnya, kami mencoba permainan menembak sasaran (Shooting Gallery).

Sasarannya adalah botol, lonceng, dan ukiran kayu binatang yang sangat mendetail, terlihat lebih sulit dari kelihatannya.

"……Sama sekali tidak jatuh."

Shion mengerang pelan. Dia menatap tajam hadiah yang tidak bergeming sedikit pun meski ketiga tembakannya kena.

"Padahal kalau pakai sihir, semuanya bisa kutembak jatuh."

"Jangan bicara begitu di sini."

Saat aku tertawa pahit, Shion memajukan bibirnya dengan kesal.

Berikutnya kami menuju kios pancing ikan mas. Aku dan Shion langsung menenggelamkan jaring kertas (poi) kami setelah merobeknya dua-tiga kali.

Luna juga melakukannya dengan hati-hati, tapi tampaknya sulit menangkap triknya. Di tengah situasi itu, Oliver dengan tenang menjulurkan lengannya──.

"Hop!"

Dengan gerakan tangan yang tenang, dia menangkap satu ekor, lalu satu ekor lagi, dan akhirnya berhasil mendapatkan tiga ekor.

"……Bakat Oliver yang sangat tidak terduga."

Mendengar komentar Shion, Oliver memalingkan wajahnya dengan sedikit canggung.

  Tempat terakhir yang kami datangi adalah kios cetak gula (Katanuki). Sebuah permainan yang lebih sulit dari kelihatannya, di mana kami harus mengukir permen gula dengan hati-hati untuk memotong bentuk yang ditentukan dengan rapi.

"Wah, pecah."

"Pecah lagi."

"……Sulit ya, ini."

Di saat ketiganya berguguran satu per satu, aku mengukir cetakan itu dengan tekun dan dalam sekejap berhasil memotong bentuknya.

"……Hebat."

"Bisa berhasil di percobaan pertama, seperti yang diharapkan……"

Meski Shion mengatakannya dengan nada terperangah, matanya sedikit menyipit senang. Luna juga mengangkat bahu sambil tersenyum.

"Ini bisa dapat hadiah, kan?"

Saat aku menyodorkan cetakannya, pemilik kios mengangguk.

"Oh! Ambillah hadiah yang kau suka di sana."

Di antara hadiah yang dijajarkan, ada satu yang sangat mencolok. Sebuah hiasan kristal salju kecil yang terbuat dari batu putih kebiruan yang transparan. Aku memilihnya tanpa ragu.

"Kalau begitu, saya ambil yang ini."

"Hei, apa yang kau dapat?" Shion memiringkan kepalanya sedikit untuk mengintip.

"……Ini."

Aku memberikan hiasan kristal yang kuambil itu ke tangan Shion dengan lembut.

"Eh?"

"Aku rasa ini cocok untukmu. Kalau tidak keberatan, terimalah."

Mendengar itu, Shion berkedip kaget sejenak, lalu pipinya sedikit memerah dan dia mengangguk.

"……Iya. Terima kasih. Aku sangat senang."

Shion memeluk hiasan yang diterimanya dengan kedua tangan seolah-olah itu barang berharga, sambil tersenyum tenang.

Melihat itu, aku pun secara alami membalas senyumnya. Lalu, terdengar suara pelan dari tempat yang agak jauh.

"……Tadi itu sengaja, kan?"

"Sengaja, sih. Seratus persen."

"Tapi, itu terasa seperti gaya Orn-san, ya."

"……Aku bisa mendengar kalian, lho."

Aku tertawa pahit dan menoleh sedikit ke belakang bahuku. Warna malam perlahan semakin pekat. Waktu untuk tarian persembahan sudah dekat.

"Nah, mari kita menuju Kuil Tenrei."

Saat aku memanggil mereka, ketiganya mengangguk pelan. Kami membeli apel karamel di tengah jalan, lalu melangkah menuju Kuil Tenrei.

◆◇◆

Halaman Kuil Tenrei diselimuti oleh atmosfer yang agung. Di ujung jalan setapak batu yang tertata rapi, api lentera bergoyang ditiup angin, dan bangunan kuil berdiri dengan tenang.

