NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 4 Epilog

Epilog


Setelah turun dari gunung, Aku dan Kurumi mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan sebelum akhirnya berpisah.

Lalu hari ini, tepat sehari setelah kualifikasi, Aku datang untuk melihat hasilnya dengan wujud asliku, Yurishia. Karena alat sihir pengubah suara sudah kulepas, suaraku pun kembali menjadi suara perempuan.

Hanya rambut yang tidak bisa kuapa-apakan, jadi Aku melilitkan syal untuk menyembunyikannya... tapi jujur saja, ini panas sekali.

Di sanalah Aku melihat informasi itu—bahwa Aku, tidak, bahwa tim Yura dan Kurumi berhasil lolos kualifikasi sebagai peringkat pertama.

Terlebih lagi, skor kami lebih dari dua kali lipat poin milik tim Ulyil yang berada di posisi kedua.

Apakah Ulyil melaporkan bahan buruan yang dia bawa kabur sebagai milik kami?

Tidak, tetap saja hitungannya tidak masuk akal. Poin yang dilaporkan didapat oleh Ulyil hampir identik dengan poin dari bahan monster yang dia rampas dari kami.

Artinya, dia pasti mengklaim bahan-bahan itu sebagai miliknya sendiri.

Kalau begitu, kenapa?

Mungkinkah Kakak Loretta yang mengaturnya? Sebagai pihak penyelenggara, Kakak Loretta memang punya wewenang untuk memanipulasi poin.

Namun, jika dia tahu Yura adalah Yurishia, meskipun ada kemungkinan dia akan menggangguku, tidak ada alasan baginya untuk membantuku seperti ini.

Bagaimanapun, Aku harus menyamar kembali menjadi Yura dan menemui Kurumi sekali lagi.

Tepat saat Aku memikirkan itu──Aku menemukannya. Kuruto.

Kenapa dia ada di sini?

Sebelum pertanyaan itu sempat terjawab, Aku hampir meneriakkan namanya──

"Kur──"

Aku tersentak, lalu refleks bersembunyi di balik bayangan seorang pria bertubuh besar yang kebetulan berdiri di sana.

Apa yang akan kulakukan kalau bertemu Kuruto sekarang? Apa Aku harus jujur soal situasiku?

Tentang perintah Kakak Loretta—sepupuku—bahwa Aku harus menikah.

Mungkin jika Aku menarik Kuruto ke pihakku, dia bisa menyelesaikan masalahku dengan cara yang melampaui akal sehat manusia—bahkan mungkin cara yang menertawakan logika manusia.

Dengan kekuatannya yang sebenarnya, dia pasti bisa menyelesaikannya dalam sekejap.

Tapi Aku tidak mau. Aku tidak ingin melibatkannya.

Aku tidak ingin Kakak Loretta menyadari betapa tidak normalnya sosok Kuruto itu.

"Aku belum bisa menemuinya sekarang."

Alasan Kuruto berada di sini sudah pasti untuk mencariku dan membawaku pulang. Mungkin dia sedang mencari apakah ada namaku di daftar peserta.

Kalau begitu, daripada diam di tempat mencolok seperti ini, lebih baik Aku segera menyamar jadi Yura dan menemui Kurumi.

Namun, sepertinya Aku sudah terlambat. Di arah tujuanku melarikan diri──

"……!? Liese!"

Putri mesum itu—maksudku Liese—sudah berdiri di sana.

"Lama tidak bertemu, Yuri-san."

Yah, kalau ada Kuruto, tidak aneh jika Liese juga ada.

"……Akuri tidak bersamamu?"

"Akuri sedang dijaga oleh Sina-san. Anda tidak menanyakan keberadaan Kuruto-sama, apakah itu berarti Anda sudah melihat beliau?"

"Aku baru saja menemukannya di sana. Apa dia datang untuk membawaku pulang?"

"Benar. Tapi, situasinya sedikit berubah. Kami sudah bertemu dengan kakak sepupu Anda."

Begitu ya, Liese sudah tahu semuanya. Kalau sudah begitu, mau bagaimana lagi.

