NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 8 Chapter 2

Chapter 2

Terbenamnya Rembulan


Tujuanku adalah pergi ke dunia luar.

Untuk itu, aku harus menghancurkan dinding sirkuit sihir yang memisahkan dunia ini. Namun, jika dinding itu lenyap, mana dari dunia luar akan mengalir masuk ke dunia sirkuit sihir.

Sebagai seorang Transenden, aku memiliki daya tahan terhadap mana luar sehingga bisa hidup tanpa masalah, namun bagi mayoritas orang, mana luar itu tak ubahnya racun mematikan.

Aku tidak mungkin membiarkan orang lain menjadi korban hanya demi ambisiku pergi ke dunia luar.

Menghancurkan dinding sirkuit sihir tanpa menyebabkan kematian satu orang pun—itulah syarat mutlaknya. Selain itu, jika aku mencoba melakukan hal segila ini, "Ordo Cyclamen" pasti akan datang menghalangi.

Pertempuran melawan Ordo tidak bisa dihindari. Maka, ada dua hal besar yang harus kulakukan untuk mencapai tujuanku.

Pertama, membuat orang-orang mampu bertahan hidup di lingkungan dunia luar. Kedua, menghancurkan "Ordo Cyclamen" sampai ke akar-akarnya.

Keduanya bukanlah hal mudah, tapi aku harus melakukannya. Demi meraih "masa depan di mana aku bisa tersenyum" yang diinginkan Kakek untukku.

◆◇◆

Setelah bertemu dengan "Amunzerath" di Kadipaten Hitia, berbagi informasi, dan menyelesaikan hal-hal yang mendesak, aku kembali ke ruang bawah tanah toko serba ada milik Kakek melalui sihir teleportasi, sama seperti sebelumnya.

Namun, apa yang terpantul di mataku bukanlah pemandangan yang kukenal. Tempat itu tampak lapuk di sana-sini, seolah sudah bertahun-tahun tidak disentuh oleh siapa pun.

"……Kakek……"

Gumamanku yang tanpa sadar terucap tidak sampai ke telinga siapa pun, hanya melebur dingin ke dalam keheningan ruangan itu. Kakek dianggap sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu.

Di dunia sebelumnya, Kakek memalsukan kematiannya sepuluh tahun silam, lalu datang ke Tsutrail untuk mengelolanya toko serba ada sambil menjagaku. Namun di dunia ini, kepalsuan itu telah menjadi fakta sejarah.

Wajar jika jejak kehidupan Kakek di Tsutrail telah sirna atau digantikan oleh sesuatu yang lain. Aku menaiki tangga sambil mengenang masa-masa bersamanya.

Lantai satu pun sama saja; ruangan kosong yang sepi dan tertutup debu tebal. Tidak ada sedikit pun jejak yang tersisa bahwa dulu di sini pernah ada toko serba ada milik Kakek.

Hanya suara langkah kakiku yang menggema di ruangan kosong itu, menyisakan rasa hampa yang menusuk.

"—Aku berangkat."

Aku berpamitan pada sudut ruangan di mana Kakek biasanya berada. Tiba-tiba, meski seharusnya tidak ada siapa-siapa, aku merasa mana di sekitarku bergetar sedikit.

Kakek memang sudah tiada. Namun, mungkin saja dia masih mengawasiku hingga saat ini.

Aku harus berjuang agar tetap bisa menjadi cucu yang bisa dia banggakan. Dengan tekad itu, aku membuka pintu dan melangkah keluar—.

◆◇◆

Setelah meninggalkan bangunan bekas toko Kakek, aku langsung menuju kediaman penguasa wilayah, Marquis Forgas.

"Terima kasih telah meluangkan waktu meskipun saya datang mendadak, Marquis Forgas."

"Aku berutang budi padamu. Aku akan dengan senang hati meluangkan waktu untukmu. Jadi, ada masalah apa?"

Marquis Forgas menyambutku dengan suasana yang tenang. Aku bersyukur, tapi rasa janggalnya luar biasa……

Sosok yang kukenal adalah dia yang dikendalikan oleh Filly dan menjadi sponsor bagi kelompok Pahlawan. Saat itu, kata "kejam dan tak berprikemanusiaan" adalah deskripsi paling tepat untuknya.

