NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 3 Chapter 4

Chapter 4

Serangan Monster dan Pedagang Misterius


Sudah hari kelima sejak aku resmi menjadi guru dan memulai kegiatan belajar-mengajar di sekolah ini.

Hari ini ada kelas luar ruangan, jadi kami memutuskan untuk melakukan kerja lapangan ke hutan terdekat.

Semuanya pergi membawa bekal dan botol minum yang kubuat tadi pagi setelah bangun lebih awal.

Hasil pembelajaran sejauh ini tidak bisa dibilang lancar. Malah, bisa dibilang gagal total.

Setengah dari materi yang rencananya ingin kuajarkan sama sekali belum tersampaikan.

Kelasnya terlalu menyenangkan, para murid pun terlalu bersemangat, sehingga kami sering kali melantur atau mengulang hal yang sama berkali-kali. Benar-benar terlalu banyak distraksi.

Padahal tadinya aku berniat mengajak semuanya membuat Golem selama dua hari, besok dan lusa, tapi sepertinya itu mustahil.

"Kenapa, Kuruto? Mukamu lesu begitu. Padahal reputasimu sebagai guru sedang naik daun, lho."

Sosok yang menghiburku itu adalah Tuan Generik, sang ksatria.

Tuan Generik dan lima ksatria Valha lainnya sedang ditempatkan sementara di Rikuto ini. Untuk kerja lapangan kali ini, Tuan Generik dan satu ksatria lain ikut mendampingi kami.

"Itu semua berkat Tuan Rikuto. Karena beliau orang hebat, mereka jadi memuji aku yang cuma penggantinya di bengkel ini."

"Begitukah? Kurasa bagi anak-anak, wibawa seperti itu tidak ada pengaruhnya."

Tuan Generik berkata begitu sambil memandang enam murid yang berjalan diapit olehnya dan ksatria di barisan paling belakang.

Semuanya tampak bersenang-senang. Kecuali Vittel-kun yang wajahnya masih ditekuk.

"……Sensei, ada apa?"

Cretis-san bertanya.

"Ah, tidak apa-apa. Apa Cretis-san menikmati pelajarannya?"

"……Iya, sangat menyenangkan. Cara mengajar Sensei juga bagus. Saat aku memberikan baju kerja yang kubuat dengan metode dari Sensei kepada Bukir-san, dia kelihatan senang sekali."

"Yah, meski sifatnya yang kelihatan kurang bisa diandalkan itu agak disayangkan, sih."

Alcopa-kun tertawa riang sambil menyahut.

"Sensei, di rumah Abang selalu membanggakan Sensei di depan Ayah. Abang itu cuma tsundere, jadi jangan dimasukkan ke hati ya."

"Tsuki! Jangan bicara yang tidak-tidak!"

"Toko kami juga terbantu karena bisa menjual obat dan peralatan buatan semuanya. Kami jadi dapat untung sedikit."

Aria-san tampak berusaha keras menahan tawa yang hampir meledak.

Sebenarnya dia pasti untung banyak, ya.

"Itu! Itu yang mau aku bilang! Apa kami beneran boleh terima uang sebanyak itu? Penghasilanku jadi lebih tinggi dari Ayah, lho."

"Nggak apa-apa. Itu sudah termasuk uang tutup mulut. (Duh, kalau mereka tahu harga aslinya, pasti bakal pingsan. Ophelia-sensei bilang harga aslinya baru boleh dibayar setelah mereka lulus, jadi yang kuberikan sekarang cuma sepuluh persen dari bayaran seharusnya.)"

Aria-san menggumamkan sesuatu.

"Hah? Kamu bilang apa?"

Sword-kun yang ada di sebelahnya pun sama sekali tidak mendengar, sehingga dia bertanya pada Aria-san.

"Nggak, aku nggak bilang apa-apa. Ngomong-ngomong, tempat penempaan Sword katanya kebanjiran pesanan dalam jumlah besar, ya?"

"Iya. Setelah aku ajarkan cara dari Sensei kepada semua orang untuk membuat pedang, hasilnya jadi bagus sekali. Tuan Generik yang melihatnya lalu membantu mempromosikannya."

"Bukan mempromosikan. Aku cuma menyampaikan apa adanya kepada Margrave Tycoon. Kubilang, 'Pedang yang ditempa di Rikuto tidak kalah saing dengan buatan pengrajin kelas satu di ibukota, bahkan mungkin lebih unggul'."

"Tetap saja itu sangat membantu. Terima kasih banyak."

Sword-kun membungkukkan kepalanya.

Wah, ternyata ada kejadian seperti itu ya.

Vittel-kun tidak ikut dalam percakapan. Sebelum ada yang menyapanya, dia tidak akan bicara sepatah kata pun atas kemauannya sendiri.

Tidak apa-apa jika dia belum mengakuiku, tapi aku ingin dia bisa akrab dengan murid-murid yang lain.

"Lalu, Kuruto. Apa yang mau kita lakukan di tengah hutan begini?"

"Iya, hari ini aku ingin kita belajar langsung tentang persebaran mineral di desa ini."

Di sekitar sini terdapat urat bijih tempat emas bisa ditemukan.

Bijih emas lebih mudah ditemukan daripada Mythril atau Orichalcum, tapi tempat yang bisa ditambang di lokasi dangkal itu relatif sedikit.

Oh iya, pedagang keliling yang mengunjungi Desa Hust entah kenapa selalu senang membeli emas murni.

Waktu aku merekomendasikan Orichalcum kepada pedagang yang mau membeli emas, dia bilang, "Kalau aku bawa barang itu ke kota, bisa terjadi kepanikan!".

Aku tidak tahu kenapa harus panik, tapi karena itulah Desa Hust menambang emas dalam jumlah tertentu dan menyetorkannya kepada pedagang keliling.

"Begitu ya. Latihan lapangan memang penting, tapi aku kurang suka berjalan di hutan. Banyak serangga. Yah, meski aku sendiri sering dibilang 'serangga nakal' yang mengerumuni gadis-gadis, sih."

"Tuan Generik bukan serangga nakal, kok. Anda orang yang sangat baik."

"Aduh, Kuruto, tolong jangan dihibur dengan serius begitu. Iya, aku cuma bercanda tadi…… eh? Tunggu sebentar. Sepertinya dari tadi sama sekali tidak ada serangga ya?"

Tuan Generik melihat ke sekeliling sambil memiringkan kepala.

"Itu karena kami semua sudah memakai dupa pengusir serangga. Kami membuatnya kemarin."

"Ah, itu perjuangan banget ya. Kalau salah takaran bahan pembasmi serangganya, jangankan cuma mengusir, serangga seisi kota bisa mati semua."

Aria-san mengenang pelajaran kemarin dan mengatakannya sambil menghela napas.

"Sepertinya bisa dipakai sebagai pengganti pestisida, tapi kekuatannya terlalu gila."

"Bisa gawat kalau serangga yang bermanfaat ikut mati."

Alcopa-kun dan Tsuki-san bicara dari sudut pandang petani.

Pestisida ya…… Obat yang hanya membunuh serangga tertentu sepertinya bisa dibuat kalau aku mau, tapi sepertinya akan merepotkan.

Sama seperti membuat obat lambung yang hanya menyembuhkan lambung atau obat mata yang hanya menyembuhkan mata, membuat obat penawar segala penyakit jauh lebih mudah.

"Kalian membuat barang-barang yang luar biasa ya…… Apa ini beneran pelajaran kelas dasar? Kupikir kelas dasar itu tempat untuk belajar baca-tulis dan berhitung."

Tuan Generik berkata sambil tertawa kecut.

Dasar, ya. Kalau soal dasar dari yang paling dasar, aku menggunakan buku teks dari Mimiko-san untuk mengajar. Walau cuma lima menit sehari. Mungkin karena dasar itu penting, hal-hal selebihnya akan diajarkan oleh guru penggantiku nanti.

"Lho, ada apa?"

Sword-kun bertanya kepada Cretis-san.

Cretis-san berhenti melangkah dan melihat ke sekeliling dengan gelisah.

"……Sensei, aku sedikit takut pergi ke depan sana."

Ucapnya dengan suara gemetar.

"Kenapa?"

"……Rasanya seperti dilarang pergi ke depan sana."

Dilarang…… sebenarnya oleh siapa?

"Duh, jangan bilang yang aneh-aneh dong…… bukan hantu, kan?"

Aria-san berkata dengan wajah pucat.

Hantu…… kalau monster jenis Ghost sih aku juga tidak mau ketemu.

"Hmph, tidak berguna."

Vittel-kun berkata begitu, lalu melewati Tuan Generik untuk berjalan lebih dulu.

Tepat saat itu, aku melihat kilatan tumpul di kedalaman hutan.

"Bahaya—"

Seketika itu juga aku menjatuhkan Vittel-kun dan menindihnya untuk melindunginya.

Di saat yang sama, rasa sakit yang tajam menjalar di bahu kananku.

Sebuah anak panah tertancap di bahuku.

"Waspada! Murid-murid, ke belakangku!"

"……Mundur."

Tuan Generik berdiri di depanku bersama ksatria lainnya sambil mewaspadai keadaan sekitar.

Tak lama kemudian, empat anak panah terbang bersamaan.

Tuan Generik dan ksatria satunya menebas jatuh keempat anak panah itu dalam sekejap.

"He-hebat."

Alcopa-kun berucap.

Iya, Tuan Generik hebat, tapi ksatria satunya juga luar biasa. Menebas anak panah yang terbang dengan pedang bukanlah hal yang mudah dilakukan.

"Sensei, tidak apa-apa?"

Tsuki-san bertanya.

"……Iya, cuma segini…… bahu kananku tidak bisa digerakkan, tapi tidak apa-apa. Sepertinya tidak ada racunnya."

Sambil bermandikan keringat dingin, aku menjawab dengan senyuman.

"Itu namanya kenapa-napa, tahu."

Aku mencabut anak panah yang menancap di bahu, lalu merobek kain baju di sekitar bahu kiri.

Saat melihat bagian yang tertancap tadi, darah mengucur deras. Melihat kondisinya, mungkin tulangnya hancur. Harus segera diobati.

"……Kenapa kamu melindungiku?"

"Karena Vittel-kun adalah muridku—"

Aku mengatakan itu lalu menggelengkan kepala dan melanjutkan.

"Mungkin keren kalau aku bisa bilang begitu, tapi aku sendiri tidak tahu alasannya. Tubuhku bergerak sendiri."

Aku mencoba mengambil obat luka dari tas yang selalu kubawa, tapi sebelum itu, Vittel-kun sudah mengeluarkan Potion dari tasnya sendiri.

Itu adalah Potion yang dibuat di hari pertama sekolah.

Murid-murid lain sepertinya menyerahkan Potion buatan mereka kepada Aria-san untuk dijual, tapi Vittel-kun tidak menjualnya.

Apa dia mengalami luka lecet saat aku menjatuhkannya tadi?

Kiraanku salah.

"……Minum ini."

Vittel-kun menyodorkan Potion itu kepadaku.

"Boleh?"

"Iya. Ini kan luka gara-gara melindungiku."

"……Terima kasih. Aku terima ya."

Aku mengucapkan terima kasih dan menerima Potion itu dengan tangan kiri, mencabut sumbat gabusnya dengan mulut, lalu meminum habis isinya sekaligus.

Sepertinya masih ada sedikit sisa serat daunnya, tapi khasiat obatnya bekerja dengan baik.

"Duh, Vittel. Sensei kan tangan kanannya nggak bisa gerak, bukain kek tutupnya."

Aria-san memberi teguran.

"Benar tuh, Vittel-kun. Tapi, aku sedikit kagum padamu."

Sword-kun berkata dengan senyum malu-malu.

"Iya iya, kalau Aria yang gila uang, pasti tidak akan mau memakainya."

"Malah mungkin bakal dijual ke Sensei."

Alcopa-kun dan Tsuki-san menyahut.

"……Vittel-kun, terima kasih."

Terakhir, Cretis-san mengucapkan terima kasih, dan Vittel-kun langsung memalingkan wajah.

"Eh, Vittel. Mukamu merah banget! Kenapa, malu ya?"

"Berisik, jangan urusi aku."

Saat para murid mulai akrab, rasa sakit di bahuku lenyap seketika, dan bahuku pun bisa digerakkan lagi.

Sip, sepertinya tulangnya juga sudah menyatu sempurna.

"Terima kasih, Vittel-kun. Lukanya sudah sembuh total."

"Maaf karena harus mengganggu waktu sembuhmu, tapi jangan lengah ya, Bocah-bocah sekalian."

Tuan Generik berkata sambil menangkis anak panah yang kembali terbang.

Kecepatan anak panahnya perlahan meningkat.

Itu artinya, sang pemanah sedang mendekat.

Lalu, mereka pun menampakkan diri.

"……Goblin…… Archer."

Aku berucap dengan nada putus asa.

Monster dengan wujud seperti kera tanpa bulu—Goblin. Terlebih lagi, jumlahnya ada lima ekor.

Biasanya Goblin hanya menggunakan senjata seperti batang kayu.

Namun, jika mereka memegang senjata buatan manusia, namanya akan berubah.

Kalau memegang kapak disebut Goblin Warrior, kalau memegang pedang disebut Goblin Swordsman, dan kalau memegang busur panah disebut Goblin Archer.

Omong-omong, sebagian besar senjata itu dirampas dari manusia yang mereka bunuh, bukan berarti mereka punya bakat tinggi dalam menggunakan senjata tersebut.

Busur yang dipegang para Archer di depan kami pun tampak sangat tua, kemungkinan hasil rampasan dari pemburu.

Tetap saja, lima ekor Goblin bersenjata…… aku yang jumlahnya lima puluh orang pun tidak akan sanggup melawan.

"Lima ekor Archer ya…… Merepotkan juga."

Tuan Generik bergumam.

Sial, kalau bukan karena harus melindungi kami, Tuan Generik sendiri pasti sanggup menghabisi para Goblin Archer itu.

"……Angin bertiup."

Cretis-san bergumam, dan tepat saat itu juga.

Angin kencang bertiup dari belakang kami menuju ke arah para Goblin Archer.

Memang tidak sampai membuat kami terjatuh, tapi kenapa ada angin di tengah hutan?

Angin yang seperti sihir.

Kalau begini—

"Tuan Generik!"

"Iya, entah apa yang terjadi tapi ini kesempatan! Gaurow, titip murid-murid ya!"

"……Ya."

Tuan Generik memberi instruksi kepada ksatria pendiam yang ternyata bernama Gaurow-san, lalu menerjang maju bersama angin.

Para Goblin Archer melepaskan anak panah, tapi karena angin kencang, panah-panah itu terbang ke arah yang tidak jelas.

Tuan Generik menebas para Goblin Archer satu per satu, dan dengan sangat mudah, dia menghabisi ekor terakhir.

Bersamaan dengan itu, angin pun berhenti.

"Huh, membosankan."

"Terima kasih banyak. Anda kuat sekali ya. Tolong seka darahnya pakai ini."

"Oh, terima kasih. Nona kecil."

Tsuki-san berlari menghampiri Tuan Generik dan menyerahkan saputangan.

Jangan-jangan dia jatuh cinta pada Tuan Generik? Bahkan di mataku yang laki-laki pun, Tuan Generik memang terlihat keren.

Suasana kembali sunyi, seolah angin kencang tadi hanyalah dusta.

"……Terima kasih. Terima kasih atas kerja kerasnya."

Cretis-san mengucapkan terima kasih ke arah ruang hampa.