Meski ada hiruk-pikuk suara orang-orang, suaranya terdengar seperti sedang berbisik.

Banyak orang sudah berkumpul di depan panggung kayu (Yagura) yang didirikan di samping bangunan utama kuil.

Kami juga berdiri di luar lingkaran kerumunan itu, memegang apel karamel, sambil menunggu saat dimulai.

"……Luar biasa. Begitu banyak orang yang berkumpul."

Luna bergumam pelan. Mendengar suaranya, Oliver juga menyempitkan matanya dan menyahut.

"Itu berarti festival ini adalah acara yang sangat penting bagi orang-orang di negara ini."

Saat itulah, terdengar suara yang sangat kukenal dari balik kerumunan.

"Ooi, Orn dan yang lainnya!"

Saat menoleh, aku melihat sosok Haruto-san yang berjalan ke arah kami sambil melambaikan tangan.

Di belakangnya menyusul Katina-san dan Huey-san.

 Ketiganya masih memakai pakaian ringan yang mudah digunakan untuk bergerak, namun ekspresi mereka cerah.

"Kalian bertiga ada di sini. Kupikir kalian akan berada di sana sebagai pihak penyelenggara."

"Posisi kami saat ini sedang agak rumit. Nah, hari ini kami akan menonton dengan tenang dari sini."

"Begitu ya. Ah, benar juga. Mau apel karamel? Katina-san dan Huey-san juga mau?"

"Oh, makasih. Nostalgia sekali ya~"

Wajah Haruto-san melembut saat menerima apel karamel.

"Aku membelinya atas saran Fuuka. Ternyata enak, ya."

"Itu karena ini makanan favoritnya. Dulu aku juga sering disuruh pergi membelinya beberapa kali."

Ekspresi Haruto-san saat mengatakan itu terlihat sangat lembut.

Tanpa disadari, orang-orang di sekeliling mulai memusatkan perhatian ke panggung.

Api unggun dinyalakan secara serentak, memberikan cahaya redup pada panggung kayu.

Suara lonceng Kagura bergema, dan kerumunan orang perlahan menjadi sunyi senyap.

Dari balik panggung, dua gadis mengenakan pakaian Miko (gadis kuil) muncul.

Salah satunya adalah putri negara ini saat ini──Nagisa Asagiri.

Yang satunya lagi mengenakan topeng rubah──Fuuka Shinonome.

Orang-orang sedikit gaduh melihat hal itu. Dari suara-suara mereka, tampaknya mereka bingung karena di tempat yang biasanya hanya diduduki Nagisa sendirian, kini ada orang asing yang bersamanya.

Nagisa melangkah maju satu langkah lagi. Dia menegakkan punggungnya dan membuka suara dengan nada bicara yang jelas.

"Semuanya──terima kasih telah berkumpul hari ini. Sekarang, kami akan mempersembahkan tarian untuk menyucikan negara ini dan agar kita bisa melangkah maju kembali."

Mendengar suara itu, kegaduhan perlahan mereda.

"Namun, sebelum mempersembahkan tarian, izinkan aku berbicara sedikit. Pada Festival Reibu tahun ini, ada hal yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Yaitu, di hari pertama festival, monster muncul di kota Hanemiya ini."

Udara di halaman kuil menjadi tegang seketika mendengar kata-kata Nagisa. Semua orang teringat akan kejadian mengerikan itu.

"Phantom yang menyerang kota, dan ular raksasa dalam mitos──Yata no Hebi. Semuanya lahir dari Miasma yang tidak bisa disegel. Dan…… alasannya juga ada pada masa lalu kita."

Nagisa menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya lagi.

"Beberapa tahun yang lalu, negara ini menghadapi perubahan besar. Ayahku menentang tirani keluarga utama saat itu, keluarga Shinonome, dan melakukan pemberontakan."

Ekspresi orang-orang mengeras. Itu adalah sejarah yang diketahui semua orang, atau begitulah yang diberitahukan kepada mereka.

"Di akhir pertempuran itu, keluarga Shinonome dikalahkan. Dan ayahku juga kehilangan nyawanya. Aku pun memikul negara ini sebagai putri dengan meneruskan wasiat ayahku."

