NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kao no Yosugiru Osananajimi to, Kidzuitara Asa Chun Shiteta Ken V1 Chapter 1

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 1

Teman masa kecil yang utama, dan teman Nomor Dua

── Satu bulan yang lalu.


"......Fuaa."


Aku terbangun, melangkah keluar kamar, dan menuruni tangga sambil menahan kantuk. Padahal bukan masa ujian, tapi aku malah begadang untuk belajar. Jika si berengsek sahabatku yang cerdik itu tahu, dia pasti akan menertawakanku dan mengejek, "Dasar kutu buku."


Sambil menggerutu "berisik, bodoh," aku melangkah menuju wastafel... lalu, rasa jemu semakin meluap saat melihat produk perawatan kulit mewah yang tergeletak di sana.


(...Lagi-lagi dari produsen kosmetik itu.)


Aku teringat sosok presiden direktur wanita yang terus mendesak teman masa kecilku untuk menjadi model eksklusif mereka. Bisa dibilang ini adalah barang "upeti". Tapi, kenapa barang itu malah ditaruh di rumahku?


Sambil membatin "taruh saja di rumahmu sendiri," aku mencuci muka, menyekanya kasar dengan handuk, lalu keluar dari kamar mandi. Kemudian, aku membuka pintu ruang tamu dengan santai... tanpa meragukan sedikit pun bahwa pemandangan yang sama seperti biasanya akan ada di sana.


"──Selamat pagi, Iori."


Rambut hitam panjang yang indah tergerai saat dia menoleh. Seorang gadis berdiri di dapur, menangkap sosokku dengan sudut matanya. Suara sayuran yang dicincang. Aroma sup miso. Melihat pemandangan yang sudah terlampau akrab itu, aku hampir saja menghela napas.


"......Pagi."


Pagi yang biasa.


Seperti biasa──pemandangan yang tidak normal.


Sudah tiga tahun sejak orang tuaku ditugaskan bekerja di luar negeri. Teman masa kecil yang tinggal di rumah sebelah ini, entah mengapa, setiap hari tinggal di rumahku seolah-olah itu adalah hal yang wajar.


"Aku bantu."


"Mm."


Saat aku berdiri di sampingnya dan mencuci tangan, dia mengangguk pelan. Lalu, dia menyerahkan sebuah kubis padaku. Aku menerimanya, mengambil pisau, dan mulai mencincangnya di atas talenan. Di sampingku, teman masa kecilku itu tampak sedang mengaduk sup miso dengan tenang. Suara air mendidih terdengar. Sambil mendengarnya, aku benar-benar berpikir:


(Kenapa dia bisa memasak sarapan di sini seolah ini hal yang lumrah?)


Padahal di sekolah, dia dipuja layaknya sosok dewi, namun sekarang dia sedang sibuk mengaduk sup miso. Pemandangan yang jika diketahui oleh murid laki-laki di kelasku, pasti akan membuat mereka gila. Tapi entah mengapa, hal itu terpampang nyata di depan mataku setiap hari.


"Hari ini kamu bangun agak siang ya. Aku tadi sempat berpikir untuk masuk ke kamarmu dan membangunkanmu."


"Karena aku belajar sampai larut malam. Lagipula,jangan sembarangan masuk ke kamar orang."

"Baru protes sekarang?"


Tanpa menoleh, dia berucap dengan suara yang datar. Kata-katanya membuatku mendengus kesal. 


Ya, memang benar ini sudah terlambat untuk diprotes. Sejak kecil kami memang sering keluar masuk kamar masing-masing, bahkan tidur bersama pun sudah biasa. Tapi bukan itu maksudku.


"Kita kan sudah bukan anak-anak lagi."


Begitu kata-kata itu terlontar dari mulutku.


(......Ah, gawat.)


Udara seketika terasa membeku, dan aku menyadari kesalahanku.


"Iori."


Dipanggil namaku, aku menoleh──dan tatapan Mizuki sedikit berubah. Cahaya matanya meredup dan dingin. Dia sangat membenci kata-kata seperti yang baru saja kuucapkan.


"Eh, maaf."


Aku meminta maaf karena merasa lidahku terpeleset. Namun, terdengar suara klik saat dia mematikan api kompor. Tanpa berkata apa-apa, dia melangkah satu kaki ke arahku.


Tinggi badannya yang mencapai 170 cm, dengan proporsi tubuh bak rasio emas. Aura dan pesonanya seperti model papan atas, benar-benar tidak terlihat seperti seorang siswi SMA.  


Melihat matanya yang tidak menunjukkan emosi itu, aku secara tidak sadar mundur selangkah.

"Tu-tunggu dulu......!"


Meski mencoba menghentikannya, akhirnya aku terdesak ke tembok. Dan kemudian, plak, dia menyandarkan tangannya dengan tenang di samping wajahku.


Kabe-don. Gerakannya terasa lambat untuk disebut demikian, namun justru itu yang membuatnya terasa menakutkan. Dia terus menatapku dari jarak yang sangat dekat.


"......ngh."


Bulu mata yang panjang. Mata yang tajam bagaikan permata. Paras wajah yang kecilnya seperti lelucon, dengan kulit putih mulus tanpa noda sedikit pun. Melihat kecantikan yang terasa tidak manusiawi itu, aku menggigit bibirku.


(......Benar-benar tidak adil.)


Jika hanya sekadar cantik, atau hanya unggul di satu bidang, pasti ada banyak orang seperti itu di dunia ini. Tapi berapa banyak orang yang memiliki segalanya; penampilan, otak, dan segala macam bakat sekaligus? Terlebih lagi, kecantikannya itu...


(Apakah ini yang disebut Gifted (berbakat dari lahir)?)


Mungkin istilah itulah yang paling tepat untuk menggambarkannya.


"......Iori?"


"......?"


"Lihat aku baik-baik."


Kecantikan magis memenuhi seluruh bidang pandangku. 

Embusan napasnya menerpa bibirku. Jaraknya begitu dekat hingga sedikit gerakan saja bisa membuat kami bersentuhan. Dadanya menyentuhku. Terasa lembut. Suara jantungku berdegup kencang, aku yakin dia pasti bisa merasakannya juga.


"Sekarang, apa yang sedang kamu pikirkan?"


Suaranya manis, seperti sebuah bisikan. Bulu mata kami hampir bersentuhan. Matanya yang indah dan halus membentuk lengkungan misterius di depan mataku. Keheningan berlangsung beberapa detik. Di tengah saling tatap itu, akhirnya aku...


"......Aku cuma berpikir...... kalau hari ini pun...... kamu cantik──sampai aku terpesona."


Terpaksa, aku mengucapkan kata-kata yang sudah menjadi rutinitas itu.


Jangan buat aku mengatakannya setiap saat, pikirku. Namun, karena itu adalah kejujuran yang tak terbantahkan, rasanya semakin menyebalkan.


"Hmm. Terima kasih."


Dia tampak puas, namun tetap saja dia terus menatapku. Entah mengapa, dia tidak kunjung kembali ke dapur. Aku memalingkan wajah, mencoba mengusir aroma manis yang menggoda itu.


"......Sarapannya, cepat dimakan atau kita bisa terlambat."


"Iya."


Dia mengangguk, dan akhirnya menjauhkan tubuhnya.


Seketika itu juga, rasa lelah yang luar biasa menyerbu. Aku hanya bisa melepas kepergian punggungnya yang tegak itu dengan tatapan kosong.


(Benar-benar dah, apa sih maunya.)


Setiap kali menyambut pagi seperti ini, aku selalu berpikir. Seharusnya hubungan ini sudah lama terputus. Seharusnya dia sudah berada di tempat yang jauh lebih tinggi sejak dulu.


"Ah, karena tadi kamu bilang hal yang aneh, apa hari ini mau berangkat sekolah bareng?"


"......Mana mungkin."


Kenapa dia masih saja mau menjadi "teman masa kecil"-ku, ya?


Aku menelan kejujuran itu dalam hati, dan hari ini pun aku kembali menerima pemandangan yang tidak normal ini.



"──Oi, Iori."


Setelah selesai sarapan dan berangkat dari rumah. Begitu tiba di kelas, seorang anak laki-laki yang berada di dekat pintu masuk mengangkat tangannya.


"Pagi."


Aku membalas sapaannya seadanya. Meskipun kasar, untuk orang ini, begini saja sudah cukup.


"Apa-apaan muka ngantuk itu. Ah! Jangan-jangan karena perempuan?"


"Bukan, lah."


Jantungku sempat berdegup kencang sekejap. Tapi kurang tidur ini karena belajar, tidak ada hubungannya dengan dia.


"Jelas saja, mana mungkin."


Pria berambut pirang kecokelatan yang tampak bergaya itu tertawa terbahak-bahak. Namanya Miyama Renji, sahabat karibku sejak kelas satu. Sesuai penampilannya, sifatnya agak genit, tapi meski menyebalkan, dia tampan dan serba bisa sehingga sangat populer di kalangan perempuan.


"Tapi kau juga sih. Sekali-kali semangat sedikit lah? Bukannya kau nggak populer juga."


"Nggak tuh, perasaanku nggak pernah ngerasa populer."


"Ah? Benar kah?"


Aku menepis tangan si rambut cokelat yang terus merangkulku itu. Dia tidak ada bosannya, pikirku. Setiap hari begini terus. Benar-benar campur urusan orang lain.


"Tapi ya, kalau dalam kasusmu, bukannya tampan tapi lebih ke cantik nggak sih?"