Jangan-jangan, angin tadi sengaja dibangkitkan oleh seseorang untuk menolong Cretis-san?

Tidak, mungkin Cretis-san cuma sedang berterima kasih kepada Tuhan.

Dulu Marlefiss-san juga sering berdoa kepada Tuhan dengan tatapan kosong setelah terlalu banyak minum anggur, jadi kurasa ini hal yang serupa.

◆◇◆

"Jadi, kamu kabur dari sekolah?"

Aku menatap Liese dengan tatapan sinis di ruang monitor.

"Yuri-san, kasar sekali bilang kabur. Sebagai ibu, sudah sewajarnya aku mengurus Akuri. Benar kan, Akuri?"

"Benal, nano."

Akuri tampak senang karena Liese yang belakangan ini tidak bersamanya di siang hari kini ada di sisinya.

Aku tahu ini bukan berarti dia lebih suka Liese daripada aku, tapi rasanya tetap agak kesepian.

Tapi kalau memikirkan masa depan, waktu Akuri dan Liese bersama yang bertambah itu bukan hal buruk, jadi aku memutuskan untuk mengganti topik.

"Ngomong-ngomong, Famil. Bagaimana keamanan di kota? Tidak ada masalah?"

Aku bertanya pada Famil yang juga ada di ruang monitor.

Omong-omong, yang memanggil Rikuto ini dengan sebutan "desa" hanyalah Kuruto si pembuatnya sendiri.

"Di kota penguasa maupun desa-desa yang menerima imigran dari Torschen, ketegangan dengan penduduk asli semakin meningkat. Namun di kota ini, tanda-tanda seperti itu belum terlihat sampai sekarang."

Mendengar kata-kata Famil, Liese mengangguk setuju.

"Di kelasku pun tujuh puluh persen muridnya berasal dari Torschen, tapi tidak ada diskriminasi etnis. Yah, saat pembagian kelompok, mereka memang cenderung berkelompok dengan sesama orang Torschen, sih."

"Penyebab diskriminasi imigran biasanya karena merasa pekerjaan mereka direbut, atau ketakutan akan memburuknya keamanan…… tapi di kota ini lapangan kerja sangat luas, dan keamanannya pun bagus. Aku belum pernah dengar ada kota rintisan dengan tingkat kepuasan seratus dua puluh persen."

"Lalu soal provokasi oleh agen provokator, atas perintah Liese-sama, kami sudah memeriksa latar belakang semua calon imigran. Mereka yang terkonfirmasi sebagai agen atau mata-mata sebagian sudah ditangkap, sisanya masih kami awasi."

Bahkan bagi manusia yang disebut mata-mata atau agen, jarang ada yang langsung melakukan tindakan seketika.

Kebanyakan dari mereka menyusup ke dalam kota selama bertahun-tahun sambil menunggu instruksi dari negara asal.

Mereka yang ditangkap adalah yang punya catatan kriminal atau sudah terindikasi akan melakukan manipulasi informasi.

Aku melihat daftar orang-orang yang sedang diawasi itu.

Ada orang yang pernah minum bersamaku di kedai. Saat itu kupikir dia cuma orang biasa, ternyata mata-mata ya.

Selanjutnya, aku melihat daftar orang yang bukan mata-mata tapi harus sangat diwaspadai.

"Hm? Siapa pria dari Persekutuan Dagang Genic ini? Mencurigakan?"

Dia tercantum sebagai orang yang paling harus diperhatikan, lengkap dengan data detail hasil penyelidikan.

Latar belakang, informasi fisik, sampai alergi. Dia alergi udang, kepiting, dan kerang ya.

Kalau sampai diselidiki sejauh ini padahal belum terkonfirmasi sebagai mata-mata…… level kewaspadaannya sepertinya tidak main-main.

Aku pernah belanja sekali di toko miliknya, tapi rasanya cuma toko kelontong biasa.

Liese dan Famil menjawab rasa penasaranku.

"Persekutuan Dagang Genic adalah persekutuan yang digerebek enam tahun lalu karena transaksi ilegal. Penyebabnya adalah penjualan barang terlarang secara sembunyi-sembunyi. Ketua persekutuannya bunuh diri di rumahnya, dan persekutuan itu praktis bubar."

"Traft Genic adalah putra dari ketua persekutuan tersebut."

"Begitu ya…… Ada kemungkinan dia dendam pada negara. Tapi, bukan berarti anak kriminal itu pasti kriminal, kan?"

"Itu saya yang menginstruksikan untuk waspada."

"Liese?"

Liese mengangguk mantap.

"Benar. Sebelum datang ke kota ini, pria itu sepertinya berada di Torschen. Dan sebagian barang terlarang yang ditangani Persekutuan Genic enam tahun lalu masih belum diketahui keberadaannya sampai sekarang. Barang terlarang itu adalah Batu Pemanggilan (Summoning Stone)."

"Apa-apaan!?"

Batu Pemanggilan—benda yang bisa memanggil dan mengendalikan monster tertentu dalam waktu terbatas.

Benda itu ditemukan sepuluh tahun lalu oleh sebuah bengkel untuk kepentingan militer, tapi rencananya dibatalkan karena monster tidak bisa dikendalikan dan potensi kerusakannya terlalu besar.

Menurut cerita Liese, pegawai bengkel itu membocorkan cara pembuatannya ke pihak luar, dan pihak luar itu adalah Persekutuan Genic.

Di laboratorium milik mereka, replika Batu Pemanggilan dibuat dalam jumlah besar dan disalurkan ke berbagai tempat.

"Lalu, Traft Genic ini sekarang di mana?"

"Di sini."

Famil mengoperasikan monitor dan menampilkan sosok pria yang diduga Traft Genic.

Sepertinya dia berada di depan sebuah rumah.

"Famil-san, rumah siapakah ini?"

"Mohon tunggu sebentar…… eh, rumah ini……"

Menjawab pertanyaan Liese, Famil memeriksa daftar nama.

"Ini rumah imigran dari Torschen. Kalau tidak salah, ini milik pemilik ladang gandum yang pernah dibantu oleh Tuan Kuruto."

"Tempat tinggal anak bernama Randle itu?"

"Benar. Ayahnya kabarnya tidak keluar rumah sama sekali selama seminggu terakhir. Menurut tetangga yang menjenguk, dia hanya kelelahan biasa dan akan membaik dalam beberapa hari."

"Apa urusannya di rumah seperti itu……"

Tepat saat aku menggumamkan itu.

Pintu ruang monitor terbuka dan seorang wanita asing masuk.

Aku sempat waspada sejenak, tapi aku mengenali hawa keberadaan ini.

Salah satu dari Phantom.

Mereka juga diperbolehkan keluar-masuk ruang monitor ini.

Biasanya Phantom muncul dan menghilang seperti asap, tapi ruang monitor buatan Kuruto ini memang luar biasa.

Ruangan dengan penjagaan ketat ini ternyata tidak bisa ditembus dengan cara seperti asap.

"Yang Mulia, ada laporan."

"Apa itu?"

"Sebelumnya saya sampaikan, semuanya selamat. Tuan Kuruto dan anak-anak kelas dasar diserang oleh sekelompok Goblin Archer. Akibatnya, kerja lapangan dihentikan dan mereka telah kembali."

"…………!"

Kuruto selamat, kan!?

Hampir saja kata-kata itu terlontar dari mulutku. Kalau tidak bisa menahan diri, mungkin aku sudah mencengkeram kerah bajunya.

Liese pasti merasakan hal yang sama denganku.

Itulah sebabnya wanita Phantom itu mengawalinya dengan memberitahu bahwa semuanya selamat.

"Papa nggak apa-apa?"

Akuri bertanya.

"Tuan Kuruto terluka karena panah saat melindungi muridnya, tapi setelah meminum Potion buatan muridnya, dia tampak sudah sembuh total. Tidak ada orang lain yang terluka."

"Padahal aku sudah menyuruh Generik ikut untuk berjaga-jaga. Apa yang dilakukan si batang kayu tidak berguna itu?"

"Setelah serangan pertama, Tuan Generik bertarung sendirian melawan kawanan Goblin Archer. Hasilnya, para Goblin tumpas tak bersisa. Tanpa dia, situasinya mungkin akan gawat."

"Begitukah…… Baiklah, rencana menjatuhkan hukuman pengkhianatan negara kita batalkan saja."

Pengkhianatan negara…… Kalau Liese serius, si Generik benar-benar bisa kena hukuman mati. Dia selamat berkat pembelaan dari Phantom itu.

"Tapi tetap saja, sarang Goblin di sekitar sini seharusnya ada di kedalaman hutan. Kenapa mereka bisa muncul sampai dekat pemukiman manusia? Ini juga bukan musim mereka bermigrasi."

Pada dasarnya Goblin tidak keluar dari wilayah kekuasaannya, mereka menyerang manusia hanya jika wilayahnya dimasuki.

Pengecualiannya adalah saat musim bermigrasi, mereka akan memisahkan diri dari kelompok dalam jumlah kecil, tapi itu hanya di musim tertentu.

"Mungkin ada sarang Goblin yang tidak kami ketahui. Atau mungkin bos kelompoknya berganti, dan bos lama diusir dari kelompok. Memang jarang, tapi bukan berarti tidak pernah terjadi."

Mengabaikan penjelasan Phantom, Akuri bicara pada Liese.

"Mama Liese. Mau ketemu Papa."

"Ah, benar juga. Akuri, ayo kita ke tempat Papa. Yuri-san mau ikut juga?"

"Ya…… tidak, ada sesuatu yang harus kupelajari dulu, aku akan menyusul setelah selesai. Oh iya, tadi di kantor ada surat untuk Rikuto dari Marquess Triad. Tolong sampaikan ya."

"Apa isinya?"

"Disegel dengan lambang keluarga Marquess, lho. Mana mungkin aku berani membukanya."

Liese menerima surat itu, berkata "Akan aku cek nanti," lalu pergi meninggalkan ruang monitor bersama Akuri dan diikuti oleh Phantom.

Aku yang tersisa kembali menatap monitor.

Terlihat kepala suku yang baru pulang menjual gandum ke kota dengan kereta kudanya.

Beberapa saat kemudian, Kuruto dan yang lainnya terlihat kembali dengan dipimpin oleh Generik.

Meski baru saja diserang Goblin Archer, semuanya tampak tersenyum. Sepertinya meski ada kejadian mengejutkan, mereka menganggapnya pengalaman yang seru.

Putra Marquess—aku baru melihatnya di dokumen, kalau tidak salah namanya Vittel? —terlihat berjalan di samping Kuruto. Kata Kuruto dia sama sekali tidak mau terbuka, tapi sepertinya kejadian kali ini membuat jarak mereka semakin dekat.

Nah, aku juga harus pergi sekarang.

Saat aku berdiri, Famil bertanya padaku.

"Yuri-sama hendak ke mana?"

"Ah, aku mau ke sarang Goblin di kedalaman hutan."

"……!? Apa Anda akan baik-baik saja?"

"Tenang saja. Kalau soal melawan monster, aku lebih hebat dari ksatria manapun. Biarpun sudah pensiun, aku ini mantan petualang langsung di bawah Kerajaan, dan aku punya Sekka Kuruto yang menemaniku."

Aku menepuk pelan gagang pedang di pinggangku—Sekka—sambil mengangguk.

◆◇◆

Keesokan harinya. Aku, Kuruto, mengadakan pelajaran di halaman sekolah setelah kelas teori selesai. Tadinya materi ini ingin aku ajarkan saat kerja lapangan kemarin.

"—Pelajaran hari ini sampai di sini. Semuanya, pupuk yang baru saja kita buat ini adalah dasar dari yang paling dasar. Kalau mau dipakai di ladang, pastikan minta izin dulu pada pemilik ladangnya ya."

"Sensei, beneran ini cuma pupuk dasar? Padahal tadi biji bunga yang ditabur bisa jadi padang bunga cuma dalam satu jam."

"Iya. Pupuk ini efeknya murni hanya untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Contohnya, bunga ini aslinya hanya mekar warna kuning, tapi kalau diberi pupuk lain racikanku……"

Aku memasukkan pupuk cair ke dalam pot, lalu menaburkan biji.

Seketika biji itu bertunas, tumbuh besar, dan mekar menjadi bunga biru.

"Nah, bunganya mekar dengan warna yang berbeda. Kelopak kuning bisa dimakan, tapi kelopak biru ini disebut 'Pembasmi Cacing' dan digunakan sebagai obat untuk membunuh parasit di dalam tubuh…… Baiklah, kita sambung lagi besok. Semuanya hati-hati di jalan ya."

Aku menutup pelajaran dan meletakkan pot itu di pinggir halaman.

"Sensei, bunganya cantik, boleh aku buat jadi bunga tekan?"

Tsuki-san bertanya.

"Boleh saja. Tapi ingat, jangan sampai termakan ya."

"Siap!"

Tsuki-san memetik bunga dengan senyum lebar, lalu kembali ke kelas bersama Alcopa-kun dengan riang.

Setelah ini adalah waktu untuk mengobrol santai dengan para murid.

"Sensei, soal ini."

"Ini, busur panah milik Goblin Archer?"

Aria-san menunjukkan busur dan tempat anak panah yang digunakan Goblin Archer kemarin.

"Iya, kupikir bisa dijual, tapi busurnya sama sekali nggak bisa dipakai memanah."

"Boleh aku lihat sebentar?"

Aku menerima busur itu dari Aria-san.

Setelah kuperiksa, ternyata setelan busur ini sangat unik dan sulit digunakan.

Orang yang tidak terbiasa pasti tidak akan bisa menembak dengan benar.

Aku mengambil peralatan menjahit dari tasku dan melakukan penyetelan ringan pada busurnya.

"Seharusnya sekarang sudah bisa……"

Lalu aku mengambil satu anak panah dari tempatnya, memasangnya, dan mencoba menembak.

Syuuut! Tidak ada suara keren seperti itu.

Anak panah itu terbang dengan lunglai dan jatuh ke tanah dengan menyedihkan.

"Ah, ternyata sulit ya. Aku memang tidak berbakat menggunakan senjata."

"Hehe, ternyata Sensei punya kelemahan juga ya…… Tapi dibanding tadi sudah lumayan bisa terbang, kok. Terima kasih ya."

"Iya. Tapi jangan memanah di tengah kota, ya. Di aula olahraga ada tempat latihan memanah, lebih baik latihan di sana."

"Eh? Ada tempat kayak gitu? Aku coba ke sana ah."

Aria-san berterima kasih lalu pamit pulang.

Tadinya dia bilang mau dijual, tapi sepertinya dia mulai tertarik cara menggunakan busur ya?

Baguslah kalau dia tertarik pada banyak hal.

"……Sensei."

Tepat saat aku hendak pulang, seorang murid yang tidak disangka menyapaku.

Vittel-kun.

"Vittel-kun, ada apa? Mau bertanya sesuatu?"

"Ke-kemarin…… te-terima…… ka……"

Tubuh Vittel-kun gemetar…… Meski ingin berterima kasih, dia malah tampak seperti ketakutan.

Mungkin dia menganggap mengucapkan terima kasih sebagai tindakan menunjukkan kelemahan. Apa ini pengaruh didikan sebagai anak bangsawan tinggi?

"Vittel-kun. Apa selama ini kamu merasa tidak dicintai oleh ayahmu?"

Aku sudah penasaran sejak lama.

Vittel-kun bilang ayahnya adalah seorang Marquess, tapi dia menyebut dirinya sendiri hanya sebagai "salah satu anggota keluarga Marquess".

