Chapter 4
Serangan Monster dan Pedagang Misterius
Sudah hari kelima sejak aku resmi menjadi guru
dan memulai kegiatan belajar-mengajar di sekolah ini.
Hari ini ada kelas luar ruangan, jadi kami memutuskan untuk melakukan kerja
lapangan ke hutan terdekat.
Semuanya pergi membawa bekal dan botol minum yang kubuat tadi pagi setelah
bangun lebih awal.
Hasil pembelajaran sejauh ini tidak bisa dibilang lancar. Malah,
bisa dibilang gagal total.
Setengah dari materi yang rencananya ingin kuajarkan sama sekali belum
tersampaikan.
Kelasnya terlalu menyenangkan, para murid pun terlalu bersemangat, sehingga
kami sering kali melantur atau mengulang hal yang sama berkali-kali.
Benar-benar terlalu banyak distraksi.
Padahal tadinya aku berniat mengajak semuanya membuat Golem selama dua
hari, besok dan lusa, tapi sepertinya itu mustahil.
"Kenapa, Kuruto? Mukamu lesu begitu. Padahal reputasimu sebagai guru
sedang naik daun, lho."
Sosok yang menghiburku itu adalah Tuan
Generik, sang ksatria.
Tuan Generik dan lima ksatria Valha lainnya
sedang ditempatkan sementara di Rikuto ini. Untuk kerja lapangan kali ini, Tuan
Generik dan satu ksatria lain ikut mendampingi kami.
"Itu semua berkat Tuan Rikuto. Karena beliau orang hebat, mereka jadi
memuji aku yang cuma penggantinya di bengkel ini."
"Begitukah? Kurasa bagi anak-anak, wibawa seperti itu tidak ada
pengaruhnya."
Tuan Generik berkata begitu sambil memandang enam murid yang berjalan
diapit olehnya dan ksatria di barisan paling belakang.
Semuanya tampak bersenang-senang. Kecuali Vittel-kun yang wajahnya masih
ditekuk.
"……Sensei, ada apa?"
Cretis-san bertanya.
"Ah, tidak apa-apa. Apa Cretis-san menikmati pelajarannya?"
"……Iya, sangat menyenangkan. Cara mengajar Sensei juga bagus. Saat aku
memberikan baju kerja yang kubuat dengan metode dari Sensei kepada Bukir-san,
dia kelihatan senang sekali."
"Yah, meski sifatnya yang kelihatan kurang bisa diandalkan itu agak
disayangkan, sih."
Alcopa-kun tertawa riang sambil menyahut.
"Sensei, di rumah Abang selalu membanggakan Sensei di depan Ayah.
Abang itu cuma tsundere, jadi jangan dimasukkan ke hati ya."
"Tsuki! Jangan bicara yang
tidak-tidak!"
"Toko kami juga terbantu karena bisa menjual obat dan peralatan buatan
semuanya. Kami jadi dapat untung sedikit."
Aria-san tampak berusaha keras menahan tawa yang hampir meledak.
Sebenarnya dia pasti untung banyak, ya.
"Itu! Itu yang mau aku bilang! Apa kami
beneran boleh terima uang sebanyak itu? Penghasilanku jadi lebih tinggi dari
Ayah, lho."
"Nggak apa-apa. Itu sudah termasuk uang
tutup mulut. (Duh, kalau mereka tahu harga aslinya, pasti bakal pingsan. Ophelia-sensei
bilang harga aslinya baru boleh dibayar setelah mereka lulus, jadi yang
kuberikan sekarang cuma sepuluh persen dari bayaran seharusnya.)"
Aria-san menggumamkan sesuatu.
"Hah? Kamu bilang apa?"
Sword-kun yang ada di sebelahnya pun sama sekali tidak mendengar, sehingga
dia bertanya pada Aria-san.
"Nggak, aku nggak bilang apa-apa.
Ngomong-ngomong, tempat penempaan Sword katanya kebanjiran pesanan dalam jumlah
besar, ya?"
"Iya. Setelah aku ajarkan cara dari
Sensei kepada semua orang untuk membuat pedang, hasilnya jadi bagus sekali.
Tuan Generik yang melihatnya lalu membantu mempromosikannya."
"Bukan mempromosikan. Aku cuma
menyampaikan apa adanya kepada Margrave Tycoon. Kubilang, 'Pedang yang
ditempa di Rikuto tidak kalah saing dengan buatan pengrajin kelas satu di
ibukota, bahkan mungkin lebih unggul'."
"Tetap saja itu sangat membantu. Terima kasih banyak."
Sword-kun membungkukkan kepalanya.
Wah, ternyata ada kejadian seperti itu ya.
Vittel-kun tidak ikut dalam percakapan. Sebelum ada yang menyapanya, dia
tidak akan bicara sepatah kata pun atas kemauannya sendiri.
Tidak apa-apa jika dia belum mengakuiku, tapi aku ingin dia bisa akrab
dengan murid-murid yang lain.
"Lalu, Kuruto. Apa yang mau kita lakukan di tengah hutan begini?"
"Iya, hari ini aku ingin kita belajar
langsung tentang persebaran mineral di desa ini."
Di sekitar sini terdapat urat bijih tempat emas bisa ditemukan.
Bijih emas lebih mudah ditemukan daripada Mythril atau Orichalcum, tapi
tempat yang bisa ditambang di lokasi dangkal itu relatif sedikit.
Oh iya, pedagang keliling yang mengunjungi Desa Hust entah kenapa selalu
senang membeli emas murni.
Waktu aku merekomendasikan Orichalcum kepada pedagang yang mau membeli
emas, dia bilang, "Kalau aku bawa barang itu ke kota, bisa terjadi
kepanikan!".
Aku tidak tahu kenapa harus panik, tapi karena itulah Desa Hust menambang
emas dalam jumlah tertentu dan menyetorkannya kepada pedagang keliling.
"Begitu ya. Latihan lapangan memang penting, tapi aku kurang suka
berjalan di hutan. Banyak serangga. Yah, meski aku sendiri sering dibilang 'serangga nakal' yang
mengerumuni gadis-gadis, sih."
"Tuan Generik bukan serangga nakal, kok.
Anda orang yang sangat baik."
"Aduh, Kuruto, tolong jangan dihibur
dengan serius begitu. Iya, aku cuma bercanda tadi…… eh? Tunggu sebentar.
Sepertinya dari tadi sama sekali tidak ada serangga ya?"
Tuan Generik melihat ke sekeliling sambil
memiringkan kepala.
"Itu karena kami semua sudah memakai dupa pengusir serangga. Kami
membuatnya kemarin."
"Ah, itu perjuangan banget ya. Kalau salah takaran bahan pembasmi
serangganya, jangankan cuma mengusir, serangga seisi kota bisa mati
semua."
Aria-san mengenang pelajaran kemarin dan mengatakannya sambil menghela
napas.
"Sepertinya bisa dipakai sebagai pengganti pestisida, tapi kekuatannya
terlalu gila."
"Bisa gawat kalau serangga yang
bermanfaat ikut mati."
Alcopa-kun dan Tsuki-san bicara dari sudut pandang petani.
Pestisida ya…… Obat yang hanya membunuh serangga tertentu sepertinya bisa
dibuat kalau aku mau, tapi sepertinya akan merepotkan.
Sama seperti membuat obat lambung
yang hanya menyembuhkan lambung atau obat mata yang hanya menyembuhkan mata,
membuat obat penawar segala penyakit jauh lebih mudah.
"Kalian membuat barang-barang yang luar
biasa ya…… Apa ini beneran
pelajaran kelas dasar? Kupikir kelas dasar itu tempat untuk belajar baca-tulis
dan berhitung."
Tuan Generik berkata sambil tertawa kecut.
Dasar, ya. Kalau soal dasar dari yang paling
dasar, aku menggunakan buku teks dari Mimiko-san untuk mengajar. Walau cuma
lima menit sehari. Mungkin karena dasar itu penting, hal-hal selebihnya akan
diajarkan oleh guru penggantiku nanti.
"Lho, ada apa?"
Sword-kun bertanya kepada Cretis-san.
Cretis-san berhenti melangkah dan melihat ke
sekeliling dengan gelisah.
"……Sensei, aku sedikit takut pergi ke depan sana."
Ucapnya dengan suara gemetar.
"Kenapa?"
"……Rasanya seperti dilarang pergi ke
depan sana."
Dilarang…… sebenarnya oleh siapa?
"Duh, jangan bilang yang aneh-aneh dong……
bukan hantu, kan?"
Aria-san berkata dengan wajah pucat.
Hantu…… kalau monster jenis Ghost sih aku juga tidak mau ketemu.
"Hmph, tidak berguna."
Vittel-kun berkata begitu, lalu melewati Tuan Generik untuk berjalan lebih
dulu.
Tepat saat itu, aku melihat kilatan tumpul di kedalaman hutan.
"Bahaya—"
Seketika itu juga aku menjatuhkan Vittel-kun dan menindihnya untuk
melindunginya.
Di saat yang sama, rasa sakit yang tajam menjalar di bahu kananku.
Sebuah anak panah tertancap di bahuku.
"Waspada! Murid-murid, ke
belakangku!"
"……Mundur."
Tuan Generik berdiri di depanku bersama
ksatria lainnya sambil mewaspadai keadaan sekitar.
Tak lama kemudian, empat anak panah terbang bersamaan.
Tuan Generik dan ksatria satunya menebas jatuh keempat anak panah itu dalam
sekejap.
"He-hebat."
Alcopa-kun berucap.
Iya, Tuan Generik hebat, tapi
ksatria satunya juga luar biasa. Menebas anak panah yang terbang dengan pedang
bukanlah hal yang mudah dilakukan.
"Sensei, tidak apa-apa?"
Tsuki-san bertanya.
"……Iya, cuma segini…… bahu kananku tidak bisa digerakkan, tapi tidak
apa-apa. Sepertinya tidak ada racunnya."
Sambil bermandikan keringat
dingin, aku menjawab dengan senyuman.
"Itu namanya kenapa-napa, tahu."
Aku mencabut anak panah yang menancap di bahu, lalu merobek kain baju di
sekitar bahu kiri.
Saat melihat bagian yang tertancap tadi, darah mengucur deras. Melihat
kondisinya, mungkin tulangnya hancur. Harus segera diobati.
"……Kenapa kamu melindungiku?"
"Karena Vittel-kun adalah muridku—"
Aku mengatakan itu lalu menggelengkan kepala dan melanjutkan.
"Mungkin keren kalau aku bisa bilang begitu, tapi aku sendiri tidak
tahu alasannya. Tubuhku bergerak sendiri."
Aku mencoba mengambil obat luka dari tas yang selalu kubawa, tapi sebelum
itu, Vittel-kun sudah mengeluarkan Potion dari tasnya sendiri.
Itu adalah Potion yang dibuat di hari pertama sekolah.
Murid-murid lain sepertinya menyerahkan Potion buatan mereka kepada
Aria-san untuk dijual, tapi Vittel-kun tidak menjualnya.
Apa dia mengalami luka lecet saat aku menjatuhkannya tadi?
Kiraanku salah.
"……Minum ini."
Vittel-kun menyodorkan Potion itu kepadaku.
"Boleh?"
"Iya. Ini kan luka gara-gara
melindungiku."
"……Terima kasih. Aku terima ya."
Aku mengucapkan terima kasih dan menerima Potion itu dengan tangan kiri,
mencabut sumbat gabusnya dengan mulut, lalu meminum habis isinya sekaligus.
Sepertinya masih ada sedikit sisa serat daunnya, tapi khasiat obatnya
bekerja dengan baik.
"Duh, Vittel. Sensei kan tangan kanannya nggak bisa gerak, bukain kek
tutupnya."
Aria-san memberi teguran.
"Benar tuh, Vittel-kun. Tapi, aku sedikit kagum padamu."
Sword-kun berkata dengan senyum malu-malu.
"Iya iya, kalau Aria yang gila uang, pasti tidak akan mau
memakainya."
"Malah mungkin bakal dijual ke
Sensei."
Alcopa-kun dan Tsuki-san menyahut.
"……Vittel-kun, terima kasih."
Terakhir, Cretis-san mengucapkan terima kasih, dan Vittel-kun langsung
memalingkan wajah.
"Eh, Vittel. Mukamu merah banget! Kenapa, malu ya?"
"Berisik, jangan urusi aku."
Saat para murid mulai akrab, rasa sakit di bahuku lenyap seketika, dan
bahuku pun bisa digerakkan lagi.
Sip, sepertinya tulangnya juga sudah menyatu sempurna.
"Terima kasih, Vittel-kun. Lukanya sudah sembuh total."
"Maaf karena harus mengganggu waktu sembuhmu, tapi jangan lengah ya,
Bocah-bocah sekalian."
Tuan Generik berkata sambil menangkis anak
panah yang kembali terbang.
Kecepatan anak panahnya perlahan meningkat.
Itu artinya, sang pemanah sedang mendekat.
Lalu, mereka pun menampakkan diri.
"……Goblin…… Archer."
Aku berucap dengan nada putus asa.
Monster dengan wujud seperti kera tanpa
bulu—Goblin. Terlebih lagi, jumlahnya ada lima ekor.
Biasanya Goblin hanya menggunakan senjata
seperti batang kayu.
Namun, jika mereka memegang senjata buatan manusia, namanya akan berubah.
Kalau memegang kapak disebut Goblin Warrior, kalau memegang pedang disebut
Goblin Swordsman, dan kalau memegang busur panah disebut Goblin Archer.
Omong-omong, sebagian besar senjata itu dirampas dari manusia yang mereka
bunuh, bukan berarti mereka punya bakat tinggi dalam menggunakan senjata
tersebut.
Busur yang dipegang para Archer di depan kami pun tampak sangat tua,
kemungkinan hasil rampasan dari pemburu.
Tetap saja, lima ekor Goblin bersenjata…… aku yang jumlahnya lima puluh
orang pun tidak akan sanggup melawan.
"Lima ekor Archer ya……
Merepotkan juga."
Tuan Generik bergumam.
Sial, kalau bukan karena harus
melindungi kami, Tuan Generik sendiri pasti sanggup menghabisi para Goblin
Archer itu.
"……Angin bertiup."
Cretis-san bergumam, dan tepat
saat itu juga.
Angin kencang bertiup dari
belakang kami menuju ke arah para Goblin Archer.
Memang tidak sampai membuat kami
terjatuh, tapi kenapa ada angin di tengah hutan?
Angin yang seperti sihir.
Kalau begini—
"Tuan Generik!"
"Iya, entah apa yang terjadi tapi ini kesempatan! Gaurow, titip
murid-murid ya!"
"……Ya."
Tuan Generik memberi instruksi
kepada ksatria pendiam yang ternyata bernama Gaurow-san, lalu menerjang maju
bersama angin.
Para Goblin Archer melepaskan
anak panah, tapi karena angin kencang, panah-panah itu terbang ke arah yang
tidak jelas.
Tuan Generik menebas para Goblin
Archer satu per satu, dan dengan sangat mudah, dia menghabisi ekor terakhir.
Bersamaan dengan itu, angin pun berhenti.
"Huh, membosankan."
"Terima kasih banyak. Anda kuat sekali ya. Tolong seka darahnya pakai
ini."
"Oh, terima kasih. Nona kecil."
Tsuki-san berlari menghampiri Tuan Generik dan menyerahkan saputangan.
Jangan-jangan dia jatuh cinta pada Tuan Generik? Bahkan di mataku yang
laki-laki pun, Tuan Generik memang terlihat keren.
Suasana kembali sunyi, seolah angin kencang tadi hanyalah dusta.
"……Terima kasih. Terima kasih atas kerja kerasnya."
Cretis-san mengucapkan terima kasih ke arah ruang hampa.
Jangan-jangan, angin tadi sengaja dibangkitkan oleh seseorang untuk
menolong Cretis-san?
