NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 7 Chapter 4

Chapter 4

Ujian Musim Panas dan Rencana Masa Depan!


Musim panas ini, ujian pertama dilaksanakan di lapangan latihan akademi.

Meskipun Ren dan Licia tetap mendapatkan dispensasi dari mata pelajaran tersebut seperti saat tahun pertama, urusan ujian adalah pengecualian. Sejak pagi, keduanya telah berpartisipasi dalam ujian Ilmu Pedang Kekaisaran, yang juga dikenal sebagai ilmu pedang dasar.

Selain status mereka sebagai murid yang dibebaskan dari jam pelajaran, nama Ren sendiri kini sudah sangat dikenal, tak kalah populer dibandingkan para keturunan Tujuh Pahlawan.

Sosoknya dan Licia tentu saja tak luput dari perhatian, namun karena ujian ini berfokus pada penilaian bentuk (kata) pedang, perhatian yang mereka terima tidaklah sebesar yang dibayangkan semula.

 

Di ruang bilas akademi, Licia yang telah menyelesaikan ujiannya lebih awal sedang berada di sana.

Saat ia duduk di kursi di depan wastafel berwarna putih susu, seseorang menyapanya.

"Boleh aku duduk di sebelahmu?"

"Tentu."

Sarah, yang juga baru saja mandi setelah menyelesaikan ujiannya, ikut duduk di sampingnya.

Keduanya duduk berdampingan dan mulai mengeringkan rambut menggunakan alat magis.

Namun, karena suara angin hangat dari alat tersebut cukup bising, mereka menghindari percakapan untuk sementara.

Tak lama kemudian, saat Licia menyarungkan lengan ke kemeja seragamnya, kulit merah jambunya yang sedikit memerah sehabis mandi tampak samar di balik kain yang tipis.

Berbeda dengan saat tahun pertama, lekuk tubuh Licia kini mulai terlihat lebih menonjol, membuat Sarah tanpa sadar memandangnya dengan rasa iri.

"…Haaah."

"Kenapa menatapku terus begitu? Apa ada yang aneh padaku?"

Licia memutar-mutar tubuhnya untuk memeriksa penampilannya sendiri, namun ia merasa tidak ada yang berubah dan malah menjadi bingung.

Tingkah lakunya itu pun terlihat sangat manis.

Melihat kebingungan sahabatnya, Sarah pun menyeringai menggoda.

"Sepertinya benar ya, kalau seseorang sedang jatuh cinta, dia akan jadi semakin cantik."

"U-uuuuh! Sekarang ini tidak ada hubungannya dengan itu, kan!?"

"Justru karena ada hubungannya makanya aku mengatakannya. Yah, sudahlah. Jangan dimasukkan ke hati."

"Duh… biarpun kamu bilang begitu…"

Licia tidak bisa mengabaikannya sepenuhnya, ia pun melihat bayangannya di cermin dan merapikan poninya.

Sambil menyesuaikan sudut poninya dengan teliti, bibirnya mengerucut seolah sedang merajuk. Sarah merasa sahabatnya itu sangat menggemaskan dan langsung memeluknya.

"Ah, sudahlah! Jadi sebenarnya ada apa, sih!"

Meskipun tidak merasa keberatan, Licia mengeluarkan suara terkejut.

"Maaf. Aku agak lepas kendali tadi."

"…"

"Aduh, maaf, deh! Aku yang salah, jadi jangan menatapku dengan mata seperti itu!"

Mendapat tatapan dingin dari Licia, Sarah buru-buru mengelak dan mulai bersiul canggung sambil mengganti pakaiannya ke seragam sekolah.

"Sepertinya aku harus mempertimbangkan lagi cara bergaul dengan Sarah."

"Ka-kan sudah kubilang, aku minta maaf!"

Setelah itu, mereka berdua keluar dari ruang bilas sambil terus bercanda.

Karena ini adalah ujian ilmu pedang, Sarah sama sekali tidak terlihat khawatir, bahkan ia masih punya cukup ruang untuk melontarkan lelucon seperti tadi.

"Ngomong-ngomong, kalian berdua sepertinya tidak pernah bertengkar, ya."

"Kalian berdua itu siapa maksudmu?"

"Licia dan Ren. Tadi kan ujian ilmu pedang, jadi aku teringat kalau Licia sudah berlatih bersama Ren sejak lama sekali."

Dari keseharian mereka, Sarah benar-benar tidak bisa membayangkan pemandangan di mana keduanya sedang berselisih.

Namun, jawaban yang keluar ternyata di luar dugaan.

"…Kami juga bisa bertengkar, kok."

Mendengar jawaban yang tidak disangka-sangka itu, Sarah spontan menatap wajah Licia.

"Kalian pernah bertengkar!?"

"T-tentu saja boleh, kan! Sudah, jangan dibahas lagi, atau aku akan berhenti menemanimu belajar untuk ujian nanti!"

Begitu Licia melancarkan serangan baliknya, Sarah kembali panik.

Sambil sengaja melangkah maju beberapa depak, White Saintess itu melemparkan senyum provokatif ke arah Sarah.

"Jangan dong! Tolong ampuni aku kalau yang itu!"

"Bagaimana ya… padahal ini permintaan sahabatku sendiri, tapi aku jadi ragu…"

Licia terus berjalan maju dengan langkah ringan, sementara suara putus asa Sarah yang berteriak "Tunggu!" mengejarnya dari belakang, membuat Licia terkikik geli.

Sambil terus mengobrol menuju ruang kelas, sekelompok murid tingkat atas muncul dari arah depan. Sepertinya mereka juga akan mengikuti ujian ilmu pedang setelah angkatan tahun kedua selesai.

Salah satu murid perempuan di antara mereka melangkah menghampiri Licia dan Sarah.

"Kalian berdua sudah selesai?"

Charlotte Lopheria.

Ia adalah gadis dari salah satu Tujuh Keluarga Bangsawan Agung yang berada di kelas khusus tahun ketiga.

Wajahnya memiliki kecantikan yang terlalu mencolok untuk ukuran seorang pelajar, ditambah dengan lekuk tubuh yang sangat menggoda perhatian.

Namun di balik penampilan dewasanya itu, ekspresi yang ia tunjukkan pada Sarah dan Licia tetaplah seperti gadis remaja seumuran mereka.

"Baru saja. Shallo baru mau mulai?"

"Begitulah. Kalau ujian kalian berdua sih──── ah, bertanya seperti itu sepertinya pertanyaan yang bodoh, ya."

Charlotte tertawa kecil.

Sarah adalah keturunan pahlawan yang dikenal sebagai ahli pedang, sementara Licia sudah lebih dulu tenar karena kemampuan pedangnya yang melampaui Sarah sejak kecil.

Meski ujian ini diadakan di akademi bergengsi, hasil ujian mereka berdua sudah tidak perlu ditanyakan lagi.

"Sampai jumpa, ya. Aku juga harus berjuang."

"Ah, tunggu Shallo. Kaito tidak bersamamu?"

"Seharusnya Kaito sudah pergi ke lapangan latihan jauh lebih awal dariku, apa kalian tidak melihatnya?"

"Sepertinya aku tidak melihatnya… bagaimana denganmu, Licia?"

"Iya. Sepertinya aku juga tidak melihatnya."

Kaito juga merupakan salah satu keturunan pahlawan, seorang pemuda tipe kakak pembimbing yang sangat suka menggerakkan tubuh lebih dari apa pun.

Jika pemuda itu ada di sekitar sana, seharusnya dia akan langsung terlihat.

"…Mungkin dia sudah tidak tahan ingin segera bergerak. Karena lapangan latihan tidak bisa digunakan untuk umum selama ujian, mungkin dia sedang berolahraga di tempat lain."

"Hah… benar juga. Tipikal Kaito sekali."

Setelah percakapan singkat itu, Charlotte akhirnya berbalik pergi.

Sambil menjauh, ia sedikit memutar tubuh bagian atasnya dan melambaikan tangan dengan gerakan yang anggun.

"Ayo kita berjuang untuk ujian selanjutnya. Setelah ini selesai, kan langsung libur musim panas."

Sarah kembali melangkah menuju kelas sambil memikirkan perkataan Charlotte barusan. Di bawah sengatan sinar matahari yang terik, ia bisa merasakan bahwa puncak musim panas akan segera tiba.