Aku pun memutuskan untuk berbicara dengan Liese di sebuah kafe terdekat.

 

Kami berdua menyesap teh.

"Tehnya enak sekali. Selama kita tidak membandingkannya dengan teh buatan Kuruto-sama, tentu saja."

Liese mengatakan hal yang sangat tidak sopan kepada pemilik kedai. Padahal ini teh yang nikmat.

"Kalau skala kepuasan maksimalnya seratus, teh kedai ini setidaknya dapat nilai sembilan puluh. Hanya saja teh buatan Kuruto itu bernilai sepuluh ribu."

"Skala maksimalnya seratus tapi nilainya sepuluh ribu?"

"Apa itu aneh?"

"Tidak, sama sekali tidak. Saya rasa itu penggambaran yang tepat untuk sesuatu yang berbeda dimensi. Sebagai pencuci mulut, silakan ambil ini."

"Ini kue kering yang dipanggang Kuruto-sama untuk saya, hanya untuk saya. Saya berikan satu keping saja untuk Anda."

"Terima kasih banyak."

Tanpa sungkan, Aku menerima kue dari Kuruto itu. Tentu saja rasanya tidak mungkin buruk.

Ini rasa sepuluh ribu dari skala seratus.

Ajaibnya, setelah memakan kue ini, teh kedai yang bernilai sembilan puluh tadi jadi terasa seperti bernilai seratus dua puluh. Kue ini pasti dibuat agar sangat cocok dipadukan dengan teh.

"……Benar-benar enak."

"Syukurlah kalau begitu…… Ngomong-ngomong, Anda masih belum mau melepas syal itu?"

"Leherku agak kedinginan. Jangan dipikirkan."

Liese tampak heran, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut. Percakapan kami terhenti sejenak.

Aku tahu ini tidak akan ada ujungnya jika terus begini, jadi Aku mulai angkat bicara.

"……Liese, sejauh mana kamu tahu soal Kakak Loretta?"

"Agama Spiritualitas, salah satu agama di dunia ini. Saya sudah menyelidiki bahwa beliau adalah petinggi tertinggi di balik layar organisasi itu."

"Kamu sudah tahu sampai sejauh itu?"

Jumlah penganut Agama Spiritualitas memang tidak sebanyak Gereja Pollan tempat Malefis—rekan Kuruto—bernaung. Meski begitu, ini adalah agama raksasa dengan jumlah pengikut mencapai ratusan juta orang.

Dewan Klan adalah pihak yang menyatukan Agama Spiritualitas tersebut, dan Kakak Loretta memegang peran sebagai pemimpin tertinggi di balik layar. Bisa dibilang dia adalah Paus bayangan.

Tentu saja kekuasaannya jauh melampaui Tristan yang merupakan uskup Gereja Pollan, bahkan setara dengan seorang Raja.

Sekalipun Liese menggunakan posisinya sebagai putri raja untuk menjatuhkannya, dia tetap lawan yang sangat merepotkan.

"Lalu, apakah Yuri-san punya rencana? Anda ikut berpartisipasi dalam turnamen ini, kan?"

"……Kamu tahu?"




"Tidak, hasil penyelidikanku pun tidak membuahkan jawaban. Namun, dugaanku tertuju pada peserta bernama 'Mask the Bishojo', mungkinkah itu Yurishia-san yang sedang menyamar? Yah, tidak mungkin juga kalau 'Maid Kamen', kan... tapi tak apa, Anda tidak perlu menjawabnya."

'Mask the Bishojo' dan 'Maid Kamen' adalah peserta yang lolos kualifikasi.

Selain mereka, memang ada peserta lain yang menyembunyikan identitasnya, tapi... ternyata Liese sama sekali tidak menyadari kalau aku sedang menyamar menjadi laki-laki.

Meski agak kesal disalahpahami sebagai wanita dengan nama aneh seperti 'Mask the Bishojo', tapi ini lebih baik daripada ketahuan kalau aku sedang menyamar jadi pria.

"Ngomong-ngomong, soal tim peringkat pertama, Yura dan Kurumi—"

"Buuufffttt!"