Tidak, mungkin Cretis-san cuma sedang berterima kasih kepada Tuhan.
Dulu Marlefiss-san juga sering berdoa kepada Tuhan dengan tatapan kosong
setelah terlalu banyak minum anggur, jadi kurasa ini hal yang serupa.
◆◇◆
"Jadi, kamu kabur dari sekolah?"
Aku menatap Liese dengan tatapan sinis di ruang monitor.
"Yuri-san, kasar sekali bilang kabur. Sebagai ibu, sudah sewajarnya
aku mengurus Akuri. Benar kan, Akuri?"
"Benal, nano."
Akuri tampak senang karena Liese yang belakangan ini tidak bersamanya di
siang hari kini ada di sisinya.
Aku tahu ini bukan berarti dia lebih suka Liese daripada aku, tapi rasanya
tetap agak kesepian.
Tapi kalau memikirkan masa depan, waktu Akuri dan Liese bersama yang
bertambah itu bukan hal buruk, jadi aku memutuskan untuk mengganti topik.
"Ngomong-ngomong, Famil. Bagaimana keamanan di kota? Tidak ada
masalah?"
Aku bertanya pada Famil yang juga ada di ruang
monitor.
Omong-omong, yang memanggil Rikuto ini dengan
sebutan "desa" hanyalah Kuruto si pembuatnya sendiri.
"Di kota penguasa maupun desa-desa yang
menerima imigran dari Torschen, ketegangan dengan penduduk asli semakin
meningkat. Namun di kota ini, tanda-tanda seperti itu belum terlihat sampai
sekarang."
Mendengar kata-kata Famil, Liese mengangguk
setuju.
"Di kelasku pun tujuh puluh persen
muridnya berasal dari Torschen, tapi tidak ada diskriminasi etnis. Yah, saat
pembagian kelompok, mereka memang cenderung berkelompok dengan sesama orang
Torschen, sih."
"Penyebab diskriminasi imigran biasanya
karena merasa pekerjaan mereka direbut, atau ketakutan akan memburuknya
keamanan…… tapi di kota ini
lapangan kerja sangat luas, dan keamanannya pun bagus. Aku belum pernah dengar
ada kota rintisan dengan tingkat kepuasan seratus dua puluh persen."
"Lalu soal provokasi oleh agen provokator, atas perintah Liese-sama,
kami sudah memeriksa latar belakang semua calon imigran. Mereka yang
terkonfirmasi sebagai agen atau mata-mata sebagian sudah ditangkap, sisanya
masih kami awasi."
Bahkan bagi manusia yang disebut mata-mata atau agen, jarang ada yang
langsung melakukan tindakan seketika.
Kebanyakan dari mereka menyusup ke dalam kota selama bertahun-tahun sambil
menunggu instruksi dari negara asal.
Mereka yang ditangkap adalah yang punya catatan kriminal atau sudah
terindikasi akan melakukan manipulasi informasi.
Aku melihat daftar orang-orang yang sedang
diawasi itu.
Ada orang yang pernah minum bersamaku di
kedai. Saat itu kupikir dia
cuma orang biasa, ternyata mata-mata ya.
Selanjutnya, aku melihat daftar orang yang bukan mata-mata tapi harus
sangat diwaspadai.
"Hm? Siapa pria dari Persekutuan Dagang
Genic ini? Mencurigakan?"
Dia tercantum sebagai orang yang paling harus
diperhatikan, lengkap dengan data detail hasil penyelidikan.
Latar belakang, informasi fisik, sampai
alergi. Dia alergi udang, kepiting, dan kerang ya.
Kalau sampai diselidiki sejauh ini padahal belum terkonfirmasi sebagai
mata-mata…… level kewaspadaannya sepertinya tidak main-main.
Aku pernah belanja sekali di toko miliknya, tapi rasanya cuma toko
kelontong biasa.
Liese dan Famil menjawab rasa penasaranku.
"Persekutuan Dagang Genic adalah persekutuan yang digerebek enam tahun
lalu karena transaksi ilegal. Penyebabnya adalah penjualan barang terlarang
secara sembunyi-sembunyi. Ketua persekutuannya bunuh diri di rumahnya, dan
persekutuan itu praktis bubar."
"Traft Genic adalah putra dari ketua persekutuan tersebut."
"Begitu ya…… Ada kemungkinan
dia dendam pada negara. Tapi,
bukan berarti anak kriminal itu pasti kriminal, kan?"
"Itu saya yang menginstruksikan untuk waspada."
"Liese?"
Liese mengangguk mantap.
"Benar. Sebelum datang ke kota ini, pria itu sepertinya berada di
Torschen. Dan sebagian barang terlarang yang ditangani Persekutuan Genic enam
tahun lalu masih belum diketahui keberadaannya sampai sekarang. Barang
terlarang itu adalah Batu Pemanggilan (Summoning Stone)."
"Apa-apaan!?"
Batu Pemanggilan—benda yang bisa memanggil dan mengendalikan monster
tertentu dalam waktu terbatas.
Benda itu ditemukan sepuluh tahun lalu oleh sebuah bengkel untuk
kepentingan militer, tapi rencananya dibatalkan karena monster tidak bisa
dikendalikan dan potensi kerusakannya terlalu besar.
Menurut cerita Liese, pegawai bengkel itu membocorkan cara pembuatannya ke
pihak luar, dan pihak luar itu adalah Persekutuan Genic.
Di laboratorium milik mereka, replika Batu Pemanggilan dibuat dalam jumlah
besar dan disalurkan ke berbagai tempat.
"Lalu, Traft Genic ini sekarang di
mana?"
"Di sini."
Famil mengoperasikan monitor dan menampilkan
sosok pria yang diduga Traft Genic.
Sepertinya dia berada di depan sebuah rumah.
"Famil-san, rumah siapakah
ini?"
"Mohon tunggu sebentar…… eh, rumah ini……"
Menjawab pertanyaan Liese, Famil
memeriksa daftar nama.
"Ini rumah imigran dari
Torschen. Kalau tidak salah, ini milik pemilik ladang gandum yang pernah
dibantu oleh Tuan Kuruto."
"Tempat tinggal anak bernama
Randle itu?"
"Benar. Ayahnya kabarnya
tidak keluar rumah sama sekali selama seminggu terakhir. Menurut tetangga yang
menjenguk, dia hanya kelelahan biasa dan akan membaik dalam beberapa
hari."
"Apa urusannya di rumah seperti itu……"
Tepat saat aku menggumamkan itu.
Pintu ruang monitor terbuka dan seorang wanita asing masuk.
Aku sempat waspada sejenak, tapi aku mengenali hawa keberadaan ini.
Salah satu dari Phantom.
Mereka juga diperbolehkan keluar-masuk ruang monitor ini.
Biasanya Phantom muncul dan menghilang seperti asap, tapi ruang monitor
buatan Kuruto ini memang luar biasa.
Ruangan dengan penjagaan ketat ini ternyata tidak bisa ditembus dengan cara
seperti asap.
"Yang Mulia, ada laporan."
"Apa itu?"
"Sebelumnya saya sampaikan, semuanya selamat. Tuan Kuruto dan
anak-anak kelas dasar diserang oleh sekelompok Goblin Archer. Akibatnya, kerja
lapangan dihentikan dan mereka telah kembali."
"…………!"
Kuruto selamat, kan!?
Hampir saja kata-kata itu terlontar dari mulutku. Kalau tidak bisa menahan
diri, mungkin aku sudah mencengkeram kerah bajunya.
Liese pasti merasakan hal yang sama denganku.
Itulah sebabnya wanita Phantom itu mengawalinya dengan memberitahu bahwa
semuanya selamat.
"Papa nggak apa-apa?"
Akuri bertanya.
"Tuan Kuruto terluka karena panah saat melindungi muridnya, tapi
setelah meminum Potion buatan muridnya, dia tampak sudah sembuh total. Tidak
ada orang lain yang terluka."
"Padahal aku sudah menyuruh Generik ikut untuk berjaga-jaga. Apa yang dilakukan si batang kayu
tidak berguna itu?"
"Setelah serangan pertama, Tuan Generik
bertarung sendirian melawan kawanan Goblin Archer. Hasilnya, para Goblin tumpas tak bersisa. Tanpa
dia, situasinya mungkin akan gawat."
"Begitukah…… Baiklah, rencana menjatuhkan hukuman pengkhianatan negara
kita batalkan saja."
Pengkhianatan negara…… Kalau
Liese serius, si Generik benar-benar bisa kena hukuman mati. Dia selamat berkat pembelaan dari Phantom itu.
"Tapi tetap saja, sarang Goblin di sekitar sini seharusnya ada di
kedalaman hutan. Kenapa mereka bisa muncul sampai dekat pemukiman manusia? Ini
juga bukan musim mereka bermigrasi."
Pada dasarnya Goblin tidak keluar dari wilayah kekuasaannya, mereka
menyerang manusia hanya jika wilayahnya dimasuki.
Pengecualiannya adalah saat musim bermigrasi, mereka akan memisahkan diri
dari kelompok dalam jumlah kecil, tapi itu hanya di musim tertentu.
"Mungkin ada sarang Goblin yang tidak kami ketahui. Atau mungkin bos
kelompoknya berganti, dan bos lama diusir dari kelompok. Memang jarang, tapi
bukan berarti tidak pernah terjadi."
Mengabaikan penjelasan Phantom, Akuri bicara pada Liese.
"Mama Liese. Mau ketemu Papa."
"Ah, benar juga. Akuri, ayo kita ke tempat Papa. Yuri-san mau ikut
juga?"
"Ya…… tidak, ada sesuatu yang harus kupelajari dulu, aku akan menyusul
setelah selesai. Oh iya, tadi di kantor ada surat untuk Rikuto dari Marquess
Triad. Tolong sampaikan ya."
"Apa isinya?"
"Disegel dengan lambang
keluarga Marquess, lho. Mana mungkin aku berani membukanya."
Liese menerima surat itu, berkata "Akan aku cek nanti," lalu
pergi meninggalkan ruang monitor bersama Akuri dan diikuti oleh Phantom.
Aku yang tersisa kembali menatap monitor.
Terlihat kepala suku yang baru pulang menjual gandum ke kota dengan kereta
kudanya.
Beberapa saat kemudian, Kuruto dan yang lainnya terlihat kembali dengan
dipimpin oleh Generik.
Meski baru saja diserang Goblin Archer, semuanya tampak tersenyum.
Sepertinya meski ada kejadian mengejutkan, mereka menganggapnya pengalaman yang
seru.
Putra Marquess—aku baru melihatnya di dokumen, kalau tidak salah namanya
Vittel? —terlihat berjalan di samping Kuruto. Kata Kuruto dia sama sekali tidak
mau terbuka, tapi sepertinya kejadian kali ini membuat jarak mereka semakin
dekat.
Nah, aku juga harus pergi sekarang.
Saat aku berdiri, Famil bertanya padaku.
"Yuri-sama hendak ke mana?"
"Ah, aku mau ke sarang Goblin di kedalaman hutan."
"……!? Apa Anda akan baik-baik saja?"
"Tenang saja. Kalau soal melawan monster, aku lebih hebat dari ksatria
manapun. Biarpun sudah pensiun, aku ini mantan petualang langsung di bawah
Kerajaan, dan aku punya Sekka Kuruto yang menemaniku."
Aku menepuk pelan gagang pedang di
pinggangku—Sekka—sambil mengangguk.
◆◇◆
Keesokan harinya. Aku, Kuruto, mengadakan pelajaran di halaman sekolah
setelah kelas teori selesai. Tadinya materi ini ingin aku ajarkan saat kerja
lapangan kemarin.
"—Pelajaran hari ini sampai di sini. Semuanya, pupuk yang baru saja
kita buat ini adalah dasar dari yang paling dasar. Kalau mau dipakai di ladang,
pastikan minta izin dulu pada pemilik ladangnya ya."
"Sensei, beneran ini cuma pupuk dasar? Padahal tadi biji bunga yang
ditabur bisa jadi padang bunga cuma dalam satu jam."
"Iya. Pupuk ini efeknya murni hanya untuk mempercepat pertumbuhan
tanaman. Contohnya, bunga ini aslinya hanya mekar warna kuning, tapi kalau
diberi pupuk lain racikanku……"
Aku memasukkan pupuk cair ke dalam pot, lalu menaburkan biji.
Seketika biji itu bertunas, tumbuh besar, dan mekar menjadi bunga biru.
"Nah, bunganya mekar dengan warna yang
berbeda. Kelopak kuning bisa dimakan, tapi kelopak biru ini disebut 'Pembasmi
Cacing' dan digunakan sebagai obat untuk membunuh parasit di dalam tubuh……
Baiklah, kita sambung lagi besok. Semuanya hati-hati di jalan ya."
Aku menutup pelajaran dan meletakkan pot itu di pinggir halaman.
"Sensei, bunganya cantik, boleh aku buat jadi bunga tekan?"
Tsuki-san bertanya.
"Boleh saja. Tapi ingat, jangan sampai termakan ya."
"Siap!"
Tsuki-san memetik bunga dengan senyum lebar, lalu kembali ke kelas bersama
Alcopa-kun dengan riang.
Setelah ini adalah waktu untuk mengobrol santai dengan para murid.
"Sensei, soal ini."
"Ini, busur panah milik
Goblin Archer?"
Aria-san menunjukkan busur dan
tempat anak panah yang digunakan Goblin Archer kemarin.
"Iya, kupikir bisa dijual,
tapi busurnya sama sekali nggak bisa dipakai memanah."
"Boleh aku lihat sebentar?"
Aku menerima busur itu dari Aria-san.
Setelah kuperiksa, ternyata setelan busur ini sangat unik dan sulit
digunakan.
Orang yang tidak terbiasa pasti tidak akan bisa menembak dengan benar.
Aku mengambil peralatan menjahit dari tasku dan melakukan penyetelan ringan
pada busurnya.
"Seharusnya sekarang sudah bisa……"
Lalu aku mengambil satu anak panah dari tempatnya, memasangnya, dan mencoba
menembak.
Syuuut! Tidak ada suara keren seperti itu.
Anak panah itu terbang dengan lunglai dan jatuh ke tanah dengan
menyedihkan.
"Ah, ternyata sulit ya. Aku memang tidak berbakat menggunakan
senjata."
"Hehe, ternyata Sensei punya kelemahan juga ya…… Tapi dibanding tadi sudah lumayan
bisa terbang, kok. Terima
kasih ya."
"Iya. Tapi jangan memanah di tengah kota, ya. Di aula olahraga ada
tempat latihan memanah, lebih baik latihan di sana."
"Eh? Ada tempat kayak gitu? Aku coba ke sana ah."
Aria-san berterima kasih lalu pamit pulang.
Tadinya dia bilang mau dijual, tapi sepertinya dia mulai tertarik cara
menggunakan busur ya?
Baguslah kalau dia tertarik pada banyak hal.
"……Sensei."
Tepat saat aku hendak pulang, seorang murid yang tidak disangka menyapaku.
Vittel-kun.
"Vittel-kun, ada apa? Mau bertanya sesuatu?"
"Ke-kemarin…… te-terima…… ka……"
Tubuh Vittel-kun gemetar…… Meski ingin berterima kasih, dia malah tampak
seperti ketakutan.
Mungkin dia menganggap mengucapkan terima kasih sebagai tindakan
menunjukkan kelemahan. Apa
ini pengaruh didikan sebagai anak bangsawan tinggi?
"Vittel-kun. Apa selama ini kamu merasa tidak dicintai oleh
ayahmu?"
Aku sudah penasaran sejak lama.
Vittel-kun bilang ayahnya adalah seorang Marquess, tapi dia menyebut
dirinya sendiri hanya sebagai "salah satu anggota keluarga Marquess".
