Chapter 4
Kualifikasi
Sehari setelah mendaftar di turnamen bela diri.
Sama seperti kemarin, aku, Kuruto, menghela napas
sembari bekerja di kedai yang menyatu dengan guild.
Tak disangka, aku malah berakhir ikut turnamen dengan
cara seperti ini.
Sepertinya Yura-san sama sekali tidak menyadari kalau aku
ini laki-laki…… Duh, bagaimana ini?
Kalau dipikir-pikir lagi, ini kan namanya curang.
Soalnya, turnamen ini mewajibkan pesertanya terdiri dari
pasangan laki-laki dan perempuan.
Mau bicara jujur pada Yura-san dan minta ganti pasangan
sekarang pun sudah terlambat karena pendaftaran anggota sudah resmi ditutup.
"Tapi, apa orang yang jadi beban sepertiku
benar-benar bisa lolos sampai ke final?"
Aku kembali menatap selebaran yang berisi garis besar
turnamen tersebut.
Slot untuk babak final hanya tersedia bagi 16
pasangan. Karena enam di antaranya sudah diisi oleh jalur undangan, maka hanya
tersisa 10 slot untuk peserta dari babak kualifikasi.
Saat kami mendaftar, sudah ada 280 pasangan yang
terdaftar, dan kabarnya jumlah akhirnya akan melebihi 300 pasangan.
Artinya, peluang untuk masuk ke babak final hanya
sekitar tiga persen.
Karena kualifikasi hanya dilakukan satu kali, 97 persen
peserta akan gugur di sini.
Bisa dibilang, ini adalah rintangan pertama sekaligus
yang terbesar.
Isi dari kualifikasi tersebut adalah perburuan monster.
Peserta harus menuju gunung yang terletak di bagian
tengah pulau ini, lalu membawa kembali bagian tubuh monster sebagai bukti
pembasmian.
Poin akan diberikan sesuai dengan jenis monsternya, dan
10 besar peraih poin tertinggi akan mendapatkan tiket ke babak final.
Inti utama dari aturan ini adalah poin tidak akan
dihitung jika bukti pembasmian tidak dibawa sampai ke lokasi finis.
Dengan kata lain, selama kamu bisa membawanya ke sana,
kamu tidak harus mengalahkan monster itu sendirian.
Contohnya, jika tanduk Minotaur adalah bukti
pembasmiannya, tidak masalah jika kamu hanya memotong tanduknya lalu kabur.
Bahkan lebih jauh lagi, kamu tidak perlu bertarung dengan
Minotaur; merebut tanduk itu dari peserta lain pun diperbolehkan.
Terdengar seperti kecurangan, tapi bagaimanapun juga, di
babak final nanti pertarungannya adalah manusia lawan manusia.
Untungnya, ada aturan ketat yang melarang membunuh atau
melukai lawan secara parah.
Namun, dengan aturan seperti ini, sepertinya aku bisa
berguna.
Dengan kekuatanku sebagai kurir, aku bisa mengangkut
banyak bukti pembasmian sekaligus.
Kebetulan sekali, saat ini Naigara-san sedang memintaku
membeli tambahan kayu bakar.
"Permisi, tolong beri saya sepuluh ikat kayu
bakar."
Saat aku menyapa di toko kayu bakar, seorang paman
pemilik toko keluar menemuiku.
"Sepuluh ikat? Banyak sekali?"
"Tidak apa-apa, saya kuat membawanya kok."
Apa dia mengkhawatirkanku?
"Bukan begitu, tapi belakangan ini kayu untuk bahan
bakar sedang langka. Kalau bisa, batasnya cuma tiga ikat saja, bagaimana?"
"Begitu ya? Baiklah kalau begitu."
"Maaf ya, Nona Manis."
Nona Manis?
Ah, benar juga, sekarang aku kan sedang menyamar jadi
perempuan. Suaraku pun menggunakan alat sihir pengubah suara. Pantas saja sejak
tadi pandangan orang-orang tertuju padaku.
Aku membayar kayu bakar itu—harganya didiskon cukup
banyak—lalu kembali ke kedai sambil membawa kayu-kayu tersebut. Saat hendak
masuk lewat pintu belakang, aku berpapasan dengan Naigara-san.
"Naigara-san, maaf. Karena kayu sedang langka,
saya cuma bisa beli tiga ikat."
"Begitu
ya…… yah, tidak masalah. Oh iya, Kurumi. Apa kamu mau bekerja di sini
selamanya?"
"Duh, Naigara-san. Jangan menggoda saya terus."
"Tidak, tidak, aku serius lho. Setelah
pakai riasan, kamu jadi makin cantik saja."
Aku ingin menganggapnya candaan, tapi tanpa
sepengetahuanku, katanya sudah ada klub penggemar bahkan sampai ada pasukan
pengawal khusus segala.
Gara-gara itu, sempat ada masalah di mana pelanggan yang
mencoba mencolek bokongku langsung diseret oleh pasukan pengawal itu. Tapi
berkat itu juga, omzet kedai kabarnya naik tiga kali lipat.
"Oh iya, ada tamu yang mencarimu."
"Eh, apa orang yang mau minta tanda tangan
lagi?"
"Bukan, pemuda tampan bernama Yura. Dia menunggumu di luar
guild."
"Yura-san?"
Aku
memang sudah memberitahu Yura-san kalau aku bekerja di sini, tapi ada urusan
apa ya?
"Ya. Karena hari sudah lewat siang, kamu boleh
istirahat."
"Eh? Boleh?"
"Iya. Lagipula kalau 'Kurumi-chan' terus berada di
depan, karyawan lain jadi tidak bisa ambil waktu istirahat karena kedai terlalu
penuh."
"…………? Ah, jadi begitu."
Ternyata pelanggan yang terlalu banyak juga bisa jadi
masalah. Aku membungkuk sopan pada Naigara-san, lalu menuju tempat Yura-san
menunggu.
Begitu keluar dari pintu depan Guild Petualang, aku
menemukan kerumunan orang.
Ternyata itu Yura-san yang sedang dikelilingi oleh banyak
wanita. ……Luar biasa, Yura-san populer sekali ya. Sebagai sesama laki-laki, aku
bahkan tidak merasa iri.
Habisnya, Yura-san memang sangat tampan sampai-sampai aku
yang laki-laki pun rasanya bisa jatuh hati. Saat aku melihat dari kejauhan, Yura-san
menyadari keberadaanku.
"Kurumi!"
Begitu Yura-san memanggil namaku, pandangan para wanita
yang mengelilinginya langsung tertuju padaku. Aku merasa ngeri karena
dipelototi seperti itu.
Namun, setelah menatapku selama beberapa detik, mereka
pergi meninggalkan tempat itu seolah-olah baru saja menyerah pada sesuatu.
"Yura-san populer sekali ya."
"Ah, yah, sepertinya begitu."
Yura-san menunjukkan ekspresi yang agak rumit.
"Tapi kalau soal populer, bukankah Kurumi lebih
hebat? Aku dengar dari pemilik kedai, katanya kamu punya klub penggemar sampai
pasukan pengawal segala. Pemilik kedai bahkan memperingatiku, 'Hati-hati jangan
sampai kamu ditusuk oleh penggemarnya'."
"Hahaha……"
Kalau mereka sampai tahu aku ini sebenarnya laki-laki,
mungkin aku benar-benar akan ditusuk.
"Ngomong-ngomong, Yura-san. Ada keperluan apa hari
ini?"
"Apa lagi? Kualifikasi turnamen kan dimulai besok,
jadi aku berniat menyiapkan perlengkapan untukmu. Kamu tidak mungkin ikut
dengan penampilan seperti itu, kan?"
"Eh? Aku akan ikut dengan baju ini kok."
"……Ya?"
Yura-san bertanya dengan nada tidak percaya. Ah, benar
juga. Yura-san belum menyadarinya.
"Tidak apa-apa kok. Baju ini sudah kuubah untuk mode
tempur kemarin."
"Mode tempur?"
"Iya, mode tempur. Jadi pasti aman."
Mendengar ucapanku, Yura-san berkata dengan nada
merenung.