"Berisik."


Aku menepis tangannya dari bahuku. 


Siapa yang cantik? Wajahku ini memang mirip ibu yang dulunya aktris panggung. Ibu selalu membanggakan diri dengan bilang, 'Bersyukurlah pada genetikaku, ya?', tapi gara-gara ini aku sering dikira perempuan sampai SMP. 


Benar-benar suatu penyesalan. 


Apalagi, ada efek sampingnya.


『......Hei, lihat mereka berdua. 』


『Io-Ren adalah keadilan......! Pasangan antara laki-laki tampan idaman dan laki-laki cantik androgini! Terima kasih asupannya! 』


『Kalau aku sih tim Amano-kun. Soalnya dia imut. Asalkan pasangannya bukan "Kashiwagi-san" sih. 』


Mendengar bisik-bisik itu, wajahku berkedut. Renji tertawa terpingkal-pingkal, tapi ini sama sekali bukan bahan bercanda bagiku. Aku tidak punya selera ke sana. Aku segera meninggalkan tempat itu, duduk di kursiku, dan menghela napas panjang.


......Lagipula.


(Semangat, ya.)


Bunga kehidupan pelajar; asmara, kekasih.


Aku rasa itu hal yang penting. Aku tidak bilang kalau aku tidak tertarik. Tapi jujur saja, aku bahkan tidak bisa membayangkannya. Masa depan di mana aku menyukai seseorang dan menjadi kekasihnya.


(Mungkin suatu saat nanti aku harus mulai bergerak, tapi...)


Sambil menghela napas dan hendak mengeluarkan buku pelajaran dari tas.


"Oh, Kashiwagi-chan."


Mendengar suara Renji, mataku tertuju ke pintu masuk kelas. Rambut pirang kecokelatan sebahu. Wajah yang manis dan cantik, serta—agak kasar mengatakannya—tapi dia punya lekuk tubuh yang bagus. Seorang gadis cantik yang jarang ditemui sedang mencoba masuk ke kelas dan langsung disapa oleh para murid laki-laki.


"Ka-Kashiwagi-san! Bagaimana kalau sepulang sekolah hari ini?"


"Ahaha...... umm, maaf ya? Hari ini aku ada urusan."


Dia tertawa canggung, menolak halus murid laki-laki yang terus mendesaknya.


Dia dijuluki sebagai "Gadis Terimut Nomor Dua di Angkatan".

Meskipun tidak mencolok, dia sangat populer di kalangan laki-laki sebagai "Gadis cantik yang terasa bisa digapai". Dalam artian tertentu, kepopulerannya melampaui si Nomor Satu yang terlalu sulit dijangkau seperti bunga di puncak gunung.


Setelah menaruh tas di kursinya, entah mengapa dia berjalan mendekat ke arahku.


"──Amano-kun."


Tiba-tiba tercium aroma manis yang lembut.


Parfum? Bukan, mungkin deodorant spray. Aromanya seperti buah-buahan. Aku hampir saja kehilangan fokus, lalu menepuk pipiku sendiri agar sadar kembali.


"......Selamat pagi, Kashiwagi-san."


──Kashiwagi Kotoha.


Satu lagi idola di sekolah ini.


Dia rekan sesama anggota komite perpustakaan denganku, dan kami sudah cukup akrab sejak kelas satu.


"Uhn, selamat pagi. Eh, kamu kelihatan ngantuk ya? Kamu baik-baik saja?"


Dia menatap wajahku dari dekat, lalu memiringkan kepalanya dengan cemas. Tingkahnya yang menggemaskan itu membuat jantungku berdegup kencang sesaat. Namun, tatapan para siswa laki-laki di kelas yang seolah berkata, "Hei, dia lagi-lagi didekati Kashiwagi-san," membuatku sadar kembali.

Karena cukup akrab dengan Kashiwagi-san, para siswa laki-laki di kelas bersikap agak keras kepadaku. Meskipun aku menjelaskan bahwa tidak ada apa-apa di antara kami, kalau mereka sudah bilang, "Cuma bisa ngobrol saja kami sudah iri," aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Itu adalah argumen yang masuk akal.


"Tadi malam aku agak begadang buat belajar" 


Mendengar itu, Kashiwagi-san membelalakkan matanya karena terkejut.


"Eh? Kamu sudah berusaha sekeras itu? Padahal bukan waktu ujian, itu tidak baik buat kesehatan, tahu?"


"Yah, memang benar sih."


Itu memang benar. Namun, karena aku bukan tipe jenius seperti teman masa kecilku atau Renji, tidak ada cara lain selain memperbanyak porsi belajarku.


"Hasil tes kemarin kurang memuaskan soalnya."


"Ah, yang itu ya. Sulit banget, kan? Nilaiku juga sedikit turun."


Dia tertawa canggung. Padahal, peringkatnya adalah...


"......Kashiwagi-san, bukannya kamu peringkat 5?"


"A, ahー. Iya ya? Begitu ya?"


Kashiwagi-san tersenyum kebingungan.


Sekolah kami—Akademi Shirayanagi—adalah salah satu sekolah unggulan yang terkemuka di Tokyo. Peringkat segitu sudah sangat luar biasa, tapi sepertinya dia belum puas.

Sementara aku yang peringkat 8 pada tes sebelumnya, jadi sedikit sedih.


"Tapi, ternyata Amano-kun juga berusaha keras ya. Kita belajar bareng lagi yuk?"


"Eh...... a, iya."


Senyum yang menyilaukan. Namun, wajahku menegang. Tolong jangan katakan hal seperti itu di sini.


Tentu saja, tatapan tajam seperti "Belajar bareng apanya, woi!" langsung menghujamku.


Bukan begitu, biasanya ada Renji juga, dan kami (hampir) tidak pernah cuma berduaan saja. Namun, alasan seperti itu tentu tidak akan mempan bagi para laki-laki yang sudah terlanjur emosi.


"Jadi, ada apa?"


Aku bertanya langsung ke intinya untuk segera mengakhiri percakapan ini.


Mendengar itu, Kashiwagi-san bertepuk tangan seolah baru teringat sesuatu.


"Ah, um. Hari ini ada piket komite perpustakaan, kan? Amano-kun bisa datang?"


"....? Iya, aku akan datang."


Itu kan tugasku. Ngomong-ngomong, sebentar lagi waktunya inventarisasi, ya. Repot sekali. Mungkin aku ajak Renji saja nanti.


Sambil memikirkan hal yang sedikit jahat itu, aku mengangguk. 

Kashiwagi-san entah mengapa tersenyum senang.


"Syukurlah. Hari ini aku juga piket bareng kamu."


"Begitu, ya?"


"Iya."


Saat melihat senyumnya, aku tiba-tiba merasakan sebuah tatapan. Ketika aku menoleh ke samping, Renji sedang menatapku sambil menyeringai. Aku ingin sekali menendangnya.


Tapi, apakah dia sengaja datang hanya untuk menyampaikan hal itu?


"Umm, lalu begini... Kalau boleh, sih."


Tiba-tiba Kashiwagi-san mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan. Jika diperhatikan lebih dekat, pipinya sedikit memerah.


"Ada apa?" 


Tanyaku sambil memiringkan kepala.


"......Setelah tugas perpustakaan selesai nanti, bisa minta waktunya sebentar?"


"Eh?"


"Aku ingin bicara berdua saja dengan Amano-kun."


──Mendengar kata-kata itu, waktuku seolah terhenti. Embusan napas dari bisikannya terasa di telingaku. Aku terpaku selama beberapa detik menatap wajahnya yang tersenyum malu-malu.


"......Asal tidak sampai terlalu larut."


Hanya itu yang sanggup kubalas.


"I-iya! Tidak apa-apa. Kalau begitu, sampai nanti ya."


Setelah mengatakan itu, Kashiwagi-san kembali ke tempat duduknya. Gerakannya saat melambai-lambaikan tangan terlihat sangat manis. Dan seketika itu juga, tatapan para laki-laki langsung menghujamku.


Begitu Kashiwagi-san pergi, Renji segera mendekat dan merangkul bahuku dengan kasar.


"Oi, oi, Iori-kun? Apa maksudnya ini, hmm?"


Saat aku menoleh, sahabatku yang berengsek ini sudah memasang wajah menyeringai. Terasa menyesakkan. 


Ketika aku mencoba melepaskan rangkulannya, dia malah makin erat berpegangan. Menyebalkan sekali.


"Apa?"


"Jangan pura-pura bodoh. Bukannya kemajuanmu dengan Kashiwagi-chan yang itu sudah sangat bagus?"


"Kemajuan?"


"Iya, kemajuan."


Kemajuan. Mendengar kata itu, aku kembali merasa jengah.


(Kenapa sih orang ini gencar sekali menjodohkanku dengan Kashiwagi-san?)


Si bodoh ini entah kenapa selalu menyarankan Kashiwagi-san setiap ada kesempatan. Kalau gadis biasa sih masih mending, tapi ini Kashiwagi-san yang dia maksud.


"Biasa saja, nggak ada apa-apa kok."


Aku menepis tangannya dari bahuku. 


Aku memang tidak merasa dibenci olehnya, tapi ya hanya sebatas itu. Yah, belakangan ini aku merasa dia memang jadi lebih sering menyapaku, sih. Namun, Renji menggoyangkan jarinya dengan ekspresi yang menyebalkan.


"Nggak, pasti ada sesuatu. Sensor-ku bereaksi, tahu! Aku merasakan gelombang love-comedy dari Kashiwagi-chan untukmu!"