Meskipun aku paham bahwa sosoknya yang sekarang—yang telah lepas dari kutukan Filly setelah festival tahun lalu—adalah sifat aslinya, aku tetap tidak bisa menghilangkan rasa asing ini.

"Sebenarnya, saya bermaksud menggunakan 'hak' itu."

"Hak yang kau maksud…… apakah hadiah kemenangan turnamen bela diri tahun lalu?"

"Benar."

Ekspresi tenang Marquis Forgas berubah menjadi ekspresi seorang penguasa. Aku memenangkan turnamen bela diri yang diadakan pada festival tahun lalu. Saat itu, hadiahnya adalah hak untuk mengajukan satu permintaan kepada sang Marquis dalam batas kemampuannya.

Banyak hal terjadi setelah turnamen; Oliver yang mengamuk, tugasku ke wilayah Legriff, hingga perang dengan Kekaisaran sekarang, sehingga aku belum sempat menggunakan hak itu. Tapi di sinilah aku akan menggunakannya.

"Baiklah. Aku akan mengabulkan permintaanmu selama masih dalam batas kemampuanku. Katakan, apa keinginanmu?"

"Keinginan saya hanya satu. —Tolong jadikan saya seorang kriminal."

"…………Apa katamu?"

Marquis Forgas mengerutkan kening dengan tatapan curiga. Yah, kurasa justru aneh jika dia tidak bingung mendengar permintaan seperti itu.

"Tentu saja, Anda tidak bisa menjadikan saya kriminal tanpa alasan yang jelas. Karena itu, besok saya akan membuat sebuah insiden. Saya akan menyerang pusat penahanan dan membawa keluar Oliver yang saat ini sedang dipenjara. Saya akan memastikan tidak ada korban luka, tapi saya berniat menghancurkan fasilitas itu dengan spektakuler. Jadi pada hari itu, tolong atur rute patroli tentara wilayah agar berada di sekitar pusat penahanan—"

"—Tunggu! Tunggu sebentar!"

Marquis Forgas menghentikan penjelasanku.

"Apa yang sebenarnya kau bicarakan……? Dari ceritamu, sepertinya tujuanmu adalah membawa keluar Oliver. Jika begitu, bukankah kau tinggal meminta pembebasannya saja?"

"Tidak, keinginan saya adalah diusir dari kota ini sebagai seorang kriminal."

Marquis Forgas akhirnya terdiam seribu bahasa. Ekspresinya seolah berteriak bahwa dia benar-benar tidak paham apa yang sedang kubicarakan.

"Maaf jika topiknya mendadak berubah, tapi apa pendapat Anda tentang Filly Carpenter?"

"Filly Carpenter……? Jika harus jujur, dia adalah wanita yang paling menjijikkan."

Marquis Forgas menjawab pertanyaanku meski bingung dengan pergantian topik tersebut. Matanya tampak menyimpan kemarahan.

"Saya pun sependapat. Saya akan bergerak untuk menghancurkan Filly Carpenter, dan lebih jauh lagi, menghancurkan 'Ordo Cyclamen'. Namun, jika aku bermusuhan dengan Ordo, mereka akan menyerang titik lemahku tanpa ragu."

Bahkan tanpa kulakukan apa-apa pun, mereka sudah menjadikanku target eliminasi, tapi itu tidak perlu kukatakan di sini.

"Maksudmu, titik lemahmu adalah kota ini?"

Aku mengangguk menanggapi pertanyaan Marquis Forgas.

"Di kota ini ada banyak hal yang berharga bagi saya. Jadi, setidaknya saya harus membuat Ordo percaya bahwa saya telah memutuskan hubungan dengan kota ini."

"Jadi jika kau diusir sebagai kriminal, Ordo akan menyimpulkan begitu?"

"Hanya itu saja mungkin masih kurang kuat. Karena itu, saya berencana membuat satu insiden besar lagi. Insiden yang akan membuat seluruh dunia—bukan hanya kota ini—menganggap saya sebagai musuh. Jika mereka melihat dua insiden ini, Ordo pasti akan mengira aku telah membuang Tsutrail."

"…………Jadi, itulah keinginanmu?"

Marquis Forgas menatap mataku tajam, mencoba mencari tahu kesungguhan di balik ucapanku.