Suara Nagisa tidak bergetar. Dia hanya bercerita dengan tenang sebagai sebuah fakta.

"……Namun, ritual Festival Reibu yang kulakukan sejak menjadi putri adalah ritual yang tidak sempurna. Aku bukanlah seorang putri. Aku hanyalah seorang Miko yang mempersembahkan tarian."

Sampai di situ, pandangan orang-orang kembali tertuju pada gadis bertopeng rubah yang berdiri di sampingnya. Lalu Nagisa berkata dengan tegas.

"Dan orang ini adalah putri yang sebenarnya──Fuuka Shinonome."

Setelah keheningan sesaat, suasana menjadi riuh rendah.

"Shinonome katanya!?"

"Putri……?"

"Apa dia asli?"

Guncangan, kebingungan, dan keraguan menjalar di halaman kuil. Nagisa dan Fuuka tidak mundur selangkah pun, menerima semua tatapan itu.

"Meskipun dia terusir dari negara ini akibat pemberontakan itu, dia muncul kembali dan bertarung melawan monster──menyelamatkan kota ini, menyelamatkan negara ini. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Di saat semua orang gemetar ketakutan, dia tidak mundur selangkah pun, mengayunkan pedang yang seperti bunga sakura, dan mengalahkan Yata no Hebi! Kalian semua pasti juga melihatnya hari itu!"

Aku teringat pada adegan itu. Punggung seorang gadis yang berdiri di depan siapa pun, berusaha melindungi negara ini dengan lebih serius daripada siapa pun.

"……Aku tidak berniat menyangkal perasaan kalian terhadap orang-orang Shinonome. Namun, dia yang berdiri di sini sekarang, sejauh yang kulihat, adalah orang yang berjuang demi negara ini lebih dari siapa pun!"

Suara Nagisa bergema kuat dan jelas.

"Apa yang dilakukan keluarga Shinonome di masa lalu──"

Nagisa berhenti sejenak, menerima tatapan para penonton dengan lugas.

"……Apakah itu benar atau salah, aku tidak tahu."

Dia sedang berbohong. Pasti hampir tidak ada yang menyadari hal itu. Suara Nagisa terasa sangat serius.

"Tapi──Kakak Fuuka berbeda!"

Suaranya menjadi sedikit lebih keras. Perasaan yang ada di dadanya langsung tersampaikan lewat kata-katanya.

"Kakak bukanlah musuh bagi siapa pun, dia telah mengayunkan pedangnya…… demi negara ini."

Pandangan Nagisa beralih lembut ke arah topeng rubah di sampingnya.

"Itu adalah fakta yang tidak bisa diubah."

Terdengar suara seseorang di antara penonton yang menahan napas pelan. Angin malam menggoyang lidah api unggun. Dalam keheningan, suara Nagisa kembali bergema.

"Semuanya, kumohon…… tolong terimalah dia."

Tidak ada keraguan dalam kata-kata itu. Suara yang penuh tekad itu seolah terserap ke langit malam.

──Nagisa tidak menceritakan kebenaran yang sesungguhnya. Tirani oleh keluarga Shinonome itu sebenarnya tidak pernah ada.

Pemberontakan tersebut dibenarkan melalui informasi yang diputarbalikkan.

Ayahnya pasti mengangkat pedang tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

Namun Nagisa tidak mencoba membalikkan fakta itu. Tetap berdiri di atas kebohongan, dia memilih "masa kini" daripada kebenaran.

Dia percaya bahwa itulah jalan terbaik untuk membuat Fuuka diterima tanpa menimbulkan kekacauan.

"Ta-tapi keluarga Shinonome dulu……"

"Apa tirani akan dilakukan lagi……"

Kegaduhan kembali meluas. Rasa cemas dan kecurigaan mulai beriak di antara orang-orang seperti gelombang.

Saat itulah, di atas panggung, gadis yang perlahan melepas topeng rubah putihnya melangkah maju. ──Fuuka Shinonome.

Mata hitamnya terpantul cahaya lentera, memandang kerumunan dari atas panggung. Ekspresinya tenang, namun menyimpan kekuatan di dalamnya.

"……Aku tidak berniat kembali ke takhta putri."