"......"


Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela dengan tenang.


Meski September hampir berakhir, udara masih terasa gerah. Musim panas seolah enggan berlalu. Sering dikatakan bahwa orang-orang anti-sosial benci musim panas, tapi aku tidak sebenci itu. 


Ah, aku ingin makan es krim. Es serut juga boleh. Sesuatu yang dinginnya menusuk otak──


"Oi, Iorin. Jangan melarikan diri dari kenyataan. Dengerin aku."


"......Aku dengar, kok. Terus jangan panggil Iorin."


Berisik banget sih, gerutuku sambil menepis tangannya lagi.


Apa-apaan itu gelombang love-comedy. Mana ada hal semacam itu.


"Kau sama Kashiwagi-chan itu serasi, tahu? Aku jamin. Ini saran dari sahabat terbaikmu."


"Iya, iya."


Menjadi sahabat berengsek saja sudah cukup buatmu. 


Aku mengabaikan Renji yang tertawa terbahak-bahak. Lalu dia kembali merengek "apaan sih kau ini" sambil terus menggangguku.


(Lagipula, mana ada orang yang tidak serasi dengan gadis itu.)


Memang benar, berada di dekatnya terasa nyaman. 

Dia perhatian dan pandai bersosialisasi. Meski cantik, dia ramah dan membuat orang di sekitarnya merasa tenang. Tapi, bukankah semua orang akan merasakan hal yang sama?


Sama persis seperti... semua orang pasti akan merasa tegang jika berada di dekat "dia".


Tepat saat aku memikirkan hal itu.......terdengar suara pintu kelas yang terbuka lebar.


"──Selamat pagi."


Suara yang tenang dan indah.


Seketika, suasana di dalam kelas berubah.


Renji terdiam. Semua orang secara alami mengalihkan pandangan ke pintu masuk kelas. Kecantikan yang tiada tara, tinggi badan lebih dari 170 cm dengan proporsi tubuh yang luar biasa. Seorang gadis berjalan santai membelah kelas dengan rambut hitam berkilau yang terayun lembut.


──Keheningan itu hanya sesaat. Tak lama kemudian...


"A-Yu-Yukimura-san! Selamat pagi!"


"Ah, iya, iya, kalian para laki-laki menjauh yaー? Heh, kamu yang di sana! Jangan bicara padanya tanpa izin!"


"Yukimura-saaan!! Sekali saja seumur hidup, tolong kencan dengankuuu!!"


"Oke, yang itu diskualifikasi! Ah, Yukimura-san! Tidak perlu dijawab serius, ya!"


Semua orang serempak menyapanya. Namun, para siswi yang merupakan penggemar fanatiknya──yang menyebut diri mereka sebagai tim pengawal──segera mengerumuninya dan memberi peringatan (terutama kepada para siswa laki-laki). Benar-benar seperti adegan kemunculan seorang idola. 


Dalam sekejap, kerumunan orang terbentuk di sekitarnya; baik laki-laki maupun perempuan menatapnya dengan mata berbinar. Gadis paling terkenal di sekolah ini, yang popularitasnya bahkan jauh melampaui Kashiwagi-san, namanya adalah...


(......Mizuki.)


──Yukimura Mizuki.


Gadis cantik nomor satu yang absolut di sekolah ini──sekaligus teman masa kecilku.


Melihat sosok itu, Renji mengedikkan bahu dengan ekspresi takjub.


"Gimana ya.... meski tiap hari ngelihat, aku tetep nggak bisa terbiasa."


"......"


"Lihat auranya itu. Padahal seumuran sama kita, lho? Benar-benar nggak masuk akal."


Dia mengatakannya sambil bercanda. Namun, suaranya tidak menyiratkan tawa.


Aku mengerti perasaannya. Kecantikannya yang tampak dewasa itu memang tidak terlihat seperti teman sebaya. Bahkan si pria genit ini pun sampai merasa ciut. 


Dia memang tidak biasa.

......Hanya saja, dalam kasus Renji, dia pernah menyatakan cinta tepat setelah masuk sekolah dan ditolak mentah-mentah. Keberaniannya itu jujur saja patut dihormati.


"Hmm, ada apa? Terus, kalau kau sendiri gimana?"


"Gimana apanya?"


"Kau nggak tertarik sama Yukimura-san?"


"Ah......"


Ditanya begitu, aku mengalihkan pandangan ke arahnya.


Saat ini pun dia masih dikerumuni teman sekelas, sementara gadis-gadis tim pengawal menghalangi mereka.


"Biasa saja. Dipikirkan pun tidak ada gunanya, kan?"


Itu setengah jujur. Kenyataannya, jika dia orang asing, aku pasti akan benar-benar bersikap masa bodoh seperti itu. Namun, melihat reaksiku yang hambar, Renji menjatuhkan bahunya dengan gaya yang berlebihan.


"Ya ampun, kau ini... Nggak punya sedikit pun jiwa petualang apa?"


"Nggak ada."


Sambil memandangi teman masa kecilku yang sedang dikerumuni itu, aku menopang dagu. Renji pun menggelengkan kepala seolah hendak berkata "ampun deh".


"Jiwamuu udah kering kah. Tapi yah, untuk yang satu ini aku setuju sih. Kalau dia, rasanya memang mustahil."


"......Padahal kau langsung nembak dia pas baru masuk sekolah?"


"Waktu itu aku masih muda dan naif."


Sambil memasang senyum kecut yang pasrah, Renji menatap Mizuki yang dikelilingi teman sekelas.


Aku pun sekali lagi mengalihkan pandangan ke arahnya.


(Rasanya memang mustahil, ya.)


Perasaan itu bukan hanya milik Renji. Buktinya, dibandingkan saat kelas 1, jumlah orang yang menyatakan cinta pada Mizuki berkurang drastis. Bukannya dia jadi tidak populer, tapi semua orang mulai menyerah.


Ada kesenjangan yang tidak bisa dijembatani. Mereka sudah menyadari hal itu.


...Yah, soal bagaimana perasaan Kashiwagi-san yang jumlah pernyataan cintanya melonjak drastis sebagai "pelampiasan" dari hal itu, mari kita kesampingkan dulu.


"──Duduk di kursi masing-masing! Jam wali kelas dimulai!"


Tepat saat itu, wali kelas masuk dan membuyarkan lamunanku.


"──Nah, kalian semua. Hari ini adalah pengumuman hasil try out nasional yang kalian tunggu-tunggu!"


Begitu wali kelas mengatakannya, suara jeritan bak di neraka menggema di seantero kelas.


"Guaaa! Sial, hari ini ya?! Aku lupa!!"


"Ah, aku nggak mau lihat, nggak mau lihat... Udahlah, masih kelas 2 ini. Belum waktunya buat panik."


Ada yang wajahnya putus asa, ada yang terlihat cukup santai. Aku sendiri, yah, berada di tengah-tengah.


"Kalau begitu, yang dipanggil namanya silakan maju."


Seiring kata-kata itu, satu per satu lembar jawaban dikembalikan. Ada yang memegangi kepala, ada juga yang wajahnya berseri-seri.

Dan si orang ini, yang biasanya berada di pihak yang cukup santai...


"Kuoh?! Serius, nih? Peringkat D?! Gawat, aku kebanyakan main!"


Suara berisik menggema dari sampingku. Renji meremas lembar jawabannya dan menengadah ke langit sambil berteriak, "Goddammit!"


(Renji dapat D kali ini, ya.)


Jarang-jarang dia begitu, pikirku. Tapi sekarang aku tidak punya waktu untuk mempedulikannya.


"Selanjutnya, Amano."


Akhirnya namaku dipanggil.


(Mari kita lihat......)


Dengan sedikit rasa tegang, aku beranjak dari kursi. Sudah paruh kedua kelas dua. Sudah waktunya untuk menentukan pilihan masa depan yang jelas. Jika tidak ada hasil di sini, aku harus memikirkan ulang banyak hal.


Sambil memantapkan tekad, aku membuka laporan nilai yang kuterima.

"......Oh?"


Suaraku terlepas tanpa sengaja.


Peringkat yang tertulis di laporan nilai adalah──Peringkat B. Naik dua tingkat dari peringkat D pada tes sebelumnya.


Aku terpaku sejenak, lalu tanpa sadar mengepalkan tangan kecil. Pilihan pertamaku adalah universitas swasta papan atas. Karena aku lemah di bidang sains dan matematika, pilihan universitas negeri langsung kuhapus sejak awal. Dan aku menetapkan universitas swasta top sebagai target... 


Kalau begini, sepertinya bukan hal yang mustahil?


(Tadinya aku berniat mengganti pilihan sekolah kalau kali ini hasilnya buruk.)


Tapi kalau begini, mungkin aku boleh serius mengejarnya.


Saat aku sedang sedikit senang dan berpikir ingin membeli buku bank soal sepulang sekolah...


"Oi, Iori! Kau gimana...... eh, buset?! B?! Bohong, kan?!"


"Wah, Amano-kun hebat! Nilai mata pelajaran rumpun sosialmu bahkan lebih bagus dariku!"


Tahu-tahu Kashiwagi-san sudah mendekat dan mengintip ke tanganku. 


Universitas pilihan Renji sama denganku. Kashiwagi-san mengincar universitas negeri, tapi dia memilih universitas swasta yang sama dengan kami sebagai cadangan. Karena itu, kami bertiga biasanya sering membandingkan nilai atau saling mengajar bagian yang tidak dimengerti.

