NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 6 Short Story

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Putri Kedua dan Putra Sulung Keluarga Claudel


Setelah menyelesaikan pesta minum bersama Orn-san, teman-teman dari Twilight Iris, dan juga perayaan kedewasaan Carol, aku pun bersantai di kamar yang telah disediakan.

Tak lama kemudian, seorang wanita yang mengenakan seragam pelayan keluarga Claudel datang mengunjungi kamarku.

"Mohon maaf karena telah mengganggu waktu istirahat Anda, Sophia-sama."

"Ah, tidak apa-apa. Tapi, kenapa memanggilku dengan imbuhan '-sama'...?" tanyaku heran.

"Tentu saja, karena Sophia-sama adalah adik perempuan dari Marius-sama," jawabnya dengan sopan.

"Begitu, ya.... Lalu, apakah ada keperluan denganku?"

"Benar. Sebenarnya Marius-sama ingin bertemu dan berbicara langsung dengan Sophia-sama."

"Eh...?" Aku tertegun sejenak.

Marius-san bisa dibilang adalah kakak laki-lakiku. Namun, aku belum pernah mengobrol dengannya secara layak.

Sebab, selama ini Marius-san selalu bersikap acuh tak acuh kepadaku.

"Selain itu, Marius-sama berpesan agar saya menghormati keputusan Sophia-sama. Jika Sophia-sama tidak berkenan untuk bertemu, beliau tidak keberatan," tambah pelayan itu.

Mendengar perkataannya, rasa bingungku semakin menjadi-jadi. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Marius-san.

Dulu, aku pernah mendengar tentang Marius-san dari Kakak, dan Kakak sangat memujinya. Katanya, dia adalah sosok yang bijaksana dan penuh kasih sayang.

Saat memikirkan tentang Marius-san, entah kenapa aku jadi teringat dengan kakak-kakak Carol.

Aku pertama kali bertemu mereka sekitar setengah tahun yang lalu, saat pergi ke wilayah Regriff untuk menyelidiki labirin.

Sejujurnya, saat itu aku merasa sikap mereka berdua sangat buruk. Mereka melontarkan kata-kata kasar kepada Carol yang merupakan adik kandung mereka sendiri.

Namun hari ini, aku menyadari bahwa itu bukanlah perasaan mereka yang sesungguhnya.

Tadi, saat Carol berhadapan kembali dengan kakaknya, aku sedang menemui sosok bernama The Doctor yang mengaku sebagai utusan Viscount Hermet. Jadi, aku tidak tahu detail percakapan mereka.

Tapi menurut Carol, kedua kakaknya hanya ingin melindunginya, meski cara yang mereka tempuh salah sasaran. Carol menceritakan hal itu sambil tertawa.

Terkadang, apa yang ada di dalam hati seseorang tidak selalu selaras dengan tindakannya. Hal yang sama mungkin terjadi pada kakak-kakak Carol.

Jika memang begitu, mungkin sikap acuh tak acuh yang ditunjukkan Marius-san kepadaku juga memiliki alasan lain di baliknya.

Ini mungkin pemikiran yang terlalu optimis. Bisa saja dia memang benar-benar tidak peduli padaku, dan kemungkinan itu justru lebih besar.

Tapi, karena Marius-san sendiri yang meminta untuk bertemu, lebih baik aku menilainya setelah kami berbicara langsung.

Aku sudah menemukan tempat di mana aku seharusnya berada.

Kalaupun Marius-san mengatakan hal buruk padaku, meski mungkin sedikit menyakitkan, aku yakin aku tidak akan hancur. Aku bisa menjamin itu.

Karena sekarang, aku merasa sudah menjadi sedikit lebih kuat.

"Baiklah. Aku juga ingin berbicara dengannya, jadi aku akan datang."

Saat aku menjawab begitu, aku merasa raut wajah pelayan itu tampak sedikit lega. Setelah itu, dia mengantarku menuju kamar Marius-san.

◆◇◆

Sesampainya di depan kamar Marius-san, aku mengetuk pintu.

Terdengar suara "Silakan masuk" dari dalam, jadi aku langsung melangkah masuk.

Marius-san mengalihkan pandangannya dari tumpukan dokumen yang sedang ia baca ke arahku.