Suaranya tidak keras. Namun anehnya, suaranya terdengar jelas sampai jauh, membuat kegaduhan berangsur-angsur reda.

"Semuanya telah bertarung demi keadilan, mengalahkan keluarga Shinonome, dan membangun negara yang sekarang. Menurutku, tindakan itu memiliki makna."

Fuuka menunduk sejenak. Namun, dia segera mengangkat wajahnya dan melanjutkan dengan tegas.

"……Aku tahu jika aku kembali ke negara yang sekarang ini, kekacauan akan terjadi dan perpecahan akan muncul. Karena itu, aku tidak berniat menyela ke sana."

Ada tekad yang jelas dalam kata-kata itu.

"Hanya satu hal yang kuharapkan. Agar negara ini terus berada dalam kedamaian."

Ekspresi orang-orang mulai berubah sedikit demi sedikit.

"Dan jika boleh dikabulkan──"

Mata Fuuka bersinar lebih tenang dan kuat.

"──Aku akan merasa senang, jika kalian mengakui tempat ini sebagai rumah tempatku pulang."

Setelah dia selesai berbicara, angin berhembus pelan. Rambutnya bergoyang lembut, seperti kelopak bunga sakura yang menari di langit malam.

Semua orang terpaku menatap sosok itu.

Bukan sebuah kebohongan. Bukan pula sekadar hiasan. Mereka melihat sosok seorang gadis yang mengutarakan "perasaan" sejujurnya dengan sangat lugas.

Siapa pun yang berada di sana tidak ada yang sanggup mengeluarkan suara dalam waktu singkat.

Keheningan itu akhirnya pecah oleh suara seorang lelaki tua.

"……Saat itu, aku ikut serta dalam peperangan. Aku kehilangan banyak kawan dan juga rumah. Karena itulah, bahkan sampai sekarang, aku tidak bisa melupakan malam itu begitu saja. Tapi……"

Lelaki tua itu perlahan mendongak menatap Fuuka.

"Melihatmu hari ini, aku merasa hatiku sedikit melunak."

Tidak ada nada menyalahkan dalam suara itu.

"Aku tidak akan lupa bahwa tempo hari kau telah menyelamatkan cucuku dari monster itu. ……Terima kasih."

Seolah kata-kata itu menjadi pemantiknya, suara-suara lain mulai terdengar satu per satu.

Suara-suara itu saling bersahutan, dan perlahan, atmosfer para penonton mulai berubah. Aura penolakan pun berangsur-angsur memudar.

Seorang anak kecil menarik tangan orang tuanya sambil menunjuk ke arah Fuuka dan melambai kecil. Tak lama kemudian, entah dari mana asalnya──tepuk tangan mulai terdengar.

Satu orang, lalu orang lainnya ikut serta. Tepukan tangan yang awalnya ragu-ragu, kini mulai menciptakan irama yang nyata.

Suara itu kian menguat dan menyebar ke seluruh halaman kuil.

Itu bukanlah tepuk tangan sambutan atau pujian, melainkan tepuk tangan sunyi yang seolah berkata, 'kami mengakuimu ada di sini bersama kami'.

Di atas panggung, Fuuka tidak bergeming. Namun, matanya sedikit bergetar.

Bibirnya pun perlahan membentuk senyuman yang sangat tipis. Aku mendengar suara seseorang sesenggukan di sampingku, tapi aku pura-pura tidak dengar.

Lalu, Nagisa kembali melangkah ke depan.

"Setelah ini──aku akan mempersembahkan tarian."

Begitu Nagisa mengumumkannya, keheningan kembali menyelimuti halaman kuil.

Api unggun yang menyala menerangi panggung, dan atmosfer suci pun memenuhi udara.

"Sebenarnya…… pada hari pemberontakan itu terjadi, aku yang tidak percaya diri dengan tarianku……"

Nagisa mengarahkan pandangannya sedikit ke arah Fuuka. Dia menggerakkan bibirnya dengan hati-hati, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat.

"Aku sudah berjanji untuk mempersembahkan tarian bersama dengan Kakak Fuuka."

Itu adalah sebuah pengakuan yang sunyi. Semua penonton menahan napas dan mendengarkan dengan saksama.

