Prelude
Fajar Merah Tua
Suara ketukan
sepatu yang tajam pada lantai batu bergema di sepanjang koridor yang sunyi dan
remang-remang.
Pemilik suara itu
adalah Stieg Strehm—sang ‘Rakshasa’, salah satu eksekutif Ordo Cyclamen. Ia
menghentikan langkahnya di depan sepasang pintu besar yang penuh ukiran
dekoratif.
Stieg mengangkat
alat sihir serupa kartu, dan pintu-pintu itu pun perlahan terayun terbuka.
Di dalam, delapan
buah kursi diatur dengan jarak yang sama mengelilingi sebuah meja persegi
panjang yang masif. Di ujung terjauh, terdapat kursi menyerupai takhta dengan
dekorasi yang jauh lebih rumit dari yang lain—singgasana yang dikhususkan bagi
sang penguasa tempat ini.
Empat
orang sudah duduk di sana.
Yang
pertama kali menyadari kedatangan Stieg adalah seorang pria tua, Kursi Kedua
Ordo Cyclamen—Gunnar Stern, sang ‘Thunder Emperor’.
“‘Rakshasa’,”
ucap Gunnar dengan suara berat yang menggelegar. “Kerja bagus karena telah menangani ‘Doctor’.” Ia
memuji Stieg karena telah menghabisi Oswald saat di Dal Ane.
“Kabar
menyebar dengan cepat, Tuan ‘Thunder Emperor’.”
“Pria itu
hanyalah pengganggu yang sudah tidak berguna lagi. Aku terus mengawasi saat
mendengar kau mulai bergerak.”
“Begitu
ya. Jadi rupanya begitu.”
“Hah? Menangani
‘Doctor’? Apa-apaan? Aku tidak dengar kabar apa pun soal itu,” sahut seorang
pria yang menaikkan kakinya ke atas meja saat Stieg mengambil tempat duduknya.
Nama pria itu
adalah Dimon Ogle, dan ia memancarkan aura beringas yang brutal. Ia adalah
Kursi Keempat Ordo Cyclamen, yang dikenal dengan julukan ‘War Ogre’.
“Sudah sewajarnya
kau tidak diberitahu,” balas Gunnar tenang.
“Kau diberi tugas
penting untuk memusnahkan pasukan Amuntzers yang berkeliaran di benua timur.
Kami sengaja menjauhkanmu dari informasi apa pun yang bisa memecah
konsentrasimu.”
Pada awal tahun,
sekitar waktu Shion menyerang salah satu “ladang” mereka, Amuntzers meluncurkan
serangkaian serangan serentak ke markas-markas Ordo di seluruh benua. Operasi
mereka berhasil di sisi barat benua, tetapi sisi timur adalah cerita yang berbeda.
Alasannya adalah sang ‘War Ogre’. Ia muncul di satu medan
perang ke medan perang lainnya, menciptakan kekacauan dan menimbulkan kerugian
yang tidak sedikit bagi pihak Amuntzers.
“Ah, aku
mengerti. Jadi kau yang menarik benang di balik layar. Pembantaian para
bajingan itu adalah hal paling menyenangkan yang kualami belakangan ini! Masih
ada beberapa yang tersisa. Rasanya menyebalkan mengikuti perintahmu, tapi akan
kulahap mereka sampai habis, persis seperti yang kau katakan!”
Terlepas
dari baik atau buruknya, Dimon adalah pria dengan selera yang sederhana dan
berisik. Setelah mendengar penjelasan Gunnar, ia memutuskan untuk tidak
mempermasalahkan pembuangan Oswald.
Tepat saat
percakapan mereka berakhir, pintu kembali terbuka.
Seorang wanita
dengan rambut hijau yang mengalir masuk ke ruangan—Philly Carpenter, sang
‘Guide’.
“…‘Wraith’ absen
lagi, seperti biasa,” komentarnya sambil mengambil tempat duduk terdekat dengan
kepala meja, seraya memperhatikan sisa kursi yang kosong.
“Tidak masalah
apakah dia ada di sini atau tidak,” jawab Gunnar menanggapi gumaman Philly.
“Tuan Beria tidak akan keberatan.”
“Ada benarnya
juga,” aku Philly. “…‘Scorching Heat’, sudah hampir waktunya. Kau harus
bangun sekarang.” Ia menyenggol gadis berambut merah yang terkulai di atas meja
di sampingnya.
“……Masih… mengantuk…”
Gadis itu mengangkat kepalanya karena suara Philly sembari
mengucek matanya.
Ia tampak tidak lebih tua dari sepuluh tahun, dan gumaman kantuknya semakin memperkuat kesan anak-anak tersebut. Inilah Luali Velt, Kursi Ketiga Ordo Cyclamen—sang ‘Scorching Heat’, seorang gadis dengan penampilan mungil yang menipu.
Setelah gadis itu benar-benar terjaga, ia segera membuang
muka. Sorot mata ramah yang sebelumnya ia berikan pada gadis kecil itu lenyap,
digantikan oleh tatapan yang sangat dingin dan mengerikan.