Bagiku itu terdengar seperti; bagi Vittel-kun ayahnya adalah satu-satunya
ayah, tapi bagi ayahnya, Vittel-kun hanyalah salah satu orang di rumah itu yang
tidak dianggap penting dan tidak dicintai sebagai anak.
"……Aku anak keempat dari keluarga Marquess. Gelar keluarga akan
diwarisi oleh kakak sulungku. Kakak-kakakku yang lain juga akan menjabat posisi
penting di negara, tapi aku tidak bisa."
"Kenapa?"
Vittel-kun menjawab pertanyaanku dengan nada datar.
"Karena ibuku adalah rakyat jelata."
"…………!"
"Jangan pasang wajah begitu. Yah, ini cerita yang lumrah. Bagi
bangsawan—terutama bangsawan tinggi—kemurnian darah adalah segalanya. Bangsawan
yang tercampur darah rakyat jelata adalah objek hinaan bagi para bangsawan di
ibukota. Orang
seperti itu, seberapa hebat pun dia, dianggap tidak layak dan tidak akan bisa
menjabat posisi penting di negara. Bahkan rakyat jelata biasa masih punya
peluang lebih besar dibanding orang sepertiku."
Vittel-kun menceritakan tradisi bangsawan
dengan ekspresi pedih.
Aku ingin berempati pada perasaannya, tapi aku
jadi tidak tahu harus berkata apa.
Bagaimanapun, aku pasti tidak akan pernah
benar-benar memahami perasaan yang ia tanggung.
"Ayah mengirimku belajar ke sekolah ini
demi menjalin hubungan dengan Penyihir Istana Peringkat Ketiga Mimiko, Atelier
Meister Ophelia, dan pendiri sekolah ini, Atelier Meister Rikuto—aku
hanyalah alat yang digunakan untuk tujuan itu."
"Karena itu, kamu tidak puas aku yang
jadi gurumu, dan ingin Mimiko-san yang jadi wali kelasmu ya."
Padahal menggunakan kekuasaan untuk memaksa pergantian wali kelas kurasa
malah akan membuat Mimiko-san atau Ophelia-sama tidak senang…… Tapi mungkin
karena masih anak-anak dia tidak berpikir sampai ke sana.
"Sepertinya Vittel-kun salah paham."
"Mana mungkin aku salah paham."
"Soalnya, aku sudah membaca
surat dari ayahmu—Marquess Triad."
"Dari Ayah!?"
Vittel-kun berteriak dengan wajah terkejut.
"Apa isi suratnya!?"
"Banyak hal tentang Vittel-kun. Beliau
menulis kalau kamu sangat rajin belajar, sebenarnya anak yang sangat baik, dan
punya bakat sihir. Omong-omong, aku baru tahu lho kalau Vittel-kun punya
peringkat Aptitude sihir B."
Bagi aku yang sama sekali tidak punya bakat
sihir, itu sangat membuat iri.
"……Sihir itu tidak ada gunanya."
"Kata Marquess Triad, beliau
dulunya tidak direncanakan untuk mewarisi gelar. Tapi karena dua kakak
laki-lakinya meninggal mendadak, beliau harus mewarisinya. Padahal sebenarnya
beliau sangat ingin menjadi Penyihir Istana. Beliau menulis kalau beliau sudah
berlatih keras untuk itu."
"Ayah ingin jadi Penyihir Istana…… Kalau diingat lagi, Ibu dulu adalah
guru di sekolah pendidikan sihir…… Begitu ya, jadi di sana mereka
bertemu."
"Marquess Triad ingin Vittel-kun mewujudkan impian itu. Karena
itulah beliau mengirimmu ke sekolah ini tempat Mimiko-san mengajar. Beliau
ingin menitipkan impian yang tidak bisa ia raih kepadamu. Karena kakak-kakakmu
sepertinya hampir tidak punya bakat sihir."
Aku berdiri di samping Vittel-kun, sempat ragu untuk menyentuh bahunya,
tapi akhirnya aku meletakkan tanganku di sana dan berkata.
"Vittel-kun, saat membuat spesimen daun
kemarin, cahayamu yang paling terang, kan? Itu artinya kamu punya energi sihir
yang lebih banyak dari siapapun. Ditambah lagi bakat sihirmu tinggi. Kamu pasti
bisa menjadi Penyihir Istana yang hebat."
"Aku…… jadi Penyihir
Istana."
"Ini—tongkat sihir buatanku.
Karena Vittel-kun punya atribut air yang kuat, aku memasangkan kristal sihir
Aquamarine untuk meningkatkan kekuatan airmu."
Aku mengucapkan hal itu sembari
menyerahkan tongkat logam paduan Orichalcum dan Hihiirokane yang
bertahtakan kristal sihir Aquamarine kepada Vittel-kun.
Tadi malam, aku sudah berusaha
keras menggali dan mengumpulkannya hingga akhirnya terkumpul cukup logam untuk
satu tongkat kecil.
Sebenarnya, daripada sekadar
memberi tongkat, akan lebih baik jika aku bisa mengajarinya cara menggunakan
sihir.
Namun, hal itu tidak mungkin kulakukan.
"Sayang sekali, Magic Aptitude milikku hanya Rank G……
Aku sama sekali tidak punya bakat. Jadi, aku sudah meminta Mimiko-san
untuk membimbingmu belajar saat waktunya tiba nanti."
"…………!?"
Vittel-kun menatap wajahku dengan
ekspresi terkejut.
"Tenang saja. Kalau itu
Vittel-kun, aku yakin kamu pasti bisa menjadi penyihir istana yang hebat, jadi
berjuanglah, ya."
"Kuruto-sensei! Aku—!"
Tepat saat Vittel-kun berseru dengan suara keras, sebuah kejadian terjadi.
Arcopa-kun tiba-tiba berlari masuk ke halaman dalam dengan napas tersengal.
Padahal seharusnya tadi dia sudah pulang bersama Tsuki-san untuk membantu
panen gandum.
Arcopa-kun mencoba mengatur napasnya, lalu
berteriak dengan ekspresi serius.
"Kuruto-sensei, gawat! Sungai di luar
kota—!"
"Ada apa dengan sungainya?"
"Sungainya—"
Selagi Arcopa-kun berusaha menenangkan
napasnya, Tsuki-san datang dan menyambung.
"Sungainya sudah tercemar racun."
Kami segera keluar melalui gerbang dan
mendekati sungai yang mengalir di dekat desa.
Bau apa ini? Padahal saat survei sewaktu
membangun desa, bau menyengat seperti ini tidak ada.
Area di sekitar sungai sudah dilarang untuk
dimasuki orang biasa.
Kecuali Mimiko-san yang tampaknya sedang
melindungi diri dengan sihir angin.
Mimiko-san menyadari kehadiranku, dia mendekat lalu melepaskan sihir
anginnya.
"Kuruto-chan…… Syukurlah kamu datang di waktu yang tepat. Lihat,
sungai itu."
"Sungainya terkontaminasi, ya."
Air sungai sedikit keruh dan bau menyengat tercium samar di udara.
Aku bahkan tidak perlu memeriksanya lebih jauh untuk memastikan hal itu.
"Kamu juga berpikir begitu? Kita harus segera melarang warga
menggunakan air sumur kota."
Mimiko-san berkata demikian, namun aku menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa. Dengan tingkat polusi segini, sistem pemurnian air
akan menyaringnya hingga aman diminum saat masuk ke kota nanti."
"Daripada itu, jika tidak segera dimurnikan, ikan-ikan di sini akan
mati semua."
"Apa kamu bisa memurnikannya?"
"Iya. Sebenarnya bisa menggunakan obat, tapi itu akan membuat
ikan-ikan tidak mau mendekati sungai ini lagi karena efeknya terlalu
kuat."
Kalau ini air kolam renang mungkin tidak
masalah. Namun untuk sungai alami, air yang terlalu jernih justru takkan
ditinggali ikan.
Untungnya racunnya sudah cukup
encer. Sepertinya masih ada beberapa
ikan yang bertahan hidup di sana.
"Mempertimbangkan hal itu, aku berniat menanam tanaman air agar
kejadian ini tidak terulang."
"Tanaman air? Kupikir polusi ini tidak seringan itu sampai bisa
dimurnikan hanya dengan tanaman air?"
"Tenang saja. Seperti yang aku ajarkan di kelas, pupuk yang
meningkatkan komponen Detoxification pada benih tanaman air bisa
mengubah air tercemar menjadi kaya nutrisi."
"Kurasa pertumbuhan gandum di sekitar sini juga akan jadi lebih
baik."
Sambil berkata begitu, aku menebar beberapa jenis pupuk cair yang tadinya
kusiapkan untuk mengajar ke tempat benih tanaman air berada.
Seketika itu juga, tanaman air tumbuh dengan sangat cepat. Di saat yang
sama, air sungai di sekitarnya pun kembali jernih.
Ikan-ikan yang tadi hampir mati mulai sadar
dan berenang dengan lincah kembali.
Namun tentu saja, ikan yang sudah terlanjur
mati tidak bisa hidup lagi.
"Semuanya. Karena proses pemurnian akan
berjalan, bisakah kalian bantu mengumpulkan ikan-ikan yang mati agar tidak
membusuk dan berbau?"
"Lalu, jika ada yang merasa tidak enak
badan, tolong beritahu aku karena aku sudah menyiapkan obat."
Kami mulai mengumpulkan ikan mati sembari memantau proses pemurnian sungai.
Di tengah jalan aku sempat kehabisan pupuk, jadi aku meraciknya lagi di
tempat sebanyak dua kali.
Akhirnya, air yang tercemar di sekitar desa pun menghilang sepenuhnya.
Bagian hulu sungai mungkin masih tercemar, tapi di depan sana adalah hutan.
Kemarin kami baru saja diserang oleh Goblin Archer, ditambah lagi
bahan pupukku sudah habis.
Saat aku berpikir untuk menyudahi pekerjaan hari ini, Yuri-san muncul dari
dalam hutan.
"Kuruto!"
"Yuri-san!? Apa yang sedang Anda lakukan di dalam hutan?"
"Aku baru saja menyelidiki bagian dalam hutan dan melihat sumber mata
air sungainya."
"Sumber mata air!? Apa yang
ada di sana?"
"Tempat itu penuh dengan bangkai
Goblin."
……Jadi, bangkai Goblin itu yang menjadi
penyebab pencemaran sungai?
Bukan, justru sebaliknya. Mungkin
Goblin-goblin itu mati karena pencemaran tersebut.
Aku membuat dugaan seperti itu, namun menurut
Yuri-san, situasinya sedikit berbeda.
"Para Goblin itu tampak seperti habis
dimangsa monster, tapi pelakunya tidak meninggalkan jejak sedikit pun."
"Beberapa tubuh Goblin bahkan meleleh
seperti Slime. Sepertinya
mereka terkena racun yang sangat kuat."
"Racun, ya…… Berarti sama
dengan polusi di sungai tadi."
"Persis sama……"
Seseorang bergumam dengan nada
yang berbeda dari maksud "sama" yang aku ucapkan.
"Sama seperti saat Oasis kami tercemar dulu."
◆◇◆
Setelah selesai menyelidiki sumber air, aku
bersama Liese dan Famil mulai mengatur informasi.
"Berdasarkan jarak dan kecepatan aliran
sungai, monster itu kemungkinan muncul di pemukiman Goblin sekitar dua hari
yang lalu. Siapa saja yang
keluar kota saat itu?"
"Ini datanya, Yuri-san."
Famil membagikan dokumen yang telah ia siapkan
kepada kami semua.
"Kebanyakan adalah petani, sisanya kereta
kuda pedagang yang keluar masuk."
"Karena tiga hari yang lalu kita mulai
menjual tepung gandum ke kota milik Lord juga, kan."
"Ah, ada catatannya di sini. Kepala suku pergi naik kereta
barang."
Apa yang dikatakan Liese benar. Identitas semua pedagang lain sudah jelas,
jadi tidak ada orang yang mencurigakan.
Orang-orang yang keluar kota selain menggunakan kereta kuda kebanyakan
adalah petani—tunggu?
"Ada apa?"
"Traft Genick itu keluar kota dengan berjalan kaki. Apakah
pergerakannya terpantau saat itu?"
"Kami baru mulai mengawasi Traft Genick kemarin pagi, jadi untuk
kejadian dua hari lalu, kami tidak punya data."
Mendengar penjelasan Famil, Liese melontarkan
pertanyaan.
"Di mana Traft Genick sekarang?"
Famil menunjuk ke salah satu monitor dengan
ekspresi tegang.
"Sepertinya dia menuju ke rumah yang
waktu itu lagi…… Yuri-san! Lihat itu!"
Di depan rumah yang pernah dikunjungi Traft
sebelumnya, entah bagaimana, ada Kuruto dan Akuri di sana.
Kenapa Kuruto ada di tempat seperti itu?
Kuruto mengetuk pintu rumah, namun karena tidak ada jawaban, tiba-tiba
sosoknya menghilang.
Mungkin dia masuk ke dalam menggunakan kemampuan teleportasi milik Akuri.
"Tuan Kuruto memang mengkhawatirkan anak laki-laki di rumah itu. Mari
kita panggil dia pulang lewat pengeras suara!"
"Jangan, suara itu akan terdengar ke seluruh area dan bisa memicu
reaksi berbahaya dari Traft—"
Selagi kami berdebat, Traft sampai di rumah
tersebut dan langsung masuk begitu saja.
"Kuruto dan Akuri dalam bahaya! Famil,
hubungi pos penjagaan sekarang!"
Daripada menghubungi pos penjagaan, akan lebih
cepat jika aku sendiri yang berlari ke sana.
Aku dan Liese pun melesat keluar dengan kekuatan penuh.
"Kuruto! Akuri!"
Saat aku menerjang masuk ke rumah Randle, Kuruto
dan Traft sedang berdiri berhadapan.
Akuri dan Randle selamat, mereka bersembunyi
di belakang Kuruto.
"Eh? Yuri-san!?"
"Kuruto, mundur ke belakangku."
Aku memerintah Kuruto yang tampak bingung sembari menghunus pedang Setsuka.
"Traft, dugaanku benar, kamulah pelakunya."
"Eh!? Pelaku apa yang Anda maksud?"
"Jangan pura-pura bodoh! Kamulah yang melepaskan monster ke sumber
mata air sungai, kan!?"
Saat aku berseru demikian, Kuruto justru mati-matian berusaha
menghentikanku.
"Tunggu sebentar, Yuri-san. Anda salah paham, Traft-san ini adalah
pahlawan keadilan."
"Meskipun dia pahlawan keadilan, ada hal yang boleh dan tidak boleh
dilakukan…… eh? Pahlawan keadilan?"
Setelah itu, aku mendengarkan penjelasan Kuruto tentang apa yang sebenarnya
terjadi di dalam rumah ini.
◆◇◆
Setelah selesai memurnikan sungai, aku bertemu dengan Kepala Suku yang
sedang menatap sungai dengan tatapan benci.
Pasti dia sedang teringat tentang kejadian di
Oasis dulu.
Lalu aku bertanya tentang Randle-kun, dan dia
menjawab kalau kondisi ayahnya masih belum membaik.
Karena khawatir, aku memutuskan untuk pergi menjenguknya sekali lagi.
Aku berpisah dengan Liese-san dan Yuri-san yang sedang sibuk menyelidiki
sesuatu, lalu menuju rumah Randle bersama Akuri.
"Sepertinya tidak ada orang, ayo kita pulang saja."
Tepat setelah aku mengatakan itu, pandanganku berubah dan aku sudah berada
di dalam rumah.
"Akuri, tidak boleh menggunakan sihir teleportasi sembarangan seperti
itu. Kamu lelah, kan?"
"Kalau jarak pendek tidak apa-apa, kok."
Meskipun dia bilang begitu, bukankah ini namanya masuk tanpa izin? Apa aku
tidak akan ditangkap polisi?