"Licia, apa rencanamu untuk liburan musim panas nanti?"

Licia berpikir sejenak sebelum menjawab dengan nada suaranya yang biasa.

"Aku tidak punya rencana pulang ke Klausel, jadi sepertinya aku akan berlatih di Aula Suci Singa atau mengambil pelajaran tambahan."

"…Haaaah~"

"Kenapa malah menghela napas setelah bertanya begitu?"

"Habisnya, jadwal liburan musim panas Licia itu terlalu 'seperti biasanya' sih."

Antara merasa heran dan sedikit terkejut.

"Dengar ya," kata sang keturunan Tujuh Pahlawan itu sambil menodongkan jarinya ke arah Licia.

"Apa yang Licia katakan itu memang penting, apalagi belakangan ini ada masalah Ordo Raja Iblis juga…"

"Benar. Masalah Ordo Raja Iblis harus ditangani dengan serius."

"…Tentu saja. Aku sudah menduga kamu akan bilang begitu."

Keturunan pahlawan Gazil Riohard itu pun tersenyum kecil karena jawaban Licia sangat sesuai dengan prediksinya.

"Tapi, bagaimana dengan Nights of Prayer?"

"…Eh?"

"Belakangan ini kita tidak bisa pergi karena sibuk belajar ujian atau karena Festival Besar Lion King, tapi bukankah akan ada perayaan besar di Crushera saat musim panas nanti? Kupikir keluarga Klausel juga diundang."

Mendengar hal itu, Licia tampak mulai berpikir.

Tentu saja ia tahu tentang kota Crushera dan adanya perayaan besar di sana, namun…

"Aku belum pernah pergi ke festival itu sekalipun."

◇◇◇

Di tempat yang agak jauh, Ren baru saja bertemu dengan Kaito dan Lizred.

Kaito yang sudah sangat tidak sabar ingin menggerakkan tubuhnya menyapa Ren dengan senyum segar.

Dari sana, topik pembicaraan mereka pun beralih ke rencana liburan musim panas, sama seperti yang dibicarakan Licia dan Sarah.

"Jadi, apa rencana kalian, Ashton?"

"Mungkin seperti biasa, latihan atau mengambil pelajaran tambahan. Rencananya aku juga akan melanjutkan penyelidikan tentang Ordo Raja Iblis."

"Hahaha! Khas Ashton sekali! Yah, kurasa kami juga akan melakukan hal yang serupa, sih."

Orang yang tertawa dengan gagah meski ujian akan segera dimulai itu adalah Kaito Leonard.

Setelah tahun lalu diakui sebagai tuan oleh perisai pahlawan yang digunakan leluhurnya──── Aeria, sang Perisai Perak, ia hampir selalu mengenakannya di setiap kesempatan penting.

Sosoknya yang melindungi rekan-rekannya menggunakan perisai besar tampak perkasa layaknya sang leluhur.

Ia adalah pemuda dengan kepribadian yang jujur dan menyenangkan yang dicintai oleh teman-temannya.

"Ngomong-ngomong, kenapa Arkay-san bisa bersama Senior Leonard?"

"Aku melihat Kaito sedang berlari-lari seperti orang bodoh, jadi aku menyapanya untuk bertanya apa yang dia lakukan."

"Ah, pantas saja kalian bersama."

"Meski begitu, aku juga harus segera pindah ke ruang kelas."

Gadis itu membiarkan rambutnya yang berwarna cerah seperti campuran teh susu dan bunga sakura terurai lembut.

Nama gadis mungil dan manis itu adalah Lizred Arkay. Ia adalah putri dari salah satu Tujuh Keluarga Bangsawan Agung yang memiliki leluhur seorang penyihir agung.

Ia baru saja masuk ke Akademi Militer Kekaisaran musim semi ini dan tergabung dalam kelas khusus tahun pertama.

Kaito sepertinya tidak menyadari kalau dirinya baru saja dikatai 'seperti orang bodoh' oleh Lizred, dan malah menoleh ke arahnya.

"Bicara-bicara, Liz. Sebentar lagi kan musim panas, apa kamu tidak merasa gerah memakai jubah di atas seragam?"

"Aduh, aduh… kupikir kamu mau bicara apa."

Lizred memang tidak memakai jas seragamnya, namun di atas kemejanya ia mengenakan jubah yang sudah menjadi ciri khasnya. Di mata Ren pun, pakaian itu terlihat sangat panas.

Melihat sikap percaya diri Lizred, Ren sempat mengira bahwa itu adalah jubah khusus yang bisa mengatur suhu tubuh, namun…

"Aku masih bisa menahannya. Tidak masalah."

(…Ternyata bukan.)

Semuanya hanya berdasarkan kekuatan tekad.

Meskipun jubah itu memang memiliki khasiat yang berkaitan dengan kekuatan magis, sepertinya ia tidak memiliki efek pengatur suhu seperti yang dibayangkan Ren tadi.

"Ngomong-ngomong, rasanya sudah agak lama ya kita tidak bisa mengobrol santai begini dengan Senior Ashton."

"Agak lama?"

"Tidakkah menurut Senior begitu? Tidak terasa seperti waktu yang sangat lama, tapi juga bukan terasa seperti baru kemarin. Benar-benar perasaan yang samar."

"Kalau dipikir-pikir, mungkin benar juga."

"…Meski begitu, kejadian malam itu masih teringat jelas seolah baru kemarin terjadi."

Kejadian yang dimaksud adalah peristiwa di Windea, pertarungan maut melawan Pendeta Orphide.

Lizred sempat melepaskan sihir tingkat tinggi elemen api, Dragon's Breath, sebanyak dua kali demi membalas perjuangan teman-temannya.

Di tengah pertarungan hidup dan mati yang menyudutkan mereka, saat Lizred hampir kehabisan tenaga setelah merapalkan sihir tingkat tinggi berulang kali──── momen itu pun tiba.

Melawan Orphide yang harus mereka hadapi bertujuh, Ren tiba-tiba muncul. Ia seorang diri berhasil mendominasi pendeta Ordo Raja Iblis tersebut.

"Padahal begitu, tapi Senior Ashton di akademi terlihat terlalu 'biasa saja' seperti biasanya."

Lizred tertawa sambil mengedikkan bahu.

Senior yang satu tahun lebih tua ini hanya ia kenal lewat sosoknya di akademi. Meskipun ia pernah mendengar desas-desus dari Aula Suci Singa, semua itu tidak terasa nyata sebelum ia melihat sendiri sosok Ren saat bertarung.

Lizred terus menatap Ren dalam diam, merasakan perbedaan drastis antara Ren yang sekarang dengan Ren saat itu. Tiba-tiba, Ren melontarkan pertanyaan santai dengan suara yang sangat biasa.

"Ada apa?"

"Bukan apa-apa, kok. Benar-benar bukan apa-apa."

Lizred menghela napas panjang dan mengakhiri pembicaraan secara sepihak.

"Kalau begitu. Mari kita sama-sama berjuang demi liburan musim panas nanti."

Setelah meninggalkan kata-kata itu, ia pun beranjak pergi.

Liburan musim panas. Sambil merenungkan kata-kata Lizred, Ren bertanya pada Kaito yang saat ini sedang menikmati sinar matahari di sampingnya.

"Senior Leonard, apakah kalian punya rencana untuk liburan musim panas?"

Meskipun bertanya, sebenarnya Ren sudah tahu rencana apa yang kira-kira akan mereka miliki.

Namun, jawaban yang kembali ternyata bukan kata-kata yang ia duga…

"Oh! Kami akan pergi ke Crushera! Lagipula, kurasa tahun ini akan ada banyak murid akademi yang pergi ke sana. Nights of Prayer tahun ini merupakan peringatan beberapa ratus tahun sekali atau semacamnya."

"Eh… benarkah?"

"Kenapa, Ashton? Kenapa kamu memasang wajah bingung begitu?"

Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh? Saat Kaito memiringkan kepalanya sambil menyeka keringat, Ren merenungkan reaksinya yang agak aneh tadi.

Ia memiliki beberapa pemikiran mengenai nama kota Crushera tersebut.