"Benar."

Aku mengangguk mantap.

"……Baiklah. Namun, dengan syarat tidak boleh ada korban luka."

Setelah terdiam sesaat sambil menatap mataku, Marquis Forgas mengembuskan napas kecil dan menerima permintaanku. Soal syarat itu pun tidak masalah, karena memang sejak awal aku berniat begitu.

"Terima kasih telah mengabulkan permintaan sulit saya. Saya mengerti soal korban luka. Saya tidak punya niat untuk melukai orang secara sia-sia."

Setelah menunjukkan rasa terima kasih, kami berdua merundingkan detail penyerangan pusat penahanan tersebut. Sophie dan yang lainnya akan kembali besok.

Sebelum itu, aku harus menyampaikan "hal itu" kepada Sang Ketua, dan masih banyak lobi-lobi serta persiapan lain yang harus kukerjakan.

Aku tidak punya waktu untuk beristirahat.

◆◇◆

"Halo, Eleonora-san."

Keesokan harinya, setibanya di guild penjelajah, aku menyapa Eleonora-san, staf guild yang sudah baik padaku sejak aku pertama kali menjadi penjelajah.

"Ah, Orn-kun, halo. Sudah lama ya. Aku dengar kau pergi menaklukkan beberapa labirin di dalam negeri, tapi melihatmu sudah kembali, apa itu artinya tugasmu selesai dengan sukses?"

Eleonora-san menyapaku balik dengan senyum ramah.

"Ya, semua selesai tanpa masalah."

"Luar biasa seperti biasa. Selamat ya. Kalau begitu, apa kau kemari untuk melapor pada Master Guild? Seharusnya beliau ada di sini seharian, biar aku cek dulu. Tunggu sebentar ya."

Tanpa perlu kuberi tahu urusanku, Eleonora-san sudah menebaknya dan menghilang ke bagian dalam gedung. Sambil menunggunya kembali, aku melangkah ke ruang arsip guild.

Di sini tersimpan banyak sekali laporan yang diajukan oleh para penjelajah, dan penjelajah bebas membacanya. Mengandalkan ingatanku, aku mencari laporan yang kutuju.

Begitu menemukannya, aku membuka dan memeriksa isinya.

"Hahaha…… Kalau dilihat lagi, laporannya payah sekali ya."

Yang sedang kubaca adalah laporan pertama yang kami buat saat baru menjadi penjelajah. Laporan yang kami buat dengan susah payah—aku, Oliver, dan Luna—sambil dibimbing oleh Eleonora-san.

Meskipun kualitasnya buruk jika dibaca sekarang, dari tulisan itu terpancar semangat kami yang menggebu-gebu sebagai penjelajah.

Setelah desa kami dihancurkan oleh Ordo, orang tua dan rekan-rekan kami dirampas, serta ingatan kami diubah, kami akhirnya sampai di Tsutrail. Impian untuk menaklukkan Labirin Besar Selatan pun sengaja ditanamkan oleh Filly.

Setelah ingatanku kembali, bohong jika aku bilang tidak punya perasaan apa-apa soal itu.

Namun, diriku yang dulu pun tak diragukan lagi adalah bagian dari diriku yang sekarang, dan aku tidak boleh menyangkalnya.

Ada banyak hal yang kudapatkan justru karena aku sampai di sini. Banyak hal berharga yang tercipta.

Aku benar-benar tidak ingin kehilangan tempat ini. Meskipun aku mungkin tidak bisa kembali lagi, selama semua orang bisa tetap hidup sebagai diri mereka sendiri, itu sudah cukup bagiku.

"Ah, Orn-kun, ternyata kau di sini. Master Guild menunggu di ruang kerjanya. Bisa ke sana sekarang?"

Saat aku sedang melamun menatap laporan lama, Eleonora-san memanggilku.

"Baiklah. Terima kasih banyak."

Setelah mengucapkan terima kasih, aku melangkah menuju ruang Master Guild.

◆◇◆

"Permisi."

"Selamat datang, Orn-kun. Aku sudah dengar sedikit dari Eleonora-kun. Sepertinya kau sudah menyelesaikan penaklukan labirin di berbagai tempat. Kerja bagus."

Begitu masuk ke ruang kerja Master Guild, beliau menyambutku dengan senyum biasa dan kata-kata pujian.