Aku refleks menyemburkan teh dari mulutku.

"Memang benar jika dibandingkan dengan teh Kuruto-sama ini rasanya seperti air selokan, tapi tidak perlu sampai disemburkan juga, kan?"

"Bukan begitu, kalau minum air selokan pun aku pasti akan memuntahkannya, tahu."

Aku tidak benar-benar menganggap teh kedai mewah ini sebagai air selokan. Itu sih namanya nilai minus.

"Jadi, ada apa dengan tim Yura-Kurumi?"

"Jika harus bertarung melawan Kurumi-sama, tolong kalahkan dia tanpa melukainya sedikit pun—Yuri-san pasti paham maksudku, kan? Dari aromanya."

"Ya, aku mengerti."

Seorang petarung memiliki kemampuan untuk mencium sesama petarung.

Aroma Kurumi adalah aroma seseorang yang tidak mengenal pertarungan. Dan Liese pasti sudah menyadarinya, bahwa Kurumi adalah anak dari Desa Hust.

Aku sudah menduga bahwa Ulyil adalah anggota Phantom. Jika Liese membahas Kurumi di sini, berarti informasi dari Ulyil sudah sampai ke telinganya.

Lagipula, syukurlah. Karena dia bicara dengan asumsi aku akan bertarung melawan Kurumi, berarti Yurishia-san sedikit pun tidak curiga kalau akulah si Yura itu.

"Ya, aku paham. Ngomong-ngomong, Liese. Aku dengar rumor kalau kamu menyuruh Ulyil merampas semua bahan monster milik Kurumi? Apa itu taktikmu agar Kurumi tidak bisa maju ke babak final?"

"……? Tidak, bukan begitu. Ulyil-san bilang dia justru 'menerima' bahan monster dari petualang bernama Yura. Makanya, Ulyil-san bilang dia membawa bahan-bahan itu—kecuali dahan pohon Trent dan Trent King yang dikalahkan Kurumi-sama—agar mereka berdua punya cukup poin untuk lolos kualifikasi."

"Dahan pohon Trent King—"

Ah, begitu rupanya... eh, JADI BEGITU KEJADIANNYA!?

Jadi dahan pohon yang dibawa Ulyil itu adalah dahan Trent yang dikalahkan Kurumi?

Pantas saja saat Kuruto membawa dahan itu sebagai kayu bakar, para panitia memeriksanya dengan sangat teliti. Ternyata mereka sedang menghitung poin!

Bilang dong dari awal, dasar Ulyil sialan.

Seketika, seluruh tubuhku terasa lemas karena lega sekaligus dongkol.

◆◇◆

Aku, Kuruto, sedang berjalan menyusuri kota dengan wujud laki-laki.

Seiring ditentukannya para peserta yang masuk ke babak final, suasana festival di kota mencapai puncaknya.

Sepertinya aku, atau lebih tepatnya tim Kurumi dan Yura-san, menempati peringkat pertama.

Mungkin karena peserta lain tidak mengumpulkan dahan pohon Trent itu ya.

Di tengah keramaian, yang paling menarik perhatian bukanlah Champ-san dan Ion-san dari "Ogre Bite"... melainkan orang lain.

"Aaah, Yura-sama keren sekali. Dibandingkan beliau, pria lain cuma seperti paprika merah."

"Perumpamaan apa itu? Tapi benar, aku juga ingin dipeluk oleh dada bidangnya yang perkasa itu."

"Yura-sama kan selalu pakai zirah, mana bisa kamu lihat dada bidangnya."

Suara-suara pujian untuk Yura-san terdengar di mana-mana.

Sepertinya Yura-san sangat populer di kalangan wanita.

Yah, aku bisa mengerti sih. Tapi...

"Kurumi-chan benar-benar imut, ya. Aku ingin melindunginya seumur hidup."

"Setuju. Ah, kenapa adikku bukan Kurumi-chan saja ya."

"Kalau adikmu Kurumi-chan, aku pasti bakal memanggilmu Kakak Ipar."

Entah kenapa, aku juga mendengar pembicaraan yang menyebutku imut.