"Bukan begitu. Hanya saja, kupikir Tujuh Keluarga Bangsawan Agung sedang sibuk belakangan ini karena masalah Ordo Raja Iblis…"

"Yah, begitulah… Kejadian di Windea baru saja berlalu, dan tadinya aku berpikir untuk pergi bekerja di kediaman Nemu sesuai rencana awal."

Itulah jawaban yang awalnya dibayangkan oleh Ren.

Mengingat kembali legenda Tujuh Pahlawan belakangan ini terasa lebih sulit dibandingkan sebelumnya, salah satu alasannya karena Ren baru menyelesaikan Legend of the Seven Heroes II satu kali saja.

Namun, karena ia sudah merapikan ingatannya beberapa kali, ia tidak mungkin melupakannya.

Dalam ingatannya, Vain dan yang lainnya tidak pernah berpartisipasi dalam perayaan lain di periode waktu seperti ini.

Seharusnya mereka sedang bertarung melawan pendeta Ordo Raja Iblis di wilayah Altea yang berbatasan langsung dengan perbatasan negara.

"Tapi, itu juga berkat bantuanmu, Ashton."

"Eh? Apa aku melakukan sesuatu untuk Senior?"

"Kamu bekerja sama dengan Yang Mulia Pangeran Ketiga dan yang lainnya untuk menyelidiki Ordo Raja Iblis serta mengambil langkah pencegahan, kan? Berkat itu, kami jadi bisa bergerak lebih fleksibel… Begitu kata ayahku sebelumnya."

(────Begitu ya.)

Saat insiden Orphide terjadi, ada kekuatan militer Leomil yang bergerak di berbagai tempat.

Hal itu berhasil mencegah gerakan mencurigakan di berbagai daerah, sekaligus melemahkan kekuatan Ordo Raja Iblis.

…Karena itulah tujuannya bukan wilayah Altea, melainkan Crushera.

…Kalau tidak salah, itu adalah kota penting yang seharusnya baru bisa dikunjungi di Legend of the Seven Heroes III.

…Sepertinya di bagian II sempat disebutkan kalau di sana ada banyak tempat yang bisa dijelajahi.

Tempat itu memang tidak diragukan lagi sebagai kota penting, namun menyebutnya sekadar kota penting rasanya terlalu meremehkan.

Dalam sejarah panjang Leomil, tempat itu pernah berperan sebagai markas pertahanan di dekat perbatasan.

Setelah pasukan Raja Iblis musnah, pemandangannya yang indah mulai menarik perhatian orang-orang, dan namanya pun tersohor baik di dalam maupun luar negeri sebagai pusat perdagangan.

Kota itu membanggakan sejarah panjang dengan jajaran kuil kuno yang berdiri megah.

Setelah Ren berhasil mencerna informasi tersebut, ia melanjutkan pertanyaannya.

"Ashton juga tahu tentang Nights of Prayer, kan?"

"Hanya sedikit. Sebatas kalau dulunya festival itu disebut Festival Akhir Perang."

"Tenang saja. Aku juga kurang lebih cuma tahu segitu!"

"E-eeeh… padahal aku berniat meminta penjelasan darimu…"

Tepat saat Ren bergumam dan Kaito tertawa riang, sosok Mirei yang mengenakan setelan seragam kerjanya terlihat sedang berjalan di dekat perpustakaan.

Begitu melihatnya, Ren memanggil dengan suara yang agak keras, "Mirei-san!"

"Nya?"

Setelah menyadari kehadiran Ren, Mirei menghampiri Ren yang sedang bersama Kaito.

"Apa ujian pagi kalian sudah selesai, Nya?"

"Sudah. Jadi, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padaku."

"Mumu. Serahkan saja pada Mirei-san──── eh, yang di sebelahmu itu Tuan Leonard, Nya?"

"Sudah lama tidak bertemu. Sebelumnya kita pernah bertegur sapa di pesta istana saat Anda bersama Count Arkhayse."

"Benar, Nya. Yah, aku juga beberapa kali melihat Tuan Leonard sedang mengerang frustrasi di perpustakaan, Nya."

"Haha… tolong ampuni aku soal yang itu, padahal aku baru saja menyapa dengan sopan."

Setelah keduanya bertukar sapa singkat, Ren berkata.

"Aku ingin tahu tentang Nights of Prayer."

"Nya? Aku merasa Tuan Ren seharusnya sudah tahu tentang hal semacam itu, Nya."

"Aku hanya tahu hal-hal dasar saja. Contohnya, dulu festival itu disebut Festival Akhir Perang."

Kalau begitu, Mirei pun menggoyangkan telinga kucingnya.

"Alasan kenapa Nights of Prayer dulunya disebut Festival Akhir Perang adalah karena sejarahnya berasal dari zaman Tujuh Pahlawan, Nya. Perubahan namanya berawal dari asal mula perayaan itu sendiri────"

Hari yang ditetapkan sebagai Festival Akhir Perang dianggap sebagai hari berakhirnya peperangan di Benua Elfen.

Di benua tempat negara-negara besar berkumpul ini, penandatanganan perjanjian terkait dilakukan di berbagai tempat.

Hal tersebut memberikan firasat akan datangnya era baru bagi rakyat di seluruh benua, termasuk wilayah di mana Kadipaten Medill berada.

Pada malam hari setelah penandatanganan dilakukan, berakhirnya perang dirayakan di seluruh pelosok Leomil.

Di antara semuanya, di Crushera terdapat satu malam di mana doa dipanjatkan setiap tahunnya dengan nama Festival Akhir Perang.

Tempat itu dikenal sebagai daerah di mana malam bertabur bintang yang paling indah muncul, dan tempat di mana Lion King memanjatkan doa pada bintang-bintang.

Seiring berjalannya waktu, Festival Akhir Perang pun mengubah namanya menjadi Nights of Prayer, mengambil inspirasi dari malam tersebut.

"Sejak saat itu, Crushera mulai disebut sebagai Tanah Nyanyian Bintang, Nya."

Tempat itu adalah kota kuno yang terletak di bagian selatan Leomil, sekaligus tempat peristirahatan musim panas yang menarik banyak orang.

Mirip dengan kota Erendil tempat tinggal Ren, kota tersebut memadukan nuansa sejarah yang kental dengan arsitektur modern.

Sebuah danau luas yang jernih dan indah layaknya lautan berada di pusat kota tersebut.

Sebuah jembatan raksasa yang melintang di atasnya dikatakan sebagai simbol dari kota itu.

"Liburan musim panas sebentar lagi tiba, bagaimana kalau Tuan Ren juga mencoba pergi ke sana, Nya?"

"Demi Nights of Prayer?"

Nya, Mirei mengangguk, namun ia tidak merekomendasikannya hanya karena alasan yang dikatakan Ren barusan.

"Pergi untuk berwisata juga bukan ide buruk, Nya. Namun di luar itu, ada hal lain yang ingin kukatakan────"

 

Sama halnya dengan Ren, Licia pun menahan diri untuk tidak pergi ke Aula Suci Singa selama persiapan ujian.

Meskipun hanya sekitar satu minggu lebih sedikit, mengingat ia biasanya pergi ke sana hampir setiap hari, rasanya sudah cukup lama ia tidak berkunjung.

Bukan berarti ia tidak merasa jenuh dengan hari-hari yang hanya diisi dengan belajar.

Setelah waktu yang lama berlalu, keduanya merasa bisa menyegarkan pikiran mereka, dan senyum yang merekah saat latihan selesai terasa sangat cerah.

"Sudah lama aku tidak melihat pedang Ren, tapi sepertinya kemampuannya hampir tidak berkurang sama sekali dibandingkan sebelum istirahat."

Waktu menunjukkan pukul enam sore. Estelle sudah menunggu Ren yang baru saja keluar setelah meminjam ruang bilas.

Rambut panjangnya berwarna lebih merah dari api yang berkobar dengan kilau yang mewah.

Ia memancarkan aura garang yang menjadi ciri khasnya, namun di saat yang sama, ia menunjukkan sikap berdiri yang anggun dan berkelas.

Sang Komandan Aula Suci Singa, yang dikenal sebagai ksatria terkuat kebanggaan Leomil, berbicara di samping Ren.

"Malah sepertinya, kegarangannya meningkat setelah melalui pertarungan melawan sang pendeta.────Namun, hari ini kamu pulang cukup awal, ya."

"Karena ini masih masa ujian, aku pikir sebaiknya sampai di sini saja."