"……Yah, kaus kakinya panjang dan sepatunya terlihat
nyaman untuk bergerak, mungkin lebih baik tidak usah pakai baju zirah yang
malah bikin berat. Senjata untuk kualifikasi juga akan disediakan oleh panitia,
jadi kita tidak bisa pakai yang lain."
Melihat wajah samping Yura-san yang bergumam dengan suara
netralnya itu, aku merasakan sesuatu yang aneh.
Lho?
Wajah samping Yura-san saat sedang berpikir begini, rasanya mirip dengan
seseorang. ……Kira-kira siapa ya? Cuma perasaanku saja…… mungkin?
"Kalau
begitu, hari ini kita bahas strategi untuk besok saja ya."
"Baik──"
Kami
melihat daftar poin dari bagian tubuh bukti pembasmian yang tercantum dalam
persyaratan turnamen. Kira-kira apa target terbaik untuk pertandingan besok?
"Tanduk
Ogre poinnya cukup tinggi ya. Ah, lalu ada juga Ranting Jari Treant."
Ranting
Jari Treant King bahkan bernilai 30.000 poin.
"Treant
itu sulit dibedakan dengan pohon biasa kecuali mereka menyerang duluan, dan
Ogre tidak bergerak dalam kelompok, jadi kita tidak bisa mengincar poin tinggi
dengan cepat. Target terbaik tetaplah Werewolf yang bergerak dalam kawanan.
Bukti pembasmiannya juga hanya berupa taring, jadi kita bisa membawa banyak
sekaligus."
"Ah……
kalau begitu aku tidak bisa banyak membantu ya."
Di
antara target perburuan juga ada Silver Golem. Jika mengincar itu, aku bisa
mencongkel inti sarinya.
Tapi
karena Silver Golem sangat rapuh namun poinnya entah kenapa tinggi, pasti
banyak orang yang akan mengincarnya, makanya aku tidak menyebutkannya.
Yura-san
hebat ya, bisa membidik musuh kuat yang jarang dilirik orang.
"Jangan dipikirkan. Kamu mau berpartisipasi saja
sudah sangat membantuku kok."
Yura-san tersenyum lebar hingga memperlihatkan
deretan gigi putihnya.
Entah kenapa ya? Biasanya kalau dirayu pria aku akan
merasa merinding, tapi kalau Yura-san yang bicara, rasanya malah tenang.
Diskusi berlanjut, dan kami memutuskan untuk tidur
lebih awal demi mempersiapkan diri untuk besok. Akhirnya, turnamen bela diri
akan segera dimulai.
◆◇◆
"Liese-san, sarapannya sudah siap."
Pagi di hari turnamen pun sama seperti hari-hari
sebelumnya, Kuruto-sama memasak untukku.
Benar, hanya untukku. Memang beliau juga memasak untuk
Yurail-san dan Kakaroa-san, tapi karena mereka adalah orang yang kusewa,
berarti memasak untuk mereka juga termasuk bentuk pelayanan untukku.
Setelah selesai makan bersama, Kuruto-sama berdiri dari
kursinya.
"Kalau begitu, saya berangkat dulu ya,
Liese-san."
"Selamat jalan, Kuruto-sama."
Aku pun menyerahkan tas kepada Kuruto-sama.
"Terima kasih. Sepertinya hari ini saya akan pulang
terlambat, jadi untuk makan malam tolong urus di penginapan saja ya."
Aku melepas kepergian Kuruto-sama yang tersenyum ceria.
Namun……
sejujurnya aku tidak mau melepasnya.
Aku ingin ikut bersamanya.
Aku sudah menerima laporan mengenai Kuruto-sama dari
Kakaroa-san.
Katanya, saat ini Kuruto-sama menggunakan nama Kurumi,
menyamar jadi perempuan, dan bekerja sebagai pelayan kedai.
Dan meskipun beliau tidak mengatakannya pada kami, beliau
akan ikut turnamen bela diri dengan penampilan tersebut.
Hal
seperti itu…… hal seperti itu……
"Sudah
pasti beliau akan terlihat sangat cantik!"
Hanya
dengan membayangkannya saja, darah segar langsung mengucur deras dari hidungku.
Ah,
gawat, Kuruto-sama dengan seragam pelayan…… betapa indahnya itu?
Padahal
aku sudah bertekad bahwa jika aku berhenti jadi putri, pilihanku hanyalah
menjadi pelayan pribadi Kuruto-sama, tapi aku tidak menyangka akan sampai
gemetaran membayangkan Kuruto-sama yang malah jadi pelayan.
Setelah selesai dengan histeriaku, aku bertanya pada
Kakaroa-san.
"Lalu, apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang
pria bernama Yura itu?"
"Maaf, tidak ada informasi apa pun. Saya sudah
mencoba membuntutinya beberapa kali, tapi setelah beberapa saat saya pasti
kehilangan jejaknya."
"Lagi? Kalau terjadi berkali-kali begini, berarti
bukan kebetulan. Sepertinya dia sadar sedang dikuntit."
Aku meminta Kakaroa-san dan Yurail-san untuk mengawasi Kuruto-sama.
Mereka adalah ahli dalam teknik Stealth yang
paling mumpuni di antara para Phantom.
Jika mereka berdua sampai ketahuan, berarti kemampuan
pria bernama Yura itu setara dengan Yurishia-san, atau mungkin lebih tinggi.
Aneh sekali, kenapa Kuruto-sama memutuskan untuk ikut
turnamen bela diri?
Aku ingin bertanya langsung, tapi karena Kuruto-sama
memilih diam, aku juga tidak bisa lancang mencampuri urusannya.
Selagi aku merenung, Kakaroa-san melanjutkan laporannya.
"Namun, reputasinya di kalangan wanita sangat baik.
Dia juga sangat ramah pada orang tua. Jika melihat nenek-nenek membawa barang
berat, dia akan membantunya. Jika ada anak hilang, dia akan mencari orang
tuanya."
"Apa-apaan pemuda teladan seperti itu──!? Kalau
terlalu sempurna malah jadi mencurigakan."
"Benar, kemampuan bela dirinya juga luar biasa. Saya
mencoba menyewa beberapa preman lokal untuk mengganggunya, tapi dengan teknik Grappling,
mereka semua dilumpuhkan seketika. Katanya, saat dikalahkan, tercium aroma yang
sangat harum darinya."
"Kalau sesempurna itu, dia adalah tipe pria yang
paling tidak ingin kujadikan teman jika aku laki-laki. Pasti dia sengaja
bersikap baik begitu cuma untuk tebar pesona pada wanita. Pakai parfum padahal
laki-laki juga sangat menyebalkan."
"Bukankah Kuruto-sama juga selalu menolong orang
yang kesulitan dan selalu berbau harum?"
"Diam kamu."
Aku menolak telak pernyataan Kakaroa-san.
Kuruto-sama bersikap baik itu tulus dari lubuk hati tanpa
ada maksud tersembunyi, dan bau harum beliau itu berasal dari sabun.
Aku dan Yurishia-san juga memakai sabun yang sama, tidak
mengandung zat tidak menyenangkan seperti parfum.
"Lagipula, parfum pria itu kan gunanya untuk
menutupi bau badan. Si Yura itu pasti bau badannya parah sekali."
"Prasangka yang luar biasa ya…… Tuan Putri, apakah
Anda merasa cemburu bahkan pada sesama laki-laki?"
"Bukan cemburu. Aku cuma punya niat membunuh karena
dia bisa menghabiskan waktu 24 jam bersama Kuruto-sama yang sedang menyamar
jadi perempuan."
"Bahkan levelnya sudah bukan kebencian lagi
ya."
Kakaroa-san menghela napas.
"Baiklah, Kakaroa-san, sisanya kuserahkan padamu. Selama kualifikasi, aku akan menunggu dengan tenang di ruang VIP."
"Baik……
Ah, lalu soal Cicci-san."
"
Cicci-san?"
Hmm,
apa aku pernah kenal orang dengan nama itu? Setelah berpikir sejenak, aku baru
sadar. Benar juga, dia kan ikut berpartisipasi. Aku sampai lupa total.
"Ada
apa dengannya?"