Saat ia mengalihkan pandangan itu ke arah kursi ketua, kabut
hitam kemerahan mulai bangkit menyelimuti ruangan.
Beberapa saat
kemudian, seorang pria berusia pertengahan dua puluhan muncul dari balik kabut.
Lengan kirinya hilang, dan sebuah penutup mata menutupi mata kanannya. Inilah
Beria Sans, pemimpin Ordo Cyclamen.
Kehadirannya
seketika meningkatkan ketegangan di dalam ruangan ke tingkat yang nyaris tak
tertahankan.
“Semua orang
hadir, kecuali sang ‘Wraith’,” ucap Beria dengan suara rendah dan berwibawa.
Para anggota di
ruangan itu menahan napas. Mereka semua paham bahwa kata-kata yang akan
diucapkannya sebentar lagi akan mengubah Ordo Cyclamen secara mendasar.
“Aku memanggil
kalian hanya karena satu alasan. Rencana panjang kita selama bertahun-tahun
akhirnya membuahkan hasil. Kepadatan mana di dunia ini telah melampaui ambang
batas yang ditentukan.”
Ketegangan yang
nyata menjalari seisi ruangan.
“Kita sekarang
akan berlanjut ke fase kedua rencana ini. Pertama-tama, kita bersihkan rumah
kita sendiri. Masalah Tutril, ‘Rakshasa’, kuserahkan padamu.”
“Sesuai
perintahmu,” ucap Stieg dengan sedikit membungkuk. “Kalau begitu, aku akan
menjalankan tugas ini bersama Tuan ‘War Ogre’.”
“Hah? Kenapa juga
aku harus bekerja di bawah pemula sepertimu? Lupakan saja.”
“Nah, nah, jangan
terburu-buru begitu,” potong Stieg dengan tenang. “Aku punya sebuah… tawaran
menarik untukmu, Tuan ‘War Ogre’.”
“Menarik untukku?
Aku duduk di sini menahan diri untuk tidak memburu sisa-sisa Amuntzers. Kau
benar-benar berpikir bisa menyiapkan panggung yang lebih menghibur daripada
saat aku mencabik-cabik mereka?”
“Oh, tentu saja.
Aku ingin kaulah yang menghadapi sang Sword Princess.”
“…Heh. Sword
Princess, katamu?” Mata Dimon berkilat dengan gairah predator.
Melihat umpannya
dimakan, Stieg segera memanfaatkan keadaan. “Benar. Tuan putri dari Kyokuto dan
pengguna pedang kutukan yang termasyhur itu. Meski dia bukan target utama kita,
dia adalah rintangan yang harus disingkirkan. Ini adalah tugas yang hanya bisa
kuserahkan padamu, satu-satunya yang keahliannya mampu menandingi dirinya.”
“Hahaha! Nah, itu
baru bicara! Baiklah! Jika itu artinya aku bisa bertarung melawan Sword
Princess, aku akan mengikuti perintah sialanmu itu. Tapi kalau aku tidak
mendapatkan pertarunganku… kau tahu sendiri apa yang akan terjadi, kan?”
“Tentu saja,”
jawab Stieg, sama sekali tidak gentar oleh niat membunuh mengerikan yang
diarahkan Dimon kepadanya. Ia hanya tersenyum dengan senyum polosnya yang menipu seperti biasa.
“Kalau begitu,
sudah diputuskan,” Beria menyatakan. “‘Rakshasa’ dan ‘War Ogre’ akan menaklukkan Tutril. ‘Guide’, ‘Thunder
Emperor’, dan ‘Scorching Heat’ akan ikut bersamaku untuk memusnahkan para
pengkhianat. Perang antara Kekaisaran dan Kerajaan, kuserahkan padamu, ‘Hero’.”
Perintah
terakhir Beria ditujukan kepada pemuda yang duduk di kursi ketujuh, yang sedari
tadi hanya duduk memejamkan mata seolah sedang bermeditasi.
Putra mahkota
Kekaisaran—Felix Lutz Kreuzer.
“Memang itu
niatku sejak awal,” jawab Felix sambil membuka matanya. “Kerajaan Nohitant
harus dihancurkan agar Kekaisaran bisa menegaskan dominasinya atas dunia. Aku
akan bersedia bekerja sama denganmu, tapi hanya selama kepentingan kita
sejalan.”
Iris matanya
tampak keruh, seolah membuktikan bahwa ia tidak bisa melihat masa depan benar
yang ia klaim sedang ia perjuangkan.
Senyum gelap
tersungging di bibir Beria saat ia menyadari bahwa segalanya berjalan sesuai
rencana.
“Akhirnya,” desisnya. “Garis start akhirnya terlihat.
Aku mengharapkan kerja keras kalian.
Kita akan mengembalikan dunia ini—yang telah dipelintir oleh ‘King of
the Ability Users’—ke keadaan yang semestinya.”
Dan
dengan itu, Ordo Cyclamen mulai bergerak dengan sungguh-sungguh.



Post a Comment