Begitu mata kami bertemu, dia meletakkan dokumen itu ke atas meja dan tersenyum lembut kepadaku.

Melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu, entah mengapa aku merasa sangat tenang.

"Terima kasih sudah datang, Sophia."

"Tidak, aku juga ingin berbicara dengan Marius-sama."

Mendengar perkataanku, ekspresi Marius-san berubah sedikit sedih.

...Apakah panggilan 'Marius-sama' tadi terasa terlalu formal dan berjarak?

Saat aku memikirkan hal itu, dia menundukkan kepalanya dan mulai berbicara.

"Pertama-tama, izinkan aku meminta maaf. ...Sophia, maafkan aku karena selama ini telah bersikap buruk padamu."

"Itu..."

Aku tidak tahu harus menjawab apa atas permintaan maafnya yang tiba-tiba.

Tak lama kemudian, dia mengangkat kepalanya dan kembali menatap mataku.

"Aku tahu ini hanya demi kepuasan pribadiku saja. Aku juga tahu sudah terlambat bagi Sophia untuk memaafkanku setelah semua perbuatan buruk yang kulakukan."

"Maksud dari perbuatan buruk itu, apakah yang Anda maksud adalah saat Anda mengabaikanku ketika aku masih tinggal di kediaman ini?"

"...Benar. Aku terus memperlakukanmu seolah-olah kamu tidak ada."

"Anu, bolehkah aku tahu alasan mengapa Kakak bersikap acuh tak acuh padaku?"

Mumpung aku bisa berbicara langsung dengannya, aku ingin tahu alasannya. Tanpa mengetahui hal itu, kurasa tidak akan ada yang berubah di antara kami.

"Meski aku mengatakannya sekarang, itu hanya akan terdengar seperti pembelaan diri, tahu?"

"Tetap saja, aku ingin tahu. Karena aku ingin tahu perasaan Kakak yang sesungguhnya."

Setelah aku berkata begitu, Marius-san menjawab, "Jika itu yang Sophia inginkan," dan mulai bercerita.

"Dulu, aku sangat menyayangi Selma. Dan saat aku mendengar akan ada adik lagi—yaitu Sophia—yang akan lahir, aku merasa sangat senang."

"Aku berpikir akan memiliki seorang adik perempuan lagi yang manis. Namun, sebuah kecelakaan tragis terjadi, yaitu ibu Sophia meninggal saat melahirkan."

Aku sudah pernah mendengar hal itu dari Kakak. Bahwa ibuku meninggal saat melahirkanku ke dunia ini.

"Awalnya, Sophia dan ibumu seharusnya meninggalkan keluarga Claudel. Tentu saja dengan rencana pemberian bantuan dana untuk biaya hidup."

"Namun, karena ibumu meninggal setelah melahirkanmu, keluarga Claudel akhirnya memutuskan untuk merawatmu. Di situlah masalah muncul, yaitu keberadaan Ibu."

Ibu tiri...? Jadi beliau masalahnya?

"Para bangsawan di negara ini sangat menjunjung tinggi ideologi garis keturunan. Meski pemikiran itu mulai memudar berkat jasa para explorer dari kalangan rakyat jelata, Ibu adalah orang yang sangat mementingkan darah keturunan."

Aku sudah sedikit menyadari hal itu. Ibu tiri selalu berkata di setiap kesempatan bahwa 'Dosa karena telah mengotori keluarga Claudel yang terhormat itu sangatlah berat'.

"Aku berpikir, jika aku menyayangi Sophia di depan Ibu, itu justru akan membuat posisi Sophia semakin sulit."

"Untungnya Selma sangat menyayangimu, jadi aku memutuskan untuk menjadi 'tembok pelindung' bagimu. Meski kenyataannya, aku hampir tidak bisa melindungimu sama sekali."

"Aku benar-benar kakak yang menyedihkan," ucap Marius-san sambil tertawa mengejek dirinya sendiri.

(Begitu rupanya. Marius-san selama ini berusaha melindungiku.)

Ya, aku benar-benar lega telah mendengar penjelasannya.

Selama ini aku mengira satu-satunya keluargaku hanyalah Kakak, tapi ternyata aku salah. Aku hanya melihat segalanya dari permukaan saja.

Padahal, dia selama ini selalu memikirkanku. Setelah mendengar cerita Marius-san, aku menggelengkan kepalaku.