Aneh, padahal kemarin tepat setelah kualifikasi selesai rumornya sudah ada, tapi hari ini suasananya malah makin heboh.

Ada apa sebenarnya?

"Koran grafir lengkap dengan sketsa wajah peserta! Beli sekarang sebelum kehabisan!"

Koran dengan sketsa wajah!?

"Beli satu!"

Aku langsung berteriak ke arah sumber suara tersebut. Setelah membayar, aku menerima koran dari paman penjualnya.

Di sana ada sketsa para pemenang kualifikasi. Gambarnya sangat mirip dengan aslinya.

"Eh?"

Tapi lebih dari itu, aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh perusahaan koran ini.

Pasangan Gadis Cantik dan Pemuda Tampan Misterius, Lolos Kualifikasi sebagai Peringkat Pertama!

Dengan tajuk seperti itu, ilustrasi kami dipajang jauh lebih besar dibanding peserta lainnya.

Aku sendiri tidak tahu bagaimana rupaku, tapi sketsa Yura-san sangat mirip, bahkan bagiku yang laki-laki pun dia terlihat sangat keren.

Begitu ya, gara-gara gambar ini popularitasku dan Yura-san jadi meroket.

Eh, tapi bukan itu tujuanku membeli koran ini.

Melainkan──ada!

"……Purple……-san??"

Aku menatap ilustrasi peserta babak final di koran itu sambil memiringkan kepala.

Hmm, meski orang terkenal seperti Champ-san atau Ion-san digambar besar, peserta lain digambar kecil dan hitam putih jadi agak sulit dipastikan.

Tapi aku yakin orang ini──orang yang sangat mirip dengan Golnova-san yang kutemukan kemarin.

Hanya saja, namanya tertulis sebagai Purple, nama yang sama sekali berbeda.

Lalu partnernya──

"……Maid Kamen-san, ya."

Ternyata ada orang lain selain aku yang ikut dengan pakaian pelayan.

Tapi, wanita bernama Maid Kamen yang digambarkan sebagai partner Purple-san ini rasanya pernah kulihat di suatu tempat.

Sayangnya gambarnya terlalu kecil. Apalagi gambarnya seolah lebih menonjolkan kostum pelayan dan topengnya daripada wajahnya.

"Lho? Topeng ini…… jangan-jangan!?"

Saat aku sedang terpaku menatap gambar itu──

"Kuruto-sama."

"Waaa!"

Aku terperanjat karena tiba-tiba dipanggil. Saat menoleh, ternyata di sana ada Liese-san. Ulyil-san dan Kakaroa-san juga bersamanya.

"Liese-san, maaf aku berteriak kaget."

"Maafkan saya karena mengejutkan Anda."

"Tidak, aku yang salah karena tidak waspada."

"Saya yang salah karena tiba-tiba memanggil."

Kami saling meminta maaf, lalu berakhir dengan tawa kecil. Interaksi seperti ini memang menenangkan hati.

"Kuruto-sama, apa yang sedang Anda lakukan?"

"Aku sedang membaca daftar peserta babak final turnamen bela diri ini. Ah, Ulyil-san, selamat ya sudah lolos ke final."

"Terima kasih."

Ulyil-san mengangguk sopan.

"Lho? Yang lolos ke final bukannya Kuruto-sama juga?"

"………………!"

Mendengar kata-kata tak terduga dari Liese-san, aku langsung melirik Ulyil-san.

Ulyil-san membuang muka dengan canggung, tapi Liese-san justru menggelengkan kepalanya.

"Kuruto-sama. Meski Ulyil-san tidak mengatakannya, saya bisa langsung tahu begitu melihat Anda. Tentu saja, Yuri-san juga sudah menyadarinya."

"Yurishia-san!? Liese-san, apa Anda sudah bertemu dengan Yurishia-san!?"

"Ya, kami sempat mengobrol…… mari kita pindah tempat."

Dipandu oleh Liese-san, kami berpindah ke kamarnya.

Pertama-tama, aku menceritakan alasanku ikut turnamen sebagai Kurumi.