Bagiku itu terdengar seperti; bagi Vittel-kun ayahnya adalah satu-satunya ayah, tapi bagi ayahnya, Vittel-kun hanyalah salah satu orang di rumah itu yang tidak dianggap penting dan tidak dicintai sebagai anak.

"……Aku anak keempat dari keluarga Marquess. Gelar keluarga akan diwarisi oleh kakak sulungku. Kakak-kakakku yang lain juga akan menjabat posisi penting di negara, tapi aku tidak bisa."

"Kenapa?"

Vittel-kun menjawab pertanyaanku dengan nada datar.

"Karena ibuku adalah rakyat jelata."

"…………!"

"Jangan pasang wajah begitu. Yah, ini cerita yang lumrah. Bagi bangsawan—terutama bangsawan tinggi—kemurnian darah adalah segalanya. Bangsawan yang tercampur darah rakyat jelata adalah objek hinaan bagi para bangsawan di ibukota. Orang seperti itu, seberapa hebat pun dia, dianggap tidak layak dan tidak akan bisa menjabat posisi penting di negara. Bahkan rakyat jelata biasa masih punya peluang lebih besar dibanding orang sepertiku."

Vittel-kun menceritakan tradisi bangsawan dengan ekspresi pedih.

Aku ingin berempati pada perasaannya, tapi aku jadi tidak tahu harus berkata apa.

Bagaimanapun, aku pasti tidak akan pernah benar-benar memahami perasaan yang ia tanggung.

"Ayah mengirimku belajar ke sekolah ini demi menjalin hubungan dengan Penyihir Istana Peringkat Ketiga Mimiko, Atelier Meister Ophelia, dan pendiri sekolah ini, Atelier Meister Rikuto—aku hanyalah alat yang digunakan untuk tujuan itu."

"Karena itu, kamu tidak puas aku yang jadi gurumu, dan ingin Mimiko-san yang jadi wali kelasmu ya."

Padahal menggunakan kekuasaan untuk memaksa pergantian wali kelas kurasa malah akan membuat Mimiko-san atau Ophelia-sama tidak senang…… Tapi mungkin karena masih anak-anak dia tidak berpikir sampai ke sana.

"Sepertinya Vittel-kun salah paham."

"Mana mungkin aku salah paham."

"Soalnya, aku sudah membaca surat dari ayahmu—Marquess Triad."

"Dari Ayah!?"

Vittel-kun berteriak dengan wajah terkejut.

"Apa isi suratnya!?"

"Banyak hal tentang Vittel-kun. Beliau menulis kalau kamu sangat rajin belajar, sebenarnya anak yang sangat baik, dan punya bakat sihir. Omong-omong, aku baru tahu lho kalau Vittel-kun punya peringkat Aptitude sihir B."

Bagi aku yang sama sekali tidak punya bakat sihir, itu sangat membuat iri.

"……Sihir itu tidak ada gunanya."

"Kata Marquess Triad, beliau dulunya tidak direncanakan untuk mewarisi gelar. Tapi karena dua kakak laki-lakinya meninggal mendadak, beliau harus mewarisinya. Padahal sebenarnya beliau sangat ingin menjadi Penyihir Istana. Beliau menulis kalau beliau sudah berlatih keras untuk itu."

"Ayah ingin jadi Penyihir Istana…… Kalau diingat lagi, Ibu dulu adalah guru di sekolah pendidikan sihir…… Begitu ya, jadi di sana mereka bertemu."

"Marquess Triad ingin Vittel-kun mewujudkan impian itu. Karena itulah beliau mengirimmu ke sekolah ini tempat Mimiko-san mengajar. Beliau ingin menitipkan impian yang tidak bisa ia raih kepadamu. Karena kakak-kakakmu sepertinya hampir tidak punya bakat sihir."

Aku berdiri di samping Vittel-kun, sempat ragu untuk menyentuh bahunya, tapi akhirnya aku meletakkan tanganku di sana dan berkata.

"Vittel-kun, saat membuat spesimen daun kemarin, cahayamu yang paling terang, kan? Itu artinya kamu punya energi sihir yang lebih banyak dari siapapun. Ditambah lagi bakat sihirmu tinggi. Kamu pasti bisa menjadi Penyihir Istana yang hebat."

"Aku…… jadi Penyihir Istana."

"Ini—tongkat sihir buatanku. Karena Vittel-kun punya atribut air yang kuat, aku memasangkan kristal sihir Aquamarine untuk meningkatkan kekuatan airmu."




Aku mengucapkan hal itu sembari menyerahkan tongkat logam paduan Orichalcum dan Hihiirokane yang bertahtakan kristal sihir Aquamarine kepada Vittel-kun.

Tadi malam, aku sudah berusaha keras menggali dan mengumpulkannya hingga akhirnya terkumpul cukup logam untuk satu tongkat kecil.

Sebenarnya, daripada sekadar memberi tongkat, akan lebih baik jika aku bisa mengajarinya cara menggunakan sihir.

Namun, hal itu tidak mungkin kulakukan.

"Sayang sekali, Magic Aptitude milikku hanya Rank G…… Aku sama sekali tidak punya bakat. Jadi, aku sudah meminta Mimiko-san untuk membimbingmu belajar saat waktunya tiba nanti."

"…………!?"

Vittel-kun menatap wajahku dengan ekspresi terkejut.

"Tenang saja. Kalau itu Vittel-kun, aku yakin kamu pasti bisa menjadi penyihir istana yang hebat, jadi berjuanglah, ya."

"Kuruto-sensei! Aku—!"

Tepat saat Vittel-kun berseru dengan suara keras, sebuah kejadian terjadi.

Arcopa-kun tiba-tiba berlari masuk ke halaman dalam dengan napas tersengal.

Padahal seharusnya tadi dia sudah pulang bersama Tsuki-san untuk membantu panen gandum.

Arcopa-kun mencoba mengatur napasnya, lalu berteriak dengan ekspresi serius.

"Kuruto-sensei, gawat! Sungai di luar kota—!"

"Ada apa dengan sungainya?"

"Sungainya—"

Selagi Arcopa-kun berusaha menenangkan napasnya, Tsuki-san datang dan menyambung.

"Sungainya sudah tercemar racun."

Kami segera keluar melalui gerbang dan mendekati sungai yang mengalir di dekat desa.

Bau apa ini? Padahal saat survei sewaktu membangun desa, bau menyengat seperti ini tidak ada.

Area di sekitar sungai sudah dilarang untuk dimasuki orang biasa.

Kecuali Mimiko-san yang tampaknya sedang melindungi diri dengan sihir angin.

Mimiko-san menyadari kehadiranku, dia mendekat lalu melepaskan sihir anginnya.

"Kuruto-chan…… Syukurlah kamu datang di waktu yang tepat. Lihat, sungai itu."

"Sungainya terkontaminasi, ya."

Air sungai sedikit keruh dan bau menyengat tercium samar di udara.

Aku bahkan tidak perlu memeriksanya lebih jauh untuk memastikan hal itu.

"Kamu juga berpikir begitu? Kita harus segera melarang warga menggunakan air sumur kota."

Mimiko-san berkata demikian, namun aku menggelengkan kepala.

"Tidak apa-apa. Dengan tingkat polusi segini, sistem pemurnian air akan menyaringnya hingga aman diminum saat masuk ke kota nanti."

"Daripada itu, jika tidak segera dimurnikan, ikan-ikan di sini akan mati semua."

"Apa kamu bisa memurnikannya?"

"Iya. Sebenarnya bisa menggunakan obat, tapi itu akan membuat ikan-ikan tidak mau mendekati sungai ini lagi karena efeknya terlalu kuat."

Kalau ini air kolam renang mungkin tidak masalah. Namun untuk sungai alami, air yang terlalu jernih justru takkan ditinggali ikan.

Untungnya racunnya sudah cukup encer. Sepertinya masih ada beberapa ikan yang bertahan hidup di sana.

"Mempertimbangkan hal itu, aku berniat menanam tanaman air agar kejadian ini tidak terulang."

"Tanaman air? Kupikir polusi ini tidak seringan itu sampai bisa dimurnikan hanya dengan tanaman air?"

"Tenang saja. Seperti yang aku ajarkan di kelas, pupuk yang meningkatkan komponen Detoxification pada benih tanaman air bisa mengubah air tercemar menjadi kaya nutrisi."

"Kurasa pertumbuhan gandum di sekitar sini juga akan jadi lebih baik."

Sambil berkata begitu, aku menebar beberapa jenis pupuk cair yang tadinya kusiapkan untuk mengajar ke tempat benih tanaman air berada.

Seketika itu juga, tanaman air tumbuh dengan sangat cepat. Di saat yang sama, air sungai di sekitarnya pun kembali jernih.

Ikan-ikan yang tadi hampir mati mulai sadar dan berenang dengan lincah kembali.

Namun tentu saja, ikan yang sudah terlanjur mati tidak bisa hidup lagi.

"Semuanya. Karena proses pemurnian akan berjalan, bisakah kalian bantu mengumpulkan ikan-ikan yang mati agar tidak membusuk dan berbau?"

"Lalu, jika ada yang merasa tidak enak badan, tolong beritahu aku karena aku sudah menyiapkan obat."

Kami mulai mengumpulkan ikan mati sembari memantau proses pemurnian sungai.

Di tengah jalan aku sempat kehabisan pupuk, jadi aku meraciknya lagi di tempat sebanyak dua kali.

Akhirnya, air yang tercemar di sekitar desa pun menghilang sepenuhnya.

Bagian hulu sungai mungkin masih tercemar, tapi di depan sana adalah hutan.

Kemarin kami baru saja diserang oleh Goblin Archer, ditambah lagi bahan pupukku sudah habis.

Saat aku berpikir untuk menyudahi pekerjaan hari ini, Yuri-san muncul dari dalam hutan.

"Kuruto!"

"Yuri-san!? Apa yang sedang Anda lakukan di dalam hutan?"

"Aku baru saja menyelidiki bagian dalam hutan dan melihat sumber mata air sungainya."

"Sumber mata air!? Apa yang ada di sana?"

"Tempat itu penuh dengan bangkai Goblin."

……Jadi, bangkai Goblin itu yang menjadi penyebab pencemaran sungai?

Bukan, justru sebaliknya. Mungkin Goblin-goblin itu mati karena pencemaran tersebut.

Aku membuat dugaan seperti itu, namun menurut Yuri-san, situasinya sedikit berbeda.

"Para Goblin itu tampak seperti habis dimangsa monster, tapi pelakunya tidak meninggalkan jejak sedikit pun."

"Beberapa tubuh Goblin bahkan meleleh seperti Slime. Sepertinya mereka terkena racun yang sangat kuat."

"Racun, ya…… Berarti sama dengan polusi di sungai tadi."

"Persis sama……"

Seseorang bergumam dengan nada yang berbeda dari maksud "sama" yang aku ucapkan.

"Sama seperti saat Oasis kami tercemar dulu."

◆◇◆

Setelah selesai menyelidiki sumber air, aku bersama Liese dan Famil mulai mengatur informasi.

"Berdasarkan jarak dan kecepatan aliran sungai, monster itu kemungkinan muncul di pemukiman Goblin sekitar dua hari yang lalu. Siapa saja yang keluar kota saat itu?"

"Ini datanya, Yuri-san."

Famil membagikan dokumen yang telah ia siapkan kepada kami semua.

"Kebanyakan adalah petani, sisanya kereta kuda pedagang yang keluar masuk."

"Karena tiga hari yang lalu kita mulai menjual tepung gandum ke kota milik Lord juga, kan."

"Ah, ada catatannya di sini. Kepala suku pergi naik kereta barang."

Apa yang dikatakan Liese benar. Identitas semua pedagang lain sudah jelas, jadi tidak ada orang yang mencurigakan.

Orang-orang yang keluar kota selain menggunakan kereta kuda kebanyakan adalah petani—tunggu?

"Ada apa?"

"Traft Genick itu keluar kota dengan berjalan kaki. Apakah pergerakannya terpantau saat itu?"

"Kami baru mulai mengawasi Traft Genick kemarin pagi, jadi untuk kejadian dua hari lalu, kami tidak punya data."

Mendengar penjelasan Famil, Liese melontarkan pertanyaan.

"Di mana Traft Genick sekarang?"

Famil menunjuk ke salah satu monitor dengan ekspresi tegang.

"Sepertinya dia menuju ke rumah yang waktu itu lagi…… Yuri-san! Lihat itu!"

Di depan rumah yang pernah dikunjungi Traft sebelumnya, entah bagaimana, ada Kuruto dan Akuri di sana.

Kenapa Kuruto ada di tempat seperti itu?

Kuruto mengetuk pintu rumah, namun karena tidak ada jawaban, tiba-tiba sosoknya menghilang.

Mungkin dia masuk ke dalam menggunakan kemampuan teleportasi milik Akuri.

"Tuan Kuruto memang mengkhawatirkan anak laki-laki di rumah itu. Mari kita panggil dia pulang lewat pengeras suara!"

"Jangan, suara itu akan terdengar ke seluruh area dan bisa memicu reaksi berbahaya dari Traft—"

Selagi kami berdebat, Traft sampai di rumah tersebut dan langsung masuk begitu saja.

"Kuruto dan Akuri dalam bahaya! Famil, hubungi pos penjagaan sekarang!"

Daripada menghubungi pos penjagaan, akan lebih cepat jika aku sendiri yang berlari ke sana.

Aku dan Liese pun melesat keluar dengan kekuatan penuh.

"Kuruto! Akuri!"

Saat aku menerjang masuk ke rumah Randle, Kuruto dan Traft sedang berdiri berhadapan.

Akuri dan Randle selamat, mereka bersembunyi di belakang Kuruto.

"Eh? Yuri-san!?"

"Kuruto, mundur ke belakangku."

Aku memerintah Kuruto yang tampak bingung sembari menghunus pedang Setsuka.

"Traft, dugaanku benar, kamulah pelakunya."

"Eh!? Pelaku apa yang Anda maksud?"

"Jangan pura-pura bodoh! Kamulah yang melepaskan monster ke sumber mata air sungai, kan!?"

Saat aku berseru demikian, Kuruto justru mati-matian berusaha menghentikanku.

"Tunggu sebentar, Yuri-san. Anda salah paham, Traft-san ini adalah pahlawan keadilan."

"Meskipun dia pahlawan keadilan, ada hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan…… eh? Pahlawan keadilan?"

Setelah itu, aku mendengarkan penjelasan Kuruto tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah ini.

◆◇◆

Setelah selesai memurnikan sungai, aku bertemu dengan Kepala Suku yang sedang menatap sungai dengan tatapan benci.

Pasti dia sedang teringat tentang kejadian di Oasis dulu.

Lalu aku bertanya tentang Randle-kun, dan dia menjawab kalau kondisi ayahnya masih belum membaik.

Karena khawatir, aku memutuskan untuk pergi menjenguknya sekali lagi.

Aku berpisah dengan Liese-san dan Yuri-san yang sedang sibuk menyelidiki sesuatu, lalu menuju rumah Randle bersama Akuri.

"Sepertinya tidak ada orang, ayo kita pulang saja."

Tepat setelah aku mengatakan itu, pandanganku berubah dan aku sudah berada di dalam rumah.

"Akuri, tidak boleh menggunakan sihir teleportasi sembarangan seperti itu. Kamu lelah, kan?"

"Kalau jarak pendek tidak apa-apa, kok."

Meskipun dia bilang begitu, bukankah ini namanya masuk tanpa izin? Apa aku tidak akan ditangkap polisi?