Kami bertiga sudah akrab sejak kelas 1. Sejujurnya, agak berat disandingkan dengan dua orang yang menonjol ini. Namun, aku cukup menyukai hubungan kami bertiga.


"Ueeh, Kashiwagi-chan juga peringkat B...... ga-gawat. Aku harus mulai serius nih......"


"Ahaha, Miyama-kun, apa otakmu sudah encer karena kebanyakan main sama perempuan?"


"Jahat banget?! Kenapa Kashiwagi-chan dingin banget sama aku doang?! Padahal sama Iori dimanjain!"


"N-Nggak dimanjain, kok! Ya kan, Amano-kun?! Aku biasa saja, kan?!"


......Tapi terlepas dari itu semua. Kalau Kashiwagi-san sih aku paham, yang tidak bisa kuterima adalah Renji. 


Si bodoh ini padahal gayanya seperti pria genit yang tidak pernah belajar, tapi setiap sebelum ujian dia hanya membolak-balik buku teks sebentar dan selalu masuk 10 besar peringkat ujian rutin.Benar-benar membuat darah mendidih. Mungkin ini yang disebut tipe jenius. 


Dulu, saat dia berceletuk, "Hah? Belajar buat tes? Bukannya kalau begadang semalam saja sudah bisa dapat nilai 80%?", aku hampir saja memukul wajahnya dengan buku tebal. Tak termaafkan.


"Amano-kun?! Kamu dengerin nggak?!"


"Eh, apa?"


"Buahaha! Berani banget kau mengabaikan Kashiwagi-chan, Iori──"


Di saat kami sedang asyik mengobrol seperti itu──


"──Dengar, Yukimura. Apa kamu tidak mau memikirkannya lagi?"


Tiba-tiba, suara wali kelas terdengar.


Aku menoleh dan melihat Sensei sedang berdiri di depan meja Mizuki dengan tangan bersedekap dan wajah bingung.


"......"


"Dengan nilaimu, kamu bahkan bisa menembus Universitas Tokyo (Todai), lho. Rasanya sangat sayang kalau kamu hanya mengincar satu universitas swasta saja."


"......Karena aku tidak tertarik dengan universitas negeri."


"Tidak, meski kamu bilang begitu..."


Mendengar percakapan itu, aku segera memahami situasinya. 


Si jenius yang selalu menduduki peringkat satu di semua mata pelajaran sejak masuk sekolah itu, entah mengapa, lebih memilih universitas swasta daripada negeri.


(Aku mengerti perasaan Sensei... tapi, itu pasti sia-sia.)


Aku sendiri sudah mengatakannya beberapa kali, tapi dia tidak mendengarkan. Dia itu lebih keras kepala daripada kelihatannya. Lagipula...


"Tunggu Sensei! Kalau Yukimura-san bilang mau ke swasta, ya sudah biarkan saja!"


"Benar! Menurutku Sensei terlalu ikut campur meski statusnya guru!"


"Apa Sensei punya keluhan... terhadap keputusan yang dibuat Yukimura-san...?"


Para pengikut fanatik di kelas... yang menyebut diri mereka "Tim Pengawal", mulai menyemburkan api. 


Siapa pun mereka, kelompok ini menganggap kata-kata Yukimura Mizuki sebagai hukum absolut. Jika ada yang mencoba melawan, mereka akan dihancurkan dengan tekanan massa. Bahkan seorang guru pun bukan pengecualian.


Mata yang berkilat tajam. Suasana kelas yang seketika berubah menjadi medan permusuhan. Kata-kata maut seperti "penyalahgunaan kekuasaan" atau "pelecehan seksual" mungkin terlintas di benak Sensei. Hal ini membuat Sensei tidak tahan lagi.


"Ugh. Ba-baiklah. Kita bicarakan lagi lain kali."


Setelah mengatakan itu, dia pun mundur dengan lesu.


Kasihan juga orang itu. Pasti dia ditekan oleh wakil kepala sekolah atau kepala sekolah juga. 


Di saat aku diam-diam merasa simpati pada wali kelas yang terjepit di antara atasan dan murid itu...


"An-anu, Yukimura-san? Bukannya aku membela Sensei... tapi, kenapa harus swasta? Kalau memikirkan soal pekerjaan nanti, bukannya universitas negeri lebih..."


Dengan ragu-ragu, salah satu siswi di kelas mengangkat tangan.


Siapa ya namanya? Aku tidak terlalu ingat karena dia tidak menonjol, tapi seingatku dia termasuk murid berprestasi. Karena dia sangat mementingkan belajar, mungkin dia tidak habis pikir dengan 

keputusan Mizuki yang sengaja menurunkan level pilihannya.


Aku pun sangat setuju dengannya. Namun, menanggapi pertanyaan itu, Mizuki tampak berpikir sejenak.


"......Mungkin, karena ini diperlukan." 


Jawabnya singkat dengan jawaban yang aneh.


Gadis itu memiringkan kepalanya bingung. Namun, dia segera mendapat tekanan dari tim pengawal di sekitar Mizuki, sehingga dia pun akhirnya mundur dengan lesu.


──Lalu, sepulang sekolah hari ini.


Kring-kring... 


"──Selamat datang."


Sepulang dari tugas perpustakaan.


Sesuai janji, aku dan Kashiwagi-san datang ke sebuah kafe di dekat sekolah. Kafe bergaya Barat yang modis, namun harganya relatif terjangkau dan mudah dimasuki oleh siswa SMA. Selain itu, karena lokasinya berada di gang belakang yang agak sulit ditemukan, kecil kemungkinan kami bertemu dengan murid lain dari sekolah. Tempat ini sangat cocok untuk mengobrol dengan santai.


"Ah... tempat ini memang bikin tenang ya."


Kashiwagi-san duduk di kursi sofa dan meregangkan tubuhnya lebar-lebar. Dadanya yang berisi ikut berguncang, membuatku segera memalingkan wajah.


"Iya, begitulah."

"Hmm? Ada apa? Ah, mau pesan apa? Aku sudah lama ingin makan mille-crepe di sini lagi."


Kashiwagi-san membuka buku menu.


──Acara minum teh sepulang sekolah dengan gadis terimut nomor dua di sekolah.


Renji sering bilang padaku, "Posisi kau itu sangat menguntungkan, tahu? Sadar diri dikit dong?"... Melihat situasi ini, aku memang tidak bisa membantahnya.


"Kalau begitu, aku pesan cream soda saja."


Mendengar itu, Kashiwagi-san tersenyum lebar.


"Sudah kuduga. Amano-kun selalu pesan itu ya."


"Eh, masa sih?"


Setelah dipikir-pikir kembali, memang benar setiap kali ke sini aku selalu memesan itu. 


Apa itu kekanak-kanakan ya? Tapi cream soda di sini rasanya memang enak sekali.


"Fufu, menurutku bagus kok. Cocok buatmu."


"......"


Apanya yang cocok?


Aku merasa tidak puas sementara Kashiwagi-san tertawa kecil.


"──Apakah Anda sudah siap untuk memesan?"

Setelah memesan kepada pelayan, kami menghabiskan waktu sejenak dengan obrolan ringan. 


Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya aku minum teh bersama Kashiwagi-san. Pertama kali kami datang ke sini adalah saat kelas 1. Saat pulang dari tugas perpustakaan, kami terjebak hujan badai dan mengungsi ke kafe favorit Kashiwagi-san ini. Kalau diingat-ingat, itulah pertama kalinya aku mengobrol hanya berdua dengannya.


Sejak saat itu, entah bagian apa dari diriku yang dia sukai, setiap kali jadwal piket perpustakaan kami bersamaan, terkadang kami akan datang berdua ke kafe ini. Jika hal ini sampai diketahui murid laki-laki di kelas, entah apa yang akan terjadi. Memikirkannya saja sudah merepotkan.


"──Terima kasih telah menunggu. Ini cream soda dan mille-crepe-nya."


"Ah, iya."


Tak lama kemudian pelayan membawakan pesanan kami. Aku menerima cream soda dan meminumnya seteguk.


...Ya, memang enak. Aku menyadari bahwa lebih baik memesan apa yang kita suka daripada bergaya dengan memesan kopi hitam.


"Jadi, ada apa dengan hari ini?"


"Ah, iya."


Setelah menghela napas lega, aku menanyakan inti permasalahannya. Kashiwagi-san yang tadi sedang memakan mille-crepe dengan wajah bahagia, menghentikan gerakannya dan meletakkan garpunya.


"Hari ini, itu... ada yang ingin kutanyakan pada Amano-kun."

"......Yang ingin ditanyakan?"


Mendengar kata-kata itu, aku merasakan firasat yang agak tidak tenang. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku diajak dengan tujuan yang jelas seperti ini. Biasanya saat ke sini, kami datang karena waktu tugas kami selesai bersamaan, jadi alurnya terjadi "begitu saja". Belum pernah kami merencanakannya terlebih dahulu seperti hari ini.


Dengan sedikit tegang aku menunggunya lanjut bicara, sementara Kashiwagi-san memasang wajah yang sangat serius.


"──Amano-kun. Soal kamu ditembak oleh siswi kelas sebelah minggu lalu... apa itu benar?"


Ya, dia melontarkan kalimat yang sama sekali tidak kuduga.


"Pfftt—!?"


Cream soda yang sedang kuminum tersangkut di tenggorokan. Seketika itu juga, aku tersedak dengan hebatnya.


"Wah, wa-waah! Kamu tidak apa-apa?"