Liese-san sempat memintaku agar tidak melakukan hal berbahaya, tapi setelah aku menggenggam tangannya dan memohon, wajahnya memerah (mungkin dia marah), namun tetap mengangguk setuju.

Berikutnya, Liese-san menjelaskan apa yang terjadi pada Yurishia-san.

Aku merasa lega setelah tahu alasan dia menghilang tiba-tiba bukan karena dia membenci kami.

Tapi, aku tidak suka jika Yurishia-san harus dipaksa menikah.

Jika itu pernikahan yang dia inginkan, aku pasti akan berusaha merayakannya, tapi pernikahan tanpa keinginan sendiri itu salah.

"Ah, kalau kami menang, berarti Yurishia-san tidak perlu menikah, kan?"

"Tidak boleh!"

Liese-san berteriak keras. Aku tersentak sampai hampir menumpahkan teh yang sedang kuseduh.

"Eh?"

"Li-lihat saja! Andaikan Kuruto-sama menang pun, Kuruto-sama sedang menyamar jadi perempuan, jadi yang harus menikah dengannya adalah si Yura itu, kan?"

"Tidak apa-apa kok. Yura-san orang yang sangat baik, kalau aku jelaskan situasinya, dia tidak akan mungkin memaksa menikahi Yurishia-san."

Aku mencoba membela, tapi Liese-san tetap menggeleng.

"Tidak, orang bernama Loretta itu sepertinya akan memaksakan pernikahan itu dengan cara yang sangat agresif."

"Tapi kalau begitu, jika Yurishia-san yang menang, bukankah dia tetap akan dinikahkan dengan partner laki-lakinya?"

"Anda tidak perlu khawatir soal itu. Mengetahui sifatnya, dia pasti sudah menyiapkan sebuah rencana. Misalnya saja, memilih partner laki-laki yang tidak punya kemampuan untuk menghasilkan keturunan."

"Begitu ya, kalau begitu benar, jika mempertimbangkan tujuan Loretta-san, dia tidak akan bisa memaksakan pernikahan itu. Yurishia-san memang luar biasa teliti."

Aku merasa kagum dengan pemikiran mendalam Yurishia-san.

"Lho? Tapi gambar Yurishia-san tidak ada di koran ini?"

"Mana mungkin dia muncul dengan wajah aslinya. Dia pasti sedang menyamar."

"Menyamar?"

Memang banyak wanita yang tidak memperlihatkan wajah mereka di ilustrasi koran. Ada yang memakai topeng, ada pula yang memakai pelindung kepala. Ada kemungkinan Yurishia-san salah satu dari mereka.

Tapi, bagaimana jika aku harus bertarung melawan Yurishia-san? Demi Yurishia-san, aku tidak keberatan jika harus kalah berkali-kali.

Tapi, bagaimana dengan Yura-san? Yura-san yang sudah berjuang bersamaku. Bukankah itu berarti aku mengkhianati dia yang sudah menuruti segala keegoisanku?

"……Kuruto-sama, tehnya tumpah, lho?"

"Eh? U-uwaaaaa!"

Teh yang kuseduh sudah meluap sampai ke piring alas cangkirnya.

"Maaf, aku akan buatkan yang baru segera."

"Jangan khawatir, Kuruto-sama. Sejak zaman kuno, teh memang diminum dengan dituangkan ke piring alasnya seperti itu. Lagipula jika itu teh buatan Kuruto-sama, meski tumpah ke atas meja pun rasanya tetap lebih nikmat daripada air selokan."

"Dibandingkan air selokan itu sama sekali bukan pujian, tahu."

Meski rasanya ingin menangis, aku mulai menyeduh teh kembali. Lalu aku berpikir.

Pertemuanku dengan Yurishia-san adalah sebuah kebetulan.

Dia mau mempekerjakanku saat aku sedang kesulitan mencari pekerjaan.

Dia juga mendukungku yang tidak bisa diandalkan ini saat aku bekerja sebagai wakil Atelier Meister.

Jika Yurishia-san tidak menginginkan pernikahan itu, aku ingin dia memenangkan turnamen ini.