"Saya
sudah mendapatkan daftar nama peserta turnamen bela diri, tapi namanya tidak
ada."
"Eh?"
Tanpa
bertanya bagaimana dia mendapatkan daftar itu, aku menerima tumpukan kertas
tersebut.
Aku menemukan nama Kurumi—nama samaran Kuruto-sama—hanya
dalam satu detik, tapi meski kucari selama lima menit, nama Cicci tidak ada di
mana pun.
Apa dia pakai nama samaran juga?
Tidak, malah ada kemungkinan nama Cicci itulah yang
sebenarnya nama samaran. Yah, tidak penting juga sih.
Masalah utamanya tetap ada pada Kuruto-sama.
Kualifikasi adalah perburuan monster.
Meskipun ada aturan dilarang saling membunuh
antarpeserta, tentu monster tidak peduli soal itu.
Karena itu, hampir setiap tahun selalu ada korban jiwa.
Mungkin karena ada peserta yang terlalu percaya diri dan
nekat melawan monster berbahaya demi membalikkan keadaan.
Jika kemampuan Yura-san memang hebat, harusnya Kuruto-sama
tidak akan dalam bahaya.
Namun, untuk berjaga-jaga, Yurail-san dan yang lainnya
sudah bersiaga untuk menyusup dan menolong jika terjadi sesuatu.
"Baiklah, mari selesaikan pekerjaanku sendiri."
Dengan tekad bulat, aku beranjak dari kursi.
◆◇◆
Kualifikasi turnamen bela diri akhirnya dimulai.
Aku mengedarkan pandangan berharap bisa menemukan Golnova-san,
tapi dia tidak terlihat sama sekali.
"Kurumi-chan, aku mendukungmu!"
"Semangat ya, Kurumi-chan!"
Malah, yang ada cuma para pengemarku.
Sejak kapan jumlah mereka jadi sebanyak ini ya?
Padahal menurutku masih banyak gadis cantik lainnya.
Selain
itu, Cicci-san juga tidak terlihat.
Yah,
mungkin lebih baik kalau aku tidak bertemu dengannya.
Aku benar-benar tidak ingin dia melihat penampilanku
yang sekarang.
Aku ingin mencari Golnova-san sedikit lebih lama
lagi, tapi aku tidak boleh terlambat bertemu dengan Yura-san, jadi aku pun
bergegas menuju titik kumpul.
Yura-san segera menemukanku di depan patung prajurit
yang menjadi titik temu kami.
"Kau datang juga, Kurumi."
Yura-san sepertinya juga langsung menemukanku. Dia
menyapa dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Maaf, apa saya membuat Anda menunggu lama? Tadi
saya sempat mencari kenalan sebentar."
"Tidak, waktu perjanjian kita masih cukup lama, jadi
jangan dipikirkan. Lalu, apa kau menemukannya?"
"Tidak, mereka tidak ada. Mungkin mereka belum
datang, atau seperti kata Yura-san, mereka mendapatkan hak istimewa untuk
langsung ke babak final karena mereka sangat kuat."
Golnova-san
dan Cicci-san memang sangat kuat. Rasanya tidak sopan membandingkan diriku yang
sangat lemah ini dengan mereka.
Jika
aku ini diibaratkan Mithril Golem, mereka berdua setidaknya sekuat Ogre.
"Begitu ya. Kalau begitu, kita tidak boleh kalah di
kualifikasi ini."
"Tentu!"
"Kalau begitu, mari kita pergi memilih
senjata."
Atas ajakan Yura-san, kami menuju tempat peminjaman
senjata. Di turnamen ini, peserta dilarang menggunakan senjata pribadi dan
wajib meminjam dari panitia.
Jenis senjatanya sangat beragam. Bahkan ada yang unik
seperti Sansetsukon, tiga batang kayu yang dihubungkan dengan rantai.
Karena hampir semua senjata ini adalah hasil cetakan
masal, tidak ada istilah "pedang legendaris tersembunyi", jadi tidak
ada keuntungan bagi mereka yang datang lebih awal.
Meski begitu, tempat peminjaman tetap padat karena para
peserta butuh waktu untuk mengasah atau membiasakan diri dengan senjata
tersebut.
Omong-omong, setiap orang diperbolehkan membawa hingga
dua jenis senjata.
"Yura-san sendiri mau pakai senjata apa?"
"Aku berencana menggunakan pedang. Sebagai senjata
cadangan, aku akan meminjam belati. Kurumi, apa kau bisa menggunakan busur atau
ketapel?"
"Iya, saya bisa menggunakannya!"
"Ho, kalau begitu aku bisa mengharapkan bantuan
serangan jarak jauh darimu. Mari pilih busur dan anak panah."
"Tapi, saya tidak pernah berhasil mengenai monster
yang saya incar."
"Kalau begitu namanya tidak bisa pakai! Jangan pernah sentuh busur
itu."
Yah, ternyata memang tidak boleh. Kalau cuma
menjatuhkan apel dari pohon, aku bisa melakukannya dengan akurasi seratus
persen, tapi kalau lawannya monster yang bergerak, entah kenapa selalu tidak
kena.
"Bagaimana dengan belati? Aku ingin kau
membantuku membedah hasil buruan."
"Ah, kalau belati saya bisa! Karena setiap hari saya
memasak!"
"Benar juga, kau kan bekerja di kedai. Meski
memasak dan membedah monster itu berbeda jauh, aku akan minta bantuanmu
nanti."
Belati adalah yang paling biasa kugunakan, jadi
kurasa aku tidak akan merepotkannya. Begitu senjata ditentukan, kami
akhirnya bisa masuk ke area peminjaman.
Pedang tetap menjadi yang paling populer karena jenisnya
banyak dan mudah digunakan. Sebaliknya, area belati tampak
sepi.
"Kurumi, aku akan mengambil pedang dulu. Tolong
pilihkan dua belati dan tunggulah di luar."
"Baik."
Yura-san menghilang ke tengah kerumunan untuk
mengambil pedang, sementara aku menuju deretan belati. Karena sepi, aku bisa
langsung mendapatkan dua belati besi.
Awalnya aku berniat langsung keluar menunggu Yura-san,
tapi kemudian──
"Ah, ini──"
Aku mengambil senjata itu.
Yura-san kembali.
"Kurumi, apa belatinya sudah── tunggu, apa yang
kau panggul itu?"
"Ini Kapak Besar."
"Aku juga tahu itu kapak. Maksudku, kenapa kau
yang membawanya?"
"Saya pikir ini berguna untuk mematahkan tanduk
monster. Lagi pula, saya sudah terbiasa memakainya."
Kapak Besar sangat berguna saat menebang pohon.
Alat ini bisa merobohkan batang kayu jauh lebih cepat
daripada kapak tangan biasa.
"Apa tidak berat?"
"Entah kenapa, rasanya sangat ringan."
Mendengar
itu, Yura-san meminta izin untuk memegangnya.
Aku pun menyerahkannya dengan senang hati.
Begitu memegang kapak itu, butiran keringat langsung
muncul di dahi Yura-san.
"Kurumi, ini benar-benar tidak berat
bagimu?"
"Iya, lihat ini."
Aku mengambil kembali kapak itu dari tangan Yura-san
dan mengayunkannya naik-turun. Memang ukurannya besar, tapi beratnya paling
cuma sekitar 30 kilogram. Masih sangat ringan untuk dibawa-bawa.
"Bo-bohong, kan? Gadis itu mengangkat Kapak
Besar seperti mengangkat kapas."
"Padahal wajahnya imut begitu, apa orang tuanya
seekor Ogre?"
"Celah antara penampilan dan kekuatannya bikin
gemas!"
Terdengar bisikan-bisikan dari orang sekitar.
"Anu……
apa Kapak Besar dilarang digunakan di turnamen?"
"Ti-tidak. Selama kau tidak merasa berat, tidak
masalah…… Aku merasa sudah cukup tahu kalau penampilan itu menipu,
tapi kau tetap membuatku terkejut. Kalau aku tidak bertemu 'anak itu', mungkin
aku akan melongo keheranan sekarang."
"Anak itu? Siapa maksud Anda?"