"Uhuk! Ak-aku tidak apa-apa."


Tidak apa-apa apanya. Ini benar-benar serangan mendadak. Cairannya masuk ke paru-paru. Aku terus terbatuk-batuk untuk beberapa saat. Kashiwagi-san yang tampak khawatir dengan lembut menyodorkan segelas air putih padaku.


Aku meminumnya dengan rakus, dan akhirnya mulai tenang.......Lalu.


"Apa... katamu tadi?"


"Ah, aku tidak melihatnya langsung, kok! Cuma saja, aku mendengar rumor itu."


"Rumor?"


Itu artinya, ada orang lain yang melihatnya, lalu menyebarkannya...?


Yang benar saja. Aku memegangi kepalaku yang pening.


──Benar, satu minggu yang lalu, aku memang menerima pernyataan cinta. Gadis dari kelas sebelah, tipenya agak pendiam dan sederhana. Kami sekelas saat kelas 1, dan meski sekarang beda kelas, kami masih sering mengobrol jika berpapasan. Tapi aku tidak pernah menyangka dalam mimpi sekalipun kalau dia menyimpan perasaan padaku. Aku ingat betapa paniknya aku saat itu.


Tapi ternyata hal itu sudah tersebar. Pantas saja Renji menyeringai terus. Ternyata si berengsek itu juga sudah tahu.


"Melihat reaksimu, ternyata benar ya?"


"......Yah, begitulah."


Karena tidak bisa mengelak, aku mengangguk.


Seketika itu juga, Kashiwagi-san menurunkan alisnya dengan raut wajah yang entah mengapa tampak lesu.


Eh, ada apa? Di saat aku kebingungan, dia menatapku dengan mata yang sedikit tajam.


"Lalu?"


"Eh?"


"Ja-jadi, jawabannya? Apa kamu berpacaran? Dengan gadis itu."


"Enggak... aku menolaknya."


Kashiwagi-san memajukan tubuhnya. Aku refleks sedikit memundurkan tubuh. Begitu aku mengucapkan kesimpulannya, Kashiwagi-san menatap mataku lekat-lekat untuk beberapa saat, lalu akhirnya dia mengembuskan napas lega dan menyandarkan punggungnya kembali ke sofa.


"Begitu, ya. Padahal menurutku dia gadis yang cukup manis."


Mendengar gumamannya, aku pun teringat kembali. Dia memang pemalu, tapi wajahnya memang tergolong cantik. Tapi, bukan itu masalahnya. Aku menolaknya bukan karena aku punya keluhan terhadap gadis itu.


"Amano-kun, apa kamu tidak ingin punya pacar?"


"......Mana mungkin. Aku juga siswa SMA laki-laki, tentu saja aku ingin punya pacar."


Aku mengutarakan pendapat objektif itu. Tanpa aku sendiri tahu, apakah itu benar-benar isi hatiku yang sesungguhnya. Kemudian, entah mengapa mata Kashiwagi-san tampak gelisah.


"Ka-kalau begitu... seandainya ada gadis yang penampilannya lebih sesuai seleramu, dan sifatnya cocok denganmu... apa kamu akan memacarinya?"


Pertanyaan itu membuatku semakin bingung.


......Apa-apaan ini? Kashiwagi-san, sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?


"Entahlah. Aku tidak akan tahu sebelum mengalaminya sendiri."


Klentang, suara es batu yang mencair di dalam gelas cream soda.

Kashiwagi-san mengangguk pelan.


"Begitu ya...... kalau begitu,"


Lalu, dengan wajah yang sedikit memerah, dia menatap mataku dengan lurus.


"──Kalau aku, bagaimana?"


......Awalnya, aku mengira salah dengar.


Musik latar di kafe, suara denting alat makan di kejauhan, semuanya terasa menjauh. Hanya mata yang sangat serius di depanku ini yang menjadi pusat duniaku.


"Hah?"


Hanya satu kata bodoh itu yang keluar dari mulutku. Tapi mau bagaimana lagi. Kurasa siapa pun akan memberikan reaksi yang sama.


(Tadi, dia bilang apa?)


Aku terpaku dalam keheranan. Saat aku menatapnya balik, Kashiwagi-san sama sekali tidak memalingkan pandangannya dengan mata yang sangat serius.


"Seandainya aku bilang ingin berpacaran dengan Amano-kun... apakah Amano-kun akan mengangguk?"


"Eh, tidak, itu..."


"Lihat, aku kan lumayan percaya diri dengan penampilanku. Aku juga 

merasa nyambung mengobrol dengan Amano-kun. Bukankah kita bisa menjalani hubungan dengan cukup baik?"


......Apa yang dia bicarakan?


Itulah kesan jujurku. Gadis ini bukan tipe yang suka melontarkan candaan seperti itu. Aku tahu itu. Tapi, aku tetap tidak bisa mencerna perkataannya. 


Berpacaran? Menjalani hubungan dengan baik? Siapa, dengan siapa?


"Ingin berpacaran... Kashiwagi-san, denganku?"


"Iya."


"Tidak, apa yang kamu katakan. Candaanmu itu—"


"Ini bukan candaan."


Kalimatnya memotongku dengan tegas. Aku menahan napas. Namun, Kashiwagi-san tetap tidak mengalihkan pandangannya dariku.


"Aku benar-benar berpikir ingin menjalin hubungan dengan Amano-kun."


"......!"


Dinyatakan secara sejelas itu, napas duniaku rasanya benar-benar berhenti. Suara Renji yang bilang "Sudah kubilang, kan?" melintas di benakku. Berisik, aku segera menendang suara itu jauh-jauh dari kepalaku.


"Aku pun tidak akan mengajak laki-laki yang tidak kusukai untuk minum teh berdua, tahu? Aku tidak semurahan itu."


"A-aku tidak menganggapmu murahan, tapi..."


"Tapi?"


Kashiwagi-san menatapku dengan tajam. Aku berusaha sekuat tenaga menekan rasa guncang di hatiku, lalu membuka mulut.


"Kenapa... aku?" 


Aku bertanya dengan ragu. Mendengar itu, Kashiwagi-san entah mengapa tertawa kecil dengan getir.


"......Kamu masih sama seperti biasanya, ya."


"......?"


Dia menghela napas seolah berkata 'ampun deh'. Eh, apa maksudnya?


"Hei, Amano-kun."


"Apa?"


"Kamu ingat saat pertama kali kita ke sini?"


Saat pertama kali datang? Kenapa menanyakan hal itu, pikirku. Tapi Kashiwagi-san hanya menatapku tanpa mengatakan apa-apa. Terpaksa, aku mencoba menggali ingatan masa lalu.


(......Ah, benar...... waktu itu.)


Lalu, aku teringat. Sosok yang begitu rapuh, sangat berbeda dari Kashiwagi-san yang sekarang. Saat hubungan kami masih canggung, dia pernah membisikkan keluh kesah yang lemah.


"Iya, aku ingat."

"......Begitu ya. Aku senang kamu ingat, tapi agak malu juga sih."


Kashiwagi-san tersenyum tersipu. Aku sempat ragu sejenak sebelum bertanya.


"Kashiwagi-san."


"Ya?"


"Sampai sekarang... kamu masih memikirkannya?"


Aku akhirnya menanyakan itu. Mendengar pertanyaanku, Kashiwagi-san membelalakkan mata, lalu tertawa kecil yang pahit.


"Entahlah...... tapi kurasa sudah jauh lebih baik dibandingkan saat kelas 1 dulu."


"Benarkah?"


"Iya. Karena seseorang pernah bilang padaku, 'Kamu tidak perlu membandingkan dirimu'."


Mendengar kata-kata itu... aku teringat keluh kesah yang dia tumpahkan hari itu.


『Aku...... apakah selamanya aku akan terus dibanding-bandingkan dengan Yukimura-san......』


──Gadis terimut nomor dua di sekolah.


Julukan itu sama sekali bukan hinaan. Semua orang mengakui kecantikan dan pesonanya. Namun... ada kekejaman tersendiri saat dijadikan sebagai "pesaing" dari Yukimura Mizuki yang itu. Itu adalah sesuatu yang mungkin paling aku pahami lebih dari siapa pun.


"Dia bilang, 'Kashiwagi-san punya banyak pesona yang bahkan tidak dimiliki Yukimura-san'. Aku sangat senang mendengarnya."


"......Sudahlah, jangan dibahas lagi."


Ingatan yang dibongkar kembali itu membuatku memegangi kepala dan menelungkup ke meja. Iya, aku memang mengatakannya. Tapi waktu itu aku hanya panik karena harus menghiburnya dengan cara apa pun.


Ughh, aku mengerang. Mendengarnya lagi sekarang rasanya sangat memalukan. Berani sekali aku bicara begitu dulu. 


Melihatku yang menelungkup tidak bergerak seperti siput, Kashiwagi-san tertawa kecil.


"Karena Amano-kun bilang begitu, aku jadi bisa punya rasa percaya diri, tahu? Aku benar-benar berterima kasih soal itu."


"Kalau begitu, lupakan saja kata-kata itu."


"Tidak mau."


Kenapa? Padahal itu adalah sejarah kelam yang ingin kuhapus sekarang juga. Apalagi di depan Kashiwagi-san. Aku benar-benar merasa sok tahu saat itu.


"Sampai sekarang aku masih ingat kata demi kata, lho. Umm, 'Kashiwagi-san adalah tipe gadis cantik yang berbeda dari Yukimura-san, dan──'."


"Tolong hentikan."


