Chapter 5
Raja Dunia
Kereta kuda yang membawa Lucilla, sang Putri Kerajaan
Nohitant, melewati gerbang ibu kota.
Informasi tentang luapan labirin (Stampede) yang
terjadi secara tiba-tiba di berbagai tempat menyebar ke seluruh negeri dalam
sekejap mata.
Rakyat jelata yang
tidak tahu-menahu tentang situasi di negara lain belum menyadarinya, namun
Kerajaan Nohitant mengalami kerusakan yang lebih sedikit dibandingkan negara
tetangga.
Hal ini dikarenakan di tengah kekacauan nasional, para
penguasa kota besar yang dilindungi oleh tembok luar—seperti ibu kota dan Tsutrail—segera
menerima penduduk dari kota dan desa sekitar.
Mereka mengambil langkah cepat untuk memusatkan fungsi
pertahanan di kota-kota besar.
Respon cepat ini sebagian besar berkat antisipasi bahwa
Kekaisaran, yang semula merupakan musuh perang, dianggap memiliki teknik untuk
memicu luapan labirin.
Akibatnya, metode penanganan saat labirin terdekat meluap
sudah dipikirkan matang-matang di setiap daerah sebelumnya.
Ditambah lagi, ada kelompok tak dikenal yang muncul
dengan sangat cepat untuk membasmi monster-monster di berbagai tempat. Suara
hiruk pikuk rakyat ibu kota sampai ke telinga Lucilla.
"Lore, apakah kamu mau percaya dan ikut
bersamaku?"
Lucilla, dengan ekspresi yang sangat serius, bertanya
kepada Loretta, pengawal yang duduk bersamanya.
Mendengar itu, Loretta tersenyum tipis dan membuka
suara.
"Tentu saja. Karena aku adalah perisai sekaligus
pedangmu."
Mendengar jawaban itu, ekspresi Lucilla tampak sedikit
lega.
"Terima kasih. —Kalau begitu, Loretta Weber, mulai
sekarang aku akan memberikan perintah padamu. Apa pun yang terjadi, laksanakan
perintahku."
"—Saya mengerti, Lucilla-sama."
Loretta meletakkan tangan di dada dan membungkuk
dalam-dalam kepada Lucilla.
◆◇◆
Kereta kuda yang membawa Lucilla dan yang lainnya tiba di
kastil kerajaan.
Saat Loretta turun, beberapa orang yang datang untuk
menjemput Lucilla telah berkumpul.
Setelah memastikan bahwa semua orang di sana adalah orang
kepercayaan atau pelayan Lucilla, Loretta mengulurkan tangan kepada Lucilla
yang masih di dalam kereta. Lucilla turun sambil memegang tangan itu.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia Lucilla. Saya
lega melihat Anda tidak kurang suatu apa pun."
Seorang lelaki tua berusia akhir lima puluhan—Adipati
Azar—menyapa Lucilla mewakili mereka semua.
"Adipati Azar, aku baru saja kembali. Semuanya,
terima kasih karena telah datang menjemputku."
Tepat setelah Lucilla memberikan kata-kata pujian sambil
tersenyum, —semua orang di sana, kecuali Lucilla, terlempar seolah-olah ditarik
paksa menjauh darinya.
"—Semuanya, jangan bergerak. Jangan buka mulut.
Jika kalian mengabaikannya, aku tidak akan segan-segan menebas lehernya."
Putra Mahkota Kekaisaran—sang Hero Felix Lutz
Kreuzer—mendarat di samping Lucilla sambil menempelkan bilah pedangnya ke leher
sang putri, memperingatkan semua orang.
"Salam yang sangat luar biasa ya, Yang Mulia
Felix."
Lucilla menatap tajam ke arah Felix dengan sikap
bermartabat, seolah tidak peduli dengan pedang yang diarahkan padanya.
"Aku minta maaf atas ketidaksopananku. Tapi ini
adalah cara tercepat untuk mengakhiri perang."
"Perang, ya? Apakah Anda tahu apa yang sedang
terjadi di dunia saat ini?"
"……Maksudmu soal luapan labirin? Sayangnya, itu
tidak ada hubungannya dengan Kekaisaran."
"Apakah itu karena Kekaisaran bekerja sama dengan
Ordo?"
"Bukan, itu tidak terlalu relevan. Labirin di tempat
kami sudah hampir semuanya ditaklukkan tahun lalu, jadi tidak banyak yang
tersisa."
Awal mula Kekaisaran Saubel menyerang Kerajaan Nohitant
adalah karena labirin di dalam kekaisaran terus ditaklukkan oleh seseorang
sejak tahun lalu.
Hal itu menyebabkan jumlah perolehan batu sihir
berkurang, sehingga mereka mengincar Kerajaan yang memiliki Labirin Besar dan
banyak labirin lainnya sebelum jatuh ke dalam krisis kekurangan batu sihir.
"Menyerahlah, Putri Lucilla. Jika Kerajaan tunduk
pada Kekaisaran, aku akan segera mengirimkan tentara negaraku untuk meredam
kekacauan luapan ini. Dan aku sendiri pun akan ikut bertarung melawan
monster."
"……Itu adalah tawaran yang sangat menarik."
Felix adalah satu-satunya pemimpin party di dunia
yang pernah menaklukkan Labirin Besar.
Ditambah dengan kisah kepahlawanannya yang melindungi ibu
kota kekaisaran sendirian dari luapan berskala luar biasa, namanya dikenal di
seluruh dunia.
Keberadaannya yang dijuluki terkuat di dunia memiliki
potensi untuk menjadi penyelamat hati rakyat yang ketakutan oleh monster,
meskipun dia adalah putra mahkota dari negara yang telah membunuh Raja
Nohitant.
"Tidak perlu ragu lagi, kan? Nyawa rakyat atau
kelangsungan keluarga kerajaan, mana yang lebih penting?"
"Benar. Tidak perlu ragu lagi. —Aku
menolak."
Prioritas utama Lucilla adalah ketentraman rakyat
yang tinggal di Kerajaan Nohitant. Demi hal itu, dia sudah mengambil keputusan.
Bahwa dia akan memihak Orn—memihak Amunzerath.
Menerima permintaan Lucilla, Orn sudah sejak tadi
mengirimkan unit dari kelompok tak dikenal, Amunzerath, ke wilayah
Kerajaan.
Jika mereka tidak ada, pasti saat ini sudah lebih
banyak rakyat yang terluka.
Keberadaan sang Hero mungkin bisa memberikan
keberanian, namun tidak ada yang tahu bagaimana Kekaisaran akan memperlakukan
rakyat Kerajaan setelah situasi ini berakhir. Itulah sebabnya, dia memihak Orn
dengan melihat jauh ke masa depan.
"Begitu ya, kalau begitu apa boleh buat. Tidak
ada pilihan lain selain menghancurkan Kerajaan sesuai rencana—"
Setelah ditolak oleh Lucilla, Felix tanpa ampun
mengayunkan pedangnya ke leher sang putri. Namun di mata Lucilla, meski
kematian sudah di depan mata, tidak ada ketakutan sedikit pun.