"Da-dari mana kalian masuk?"
Randle-kun yang berada di pojok ruangan bersuara. Dia terlihat jauh lebih
kurus dibanding terakhir kali aku melihatnya.
"Randle-kun, di mana ayahmu?"
Aku merasa tidak enak menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, tapi aku tidak
melihat ayahnya di dalam ruangan itu.
"To-tolong pulanglah!"
"Tapi Randle-kun, soal sekolah—"
"Kumohon!"
Karena Randle-kun tampak sangat tertekan, aku pun menyerah dan membuka
kunci pintu rumah untuk keluar.
Namun tepat saat itu, seorang pria asing masuk ke dalam rumah.
"Syukurlah kamu selamat."
Pria itu melihat sekeliling ruangan lalu menanyakan hal yang sama denganku.
"Randle-kun, kan? Di mana ayahmu pergi?"
"Ayah sudah sehat dan sedang di ladang—"
"Bohong. Aku mengawasi tempat ini sejak pagi dan hanya kamu yang
keluar dari rumah ini."
"…………"
Randle-kun langsung terdiam seribu bahasa.
"Apa ayahmu dikendalikan oleh sihir? Bukankah dia terlihat seperti
orang yang kehilangan jiwanya?"
"Bagaimana Anda bisa tahu!? Ah……"
Randle-kun langsung membuang muka dengan
ekspresi menyesal karena tidak sengaja membenarkan hal itu.
"Tunggu, apa maksudnya dikendalikan itu?"
"Ada alat sihir yang bisa mengendalikan orang lain sesuai keinginan
pemiliknya."
"Manusia yang dikendalikan akan terlihat linglung seperti kehilangan
jiwa hingga orang biasa pun bisa menyadarinya."
"Jadi ada alat sihir seperti itu, ya."
Apakah itu semacam alat hipnosis?
"Jadi, di mana ayahmu sekarang?"
"Ayah…… tiba-tiba menghilang beberapa hari yang lalu."
"Apa dia pergi belanja?"
"……Aku tidak tahu."
Randle-kun menggelengkan kepalanya dengan
lesu.
"Dulu di serikat dagang ayahku, ada
laboratorium rahasia yang membuat banyak alat sihir berbahaya."
"Ketua laboratorium itu melarikan diri membawa alat-alat tersebut saat
serikat kami dibubarkan oleh negara."
"Aku datang ke Torchen untuk mengambil kembali alat-alat itu dari
ketua laboratorium tersebut."
"Alat sihir seperti apa yang dia bawa?"
"Selain alat pengendali orang, ada satu lagi yang disebut Batu
Pemanggilan (Summoning Stone)."
"Batu itu sebenarnya alat untuk mengubah manusia yang menelannya
menjadi monster secara paksa."
……Obat yang bisa mengubah manusia menjadi monster, ya.
Mirip seperti obat transformasi yang dulu sempat populer sebagai mainan
anak-anak di desaku.
Tapi pria ini bilang itu alat yang sangat berbahaya, jadi pasti berbeda
dengan mainan yang kupikirkan.
"Apakah Paman pahlawan keadilan?"
Akuri bertanya, dan pria itu mengangguk mantap.
Tepat saat itulah Yuri-san mendobrak masuk dan meneriakkan nama kami.
◆◇◆
Setelah mendengar cerita Kuruto, aku mencoba merangkum semuanya.
"Jadi, kamu datang ke kota ini untuk menebus dosa ayahmu dengan
mengambil kembali Batu Pemanggilan itu?"
"Benar sekali."
"Benar begitu, lho!"
Entah kenapa Akuri ikut-ikutan membenarkan perkataan Traft. Jadi, ini semua
memang hanya kesalahpahamanku saja.
"Lalu, keberadaan ayah Randle yang dikendalikan itu masih belum
diketahui, kan?"
"Iya. Tiga hari lalu saat aku di ladang, dia tiba-tiba lenyap begitu
saja."
"Kenapa kamu tidak melaporkan hal ini kepada penjaga atau kantor
pemerintahan?"
Aku bertanya pada Randle dengan nada lembut agar tidak membuatnya merasa
terpojok.
"Seseorang mengancam akan membunuh ayah jika aku bicara. Katanya jika
aku diam, ayah akan kembali setelah semuanya selesai."
"Siapa yang mengancammu?"
"Aku tidak tahu karena dia memakai jubah dan topeng. Tapi dia mengaku sebagai anggota
klan iblis."
"Klan iblis!?"
Ternyata dugaanku dan Mimiko benar tentang
keterlibatan mereka.
"Tapi bagaimana cara mereka keluar dari kota tanpa ketahuan……"
"Bagaimana kalau kita lihat monitor?"
"Monitor? Tapi Kuruto, sulit mencari seseorang di luar kota hanya
dengan monitor."
Monitor hanya bisa menjangkau area di dalam kota, sedangkan kejadian
pencemaran itu berada di luar.
Namun Kuruto justru menggelengkan kepalanya dengan yakin.
"Bukan itu, maksudku kita lihat rekaman datanya."
"Rekaman?"
"Iya, kita lihat kejadian tiga hari yang lalu. Harusnya rekamannya
masih ada."
"Memangnya bisa melakukan hal seperti itu!?"
"Luar biasa, tidak sangka ada fasilitas secanggih ini di kota
Torchen."
Kami semua pun bergegas menuju ruang monitor.
"Tolong rahasiakan fasilitas ini, ya. Nah, ini dia rekaman tiga hari
yang lalu……"
Kuruto menjelaskan bahwa fungsi rekaman ini bekerja berdasarkan memori Golem
yang merekonstruksi ulang gambar.
Sayangnya, memori ini hanya bisa bertahan sempurna selama tiga hari saja.
"Itu aku saat pergi ke ladang, berarti setelah ini."
Randle menunjuk dirinya sendiri di layar. Ternyata anak-anak lebih cepat beradaptasi
dengan teknologi dibanding kami para orang dewasa.
Kami mempercepat rekaman hari itu dan melihat
banyak orang berlalu-lalang di depan rumahnya.
Siang harinya, Kepala Suku datang membawa
karung-karung tepung gandum masuk ke rumah, lalu keluar membawa karung yang
sama.
Setelah itu, ada tetangga yang mengetuk pintu
tapi langsung pergi karena tidak ada jawaban. Hanya itu saja.
Sosok yang mirip klan iblis sama sekali tidak terlihat.
"Ayah memang benar-benar tidak keluar dari rumah itu lewat pintu
depan."
Jika Randle tidak berbohong, maka ayahnya seharusnya menghilang saat dia
sedang tidak ada.
"Tapi dia tidak terlihat keluar?"
Apakah Randle yang berbohong?
Tepat saat itu, Liese dan Famil mendobrak
pintu ruang monitor dengan panik.
"Laporan darurat dari sekolah! Ada
monster muncul di kolam renang sekolah!"
"Sekolah!? Jadi musuhnya tidak di luar
kota?"
Kami segera mengalihkan layar monitor ke arah
kolam renang sekolah.
"Vittel-kun!"
Di sana terlihat Vittel dari keluarga
bangsawan sedang berhadapan dengan monster cacing raksasa.
"Famil, analisis rekamannya! Yuri dan
Phantom, kalian urus monsternya. Jangan biarkan siapapun masuk ke
sekolah!"
Aku segera menghunus pedangku, namun sebelum
aku sempat melarang Kuruto ikut, Akuri sudah bertindak lebih dulu.
"Papa, kamu mau ke sana?"
Kuruto mengangguk mantap.
"Iya, sekarang juga—"
"Aku mengerti."
Seketika itu juga, sosok Kuruto lenyap dari
ruangan.
"Teleportasi Akuri lagi!?"
Aku lupa kalau kekuatannya mungkin belum habis
sepenuhnya jika jaraknya dekat.
Aku ingin berteriak ke arah monitor tapi
bingung harus menekan tombol yang mana.
"Kuruto, cepat lari dari sana bersama Vittel! Itu berbahaya!"
◆◇◆
『Kuruto, cepat lari dari sana bersama Vittel! Itu berbahaya!』
Aku mendengar suara Yuri-san menggema dari pengeras suara.
Aku tahu aku harus lari, apalagi aku tidak boleh membiarkan Akuri dalam
bahaya.
"Vittel-kun!"
"Kuruto-sensei!?"
"Cepat lari dari sini!"
"Ti-tidak bisa, sihirku habis dan tubuhku tidak bisa digerakkan. Guru
saja yang lari!"
Magic Depletion!? Ternyata dia tadi sedang berlatih sihir di
kolam ini sendirian.
Akuri juga sudah kelelahan dan pingsan setelah menggunakan teleportasi
tadi.
Aku segera menggendong Akuri dan
menyembunyikannya di dalam loker ruang ganti wanita.
Aku yakin Yuri-san pasti akan lewat sini nanti, jadi Akuri akan aman.
"Guru, apa yang kau lakukan!?"
"Mana mungkin seorang guru meninggalkan muridnya sendirian!"
Tepat setelah aku berseru, sebatang anak panah terbang dan menancap tepat
di wajah cacing raksasa itu.
Monster itu langsung masuk kembali ke dalam
air kolam.
"Hore! Kena!"
"Aria-san!? Kenapa Anda di sini?"
Ternyata itu adalah Aria-san yang
membawa busur panahnya.
"Aku sedang latihan saat mendengar suara
Yuri-san berteriak, jadi aku langsung lari ke sini."
"Vittel, sebenarnya apa yang
terjadi!?"
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba pria bermata
merah muncul, menelan batu aneh, lalu berubah jadi monster itu."
Mendengar itu, aku akhirnya paham situasinya.
"Begitu ya, ternyata Batu Pemanggilan itu
adalah obat transformasi."
"Obat transformasi?"
"Iya, sejenis obat yang dulu dipakai
anak-anak di desaku untuk bermain peran menjadi monster."
"Guru, bagaimana cara
mengalahkannya?"
"Dia akan kembali normal jika memuntahkan
kembali benda yang ditelannya itu."
Cara termudah sebenarnya adalah membuatnya
tidur dengan obat bius, tapi aku tidak punya.
"Gunakan ini saja."
Tsuki-san muncul secara tiba-tiba sambil
memegang sekuntum bunga berwarna biru.
"Aria, pinjam busurmu. Aku lebih ahli
menembak dibanding kamu."
Arcopa-kun juga ikut datang bersamanya.
"Kalian…… kenapa bisa di sini?"
"Kami sedang mengambil barang yang tertinggal di kelas saat mendengar
kegaduhan ini."
Cacing raksasa itu kembali muncul dan membuka mulut lebarnya untuk
menyerang kami.
Tiba-tiba, air kolam bergejolak hebat dan membuat monster itu kehilangan
keseimbangan.
Padahal aku tidak membuat sistem air berarus
di kolam ini.
Ternyata Cretis-san sudah berdiri di
belakangku.
"……Guru, para roh air sedang membantu
kita. Sekarang mundurlah."
Roh? Jadi angin kencang saat melawan Goblin
dulu juga adalah kekuatan roh?
"Baiklah, Cretis-san juga ikut—"
Aku mencoba mengajak mereka mundur, tapi
Arcopa-kun dan Aria-san malah bertengkar.
"Aria! Mana anak panahnya lagi!?"
"Ah, tadi itu yang terakhir!"
"Lalu kita harus bagaimana!?"
Tiba-tiba Sword-kun muncul dengan gaya sok
kerennya.
"Sang pahlawan datang! Arcopa-kun, gunakan panah buatanku—"
"Aku sudah sedikit pulih. Aku akan membuat panah sihir dari air!"
Vittel-kun menggunakan sisa tenaganya untuk membentuk air menjadi anak
panah yang tajam.
Itu adalah teknik tingkat tinggi, dan setelah
itu dia langsung pingsan kembali.
"Panah air, ya? Menarik juga!"
Arcopa-kun membidikkan panah itu, sementara
Tsuki-san memasukkan serbuk bunga biru ke dalam air panah tersebut.
"Kalau butuh pengalih perhatian, terima ini!"
Sword-kun melempar dupa pengusir serangga yang
menyala. Ternyata monster itu membenci baunya dan membuka mulutnya lebar-lebar.
Tembakan Arcopa-kun melesat masuk tepat ke
dalam tenggorokan monster tersebut.
Monster itu meraung kesakitan lalu perlahan-lahan menyusut kembali menjadi
manusia.
"Apa kita berhasil?"
"Harusnya sih iya, kalau di drama biasanya begitu."
Para murid bersorak gembira sementara air kolam membawa pria yang pingsan
itu ke pinggir kolam.
"Kuruto!"
"Tuan Kuruto!"
Yuri-san dan Liese-san akhirnya sampai di lokasi.
"Akuri aman bersama penjaga. Apa Tuan Kuruto yang mengalahkan monster
ini?"
"Bukan aku, tapi murid-muridku yang hebat ini."
Aku menunjuk mereka dengan bangga. Mereka semua tampak sangat puas dengan
hasil kerja keras mereka.
"(……Cretis-san, apa tadi itu kekuatan roh?)"
"(……Guru, tolong rahasiakan ya. Roh tidak suka memperlihatkan diri
pada manusia.)"
Sebagai guru, aku tentu akan menjaga rahasia muridku dengan baik.
"Sepertinya dia sudah mengeluarkan benda
aneh itu dan tidak lagi dikendalikan."
Saat aku sedang menjelaskan, Kepala Suku
datang dengan wajah pucat.
"Yandle…… Jadi Yandle yang menjadi
monster itu!?"
◆◇◆
"Itulah semua yang terjadi
di sini."
Aku, Yurishia, menjelaskan
seluruh kronologi kejadian dan apa yang kudengar dari Randle serta Traft kepada
sang Kepala Suku yang baru saja tiba.
Mengenai kondisi Yandle —sepertinya
dia ayah Randle—yang sempat kukhawatirkan, menurut pemeriksaan Kuruto, efek
cuci otak dari alat sihirnya sudah hilang.
Batu Pemanggilan—atau obat
transformasi menurut istilah Kuruto—juga tidak memberikan efek samping.
Dia kehilangan kesadaran murni
karena kurang tidur, dan diperkirakan akan bangun dalam beberapa jam.
Sepertinya selama dicuci otak, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Ngomong-ngomong, Yandle sedang
digendong oleh Kuruto, sementara Vittel yang kehabisan tenaga dibawa
menggunakan tandu oleh Alcopa dan Sword.
Mereka semua sedang beristirahat
di ruang kesehatan bersama murid-murid lainnya.
Aku juga sudah menyuruh kelompok Kuruto
untuk tetap siaga di ruang kesehatan.
"Apa? Jadi iblis menggunakan obat semacam itu...?"
Setelah mendengar seluruh penjelasan, sang Kepala Suku bergumam sambil
memejamkan mata.
"Ya. Ngomong-ngomong, boleh aku tanya satu hal? Kenapa kau tiba-tiba
datang kemari?"
"Itu... karena tadi ada suara keras yang bilang kalau area kolam
sedang dalam bahaya."
"Sayang sekali, tapi sekolah ini sudah ditutup tepat saat insiden
terjadi. Selain kami, tidak ada yang bisa keluar masuk. Masalahnya, murid-murid
ambisius yang memang sejak awal ada di sekolah malah jadi berkumpul di
sini."
"I-itu..."
Karena Kepala Suku tampak kelu, aku langsung mencecarnya tanpa ampun.
"Benar, satu lagi. Saat monster muncul di
luar kota, ayah Randle sempat dinyatakan hilang. Setelah kupikirkan cara dia
meloloskan diri, akhirnya aku sadar. Kereta kuda yang kau bawa di hari dia
menghilang, kau menaruh dua karung gandum di rumah Randle, kan? Saat itulah kau
membawa ayah Randle keluar kota dengan menutupinya menggunakan karung."