Bunuh saja aku sekarang. 


Kejam sekali. Apa dia tidak punya perasaan? Kata-kata gombal yang memalukan seperti itu seharusnya dibiarkan saja diucapkan oleh Renji. Aku memohon agar dia melupakannya, tapi Kashiwagi-san menolak mentah-mentah. Aku pun putus asa.


"Bagiku, itu adalah hal yang sangat besar. Mungkin sejak saat itulah aku mulai menyadari keberadaan Amano-kun."


"Eh, gara-gara itu?"


"Ah, jahat banget. Padahal itu kenangan berhargaku, tapi kamu cuma bilang 'gara-gara itu?'."


"Ti-tidak, maaf."


Bukan bermaksud begitu, kataku dengan panik. Kashiwagi-san tertawa geli melihatku.


"Aku benar-benar senang. Kamu tidak melihatku sebagai 'nomor dua' atau 'setelah Yukimura-san', tapi kamu benar-benar melihat diriku apa adanya. ......Aku sempat berpikir apakah ada laki-laki seperti itu."


......Mendengar kata-katanya, gerakanku terhenti.


Nomor dua. Setelah Yukimura-san. Lebih mudah didekati. 


Tren seperti itu memang ada, dan kenyataannya memang banyak orang yang menembak Kashiwagi-san hanya dengan perasaan iseng. Dan aku bukan salah satu dari mereka. Tapi, itu karena...


(......Bukan begitu.)


──Karena ada orang lain yang sedang kuperhatikan. Itulah alasan kenapa aku tidak terlalu menyadari pesonanya selama ini. Padahal hanya sesederhana itu.

"......Menurutku Kashiwagi-san bisa memilih laki-laki lain yang jauh lebih baik dariku."


Aku tidak bisa mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya, jadi aku hanya bisa berdalih seperti itu. Mendengar itu, Kashiwagi-san mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu menggembungkan pipinya dengan kesal.


"Duh, kamu bilang hal rendah diri begitu lagi. Kebiasaan itu nggak sembuh-sembuh ya."


"Eh."


"Amano-kun, wajahmu itu cantik seperti perempuan, kamu juga pintar. Kenapa penilaian dirimu rendah sekali, sih?"


Dia menatapku lekat-lekat. 


Mau dibilang begitu pun aku bingung. Sejak kelas 1, di dekatku selalu ada Renji yang paling populer di sekolah. Dan yang terpenting, di sisiku selalu ada teman masa kecil yang luar biasa itu. Jadi meskipun disuruh percaya diri... aku hanya bisa menggaruk kepala.


"Yah, sudahlah. Lagipula sainganku jadi berkurang."


Kashiwagi-san tertawa kecil. Aku tidak tahu harus merespons apa terhadap itu.


"Saingan. Kalau diingat-ingat, paling cuma gadis yang kemarin menembakku itu."


"Begini-begini juga, aku sempat panik, lho. Soalnya ada gadis lain yang juga mengincarmu, jadi aku pikir kalau tidak cepat-cepat, kamu bakal direbut orang."


"......Kamu terlalu berlebihan. Lagipula, masa Kashiwagi-san yang bilang begitu?"


Padahal kalau bicara soal tingkat persaingan, dia pasti punya penggemar 100x lipat lebih banyak dariku. 


Di saat aku merasa heran dengan apa yang dikatakan gadis paling populer nomor dua di angkatan ini, Kashiwagi-san tertawa getir.


"Ahaha...... yah, memang sih aku sering ditembak. Tapi itu kan, anggap saja seperti universitas cadangan."


"......"


Cadangan.


Siapa yang dia maksud, rasanya tidak perlu ditanya lagi sekarang. Aku tidak mengejarnya lebih jauh. Karena penghiburan yang buruk pasti akan berdampak sebaliknya.


Aku menyandarkan punggung dalam-dalam ke sofa dan mengembuskan napas. Sepertinya, batas waktu untuk mengulur-ulur percakapan sudah mencapai limitnya.


"......Kashiwagi-san, kamu serius, kan?"


Aku bertanya sebagai konfirmasi terakhir. Kashiwagi-san, dengan wajah yang masih sedikit merona, mengangguk pelan.


"Iya. Aku suka pada Amano-kun."


"......"


"Berada di dekat Amano-kun itu menyenangkan. Belajar bersama, atau minum teh di kafe seperti ini. Aku ingin hal-hal seperti itu 

bertambah lebih banyak lagi. Makanya,"


Setelah berkata demikian, Kashiwagi-san menegakkan punggungnya dengan sikap formal.


"──Maukah kamu berpacaran denganku?"


Dia menyatakannya dengan sangat jelas, dalam bentuk yang tidak mungkin lagi salah dipahami.


Mendengar itu, aku refleks membuang muka ke arah jendela. Matahari perlahan mulai terbenam. Di luar sana, sepasang kekasih yang tampak bahagia lewat sambil bergandengan tangan. Ini adalah perkembangan yang sama sekali tidak kuduga. Aku bahkan tidak tahu apakah ini nyata atau tidak.


(Oi, Renji...... apa kau sudah tahu soal ini?)


Biasanya aku tidak pernah melakukannya, tapi kali ini aku bertanya pada sahabat berengsek itu di dalam hati. Di dalam kepalaku, sosoknya muncul sambil mengacungkan jempol dengan senyum lebar.


『──Kau sama Kashiwagi-chan itu serasi, tahu?』


Kata-kata itu terngiang kembali di kepalaku.


Menyebalkan memang... tapi aku tidak bisa membantahnya secara mutlak. Berada di dekat gadis ini memang terasa nyaman. Dia cantik, dan sifatnya pun baik. Bisa dicintai oleh gadis sehebat ini... mungkin tidak akan terjadi dua kali dalam hidupku.


Namun.


"......Maaf."


"Eh......"


"Aku tidak bisa berpacaran dengan Kashiwagi-san."


──Kenapa, sampai sekarang aku masih belum bisa melepaskannya ya?


Keheningan yang berat jatuh di dalam kafe. Suasana hangat yang menyelimuti kami tadi seketika lenyap. Udara di atas meja terasa membeku dan tegang, bahkan denting ringan alat makan pun terdengar bergema sangat keras. Tidak ada orang lain di dalam kafe selain kami. Pemilik kafe di balik konter terus mencuci cangkir seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi. 


Aku tidak bisa melihat ekspresi Kashiwagi-san yang sedang tertunduk. Aku hanya bisa melihat bahu kecilnya yang sedikit gemetar. Jika dia sampai menangis... memikirkan itu saja membuatku tidak berani menatap wajahnya. Suara jam besar di kafe berbunyi klik, terdengar sangat mengganggu di telinga.


"......Ternyata benar."


"......?"


"Seperti yang dikatakan Miyama-kun."


Kashiwagi-san menggumamkan hal itu dengan suara lirih.


......Renji? Kenapa nama si berengsek itu muncul sekarang?


Di tengah kebingunganku, Kashiwagi-san mengangkat wajahnya dan melepaskan tawa getir.


"Dulu, Miyama-kun pernah bilang. Iori itu, mungkin punya gadis lain yang dia sukai."


"Apa—"


Mendengar itu, tanpa sadar kursiku berderit karena aku tersentak.


Si berengsek itu, apa saja yang dia bicarakan di belakangku? Sosok rambut cokelat itu melintas di kepalaku. Namun dalam bayanganku, dia hanya tertawa meremehkan seolah ingin bilang, 'Sudah kelihatan jelas, tahu'.


"Tadinya aku pikir Miyama-kun cuma asal bicara. Tapi, ternyata benar ya."


"......"


Aku tidak bisa menjawab sepatah kata pun.


Sialan kau, Renji. Kenapa harus bilang begitu pada Kashiwagi-san. Melihatku yang mengerang kesal, Kashiwagi-san bertanya dengan suara yang tenang.


"Hei, boleh aku bertanya sesuatu?"


"......?"


"Gadis seperti apa yang disukai Amano-kun?"


Mendengar pertanyaan yang sudah bisa ditebak itu, aku refleks memegangi kepala. Namun Kashiwagi-san terus menatapku lekat-lekat tanpa memalingkan muka. Karena tatapannya itu, aku akhirnya tertunduk pasrah.


"Apa aku harus mengatakannya?"


"Iya. Jika boleh."


"......Haaah."


Pemaksa sekali, pikirku.


Tapi aku yakin, pertanyaan ini bukan sekadar karena rasa penasaran belaka. Tatapan matanya dan nada suaranya saat bertanya terasa sangat serius. Tatapan itu tidak mengizinkanku untuk berpura-pura lagi. Maka, terpaksa... aku memutuskan untuk sedikit membuka kunci di hatiku.


"......Dia teman masa kecilku."


"Eh?"


"Kami bertemu saat umur 5 tahun, dan sejak saat itu, kami tumbuh besar bersama."


Aku mencoba mengingat kembali. Gadis yang pindah ke rumah sebelah saat aku berumur 5 tahun. Aku terpesona oleh kecantikannya yang luar biasa, dan sejak saat itu, kami selalu berbagi waktu yang sama.


"Sudah seperti keluarga sungguhan. Di sekolah maupun di rumah, kami selalu bersama. Hal itu sudah menjadi sesuatu yang lumrah bagiku."


"......"


"Sejak saat itu, aku... selalu menyukai gadis itu."


──Kalimat terakhir itu membutuhkan keberanian besar untuk diucapkan. Namun, setelah selesai mendengarkan ceritaku, Kashiwagi-san mengembuskan napas panjang, seolah merasa kagum.