"Ujian… benar juga, Yang Mulia Pangeran juga sempat mengatakannya. Bagaimana perkembangan studimu? Karena kamu datang untuk mengayunkan pedang, sepertinya hasilnya tidak buruk."

"Masih ada cukup banyak kelonggaran, jadi tidak masalah. Begitu juga dengan Licia."

"Begitu ya, syukurlah kalau begitu."

Itu adalah pertanyaan khas Estelle yang tidak hanya mementingkan latihan pedang semata.

Percakapan mereka terus berlanjut sembari menunggu Licia selesai bersiap-siap.

"Kita memang sempat bertukar laporan singkat, tapi baru kali ini ada kesempatan untuk mengobrol dengan tenang."

"Lady Estelle juga sangat sibuk sejak kejadian di Windea, kan. Kalau tidak salah… soal Hutan Rimba Besar?"

"Ya. Topik yang merepotkan, tapi demi berjaga-jaga aku sudah melakukan penyelidikan beberapa kali. Sekarang situasinya sudah mulai tenang, makanya aku bisa ikut latihan di sini lagi."

Hutan Rimba Besar.

Itu adalah wilayah terpencil yang berada di daerah kekuasaan keluarga Lopheria, salah satu dari Tujuh Keluarga Bangsawan Agung.

Di bagian terdalamnya terdapat sarang monster kuat bernama Behemoth Tanduk Kaisar Hitam, dan Estelle sudah beberapa kali pergi untuk memeriksa keadaannya.

Pemicunya adalah monster tersebut menunjukkan gerakan aneh di saat yang bersamaan dengan kerusuhan yang disebabkan oleh Orphide.

"Semuanya tenang. Sejak awal, si monster tidak menunjukkan tanda-tanda mengamuk ataupun keluar dari sarangnya."

"Jadi, sekarang sudah tenang?"

"Begitulah. Dengan ini aku bisa berhenti bolak-balik ke ibu kota kekaisaran. Ke depannya, pasukan militer akan ditempatkan di sekitar Hutan Rimba Besar. Tugasku pun sudah selesai sampai di sini."

Estelle menghela napas sambil tersenyum kecut.

"Lebih baik tidak usah bertarung dengan monster selevel itu jika memang tidak perlu."

"Bukankah di depan Lady Chronoa, Anda mengatakannya dengan sangat santai?"

"Tentu saja aku bilang begitu. Namun cara Ren menerimanya sedikit berbeda, ya."

"Maksudnya…?"

"Aku punya kepercayaan diri untuk menang meskipun lawannya adalah monster seperti itu. Tidak ada keraguan ataupun kesombongan di sana, itu hanyalah fakta bahwa aku tidak meragukan kekuatanku sendiri. Namun, aku sedikit pun tidak berpikir kalau itu akan menjadi pertarungan yang mudah."

Bisa dikatakan, itu adalah bentuk harga diri Estelle. Ia sama sekali tidak meremehkan monster tersebut.

"Bukankah Ren juga pernah bilang kalau tidak berniat kalah dari siapa pun? Itu adalah hal yang sama."

"Ah… aku rasa aku bisa memahaminya."

"Karena itulah kamu pergi ke Windea, kan. Itu adalah pencapaian yang agung. Walaupun sebagai gantinya, kamu tampaknya mendapatkan luka."

Komandan Aula Suci Singa itu melirik sekilas ke arah lengan Ren.

Itu adalah lengan yang terkena kutukan, yang belakangan ini dikhawatirkan oleh banyak orang.

"Sepertinya lengan yang terkena kutukan sudah hampir tidak kenapa-kenapa lagi."

"Iya. Berkat bantuan Licia dan Lady Fiona, kutukannya sudah tenang. Kejanggalannya pun hampir tidak terasa jika tidak dipikirkan secara mendalam."

"Sisa-sisa pengikisan di bagian terdalam tubuh sulit disembuhkan meskipun menggunakan sihir suci ataupun ramuan mahal. Manfaatkan kesempatan ini untuk beristirahat dengan benar."

"Benar juga… aku berniat melakukannya."

Saat membicarakan hal ini, pembicaraan yang ia dengar dari Mirei di akademi kembali terlintas di benaknya.

Sesaat setelah Ren menjawab, terdengar suara langkah kaki di dekat sana, disusul dengan suara panggilan "Ren!". Saat Ren menoleh ke arah suara tersebut, sosok Licia yang sudah siap untuk pulang terlihat di sana.

"Kemampuan pedangmu meningkat dari hari ke hari, Licia."

Mendengar pujian dari Estelle yang tersenyum bangga, Sang White Saintess pun terkikik.

Dengan rona bahagia di pipinya, ia menggerakkan bibirnya.

"Jika tidak begitu, aku akan tertinggal lagi oleh Ren."

"Tentu saja. Tapi, asah saja kemampuanmu dengan cara khas Licia. Biarkan Ren beristirahat dengan tenang, dan gunakan kesempatan ini untuk menyusulnya."

Lewat pilihan katanya yang khas, Estelle menasihati Ren agar tidak memaksakan diri.

Di sisi lain, Licia tampak memikirkan sesuatu.

"Ada apa? Apa ada hal yang mengganjal di pikiranmu?"

"Iya… meskipun aku menggunakan sihir suci setiap hari, aku masih khawatir karena rasa janggal di lengan Ren masih tersisa."

"Kamu sudah berkonsultasi dengan Chronoa juga, kan?"

"Sudah," jawab Licia dengan anggukan cepat.

"Lalu, apa kata Chronoa?"

"Sihir suci memang menunjukkan efek kuat terhadap kutukan, tapi itu… kutukannya sendiri terlalu kuat dan────"

Licia menatap Ren dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu Ren memotong pembicaraan.

"Kutukannya merasuk sampai ke bagian terdalam tubuhku karena aku memaksakan diri untuk melawannya."

"Kupikir kamu mau bilang apa, itu kan semacam medali atas kecerobohanmu sendiri, Ren. Sebagai guru, aku merasa bangga dengan kegagahan muridku, namun di saat yang sama aku ingin memperingatkanmu agar lebih menyayangi dirimu sendiri."

"Tapi tidak bisa! Padahal aku sudah berjuang keras demi saat-saat seperti ini…!"

Estelle sangat memahami alasan Licia bersikeras begitu. Namun, kenyataannya adalah berkat sihir suci Licia-lah Ren bisa pulih sampai ke kondisinya yang sekarang.

"Tanpa sihir suci luar biasamu, Ren mungkin tidak akan bisa pulih secepat ini," puji Estelle.

Memang benar, sebelumnya Ren bahkan belum bisa mengayunkan pedang seperti hari ini.

"Lagi pula Licia, ini adalah kutukan yang digunakan oleh petinggi Ordo Raja Iblis, tahu?"

"…Aku tahu."

"Tekadmu yang teguh itu memang bisa diandalkan, tapi jangan memasang wajah tidak puas begitu."

Di dalam hati Licia, sebenarnya hanya ada gejolak emosi kuat yang ingin menyembuhkan lengan Ren bagaimanapun caranya.

"Itu adalah kutukan yang dibuat oleh pendeta Ordo Raja Iblis dengan bantuan kekuatan relik suci, bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Di mataku, keberhasilanmu memulihkannya hingga hampir tidak ada rasa janggal adalah hal yang sangat hebat."

Pada akhirnya, intinya adalah itu. Estelle tidak bisa mengatakan bahwa Fiona juga mengerahkan kekuatannya karena hal itu berkaitan dengan kekuatan Penyihir Hitam.

Meski begitu, pemulihan ini memang bisa dibilas ajaib jika dibandingkan dengan ngerinya kutukan yang disebutkan Estelle.

"Aku juga sudah mengatakan hal yang sama, tapi…" sahut Ren.

"Ren jangan pikirkan itu. Ini murni ketidakpuasanku sendiri."

"Hmm. Sifat pantang menyerah adalah sebuah kebajikan. Baiklah kalau begitu."

Estelle tertawa, menganggap ambisi tersebut sebagai hal yang positif. Tak lama, Estelle mengganti topik pembicaraan sambil sedikit menguap.

"Untuk menjadi Sword Saint, apa ada hal baru yang mulai terlihat?"