—Seolah-olah dia tahu bahwa dia tidak ditakdirkan untuk
mati di sini.
"—!?"
Felix terkesiap saat pedangnya terhalang oleh perisai
sihir yang muncul tiba-tiba.
"—Aku rasa bukan hal yang baik untuk menggunakan
kekerasan hanya karena ditolak cinta, lho~"
"Siapa itu!?"
Felix mengalihkan pandangannya. Di sana
berdiri seorang wanita dengan rambut perak transparan dan mata berwarna
amber—Shion Nasturtium.
"Sudah lama tidak bertemu ya, Hero. Terakhir
kali kita bertemu di wilayah Regriff sekitar setahun yang lalu, tapi kamu
benar-benar sudah berubah pangling ya."
"White Mage……? Kenapa kamu ada di
sini……?"
"Yah, kenapa ya kira-kira?"
Shion
menjawab asal sambil melakukan Teleportation berturut-turut. Perpindahan
pertama membawanya ke samping Lucilla, dan perpindahan kedua membawanya bersama
Lucilla menjauh dari Felix.
"…………Apakah Anda adalah asisten yang Orn katakan
akan membantu menghadapi sang Hero?"
Lucilla yang berhasil melarikan diri ke zona aman
bertanya kepada Shion dengan perasaan lega.
"Mm, benar. Jadi untuk memastikan, kamu
benar-benar serius dengan permintaanmu, kan?"
Shion mengonfirmasi kepada Lucilla.
"……Iya. Aku akan menanggung seluruh tanggung
jawabnya. Karena itu, tolonglah. Lindungilah rakyatku."
Menjawab pertanyaan Shion, Lucilla menyahut dengan suara
pelan agar tidak terdengar sekitar, namun dengan suara yang penuh tekad.
"……Begitu ya, pantas saja Orn menyukaimu. Permintaan
itu, aku terima."
Shion mengangguk paham. Kemudian dia mengembuskan napas
pendek.
"……Kalau begitu, karena aku akan mengamuk sekarang,
menjauhlah sedikit."
Atmosfernya
berubah menjadi mode tempur. Pola geometris muncul di mata kanannya.
"Mari kita lihat berapa lama sikap tenangmu itu
bertahan!"
Felix berseru sambil mengayunkan pedangnya.
Tebasan tak terlihat yang bercampur dengan gaya tolak
yang dihasilkan oleh Special Ability-nya, Repulsion Manipulation,
dilepaskan ke arah Shion.
Namun
bagi Shion yang memiliki Eyes of Spirits, tebasan itu terlihat dengan
jelas.
"Berapa lama, ya? Itu sih—"
Sambil berbicara, Shion mengaktifkan Teleport
Shift. Sosoknya menghilang.
"—Sampai akhir, kurasa."
Felix mendongak bereaksi terhadap suara Shion yang
terdengar dari atas. Di langit, butiran es yang tak terhitung jumlahnya muncul
bersama Shion.
"—Strafe."
Saat Shion mengaktifkan sihirnya, butiran es yang
melayang di sekitarnya ditembakkan sekaligus ke arah Felix.
Melihat gumpalan es yang menghujani dengan kecepatan
mendekati subsonik, Felix segera menggunakan Special Ability-nya.
Dengan menyelimuti sekelilingnya dengan gaya tolak,
butiran es itu berhenti di udara sebelum mencapainya.
Shion tidak goyah meski serangannya tertahan, dan
langsung mengambil langkah berikutnya.
"—Diffusion."
Seolah merespon suaranya, butiran es yang terhenti di
udara meledak dan terpencar. Serpihan es yang menjadi lebih halus itu menembus
dinding gaya tolak.
"Kh……!"
Felix membentangkan Magic Barrier untuk
melindungi bagian vitalnya.
Dengan segera memusatkan pertahanan, dia berhasil
menghindari luka fatal, namun beberapa luka sayatan kecil muncul di tubuhnya.
Shion tidak mengendurkan serangannya. Begitu mendarat
di tanah, dia mengayunkan tongkatnya ke arah Felix.
"—Stillness."
Seolah mengayunkan kuas pada kanvas, sejalan dengan
lintasan tongkat yang diayunkan Shion, apa yang ada di pandangannya dalam
sekejap tertelan oleh bongkahan es raksasa.
Sambil melibatkan sebagian kastil dan kota bawah,
Felix terkunci di dalam es.
Stillness adalah
sihir orisinal Shion yang telah ditingkatkan untuk mencakup area yang luas.
Segala sesuatu yang terkurung di dalam es ini secara
praktis waktunya berhenti karena pengaruh Special Ability Shion.
Ini adalah semacam cold sleep, jadi seandainya
ada manusia yang terjebak pun, mereka tidak akan mati.
"Penahanan selesai."
Begitu Shion sedikit mengendurkan kewaspadaannya
setelah melumpuhkan Felix, pada saat itu juga—
"—Tidak kusangka akan berakhir begitu mudah.
Gelar terkuat di dunia pun jadi tidak berarti kalau begini."
Di samping Felix yang membeku, berdiri seorang pria
lain.
"—!?"
Shion terkesiap kaget namun segera mencoba mengambil
posisi tempur kembali. Akan tetapi, tubuhnya tidak bisa digerakkan seolah-olah
dia sedang mengalami tindihan.
"Tak kusangka kau juga ada di ibu kota, White
Mage."
Pria itu berbicara kepada Shion yang tidak bisa
menggerakkan tubuhnya. Pria itu adalah seorang pemuda yang kehilangan lengan
kirinya dan mengenakan penutup mata di mata kanannya.
"Belia Sans……!"
Shion mengirimkan tatapan penuh haus darah kepada Belia.
"……Heeh. Padahal ini seharusnya pertemuan pertama
kita, tapi kau bisa langsung mengenaliku dalam sekali lihat. Tak disangka kau
begitu memperhatikanku ya."
"Jangan bicara hal menjijikkan! Aku ingin muntah!
Akan kupastikan kau jatuh ke neraka! Sekarang juga, di sini!"
Shion berteriak mengikuti emosinya. Merespon suara itu,
beberapa tombak es muncul dari tanah dan menyerang Belia.
Belia mengayunkan pedangnya ke arah tombak es yang
mendekat.
Karena tekanan pedangnya, tombak-tombak itu hancur dan
tidak sampai mengenai Belia.
"Mampu meluncurkan serangan sekuat ini di bawah
kendali Special Ability-ku? Terlebih lagi…… apakah ini sihir?"
Saat
ini, seluruh area di sekitar Belia dipaksa berhenti secara paksa kecuali
dirinya sendiri karena pengaruh Special Ability-nya, Eternal
Invariance.
Akibatnya, sihir tidak bisa digunakan di ruang ini.
Belia mengira dia telah melumpuhkan Shion yang merupakan seorang penyihir
sepenuhnya, namun itu adalah salah perhitungan.
"Tak kusangka kau sudah menjadi seorang Transcendent.
……Apakah saat
bertarung dengan iblis kedua, Due, di Farm? ……Rencana berubah. Aku akan
membunuhmu sebelum Lucilla N. Edelweiss."