"Da-dari mana kalian masuk?"

Randle-kun yang berada di pojok ruangan bersuara. Dia terlihat jauh lebih kurus dibanding terakhir kali aku melihatnya.

"Randle-kun, di mana ayahmu?"

Aku merasa tidak enak menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, tapi aku tidak melihat ayahnya di dalam ruangan itu.

"To-tolong pulanglah!"

"Tapi Randle-kun, soal sekolah—"

"Kumohon!"

Karena Randle-kun tampak sangat tertekan, aku pun menyerah dan membuka kunci pintu rumah untuk keluar.

Namun tepat saat itu, seorang pria asing masuk ke dalam rumah.

"Syukurlah kamu selamat."

Pria itu melihat sekeliling ruangan lalu menanyakan hal yang sama denganku.

"Randle-kun, kan? Di mana ayahmu pergi?"

"Ayah sudah sehat dan sedang di ladang—"

"Bohong. Aku mengawasi tempat ini sejak pagi dan hanya kamu yang keluar dari rumah ini."

"…………"

Randle-kun langsung terdiam seribu bahasa.

"Apa ayahmu dikendalikan oleh sihir? Bukankah dia terlihat seperti orang yang kehilangan jiwanya?"

"Bagaimana Anda bisa tahu!? Ah……"

Randle-kun langsung membuang muka dengan ekspresi menyesal karena tidak sengaja membenarkan hal itu.

"Tunggu, apa maksudnya dikendalikan itu?"

"Ada alat sihir yang bisa mengendalikan orang lain sesuai keinginan pemiliknya."

"Manusia yang dikendalikan akan terlihat linglung seperti kehilangan jiwa hingga orang biasa pun bisa menyadarinya."

"Jadi ada alat sihir seperti itu, ya."

Apakah itu semacam alat hipnosis?

"Jadi, di mana ayahmu sekarang?"

"Ayah…… tiba-tiba menghilang beberapa hari yang lalu."

"Apa dia pergi belanja?"

"……Aku tidak tahu."

Randle-kun menggelengkan kepalanya dengan lesu.

"Dulu di serikat dagang ayahku, ada laboratorium rahasia yang membuat banyak alat sihir berbahaya."

"Ketua laboratorium itu melarikan diri membawa alat-alat tersebut saat serikat kami dibubarkan oleh negara."

"Aku datang ke Torchen untuk mengambil kembali alat-alat itu dari ketua laboratorium tersebut."

"Alat sihir seperti apa yang dia bawa?"

"Selain alat pengendali orang, ada satu lagi yang disebut Batu Pemanggilan (Summoning Stone)."

"Batu itu sebenarnya alat untuk mengubah manusia yang menelannya menjadi monster secara paksa."

……Obat yang bisa mengubah manusia menjadi monster, ya.

Mirip seperti obat transformasi yang dulu sempat populer sebagai mainan anak-anak di desaku.

Tapi pria ini bilang itu alat yang sangat berbahaya, jadi pasti berbeda dengan mainan yang kupikirkan.

"Apakah Paman pahlawan keadilan?"

Akuri bertanya, dan pria itu mengangguk mantap.

Tepat saat itulah Yuri-san mendobrak masuk dan meneriakkan nama kami.

◆◇◆

Setelah mendengar cerita Kuruto, aku mencoba merangkum semuanya.

"Jadi, kamu datang ke kota ini untuk menebus dosa ayahmu dengan mengambil kembali Batu Pemanggilan itu?"

"Benar sekali."

"Benar begitu, lho!"

Entah kenapa Akuri ikut-ikutan membenarkan perkataan Traft. Jadi, ini semua memang hanya kesalahpahamanku saja.

"Lalu, keberadaan ayah Randle yang dikendalikan itu masih belum diketahui, kan?"

"Iya. Tiga hari lalu saat aku di ladang, dia tiba-tiba lenyap begitu saja."

"Kenapa kamu tidak melaporkan hal ini kepada penjaga atau kantor pemerintahan?"

Aku bertanya pada Randle dengan nada lembut agar tidak membuatnya merasa terpojok.

"Seseorang mengancam akan membunuh ayah jika aku bicara. Katanya jika aku diam, ayah akan kembali setelah semuanya selesai."

"Siapa yang mengancammu?"

"Aku tidak tahu karena dia memakai jubah dan topeng. Tapi dia mengaku sebagai anggota klan iblis."

"Klan iblis!?"

Ternyata dugaanku dan Mimiko benar tentang keterlibatan mereka.

"Tapi bagaimana cara mereka keluar dari kota tanpa ketahuan……"

"Bagaimana kalau kita lihat monitor?"

"Monitor? Tapi Kuruto, sulit mencari seseorang di luar kota hanya dengan monitor."

Monitor hanya bisa menjangkau area di dalam kota, sedangkan kejadian pencemaran itu berada di luar.

Namun Kuruto justru menggelengkan kepalanya dengan yakin.

"Bukan itu, maksudku kita lihat rekaman datanya."

"Rekaman?"

"Iya, kita lihat kejadian tiga hari yang lalu. Harusnya rekamannya masih ada."

"Memangnya bisa melakukan hal seperti itu!?"

"Luar biasa, tidak sangka ada fasilitas secanggih ini di kota Torchen."

Kami semua pun bergegas menuju ruang monitor.

"Tolong rahasiakan fasilitas ini, ya. Nah, ini dia rekaman tiga hari yang lalu……"

Kuruto menjelaskan bahwa fungsi rekaman ini bekerja berdasarkan memori Golem yang merekonstruksi ulang gambar.

Sayangnya, memori ini hanya bisa bertahan sempurna selama tiga hari saja.

"Itu aku saat pergi ke ladang, berarti setelah ini."

Randle menunjuk dirinya sendiri di layar. Ternyata anak-anak lebih cepat beradaptasi dengan teknologi dibanding kami para orang dewasa.

Kami mempercepat rekaman hari itu dan melihat banyak orang berlalu-lalang di depan rumahnya.

Siang harinya, Kepala Suku datang membawa karung-karung tepung gandum masuk ke rumah, lalu keluar membawa karung yang sama.

Setelah itu, ada tetangga yang mengetuk pintu tapi langsung pergi karena tidak ada jawaban. Hanya itu saja.

Sosok yang mirip klan iblis sama sekali tidak terlihat.

"Ayah memang benar-benar tidak keluar dari rumah itu lewat pintu depan."

Jika Randle tidak berbohong, maka ayahnya seharusnya menghilang saat dia sedang tidak ada.

"Tapi dia tidak terlihat keluar?"

Apakah Randle yang berbohong?

Tepat saat itu, Liese dan Famil mendobrak pintu ruang monitor dengan panik.

"Laporan darurat dari sekolah! Ada monster muncul di kolam renang sekolah!"

"Sekolah!? Jadi musuhnya tidak di luar kota?"

Kami segera mengalihkan layar monitor ke arah kolam renang sekolah.

"Vittel-kun!"

Di sana terlihat Vittel dari keluarga bangsawan sedang berhadapan dengan monster cacing raksasa.

"Famil, analisis rekamannya! Yuri dan Phantom, kalian urus monsternya. Jangan biarkan siapapun masuk ke sekolah!"

Aku segera menghunus pedangku, namun sebelum aku sempat melarang Kuruto ikut, Akuri sudah bertindak lebih dulu.

"Papa, kamu mau ke sana?"

Kuruto mengangguk mantap.

"Iya, sekarang juga—"

"Aku mengerti."

Seketika itu juga, sosok Kuruto lenyap dari ruangan.

"Teleportasi Akuri lagi!?"

Aku lupa kalau kekuatannya mungkin belum habis sepenuhnya jika jaraknya dekat.

Aku ingin berteriak ke arah monitor tapi bingung harus menekan tombol yang mana.

"Kuruto, cepat lari dari sana bersama Vittel! Itu berbahaya!"

◆◇◆

Kuruto, cepat lari dari sana bersama Vittel! Itu berbahaya!

Aku mendengar suara Yuri-san menggema dari pengeras suara.

Aku tahu aku harus lari, apalagi aku tidak boleh membiarkan Akuri dalam bahaya.

"Vittel-kun!"

"Kuruto-sensei!?"

"Cepat lari dari sini!"

"Ti-tidak bisa, sihirku habis dan tubuhku tidak bisa digerakkan. Guru saja yang lari!"

Magic Depletion!? Ternyata dia tadi sedang berlatih sihir di kolam ini sendirian.

Akuri juga sudah kelelahan dan pingsan setelah menggunakan teleportasi tadi.

Aku segera menggendong Akuri dan menyembunyikannya di dalam loker ruang ganti wanita.

Aku yakin Yuri-san pasti akan lewat sini nanti, jadi Akuri akan aman.

"Guru, apa yang kau lakukan!?"

"Mana mungkin seorang guru meninggalkan muridnya sendirian!"

Tepat setelah aku berseru, sebatang anak panah terbang dan menancap tepat di wajah cacing raksasa itu.

Monster itu langsung masuk kembali ke dalam air kolam.

"Hore! Kena!"

"Aria-san!? Kenapa Anda di sini?"

Ternyata itu adalah Aria-san yang membawa busur panahnya.

"Aku sedang latihan saat mendengar suara Yuri-san berteriak, jadi aku langsung lari ke sini."

"Vittel, sebenarnya apa yang terjadi!?"

"Aku tidak tahu. Tiba-tiba pria bermata merah muncul, menelan batu aneh, lalu berubah jadi monster itu."

Mendengar itu, aku akhirnya paham situasinya.

"Begitu ya, ternyata Batu Pemanggilan itu adalah obat transformasi."

"Obat transformasi?"

"Iya, sejenis obat yang dulu dipakai anak-anak di desaku untuk bermain peran menjadi monster."

"Guru, bagaimana cara mengalahkannya?"

"Dia akan kembali normal jika memuntahkan kembali benda yang ditelannya itu."

Cara termudah sebenarnya adalah membuatnya tidur dengan obat bius, tapi aku tidak punya.

"Gunakan ini saja."

Tsuki-san muncul secara tiba-tiba sambil memegang sekuntum bunga berwarna biru.

"Aria, pinjam busurmu. Aku lebih ahli menembak dibanding kamu."

Arcopa-kun juga ikut datang bersamanya.

"Kalian…… kenapa bisa di sini?"

"Kami sedang mengambil barang yang tertinggal di kelas saat mendengar kegaduhan ini."

Cacing raksasa itu kembali muncul dan membuka mulut lebarnya untuk menyerang kami.

Tiba-tiba, air kolam bergejolak hebat dan membuat monster itu kehilangan keseimbangan.

Padahal aku tidak membuat sistem air berarus di kolam ini.

Ternyata Cretis-san sudah berdiri di belakangku.

"……Guru, para roh air sedang membantu kita. Sekarang mundurlah."

Roh? Jadi angin kencang saat melawan Goblin dulu juga adalah kekuatan roh?

"Baiklah, Cretis-san juga ikut—"

Aku mencoba mengajak mereka mundur, tapi Arcopa-kun dan Aria-san malah bertengkar.

"Aria! Mana anak panahnya lagi!?"

"Ah, tadi itu yang terakhir!"

"Lalu kita harus bagaimana!?"

Tiba-tiba Sword-kun muncul dengan gaya sok kerennya.

"Sang pahlawan datang! Arcopa-kun, gunakan panah buatanku—"

"Aku sudah sedikit pulih. Aku akan membuat panah sihir dari air!"

Vittel-kun menggunakan sisa tenaganya untuk membentuk air menjadi anak panah yang tajam.

Itu adalah teknik tingkat tinggi, dan setelah itu dia langsung pingsan kembali.

"Panah air, ya? Menarik juga!"

Arcopa-kun membidikkan panah itu, sementara Tsuki-san memasukkan serbuk bunga biru ke dalam air panah tersebut.

"Kalau butuh pengalih perhatian, terima ini!"

Sword-kun melempar dupa pengusir serangga yang menyala. Ternyata monster itu membenci baunya dan membuka mulutnya lebar-lebar.

Tembakan Arcopa-kun melesat masuk tepat ke dalam tenggorokan monster tersebut.

Monster itu meraung kesakitan lalu perlahan-lahan menyusut kembali menjadi manusia.

"Apa kita berhasil?"

"Harusnya sih iya, kalau di drama biasanya begitu."

Para murid bersorak gembira sementara air kolam membawa pria yang pingsan itu ke pinggir kolam.

"Kuruto!"

"Tuan Kuruto!"

Yuri-san dan Liese-san akhirnya sampai di lokasi.

"Akuri aman bersama penjaga. Apa Tuan Kuruto yang mengalahkan monster ini?"

"Bukan aku, tapi murid-muridku yang hebat ini."

Aku menunjuk mereka dengan bangga. Mereka semua tampak sangat puas dengan hasil kerja keras mereka.

"(……Cretis-san, apa tadi itu kekuatan roh?)"

"(……Guru, tolong rahasiakan ya. Roh tidak suka memperlihatkan diri pada manusia.)"

Sebagai guru, aku tentu akan menjaga rahasia muridku dengan baik.

"Sepertinya dia sudah mengeluarkan benda aneh itu dan tidak lagi dikendalikan."

Saat aku sedang menjelaskan, Kepala Suku datang dengan wajah pucat.

"Yandle…… Jadi Yandle yang menjadi monster itu!?"

◆◇◆

"Itulah semua yang terjadi di sini."

Aku, Yurishia, menjelaskan seluruh kronologi kejadian dan apa yang kudengar dari Randle serta Traft kepada sang Kepala Suku yang baru saja tiba.

Mengenai kondisi Yandle —sepertinya dia ayah Randle—yang sempat kukhawatirkan, menurut pemeriksaan Kuruto, efek cuci otak dari alat sihirnya sudah hilang.

Batu Pemanggilan—atau obat transformasi menurut istilah Kuruto—juga tidak memberikan efek samping.

Dia kehilangan kesadaran murni karena kurang tidur, dan diperkirakan akan bangun dalam beberapa jam. Sepertinya selama dicuci otak, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Ngomong-ngomong, Yandle sedang digendong oleh Kuruto, sementara Vittel yang kehabisan tenaga dibawa menggunakan tandu oleh Alcopa dan Sword.

Mereka semua sedang beristirahat di ruang kesehatan bersama murid-murid lainnya.

Aku juga sudah menyuruh kelompok Kuruto untuk tetap siaga di ruang kesehatan.

"Apa? Jadi iblis menggunakan obat semacam itu...?"

Setelah mendengar seluruh penjelasan, sang Kepala Suku bergumam sambil memejamkan mata.

"Ya. Ngomong-ngomong, boleh aku tanya satu hal? Kenapa kau tiba-tiba datang kemari?"

"Itu... karena tadi ada suara keras yang bilang kalau area kolam sedang dalam bahaya."

"Sayang sekali, tapi sekolah ini sudah ditutup tepat saat insiden terjadi. Selain kami, tidak ada yang bisa keluar masuk. Masalahnya, murid-murid ambisius yang memang sejak awal ada di sekolah malah jadi berkumpul di sini."

"I-itu..."

Karena Kepala Suku tampak kelu, aku langsung mencecarnya tanpa ampun.

"Benar, satu lagi. Saat monster muncul di luar kota, ayah Randle sempat dinyatakan hilang. Setelah kupikirkan cara dia meloloskan diri, akhirnya aku sadar. Kereta kuda yang kau bawa di hari dia menghilang, kau menaruh dua karung gandum di rumah Randle, kan? Saat itulah kau membawa ayah Randle keluar kota dengan menutupinya menggunakan karung."