"Tidak, aku masih meraba-raba," jawab Licia dengan senyum pahit yang dipaksakan, sambil melirik sekilas ke arah pemuda di sampingnya. "Karena ada laki-laki yang sudah lebih dulu menjadi Sword Saint di sebelahku, aku berusaha keras agar tidak kalah."

"Sudah kuduga. Tapi seperti yang kubilang tadi, jangan pernah lupa untuk mengasah kemampuan dengan caramu sendiri, Licia."

"Cara khas diriku?"

Estelle mengusap kepala Licia dengan lembut. Ia memberikan nasihat sebagai bentuk dukungannya kepada White Saintess.

"Mengikuti jejak seseorang itu tidak salah, tapi jangan terlalu terpaku pada hal itu saja."

"Begitu ya… aku akan mencoba merenungkan kembali tentang diriku."

"Itu bagus. Yang harus Licia pikirkan adalah hal apa yang bisa menggetarkan hatimu sendiri. Hmm, aku sendiri merasa ini terdengar agak abstrak."

"T-tidak! Ini sangat membantu, kok!"

"Hahaha! Kalau aku yang ditanya begitu, aku tidak akan bisa memberikan jawaban yang sesopan itu!"

"Duh! Lady Estelle!"

Estelle tertawa puas mendengar suara Licia, lalu segera berbalik. Ia mulai berjalan pergi sambil mendekap mantelnya yang tidak ia pakai karena musim panas.

"────'Nyanyian Sang Sword Saint'. Aku menantikan hari di mana Licia menyambut hal itu."

Itu adalah fenomena di mana aura yang menyelimuti tubuh pengguna pedang hebat menghasilkan suara saat mereka menjadi Sword Saint. Fenomena ini terjadi karena tubuh sedang menyesuaikan diri dengan aura baru, di mana lapisan mana di luar tubuh bergesekan dan beresonansi dengan mana di dalam tubuh hingga menghasilkan suara.

Musim dingin lalu, fenomena ini juga terjadi saat Ren menjadi Sword Saint.

"Aku ingin mengobrol lebih lama, tapi aku harus bekerja sekarang. Besok aku akhirnya mendapat libur setelah sekian lama, jadi aku akan beristirahat dengan tenang."

Sambil melambaikan tangan dari balik punggungnya, sang pahlawan wanita itu pun pergi. Ren dan Licia memberikan salam perpisahan sebelum akhirnya keluar dari Aula Suci Singa.

 

Karena mereka keluar dari Aula Suci Singa lebih awal dari biasanya, mereka bisa pulang ke kediaman lebih cepat. Namun, saat mereka naik kereta magis, gerbong sudah dipenuhi oleh orang-orang yang baru pulang kerja.

Saat tiba di Erendil, mereka berdua merasa sedikit lelah. Begitu melewati gerbang kediaman, mereka langsung menuju kamar masing-masing untuk menaruh barang.

Mereka baru selesai belajar untuk ujian esok hari saat waktu sudah melewati tengah malam.

Sesuai dugaan di masa ujian, rasa kantuk masih terasa saat bangun di pagi hari.

Meski begitu, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan saat tiba di ruang makan, dan kembali menguatkan tekad untuk berjuang di ujian hari ini.

Tiba-tiba, Ren mendengar sebuah percakapan.

"Weiss, hari ini dari siang sampai malam aku akan berada di ibu kota."

"Baik, saya mengerti."

Lezard Klausel, kepala keluarga Klausel sekaligus ayah Licia, sedang berbicara dengan Weiss, ksatria yang melayaninya.

Melihat ayahnya yang tampak sibuk seperti biasa berdiri dari kursinya, Licia bertanya.

"Apakah ada pertemuan lagi hari ini?"

"Ada beberapa. Berkat banyaknya undangan yang datang, sepertinya aku tidak akan punya waktu luang sampai musim gugur nanti."

Sang Viscount tersenyum tenang, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

"Musim panas tahun ini sepertinya akan sangat sibuk. …Aku juga mendapat banyak undangan pesta musim panas, tapi sulit untuk memenuhi semuanya."

"Sepertinya pesta-pesta yang diadakan di ibu kota memang sangat banyak tahun ini, ya."

"Benar, tapi yang pasti harus kutolak adalah undangan dari tempat-tempat yang jauh."

Contohnya.

"Seperti undangan dari Count Crushera. Aku sebenarnya ingin pergi, tapi jadwalnya bentrok dengan pesta para bangsawan kelas atas di ibu kota."

Mendengar itu, Ren dan Licia teringat pembicaraan mereka kemarin. Karena topik tentang Crushera baru saja mereka bahas, kata-kata tersebut terdengar sangat jelas di telinga mereka.

"Aku dengar tahun ini adalah tahun peringatan Nights of Prayer," celetuk Ren.

"Ya, benar seperti kata Ren────"

Sambil berbicara, Lezard sepertinya memikirkan sesuatu. Matanya tertuju pada Ren, lalu ia kembali bicara.

"Mungkin ini bisa menjadi liburan untukmu, Ren. Bagaimana kalau kamu pergi mewakiliku untuk menyapa sang Count, lalu menghabiskan liburan musim panasmu di sana dengan santai?"

Hal ini juga berkaitan dengan apa yang dikatakan Mirei kemarin. Sejak zaman dahulu, kota Crushera dipercaya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan tubuh.

Hal itu dikarenakan banyaknya roh yang tinggal di sana pada zaman kuno, dan kekuatan yang ada sekarang adalah sisa-sisanya.

Di era modern, kekuatan tersebut sering digunakan sebagai bahan ramuan (potion).

Namun, karena efek penyembuhannya akan hilang perlahan jika dibawa keluar dari Crushera, maka satu-satunya cara adalah dengan merasakannya secara langsung di sana.

Meskipun pengaruh kutukan pada Ren hampir hilang berkat Licia dan Fiona, jika masih ada sedikit rasa janggal yang tersisa, maka pergi ke sana sangatlah layak untuk dicoba.

Saat jam istirahat setelah ujian pagi berakhir.

"Bukannya itu ide bagus?"

Radius yang sedang mengobrol dengan Ren di koridor menanggapi dengan santai. Ia langsung setuju saat mendengar Ren bimbang untuk pergi ke Crushera atau tidak.

"Lalu, bagaimana dengan penginapannya?"

"Begitu aku memutuskan untuk pergi, aku berniat langsung memesannya."

"Kalau begitu sepertinya akan sulit. Tahun ini adalah tahun peringatan Nights of Prayer, kurasa semua penginapan sudah penuh dipesan."

"Ah… dugaanku benar, ya."

Karena itulah tahun ini akan terasa lebih sulit. Jika keadaan mendesak, Ren berpikir mungkin ia harus pergi menggunakan kapal magis Lemuria dan menginap di sana.

Namun, saat Ren sedang memikirkan rencana darurat itu, sahabatnya memberikan bantuan.

"Di Crushera juga ada penginapan milik Persekutuan Dagang Arneverde. Aku akan mengaturnya agar kalian bisa menginap di sana."

"Eh, tapi, bukannya penginapan itu malah lebih sulit dipesan…"

"Tentu saja tidak bagi kita."

Persekutuan Dagang Arneverde adalah persekutuan yang didirikan Radius saat ia masih kecil demi pengembangan ramuan.

Persekutuan yang telah berkembang pesat hingga namanya tersohor di dalam maupun luar negeri itu memiliki penginapan di ibu kota yang bahkan sulit dipesan oleh para bangsawan sekalipun.

Itu adalah penginapan terkenal yang beberapa kali pernah digunakan oleh Ren dan yang lainnya.

"Kami selalu mengosongkan beberapa kamar untuk keadaan darurat."

Hal itu dilakukan jika ada anggota keluarga kerajaan yang berkunjung mendadak, atau untuk tamu penting dari luar negeri. Persiapan seperti itu sangat wajar mengingat Crushera adalah kota penting yang dikenal luas.

"Tapi apa tidak apa-apa jika aku yang menggunakannya?"

"Tentu saja. Malah bagi diriku, ini justru sangat menguntungkan."

"Maksudnya?"

"Soal kejadian di Windea. Baik keluarga Ignat maupun keluarga Klausel, aku juga ingin memberikan tanda terima kasih kepada Ren yang sudah berjuang di sana."