Setelah
Belia menganggap Shion sebagai musuh, dia mendekatinya sambil menggenggam
pedang.
"Itu
adalah kalimatku! —Boreas!"
Badai
perak yang jauh di bawah titik beku menyerang Belia sambil mengubah tempat yang
dilewatinya menjadi dunia perak.
"Badai
es yang membekukan sampai ke sumsum tulang, ya. Serangan yang cukup merepotkan.
Kalau begitu—"
Saat
Belia menyarungkan pedangnya,
"—Laevateinn."
Di
tangannya muncul pedang api neraka yang mampu menghanguskan bahkan ruang
sekalipun.
Belia
mengayunkan pedang api itu ke arah badai perak yang mendekat.
Bentrokan
antara angin bersuhu sangat rendah dan pedang bersuhu sangat tinggi memicu
perubahan suhu yang drastis.
"—!?"
Di tengah keterkejutan Shion, ledakan raksasa terjadi
melibatkan sekelilingnya. Asap putih besar menyelimuti area tersebut bersamaan
dengan suara gemuruh.
"…………Apa-apaan ini?"
Meski terkena ledakan secara langsung, Belia yang tidak
terluka berkat Eternal Invariance melihat sekeliling sambil menggumamkan
suara kebingungan.
Ledakan tadi cukup kuat untuk menghancurkan apa pun yang
berada di jangkauannya.
Kastil yang berada sangat dekat tentu saja akan hancur,
dan tidak heran jika kota bawah juga mengalami kerusakan parah. Pasti banyak
orang di ibu kota yang akan mati.
Namun, hal itu tidak terjadi. Ibu kota tidak hancur
sedikit pun meski terkena ledakan raksasa.
Jika ada yang berbeda dari sebelum ledakan, itu hanyalah
fakta bahwa seluruh area ibu kota tertelan oleh bongkahan es raksasa.
"Hah……
hah…… hah…… Begitu, ya…… Kalian memang komplotan yang merasa
tidak masalah meski kota hancur atau orang-orang mati. ……Syukurlah. Tidak ada
yang hancur."
Shion, sang pelaku yang menciptakan pemandangan ini,
terengah-engah sambil melindungi dirinya dengan perisai sihir.
Shion menelan seluruh area ibu kota dengan sihirnya
dan berhasil melindungi ibu kota dengan menggunakan Time Regression
untuk mempertahankan bongkahan es tersebut sesaat setelah permukaannya hancur.
Berkat karakteristik sihir tersebut, tidak ada satu
pun orang yang tertelan es yang mati.
"Tak kusangka kau berhasil melindungi ibu kota……
Hasil yang di luar dugaan, tapi tak apalah jika itu membuatmu kelelahan."
Meskipun Belia terkejut dengan dunia es yang
diciptakan Shion, dia mengalihkan pikirannya dan kembali mendekatinya.
"Ini adalah penghormatan terakhirku untuk
seorang Transcendent. Akan kubunuh kau dalam satu
serangan."
"Ahaha……"
Shion tertawa mendengar kata-kata Belia.
"Apa yang lucu?"
"Sayang sekali, tapi aku memiliki janji yang harus
kutepati……! Aku tidak boleh mati di tempat seperti ini……!"
Meski kehabisan napas, Shion memasang senyum menantang.
"Apakah kau pikir kau tidak akan mati karena punya Time
Regression? Meskipun kau adalah keturunan dari sang Penyihir, jika
aku tidak memberimu waktu untuk menggunakan Special Ability, kau hanya
akan mati begitu saja."
"Sebenarnya, aku ingin mendorongmu ke neraka dengan
tanganku sendiri…… Sayang sekali aku tidak bisa melakukannya."
Shion nyaris tidak bisa bicara atau mengubah ekspresi
wajahnya, namun dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena Special Ability
Belia.
"Itu memang sangat disayangkan. Matilah sambil
menyesal!"
Belia mengangkat pedangnya dan tanpa ampun
mengayunkan bilahnya ke arah Shion. Pedang maut itu mendekati Shion—
"—Berapa banyak lagi hal berharga yang harus kau
rebut dariku sampai kau merasa puas?"
Di dalam ruang statis di mana hanya Belia yang
diizinkan bergerak, —pedang hitam pekat Schwarzhase yang digenggam Orn
menahan pedang maut Belia.
◇◇◇
(Hampir saja tidak sempat……!)
Sambil menahan pedang yang diayunkan Belia untuk
membunuh Shion, aku mengembuskan napas lega di dalam hati.
"Kh! Orn!? Bagaimana bisa kau yang seharusnya
ada di Second Farm ada di sini……!? Aku sudah memasang penghalang
penghambat teleportasi di ibu kota, lho."
Belia terkejut dengan intervensiku. Ternyata benar
dia sudah tahu kalau aku mengalahkan Stieg.
Kalau begitu, wajar saja jika dia terkejut. Karena sampai
dua jam yang lalu, aku masih berhadapan dengan Stieg di pulau tak berpenghuni
yang sangat jauh dari Kerajaan Nohitant.
Ditambah lagi, Belia telah memasang penghalang yang
menghambat teleportasi menuju ibu kota, kebalikan dari penghalang yang kupasang
di pulau tak berpenghuni yang menghalangi teleportasi ke luar.
Namun bagi aku yang sekarang, meski tanpa teleportasi,
aku memiliki cara untuk berpindah jarak jauh dengan kecepatan tinggi.
……Yah, karena itu adalah cara yang sangat memaksa,
seluruh tubuhku saat ini sedang menjerit kesakitan.
"Jangan meremehkanku hanya karena memasang
penghalang penghambat teleportasi!"
Aku mengerahkan tenaga pada pedangku dan mendorong balik
pedang Belia yang kutahan.
"Tch!?"
Belia meringis dan melompat mundur untuk menjaga
jarak. Aku melepaskan sihir sebagai serangan susulan.
"—Penetrate."
Peluru sihir dengan daya tembus tinggi melesat ke
arah Belia.
"Guh!?"
Serangan itu aslinya memiliki kekuatan yang cukup
untuk menembus tubuh manusia dengan mudah, namun tidak bisa menembus Belia yang
memiliki Special Ability: Eternal Invariance.
Tapi aku sudah tahu itu.
Belia terpental semakin jauh dari kastil bersama peluru
sihir itu dan menghantam tembok luar yang mengelilingi ibu kota.
Tepatnya, menghantam bongkahan es yang menutupi tembok
luar.
"Maaf aku terlambat."
Sambil meminta maaf kepada Shion di waktu yang kuciptakan
dengan menjauhkan Belia, aku menetralkan medan kekuatan dari Special Ability
Belia. Shion yang terlepas dari kelumpuhan sedikit limbung, namun segera
memantapkan posisinya.
"Tidak apa-apa kok. Karena aku percaya Orn pasti
akan datang."
Shion memberikan senyum ceria padaku.
"Justru aku yang minta maaf. Sebenarnya aku ingin
menyelesaikannya dengan kekuatanku sendiri, tapi aku hanya sanggup menciptakan
lingkungan agar Orn bisa mengamuk sesuka hati."