Seluruh bukti situasional telah berbicara.
Tentang siapa dalang di balik semua insiden
ini.
"Guh!"
Kepala Suku sempat mengerang, namun tiba-tiba
dia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha! Hahahaha!"
"Dia sudah gila?"
Aku segera menyiagakan Sekka untuk bersiap menghadapi segala
kemungkinan.
"Jangan sombong dulu hanya karena kalian berhasil mengalahkan worm
prototipe gagal itu."
Setelah berhenti tertawa, Kepala Suku menunjukkan senyum penuh kemenangan.
"Itu hanyalah barang gagal. Aku cuma memakainya untuk mengambil data
saat mengalirkan cairan racun dari sumber sungai tempo hari, juga untuk
mengambil data pertempuran saat melawan para ksatria. Meski ya, di luar dugaan
dia kalah sebelum para ksatria itu muncul."
Kepala Suku berkata demikian sambil mengeluarkan sebuah batu yang mirip
kristal sihir hitam berbentuk piramida empat sisi.
"Produk sempurnanya ada di sini. Batu
Pemanggilan yang asli—bahkan metode pembuatannya pun ada dalam genggamanku.
Dengan pengetahuan ini, organisasi yang membutuhkan kekuatanku akan datang
mengerumun bak jumlah bintang di langit."
"Apa maumu? Jangan bilang kau berpikir bisa kabur dari sini."
"Mohon maaf, Anda sudah terkepung. Atas nama Gubernur Rikuto, saya
akan menangkap Anda."
Famil muncul, diikuti oleh para Phantom bertopeng yang langsung
menyebar mengepung area.
"Coba saja kalau bisa!"
Setelah berseru demikian, Kepala Suku melakukan tindakan tak terduga. Dia
membuka mulutnya lebar-lebar dan menelan Batu Pemanggilan yang katanya adalah
produk sempurna itu.
"Jangan biarkan dia menelannya!"
Saat itu, aku berteriak ke arah para Phantom. Namun, itu adalah
sebuah kesalahan.
Seharusnya aku mengatakan ini:
Bunuh dia—begitu.
Jika aku mengatakannya, para Phantom pasti akan langsung menghabisi
nyawa Kepala Suku seketika. Meski rasanya akan tidak enak, tapi setidaknya
masalah selesai.
Namun, karena mendengar perintahku, para Phantom tidak mengincar
kepala, leher, atau jantungnya, melainkan tangannya.
Sebuah belati pendek bernama Kukri Knife menusuk tangan kanan Kepala
Suku. Dampaknya membuat Batu Pemanggilan itu terlepas dari tangannya—tapi malah
terlempar masuk ke dalam mulutnya.
Sesaat kemudian, tanpa menunggu perintahku lagi, para Phantom
bergerak.
Mereka menghunus pedang dan menebas Kepala Suku. Kali ini benar-benar dengan niat membunuh.
Namun sedetik berikutnya—mereka semua
terpental.
Sebab, dalam sekejap wujud Kepala Suku telah
berubah menjadi kelabang raksasa sepanjang tiga meter.
"Benar-benar seperti mimpi buruk,"
ujar Liese.
Ah, benar sekali.
Para Phantom terpental layaknya
prajurit kacangan—padahal masing-masing dari mereka adalah petarung hebat yang
setara dengan seribu prajurit. Karena keberadaan merekalah Liese, sang putri kerajaan ini, bisa berjalan
di kota tanpa pengawalan mencolok.
Melihat para Phantom itu terpental dalam sekejap sungguh tidak masuk
akal.
Ditambah lagi, semua senjata mereka terpental. Padahal senjata mereka, sama
seperti milik para ksatria Valha, adalah pusaka nasional yang ditempa oleh sang
Petapa Senjata. Namun, itu pun tidak mempan.
Kukri Knife yang seharusnya tertancap di tangan kanan Kepala
Suku tadi juga terlepas dan jatuh di tepi kolam.
Melihat kondisi ini, luka-lukanya pasti sudah sembuh total.
Cairan hijau menetes dari mulut kelabang raksasa yang bertaring itu ke atas
Kukri Knife di lantai.
Seketika, belati yang seharusnya terbuat dari baja itu meleleh hingga
hancur.
"......Oi, oi, belati baja hancur seketika? Racun macam apa itu?"
Jika terkena benda itu, punya nyawa berapa pun tidak akan cukup.
Aku memang mendapat obat serbaguna yang disebut 'obat rutin' dari Kuruto,
tapi kalau mati seketika, obat itu tidak akan ada gunanya.
Di tengah keraguanku, kelabang raksasa itu menyemburkan cairan racun ke
sekeliling.
Sebagian menuju ke arahku.
"Kh!"
Aku melempar belati pendek untuk menghalau cairan racun itu.
Namun, belati biasa ini sudah mencapai batasnya hanya untuk sekadar menepis
racun. Dengan begini, aku tidak bisa mendekat sembarangan.
Apa aku hanya bisa mengulur waktu sampai efek Batu Pemanggilannya habis?
『Kalau kau menunggu efek Batu Pemanggilan ini habis, itu sia-sia saja.』
Apa, dia bicara?!
Suaranya teredam, tapi itu jelas kata-kata manusia yang memiliki makna. Apa
dia tetap memiliki kesadaran meski sudah menjadi monster?
『Sudah kubilang, kan? Ini adalah produk sempurna. Beda dengan prototipe yang
membuat pemakainya kehilangan akal sehat. Durasi perubahannya pun berkali-kali
lipat lebih lama. Cukup untuk menghancurkan satu kota ini lalu pergi dengan
santai.』
Kalau itu benar, ini benar-benar merepotkan.
Satu-satunya cara yang tersisa adalah
menggunakan Bunga Cacingan untuk mengembalikannya menjadi manusia secara paksa,
seperti yang dilakukan murid-murid Kuruto tadi.
Tapi meskipun aku mencoba menembakkan panah
berisi obat ke mulutnya, kelabang raksasa yang masih berakal itu pasti akan
melelehkan panah beserta obatnya dengan racun sebelum sempat masuk ke mulut.
Namun—
"Hei, kau tidak apa-apa?"
Salah satu Phantom yang kupanggil mengangguk lemah.
"...Ya."
"Tolong minta pada Kuruto untuk membawakan Bunga Cacingan yang dipakai
murid-muridnya tadi. Kita butuh itu."
"...Tapi, dengan kondisi tubuh ini..."
"Buka mulutmu."
Aku memasukkan satu butir obat rutin dari Kuruto ke dalam mulut Phantom
tersebut.
"...?! Lukaku..."
"Bisa bergerak, kan?"
"Siap."
Phantom itu berdiri lalu melompat jauh.
Kelabang raksasa menyemburkan racun ke arahnya, tapi aku menggunakan belati
pendek untuk menghalaunya.
Sialnya, sebagian kecil racun itu mengenai bahu kananku.
"Kh...!"
Hanya kena sedikit tapi sesakit ini. Rasanya seperti batang logam yang
dipanaskan hingga merah membara ditempelkan langsung ke kulit.
Aku mengambil obat rutin dengan tangan kiri
dan menelannya.
Rasa sakitnya hilang seperti sihir, tapi itu
adalah butir terakhir yang kupunya. Sial, seharusnya aku minta lebih banyak
tadi.
Aku harus mengobatinya karena tidak bisa
bertarung jika lengan kanan tak bisa digerakkan, tapi aku tidak boleh
mengulangi kesalahan yang sama.
"Yuri-san, Anda tidak apa-apa?"
"Ah, aku tidak apa-apa... tapi kalau begini terus..."
"Ya, kita mungkin tidak akan menang—"
Liese mengatakannya sambil tersenyum.
...Kenapa dia malah tersenyum di saat seperti ini?
"Kekuatan kita memang tidak cukup. Tapi, kita memiliki kekuatan Master
Kuruto. Tidak ada musuh yang tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan itu."
Liese berkata demikian sembari menghunus Kocho.
Kocho yang bisa menciptakan ilusi—apa yang akan dia lakukan dengan menghunus
pedang itu?
Di saat aku berpikir demikian, tiba-tiba di depan kami muncul sosok Kuruto
yang bercahaya merah.
Itu jelas Kuruto ilusi yang dibuat oleh Kocho, tapi...
"Kuruto macam apa itu?"
"Itu adalah Master Kuruto Mode Merah."
Maksudku, aku ingin tanya kenapa dia sampai bercahaya merah begitu.
"Majulah, Master Kuruto
Merah!"
"Baik, Liese-san!"
Kuruto Merah mengangguk, lalu
berlari kencang menuju si kelabang raksasa.
『Makhluk semacam itu tidak ada
gunanya!』
Kelabang raksasa menyemburkan racun ke arah Kuruto Merah. Tentu saja, itu
tidak mempan pada Kuruto yang merupakan ilusi.
Tapi, hal yang sama berlaku bagi kami.
"Hei, Liese. Seberapa banyak pun ilusi itu menyerang, dia tidak akan
bisa memberikan kerusakan, kan?"
"Ya, Master Kuruto Merah memang ilusi. Namun, suara, suhu tubuh, dan
hawa keberadaannya bisa dirasakan sepenuhnya oleh lawan."
Tepat saat Liese mengatakan itu, Kuruto Merah menabrak tubuh si kelabang
raksasa.
Sesaat kemudian—
『Guaaaaaaaaakh! Tu... tubuhku terbakar!』
Teriakan pilu keluar dari mulut kelabang raksasa itu. Apa yang terjadi?
"Master Kuruto Merah adalah inkarnasi api. Tubuhnya adalah gumpalan
api—begitulah setting-nya."
"Bukan, ilusi—begitu ya."
Ilusi yang diciptakan Kocho tidak hanya wujudnya saja, tapi bisa
memberikan ilusi sensorik pada suhu tubuh.
Dan karena Kuruto Merah adalah gumpalan api, artinya suhu tubuhnya mencapai
ratusan derajat. Suhu itu meresap langsung ke dalam tubuh lawan.
Kira-kira, sesakit apa rasanya saat organ dalam dipanaskan langsung oleh
api?
Secara fisik seharusnya tidak ada luka sama sekali, tapi guncangan
mentalnya pasti luar biasa. Manusia biasa mungkin sudah mati karena syok.
Beberapa saat kemudian, Kuruto Merah menghilang.
"......Haa... haa...
memanggil Master Kuruto Merah memang menguras tenaga."
Di sampingku, Liese tampak
terengah-engah. Sepertinya Kuruto Merah bukanlah sesuatu yang bisa dipanggil
tanpa risiko.
Karena panas yang luar biasa,
kelabang raksasa itu memunggungi kami dan mencoba kabur ke dalam kolam.
Dia benar-benar lengah.
Tanpa suara aku berlari dan
berhasil mengejarnya di tepi kolam.
"Rasakan ini!"
Bersamaan dengan teriakan semangat, aku menebas tubuh kelabang raksasa itu
menggunakan Sekka.
Tubuhnya terbelah menjadi dua dan jatuh ke dalam kolam. Seketika, air kolam
berubah menjadi hijau pekat.
"Kita berhasil, Yuri-san."
Liese berlari menghampiriku.
"Ya, ini berkat kau, Liese."
Benar, jika tidak ada Kuruto Merah tadi, mendekat pun aku tidak akan bisa.
Benar-benar deh, cara Liese menggunakan Kocho semakin hebat saja.
"Yuri-sama, Putri Lieselotte, terima kasih atas kerja kerasnya. Maaf,
saya tidak berguna tadi," ucap Famil penuh sesal.
"Tidak apa-apa. Lebih baik obati para Phantom—"
"Yuri-san, di belakang!"
"—?!"
Mendengar teriakan Liese, aku menoleh. Di
sana, bagian atas tubuh kelabang raksasa itu masih bergerak.
Mana mungkin, dia masih hidup meski tubuhnya sudah terbelah?
『Kalian... beraninya kalian! Bayarlah dengan nyawa kalian!!』
Kelabang raksasa itu menyemburkan racun.
Kali ini jumlahnya jauh lebih banyak dari sebelumnya.
Tidak mungkin bisa ditepis dengan belati.
Dan racun itu menelan kami. Racun yang bisa melelehkan baja dalam sekejap.
『Guh... luka yang parah... tapi dengan ini tidak ada lagi pengganggu yang
tersi... na... KENAPA?!』
Wajah penuh kemenangan—entahlah
karena dia bukan manusia, tapi dialog yang meyakini kemenangan itu sekarang
terasa sangat memalukan.
Sebab, meskipun kami basah kuyup seperti tikus tercebur got, kami semua
sama sekali tidak terluka.
『Kenapa, kenapa kalian tidak apa-apa meski terkena racun cairanku?!』
"Ah, soal itu, semua racunmu sudah kami netralkan," ucapku sambil
menghela napas.
"Benar, semuanya sudah saya ubah menjadi air biasa," ujar Liese
dengan wajah bangga.
"Syukurlah semua orang menyadari hal
ini," Famil menimpali dengan senyum kecut.
『Bagaimana mungkin?! Bagaimana
caranya?!』
Menanggapi pertanyaan si kelabang
raksasa, kami mengangkat benda yang ada di tangan kami masing-masing.
"""Dengan Sandal Toilet ini!"""
『SANDAL TOILET KATAMUUUUUU?!』
Kelabang raksasa itu berteriak murka.
Yah, wajar saja kalau dia syok.
Mana ada orang normal—atau kelabang raksasa normal—yang bakal percaya kalau
sandal toilet bisa punya efek Anti-Bakteri, Anti-Kotor, Anti-Racun,
Anti-Kutukan, Anti-Debu, Anti-Tajam, dan Anti-Guncangan.
Cairan racun yang disemburkannya berubah menjadi air murni yang tidak
berbahaya begitu menyentuh permukaan sandal itu.
『Jangan bohong! Lagipula, kenapa kalian membawa benda seperti itu ke
mana-mana? Jangan-jangan, kau sudah menyadari identitas asliku—』
Mendengar pertanyaan si kelabang, kami saling berpandangan dan menjawab
serempak dengan alasan masing-masing.
"Untuk bahan komedi."
"Demi cinta."
"Kebetulan saja."
Keheningan seketika menguasai medan tempur setelah mendengar jawaban kami.
Dan kemudian—
『Bogebworabruurourasutububasubasuto.』
Si kelabang raksasa pun korsleting.
Sepertinya dia sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Kalau begini, sekaranglah saatnya untuk memberikan serangan pamungkas...
Eh?
"Tunggu, ada yang aneh, kan?"
"E-eh... iya. Ini aneh... maksudku..."
"Dia jadi makin besar, ya?"
Kelabang yang tadinya hanya berukuran sekitar tiga meter, kini membengkak
menjadi lima meter... tidak, dia terus membesar.
Bukan itu saja. Bagian bawah tubuhnya yang seharusnya sudah terpotong kini
beregenerasi total.
Padahal potongan tubuh yang lama masih tergeletak di tepi kolam, jadi bukan
karena tersambung kembali.
Dia... melakukan regenerasi?
Pertumbuhannya baru berhenti setelah ukurannya mencapai sekitar sepuluh
meter.
Oi, oi, bagaimana cara menghadapi
lawan sebesar ini?
"......Rasanya seperti sedang melihat
mimpi buruk."
"Ah... kalau ini memang mimpi buruk,
Master Kuruto, tolong jemput aku."
"Kalian memanggilku?"
Tepat setelah Liese meracau tidak jelas, Kuruto
tiba-tiba muncul kembali.
Di tangannya, dia memegang Bunga Cacingan.
Padahal aku menyuruh Phantom yang
mengambilnya, tapi kenapa malah Kuruto yang membawanya?
"Kuruto?!"
"Ah, ternyata Master Kuruto benar-benar
datang menjemputku! Ayo, Master Kuruto, mari kita pergi berkencan terlarang
antara guru dan murid sekarang juga!"