Seluruh bukti situasional telah berbicara.

Tentang siapa dalang di balik semua insiden ini.

"Guh!"

Kepala Suku sempat mengerang, namun tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha! Hahahaha!"

"Dia sudah gila?"

Aku segera menyiagakan Sekka untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan.

"Jangan sombong dulu hanya karena kalian berhasil mengalahkan worm prototipe gagal itu."

Setelah berhenti tertawa, Kepala Suku menunjukkan senyum penuh kemenangan.

"Itu hanyalah barang gagal. Aku cuma memakainya untuk mengambil data saat mengalirkan cairan racun dari sumber sungai tempo hari, juga untuk mengambil data pertempuran saat melawan para ksatria. Meski ya, di luar dugaan dia kalah sebelum para ksatria itu muncul."

Kepala Suku berkata demikian sambil mengeluarkan sebuah batu yang mirip kristal sihir hitam berbentuk piramida empat sisi.

"Produk sempurnanya ada di sini. Batu Pemanggilan yang asli—bahkan metode pembuatannya pun ada dalam genggamanku. Dengan pengetahuan ini, organisasi yang membutuhkan kekuatanku akan datang mengerumun bak jumlah bintang di langit."

"Apa maumu? Jangan bilang kau berpikir bisa kabur dari sini."

"Mohon maaf, Anda sudah terkepung. Atas nama Gubernur Rikuto, saya akan menangkap Anda."

Famil muncul, diikuti oleh para Phantom bertopeng yang langsung menyebar mengepung area.

"Coba saja kalau bisa!"

Setelah berseru demikian, Kepala Suku melakukan tindakan tak terduga. Dia membuka mulutnya lebar-lebar dan menelan Batu Pemanggilan yang katanya adalah produk sempurna itu.

"Jangan biarkan dia menelannya!"

Saat itu, aku berteriak ke arah para Phantom. Namun, itu adalah sebuah kesalahan.

Seharusnya aku mengatakan ini:

Bunuh dia—begitu.

Jika aku mengatakannya, para Phantom pasti akan langsung menghabisi nyawa Kepala Suku seketika. Meski rasanya akan tidak enak, tapi setidaknya masalah selesai.

Namun, karena mendengar perintahku, para Phantom tidak mengincar kepala, leher, atau jantungnya, melainkan tangannya.

Sebuah belati pendek bernama Kukri Knife menusuk tangan kanan Kepala Suku. Dampaknya membuat Batu Pemanggilan itu terlepas dari tangannya—tapi malah terlempar masuk ke dalam mulutnya.

Sesaat kemudian, tanpa menunggu perintahku lagi, para Phantom bergerak.

Mereka menghunus pedang dan menebas Kepala Suku. Kali ini benar-benar dengan niat membunuh.

Namun sedetik berikutnya—mereka semua terpental.

Sebab, dalam sekejap wujud Kepala Suku telah berubah menjadi kelabang raksasa sepanjang tiga meter.

"Benar-benar seperti mimpi buruk," ujar Liese.

Ah, benar sekali.

Para Phantom terpental layaknya prajurit kacangan—padahal masing-masing dari mereka adalah petarung hebat yang setara dengan seribu prajurit. Karena keberadaan merekalah Liese, sang putri kerajaan ini, bisa berjalan di kota tanpa pengawalan mencolok.

Melihat para Phantom itu terpental dalam sekejap sungguh tidak masuk akal.

Ditambah lagi, semua senjata mereka terpental. Padahal senjata mereka, sama seperti milik para ksatria Valha, adalah pusaka nasional yang ditempa oleh sang Petapa Senjata. Namun, itu pun tidak mempan.

Kukri Knife yang seharusnya tertancap di tangan kanan Kepala Suku tadi juga terlepas dan jatuh di tepi kolam.

Melihat kondisi ini, luka-lukanya pasti sudah sembuh total.

Cairan hijau menetes dari mulut kelabang raksasa yang bertaring itu ke atas Kukri Knife di lantai.

Seketika, belati yang seharusnya terbuat dari baja itu meleleh hingga hancur.

"......Oi, oi, belati baja hancur seketika? Racun macam apa itu?"

Jika terkena benda itu, punya nyawa berapa pun tidak akan cukup.

Aku memang mendapat obat serbaguna yang disebut 'obat rutin' dari Kuruto, tapi kalau mati seketika, obat itu tidak akan ada gunanya.

Di tengah keraguanku, kelabang raksasa itu menyemburkan cairan racun ke sekeliling.

Sebagian menuju ke arahku.

"Kh!"

Aku melempar belati pendek untuk menghalau cairan racun itu.

Namun, belati biasa ini sudah mencapai batasnya hanya untuk sekadar menepis racun. Dengan begini, aku tidak bisa mendekat sembarangan.

Apa aku hanya bisa mengulur waktu sampai efek Batu Pemanggilannya habis?

Kalau kau menunggu efek Batu Pemanggilan ini habis, itu sia-sia saja.

Apa, dia bicara?!

Suaranya teredam, tapi itu jelas kata-kata manusia yang memiliki makna. Apa dia tetap memiliki kesadaran meski sudah menjadi monster?

Sudah kubilang, kan? Ini adalah produk sempurna. Beda dengan prototipe yang membuat pemakainya kehilangan akal sehat. Durasi perubahannya pun berkali-kali lipat lebih lama. Cukup untuk menghancurkan satu kota ini lalu pergi dengan santai.

Kalau itu benar, ini benar-benar merepotkan.

Satu-satunya cara yang tersisa adalah menggunakan Bunga Cacingan untuk mengembalikannya menjadi manusia secara paksa, seperti yang dilakukan murid-murid Kuruto tadi.

Tapi meskipun aku mencoba menembakkan panah berisi obat ke mulutnya, kelabang raksasa yang masih berakal itu pasti akan melelehkan panah beserta obatnya dengan racun sebelum sempat masuk ke mulut.

Namun—

"Hei, kau tidak apa-apa?"

Salah satu Phantom yang kupanggil mengangguk lemah.

"...Ya."

"Tolong minta pada Kuruto untuk membawakan Bunga Cacingan yang dipakai murid-muridnya tadi. Kita butuh itu."

"...Tapi, dengan kondisi tubuh ini..."

"Buka mulutmu."

Aku memasukkan satu butir obat rutin dari Kuruto ke dalam mulut Phantom tersebut.

"...?! Lukaku..."

"Bisa bergerak, kan?"

"Siap."

Phantom itu berdiri lalu melompat jauh.

Kelabang raksasa menyemburkan racun ke arahnya, tapi aku menggunakan belati pendek untuk menghalaunya.

Sialnya, sebagian kecil racun itu mengenai bahu kananku.

"Kh...!"

Hanya kena sedikit tapi sesakit ini. Rasanya seperti batang logam yang dipanaskan hingga merah membara ditempelkan langsung ke kulit.

Aku mengambil obat rutin dengan tangan kiri dan menelannya.

Rasa sakitnya hilang seperti sihir, tapi itu adalah butir terakhir yang kupunya. Sial, seharusnya aku minta lebih banyak tadi.

Aku harus mengobatinya karena tidak bisa bertarung jika lengan kanan tak bisa digerakkan, tapi aku tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama.

"Yuri-san, Anda tidak apa-apa?"

"Ah, aku tidak apa-apa... tapi kalau begini terus..."

"Ya, kita mungkin tidak akan menang—"

Liese mengatakannya sambil tersenyum.

...Kenapa dia malah tersenyum di saat seperti ini?

"Kekuatan kita memang tidak cukup. Tapi, kita memiliki kekuatan Master Kuruto. Tidak ada musuh yang tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan itu."

Liese berkata demikian sembari menghunus Kocho.

Kocho yang bisa menciptakan ilusi—apa yang akan dia lakukan dengan menghunus pedang itu?

Di saat aku berpikir demikian, tiba-tiba di depan kami muncul sosok Kuruto yang bercahaya merah.

Itu jelas Kuruto ilusi yang dibuat oleh Kocho, tapi...

"Kuruto macam apa itu?"

"Itu adalah Master Kuruto Mode Merah."

Maksudku, aku ingin tanya kenapa dia sampai bercahaya merah begitu.

"Majulah, Master Kuruto Merah!"

"Baik, Liese-san!"

Kuruto Merah mengangguk, lalu berlari kencang menuju si kelabang raksasa.

Makhluk semacam itu tidak ada gunanya!

Kelabang raksasa menyemburkan racun ke arah Kuruto Merah. Tentu saja, itu tidak mempan pada Kuruto yang merupakan ilusi.

Tapi, hal yang sama berlaku bagi kami.

"Hei, Liese. Seberapa banyak pun ilusi itu menyerang, dia tidak akan bisa memberikan kerusakan, kan?"

"Ya, Master Kuruto Merah memang ilusi. Namun, suara, suhu tubuh, dan hawa keberadaannya bisa dirasakan sepenuhnya oleh lawan."

Tepat saat Liese mengatakan itu, Kuruto Merah menabrak tubuh si kelabang raksasa.

Sesaat kemudian—

Guaaaaaaaaakh! Tu... tubuhku terbakar!

Teriakan pilu keluar dari mulut kelabang raksasa itu. Apa yang terjadi?

"Master Kuruto Merah adalah inkarnasi api. Tubuhnya adalah gumpalan api—begitulah setting-nya."

"Bukan, ilusi—begitu ya."

Ilusi yang diciptakan Kocho tidak hanya wujudnya saja, tapi bisa memberikan ilusi sensorik pada suhu tubuh.

Dan karena Kuruto Merah adalah gumpalan api, artinya suhu tubuhnya mencapai ratusan derajat. Suhu itu meresap langsung ke dalam tubuh lawan.

Kira-kira, sesakit apa rasanya saat organ dalam dipanaskan langsung oleh api?

Secara fisik seharusnya tidak ada luka sama sekali, tapi guncangan mentalnya pasti luar biasa. Manusia biasa mungkin sudah mati karena syok.

Beberapa saat kemudian, Kuruto Merah menghilang.

"......Haa... haa... memanggil Master Kuruto Merah memang menguras tenaga."

Di sampingku, Liese tampak terengah-engah. Sepertinya Kuruto Merah bukanlah sesuatu yang bisa dipanggil tanpa risiko.

Karena panas yang luar biasa, kelabang raksasa itu memunggungi kami dan mencoba kabur ke dalam kolam.

Dia benar-benar lengah.

Tanpa suara aku berlari dan berhasil mengejarnya di tepi kolam.

"Rasakan ini!"

Bersamaan dengan teriakan semangat, aku menebas tubuh kelabang raksasa itu menggunakan Sekka.

Tubuhnya terbelah menjadi dua dan jatuh ke dalam kolam. Seketika, air kolam berubah menjadi hijau pekat.

"Kita berhasil, Yuri-san."

Liese berlari menghampiriku.

"Ya, ini berkat kau, Liese."

Benar, jika tidak ada Kuruto Merah tadi, mendekat pun aku tidak akan bisa. Benar-benar deh, cara Liese menggunakan Kocho semakin hebat saja.

"Yuri-sama, Putri Lieselotte, terima kasih atas kerja kerasnya. Maaf, saya tidak berguna tadi," ucap Famil penuh sesal.

"Tidak apa-apa. Lebih baik obati para Phantom—"

"Yuri-san, di belakang!"

"—?!"

Mendengar teriakan Liese, aku menoleh. Di sana, bagian atas tubuh kelabang raksasa itu masih bergerak.

Mana mungkin, dia masih hidup meski tubuhnya sudah terbelah?

Kalian... beraninya kalian! Bayarlah dengan nyawa kalian!!

Kelabang raksasa itu menyemburkan racun.

Kali ini jumlahnya jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Tidak mungkin bisa ditepis dengan belati.

Dan racun itu menelan kami. Racun yang bisa melelehkan baja dalam sekejap.

Guh... luka yang parah... tapi dengan ini tidak ada lagi pengganggu yang tersi... na... KENAPA?!

Wajah penuh kemenangan—entahlah karena dia bukan manusia, tapi dialog yang meyakini kemenangan itu sekarang terasa sangat memalukan.

Sebab, meskipun kami basah kuyup seperti tikus tercebur got, kami semua sama sekali tidak terluka.

Kenapa, kenapa kalian tidak apa-apa meski terkena racun cairanku?!

"Ah, soal itu, semua racunmu sudah kami netralkan," ucapku sambil menghela napas.

"Benar, semuanya sudah saya ubah menjadi air biasa," ujar Liese dengan wajah bangga.

"Syukurlah semua orang menyadari hal ini," Famil menimpali dengan senyum kecut.

Bagaimana mungkin?! Bagaimana caranya?!

Menanggapi pertanyaan si kelabang raksasa, kami mengangkat benda yang ada di tangan kami masing-masing.

"""Dengan Sandal Toilet ini!"""

SANDAL TOILET KATAMUUUUUU?!




Kelabang raksasa itu berteriak murka.

Yah, wajar saja kalau dia syok.

Mana ada orang normal—atau kelabang raksasa normal—yang bakal percaya kalau sandal toilet bisa punya efek Anti-Bakteri, Anti-Kotor, Anti-Racun, Anti-Kutukan, Anti-Debu, Anti-Tajam, dan Anti-Guncangan.

Cairan racun yang disemburkannya berubah menjadi air murni yang tidak berbahaya begitu menyentuh permukaan sandal itu.

Jangan bohong! Lagipula, kenapa kalian membawa benda seperti itu ke mana-mana? Jangan-jangan, kau sudah menyadari identitas asliku—

Mendengar pertanyaan si kelabang, kami saling berpandangan dan menjawab serempak dengan alasan masing-masing.

"Untuk bahan komedi."

"Demi cinta."

"Kebetulan saja."

Keheningan seketika menguasai medan tempur setelah mendengar jawaban kami.

Dan kemudian—

Bogebworabruurourasutububasubasuto.

Si kelabang raksasa pun korsleting.

Sepertinya dia sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya.

Kalau begini, sekaranglah saatnya untuk memberikan serangan pamungkas... Eh?

"Tunggu, ada yang aneh, kan?"

"E-eh... iya. Ini aneh... maksudku..."

"Dia jadi makin besar, ya?"

Kelabang yang tadinya hanya berukuran sekitar tiga meter, kini membengkak menjadi lima meter... tidak, dia terus membesar.

Bukan itu saja. Bagian bawah tubuhnya yang seharusnya sudah terpotong kini beregenerasi total.

Padahal potongan tubuh yang lama masih tergeletak di tepi kolam, jadi bukan karena tersambung kembali.

Dia... melakukan regenerasi?

Pertumbuhannya baru berhenti setelah ukurannya mencapai sekitar sepuluh meter.

Oi, oi, bagaimana cara menghadapi lawan sebesar ini?

"......Rasanya seperti sedang melihat mimpi buruk."

"Ah... kalau ini memang mimpi buruk, Master Kuruto, tolong jemput aku."

"Kalian memanggilku?"

Tepat setelah Liese meracau tidak jelas, Kuruto tiba-tiba muncul kembali.

Di tangannya, dia memegang Bunga Cacingan.

Padahal aku menyuruh Phantom yang mengambilnya, tapi kenapa malah Kuruto yang membawanya?

"Kuruto?!"

"Ah, ternyata Master Kuruto benar-benar datang menjemputku! Ayo, Master Kuruto, mari kita pergi berkencan terlarang antara guru dan murid sekarang juga!"