"……Terima kasih."

"Ngomong-ngomong, seharusnya kau cukup melapor pada Eleonora-kun saja. Kau rajin sekali sampai repot-repot melapor langsung padaku."

"Sebenarnya, meskipun secara formal ini adalah laporan, kenyataannya saya kemari karena ingin membicarakan hal lain dengan Anda."

"Hmm. Berbicara denganku? Mengenai apa itu?"

"Sebelum itu, izinkan saya bertanya satu hal. Apa pendapat Anda mengenai tujuan sejati dari Guild?"

Mendengar pertanyaanku, ekspresi Master Guild tidak berubah, namun matanya tidak lagi tersenyum.

"Tujuan sejati Guild? Apakah yang kau maksud adalah visi guild untuk 'mengelola labirin dan memasok batu sihir ke berbagai tempat tanpa hambatan'? Jika itu, menurutku itu adalah hal yang sangat penting. Di dunia sekarang, alat sihir adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Memasok batu sihir sebagai sumber tenaganya secara stabil adalah misi yang harus dituntaskan oleh guild penjelajah."

Apa yang dikatakan Master Guild tidaklah salah. Guild penjelajah yang memiliki pengaruh di seluruh dunia tanpa memihak negara mana pun memang berperan sebagai penyeimbang dunia sebagai organisasi netral.

Tapi yang ingin kudengar bukanlah formalitas publik semacam itu.

"Yang ingin saya dengar bukanlah basa-basi sesuai buku panduan itu. Sebagai Master Guild, Anda pasti tahu alasan sebenarnya kenapa guild penjelajah ini ada."

Sambil bertanya kembali, aku teringat percakapanku dengan August-san di Dunia Antara.

Grand Master dari guild penjelajah, Belia, adalah sosok yang telah hidup sejak zaman dongeng. Saat itu, dia berjuang bersama August-san melawan Dewa Jahat, dan membantu menciptakan dunia sirkuit sihir setelah penyegelan dilakukan.

Bahkan setelah sampai di dunia sirkuit sihir, dia tetap mendukung August-san sebagai tangan kanannya saat August-san menjadi Raja Kerajaan Hitia. Namun……

"Apakah Belia tiba-tiba mengkhianati Kerajaan Hitia?"

"Yah, begitulah. ……Mungkin ada semacam pertanda, tapi karena terlalu sibuk, aku mungkin melewatkannya."

August-san mengatakannya dengan senyum, namun senyum itu terlihat sangat kesepian.

"Pada waktu yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menentukan kekalahan kami."

"Peristiwa itu……"

"Recognition Alteration terhadap seluruh umat manusia. Pemilik kemampuan khusus tersebut saat itu menukarkan nyawanya untuk menulis ulang ingatan semua orang di dunia melalui sirkuit sihir."

"Ingatan seluruh umat manusia……!? Apa hal seperti itu mungkin?" Shion yang ikut mendengarkan berteriak kaget.

"Berbeda dengan kemampuan khusus lainnya, Recognition Alteration adalah ciptaan langsung dari Dewa Jahat."

"……Begitu ya. Karena pemeliharaan dunia sirkuit sihir ini memanfaatkan kekuatan Dewa Jahat yang sedang disegel……"

"Tepat sekali. Meski terbatas di dunia sirkuit sihir, dengan nyawa sebagai bayarannya, kekuatan itu bisa digunakan pada seluruh umat manusia secara bersamaan. Ini adalah salah satu kesalahan perhitunganku."

"Lalu, bagaimana ingatan orang-orang diubah saat itu?"

"Dia melakukan banyak hal. Tiga hal besarnya adalah: membuat orang lupa tentang dunia luar, lupa tentang alasan keberadaan Tempat Suci (Sanctuary), dan membuat orang yakin bahwa Dewa Jahat telah dikalahkan sepenuhnya."

"Aku tahu Ordo telah membelokkan sejarah, tapi kupikir itu dilakukan perlahan seiring berjalannya waktu. Tidak kusangka mereka menulis ulang sejarah secara instan menggunakan Recognition Alteration……"

"Tapi, jika hanya itu, bukankah August-san bisa melakukan sesuatu?"