"Cepat sadar sebelum kita benar-benar
pergi ke alam baka!"
"Ah, ternyata monster transformasi lagi
ya. Aku dengar semua orang sudah berhenti memakainya sebelum aku lahir, apa
sekarang sedang tren lagi?"
Kuruto bergumam santai seolah tanpa beban.
"Tapi, sepertinya dia sedang mengamuk.
Kalau dibiarkan bisa berbahaya."
"Mengamuk?"
Kuruto mengangguk menanggapi pertanyaanku.
"Iya. Katanya, kalau setelah makan
Serangga Transformasi lalu orangnya merasa sangat terkejut, dia bisa kehilangan
akal sehat dan berubah jadi raksasa. Kalau sudah begini, diberi Bunga Cacingan
pun tidak ada gunanya. Biasanya dia baru akan berhenti bergerak setelah satu
jam karena kehabisan energi sihir, tapi—"
"Kalau monster seperti ini mengamuk
selama satu jam, kota ini bisa hancur berantakan!"
"Benar juga. Kalau begitu, mari kita kurung saja."
"Dikurung? Bagaimana
caranya?" tanyaku bingung.
"Eh? Yuri-san, apa kau lupa? Sekolah ini kan—"
Kuruto menempelkan tangannya ke tepi kolam dan menuliskan sesuatu dengan
jarinya.
Seketika, kolam renang sepanjang lima puluh meter itu mulai terangkat.
Ah, benar juga. Aku benar-benar lupa.
Kolam ini—bukan, seluruh kota ini sebenarnya adalah Golem.
Selama ini mereka diam dalam wujud bangunan dan tembok karena perintah Kuruto,
tapi jika perintah diberikan, mereka akan kembali ke wujud asli sebagai Golem.
Lalu, kolam itu mengatup layaknya perangkap tikus dan menelan si kelabang
raksasa bulat-bulat.
Apakah ini... sudah berakhir?
"Tunggu, belum! Kuruto, dia bisa menyemburkan racun yang
melelehkan besi sekalipun. Mengurungnya di tempat seperti itu—"
"Tidak, Yuri-san. Tidak perlu khawatir."
Saat aku mencoba memperingatkan, Liese justru mengoreksiku.
"Yuri-san, aku baru menyadarinya tadi. Cairan racun itu memang
melelehkan belati baja dengan mudah, tapi tepi kolamnya sama sekali tidak
meleleh, kan? Padahal itu hanya lantai batu."
"............?! Kalau dipikir-pikir—"
Aku terlalu syok melihat belati baja yang meleleh sampai melewatkan fakta
kalau lantai batunya baik-baik saja.
"Tenang saja. Lantai batu ini sudah diproses agar tidak meleleh bahkan
oleh Ouroboros Poison sekalipun."
"Ouroboros Poison...?"
Kalau bicara soal Ouroboros Poison, itu adalah barang legendaris
yang setara dengan Elixir atau Philosopher's Stone.
Begitu ya, kalau cairan itu saja tidak mempan, berarti memang tidak ada
masalah.
"Mewah sekali ya, kolam raksasa dijadikan kandang serangga."
Famil berujar santai, mungkin karena dia sudah merasa lega.
Yah, karena semua sudah berakhir, wajar saja kalau suasana jadi santai.
"Karena ada airnya, bukankah lebih tepat disebut akuarium?"
Saat aku mulai ikut-ikutan menanggapi candaan Famil, ekspresi Kuruto
tiba-tiba berubah seolah menyadari sesuatu.
"......Ini gawat! Gawat sekali!"
Kuruto terburu-buru memberikan perintah pada Golem, dan kolam
raksasa itu mulai kembali ke wujud semula.
Saat kolam sudah benar-benar kembali normal, sosok kelabang raksasa tadi
sudah hilang. Yang tersisa hanyalah sesuatu yang tampak seperti mumi kering
yang mengapung.
"Jangan-jangan, itu..."
"Wujud orang yang tadi bermain-main menjadi cacing tanah raksasa.
Yuri-san, pinjam sandalnya."
Kuruto mengambil sandal yang kupegang dan
melemparkannya ke dalam kolam.
Air kolam yang tadinya keruh kehijauan
seketika berubah menjadi bening kembali.
Lalu, Kuruto masuk ke dalam kolam dan
mengangkat jasad Kepala Suku yang sudah menjadi mumi kering itu.
"......Apa dia bisa diselamatkan?"
"......Maaf, dia sudah meninggal."
"Apa ini karena efek Batu Pemanggilan—maksud saya, obat transformasi
yang Master Kuruto katakan?" tanya Liese.
Kuruto menggelengkan kepalanya.
"Obat transformasi tidak punya efek
samping seperti ini. Ini adalah pengaruh racun lain. Sepertinya, racun ini
sudah diatur untuk bereaksi setelah jeda waktu tertentu saat obat
transformasinya digunakan."
"Tunggu, Kuruto. Orang tua ini bilang dia
sendiri yang membuat batu pemang... obat transformasi itu. Apa mungkin dia cuma
salah meracik resepnya?"
"Kemungkinannya kecil. Karena
bahan-bahannya saja sudah berbeda total."
Kuruto kemudian menyatukan kedua tangannya di depan mumi Kepala Suku itu
untuk mendoakannya.
Dia tidak tahu kalau Kepala Suku inilah yang menculik ayah Randle,
mengubahnya menjadi monster, dan berencana menghancurkan kota.
Tidak, mungkin dia bahkan tidak tahu kalau mumi ini adalah sang Kepala
Suku.
Mungkin, memang lebih baik dia tidak tahu.
"Famil—mengenai pria ini."
"Ya. Secara resmi, kita nyatakan dia
tewas dibunuh oleh monster yang muncul. Mari kita tetapkan seperti itu."
Jika kabar bahwa Kepala Suku adalah dalang
kerusuhan monster ini tersebar, hal itu bisa memicu konflik antara imigran dari
Torshen dengan penduduk asli kerajaan ini.
Meski begitu, insiden kali ini benar-benar
bisa dibilang keberuntungan di tengah musibah karena terjadi di kota ini.
Jika insiden ini terjadi di kota pusat wilayah atau kota lain, kerusakannya
pasti akan sangat... Eh?
"Ada apa, Yuri-san?"
"Liese. Kenapa pria ini harus memicu insiden di Rikuto?"
"Katanya untuk mengambil
data pertempuran saat melawan ksatria... Ah?!"
"Ya, benar. Tapi, orang biasa mana mungkin tahu kalau ada ksatria yang
dikirim ke kota ini. Lagipula, kalau Kepala Suku adalah dalangnya, lalu siapa
sosok 'Iblis' yang diceritakan Randle? Seberapa keras pun dia menutupi wajahnya
dengan tudung, Randle pasti akan mengenali suara Kepala Suku."
Aku menatap punggung Kuruto yang sedang dilarang oleh salah satu Phantom
karena mencoba mengangkut mayat Kepala Suku sendirian untuk dimakamkan.
"Kalau seperti kata Kuruto bahwa Kepala Suku telah dijebak oleh
seseorang, dan target orang itu bukanlah data pertempuran dengan ksatria,
melainkan data lain... misalnya data Kuruto, bagaimana?"
Baru saja ada laporan masuk bahwa salah satu Phantom yang kuutus
mengambil bunga biru di kamar Kuruto ternyata dipukul pingsan oleh seseorang.
Padahal setelah itu, ada 'seseorang' yang memberitahu Kuruto di ruang
kesehatan agar dia membawa bunga biru itu menuju kolam renang.
Aku sudah mencoba memeriksa monitor, tapi karena tidak ada rekaman di dalam
area sekolah, pelakunya tetap tidak diketahui.
Namun, tindakan itu terasa masuk akal jika tujuannya adalah untuk mengadu Kuruto
dengan si kelabang raksasa.
"Data Master Kuruto... jangan-jangan, si Scripter?!"
"Entahlah. Tapi, kita harus waspada."
Seperti kata Liese, jika ada sosok Iblis yang mungkin memusuhi kami, hanya
ada satu nama yang terlintas: sosok licik yang memanfaatkan Baron Taikun untuk
menjatuhkan wilayah yang paling dekat dengan teritori Iblis ini—Scripter.
Sudah satu kali—tidak, jika dia juga terlibat dalam rencana Uskup Tristan,
berarti sudah dua kali rencananya digagalkan oleh Kuruto.
Bagi orang yang sangat percaya diri dengan rencananya, hal itu pasti sulit
dimaafkan.
Memikirkan hal sejauh itu, aku memegangi dadaku.
Meskipun situasinya begini, aku masih berniat bertindak sendirian demi
menyelesaikan masalahku sendiri.
Apakah itu benar-benar keputusan yang tepat?
Tidak, aku tetap tidak boleh melibatkan Kuruto ke dalam masalahku.
◆◇◆
Aku, Kuruto, bergumam sendirian di depan
kelas.
"Hari ini adalah kelas terakhir, ya..."
Insiden dua hari yang lalu.
Kabar tentang seorang pria yang meninggal di
sekolah menjadi gempar, sehingga kelas kemarin terpaksa dibatalkan.
Akhirnya, identitas pria itu tetap tidak diketahui. Perintah pembungkaman
dikeluarkan, dan kami dilarang membicarakan soal obat transformasi.
Lalu, meski sepertinya tidak berhubungan dengan insiden tersebut, ada
laporan bahwa Kepala Suku meninggal karena diserang monster di dekat desa.
Katanya, monster itu adalah pelakunya yang meracuni sumber sungai, dan
Yuri-san berhasil mengalahkannya.
Perintah pembungkaman juga berlaku untuk jenis monsternya, jadi aku tidak
mendengar kabar apa pun.
Pasti itu monster yang mengerikan seperti Orc
atau Ogre.
Namun, kabar bahwa monster yang meracuni
sungai telah dibasmi menyebar cepat di desa, membuat para penduduk kembali
tersenyum.
Yuri-san memang hebat.
Dibandingkan dia, aku ini...
Setelah selesai mengajarkan cara membuat
paduan logam dari Mithril dan logam lainnya di kelas terakhir, aku menghela
napas dalam hati.
Pada akhirnya, aku tidak bisa memberikan
bahkan setengah dari materi kelas yang kurencanakan.
Satu-satunya hal yang berjalan sesuai rencana
hanyalah aku berhasil menyelesaikan materi dari buku teks yang diberikan
Mimiko-san.
"Dengan ini, kelas berakhir. Mulai besok,
guru pengganti akan mengambil alih, jadi hari ini adalah hari terakhirku
mengajar kalian. Maafkan jika caraku mengajar masih kurang..."
Tepat saat aku mengatakan itu, semua murid
kecuali Vittel-kun berdiri.
"""Guru Kuruto! Terima kasih banyak atas satu
minggunya!"""
Mereka semua mengatakannya secara serempak kepadaku.
"Pelajaran Guru sangat mudah dimengerti, lho."
"Aku juga, tadinya kupikir sekolah itu cuma buat cari ilmu dasar sama
gelar doang, tapi aku baru tahu kalau ternyata belajar itu bisa seseru
ini."
"Guru tidak pernah membedakan kami, baik anak-anak dari Torshen maupun
anak-anak dari negeri ini."
"Padahal Guru punya pekerjaan sendiri, tapi Guru juga menyempatkan
diri merawat taman sekolah."
"......Guru juga sangat baik."
Sword-kun, Aria-san, Alcopa-kun, Tsuki-san, dan Kritis-san berbicara
kepadaku dengan senyum lebar.
Dan Vittel-kun, yang tadi tidak ikut berdiri,
akhirnya berdiri paling terakhir setelah teman-temannya.
"Kau juga mau mendengarkan curhatku...
Aku berterima kasih padamu. Tadi aku tidak sempat bilang... tapi, terima kasih
banyak. Guru Kuruto."
Dia mengatakan itu sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam kepadaku.
"Semuanya..."
Sudut mataku mulai terasa panas.
"Sebenernya sih, kami udah minta ke guru lain biar Guru nggak usah
berhenti."
"Waktu itu kami dengar, posisi guru untuk kursus liburan panjang nanti
belum diputuskan. Jadi, Guru, mengajarlah lagi nanti."
"Kalau Guru Kuruto yang mengajar, aku pasti bakal hadir!"
"Di musim itu, pekerjaan di ladang juga sudah mulai santai."
"Saya dan kakak saya juga ingin belajar lagi."
"......Saya juga ingin ikut."
Mendengar mereka ingin mengikuti kelasku lagi...
Aku pun—sebenarnya masih ingin terus menjadi guru.
Tapi di saat yang sama, aku juga ingin mengerjakan tugas di bengkel.
"Semuanya... terima kasih. Terima kasih banyak. Aku akan coba
bicarakan dengan Famil-san."
Aku memutuskan untuk sedikit egois.
Agar aku bisa memilih keduanya: pekerjaan sebagai perwakilan Atelier
Meister, dan juga pekerjaan sebagai guru.
"Ya. Jangan lupa, ajarkan cara membuat Philosopher's Stone yang
Guru ceritakan itu ya!" ujar Vittel-kun.
◆◇◆
Satu jam setelah kelas Kuruto-chan berakhir.
"Ya, semuanya sudah berkumpul, ya. Mulai besok, aku, Mimiko, yang akan mengajar
kalian. Panggil saja Mimiko-chan, ya."
Aku berkata demikian kepada para murid yang
telah berkumpul.
Wajah mereka tampak muram.
Ekspresi mereka jelas-jelas bilang kalau
mereka lebih suka kelasnya Kuruto-chan. Aduh, ini jadi susah, nih.
Tapi, ini adalah hal yang perlu dilakukan.
"Pertama, aku ingin memberitahu kalian satu hal. Kalian sebenarnya
sudah menyelesaikan seluruh kurikulum tingkat menengah atas di sekolah
ini."
"Eh?"
"Kalian ingat buku ini?"
Aku mengeluarkan sebuah buku teks.
Buku yang dibagikan Kuruto-chan kepada mereka semua.
"Itu kan buku yang diajarkan Guru Kuruto di sela-sela pelajaran?"
"Ini adalah buku teks untuk tingkat menengah atas. Harusnya, buku ini
dipelajari selama satu tahun penuh."
"Eh? Tapi Guru Kuruto cuma mengajarkannya lima menit sehari dan
rasanya sangat gampang—"
"Ya, aku juga bingung gimana cara dia mengajar sampai kalian bisa
hafal secepat ini..."
Sepertinya peringkat kecocokan SSS sebagai guru itu bukan sekadar
pajangan, ya?
Aku sudah mendengar isi pelajarannya, dan sepertinya itu adalah metode yang
sudah dikalkulasi sedemikian rupa agar mudah dipahami, disesuaikan dengan pola
pikir kalian berenam.
Mungkin kalau murid lain menerima pelajaran yang sama, mereka hanya akan
paham setengahnya saja.
Padahal paham setengah dari kurikulum satu tahun dalam seminggu saja sudah
luar biasa hebat.
"Guru, jadi maksudnya nggak ada lagi yang bisa kami pelajari di
sekolah?" tanya Aria-chan.
"Tidak, mulai sekarang kalian akan mempelajari pengetahuan umum.
Betapa 'tidak umumnya' pelajaran yang diberikan Kuruto-chan selama seminggu
ini, dan betapa luar biasa tidak masuk akalnya kemampuan kalian sekarang—"
Setelah ini, posisi mereka di Institut Riset Kerajaan sudah terjamin...
yah, tapi bagian itu tidak perlu kubicarakan sekarang.
Kelas pertama untuk mempelajari pengetahuan umum ternyata cukup sulit.
Ibaratnya seperti mengajar orang yang sudah terbiasa bernapas secara alami,
bahwa sebenarnya bernapas itu adalah proses rumit menghirup oksigen, membawanya
ke paru-paru, mengedarkannya lewat darah, lalu membuang karbon dioksida.