Jika aku dan Belia bertarung dengan kekuatan penuh, sisa
kekuatannya pasti akan merusak ibu kota.
Namun berkat Shion yang mengunci seluruh ibu kota dengan
es, aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan kerusakan di sekitar.
"Tidak, itu sudah cukup. Aku ingin menghargai
perasaan Shion, tapi aku benar-benar ingin menyelesaikan urusanku dengan Belia
dengan tanganku sendiri."
"Begitu ya. Karena ini adalah balas dendam untuk
orang tuamu dan rekan-rekan di desa, ya. Aku sedikit lelah, jadi aku serahkan
Belia padamu, Orn. Aku akan mundur dulu karena sekarang aku hanya akan menjadi
beban."
"Aku mengerti. Terima kasih, Shion."
Setelah selesai bicara dengan Shion, aku memastikan bahwa
kerusakan pada tubuh akibat perpindahan berkecepatan tinggi tadi telah sembuh
sepenuhnya oleh Self-Healing, lalu aku menuju ke arah tembok luar tempat
Belia terpental.
Belia sepertinya juga sedang menuju ke sini, dan kami
bertemu di tengah jalan tidak jauh dari kastil.
Dalam sekejap jarak di antara kami terkikis.
"—Alteration: Magic Sword Fusion."
Aku mengayunkan Schwarzhase yang telah menjadi
pedang sihir ke arah Belia. Suara dentuman pedang yang beradu bergema.
Dampak dari benturan pedang tersebut menghancurkan dan
meretakkan bongkahan es di sekitar, namun karena bongkahan es itu terpengaruh
oleh Time Regression, ia segera kembali seperti semula.
"Berani-beraninya kau muncul sendiri untuk dibunuh
olehku. Akan kubunuh kau bersama dengan sang White Mage
di sini!"
Saat pedang kami saling mengunci, Belia membuka suara
dengan mata yang menyala-nyala.
"……Apakah kau lupa? Bahwa aku adalah orang yang
menebas lengan kirimu sepuluh tahun yang lalu. Aku yang sekarang jauh lebih
kuat daripada hari itu. Kau bukan lagi tandinganku! —Mont Drei."
Dari posisi mengunci pedang, aku mengubah bentuk
pedang sihir dari pedang panjang menjadi pedang besar.
Karena bilahnya membesar secara instan, keseimbangan
Belia sedikit goyah.
Memanfaatkan celah itu, aku berpindah ke belakangnya
dengan Shukuchi.
"Apa!?"
Aku langsung mengayunkan Schwarzhase dalam
bentuk pedang besar ke bawah. Aku mengayunkannya sama seperti saat
aku menebas lengan kiri Belia sepuluh tahun lalu.
Namun, karena bilahnya tidak menembus tubuh Belia, pedang
itu menghantam bongkahan es dengan keras.
(Sepertinya biarpun dia punya Eternal Invariance,
bukan berarti dia tidak berkembang sama sekali sejak sepuluh tahun lalu ya.)
Sebagai serangan susulan, aku melepaskan energi sihir
sebagai tebasan.
"Tensen (Heavenly Flash)!"
"Kh! Jangan meremehkanku!"
Belia menggunakan Special Ability-nya sambil
berseru. Dia pasti berniat mengunci Tensen di udara sama seperti saat
dia melumpuhkan Shion tadi.
"Aku sudah tahu itu. —Annihilation."
Aku menciptakan medan kekuatan yang berlawanan dengan
medan kekuatan statis yang dilepaskan Belia sehingga keduanya saling
meniadakan.
Akibatnya, Tensen yang tidak lagi terhalang
berhasil mengenai Belia. Gelombang kejut yang menyebar secara eksplosif
menyerang Belia.
Pada saat yang sama, sihir petir raksasa milik Belia
jatuh dari langit mengarah padaku.
—Namun, karena
aku menangkap pertanda sihir itu dengan Magic Tracking, aku berhasil
menghindari petir itu tanpa kesulitan.
Saat asap yang membubung akibat Tensen
menghilang, Belia yang tidak terluka menatapku dengan ekspresi kesal.
"……Yang tadi itu, milik August……! Kenapa kau
bisa menggunakannya?"
Di masa dongeng, setelah pertempuran melawan Dewa
Jahat berakhir dan manusia pindah ke dunia hukum, yang menunggu adalah konflik
antara pemilik Special Ability dan non-pemilik.
Untuk meredamnya, August-san mendirikan negara yang
menerima pemilik Special Ability.
Sebagai negara yang mengumpulkan pemilik kekuatan,
tentu akan memiliki kekuatan nasional yang besar.
Meskipun dia adalah pahlawan yang menyegel Dewa Jahat
dan menciptakan dunia ini, seharusnya kaum non-pemilik akan menentangnya.
Hal itu tidak terjadi karena August-san memiliki
teknik untuk menetralkan Special Ability.
Omniscience adalah
"kemampuan untuk mengetahui segala sesuatu dan menyusunnya kembali".
Jika itu adalah kekuatan untuk mengendalikan hal yang
dipahami, maka sudah sewajarnya kekuatan sebaliknya juga bisa dikendalikan.
"Entahlah, kenapa ya. Satu hal yang bisa
kukatakan adalah kekuatan yang telah dirangkai oleh August-san ada di dalam
diriku dengan pasti."
Melalui serangan Penetrate tadi dan rangkaian
serangan barusan, aku juga sudah memahami mekanisme Eternal Invariance
yang melindungi Belia. Selanjutnya, aku pasti bisa menebas Belia.
"……Benar-benar mengganggu! Apa kau berniat
menghalangiku di sini juga!?"
"Tentu saja aku akan menghalangimu. Kau mencoba
membunuh Shion. Kau mencoba membunuh murid-muridku, teman-teman di Silver
Rabbit of the Night Sky, dan orang-orang di Tsutrail. Kau melepaskan
monster ke permukaan tanah dan menyebarkan kemalangan ke seluruh dunia bahkan
sampai saat ini. Mana mungkin aku membiarkan orang sepertimu berkeliaran
bebas!"
Aku menendang pijakan sihir dan mendekati Belia. Sesaat
sebelum aku menebasnya, energi sihir cair berwarna hitam pekat mulai menyebar
di kaki Belia.
Energi sihir hitam cair itu berubah bentuk, dan duri yang
tak terhitung jumlahnya melesat dari kaki Belia.
"—!?"
Aku bereaksi di saat-saat terakhir dan mencoba
menghindar, namun beberapa duri menyayat tubuhku.
(Energi sihir ini. —Mungkinkah ini milik Dewa Jahat!?)
Berbeda dengan sihir milik Belia, aku terkejut
merasakan energi sihir yang terasa begitu asing.
"Aku juga tidak sama seperti sepuluh tahun yang
lalu!"
Belia merangsek maju. Ia mengayunkan pedang yang
diselimuti energi sihir hitam pekat, sama seperti duri-duri sebelumnya.
Aku menahannya dengan pedang sihirku, lalu
memanfaatkan momentum benturannya untuk menjaga jarak.