"Cepat sadar sebelum kita benar-benar pergi ke alam baka!"

"Ah, ternyata monster transformasi lagi ya. Aku dengar semua orang sudah berhenti memakainya sebelum aku lahir, apa sekarang sedang tren lagi?"

Kuruto bergumam santai seolah tanpa beban.

"Tapi, sepertinya dia sedang mengamuk. Kalau dibiarkan bisa berbahaya."

"Mengamuk?"

Kuruto mengangguk menanggapi pertanyaanku.

"Iya. Katanya, kalau setelah makan Serangga Transformasi lalu orangnya merasa sangat terkejut, dia bisa kehilangan akal sehat dan berubah jadi raksasa. Kalau sudah begini, diberi Bunga Cacingan pun tidak ada gunanya. Biasanya dia baru akan berhenti bergerak setelah satu jam karena kehabisan energi sihir, tapi—"

"Kalau monster seperti ini mengamuk selama satu jam, kota ini bisa hancur berantakan!"

"Benar juga. Kalau begitu, mari kita kurung saja."

"Dikurung? Bagaimana caranya?" tanyaku bingung.

"Eh? Yuri-san, apa kau lupa? Sekolah ini kan—"

Kuruto menempelkan tangannya ke tepi kolam dan menuliskan sesuatu dengan jarinya.

Seketika, kolam renang sepanjang lima puluh meter itu mulai terangkat.

Ah, benar juga. Aku benar-benar lupa.

Kolam ini—bukan, seluruh kota ini sebenarnya adalah Golem.

Selama ini mereka diam dalam wujud bangunan dan tembok karena perintah Kuruto, tapi jika perintah diberikan, mereka akan kembali ke wujud asli sebagai Golem.

Lalu, kolam itu mengatup layaknya perangkap tikus dan menelan si kelabang raksasa bulat-bulat.

Apakah ini... sudah berakhir?

"Tunggu, belum! Kuruto, dia bisa menyemburkan racun yang melelehkan besi sekalipun. Mengurungnya di tempat seperti itu—"

"Tidak, Yuri-san. Tidak perlu khawatir."

Saat aku mencoba memperingatkan, Liese justru mengoreksiku.

"Yuri-san, aku baru menyadarinya tadi. Cairan racun itu memang melelehkan belati baja dengan mudah, tapi tepi kolamnya sama sekali tidak meleleh, kan? Padahal itu hanya lantai batu."

"............?! Kalau dipikir-pikir—"

Aku terlalu syok melihat belati baja yang meleleh sampai melewatkan fakta kalau lantai batunya baik-baik saja.

"Tenang saja. Lantai batu ini sudah diproses agar tidak meleleh bahkan oleh Ouroboros Poison sekalipun."

"Ouroboros Poison...?"

Kalau bicara soal Ouroboros Poison, itu adalah barang legendaris yang setara dengan Elixir atau Philosopher's Stone.

Begitu ya, kalau cairan itu saja tidak mempan, berarti memang tidak ada masalah.

"Mewah sekali ya, kolam raksasa dijadikan kandang serangga."

Famil berujar santai, mungkin karena dia sudah merasa lega.

Yah, karena semua sudah berakhir, wajar saja kalau suasana jadi santai.

"Karena ada airnya, bukankah lebih tepat disebut akuarium?"

Saat aku mulai ikut-ikutan menanggapi candaan Famil, ekspresi Kuruto tiba-tiba berubah seolah menyadari sesuatu.

"......Ini gawat! Gawat sekali!"

Kuruto terburu-buru memberikan perintah pada Golem, dan kolam raksasa itu mulai kembali ke wujud semula.

Saat kolam sudah benar-benar kembali normal, sosok kelabang raksasa tadi sudah hilang. Yang tersisa hanyalah sesuatu yang tampak seperti mumi kering yang mengapung.

"Jangan-jangan, itu..."

"Wujud orang yang tadi bermain-main menjadi cacing tanah raksasa. Yuri-san, pinjam sandalnya."

Kuruto mengambil sandal yang kupegang dan melemparkannya ke dalam kolam.

Air kolam yang tadinya keruh kehijauan seketika berubah menjadi bening kembali.

Lalu, Kuruto masuk ke dalam kolam dan mengangkat jasad Kepala Suku yang sudah menjadi mumi kering itu.

"......Apa dia bisa diselamatkan?"

"......Maaf, dia sudah meninggal."

"Apa ini karena efek Batu Pemanggilan—maksud saya, obat transformasi yang Master Kuruto katakan?" tanya Liese.

Kuruto menggelengkan kepalanya.

"Obat transformasi tidak punya efek samping seperti ini. Ini adalah pengaruh racun lain. Sepertinya, racun ini sudah diatur untuk bereaksi setelah jeda waktu tertentu saat obat transformasinya digunakan."

"Tunggu, Kuruto. Orang tua ini bilang dia sendiri yang membuat batu pemang... obat transformasi itu. Apa mungkin dia cuma salah meracik resepnya?"

"Kemungkinannya kecil. Karena bahan-bahannya saja sudah berbeda total."

Kuruto kemudian menyatukan kedua tangannya di depan mumi Kepala Suku itu untuk mendoakannya.

Dia tidak tahu kalau Kepala Suku inilah yang menculik ayah Randle, mengubahnya menjadi monster, dan berencana menghancurkan kota.

Tidak, mungkin dia bahkan tidak tahu kalau mumi ini adalah sang Kepala Suku.

Mungkin, memang lebih baik dia tidak tahu.

"Famil—mengenai pria ini."

"Ya. Secara resmi, kita nyatakan dia tewas dibunuh oleh monster yang muncul. Mari kita tetapkan seperti itu."

Jika kabar bahwa Kepala Suku adalah dalang kerusuhan monster ini tersebar, hal itu bisa memicu konflik antara imigran dari Torshen dengan penduduk asli kerajaan ini.

Meski begitu, insiden kali ini benar-benar bisa dibilang keberuntungan di tengah musibah karena terjadi di kota ini.

Jika insiden ini terjadi di kota pusat wilayah atau kota lain, kerusakannya pasti akan sangat... Eh?

"Ada apa, Yuri-san?"

"Liese. Kenapa pria ini harus memicu insiden di Rikuto?"

"Katanya untuk mengambil data pertempuran saat melawan ksatria... Ah?!"

"Ya, benar. Tapi, orang biasa mana mungkin tahu kalau ada ksatria yang dikirim ke kota ini. Lagipula, kalau Kepala Suku adalah dalangnya, lalu siapa sosok 'Iblis' yang diceritakan Randle? Seberapa keras pun dia menutupi wajahnya dengan tudung, Randle pasti akan mengenali suara Kepala Suku."

Aku menatap punggung Kuruto yang sedang dilarang oleh salah satu Phantom karena mencoba mengangkut mayat Kepala Suku sendirian untuk dimakamkan.

"Kalau seperti kata Kuruto bahwa Kepala Suku telah dijebak oleh seseorang, dan target orang itu bukanlah data pertempuran dengan ksatria, melainkan data lain... misalnya data Kuruto, bagaimana?"

Baru saja ada laporan masuk bahwa salah satu Phantom yang kuutus mengambil bunga biru di kamar Kuruto ternyata dipukul pingsan oleh seseorang.

Padahal setelah itu, ada 'seseorang' yang memberitahu Kuruto di ruang kesehatan agar dia membawa bunga biru itu menuju kolam renang.

Aku sudah mencoba memeriksa monitor, tapi karena tidak ada rekaman di dalam area sekolah, pelakunya tetap tidak diketahui.

Namun, tindakan itu terasa masuk akal jika tujuannya adalah untuk mengadu Kuruto dengan si kelabang raksasa.

"Data Master Kuruto... jangan-jangan, si Scripter?!"

"Entahlah. Tapi, kita harus waspada."

Seperti kata Liese, jika ada sosok Iblis yang mungkin memusuhi kami, hanya ada satu nama yang terlintas: sosok licik yang memanfaatkan Baron Taikun untuk menjatuhkan wilayah yang paling dekat dengan teritori Iblis ini—Scripter.

Sudah satu kali—tidak, jika dia juga terlibat dalam rencana Uskup Tristan, berarti sudah dua kali rencananya digagalkan oleh Kuruto.

Bagi orang yang sangat percaya diri dengan rencananya, hal itu pasti sulit dimaafkan.

Memikirkan hal sejauh itu, aku memegangi dadaku.

Meskipun situasinya begini, aku masih berniat bertindak sendirian demi menyelesaikan masalahku sendiri.

Apakah itu benar-benar keputusan yang tepat?

Tidak, aku tetap tidak boleh melibatkan Kuruto ke dalam masalahku.

◆◇◆

Aku, Kuruto, bergumam sendirian di depan kelas.

"Hari ini adalah kelas terakhir, ya..."

Insiden dua hari yang lalu.

Kabar tentang seorang pria yang meninggal di sekolah menjadi gempar, sehingga kelas kemarin terpaksa dibatalkan.

Akhirnya, identitas pria itu tetap tidak diketahui. Perintah pembungkaman dikeluarkan, dan kami dilarang membicarakan soal obat transformasi.

Lalu, meski sepertinya tidak berhubungan dengan insiden tersebut, ada laporan bahwa Kepala Suku meninggal karena diserang monster di dekat desa.

Katanya, monster itu adalah pelakunya yang meracuni sumber sungai, dan Yuri-san berhasil mengalahkannya.

Perintah pembungkaman juga berlaku untuk jenis monsternya, jadi aku tidak mendengar kabar apa pun.

Pasti itu monster yang mengerikan seperti Orc atau Ogre.

Namun, kabar bahwa monster yang meracuni sungai telah dibasmi menyebar cepat di desa, membuat para penduduk kembali tersenyum.

Yuri-san memang hebat.

Dibandingkan dia, aku ini...

Setelah selesai mengajarkan cara membuat paduan logam dari Mithril dan logam lainnya di kelas terakhir, aku menghela napas dalam hati.

Pada akhirnya, aku tidak bisa memberikan bahkan setengah dari materi kelas yang kurencanakan.

Satu-satunya hal yang berjalan sesuai rencana hanyalah aku berhasil menyelesaikan materi dari buku teks yang diberikan Mimiko-san.

"Dengan ini, kelas berakhir. Mulai besok, guru pengganti akan mengambil alih, jadi hari ini adalah hari terakhirku mengajar kalian. Maafkan jika caraku mengajar masih kurang..."

Tepat saat aku mengatakan itu, semua murid kecuali Vittel-kun berdiri.

"""Guru Kuruto! Terima kasih banyak atas satu minggunya!"""

Mereka semua mengatakannya secara serempak kepadaku.

"Pelajaran Guru sangat mudah dimengerti, lho."

"Aku juga, tadinya kupikir sekolah itu cuma buat cari ilmu dasar sama gelar doang, tapi aku baru tahu kalau ternyata belajar itu bisa seseru ini."

"Guru tidak pernah membedakan kami, baik anak-anak dari Torshen maupun anak-anak dari negeri ini."

"Padahal Guru punya pekerjaan sendiri, tapi Guru juga menyempatkan diri merawat taman sekolah."

"......Guru juga sangat baik."

Sword-kun, Aria-san, Alcopa-kun, Tsuki-san, dan Kritis-san berbicara kepadaku dengan senyum lebar.

Dan Vittel-kun, yang tadi tidak ikut berdiri, akhirnya berdiri paling terakhir setelah teman-temannya.

"Kau juga mau mendengarkan curhatku... Aku berterima kasih padamu. Tadi aku tidak sempat bilang... tapi, terima kasih banyak. Guru Kuruto."

Dia mengatakan itu sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam kepadaku.

"Semuanya..."

Sudut mataku mulai terasa panas.

"Sebenernya sih, kami udah minta ke guru lain biar Guru nggak usah berhenti."

"Waktu itu kami dengar, posisi guru untuk kursus liburan panjang nanti belum diputuskan. Jadi, Guru, mengajarlah lagi nanti."

"Kalau Guru Kuruto yang mengajar, aku pasti bakal hadir!"

"Di musim itu, pekerjaan di ladang juga sudah mulai santai."

"Saya dan kakak saya juga ingin belajar lagi."

"......Saya juga ingin ikut."

Mendengar mereka ingin mengikuti kelasku lagi...

Aku pun—sebenarnya masih ingin terus menjadi guru.

Tapi di saat yang sama, aku juga ingin mengerjakan tugas di bengkel.

"Semuanya... terima kasih. Terima kasih banyak. Aku akan coba bicarakan dengan Famil-san."

Aku memutuskan untuk sedikit egois.

Agar aku bisa memilih keduanya: pekerjaan sebagai perwakilan Atelier Meister, dan juga pekerjaan sebagai guru.

"Ya. Jangan lupa, ajarkan cara membuat Philosopher's Stone yang Guru ceritakan itu ya!" ujar Vittel-kun.

◆◇◆

Satu jam setelah kelas Kuruto-chan berakhir.

"Ya, semuanya sudah berkumpul, ya. Mulai besok, aku, Mimiko, yang akan mengajar kalian. Panggil saja Mimiko-chan, ya."

Aku berkata demikian kepada para murid yang telah berkumpul.

Wajah mereka tampak muram.

Ekspresi mereka jelas-jelas bilang kalau mereka lebih suka kelasnya Kuruto-chan. Aduh, ini jadi susah, nih.

Tapi, ini adalah hal yang perlu dilakukan.

"Pertama, aku ingin memberitahu kalian satu hal. Kalian sebenarnya sudah menyelesaikan seluruh kurikulum tingkat menengah atas di sekolah ini."

"Eh?"

"Kalian ingat buku ini?"

Aku mengeluarkan sebuah buku teks.

Buku yang dibagikan Kuruto-chan kepada mereka semua.

"Itu kan buku yang diajarkan Guru Kuruto di sela-sela pelajaran?"

"Ini adalah buku teks untuk tingkat menengah atas. Harusnya, buku ini dipelajari selama satu tahun penuh."

"Eh? Tapi Guru Kuruto cuma mengajarkannya lima menit sehari dan rasanya sangat gampang—"

"Ya, aku juga bingung gimana cara dia mengajar sampai kalian bisa hafal secepat ini..."

Sepertinya peringkat kecocokan SSS sebagai guru itu bukan sekadar pajangan, ya?

Aku sudah mendengar isi pelajarannya, dan sepertinya itu adalah metode yang sudah dikalkulasi sedemikian rupa agar mudah dipahami, disesuaikan dengan pola pikir kalian berenam.

Mungkin kalau murid lain menerima pelajaran yang sama, mereka hanya akan paham setengahnya saja.

Padahal paham setengah dari kurikulum satu tahun dalam seminggu saja sudah luar biasa hebat.

"Guru, jadi maksudnya nggak ada lagi yang bisa kami pelajari di sekolah?" tanya Aria-chan.

"Tidak, mulai sekarang kalian akan mempelajari pengetahuan umum. Betapa 'tidak umumnya' pelajaran yang diberikan Kuruto-chan selama seminggu ini, dan betapa luar biasa tidak masuk akalnya kemampuan kalian sekarang—"

Setelah ini, posisi mereka di Institut Riset Kerajaan sudah terjamin... yah, tapi bagian itu tidak perlu kubicarakan sekarang.

Kelas pertama untuk mempelajari pengetahuan umum ternyata cukup sulit.

Ibaratnya seperti mengajar orang yang sudah terbiasa bernapas secara alami, bahwa sebenarnya bernapas itu adalah proses rumit menghirup oksigen, membawanya ke paru-paru, mengedarkannya lewat darah, lalu membuang karbon dioksida. Padahal selama ini mereka melakukannya tanpa berpikir.