"Seseorang yang sangat berharga bagiku."
Yura-san menjawab dengan tatapan yang menerawang jauh.
"……Ah, benar juga. Karena lokasi kualifikasi kali
ini adalah gunung, sepertinya pelindung tubuhmu yang sekarang sudah
cukup."
"Kali ini?"
Aku memiringkan kepala, dan Yura-san mengangguk.
"Lokasi turnamen berganti setiap tahun antara gunung
dan laut. Tahun lalu laut, tahun ini gunung."
"Heh. Yura-san lebih suka yang mana?"
"Entahlah, aku── aku pribadi bersyukur tahun ini di
gunung. Kalau di laut, mau tidak mau kita harus masuk ke air…… riasanku bisa
luntur."
Yura-san bergumam pelan soal riasan. Benar juga, Yura-san
ini tipe pria yang jarang ditemui karena dia memakai riasan wajah.
Memang pria hebat itu seleranya beda ya. Yah, aku juga
pakai riasan sih, meski alasannya sangat berbeda.
"Kurumi sendiri lebih suka yang mana?"
"Saya juga lebih suka gunung. Rasanya malu kalau
harus ganti baju renang."
Kalau aku pakai baju renang, identitasku sebagai
laki-laki bisa terbongkar.
"Syukurlah kita di gunung."
Saat aku tersenyum dan mengatakan itu, tiba-tiba
terdengar suara serempak dari sekeliling.
"""Kami lebih suka
laut……"""
Suara itu berasal dari sekumpulan laki-laki.
Eh? Apa laut memang sepopuler itu?
Dan entah kenapa, rasanya mereka semua sedang menatap ke
arahku?
"""Kami lebih suka
laut……"""
Ah, tidak, mungkin cuma perasaanku saja. Para wanita juga
sedang melihat ke sini kok, jadi bukan cuma laki-laki. Meski sepertinya mereka
lebih melihat ke arah Yura-san sih.
"Kurumi, meskipun tahun ini di laut, ini bukan
sedang bermain-main jadi kita tidak akan ganti baju renang. Banyak juga peserta
yang menceburkan diri tetap dengan baju zirah mereka."
"Ah, benar juga. Kalau begitu meskipun di laut, saya
akan tetap pakai baju ini."
Aku menghela napas lega.
"""Cih!"""
Rasanya aku mendengar suara decakan lidah yang sangat
jelas, tapi mungkin itu juga cuma perasaanku saja, kan?
"Ngomong-ngomong, kenapa kualifikasi turnamen ini
harus berburu monster?"
"Ah, di pulau ini ada dua Dungeon, satu di gunung
dan satu di laut. Tempat itu menjadi area latihan bagi para petualang dan
ksatria, sekaligus sumber penghasilan dari material monster. Masalahnya,
kecepatan monster muncul di sana sangat tinggi, jadi setiap dua tahun sekali
harus dilakukan pembasmian skala besar. Karena itu, mereka sekalian
menjadikannya acara festival.
Petualang akan menuju dasar Dungeon dan menyalakan dupa
yang dibenci monster agar mereka keluar ke permukaan. Di sanalah para peserta
turnamen membasmi mereka.
Hadiah pembasmian dari guild petualang semuanya dijadikan
hadiah bagi pemenang turnamen.
Pemenang pertama akan mendapat 500 keping emas──jumlah
yang cukup untuk hidup santai seumur hidup. Juara kedua pun mendapat 100 keping
emas."
Sebagai catatan, juara keempat mendapat 30 keping emas,
dan juara kedelapan mendapat 10 keping emas.
Namun, semua itu hanyalah hadiah tambahan. Hadiah
sebenarnya adalah kehormatan.
Katanya, hanya dengan berhasil masuk ke babak final saja,
seseorang sudah dianggap setara dengan petualang Rank A.
Yah, masuk 16 besar dari seluruh dunia memang pencapaian
yang luar biasa.
Bahkan, pemenangnya bisa diangkat menjadi bangsawan
di negara ini.
"Tapi karena keuntungannya sebesar itu, banyak
orang yang akan menghalalkan segala cara untuk lolos ke final. Jangan sampai
lengah."
"B-baik!"
Benar juga, aku pernah dengar kalau di dunia ini
banyak orang jahat.
Karena orang-orang yang kutemui sejauh ini semuanya
baik, aku hampir saja melupakannya.
Tapi ini benar-benar sebuah keberuntungan, bukan?
Mengingat ada juga orang yang tega mengutuk
Liese-san…… meski itu cuma kutukan ringan yang bisa kuhapus dengan
mudah.
Karena masih ada waktu sebelum kualifikasi dimulai, kami
memutuskan untuk merawat senjata.
"Apa kau mau aku asah sekalian belatimu,
Kurumi?"
"Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa merawat
senjata."
"Ah, benar juga. Kalau bekerja di restoran, kau
pasti sering mengasah pisau dapur."
Yura-san tersenyum ceria. Padahal yang kuasah bukan cuma
pisau dapur, tapi juga pedang dan anak panah.
"Apa saya asah sekalian senjata milik Yura-san?"
"Tidak usah. Aku membawa batu asahku sendiri…… Ah,
boleh aku pergi sebentar?"
"Tentu saja! Kalau begitu saya akan pergi mengasah
sebentar. Yura-san istirahat saja dulu!"
Aku berlari kecil menuju area perawatan senjata.
Banyak orang sedang merawat pedang mereka, jadi aku
memutuskan untuk memakai batu asah yang disediakan panitia dan menyelesaikannya
dengan cepat.
Sangat cepat──
"Selesai."
Aku kembali memanggul kapakku dan menyarungkan belatiku.
"Sudah selesai, Nona? Kau bahkan belum mengasahnya
selama lima detik. Mana mungkin ada hasilnya kalau begitu."
Seorang pria pendekar pedang yang memperhatikanku menyapa
dengan nada heran.
"Bagaimana? Mau kubantu mengasahnya?"
"Tidak perlu, sudah selesai kok. Kalau terlalu lama
diasah, nanti matanya malah jadi rapuh."
"Tapi ada batasnya juga kali. Begitu saja mana
mungkin bisa memotong apa pun."
"Tidak apa-apa kok── anu, boleh saya minta
ini?"
Aku menemukan batu asah di depan meja pendaftaran yang
sepertinya sudah mau dibuang, lalu meminta izin pada mbak petugas untuk
membawanya.
Aku melempar batu asah itu ke atas, dan sebelum benda itu
jatuh ke tanah, aku menebasnya berkali-kali dengan belatiku.
Lalu──
"Lihat, terpotong dengan rapi kan?"
Aku menyerahkan batu asah yang kini sudah berubah
bentuk menjadi bunga mawar kepada pria itu.
"Ter……
potong…… eh? Eh? Ehhhhhhh!?"
Pria
itu berteriak kencang, menatapku dan batu asah berbentuk mawar itu bergantian
dengan wajah syok.
◆◇◆
Selagi
Kurumi merawat senjata, aku, Yurishia, sedang beristirahat sendirian di ruang
tunggu pribadi.
"……Ugh, ya ampun. Ternyata menyamar jadi laki-laki
itu melelahkan sekali."
Karena leherku terasa tercekik, aku melepas alat sihir
pengubah suara. Suaraku pun kembali ke suara asliku yang biasa.
Aku merasa agak menyedihkan karena suara pertama yang
kukeluarkan setelah sekian lama malah berupa keluhan.
Ada tiga hal utama yang membuatku tersiksa.
Pertama, dadaku terasa sesak. Bukan hanya karena dililit
perban, tapi juga karena ditekan oleh baju zirah.
Penderitaan ini tidak bisa dilepaskan bahkan saat
istirahat, karena melilitkan perban itu butuh waktu puluhan menit, dan
perbannya sendiri sepertinya sudah hampir robek.
Aku menyesal
kenapa tidak menyiapkan perlengkapan yang lebih layak.
Kedua, entah kenapa aku terus-menerus disapa oleh para
wanita.
Saat melihat bayanganku di cermin logam, aku akui
penampilanku memang lebih keren daripada pria kebanyakan…… meski itu sama
sekali bukan seleraku.