"Kalau kondisiku sempurna, mungkin aku bisa membalas."

"Cara bicaramu seolah-olah August-san sendiri juga mengalami semacam gangguan?"

"Gangguan? Itu kata yang terlalu ringan. Pasalnya, melalui Recognition Alteration massal itu, orang-orang tidak bisa lagi mengenali keberadaanku."

"Tidak bisa mengenali……? Apa maksudnya?"

"Arti yang sebenarnya. Meskipun aku ada di depan mata mereka, sosokku tidak terpantul di mata mereka. Suaraku tidak terdengar, tulisan yang kubuat tidak terbaca. Bahkan jika aku menggerakkan atau menghancurkan sesuatu, mereka sama sekali tidak bisa menyadarinya."

"…………"

Aku dan Shion terdiam seribu bahasa mendengar penuturan August-san.

"Jujur saja, itu sangat berat. Aku sudah mencoba berbagai cara, tapi semuanya sudah diantisipasi, dan akhirnya aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi."

August-san bercerita dengan nada ceria sambil tertawa, tapi hanya dengan membayangkan betapa menderitanya itu, aku bisa merasakannya. Itu tak ada bedanya dengan menjadi hantu yang masih hidup namun sudah mati bagi dunia.

"Yah, melihat waktunya, aku yakin pengkhianatan Belia melibatkan pemilik kemampuan Recognition Alteration. Lagipula, tindakan pertama yang dia ambil setelah ingatan seluruh umat manusia diubah adalah menaklukkan Tempat Suci."

"……Ngomong-ngomong, aku punya satu pertanyaan. Kenapa Belia tidak menaklukkan Labirin Besar—Tempat Suci—itu sendirian? Menyebalkan memang, tapi dia kan sangat kuat? Harusnya sudah selesai sejak lama."

"Itu karena begitu aku tahu Belia berkhianat, aku menambahkan mekanisme yang melarang dia masuk ke Tempat Suci selamanya. Di saat yang sama, agar tidak ditaklukkan oleh orang lain juga, aku mengubah bentuk Tempat Suci menjadi ruang yang menyerupai labirin."

"Karena itulah Belia mendirikan guild penjelajah?"

"Benar. Dia menyebut Tempat Suci sebagai Labirin Besar, dan menggunakan orang-orang di dunia ini untuk menaklukkannya demi kepentingannya."

"Itu sebabnya Belia belum bisa menaklukkan Labirin Besar selama ratusan tahun."

"Prediksiku, dalam tiga ratus tahun seharusnya sudah muncul orang yang mampu menaklukkannya, sih."

◆◇◆

"……Orn-kun, visi guild penjelajah adalah seperti yang kukatakan tadi. 'Mengelola labirin dan memasok batu sihir ke berbagai tempat tanpa hambatan'. Tidak lebih dan tidak kurang."

Aku tersentak dari lamunan masa lalu saat Master Guild membuka suara. Sepertinya beliau bersikeras mempertahankan formalitas publiknya.

Kalau begini terus, pembicaraan ini tidak akan maju. Aku ingin mendengar sikapnya sebelum bicara lebih jauh, tapi apa boleh buat.

"Begitu ya. Jadi Anda setuju dengan tujuan sejati Guild, yaitu membangkitkan Dewa Jahat?"

Master Guild yang selama ini ekspresinya datar, tiba-tiba mengernyitkan wajah.

"…………Tak kusangka, kau benar-benar tahu tentang tujuan sejati Guild."

Sepertinya Master Guild mengira aku hanya sedang menggertak. Namun setelah aku melontarkan jawaban yang spesifik, dia sepertinya tidak berniat berpura-pura tidak tahu lagi.

Ini adalah pertaruhan. Jika dia adalah orang yang setuju dengan tujuan sejati Guild, maka sebelum aku sempat mengambil langkah pertama, Belia akan tahu bahwa ingatanku telah kembali melalui Master Guild.

Risikonya tinggi, namun jika itu terjadi, aku harus mempertimbangkan penggunaan Recognition Alteration.

Berdasarkan sifatnya, aku yakin beliau adalah orang yang menentang tujuan sejati Guild, jadi taruhan ini tidak terlalu buruk. Namun, di pihak manakah dia sebenarnya?

"…………Aku, —sangat membenci tujuan sejati Guild."