Begitu kelas berakhir, sesuai dugaanku, salah satu murid menghampiriku.

"Guru Mimiko..."

"Panggil aku Mimiko-chan... Ada apa, Vittel-chan?"

Karena Vittel-chan memasang ekspresi serius, aku pun berhenti bercanda.

"Aku—jadikanlah aku murid sihirmu."

Sudah kuduga bakal begini.

"Hal yang sama—Triad-kyo juga memintaku untuk menjadikanmu murid. Tapi, peminat untuk menjadi murid penyihir istana itu sangat banyak. Meskipun kau anak seorang bangsawan, bakat sihir biasa saja tidak akan cukup untuk membuatku menerimamu sebagai murid."

Kenyataannya, calon murid yang mendaftar padaku mencapai angka tiga digit setiap tahunnya.

"Vittel-chan. Kau bisa menggunakan berapa jenis atribut sihir?"

"Berapa jenis ya... Berkat ajaran Guru Kuruto, aku bisa empat atribut dasar: Api, Air, Angin, Tanah. Atribut turunan: Es, Petir, Logam, Kayu. Dan atribut tingkat tinggi: Cahaya, Kegelapan, Kehidupan, Hati. Tapi karena Guru Kuruto tidak bisa sihir, aku baru bisa sihir dasarnya saja."

"......Anak-anak memang hebat ya. Aku juga diajarkan metode yang sama oleh Kuruto-chan, tapi karena aku sudah punya prasangka duluan, aku tidak bisa menggunakan semua atribut. Yah, tapi aku senang setidaknya sudah bisa sihir atribut Kayu yang tadinya sudah kuserahterimakan."

Vittel-chan mengerjapkan matanya mendengar perkataanku.

"......Eh?"

"Meski baru sihir dasar, tapi jika menilik sejarah negeri ini, kau adalah orang pertama yang bisa menggunakan seluruh dua belas atribut sihir; mulai dari atribut dasar, turunan, sampai tingkat tinggi."

Anak ini sama seperti kasus pernapasan tadi.

Aku harus mengajarkannya bahwa hal yang dia anggap 'biasa' sebenarnya sama sekali tidak biasa.

"Pelatihan dariku—tidak semanis penampilanku, lho."

"Mohon bantuannya!"

Vittel-kun, yang di masa depan pasti akan menjadi penyihir istana yang lebih hebat dariku, membungkukkan kepalanya dalam-dalam kepadaku.

◆◇◆

Sehari setelah kelas terakhir Master Kuruto berakhir, kami memutuskan untuk meninggalkan Rikuto.

Saat aku, Lieselotte, bilang bahwa aku adalah Wakil Gubernur dan Master Kuruto adalah Wakil Atelier Meister, Ophelia-sensei pun mengerti.

Meskipun kami diberi tumpukan pekerjaan rumah yang luar biasa banyaknya.

Padahal aslinya, jabatan Gubernur dan Atelier Meister itu ya Master Kuruto sendiri.

Soal berkemas pun tidak terlalu repot, karena kami toh akan kembali ke sini saat liburan panjang nanti.

Ke depannya, kota ini juga akan menjadi tempat transit saat kami pergi dari Valha menuju kota pusat wilayah.

Jadi, kami hanya membawa bahan makanan yang tidak tahan lama, pakaian, dan koleksi barang-barang Master Kuruto yang tidak boleh dilihat siapapun.

Karena punya waktu luang, aku memutuskan untuk pergi ke kamar Master Kuruto untuk melakukan yobai—bukan, hirubai (kunjungan siang hari)—ah, maksudnya untuk membantu.

"Mas~ter~ Kuruto~"

Aku menuju depan kamar Master Kuruto secepat kilat, lalu dengan sengaja "lupa" mengetuk pintu dan langsung membukanya.

Sayang sekali, sesuai dugaanku Master Kuruto sedang bersiap-siap kembali ke Valha bersama Akuri.

Tidak ada adegan dia sedang berganti pakaian atau bersiap mandi. Benar-benar disayangkan.

Akuri sedang memasukkan balok susun ke dalam kotak, tapi sepertinya tidak pas sehingga balok-baloknya meluap keluar.

Namun dia tidak peduli dan terus menumpuknya.

Yah, cara bermain yang benar bagi anak-anak, mungkin?

"Ah, Mama Liese!"

Akuri melambaikan tangan sambil memegang balok paling atas. Saat itu, tumpukan baloknya runtuh berantakan.

Akuri menatap balok-balok itu dengan saksama—

"Hiyat!"

Serunya. Seketika, balok-balok yang berantakan tadi sudah tersusun rapi di dalam kotak.

......Benar-benar pemborosan sihir Teleportation, ya.

Akuri langsung tertidur karena kehabisan tenaga.

"Ah, Liese-san. Kau di sini?"

Sepertinya Master Kuruto tidak sadar aku masuk karena aku tidak mengetuk pintu.

"Maaf, aku sedang membaca ini."

Yang sedang dilihat Master Kuruto adalah sebuah papan tanda tangan (shikishi).

Sepertinya pesan kenang-kenangan dari para murid.

"Aku senang sekali bisa menjadi guru selama seminggu ini."

"Baguslah kalau begitu, Master Kuruto. Anda harus hati-hati agar papan itu tidak basah."

"Iya—mereka bahkan membuatnya sendiri dengan tangan. Papan ini sepertinya memiliki efek Waterproof, Dustproof, Antidote, Anti-Blade, Fireproof, Anti-Curse, dan Anti-Shock. Tapi aku harus menjaganya agar jangan sampai robek."

"Papan buatan tangan murid, ya..."

Kalau mendengar kemampuannya, memang masih jauh di bawah sandal toilet Master Kuruto, tapi tetap saja itu bukan benda yang bisa dibuat oleh anak kecil biasa.

Sepertinya dalam seminggu ini, Master Kuruto telah menciptakan 'Desa Hast Kecil'.

Peringkat kecocokan SSS sebagai guru memang bukan main.

"Mereka semua murid yang baik. Padahal aku guru yang payah, tapi mereka bilang aku guru terbaik, guru yang hebat... Vittel-kun bahkan bilang caraku mengajar jauh lebih baik daripada guru di sekolah ibu kota... padahal itu tidak mungkin."

Master Kuruto berkata demikian sambil mengelus lembut kepala Akuri yang tertidur.

Wajahnya tampak sangat bahagia... sekaligus sangat sedih.

Melihat ekspresi itu, aku memantapkan tekad.

"Master Kuruto, penilaian para murid itu sama sekali tidak berlebihan."

Aku harus memberitahunya bahwa penilaian murid-murid itu benar—bahwa perasaan itu bukanlah sekadar basa-basi.

"Sebab, hasil tes kecocokan di Hello Work yang kuberitahukan pada Anda dulu adalah kebohongan. Sebenarnya, selain pertempuran, semua peringkat Anda adalah SSS. Dengan kata lain, Anda memiliki tingkat kecocokan level manusia super yang tidak bisa diukur dengan metode biasa."

Aku memberanikan diri untuk menceritakan semuanya.

Misalnya, tentang kutukan yang menimpaku yang bahkan Ophelia-sensei pun tidak tahu cara menyembuhkannya, namun bisa sembuh berkat bubur buatan Master Kuruto.

Tentang nilai Mithril yang Master Kuruto temukan, atau nilai kristal sihir yang Master Kuruto buat yang harganya sangat tidak masuk akal.

Tentang fakta bahwa manusia biasa tidak akan bisa menciptakan Golem meski memiliki intinya, apalagi menggerakkannya sesuka hati.

Dan banyak lagi perbedaan antara standar umum dunia ini dengan standar Master Kuruto.

Juga tentang bagaimana aku merahasiakan ini semua untuk melindunginya dari ancaman dunia luar.

Dan yang terpenting, tentang betapa banyak orang yang tertolong dan sangat berterima kasih kepadanya.

Awalnya, Master Kuruto tidak mempercayai perkataanku.

Bukan karena dia tidak mempercayaiku. Dia berusaha keras untuk percaya padaku.

Dia mencoba dan terus mencoba, namun dia tetap tidak bisa mempercayai kemampuannya sendiri.

Terakhir, aku menunjukkan buku tabungan milik Master Kuruto.

Sebagai catatan, awalnya rekeningnya hanya ada di Hello Work, tapi sekarang sudah dibagi ke tiga tempat: Hello Work, Guild Petualang, dan rekening wilayah Baron Taikun.

"Uang sebanyak ini... apa ini benar-benar uangku?"

"Memalsukan buku tabungan hukumannya adalah kerja paksa seumur hidup atau hukuman mati. Saya tidak mungkin membuat buku tabungan palsu hanya untuk menipu Anda. Uang sebanyak ini tidak akan bisa dikumpulkan meski ratusan atau ribuan orang bekerja seumur hidup."

Master Kuruto terdiam menatap buku tabungan itu.

"Tuan Rikuto, sang Atelier Meister di bengkel ini, hanyalah ilusi yang diciptakan oleh Kocho yang Anda buat."

Aku menggunakan Kocho untuk memunculkan sosok Tuan Rikuto.

Ilusi itu perlahan berubah menjadi wujud Master Kuruto, lalu menghilang.

"......Terakhir, Master Kuruto, tolong lihat ini."

Aku menunjukkan lambang belati kepadanya.

Lambang yang menggambarkan naga berkepala dua.

Master Kuruto sepertinya memahami maknanya.

"Naga berkepala dua... ini lambang keluarga kerajaan, kan?"

"Benar. Liese hanyalah nama panggilanku."

Ini adalah rahasia terbesarku, rahasia yang sebenarnya sangat tidak ingin kuberi tahu pada Master Kuruto.

"Nama asliku adalah Lieselotte Homouros. Putri ketiga dari kerajaan ini. Untuk membalas budi dan menjaga rahasia Anda, saya tetap berada di sisi Anda untuk melindungi Anda."

"Begitu... rupanya. Liese-san... ternyata Putri Lieselotte—"

Deg.

Master Kuruto yang sedang kebingungan pasti tidak menyadari rasa perih di dadaku, seolah tertusuk jarum.

Kesedihan karena tidak lagi dipandang sebagai seorang wanita melainkan sebagai seorang putri—namun itu tidak sebanding dengan kegelisahan yang dirasakan Master Kuruto sekarang.

"Anu... Putri Lieselotte, bolehkah aku meminta waktu untuk berpikir sebentar?"

"......Tentu. Anu, Master Kuruto—"

Tolong tetap panggil aku Liese seperti biasa. Tadinya aku ingin bilang begitu, tapi—

"Tidak, sebaiknya Anda istirahat saja dulu. Biar aku yang menjaga Akuri."

Hanya itu yang bisa kukatakan.

Lalu Master Kuruto menidurkan Akuri pelan-pelan dan keluar dari kamar. Mungkin dia pergi ke tempat di mana dia bisa berpikir sendirian.

Begitu sosok Master Kuruto menghilang, aku terduduk lemas di lantai.

Aku sudah menduganya.

Aku sudah bersiap untuk ini.

Namun ternyata, rasanya tetap sesakit ini.

Sepertinya dia sudah mendengarkan pembicaraan kami dari luar kamar agar tidak ketahuan Master Kuruto. Yuri-san muncul dan menyapaku.

"Liese, kau boleh menangis sekarang."

"Tidak, ke depannya, aku hanya akan menangis saat aku menikah dengan Master Kuruto nanti."

"Padahal belum lama ini aku dengar dari Kuruto kalau kau menangis darah?"

"Itu cuma keringat hati."

"Kau ini kuda berdarah (Kanketsuma) apa?!"

Yuri-san membalas dengan lawakan tentang nama kuda legendaris yang konon mengeluarkan keringat merah seperti darah.

"......Yah, sudahlah. Kuharap... kau benar-benar bisa menikah dengannya."

—Eh?

Yuri-san melambaikan tangan lalu bersiap pergi dari kamar. Kalau diperhatikan, dia membawa tas belanjaan yang cukup banyak seolah akan pergi jauh.

"Yuri-san, mau ke mana?"

"Kuruto sedang berpikir setelah tahu faktanya, dan kau sudah berani maju setelah membongkar rahasiamu. Kurasa aku juga harus melakukan apa yang harus kulakukan. Tolong titip Akuri, ya."

"Yuri-san, kau akan kembali... kan?"

Yuri-san tidak menjawab pertanyaanku. Lalu, dia benar-benar keluar dari kamar.

Aku harus segera menghentikannya—aku harus berdiri.

Tepat saat aku berpikir demikian...

"Liese-san, gawat!"

Famil-san datang berlari. Wajahnya pucat pasi, seolah tidak ada setetes darah pun yang tersisa—

"Master Kuruto pingsan! Ada yang aneh, ini tidak normal!"

"————?!"

 

Tujuh jam telah berlalu sejak Master Kuruto pingsan.

Akuri, yang biasanya sudah tidur jam segini, masih terjaga dengan gigih menunggui Master Kuruto bangun.

Master Kuruto bernapas pelan dalam tidurnya. Wajah tidurnya tetap manis seperti biasa, tapi melihatnya sekarang tidak membuatku merasa bersemangat.

Orang yang pertama kali menemukan Master Kuruto adalah Famil-san.

Dia menemukan Master Kuruto tergeletak di koridor, lalu buru-buru memeriksa kondisinya. Setelah tahu dia hanya tertidur, Famil-san sempat merasa lega.

Namun, tidak peduli seberapa keras dia mencoba membangunkannya, Master Kuruto tetap tidak mau bangun.

Menyadari keanehan itu, dia langsung memanggilku.

Tapi aku pun tidak tahu apa yang sedang terjadi, jadi aku meminta Phantom untuk memanggil Ophelia-sensei dan Mimiko-san.

"......Sepertinya dia benar-benar hanya sedang tidur. Tapi, dia sama sekali tidak bereaksi terhadap rangsangan luar. Tadinya kukira dia sakit, tapi tidak ada kelainan pada tubuhnya. Bukan kutukan, bukan juga tidur paksa karena obat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa."

"Bahkan Ophelia-sensei pun tidak tahu?"

Mendengar pertanyaanku, Ophelia-sensei mengangguk lesu.

"Ah, sisa kemungkinannya bukan kutukan, melainkan sihir tidur—tapi kalau soal itu aku tidak terlalu paham."

Ophelia-sensei menoleh ke arah Mimiko-san yang berdiri di sampingnya, namun Mimiko-san menggelengkan kepala.

"Bukan sihir. Tentu saja, soal racun atau kutukan, diagnosis Ophelia-chan sudah pasti benar. Lieselotte-sama, di Atelier ini ada obat rutin buatan Kuruto-chan, kan? Obat yang konon bisa menyembuhkan kutukan, penyakit, atau apa pun itu. Kenapa tidak coba pakai itu saja?"

"Maaf, obat rutin itu sudah saya gunakan bahkan sebelum memanggil kalian berdua. Tapi tidak ada efeknya."

Aku berujar demikian sambil memutar otak.

"Seperti dugaan, Master Kuruto yang segalanya di luar nalar pun, penyakit yang menjangkitinya juga di luar nalar. Padahal di saat seperti ini, kalau ada Master Kuruto, beliau pasti tahu penyebab komanya dan bisa menciptakan obat untuk gejala yang tak bisa disembuhkan obat biasa dalam sekejap."

"Tenanglah, Liese-sama! Ucapan Anda sudah mulai melantur!"