Radius melanjutkan sebelum Ren sempat memotong.

"Jika melalui istana, tanda terima kasih itu akan berubah menjadi sesuatu yang terdengar kaku seperti 'hadiah dari atasan'. Jadi aku ingin menyebutnya sebagai tanda terima kasih dariku secara pribadi."

"Jadi, kamu menyiapkan penginapan itu sebagai gantinya?"

"Begitulah."

Radius berulang kali menekankan agar Ren tidak perlu sungkan.

"Sejak musim dingin lalu, aku selalu merasa terbantu oleh Ren. Aku akan sangat senang jika kamu mau menerimanya."

"────Baiklah. Kalau begitu aku tidak akan sungkan."

Ren merasa tidak enak jika terus menolak kebaikan sahabatnya, jadi ia menerimanya dengan jujur dan mengucapkan terima kasih.

Dengan ini, masalah penginapan sudah teratasi. Satu kekhawatirannya pun sirna.

"Ngomong-ngomong, Radius tidak ikut pergi bersama kami?"

Hanya Ren seoranglah yang berani mengajak Pangeran Ketiga seperti itu tanpa keraguan.

Dan mungkin hanya Ren jugalah yang bisa membuat Radius merasa bahagia saat diajak seperti itu. Oleh karena itu, ia merasa sedih saat harus memberikan jawaban ini.

"Ada sesuatu yang mengganjal──── tidak, ada tugas resmi yang harus kukerjakan, jadi sulit bagiku untuk ikut."

"…Begitu ya. Kalau begitu, lain kali saja ya."

Melihat senyum kecewa Ren membuat Radius merasa tidak enak. Sebenarnya ia sangat ingin menghabiskan musim panas bersama Ren, namun waktu benar-benar tidak mengizinkannya.

"Pergilah bersantai bertiga. Di waktu Nights of Prayer, kalian pasti bisa melihat langit indah yang hanya bisa disaksikan di tempat itu."

Kata-kata Radius selanjutnya menunjukkan betapa ia sangat memahami Ren.

"Lagi pula jika ada mereka berdua, kamu pasti akan berniat untuk benar-benar beristirahat, kan?"

"Mereka berdua itu, maksudmu Licia dan Lady Fiona?"

"Iya. Kemungkinan besar kedua keluarga mereka diundang ke Nights of Prayer tahun ini. Karena adanya pesta di ibu kota, sepertinya para kepala keluarga akan sulit untuk hadir, jadi jika kalian pergi sebagai perwakilan, martabat sebagai bangsawan pun tetap terjaga."

"Sebenarnya, aku baru saja membicarakan hal yang serupa beberapa waktu lalu."

"Bukankah itu malah lebih menguntungkan? Kamu tidak hanya pergi berlibur, tapi juga punya tugas yang harus dikerjakan. Dengan begini kamu bisa pergi tanpa rasa beban, kan?"

Pemuda pengguna Magic Sword itu pun mulai membayangkan liburan musim panas yang akan tiba setelah ujian berakhir. Saat menatap ke luar jendela, ia bisa melihat sinar matahari yang cerah menyinari seantero ibu kota.

 

Mata pelajaran ujian yang tersisa hanya tinggal sedikit, namun yang sedikit itulah yang menjadi masalah besar. Pada suatu sore saat Ren dan Licia berada di kelas.

"Hehe… hukum dan ekonomi itu sulit ya…"

Nemu Altia bergumam sambil menyandarkan tubuhnya ke meja. Biasanya ia mengenakan jaket bertudung di balik jas seragamnya, namun karena cuaca yang terlalu panas, ia melepaskan jasnya.

Meskipun ia sudah mengganti jaketnya dengan bahan yang lebih tipis, ikat pinggang berisi berbagai peralatan teknis masih tetap melingkar di pinggangnya.

Sarah merasa kasihan sambil menusuk-nusuk rambut Nemu yang digulung menyerupai bakpao (odango), yang merupakan ciri khas gaya rambutnya.

Sambil melihat konde itu bergoyang ke kiri dan kanan, Sarah berkata.

"Baguslah, kan? Mata pelajaran yang paling kita benci akhirnya selesai hari ini."

"Selesai, sih. Tapi energi Nemu juga ikut musnah bersamanya."

"Besok masih ada ujian lagi, jadi pulihkanlah energimu secukupnya."

"Ba-iiik…"

Nemu yang tadinya menelungkup kini menopang dagunya di atas meja, sambil menggumam tidak jelas dan mengernyitkan alisnya.

"Padahal kalau ada hubungannya sedikit saja dengan alat magis, pasti akan terasa mudah~"

"Bicara-bicara, Altia-san juga ahli dalam matematika, kan?"

"Tentu saja. Alat magis itu tidak bisa diotak-atik tanpa berbagai macam pengetahuan, jadi secara alami aku jadi mempelajarinya."

"Kalau begitu, bukankah banyak mata pelajaran yang terasa mudah bagimu?"

Mendengar pertanyaan Licia, Nemu menjawab dengan awalan, "Bukannya tidak ada, sih." Ia menjawab dengan nada bicara yang seolah sudah pasrah.

"Tapi itu beda urusan. Bukan berarti mata pelajaran sosial yang Nemu benci jadi terasa mudah, kan?"

"…Benar juga, sih."

"Tapi tidak apa-apa. Beberapa hari lagi libur musim panas tiba, jadi untuk sementara aku tidak perlu melihat buku referensi────"

"Aku dengar tugas libur musim panas tahun ini mungkin akan sangat banyak, ya kan Ren?"

"Sepertinya begitu. Lady Fiona bilang saat beliau tahun kedua dulu juga seperti itu, jadi kurasa kita juga akan mengalaminya."

"────Horeee~"

Nemu yang tadinya menopang dagu di meja kini langsung terkulai lemas ke samping dan berbicara dengan suara yang lemah.

Rambutnya tersebar di atas meja, sementara kakinya meronta-ronta di bawah meja.

"Ini aneh! Sarah-chan yang kemarin-kemarin lebih lemas dari Nemu, kenapa sekarang malah tiba-tiba tenang begini!"

"Aku sih biasa saja, aku cuma merasa karena belajar ujian sudah selesai, sekarang tinggal melakukannya saja."

"Mungkin saja begitu, tapi tetap saja…!"

Sarah menghela napas panjang dan kembali menyentuh konde rambut Nemu.

"Tidak ada gunanya memikirkan masa depan terus, bukankah lebih baik kita nikmati saja liburan musim panas nanti?"

"Benar juga… memikirkan tugas terus itu membosankan. Ngomong-ngomong, dari tadi kenapa kamu terus memainkan rambut Nemu?"

"Habisnya teksturnya enak disentuh, jadi tidak sengaja."

"Begitu ya… kalau kamu memujinya, aku akan memaafkanmu."

Nemu yang akhirnya kembali bersemangat langsung berdiri tegak, lalu membusungkan dadanya dengan penuh percaya diri.

"Saat libur panjang nanti aku bisa lebih bebas mengutak-atik alat magis, jadi tugasnya akan kukerjakan belakangan saja!"

"Benar. Lagipula tahun ini kita akan pergi ke Crushera, kan."

"Benar. Bicara tentang Crushera, Licia-chan dan Ashton-kun juga akan pergi ke sana, kan?"

"Iya."

Sama seperti pembicaraan Ren dan Radius, Fiona pun akan ikut.

Berbeda dengan tahun lalu, musim panas kali ini tidak ada Festival Besar Lion King, namun sebagai gantinya ada perayaan Nights of Prayer.

Meskipun lebih baik hadir sebagai kewajiban bangsawan, mereka akan pergi sebagai perwakilan dari kepala keluarga yang sedang sibuk.

"Nemu dan yang lainnya juga berniat untuk mengistirahatkan tubuh di Crushera, tapi terutama Ashton-kun harus beristirahat lebih banyak dari kami, ya."

"Iya. Tapi sebenarnya sudah hampir sembuh, kok."

Saat mereka sedang mengobrol, Vain yang tadinya pergi sebentar kini kembali dan menatap Ren. Sepertinya ia sempat mendengar pembicaraan mereka.

"Ayah sering bilang padaku."

Mendengar kata "ayah", Ren langsung menyadari bahwa yang dimaksud adalah Duke Riohard, ayah Sarah.