"......Itu luar biasa. Rasanya seperti di dalam manga."


"Benar juga ya."

Manga, ya? Aku pikir itu perumpamaan yang sangat tepat. Karena bagi bagiku, teman masa kecilku itu adalah sosok yang terasa tidak nyata.


"Amano-kun, apa kamu ingin berpacaran dengan gadis itu?"


"Mana mungkin."


Aku menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan itu. Memang benar dulu ada masa-masa seperti itu.


"Gadis itu adalah orang yang benar-benar hebat. Meskipun dia berada di dekatku, dia adalah tipe orang yang terasa berada di tempat yang sangat jauh."


Suaraku terdengar menerawang. Seolah-olah aku sedang menceritakan kisah orang lain, bukan kisahku sendiri.


Kapan ya aku menyadarinya?


Teman masa kecil yang istimewa sejak kecil. Aku yakin akulah yang pertama kali menyadari cahayanya lebih awal dari siapa pun. Dan justru karena itulah, aku juga menyadari bahwa kami tidak akan bisa bersama untuk waktu yang lama.


"Aku sudah lama menyerah untuk mengejarnya."


Aku menutup cerita itu sambil menekan emosiku.


Ah... benar-benar deh, apa sih yang aku bicarakan? Padahal aku tidak berniat bercerita sejauh ini. Mungkin karena lawanku bicara adalah Kashiwagi-san, pertahananku jadi terlalu kendur. Cerita menyedihkan seperti ini seharusnya bukan sesuatu yang layak didengar orang lain. Di saat aku merasa menyesal, Kashiwagi-san...


"......Menyakitkan, ya," ucapnya lirih sambil mengerutkan alis.

"Itu cerita lama, kok."


Aku berusaha memasang senyum dan membalasnya. Berpura-pura tidak menyadari sedikit rasa perih yang tersisa di lubuk hatiku.


Kashiwagi-san menatap wajahku lekat-lekat selama beberapa saat, lalu akhirnya dia tersenyum lembut.


"Tapi, teman masa kecil ya? Ini agak di luar dugaan."


"Eh?"


"Habisnya, aku sempat mengira kamu akan menyebut nama 'Yukimura-san'."


"——!?"


Mendengar nama itu, jantungku rasanya mau copot.


"Ke-kenapa?"


"Eh? Habisnya, bukankah hampir semua murid laki-laki di sekolah ini menyukai Yukimura-san?"


"......"


Kashiwagi-san memiringkan kepalanya dengan polos.


(Jadi begitu alasannya... bikin kaget saja.)


Tadi aku sempat mengira dia bisa membaca pikiranku. 


Intuisi wanita. Aku tahu betul bahwa hal itu tidak bisa dianggap remeh.


"Tapi syukurlah... setidaknya Amano-kun tidak direbut oleh Yukimura-san."


Kashiwagi-san bergumam pelan. Karena tidak terdengar jelas, aku hanya memiringkan kepala bingung.


"Kamu tidak sedang berpacaran dengan teman masa kecilmu itu, kan? Kalau begitu, aku masih boleh kan memberikan 'serangan'?"


Kashiwagi-san tiba-tiba tersenyum nakal.


Eh, serangan?


"......Kurasa aku sudah menolakmu tadi."


"Tapi, gadis yang kamu sukai itu kan tidak memberimu harapan, kan?"


"U-ugh."


Harus ya mengatakannya sejelas itu?


"Kalau begitu, aku belum perlu menyerah, kan?"


Kashiwagi-san memajukan tubuhnya. Aku refleks menarik diri.


(Apakah gadis ini memang se-agresif ini sebelumnya...?)


Kashiwagi Kotoha, gadis cantik yang dikenal paling menenangkan di sekolah kami. Namun sekarang, dia menatapku dengan tatapan kuat yang seolah tidak akan membiarkanku lolos.


Saat aku sedang mengalihkan pandangan karena bingung harus berbuat apa... tiba-tiba, tanganku melihat ke arah tangan Kashiwagi-san.


"......!"


──Melihat itu, hatiku seketika mendingin. Meskipun dia mengepalkan tangannya agar tidak ketahuan, tetap saja terlihat sedikit. Aku bisa melihat tangannya sedikit gemetar.


(Ah... bodohnya aku.)


Rasanya aku ingin memukul diriku sendiri. Menyatakan cinta pada orang yang disukai. Aku seharusnya tahu betul betapa sulitnya hal itu.


"Boleh kan? Amano-kun."


Ditanya seperti itu dengan mata yang bergetar, aku pun bimbang.


Bukankah ini tidak jujur? Jika aku memikirkan perasaan Kashiwagi-san, bukankah seharusnya aku menolaknya dengan tegas?


"......Kurasa jawabanku tidak akan berubah, lho."


"Tidak apa-apa. Jauh lebih baik begini daripada tidak melakukan apa-apa dan menyesal nantinya."


Melihat Kashiwagi-san yang tersenyum paksa seperti itu, aku pun terus berpikir keras hingga akhirnya...


"......Kalau Kashiwagi-san tidak keberatan dengan hal itu."


Aku mengucapkannya sambil menjatuhkan bahu dengan pasrah.


"Iya. Terima kasih... sudah mau mendengarkan keegoisanku."


Keheningan menyelimuti kami. Cream soda yang sudah mencair sejak tadi melepaskan gelembung karbonatnya untuk terakhir kalinya.


"Yuk, kita pergi sekarang. Kita sudah terlalu lama di sini."


"......Benar juga."


Tepat saat aku menjawab begitu.


Piron! Suara notifikasi pesan singkat terdengar.


Saat aku melihat ponselku—tertulis nama 'Yukimura Mizuki'.


【Ada permintaan untuk makan malam?】


"......"


"Amano-kun?"


"Maaf. Bukan apa-apa."


Tanpa membalas pesan itu, aku menyimpan ponselku kembali. Mengikuti Kashiwagi-san, aku pun beranjak dari kursi. Aku berniat mengambil struk tagihan, tapi Kashiwagi-san lebih dulu menyambarnya.


"Hari ini, aku yang traktir."


"Eh? Jangan."


"Kan aku yang mengajak. Sebagai gantinya, aku akan senang kalau lain kali Amano-kun yang mentraktirku."


"......Haha."


Begitu ya. Jadi begitu taktiknya. Ternyata dia punya sisi cerdik juga. Aku hanya bisa tersenyum kecut dan mengangguk.


──Kami meninggalkan kafe dan berjalan berdua menuju stasiun. Biasanya ada saja topik pembicaraan yang muncul, tapi sekarang, aku tidak tahu harus bicara apa.


Begitu sampai di stasiun, Kashiwagi-san berbalik.


"Kalau begitu, aku ke arah sana ya."


"Iya."


Hanya itu yang kuucapkan. Saat aku hendak melangkah menuju peron keretaku sendiri...


"Amano-kun."


Aku menghentikan langkah karena dipanggil dari belakang. Saat aku menoleh, Kashiwagi-san memasang senyum yang tampak sedikit kesepian.


"Di sekolah nanti... aku masih boleh menyapamu seperti biasa, kan?"


"Eh?"


"Begini, aku akan sedih kalau kita jadi canggung hanya karena aku menyatakan cinta. Setidaknya, aku ingin kita tetap berinteraksi seperti dulu."


"......Ah."


Mendengar permintaan itu, aku berpikir sejenak lalu mengangguk.


"Iya. Meski tidak mungkin berpura-pura hal ini tidak pernah terjadi... aku juga akan bersikap seperti biasa, sebagai teman. Apa tidak apa-apa begitu?"


"Mm. Malah aku sedih kalau kamu menganggapnya tidak pernah ada. Begitu saja sudah cukup kok."


Kashiwagi-san tersenyum senang.


"──Sampai jumpa besok ya."


Kali ini, aku benar-benar melepas kepergian Kashiwagi-san yang berjalan menuju peronnya. Aku mengembuskan napas panjang dan mulai melangkah pulang.


(Kashiwagi-san... menyukaiku, ya.)


Aku menyandarkan kepala di jendela kereta sambil berpikir.

Rasanya masih sulit dipercayai. Gadis yang begitu cantik, ceria, dan baik hati. Gadis yang menjadi idaman setiap lelaki.


(......Kenapa, aku menolaknya ya?)


Seharusnya dia adalah sosok yang membuatku harus bersujud syukur jika mau berpacaran denganku. Ini benar-benar pemborosan yang keterlaluan. Aku hanya bisa meratapi nasib sendiri.


『Pemberhentian berikutnya adalah──. Pintu keluar berada di sebelah kiri.』


Aku turun di stasiun terdekat dan menyusuri jalan pulang yang sudah sangat akrab. Hingga akhirnya, saat aku melewati depan sebuah supermarket──


"──Aku mohon. Tolong dengarkan dulu penjelasanku!"


Suara itu membuatku berhenti melangkah.


Aku menoleh dan melihat seorang pria dan seorang gadis berdiri 

berhadapan di depan supermarket. Pria itu tampak sangat gigih memohon sesuatu kepada si gadis yang sedang menjinjing tas belanja ramah lingkungan.


"Jika itu kamu, kamu pasti sukses. Tidak salah lagi. Aku jamin!"


"......"


Namun, si gadis hanya mendengarkan sambil lalu dengan ekspresi bosan. Meski berada di tengah keramaian, kecantikannya bisa langsung dikenali dalam sekali lihat. Tidak mungkin aku salah lihat.