"Namun, janji itu tidak pernah terpenuhi, dan aku ditinggalkan sendirian."

Nagisa meletakkan tangannya dengan lembut di dadanya. Di sana tersimpan penyesalan yang terus dia bawa sejak dia masih kecil.

"Hal itu terus menjadi…… salah satu penyesalan di hatiku."

Dia memejamkan mata, lalu kembali menatap ke arah penonton.

"Karena itu, ini hanyalah──egoisme pribadiku saja."

Mendengar kata-kata itu, Fuuka sedikit menunduk. Nagisa kemudian berkata dengan suara yang sangat tegas.

"Kumohon, hanya untuk hari ini saja…… izinkan aku mempersembahkan tarian bersama dengan Kakak Fuuka."

Angin malam berembus lembut seolah membelai jarak di antara mereka berdua. Janji yang tidak terpenuhi pada hari itu, kini akhirnya akan dijalin kembali.

◆◇◆

Suara lonceng Kagura kembali bergema pelan di halaman kuil. Lidah api unggun sedikit bergoyang, dan seakan merespons hal itu, angin membelai lembut bagian atas panggung.

Tarian pun dimulai.

Kedua gadis itu melangkah maju satu langkah dengan tenang, menyelaraskan napas mereka. Pakaian Miko berwarna putih dan merah tua bergoyang, menciptakan jejak fantasi di bawah cahaya lentera.

Nagisa bergerak lebih dulu. Dia mengangkat tinggi lonceng Kagura di tangannya, membunyikannya dengan nyaring sambil melangkah menari dengan teliti.

Gerakannya terlihat bersahaja namun anggun, membawa ketenangan yang menyejukkan hati.

Selanjutnya, Fuuka membuka kipasnya. Sepasang kipas itu memiliki desain Sakura Kasumi (kabut sakura) yang pucat di bagian depannya, memantulkan cahaya dengan lembut mengikuti setiap gerakan.

Berbeda dengan Nagisa, gerakan Fuuka terlihat luwes dan mengalir.

Setiap kali dia membalikkan tangannya, kipas itu membelah udara malam, menelusuri jejak tarian dengan sangat indah.

Mereka berputar saling berhadapan, lalu berdiri membelakangi satu sama lain.

Saat Nagisa membunyikan lonceng, kipas Fuuka terbuka lebar. Suara lonceng melambangkan penyucian, sementara aliran kipas melambangkan berkat; napas mereka sangat serasi.

Di tengah aliran itu, Fuuka mendongak. Di bawah cahaya lentera, dalam sekejap, ekspresi yang terlihat di wajahnya adalah──sebuah senyuman lebar yang tulus.

Haruto-san yang menyaksikannya sedikit menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.

"……Akhirnya, kau tersenyum juga."

Suaranya sangat pelan, namun itu adalah ungkapan rasa lega yang tulus dari sosok yang sudah seperti kakak baginya.

Tak lama kemudian, tarian memasuki babak akhir. Kipas Fuuka berayun dengan sangat lebar, membuat mana yang menyerupai kelopak bunga sakura menari-nari di udara.

Bersamaan dengan itu, lonceng Nagisa dibunyikan dengan sangat kuat.

Keduanya perlahan saling mendekat dan berdiri berdampingan. Lalu mereka mengambil langkah terakhir dan menundukkan kepala.

──Tarian pun berakhir.

Namun, di sana Fuuka perlahan menegakkan tubuhnya dan maju satu langkah lagi.

Di tangannya sudah tidak ada lagi kipas. Sebagai gantinya, yang dia pegang adalah──Hakuou, pedang terkutuk yang bilahnya berkilauan dengan warna merah muda pucat.

Menerima cahaya api unggun, bilah pedang yang berwarna putih itu membelah udara yang bergoyang tenang.

Seluruh penonton menahan napas menyaksikan sosok tersebut.

Fuuka perlahan mengambil kuda-kuda. Matanya menatap lurus ke arah langit malam.

"……Agar negara ini bisa melangkah maju kembali."

Suara itu tidak ditujukan kepada siapa pun, namun terdengar seperti sebuah doa yang pasti.