"Hal itu tidak ben—"

Bukan. Bukan begitu maksudku.

Setelah mendengar ceritanya, aku merasa ingin menjadi adik yang akrab dengan Marius-san. Jika begitu, sikap formal dan kaku seperti ini tidak boleh diteruskan.

Dia mungkin merasa bersalah, jadi dia tidak akan berani melangkah lebih jauh mendekatiku. Akulah yang harus mengambil langkah pertama.

Demi membangun hubungan yang kuinginkan.

"—Hal itu tidak benar. Sama sekali tidak menyedihkan kok, Kakak."

"...Eh?"

Setelah dibawa pergi oleh Kakak dari rumah ini, aku bertemu dengan banyak orang. Benar-benar banyak orang.

Berkat pertemuan-pertemuan itu, duniaku menjadi semakin luas.

Setiap orang memiliki cara berpikir yang berbeda, jadi wajar jika terjadi kesalahpahaman atau perselisihan.

Karena itulah, yang terpenting adalah mendengarkan perasaan asli dari lawan bicara kita, seperti sekarang ini.

Tentu saja, mungkin ada kalanya hal itu malah membawa hasil yang lebih buruk.

Namun, menurutku itu jauh lebih baik daripada terus memendam perasaan tidak tenang di dalam hati selamanya.

"Aku tidak bisa menganggap orang yang mencoba melindungiku sebagai orang yang menyedihkan. Terima kasih sudah melindungiku, Kakak."

"Aku tidak memiliki hak untuk menerima kata-kata itu.... Karena aku adalah salah satu orang yang telah melukai dan membuatmu menderita."

"Memang benar, saat itu aku merasa menderita. Tapi 'diriku yang sekarang' sudah bisa menertawakan masa lalu itu."

Aku membantah perkataan Kakak sambil tertawa. Hal semacam 'hak' itu sama sekali tidak diperlukan.

Yang dibutuhkan hanyalah 'perasaan' milikku dan milik Kakak.

"Lagipula, sahabatku baru-baru ini berdamai dengan kakak perempuan dan kakak laki-lakinya. Dia menceritakan hal itu dengan sangat bahagia."

"Aku ikut senang mendengarnya, tapi sedikit, hanya sedikit saja, aku merasa 'iri' padanya. ...Apakah Kakak sudah tidak bisa menganggapku sebagai adik lagi?"

Mendengar pertanyaanku, Kakak menggelengkan kepalanya dengan mantap.

"Tidak mungkin. Siapa pun yang protes, Sophia adalah adikku yang berharga. Hal itu tidak akan pernah berubah, selamanya."

Mendengar kata-kata Kakak, hatiku terasa sangat hangat.

"Kalau begitu, mulai sekarang pun, aku ingin menjadi adik yang akrab dengan Kakak. Agar tidak kalah dari Carol—dari sahabatku."

Mata Kakak tampak mulai berkaca-kaca karena air mata.

"Terima kasih, Sophia..."

Tanpa kusadari, pandanganku sendiri pun mulai mengabur.

Aku senang telah memberanikan diri. Keluargaku bertambah satu lagi.

Tidak, itu salah. Sejak awal, kami memang sudah merupakan keluarga.

Kami hanya sedikit mengalami kesalahpahaman saja. Hari ini benar-benar menjadi hari paling bahagia dalam hidupku.

Saat kecil dulu, aku bahkan tidak pernah bermimpi hari seperti ini akan datang.

Berkat Kakak, Orn-san, Carol, Log, Kak Lu, dan banyak orang lainnya, aku bisa melangkah maju sedikit demi sedikit.

Hasilnya, mungkin aku bisa meraih hari yang penuh kebahagiaan ini. Jika aku sendirian, aku pasti tidak akan bisa sampai di titik ini.

Di dunia ini, aku yakin ada banyak orang yang tidak bisa melangkah maju sendirian sepertiku. Aku ingin menjadi orang yang bisa memberikan dorongan di punggung mereka.

(Ah, begitu ya. Mungkin inilah yang ingin kulakukan—jalan yang harus kutuju.)

Setelah berdamai dengan Kakak dan menemukan jalan yang harus kutempuh, aku ingin segera memberitahu Orn-san tentang hal ini secepat mungkin.





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close