Tapi, diajak bicara secara tiba-tiba oleh orang asing itu
benar-benar melelahkan.
Rasanya semua wanita di sini jadi terlihat seperti Liese.
Meskipun aku sendiri perempuan, aku bisa-bisa kena fobia
wanita.
Dan yang terakhir, ini yang paling berat.
Rasanya sangat menyakitkan karena aku harus berbohong
pada gadis bernama Kurumi itu.
Tujuan Kurumi adalah bertemu kenalannya yang mungkin
ikut di babak final.
Membohongi anak yang begitu murni dan baik hati itu……
membuatku merasa berdosa, seolah-olah aku sedang menipu Kuruto atau Akuri.
"…………!"
Tiba-tiba aku merasakan keberadaan seseorang.
Aku segera memasang alat pengubah suara dan keluar.
Aku menatap ke arah sumber hawa keberadaan itu, tapi
sepertinya orang itu sudah pergi setelah menyadari aku menyadari kehadirannya.
Hebat sekali. Kemampuan tingkat Phantom…… Jika benar,
kemungkinan besar dia adalah bawahan Kakak Loretta.
Apa mereka sedang mencari keberadaanku?
Jika identitas Yura terbongkar sebagai Yurishia, mereka
pasti akan menghentikanku sebelum kualifikasi dimulai.
Sejauh ini sepertinya mereka belum sadar. Aku harus
memastikan gaya pedang dan gaya bicaraku tidak membocorkan identitas asliku.
Aku menyesal kenapa tidak memakai kata ganti
"Watashi" saja dari awal…… tapi kalau pakai itu, aku takut gaya
bicaraku malah kembali seperti biasanya, jadi kurasa pilihan ini sudah benar.
Pokoknya, aku harus sebisa mungkin tidak menarik
perhatian.
Meski sepertinya itu sudah terlambat karena partnerku
adalah gadis cantik seperti Kurumi.
Yah, sebentar lagi kualifikasi akan dimulai, para peserta
pasti sudah berkumpul di lokasi upacara pembukaan.
Saat aku berpikir demikian, aku melihat kerumunan peserta
berkumpul di satu titik.
Ada apa? Apa ada perkelahian?
Biasanya sebelum turnamen dimulai, perkelahian
antarpeserta sering terjadi dan menarik penonton.
Daripada melihat hal membosankan seperti itu, lebih baik
aku mencari Kurumi── tapi ternyata, tempat yang kami janjikan untuk bertemu
tepat berada di tengah kerumunan itu.
Jangan-jangan, Kurumi sedang diganggu!?
"Bagus, Kurumi-chan!"
Sorakan yang bergema dari tengah kerumunan itu
membuat kekhawatiranku meledak.
"Kurumi!? Hei, permisi, beri jalan!"
Aku menerobos masuk ke tengah kerumunan. Dan
pemandangan yang kulihat adalah──
"Ini dia, Kurumi-chan!"
"Baik, silakan!"
Seorang pria melempar potongan kayu, dan Kurumi
dengan gerakan belati yang nyaris tak terlihat oleh mata menebas kayu itu di
udara.
Benar-benar sangat cepat! Bahkan aku pun sulit
menangkap gerakannya.
Sesaat kemudian, potongan kayu itu sudah berubah
menjadi hiasan bunga yang indah.
"Luar biasa, Kurumi-chan!"
"Kau benar-benar jenius!"
"Imut sekali, menikahlah denganku!"
Sorakan pujian membahana dari penonton.
Seorang pria yang melamar Kurumi langsung diseret pergi
oleh orang-orang di sekitarnya, aku sempat mendengar suara jeritan tapi
kuputuskan untuk mengabaikannya.
Kemudian, para penonton melemparkan koin ke dalam kotak
kayu di depan Kurumi.
Memang tidak ada koin emas, tapi koin peraknya cukup
banyak hingga terkumpul jumlah yang lumayan.
"Ah, Yura-san!"
"……Kurumi, apa yang sedang kau lakukan?"
"Ini, tadi sambil menunggu Yura-san datang, saya
bekerja sebentar dengan Saagi-san. Karena para peserta turnamen terlihat tegang
dan emosional, beliau meminta saya membuatkan bunga kayu untuk menenangkan
mereka."
"Begitu ya── lalu uang ini untuk apa?"
"Katanya semuanya akan disumbangkan ke panti
asuhan."
Panti asuhan, ya……
Aku menatap tajam pria bernama Saagi yang berdiri di
samping Kurumi. Saagi langsung membuang muka dariku.
Sudah kuduga, soal sumbangan itu pasti bohong dan dia
berniat mengantongi uangnya sendiri.
"Begitu ya. Kalau begitu biar kuserahkan uang
ini ke panitia pusat saja."
"Lho, tunggu sebentar──"
"Tidak masalah, kan? Sebagian keuntungan
turnamen ini memang sejak awal akan disumbangkan ke panti asuhan di pulau ini.
Kita tinggal menambahkannya saja. Bukan hal yang sulit, kan?"
Aku mengambil kotak berisi uang itu, lalu menarik
tangan Kurumi menuju markas panitia.
Di tengah jalan, aku bertanya padanya.
"Kurumi, apakah kau sebenarnya sangat hebat dalam
bela diri?"
"Entahlah, saya cuma sedikit ahli dalam membuat
kerajinan kayu sederhana."
"Sederhana
katamu…… gerakan belatimu tadi itu tidak normal, tahu?"
"Masa
sih? Menurut saya sudah biasa kalau dalam proses kerja, satu orang melempar
kayu dan satu lagi mengukirnya dengan belati."
"Apanya
yang biasa── hmm?"
Tunggu,
apa yang baru saja Kurumi katakan?
"Sudah biasa"?
Perasaan akrab ini…… jangan-jangan identitas asli Kurumi
adalah……
"Ah, Yura-san."
Kurumi tersenyum manis dan menyerahkan ukiran kayu yang
baru saja dibuatnya padaku. Proses dari belati menyentuh kayu hanya memakan
waktu sekitar satu detik.
Jika dibandingkan dengan ukiran yang sering dibuat Kuruto
di bengkelnya, ini terlihat agak kasar, tapi jika dilihat secara objektif, ini
adalah karya yang sangat berkualitas.
"Mungkin agak aneh memberikan bunga pada laki-laki,
tapi ini hadiah dari saya."
"A……
ah…… terima kasih."
Aku menerima bunga itu sambil terus berpikir. Mungkinkah──
mungkinkah identitas asli Kurumi adalah……?
Meski kecurigaanku makin dalam, upacara pembukaan pun
dimulai.
Di atas panggung pengumuman, berdiri seorang pria
berambut pirang dengan wajah tegas mengenakan zirah Full Plate yang
hanya melepas helmnya, didampingi seorang wanita dengan riasan mata ungu yang
juga memakai zirah serupa.
Senjata
mereka masing-masing adalah Greatsword dan Longsword.
Mereka
adalah pasangan pemenang tahun lalu, "Ogre Bite", yang terdiri dari
Champ dan Ion.
Pasangan
petualang papan atas ini bukan hanya terkenal karena kekuatannya, tapi juga
sebagai pasangan suami istri harmonis yang sering memberikan ceramah di
berbagai belahan dunia.
Omong-omong,
mereka mendapatkan hak istimewa untuk langsung ke babak final dan pastinya
menjadi kandidat kuat juara tahun ini.
Sebenarnya
jika tim ini menang, tidak mungkin Champ yang sudah beristri akan dinikahkan
denganku…… tapi jika Kakak Loretta yang bertindak, menceraikan pasangan
harmonis itu pasti hal yang sangat mudah baginya.
Apalagi
reputasi Champ sebagai pria hidung belang sudah cukup rahasia umum di kalangan
tertentu, jadi pernikahan paksa itu pasti akan terjadi.
"…………Keren
sekali ya."
Kurumi
menggumam dengan wajah memerah saat melihat kedua orang itu memberikan
deklarasi pembukaan.
Apa Kurumi suka tipe petualang seperti itu?
Yah, jika hanya melihat penampilan dan pencapaiannya
saja, mereka memang persis seperti pahlawan dalam lagu-lagu penyair.
