NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Main Heroine yori Kawaii Mobu no Tanaka-san V1 Chapter 11

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 11

Tanaka-san Punya Pacar

Itu terjadi pada suatu hari musim panas yang cerah.


Sekolah tempatku belajar, SMA Shikigaoka, mengadakan acara Open School, dan banyak orang dari luar yang berdatangan.


"Aku sudah membawakan tambahan roket botol PET dari gudang."


"Terima kasih! Serius, ini sangat membantu."


"Hei, penampilan klub musik ringan sangat meriah dan sepertinya bakal molor. Kalau boleh, bisa bantu persiapan untuk sesi berikutnya?"


"Dimengerti."


Di tengah keramaian itu, aku yang diminta oleh Akitsuki-senpai untuk membantu OSIS harus berlarian ke sana kemari di dalam sekolah dengan sangat sibuk. Padahal niat awal aku mau membantu sedikit sambil menunggu giliran penampilan Tanaka-san, tapi ternyata malah jadi sibuk luar biasa.


"......Pokoknya harus selesai sebelum giliran Tanaka-san tiba. Senpai, tolong pegang sebelah sana."


"Oke."


Sambil mengeluh dalam hati karena rencana tidak berjalan mulus, aku sedang mengangkut barang ke gimnasium ketika aku menemukan kerumunan orang yang tidak biasa.


Saat aku menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas, aku melihat sekilas rambut berwarna merah muda yang familiar. Hanya ada satu orang di sekolah ini yang punya warna rambut mencolok seperti itu.


Dia adalah salah satu main heroine, Haruno Mika.


Sepertinya, dia dikerahkan untuk membagikan selebaran demi menarik orang ke sesi uji coba yang diadakan klub lari di lapangan. Namun, sepertinya "maskot" penarik pelanggan ini terlalu menarik, sehingga situasinya menjadi kacau seperti itu.


Yah, apalagi Haruno saat ini tidak memakai seragam sekolah biasa, melainkan memakai tank top dan celana pendek yang mengekspos banyak kulit. Sebagai laki-laki, wajar saja jika mata mereka tertuju padanya.


"Senpai. Boleh saya ke toilet sebentar?"


"Oh, boleh. Berkat Nakayama-kun, barangnya sudah hampir semua terangkut, sisanya biar aku sendiri saja."


"Terima kasih."


Sebagai teman sekelas, aku merasa tidak enak jika membiarkannya begitu saja. Jadi aku meminta izin pada Senpai dan melangkah menuju Haruno.


"Permisi. Dia sudah harus kembali sekarang, jadi tolong menjauh. Kalau tidak menjauh, saya anggap ini gangguan dan akan saya laporkan."


"Na, Nakayama-kun!?"


Aku membelah kerumunan dengan paksa dan berdiri di depan Haruno. Seketika, mata Haruno berkaca-kaca karena merasa tertolong.


(Hei, jangan pasang wajah begitu di depanku, aku sama sekali tidak senang. Kita sama sekali tidak punya perasaan cinta, dan ini malah bakal jadi urusan yang sangat merepotkan.)


Saat aku mengalihkan pandangan ke depan, terlihat gerombolan laki-laki (yang sok cakep) menatapku dengan kesal seolah berkata 'jangan mengganggu'.


(Harusnya ini kan tugasnya Kaisei. Tapi karena sekarang dia sedang ada event dengan Akitsuki-senpai, mau bagaimana lagi.)


Aku menghela napas panjang memikirkan temanku yang mungkin saat ini sedang asyik bermesraan dengan gadis cantik di gimnasium, lalu aku meletakkan kedua tanganku di bahu Haruno.


"Jadi, begitulah urusannya. Kalau mau bicara dengannya, silakan datang lagi ke lapangan tempat klub lari berada."


"Ah, iya, begitulah! Jadi aku tunggu di lapangan ya—!"


Ucapku sambil mendorong punggung Haruno dengan paksa untuk menjauhkannya dari para lelaki itu. Berkat bantuan Haruno di akhir tadi, tatapan penuh permusuhan dari mereka sedikit mereda, meski sepertinya aku tetap bakal sangat dibenci.