Master Guild menggumam dengan suara tertahan sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat.

"Begitu ya. Saya lega mendengarnya. Kalau begitu, tolong bantu saya. Jika dibiarkan, dalam waktu dekat Tsutrail akan dilumat habis oleh Ordo."

Mata Master Guild terbelalak, dia mendekatiku karena terkejut.

"Tsutrail!? Kenapa!?"

"Tentu saja untuk melenyapkanku."

"Petinggi Ordo memang kumpulan orang tak berhati. Mereka tidak punya moral. Demi melenyapkan satu orang, mereka tidak akan ragu menghancurkan satu kota penuh. Tapi, kenapa kau menjadi target mereka?"

"Itu karena aku adalah atavisme (keturunan yang mewarisi sifat leluhur) dari 'Raja Para Inang'."

"—!?"

"Aku memiliki potensi untuk memusnahkan Dewa Jahat."

Benar. Aku dan Oliver memiliki potensi terpendam untuk menghabisi Dewa Jahat.

"Raja Para Inang…… Jadi maksudmu kau adalah reinkarnasi dari Pahlawan Dongeng, August Sans?"

"Bukan. Secara teknis 'jiwa' saya dan August-san adalah entitas yang berbeda. Saya hanya menerima pengaruh genetik yang sangat besar dari kemampuan miliknya."

"Begitu ya. Aku mulai mengerti sekarang. Pantas saja Grand Master memberikan perhatian khusus padamu."

"Mungkin begitu. Labirin Besar Barat telah ditaklukkan, dan mereka sudah mulai bergerak secara serius untuk melenyapkanku. Kita tidak punya banyak waktu lagi."

Sudah hampir enam ratus tahun sejak Belia membentuk "Ordo Cyclamen" dan Guild Penjelajah. Alasan kenapa dia memakan waktu selama itu adalah untuk menunggu konsentrasi mana di dunia ini meningkat hingga ke level maksimal agar rencananya sempurna.

Tujuan mereka adalah kebangkitan Dewa Jahat. Namun di dunia sirkuit sihir dengan konsentrasi mana yang rendah, kemampuan Dewa Jahat akan sangat terbatas.

Ibarat ikan air laut yang dipindahkan ke air tawar—lingkungannya tidak cocok.

Selama ratusan tahun, Ordo melakukan eksperimen dan insiden di berbagai tempat untuk menaikkan konsentrasi mana demi menunggu saat ini.

Sekarang, mereka sudah melakukan latihan penaklukan Labirin Besar menggunakan sang Hero, dan dalam garis waktu sebelumnya, mereka merancang skenario untuk melenyapkanku dan Titania yang dianggap sebagai penghalang terbesar bagi Dewa Jahat.

Bisa dipastikan konsentrasi mana di dunia ini sudah mencapai angka yang mereka inginkan.

"Saya ingin melindungi Tsutrail, melindungi hal-hal yang berharga bagi saya. Karena itu, tolong pinjamkan kekuatan Anda! Saya mohon!"

Master Guild memejamkan mata, perlahan menatap langit-langit seolah sedang meresapi sesuatu.

"……Aku membenci tujuan sejati Guild. Namun, tidak ada yang bisa membantah bahwa Guild Penjelajah adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat saat ini. Itulah alasanku bekerja di sini. Murni demi orang-orang tak berdosa yang hidup dengan percaya bahwa esok hari yang damai akan tetap datang."

Master Guild mengalihkan pandangannya kembali padaku dengan tatapan tajam yang seolah menembus jiwaku.

"Untuk apa kau bertarung?"

"Demi meraih masa depan di mana aku bisa tersenyum."

Aku menjawab pertanyaan Master Guild tanpa ragu sedikit pun.

"Untuk itu, orang-orang yang berharga bagiku juga harus bisa tersenyum dan hidup sebagai diri mereka sendiri. Dan orang-orang berharga itu pun memiliki orang lain yang berharga bagi mereka."

Orang yang kusayangi mungkin tidak bisa menjadi diri sendiri jika seseorang yang tidak kukenal tidak ada.

Orang yang dicintai oleh orang yang kusayangi mungkin adalah orang asing bagiku. Jika begitu, maka orang asing itu pun adalah objek yang ingin kulindungi.