Hmm, apa anak ini ternyata tipe yang mudah kagum pada
selebritas?
"Aku sangat mengagumi Buster Sword."
Ternyata salah, dia cuma penggila pedang.
Mengingat dia bisa memanggul kapak raksasa, pedang besar
sepertinya bukan masalah bagi kekuatannya──ah, tapi kalau Kurumi yang mungil
itu memakainya, pedangnya pasti terseret di tanah. Kurumi yang seperti itu
pasti imut juga.
Tunggu, apa yang aku pikirkan sih, padahal kualifikasi
akan segera dimulai. Aku menepuk pipiku sendiri untuk mengembalikan fokus.
"Yura-san juga jadi makin bersemangat ya setelah
mendengar deklarasi tadi. Ceritanya memang sangat menyentuh."
Kurumi mengepalkan tangan kecilnya di depan dadanya yang
rata.
"Eh?
A-ah, iya benar."
Jujur
saja, aku sama sekali tidak mendengarkan deklarasi mereka. Aku bahkan baru
sadar kalau pasangan Ogre Bite itu sudah turun dari panggung.
Memangnya mereka bicara apa tadi?
Paling-paling
cuma cerita klise tentang 'Busur Kepios' atau 'Goblin Ranatona'.
"Aku
jadi berpikir, kalau sudah besar nanti aku ingin merawat kumis kucing setiap
hari. Petualang selevel Yura-san pasti memasukkan garam ke dalam teh tapi tidak
meminumnya setetes pun, kan?"
……Deklarasi macam apa sebenarnya yang mereka sampaikan
tadi? Aku sempat menyesal tidak mendengarkan, tapi sekarang
aku malah bersyukur tidak mendengarnya.
Upacara pembukaan berakhir, dan kami menuju titik
awal. Di tengah jalan, aku menghentikan Kurumi.
"Kurumi, ada yang ingin kutanyakan."
"Ada apa, Yura-san?"
Aku menatap wajah Kurumi yang tersenyum itu.
"Kurumi, jawablah dengan jujur. Apa kau memiliki
kekuatan spesial yang tidak dimiliki orang biasa?"
"Kekuatan spesial? Tidak, saya tidak punya hal
seperti itu."
"Benarkah? Bisa kau bersumpah demi Tuhan?"
"Iya. Saya bersumpah. Memang ada beberapa hal yang
saya kuasai seperti memasak atau bersih-bersih, tapi tidak ada kemampuan yang
bisa dibanggakan di depan orang lain."
Aku menatap mata Kurumi dalam-dalam, lalu menggelengkan
kepala.
"Maaf ya, aku bicara yang aneh-aneh."
Aku meminta maaf padanya. Ahaha, aku pasti sudah gila.
Sempat-sempatnya aku berpikir kalau Kurumi adalah Kuruto.
Anak itu sekarang pasti sudah sadar kalau kemampuannya adalah sebuah mukjizat.
Mungkin keinginanku untuk bertemu Kuruto-lah yang
menciptakan ilusi kalau Kurumi adalah Kuruto.
Tapi Kurumi bukan Kuruto. Kuruto bukan tipe anak yang
bisa berbohong dengan tatapan mata yang sejujur itu. Kalau begitu, hanya ada
satu jawaban.
"Kurumi, apakah asal desamu adalah Desa Hasute?"
"Iya, benar. Eh? Bagaimana Anda bisa tahu?"
"Aku kenal seseorang yang sangat mirip denganmu.
Fufu, soal itu mari kita bicarakan pelan-pelan setelah turnamen ini
selesai."
Kataku pada Kurumi yang terkejut. Ternyata benar, Kurumi adalah penduduk Desa Hasute.
Sesuai dengan cerita Kuruto, orang-orang dari Desa
Hasute memang kumpulan monster berbakat.
Setelah menunggu sejenak di lokasi, kualifikasi pun
dimulai. Ratusan peserta langsung menyerbu masuk ke dalam
gunung. Jumlah monster tentu saja terbatas.
Monster yang muncul di dekat kota memiliki poin
rendah, tapi bagi mereka yang tidak punya kemampuan, mereka tetap mengincarnya
demi mengumpulkan poin sedikit demi sedikit.
Memikirkan Kurumi, mungkin sebaiknya aku juga berburu
di area ini saja, tapi kerumunan orang di sini terlalu padat dan berisiko
membuat kami terpisah.
Karena itu, kami memutuskan untuk masuk lebih jauh ke
dalam gunung.
Satu jam pun berlalu.
Aku menemukan seekor Goblin yang sedang berkeliaran, lalu
melemparkan belatiku tepat ke dahi mereka──dia langsung tewas seketika.
Aku mendekat, mencabut belatiku, lalu memotong telinga
kanannya sebagai bukti pembasmian. Sisanya kubiarkan begitu saja.
"Hebat sekali! Anda bisa mengalahkan Goblin dalam
sekejap!"
Kurumi memujiku dengan tulus, bukan sekadar basa-basi.
Meski itu hal sepele, dia memujiku seolah aku baru saja mengalahkan seekor
naga──sifat ini juga sangat mirip dengan Kuruto.
Padahal bagi orang sepertiku, mengalahkan selusin Goblin
sekaligus pun bukan masalah besar.
"Tapi, sepertinya ini akan lebih merepotkan dari
dugaanku──"
"Kenapa begitu? Yura-san kan sangat kuat."
"Aku senang kau bilang begitu, tapi masalahnya kita
tidak menemukan monster untuk dikalahkan."
Setelah berjalan satu jam, kami baru menemukan satu
Goblin.
Padahal kami sudah berpapasan dengan peserta lain
sebanyak tujuh kali.
Hebat apa pun kemampuanmu, kalau tidak ada monster, kita
tidak bisa mengumpulkan poin.
"Benar juga ya, aneh sekali. Padahal katanya
akan banyak monster yang keluar dari Dungeon."
"Iya, seharusnya begitu── mungkinkah
monster-monster itu bersembunyi di suatu tempat?"
"Bersembunyi?"
Kurumi mengulangi perkataanku, dan aku mengangguk.
Hanya itu kemungkinannya.
Namun, dalam sejarah turnamen sebelumnya, tidak
pernah ada tempat di mana monster bisa bersembunyi dalam jumlah besar secara
serempak.
Tempat persembunyian yang dulu tidak ada, tapi
sekarang ada. Di mana itu?
"Saya cuma terpikir soal Dachshund
(Anjing Bertubuh Panjang)."
Saat aku sedang berpikir keras, Kurumi bergumam
demikian.
"Anjing bertubuh panjang?"
Yang dia maksud adalah hewan peliharaan yang sempat
populer di banyak negara sekitar dua tahun lalu.
Seperti namanya, anjing itu bertubuh panjang dengan
kaki pendek yang lucu.
"Apa hubungannya anjing itu dengan masalah
ini?"
"Kaki pendek anjing itu gunanya untuk menggali
lubang demi mencari air tanah. Secara
geografis, area sumber air tanah di gunung ini berbentuk gua alami. Mungkin
monster-monster itu kabur ke rongga bawah tanah melalui lubang yang digali
anjing-anjing itu."
"Begitu ya── tapi kurasa kau keliru. Habitat asli
anjing itu adalah pegunungan berbatu, jadi harusnya mereka tidak ada di sekitar
sini."
"Benar juga ya, saya juga berpikir begitu."
Dia langsung mengaku salah? Kejujurannya malah membuatku
berpikir ulang. Mungkinkah akulah yang salah? Lalu aku menyadarinya.
"Yang menggali lubang bukan anjing liar, tapi
mungkin anjing peliharaan yang dibuang atau kabur. Itu menjelaskan kenapa
tiba-tiba muncul lubang yang dulu tidak ada. Tapi Kurumi, apa alasanmu menduga
anjing itu yang membuat jalan kabur bagi para monster?"
"Bukan cuma itu. Coba lihat buah di semak-semak
ini."
Kurumi menunjuk semak yang berbuah kecil.