"Kenapa sih aku harus mengambil peran yang merugikan begini demi orang sepertimu?"


"Ahahaha, maaf, maaf. Sebagai gantinya aku traktir minuman deh."


Haruno sepertinya paham akan hal itu, dia pun tertawa garing. Tapi, bukan tugasku untuk menghiburnya dengan lembut di sini.


"Red Bu*l ya."


"Itu kan yang paling mahal. Yah, karena hari ini aku benar-benar merepotkanmu, aku bakal traktir deh."


Karena itu, aku memalak minuman tanpa sungkan sedikit pun, dan Haruno mengeluarkan dompetnya dengan wajah pasrah.


Hubungan antara karakter figuran (mob) dan main heroine memang paling pas kalau seperti ini. Aku merasakan kenyamanan yang tak terlukiskan sambil membuat Haruno mentraktirku dua kaleng Red Bu*l.


Heh, salah sendiri dia memasukkan lembaran uang seribu yen di depanku.


Tentu saja dia mengomel habis-habisan, tapi aku tetap memaksa dengan alasan itu adalah "biaya kerugian" yang sah.


"Nah, kalau kamu kesulitan lagi, aku bakal bantu."


"Jangan datang lagi! Besok-besok aku bakal urus sendiri!"


Setelah berhasil mengantar Haruno yang berisik itu kembali ke klub lari, aku kembali ke gimnasium.


Ternyata persiapan sudah selesai, dan Senpai yang tadi mengangkut barang bersamaku menyadari kehadiranku lalu melambaikan tangan.


"Lelah juga ya. Ini, permintaan maaf karena tadi aku sempat pergi."


"Boleh nih? Ini kan mahal."


"Dapat gratisan kok, jadi terima saja tanpa sungkan."


"Kalau begitu, aku terima dengan senang hati. Terima kasih ya."


"Sama-sama."


Saat aku dan Senpai sedang duduk berjejer di pojok gimnasium sambil menyeruput Red Bu*l sedikit demi sedikit, rombongan klub tiup masuk melalui pintu belakang sambil membawa instrumen mereka.


Di antara mereka ada Tanaka-san, dan begitu dia menyadari keberadaanku, dia melambaikan tangan kecil padaku.


Manis sekali.


Saat aku membalas lambaian tangannya, Senpai yang ada di sampingku bertanya, "Apa pacarmu ada di antara mereka?"


"!?...... Kenapa Senpai berpikir begitu?"


Aku pura-pura tidak menyadari detak jantungku yang berdegup kencang dan balik bertanya. Senpai pun tersenyum tipis.


Ah, sial, ketahuan.


"Habisnya, sedetik tadi wajahmu terlihat sangat konyol dan tidak terkontrol."


"Serius, Senpai?"


Padahal aku percaya diri dengan poker face-ku, tapi sepertinya keimutan Tanaka-san berhasil menembusnya dan memperlihatkan wajah asliku. Benar-benar kecerobohan seumur hidup.


Aku harus melatih diriku lebih keras lagi ke depannya. Aku membuat tekad baru di dalam hati. Kali ini, aku mengakui kekalahan dengan jujur dan menjawab, "Dia belum jadi pacarku kok, Senpai."


"Begitu ya. Baguslah. Namanya juga masa muda."


"Lalu bagaimana dengan Senpai yang bicara sok senior begitu?"


"Aku? Aku sangat menikmati masa mudaku. Tahun ini saja, aku sudah menyatakan cinta ke Ketua Akitsuki total empat kali."


"Mental Anda gila juga ya."


"Cuma itu satu-satunya kelebihanku."


Sambil berkata begitu, Senpai melempar tawa ceria yang saking silau-nya membuatku tulus berharap dia mendapat balasan yang setimpal. Padahal aku tahu di dalam hati Akitsuki-senpai sudah ada Kaisei, dan itu akan sangat sulit.


"Semoga berhasil ya."


"Oh!"


Mendengar dukunganku, Senpai tersenyum lebar.