Padahal selama ini mereka melakukannya tanpa berpikir.
Begitu kelas berakhir, sesuai dugaanku, salah satu murid menghampiriku.
"Guru Mimiko..."
"Panggil aku Mimiko-chan... Ada apa, Vittel-chan?"
Karena Vittel-chan memasang ekspresi serius, aku pun berhenti bercanda.
"Aku—jadikanlah aku murid sihirmu."
Sudah kuduga bakal begini.
"Hal yang sama—Triad-kyo juga memintaku untuk menjadikanmu murid.
Tapi, peminat untuk menjadi murid penyihir istana itu sangat banyak. Meskipun
kau anak seorang bangsawan, bakat sihir biasa saja tidak akan cukup untuk
membuatku menerimamu sebagai murid."
Kenyataannya, calon murid yang mendaftar padaku mencapai angka tiga digit
setiap tahunnya.
"Vittel-chan. Kau bisa menggunakan berapa jenis atribut sihir?"
"Berapa jenis ya... Berkat ajaran Guru Kuruto, aku bisa empat atribut
dasar: Api, Air, Angin, Tanah. Atribut turunan: Es, Petir, Logam, Kayu.
Dan atribut tingkat tinggi: Cahaya, Kegelapan, Kehidupan, Hati. Tapi karena
Guru Kuruto tidak bisa sihir, aku baru bisa sihir dasarnya saja."
"......Anak-anak memang hebat ya. Aku
juga diajarkan metode yang sama oleh Kuruto-chan, tapi karena aku sudah punya
prasangka duluan, aku tidak bisa menggunakan semua atribut. Yah, tapi aku
senang setidaknya sudah bisa sihir atribut Kayu yang tadinya sudah
kuserahterimakan."
Vittel-chan mengerjapkan matanya mendengar
perkataanku.
"......Eh?"
"Meski baru sihir dasar, tapi jika
menilik sejarah negeri ini, kau adalah orang pertama yang bisa menggunakan
seluruh dua belas atribut sihir; mulai dari atribut dasar, turunan, sampai
tingkat tinggi."
Anak ini sama seperti kasus pernapasan tadi.
Aku harus mengajarkannya bahwa hal yang dia anggap 'biasa' sebenarnya sama
sekali tidak biasa.
"Pelatihan dariku—tidak semanis penampilanku, lho."
"Mohon bantuannya!"
Vittel-kun, yang di masa depan pasti akan menjadi penyihir istana yang
lebih hebat dariku, membungkukkan kepalanya dalam-dalam kepadaku.
◆◇◆
Sehari setelah kelas terakhir Master Kuruto berakhir, kami memutuskan untuk
meninggalkan Rikuto.
Saat aku, Lieselotte, bilang bahwa aku adalah Wakil Gubernur dan Master Kuruto
adalah Wakil Atelier Meister, Ophelia-sensei pun mengerti.
Meskipun kami diberi tumpukan pekerjaan rumah yang luar biasa banyaknya.
Padahal aslinya, jabatan Gubernur dan Atelier Meister itu ya Master Kuruto
sendiri.
Soal berkemas pun tidak terlalu repot, karena kami toh akan kembali ke sini
saat liburan panjang nanti.
Ke depannya, kota ini juga akan menjadi tempat transit saat kami pergi dari
Valha menuju kota pusat wilayah.
Jadi, kami hanya membawa bahan makanan yang tidak tahan lama, pakaian, dan
koleksi barang-barang Master Kuruto yang tidak boleh dilihat siapapun.
Karena punya waktu luang, aku memutuskan untuk pergi ke kamar Master Kuruto
untuk melakukan yobai—bukan, hirubai (kunjungan siang hari)—ah,
maksudnya untuk membantu.
"Mas~ter~ Kuruto~♡"
Aku menuju depan kamar Master Kuruto secepat kilat, lalu dengan sengaja
"lupa" mengetuk pintu dan langsung membukanya.
Sayang sekali, sesuai dugaanku Master Kuruto sedang bersiap-siap kembali ke
Valha bersama Akuri.
Tidak ada adegan dia sedang berganti pakaian
atau bersiap mandi. Benar-benar disayangkan.
Akuri sedang memasukkan balok susun ke dalam
kotak, tapi sepertinya tidak pas sehingga balok-baloknya meluap keluar.
Namun dia tidak peduli dan terus menumpuknya.
Yah, cara bermain yang benar bagi anak-anak,
mungkin?
"Ah, Mama Liese!"
Akuri melambaikan tangan sambil memegang balok
paling atas. Saat itu,
tumpukan baloknya runtuh berantakan.
Akuri menatap balok-balok itu dengan saksama—
"Hiyat!"
Serunya. Seketika, balok-balok yang berantakan tadi sudah tersusun rapi di
dalam kotak.
......Benar-benar pemborosan
sihir Teleportation, ya.
Akuri langsung tertidur karena kehabisan
tenaga.
"Ah, Liese-san. Kau di sini?"
Sepertinya Master Kuruto tidak sadar aku masuk
karena aku tidak mengetuk pintu.
"Maaf, aku sedang membaca ini."
Yang sedang dilihat Master Kuruto adalah
sebuah papan tanda tangan (shikishi).
Sepertinya pesan kenang-kenangan dari para murid.
"Aku senang sekali bisa menjadi guru selama seminggu ini."
"Baguslah kalau begitu, Master Kuruto. Anda harus hati-hati agar papan
itu tidak basah."
"Iya—mereka bahkan membuatnya sendiri
dengan tangan. Papan ini sepertinya memiliki efek Waterproof, Dustproof,
Antidote, Anti-Blade, Fireproof, Anti-Curse, dan Anti-Shock.
Tapi aku harus menjaganya agar jangan sampai robek."
"Papan buatan tangan murid,
ya..."
Kalau mendengar kemampuannya,
memang masih jauh di bawah sandal toilet Master Kuruto, tapi tetap saja itu
bukan benda yang bisa dibuat oleh anak kecil biasa.
Sepertinya dalam seminggu ini,
Master Kuruto telah menciptakan 'Desa Hast Kecil'.
Peringkat kecocokan SSS
sebagai guru memang bukan main.
"Mereka semua murid yang baik. Padahal aku guru yang payah, tapi
mereka bilang aku guru terbaik, guru yang hebat... Vittel-kun bahkan bilang
caraku mengajar jauh lebih baik daripada guru di sekolah ibu kota... padahal
itu tidak mungkin."
Master Kuruto berkata demikian sambil mengelus lembut kepala Akuri yang
tertidur.
Wajahnya tampak sangat bahagia... sekaligus sangat sedih.
Melihat ekspresi itu, aku memantapkan tekad.
"Master Kuruto, penilaian para murid itu sama sekali tidak
berlebihan."
Aku harus memberitahunya bahwa penilaian murid-murid itu benar—bahwa
perasaan itu bukanlah sekadar basa-basi.
"Sebab, hasil tes kecocokan di Hello Work yang kuberitahukan pada Anda
dulu adalah kebohongan. Sebenarnya, selain pertempuran, semua peringkat Anda
adalah SSS. Dengan kata lain, Anda memiliki tingkat kecocokan level
manusia super yang tidak bisa diukur dengan metode biasa."
Aku memberanikan diri untuk menceritakan semuanya.
Misalnya, tentang kutukan yang menimpaku yang bahkan Ophelia-sensei pun
tidak tahu cara menyembuhkannya, namun bisa sembuh berkat bubur buatan Master Kuruto.
Tentang nilai Mithril yang Master Kuruto temukan, atau nilai kristal sihir
yang Master Kuruto buat yang harganya sangat tidak masuk akal.
Tentang fakta bahwa manusia biasa tidak akan bisa menciptakan Golem
meski memiliki intinya, apalagi menggerakkannya sesuka hati.
Dan banyak lagi perbedaan antara standar umum
dunia ini dengan standar Master Kuruto.
Juga tentang bagaimana aku merahasiakan ini semua untuk melindunginya dari
ancaman dunia luar.
Dan yang terpenting, tentang betapa banyak
orang yang tertolong dan sangat berterima kasih kepadanya.
Awalnya, Master Kuruto tidak mempercayai
perkataanku.
Bukan karena dia tidak mempercayaiku. Dia berusaha keras untuk percaya padaku.
Dia mencoba dan terus mencoba, namun dia tetap tidak bisa mempercayai
kemampuannya sendiri.
Terakhir, aku menunjukkan buku tabungan milik
Master Kuruto.
Sebagai catatan, awalnya rekeningnya hanya ada
di Hello Work, tapi sekarang sudah dibagi ke tiga tempat: Hello Work, Guild
Petualang, dan rekening wilayah Baron Taikun.
"Uang sebanyak ini... apa ini benar-benar
uangku?"
"Memalsukan buku tabungan hukumannya
adalah kerja paksa seumur hidup atau hukuman mati. Saya tidak mungkin membuat
buku tabungan palsu hanya untuk menipu Anda. Uang sebanyak ini tidak akan bisa
dikumpulkan meski ratusan atau ribuan orang bekerja seumur hidup."
Master Kuruto terdiam menatap buku tabungan
itu.
"Tuan Rikuto, sang Atelier Meister
di bengkel ini, hanyalah ilusi yang diciptakan oleh Kocho yang Anda
buat."
Aku menggunakan Kocho untuk memunculkan sosok Tuan Rikuto.
Ilusi itu perlahan berubah menjadi wujud Master Kuruto, lalu menghilang.
"......Terakhir, Master Kuruto, tolong lihat ini."
Aku menunjukkan lambang belati kepadanya.
Lambang yang menggambarkan naga berkepala dua.
Master Kuruto sepertinya memahami maknanya.
"Naga berkepala dua... ini lambang keluarga kerajaan, kan?"
"Benar. Liese hanyalah nama panggilanku."
Ini adalah rahasia terbesarku, rahasia yang sebenarnya sangat tidak ingin
kuberi tahu pada Master Kuruto.
"Nama asliku adalah Lieselotte Homouros. Putri ketiga dari kerajaan
ini. Untuk membalas budi dan menjaga rahasia Anda, saya tetap berada di sisi
Anda untuk melindungi Anda."
"Begitu... rupanya. Liese-san... ternyata Putri Lieselotte—"
Deg.
Master Kuruto yang sedang kebingungan pasti tidak menyadari rasa perih di
dadaku, seolah tertusuk jarum.
Kesedihan karena tidak lagi dipandang sebagai seorang wanita melainkan
sebagai seorang putri—namun itu tidak sebanding dengan kegelisahan yang
dirasakan Master Kuruto sekarang.
"Anu... Putri Lieselotte, bolehkah aku meminta waktu untuk berpikir
sebentar?"
"......Tentu. Anu, Master Kuruto—"
Tolong tetap panggil aku Liese seperti biasa.
Tadinya aku ingin bilang begitu, tapi—
"Tidak, sebaiknya Anda istirahat saja
dulu. Biar aku yang menjaga Akuri."
Hanya itu yang bisa kukatakan.
Lalu Master Kuruto menidurkan Akuri pelan-pelan dan keluar dari kamar.
Mungkin dia pergi ke tempat di mana dia bisa berpikir sendirian.
Begitu sosok Master Kuruto menghilang, aku terduduk lemas di lantai.
Aku sudah menduganya.
Aku sudah bersiap untuk ini.
Namun ternyata, rasanya tetap sesakit ini.
Sepertinya dia sudah mendengarkan pembicaraan kami dari luar kamar agar
tidak ketahuan Master Kuruto. Yuri-san muncul dan menyapaku.
"Liese, kau boleh menangis sekarang."
"Tidak, ke depannya, aku hanya akan menangis saat aku menikah dengan
Master Kuruto nanti."
"Padahal belum lama ini aku dengar dari Kuruto kalau kau menangis
darah?"
"Itu cuma keringat hati."
"Kau ini kuda berdarah (Kanketsuma) apa?!"
Yuri-san membalas dengan lawakan tentang nama kuda legendaris yang konon
mengeluarkan keringat merah seperti darah.
"......Yah, sudahlah. Kuharap... kau benar-benar bisa menikah
dengannya."
—Eh?
Yuri-san melambaikan tangan lalu bersiap pergi dari kamar. Kalau
diperhatikan, dia membawa tas belanjaan yang cukup banyak seolah akan pergi
jauh.
"Yuri-san, mau ke mana?"
"Kuruto sedang berpikir setelah tahu faktanya, dan kau sudah berani
maju setelah membongkar rahasiamu. Kurasa aku juga harus melakukan apa yang
harus kulakukan. Tolong titip Akuri, ya."
"Yuri-san, kau akan kembali... kan?"
Yuri-san tidak menjawab pertanyaanku. Lalu, dia benar-benar keluar dari
kamar.
Aku harus segera menghentikannya—aku harus berdiri.
Tepat saat aku berpikir demikian...
"Liese-san, gawat!"
Famil-san datang berlari.
Wajahnya pucat pasi, seolah tidak ada setetes darah pun yang tersisa—
"Master Kuruto pingsan! Ada yang aneh,
ini tidak normal!"
"————?!"
Tujuh jam telah berlalu sejak Master Kuruto
pingsan.
Akuri, yang biasanya sudah tidur jam segini,
masih terjaga dengan gigih menunggui Master Kuruto bangun.
Master Kuruto bernapas pelan dalam tidurnya.
Wajah tidurnya tetap manis seperti biasa, tapi melihatnya sekarang tidak
membuatku merasa bersemangat.
Orang yang pertama kali menemukan Master Kuruto
adalah Famil-san.
Dia menemukan Master Kuruto tergeletak di
koridor, lalu buru-buru memeriksa kondisinya. Setelah tahu dia hanya tertidur,
Famil-san sempat merasa lega.
Namun, tidak peduli seberapa keras dia mencoba
membangunkannya, Master Kuruto tetap tidak mau bangun.
Menyadari keanehan itu, dia langsung
memanggilku.
Tapi aku pun tidak tahu apa yang sedang
terjadi, jadi aku meminta Phantom untuk memanggil Ophelia-sensei dan
Mimiko-san.
"......Sepertinya dia benar-benar hanya
sedang tidur. Tapi, dia sama
sekali tidak bereaksi terhadap rangsangan luar. Tadinya kukira dia sakit, tapi
tidak ada kelainan pada tubuhnya. Bukan kutukan, bukan juga tidur paksa karena
obat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Bahkan Ophelia-sensei pun tidak tahu?"
Mendengar pertanyaanku, Ophelia-sensei
mengangguk lesu.
"Ah, sisa kemungkinannya bukan kutukan, melainkan sihir tidur—tapi
kalau soal itu aku tidak terlalu paham."
Ophelia-sensei menoleh ke arah Mimiko-san yang berdiri di sampingnya, namun
Mimiko-san menggelengkan kepala.
"Bukan sihir. Tentu saja, soal racun atau kutukan, diagnosis
Ophelia-chan sudah pasti benar. Lieselotte-sama, di Atelier ini ada obat
rutin buatan Kuruto-chan, kan? Obat yang konon bisa menyembuhkan kutukan,
penyakit, atau apa pun itu. Kenapa tidak coba pakai itu saja?"
"Maaf, obat rutin itu sudah saya gunakan bahkan sebelum memanggil
kalian berdua. Tapi tidak ada efeknya."
Aku berujar demikian sambil memutar otak.
"Seperti dugaan, Master Kuruto yang segalanya di luar nalar pun,
penyakit yang menjangkitinya juga di luar nalar. Padahal di saat seperti ini,
kalau ada Master Kuruto, beliau pasti tahu penyebab komanya dan bisa
menciptakan obat untuk gejala yang tak bisa disembuhkan obat biasa dalam
sekejap."
"Tenanglah, Liese-sama! Ucapan Anda sudah mulai melantur!"