"Hanya buah di bagian bawah yang dimakan. Artinya
hewan yang memakannya tidak terlalu besar, kan? Ditambah dengan ukuran jejak
kaki di sekitarnya, kemungkinan ada anjing itu sangat besar── ah, lihat, ada
bulu yang tertinggal."
Kurumi memungut bulu hitam pendek.
"Bulu ini mirip bulu anjing…… tapi lihat, ada sisa
pewarna di sini. Sepertinya bulu ini diwarnai dengan bahan pewarna bulu hewan.
Benar-benar anjing peliharaan yang baru saja lepas."
Mendengar analisis Kurumi, bulu kudukku meremang.
Ketajaman observasi macam apa yang dimiliki anak ini?
Aku sendiri adalah petualang yang cukup ternama dan
tidak pernah melewatkan jejak monster.
Tapi anak ini berada di dimensi yang berbeda.
Dia bisa memahami dan menyusun logika dari perilaku
hewan peliharaan yang keberadaannya saja masih diragukan.
Orang-orang Desa Hasute memang gila…… tentu
saja dalam artian positif.
"Kurumi, apa kau tahu di mana sarang anjing
itu?"
"Saya tidak tahu pastinya, tapi berdasarkan bentuk
gunung, saya bisa memprediksi posisi sumber air tanah dan rongga bawah tanah,
lalu mempersempit lokasinya. Yang terdekat ada di arah sana."
Di bawah panduan Kurumi, aku menuju lokasi yang diduga
ada lubangnya. Dan benar saja, lubang itu ada. Namun──
"Ini lubang yang digali anjing……?"
Lubang itu sudah membesar hingga cukup untuk dilewati manusia dengan mudah.
Kenapa
lubang sebesar ini bisa terbuka?
Jawabannya mudah dibayangkan, bahkan bagi orang awam
sekalipun.
Lubang yang awalnya digali oleh anjing bertubuh
panjang itu pasti dipaksa lewati oleh monster, sehingga ukurannya melebar.
Dengan kata lain, prediksi Kurumi tepat sasaran.
Dan ada satu hal lagi.
"Waspadalah, Kurumi. Sepertinya bukan cuma kita yang
menemukan tempat ini."
Aku menemukan beberapa jejak kaki manusia di pintu masuk
gua.
Aku tidak tahu seberapa luas gua ini, tapi musuh kita
bukan cuma monster. Kami harus berhati-hati.
Anehnya, bagian dalam gua ini terang benderang,
seolah-olah kami masih berada di luar.
Namun, ini bukan karena cahaya matahari yang masuk, bukan
juga karena dindingnya bercahaya seperti saat ditaburi Luminous Moss.
Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi karena ini
memudahkan pergerakan, aku memutuskan untuk tidak ambil pusing.
"Yura-san, tolong pakai masker ini."
Kurumi menyerahkan masker yang menutupi separuh wajah
bawahku. Hidung dan mulutku tertutup sempurna.
"Ini masker untuk menangkal gas beracun."
"Gas beracun? Ah── begitu ya."
Benar juga, gua yang jarang dimasuki orang seperti
ini punya kemungkinan mengandung gas beracun yang mengendap, sama seperti di
pertambangan. Tidak ada salahnya waspada.
Sebenarnya aku tidak terlalu suka memakai masker
karena biasanya bikin sesak, tapi kekhawatiran itu sirna──tuh, kan, benar
dugaanku.
Masker buatan Kurumi sama sekali tidak membuat sesak
saat dipakai. Malah, setiap kali aku bernapas, rasanya udara di dalam tubuhku
jadi makin bersih.
Sepertinya benda ini lebih cocok dipasarkan sebagai
masker relaksasi daripada masker gas. Kalau dipakai bersama penutup mata,
mungkin aku bisa tidur sambil berdiri.
"Kurumi, kapan kamu membuat benda ini? Bahannya
dari kayu dan kain, tapi──"
"Tadi, saat Yura-san sedang memeriksa apakah ada
jebakan dari petualang lain di depan pintu gua."
"Ah, begitu."
Dari mana dia dapat kainnya?
Menanyakan hal itu hanya akan terasa norak.
Paling-paling dia membuat kain dari kapas atau rami liar
yang tumbuh di sekitar sini.
Efek penawar racunnya pun pasti berasal dari campuran
rumput yang dia petik asal tadi.
Namun, bingkai kayu masker ini dibuat sangat pas dengan
lekukan wajahku.
Aku tidak kenal orang lain yang bisa membuat kerajinan
seakurat ini hanya dengan perkiraan mata, selain Kuruto.
Benar-benar, ada apa sebenarnya dengan orang-orang Desa
Hasute ini?
"Kalau begitu, mari kita berangkat."
Kurumi berujar sambil melangkah maju satu langkah.
"Tunggu, Kurumi!"
Aku mencoba menghentikannya, tapi terlambat. Sesuatu
jatuh dari langit-langit dan menelan wajah Kurumi.
"Kurumi! Ke-kenapa bisa──"
Melihat Kurumi yang meronta-ronta kesakitan, kepalaku
jadi pusing. Aku segera menarik benda itu dengan tanganku.
"Kenapa kamu malah hampir dimakan oleh Baby Slime?
Padahal ini tipe monster yang biasanya dipungut, dicuci, lalu dijadikan camilan
oleh anak-anak."
Aku melepaskan bayi Slime itu dari wajah Kurumi. Tadinya
aku ingin membunuhnya dengan pisau, tapi...
"Yura-san,
tolong jangan bunuh Slime itu."
Padahal
baru saja hampir dimakan, Kurumi malah memegangi wajahnya dan berkata selembut
itu.
Yah, monster tidak berbahaya seperti Baby Slime
memang tidak perlu dibunuh.
Karena Kurumi meminta, aku melemparkan Slime itu ke arah
lain.
"Uuuh, riasanku jadi luntur."
"Lho, Kurumi, kamu pakai riasan? Tanpa riasan pun
kamu sudah manis, kok. Malah
aku lebih suka wajahmu yang ini…… lho?"
Tunggu
sebentar. Ada apa dengan wajah Kurumi ini?
Wajahnya
mirip sekali dengan Kuruto.
Y-yah,
di desa kecil, wajar saja kalau seluruh penduduknya masih kerabat.
Apalagi
desa di luar nalar yang tidak pernah berinteraksi dengan dunia luar, darah baru
pasti jarang masuk, sehingga semua anak mungkin terlihat mirip seperti saudara
kandung.
Tapi──apa mungkin bisa semirip ini?
Suaranya memang sedikit lebih tinggi dari Kuruto, tapi
kalau rambutnya pendek...
"……A-anu,
Yura-san. Ada apa? Kalau terus ditatapi begitu…… itu……"
"Ah,
tidak, maaf."
Gawat,
aku lupa kalau sekarang aku sedang jadi laki-laki. Kalau aku
terus menatap gadis seperti Kurumi secara intens, dia pasti akan merasa tidak
nyaman.
Aku harus berhati-hati agar tidak memelototi wajahnya
lagi.
Setelah menenangkan diri, kami lanjut menelusuri gua dan
sampai di ruang bawah tanah yang Kurumi katakan tadi.
Sebuah ruang luas dengan stalaktit yang tumbuh──gua
stalaktit, ya. Aku tidak tahu pulau ini punya tempat seperti ini.
"Di sini juga terang ya."
Seperti kata Kurumi, bagian dalam gua ini sangat terang
meski tidak ada Luminous Moss.
Karena suasananya sangat fantastis, tempat ini bisa jadi
aset wisata baru jika dibuka untuk umum.
"Ini
gawat."
Apanya
yang gawat?
Tepat saat aku hendak bertanya, terdengar sebuah
suara.
"Hm? Suara ini── sepertinya kita beruntung."
Itu pasti suara Minotaur.
Salah satu monster dengan poin tertinggi di turnamen kali
ini.
Namun, suaranya terdengar sangat marah──mungkin terjadi
sesuatu dengan peserta lain yang sampai di sini lebih dulu.
Menuju ke arah suara itu sekarang mungkin bukan ide yang
bagus.
Kalau kami ikut campur, kami bisa dikira musuh yang ingin
mencuri mangsa. Untungnya gua ini luas, pasti masih ada monster lain.