Dunia ini benar-benar kejam.


Sambil melamun memikirkan hal itu, tanpa sadar kalengku sudah kosong.


"Senpai sudah selesai minumnya?"


"Tinggal sedikit lagi."


"Kalau sudah, berikan padaku ya. Biar sekalian aku buang."


"Maaf ya merepotkan. Glek, glek... Fuh. Tolong ya."


"Siap."


Aku menerima kaleng kosong dari Senpai, lalu keluar dari gimnasium menuju tempat sampah terdekat. Namun, karena kerumunan orang kali ini lebih padat dari biasanya, butuh waktu agak lama untuk sampai ke sana.


"Yo, Kaisei."


"Ah, Tooru-kun. Halo."


Ternyata, di sana ada orang yang baru saja jadi topik pembicaraan di kepalaku, sang protagonis dunia ini, Natsuse Kaisei.


Melihat kedua tangannya memegang kantong sampah dan penjepit besi, sepertinya dia sedang memunguti sampah.


Untuk ukuran seorang protagonis, pekerjaannya sangat sederhana. Tapi secara pribadi, aku menyukai sifatnya yang mau melakukan hal-hal yang dihindari orang lain dengan sukarela, meski tidak ada yang melihat.


"Semangat ya pungut sampahnya."


"Kamu juga semangat. Tidak seperti Nakayama-kun, aku cuma bisa melakukan hal sederhana seperti ini."


"Haduuh, jangan bilang begitu sambil menenteng tiga kantong sampah penuh begitu dong, kedengarannya malah kayak nyindir."


Hanya saja, poin minusnya adalah penilaian dirinya yang rendah sekali.


Yah, itu ada hubungannya dengan situasi keluarganya yang rumit, jadi mau bagaimana lagi. Terlepas dari itu, aku ingin dia sadar bahwa mengisi penuh beberapa kantong sampah ukuran 45 liter hanya dalam waktu dua jam sejak Open School dimulai itu adalah hal yang tidak normal.


Serius, itu luar biasa.


"Benarkah? Kalau begitu, maaf ya."


"Sudahlah, jangan minta maaf, aku tidak terlalu ambil pusing kok. Jadi, apa tugasmu di sini sudah selesai?"


Sambil melempar kaleng ke tempat sampah khusus minuman, aku bertanya. Dia mengangguk dengan ekspresi heran.


"Iya, sudah. Apa ada sesuatu yang perlu kubantu?"


"Nggak ada. Tapi kalau kamu luang, pergilah ke tempat Akitsuki-senpai. Sepertinya tadi dia mencarimu?"


"Benarkah? Kalau begitu aku harus bergegas. Terima kasih sudah memberitahuku!"


"Sama-sama."


Melihat Kaisei membungkuk sopan lalu melesat dengan kecepatan luar biasa untuk mengumpulkan sampah sambil berlalu, aku meringis kecil. Di sisi lain, aku merasa lega karena berhasil mengarahkan alur cerita sesuai dengan karya aslinya.


Setelah ini, Akitsuki-senpai pasti akan sangat berterima kasih padaku. Mungkin karena aku terlalu asyik memikirkan bagaimana cara menggoda Senpai nanti sebagai balasannya...


"Ah, maaf!"


"Saya juga minta maaf."


Karena kurang konsentrasi, aku bertabrakan dengan seorang laki-laki tampan yang datang dari arah depan.


Aku membungkukkan kepala mengikuti laki-laki tampan itu yang meminta maaf dengan terburu-buru. Setelah mengulanginya beberapa kali, pandangannya tertuju pada ban lengan staf yang aku pakai.


"Anu, boleh saya tanya satu hal? Apa Anda tahu di mana anggota klub tiup sekarang?"


"Sepertinya mereka ada di gimnasium. Apa Anda mencari seseorang?"


"Iya. Ada urusan dengan teman lama saat SMP."


"Kalau begitu, biar saya antar ke sana."


"Benarkah!? Terima kasih banyak!"


Menerima tawaran dariku, mata si laki-laki tampan itu berbinar. 