Sambil memikirkan itu, aku mencampurkan tepung gandum, susu, telur, dan gula dalam takaran yang pas.

Karena ini kamar yang disiapkan untuk tamu undangan, semua bahannya berkualitas kelas satu.

Aku bahkan kaget ada persediaan gula. Lalu, aku memanggang kue susu di dalam oven.

"Ah……"

Aku memanggang kuenya kelebihan 0,1 detik.

Aku merasa sangat payah karena melakukan kesalahan yang biasanya tidak pernah kulakukan.

Bahkan di masakan yang kukuasai pun aku bisa gagal, itu membuktikan betapa bimbangnya hatiku sekarang.

"Liese-san, tehnya sudah siap. Lalu, maaf, kuenya agak terlalu matang. Maaf jika tidak sesuai selera."

"Jika itu kue buatan Kuruto-sama, meskipun sudah menjadi arang atau kayu bakar sekalipun, akan saya santap dengan nikmat."

Membuat kayu bakar dari kue kering sepertinya agak sulit, ya?

Bukannya tidak bisa, tapi lebih mudah membuatnya langsung dari pohon.

Pikirku sambil meletakkan piring berisi kue di atas meja.

"Lho? ……Ini terlihat seperti kue artistik biasa……? Rasanya juga…… ya, seperti biasa, satu gigitan saja sudah membuatku serasa melihat taman bunga yang indah."

"Ahaha, aku senang Anda berkata begitu meskipun hanya basa-basi."

Aku menghela napas panjang. Melihat itu, Liese-san bertanya dengan nada khawatir.

"Kuruto-sama, apakah Anda mencemaskan turnamen babak final nanti? Tentang apakah Anda pantas untuk terus berpartisipasi?"

"……!? ……Ahaha, Liese-san memang hebat ya. Iya, benar sekali."

"Jika bertanding membuat Anda menderita, saya bisa bicara dengan panitia pusat untuk mengatur agar partner atlet bernama Yura itu diganti dengan wanita lain. Saya punya cukup kekuasaan untuk itu."

"……Itu"

Jika memikirkan Yura-san, mungkin itu pilihan yang terbaik.

Dibandingkan memiliki partner remaja laki-laki yang tidak punya kekuatan sepertiku, peluangnya untuk menang pasti akan naik drastis.

Lagipula, tujuanku ikut turnamen ini hanyalah untuk mencari Golnova-san yang mungkin ada di antara peserta.

Jika bisa bertemu langsung, aku ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak sempat terucap hari itu, dan juga mengucapkan salam perpisahan dengan layak.

Tapi, tidak ada jaminan bahwa orang yang kulihat itu benar-benar Golnova-san.

Tapi……

"Kuruto-sama, jika belum menemukan jawabannya, Anda tidak perlu terburu-buru. Saya sendiri belum tahu peserta mana yang merupakan Yuri-san. Lagipula, ada kemungkinan Yuri-san kalah sebelum melawan tim Anda, atau sebaliknya. Anda tidak perlu berpikir terlalu dalam."

"Be-benar juga ya."

Memang benar, dengan beban sepertiku, meski Yura-san adalah pendekar pedang yang hebat pun kami tidak akan bisa menang dengan mudah. ……Haa.

"Kuruto-sama jadi makin murung! Aah, padahal aku sudah merencanakan kencan menonton turnamen berdua saja di ruang privat sambil bermesraan daripada membiarkan Kuruto-sama ikut turnamen yang berbahaya, tapi melihat Kuruto-sama seperti ini aku harus bilang apa!"

Liese-san memegangi kepalanya sambil berjongkok. Ternyata dia sudah menyiapkan kursi penonton untukku. Liese-san memang memikirkan banyak hal ya.

Jika partner Yura-san adalah Liese-san dan bukannya aku, pasti Yura-san bisa bertanding tanpa rasa sungkan.

"……Baiklah."

Aku memantapkan hati, mengucapkan terima kasih pada Liese-san, lalu pergi ke luar kota.

Tentu saja masih dalam wujud pelayan. Saat berjalan di kota, banyak orang yang menyapaku.