"Saat menyuruh sang Hero menaklukkan
Labirin Besar di barat, rupanya kamu mencuri sebagian kekuatan sihir Dewa
Jahat, ya. Alasanmu ingin melepas segel Dewa Jahat adalah karena..."
Saat aku menggumamkan isi pikiranku, Belia menyahut
dengan nada bicara yang penuh semangat.
"Benar! Aku akan melahap kekuatan Dewa Jahat demi
menjadi 'Raja Dunia'!"
"……Itukah alasanmu mengkhianati August-san?"
"Ya, benar! Dia menginginkan hidup berdampingan
dengan iblis yang merupakan musuh umat manusia. Padahal iblis telah memusuhi
manusia yang menciptakan mereka. Sampah yang tidak tahu budi seperti itu adalah
eksistensi yang harus dimusnahkan tanpa sisa! Karena itulah, aku akan menjadi
raja dan memusnahkan para iblis!"
Padahal August-san hanya menginginkan hidup berdampingan
dengan para peri, makhluk hidup berbasis sihir yang kooperatif dengan manusia.
Iblis yang memusuhi manusia sama sekali tidak masuk ke
dalam kategori itu.
Tentu saja, jika para iblis menginginkan hidup
berdampingan, beliau pasti akan mendekati mereka. Namun dari percakapanku
dengan Stieg tadi, sudah jelas tidak ada jalan untuk itu.
……Ah, begitu ya. Bagi orang ini, tidak ada batas
antara peri dan iblis.
Ini berarti Belia secara konsisten membenci seluruh
makhluk hidup berbasis sihir sejak zaman dongeng.
Aku pernah mendengar dari August-san di Dunia
Kakuriyo bahwa pertempuran melawan Dewa Jahat di zaman dongeng sangatlah
sengit.
Aku bisa memahami mengapa Belia yang hidup di masa
itu membenci Dewa Jahat dan iblis.
Tapi, perasaan itulah yang justru dimanfaatkan.
"Kamu tidak menyadari kontradiksi dari ucapanmu
sendiri?"
"Kontradiksi?"
"Aku tidak tahu 'Raja Dunia' seperti apa yang kamu
maksud, tapi kamu berniat melahap Dewa Jahat demi memusnahkan iblis, kan? Jika
begitu, dalam prosesnya umat manusia pasti akan musnah sepenuhnya. Dan jika
kamu membunuh semua makhluk berbasis sihir, pada akhirnya yang tersisa hanyalah
kamu seorang diri. Apa kamu ingin hidup di dunia seperti itu?"
"Manusia akan…… musnah sepenuhnya……?"
Belia sepertinya benar-benar tidak terpikir sampai ke
sana, matanya tampak bergetar mendengar kata-kataku.
Melihat kondisi ini, sepertinya dia bahkan tidak
meragukan fakta bahwa dia sedang bekerja sama dengan para iblis yang seharusnya
dia benci.
Selama ini hal itu hanya sebatas hipotesis, namun
sekarang aku yakin.
Dia telah terkena Cognitive Alteration.
Waktunya kemungkinan besar saat pendahulu Phily Carpenter
menukar nyawanya untuk menulis ulang ingatan seluruh umat manusia melalui dunia
hukum sihir.
"Melepaskan segel Dewa Jahat berarti menaklukkan
seluruh tempat suci—seluruh Labirin Besar. Itu artinya menghancurkan dinding
hukum sihir yang memisahkan dunia luar dengan dunia ini."
"……!"
"Apa kamu mau menyebut diri sebagai 'Raja' di dunia
yang tidak ada siapa pun kecuali dirimu? Meski menyebut diri begitu, itu hanya
akan terasa hampa saja, kan?"
"Berisik……. Diam……!"
Mungkin karena merasa sakit kepala, Belia menekan
kepalanya dengan tangannya.
"Kalau aku berada di posisimu, aku tidak sudi. —Jika
menengok ke belakang, jalan yang kulalui adalah jalan yang tidak konsisten dan
berulang kali berganti arah. Namun, di setiap waktu itu, selalu ada setidaknya
satu orang yang memahamiku dan percaya padaku."
Saat masa kecil, ada Shion yang membenarkan mimpiku yang
dianggap aneh. Di party pahlawan Golden Dawn saat aku mulai diperlakukan
dengan buruk, ada Luna. Lalu
di Silver Rabbit of the Night Sky, ada para muridku dan semua orang di
Unit Pertama. Karena selalu ada orang yang memahamiku di setiap waktu, aku
tidak sendirian.
"Aku yang sekarang bisa ada karena dukungan kalian
semua. Karena itulah, aku menginginkan masa depan di mana aku bisa terus
berjalan bersama mereka. Maka dari itu, Belia—"
"—Sudah kubilang diam, kan! Benar-benar tidak
menyenangkan. Aku tidak mau lagi mendengar bualan kalian!"
Belia berteriak memotong kata-kataku.
Kata 'kalian' yang dia maksud kemungkinan besar
adalah aku dan August-san.
Belia
dan August-san memiliki hubungan saudara.
Meskipun
Belia sangat berbakat sejak kecil, di dekatnya selalu ada August-san, sang
kakak yang jauh lebih berbakat darinya.
Tidak
sulit untuk membayangkan bahwa lingkungan seperti itu memudahkan tumbuhnya
perasaan tertekan yang kelam.
Rasa
rendah diri Belia terhadap August-san pastinya menjadi mangsa yang empuk bagi
pengguna Special Ability kategori Cognitive Alteration.
"—Ah,
benar juga……. Aku sudah bersumpah. Bahwa aku akan menjadi Raja Dunia.
Jika kau menghalangiku, akan kubunuh!"
Meskipun sebelumnya Belia terlihat menderita sakit kepala
sambil menekan kepalanya, tiba-tiba rasa sakit itu menghilang dan auranya
berubah drastis.
(Perubahan drastis ini. Apa dia terkena Cognitive
Alteration lagi? Jika begitu, apa Phily Carpenter ada di sekitar sini?)
Aku mencoba mencari keberadaan orang lain di sekitar,
namun aku tidak merasakan hawa kehadiran siapa pun.
Selagi aku memeriksa sekeliling, dari lengan kiri Belia
yang hilang muncul banyak sekali tangan kerangka yang terbentuk dari energi
sihir Dewa Jahat.
"Matilah, Orn!"
Energi sihir Dewa Jahat memang merepotkan.
Senjata biasa tentu tidak akan mempan, dan pedang sihir
yang hanya dibuat dari energi sihir biasa pun kemungkinan besar tidak bisa
menandinginya.
Namun, Dewa Jahat adalah musuh yang suatu saat nanti
harus kukalahkan.
Demi membunuh Dewa Jahat, aku telah mengasah kekuatanku
di Dunia Kakuriyo.
"Belia, maaf saja tapi aku akan menjadikanku
lawan latihan. —Final Form: Mont Ende."
Aku menyerap Schwarzhase yang sudah menjadi
pedang sihir ke dalam tubuhku.
Lalu aku mencampurkannya dengan Ki yang
mengalir di dalam tubuh.
"Kekuatan" yang tidak tertampung oleh raga
pun meluap keluar dari tubuh.
Pakaian yang kukenakan berubah menjadi jubah sihir
saat bersentuhan dengan kekuatan itu.