Jangan-jangan, dia ingin memberikan kejutan untuk pacarnya? Para laki-laki di SMA Shikigaoka ini memang sudah agak "sengklek" karena para main heroine, tapi orang dari sekolah lain pasti punya sensitivitas yang normal. Bukan hal aneh kalau dia punya pacar. Malah lebih seram kalau laki-laki tinggi, keren, dan rapi dengan rambut cokelat halus begini tidak punya pacar.


(Kira-kira siapa ya pacarnya?)


Aku tidak cukup tidak peka untuk bertanya "Apa itu pacar Anda?". 


Sambil menyimpan rasa penasaran itu, aku membawanya masuk ke gimnasium. Ternyata, di dalam gedung, klub tiup sedang berada di tengah-tengah penampilan mereka. Sepertinya acara sebelumnya selesai lebih cepat dari perkiraanku.


(Sial, aku jadi melewatkan momen saat Tanaka-san masuk ke panggung.)


"Untuk sementara, mau duduk di situ dulu sampai selesai?"


"Boleh."


Sambil mendecak kesal dalam hati, aku duduk di kursi dekat si laki-laki tampan itu.


Sambil mendengarkan musik dengan santai, tibalah bagian yang sering dilatih oleh Tanaka-san. Tiba-tiba aku merasa berdebar dan waspada. Namun, suara yang terdengar jauh lebih indah dan bersih dibandingkan sebelumnya, membuatku refleks berseru, "Ooh~". Bisa menghasilkan suara seindah ini, dia pasti sudah berusaha sangat keras. Aku merasa dia benar-benar hebat.


Aku sebenarnya ingin berbagi rasa kagum itu dengan seseorang, tapi laki-laki tampan itu malah sedang sibuk mengotak-atik ponselnya, jadi sayangnya hal itu tidak mungkin dilakukan.


(Kalau kamu pacarnya, paling tidak dengarkanlah permainan musiknya baik-baik.)


Terpaksa, begitu permainan berakhir, aku memberikan tepuk tangan yang meriah khusus untuk Tanaka-san. Setelah itu, proses pemberesan instrumen dimulai. Tak lama kemudian, aku dan si laki-laki tampan itu berdiri dan melangkah menuju tempat para anggota klub tiup berkumpul.


"Apa kenalan Anda sudah ketemu?"


"Hmm? Ah, itu dia!"


Beberapa saat kemudian, saat aku memperhatikannya mencari-cari ke sekeliling, wajahnya tiba-tiba berbinar terang.


"Oooi! Sumika-chan!"


"っ!?"


Seketika, mendengar nama yang terucap dari mulutnya, aku langsung mematung. Alasannya, karena nama itu adalah nama kecil Tanaka-san.


Aku berharap itu adalah gadis lain dengan nama yang sama, namun hanya ada satu gadis berambut cokelat yang menoleh.


Hanya Tanaka-san.


"Ah, Matsukaze-kun. Sudah lama ya."


"Benar-benar sudah lama. Ternyata kamu masih lanjut di klub tiup ya, tidak berubah sejak SMP. Permainanmu tadi hebat sekali."


"Terima kasih banyak."


(......Kenapa?)


Menyaksikan mereka berdua berbincang dalam suasana yang begitu hangat, pandanganku rasanya berputar dan goyah.


Aku tahu mereka adalah teman sekelas saat SMP. Aku pun tahu jarak kedekatan seperti itu adalah hal yang wajar. Aku juga tahu bahwa anggapan si laki-laki tampan itu punya pacar hanyalah delusi konyolku semata. Namun, meskipun begitu, aku tidak bisa berhenti berpikir bahwa Tanaka-san dan laki-laki tampan itu sedang berpacaran, dan bahwa mereka terlihat sangat serasi.


Isi kepalaku menjadi kacau balau dan aku merasa mual luar biasa. Rasanya ada sesuatu yang mendesak naik dari lambungku.


"Sialan."


Karena sudah tidak sanggup lagi melihat mereka berdua mengobrol, aku meninggalkan tempat itu seolah sedang melarikan diri.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close