Famil-san menegurku, tapi mana mungkin aku bisa tenang.

Sebab, Master Kuruto... Master Kuruto...

"Akuri-chan sedang melihat Anda."

Mendengar ucapan Famil-san, aku tersentak.

Benar juga. Akuri saja sedang berusaha bertahan, tidak mungkin aku sebagai ibunya malah hilang kendali.

"Begitu ya. Kalau kondisi koma tanpa penyebab ini hanya terjadi pada Kuruto-chan, mungkin orang yang sudah lama mengenalnya tahu cara pengobatannya."

"Tapi, Mimiko-san! Tinggi badan, berat badan, tiga ukuran tubuh, ukuran kaki sampai panjang jari, aroma rambut, bahkan jam bangun dan jam tidur setiap pagi, musik favorit, makanan kesukaan, sampai tipe wanita idamannya pun sudah kuketahui luar dalam! Aku tidak yakin ada orang lain yang lebih mengenal Master Kuruto dibanding aku!"

"Hildegard-san dari ras iblis... sepertinya teman masa kecilnya, tapi katanya mereka hanya bersama sebentar."

Apa yang dikatakan Famil-san benar.

Lagipula, keberadaan Hildegard-san tidak diketahui dan kami tidak punya cara untuk menghubunginya, jadi dia tidak bisa diandalkan.

Di tengah keputusasaan kami, Mimiko-san angkat bicara.

"Lieselotte-sama memang punya hubungan yang sangat intens dengan Kuruto-chan, tapi kalian baru kenal beberapa bulan, kan? Maksudku bukan itu, tapi rekan yang sudah bertualang bersamanya selama bertahun-tahun mungkin tahu sesuatu."

"Bertahun-tahun... jangan-jangan—"

"Ya, kupikir ada baiknya coba tanya pada 'anak itu'."

Si 'anak itu'—mendengar sebutan itu, aku menghela napas panjang.

Dari sekian banyak orang, kenapa harus orang yang telah mengusir Master Kuruto?

 

Menggunakan batu teleportasi Valha, aku tiba di fasilitas penahanan pribadi milik Mimiko-san yang terletak di ibu kota.

Di ruang pertemuan itu, aku pun berhadapan dengannya.

Saat memasuki ruangan, seorang wanita yang tampak seperti biarawati suci—meski aslinya adalah pemabuk sombong yang mata duitan—menyambutku.

Karena aku sudah bilang pada Mimiko-san dan unit Phantom bahwa aku ingin bicara empat mata, sekarang hanya ada kami berdua.

"Senang melihat Anda masih sehat walafiat, Putri Lieselotte."

"......Anda juga tampak lebih segar dari yang kubayangkan, Mare-Marlefiss-san."

Biarawati Marlefiss. Dia dulunya terdaftar di Gereja Poran, tapi sekarang sudah diekskomunikasi dan menjadi biarawati tanpa afiliasi.

Dulu dia berada di party petualang bernama "Flame Dragon Fang" tempat Master Kuruto bernaung, namun secara tak masuk akal dia justru mengusir Master Kuruto.

Akibatnya, tidak ada lagi orang yang bisa merawat senjata pusakanya, Unicorn Horn Staff, sehingga dia tidak bisa mengeluarkan kekuatan penuhnya dan terus-menerus mengalami kegagalan.

"'Tampak segar', ya? Ya, aku sehat sekali. Sejak dikurung di sini, aku tidak bisa minum setetes pun anggur yang merupakan satu-satunya hiburanku, jadi hatiku terlalu sehat sampai-sampai menjerit. Berat badanku turun lima kilo. Ukuran dadaku juga susut dari C ke B."

"Itu kabar yang bagus."

"Lalu, ada apa? Kenapa Anda sudi melangkahkan kaki ke kuburan kehidupan ini?"

"Ada yang ingin kutanyakan padamu."

Begitu aku mengatakannya, Marlefiss menyeringai sinis.

"Kurasa aku sudah menceritakan segalanya—ah, maksudku sudah dipaksa menceritakan semuanya. Ahaha, apa Anda mau menyiksaku lagi? Boleh saja, diam di sini tanpa melakukan apa pun juga membosankan. Harusnya aku menganggap penderitaanku ini sebagai cobaan Tuhan, tapi nyatanya Uskup Tristan yang dianggap paling dekat dengan Tuhan di negeri ini ternyata bersekutu dengan iblis... Di dunia ini sudah tidak ada Tuhan lagi. Jadi, mau siksaan seperti apa? Mau ditenggelamkan ke air?"

"......Aku mohon padamu."

"Mohon?"

"Kau adalah rekan Master Kuruto, kan? Master Kuruto jatuh koma dan tidak sadarkan diri. Apa kau tahu sesuatu tentang ini?"

"Apa pun yang terjadi pada Kuruto, itu bukan urusanku."

Mendengar kalimat itu, aku langsung mencengkeram kerah bajunya.

Melihat reaksiku, Marlefiss... tidak, Marlefiss malah tertawa kegirangan.

"Jadi begini cara keluarga kerajaan memohon? Gereja memang sudah busuk, tapi ternyata keluarga kerajaan juga sama busuknya ya."

"Kau bilang Master Kuruto bukan urusanmu, tapi apa kau tidak tahu bagaimana perasaan Master Kuruto padamu? Meski kau mengusirnya dari party, dia tetap menganggapmu sebagai rekan yang berharga!"

"Ya, tentu saja. Kuruto memang orang seperti itu. Dengan kata lain, dia itu si bodoh yang tidak bisa melakukan hal lain selain itu."

"—Master Kuruto bukan orang bodoh! Beliau itu, beliau itu...!"

Tinjuku terkepal kuat.

Aku sangat ingin memukulnya, dorongan itu hampir tak terbendung, tapi—

"Apa tidak apa-apa? Kalau Anda memukulku, bukankah Master Kuruto kesayangan Anda itu akan marah? Bukankah aku orang yang berharga bagi Kuruto?"

Mendengar itu, aku menurunkan tinjuku.

Bukan karena aku takut dibenci Master Kuruto karena memukul wanita ini.

Tapi karena Master Kuruto pasti akan merasa sedih jika tahu wanita ini dipukul hanya karena beliau sedang koma.

Setelah aku melepaskan cengkeramanku, Marlefiss merapikan pakaian biarawatinya.

"......Padahal aku sudah bersiap untuk dipukul. Aku tidak paham kenapa Anda bisa sebegitu gigihnya demi Kuruto. Yah, masakannya memang luar biasa, jadi kalau itu tujuan Anda, aku maklum. Atau Anda tipe orang yang tidak suka kehilangan pion meskipun dia cuma tukang bersih-bersih?"

"Kau tidak akan pernah mengerti seumur hidupmu."

Kurasa percuma saja berlama-lama di sini.

Namun, tepat saat aku hendak pergi—

"......Dua puluh empat jam."

Marlefiss bergumam lirih.

"Eh?"

"Kuruto terkadang memang jatuh koma. Dia itu putri tidur yang penyebabnya misterius. Tapi jangan khawatir, dia pasti akan bangun setelah lewat dua puluh empat jam. Namun, pastikan untuk memberinya minum lewat kendi setiap delapan jam sekali. Meskipun pingsan, dia masih punya tenaga untuk menelan air. Kalau tidak, saat bangun nanti tenggorokannya akan sakit."

Dia akan bangun setelah dua puluh empat jam?

Sekarang sudah dua belas jam berlalu sejak Master Kuruto pingsan, berarti dia akan bangun dua belas jam lagi?

Padahal kami sudah melakukan segala cara tapi dia tidak bangun-bangun?

"Meski sudah membuang Tuhan, aku tidak berniat membuang tugasku sebagai biarawati. Walaupun mantan rekan, aku tetap khawatir pada Kuruto. Syukurlah kalau ternyata cuma koma yang seperti biasanya. Mulai sekarang, berhati-hatilah agar tidak memujinya secara berlebihan."

"Jangan memuji? Apa maksudmu?"

"Bukankah kali ini juga begitu? Selama ini, Kuruto jatuh koma setiap kali kami atau klien memujinya. Karena itu, di dalam party kami punya kesepakatan untuk tidak memuji Kuruto secara berlebihan."

"......Begitu... rupanya."

Pingsan kalau dipuji?

Kali ini, aku baru saja memberitahu Master Kuruto tentang kemampuannya yang sebenarnya dan betapa semua orang berterima kasih padanya. Jadi itukah penyebab beliau pingsan?

Tapi, kenapa?

"Sudah selesai urusannya? Kalau begitu, aku kembali ke sel dulu."

Dia berbalik membelakangiku seolah pembicaraan sudah berakhir.

"Aneh sekali. Kupikir kau akan meminta imbalan atas informasi ini, tapi kau tidak mengatakan apa-apa?"

"Imbalannya akan kupinta langsung dari Kuruto. Sampaikan itu padanya."

Dia melirikku sekilas dengan senyum tipis yang sulit ditebak, lalu keluar melalui pintu di belakangnya.

Sepertinya ini bukan murni demi Master Kuruto, tapi...

Yang jelas, jika perkataannya bisa dipercaya, aku hanya perlu menunggu setengah hari lagi.

◆◇◆

Waktu hampir menunjukkan dua puluh empat jam sejak Master Kuruto jatuh koma.

Bukannya aku tidak percaya pada Marlefiss, tapi sejak mendengar ceritanya, kami tetap mencoba berbagai cara untuk membangunkannya.

Namun hasilnya nihil, seperti yang terlihat dari sosok Master Kuruto yang masih terlelap di hadapanku.

Akhirnya, satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah sesekali memberinya minum.

Tadinya kupikir lewat mulut saja (mouth-to-mouth), tapi karena Ophelia-sensei terus mengawasi di samping, akhirnya aku menggunakan alat minum khusus.

Akuri juga terus ikut merawat Master Kuruto, namun karena kelelahan, dia akhirnya tertidur di kamarnya bersama Famil-san.

Biasanya Akuri tidak mau tidur dengan siapa pun selain kami, tapi sepertinya dia mengerti keadaan. Dia anak yang sangat baik.

"Sebentar lagi, ya."

"Ya, benar juga—"

Aku tidak tahu pasti jam berapa Master Kuruto pingsan.

Tapi kurasa ini sudah mendekati waktu saat kami berpisah kemarin.

Kalau begitu, seharusnya sebentar lagi—

"—!"

Master Kuruto menggeliat.

"Nng..."

Dia mengerang pelan lalu perlahan bangkit duduk.

Matanya terbuka sedikit demi sedikit.

"Master Kuruto?!"

"Sepertinya dia sudah bangun."

"Eh? Are? Are-re?"

Master Kuruto menatap kami dengan pandangan kosong.

Sosok Master Kuruto yang baru bangun tidur seperti ini benar-benar pemandangan langka.

Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, sepertinya beliau mulai memahami situasi.

"Eh? Ophelia-sama?! Kenapa Anda ada di kamarku?"

"Kau tidak ingat ya... yah, memang tidak mungkin ingat sih. Kau pingsan di koridor kemarin dan jatuh koma selama sehari penuh."

"Benarkah?! Maafkan aku, aku sudah merepotkan kalian. Sepertinya ini faktor keturunan. Tubuhku memang agak lemah jadi terkadang aku pingsan. Akhir-akhir ini tidak pernah terjadi lagi, jadi kukira sudah sembuh."

Master Kuruto berujar dengan nada terkejut sekaligus merasa bersalah.

Padahal beliau bisa mengangkat barang ratusan kilo dengan mudah, tapi merasa "tubuhnya lemah", ya.

"Tapi, syukurlah Anda selamat."

"Iya, maaf juga ya sudah merepotkan Liese-san."

"......Sepertinya lebih baik Master Kuruto tetap memanggilku 'Liese-san' seperti biasa."

Dipanggil 'Putri Lieselotte' seperti kemarin malah membuatku merasa jauh dan sedih.

Yah, meskipun aku tetap memanggilnya dengan embel-embel Master, itu karena rasa hormatku, jadi aku tidak berniat mengubahnya.

Sekarang, asalkan aku bisa membawa pulang Yuri-san yang pergi entah ke mana sejak kemarin, semuanya akan selesai.

—Ternyata pemikiran itu terlalu naif.

Ucapan Master Kuruto berikutnya menciptakan masalah baru.

"Eh? Apa aku pernah memanggil Liese-san dengan sebutan lain?"

"......Eh? Master Kuruto, kemarin Anda memanggilku dengan embel-embel Putri—"

"Benarkah? Ah, tapi Liese-san kan Wakil Gubernur Valha, jadi memang lebih baik kupanggil Liese-sama ya."

"A-anu, tolong jangan lakukan itu."

......Eh?

Apa yang terjadi?

Padahal kemarin aku sudah memberitahu Master Kuruto bahwa aku adalah putri ketiga dari kerajaan ini.

Jangan-jangan—

"Master Kuruto, apa yang Anda lakukan sebelum kehilangan kesadaran?"

"Eh? Kemarin setelah kelas terakhir dengan para murid, aku berpikir tidak bisa terus mengandalkan sumur, jadi aku membuat desain jembatan air untuk fasilitas saluran air... Ah! Sepertinya aku pingsan di tengah-tengah mengerjakan itu."

"......Begitu ya."

Aneh.

Memang benar Master Kuruto membuat desain jembatan untuk mengalirkan air lezat dari gunung dan menunjukkannya padaku. Tapi itu terjadi dua hari yang lalu.

Artinya, Master Kuruto tidak punya ingatan di hari beliau pingsan—bukan, ingatannya hilang sejak saat beliau membuat desain itu sampai saat pingsan.

Kehilangan kesadaran dan kehilangan ingatan tepat setelah aku memberitahu seluruh kebenaran?

Seolah-olah ada 'sesuatu' yang tidak ingin Master Kuruto mengetahui kebenarannya.

Tidak, bukan itu. Master Kuruto tadi bilang:

'Sepertinya ini faktor keturunan?'

Itu artinya—

"Apakah orang tuamu juga sering kehilangan kesadaran?"

Sepertinya Ophelia-sensei memiliki kecurigaan yang sama denganku, sehingga beliau menanyakan hal itu.

"Iya. Lebih tepatnya, semua orang di desaku begitu. Yang paling sering bahkan bisa pingsan sebulan sekali."

Ternyata benar—dugaanku tepat.

Selama ini aku merasa aneh. Kenapa Master Kuruto, bahkan seluruh orang di desanya, tidak ada yang menyadari keanehan mereka sendiri?

Aku dengar desa Master Kuruto sering dikunjungi pedagang keliling seperti ayah Hildegard-san. Artinya, mereka tidak benar-benar terisolasi.

Harusnya mereka sadar akan perbedaan antara diri mereka dengan orang lain saat berbincang—tapi ternyata bukan begitu.

Mereka bukannya tidak sadar. Mereka mungkin sudah berkali-kali menyadarinya atau diberitahu.

Namun, begitu mereka menyadari atau diberitahu tentang kenyataan tersebut, tepat saat mereka mengenali kemampuan asli mereka, mereka akan kehilangan kesadaran sekaligus ingatan.

Mereka dipaksa melupakan bahwa mereka memiliki kekuatan yang tidak wajar.

Fakta bahwa Master Kuruto pingsan jika terlalu banyak dipuji pun kemungkinan besar karena beliau merasa hanya melakukan hal biasa, namun orang sekitar memujinya secara berlebihan—dan kesadaran akan "ketidakwajaran" itulah yang memicu beliau jatuh pingsan.

......Kenapa, kenapa bisa menjadi seperti itu?




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close