Kilatan petir berwarna biru kehitaman memercik di
sekelilingku.
Aku mengayunkan pedang sihir yang baru saja tercipta.
Tebasan tak terhitung jumlahnya melenyapkan tangan-tangan
kerangka yang menyerangku.
(Bagus, dengan ini aku bisa menandingi energi sihir
Dewa Jahat. Aku sudah memastikan bahwa aku bisa menangkap energi sihirnya.
Sisanya tinggal masalah waktu.)
Sebelumnya saat mengalahkan Stieg, aku juga
menggunakan Final Form: Mont Ende, namun kehancuran tubuhku langsung
dimulai saat itu juga.
Sekarang karena aku sudah memahami Eternal
Invariance setelah berhadapan dengan Belia, aku bisa secara paksa
memperpanjang waktu hingga kehancuran tiba dengan menggabungkan pemahaman itu
dengan Time Regression.
Meski begitu, aku tetap tidak akan bisa bertahan
lebih dari satu menit.
Untunglah aku pernah menjadi Enchanter di
party pahlawan Golden Dawn.
Pengalamanku berpartisipasi dalam pertempuran sambil
menghitung durasi setiap buff pada saat itu sangat berguna di sini.
(Batas waktu penggunaan Time Regression jika
dihitung secara ketat adalah sekitar tiga puluh detik. Jika melewati itu, yang
menanti di depan hanyalah kehancuran tubuh, alias kematian. Aku tidak boleh
membuang waktu. Akan kuselesaikan dalam satu serangan!)
"Mustahil……. Ini adalah kekuatan sihir Dewa Jahat,
lho!?"
Mungkin karena menganggap kekuatan sihir Dewa Jahat itu
tak terkalahkan, Belia mengeluarkan suara terkejut.
Jika dia tertegun begitu, itu sangat membantuku.
Akan kulenyapkan kekuatan sihir Dewa Jahat ini!
Segera setelah itu, aku mendekati Belia dengan Shukuchi.
Energi sihir hitam pekat balas menyerang.
Tampaknya respon Belia terhadap gerakanku agak
lambat, apa kekuatan sihir Dewa Jahat ini memiliki kesadarannya sendiri yang
terpisah dari Belia?
Sambil memikirkan hal itu di sudut kepala, aku
berpindah ke belakangnya dengan Teleport Shift.
"—Hama
Tensen (Evil-Destroying Heavenly Flash)!"
Aku
menghantamkan kekuatan yang terkonsentrasi dari jarak dekat ke arah Belia.
Tepat
sebelum bilah pedang mencapainya, tangan-tangan kerangka hitam bertumpuk
berlapis-lapis menjadi bantalan untuk melindungi Belia.
Gelombang
kejut hitam pekat melenyapkan sebagian energi sihir Dewa Jahat, namun belum
cukup untuk melenyapkan semuanya.
(Waktuku
tidak banyak, tapi tidak ada pilihan selain mengikisnya secara bertahap!)
Sambil
menjaga jarak dariku tanpa melawan gelombang kejut, Belia menembakkan energi
sihir hitam yang dibentuk seperti tombak ke arahku.
"—Hama
no Tachi (Sword of Evil-Destruction)!"
Aku
mengubah pedang sihir menjadi pedang katana sihir, lalu menebas semuanya tanpa
sisa.
Aku
melanjutkan serangan dengan melepaskan tebasan jarak jauh.
—Namun,
"……U-ugh!"
Rasa pening menyerangku, sepertinya tubuhku sudah mulai
menerima kerusakan lebih awal.
Tentu saja Belia tidak akan menungguku, dia mencoba
memperpendek jarak.
"—Shotgun!"
Aku melepaskan peluru sihir tak terhitung jumlahnya ke
arah Belia, memaksanya untuk berhenti.
Sihir biasa tidak akan memberikan kerusakan yang berarti.
Untuk menumbangkan Belia—Dewa Jahat, aku harus
menghantamkan pedang sihir yang dibuat dengan mencampurkan energi sihir dan Ki
ini.
Tepat saat aku hendak menendang pijakan es untuk
mendekati Belia,
"Khu……! S-sial……!"
Darah mulai mengalir dari hidungku, tubuhku seolah
menegaskan bahwa waktu yang tersisa sudah sangat sedikit.
Selagi itu terjadi, Belia yang sudah pindah ke langit
mengonsentrasikan energi sihir Dewa Jahat dan menciptakan tangan kerangka
raksasa.
Tangan itu diayunkan ke bawah untuk menghancurkanku
bersama dengan ibu kota.
"Kh! Uoooooh!"
Aku berteriak untuk menyemangati tubuhku sendiri.
Aku menangkis tangan kerangka raksasa itu dengan
pedang sihir yang sudah dimuati kekuatan penuh.
Energi sihir Dewa Jahat adalah kebalikan dari energi
sihir Titania, namun ini juga bisa dibilang sebagai puncak dari energi sihir.
Energi sihirku memang sudah berwarna hitam pekat,
namun belum mencapai tingkat Dewa Jahat.
Tapi sebagai tambahannya, aku telah mencapai Hama
(Evil-Destruction) yang merupakan puncak dari Ki, kekuatan asli manusia.
Energi sihir hitam pekat dan Hama yang
merupakan puncak dari Ki.
Gabungan dari dua kekuatan yang saling bertolak
belakang itu adalah kekuatan yang mampu melenyapkan segala fenomena.
Meski akibat hal semacam itu mengalir di seluruh
tubuhku, raga ini akan hancur.
"Lenyaplah!!"
Saat aku mengayunkan pedang sihir, tebasan yang
memuat kekuatan penuh membelah lengan raksasa yang diciptakan dari energi sihir
Dewa Jahat.
"Apa-apaan itu!?"
"—Bind!"
Pandanganku mulai memerah, mungkin darah mengalir
tidak hanya dari hidung tapi juga dari mata. Namun aku mengabaikannya dan
mengaktifkan sihir.
Rantai yang terbuat dari energi sihir hitam pekat
muncul dari ruang hampa.
"Kh! Jangan dekati aku!"
Saat rantai mencoba menahan Belia, dia menggunakan Eternal
Invariance untuk menghalangi gerakan rantai.
Tapi, aku tidak akan membiarkannya.
"—Annihilation!!"
Aku menetralkan medan kekuatan Belia dan mengunci
gerakannya dengan rantai.
Pada saat itu, aku sudah berada sangat dekat dengan
Belia.
Aku menusuk dada Belia dengan pedang sihir.
"Gaa……!?"
"Hah……
hah…… hah……"
Rantai yang menahan Belia lenyap, dan Belia yang terkulai
lemas jatuh ke tanah.
"Belum, ini belum selesai……!"
Selama ada Eternal Invariance, Belia tidak akan
mati meski fungsi organ tubuhnya berhenti.
Agar bisa melenyapkan energi sihir Dewa Jahat tanpa
membunuh Belia, aku mengonsentrasikan energi sihir di sekitar hingga melampaui
batas.