"Terutama soal kondisi tubuh, jangan pernah mengabaikan hal sekecil apa pun. Karena terkadang ada rasa janggal yang bahkan tidak kita sadari sendiri."

"Vain-kun memang sering dimarahi oleh Tuan Elke sejak kecil karena hal itu, ya~"

"Jangan katakan itu di depan Ren!"

"Biarin! Padahal kamu sendiri yang membawa-bawa topik tentang Tuan Elke!"

Di samping Nemu yang sedang bercanda dan Vain yang mendekatinya, Sarah menatap Ren sambil berkata, "Hei."

"Ren tidak pernah dimarahi oleh siapa pun? Misalnya oleh orang yang mengajarimu pedang."

"Kalau soal itu, sepertinya paling cuma ayahku saja."

Meskipun Ren dibesarkan sebagai anak seorang ksatria, karena ia lahir di daerah perbatasan, keluarganya tidak memiliki aturan rumah tangga yang kaku.

Hubungan antara orang tua dan anak lebih mirip dengan rakyat jelata, dan ayahnya, Roy, tidak terlalu suka dipanggil dengan sebutan formal "Ayahanda".

"Pelayan dari keluarga Ignat itu sepertinya juga tidak begitu, ya."

"Tuan Edgar memang tidak seperti itu. Alih-alih memarahi, beliau lebih seperti mengajariku teori dengan sangat mendalam."

"Apa kamu tidak pernah dibilang terlalu banyak berlatih?"

"Kalau soal itu, semua orang di Aula Suci Singa juga dibilang begitu, kok."

"…Yah, memang Aula Suci Singa itu tempat yang tidak normal, sih."

Secara harfiah, tempat itu adalah kumpulan para ksatria yang sanggup melakukan latihan yang bisa merenggut nyawa orang biasa.

Apalagi Ren sebagai pengguna pedang hebat sering menghabiskan waktunya dalam latihan semacam itu.

"Bagaimana dengan Licia? Apa kamu pernah dimarahi saat latihan pedang?"

"Bukannya tidak pernah… tapi."

White Saintess itu melirik sekilas ke arah Ren.

"Kenapa menatapku begitu? Seolah-olah aku yang sering memarahimu saja."

"B-bukan begitu… tapi, yah belakangan ini memang tidak pernah, tapi dulu kan Ren pernah bilang padaku untuk beristirahat kalau aku terlalu banyak berlatih."

Merasakan perasaan akrab yang aneh, Sarah menyadari bahwa pembicaraan ini berkaitan dengan obrolan mereka setelah ujian ilmu pedang beberapa hari lalu.

Sarah memberikan tatapan dan senyum yang penuh arti kepada White Saintess yang membantah dengan pipi sedikit merona.

Melihat hal itu, Licia mendekatkan wajahnya ke arah Sarah dan berbisik.

"…Kenapa dengan wajahmu itu?"

"Tidak ada apa-apa, kok. Aku cuma berpikir kalau kamu memang benar-benar seorang gadis."

"Dan lagi, katanya bertengkar, tapi kenyataannya jauh berbeda, kan," lanjut Sarah.

Karena keduanya saling berbisik agar tidak terdengar oleh Ren, Ren hanya bisa terdiam melihat interaksi mereka berdua. Saat ia sedang bingung, Licia melemparkan senyum manis ke arahnya.

"Sarah bilang kalau dia akan berjuang sendiri di ujian selanjutnya."

"Ooh… begitu ya."

"Sarah-chan serius!? Hebat juga!"

"Aku tidak bilang begitu! Hei, maafkan aku! Licia!"

Namun, Licia tetap mempertahankan senyumnya. Meskipun itu adalah senyum yang sangat manis, Sarah malah semakin panik.

"Aku akan mendukungmu, jadi berjuanglah, ya."

"He-hei!? Bohong, kan!?"

Musim panas membawa kisah baru. Dan awal dari kisah itu sudah ada di depan mata.

◇◇◇

Suatu pagi yang sangat awal. Di Ibu Kota Kekaisaran Leomil.

Kota besar ini merupakan perpaduan indah antara sejarah dan desain modern yang tidak bisa ditemukan di tempat lain di dunia.

Di pusat kota tersebut berdiri sebuah bangunan raksasa, di salah satu ruangan di lantai atas istana kekaisaran.

Di atas balkon, seorang pemuda sedang menatap langit yang sangat jauh sambil memikirkan sesuatu──── Radius Vin Leomil.

Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke ibu kota yang terbentang di bawahnya.

"Aku sudah menantinya," ucap Radius saat melihat asistennya masuk ke dalam ruangan.

"Ini laporan untukmu, Nya."

Gadis yang telah berada di sisinya sejak kecil itu adalah Mirei Arkhayse.

Ia adalah seorang putri Count yang anggun dan manis, namun karena ia memiliki darah Cait Sith dari leluhurnya, ia memiliki telinga dan ekor kucing.

Mirei berdiri di samping kursi tempat Radius duduk dan tetap diam sampai Radius selesai membaca laporannya.

Setelah selesai membaca, Pangeran Ketiga itu berjalan menuju bagian dalam ruangan sambil tetap memegang laporan tersebut.

Mirei mengikuti dari belakang tanpa mengeluarkan suara, ia mengangguk pelan sambil melirik profil samping wajah Radius.

"────Pria itu, apa yang ia sembunyikan dariku?"

Radius tampak gagah dengan gejolak emosi dan harga diri yang terpancar dari sosoknya.

Dari mulutnya yang berwibawa itu, terdengar suara dan kata-kata yang sedikit ragu.

"Bisakah kamu terus membantuku?"

"Tentu saja, Nya. Lagi pula, bantuan semacam ini hanya aku yang bisa melakukannya, dan mungkin hanya aku yang mau menerimanya, Nya?"

"Aku tahu. Aku selalu merasa bisa mengandalkanmu."

"Itu sebuah kehormatan bagiku, Nya. Jadi, apa yang akan kamu lakukan dengan laporan itu, Nya?"

Mirei bertanya sambil melihat laporan di tangan Radius.

Laporan itu dipenuhi dengan begitu banyak tulisan, hingga rasanya sulit untuk menyelesaikannya dalam waktu sesingkat ini. Setidaknya bagi orang lain selain Radius.

"Hanya untuk berjaga-jaga, aku melakukan penyelidikan ini secara rahasia, jadi tidak ada salinannya, Nya."

"Sudah kuduga. Padahal kamu sudah susah payah menyiapkannya, tapi aku harus melakukan hal yang buruk padanya."

"Tidak apa-apa, Nya. Malah aku lebih tidak suka jika laporan itu disimpan, Nya."

"Aku setuju."

Begitu sampai di ruang tamu kamarnya, Radius melemparkan semua dokumen itu ke dalam perapian tanpa ada satu lembar pun yang tersisa.

Karena saat ini musim panas, perapian itu tidak diisi kayu bakar, namun Mirei mengeluarkan tongkat pendek dari balik pakaiannya dan mengayunkannya pelan ke arah perapian, hingga api pun berkobar.

"Sudah agak terlambat untuk bertanya, tapi bagaimana penilaian sihirmu di ujian kelulusan?"

"Aku tidak pernah mendapatkan nilai selain nilai sempurna, Nya. Mata pelajaran lain juga selalu kukerjakan dengan baik, kecuali saat Yang Mulia memintaku melakukan hal-hal yang mustahil, Nya."

"Maaf. Aku merasa bersalah, tapi aku tanpa sadar selalu bersikap manja padamu, Mirei."

"────Iya, iya, Nya."

Meskipun berkata begitu, sudut bibir Mirei diam-diam menyunggingkan senyum. Kali ini, gantian Mirei yang bertanya.

"Bagaimana dengan Yang Mulia sendiri, bagaimana hasil ujian kali ini, Nya?"

"Semuanya berjalan tanpa hambatan."

"…Ternyata aku tidak perlu bertanya ya, Nya."

Sang Pangeran Ketiga menjawab dengan santai sambil membuka pintu kamarnya dan keluar. Diabaikannya ksatria pengawal yang membungkuk hormat di koridor, mereka berdua pun terus berjalan.

"Mirei, apa kamu punya waktu setelah ini?"

"Hanya ada tugas resmi bersama Yang Mulia, jadi semuanya tergantung perasaan Yang Mulia, Nya."