"……Menurutku, manusia baru bisa menjadi 'manusia' sejati ketika mereka membina ikatan dengan orang lain. Masa depan di mana aku bisa tersenyum adalah masyarakat di mana semua orang yang hidup di dalamnya bisa hidup sebagai manusia sejati. Karena itu aku—akan bertarung demi meraih dunia di mana semua orang bisa tersenyum sebagai manusia."

Mungkin jawaban itu akan ditertawakan sebagai hal yang mustahil. Tapi meskipun ditertawakan atau dianggap mustahil, aku akan terus mengatakannya.

Bahwa 'Aku akan memenangkan masa depan di mana aku bisa tersenyum. Untuk itu aku akan mengalahkan Dewa Jahat dan menciptakan dunia di mana semua orang bisa tertawa'.

Dalam budaya kuno Kyokuto, ada konsep bernama "Kotodama" (kekuatan kata). Jika terus mengatakannya bisa membuatnya menjadi kenyataan, maka tidak ada alasan untuk diam.

Master Guild tersenyum lembut mendengar jawabanku.

"Kedengarannya seperti igauan anak kecil. …………Tapi, ya. Menurutku itu sangat bagus. Karena aku pun menginginkan masa depan seperti itu tiba. —Baiklah. Aku akan membantumu, Orn-kun. Mari kita melangkah bersama demi meraih masa depan di mana siapa pun bisa tersenyum sebagai manusia."

"Terima kasih banyak. Itu sangat membesarkan hati."

"Jadi, apa yang harus kulakukan?"

"Pertama, tolong izinkan saya masuk ke ruang teleportasi yang aksesnya hanya diberikan kepada Master Guild."

"Aku tidak keberatan, tapi kenapa ruang teleportasi?"

"Karena Ordo akan menggunakan lingkaran teleportasi itu saat menyerang Tsutrail nanti. Jadi, saya akan memanipulasi sirkuit sihir pada lingkaran tersebut agar mereka tidak bisa berteleportasi kemari."

"Hal semacam itu…… ah, jika kau punya kemampuan yang sama dengan Pahlawan Dongeng, itu bukan hal aneh ya. Baiklah, mari kuantar."

Setelah itu, aku dibawa oleh Master Guild ke ruangan tempat lingkaran teleportasi terukir. Aku memanipulasi lingkaran tersebut seperti yang dilakukan Kakek sebelumnya, agar mereka tidak bisa datang lewat sini.

Dengan ini, Tsutrail tidak akan menjadi medan perang dan tidak akan dilumat oleh mereka.

Sip, selanjutnya.

◆◇◆

"Lama tidak jumpa, Oliver."

Setibanya di pusat penahanan, aku menemui Oliver.

"……Ah, lama tidak jumpa, Orn."

Wajah Oliver tampak berseri saat melihatku datang berkunjung. Oliver dianggap telah dipenjara sejak hari itu karena mengamuk di final turnamen bela diri tahun lalu dan mengancam nyawa banyak penonton, termasuk bangsawan.

Namun kenyataannya, dia melakukan transaksi rahasia dengan Marquis Forgas.

Dengan imbalan sedikit kebebasan, dia membantu menyelesaikan masalah di wilayah tersebut secara rahasia.

Kemunculan Oliver untuk mengalahkan tengkorak raksasa saat mengawal Yang Mulia Lucilla awal tahun ini juga merupakan bagian dari tugas itu.

Hari ini aku sudah mendengar dari Marquis Forgas bahwa Oliver ada di sini, tapi belakangan ini dia lebih sering bergerak di luar daripada diam di sel.

"Aku dengar kau meninggalkan kota untuk menaklukkan labirin di dalam negeri, tapi sepertinya kau sudah pulang dengan selamat."

"Penaklukan labirinya sudah selesai. Meski aku tidak yakin apakah 'selamat' adalah kata yang tepat."

Sambil berbasa-basi, aku mengirimkan pesan batin kepada Oliver menggunakan Telepathy.

(Oliver, kau dengar?)

Oliver membelalakkan matanya karena terkejut menerima pesan batinku.

(Sekarang aku bicara padamu lewat pesan batin Telepathy.)