Pedang sihir berwarna biru kehitaman membuat ruang di
sekeliling terdistorsi, dan muncul retakan di bagian ruang yang tidak sanggup
menahannya.
"Energi sihir luar" mengalir masuk dari
retakan tersebut.
Aku menyelimuti bilah pedang dengan energi sihir itu,
lalu—
"—Tengen (Heavenly Abyss)"
Aku melepaskan tebasan terkuat yang bisa kugunakan
saat ini ke arah Belia.
Energi sihir hitam pekat menelan seluruh area ibu
kota.
Dan, kekuatan itu melenyapkan energi sihir Dewa Jahat
di dalam jangkauan yang tertelan tadi.
"…………A-gh……!"
Begitu pertarungan dengan Belia berakhir, seluruh
tubuhku terasa panas seperti terbakar, dan rasa sakit yang tak tertahankan
menyerang.
Sambil mengeluarkan teriakan tanpa suara, aku segera
membatalkan Alteration: Magic Sword Fusion dan menggunakan Time
Regression.
"……Kh! Hah…… hah…… hah……. Rasa sakit ini sepertinya tidak akan
pernah bisa terbiasa……"
Setelah kehancuran tubuh mereda, aku mengatur napas
sambil memeriksa sekeliling.
Meski aku bertarung dengan kekuatan penuh melawan
Belia, ibu kota sama sekali tidak terkena dampak dari sisa-sisa pertarungan
berkat es yang diciptakan Shion.
Belia juga tergeletak di atas es seolah sudah
kehabisan tenaga, tapi dia tidak mati.
"Tidak ada waktu untuk istirahat. Karena pertunjukan
yang sesungguhnya baru dimulai dari sekarang."
Meski rasanya ingin segera ambruk dan tidur, aku
menyemangati diriku sendiri bahwa hal itu tidak diperbolehkan.
Aku berjalan sampai ke depan istana kerajaan, lalu sambil
mengulurkan tangan, aku mengendalikan energi sihir di sekitar untuk mulai
mencairkan es yang menyelimuti ibu kota.
Dalam waktu kurang dari lima menit, bongkahan es raksasa
itu menghilang, dan pemandangan ibu kota kembali seperti semula.
(Nah, kalau begitu. Di mana Yang Mulia Lucilla……)
Setelah memastikan situasi ibu kota tidak ada masalah,
aku mencari Yang Mulia Lucilla, namun para penduduk mulai berdatangan seolah
mengepungku.
Mata mereka tampak kosong, dan aku merasa mereka seperti
tidak memiliki semangat hidup.
—"Apa yang sudah kamu lakukan……!"
Suara penuh amarah terlontar dari salah satu penduduk.
Wajah orang-orang lainnya juga menampakkan rona
kemarahan.
—"Katakan sesuatu!"
—"Kamu adalah pahlawan Kerajaan, kan!? Kenapa kamu
melakukan hal seperti ini!"
Orang-orang lain pun melontarkan makian dan hinaan padaku
seolah ingin meluapkan emosi mereka.
(Apa maksudnya ini……?)
Hasil ini sendiri sebenarnya adalah apa yang kucari.
Namun—.
(Ini seolah-olah mereka sedang dihasut oleh seseorang—!
Jangan-jangan!)
Begitu sampai pada satu kesimpulan, aku segera
menggunakan Bird's Eye View untuk memeriksa tempat Belia tergeletak.
Di sana tidak ada sosok Belia.
Aku sudah memberikan kerusakan yang membuatnya mustahil
untuk bisa berdiri sendiri.
Fakta bahwa dia menghilang berarti……
Selanjutnya, aku menggunakan Past Vision,
gabungan antara Bird's Eye View dan Time Regression, untuk
memutar ulang pemandangan di tempat itu dengan cepat.
Lalu, sesaat sebelum Belia menghilang, terlihat sosok
dua orang wanita.
Aku memeriksa apa yang terjadi dengan pemutaran
normal sejak sesaat sebelum mereka muncul.
Yang muncul di hadapan Belia yang sudah kehabisan
tenaga adalah Phily Carpenter dan seorang gadis berambut merah yang menyeret
Felix yang sedang tidak sadarkan diri.
Saat itu, Phily mendongak ke langit seolah menyadari
sesuatu.
Wanita itu seolah sedang melihat ke arahku yang sekarang.
Sebagai buktinya, aku merasa mata kami bertemu menembus
ruang dan waktu.
Seolah tahu kalau aku sedang mengawasinya, Phily
tersenyum menantang, lalu menarik kelopak mata bawahnya dengan jari telunjuk
sambil menjulurkan lidah.
"—!!
"
(Aku
dikelabui Phily……! Meski di akhir tadi aku tidak sempat memperhatikan
sekeliling dengan saksama, padahal aku sudah sempat terpikir kemungkinan dia
ada di sekitar sini selama pertarungan dengan Belia tadi……. Sial!)
Saat
menghentikan Past Vision dan mengembalikan kesadaran ke masa sekarang,
aku menggertakkan gigi karena kesal, lalu—
"Tolong
jawab dengan jujur……! Mengapa kamu melakukan hal seperti ini, Orn……!"
Suara kemarahan seorang wanita sampai ke telingaku.
Saat mengarahkan pandangan ke arah suara itu, di sana
terlihat Yang Mulia Lucilla sedang menutupi mata kirinya dengan tangan kiri,
sambil menunjukkan ekspresi sedih.
Itu adalah tanda yang sudah kusepakati dengannya
sebelumnya di Dalarna.
Artinya, dia tetap berada di pihakku.
Karena ada intervensi dari Phily, ada kemungkinan besar
dia akan berbalik menjadi musuh karena Cognitive Alteration.
Untunglah jimatnya berfungsi dengan baik.
"Tega sekali kamu melukai Grand Master Guild,
mengapa kamu melakukan tindakan kejam seperti itu!?"
Yang Mulia Lucilla bertanya dengan suara keras.
Aktingnya terasa sangat nyata.
Dengan begini, pihak ketiga pasti tidak akan mengira
bahwa aku dan dia menjalin hubungan kerja sama.
(Begitu ya. Jadinya seperti ini, kah.)
Orang-orang yang mengepungku kemungkinan besar
semuanya telah terkena Cognitive Alteration.
Dan sepertinya mereka mengenali bahwa aku telah
membunuh Belia.
Banyak hal yang di luar dugaan.
Namun situasi ini mendekati hasil yang kuinginkan.
"Kenapa, ya? Jawabannya sudah jelas, kan. Karena Grand Master itu mengganggu."
Sambil berpura-pura menyisir rambut dengan tangan
kiri untuk menutupi mata kiriku, aku menjawab Yang Mulia Lucilla tanpa
menggunakan bahasa formal.
Setelah memahami situasinya, aku berperan sebagai
penjahat untuk memancing kemarahan semua orang lebih jauh.
"……Mengganggu?"
Yang Mulia Lucilla ikut masuk ke dalam aktingku.
Meskipun ini sudah direncanakan, tapi saat ini aku
membutuhkan fakta bahwa aku mengatakannya sendiri.
"Benar. Melepaskan monster memang ide bagus,
tapi akan merepotkan jika Guild Explorer langsung menanganinya."