"......Mizuki."


──Yukimura Mizuki.


Gadis yang dijuluki kecantikan nomor satu di sekolah ada di sana. 


Melihat sosoknya, aku kembali menyadari sesuatu. Jika dilihat di tengah kota seperti ini, aura kehadirannya memang berada di level yang berbeda. Bagaikan setangkai mawar raksasa yang mekar di tengah rumput liar. Saat ini pun, para pelajar, bapak-bapak, bahkan sesama wanita yang berjalan di dekatnya menoleh dua kali untuk memandangnya.


Saat aku sedang terpaku menatapnya, Mizuki tiba-tiba menoleh ke arahku.


──Mata kami bertemu. Seketika, sudut bibirnya sedikit melengkung membentuk senyuman tipis.


"Maaf ya."


"Ah, tu-tunggu......!"


Mizuki menghindar dengan lincah dari tangan pria yang terulur, lalu berjalan mendekat ke arahku. Begitu sampai tepat di sampingku, dia menyapa dengan suara lembut seperti biasanya.


"Iori."


"......Mm."


"Baru pulang?"


"Iya."


Hanya satu kata itu, lalu dia menyejajarkan langkahnya di sampingku seolah itu adalah hal yang wajar. Seketika itu juga, suasana di sekitar kami menjadi riuh. Tatapan penuh rasa ingin tahu, kecurigaan, dan kecemburuan tertuju pada kami. Namun, Mizuki sama sekali tidak mempedulikan sekelilingnya dan mengajakku, "Ayo pulang?".


"Sini, biar aku yang bawa."


"Iya, terima kasih."


Aku menerima tas belanja berisi sayuran dan daging. Melihat stempel "Diskon 20%" pada nampan daging babi, aku membatin bahwa itu sangat tidak cocok dengan citranya.


Mizuki terus berjalan dengan wajah datar meski dihujani tatapan orang. Menjadi pusat perhatian atau disukai banyak orang adalah hal yang biasa baginya. Tidak ada yang istimewa. Sejak kami masih kecil, selalu begitu.


"Orang tadi, memangnya tidak apa-apa diabaikan?"


"....?"


"Dia pencari bakat, kan? Tidak ada salahnya mendengarkan dulu."


"Tidak perlu, aku tidak tertarik."


Jawabannya singkat. 


Persis seperti dugaanku. Padahal semua orang melihatnya sebagai sosok yang istimewa, tapi dia sendiri tidak pernah berniat pergi ke tempat yang istimewa. Sejak dulu, sisi dirinya yang ini tidak pernah berubah.


"Kalau Iori?"


"Hmm?"


"Komite perpustakaan, tadi sibuk?"


"......Enggak. Cuma tadi setelah selesai, aku mengobrol dengan teman, makanya jadi telat."


"Teman? Miyama-kun?"


Mizuki memiringkan kepalanya. Fakta bahwa hanya nama Renji yang muncul di benaknya menunjukkan betapa sempitnya pergaulanku, dan itu agak menyedihkan. Tapi, tebakannya salah.


"......"


"......? Bukan dia?"


Saat hendak menjawab pertanyaannya, aku mendadak kelu.


──Tadi aku minum teh dengan Kashiwagi-san, dan dia menembakku.


(Mana mungkin aku bisa mengatakannya.)

Mungkin Mizuki tidak akan merasa apa-apa jika mendengarnya. Meski begitu, aku tetap tidak ingin membicarakannya. Melihatku yang bungkam, Mizuki menatapku lekat-lekat dengan ekspresi datar.


"──Makan malam hari ini kubuatkan cabbage roll, ya."


"Eh?"


"Kamu suka, kan? Iori."


Dia tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


Di saat aku tertegun, Mizuki menyenggol tas belanja ramah lingkungannya dengan pelan.


"Bahan-bahannya juga sudah kubeli."


"......Repot, lho, bikin itu."


"Iya. Makanya, bantu aku."


"Memangnya tidak ada pilihan untuk tidak memasaknya?"


Apakah dia menyadari kalau aku sedang tidak ingin bicara?


Aku merasa dia sedang berusaha perhatian padaku. Sejak dulu selalu begini. Seolah bisa melihat menembus segalanya, dia selalu memberikan kata-kata yang ingin kudengar. Seakan-akan dia tahu segalanya tentang diriku.


(Tidak adil, ya.)


Padahal dia sendiri tidak pernah membiarkanku tahu apa pun tentangnya.


Sambil menyerah dan berpikir "ya sudahlah", aku berjalan di samping Mizuki. Tak lama kemudian, kami sampai di depan rumahku.


(Ah, kunci.)


Aku meraba-raba saku, tapi tidak ada.


Sial, apa di dalam tas?


Sambil membatin "repotnya", aku hendak mengeluarkan kunci. Namun sebelum aku sempat melakukannya, Mizuki sudah berdiri di depan pintu, memasukkan kunci, dan membukanya dengan bunyi ceklek. Sangat alami. Tanpa ada rasa canggung sedikit pun.


"......"


"....? Kenapa?"


"Enggak."


Meski sudah terlambat untuk menanyakannya, aku penasaran dengan situasi ini.


"Kenapa kamu bisa pegang kunci rumahku, ya?"


"......? Karena diberikan oleh ibumu, kan?"


Ya, benar juga. Aku merasa bodoh sudah menanyakannya. Ibuku memang lebih menyayangi Mizuki daripada aku sejak dulu. Orang seperti dia pasti akan memberikannya tanpa ragu.


『Dengar, Iori? Jangan sampai Mizuki-chan lepas, ya! Kamu itu mirip denganku, setidaknya wajahmu saja yang bagus! Makanya lebih percaya dirilah sedikit!』


Aku teringat percakapan sesaat sebelum ibuku berangkat ke luar negeri. Kepercayaan diri yang aneh, khas mantan aktris panggung. Saat itu aku hanya mengiyakannya dengan asal.


(Jangan bicara yang mustahil dong, Bu.)


Aku menggerutu dalam hati.


Orang tuaku dipindahtugaskan ke luar negeri. Sejak saat itu, dimulailah keseharian kami yang seperti tinggal berdua. Bagi orang lain, mungkin ini keberuntungan besar. Tapi bagiku, ini adalah semacam kutukan. Karena dia tidak pernah mau menjauh dariku. Gara-gara itu, aku tidak pernah bisa melupakan cinta pertamaku.

Rasanya benar-benar seperti kutukan.


"Iori."


"Hmm?"


"Ayo masuk?"


"......Iya."


Begitulah, sambil ditarik ujung lenganku oleh Mizuki.


Hari ini pun, aku pulang ke rumah bersama teman masa kecilku. Namun, tepat sebelum masuk...


"......"


Aku melirik ke rumah sebelah, dan seperti biasa, hari ini pun lampu di sana tidak menyala.



Setelah makan malam.

Setelah menyantap kol gulung yang sangat enak (pada akhirnya aku cuma membantu mencuci sayuran), aku bersantai di sofa sambil menatap televisi tanpa minat.


Acara yang tidak jelas menampilkan artis yang tidak jelas pula. Kalau ditanya untuk apa menyalakannya, aku hanya bisa menjawab "ya, begitulah".


"Televisinya seru?"


"Sama sekali tidak."


Mizuki juga tampak bosan sambil memainkan ponselnya, bahkan tidak melihat ke arah TV. Namun, sosoknya yang tampak malas-malasan itu pun tetap terlihat sangat menawan. Mungkin bisa jadi acara TV sendiri dengan judul "Hari Libur Aktris Cantik".


Sambil memikirkan hal itu, aku menekan tombol remote untuk mengganti saluran.


『Berikutnya, adalah orang Jepang yang terpilih sebagai model Paris Fashion Week──』


"......"


Melihat tayangan di layar itu, tanganku yang hendak mengganti saluran terhenti secara spontan. Di dalam layar, para wanita cantik jelita berjalan di atas runway dengan pakaian mewah. Pemandangan indah yang membuat pening. Sesuatu yang bagi orang biasa tidak akan pernah ada hubungannya seumur hidup. Dunia yang berkilauan, hanya untuk mereka yang terpilih.


"......Mizuki."


"....?"

Tanpa sadar aku memanggil namanya. Benar-benar di luar kendali, tahu-tahu sudah terucap.


"Eh, bukan apa-apa."


Bukannya aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi, aku tidak bisa tidak berpikir...


──Padahal seharusnya dia sudah berada di "sisi sana" sejak lama.


"Iori."


"Apa."


Kali ini Mizuki yang memanggil namaku. Saat aku menoleh, mataku bertemu dengan matanya yang indah bagaikan karya seni.


"Kamu cemas?"


Hanya satu kata. Sebuah pertanyaan yang seolah menembus segalanya, membuatku kehilangan kata-kata. Saat aku mencoba memalingkan wajah, dia menahannya dengan meletakkan satu tangannya dengan lembut di pipiku.


"Kamu takut kalau aku akan pergi ke suatu tempat yang jauh?"


"......!"


......Makanya, aku tidak suka dia. Selalu saja bersikap seolah tahu segalanya.


Sebagai bentuk perlawanan kecil, aku menatapnya dengan kesal. Namun seolah tidak terpengaruh, Mizuki justru tersenyum kecil.


"Kamu manis ya, Iori."

"Berisik."


Aku hanya bisa membalas dengan kekanak-kanakan seperti itu.


Mizuki hanya terus menatapku sambil tersenyum saat aku mengganti saluran TV dengan wajah cemberut.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close