"Semangat ya di turnamen nanti!", "Kami mendukungmu!", "Aku pasti pergi nonton pertandingannya!", "Jangan sampai terluka ya!", "Jadilah adikku!" dan lain sebagainya.

Sambil berterima kasih pada semua orang yang mendukungku, aku bertanya apakah mereka melihat Yura-san.

Meski tidak tahu keberadaannya, mereka semua membantuku mencarinya.

Tiga jam kemudian.

"Kurumi!"

"Yura-san! Maaf…… anu, kenapa pakai kostum badut?"

Entah kenapa, dari leher ke bawah Yura-san memakai kostum besar. Kostum babi.

"……Ada sedikit alasan. (Aku tidak punya waktu untuk melilitkan perban penyembunyi dada)."

"……Cocok kok."

"Jangan memberiku pujian palsu yang payah begitu."

Yura-san menjawab dengan nada yang benar-benar kesulitan. Ya, aku sendiri pun merasa perumpamaanku barusan agak keterlaluan. Aku menyesal.

"Ngomong-ngomong, ada perlu apa? Kamu mencariku, kan?"

"Iya, sebenarnya soal pertandingan besok……"

Aku menceritakan semuanya pada Yura-san.

Bahwa ada orang yang sangat penting bagiku yang ikut bertanding besok.

Bahwa jika harus melawan orang itu, aku mungkin tidak bisa bertarung dengan sungguh-sungguh.

Dan bahwa lewat koneksi temanku, posisiku sebagai partner bisa digantikan oleh orang lain.

Tentu saja aku tidak menyebutkan nama seperti Yurishia-san atau Liese-san, dan tidak membahas soal pernikahan.

Yura-san mendengarkan ceritaku dalam diam, dan setelah semuanya selesai, dia mengangguk sambil tersenyum.

"Ah, soal itu, bukankah seperti kata temanmu, kamu tidak perlu terburu-buru?"

"Eh?"

"Lagipula, belum tentu kamu benar-benar akan bertarung melawan orang pentingmu itu. Dan jika orang itu memang sepenting yang Kurumi katakan, aku rasa dia justru akan marah jika tahu Kurumi mundur dari pertandingan atau sengaja mengalah hanya karena alasan itu."

"……Ah."

Benar. Seperti kata Yura-san, jika aku melakukan itu, aku pasti akan diceramahi oleh Yurishia-san. Luar biasa. Yura-san hanya dengan mendengar ceritaku saja sudah bisa memahami sifat asli Yurishia-san.

"Lagipula, aku bisa sampai ke tahap ini karena bersamamu, Kurumi. Jika kamu mundur, aku juga akan mundur dari pertandingan."

"……Eh?"

"Lagipula, jika aku bertanding lebih jauh lagi dengan cara curang, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."

Yura-san mengatakannya dengan nada yang terdengar sedikit bersalah. Cara curang?

"Menurutku Yura-san tidak melakukan hal yang curang, kok."

Kalau bicara soal curang, akulah yang curang karena memalsukan jenis kelaminku. Tapi kalau aku membahas itu, pasti akan merepotkan Yura-san.

"Yah, banyak hal yang terjadi. Ngomong-ngomong, orang penting itu, apakah orang yang Kurumi sukai?"

"Iya. Aku menyukainya."

Tentu saja, mana mungkin aku membenci Yurishia-san.

"Ah, begitu ya. Laki-laki yang ingin kamu temui di turnamen ini, ya?"

"Bukan, dia seorang perempuan."

"Yah, membosankan sekali."

Yura-san, jangan-jangan sebenarnya dia suka gosip asmara seperti ini ya?

Ah, bukan. Dia pasti hanya mencoba mencairkan suasana.

……Terima kasih, Yura-san.

Berkatmu, tekadku untuk mundur dari pertandingan tadi sudah hilang, tapi aku punya tekad yang baru.

Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan dengan kekuatanku, tapi aku akan berjuang sekuat tenaga di turnamen babak final nanti.




Previous Chapter | ToC | 

Post a Comment

Post a Comment

close