"Melepaskan monster……? Jangan-jangan, luapan
labirin yang terjadi sekarang adalah……"
"Ya, aku yang menyebabkannya."
"Tega sekali……"
Yang Mulia Lucilla memberikan reaksi seolah-olah dia
benar-benar terkejut.
Orang ini, ternyata jago akting juga ya.
Benar-benar berbakat.
Sambil memikirkan hal itu di sudut kepala, aku
berbicara dengan pilihan kata yang membuat orang-orang yang mendengarnya
berpikir bahwa 'akulah yang menyebabkan' luapan labirin.
"Dunia ini bukan hanya milik manusia saja. Padahal
begitu, manusia mengurung monster di penjara bernama labirin, dan hanya manusia
yang menikmati berkah dunia. Itu tidak adil! Karena itulah aku membuat dunia
yang adil. Yang lemah akan tersisih. Bukankah itu seleksi alam?"
"Hanya karena alasan itu……? Padahal aku sudah
memercayaimu……"
"……Itu sih kamu saja yang berharap terlalu berlebih
padaku. Jangan paksakan idealismemu padaku."
"Begitu, ya. Kalau begitu, Orn Doula, aku akan
menahanmu di sini!"
Begitu Yang Mulia Lucilla mengatakannya, Loretta-san yang
menggenggam pedang maju paling depan ke arahku.
Loretta-san yang matanya bertemu denganku memberikan
anggukan yang sangat kecil sampai tidak disadari orang sekitar.
(Maafkan aku, Loretta-san.)
Sambil meminta maaf di dalam hati padanya, aku
mengayunkan Schwarzhase yang sudah kuberi sihir Sharpness Zero ke
arahnya.
Bersamaan dengan itu, aku menggunakan Cognitive
Alteration pada orang-orang di sekitar.
Dengan ini, di mata mereka akan terlihat seolah-olah
Loretta-san yang kutebas sedang berdarah.
Loretta-san pun langsung jatuh tersungkur.
"Beraninya kamu melukai Loretta!"
Menyusul dirinya, prajurit lain juga mulai menyerang.
"Karena tujuanku membunuh Grand Master sudah
tercapai, tidak ada alasan lagi bagiku untuk tetap tinggal di sini."
Sambil mengatakan hal semacam itu dengan sengaja, aku
mementalkan para prajurit yang datang dengan sihir angin ringan, lalu
mengalihkan pandangan ke arah Yang Mulia Lucilla.
"Yah, berjuanglah sekuat tenaga. Jangan sampai
negaramu hancur oleh monster yang merupakan bidak-bidakku."
"Tanpa kamu beri tahu pun aku akan melakukannya. Aku
tidak akan memaafkanmu. Kamu yang sudah merusak dunia seperti ini,
selamanya!"
Yang Mulia Lucilla berteriak sambil menatapku dengan
tajam seolah ingin menembusku.
Sambil mendengarkan kata-kata itu, aku menggunakan Teleport
Shift dan meninggalkan ibu kota.
◇◇◇
Sementara itu, di waktu yang sama──.
"Luali, bagaimana?"
Begitu Phily berpindah ke tempat sepi yang jauh dari ibu
kota, dia menyapa gadis berambut merah bernama Luali.
Luali berjongkok, lalu sambil memejamkan mata, dia
meletakkan tangannya di dada Belia yang tergeletak di tanah.
"…………Mm. Meski sudah mengecil, tapi aku masih bisa
merasakan energi sihir Oberon."
"Begitu. Kalau begitu baguslah."
"……Ugh…… Phily, kah……?"
Belia yang sudah sadar kembali mengeluarkan suara lemah.
"Wah, kamu masih hidup ya. Gigih sekali."
Phily melontarkan suara yang sangat dingin kepada Belia.
"A-apa yang kamu katakan……?"
Belia yang merasa ada yang aneh dengan kata-kata Phily
mengeluarkan suara bingung.
"Maksudnya apa? Bukankah selama ini Ordo Ciclamen
selalu membuang manusia yang sudah tidak berguna? Kali ini, kamu hanya menjadi
target pembuangan itu."
"A-aku, dibuang, katamu……!? Jangan bercanda……!"
"Aku tidak bercanda. Aku sudah tidak butuh lagi
kepribadian bernama Belia Sans. Yang kami butuhkan hanyalah tubuhmu. Luali,
silakan dimulai."
"Oke."
Gadis berambut merah yang menerima instruksi Phily──Encho
Luali Welt mengangguk, lalu dari tangan kanannya yang menempel di tubuh Belia
mulai merembes energi sihir berwarna merah tua.
"A-apa yang mau kalian lakukan!?
He-hentikan……!"
Belia mencoba melawan, namun tubuhnya yang sudah
kelelahan akibat pertarungan dengan Orn tidak bisa digerakkan dengan benar.
"──Gwaaaaaaa!?"
Belia mengeluarkan teriakan pilu.
Energi sihir Dewa Jahat yang hitam pekat merembes keluar
dari tubuhnya.
"Fufufu. Kamu yang sudah terdesak sampai di ambang
kematian, pasti akan mati jika tidak mengerahkan kekuatan Special Ability-mu
ke sana, kan? Apa masih ada kekuatan yang tersisa untuk melawan Special
Ability-ku? Tapi, bergembiralah. Kamu akan menjadi wadah bagi Raja kami
mulai sekarang. Bukankah kamu ingin menjadi 'Raja Dunia'? Baguslah kalau
begitu. Mimpimu akan jadi kenyataan."
"Phily!! Kamu, mengkhianatiku, ya!?"
Energi sihir Dewa Jahat mulai menelan Belia.
"Tega sekali. Aku tidak pernah sekalipun berada di
pihakmu. Bukankah sudah pernah kukatakan dulu? Makhluk hidup bernama manusia
hanyalah boneka praktis yang bekerja sebagai kaki tanganku. Fufufu, kenapa ya
kamu bisa salah paham dan mengira dirimu itu berbeda?"
Phily
memasang senyum kelam.
"Boneka…….
Cognitive Alteration……. Jangan-jangan, aku……"
"Ya,
sejak Ordo Ciclamen dibentuk, kamu hanyalah boneka pekerja keras. Terima
kasih atas kerja kerasmu selama ini. —Sekarang kamu boleh mati."
"Bangsaaaaatt!!"
Seluruh tubuh Belia yang sedang berteriak marah itu
ditelan oleh energi sihir hitam pekat.
Energi sihir hitam itu membentuk rupa seperti telur
setinggi sekitar dua meter.
"……Akhirnya ya, Phily."
Luali yang biasanya selalu terlihat mengantuk, sekarang
matanya berbinar-binar sambil menengadah ke arah telur hitam itu.
"Ya, meskipun masih butuh sedikit waktu lagi, dengan
ini Dewa Jahat Oberon-sama bisa beraktivitas di dunia ini dengan menggunakan
tubuh Belia sebagai wadahnya."
Berkat pergerakan rahasia Phily dan kawan-kawan, dunia
secara pasti semakin mendekati kehancuran.
Dan itu berarti kepunahan umat manusia──.



Post a Comment