"Aku ingin menunda itu dulu. Ikutlah denganku."

"…Aku akan ikut, tapi mendadak sekali ya, Nya. Jadi, kita mau pergi ke mana secara mendadak begini, Nya?"

"Ke Perpustakaan Kekaisaran. Ada sesuatu yang ingin kupastikan."

"Baiklah, Nya. Tapi itu tempat yang jarang Anda kunjungi ya, Nya~"

Radius membawa gadis berdarah Cait Sith itu bersamanya meninggalkan istana kekaisaran hanya berdua saja.

 

Setelah naik kereta kuda selama beberapa puluh menit, Perpustakaan Kekaisaran yang menjadi tujuan mereka mulai terlihat. Mirei pun bertanya sekali lagi.

"Apa yang ingin Anda selidiki?"

"Bagian dari usahaku untuk melacak apa yang sedang diselidiki oleh pria itu."

Mirei bisa memahami apa yang dipikirkan tuannya seolah-olah itu ada di telapak tangannya sendiri.

Begitu turun dari kereta kuda dan melangkah masuk ke Perpustakaan Kekaisaran, kehadiran mereka di pintu masuk utama mengejutkan para ksatria penjaga dan staf perpustakaan.

Radius membalas sapaan mereka dengan melambaikan tangan pelan sambil terus melangkah maju, lalu berhenti di depan ruang kepala perpustakaan.

Mirei mengetuk pintu lalu mengulurkan tangannya ke arah gagang pintu.

"Aku sudah bilang berkali-kali, aku bisa melakukannya sendiri."

"Dan aku juga sudah bilang sebelum itu, kalau ini adalah tugasku, Nya. Selain itu, akan terlihat lebih pantas jika dilakukan oleh bawahan, Nya."

"…Padahal kita ini teman masa kecil."

Mirei tersenyum mendengar perkataan Pangeran Ketiga yang tidak mau kalah itu.

"Kalau begitu, tolong berikan perhatianmu saat kita sedang tidak dalam tugas resmi, Nya."

"Aku berniat begitu, tapi…"

"Itu sudah cukup. Intinya, anggap saja yang ini adalah urusan tugas, Nya."

Mirei akhirnya memutar gagang pintu dan membukanya. Kepala perpustakaan yang melihat Radius masuk tampak terkejut layaknya para ksatria tadi, namun ia segera memberikan salam hormat sebagai abdi negara.

"Tidak perlu begitu. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu."

"B-baik, saya mengerti! Kalau begitu, silakan duduk di kursi itu terlebih dahulu!"

Radius duduk di kursi tamu dan berkata kepada sang kepala perpustakaan.

"Maaf karena telah mengejutkanmu."

Kepala perpustakaan buru-buru membantahnya dengan gerakan tubuh. "Sama sekali tidak! Tapi, hal apa yang ingin Anda tanyakan kepada saya?"

"Jangan katakan ini kepada siapa pun. Aku ingin tahu di mana letak dokumen yang tertulis di sini."

"────Akan saya periksa."

Kepala perpustakaan menerima secarik kertas kecil dari Radius dan membacanya.

Terlihat jelas bahwa kertas itu adalah kertas alat magis yang ditulis dengan tinta khusus.

Begitu kertas itu lepas dari tangan Radius, tulisannya akan menghilang dalam beberapa saat, namun kepala perpustakaan sudah merekam isinya di dalam ingatannya.

Sambil bertanya-tanya seberapa penting pekerjaan ini, sang kepala perpustakaan berdiri dan menuju ke meja kerjanya.

Saat sang kepala perpustakaan menyentuh alat magis berbentuk pelat yang terpasang di mejanya, berbagai informasi tentang Perpustakaan Kekaisaran muncul di permukaannya.

Sambil tetap menempelkan tangannya, ia mulai menarik informasi yang dicari dengan penuh konsentrasi.

"Apakah jumlahnya cukup banyak, Nya?"

"Entahlah. Mungkin setara dengan buku referensi yang digunakan selama empat tahun di akademi."

"…Hah? Anda berniat membaca semuanya, Nya?"

"Karena tujuannya untuk menyelidiki, tentu saja itu hal yang wajar."

Seberapa banyak pun bukunya, pemuda ini pasti bisa menyelesaikannya dengan mudah. Itulah yang dipikirkan oleh asisten yang sudah lama bersamanya.

Saat Mirei tersenyum kecut, sang kepala perpustakaan mengeluarkan suara yang seolah tidak percaya.

"Satu pun tidak ada? Tidak, tidak mungkin."

Kepala perpustakaan yang merasa tidak masuk akal itu terus menatap tajam ke arah alat magis berulang kali. Namun, hasilnya tetap sama.

Bagi Radius, ini adalah reaksi yang seharusnya tidak ia sukai, namun ia tidak menggerakkan alisnya sedikit pun dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Gadis Cait Sith itu melirik profil samping wajah Radius dan bertanya, "…Yang Mulia?"

"Maaf. Berikan aku waktu sebentar untuk berpikir."

Hanya butuh waktu sekitar belasan detik baginya. Pangeran Ketiga kemudian bertanya kepada sang kepala perpustakaan dengan nada yang menunjukkan ia menyadari sesuatu.

"Apakah semuanya sedang dipinjam?"

"Benar. Semuanya dipinjam baru-baru ini."

"Bukankah ada catatan khusus tentang orang yang meminjamnya? Misalnya, seorang pejabat penting yang namanya bisa dirahasiakan."

Wajah kepala perpustakaan tidak menunjukkan ekspresi apa pun, namun ia ragu-ragu untuk menjawab, "Itu adalah────".

"Aku tidak memintamu untuk menjawabnya. Aku mengerti kalau menurut hukum kekaisaran, kamu tidak bisa memberikan jawaban di tempat ini. Karena itu, anggap saja ini hanya gumamanku sendiri."

"…Mohon maaf, Yang Mulia."

"Tidak apa-apa. Tapi, sepertinya dugaanku benar."

Kepala perpustakaan tidak memberikan jawaban benar atau salah, namun ia memberikan tanggapan sopan sebagai bentuk kesopanan minimum.

Mendengar hal itu, Radius memejamkan mata sejenak.

Ia tenggelam dalam pemikiran yang jauh lebih dalam dari sebelumnya, lalu sebuah kesimpulan muncul di benaknya.

"Begitu ya… pria itu sepertinya────"

Kepala perpustakaan tetap bersikap kaku, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Pangeran Ketiga.

"Mohon maaf. Jika itu Yang Mulia, saya bisa memandu Anda setelah melalui prosedur yang telah ditetapkan."

"Tidak, ini sudah cukup. Seperti yang kubilang tadi, ini hanya gumamanku saja."

Radius tampak puas dan berdiri, lalu memberikan senyum tenang saat hendak pergi.

"Dokumen yang kucari ternyata tidak ada. Sepertinya tidak ada jawaban yang lebih baik dari ini."

Kepala perpustakaan tidak mengerti maksud sebenarnya, namun itu bukanlah kebohongan.

"Apakah untuk hari ini sudah cukup?"

"Iya."

Pangeran Ketiga mengucapkan, "Maaf karena sudah datang mendadak hari ini," kepada sang kepala perpustakaan, lalu ia keluar menuju koridor yang sama seperti saat ia datang.

 

Mereka berjalan di koridor yang sepi, dan setelah memastikan tidak ada lagi mata yang memperhatikan.

"Dalam beberapa hari ke depan, kita akan naik kapal magis. Kita akan melakukan perjalanan jauh."

"Baik, saya mengerti, Nya. Kalau begitu, aku harus mulai memikirkan alasan untuk tugas resmi selanjutnya, Nya."

"Tidak perlu. Bukankah beberapa hari lalu kamu bilang ingin libur beberapa hari?"

"Kalau dipikir-pikir benar juga… persiapannya terlalu matang ya, Nya."

"Awalnya, itu bukan untuk perjalanan jauh, sih."

Sambil menatap Mirei yang berjalan di sampingnya, Radius menatap jauh ke depan… seolah bisa melihat hal yang lebih jauh lagi.

"Jika tidak, mustahil aku bisa memaksakan hal semacam ini."

Sambil memberikan senyum dewasa, ia pun berkata.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close