"Kurumi, kita cari monster lain sa── Kurumi!?"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Kurumi sudah
berlari ke arah suara itu.
"Ayo cepat! Yura-san!"
"Tunggu, Kurumi! Kalau kita ke sana──"
"Kalau ini cuma kekhawatiran berlebihan, syukurlah!
Tapi ini masalah nyawa!"
Terdesak oleh ketegasan Kurumi, aku pun bungkam.
Kekhawatiran yang membuat Kurumi sampai seperti itu?
Berarti itu bukan lagi sekadar kekhawatiran biasa.
"Baiklah!"
Aku mengikuti Kurumi menuju sumber suara. Suara Minotaur
yang tadi membahana tiba-tiba lenyap. Apa pertarungannya sudah selesai?
Meskipun begitu, raut cemas di wajah Kurumi tidak hilang.
Begitu kami sampai di aula tersebut, pertarungan memang sudah berakhir.
Namun, yang tergeletak di sana adalah seekor Minotaur dan
sepasang pria-wanita yang sepertinya peserta turnamen.
Singkatnya, semuanya tumbang.
Melihat kondisinya, sepertinya ini bukan karena mereka
saling mengalahkan. Minotaur itu punya beberapa luka luar, tapi tidak ada yang
terlihat fatal.
Dan dua peserta itu──si wanita sepertinya seorang Mage,
dia terbungkus sihir Protection dan tidak punya luka luar.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini ulah sihir mental
dari pihak ketiga? Ataukah──
Selagi aku bingung, sihir Protection yang
melindungi peserta wanita itu lenyap.
Saat aku memeriksanya, dia masih bernapas, tapi nadinya
lemah dan kondisinya sangat kritis. Dia tidak sadarkan diri.
"Yura-san! Tolong berikan tiga butir ini
padanya!"
Kurumi melemparkan kantong kecil padaku. Di dalamnya ada
butiran hitam mirip pil.
Aku mengambil tiga butir sesuai instruksi Kurumi,
memasukkannya ke mulut wanita itu, lalu memberinya minum.
Syukurlah, dia menelannya. Meski belum sadar, warna
wajahnya mulai membaik dengan cepat. Sementara itu, Kurumi sedang mengobati
petualang satunya.
"Kurumi, apa sebenarnya yang terjadi?"
Kalau ini ulah petualang lain, aneh kalau Minotaur itu
dibiarkan begitu saja. Tanduknya yang merupakan bukti pembasmian masih utuh.
"Racun."
"Gas beracun?"
"Bukan, bukan gas. Tapi mirip. Yura-san harusnya
juga bisa melihatnya."
Melihatnya? Maksudnya air danau? Tidak, Kurumi bilang
mirip gas. Berarti itu...
"Jangan-jangan!?"
Aku berseru kaget, dan Kurumi mengangguk sambil terus
mengobati pria itu.
"Alasan gua stalaktit ini terang bukan karena Luminous
Moss. Tapi Luminous
Mold (Jamur Cahaya)…… Pernah dengar?"
"Ah, aku ingat sekarang. Ternyata masih ada yang
tersisa."
Luminous Mold. Sesuai namanya, jamur yang memancarkan cahaya.
Berbeda
dengan Luminous Moss yang tumbuh cepat dan membuat dinding bercahaya,
pada Luminous Mold, yang bercahaya bukan jamurnya, melainkan spora yang
dilepaskannya.
Dan
yang merepotkan adalah spora itu beracun bagi banyak makhluk hidup.
Bagi
manusia, sekali menghirupnya, butuh sepuluh menit sampai tidak bisa bergerak,
dan sepuluh menit lagi sampai menemui ajal.
Ini
adalah jamur yang sangat langka, konon sekarang hanya tersisa di beberapa
lembaga penelitian saja. Itulah kenapa aku terlambat menyadarinya.
Bukan
cuma terlambat, kalau aku tidak memakai masker ini, aku pasti sudah berakhir
sama seperti petualang ini.
"Kurumi……
kalau tidak ada kamu, aku── tidak, aku…… lho, Kurumi!?"
Saat
aku hendak berterima kasih, pemandangan luar biasa tersaji di depanku. Kurumi
melepas maskernya──yang seharusnya jadi pelindung nyawa kami──dan
memasangkannya ke mulut pria itu.
"Apa yang kamu lakukan, Kurumi!"
"Orang ini sangat lemah, dia tidak punya tenaga lagi
untuk menelan obat. Jika dia bernapas dengan masker ini, dia pasti akan
sadar."
"Tapi kalau dilepas, nanti kamu yang kena!"
"Tidak apa-apa! Tadi aku sudah minum obat penawar.
Setidaknya selama tiga puluh menit, tubuhku harusnya bisa menetralkan Luminous
Mold yang masuk! Mungkin!"
Pakai "mungkin" segala, dasar anak ini.
Kenapa dia bisa berjuang sekeras ini?
Tanpa ragu, bahkan sampai mengorbankan diri sendiri.
Aku menatap mata Kurumi.
……Eh?
Tadi saat riasan wajahnya luntur gara-gara Slime aku juga
sempat berpikir begitu, tapi melihat wajah Kurumi saat serius menyelamatkan
orang...
Benar-benar mirip──dengan Kuruto.
Kalau aku memercayai cerita Kuruto, semua penduduk Desa
Hasute pasti punya kemampuan di luar nalar seperti Kuruto dan Kurumi.
Tapi, berapa banyak orang yang bisa menolong orang
lain tanpa ragu seperti mereka?
"Ah, sudahlah──"
Aku melepas maskerku sendiri, menelan pil dari kantong
yang kuterima dari Kurumi tadi, lalu menempelkan maskerku ke mulut Kurumi.
"Eh? Yura-san?"
"Kalau sudah minum obat bakal aman, kan? Tubuhku
lebih besar, jadi kemungkinan selamatnya lebih tinggi."
"Ta-tapi──"
"Karena aku percaya padamu, Kurumi."
Aku berujar sambil tersenyum. Dan mata Kurumi pun
ikut tersenyum.
"Ahaha, Yura-san ternyata selama ini memang
memaksakan diri pakai gaya bicara 'Aku' pria ya?"
"Ugh."
Gawat, aku keceplosan bicara dengan gaya asliku. Tapi mau
bagaimana lagi? Bicara dengan Kurumi rasanya persis seperti bicara dengan Kuruto.
"Tapi menurutku Anda lebih cocok bicara begitu. Anda mirip sekali dengan seseorang yang kukenal."
"Begitukah? Hahaha, yah, cuma di depan Kurumi saja,
kok. Ngomong-ngomong, orang yang mirip denganku itu orang
seperti apa?"
"Dia adalah orang yang sangat kucintai."
Kurumi menjawab tanpa jeda sedetik pun.
Heh, orang yang sangat dicintai…… ya. Aku penasaran, tapi
sekarang bukan saatnya membahas itu.
Setelah itu, kami merawat pasangan peserta tersebut
sampai mereka sadar. Mereka siuman lima menit kemudian.
Karena kondisi fisik mereka belum pulih total, mereka
memutuskan untuk mundur dari turnamen.
Karena mereka belum bisa berjalan sendiri, kami
memutuskan untuk menggendong mereka keluar.
Sebagai imbalan, mereka memberikan tanduk Minotaur yang
tergeletak itu kepada kami.
"Nah, masalah selesai. Mari kita lanjut berburu
monster."
Saat aku berkata demikian, Kurumi menggelengkan kepala.
"Sama sekali belum selesai. Kita masih belum tahu
penyebab kenapa Luminous Mold ini bisa muncul secara masal di gua
ini."
"──!?"
Benar juga. Minotaur itu baru saja mati.
Karena tubuhnya lebih besar dari manusia, racunnya
bereaksi lebih lambat, tapi jika dia sudah menghirup jamur itu sejak kemarin,
dia seharusnya tidak akan bisa bertarung sama sekali.
Artinya, Luminous Mold ini baru menyebar di gua
stalaktit ini hari ini.
Muncul
masal tepat saat turnamen dimulai. Ini tidak mungkin sebuah kebetulan.



Post a Comment