Lalu, Hakuou diayunkan. Suara tajam yang membelah angin bergema di langit malam.

 Energi gaib seperti kabut sakura berhamburan lembut dari bilahnya. Setelah diayunkan habis, Hakuou dikembalikan ke sarungnya dengan sisa keanggunan yang membekas.

Tepat saat pedang itu masuk ke sarungnya tanpa suara sedikit pun, angin berembus lembut melewati halaman kuil.

Dan tepuk tangan sunyi──mulai terdengar dari satu orang, lalu orang lainnya.

Kali ini, itu bukan lagi suara kebingungan. Melainkan suara penuh rasa hormat dan terima kasih. Fuuka menerima semuanya itu sambil menundukkan kepalanya dengan tenang.

◆◇◆

Sisa-sisa tepuk tangan perlahan menghilang di langit malam. Tarian telah usai. Tanpa ada yang memberi komando, orang-orang mulai berjalan menuruni jalan setapak Kuil Tenrei.

Tempat suci yang biasanya tidak boleh dimasuki──kuil yang terletak di tengah gunung suci ini hanya dibuka untuk rakyat pada hari terakhir Festival Reibu.

Karena itulah, kunjungan malam ini terasa sangat istimewa. Dengan rasa haru dan hormat yang tenang di dada, semua orang pulang dengan sedikit kata-kata.

Kami menunggu kedatangan Fuuka di sisi panggung yang terletak di bagian belakang kuil.

Tak lama kemudian, dia yang sudah melepas pakaian putihnya dan mengenakan Haori di bahunya, berjalan sambil memegang topeng rubah di satu tangannya.

Ekspresinya terlihat agak malu, namun tampak sangat lega.

Saat kami menghampirinya, dia berhenti sejenak dan menyunggingkan senyum kecil.

"Kerja bagus, Fuuka," kataku.

Shion yang matanya masih berkaca-kaca menatapnya lurus-lurus.

"……Tadi benar-benar cantik. Tariannya, pengumumanmu, semuanya…… aku sangat terharu."

Kata-kata Shion sangat tulus.

"Terima kasih. ──Daripada itu, mana apel karamelku?"

Namun, jawaban pertama dari Fuuka terasa agak melenceng, tapi benar-benar mencerminkan dirinya.

Shion tercengang. Kami semua pun tertawa terbahak-bahak.

"……Kau benar-benar tidak berubah, ya," kata Haruto-san. Suaranya bukan berisi kejengkelan, melainkan rasa lega dan kasih sayang.

"Aku melihat Haruto memakannya dari atas panggung tadi. Tidak adil kalau cuma Haruto yang makan duluan."

Fuuka melayangkan protes dengan wajah merengut.

"Aku sudah membelikan bagian untuk Fuuka-san juga, kok," kata Luna sambil menyodorkan apel karamel.

"Terima kasih!" Mata Fuuka berbinar saat menerimanya.

Aku kembali berpikir. Benar-benar tidak berubah. Tapi, yang pasti──sesuatu telah terbayar lunas.

Angin malam membelai punggung kami saat menuruni tangga batu. Hiruk-pikuk malam musim panas kembali ke jalan setapak yang dijajari lampu lentera.

Fuuka, yang sedang menjilat apel karamel ketiganya, tiba-tiba berhenti melangkah.




"……Ternyata, angin musim panas memang terasa nyaman."

Wajahnya mendongak menatap langit malam, profil sampingnya tampak begitu cerah.

"Kau suka musim panas?"

Saat aku bertanya dengan santai, Fuuka menunjukkan gestur seolah berpikir sejenak, lalu menjawab dengan nada datar.

"…………Biasa saja."

Aku mengangkat bahu sambil tersenyum padanya. Dia kemudian menghirup napas pendek, lalu bergumam pelan sebelum kembali menatap ke depan.

"Tapi──mungkin…… aku jadi menyukainya lagi."

Dia mulai melangkah perlahan menuju keremangan cahaya di depan.

Aku tidak tahu apa maksud dari kata "lagi" itu, tapi aku merasa senang hanya dengan melihatnya tersenyum saat ini.

Di malam yang sunyi tanpa suara jangkrik, hanya angin yang berembus lewat dengan lembut──.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close