Famil-san menegurku, tapi mana mungkin aku bisa tenang.
Sebab, Master Kuruto... Master Kuruto...
"Akuri-chan sedang melihat Anda."
Mendengar ucapan Famil-san, aku tersentak.
Benar juga. Akuri saja sedang berusaha
bertahan, tidak mungkin aku sebagai ibunya malah hilang kendali.
"Begitu ya. Kalau kondisi koma tanpa
penyebab ini hanya terjadi pada Kuruto-chan, mungkin orang yang sudah lama
mengenalnya tahu cara pengobatannya."
"Tapi, Mimiko-san! Tinggi badan, berat
badan, tiga ukuran tubuh, ukuran kaki sampai panjang jari, aroma rambut, bahkan
jam bangun dan jam tidur setiap pagi, musik favorit, makanan kesukaan, sampai
tipe wanita idamannya pun sudah kuketahui luar dalam! Aku tidak yakin ada orang
lain yang lebih mengenal Master Kuruto dibanding aku!"
"Hildegard-san dari ras iblis...
sepertinya teman masa kecilnya, tapi katanya mereka hanya bersama
sebentar."
Apa yang dikatakan Famil-san benar.
Lagipula, keberadaan Hildegard-san tidak
diketahui dan kami tidak punya cara untuk menghubunginya, jadi dia tidak bisa
diandalkan.
Di tengah keputusasaan kami, Mimiko-san angkat bicara.
"Lieselotte-sama memang punya hubungan yang sangat intens dengan Kuruto-chan,
tapi kalian baru kenal beberapa bulan, kan? Maksudku bukan itu, tapi rekan yang
sudah bertualang bersamanya selama bertahun-tahun mungkin tahu sesuatu."
"Bertahun-tahun... jangan-jangan—"
"Ya, kupikir ada baiknya coba tanya pada 'anak itu'."
Si 'anak itu'—mendengar sebutan itu, aku menghela napas panjang.
Dari sekian banyak orang, kenapa harus orang yang telah mengusir Master Kuruto?
Menggunakan batu teleportasi Valha, aku tiba di fasilitas penahanan pribadi
milik Mimiko-san yang terletak di ibu kota.
Di ruang pertemuan itu, aku pun berhadapan
dengannya.
Saat memasuki ruangan, seorang wanita yang
tampak seperti biarawati suci—meski aslinya adalah pemabuk sombong yang mata
duitan—menyambutku.
Karena aku sudah bilang pada Mimiko-san dan
unit Phantom bahwa aku ingin bicara empat mata, sekarang hanya ada kami
berdua.
"Senang melihat Anda masih sehat
walafiat, Putri Lieselotte."
"......Anda juga tampak lebih segar dari
yang kubayangkan, Mare-Marlefiss-san."
Biarawati Marlefiss. Dia dulunya terdaftar di
Gereja Poran, tapi sekarang sudah diekskomunikasi dan menjadi biarawati tanpa
afiliasi.
Dulu dia berada di party petualang bernama
"Flame Dragon Fang" tempat Master Kuruto bernaung, namun secara tak
masuk akal dia justru mengusir Master Kuruto.
Akibatnya, tidak ada lagi orang yang bisa
merawat senjata pusakanya, Unicorn Horn Staff, sehingga dia tidak bisa
mengeluarkan kekuatan penuhnya dan terus-menerus mengalami kegagalan.
"'Tampak segar', ya? Ya, aku sehat sekali. Sejak dikurung di sini, aku
tidak bisa minum setetes pun anggur yang merupakan satu-satunya hiburanku, jadi
hatiku terlalu sehat sampai-sampai menjerit. Berat badanku turun lima kilo.
Ukuran dadaku juga susut dari C ke B."
"Itu kabar yang bagus."
"Lalu, ada apa? Kenapa Anda sudi melangkahkan kaki ke kuburan
kehidupan ini?"
"Ada yang ingin kutanyakan padamu."
Begitu aku mengatakannya, Marlefiss menyeringai sinis.
"Kurasa aku sudah menceritakan segalanya—ah, maksudku sudah dipaksa
menceritakan semuanya. Ahaha, apa Anda mau menyiksaku lagi? Boleh saja, diam di
sini tanpa melakukan apa pun juga membosankan. Harusnya aku menganggap
penderitaanku ini sebagai cobaan Tuhan, tapi nyatanya Uskup Tristan yang
dianggap paling dekat dengan Tuhan di negeri ini ternyata bersekutu dengan
iblis... Di dunia ini sudah tidak ada Tuhan lagi. Jadi, mau siksaan seperti
apa? Mau ditenggelamkan ke air?"
"......Aku mohon padamu."
"Mohon?"
"Kau adalah rekan Master Kuruto, kan? Master Kuruto jatuh koma dan
tidak sadarkan diri. Apa kau tahu sesuatu tentang ini?"
"Apa pun yang terjadi pada Kuruto, itu bukan urusanku."
Mendengar kalimat itu, aku langsung mencengkeram kerah bajunya.
Melihat reaksiku, Marlefiss... tidak, Marlefiss malah tertawa kegirangan.
"Jadi begini cara keluarga kerajaan memohon? Gereja memang sudah
busuk, tapi ternyata keluarga kerajaan juga sama busuknya ya."
"Kau bilang Master Kuruto bukan urusanmu, tapi apa kau tidak tahu
bagaimana perasaan Master Kuruto padamu? Meski kau mengusirnya dari party, dia
tetap menganggapmu sebagai rekan yang berharga!"
"Ya, tentu saja. Kuruto memang orang seperti itu. Dengan kata lain,
dia itu si bodoh yang tidak bisa melakukan hal lain selain itu."
"—Master Kuruto bukan orang bodoh! Beliau
itu, beliau itu...!"
Tinjuku terkepal kuat.
Aku sangat ingin memukulnya, dorongan itu
hampir tak terbendung, tapi—
"Apa tidak apa-apa? Kalau Anda memukulku, bukankah Master Kuruto
kesayangan Anda itu akan marah? Bukankah aku orang yang berharga bagi Kuruto?"
Mendengar itu, aku menurunkan tinjuku.
Bukan karena aku takut dibenci Master Kuruto karena memukul wanita ini.
Tapi karena Master Kuruto pasti akan merasa sedih jika tahu wanita ini
dipukul hanya karena beliau sedang koma.
Setelah aku melepaskan cengkeramanku, Marlefiss merapikan pakaian
biarawatinya.
"......Padahal aku sudah bersiap untuk dipukul. Aku tidak paham kenapa
Anda bisa sebegitu gigihnya demi Kuruto. Yah, masakannya memang luar biasa,
jadi kalau itu tujuan Anda, aku maklum. Atau Anda tipe orang yang tidak suka
kehilangan pion meskipun dia cuma tukang bersih-bersih?"
"Kau tidak akan pernah mengerti seumur
hidupmu."
Kurasa percuma saja berlama-lama di sini.
Namun, tepat saat aku hendak pergi—
"......Dua puluh empat jam."
Marlefiss bergumam lirih.
"Eh?"
"Kuruto terkadang memang jatuh koma. Dia itu putri tidur yang
penyebabnya misterius. Tapi jangan khawatir, dia pasti akan bangun setelah
lewat dua puluh empat jam. Namun, pastikan untuk memberinya minum lewat kendi
setiap delapan jam sekali. Meskipun pingsan, dia masih punya tenaga untuk
menelan air. Kalau tidak, saat bangun nanti tenggorokannya akan sakit."
Dia akan bangun setelah dua puluh empat jam?
Sekarang sudah dua belas jam berlalu sejak Master Kuruto pingsan, berarti
dia akan bangun dua belas jam lagi?
Padahal kami sudah melakukan segala cara tapi dia tidak bangun-bangun?
"Meski sudah membuang Tuhan, aku tidak berniat membuang tugasku
sebagai biarawati. Walaupun mantan rekan, aku tetap khawatir pada Kuruto.
Syukurlah kalau ternyata cuma koma yang seperti biasanya. Mulai sekarang,
berhati-hatilah agar tidak memujinya secara berlebihan."
"Jangan memuji? Apa maksudmu?"
"Bukankah kali ini juga begitu? Selama ini, Kuruto jatuh koma setiap
kali kami atau klien memujinya. Karena itu, di dalam party kami punya
kesepakatan untuk tidak memuji Kuruto secara berlebihan."
"......Begitu...
rupanya."
Pingsan kalau dipuji?
Kali ini, aku baru saja
memberitahu Master Kuruto tentang kemampuannya yang sebenarnya dan betapa semua
orang berterima kasih padanya. Jadi
itukah penyebab beliau pingsan?
Tapi, kenapa?
"Sudah selesai urusannya? Kalau begitu, aku kembali ke sel dulu."
Dia berbalik membelakangiku seolah pembicaraan sudah berakhir.
"Aneh sekali. Kupikir kau akan meminta imbalan atas informasi ini,
tapi kau tidak mengatakan apa-apa?"
"Imbalannya akan kupinta langsung dari Kuruto. Sampaikan itu
padanya."
Dia melirikku sekilas dengan senyum tipis yang sulit ditebak, lalu keluar
melalui pintu di belakangnya.
Sepertinya ini bukan murni demi Master Kuruto, tapi...
Yang jelas, jika perkataannya bisa dipercaya, aku hanya perlu menunggu
setengah hari lagi.
◆◇◆
Waktu hampir menunjukkan dua puluh empat jam sejak Master Kuruto jatuh
koma.
Bukannya aku tidak percaya pada Marlefiss, tapi sejak mendengar ceritanya,
kami tetap mencoba berbagai cara untuk membangunkannya.
Namun hasilnya nihil, seperti yang terlihat dari sosok Master Kuruto yang
masih terlelap di hadapanku.
Akhirnya, satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah sesekali memberinya
minum.
Tadinya kupikir lewat mulut saja (mouth-to-mouth), tapi karena Ophelia-sensei
terus mengawasi di samping, akhirnya aku menggunakan alat minum khusus.
Akuri juga terus ikut merawat Master Kuruto, namun karena kelelahan, dia
akhirnya tertidur di kamarnya bersama Famil-san.
Biasanya Akuri tidak mau tidur dengan siapa pun selain kami, tapi
sepertinya dia mengerti keadaan. Dia anak yang sangat baik.
"Sebentar lagi, ya."
"Ya, benar juga—"
Aku tidak tahu pasti jam berapa Master Kuruto
pingsan.
Tapi kurasa ini sudah mendekati waktu saat
kami berpisah kemarin.
Kalau begitu, seharusnya sebentar lagi—
"—!"
Master Kuruto menggeliat.
"Nng..."
Dia mengerang pelan lalu perlahan bangkit
duduk.
Matanya terbuka sedikit demi sedikit.
"Master Kuruto?!"
"Sepertinya dia sudah
bangun."
"Eh? Are? Are-re?"
Master Kuruto menatap kami dengan pandangan
kosong.
Sosok Master Kuruto yang baru bangun tidur
seperti ini benar-benar pemandangan langka.
Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya,
sepertinya beliau mulai memahami situasi.
"Eh? Ophelia-sama?! Kenapa Anda ada di kamarku?"
"Kau tidak ingat ya... yah, memang tidak mungkin ingat sih. Kau
pingsan di koridor kemarin dan jatuh koma selama sehari penuh."
"Benarkah?! Maafkan aku, aku sudah merepotkan kalian. Sepertinya ini
faktor keturunan. Tubuhku memang agak lemah jadi terkadang aku pingsan.
Akhir-akhir ini tidak pernah terjadi lagi, jadi kukira sudah sembuh."
Master Kuruto berujar dengan nada terkejut
sekaligus merasa bersalah.
Padahal beliau bisa mengangkat barang ratusan
kilo dengan mudah, tapi merasa "tubuhnya lemah", ya.
"Tapi, syukurlah Anda selamat."
"Iya, maaf juga ya sudah merepotkan
Liese-san."
"......Sepertinya lebih baik Master Kuruto
tetap memanggilku 'Liese-san' seperti biasa."
Dipanggil 'Putri Lieselotte' seperti kemarin malah membuatku merasa jauh
dan sedih.
Yah, meskipun aku tetap memanggilnya dengan embel-embel Master, itu karena
rasa hormatku, jadi aku tidak berniat mengubahnya.
Sekarang, asalkan aku bisa membawa pulang Yuri-san yang pergi entah ke mana
sejak kemarin, semuanya akan selesai.
—Ternyata pemikiran itu terlalu naif.
Ucapan Master Kuruto berikutnya menciptakan masalah baru.
"Eh? Apa aku pernah
memanggil Liese-san dengan sebutan lain?"
"......Eh? Master Kuruto, kemarin Anda
memanggilku dengan embel-embel Putri—"
"Benarkah? Ah, tapi Liese-san kan Wakil
Gubernur Valha, jadi memang lebih baik kupanggil Liese-sama ya."
"A-anu, tolong jangan lakukan itu."
......Eh?
Apa yang terjadi?
Padahal kemarin aku sudah memberitahu Master Kuruto bahwa aku adalah putri
ketiga dari kerajaan ini.
Jangan-jangan—
"Master Kuruto, apa yang Anda lakukan sebelum kehilangan
kesadaran?"
"Eh? Kemarin setelah kelas terakhir dengan para murid, aku berpikir
tidak bisa terus mengandalkan sumur, jadi aku membuat desain jembatan air untuk
fasilitas saluran air... Ah! Sepertinya aku pingsan di tengah-tengah
mengerjakan itu."
"......Begitu ya."
Aneh.
Memang benar Master Kuruto membuat desain jembatan untuk mengalirkan air
lezat dari gunung dan menunjukkannya padaku. Tapi itu terjadi dua hari yang
lalu.
Artinya, Master Kuruto tidak punya ingatan di hari beliau pingsan—bukan,
ingatannya hilang sejak saat beliau membuat desain itu sampai saat pingsan.
Kehilangan kesadaran dan kehilangan ingatan tepat setelah aku memberitahu
seluruh kebenaran?
Seolah-olah ada 'sesuatu' yang tidak ingin Master Kuruto mengetahui
kebenarannya.
Tidak, bukan itu. Master Kuruto tadi bilang:
'Sepertinya ini faktor keturunan?'
Itu artinya—
"Apakah orang tuamu juga sering
kehilangan kesadaran?"
Sepertinya Ophelia-sensei memiliki kecurigaan
yang sama denganku, sehingga beliau menanyakan hal itu.
"Iya. Lebih tepatnya, semua orang di
desaku begitu. Yang paling sering bahkan bisa pingsan sebulan sekali."
Ternyata benar—dugaanku tepat.
Selama ini aku merasa aneh. Kenapa Master Kuruto, bahkan seluruh orang di
desanya, tidak ada yang menyadari keanehan mereka sendiri?
Aku dengar desa Master Kuruto sering
dikunjungi pedagang keliling seperti ayah Hildegard-san. Artinya, mereka tidak
benar-benar terisolasi.
Harusnya mereka sadar akan perbedaan antara
diri mereka dengan orang lain saat berbincang—tapi ternyata bukan begitu.
Mereka bukannya tidak sadar. Mereka mungkin
sudah berkali-kali menyadarinya atau diberitahu.
Namun, begitu mereka menyadari atau diberitahu
tentang kenyataan tersebut, tepat saat mereka mengenali kemampuan asli mereka,
mereka akan kehilangan kesadaran sekaligus ingatan.
Mereka dipaksa melupakan bahwa mereka memiliki kekuatan yang tidak wajar.
Fakta bahwa Master Kuruto pingsan jika terlalu banyak dipuji pun
kemungkinan besar karena beliau merasa hanya melakukan hal biasa, namun orang
sekitar memujinya secara berlebihan—dan kesadaran akan
"ketidakwajaran" itulah yang memicu beliau jatuh pingsan.
......Kenapa, kenapa bisa menjadi seperti itu?



Post a Comment