(Selma Claudel tidak ada di dekat sini, kan? Itu artinya, jangan-jangan……)

(Ya, ingatanku sudah kembali. Penggunaan All-Encompassing Nature-ku juga sudah sempurna seperti ini. Aku akan terus bicara lewat mulut juga agar tidak dicurigai sipir. Dulu kau bilang, 'Fuyuutsushi (Enchanter) bisa dilakukan siapa saja asal bisa sihir pendukung' atau 'Ini cuma aplikasi Parallel Construction jadi pasti bisa kalau sudah terbiasa', jadi bicara sambil pakai pesan batin harusnya gampang buatmu, kan?)

Aku membalas perkataannya dulu sebagai bentuk ejekan ringan. Itu adalah kata-kata yang diucapkan Oliver saat kami bertengkar dulu, tepat setelah aku diusir dari kelompok Pahlawan dan aku mengalahkan Naga Hitam di lantai lima puluh Labirin Besar.

(Guh…… kau menusuk di bagian yang sakit ya…… Waktu itu aku benar-benar minta maaf. Aku terbawa emosi dan mengatakan hal-hal kasar. Benar-benar maaf.)

(Kata-kata itu memang bikin kesal, sih. Maaf juga sudah menggodamu. Bagaimana kalau kita anggap impas?)

(Baiklah. Kalau dengan ini Orn mau memaafkanku, aku sangat bersyukur…… Lagipula, bicara lewat mulut dan pesan batin secara bersamaan bukanlah masalah.)

"Iya benar. Dengar ya, ada sebuah desa yang kukunjungi saat perjalanan menaklukkan labirin kemarin—"

Aku terus melanjutkan obrolan harian yang remeh lewat mulut agar tidak dicurigai sipir, sementara di saat yang sama kami bertukar informasi penting lewat pesan batin.

(Orn yang ingatannya sudah kembali datang kemari, itu artinya……)

(Ya. Aku akan mulai bergerak secara serius melawan "Ordo Cyclamen". Oliver, pinjamkan kekuatanmu padaku.)

Oliver mengangguk tanpa membuat sipir curiga.

(Tidak perlu ditanya. Aku akan membantumu dengan segenap kemampuanku.)

(Terima kasih. Jika ada Oliver di sisiku, kekuatanku bertambah seratus kali lipat.)

(Tapi, seperti yang kau lihat, aku ini tahanan. Kabur sih gampang, tapi apa Orn punya rencana?)

(Ya, aku sudah bicara dengan Marquis Forgas.)

Lalu aku menjelaskan secara singkat apa yang akan kulakukan pada Oliver.

(……Menjadi kriminal dan diusir dari sini demi melindungi Tsutrail dari tangan Ordo, ya. Memang masuk akal jika memikirkan masa depan, tapi…… apa kau yakin? Aku sih sudah jadi begini jadi tidak masalah, tapi Orn bisa dibenci oleh orang-orang "Night Sky Silver Rabbit", lho?)

(Dibenci pun tidak masalah. Selama itu berarti semua anggota klan bisa terus hidup. ……Memang yang terbaik adalah dilepas dengan senyuman, tapi kurasa itu akan sulit.)

(Baiklah. Jika itu keputusanmu, aku tidak akan bicara apa-apa lagi. Tapi, bolehkah aku meminta satu hal?)

(Apa itu?)

(Yaitu—)

Permintaan Oliver ternyata di luar dugaan. Namun, setelah mendengar penjelasannya, aku tidak punya alasan untuk menolak, jadi aku memutuskan untuk menyanggupinya.

◆◇◆

"—Waktu habis."

Tepat saat aku selesai merundingkan rencana ke depan dengan Oliver, sipir memberitahukan bahwa waktu kunjungan telah berakhir.

"Sudah selama itu ya? Cepat sekali……"

"Benar. Tapi aku senang bisa mengobrol dengan Orn."

"Aku juga. Aku akan datang lagi dalam waktu dekat, jadi saat itu temani aku mengobrol lagi ya."

"Ya, tentu. Aku tunggu."

Setelah berpamitan dengan Oliver, aku meninggalkan pusat penahanan. Sepertinya sudah waktunya Sophie dan yang lainnya kembali.

Syukurlah berbagai urusan bisa selesai sebelum mereka sampai.

—Akhirnya, saatnya perpisahan tiba.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close